[Freelance] Is Supposed To Do

YoonaIm

Is Supposed To Do

by

Kisei99

The Star(s)

[EXO] Sehun Oh – [GG] Yoona Im

[OC] Minah Seo

Ficlet │ Thriller, Romance, Random │ PG15+

Disclamer

This fanfiction is mine. All Casts belong to God, their parents and their agency. Don’t bash, copy or plagiat.

Ok, Enjoy!Please, Don’t be a silent readers

-o0o-

.

 

.

 

.

 

.

-Warehouse school. At 07.00 p.m-

Untuk pertama kalinya, Oh Sehun menyetujui apa yang dikatakan oleh Luhan, kakak laki-lakinya. Kali ini Sehun menyadari bahwa dirinya memang terlalu mudah percaya kepada orang lain dan tidak pernah berpikir jauh ke depan. Pikirannya terlalu naif. Sungguh konyol, mengingat kalau Sehun adalah pangeran sekolah yang dipuja-puja oleh para gadis.

Sehun menahan getaran pada tubuhnya dengan memasang kuda-kuda waspada. Matanya berusaha menatap tajam seorang gadis berambut coklat yang tengah tersenyum manis kepadanya. Siapapun yang melihat Sehun sekarang pasti tahu, kalau sebenarnya pemuda itu tengah dikuasai oleh rasa takut.

Im Yoona. Itulah nama si gadis berambut coklat. Sosok gadis yang terlihat sangat manis tapi sebenarnya, gadis itu adalah monster yang mengerikan.

Pemuda itu membuang pandangannya pada sebuah sosok manusia yang tergeletak tak berdaya di atas tanah. Sebenarnya, Sehun sendiri ragu apakah sosok itu dapat dikatakan sebagai manusia atau tidak. Jika dilihat dari bentuknya, sosok itu sudah hancur tak berbentuk seperti kertas yang diremas-remas.

Kepala dan kaki yang sudah terpisah dari tubuh. Rongga mata kiri yang sudah tidak lagi diisi oleh bola mata. Kepala yang dihiasi oleh luka sobekan dalam yang melintang panjang, sehingga darah terus saja mengalir dengan deras, memperlihatkan sebuah organ penting di dalam kepala. Serta perut yang juga dihiasi oleh beberapa lubang dalam dan sebuah pisau besar.

Dan, jangan lupakan cairan kental berwarna merah pekat yang membubuhi setiap bagian tubuh sosok tersebut. Sehun tidak tahu bagaimana caranya. Tapi, darah itu tidak hanya terdapat disekitar sosok hancur itu. Darah itu berceceran dimana-mana. Bau amis pun sudah memenuhi ruangan tersebut.

Sehun merasakan perutnya mulai terasa mual. Seluruh isi perutnya berlomba-lomba ingin keluar melalui mulut. Tapi, Sehun menahan itu semua. Semenjak tadi, Sehun juga sudah menahan matanya agar tidak mengeluarkan cairan bening barang sedikitpun. Setiap kali mata Sehun menatap sosok hancur itu, hati dan perasaan Sehun terasa sakit; perih; linu; marah; kecewa; hancur. Semuanya tercampur aduk dan berhasil membuat Sehun hampir frustasi—atau mungkin stress.

Seo Minah.

Sosok tidak berbentuk itu adalah Seo Minah.

Kekasihnya. Kekasih yang amat ia sayangi. Kekasih yang amat ia cintai.

“Hai, Sehun~” Yoona membuka suaranya. Bibirnya mengukir sebuah senyuman manis yang terkesan innocent. Dan, matanya sama sekali tidak lepas dari Oh Sehun—orang yang begitu ia sukai.

Tidak ada jawaban yang meluncur keluar dari mulut Sehun. Pemuda itu melangkahkan kakinya mundur tatkala matanya melihat Yoona mulai mendekati dirinya. Bulu kuduk Sehun berdiri. Senyuman manis Yoona sama sekali tidak berhasil membuat Sehun balik tersenyum seperti biasanya. Senyuman itu sekarang bagaikan tanda peringatan adanya malaikat pencabut nyawa disekitarnya—dan itu sungguh mengerikan.

Terlebih lagi, Yoona tersenyum seperti itu dengan tubuh yang dipenuhi oleh bercakan darah—darah milik Minah. Dan tangan kanan gadis itu masih menggenggam sebuah pisau lipat.

Pisau itu… Pisau yang Yoona gunakan untuk menusuk mata kiri milik Minah. Pisau itu yang telah berhasil mengoyak rongga mata kiri Minah kemudian mengeluarkan bola mata Minah dari tempatnya.

“Hentikan langkahmu, Yoona!” perintah Sehun dengan keras. Meski keras, suaranya terdengar jelas bergetar ditelinga Yoona.

Yoona menatap Sehun dengan tatapan polos. “Kenapa?”

Mata Sehun berkilat marah. Buku-buku jarinya mengeras dan kedua tangannya mengepal kuat. Benci. Pemuda itu sekarang sangat benci dengan tatapan polos milik Yoona.

Sehun tidak akan pernah lupa. Ia tidak akan pernah lupa dengan kejadian itu. Kejadian saat Yoona memotong kedua kaki Minah menggunakan sebuah pisau besar—yang entah didapatnya dari mana. Setelah melakukan hal itu, gadis itu beralih pada leher Minah dan menggoroknya hingga terlepas dari tubuh sang pemilik. Yang membuat Sehun tidak habis pikir, Yoona melakukan semua hal itu dengan tatapan polosnya yang tak berdosa!

“Kau telah membunuh Minah, Im Yoona!!! Kau membunuh kekasihku!!! Kau mengerikan!!! Kau monster!!!” teriak Sehun dengan keras. Tegas. Tajam. Mematikan.

Secara tiba-tiba, Yoona menghentikan langkahnya dan menatap Sehun kosong. Ekspresi wajah berseri-seri milik gadis itu sirna dalam sekejap mata tepat saat Sehun selesai berteriak. Sehun yang melihat itu hanya menatap tajam pada Yoona. Tubuhnya masih waspada, takut-takut gadis itu melakukan hal yang tidak terduga.

Tatatapan kosong itu…

Tatapan kosong itu akan selalu Sehun ingat. Disertai tatapan itu lah Yoona menusuk-nusuk perut Minah tanpa ampun. Dengan tatapan kosong itu pula Yoona menorehkan luka yang amat dalam dikepala kekasihnya hingga menembus otak sang pemilik kepala.

Gadis bermarga Jung itu menundukan kepalanya. “Aku hanya melakukan hal yang seharusnya aku lakukan.”

“A-apa…?” Sehun mengerjapkan kedua matanya, tidak mengerti maksud si gadis.

“Dia selingkuh, Sehun.” ungkap Yoona dengan nada pelan. “Minah berselingkuh dengan Kibum Sunbae.”

Tubuh Sehun membatu tidak bergerak. Kedua matanya membulat secara sempurna—bola matanya seperti akan keluar dari tempatnya. Sehun memang pernah mendengar gosip kalau Minah memiliki hubungan khusus dengan Kim Kibum. Tapi… Itu tidak mungkin. Yoona berbohong. Ya. Yoona membohonginya. Tidak mungkin kekasihnya berkhianat.

Yoona mengangkat kepalanya dan menatap mata Sehun lekat-lekat. “Dia sudah berselingkuh dibelakangmu cukup lama. Kira-kira satu bulan yang lalu. Saat itu aku memergokinya tengah bercumbu dengan Kibum Sunbae di ruang kesehatan. Aku menegurnya. Tapi, dia tidak peduli dan malah mengancamku.”

Sehun kembali mengerjapkan matanya lantas mencari-cari sorot kebohongan di mata Yoona. Tapi nihil. Ia tidak menemukan kebohongan apapun disana.

“Aku tidak peduli dengan ancamannya. Beberapa kali aku hendak memberitahumu. Tapi hal itu tidak pernah berhasil karena setiap kali aku ingin berbicara denganmu, Minah selalu datang.” jelasnya. Sehun dapat melihat kedua tangan Yoona meremas kuat ujung seragam sekolahnya, masih sambil menggenggam pisau lipat. Tubuhnya bergetar.

Ada sebuah perasaan aneh yang mencelos dan mulai menjalari hati Sehun saat pemuda itu mendengar penjelasan Yoona. Sehun tidak mengerti apa arti perasaan ini.

“Kenapa? Kenapa dia tidak bersyukur? Seharusnya dia senang karena seorang Oh Sehun sangat mencintainya dengan tulus. Tapi dia malah mengkhianatimu. Apa dia tidak pernah tau? Banyak orang yang mencintai seorang Oh Sehun dengan segenap perasaannya, tapi Sehun tidak pernah membalas cinta orang-orang itu karena Sehun hanya mencintai satu orang. Seo Minah. Gadis yang telah mengkhianatinya dari belakang.”

Sehun dapat melihat dengan jelas pelupuk mata Yoona yang sudah mulai digenangi oleh cairan bening. Dalam sekejap, perasaan benci pada Yoona yang menguasai dirinya hilang dan digantikan oleh sebuah perasaan aneh, yang sama sekali tidak Sehun pahami.

“Aku membencinya. Sangat membencinya. Aku sangat-sangat membenci Seo Minah yang telah menghianati orang yang amat aku cintai.” ucap Yoona.

Kepala gadis itu kembali tertunduk, menatap sepatu sekolahnya yang sekarang dipenuhi oleh warna merah. Matanya memanas dan air mata mulai berjatuhan dengan deras, membasahi sepatu hingga darah Minah yang menempel disana bercampur dengan air matanya. Gadis itu menggigit bibir bawahnya, tidak ingin ada suara isakan yang lolos dari mulutnya.

Sehun tau kalau Yoona menangis. Sebesar itu kah rasa cinta Yoona kepadanya? Selama ini, pemuda itu berpikir kalau Yoona sama dengan gadis-gadis lain yang selalu mati-matian mengejarnya. Dan, Sehun yakin, rasa suka gadis-gadis itu hanyalah sekedar rasa suka. Bukan cinta. Karena itu lah, Sehun sama sekali tidak pernah membalas perasaan Yoona. Sehun memang sering tersenyum pada Yoona. Tapi hal itu hanyalah sebuah formalitas.

“Aku mencintaimu, Sehun… Aku sangat mencintaimu… Selama ini aku tidak keberatan dengan hubunganmu dengan Minah. Tapi aku tidak rela jika orang itu menyakitimu. Karena itulah aku membunuhnya.” isak Yoona, masih menunduk.

“Y-Yoona…” mata Sehun menatap Yoona dengan lirih. Sehun tahu, kata-kata itu keluar tulus dari hati Yoona.

Yoona menghapus air matanya menggunakan punggung tangan. Tapi sepertinya itu hanyalah hal yang sia-sia karena cairan kristal itu masih saja keluar. “Aku tahu, dimatamu, sekarang aku hanyalah seorang pembunuh yang mengerikan.”

Mata Sehun membelak. Awalnya ia memang berpikir begitu. Tapi, sekarang tidak. Sekarang Sehun menyesal. Menyesal karena sempat menganggap Yoona sebagai monster tidak berperasaan. Menyesal karena tidak pernah sekali pun menoleh pada Yoona.

Kepala itu terangkat, menampilkan wajah Yoona yang basah karena air mata. “Jujur, aku sangat sedih karena pastinya sekarang kau membenciku. Tapi, aku sama sekali tidak keberatan.” dia tersenyum. “Karena menurutku, aku sudah melakukan hal yang memang harus aku lakukan.”

Sehun hendak membuka mulutnya, mengatakan kalau ia sama sekali tidak membenci Yoona. Tapi pemuda itu membatalkan sementara niatnya karena Yoona mendahuluinya berbicara.

“Aku tidak berharap kau membalas perasaanku. Aku hanya ingin kau bahagia. Dan itu cukup.” lanjut Yoona.

Perasaan aneh itu kian menjadi dan mulai menguasai seluruh hati Sehun. Darah pemuda itu berdesir. Sehun mulai tahu apa arti perasaannya. Ia menggelengkan kepalanya cepat. Tidak mungkin. Tidak mungkin perasaan seperti ini dapat tumbuh dengan cepatnya seperti virus.

Tanpa Sehun duga sama sekali, tubuhnya bergerak tanpa diperintahkan oleh otaknya. Sehun berjalan cepat, mendekati Yoona. Kemudian, pemuda itu menarik tubuh mungil Yoona kedalam dekapan posesifnya.

“Aku… Aku mungkin akan membalas perasaanmu.” bisik Sehun pelan, tepat ditelinga Yoona.

Mendengar itu, mata Yoona membelak. Tangannya melepaskan pisau lipat yang sedari tadi ia genggam hingga benda tajam itu terjatuh ke lantai.

.

 

.

.

-o0o-

 

Iyaa. Bila tau ff ini ancur, jelek dan parah banget. Maklum, bikinnya pas lagi sakit dan ff ini pun jadinya cepet bangettt-,- Malahan ff ini sama sekali ga di edit karena males.-.v Maaf untuk typo, cerita yang ga nyambung, alur kecepetan, ending gantung dan sebagainya. Ff ini udah di post di blog pribadi (himawarikisei.wordpress.com) dengan main casts KaiStal couple.

Ok, jangan lupa tinggalkan jejak😀

30 thoughts on “[Freelance] Is Supposed To Do

  1. Keren loh ceritanya.. Tapi bakalan lebih seru lagi kalo ada sequelnya.. Aku penasaran ama hubungan sehun ama yoona.. Bikin sequel yg romance ya thor, jeballl ><

  2. Kirain yoona juga mau bunuh sehun gegara perasaannya tak terbalaskan. Ternyata dugaanku melenceng jauh. Buatkan sequel dong. Buat mereka bersatu dan happy ending

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s