Sequel of Beautiful Spring : Suckmmer (Part A) + Q&A about Suckmmer

suckmmer-hyokai-ver

Suckmmer

By wolveswifeu

Starring

Kai | Hyoyeon

Genre

Romance | Fluff

Rating

PG 13+

Length

Series

Wolveswifeu’s New Fiction, Suckmmer

Yes, I would.”

                Jawaban dari Hyoyeon itu masih terekam jelas di otak Kai sampai sekarang. Hampir dua bulan mereka menjalani hubungan sebagai pasangan kekasih dan Jongdae mengetahuinya. Tetap saja, respon Jongdae sama. Tetap diam, ntah dia sakit hati atau tidak peduli.

“Kai.” Panggil Hyoyeon. Lelaki yang berparas tampan itu menengok ke asal suaranya.

“Apakah tiket pesawat itu jauh lebih menarik dibanding aku?” Tanya Hyoyeon. Kai langsung terkekeh pelan dan tertawa canggung.

Aniyo, aku hanya senang.” Jawab Kai.

“Kalau senang seharusnya berbagi denganku.”

“Hahaha, bukankah aku sudah membaginya setiap hari?” Tanya Kai.

“Masih kurang.” Jawab Hyoyeon ketus.

“Baiklah, aku tahu apa maksudmu. Tunggu kita menikah, ne? Saat-saat itu kita bisa membagi kesenangan bersama. Benarkan?” Tanya Kai. Hyoyeon langsung terkekeh pelan.

Ne, kau benar.” Hyoyeon mengetuk-ngetukkan kakinya ke lantai bandara itu lalu berfikir sesuatu tentang Kai. Dia merasa ada yang berubah. Dia menoleh ke Kai. Memegang kedua pipi Kai yang agak cekung itu.

“Kai, kau sakit?” Tanya Hyoyeon. Dia memegang pipi Kai yang benar-benar terlihat lebih kurus dari sebelumnya. “Kau bertambah kurus.” Lanjut Hyoyeon.

A-aniyo.”

                “HONOLULU!!!” Teriak Hyoyeon keras-keras dari dalam mobil tak beratap yang disewa oleh mereka di Hawaii ini. Sebuah mobil yang berwarna pink soft itu melaju dengan kencang. Kain bertema pantai yang dipegang Hyoyeon itu berjibaran tertiup angin.

“HONOLULU!!” Teriak Hyoyeon sekali lagi.

“Hyo, duduklah.” Suruh Kai yang sambil menyetir.

“Huh, baiklah.” Hyoyeon duduk di jok mobil itu dengan hati-hati.

“Oh iya, kita menginap di hotel mana?” Tanya Hyoyeon sambil melipat kain yang digenggam.

Kenapa Hyoyeon harus menanyakan hal ini?

                “Bukan di..”

“Di hotel Oh Jongdae.” Potong Kai.

“Kai! Kenapa harus di hotel dia?!” Tanya Hyoyeon dengan suara yang keras.

“Tapi, paket liburan yang aku dapatkan begitu Hyo.”

“Aku mau pulang!” Kai terdiam mendengar perkataan Hyoyeon. Nada dingin yang sudah lama Kai tidak dengar itu muncul begitu saja.

“Hentikan mobilnya!” Ucap Hyoyeon. Kai menurutinya, Kai menghentikan mobilnya. Hyoyeon meraih handbag-nya sedangkan Kai langsung menahan lengan Hyoyeon.

“Jangan pergi, Hyo.” Pinta Kai. Hyoyeon menggeleng.

“Kau tahu bukan betapa sakitnya disakiti oleh Jongdae? Kamu mengenalku dengan baik, Kai.”

“Aku juga tidak tahu kalau paket dengan hotel yang aku dapatkan seperti ini.” Hyoyeon terdiam mendengar perkataan Kai. Kai benar. Bukan salah Kai. “Kumohon, Hyo.” Lanjut Kai.

Hyoyeon tersenyum dan melepaskan handbag-nya. “Baiklah, kajja!

                Kai dan Hyoyeon memasuki kamar yang sudah dipesan. Keduanya langsung merebahkan tubuh mereka. Menghempaskan rasa lelahnya di ranjang masing-masing.

“Hhhhh..” Keduanya membuang nafas secara bersamaan. Mereka memandangi wajah mereka satu sama lain lalu tertawa bersama.

“Sepertinya liburan ini akan menyenangkan, chagiya.” Kata Hyoyeon. Kai hanya mengangguk dan tersenyum kepada Hyoyeon.

Semoga Hyo, semoga.

                Hyoyeon memajukan wajahnya, dia ingin mendaratkan bibir munglinya itu di pipi mulus Kai. Perlahan namun pasti, Hyoyeon memejamkan matanya. Pipi Kai juga merasakan deru nafas yang keluar dari hidung Hyoyeon.

“Maaf, Hyo.” Hyoyeon berhenti ketika mendengar perkataan yang keluar dari mulut Kai. Hyoyeon tercengang, matanya melebar.

“Kenapa?” Tanya Hyoyeon. Kai menggeleng.

Gwaenchana.

                Hyoyeon mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil di tangannya di balkon hotel. Tiba-tiba ada pelukan yang muncul dari belakang, Kai memeluk Hyoyeon.

“Kai!” Kata Hyoyeon dengan ketus. Kai langsung terkekeh pelan.

“Aku ingin mencium wangi rambutmu, deer. Apakah aku salah?” Tanya Kai.

“Tidak kok. Tidak salah.” Jawab Hyoyeon. Kai langsung terkekeh pelan.

“Hm, puncak malam ini aku ada acara. Mungkin ini makan malam yang sama seperti biasanya, tapi topik pembicaraannya lah yang berbeda.”

“Apa itu?”

“Pernikahan.”

Aku menunggumu di pantai jam tujuh malam. Ah yah, jangan lupa tampil cantik dan wangi ya! Aku tidak mau melihat Hyoyeon yang tomboy malam ini!

– Kai-

                Hyoyeon tersenyum sambil melihat kertas putih dengan tulisan acak-acakkan Kai itu. Dia menyukai seluruh yang ada pada diri Kai. Dia sudah membaca tulisan itu sebanyak tiga kali. Bahkan Hyoyeon sudah siap dan sudah tampil cantik.

“Aku siap!” Seru Hyoyeon dengan semangat lalu mengambil dompet panjangnya dan mengenggamnya dengan kuat. Dengan dress sepanjang lutut dan tanpa lengan, dia keluar dari kamarnya.

                Hyoyeon berjalan keluar dari gedung hotel ini. Dia menyelipkan beberapa helai rambutnya ke belakang telinganya karena menghalangi wajahnya. angina malam bertiup dengan kencang. Sebenarnya tidak baik bagi seorang yeoja berada di malam hari seperti ini dengan pakaian yang agak terbuka.

Hyoyeon memeluk kedua lengannya, berniat menghangatkan tubuhnya yang tertiup angin sedate tadi. Tiba-tiba ada sebuah jaket berwarna hitam yang menutupi pakaian Hyoyeon yang agak terbuka itu.

“Seorang wanita di malam hari sendirian dengan pakaian seperti itu tidak baik.” Nasehat seseorang dari belakang. Hyoyeon tercengang, dia mengingat dengan betul milik siapa suara cempreng ini.

“Kim Jongdae?” Hyoyeon menoleh ke belakang dan benar. Ada Oh Jongdae disana. “Bagaimana bisa?” Malah sebuah pertanyaan bodoh yang Hyoyeon lontarkan dari mulutnya. Sudah sangat jelas mengapa Jongdae berada disini. Dikarenakan dialah yang mempunyai hotel ini.

“Kau tidak tahu?” Tanya Jongdae balik.

“A-aku tahu.” Jawab Hyoyeon dengan gagap.

“Apa?” Tanya Jongdae dengan nadanya yang agak tinggi. Nampaknya dia sedikit menantang Hyoyeon.

“Kau pemilik—“

“Salah besar! Aku sedang menikmati liburanku dengan Sunkyu.” Potong Jongdae. Hati Hyoyeon remuk seketika. Bagaimana bisa Jongdae mengatakan hal seperti itu di depan mantan kekasihnya? Hyoyeon melepas jaket yang diletakkan oleh Jongdae tadi lalu mengembalikan kepada Jongdae.

“Terima kasih, aku harus menemui Kai-ku.” Ucap Hyoyeon sambil menekan nada nya di nama Kai lalu pergi meninggalkan Jongdae.

“Pasangan bodoh.”

                Kai duduk di atas meja makan yang sudah ada santapan lezat dihadapannya yang dihadang dengan tudung saji yang tembus pandang itu. “Hyoyeon pasti akan sangat senang!” Kata Kai.

Tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya, “Maaf, aku telat.” Ucap orang itu –Hyoyeon. Kai melihat arlojinya dan tersenyum.

“Tidak, kau beluim terlambat.” Kai berdiri dan berjalan ke bangku kosong yang ada dihdapannya, bangku Hyoyeon. Dia menarik bangku tersebut, memberikan ruang agar Hyoyeon bisa duduk.

“Silahkan.” Ucap Kai. Hyoyeon tersenyum lalu duduk. Kai pun berjalan ke tempat-nya dan duduk lagi.

“Malam ini akan jadi malam terindah.” Kata Kai.

“Haha, sejak kapan kau menjadi se-romantis ini?” Tanya Hyoyeon.

“Hei, tidak salah kan?” Tanya Kai balik lalu dia membuka tudung saji tembus pandang itu lalu menyingkirkannya.

Special dinner for us.” Ucap Kai.

“Haha, makan bersama, ne?

                Mereka mengunyah makanan itu dengan semangat. Makanan ala eropa di pinggiran pantai Honolulu bersama ornag yang kita sayangi. Bisakah kalian bayangkan betapa rasa senangnya itu?

Hyoyeon memerhatikan orange juice milik Kai. Nampaknya orange juice itu sangat membuat Hyoyeon tergiur dengan sangat. Hyoyeon meraih orange juice tersebut, berniat untuk mencobanya. Tapi, tangan Kai jauh lebih cepat dibanding Hyoyeon.

“Tidak boleh!” Ucap Kai. Hyoyeon mengerutkan alisnya.

“Kok?” Respon Hyoyeon.

“Tidak, tidak boleh!” Tegas Kai.

“Aku tidak alergi dengan jeruk, ayolah! Aku sudah ingin orange juice dari kemarin.”

“Biarkan aku pesan yang baru.”

“Kai! Kenapa? Kau terlalu protective pada diriku! Aku ini kekasihmu!” Oceh Hyoyeon.

“Bukan begitu.” Ucap Kai dengan tenang.

“Bohong, aku tahu kau menyembunyikan sesuatu.” Tebak Hyoyeon. Kai menggeleng, dia memegang gelas orange juice itu dengan keras.

“Maaf, Hyo..” Ucap Kai menggantung.

“Kenapa? Untuk apa?” Tanya Hyoyeon dengan penasaran.

“Aku mengidap AIDS.”

Next Chapter : Suckmmer (Part B-END)

Q&A Session about Suckmmer

                Aku buat ini agar menghilangkan rasa penasaran readers sekalian. Jadi, aku buat Question and Answer tentang Suckmmer!😀

Q : AIDS-kan nggak menular dengan cara berciuman di pipi, minum di gelas yang sama, atau semacamnya. Kok, Kai kayak gitu?

A : Kai itu sayang sama Hyoyeon. Gak salah dong kalau dia protective banget? Intinya, dia gak mau Hyoyeon kenapa-kenapa.

Q : Kenapa penyakitnya bahaya banget?

A : Maaf, untuk membuat jalan cerita menjadi menarik dan jarang ditemui. Aku buat seperti ini. Ini hanya fiksi kok, tenang saja!

Q : Asal usul Kai bisa AIDS apa yah? Gak dijelasin.

A : For your information, FF ini ber-alur cepat karena aku samakan dengan musim-musim yang berada di Korea. Sekarang mereka di Honolulu jadi Musim Panas lebih cocok😀

Hanya sekedar info, yang kemarin aku post itu Part A dikarenakan belum KLIMAKS menurutku. Jadi aku akan buat Part B dan akan di post besok atau lusa. Maaf gak bisa janji sebelumnya!

Ada info lain. Demi FF ini aku rela baca artikel tentang AIDS dengan latar belakang anak IPS. So, jangan buat kecewa dengan STATS yang tinggi tapi respon yang rendah!

Oke, itu aja, thank you❤

22 thoughts on “Sequel of Beautiful Spring : Suckmmer (Part A) + Q&A about Suckmmer

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s