[Freelance] Sister Bonding

sister-bonding

Author : Kim Hee Rin a.k.a KaiKat

Genre : Family, Romance, Sad

Rating : T

Length : Ficlet

Main Cast :

–      Kim Hyoyeon a.k.a Hyoyeon (as POV)

–      Lee Sunkyu a.k.a Sunny

Other Cast : find by your self

Disclaimer : The plot & story is Mine, but Inspired by some novels, comics, dramas of korea, etc. (Special thanks for ‘Miss Fox@ http://shinleekrystalized.wordpress.com/’ who have made the poster for me… )

Author’s note :

Annyeong ^^

Aku datang kembali membawa sebuah fanfic :3 >>juga di post di wp pribadi (akatherine234.wordpress.com) ^^<<

Sekali lagi kutegaskan, FF ini murni hasil pemikiran dan khayalan tingkat tinggi(?) saya. Jadi kalau ada kesamaan, itu tanpa kesengajaan dan tanpa sepengetahuan saya.

Happy reading all >>warning Typo!!<<

“Eon, eonnie.. Eonnie…” samar-samar kudengar suara lembut seorang yeoja seperti sedang mencoba memanggil-manggil seseorang. Menyebut namaku beberapa kali membuatku yakin bahwa panggilan itu memang ditujukan untukku.

Kukerjapkan mataku beberapa kali. Mengatur banyak sedikitnya cahaya yang akan masuk menuju kedua mataku.

“Syukurlah kau sudah sadar.” Lanjutnya lagi dengan nada yang terdengar lega.

“A-aku ada dima-na?” tanyaku terbata berharap orang yang sedang berbicara denganku mengerti akan apa yang terlontar dari mulutku. Aku tak bisa mengingat apapun. Bahkan alasan mengapa aku menjadi seperti inipun sama sekali tak dapat kuputar kembali dalam rekaman di otakku.

“Dirumah JongIn Oppa. Kebetulan kami sedang berjalan-jalan di sekitar sini. Tiba-tiba kami melihat kau terjatuh tepat ketika kami sedang membeli ini.” jelasnya sambil mengangkat sebuah kantongan yang entah berisi apa yang sedari tadi terus digenggamnya.

JongIn?

Lelaki itu~

Aku ingat!

Aku ingat betul alasan apa yang membuatku menjadi seperti ini. Alasan mengapa aku dapat berada di dalam ruangan bergaya modern yang berukuran kurang lebih 10 m x 10 m ini. Alasan atas rasa sakit yang begitu hebat yang selama 6 bulan terakhir ini aku rasakan. Alasan atas apa yang membuatku terpuruk beberapa bulan terakhir ini pula. Alasan betapa kuatnya aku berusaha melupakan semua rasa sakit yang telah melekat sempurna dalam kepala dan hatiku selama beberapa bulan belakangan ini juga.

Sungguh itu semua tak akan pernah bisa sirna begitu saja dari otakku. Semua yang telah membuat diriku seperti merasa tak memiliki harapan hidup.

Begitu pula dengan apa yang baru saja kulihat, sesaat sebelum kegelapan menyelimuti diriku. Sebelum aku oleng dan akhirnya ambruk begitu saja. Melihat kejadian yang sama sekali tak kuharapkan, bahkan menjadi santapan di sore hari menjelang malam hari ini oleh seorang pekerja swasta yang baru saja mendapatkan omelan pedas dari atasannya yang kurasa lebih dari cukup untuk membuat kepalaku seperti berputar-putar.

Awalnya aku berharap sekiranya ada sesuatu yang dapat menenangkan hatiku di taman yang terlihat begitu asri ini.

Namun, malah sebaliknya yang aku terima. Bukannya menjadi lebih tenang, hati dan pikiranku malah berputar cepat ketika melihat sepasang insan manusia sedang bermesra-mesraan tepat kurang lebih 10-20 meter di depanku yang menyebabkan otakku seakan-akan berhenti bekerja. Membiarkan tubuhku tak terkendali dan akhirnya terjatuh begitu saja.

“JongIn? Apa tak merepotkannya jika membawaku kesini?” Ucapku cepat setelah melihat sang pemilik kediaman ini datang membawa sebuah nampan berisi sebuah cangkir kecil yang tak kuketahui berisi apa. Kemudian berusaha mengatur keseimbangan nada berbicaraku agar tak terlihat canggung.

“Apa yang kau bicarakan Hyo? Kau ‘kan calon kakak iparku, mengapa harus merasa repot?” kali ini yang menjawab adalah namja itu sendiri. Jawaban yang untuk saat ini sedang tak kuharapkan terlontar dari bibirnya. Walau perkataannya sama sekali tak salah. Sama sekali salah jika aku menentangnya.

‘Calon Kakak Ipar.’

Ya, aku memang hanya akan menjadi ‘kakak ipar’-mu saja. Tak lebih, dan kau tahu? Karena hal itu pulalah yang membuatku menjadi seperti ini. Kau lah yang menyebabkan ini semua terjadi.

Apakah kau lupa semuanya? Saat-saat dimana kita masih bersama dulu. Saat-saat sebelum kau bertemu dengan Sunny, adik kandungku sendiri. Saat dimana diantara kau dan aku masih terikat sebuah ikatan yang entah hingga saat ini masih tercatat dalam buku sejarah hidupmu atau bahkan kau benar-benar sudah melupakan itu semua.

Berusaha terlihat bahagia ketika melihat orang yang sampai detik ini masih mengisi rongga kosong dalam hatiku dengan saudara kandungku sendiri saling menaruh perasaannya satu sama lain, jauh lebih sakit dibandingkan dengan mendapatkan cercaan pedas dari atasanku bahkan hingga terancam untuk di pecat. Jikalau aku diberikan pilihan, aku pasti akan memilih pilihan yang kedua.

“Benar sekali eonnie. Mengapa perlu merasa direpotkan? Baginya, untuk menjadi seorang adik iparmu tak membutuhkan waktu yang lama lagi. Hanya tinggal menghitung jari saja, tak akan ada lagi batasan yang membuat kalian merasa direpotkan satu sama lain bukan?” terang yeoja itu yang tak lain adalah Sunny, saudara kandungku sendiri. Adik perempuan yang selama ini selalu kubanggakan. Adik perempuanku sendiri pula yang menjadi penyebab tak langsung atas keterpurukanku, merasa seperti tak ada lagi yang dapat dibanggakan dalam diriku.

Lantas memberikan senyuman tulus untuk namja disampingnya yang dibalas dengan senyuman yang tak kalah tulusnya dari yeoja disisinya itu.

“K-kau benar Sunny-ah.” Jawabku, setelah itu berusaha sekuat mungkin menaikkan kedua sudut bibirku agar terbentuk sebuah lengkungan yang hasilnya nol besar. Bukannya terbentuk sebuah senyuman yang terlihat tulus, malah seperti seorang yang sedang menahan buang air kecil. Senyuman yang tak disertai dengan ketulusan yang berasal dari hati memang tak akan memancarkan rasa bahagia yang benar-benar ingin diungkapkan dari lubuk hatinya yang paling dalam.

Tidak lebih dari satu minggu kedepan sebutan ‘adik ipar’-ku akan bersemayam bersama dengan nama namja ini.

Bersemayam dengan bertambah besarnya rasa sakit yang akan kualami selama berhari-hari_berbulan-bulan_bahkan bertahun-tahun kedepan, walau aku sama sekali tak berharap rasa ini akan terus bersarang dalam hatiku.

“Eonnie!! Kau melamun? Apa yang sedang kau pikirkan?” suara melengkingnya benar-benar tak pernah-tak bisa membuatku terperanjat. Membuatku merasa seolah-olah nyawaku baru saja direnggut oleh makhluk_entahlah, aku tak tahu.

“A-aku tak sedang memikirkan apa-apa. Bagaimana persiapan pernikahan kalian?” rasanya sulit sekali bagiku hanya untuk sekedar menelan salivaku setelah mengatakan hal itu. Sejujurnya aku sangat tak ingin membahas tentang hal itu. Tetapi demi sekedar melihat adikku bahagia apapun pasti akan kulakukan, apa lagi hanya untuk mengatakan hal yang tak terlalu ‘penting’ seperti ini.

“Tumben sekali eonnie menanyakan hal ini. Persiapannya sudah menginjak 90 persen. Hanya tinggal menyebar undangan dan pestapun siap di gelar. Kkk~” jawabnya sambil terkekeh pelan. Manusia di sebelahnya hanya tersenyum geli melihat tingkah ‘calon isteri’-nya yang sama sekali tak berubah, masih kekanakan, bahkan beberapa hari sebelum ia akan dinobatkan menjadi seorang isteri dari seorang namja ‘dewasa’, ia masih terus saja menunjukan sifat manjanya.

“Syukurlah, eonnie turut senang mendengarnya. Jadi kapan eonnie terima undangannya?” tanyaku seraya tersenyum jahil.

Entahlah, tetapi setelah melihat ia tersenyum seperti itu, melihatnya berbahagia dengan pilihannya, walaupun hingga saat ini ia tak mengetahui bahwa pilihannya sama dengan seseorang yang sempat menjadi pilihanku. Tetapi rasa sakit yang seharusnya melanda hatiku saat ini sirna begitu saja. Melihatnya sebahagia itu jauh lebih baik, jauh lebih menyejukan hati daripada terus menerus menyimpan rasa sayang yang tak akan tersampaikan_lagi kepada namja itu, yang malah mengakibatkan rasa sakit yang berkepanjangan.

“Tak lama lagi undangannya akan segera sampai ke tanganmu eonnie.” Ucapnya lagi yang masih terus terkekeh, bahkan lebih keras dari sebelumnya.

“Terimakasih eonnie kusayang.” Lanjutnya kembali kemudian segera menghambur kedalam pelukanku. Menghempaskan tangan ‘calon suami’-nya begitu saja. Sang ‘calon suami’ pun hanya cekikikan melihat tingkah yeoja milik-nya yang semakin menjelang hari ’H’ kelakuannya semakin menjadi-jadi.

“Asal kau bahagia, apapun akan kulakukan Sunny-ah.” Bisikku lirih, sangat pelan. Tak terlalu berharap ia mendengar perkataanku barusan.

“Selamat menempuh hidup baru.” Tak dapat terhitung lagi berapa puluh bahkan ratusan kali aku mendengar ucapan yang dilemparkan oleh setiap orang yang datang ke acara ini kemudian naik ke atas sebuah ‘panggung’ dan menyalami dua sosok manusia yang dibalut dengan pakaian super mewah itu.

Sang namja menggunakan kemeja putih yang kemudian dibungkus dengan tuxedo mahal yang harganya mungkin melebihi dari gajiku sebagai seorang pegawai swasta selama satu bulan penuh.

Sedangkan sang yeoja yang sedari tadi melemparkan senyuman bahagia kepada setiap orang yang berada dalam satu atap yang sama dengannya saat ini, terlihat sangat menawan dengan balutan gaun mewah berwarna putih yang panjangnya sampai menyeret di atas lantai, dengan bagian dadanya yang sedikit terbuka, yang dapat kupastikan bahwa harganya pasti jauh lebih tinggi dari apa yang dikenakan oleh namja disampinya.

Hari yang ditunggu-tunggu oleh kedua manusia inipun akhirnya datang juga. Hari dimana dipersatukannya janji sehidup semati yang dituturkan oleh kedua insan manusia yang telah menitipkan hatinya satu sama lain.

Biarlah hari ini benar-benar menjadi hari-nya mereka sepenuhnya, jangan sampai ada yang mengusik rasa bahagia itu termasuk diriku sendiri.

‘Dilangkahi’ oleh seorang adik perempuannya mungkin justru akan menjadi suatu momok bagi seorang yeoja. Namun bagiku, melihat adik perempuanku senang aku pun akan turut merasakannya. Melihatnya dalam keadaan bersedih, akupun juga akan turut merasakan kesedihannya. Sekalipun ia segan untuk berbagi kesedihannya tersebut kepadaku, tetapi tanpa perlu diberitahukanpun rasa sedihnya sudah dapat tersampaikan dengan sempurna pada diriku.

Ikatan persaudaraan yang sangat baik dalam diri kami tak semata-mata membuat rasa sakitku menenggelamkannya. Kebesaran rasa sayang ku padanya selalu dapat membenamkan segala macam rasa yang sedang kualami saat itu, rasa yang teramat sesak sekalipun.

Mungkin aku harus mengalah padanya_sekali lagi. Mungkin untuk terakhir kalinya, setelah ia memiliki kehidupan baru aku tak akan berpengaruh banyak lagi dalam hidupnya. Ia sudah memiliki pemimpin baru dalam kehidupannya sekarang, ia takkan lagi bergantung padaku. Selalu merengek padaku jika ia menginginkan sesuatu yang hingga saat itu belum terpenuhi.

Saat ini, detik ini juga ia telah memiliki pendamping yang kuyakini dapat menjadi pemimpin yang baik dimanapun tempatnya berpijak. Akan menuntunnya ketika ia melenceng dan berjalan di jalan yang salah.

Aku benar-benar harus merelakannya. Aku yakin ini akan menjadi keputusan yang terbaik dalam hidupnya terlebih lagi dalam hidupku. Semua yang akan terjadi kedepannya telah menjadi suratan dalam hidup ini. Semuanya sudah ada yang mengaturnya, termasuk dalam urusan jodoh. Tak ada yang perlu disesali.

“Terimakasih banyak eon, selama ini eonnie telah menjadi kakak yang terbaik dalam hidupku. Selalu menghiburku ketika aku sedang gusar, menjadi seseorang yang benar-benar dapat diandalkan ketika aku sedang membutuhkan seseorang yang bisa menolongku ketika aku sedang kesusahan selain eomma dan appa. Terimakasih atas kebesaran hatimu, tanpa kebesaran hatimu ini. Semuanya ini tak akan pernah terjadi. Sekali lagi terimakasih eonnie…”

Ayolah Hyoyeon! Jangan sampai air matamu menghancurkan semuanya.

Perkataan dongsaengku kali ini benar-benar sedikit membuatku terbelalak. Tak pernah kubayangkan akhirnya ia dapat menjadi dewasa seperti ini, walau dari ekspresi wajahnya terlihat sekali air mata sudah siap membanjiri kedua pipi tembamnya.

“Hey, Sunny! Jangan biarkan air matamu merusak segalanya, merusak wajah cantikmu yang sudah dipoles dengan sempurna.” Gurauku seraya mencolek lembut ujung hidungnya, sangat lembut.

“Eonnie! Jika air mata ini adalah air mata kebahagiaan tak apa ‘kan?” jawabnya kemudian kambali berhambur dalam pelukanku. Ku harap ini bukanlah menjadi pelukan kami yang terakhir. Walau ia sudah memiliki sebuah keluarga baru nantinya, ku harap ia masih bisa menghabiskan waktunya bersamaku.

Ku harap ia selalu bahagia dengan pilihannya. Ku harap pilihannya tak salah. Ku harap aku memberikannya kepada orang yang tepat. Semoga pilihannya yang sama dengan pilihanku benar-benar dapat menjaganya jauh lebih baik dari padaku.

“Sudahlah, kalian jangan bertengkar seperti anak kecil.” Suara berat seorang namja berhasil memisahkan kami dari perdebatan kecil kami.

Aku melepaskan pelukanku perlahan dari adikku. Melepaskannya dengan sangat berat, aku tau yang merasa seperti ini tak hanya diriku. Kedua orangtuaku tentu merasakan hal yang jauh lebih berat dariku.

“Hyo, kurasa sekarang aku harus memanggilmu noona. Benar bukan?” candanya ditengah-tengah suasana haru yang sedang menyelebungi diri kami masing-masing.

“Ya! Aku merasa sangat tua jika mendapatkan panggilan seperti itu.” jawabku santai. Ya, sangat santai. Tak tahu apa yang membuat semua beban yang kemarin-kemarin menindas hatiku melarikan diri begitu saja.

“Baiklah Hyoyeon Noona. Hehe… “ ucapnya lagi sambil tertawa singkat.

“Kau tahu? Benar apa yang dikatakan Sunny. Tanpa kau ini semua tak akan pernah terjadi. Terimakasih banyak.” Lanjutnya lagi yang kali ini dengan mimik seserius mungkin kemudian membungkukan tubuhnya formal. Sejak kapan ia menjadi seformal ini. Oh ya, setelah ia resmi menjadi seorang adik iparku.

“Sudahlah, jangan seformal itu. Santai saja, memang apa saja yang sudah kuberikan kepada kalian? Aku hanya dapat memberikan doa yang begitu tulus dari seorang kakak perempuan untuk kehidupan kalian berdua kelak.” Jawabku kemudian memegang bahunya berniat menyuruhnya untuk tak membungkukan tubuhnya_lagi.

Akan tetapi tak kusangka ia justru menarik tubuhku sehingga aku terjatuh dalam pelukannya. Aku benar-benar terbelalak, akan apa yang dilakukannya_tepat dihari pernikahannya.

Kutujukan pandanganku ke arah Sunny, memastikan bagaimana ekspresinya setelah melihat kejadian ini. Berharap apa yang kubayangkan sejak tadi tak benar-benar menjadi sebuah kenyataan.

Sesudah memastikannya, ia sama sekali tak menunjukan ekspresi yang sempat membayang-bayangi pikiranku. Ia justru tersenyum bahagia melihat perilaku ‘namja milik’-nya terhadapku.

Astaga! Aku baru sadar.

Apakah JongIn memelukku, ‘mencium’-ku bahkan, Sunny takkan cemburu pada kakaknya sendiri. Ikatan di antara aku dan JongIn sangat tak memungkinkan jika Sunny cemburu akan tingkah JongIn. Sekalipun Sunny cemburu, mungkin itu akan terjadi apabila JongIn telah melakukan hal yang tak senonoh untuk dilakukan oleh seorang ‘adik ipar’ kepada seorang ‘kakak ipar’-nya.

Ya, hubungan yang terjalin di antara kami hanyalah sebatas seorang kakak perempuan terhadap adik lelakinya_tak lebih, dan kurasa aku cukup senang dengan gelar itu. Sangat senang melihat adikku bahagia dengan apa yang telah dipilihnya.

“Hei, jangan seperti ini. Biasa saja lah.” Ujarku sambil mencoba melepaskan pelukannya perlahan. Dan lagi aku harus berusaha untuk menahan bendungan air mata yang sudah menghadang di pelupuk kedua mataku. Air mata kebahagiaan_lebih tepatnya.

“Aku senang kalian bahagia. Dan kau JongIn…”

“Jangan pernah kau buat aku menyesal telah merelakan adikku untuk menjadi milikmu. Arrasseo?” lanjutku.

“Haha.. tenang saja Hyo. Aku tak akan mengecewakanmu, eomma dan appa. Percayakan lah manusia yang super menyebalkan ini padaku.” Jawabnya lalu segera melingkarkan tangannya dipinggang yeoja disebelahnya yang sekarang telah resmi menjadi miliknya seutuhnya.

“Kupegang semua kata-katamu. Jika kau melanggarnya… lihat saja apa yang akan kulakukan terhadapmu.” Gelak tawa pun tak dapat terhindarkan setelah percakapan kami selesai. Percakapan yang mungkin sebagian orang menganggapnya sebagai candaan belaka. Namun tidak denganku. Aku tak pernah bercanda jikalau hal itu bersangkutan dengan adikku.

Semoga kalian benar-benar menjadi sebuah keluarga yang paling bahagia di seluruh dunia.

Melihatmu_Sunny senang apapun akan kukorbankan, termasuk perasaan yang terlalu rapuh ini sekalipun.

—The End—

Author’s note_again :

Gimana alur+ending-nya?

Gaje banget ya? Emang -,-

Aku gak bakat bikin FF yang ber-genre seperti ini, tapi tetep aja nekat untuk buat dan beginilah hasilnya. Hancur lebur -___-v

Jujur, FF ini terinspirasi dari pembicaraan ‘rahasia’ antara aku dan mama aku. Ya, kurasa kalian mengerti pembicaraan apa yang kumaksudkan ._.

Intinya, aku tidak pernah berniat untuk mem-plagiat hasil karya orang lain. jikalau ada kesamaan itu semua MURNI ketidaksengajaan. Jadi tolong hargai hasil karya orang lain. Jika kalian menyukainya, tolong berikan respect dengan cara yang baik pula. Jika kalian kurang menyukainya atau ada beberapa kesalahan dalam FF ini, kalian juga bisa menyampaikannya namun dengan bahasa yang sopan pula.

Jika kalian banyak yang mengapresiasikan hasil karya ku itu akan menjadi salah satu motivasi aku untuk terus berkarya dalam dunia per-FF2an.

Btw, ada yang nunggui sequel dari Because of You gak? /gakkkkk-_-/ hehe😄

Tenang aja, masih dalam proses pembuatannya^^

Kurasa hanya itu yang bisa kusampaikan untuk saat ini.

Akhir kata kuucapkan terimakasih dan tak lupa untuk mengatakan agar senantiasa RCL. OKai?????

^^

 

24 thoughts on “[Freelance] Sister Bonding

  1. Ehem, woah. Hyoyeon nya? Omg. Ya, semoga bahagia untuk Kai dan Sunny. Tapi, kasian juga ya, Hyo… Harus kehilangan sosok Kai yang sekarang menjadi adik ipar-nya :” keren (y)! Keep Writing.

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s