[Twoshot] Barbie Girl [Jessica Ver.]

KrisSica

Writing by Priskila (@priskilaaaa)

Jessica Jung [GG] – Wu Yi Fan [EXO M] | Huang Zi Tao [EXO M] and Shin Yoonjo [Hello Venus] as cameo(s)

1 of 2 Part | Teen | Romance – Fluff – Fantasy

Disclaimer:

I don’t own the cast. But the storyline and the plot is mine. Everything here belongs to God and their family, their agency too. I just used their physical representation. 

Note:

HOLAAAAAAAAA!!!

Aku kembali dan cast pertama sesuai pernyataanku kemarin adalah….. JESSICA!!!

Dan pairnya adalaaaaahhh… WU YI FAN, mantan pacarku.

Maaf ya buat para readers yang udah req lain tapi hasilnya malah KrisSica._. soalnya aku udah ketik dari kemarin dan memang udah diputusin KrisSica. Mianhaeeee /deepbow/ Tapi untuk cast lain, masih dalam pertimbangan kok. Jadi masih ada jalah xD /hakhakhak//abaikan/

Dan part ini panjaaang lhooo… 4 ribu lebih words, jadi siap” sakit mata yaa (/’-‘)/

KLINGG… KLINGG

Bel tanda bahwa ada orang yang memasuki toko berbunyi dengan nyaring. Para pelayan yang semula fokus pada kegiatan masing – masing, berubah sibuk melayani seorang pria muda yang menjadi pelanggan mereka kali ini.

“Permisi, Ada yang bisa saya bantu, Tuan?” tanya salah seorang pelayan. Pertanyaan itu digubris pria itu. Matanya masih sibuk memilih barang per barang diperdagangkan oleh toko ini.

“Maaf, Tuan? Bagaimana?” tanya pelayan itu sekali lagi saat melihat pria itu mengambil salah satu boneka beruang yang terpajang. Memperhatikan boneka itu dengan detail lalu mengembalikannya pada posisi semula.

“Tuan, anda mencari apa?”

“Apa hadiah yang cocok untuk perempuan?” tanya sang pria balik tanpa melihat pelayan yang sudah merenggut kesal karena perilakunya yang terus – terusan cuek padanya. Pelayan itu melangkah ke arah etalase yang memajang berkotak – kotak boneka Barbie.

“Barbie?” tanya pria itu penuh tanya. Keningnya berkerut menatap salah satu kotak Barbie yang diarahkan pelayan itu padanya.

“Ne, ini limited edition. Kalau tidak salah hanya ada 9 jenis di dunia. Ini salah satu yang baru saja masuk tadi pagi” ujar pelayan itu menjelaskan.  Pria itu mengambil boneka tersebut dan kembali menilainya dengan sangat detail.

Limited edition buat anak tomboy?” gumam pria itu. “Tomboy? Maaf, bukannya Anda mengatakan kalau tadi…”

“Ne, adikku perempuan tomboy. Tingkahnya benar – benar mirip laki – laki. Apa tidak salah dikasih boneka Barbie berambut cokelat dengan night dress?” tanyanya.

“Issh, tapi ini limited edition, Yifan-ssi. Pasti banyak yang suka termasuk adikmu yang kelaki-lakian itu” desak pelayan itu.

“Kau…”

Tag name” ujar pelayan sambil menunjuk tag name yang ada. Wu Yi Fan atau yang lebih sering disapa Kris mengangguk mengerti. Tangannya masih memegang kotak Barbie limited tersebut. Sebuah boneka yang cantik. Wajahnya mirip seperti manusia, tetapi sangat sempurna. Senyuman manis dan tubuh proposional nan sempurna membuat boneka itu menjadi pantas menjadi pesona tersendiri. Jujur saja, Kris juga cukup terpesona dengan kesempurnaan boneka yang hanya satu di dunia ini.

“Bagaimana… Yifan-ssi?” tanya pelayan itu sekali lagi. Kris menyerahkan kotak boneka itu, “Baiklah. Aku ambil yang ini.”

—-

Kris’s POV

Kotak berisi boneka cantik itu terbungkus dengan sangat rapi. Entah kenapa, tiba – tiba ada perasaan untuk tidak menyerahkan boneka secantik ini pada adikku yang liar itu. Aku suka pada boneka ini? haha.. ini sungguh tidak lucu, Kris.

Kuraih bungkusan yang tergeletak di jok kursi. Seperti ada dorongan dalam diriku sendiri, aku membuka bungkusan yang sangat rapi itu lalu mengeluarkan boneka itu. Boneka yang tingginya tidak sampai 30 cm. Boneka yang imut. Rambut boneka ini berwarna coklat bergelombang, tubuhnya berbalut night dress berwarna hitam dengan manik – manik gold. Dia sempurna.

Andaikan saja dia itu manusia. Manusia? Hah… ada – ada saja aku ini.

Author POV

12.00 PM

Malam yang sunyi dan gelap. Apartemen mewah berukuran sedang itu tengah dalam keadaan gelap, tanda penghuninya sedang tertidur lelap. Entah berasal dari mana, tiba – tiba muncul sebuah cahaya dari salah suatu ruangan yang merupakan kamar tidur pemilik apartemen itu. Cahaya putih bersinar yang ternyata berasal dari sebuah kotak boneka. Ah, itu boneka Barbie yang dibeli Kris beberapa waktu lalu.

Perlahan, nampak siluet seorang gadis yang langsing bak sebuah boneka. Gadis yang diyakini berasal dari boneka Barbie yang berubah wujud tersebut membuka matanya, Mata berwarna cokelat seukuran kacang hazel tersebut tiba – tiba membelalak melihat keadaan di sekitarnya.
What happen with this? Kenapa aku ada di sini?” tanya gadis itu bingung. Dia panik.

“ASTAGA!!!” dia terkejut saat melihat seorang lelaki yang tengah terlelap dengan bertelanjang dada. Tangannya menutup mulut mungilnya itu saking terkejutnya. Walaupun kaget dan sedikit takut, gadis itu perlahan mendekat pada tempat tidur yang digunakan lelaki itu untuk tidur.

“Dia siapa? Apa dia orang yang membeliku?” tanya gadis itu. Tangannya memainkan hidung dan bulu mata Kris. “Dia tampan juga…” ujarnya pada dirinya sendiri.

“Ngghh…” Perlahan, Kris menggeliat pelan karena terganggu dengan tangan usil gadis itu yang terus memainkan bulu matanya. Matanya mengerjap pelan.

Gadis itu terkejut dan segera menjauhkan tubuhnya dari Kris. “Astaga! Dia terbangun!”

“YAKK!! KAU SIAPA?!!” teriak Kris setelah seluruh kesadarannya pulih. Dia begitu terkejut karena sosok seorang gadis yang tiba – tiba berada di kamarnya. Siapa gadis ini..

Tubuh gadis itu bergetar ketakutan. Dia berlari dan bersembunyi di balik meja kerja Kris yang terdapat di sana. “Argh! Pergi—“

“Harusnya aku yang berkata begitu. Kau siapa?” suara Kris melembut begitu melihat gadis itu ketakutan. Dia memberanikan diri mendekati gadis itu setelah mengenakan baju berwarna putih dan berbahan tipis yang tadi dikenakannya sebelum tidur. “Bagaimana kau bisa ada disini?” tanyanya lagi. Matanya menatap gadis itu dengan lembut.

Gadis itu perlahan membalikkan kepalanya dan menatap lelaki di hadapannya takut – takut, “Aku juga tidak tau. Ketika aku membuka mataku, aku sudah ada di sini. Apa kau yang membeliku?”

Mata Kris terbelalak mendengar perkataan gadis itu. Membeli? Apa gadis ini…

“Kau boneka Barbie itu?” Gadis itu mengangguk pelan. Kris menghela nafasnya kasar. Dia meraba dahinya sendiri, berharap dia sedang demam dan itu hanya khayalannya saja. Seorang gadis yang tidak diketahui siapa tiba – tiba muncul di hadapannya dan mengaku dia berasal dari boneka Barbie yang dibelinya tadi siang. Ini mustahil. Boneka itu benda mati.

“Haha… kau bercanda kan? Mana mungkin…”

“Aku memang dari boneka itu.” Wajah Kris seketika itu juga pucat pasi. Lelaki itu memandang gadis itu tak percaya.

Kris menelan ludahnya sendiri ketika mengingat pikiran konyolnya tadi sore. Dia berharap boneka itu menjadi manusia. Tapi saat itu dia hanya bercanda, tidak ada maksud agar harapan itu terkabulkan.

“Ah, jadi… Namamu siapa?” tanya Kris berusaha mengakrabkan dirinya pada gadis yang memandangnya dengan kedua matanya yang bulat.

“Jessica.” jawabnya disertai dengan senyum ramah. Untuk beberapa saat, Kris terpaku dan terpesona dengan senyum itu. Cantik sekali, pikirnya.

“Oh, begitu. Dari mana kau tau namamu?” tanyanya lagi. Dalam otaknya banyak sekali pertanyaan – pertanyaan yang ingin diajukan kepada gadis ini.

Jessica terdiam sebentar, berusaha mengingat sesuatu. “Ah, dari sini…” Jessica berdiri dan segera berlari kecil ke arah sofa. Dia mengambil kotak boneka yang tergeletak di atas sofa tersebut. Kotak yang semula menjadi tempatnya berdiam.

“Ini—“ Kris mengambil kotak boneka berwarna pink bercampur emas tersebut dengan bingung. Lelaki itu menatap Jessica penuh tanya, sedangkan gadis itu hanya memandang Kris polos.

“Dari sini? Dimana?” Kris mengangkat tangannya dan menunjuk tulisan berwarna putih yang ada di bagian belakang kotak itu.

“Jessica Jung. Marga korea?” tanya Kris penasaran setelah membaca tulisan itu. Lelaki itu mengikuti Jessica yang duduk di sofa berwarna cream itu.

Jessica mengangguk, “Ne. Kami dibuat di salah satu pabrik di Korea. Jadi nama kami semua ada marga Koreanya.”

Satu alis Kris terangkat, “Kami?”

“Ne. Kasus yang kau alami sekarang bukan hanya terjadi pada dirimu saja, ada juga pada orang – orang lain yang membeli boneka sepertiku. Mereka akan bertemu dengan teman – temanku pada jam seperti sekarang ini. Ada 9 boneka yang diproduksi dan aku salah satunya. Namun kami berbeda rupa dan juga nama. Jadi bisa dibilang aku hanya ada satu…” Kris memegang kepalanya. Pusing setelah mendengar penjelasan Jessica yang sangat panjang dan sulit dimengerti oleh otaknya. Kenapa gadis ini tidak memberitahukan langsung inti dari ceritanya itu.

“Ah, cukup. Lalu, bagaimana kau, ah maksudku kalian, bisa berbicara dan bergerak layaknya manusia? Kalian kan diproduksi sebagai sebuah boneka” Kris merasa begitu lega begitu pertanyaan itu dilontarkannya. Pertanyaan inti yang sedari tadi mengganjal pikirannya.

Jessica berhenti berbicara. Mata gadis itu menerawang ke depan dan pandangannya terasa kosong, “Aku juga tidak tau. Yang aku tau setiap tengah malam kami akan bergerak dan beraktvitas seperti manusia. Dan kami akan berhenti saat matahari terbit”

“Seperti hantu saja.” Timpal Kris dengan maksud jenaka. Lelaki itu segera beranjak dari duduknya dan menghempaskan tubuhnya ke kasur. “Kau mau apa?” tanya Jessica ikut berdiri. Gadis itu menatap Kris  bingung dan sedikit gugup karena Kris melepaskan baju tipis yang tadi dikenakannya.

“Aku? Tentu saja tidur. Kau tidak bisa melihat waktu sekarang? Aku mesti bekerja besok dan harus menghadiri ulang tahun adikku” Kris meraih guling yang ada di sebelahnya dan melemparkannya ke sofa, membuat Jessica sedikit terkejut dan berteriak kecil.

“Sini..” Kris menepuk – nepuk kasurnya yang kosong. Membuat Jessica memiringkan kepalanya bingung. “Apa?”

“Kau tidak mengantuk? Ayo tidur bersama.”

Jessica terperanjat. Gadis itu membalikkan badannya dan menutup matanya rapat, “Kau gila?! Aku wanita.” Pekiknya dengan wajah memerah.

“Eh? Memangnya kenapa? Kau juga sebenarnya boneka, kan? Tidak masalah. Lagipula tubuhmu… tidak begitu menarik juga kok” ujar Kris beralasan. Lelaki itu langsung berbalik dan memeluk gulingnya yang satu dengan erat. Bohong jika Kris mengatakan tubuh Jessica tidak menarik. Bukankah tadi Krisbegitu tergiur dengan tubuh Jessica yang proposional?

Jessica terdiam. Gadis itu berpikir dalam waktu cukup lama dan secara perlahan menghampiri kasur Kris. Dia membaringkan tubuhnya dan menarik selimut hingga menutup tubuhnya sampai di leher. Dia memaksakan matanya tertutup walau sesungguhnya dia sama sekali tidak mengantuk. Namun tidak menunggu waktu lama pun, gadis itu telah tertidur lelap.

“Sudah tidur?” Kris membalikkan badannya ke arah Jessica. Dia tertawa kecil melihat wajah Jessica saat tidur. “Cantik sekali. Selamat tidur, mimpi indah…” ucapnya lalu mengecup dahi gadis itu lembut.

Kris meraba – raba kasur di sebelahnya dengan penasaran. Matanya yang semula tertutup, terbuka dengan sempurna begitu menyadari sosok yang semalam dia temui tidak ada di tempatnya.

“Jessica!?” Kris membuka selimut putih yang masing tertutup sempurna itu dengan panik. Dan tampaklah, gadis yang semalam muncul di hadapannya sudah kembali pada wujud bonekanya. Kris mendesah kecewa, dia baru teringat perkataan Jessica tadi malam. Kami akan berhenti saat matahari terbit. Dan ucapannya itu terbukti benar, matahari memang telah menyinari seluruh permukaan kamarnya. Berarti dia akan kehilangan Jessica sepanjang hari ini, ah tidak… bukankah sebentar malam dia akan bertemu dengan Jessica yang berubah menjadi manusia lagi? Ya, dan dia akan menunggu malam itu tiba.

Kris mengambil boneka Jessica tersebut dan memandangnya lekat. Boneka itu benar – benar mirip dengan Jessica, dan dia percaya boneka itu memang Jessica.

“Jessica-ah. Jung Jessica” Kris memeluk boneka itu erat, dan dia bersikap seolah boneka itu sedang berwujud sebagai Jessica sekarang.

“Aku akan menunggumu” ujarnya pelan lalu meletakkan boneka itu di meja di samping tempat tidurnya. Dia memandangi boneka itu dan tersenyum, “Aku pergi dulu.”

Waktu menunjukkan pukul 11.55. Kris menolehkan pandangannya sekali lagi pada boneka yang masih tergeletak begitu saja di atas meja. Kris menggit bibirnya sendiri khawatir, dia takut Jessica tidak berubah menjadi manusia lagi.

Dia berusaha mengfokuskan dirinya pada pekerjaannya di tablet miliknya. Berulang kali Kris mengerang kesal karena waktu yang terasa begitu lama. Dia telah duduk manis di atas tempat tidurnya sejak 15 menit yang lalu, dan waktu 20 menit terasa seperti setahun lamanya. Kris melirik jam dindingnya. Tepat jam 12.00. Kris bersorak dalam hati. Lelaki itu langsung mengalihkan pandangannya pada boneka Jessica yang mulai bercahaya.

Kris melongo begitu melihat boneka itu melayang di udara dan lama kelamaan membesar, membentuk siluet tubuh seorang Jessica Jung yang ia tunggu. Kris menggelengkan kepalanya berulang kali tak percaya, pemandangan seperti ini seperti sihir saja.

Ketika kaki Jessica berpijak di tanah dan matanya membuka dengan sempurna, cahaya – cahaya yang sedari tadi mengelilinginya menghilang begitu saja. Sebuah senyum terlukis di wajah Jessica begitu melihat Kris tersenyum kepadanya.

Kris melompat dari kasurnya dan menepuk pundak Jessica, “Welcome, Princess

“Kau tidak tidur?”

Kris menggeleng. “Aku sudah tidur cukup lama tadi. Tenagaku cukup untuk menemanimu malam ini.”

“Oh, baik sekali” balas Jessica sedikit meledek. Gadis itu tertawa begitu melihat Kris menatapnya kesal. Matanya mendelik menatap Jessica, “Kau mengejekku ya?”

Jessica tertawa terbahak – bahak. Dia begitu puas mengerjai Kris. Sukses, lelaki itu menggembungkan pipinya. “Kau seperti gadis yang sedang marah saja jika menggembungkan pipi seperti itu” komentar Jessica dan kembali tertawa. Membuat Kris segera mengempiskan pipinya yang sudah memerah malu karena ucapan Jessica. Komentar itu sama seperti komentar teman – temannya yang selalu menertawainya jika menggembungkan pipinya.

“Aish, kau cerewet sekali, Jessica” sahut Kris. Lelaki itu segera mengfokuskan dirinya pada layar televisi yang sedang menampilkan acara malam.

Jessica mencibir, “Tolong lihat dirimu sendiri~”

“Eh?” Mata Jessica membulat begitu mengalihkan pandangannya ke televisi. “Acara apa itu? Kenapa lampunya kelap kelip seperti itu? Musiknya juga keras sekali. Apa mereka tidak tuli?” tanyanya polos.

“Oh. Itu di club malam. Suasananya memang seperti itu” jawab Kris namun tetap serius menonton acara tersebut.

Jessica memiringkan kepalanya, “Apa itu seperti sebuah komunitas?”

“Hm. Ne. Komunitas anak muda”

“Sepertinya menyenangkan. Kapan – kapan ajak aku kesana ya!” seru Jessica senang. Gadis itu menatap acara tersebut dengan semangat, membuat Kris memandangnya geli. Astaga Jessica, harusnya kau tau itu tempat yang kurang baik, pikir Donghae seraya menggelengkan kepalanya.

“Ya, jika aku bisa.” Jawab Kris pendek. Lelaki itu tertawa sendiri saat melihat ekspresi Jessica yang berubah – ubah ketika melihat adegan – adegan dalam acara yang merupakan acara dewasa tersebut.

Kris memegang pundak Jessica dengan raut wajah yang tidak dapat diartikan. “Jadi, kau akan segera kembali menjadi boneka?” katanya sedikit kecewa saat melihat sinar matahari yang mulai nampak di ufuk timur. Jessica menundukkan kepalanya, dia juga sedikit kecewa karena waktunya telah berakhir “Ne, tapi bukankah sebentar malam juga kita dapat bertemu lagi? Wu Yi Fan, semangat!” katanya dengan nada ceria.

Kris tersenyum, “Ne. Aku akan menunggumu nanti malam. Stay on!”

“Ok!” Dan saat itu, Kris melihat Jessica yang kembali menjadi boneka. Tubuh Jessica tiba – tiba memancarkan sinar berwarna merah muda dan putih. Dan secara perlahan,  tubuhnya mengecil dan kembali menjadi boneka yang tergeletak di lantai dengan night dress berwarna hitam.

Lelaki itu menghembuskan nafasnya. Dirinya berjongkok mengambil boneka itu dan menaruhnya di atas meja, tempat boneka itu seharusnya diletakkan.

“Aku mungkin akan merindukanmu, Jess” gumamnya pelan sambil mengelus pipi boneka Jessica yang terus menampilkan senyum indah. Senyum yang dapat membuat hati Kris terasa bebas dan hangat.

“… Dan yah, kau mungkin dapat menebak akhir dari ceritaku ini. Hyorin meninggalkanku karena alasan dia dijodohkan oleh orang tuanya, padahal aku yakin sekali kalau dia memutuskanku karena Junho yang memiliki uang lebih banyak dari padaku. Wanita itu memang sangat matrealistis. Aku jadi ngeri sendiri… Eh? Gege?” Tao menatap Kris dengan kedua alis yang berkerut hingga terkesan menyatu. Sahabatnya yang sering dia panggil ‘tiang listrik’ itu sedang memandangi layar ponselnya sambil tersenyum.

“YAK! Gege tidak mendengarkanku sedari tadi ya?!!” teriak Tao dengan suaranya yang cempreng. Emosinya naik ke ubun – ubun saat menyadari bahwa ternyata Kris tidak fokus pada ceritanya mengenai pengalaman cinta yang menurutnya saat berkesan itu.

“Ah? Kenapa? Ada apa?” Tao memutar kedua bola matanya begitu melihat Kris menatapnya bingung. Rupanya pendapatnya itu benar, buktinya Kris seperti orang kelimpungan sekarang.

“Kau—“ Tao berdeham sedikit. Mencoba meredam emosinya yang hampir meledak namun diurungkannya ketika melihat lelaki itu kembali mengfokuskan pandangannya pada layar ponselnya. “Apa yang kau lihat, Ge?”

“Eh? Aku… YAK! Huang Zi Tao!!!” Kris langsung berteriak kaget begitu tangan Tao mengambil ponselnya yang sedari tadi dia genggam. Dia takut sahabatnya itu melihat foto – foto Jessica yang tersimpan di galeri kamera ponselnya. Dia tidak mau sahabatnya itu menggodanya habis – habisan karena menyimpan foto seorang wanita. Itu akan sangat memalukan.

Kris mencoba merebut kembali ponselnya namun Tao sudah lebih dahulu melihat foto Jessica dengan dirinya. “Jadi…” kata Tao penuh arti dan matanya menunjukkan kilat menggoda.

Kris menelan ludahnya sendiri. Dia sudah sangat takut dengan keadaan – keadaan seperti sekarang ini. “Jadi gadis itu adalah gadis yang sering membuatmu senyum – senyum tidak jelas akhir – akhir ini?” ledek Tao. Lelaki itu mengangkat ponsel Kris tinggi – tinggi dan mengzoom foto Jessica yang tengah tersenyum ke arah kamera. “Jadi ini gadis yang mampu membuat Wu Yi Fan terburu – buru saat pulang? Pantasan aku merasa kau sangat aneh dan selalu ingin pulang cepat hari – hari belakangan ini”

Aniyo.” Donghae berusaha mengelak. “Aku cepat pulang bukan karena gadis itu. Lagipula itu hanya foto artis yang kukagumi, jadi itu bukan kekasihku.”

“Oh ya?” Alis Tao terangkat. Tatapannya menatap penuh selidik. “Kalau begitu, sebutkan padaku siapa namanya? Pengetahuanku soal entertainment di dunia cukup luas lho.” ujarnya sambil tersenyum menyeringai.

Lagi – lagi, Kris hanya dapat menelan ludahnya gugup. Lelaki itu menutupi kegugupannya dengan meneguk sedikit American capuccinonya yang mulai mendingin dan mencoba bersikap biasa. “Dia artis baru. Jadi mungkin kau tidak mengenalnya. Namanya…” Kris menggantungkan perkataannya. Dia bingung, apa dia harus mengatakan nama Jessica yang sebenarnya?”

“Namanya?” tanya Tao penasaran.

“Namanya Jung Jessica.”

“Yifan-ah!” Kris membalikkan kepalanya begitu mendengar seseorang memanggil namanya. Pandangannya menangkap seorang wanita berambut cokelat dan bertubuh mungil menghampirinya dengan ceria.

“Jessica?” gumamnya tanpa sadar.

“Eh? Jessica? Hey… aku ini Shin Yoonjo.” Gadis yang bernama Yoonjo itu menjitak kepala Kris keras hingga membuatnya meringis. Yoonjo menatap Kris dengan bahagia. Perasaannya terasa begitu lepas jika bersama Kris.

“Oh ya, Shin Yoonjo yang pendek itu kan? Ya ya ya, aku mengingatnya” kata Kris yang sukses membuat Yoonjo menatapnya kesal. “Pendek?!” Oke. Harusnya Kris ingat kalau wanita satu ini sangat sensitif dengan lawan kata tinggi itu.

Ne. Pendek. Hey Yoonjo-ah, kenapa sekarang kau terlihat makin pendek saja? Sudah kubilang minum susu yang banyak. Lihat aku ini yang tinggi” ucap Kris sok menasihat dan pamer. Membuat gadis di hadapannya semakin melototkan karena terkejut dan kesal akan ucapan Kris itu, “Pendek? Hey! Tinggiku bahkan lebih dari 165 cm! Dan itu tidak pendek!” teriak Yoonjo kesal. Yoonjo meremas – remas tangannya, bersikap seolah hendak memukul Kris.

“Oke oke. Aku lagi tidak mau mencari masalah denganmu sekarang. Jadi, kau sedang apa disini?” tanya Kris mencoba mencairkan suasana yang sempat mencekam karena mulutnya yang tidak bisa dikontrol itu. Wajahnya sedikit memucat karena guratan wajah Yoonjo yang menakutkan itu.

Yoonjo menarik kursi kosong di hadapan Kris dan segera mendudukkan tubuhnya disana. “Ini dimana?”

Mata Kris melotot mendengarnya. “Kau amnesia? Ini di kedai es krim, Shin Yoonjo!”

Yoonjo tertawa melihat reaksi Kris. Rupanya lelaki ini tidak berubah sejak dua tahun yang lalu. “Harusnya kau tau apa yang akan kulakukan di kedai es krim… Nyam nyam~”

Kris mengangguk mengerti setelah melihat Yoonjo yang bersikap seolah sedang memakan es krim dengan gaya yang sangat lucu. Oke, Kris ingat. Wanita yang berusia 20 tahun ini sangat fanatik dengan yang namanya es krim.

“Oh~ Aku pergi ke sana dulu ya. Mau memilih es krim. Mau ikut?” tawar Yoonjo yang dibalas dengan gelengan pelan dari Kris. Lelaki itu menunjukkan satu cup es krim yang sudah kosong di meja.

Yoonjo mengangguk, “Baiklah”

Kris tersenyum geli saat melihat betapa antusiasnya Yoonjo yang sedang asyik memilih dan mencampur es krimnya. Gadis itu memang tidak pernah berubah. Selalu bertingkah kekanakkan jika bertemu dengan benda lembut seperti es krim dan salju. Salju? Kris mengalihkan pandangannya pada jendela kaca di sebelahnya. Jendela yang menampilkan pemandangan malam yang begitu tenang. Kris teringat akan kenangan dua tahun lalu. Saat butiran – butiran salju masih semangat turun bagaikan hujan memenuhi seluruh permukaan bumi saat itu.

Yoonjo-ah!” Kris mendudukkan dirinya pada kursi kosong di hadapan Yoonjo. Bibirnya melengkung ke atas saat melihat Yoonjo menyambutnya dengan senyuman ramah.

 

“Kau lama sekali. Aku hampir meninggalkanmu tadi” kata Yoonjo sambil berpura – pura marah. Membuat Kris sedikit meringis kecil dan menyesal karena keterlambatannya, “Mianhae. Hujan salju begitu deras hingga membuat jalanan macet. Maafkan aku” sesal Kris.

 

Yoonjo menatap Kris dan kemudian tertawa keras, “Kau menganggapku marah betulan? Hahaha… Aku hanya bercanda. Aku juga baru sampai disini 5 menit yang lalu”

 

“Ah, sialan. Aku selalu tertipu olehmu!”

 

“Salah sendiri terlalu bodoh.” ujar Yoonjo dan memeletkan lidahnya. Kris hanya dapat mendecak kesal walau dalam hatinya dia ingin sekali marah. Tapi apa daya, dia tidak mampu marah pada gadis di hadapannya. Gadis yang merupakan sahabatnya sekaligus orang yang ingin sekali dia jadikan pasangan hidup. Oke, mungkin ini terdengar sangat pasaran. Tapi apa salahnya Kris bersikap munafik. Dia menyukai Yoonjo namun terlalu pengecut mengatakan perasaannya itu. Dia hanya dapat memuji Yoonjo dan berteriak saranghae dari dalam hatinya.

 

“Terserah. Lagipula, ada apa? Kenapa kau menyuruhku kesini?” tanya Kris kemudian.

 

“Oh iya… Aku lupa dengan tujuanku. Aku mau menceritakan padamu sesuatu yang hebat!” jawab Yoonjo. Gadis itu terlihat begitu bersemangat saat menceritakan pengalamannya yang baru saja dilaluinya.

 

“Aku bertemu Gikwang! Dia tampan sekali, Kris! Kau tau, tadi aku dengan dia tidak sengaja bertabrakan hingga aku jatuh. Dia menolongku dan meminta maaf padaku, bahkan dia membersihkan lututku yang berdarah. Ah,,, jantungku” Yoonjo memegang dadanya, merasakan detakan jantungnya yang cepat karena memikirkan kejadian barusan.

 

‘Dia terlihat begitu bahagia’ gumam Kris dalam hati. Kris hanya dapat memasang wajah antusias dan bahagia saat Yoonjo mengakhiri ceritanya. Padahal berbeda dengan hatinya, ulu hatinya merasa begitu sakit saat mendengar dan melihat bagaimana Yoonjo menyukai bahkan mencintai Gikwang, seorang pria di kampusnya.

 

“Ah… Dan yang terpenting dari cerita ini—“ kata Yoonjo sok misterius. Gadis itu memandangi Kris dengan penuh misteri.

 

“Dia menyatakan cintanya padaku!!! Lee Gikwang menyatakan cinta padaku, Kris! AHHH!!” Yoonjo beranjak dari kursi dan melompat – lompat gembira. Gadis itu bersorak tanpa mempedulikan orang – orang di café siang itu.

 

Kris terpaku. Hatinya terasa begitu sakit dan teriris. Yoonjo berpacaran dengan Gikwang. Yang artinya, dia kalah?

Kris tersenyum tipis mengingat kenangan yang pahit tersebut. Sampai sekarang pun masih ada sedikit harapan dan rasa sukanya pada Yoonjo. Dia memandang punggung gadis itu yang masih sibuk memilih es krim disana. Gadis itu tidak berubah dan tetap sama seperti dahulu. Sifatnya yang ceria, senyum manisnya, semua masih sama.

Tapi apakah hubungannya dengan Gikwang masih seperti dulu?

Yoonjo tidak tau.

“Hey! Melamun saja!” Kris tersentak begitu merasakan sebuah pukulan mendarat di punggungnya. Dia berbalik dan mendapati Yoonjo yang tengah menikmati es krimnya sambil menjulurkan lidah padanya.

Kris menghela nafas, “Aku tidak melamun..” elaknya.

Yoonjo memutar matanya. Bohong. Jelas – jelas tadi tatapannya kosong dan menyedihkan. “Terserah…” pasrahnya. Yoonjo kembali duduk pada tempatnya semula dan menikmati es krim yang dia pesan tadi.

“Yoonjo-ah” panggil Kris.

Ne?”

“Kau masih berhubungan dengan Gikwang?”

Yoonjo terdiam. Kegiatannya terhenti dan kepalanya tertunduk ke bawah secara perlahan. Kris yang menyadari hal itu mengernyit tak mengerti. Dia memandangi wajah Yoonjo yang berubah menjadi sendu, “Kenapa?”

“Hubungan kami sudah berakhir tiga bulan yang lalu.” ucap Yoonjo dengan terisak. Membuat hati Kris lagi – lagi terasa begitu sakit dan teriris. Wanita yang dia sayangi sedang menangis di hadapannya, dan itu juga menyakiti hatinya.

“Kenapa bisa?” tanya Kris lagi berusaha untuk tenang.

Yoonjo mendongakkan wajahnya, “Dia bilang… kami sudah tidak cocok lagi. Tapi, Naeun berkata padaku, dia melihat Gikwang bermesraan dengan gadis lain.” Satu tetes air mata mengalir di pipi Yoonjo, membuat Kris tidak tahan lagi. Lelaki itu segera berdiri dan menarik Yoonjo ke dalam dekapannya.

“Tenang saja. Aku bersamamu, Yoon” Namun tanpa sadar, Kris melupakan Jessica. Gadis yang beberapa waktu ini sempat mengisi hatinya dan seakan hilang begitu saja saat Yoonjo muncul di hadapannya.

Gadis itu memandangi pintu bercatkan warna putih itu dengan resah. Dia melirik jam yang ada di kamar itu.

Pukul 00.23

Sudah hampir setengah jam sejak dia berubah menjadi manusia, namun lelaki yang biasanya akan bertemu dengannya tidak muncul di hadapannya. Kamarnya kosong, tanda pemiliknya belum pulang. Jessica menghela nafas kecewa, padahal dia sudah sangat bahagia berubah kembali.

“Hah, dia menyebalkan” gerutu Jessica pada dirinya sendiri. Gadis itu berdiri dan memandangi pemandangan kota Seoul dari jendela kaca di kamar itu. Jessica mengangkat tangannya dan menempelkan tangannya pada kaca jendela, “Indah~” gumamnya saat melihat cahaya lampu kelap – kelip dari gedung – gedung pencakar langit yang ada di Seoul.

“Andaikan aku dapat menikmati ini bersama Kris… Kenapa lelaki itu belum pulang juga?” Jessica mengalihkan pandangannya ke pintu kamar, belum ada tanda – tanda bahwa lelaki itu akan datang. Lagi – lagi, Jessica hanya dapat mendesah kecewa.

Jessica berjalan ke tempat tidur yang biasanya ditempati Kris. Dia tersenyum geli mengingat kejadian hari pertama dia bertemu Kris, saat dia dan Kris tidur bersama dalam satu selimut. Dia masih dapat merasakan jantungnya yang berdegup kencang saat Kris tersenyum kepadanya. Dia masih dapat merasakan betapa gugupnya dia saat Kris mengajak tidur bersama. “Beautiful memories~” gumamnya lagi sambil tersenyum.

Tangan Jessica dengan iseng membuka laci meja di sebelah tempat tidur itu. Kedua matanya membulat begitu melihat sebuah album foto bersampul kecoklatan terdapat disitu. Pikirannya berseteru saat itu nalurinya berkata untuk membuka album itu tetapi logikanya berkata lain, jangan… itu milik Kris dan dia tidak berhak melihatnya secara sembarangan, Jessica bukan siapa – siapanya. Jessica terkesiap. Ya, ini tidak benar. Dia bukan siapa – siapanya Kris. Album itu dikembalikan di tempat semula oleh Jessica, gadis itu segera berdiri dan menelusuri seluruh sudut kamar ini dengan matanya.

Pandangannya menangkap sesuatu. Sebuah bingkai foto yang terletak di atas meja kerja Kris. Lagi – lagi pikirannya berseteru, hingga akhirnya Jessica memutuskan untuk melihatnya saja. Toh itu hanya bingkai foto. Jessica berjalan dan mendudukkan dirinya pada kursi di belakang meja itu. Tangannya mengambil bingkai itu dan melihatnya. Foto Kris bersama seorang wanita. Wanita yang memiliki rambut berwarna cokelat seperti miliknya dan senyum yang indah.

Jessica dapat merasakan aura yang berbeda dari foto itu. Aura romantis? Apa Kris berpacaran dengan wanita yang lebih pantas disebut gadis ini? Memikirkannya saja membuat hati Jessica kembali sakit. Mungkin Kris berpacaran dengan gadis ini. Itu bisa saja terjadi melihat sinar mata Kris yang berbeda di foto ini. Sinar kebahagiaan? Jatuh cinta?

Jessica mengembalikan bingkai itu ke posisinya semula. Tapi tepat ketika bingkai itu kembali di posisinya, pintu dengan perlahan terbuka.

“Kris?”

Kris mendongakkan kepalanya yang semula tertunduk. Dia tersenyum saat melihat Jessica yang berjalan mendekatinya. “Apa kabar, Jess?”

“Uh? Donghae?” Donghae menatap Jessica bingung saat gadis itu menempelkan telapak tangannya pada dahinya. “Aku kenapa?” tanyanya bingung.

“Kau demam? Mukamu pucat sekali” kata Jessica khawatir.

Kris tersenyum. Lelaki itu mengacak rambut Jessica gemas, “Aku tidak apa – apa. Khawatir sekali…” Kris melepas dasinya dan juga jas yang semula melekat di badannya. Digantungkannya semua itu pada gantungan baju yang tersedia di sana. Sementara itu, Jessica menatap Kris penasaran. Gadis itu yakin sekali jika wajah Kris pucat pasi. Dia takut terjadi sesuatu pada Kris. Namun tiba – tiba dia teringat akan foto di meja kerja Kris itu. Tidak ada salahnya jika dia bertanya Kris siapa gadis itu.

“Kris-ah..” panggil Jessica.

Kris menoleh kepada Jessica, “ Kenapa?”

“Foto di atas meja kerjamu itu. Boleh aku tau siapa gadis itu? Apa dia kekasihmu?”

Kris terkesiap, “Kau sudah melihatnya ya?” Lelaki itu tersenyum tipis dan duduk di tempat tidurnya sehingga berhadapan dengan Jessica yang sedang duduk di sofa, “Namanya Shin Yoonjo tetapi lebih sering dipanggil Yoonjo. Dia bukan kekasihku.”

Pernyataan Kris membuat Jessica sedikit bernafas lega. Jujur, gadis itu sangat takut jika Kris mengatakan itu kekasihnya. Dia tidak siap harus merasakan sakit hati karena sudah terlanjur menyukai lelaki yang menjadi temannya tiga hari belakangan ini. Jessica memiringkan kepalanya, dia berniat untuk bertanya lebih detail lagi. Tidak ada salahnya kan. “Bukan kekasihmu? Tetapi kenapa sinar matamu menunjukkan bahwa kau menyukainya?”

Tawa kecil keluar dari mulut Kris. “Kau terlihat penasaran sekali.”

“Ne. Aku sangat penasaran~”

“Dia cinta pertamaku dan sampai sekarang aku masih menyukainya…”

TBC

40 thoughts on “[Twoshot] Barbie Girl [Jessica Ver.]

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s