I Got You, Girl

i got u girl

 I Got You, Girl

Present by

Lee Midah

Xi Luhan EXO-M    ||    Kwon Yuri SNSD

Sub cast

Oh Sehun || Kim Hyoyeon (cameo)

Genre Romance Fluff | Length Oneshoot | Rating PG-15

Disclaimer

Cerita ini murni ini terinspirasi dari sebuah manga, Dan merupakan Sequel dari Try to Get You, jadi yang belom baca n gak mengerti bisa membacanya dulu ^__^  Just or Fun!!! ^__^ Castnya milik God, SM, dan diri mereka sendiri. Author Cuma minjem ^^ Don’t Siders!!! Don’t Plagiat!!! Don’t Bashing!!! Jika tidak suka pairingannya tidak udah baca! Be friendly  ^__^

®Fanfiction Copyright Exoshidae Fanfiction © Lee Midah

Don’t Be Siders!!! Don’t Plagiator!!!

If You Resect To Me, Leave a Comment After Read!!!!

Happy Reading All ^__^ !!!

Sehun menyusul Yuri dan Luhan ke ruang kesehatan, karena dia merasa aneh dengan mereka berdua. Terutama pada Luhan, Sehun merasa tingkah Luhan akhir – akhir ini sungguh aneh. Luhan tidak pernah peduli pada seorang yeoja jika dia tidak menginginkan sesuatu dari yeoja itu. Kali ini Luhan memperlihatkan perhatiannya pada Yuri yang notabenya bukan tipe idealnya. Saat sudah dekat ruang kesehatan, Sehun melihat Luhan yang sedang memapah Yuri yang berjalan terpincang.

“ Ya! Xi Luhan! Apa yang kau lakukan padanya? “, tanya Sehun saat dia sudah berada didepan mereka.

“ Memangnya kau pikir aku sedang melakukan apa? “, tanya Luhan balik dengan wajah polos.

“ Kwon Yuri, dia tidak melakukan apapun padamu kan? “, tanya Sehun pada Yuri, wajah Yuri langsung memerah saat mendengar pertanyaan Sehun.

“ Kenapa kau diam? Dan… mengapa wajahmu merah seperti itu? “, tanya Sehun aneh melihat sikap Yuri.

“ Anu… aku… “, ucap Yuri gugup yang tidak tahu harus menjawab apa.

“ Sudahlah Sehun-a, kau kembali saja latihan. Yuri biar aku yang urus “, suruh Luhan yang tahu Yuri gugup dengan segala pertanyaan Sehun.

“ Tapi…. “,

“ Kembali saja, Aku akan mengantarnya pulang “, ujar Luhan yang masih memapah Yuri meninggalkan Sehun yang masih diam di posisinya.

“ Kurasa, ada yang aneh dengan mereka “, gumam Sehun memandangi punggung Yuri dan Luhan yang mulai menjauh.

~o0o~

“ Naiklah! “, suruhku pada Yuri saat kami sudah ada di parkiran motorku.

“ Shireo! Aku tidak mau dibunuh oleh yeoja – yeoja yang cemburu padaku! “, tolaknya yang kini melirik kanan – kirinya, memang terlihat banyak orang memandangi kami dengan tatapan aneh dan tajam terutama para yeoja yang pernah aku kencani.

“ Tidak mungkin. Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi padamu. Lagi pula kau itu jago karate, mungkin mereka yang akan takut dibunuh olehmu “, candaku, namun terlihat dia masih ragu – ragu untuk naik ke motorku.

Tapi aku punya ide agar dia mau naik motor bersamaku, kulukiskan seringaianku padanya “ Atau kau ingin aku menggendongmu? “, ucapku yang masih menyeringai.

Terlihat wajahnya memerah saat aku mengucapkan hal itu, dia terlihat cute saat malu seperti ini.

“ Otte? “, tanyaku lagi memastikan.

“ Arraseo, aku akan naik! “, akhirnya Yuri menyerah juga. Aku mengembangkan senyumku dengan keputusannya. Aku memberikan helmku padanya dan dia pun mengernyitkan dahinya.

“ Lalu kau bagaimana? “, dia memandangku heran.

“ Aku tidak memerlukannya, karena keselamatanmu lebih penting untukku “, ucapku sambil tersenyum, lagi – lagi wajahnya memerah. Aish! Mengapa yeoja ini begitu cute?! Aku semakin gemas padanya, apalagi saat dia menggigit bibir bawahnya membuatku selalu ingin menciumnya.

“ Ya sudah, Kajja! “, ajakku lalu dia pun naik ke motorku.

“ Peluk aku! “, kataku saat dia sudah berada dibelakangku.

“ Mwo?! “, kagetnya dengan permintaanku.

“ Apa kau ingin jatuh? “, tanyaku.

“ Tapi… “, sebelum dia mengatakan sesuatu aku memutar gas motorku yang langsung membuat tangannya melingkar di perutku. Aku pun tersenyum lalu menjalankan motorku menuju ke rumahnya. Setelah sampai dirumahnya, Yuri pun turun dari motorku dan memberikan helmnya padaku.

“ Gomawo “, setelah mengucapkan terima kasih, Yuri berbalik sambil berjalan menuju pagar rumahnya namun sebelum dia menjauh aku menahan tangannya membuatnya kembali menoleh padaku.

“ Sabtu nanti berdandanlah yang cantik, karena kita akan berkencan “, ucapku

“ Mwo?! “, kagetnya.

Dengan cepat kucium bibirnya kilat dan langsung menjalankan motorku meninggalkannya yang masih mematung disana. Aku pun tersenyum dan tidak sabar menunggu kencan kami.

~o0o~

Yuri masih mencoba mencari pakaian yang akan dia pakai untuk besok, karena Luhan sudah mengatakan padanya untuk berkencan namun Yuri bingung dengan pakaian apa yang akan dia pakai, karena ini pertama kalinya dia berkencan dengan seorang namja dan lebih parahnya itu namja yang akan dia kencani adalah namja yang sering bergonti – ganti kekasih. Yuri tahu kalau dia bukan tipe ideal Luhan, tapi dia tahu bahwa Luhan sudah membuat jantungnya berdebar – debar saat didekatnya. Walaupun hatinya masih bimbang tapi Yuri senang Luhan bilang kalau dia menyukainya. Hanya saja Yuri masih belum yakin kalau Luhan serius atau hanya main – main dengannya seperti pada seluruh yeoja di sekolahnya .

“ Kau sedang apa Yul? “, tanya Hyoyeon yang merupakan kakak kandung Yuri.

“ Eonni! “, kaget Yuri mendapati Eonninya yang kini menatap aneh padanya.

“ Kenapa kau mengobrak – abrik lemarimu? “, tanya Hyoyeon.

“ Aku bingung Eonni, besok aku memakai baju apa? “, keluh Yuri.

“ Waeyo? Memang besok hari apa? “, tanya Hyoyeon penasaran.

“ Hmm… itu…. aku akan pergi bersama temanku “, jawab Yuri gugup membuat Hyeoyeon memicingkan matanya.

“ Teman? Namja or Yeoja? “, tanya Hyoyeon lagi.

“ Hmmm…. ano… itu… “,

“ Namja ya? “, tebak Hyoyeon antusias.

“ Neh “,

“ Wah…. Akhirnya kau memiliki namjachingu juga “, girang Hyoyeon sambil tepuk tangan.

“ Anio, Eonni. Dia bukan namjacinguku, kami hanya teman kok “, sangkal Yuri yang kini wajahnya mulai memerah.

“ Eish! Lihat wajahmu sudah merah seperti itu,  Apa dia Sehun? “, tanya Hyoyeon.

“ Anio “, jawab Yuri.

“ Lalu nuguya? “, terlihat wajah penasaran Hyoyeon.

“ Dia Luhan “,

“ Luhan? Sepertinya aku pernah mendengar namanya? “, pikir Hyoyeon yang merasa tidak asing dengan nama itu.

“ Sebenarnya dia adalah playboy di sekolah. Tapi dia mengatakan dia menyukaiku “, tutur Yuri.

“ Jinjja? Lalu apa kau menyukainya? “, tanya Hyoyeon.

“ Molla Eonni, aku juga bingung. Aku masih tidak yakin kalau dia benar – benar menyukaiku walaupun dia sudah bilang kalau dia berubah karena aku. Bahkan dia memutuskan kekasih – kekasihnya demi aku  “, ucap Yuri sambil duduk di samping Hyoyeon.

“ Kalau begitu, biar Eonni yang akan mendandanimu.“, usul Hyoyeon.

“ Jinjja? “,

“ Neh, Eonni tidak khawatir jika kau berhubungan dengannya karena kalau dia macam – macam kau kan bisa menghajarnya “, canda Hyoyeon membuat Yuri tertawa.

“ Kalau begitu serahkan pada Eonnimu ini! “, ucap Hyoyeon sambil tersenyum penuh arti.

~o0o~

“ Luhan-a, apa kau serius dengan Yuri? “, tanya Sehun padaku yang kini sedang bermain PS di rumahku.

“ Tentu saja, memangnya aku terlihat main – main? “, jawabku tanpa mengalihkan pandanganku dari layar televisi.

“ Tapi bukankah dia itu bukan tipemu? Maksudku kau selalu berkencan dengan yeoja yang suka berdandan juga feminin tapi Kwon Yuri bukan yeoja seperti itu kan? “,

“ Justru itulah yang membuatku menyukainya, karena dia berbeda “,

“ Kuharap kau tidak mempermainkannya “, ucap Sehun terdengar memperingatkanku, apa dia juga menyukai Yuri?

“ Apa kau juga menyukainya, Sehun-a? “, tanyaku sambil menoleh ke arahnya.

“ Anio, bukan seperti itu. Aku hanya tidak ingin melihatnya terluka dan bersedih karena dia sahabatku “, sangkalnya.

“ Geurae, kau percaya saja padaku. Yuri berbeda dengan semua yeoja yang pernah aku kencani. Jadi kau tidak usah khawatir karena aku benar – benar menyukainya “, ujarku sambil tersenyum dan Sehun pun mengangguk – angguk.

~o0o~

Hari kencanku pun tiba, dengan tidak sabar aku mulai menjalankan motorku untuk bertemu dengan Yuri. Aku pun mengetuk pintu rumahnya dan terlihat seorang yeoja berambut pirang membukakan pintu untukku.

“ Anyeonghaseyo “, sapaku.

Yeoja itu pun menatapku dari atas sampai bawah.

“ Apa kau yang akan mengajak dongsaengku kencan? “, tanya yeoja itu, dongsaeng? Apa dia kakaknya Yuri.

“ Neh, Luhan Imnida “, ucapku memperkenalkan diri.

“ Cukup lumayan. Tunggulah, sebentar lagi dia turun. Aku Hyoyeon Eonni dari Yuri “, ucapnya lalu menyuruhku masuk.

“ Bangapseumida “, ucapku lalu duduk di kursi ruang tamu.

Tak berapa lama, kulihat seorang yeoja turun dari tangga. Tanpa aku sadari aku mulai berdiri karena kulihat Yuri berpakaian feminin. Dia memakai kaos lengan pendek dipadu rok mini, ternyata jika dia berdandan seperti ini dia terlihat lebih cute. Aku tersenyum menyambutnya yang kini mulai berjalan ke arahku.

“ Kau cantik sekali “, pujiku padanya sambil tersenyum, terlihat dia tersipu dan pipinya mulai memerah.

“ Kajja! “, ajakku dan dia pun mengangguk.

“ Luhan! Ingat kau harus membawanya kembali dengan utuh! “, ucap Hyoyeon noona padaku.

“ Tenang saja Noona, aku akan mengembalikannya tanpa kurang sedikit pun “, jawabku.

Kami pun pergi menuju Taman hiburan, karena sepertinya tempat itu sangat menyenangkan. Walaupun terasa tidak aneh untuk pergi kesana namun tetap aku ingin mengajaknya dan menghabiskan waktu kencan kami disana. Setelah masuk kami berjalan berdampingan, aku pun menggenggam tangannya yang membuatnya menoleh.

“ Wae? Bukankah kita sedang berkencan? “, tanyaku padanya.

“ Aku tahu, tapi rasanya kurang nyaman “, jawabnya.

“ Itu karena kau belum terbiasa, tenang saja nanti juga kau merasa nyaman “, ucapku dan akhirnya kami melanjutkan jalan – jalan kami.

Kami menaiki beberapa wahana yang lumayan ekstrim tapi anehnya kenapa Yuri masih senang dan tidak merasa takut sedikit pun, wajahnya terus saja ceria. Kupikir semua yeoja akan merasa takut dan mulai memeluk atau menggenggam tangan namja disampingnya saat menaiki wahana seperti roller coster , tapi Yuri tidak melakukan hal itu sama sekali. Benar – benar yeoja yang berbeda.

“ Yuri, apa kau tidak takut? “, tanyaku saat kami baru turun dari roller coster.

“ Ania, wae? Tidakkah itu menyenangkan? “, ucapnya sambil melukiskan senyum bahagia diwajahnya.

“ Neh, sangat menyenangkan “, ucapku sambil memaksakan senyum.

“ Kita naik itu sekarang! “, ucapnya sambil menunjuk sebuah wahan menyerupai perahu.

“ Kau yakin? “, tanyaku. Dia mengangguk semangat. Sepertinya aku salah mencari tempat kencan, karena aku tidak merasa kencan ini sungguh romantis sama sekali.

“ Yuri-a, sebaiknya kita cari tempat lain “, saranku saat dia sudah berjalan beberapa langkah.

“ Wae? Disini sungguh menyenangkan “, tanyanya sambil menatapku.

“ Tapi kita kan sedang berkencan, bukan untuk bermain “, ucapku menghampirinya.

“ Memangnya apa bedanya berkencan dengan bermain? “, tanyanya.

“ Apa kau tidak pernah berkencan? “, tanyaku dia pun menggeleng..

“ Arraseo, kalau kau tidak tahu. Aku akan mengajarkanmu “, ucapku lalu aku menghampirinya dan mulai memeluk pinggangnya membuatnya kaget.

“ Luhan, apa yang kau lakukan? “, tanyanya mencoba melepaskan tanganku dari pinggangnya.

“ Waeyo? Semua orang kencan melakukannya “, jawabku.

“ Tapi lihatlah semua orang memandangi kita “, ucapnya yang masih mencoba melepaskan pelukanku

“ Kau tenang saja, mereka hanya iri pada kita “, jawab sambil membawanya untuk berjalan.

~o0o~

Aku membawanya ke bioskop untuk menonton film, aku akan membeli tiket horror agar nanti saat menonton dia ketakutan dan langsung memelukku. Aku pun tersenyum membayangkan hal itu.

“ Luhan, mengapa kau tersenyum sendiri? “, tanya Yuri menatapku aneh.

“ Anio, kau tunggu disini. Aku akan membeli tiket dulu “, jawabku sambil berjalan kearah penjual tiket.

Setelah kembali dengan dua popcorn aku dan Yuri masuk ke dalam gedung bioskop, rupanya sedikit sekali yang menonton film horror. Tapi ini lebih bagus, aku dan Yuri bisa melakukan apapun tanpa takut ada yang melihat kami. Kami pun duduk dibagian tengah yang kanan kirinya kosong. Saat film diputar kulihat Yuri sungguh serius menatap layar lebar itu tanpa menoleh, aku perhatikan dia tidak takut sama sekali. Dia malah terlihat tenang sambil memakan popcornnya.

“ Yuri-a, kau tidak takut? “, tanyaku.

“ Anio “, jawabnya namun matanya masih tertuju pada film, Aish! Sepertinya aku salah memilih film seharusnya aku memilih film romantis. Aku pun menolehkan pandanganku kearah film namun tiba – tiba sosok hantu muncul membuatku kaget da berteriak

“ Aaarrrrrgggghhhhhh!!!! “,

Yuri menoleh kearahku lalu tertawa melihatku yang berteriak, aku hanya menatapnya kesal. Dia pasti mengira aku yang takut dengan film itu. Tck! Memalukan! Film pun habis, namun Yuri masih saja menertawakanku.

“ Ya! Berhenti tertawa sebelum aku menciummu didepan umum “, ancamku dan kulihat dia langsung terdiam.

“ Bagus, karena aku berteriak bukan takut tapi hanya kaget. Kau paham?! “, ujarku dan dia menganggukkan kepalanya seperti puppy.

Kami pun berjalan lagi dan tak terasa hari sudah mulai gelap. Aku membawanya ke arah sungai Han untuk melihat air mancur berwarna-warni.

“ Yuri, lihatlah itu! “, ucapku sambil menunjuk arah jembatan yang mulai menyemburkan air mancur.

“ Wah!!!! Neomu Yeppeunda!!! “, terlihat wajahnya memancarkan kekaguman yang menurutku sungguh terlihat cantik.

Aku hanya menatap wajahnya yang masih tersenyum kagum, aku juga mengagumi sesuatu yang cantik yaitu kau Yuri. Dia menolehkan kepalanya ke arahku yang masih memandanginya, sepertinya dia baru sadar kalau yang aku perhatikan itu bukan air mancur itu tapi dirinya.

“ Mengapa kau menatapku seperti itu? “, tanyanya yang tersipu malu, senyumku semakin lebar melihatnya yang terlihat kikuk seperti itu.

“ Mengagumimu “, jawabku, dia pun semakin salah tingkah.

“ Jadi… apa kau mau jadi kekasihku Yul? “, tanyaku membuatnya menoleh.

“ Hmm? “, sahutnya.

“ Aku sungguh menyukaimu… “, ucapku sambil mengambil tangannya lalu meletakannya didadaku yang berdegup kencang.

“ Kau bisa merasakannya kan? Debaran jantung ini hanya aku rasakan saat bersamamu “, tambahku.

“ Apa kau percaya bahwa dari sekian yeoja yang kencan denganku, kaulah yang membuatku seperti ini. Bahkan kau membuatku seperti orang bodoh didepan teman – temanku. Semua karenamu Yul “,

Dia masih diam tanpa mengatakan apapun, aku semakin penasaran kenapa sulit sekali meluluhkan hatinya yang jelas – jelas dia itu menyukaiku.

“ Hmm.. itu… “, aku menatapnya penasaran dengan apa yang akan dia katakan.

“ Aku tidak tahu harus menjawab apa? Aku takut jika suatu hari kau akan bosan padaku dan mencari kekasih lain lagi “, akunya yang membuatku merasa senang, rupanya dia masih ragu denganku.

“ Lalu apa yang bisa membuatmu percaya kalau aku serius denganmu? “, tanyaku sambil menggenggam kedua tangannya.

“ Hmmm…. Molla “, jawabnya yang terlihat bingung.

“ Dengarkan aku Kwon Yuri, aku tahu aku memang seorang playboy dan suka mempermainkan para yeoja. Tapi playboy itu sudah berubah demi yeoja yang dia cintai dan membuat dunianya berubah dan yeoja itu kau Yuri “, ucapku meyakinkan dirinya sambil menatapnya lekat. Aku mulai memegang pipinya lembut sambil mengarahkan matanya agar dia melihat kejujuran dimataku.

“ Tatap aku dan katakan jika kau masih ragu padaku “, ucapku dan dia pun menurutiku dengan menatapku, setelah beberapa detik aku pun mulai bertanya lagi.

“ Apa kau lihat aku berbohong? “,

“ Anio “, jawabnya.

“ Jadi kau mau menjadi kekasihku? “, tanyaku lagi, perlahan kepalanya mengangguk membuatku sangat bahagia.

“ Jinjja? Kau mau? “, aku ingin memastikannya lagi dan dia semakin menganggukan kepalanya, aku pun langsung memeluknya erat karena saat ini adalah saat paling membahagiakan dalam hidupku.

“ Gomawo Yuri “, ucapku.

Aku pun mengantarnya untuk pulang, setelah sampai aku mengantarnya sampai depan pintu rumahnya.

“ Sampai besok “, ucapnya sambil melambaikan tangannya, aku hanya menjawabnya dengan anggukan kepala.

“ Masuklah! “, suruhku.

Dia pun terlihat berbalik namun tidak melangkahkan kakinya masuk, dia kembali membalikkan tubuhnya menghadapku.

“ Aku akan mengantarmu sampai kedepan “, ucapnya lalu kami pun berjalan menuju motorku yang terparkir di luar pagar rumahnya, kami hanya berjalan tanpa mengeluarkan kata sedikitpun sampai akhirnya kami sampai di dekat motorku, mengapa rasanya waktu cepat sekali berlalu?

“ Hati – hati! “, ucapnya dan aku pun tersenyum.

“ Hmm… aku akan mengantarmu sampai depan rumahmu “, tawarku karena aku tidak ingin mengakhiri hari yang indah ini.

Kami pun kembali berjalan menuju depan rumahnya, rasanya kami seperti orang bodoh yang hanya bolak – balik dari depan rumahnya sampai pintu gerbang.

“ Sepertinya jika diteruskan kita tidak akan pernah selesai saling mangantar “, ucapku membuat kami berdua terkekeh.

“ Kalau begitu kau masuklah dulu, baru aku akan pulang “, suruhku sambil mengusap rambutnya lembut.

“ Geurae, Anyeong! “, ucap Yuri.

Namun sebelum dia berbalik, dia mendekatiku lalu menjinjit kakinya agar setara denganku dan

Chu~

Dia mencium pipiku lalu berlari masuk ke rumahnya dan menutup pintunya, Aku hanya tertawa dengan tingkahnya yang pasti sekarang sangat malu. Aku pun menghampiri motorku lalu menjalankannya meninggalkan rumah Yuri dan  berharap agar besok akan segera tiba karena aku tidak sabar untuk melihatnya lagi.

~o0o~

“ Hyak! Hyak! “, terdengar suara para anggota karate yang sedang berlatih.

“ Ok sekian dulu, sekarang cari patner kalian untuk berlatih kemampuan menahan serangan dan mengambil kesempatan untuk menyerang balik “, suruh Pelatih.

“ Neh “,

Sehun berjalan mendekati Yuri karena memang biasanya mereka sering menjadi patner dalam latihan. Namun tiba – tiba saja ada seorang namja masuk dengan pakaian karatenya. Semua anggota menatapnya kaget, karena dia bukan anggota dari klub itu.

“ Luhan?!!! ‘, kaget Yuri dan Sehun bersamaan.

“ Oia aku lupa, mulai sekarang Xi Luhan akan menjadi bagian dari klub karate “, tutur sang pelatih.

“ Mwo?! “, Yuri dan Sehun saling berpandangan.

“ Cari patnermu karena kita akan segera latihan “, suruh pelatih agar para anggota bersiap dalam posisinya.

“ Sehun-a, sepertinya kau harus mencari patner baru. Karena Yuri akan menjadi patnerku “, ujar Luhan membuat Sehun terpaksa mencari patner lain.

Yuri masih menatap Luhan kaget karena tiba – tiba saja Luhan masuk sebuah klub. Dia sangat tidak tertarik dengan klub sekolah yang menurutnya sangat membosankan. Itulah yang membuat Yuri dan Sehun tidak habis pikir.

“ Wae? Apa kau masih kaget kalau aku masuk ke klub ini? “, tanya Luhan.

“ Neh, kau kan paling tidak suka membuang – buang waktumu untuk kegiatan klub? “, jawab Yuri.

“ Kau tahu alasanku masuk klub ini? “, tanya Luhan yang berbisik ditelinga Yuri.

“ Ya! Kalian jangan pacaran disini, ambil posisi! “, perintah sang pelatih.

“ You! “, Luhan mengucapkannya tanpa suara sambil menunjuk kearah Yuri.

“ Hati – hati, Yuri! Aku bisa melukaimu, kau tahu?! “, peringat Luhan sambil mengambil posisinya.

“ Geurae, coba saja “, jawab Yuri seakan menantang.

“ Mulai! “, aba – aba sang pelatih untuk memulai latihan pun terdengar.

Terlihat semua anggota bekerja keras mempraktekan apa yang mereka pelajari. Saat Luhan akan menyerang Yuri dengan sekali gerakan Yuri membanting tubuh Luhan seperti waktu pertama mereka bertemu. Luhan pun jatuh tak sadarkan diri, awalnya Yuri mengira Luhan pura – pura tapi Luhan tidak bangun.

“ Luhan, Gwenchana? Cepat bangun! “, ucap Yuri sambil mencoba membangunkan Luhan namun sepertinya Luhan tidak mau bangun.

“ Ya! Jangan main – main! “, suara Yuri meninggi membuat semua orang melihat kearahnya.

“Waeyo? “, tanya pelatih menghampiri mereka.

“ Aku hanya memakai satu jurus tapi dia tidak sadarkan diri “, jelas Yuri yang masih mencoba membangunkan Luhan.

“ Sehun-a, bawa dia ke ruang kesehatan! “,

“ Neh “, Sehun pun membawa Luhan dan membaringkannya di tempat tidur pasien.

“ Ya! Jangan pura – pura lagi! Aku tahu kau hanya mempermainkan Yuri kan? “, ujar Sehun sambil menendang kaki Luhan.

“ Aw! Appo! “, ringis Luhan sambil mengusap kakinya.

“ Aku sudah tahu taktikmu Xi Luhan “, cibir Sehun.

“ Aku tidak main – main. Jinjja! Yeoja itu benar – benar kuat! “, seru Luhan.

“ Makanya kau harus hati – hati dengannya karena kalau sampai dia sakit hati karenamu, kau pasti mati! “, jawab Sehun lalu meninggalkan Luhan sendiri.

~o0o~

Aku mendengar suara Yuri saat Sehun keluar, aku pun berbaring kembali berpura – pura tidak sadarkan diri. Kurasakan seseorang menghampiriku lalu berdiri disampingku.

“ Apa aku terlalu keras membantingmu? “, tanyanya polos, ingin sekali aku tertawa tapi aku menahannya.

“ Mianhae, Aku tidak bermaksud melukaimu “, sesalnya.

“ Aku akan melakukan apapun untuk menebus kesalahanku “, ucapnya, mwo?! Apapun?!!!

Aku pun pura – pura mulai sadar dan perlahan membuka mataku. Kulihat wajahnya yang memancarkan bahagia melihatku bangun. Apa dia begitu khawatir padaku? Aku pun ingin bangun namun aku mencoba berakting kesakitan.

“ Akh! Punggungku! “, ringisku.

Sontak Yuri langsung  mendekat padaku dengan wajah paniknya. Yeoja polos ini, masih tidak sadar kalau aku hanya pura – pura.

“ Gwenchana? “ , tanyanya.

“ Gwenchana “, jawabku.

“ Mianhae “, lirihnya.

“ Sudahlah bukankah wajar dalam latihan ada sedikit kecelakaan “, jawabku sambil tersenyum namun Yuri masih menekuk wajahnya.

“ Hey! Aku bilang tidak apa – apa. Mengapa kau bersedih? “, tanyaku, dia masih menekuk wajahnya yang membuatku merasa bersalah. Mengapa yeoja ini begitu berperasaan?

“ Yuri, sebenarnya aku tidak apa – apa. Aku tidak terluka, aku hanya ingin melihat kau yang cemas padaku “, jelasku membuat wajahnya langsung menatapku.

“ Mwo?! “,

“ Neh, aku hanya pura – pura. Karena aku ingin melihat perhatianmu padaku “, aku mengakuinya.

“ Kau berpura – pura?! “,

“ Ya! Kau pikir ini main – main huh?! Aku khawatir kau terluka dan kau bilang hanya pura – pura?! “, marah Yuri.

“ Kau! Kau… Nappeun namja! “,

Aku bingung melihat sikapnya, tiba – tiba dia menangis membuatku tidak mengerti.

“ Wae? Mengapa kau menangis? “, tanyaku.

“ Kau? Bagaimana bisa kau pura – pura dan membuatku cemas padamu huh?! “, aku pun memeluknya yang masih menangis.

“ Mianhae. Tapi sekarang aku tahu kau peduli padaku “, ucapku mengusap rambutnya.

“ Bagaimana mungkin aku tidak peduli? Kau namjacinguku! “, kesalnya sambil memukul dadaku.

“ Sekarang kau mengakui aku sebagai namjacingumu? “, tanyaku, kurasakan dia berhenti menangis juga langsung terdiam. Aku pun tersenyum dibuatnya.

“ Baiklah, kalau kau tidak ingin menjawab. Sekarang katakan kau mencintaiku, Yuri “, pintaku.

“ Shirheo! “, tolaknya yang mencoba melepaskan pelukanku namun aku semakin memeluknya erat.

“ Lepaskan aku! “,

“ Aku tidak akan melepaskanmu sebelum kau mengatakannya “, jawabku tapi dia tetap berontak sampai suara pintu terbuka dan memperlihatkan guru kesehatan datang. Yuri langsung mendorongku hingga jatuh ke tempat tidur.

“ Ahk! “, ringisku.

“ Ada apa ini? “, tanya Guru kesehatan.

“ Anio, aku hanya membantunya karena dia terluka saat latihan “, jawab Yuri yang langsung membantuku.

“ Oh geurae “, jawab guru itu lalu meninggalkan kami lagi.

“ Ya! Kenapa kau mendorongku?! “, protesku, kulihat Yuri tersenyum

“ Itu balasan untukmu! “, ucapnya lalu berbalik untuk keluar dari ruang kesehatan.

“ Mau kemana kau? Temani aku! “, pintaku.

Dia pun menghentikan langkahnya lalu berbalik padaku, aku hanya melihatnya yang terlihat diam ditempatnya.

“ Wo Ai ni “, ucapnya lalu kembali berbalik dan berjalan keluar.

“ Wo Ai ni? Mwo? Apa aku salah dengar? Yuri mengatakan Wo Ai Ni?!!! “, Aku pun senang sekali. Aku langsung berjingkrak – jingkrak sambil menari – nari tidak jelas. Aku tidak peduli jika aku dikatakan orang gila walaupun di sini hanya ada aku seorang. Saat aku berbalik, kulihat Yuri berdiri ditempatnya tadi. Sontak aku menghentikan gerakan tarian tidak jelasku dan aku merasa malu sekarang. Dia pun mulai tertawa sambil memegang perutnya.

“ Ya! Berhenti tertawa atau aku kan menangkapmu dan menciummu! “, ancamku namun kali ini Yuri tidak berhenti, dia terus saja tertawa tanpa henti. Aku mulai mendekatinya namun dia segera berlari menghindariku. Kami pun terus saling mengejar di ruangan itu sampai akhirnya aku menangkapnya dan menyudutkannya kedinding.

“ Sudah kubilang kalau kau tidak berhenti, aku akan menangkapmu dan menciummu “, ucapku sambil menyeringai. Kudekatkan wajahku padanya, dia masih diam terpaku ditempatnya.

“ Eh… Sosnsaengnim! “, kudengar Yuri mengatakan Sonsaengnim yang membuatku menoleh ke belakang.

“ Tertipu! “, Yuri mendorongku lalu lari keluar dari ruangan itu.

“ Aish! Awas kau Yuri! “, aku pun berlari mengejarnya lagi sambil tersenyum.

The End

 

46 thoughts on “I Got You, Girl

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s