[Freelance] The Day I Meet Him (Part 3/END)

the day i meet him

Author : RYN

Length : threeshoot

Rate : PG 17 (akan berubah nanti)

Cast :

@ Taeyeon

@ Luhan

Other cast :

@ Jessica

@ Yoona

Genre : fantasy,romance

 

Don’t plagiat, don’t copy paste without my permission!!

Aku tidak pernah memberikan izin pada siapapun untuk membuat cerita berdasarkan fanfic ini!!!

 

***

Sejak hari itu, hubungan Taeyeon dan Luhan semakin membaik. Meski Taeyeon masih dilanda kebingungan terhadap perasaannya, paling tidak dia telah mencoba membuka dirinya untuk Luhan. dia tak lagi menolak atau menghindarinya tapi malah membiarkan pria-siluman-rubah-itu berada di sisinya. Bukan hanya itu, hubungannya dengan Ny Hwang dan putrinya Sunny juga tetap terjalin baik. kalimat ny Hwang padanya beberapa minggu yang lalu masih tertanam dalam pikirannya.

*kau bisa keluar dari hutan ini jika seseorang dari tempat ini membawamu keluar. Ini tidak mudah karena baik aku dan Sunny juga para pelayan tidak di izinkan meninggalkan hutan ini.*

Taeyeon menarik nafas panjang. Keinginannya untuk pulang ke dunianya sangat kuat tapi ia tidak bisa melakukan apapun selain tetap tinggal di puri ini. kepalanya mendongak ke atas dan senyum tipis terukir di bibirnya, pemandangan matahari terbenam di atasnya tampak sangat indah. dia kemudian teringat kedua sahabatnya, Jessica dan Yoona. Mereka bertiga sering memandangi matahari terbenam. Senyumnya perlahan menghilang begitu teringat kedua sahabatnya. sudah berapa lama ia tinggal di puri? Segelintir pertanyaan-pertanyaan pun muncul. Apakah kedua sahabatnya sekarang sedang mencarinya? Apakah mereka merindukannya? Bagaimana dengan keadaan ayahnya? mengingat ayahnya air matanya kembali membasahi pipinya. dia sangat merindukan ayahnya, dia sungguh tidak ingin berada di tempat ini selamanya.

“eonni lihat!”

Taeyeon cepat-cepat menghapus air matanya begitu mendengar seruan Sunny. Untuk sesaat dia melupakan keberadaan Sunny dan Luhan di sekitarnya. pandangannya langsung beralih ke arah yang di tunjuk Sunny dan tersenyum. gadis kecil itu memandangi burung-burung putih di langit yang terbang bergerombolan. Sekalipun dia menutupi perasaan sedihnya, Luhan sudah mendengarnya. rubah itu berlari menghampirinya dan mengangkat kepalanya untuk menyentuh pipinya dengan moncongnya. Taeyeon tersentak kaget, sikap Luhan padanya membuatnya luluh. Dia memang tak mengerti bahasa binatang tapi melihat tingkah laku Luhan, mungkin ia sedikit bisa mengerti. tidak dengan wujud manusia ataupun rubah, Luhan tetap perhatian padanya. tiba-tiba Luhan meninggalkannya dan masuk ke dalam hutan. Taeyeon mengeryitkan keningnya namun tidak berapa lama kemudian rubah itu muncul kembali dengan beberapa tangkai bunga di moncongnya.

“waahhh Luhan membawa bunga untuk eonni” Sunny bersorak kegirangan membuat Taeyeon bersemu merah.

Luhan menjatuhkan bunga-bunga itu di atas pangkuannya. Taeyeon tentu saja tersentuh. Perlakuan manis dari siluman rubah, waw dia tak pernah menyangkanya. Dia menduga, Luhan mungkin ingin menghiburnya setelah melihatnya menangis. setelah mengucapkan terima kasihnya, tanpa di minta, Luhan merebahkan kepalanya di atas pangkuannya seperti kebiasaannya. Taeyeon hanya tersenyum dan sesekali tertawa jika Luhan terdengar merengek jika sekali saja ia tidak membelainya.

 

***

*bau ini..aku dimana?* Taeyeon mengernyit dengan bau yang menusuk hidungnya. *apa sudah pagi? Luhan? Sunny?* dia mulai panik. keadaan di sekitarnya terasa asing hingga membuatnya takut membuka matanya.

Samar-samar dia mendengar suara familiar memanggilnya. *appa?!*

“Taeyeon! Taeyeon baby apa kau mendengarku?!”

*ayah? Benarkah itu suara ayahku?*

“Taeyeon! Taeyeon! please buka matamu baby”

Suara itu memelas padanya. Taeyeon mulai bimbang. Dia ingin bangun. Dia harus bangun. Ayahnya memanggilnya.

“dokter tolong lakukan sesuatu. aku melihat putriku menggerakkan tangannya”

Kali ini Taeyeon sangat yakin kalau suara yang di dengarnya adalah benar-benar suara ayahnya. tapi kenapa ayahnya bisa berada disini? Kenapa dia tidak mendengar suara Luhan? seseorang tiba-tiba menyentuh tangannya. tangan hangat yang terasa sangat familiar. Bunyi-bunyi gaduh di dekatnya terdengar mengganggunya.

Taeyeon memantapkan hatinya. dia harus melihat pemilik suara yang membangunkannya juga tempat asing ini.

Kelopak matanya bergerak perlahan. Taeyeon memaksa membuka matanya tapi dia kembali menutupnya karena belum terbiasa dengan sinarnya yang terlalu menyilaukan.

“Taeyeon baby…apa kau bisa mendengarku?”

Taeyeon mengatur suaranya sebelum mengeluarkannya. “appa..” kedua matanya terbuka. Dia memang tidak bermimpi, pria yang berada disampingnya dan menggenggamnya adalah ayahnya.

“akhirnya putriku sadar juga” suara ayahnya bergetar, Taeyeon bisa melihat bagaimana pria itu berusaha menahan tangisnya. “aku pikir aku akan kehilanganmu..kau putri yang jahat, sudah membuat ayahmu sangat mengkhawatirkanmu”

Taeyeon mencoba tertawa dengan candaan ayahnya. “aku baik-baik saja appa” mendadak, dia mengalihkan perhatiannya ke sekelilingnya. Beberapa orang berpakaian putih meninggalkan ruangan itu setelah salah satu dari mereka yang ia duga sebagai dokter, mengatakan kalau kondisinya telah baik-baik saja.

“appa, aku ada dimana? Dimana Luhan dan Sunny?” tanyanya setelah memastikan tempat itu bukanlah salah satu kamar dalam puri. dia semakin heran ketika melihat ekspresi bingung ayahnya.

“Luhan? Sunny? Siapa mereka?”

Taeyeon mengejap, pikirannya merasa ada sesuatu yang tidak beres. Kenapa dia bisa berada disini? Bukankah dia sedang berada di puri? tiba-tiba dia merasa sekitarnya seolah-olah berputar. Kepalanya terasa pening.

“baby kau baik-baik saja?”

Taeyeon memaksakan senyumnya. Dia tidak ingin melihat ayahnya kembali mencemaskannya. Dia mengangguk lemah dan memejamkan matanya. semuanya masih membingungkan baginya. Dimana Luhan? apakah semua ini hanyalah mimpi?

 

***

Banyak hal yang berubah selama dua minggu ini. Taeyeon dan kedua sahabatnya kini telah terdaftar sebagai mahasiswi di salah satu universitas. Taeyeon masih tidak percaya kalau yang ia alami di dalam hutan dan puri itu hanyalah mimpi. Kedua sahabatnya telah menceritakan semuanya, bagaimana mereka menemukan tubuhnya tergeletak di tepi jalan tidak jauh di samping penginapan. keduanya juga tak lupa memberitahunya, karena kejadian itu, dirinya koma selama seminggu. Taeyeon merasa semuanya serba tidak masuk akal. Bukankah dia berada di puri dalam hutan? Lalu kenapa apa yang mereka ceritakan tidak bisa di cerna oleh pikirannya?

Selama dua minggu ini Taeyeon menjalani kehidupannya dengan normal. Rutinitas sebagai mahasiswi semester pertama membuatnya sedikit lebih sibuk. Tapi, tidak ada yang tahu kalau Taeyeon masih memikirkan hutan larangan, puri, ny Hwang, Sunny dan juga Luhan. jika dia menceritakanya pada kedua sahabatnya apa yang ia alami di dalam hutan itu, mereka pasti tidak akan mempercayainya.

“yaa mau sampai kapan kau duduk melamun disitu?”

Taeyeon tersentak dari lamunannya. Dia menoleh kebelakang lalu tersenyum tipis. Yoona berkacak pinggang menatapnya sementara disampingnya, Jessica hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.

“serius Taeyeon, mau sampai kapan kau bersikap seperti ini? sejak pulih dari rumah sakit kau menjadi lebih sering melamun” Jessica berkomentar.

Taeyeon hanya diam. inilah salah satu kebiasaan barunya setelah keluar dari rumah sakit. Melamun. Entah sudah yang keberapa kali kedua sahabatnya itu memergokinya sedang melamun, tapi dia tak pernah jera.

“Taeyeon hello~kembali ke bumi Taeyeon~”

Taeyeon mengejapkan matanya ketika Jessica melambaikan tangannya di depan wajahnya. dia tersenyum kecut mendapati keduanya memandanginya dengan heran.

“apa? aku hanya sedang..” Taeyeon sibuk mencari alasan yang tepat, “memikirkan sesuatu?”

Yoona dan Jessica memutar bola mata mereka, tentu saja tak percaya.

“sebaiknya kita pulang. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi nanti jika kau terus-terusan melamun di tempat ini” saran Jessica yang langsung ditanggapi Yoona dengan anggukan setuju.

“apa kuliah kalian sudah selesai?” Taeyeon menatap keduanya.

“kami sudah mengirimkan pesan padamu kan?”

“benarkah?” Taeyeon segera memeriksa ponselnya. benar saja, 2 pesan dari Jessica dan Yoona ditambah berapa kali panggilan tak terjawab. Semuanya dari mereka.

“lain kali beritahu kami kalau kau ingin melamun supaya kami tidak perlu repot-repot menghubungimu” ucap Yoona kesal.

Taeyeon hanya nyengir. Dia tahu sahabatnya itu tidak benar-benar bermaksud berkata seperti itu padanya.

“kajja”

Mereka bertiga pun berjalan keluar dari taman itu menuju jalan menuju gerbang kampus. Sepanjang jalan, ketiganya sibuk membicarakan banyak hal. Mulai dari seputar mata kuliah hingga menyebar ke pembicaraan tentang mahasiswa-mahasiswa senior mereka yang tampan. Taeyeon sangat bersyukur karena akhirnya bisa melihat mereka berdua lagi. dia sangat merindukan saat-saat ini. Berkumpul dan bercanda lagi bersama kedua sahabatnya seperti dulu. Apa yang ia miliki sekarang, membuatnya sadar, kehidupannya akan terus berlanjut. Hal yang harus ia lakukan sekarang adalah meluruskan pikirannya dengan melupakan apa yang pernah terjadi. Mungkin Luhan benar-benar hanyalah mimpi. makhluk fantasi seperti Luhan tidaklah nyata.

“perlukah kita menjitak kepalanya?”

Mendengar suara Yoona, Taeyeon kembali dari lamunannya lalu melotot tajam ke arah gadis itu.

“kau terlalu banyak melamun” Yoona meledeknya.

“dan kau terlalu sering memperhatikanku” balasnya.

Melihat kedua sahabatnya, Jessica tertawa geli. “ups. Hehehe” tawanya berubah hambar begitu menerima tatapan tajam dari keduanya. “sampai dimana kita tadi?” dia langsung memasang wajah innocent-nya lengkap dengan puppy eyes yang berkedip-kedip.

“berhenti melakukan itu. kau membuatku merinding” Yoona pura-pura bergidik ngeri.

Air muka Jessica langsung berubah drastis. Tidak sampai sedetik, Yoona meringis sambil mengusap lengannya hadiah dari Jessica.

“yaa berhenti menyakitiku!” gadis berambut hitam itu mendelik kesal. “apa kau tidak punya tempat lain! cap tanganmu terekspos jelas di kulitku. sekarang apa yang harus kulakukan untuk menutupinya?” rengeknya.

Jessica hanya tersenyum puas mengangkat bahunya. sementara Taeyeon menggeleng-gelengkan kepalanya.

“again. Stop mendramatisir Yoong~”

“Taeyeon!”

Sebuah suara tiba-tiba terdengar di belakang mereka. Taeyeon dan ketiga sahabatnya sontak berbalik. Jessica dan Yoona tersenyum melirik Taeyeon yang mendadak terpaku di tempatnya.

“sst..” Jessica berbisik sedikit mencondongkan badannya, “berbicara tentang sunbae kita yang tampan, Jonghyun sunbae menurutku lumayan”

Yoona mengangguk setuju. sepertinya kekesalannya tadi telah hilang. “bagaimana menurut pendapatmu Taeyeon?”

Taeyeon mengangkat bahunya. “molla. Bisakah kalian berhenti memujinya? Dia mungkin bisa mendengar pembicaraan kita” desisnya.

“ck, memangnya kenapa kalau dia mendengar? Bukankah itu bagus?”

Taeyeon mendelik kesal ke arah Jessica. “bisakah kau tidak sepolos itu?” tanyanya sarkastik, membuat Jessica langsung melayangkan pukulan ke lengannya.

“sekarang kau tahu rasanya” Yoona mencibirnya.

Taeyeon ingin membalasnya tapi pria itu-Jonghyun telah berada di depannya.

“a-ada apa sunbae?” *bagus Taeyeon. siapa yang mengajarimu gugup di depannya huh?* rutuknya.

Dari sudut matanya dia bisa melihat bagaimana Yoona dan Jessica menahan tawa mereka. *awas kalian* dia ingin sekali melotot pada kedua sahabatnya tapi karena Jonghyun, dia harus menahannya.

Jonghyun mengusap punggung lehernya-tersenyum malu. “maaf mengganggumu..aku hanya ingin menanyakan sesuatu padamu”

“sunbae ingin menanyakan apa padaku?” tanya Taeyeon heran.

“aku..mm..aku..itu..aku ingin mengajakmu membeli buku bersama” jawabnya spontan.

Taeyeon melongo, kedua sahabatnya yang juga ada disamping kanan kirinya, susah payah menahan tawa mereka agar tidak meledak. Wajah Jonghyun merah padam. Dia sebenarnya bukan ingin mengatakan itu, tapi tiba-tiba saja kalimat itu keluar dengan sendirinya. Sekarang, dia tidak tahu lagi harus berkata apa. dia terlalu malu untuk melarat kalimatnya.

“Jonghyun sunbae, kau ingin mengajak Taeyeon kami membeli buku atau jalan-jalan?” tanya Jessica menggodanya.

“kenapa sunbae tidak mengatakannya saja dengan jelas? aku yakin Taeyeon kami akan langsung menyetujuinya” Yoona ikut-ikutan.

*apa sebenarnya yang ingin kalian katakan?* Taeyeon melotot ke arah dua orang yang tengah mempermalukannya. Tapi baik Jessica maupun Yoona, keduanya seolah tidak peduli. keduanya merasa, mereka wajib membantu Taeyeon dan Jonghyun.

“aku memang ingin mengajakmu jalan-jalan. Bagaimana menurutmu?” Jonghyun menatap Taeyeon. dalam kalimatnya terselip harapan Taeyeon akan menyetujuinya.

Wajah Taeyeon bersemu merah. Ia tersipu malu kemudian mengangguk membuat Jonghyun tersenyum cerah. “kurasa itu ide yang bagus sunbae”

“benarkah?” Jonghyun tak percaya Taeyeon akan menerima ajakannya. “hari minggu ini aku sedang tidak sibuk. Bagaimana kalau kita membeli buku terus nonton?”

“setuju”

“aku akan menjemputmu jam 8”

Taeyeon lagi-lagi mengangguk. Jonghyun pun akhirnya pamit karena masih banyak urusan penting yang harus ia kerjakan.

“hei bagaimana perasaanmu?” tanya Jessica tiba-tiba. Kening Taeyeon berkerut tak mengerti hingga membuat gadis itu memutar bola matanya. “bukankah kau sudah lama menyukai Jonghyun sunbae? Jadi setelah ia mengajakmu, apa yang kau rasakan sekarang? bukankah kau harusnya senang atau berteriak kegirangan?”

Taeyeon menaikkan sebelah alisnya dan melipat kedua tangannya. “apa aku terlihat seperti fangirl-nya?”

“bukankah kau salah satunya?”

Taeyeon tidak menjawab, sebaliknya ia memberi tatapan menusuk ke arah gadis blonde itu.

“hehehe aku hanya bercanda” Jessica memberinya senyum polos andalannya. “tapi aku ingin tahu, seharusnya kau senang pria yang kau sukai akhirnya mengajakmu tapi kenapa kau kelihatannya tidak bahagia?”

“aku..bahagia.” gumam Taeyeon. dia memang bahagia. Setelah dua tahun menyukai Jonghyun, pria itu akhirnya mengajaknya keluar. Bagaimana mungkin dia tidak bahagia? Tapi, entah mengapa kebahagiaan yang ia rasakan dulu tidak sama dengan sekarang?

 

***

Cafetaria kampus terlihat lenggang dengan hanya beberapa mahasiswa yang duduk disana. beberapa diantaranya berbincang dengan teman-temannya dan sebagiannya lagi hanya untuk mengerjakan tugas atau membaca sambil menikmati waktu istrahat. Taeyeon dan Jonghyun adalah salah satunya. Mereka berdua nampak tengah asyik berbincang-bincang ketika Jessica dan Yoona menghampirinya.

“ada apa denganmu hari ini? apa kau kehilangan kalimat-kalimat sinismu?” tanya Taeyeon begitu menyadari perubahan wajah Yoona yang tampak tidak bersemangat.

Yoona hanya menatapnya kosong kemudian duduk di depannya. pertanyaan tadi hanyalah alasan untuk menggodanya tapi dia sedang tidak mood untuk menggubrisnya.

Taeyeon melirik Jessica meminta jawaban.

“dia patah hati” jawab Jessica singkat tanpa di tanya.

“patah hati?!” kedua mata Taeyeon membulat lebar. Yoona langsung melirik tajam ke arahnya. “sorry, aku tidak tahu kalau kau sedang jatuh cinta pada seseorang”

Yoona menghela nafas panjang. Dia merebahkan kepalanya dengan malas di atas meja kemudian bercerita. “aku baru mengenalnya hari ini dan aku menyukainya pada pandangan pertama. Tapi, belum sempat aku melancarkan seranganku, dia sudah menolakku mentah-mentah dengan mengatakan tidak berminat padaku” jelasnya lirih.

Taeyeon melongo kaget. *waw* itulah kata pertama yang terlintas di otaknya. Seorang Yoona yang tidak begitu peduli pada pria, kini malah berani mendekati seorang pria yang baru di kenalnya?

“dan yang membuat hatiku semakin hancur berkeping-keping..” untuk kalimat ini, Taeyeon dan Jessica saling berpandangan. *lagi-lagi mendramatisir* “pria itu ternyata telah memiliki calon istri”

Taeyeon merasa kasihan padanya. dia tidak menyangka sahabatnya itu akan sesedih ini ketika menyangkut tentang pria. Dia tiba-tiba menjadi penasaran siapa pria yang diceritakannya.

“nasibmu buruk sekali” Jessica bergumam.

“ini bukan saat yang tepat mengatakan hal itu padaku!”  Yoona dengan kesal menatapnya.

“Jessie, kau benar-benar tidak membantu” Taeyeon menggeleng-gelengkan kepalanya pada Jessica yang langsung pura-pura menyeruput minumannya. Jonghyun yang berada disampingnya hanya diam mendengarkan seluruh pembicaraan mereka.

“memangnya siapa pria yang berani menolakmu itu?”

Yoona menegakkan tubuhnya kembali. “dia mahasiswa baru dari cina”

*jadi Yoona tertarik pada pria cina? Waah, aku tak pernah menyangkanya* Taeyeon membatin. Tapi mendengar kalimat selanjutnya membuatnya tubuhnya seketika membeku.

“namanya Luhan. dia bahkan masuk ke kampus kita karena ingin mencari calon istrinya. Menyebalkan!”

*L-Luhan?* Taeyeon terkejut. tenggorokannya tiba-tiba mengering hingga dia harus susah payah menelan salivanya untuk membasahinya, wajahnya berubah pucat mendengar nama itu. *ti-tidak mungkin.* mendadak pikirannya menjadi kosong. Perasaannya berkecamuk. Bahagia, cemas dan panik bercampur jadi satu.

Tiba-tiba raut wajah Yoona berubah serius. “eh, apa kalian mengetahui seseorang yang bernama Mine di kampus ini? mahasiswa baru atau senior kita?”

Tidak satupun dari mereka yang menyadari perubahan Taeyeon. gadis itu terus terdiam sementara jantungnya berdebar kencang karena nama Mine adalah panggilan khusus untuknya dari Luhan. jika Yoona mengetahui nama itu, berarti Luhan benar-benar ada di kampus ini. tapi kenapa? bagaimana bisa?

“Mine?” Jonghyun mengerutkan keningnya. dia tampak berpikir sejenak.

“kau mengenalnya?” tanya Yoona antusias.

Kerutan di kening Jonghyun semakin dalam. “mm..kurasa..tidak ada satu gadis pun yang bernama Mine di kampus ini”

Bahu Yoona menurun. “aku juga berpikir begitu, tapi Luhan bilang calon istrinya itu sangat cantik dan dia sangat mencintainya”

“aww so sweet~aku jadi iri pada gadis itu” komentar Jessica.

Yoona semakin cemberut. Kalimat Jessica semakin membuatnya kesal. Taeyeon berusaha sebaik mungkin menyembunyikan rona merah di pipinya. dalam hatinya merasa bangga karena Luhan tidak menyembunyikan statusnya yang sudah memiliki calon istri.

*tunggu. kenapa aku berpikir seperti ini? bukankah aku seharusnya melupakannya?* Taeyeon cepat-cepat menggelengkan kepalanya. dia tidak sadar kalau Jonghyun sedang memperhatikannya dan pria itu nampak heran melihat tingkahnya.

“aku tidak punya kesempatan lagi”

Taeyeon diam-diam setuju dengannya. dia tiba-tiba tidak suka dengan fakta Yoona menyukai Luhan.

“jangan seperti itu. Pasangan yang menikah saja bisa bercerai apalagi hanya sebatas tunangan” Jessica memberi Yoona semangat. Dalam hati, Taeyeon ingin sekali berteriak pada sahabatnya itu agar tidak memberi harapan pada Yoona. Tapi kemudian, dia kembali sadar. Seharusnya dia tidak boleh berpikiran seperti itu. “bagaimana Taeyeon, kau setuju kan?”

“huh?” Taeyeon tersentak kaget. “oh, aku setuju” jawabnya gugup.

Jessica dan Jonghyun memberinya pandangan heran mendengar jawabannya.

“ada apa denganmu? Wajahmu terlihat pucat. Apa kau sakit?” tanya Jessica.

Taeyeon sontak menggeleng cepat. “aku tidak apa-apa. aku baik-baik saja”

Jawabannya membuat ketiganya semakin heran.

“kau yakin baik-baik saja? aku bisa mengantarmu ke klinik” Jonghyun menawarkan tapi Taeyeon kembali menggeleng.

“aku baik-baik saja sunbae. Tidak perlu khawatir”

“itu Luhan!” Yoona tiba-tiba berseru membuat perhatian mereka teralih. “Luhan!”

Taeyeon mengejapkan matanya. jantungnya berdegup kencang, dia bahkan terlalu takut hanya untuk sekedar menolehkan kepalanya.

*apa yang harus kulakukan? Apa yang harus kulakukan? Apa yang harus kulakukan?* Taeyeon tidak bisa berpikir. Bunyi Langkah kaki yang semakin mendekati arah mejanya membuatnya semakin panik dan bertambah pucat. Bagaimana kalau Luhan tiba-tiba mengatakan pada kedua sahabatnya termasuk Jonghyun kalau dia adalah calon istrinya? Setelah mendengar perasaan Yoona, tidak mungkin dia membiarkan Luhan mengatakannya. Di dekatnya, jessica sempat berkomentar tentang Luhan yang sangat tampan dan cute, juga mendengar Yoona memperkenalkan mereka. tidak salah lagi, suara itu memang milik Luhan.

Taeyeon masih diam di kursinya. Dia sengaja menundukkan kepalanya atau lebih tepatnya menyembunyikan wajahnya dengan buku di depannya karena tidak ingin Luhan mengenalinya.

“Taeyeon kau tidak ingin memperkenalkan dirimu?”

*Taeyeon?* mendengar nama Taeyeon, Luhan segera mengalihkan pandangannya pada gadis yang sibuk membaca buku di depannya. Akhirnya setelah mencarinya seharian, dia menemukan gadisnya. Tak terbayang betapa bahagianya dirinya sekarang karena bisa melihat gadis itu lagi. dua minggu tanpa melihatnya membuatnya sangat merindukannya. Jika bukan karena tempat umum, dia mungkin akan langsung menciumnya, memeluknya erat-erat agar tidak pergi lagi darinya.

Taeyeon beranjak dari kursinya tanpa lepas dari tatapan Luhan. “h-hai aku T-Taeyeon” ucapnya memperkenalkan diri. Mendadak dia menjadi sesak nafas. sudah lama sekali rasanya tidak melihat senyuman Luhan. *dia sama sekali tidak berubah* batinnya. Kerinduan terhadap Luhan seakan membuncah dalam dadanya. Dia begitu ingin memeluk pria itu dan mengatakan kalau ia sangat merindukannya, tapi dia teringat, itu tak mungkin terjadi.

Taeyeon tidak sanggup lagi menahannya. dia langsung memalingkan wajahnya, berusaha menahan air matanya yang sedikit lagi tumpah di pelupuk matanya.

“Taeyeon kau kenapa? jangan bilang kau juga tertarik pada Luhan” kening Jessica langsung berkerut menyadari sikap aneh Taeyeon. Yoona yang juga merasa tidak beres dengan Taeyeon pun ikut heran. dia menatap Luhan dan Taeyeon bergantian. cara Luhan menatap Taeyeon sangat berbeda dengan cara Luhan menatapnya. satu hal lagi, Luhan tak pernah tersenyum saat pertama kali bertemu dengannya tapi pada Taeyeon, senyumnya begitu tulus dan terlihat sangat bahagia.

“Mi-“

“aku pulang duluan. Kepalaku tiba-tiba pusing” Taeyeon langsung memotong ucapan Luhan. dia tak bisa membiarkan Luhan menyebutnya Mine di depan mereka. tidak setelah pembicaraan mereka tentangnya. tatapan Luhan yang memelas padanya membuatnya semakin sulit. *berhentilah memberiku tatapan itu Luhan.* dia berharap Luhan mendengar pikirannya tapi ekspresi Luhan masih tetap sama.

“biar aku yang mengantarmu pulang” tawar Jonghyun. Taeyeon hanya mengangguk lemah.

Tanpa banyak berbicara lagi, Taeyeon pamit pada kedua sahabatnya lalu meninggalkan tempat itu bersama Jonghyun.

Sejak kepergian mereka, Luhan tak pernah sekalipun mengalihkan pandangannya dari Taeyeon. dia terluka, tentu saja. tapi yang membuatnya sangat marah adalah pria yang bersama Taeyeon. dia mengepal kedua tangannya dengan geram, tatapan matanya tajam menusuk seperti hendak membunuh siapa saja yang berani mendekatinya. Melihat calon istrinya bersama pria lain membuat emosinya hampir meledak apalagi setelah mendengar apa yang dipikirkan pria itu terhadap Taeyeon.

“Luhan..kau baik-baik saja?” Yoona tersentak melihatnya. entah mengapa, melihat Luhan yang seperti itu membuatnya takut. Luhan masih diam tanpa sedikitpun menoleh padanya.

Yoona dan Jessica saling berpandangan. Mereka tidak mengira pria setampan dan se-baby face Luhan bisa sangat menyeramkan. Dari caranya menatap saja sudah membuat orang ketakutan.

“L-Luhan” Yoona kembali memanggilnya. Dalam hatinya merasa was-was.

Luhan memejamkan matanya mencoba mengendalikan dirinya. beberapa saat kemudian, kedua kepalan tangannya melemas. “aku baik-baik saja” ucapnya lalu meninggalkan mereka berdua.

Baik Yoona atau Jessica, keduanya tak satupun yang berani memanggil Luhan lagi. mereka merasa takut jika nanti Luhan memberi tatapan menakutkan itu pada mereka.

– – –

Taeyeon menghempaskan tubuhnya ke atas ranjangnya. Dia lelah, sangat lelah. Kemunculan Luhan di kampusnya mengacaukan pikirannya. tidak ingin terlalu lama berkutat dengan pikirannya, dia pun memejamkan matanya. tidak berapa lama kemudian, suara dengkuran halusnya terdengar.

~~~~~~~~~~~~~~

“apa yang kau lakukan diluar sini hm?”

Taeyeon tersentak dari lamunannya mendengar suara seseorang di belakangnya. dia terlalu enggan untuk berbalik karena tahu siapa pemilik suara itu. Langkah kaki di belakangnya perlahan mendekatinya, hanya sedetik kemudian sepasang lengan kini melingkar di pinggang kecilnya. “kau bisa kedinginan” suara Luhan yang lembut berbisik di telinganya.

Dia hanya tersenyum tipis dan meletakkan tangannya di atas lengan itu. *kurasa tidak lagi sekarang.*

Luhan tertawa tanpa suara. dadanya yang bergetar terasa di punggungnya.

“sepertinya kemampuanku membaca pikiran membuat komunikasi kita menjadi lebih praktis.” Ucapnya.

“tapi kau selalu berbuat curang dengan membaca pikiranku tanpa seizinku” Taeyeon menanggapinya dengan wajah masam. Sekali lagi Luhan tertawa. Kali ini suaranya terdengar halus.

Pria itu kemudian mengeratkan pelukannya, menyandarkan dagunya di atas bahu Taeyeon. “aku tidak akan membaca pikiranmu lagi sampai kau mengizinkannya”

Taeyeon memutar tubuhnya hingga mereka saling berhadapan. “bisakah seperti itu?” tanyanya tak percaya.

Luhan tersenyum lalu mengangguk singkat. dia menutup jendela yang menghubungkan kamar dengan balkon lalu menggendong Taeyeon ke ranjangnya. Setelah itu, dia pun membaringkan tubuhnya di sampingnya kemudian menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Taeyeon pun sepertinya tak keberatan dengan itu. dia menyandarkan kepalanya di dada Luhan lalu memejamkan matanya.

“Luhan” Taeyeon memecah kesunyian. “apa yang kupikirkan sekarang?” tanyanya setelah Luhan menjawabnya dengan ‘hm’.

Luhan hanya tersenyum lalu membelai rambutnya dengan penuh kasih sayang dan berhenti sejenak untuk memberinya kecupan singkat di keningnya.

“bukankah aku sudah mengatakan padamu kalau, aku tidak akan membaca pikiranmu sampai kau mengizinkannya?”

Taeyeon mengangguk pelan namun raut wajahnya masih terlihat penasaran. Luhan menyadari hal itu, dia tidak memungkiri kalau dalam hatinya ingin tahu apa yang dipikirkan gadis itu tapi karena telah berjanji padanya, dia harus menepatinya.

“apa kau juga sering membaca pikiran ny Hwang?” Taeyeon bertanya lagi.

Luhan sedikit tersentak. dia tak menyangka Taeyeon akan bertanya tentang ny Hwang padanya. diapun mengangguk menjawabnya.

“kenapa kau membiarkan dia memukulimu waktu itu? kenapa kau tidak lari saja?” kali ini, Taeyeon terdengar memaksa.

Luhan menaikkan bahunya. “dia yang menemukanku, tentu aku harus patuh padanya. lagipula, aku hanya menunggu waktu yang tepat untuk meninggalkan tempat ini, dan sampai hari itu tiba, aku masih menurutinya.”

Tatapan Taeyeon berubah sedih. dia juga ingin pergi dari tempat itu tapi tak tahu bagaimana caranya. “kau juga ingin pergi dari tempat ini..aku merindukan ayahku” ujarnya setengah bergetar. matanya berkaca-kaca dan tidak sampai sedetik, air matanya mengalir di kedua pipinya.

“ssh..” Luhan mengusap air matanya-berusaha menenangkannya, “aku akan membawamu pergi dari sini”

Taeyeon mengejapkan matanya-kaget. “benarkah?!” serunya tiba-tiba bersemangat. Dia yang tadinya hampir putus asa, akhirnya kembali berharap.

Luhan mengangguk dan tersenyum senang. Dia bahagia bisa melihat senyum gadis itu lagi.

“tapi kenapa kau baru mengatakannya sekarang?” Taeyeon tiba-tiba mengerutkan keningnya.

Luhan terdiam. dia menatap gadis itu lekat-lekat. *karena aku takut kau akan meninggalkanku sebelum aku berhasil mendapatkan hatimu* jawabnya dalam hati. mungkin terdengar egois tapi dia tak bisa membiarkan gadis itu pergi begitu saja. tidak setelah ia membuka hatinya.

Taeyeon semakin heran karena Luhan tidak menjawab pertanyaannya dan hanya menatapnya. dia ingin tahu apa yang di pikirkan Luhan sekarang hingga membuat tatapannya terlihat sedih.

“kau ingin keluar dari tempat ini bukan?” Luhan tiba-tiba bertanya padanya. Taeyeon mengangguk cepat. “tapi aku ingin kau berjanji satu hal padaku”

“janji apa?”

“tidak peduli apapun yang terjadi, selamanya kau adalah milikku dan jangan pernah melarikan diri dariku. Kau mengerti?”

Taeyeon terkejut mendengarnya. bagaimana mungkin dia menjanjikan hal itu sementara dia sendiri belum tahu bagaimana perasaannya terhadap Luhan? tapi, demi bertemu kembali dengan ayahnya, dia harus bersedia memenuhinya.

“aku berjanji”

Kini giliran Luhan yang terkejut. “k-kau berjanji?” tanyanya tak percaya. Taeyeon hanya mengangguk singkat. “katakan lagi” pintanya.

Taeyeon menarik nafas dalam-dalam. *semoga aku tidak menyesal mengucapkan kalimat ini* “aku berjanji”

Dan sebelum Taeyeon benar-benar tertidur, Luhan menciumnya lagi. ciuman yang lembut dan panjang. Ini adalah malam terakhir gadis itu berada bersamanya juga malam terakhirnya berada di puri ini.

~~~~~~~~~~~~

Taeyeon terbangun dari tidurnya. dia ingat sekarang. malam terakhir bersama Luhan sebelum ia terbangun di tempat tidur rumah sakit. Dan kini dia mengerti, kenapa Luhan masih memperlihatkan ekspresi yang sama saat ia memintanya tadi. kemungkinan karena ia berusaha menepati janjinya malam itu.

Tapi yang membuatnya heran, Luhan yang merupakan siluman rubah bisa bergaul dengan manusia dan ikut kuliah di kampus yang sama dengannya. bagaimana itu bisa terjadi?

Guk! Guk!

Taeyeon mengerutkan keningnya. dia tidak salah mendengar suara gonggongan itu. suara itu seperti berasal dari dalam rumahnya.

Guk! Guk! Guk!

Penasaran, Taeyeon keluar dari kamarnya untuk mengikuti arah suara itu.  pada pijakan anak tangga yang terakhir, langkahnya berhenti. tubuhnya yang normal-normal saja kini bergetar. apa yang dilihatnya membuat matanya membelalak lebar.

“oh kau sudah bangun baby” ayahnya menyapanya. “bagaimana menurutmu? Apa kau menyukainya?”

*tidak mungkin* Taeyeon tercekat. Dia hampir tak bisa mengeluarkan suaranya. disana, Luhan dalam bentuk rubah kini berada di ruang tengah berdiri bersama ayahnya. Ayahnya tersenyum ceria seperti biasanya dan Luhan, Taeyeon yakin Luhan pasti sedang tersenyum penuh kemenangan ke arahnya.

“appa, kenapa membawa binatang ini ke rumah kita?” tanyanya dengan suara setenang mungkin. dalam hati dia berharap ayahnya tidak memiliki ide yang sudah di duganya.

“oh itu, aku menemukannya di depan rumah kita. Keadaannya sangat menyedihkan.” Taeyeon memutar bola matanya. *tentu saja. dia punya bakat alami dengan itu* “dia tidak punya tempat tinggal dan juga sangat kelaparan jadi appa membawanya masuk”

“appa tahu darimana kalau dia tidak punya tempat tinggal? Siapa tahu saja sekarang pemiliknya sedang mencarinya” Taeyeon tidak mau kalah. Dia tidak peduli kalau Luhan memandang tajam padanya karena ucapannya.

Mengetahui ayah Taeyeon mulai goyah, Luhan sengaja mendengking dan membuat tampangnya semakin menyedihkan. Siapapun yang melihatnya sekarang pasti tidak akan tega padanya, termasuk ayah Taeyeon.

“lihatlah dia baby..bukankah dia sangat manis? ayah jadi tidak tega mengusirnya” bujuk ayahnya. Taeyeon ingin membuka mulutnya untuk membantah tapi ayahnya segera memotongnya. “wae? Kau tidak menyukainya? bukankah kau bilang ingin memiliki anjing sebagai binatang peliharaanmu?”

“itu bukan anjing appa! Itu rubah!” teriak Taeyeon spontan. Dia hampir tak bisa mengendalikan kekesalannya. Entah apa yang membuatnya kesal. Luhan yang akan tinggal bersamanya ataukah perasaannya sendiri yang selalu membuatnya bingung?

“rubah?” ayahnya menoleh, tatapan polos Luhan membuat hatinya melunak.

Guk! Guk!

Taeyeon melongo. Dia tak salah dengar. Luhan memang menggonggong.

“baby, bagaimana suara anjing?” tatap ayahnya.

Taeyeon gugup tapi tidak berapa lama, dia akhirnya meniru gonggongan anjing. “guk..”

Sekarang tidak ada lagi alasan untuk mengusir Luhan dari rumahnya.

“kurasa dia akan cocok tinggal disini menemanimu. Mengenai namanya, kau saja yang memberi nama. Ayah harus keluar kota hari ini dan akan kembali 3 hari lagi jadi kuminta kau tidak mengusir anjing ini dari rumah kita.”

Taeyeon tidak sempat memprotes karena ayahnya kembali berbicara. “oh ya, mengingat anjing ini bersamamu, aku jadi sedikit lega.”

“jadi ayah ingin meninggalkanku bersama binatang ini? binatang asing yang baru kutemui hari ini?!”

Luhan menggeram kecil, tidak setuju dengan ucapannya. Taeyeon hanya mencibir dan kembali menatap ayahnya dengan tampang memelas. “appa, bisakah kita menitipkannya di tempat penitipan hewan saja? siapa tahu saja pemiliknya akan menemukannya disana”

Taeyeon tahu tidak akan ada yang mencari Luhan, tapi dia tidak punya pilihan selain mengatakan itu.

“itu bukan ide yang bagus. Lagipula aku yakin binatang ini tidak akan menyebabkan masalah padamu” tegas ayahnya.

Bahu Taeyeon menurun, kepalanya menunduk pasrah. Jika ayahnya sudah memutuskan, sulit untuk mengubahnya kembali.

“aku harus pergi sekarang” ujar ayahnya setelah melirik jam tangannya. dia membungkuk di depan Luhan dan tersenyum menepuk-nepuk kepalanya. “tolong jaga putriku.”

Seolah mengerti dengan ucapannya, Luhan mendengking. Taeyeon tidak tahan melihat adegan di depannya. dia segera naik ke kamarnya dan tak lama kemudian, suara pintu yang terbanting keras terdengar dari atas. ayahnya menggeleng-gelengkan kepalanya, tak memahami jalan pikiran putrinya yang kelihatan membenci binatang itu.

– – –

Malam pun tiba. Taeyeonpun baru saja selesai mengerjakan tugasnya. Dia meregangkan lehernya dan memijat bahunya yang kaku akibat terlalu lama duduk. Jam di atas mejanya telah menunjukkan pukul 19.00 yang berarti dia harus menyiapkan makan malam untuk dirinya. setelah menutup semua buku-bukunya, dia beranjak dari kursinya dan berjalan menuju pintu kamarnya. ketika pertama kali membuka pintu kamarnya, dia tersentak kaget mendapati Luhan berbaring melingkar di lantai. binatang itu sontak mengangkat kepalanya kemudian menegakkan tubuhnya memandanginya.

*aku hampir lupa kalau dia sekarang tinggal disini* Taeyeon memberinya tatapan tak suka lalu melipat tangannya. “apa yang kau lakukan disini?” tanyanya setengah kesal.

Tentu saja Luhan tidak mungkin menjawabnya dengan bahasa yang sama dengannya. Luhan hanya menyodok-nyodokkan hidungnya di kakinya.

“hentikan itu! maaf aku tidak bisa bahasa binatang” acuh tak acuh Taeyeon melenggang kembali ke dalam kamarnya. sebelum ia menutup pintunya, Luhan secepat kilat menerobos masuk.

“hei!” Taeyeon berseru keras tapi Luhan seolah tak peduli.

*keras kepala seperti biasanya* sambil mengerucutkan bibirnya, Taeyeon menutup kembali pintu kamarnya.

“kyaaa! Apa yang kau lakukan?!” Taeyeon memekik kencang sambil membalikkan badannya berhadapan kembali dengan pintu. kedua tangannya menutupi mata dan sebagian wajahnya.

“kenapa? bukankah kau sering melihatku seperti ini?”

Taeyeon berusaha menutupi wajahnya yang merah padam. Tidak mungkin ia mau menjawab pertanyan Luhan yang jelas-jelas sengaja menggodanya.

“jangan seenaknya muncul dalam keadaan..keadaan seperti itu!” dia tidak ingin menyebut kata yang akan membuatnya semakin malu, “cepat pakai bajumu!” perintahnya.

“tapi aku tidak membawa pakaian”

Taeyeon bisa membayangkan bagaimana kondisi polos wajah Luhan sekarang. menyebalkan sekali, muncul di hadapannya dalam keadaan telanjang bulat dan bersikap santai seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

“setidaknya kau menutupinya dengan apapun yang ada di dekatmu!”  seru Taeyeon semakin kesal. beberapa menit menunggu, tidak ada jawaban dari Luhan. dengan was-was, Taeyeon perlahan-lahan membalikkan tubuhnya. diam-diam dia menghela nafas lega. Luhan telah kembali ke wujud rubahnya.

“tunggu disini. Aku akan mencarikan sesuatu untukmu” ucapnya lalu segera keluar dari kamarnya. tidak butuh waktu lama, dia pun kembali dengan pakaian di tangannya.

“ini milik ayahku. Pakailah”

Tanpa banyak bicara Luhan menggigit pakaian itu dan masuk ke dalam kamar mandi. dia tidak ingin membuat Taeyeon kesal padanya karena mengganti baju di depannya. meskipun sebenarnya dia sendiri tidak keberatan dengan hal itu.

Sementara Luhan sibuk mengganti bajunya, Taeyeon menyiapkan makan malam untuk mereka. tanpa sepengetahuannya, Luhan yang telah mengganti bajunya mengendap-endap ke arahnya. dalam hitungan detik, kedua lengannya kini melingkar di pinggangnya membuatnya sontak memekik keras.

“sst..ini hanya aku Mine”

Mendengar nama panggilan itu sempat membuat Taeyeon luluh, tapi kemudian dia teringat kekesalannya dan berusaha melepaskan lengannya.

“Luhan, aku sedang bekerja”

“aku tahu”

“aku tidak leluasa jika kau seperti ini”

“aku merindukanmu Mine”

*aku juga merindukanmu* Taeyeon memejamkan matanya, begitu sulit kalimat itu terucap dari mulutnya. suasana hening menyelimuti mereka berdua.

“katakan padaku Mine..apakah kau sudah melupakan janjimu padaku?”

Taeyeon terdiam. dia tahu persis maksud Luhan menanyakan hal itu padanya. Luhan semakin menekan dadanya ke punggungnya ketika mengeratkan pelukannya.

“tidak peduli apapun yang terjadi, selamanya kau adalah milikku dan jangan pernah melarikan diri dariku. Apa kau melupakan kalimat itu?” tanya Luhan berbisik di telinganya. Bibirnya perlahan turun ke bawah hingga menyentuh kulit lehernya. saat itu, nafas Taeyeon langsung memburu. Sentuhan Luhan seperti sebuah mantra yang mampu membuat tubuhnya kaku setiap kali pria itu menyentuhnya.

“a-aku ti-tidak melupakannya..” jawab Taeyeon gugup.

“lalu kenapa kau menghindari hm?”

Taeyeon menggigit bibir bawahnya. dia cukup malu karena merasa degup jantungnya terdengar oleh Luhan dan kini dia harus menutupi suara nafasnya yang terputus-putus ketika Luhan menelusuri setiap inci kulit lehernya dengan bibirnya.

“a-aku..aku tidak tahu” jawaban spontan yang keluar dari mulut Taeyeon membuat Luhan terkekeh.

Pria itu kemudian meletakkan kedua tangannya di bahu Taeyeon dan memutar tubuh gadis itu hingga menghadap ke arahnya. Taeyeon tidak berani membalas tatapannya hingga Luhan harus mengangkat dagunya agar mereka bisa saling menatap. Tatapan Luhan yang begitu lekat dan intens membuat Taeyeon tak bisa mengalihkan pandangannya. Mata coklat yang terlihat begitu mempesona dan memikatnya.

“kau tahu betapa bahagianya aku saat kau membalas pelukanku, betapa bahagianya aku saat kau membalas ciumanku dan betapa bahagianya aku saat aku mengira kau telah sedikit memberikan hatimu padaku”

Taeyeon menegang. Luhan pasti bisa merasakan bagaimana perasaannya yang sebenarnya. Dia memalingkan mukanya, melihat Luhan yang menatapnya dengan tatapan penuh harap membuatnya merasa bersalah.

“awalnya kupikir tidak akan sulit membuatmu jatuh cinta padaku, tapi kenyataannya..” Luhan menghela nafas pelan. “aku bisa bersabar dan menunggumu sampai kau bisa menerimaku dengan tulus Mine. Menjalin hubungan dengan makhluk sepertiku mungkin membuatmu sangat tertekan tapi, aku benar-benar tulus mencintaimu”

Taeyeon menatapnya. dia cukup terkejut mendengar peryataan cintanya. Gadis manapun pasti akan luluh mendengarnya, termasuk dirinya. Taeyeon hanya tidak ingin terlalu memberi harapan pada Luhan. dia khawatir dan takut jika perasaannya pada Luhan akan bersifat sementara, padahal pria itu begitu mencintainya. Dia tidak ingin mengecewakan Luhan.

“Luhan aku..”

Luhan menggeleng. Dia tidak ingin mendengar apapun yang keluar dari mulut gadis itu. dia belum siap jika gadis itu menolaknya lagi kali ini.

“aku akan melakukan apapun yang kau inginkan, tidak perduli seberapa susahnya itu, aku akan melakukannya. Tapi satu hal yang kuminta darimu, jangan pernah mengacuhkanku. Aku sudah cukup terluka melihatmu bersama pria lain” tegasnya pada akhir kalimatnya.

Ingatan Taeyeon kembali pada waktu Jonghyun yang mengantarnya pulang. Luhan cemburu pada Jonghyun, itulah intinya.

“dia hanya sunbae di kampus Luhan”

“bagiku tidak seperti itu. aku menepati janjiku untuk tidak membaca pikiranmu, tapi aku tidak berjanji untuk tidak membaca pikiran pria itu. aku tahu dia menyukaimu Mine”

Taeyeon menarik nafas dalam-dalam. “sebaiknya kita makan sekarang” ucapnya kemudian.

Luhan tidak berkata apa-apa lagi selain menurutinya.

Sementara Taeyeon sibuk menyiapkan makanan, Luhan dengan senang membantunya mengatur piring di meja. Dia terlihat sangat senang hingga membuat Taeyeon heran. kemana perginya pria yang berbicara dengan serius tadi dengannya? Luhan tampak seperti anak-anak yang baru saja mendapat mainan baru ketika ia menyiapkan makanan untuknya.

“aku sangat menyukai masakanmu Mine. Ini lezat sekali” komentar Luhan memujinya. Wajahnya berseri-seri sambil menaikkan kedua jempolnya.

Taeyeon tertawa geli melihatnya. “terima kasih” ucapnya.

“aku akan menjadi pria yang sangat beruntung karena memilikimu Mine. Selain cantik, kau juga sangat pintar memasak.”

Wajah Taeyeon merona merah. Luhan memujinya terlalu tinggi.

“kau tidak perlu sesenang itu”

Luhan menggeleng tidak setuju. “ini pertama kalinya kau memasak untukku. Aku sangat bahagia”

Benar juga, kalau di pikir-pikir, ini memang pertama kalinya mereka makan bersama dalam satu meja, juga pertama kalinya ia memasak untuknya. Taeyeon tersenyum memperhatikan Luhan yang tengah asyik menikmati makanannya. Kemudian, muncul pertanyaan yang mengganggunya.

“Luhan” Taeyeon memanggilnya. Luhan mengangkat kepalanya, menatapnya. “kenapa..kau bisa keluar dari hutan itu?” tanyanya hati-hati.

“seperti yang pernah kukatakan padamu. sudah saatnya aku meninggalkan puri itu dan membawamu ikut bersamaku” jawab Luhan santai. “maaf mine, aku harus menyelesaikan tugas penting sebelum datang menemuimu” tambahnya lagi.

“pantas saja selama dua minggu aku tidak melihatnya” gumam Taeyeon.

Luhan tersenyum jahil. “kau tahu Mine, meskipun aku tidak bisa mendengar pikiranmu, aku tetap bisa mendengar suara sekecil apapun dan aku tahu, selama dua minggu ini, kau juga merindukanku”

Taeyeon memutar bola matanya. “teruslah bermimpi”

“jadi kau tidak merindukanku?” senyum Luhan memudar.

Taeyeon beranjak dari kursinya tanpa menjawabnya. dia mengumpulkan piring bekas makannya dan juga piring Luhan lalu menyimpannya di wastafel untuk mencucinya. Dari awal hingga selesai, Luhan tak pernah bosan merengek di sampingnya. bertanya tentang apakah dia merindukannya atau tidak.

“jawab pertanyaanku Mine, apa kau benar-benar tidak merindukanku?”

Taeyeon menarik nafas panjang. Dia tidak mungkin menjawab pertanyaan itu. terlalu memalukan.

“Mine~” rengek Luhan.

“Luhan, aku lelah dan ingin tidur.” Taeyeon langsung membaringkan tubuhnya di atas ranjang lalu menarik selimut hingga menutupi sebagian tubuhnya. Luhan yang masih ingin tahu dengan jawabannya, ikut membaringkan tubuhnya di sebelahnya dan meringkuk mendekatinya. Taeyeon tidak punya pilihan lain selain membiarkannya. dia sudah punya cukup banyak pengalaman selama di puri. Luhan yang keras kepala tidak akan mau disuruh tidur di karpet.

Taeyeon memejamkan matanya, fokus untuk tidur ketika mendadak ia merasakan lengan Luhan melingkar di pinggangnya.

“cepat atau lambat, kau akan mengatakannya Mine. Aku bisa merasakan, kau juga merindukanku” ucap Luhan. Taeyeon tidak menjawab tapi wajahnya memanas mendengarnya.

 

***

Sudah beberapa hari ini Taeyeon sengaja menghindari Luhan. dia bahkan meminta Luhan untuk tidak memanggilnya Mine di kampus. Tapi sebagai pria yang keras kepala, Luhan tentu saja tidak setuju. baru setelah ia mengingatkan janji Luhan yakni akan melakukan apapun yang ia inginkan, Luhan terpaksa menurutinya. Tapi itu tidaklah cukup. Luhan akan selalu mengikutinya meskipun ia berulang kali mengusirnya.

“katakan pada kami Taeyeon. apa terjadi sesuatu antara kau dan Luhan?” suatu hari Jessica bertanya padanya.

Taeyeon gugup. “a-aku tidak mengerti apa yang kalian bicarakan” ujarnya menghindar.

Yoona menahannya. “kami tahu Taeyeon. kau menyembunyikan sesuatu pada kami”

“aku tidak menyembunyikan apapun dari kalian”

“lalu kenapa Luhan sepertinya telah sangat mengenalmu?!” Yoona tiba-tiba berteriak membuatnya terkejut.

“Y-Yoona”

Yoona mengepal tangannya kuat-kuat. “jika kau memang menyukai Luhan, kenapa kau tidak pernah bilang padaku?!”

“Y-Yoona bukan seperti it-“

“aku tidak buta Taeyeon” Yoona menatapnya tajam. “aku bisa merasakan Luhan sangat menyukaimu. aku bisa melihat bagaimana dia menatapmu dan bagaimana dia terluka ketika kau bersama Jonghyun sunbae. Apa kau ingin menyangkalnya?”

Taeyeon bungkam. Dia merasa bersalah pada Luhan dan juga Yoona.

“mungkinkah gadis yang dimaksud Luhan adalah..kau?”

Yoona terkejut beralih memandang Jessica yang tersenyum tipis usai mengemukakan pendapatnya. Taeyeon masih bungkam tapi kedua tangannya bergetar tanpa ia sadari.

“a-aku harus pulang sekarang” Taeyeon berbalik pergi.

“berhentilah melukai perasaan Luhan Taeyeon” Taeyeon menghentikan langkahnya. Yoona tersenyum tipis. “aku tahu, kau juga menyukainya tapi aku tak habis pikir kenapa kau selalu menghindarinya seolah-olah kau tidak menginginkannya.”

 

***

“kau tidak boleh pergi dengannya!”

“kau tidak berhak melarangku Luhan. aku bukan kekasihmu!”

“tapi kau adalah mate-ku. Mine.” Luhan tetap bersikukuh.

“sekalipun aku adalah mate-mu, kau tidak bisa memaksakan perasaanku padamu!”

Taeyeon terkejut begitupun Luhan. keduanya tidak menyangka akan mendengar kalimat itu. Taeyeon menggigit bibirnya, menyadari kesalahannya. tidak seharusnya ia mengucapkan kata-kata itu. dia ingin meralatnya, tapi semua sudah terlambat.

Wajah Luhan mengeras sementara kedua tangannya mengepal kuat. Ini pertama kalinya Taeyeon melihatnya semarah ini. tatapan Luhan yang tajam menusuk membuatnya takut dan cemas.

“kau memberiku harapan lalu kau kembali menolakku seolah aku tidak berharga bagimu”

Taeyeon hanya diam. dia bisa melihat kepedihan yang mendalam dari tatapan Luhan. itu memang benar.

“kau mempermainkanku Mine..aku kecewa padamu” Luhan semakin mengepal tangannya, menahan pedih dalam hatinya. Taeyeon menundukkan kepalanya, semakin merasa bersalah. “aku tidak akan marah padamu Mine, aku hanya marah pada diriku sendiri. kau sudah jelas-jelas tidak menaruh perhatian padaku dan mengabaikanku tapi aku malah selalu mendekatimu hingga membuatmu tidak nyaman. satu-satunya harapanku adalah tinggal bersamamu, itulah sebabnya aku sengaja berdiri berjam-jam di depan rumahmu sambil berharap kau akan datang padaku. aku berharap kau akan menyambutku dengan senyuman tapi kau malah ingin mengusirku. Meski begitu, aku tidak pernah marah padamu”

Taeyeon terpekur. Kata-kata Luhan begitu meresap ke dalam hatinya. Luhan kini menatapnya dengan wajah serius dan untuk suatu alasan, Taeyeon tidak ingin menatap matanya.

“hari ini aku sadar, sepertinya aku memang tidak memiliki kesempatan lagi. aku tidak pantas untukmu. Mungkin pria itu lebih pantas”

Taeyeon tersentak menatapnya. jantungnya berdebar-debar seperti akan meledak kapan saja, menanti dengan cemas kalimat apa yang selanjutnya akan diucapkan oleh Luhan. dia berharap apa yang terpikirkan olehnya tidak terjadi.  Tapi rupanya, keberuntungan tidak berpihak padanya. Luhan mengucapkan kalimat yang selama ini di takutinya sejak ia akhirnya jatuh cinta pada nya.

“maafkan aku Mine jika selama ini sudah membuatmu tertekan. Setelah kau kembali nanti, aku tidak akan ada lagi disini. Aku tidak akan mengganggumu lagi”

Tubuh Taeyeon seketika menjadi kaku. ribuah pisau terasa menghujam jantungnya. Luhan akhirnya mengucapkan kalimat itu. *dia akan pergi. dia akan pergi. dia akan pergi* kalimat itu berulang-ulang di dalam kepalanya. Sementara itu, Luhan mencoba tetap tenang meskipun dalam hatinya kalut. Dia tidak pernah ingin meninggalkan gadis itu. bagaimana dia bisa menjalani hidupnya jika gadis itu tak bersamanya? Taeyeon adalah hidupnya, nafasnya dan detak jantungnya. dia terlalu mencintai gadis itu tapi dia juga tidak ingin membuat gadis itu menderita karenanya.

Sebelum air matanya mengalir ke pipinya, Taeyeon segera berbalik. dia tak pernah tahu akan tiba masanya Luhan akhirnya meninggalkannya. Dia ingin berlari memeluk pria itu dan membujuknya untuk tidak meninggalkannya, tapi dia tahu itu tidak mungkin. dia sudah cukup melukainya. Taeyeon menghela nafas dalam-dalam berusaha menenangkan dirinya. setelah tenang, dia kemudian berucap. Kau tidak seharusnya datang kemari Luhan..tidak seharusnya kau berada disini” usai mengucapkan kalimat itu, diapun berjalan meninggalkan kamarnya. meninggalkan Luhan yang semakin terluka karenanya.

– – –

Taeyeon tidak bisa menikmati waktunya bersama Jonghyun. Meskipun Jonghyun telah berusaha membuat tertawa, dia tetap tidak bisa melepaskan ingatannya tentang Luhan. bagaimana jika pria itu benar-benar tidak ada di kamarnya saat ia pulang? Pertanyaan itu selalu mengganggunya dan membuatnya tidak fokus.

“Taeyeon”

Taeyeon mengangkat kepalanya. Jonghyun mengerutkan keningnya melihat tatapan kosongnya.

“apa ada masalah? Kau sepertinya tidak fokus”

Taeyeon sontak beranjak dari kursinya. “maafkan aku sunbae” ucapnya lalu segera menyambar tasnya dan berlari meninggalkan Jonghyun yang heran.

*kau tidak boleh meninggalkanku Luhan. tidak boleh!* Taeyeon membatin. Dia berlari sekencang mungkin dengan kedua tangan membawa high heelsnya. Dia tidak peduli tatapan orang-orang padanya.

Brak!

Taeyeon menerobos pintu kamarnya dan berhenti tepat didepannya. Luhan yang duduk di pinggir tempat tidurnya sontak berdiri, menatapnya dengan mata yang membulat lebar.

“M-Mine..”

Mata Taeyeon berkaca-kaca. Seketika seluruh perasaannya membuncah dalam dadanya bersamaan dengan tangisnya. Dengan segenap kekuatannya, Taeyeon berlari menubruk Luhan hingga mereka terjatuh ke belakang dan mendarat di atas ranjang.

“kau sudah berjanji padaku tidak akan pernah meninggalkanku tapi kenapa kau tidak menepati janjimu?” Taeyeon memukul-mukul dada Luhan di bawahnya sementara air matanya terus menitik dari pelupuk matanya. “kau bilang kau mencintaiku tapi kau malah ingin meninggalkanku” ujarnya terisak.

Luhan melunak. dia membelai rambut Taeyeon dengan sayang. “aku tidak akan pernah meninggalkanmu Mine. Tidak akan pernah” ucapnya lembut.

Taeyeon mendongakkan kepalanya dan membiarkan Luhan mengusap air matanya. “lalu kenapa kau membiarkanku pergi begitu saja? apa kau tidak bisa merasakan perasaanku padamu?”

Luhan sekali lagi tersenyum. “aku tahu.”

Taeyeon tersentak kaget. dia membuka mulutnya untuk bertanya lagi tapi Luhan kembali berbicara. “aku hanya tidak yakin apa yang kulakukan nanti tidak akan membuatmu marah padaku. aku takut kau membenciku Mine, saking takutnya, tidak ada yang bisa kulakukan selain membiarkanmu pergi”

“tapi kau terluka!”

“selama itu membuatmu bahagia, aku tidak keberatan.” Luhan kemudian membalik posisi mereka. dengan lembut, tangannya mengelus pipi halus Taeyeon. “aku sangat mencintaimu Mine. Aku tidak ingin meninggalkanmu karena kau adalah gadis yang kuinginkan berada disisiku.”

Dengan berakhirnya kalimat itu, bibir Luhan telah berada di atas bibir Taeyeon. Taeyeon memejamkan matanya dan membalasnya. Ciuman Luhan selalu berhasil menciptakan ribuan kupu-kupu berterbangan dalam perutnya. selalu lembut dan menimbulkan rasa candu hingga menggodanya untuk mencicipinya lagi dan lagi.

Taeyeon merasa tubuhnya melayang, jiwanya terlepas dari tubuhnya dan pikirannya kosong ketika ciuman itu perlahan menjadi intens. Dia melingkarkan kedua lengannya di leher Luhan bersamaan dengan Luhan yang memeluk pinggangnya dengan erat. Mereka tersenyum di sela-sela ciuman mereka dan setelah beberapa saat membutuhkan udara, Luhan melepasnya dan memberinya kecupan-kecupan singkat.

“aku mencintaimu Luhan.”

Luhan mengejapkan matanya dan kembali menciumnya. Dia sangat bahagia mendengar akhirnya Taeyeon menyatakan cintanya padanya.

“L-Luhan matamu berubah lagi”

Luhan tiba-tiba berubah gugup. “i-ini reaksi alami”

Taeyeon mengerutkan keningnya. “reaksi alami?” tanyanya heran. dia kemudian teringat ketika Luhan menciumnya, matanya juga berubah menjadi merah.

Luhan menatap Taeyeon lekat-lekat. Perasaan dalam dirinya berkecamuk dan Taeyeon bisa merasakan kalau dia tidak sedang baik-baik saja.

“ada satu hal tentangku yang harus ku ketahui Mine.” Ucap Luhan. Taeyeon semakin heran tapi dia tidak berniat untuk menginterupsinya. “i-ini tentang bagaimana menjadi mate siluman rubah sepenuhnya.”

Taeyeon mengejapkan matanya. dia tak pernah tahu kalau ada hal-hal khusus yang dilakukan untuk menjadi mate siluman rubah. Melihat ekspresi gugup Luhan membuatnya jadi ingin tahu.

“bukankah aku sudah menjadi mate-mu?” tanya Taeyeon bingung.

Luhan menggeleng. “tidak seperti itu!” bantahnya cepat.

“lalu?”

Luhan menatapnya lagi. kali ini dengan ekspresi serius yang entah bagaimana membuat Taeyeon menjadi gugup.

“kau..harus tidur denganku” Luhan sengaja mengecilkan suaranya, khawatir Taeyeon akan panik. tapi sepertinya caranya tidak berhasil.

“m-mwo?!” pekik Taeyeon. wajahnya merah padam. “ti-tidur denganmu? M-maksudnya aku..”

Luhan hanya mengangguk singkat. Taeyeon tidak tahu dimana harus menyembunyikan wajahnya yang seperti kepiting rebus.

“segera setelah siluman rubah sepertiku menemukan pasangannya, mereka harus menjadikannya sebagai miliknya sepenuhnya dengan cara tidur bersama” jelas Luhan.

“mana ada yang seperti itu!” Taeyeon memekik lagi.

*aku tak menyangka reaksinya seperti ini* Luhan menghela nafas pelan.

“Mine..tenanglah”

“bagaimana aku bisa ten-“

Luhan tidak punya pilihan lain selain menciumnya. Awalnya Taeyeon memberontak tapi setelahnya, dia akhirnya luluh juga.

“dengarkan aku Mine, siluman rubah memang seperti ini. kami mengklaim pasangan kami untuk menjadi milik kami selamanya dengan cara seperti itu” Luhan mulai menjelaskan. Taeyeon tidak tahu lagi harus bereaksi seperti apa selain membiarkan wajahnya yang kian memanas.

“proses penting ini adalah hal yang lumrah bagi siluman rubah. Bertemu dengan mate kami adalah sesuatu yang sangat membahagiakan. Kami akan selalu ingin bersamanya dan menyentuhnya karena itu sifat alamiah yang muncul dari dalam diri kami.”

*siluman rubah pervert!* Taeyeon mendengus kesal. “terdengar pervert bagiku.”

Luhan terkekeh pelan. “seperti yang kubilang, ini alamiah. Seperti yang kau lihat, mataku tiba-tiba berubah warna merah karena itu suatu bentuk dari cara kami mengekspresikan emosi kami.”

Taeyeon akhirnya mengerti mengapa mata Luhan tiba-tiba berubah warna.

“tapi berada di dekat mate kami membuat kami sulit mengendalikan diri. Keinginan itu muncul secara alami dan sangat menyakitkan jika tidak segera terpenuhi. Saat pertama kali menciummu, aku juga hampir tidak bisa menahan perasaan itu.” Luhan menambahkan.

Taeyeon melongo shock. *apa artinya aku harus kehilangan virginku segera?!* pekiknya dalam hati.

“kalian para siluman rubah sangat pervert!” Taeyeon langsung membalik tubuhnya membelakangi Luhan.

“apa kau marah padaku?”

“tidak!” bagaimana mungkin dia bisa menatap Luhan dalam kondisi wajah yang merah padam. Hal-hal yang berhubungan dengan proses mate ini sangat menyebalkan.

Ruangan itu mendadak berubah sepi. Taeyeon yang sibuk dengan pikirannya baru menyadarinya. Dia tidak mendengar suara Luhan tapi dia bisa merasakan Luhan masih ada di belakangnya.

*apa dia sudah tidur?* pikirnya.

“Mine~jangan membelakangiku” tiba-tiba terdengar suara Luhan yang merengek padanya. Taeyeon merasa terganggu karena Luhan menarik-narik bajunya untuk memintanya berbalik. “Mine~” suaranya memelas.

*aku berpacaran dengan siluman rubah atau bayi rubah?*

“tentu saja siluman rubah”

Taeyeon membulatkan matanya, sontak berbalik. “yaa bukankah kau sudah berjanji tidak membaca pikiran-“ ucapannya terhenti saat Luhan yang tiba-tiba memeluknya.

“akhirnya kau berbalik juga”

“yaa lepaskan aku Luhan!”

“tidak mau!”

“kau tidak menepati janjimu, kau sudah membaca pikiranku!” teriak Taeyeon berusaha melepaskan dirinya.

“diamlah atau aku akan menciummu” ancam Luhan dengan smirk di wajahnya. “dan kau pasti tahu, aku tidak berniat menghentikan ciuman kita kali ini.”

Taeyeon berubah gugup. tentu saja, setelah apa yang dijelaskan Luhan tadi, bagaimana mungkin ia tidak gugup.

“y-yaa L-Luhan j-jangan b-berani..”

“bagaimana kalau aku berani?” Luhan menantangnya. Tatapan Taeyeon berubah horor saat Luhan perlahan mendekatkan wajahnya. tubuhnya gugup dan dia mulai berkeringat.

“Mine..kau adalah milikku..selamanya”

 

The end

Setelah perjalanan panjang, akhirnya fanfic ini selesai juga. Untuk part ini, jujur aku ga begitu puas. Jika ada yang bertanya masih ada cerita yang gantung, aku emang sengaja. Ini kan khusus kisah Luhan-Taeyeon dan partnya juga hanya sampai 3 jadi wajarlah kurang memuaskan. Aku dah memikirkan tentang sequel tapi aku belum berani janji soalnya banyak ffku yang masih bertumpuk dan butuh perhatian. So, storynya end disini aja tanpa sequel.

Note : karakter Luhan disini hampir sama dengan karakter all exo member di full moon (hanya saja di FM lebih pervert) ~kekeke

Sorry untuk FMnya mungkin masih lama di post karena aku pernah bilang kalau FM tidak akan secepat The Legend’s and The Goddess. Tapi jangan khawatir, Full Moon sementara dalam proses editing.

Oh ya, ada yang mau bantu buatin posternya Full moon ma The Legend’s and The Goddess ga? Kalau ada yang mau silahkan kirim poster buatannya di alamat email ini Rynfamutmainnah@yahoo.com creditnya cantumin dalam poster aja.

Tungguin Ryn special collection’s story berikutnya ya!! Sst, aku sedang bikin project Kris-Taeyeon genre fantasy tapi kisah mereka aku masukkan ke story of exotaeng. Mohon dukungan dan semangatnya ya..

—> RYN^^

86 thoughts on “[Freelance] The Day I Meet Him (Part 3/END)

  1. Wow perjuangan luhan ternyata tak sia – sia hihi..aku seneng lihat mereka bermesraan..author bikin squelnya dong..tamatnya nanggung #menurut aku tau tah menurut reader lain gmna? Yayaya thor bikin squelnya

  2. waahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh
    akhirnya taeyeon nerima luhan heheheheehh
    aaq suka ff autor ceritannnya bagus aq tunggu ff autor yang lain
    autor semangat😀

  3. yah ff ini emang beneran butuh sequel.. bayangin kehidupan mereka setelah tae ngakuin perasaannya itu pasti manis banget🙂 keren thor 1000 jempol deh buat author Ryn🙂

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s