[Freelance] My Nappeun Hoobae (Chapter 1/3)

mynappeunhoobae

Title                 : My Nappeun Hoobae (Chapter 1/3)

Author             : Anna28

Length             : Multichapter

Rating             : PG 17

Genre              : School-life, Romance

Main Cast        : Seo Joo Hyun GG, Oh Sehun EXO

Support Cast   : EXO, GG

Artworker       : heerinssi.wordpress.com

Disclaimer       : FF ini benar-benar hasil dari pemikiran saya. Jika terjadi kesamaan cerita atau alur, itu diluar pengetahuan saya#bahasanyaa-_- Don’t copy-paste this FF. Don’t read this FF if you don’t like this pairing! Don’t bash, and don’t be a SILENT readers! Okeeey? Enjoy this FF#huggg..

“Kudengar kau memutuskan Daeun, ya?” tanya Jongdae pada Sehun, ketika Sehun sudah duduk nyaman di sofa empuknya yang berada di dalam ‘markas’ rahasia mereka ber-12.

“Ahh, kenapa beritanya sudah menyebar dengan cepat seperti ini?” Sehun balik tanya sambil mengangkat kedua kakinya ke atas meja. Kris langsung mencampakkan kedua kaki Sehun ke bawah.

“Bagaimana tidak langsung menyebar? Jangan pura-pura merasa tidak populer, Hun-ah,” kata Luhan, yang ikut duduk di samping Jongdae dan Kris.

“Aku merasa tidak populer. Mereka saja yang terlalu berlebihan memandang kita,” kata Sehun. Ia memandangi ke-8 teman-temannya yang sedang asyik main biliard.

“Tidak mungkin mereka tidak mengenal anak pemilik sekolah terbesar se-Asia Tenggara yang sangat tampan seperti Oh Sehun kita ini,” ucap Kris. Ia menenggak habis wine-nya.

“Kau jauh lebih tampan, hyung. Aku merasa, Joon Myun hyung-lah yang paling sempurna di antara kita,” puji Sehun.

“Tapi setidaknya dia tidak memiliki hobi gonta-ganti pacar sepertimu, uri Sehun,” ejek Jongdae, yang langsung mendapat timpukan 2 bantal dari Sehun.

“Benar juga. Daeun ini gadis yang keberapa, Hun-ah?” tanya Kris, yang didalamnya mengandung unsur mengejek.

Sehun kembali melempar bantal sofa itu ke Kris. Luhan dan Jongdae tertawa terbahak-bahak melihat Sehun yang merajuk.

Mereka ber-12, yang namanya dikenal sebagai EXO, adalah flower boys di Seoul High School dan menjadi dambaan para siswi di sekolah. Mereka masih kelas 1 SMA, namun karena kepopuleran mereka, mereka langsung dikenal. Bahkan mampu menarik hati para noona.

Mereka termasuk laki-laki yang mendekati kata sempurna. Memiliki wajah tampan, dan mereka ber-12 pun memiliki harta yang tidak bisa dibilang sedikit. Sebagian dari mereka adalah penerus perusahaan ayah mereka yang sangat terkenal. Sehun adalah anak pemilik Seoul High School, sekolah yang terbesar se-Asia Tenggara. Dan Kris, yang ayahnya adalah seorang pengusaha sukses di Canada.

Bagaimana mungkin para perempuan itu tidak meleleh begitu berhadapan dengan 12 laki-laki yang hampir sempurna itu?

Yang paling terkenal adalah Sehun, tentu saja. Selain karena ia anak pemilik sekolah tersebut, ia juga seorang laki-laki playboy kelas atas. Teman-temannya belum ada yang minat untuk pacaran sekarang ini. Sedangkan Sehun, baru seminggu menjadi murid baru di sekolah, ia sudah memiliki 1 pacar dan 1 mantan pacar.

Pacar pertamanya adalah seniornya, BoA. BoA-lah yang sebenarnya mengejar Sehun. Karena Sehun orang yang egois, sedikit arogan, dan terlalu percaya diri, ia menerima BoA dan memutuskannya setelah 4 hari pacaran dan memilih menjalin hubungan dengan Eunji.

Sifat Sehun berbeda dengan sifat teman-temannya yang memang baik hati dan tidak terlalu suka mempermainkan perasaan perempuan. Sehun, mirip dengan ayahnya dulu. Playboy dan tidak terlalu memikirkan perasaan perempuan yang disakitinya. Namun, entah kenapa, walaupun Sehun terkenal suka menggaet dan mencampakkan perempuan, tetap saja banyak perempuan yang mengejar-ngejarnya.

“Jadi, kenapa kau memutuskan Daeun?” tanya Luhan, yang sekarang sedang menuangkan segelas wine dan meminumnya sedikit.

“Aku bosan,” jawab Sehun enteng.

“Ya, kau baru pacaran dengannya seminggu yang lalu!” seru Kris tak percaya.

“Oh my. Bro, seminggu adalah waktu terlama Sehun pacaran. Jika ia pacaran selama 8 hari, tolong pukullah aku sampai babak belur,” sahut Jongdae, diikuti tawa Luhan.

Kris hanya menganggukkan kepalanya, mulai sadar dengan siapa ia berhadapan. “Kalau aku jadi kau, mungkin aku akan cukup menyesal putus dengan Eunji dan Minah,”

“Minah menyukai Kyungsoo hyung sekarang. Dan aku merasa tidak menyesal. Dua-duanya bukan tipeku, setelah kulihat-lihat,” jawab Sehun.

“Minah suka orang lain karena terluka olehmu,” ucap Jongdae. “Dan memangnya seperti apa tipemu?”

“Tipeku…” Sehun sibuk berpikir. “Selama ini aku selalu berpacaran dengan seorang perempuan yang memang dari awal suka padaku, jadi aku merasa tidak memiliki tantangan tersendiri untuk mendapatkannya,”

“Jadi…?” tanya Jongdae dan Kris bersamaan.

“Jadi, mungkin aku suka tipe perempuan yang tidak mengidolakanku ataupun menyukaiku. Aku ingin perempuan itu acuh tak acuh padaku, kalau bisa ia tidak mengenalku. Karena kupikir, akan menjadi tantangan tersendiri untukku mendapatkan cintanya. Aku akan berjuang keras mendapatkan perhatiannya dan kupikir itu akan sangat menarik,”

“Kau aneh, kau tahu? Aku baru tahu kalau tipemu seaneh dirimu,” ucap Tao. Ia duduk di samping Sehun dengan membawa pemukul bola billiard-nya. Ia meminum air mineral milik Sehun yang terletak di atas meja sampai habis. “Kalau sampai akhir perempuan itu tidak menyukaimu bagaimana?”

“Aku yakin aku bisa. Sangat yakin,” jawab Sehun santai.

“Hunnie terlalu sering mendapatkan banyak cinta dari para perempuan, jadi ia ingin merasakan bagaimana ditolak perempuan,” ejek Luhan. “Dan apakah ada perempuan seperti itu di sekolah ini? Maksudku, hey. Tidak ada satu orangpun yang tidak kenal kita, apalagi raja playboy seperti uri Sehunnie,”

“Ada,” sahut Baekhyun.

Baekhyun, Jong In, dan Kyungsoo mendekati mereka dan ikut bergabung dalam percakapan seru mengenai kisah asmara Sehun.

“Ada? Nugunde?” tanya Kris penasaran.

“Dia sunbae kita, kelas 3. Sifatnya sama seperti yang kau katakan tadi, Hunnie. Tapi ia mengenalmu, tentu saja. Hanya saja, dia tidak terlalu peduli tentangmu,” jawab Baekhyun.

“Ahh, jeongmalyo?” tanya Sehun semangat.

“Ne. Tapi, setelah kuberitahu ini, apa yang akan kau lakukan? Mengejarnya?” tanya Baekhyun.

“Yah, mungkin seperti itu. sudah kukatakan, ini mungkin akan menjadi tantangan buatku. Aku ingin sekali-kali merasa berjuang,”

“Kurasa jangan dia, Hun-ah,” kata Baekhyun. “Dia berbeda. Aku mengenalnya hampir 4 bulan, dan dia tidak peduli aku ini siapa atau aku ini termasuk flower boys di sekolah atau tidak. Dia hanya mengenalku sebagai siswa Seoul High School yang bernama Byun Baekhyun. Dan dia adalah perempuan yang baik hati. Kupikir, kau akan sulit mendapatkannya. Dia tidak akan jatuh cinta pada seorang playboy sepertimu. Lagipula, dia sedang dekat dengan seorang laki-laki, kalau kudengar-dengar gosipnya,”

“Hyung~, kau mengenalku baru kemarin malam, ya? Aku Oh Sehun, laki-laki yang mampu membuat hati perempuan meleleh dalam waktu sedetik. Mungkin kasus sunbae ini agak berbeda, dan justru itulah yang kusuka. Tenang saja, aku pasti berhasil mendapatkannya,” ucap Sehun sambil membusungkan dadanya.

Teman-temannya bersorak dan mulai melempari Sehun dengan bantal-bantal sofa itu.

_________

Jari-jari Seohyun yang panjang dan indah menari-nari dengan anggun di atas tuts-tuts piano itu. Semua diam memandang Seohyun yang tampak sangat memukau. Ia begitu lihai memainkan pianonya, bahkan tanpa melihat tuts-tutsnya lagi. Baik laki-laki, perempuan, maupun guru mereka, berdecak kagum melihat kemampuan Seohyun memainkan pianonya.

Begitu nada terakhir dibunyikan, Seohyun memejamkan matanya dan seisi kelas langsung bertepuk tangan meriah. Song seonsaengnim pun ikut bertepuk tangan dengan wajah berbinar-binar.

“Aku tahu permainanmu tak akan pernah mengecewakanku, Miss Seo. Silakan duduk di bangkumu. Nanti sore kau harus berlatih kembali denganku. Ah, tidak. Kita lebih baik battle saja,” ucap Song seonsaengnim.

Seohyun mengangguk dengan hormat dan ia kembali ke bangkunya. Semua mata memandang ke arah Seohyun, sampai Seohyun sudah duduk di bangkunya.

“Kau hebat,” puji Tiffany sambil mengeluarkan eye-smile-nya.

“Gomawoyo, eonni,” kata Seohyun senang.

_________

“Kau sudah tahu yang mana Seohyun sunbae, ‘kan?” tanya Baekhyun pada Sehun ketika mereka berdua dan EXO sedang makan siang di kantin sekolah.

Baekhyun menunjuk seorang perempuan berambut hitam panjang dan ikal yang sedang makan pai apel bersama dengan kedua temannya.

“Aku ingin lihat dari dekat, hyung,” kata Sehun.

“Aigoo, kau ingin menghampiri mereka? Aniyo, kau sendiri saja,” tolak Baekhyun.

“Wae?” tanya Sehun agak kecewa.

“Mereka itu sunbae kita, Hunnie. Lagipula aku sangat segan pada Seohyun sunbae,”

“Meja mereka dekat dengan mesin minuman. Ayo kita pura-pura beli minuman,” ajak Sehun.

“Sudahlah, Baekk. Terima saja. Dia adalah maknae,” kata Joon Myun sambil melahap bulgoginya.

Baekhyun menatap Sehun, yang sedang mengeluarkan jurus ampuhnya, jurus aegyo. Jurus yang mampu meluluhlantakkan hati siapa saja.

“Baiklah, kajja,” kata Baekhyun sambil menghela napas panjang. Sehun tersenyum gembira.

Ketika mereka berdua bangkit berdiri dan melangkah menuju mesin minuman, para perempuan memekik pelan dan ada juga yang memekik kuat. Sehun hanya mengacuhkan mereka ketika namanya di panggil. Dan Baekhyun tersenyum sambil mengangguk ketika namanya juga ikut di panggil.

Pekikan-pekikan perempuan itu membuat Seohyun menoleh ke arah Sehun dan Baekhyun, yang sedang melintasi meja makannya. Seohyun tersenyum manis pada Baekhyun, yang memang memberikan senyumannya pada Seohyun, Taeyeon, dan Tiffany. Namun, Seohyun hanya menatap Sehun sekilas saja dan kembali makan.

“Telingaku bisa sakit mendengar teriakan-teriakan dari para fangirls itu,” gerutu Tiffany.

“Bukannya kau juga termasuk salah satu fangirls mereka?” tanya Taeyeon. “Kau, ‘kan suka suara merdu milik Kyungsoo,”

“Dan suka lihat Kris Wu,” tambah Seohyun.

“Ya, kalian ini,” desis Tiffany. Sekilas matanya melirik ke arah meja EXO.

Seohyun dan Taeyeon dapat melihat itu dan mereka tertawa melihat tingkah Tiffany.

“Jadi? Kris atau Kyungsoo?” goda Taeyeon. “Kyungsoo punya wajah imut dan suara bagus. Kris punya wajah tampan seperti di manga dan ia juga manly. Kau tinggal memilih,”

Tiffany memberengut kesal melihat Taeyeon. Ia malu kalau diledekin begitu. Seohyun dan Taeyeon tertawa melihat ekspresi Tiffany.

Di tengah tawanya yang renyah, mata Seohyun melayang ke sosok laki-laki yang sangat terkenal di sekolah., Oh Sehun. Seohyun menatap laki-laki itu, yang lewat di depan mejanya sambil membawa 2 kaleng minuman. Senyuman Seohyun menghilang ketika menatap laki-laki itu.

Pandangan Seohyun kepada laki-laki itu berhenti ketika ia dan Baekhyun sudah duduk kembali di mejanya. Seohyun tidak menyukai laki-laki itu. selain karena ia playboy dan suka menghancurkan perasaan perempuan, Sehun pernah menghancurkan perasaan Nicole, teman dekat Seohyun. Seohyun memang bukan orang yang pendendam. Tapi ia paling tidak suka sahabatnya disakiti laki-laki. Ia juga tidak pernah tahu mengenai kelompok flower boys itu. Namun, karena Sehun sudah melukai hati Nicole dengan mencampakkannya begitu saja, Seohyun jadi tahu siapa itu Sehun dan apa itu EXO. Ia juga sangat berharap tidak pernah berurusan dengan EXO, termasuk Sehun. Karena bagi Seohyun, laki-laki konglomerat seperti mereka memang suka mempermainkan perasaan perempuan.

Bukan berarti Seohyun menganggap kelompok itu tidak ada yang baik. Seohyun cukup mau mengobrol dengan Baekhyun karena ia seseorang yang baik hati. Seohyun juga tahu kalau Lay, Joon Myun, dan Kyungsoo termasuk hoobae yang baik. Ia hanya tidak mau terlalu dekat dengan kelompok seperti itu. Bicara dengan Sehun pun Seohyun ingin berpikir dua kali, tidak, sepuluh kali.

_________

Setelah mengambil minuman dan kembali duduk di meja makan, Joon Myun dan yang lainnya langsung menatap Sehun.

“Ada apa?” tanya Sehun heran.

“Apa kau punya masalah dengan Seohyun itu?” Kris balik tanya dengan alis sedikit terangkat.

“Bagaimana bisa?Aku bahkan baru mengenalnya hari ini,” jawab Sehun makin heran.

“Dia tadi menatapmu dengan rasa penuh ketidaksukaan ketika kau kembali ke meja,” kata Joon Myun.

“Jeongmalyo?” tanya Baekhyun kaget. Sedangkan Sehun hanya diam. Ia teringat sesuatu.

“Kau sudah ditolak duluan, Hunnie,” kekeh Tao.

“Aiissh,” ucap Sehun.

“Bagaimana? Mau menyerah?” tanya Jong In.

“Tentu saja tidak. Aku belum memulainya tapi ini sudah sangat menarik,” jawab Sehun. “Dan sepertinya aku tahu kenapa dia tidak suka padaku,”

“Wae?” tanya Baekhyun, Chanyeol, Tao, dan Jongdae bersamaan.

“Karena aku memutuskan Nicole. Aku baru ingat kalau Nicole pernah menangis di pelukan Seohyun setelah aku memutuskannya,”

“Jalanmu mendapatkannya akan semakin sulit kalau begitu. Mengingat kau ini pernah pacaran 3 hari dengan teman dekatnya,” kata Minseok. Sehun mengangguk setuju.

“Kau harus menunjukkan kepada dunia, ‘kan kalau kau adalah laki-laki yang mampu membuat hati wanita luluh? Sesulit apapun jalannya, kau takkan pernah mau menyerah, ‘kan?” tanya Jongdae.

Sehun bangkit sambil menepuk-nepuk punggung belakang Jongdae. “Tentu saja,” dan Sehun mengedipkan sebelah matanya pada Jongdae.

Yang lain tertawa terbahak-bahak sambil pura-pura meleleh melihat kedipan Sehun.

________

Seohyun menatap jam tangannya. Hampir pukul 8 malam. Ia menghela napas panjang. Les piano dengan Song seonsaengnim benar-benar sangat lama hari ini. Biasanya tidak pernah selama ini. Song seonsaengnim terlalu bersemangat mengajarkan Seohyun piano dan sangat berharap Seohyun bisa menang dalam perlombaan piano yang akan diadakan sekolah nanti.

Seohyun kembali menatap jam tangannya. Ia merutuki dirinya sendiri. Biasanya malam-malam begini bus menuju rumah Seohyun jarang kelihatan. Jika Seohyun terus menunggu, ia akan sangat terlambat pulang kerumah.

Seohyun mulai melangkahkan kakinya meninggalkan halte bus dan menyusuri trotoar menuju rumahnya. Agak jaun memang. Tapi Seohyun juga tidak berani menunggu bus terlalu lama hingga larut malam nanti.

Seohyun sedang menatap langit yang bertabur bintang sambil melangkahkan kakinya ketika lengannya ditarik ke dalam lorong jalanan yang gelap oleh seseorang. Seohyun berusaha teriak namun mulutnya ditutup oleh tangan orang itu. Seohyun tidak bisa melihat siapa yang melakukan ini padanya karena orang itu berada di belakangnya, sedang membekap mulutnya. Seseorang itu merapat ke dinding lorong dan Seohyun dapat mendengar suara napas dari orang itu.

Seohyun melirik ke luar lorong. Ia membulatkan matanya ketika segerombolan preman melewati lorong itu sambil tertawa terbahak-bahak dan membawa beberapa kaleng minuman keras. Seohyun menahan napasnya melihat gerombolan itu. Ia takut. Ia lebih memilih bersama dengan orang asing yang membekap mulutnya daripada keluar dari lorong itu.

Setelah para preman itu sudah tidak terdengar derap langkah kakinya lagi, Seohyun bernapas lega. Lalu ia sadar mulutnya masih dibekap oleh orang asing. Seohyun lantas menggenggam pergelangan tangan orang itu dan menepisnya dari mulut Seohyun.

Lepas. Seohyun langsung balik badan dan ia hampir saja jatuh di tempat saking lemasnya melihat siapa orang yang tadi membekapnya. Seohyun membulatkan matanya dan ia menatap curiga laki-laki yang berada di hadapannya saat ini. Laki-laki itu Oh Sehun.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Seohyun pelan. Saat ini ia masih mau berusaha bersikap seperti biasa pada Sehun.

“Apa yang sunbae lakukan pada malam hari begini? Jalan-jalan sendirian. Tidak takut pada kumpulan tadi? Bagaimana kalau aku terlambat sedikit saja? Kau akan menjadi mangsa mereka malam ini,” ucap Sehun.

Seohyun menyipitkan matanya menatap Sehun. “Aku baru pulang dari sekolah dan aku jalan kaki karena mau pulang, ‘kan? Kau pikir aku perempuan seperti apa mau berkeliaran di tengah jalan pada jam segini?”

Sehun diam. Ia menatap wajah Seohyun dan mata Seohyun dalam-dalam. Neomu yeoppeo, batin Sehun dalam hati. Ia terus menatap Seohyun dan menelusuri wajah gadis itu sampai Seohyun merasa sangat risih.

“Lalu, kenapa kau berada di sini? Bukan hal yang kebetulan sekali seorang konglomerat sepertimu berada di lorong jalanan berusaha menyelamatkan siapa saja yang sedang jalan sendirian di daerah sini, ‘kan?”

Sehun tertawa renyah. “Gedung sebelah kita ini adalah kafe. Kebetulan aku sedang berada di sini bersama teman-temanku dan kebetulan juga aku keluar untuk menghirup udara segar. Tidak kusangka bisa melihat sunbae di trotoar. Aku ingin menyapa, tapi kulihat tak jauh dari sunbae, preman itu keluar dari kedai bir. Yah, tidak ada yang bisa kulakukan selain menarik sunbae ke dalam lorong,”

Seohyun terdiam. Ia tahu Sehun itu seperti apa. Playboy brengsek yang hobinya mencampakkan perempuan tanpa memkirkan perasaannya. Namun, Seohyun juga tidak tahu kalau Sehun punya hati nurani juga. Walaupun Seohyun yakin itu hanya beberapa sekian persen saja.

“Gomawoyo,” ucap Seohyun singkat. “Aku akan lebih berhati-hati lagi nanti,”

Seohyun balik badan dan hendak pergi keluar dari lorong. Namun, Sehun menggenggam pergelangan tangan kanan Seohyun. Seohyun kaget dan ia segera menepis tangan Sehun. Sehun menatap Seohyun dengan tatapan heran.

“Apa aku salah?” tanya Sehun.

“Aniyo. Itu tadi gerakan refleks dariku. Aku tidak biasa di sentuh laki-laki. Jadi, tolong lepaskan tanganmu,”

Sehun tercengang sedikit dan ia melepaskan pegangannya pada pergelangan tangan Seohyun. “Maaf. Aku tidak tahu, sunbae,”

“Aku juga tidak berharap kau tahu. Jadi, ada apa?”

“Kajja, pulanglah denganku. Aku akan mengantar sunbae. Para preman itu mungkin belum jauh dari sini,” ajak Sehun sambil tersenyum manis.

“Aku bisa pulang sendiri. Gomawo,” tolak Seohyun cepat.

Sehun langsung berpikir cepat. “Kalau sunbae tidak mau pulang denganku, aku akan menyuruh supirku untuk mengantarmu pulang. Otte? Aku tidak ingin sunbae pulang sendirian,”

Seohyun tersenyum kecil. Dalam hati, ia ingin tertawa sekeras-kerasnya. Ia tahu, sifat playboy Sehun sedang ‘kumat’.

“Aku bisa pulang sendiri, hoobae. Gomawo. Aku yakin aku tidak akan kenapa-napa,”

Sehun lagi-lagi diam. Ia mencoba memutar otaknya, mencoba berpikir keras. Ia memang belum terbiasa memelas pada perempuan.

Akhirnya, Sehun melangkah keluar lorong yang gelap itu, meninggalkan Seohyun di belakang. Sehun berdiri di pinggir jalan dan beberapa detik kemudian, ia menghentikan sebuah taksi. Dibukanya pintu taksi itu dan ia tengah berbincang-bincang dengan si supir. Seohyun hanya menatap Sehun sambil berpikir apa yang dilakukan anak ini pada seorang supir taksi.

Sehun menatap Seohyun dan ia mengangguk kepada Seohyun, menyuruhnya mendekat. Seohyun menghela napas lagi dan menuruti perkataan Sehun.

Saat Seohyun sudah mendekat, Sehun langsung mendorong tubuh Seohyun ke dalam taksi, memaksanya duduk di dalam, di bangku penumpang, di sebelah si supir taksi.

“Apa… awww,” ringis Seohyun saat dirinya sudah berada di dalam taksi. “Apa yang kau lakukan? Aku bisa pulang sendiri,” desis Seohyun.

Sehun pura-pura tidak mendengarnya. Ia malah menatap si supir taksi kembali. “Antarkan dia pulang ke rumahnya, ya ahjussi? Kalau dia memaksa ingin turun, jangan lakukan itu. Mengebut saja. Aku yakin dia tidak akan berani lompat keluar,”

Seohyun menatap kesal ke arah Sehun. Ia ingin memberontak, tentu saja. Namun, Sehun langsung menutup pintu taksi dan perlahan-lahan, taksi mulai bergerak, menjauhi Sehun.

“Ahjussi, bisakah kau menurunkan aku disini saja? Kau tidak perlu mengantarku pulang. Aku tidak punya uang untuk bayar tarifnya,” kata Seohyun cepat.

“Tenang saja, nona. Pacarmu sudah membayarnya tadi. Bahkan, kembaliannya untukku. Kembaliannya juga sangat banyak, mana mungkin aku mengkhianatinya,” jawab si supir tenang.

Seohyun tercengang. Ia tidak mampu berkata apa-apa lagi. “Dia bukan pacarku, ahjussi,”

“Pasangan muda seperti kalian memang sering bertengkar. Tapi tenang saja, nona. Kalian akan segara baikan lagi,”

“Kami tidak pacaran ahjussi,” kata Seohyun agak kesal. Ia buru-buru menghela napasnya, mencoba sabar. Menurutnya, tidak baik jika ia marah pada orang asing.

__________

“Apa rencanamu berhasil?” tanya Jong In pada Sehun, yang kembali duduk di sofa kafe bersama ke-11 temannya.

“Memang sulit. Seperti kata Baekhyun hyung. Dia bukan gadis yang mudah luluh. Dia bahkan tidak pernah berpegangan tangan pada satu laki-lakipun. Oh, ani. Akulah laki-laki pertama yang menggenggam pergelangan tangannya,”

“Sekarang kau mengerti bagaimana sulitnya mendapatkan seseorang yang tidak menaruh minat pada kita, ‘kan?” tanya Jong In.

“Yaahh, sulit. Tapi ini cukup menarik. Aku tidak akan angkat tangan sesulit apapun aku meluluhkan hatinya nanti. Aku pasti bisa,” ucap Sehun sambil meminum sedikit wine-nya.

Teman-temannya saling memandang dan mereka tersenyum satu sama lain. Beginilah sifat salah satu teman mereka. Tidak mau kalah.

“Apa kau sudah membayar para preman tadi?” tanya Joon Myun.

Sehun mengangguk. “Aku juga sudah memberikan mereka tip. Agar kerja mereka bagus. Dan memang bagus,”

“Ini baru langkah pertama, saengie~. Kita lihat kau sampai di langkah berapa,” ucap Luhan sambil menuang sedikit wine ke gelasnya.

__________

Seohyun menghela napas panjang saat ia baru saja meletakkan sepatu sekolahnya ke dalam loker sekolah. Ia menuju ke kelasnya dengan langkah malas-malasan. Ia mengantuk sekali hari ini. Kemarin malam ia tidur pukul 2 dini hari karena belajar.

Seohyun hendak menaiki tangga menuju kelasnya ketika ia mendengar suara ribut perempuan di lobi sekolah. Seohyun, yang penasaran ada apa ribut-ribut pagi-pagi begini, mengarahkan kakinya menuju lobi. Hampir semua murid-murid perempuan berada di lobi itu. Seohyun semakin heran. Ia mendekati salah satu dari mereka.

“Ada apa? Kenapa berkumpul disini?” tanya Seohyun pada salah satu siswi kelas 2.

“Eoh? Sunbae tidak tahu, ya? Kami menunggu EXO disini. Sebentar lagi mereka akan datang,” jawab siswi itu penuh semangat.

“Lalu, kalau mereka akan datang, kalian mau apa?” tanya Seohyun lagi.

“Kami akan menunggu dan memandangi mereka sampai mereka masuk ke kelas,”

“Bukankah itu membuang waktu? Maksudku, kalian bisa melakukan apa saja sekarang, bukannya menunggu dan memandangi mereka. Kalian tidak akan dapat respon,”

“Suatu saat pasti dapat. Setidaknya aku ingin Sehunnie menyatakan perasaannya padaku,”

“Dia itu playboy sekali. Kupikir kau tahu,”

“Tidak masalah sunbae,” jawab siswi itu, membuat bola mata Seohyun membesar. “Asalkan aku bisa bersama dengan Sehun, tidak masalah dia playboy atau tidak,”

“Dia bukan hanya playboy. Dia…”

Perkataan Seohyun terpotong ketika 12 mobil Bugatti Veyron beda warna berhenti di depan lobi sekolah. Siswi-siswi itu berteriak memanggil nama mereka. Dan beberapa detik kemudian, supir-supir mereka turun dan mempersilakan mereka turun. Mereka ber-12 pun secara serempak masuk ke lobi sekolah.

Teriakan dari para fangirl ini semakin keras. Seohyun harus menutup telinganya agar telinganya tidak terkontaminasi.

Selagi ia menutup telinganya, ia dapat melihat rombongan para ‘chaebol’ itu memasuki lobi dengan aura ‘pangeran’ mereka. Yang paling depan adalah Joon Myun, laki-laki penuh senyuman. Seohyun harus sedikit mengakui kalau mereka ini memang luar biasa tampan-tampan. Mereka dapat membuat semua siswi itu terkesima dan terpesona pada keanggunan mereka.

Semua siswi itu merapat satu sama lain. Karena takut terjepit, Seohyun mengambil langkah jauh dari mereka. Alhasil, Seohyun berdiri sendirian di tengah-tengah lobi. Seohyun pun juga baru sadar kalau beberapa detik lagi flower boys itu akan jalan menuju ke arahnya. Maka ia memutuskan untuk segera menaiki tangga menuju kelasnya.

Namun, langkahnya berhenti saat tatapan matanya bertemu dengan tatapan mata seorang laki-laki yang sekarang ini sedang menatapnya. Laki-laki itu Oh Sehun. Ia berada di belakang teman-temannya sambil tertawa.

Lalu, sedetik kemudian, ia menatap ke arah Seohyun. Ia terus menatap Seohyun. Tak pernah lepas. Tidak sedetikpun juga ia berkedip menatap Seohyun. Seohyun balas memandangnya dengan pandangan ‘tidak suka’ dan bertanya-tanya kenapa laki-laki itu terus menatapnya.

Bahkan sewaktu flower boys itu sudah menaiki tangga menuju kelas mereka, Sehun masih memandangi Seohyun. Ia juga sempat memutar kepalanya ke belakang untuk melihat Seohyun. Seohyun rela bersumpah kalau baru saja ia melihat Sehun sedikit tersenyum ke arahnya. Tapi bukan senyuman hormat kepada kakak kelas. Melainkan senyuman menggoda. Dan Seohyun benar-benar geli, ingin muntah.

Seketika ia merinding. Dan ia buru-buru pergi dari lobi menuju tangga satu lagi.

Di lain pihak, Sehun tersenyum penuh kegembiraan. Ia terus menyunggingkan senyumannya sampai mereka sudah duduk di meja masing-masing.

“Kenapa kau?” tanya Tao heran.

“Sehun-ah baru saja memberikan senyuman mautnya pada korbannya,” jawab Chanyeol, nyengir. Ia membalikkan bangkunya sehingga tubuhnya menghadap Sehun dan Tao.

“Dan kulihat kau gagal, Hunnie. Ia tetap menatapmu dengan pandangan seperti ‘what the hell?’. Kurasa juga ia jijik,” tambah Chanyeol sambil menahan tawanya.

“Hyung, aku baru melancarkan aksi kedua. Tentu saja belum berhasil. Mungkin aksi ketiga juga hari ini. Dan akan kupastikan berhasil,” ucap Sehun yakin.

“Fighting!” ucap Chanyeol sambil tertawa.

____________

“Eonni,” panggil Seohyun sedikit ragu pada Tiffany, yang sedang sibuk menulis di buku catatannya.

“Hm?” jawab Tiffany, tanpa mengalihkan pandangannya dari buku catatannya.

“Apa kau tahu dimana kelas… Oh Sehun?” tanya Seohyun pelan.

Tiffany mengangkat kepalanya dan menatap Seohyun dengan pandangan kaget. “Kau mencari Oh Sehun?”

“Aniya, ah maksudku ne~. Aku mau bertemu dengannya,” jawab Seohyun gugup. Bagaimana tidak gugup? Seohyun paling jarang bertanya tentang laki-laki. Apalagi kalau laki-laki itu tidak dikenalnya. Seohyun hanya berteman dengan laki-laki yang sudah dikenalnya sejak lama.

Tiffany juga merasa heran kenapa sahabatnya ini ingin bertemu dengan laki-laki. Seohyun adalah seorang yang pemalu. Ia belum pernah pacaran. Berpegangan tangan dengan laki-laki pun tidak pernah kecuali dengan ayahnya. Apalagi yang ingin ditemuinya sekarang ini adalah seorang ‘serigala’. Dan Seohyun paling anti laki-laki seperti itu. tapi kenapa sekarang?

Melihat diamnya Tiffany yang cukup lama, membuat Seohyun makin salah tingkah. “Aku ingin mengembalikan uang yang ia pinjam kepadaku kemarin malam. Eonni jangan menatapku seperti itu. Aku juga tidak mau bertemu dengannya kalau tidak ada urusan penting,”

“Pinjam uang?” Tiffany makin tidak mengerti.

Seohyun menghela napasnya dan ia menceritakan semuanya pada Tiffany kejadian yang ia alami kemarin malam. Tiffany melupakan catatannya sesaat dan diam mendengarkan cerita Seohyun dengan baik.

“Sudah kubilang jangan terlalu malam kalau pulang sehabis jam pelajaran tambahan piano, ‘kan?!” seru Tiffany sambil memukul pelan lengan kiri Seohyun.

Seohyun meringis sedikit dan ia tersenyum. “Mau bagaimana lagi? Song seonsaengnim terlalu semangat untuk membuatku menang dalam kompetisi nanti,”

“Untung saja ada Sehun. Baru kali pertama ini rasanya aku sangat bersyukur kau dekat dengan namja seperti Sehun,” kata Tiffany.

“Aku juga sempat merasa tertolong berkat dia. Tapi aku juga sangat berharap tidak bertemu dengan dia lagi, eonni. Kalaupun aku dalam keadaan terjepit, aku berharap orang lain yang datang,”

“Nuguya? Leeteuk oppa? Changmin-ah?” tanya Seohyun dengan kedipan menggoda ke arah Seohyun.

Seohyun sedikit menyunggingkan senyumannya pada Tiffany. “Kurasa begitu,”

“Awww,” goda Tiffany. Ia tertawa. “Oh, ya kau tadi bertanya dimana kelas Sehun, ya? Dia sekelas dengan Baekhyun-ah. Kau datangi saja Baekhyun-ah,”

Seohyun mengangguk. “Aku juga bisa minta Baekhyun-ah saja yang memberikan uang ini pada temannya. Baiklah, aku akan memberikannya pulang sekolah saja,”

Dan saat bel pulang sekolah sudah berdering, Seohyun segera menuju ke kelas Sehun. Tiffany maupun Taeyeon tidak menemani Seohyun karena keduanya sedang sibuk latihan drama untuk perlombaan sekolah nanti.

“Eoh? Sunbae? Waeyo?” tanya Lay, yang kebetulan orang pertama yang keluar dari kelas itu sambil menenteng tasnya.

“Aku… ada sedikit urusan dengan Oh Sehun,” jawab Seohyun kikuk. Ia memaksakan dirinya tersenyum.

Lay sedikit terkejut. Tapi ia langsung mengendalikan ekspresinya dengan bertanya, “Sehunnie? Dia tidak ada dikelas ini, sunbae. Dia sedang berada di ruang pribadi kami,”

“Ruang pribadi kalian?” tanya Seohyun heran.

“Ne, di lantai 5. Hanya ada satu ruangan di sana dan itulah ruangannya. Sehun sedang bersiap-siap untuk latihan dance-nya bersama Jong In,” jawab Lay dengan sopan.

“Aah, ye. Oh, ya bukannya kau juga suka dance?” tanya Seohyun.

“Ne, aku juga ikut, sunbae. Aku sudah selesai bersiap-siap. Tinggal menuju tempat latihannya saja,” jawab Lay.

“Ahh, ye. Kalau begitu, aku pergi ke ruang pribadi kalian, ya?” pamit Seohyun. Lay mengangguk dan sedikit membungkukkan badannya pada Seohyun.

Setelah Seohyun pergi, Lay buru buru masuk ke dalam kelas lagi dan langsung menggosipkan hal ini kepada teman-temannya.

Sesampainya di lantai 5, Seohyun dengan cepat mendapati sebuah ruangan yang di depan pintunya bertuliskan ‘Yang tidak berkepentingan, dilarang masuk’. Dan di sebelah tulisan itu juga ada tulisan lagi ‘EXO only’.

“Bagaimana ini?” gumam Seohyun. “Aahh Seohyun-ah paboya. Seharusnya aku menitipkan ini pada Lay saja. Dia, ‘kan akan latihan dance dengan Sehun. Paboya,”

Tepat saat itu, pintu ruangan itu terbuka dan keluarlah Jong In dengan pakaian dance-nya. Wajah Jong In ketika mendapati Seohyun berdiri di depan pintu ruangan mereka sangat amat terkejut. Ia tercengang sebentar.

“Sunbae? Ada perlu apa kesini?”

“Apa ada Sehun-ssi? Aku ingin mengembalikan sesuatu yang dipinjamnya padaku kemarin,” jawab Seohyun cepat.

“Dia di dalam. Seohyun sunbae bisa langsung menemuinya,”

“Apakah bisa kutitipkan padamu? Bukankah ini ruangan pribadi kalian? EXO only?”

Jong In diam. Bisa saja Seohyun menitipkan barang itu padanya. Tapi Jong In juga tahu ini adalah kesempatan Sehun melancarkan aksinya pada Seohyun.

“Tidak bisa, sunbae. Jeoseonghamnida,” tolak Jong In.

“Eh? Wae?”

“Aku paling tidak bisa menjaga barang titipan orang lain. Selain itu, Sehun juga tidak suka jika ada orang yang menitipkan barangnya pada orang lain,” jawab Jong In. Bohong, tentu saja.

“Jengmalyo?” tanya Seohyun, mendadak lemas.

Jong In mengangguk. “Sunbae silakan masuk. Kalau ada kepentingan dengan kami, dipersilakan masuk, kok,”

Seohyun mengangguk. Dengan langkah ragu, ia mulai masuk ke ruangan pribadi mereka. Setelah Seohyun masuk, Jong In menutup pintunya dan ia pergi untuk latihan dance.

Seohyun menghela napas panjang dan menatap sekeliling ruangan itu. Besar sekali. Isinya seperti ruang tamu di rumah-rumah para bangsawan itu. Hanya saja di ruangan ini ada meja biliiard-nya.

“Ini ruangan pribadi mereka?” gumam Seohyun.

Ia menatap sekeliling lagi dan matanya menangkap sekumpulan foto-foto yang terpajang di meja panjang di sudut ruangan. Seohyun melangkahkan kakinya menuju meja itu dan memandangi foto mereka ber-12 satu per satu. Seohyun sadar, lebih banyak foto Sehun. Tentu saja, ini ‘kan ruangan pribadi dari ayahnya.

“Jong In hyung, kau belum pergi?”

Sehun keluar dari kamar ganti sambil sibuk menata rambutnya. Ia kaget sekali melihat perempuan yang kini tengah menjadi korbannya sedang berdiri di depan meja tempat foto-foto mereka terpampang. Ia ingin memanggil perempuan itu. Namun, ide gilanya muncul. Ia sedikit mengeluarkan smirk-nya dan mendekati Seohyun, yang sama sekali tidak sadar kalau Sehun ada di situ.

“Apa yang sedang sunbae lakukan di sini?” bisik Sehun tepat di telinga Seohyun.

Seohyun membatu. Suara itu. Walaupun baru pertama kali mendengarnya kemarin malam, tapi Seohyun tahu suara siapa yang berada di belakangnya ini.

Seohyun semakin membatu lagi ketika disadarinya tubuh laki-laki itu menempel di tubuhnya. Napas segar laki-laki itu dapat dirasakan Seohyun di lehernya, membuat Seohyun mati kutu, merinding, dan jantungnya berdebar sangat kencang. Wangi tubuh laki-laki ini menguar dan menyelimuti suasana di sekeliling mereka. Tubuhnya makin melemas saat matanya menangkap kedua tangan Sehun menumpu di meja, membuat tubuh Seohyun terperangkap dan tidak bisa bergerak.

Seohyun tidak mungkin dan tidak mau membalikkan badannya, karena ia tahu apa yang akan terjadi jika ia melakukan hal itu.

Eotteokkaji? Gumam Seohyun dalam hati.

TBC~

Terima kasih untuk para reader yang menyempatkan diri membaca FF ini~. Aneh, ya?walaupun aneh, tapi jangan jadi SILENT readers, yaaa^^

Terima kasih juga buat Vi eonni yang udah mau post FF ini#muah hehehe..

25 thoughts on “[Freelance] My Nappeun Hoobae (Chapter 1/3)

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s