[Freelance] Story of EXOTaeng : Be Mine (Chapter 2)

be mine

Author : RYN

Length : multichapter

Rating : PG 17+

Cast :

@ Taeyeon SNSD

@ Chanyeol EXO K

@ Suho Exo K

@ Tiffany SNSD

Genre : drama,romance

 

Tetep mau ngingatin, jangan pernah nge-bash couple yang kupilih atau siapapun cast di dalamnya. INGAT! Ini hanya fanfiction! Kuharap kalian tidak melupakan poin penting ini!

Silahkan berpendapat asal komentar kalian TIDAK membuat orang lain TIDAK nyaman.

Don’t plagiat, don’t copy paste without my permission!!

SILAHKAN CARI IDE KALIAN SENDIRI TANPA MENCURI IDE ORANG LAIN!

Aku tidak pernah memberikan izin pada siapapun untuk membuat cerita berdasarkan fanfic ini!!!

 

– – –

“jadi kau tinggal di tempat ini?” tanya Taeyeon sesaat setelah memasuki apartemen kecil milik  Chanyeol.

Chanyeol hanya mengangguk sembari melepaskan mantelnya. Di luar cuaca sangat dingin ditambah dengan tubuhnya yang lemah karena sakit membuatnya sedikit menggigil.

“kau sebaiknya istrahat saja, aku akan memasak untukmu” kata Taeyeon tepat saat Chanyeol menyimpan kantung belajaan itu di atas meja. Tanpa diminta, pria itu sudah mengeluarkan semua isi di dalamnya.

“aku akan membantumu”

Taeyeon menggeleng dan tersenyum padanya. “serahkan semuanya padaku aku..” matanya langsung membulat lebar dan segera ia berlari ke arah Chanyeol yang tiba-tiba oleng sembari memegang kepalanya. “sudah kubilang kau tidak perlu membantuku” ucapnya sembari membantu pria itu ke tempat tidurnya.

Chanyeol hanya diam menatapnya. sejujurnya dia sangat senang Taeyeon berada bersamanya dan memperhatikannya seperti ini. sadar di perhatikan, Taeyeon langsung memalingkan mukanya karena tidak ingin pria itu melihat wajahnya yang bersemu merah.

“beristrahatlah” ucapnya. dia hendak meninggalkan kamar itu ketika Chanyeol tiba-tiba memegang tangannya.

“a-apa kau akan pulang sekarang?” tanyanya memelas. Taeyeon hanya tersenyum lalu menggeleng pelan.

“bukankah kau belum makan seharian?”

Senyum Chanyeol mengembang mendengarnya. dia tahu Taeyeon tidak akan meninggalkannya. Perlahan dia melepaskan pergelangan tangan Taeyeon dan gadis itu pun keluar dari kamarnya, meninggalkannya yang masih tersenyum seperti orang bodoh.

Tidak lama setelahnya, Taeyeon telah selesai. Chanyeol mengejapkan matanya ketika mencicipi bubur yang di buatkan Taeyeon untuknya.

“ini sangat enak” pujinya.

“syukurlah kalau kau menyukainya” Taeyeon tersenyum. “aigoo..hati-hati. apa kau tidak merasa bubur itu masih panas?” tanyanya heran. Chanyeol hanya menggeleng.

*hanya bubur saja, kau sudah begitu senang* Taeyeon menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Chanyeol yang memakan bubur buatannya tanpa henti. Tingkahnya seperti anak TK yang baru mendapat mainan baru. Terlalu senang hingga senyumnya tak pernah lepas dari wajahnya.  ini membuatnya berpikir, apa bubur buatannya memang seenak itu?

Chanyeol sangat bahagia. Tentu saja, ini pertama kalinya Taeyeon memasak untuknya. Dia jadi merasa lebih baik karena gadis yang di sukainya berada di sampingnya.

“setelah makan, kau harus meminum obatmu. Mengerti?”

Chanyeol mengangguk patuh. Taeyeon tak bisa menahan senyumnya. Si idiot di depannya itu terlalu adorable untuk postur tubuhnya yang manly. Perpaduan yang sangat tidak cocok. Setidaknya, karena bersamanya dia menjadi lupa dengan apa yang baru saja terjadi dengannya. *kurasa hari ini tidak buruk juga* dia membatin. Hanya dengan melihat Chanyeol, senyumnya tak pernah hilang dari wajahnya. Taeyeon sedikit heran pada dirinya, apa dia benar-benar mulai menyukai Chanyeol? tapi sejak kapan?

Seperti yang di perintahkan padanya, setelah menghabiskan bubur itu, Chanyeol segera meminum obat yang di belikan Taeyeon tanpa berkomentar. Dia benar-benar sangat senang, Taeyeon masih berada disisinya. Dia bahkan berharap gadis itu tidak meninggalkannya, tapi kenyataannya Taeyeon memang harus pulang dan itu membuatnya sedih.

“aku harus pulang sekarang” ucap Taeyeon sesaat setelah melirik jam tangannya. tanpa menunggu lagi, dia beranjak dari tempatnya untuk mengambil tasnya. Tapi sebelum dia berbalik, Chanyeol tiba-tiba menarik tangannya, menghentikannya. “ada apa? kau butuh sesuatu yang lain?” tanyanya menatap pria itu dengan kening berkerut.

Chanyeol hanya diam menatapnya. dia ingin meminta Taeyeon lebih lama bersamanya tapi dia juga sadar itu tidak mungkin. sejak tadi dia sudah menyadari mata Taeyeon yang setengah bengkak dan merah. Dia juga ingin tahu apa yang membuat gadis itu sedih hingga membuatnya menangis. meski ini bukanlah urusannya, dia tidak bisa menahan dirinya untuk tidak memperhatikan setiap detail apa yang terjadi dalam hidup gadis itu terutama setelah melihatnya menangis, karena itu membuat hatinya ikut sakit. Sejak awal dia ingin menanyakannya, tapi terlalu takut Taeyeon mungkin akan memarahinya atau merasa terganggu, oleh sebab itu dia menyimpan pertanyaannya dalam hati. tapi tetap saja hal itu membuatnya tidak tenang hingga sekarang.

“Chanyeol!”

Chanyeol tersentak, kembali pada realita. Tangannya yang kuat masih tak melepaskan tangan Taeyeon meski gadis itu kini memandangnya dengan kesal. matanya kemudian tak sengaja melirik jari tangan Taeyeon dan terkejut. Mengikuti pandangan Chanyeol, Taeyeon sontak menarik kasar tangannya. Chanyeol tak bisa berbuat apa-apa selain membiarkannya.

“cincinmu..” Chanyeol tercekat dengan ucapannya sendiri. dia terkejut. Dugaannya tidak salah, penyebab Taeyeon menangis mungkin ada hubungannya dengan cincin itu.

Taeyeon menghindari tatapan Chanyeol. dia tidak ingin pria itu kasihan padanya dan melihatnya dalam keadaan lemah seperti ini. “aku tidak akan menikah dengan Suho…” senyum paksa membentuk di bibirnya.

Chanyeol lagi-lagi terkejut. Bagaimana mungkin Taeyeon tidak akan menikahi Suho sementara mereka sudah bertunangan. Yah, dia tahu kalau mereka berdua akan menikah. Namun demikian, dia tetap menyukai Taeyeon. meskipun sakit mendengarnya telah bertunangan beberapa bulan yang lalu, dia masih mencintai Taeyeon. bahkan perasaan cintanya semakin besar setiap harinya.

“a-apa yang terjadi?” tanyanya hati-hati. perasaannya campur aduk, di satu sisi dia tidak ingin Taeyeon terluka sedangkan di sisi yang lain dia bahagia karena kesempatan untuk bersama gadis itu semakin besar. Chanyeol dengan cepat menggelengkan kepalanya menepis apa yang sempat di pikirkannya. Ini bukan saat yang tepat untuk memikirkan keegoisannya memiliki Taeyeon.

Taeyeon menghela nafas dalam-dalam lalu tersenyum tipis menatapnya. *setidaknya aku masih memilikinya.* jauh dalam hatinya senang karena Chanyeol bersamanya. dia memang bukan tipe gadis yang suka menceritakan masalahnya pada orang lain terkecuali Tiffany, tapi entah kenapa pada Chanyeol dia merasa nyaman.

“Taeyeon-ah..apa yang terjadi?” Chanyeol bertanya lagi. kali ini nada suaranya terdengar mengkhawatirkannya.

“hari ini aku ke apartemen Tiffany..” Taeyeon memulai ceritanya. Awalnya ia masih bisa mengendalikan dirinya namun mengingat kembali kejadian beberapa saat yang lalu membuat tubuhnya menegang. Chanyeol bisa merasakannya dan itu membuatnya semakin khawatir. Meski dia ingin mendesak Taeyeon menceritakan kelanjutannya, dia tetap harus bersabar dan menunggu.

Tubuh Taeyeon mulai bergetar. mungkin karena dia tak bisa menahan dirinya lagi. melihat Suho di apartemen Tiffany sangat menyakitinya. Seharusnya dia tahu Suho akan selalu seperti itu, pria brengsek yang selalu meniduri wanita-wanita yang digodanya tapi kenapa harus Tiffany sahabatnya? mungkin Taeyeon juga menyesali dirinya karena pernah berharap Suho mau berubah tapi kenyataannya tidak. Dia memang tidak menyukai pria itu tapi dia juga tidak membencinya. Dia hanyalah gadis yang butuh kebebasan tanpa terikat dengan pernikahan yang telah di atur hanya demi keuntungan bisnis.

Chanyeol perlahan mendekati Taeyeon lalu menariknya ke dalam pelukannya. Di luar dugaannya, Taeyeon tak menolaknya. Chanyeol merasakan tangan gadis itu meremas sebagian bajunya seolah kekuatannya bertumpu disana.

“aku..melihat Tiffany dan Suho..bersama di apartemen Tiffany..” suara Taeyeon terputus-putus di sela-sela isak tangisnya.

Chanyeol tak dapat menyembunyikan keterkejutannya setelah mendengar ucapannya. Rahangnya mengeras, matanya berkilat menyiratkan kemarahan yang siap meledak karenanya sementara Taeyeon semakin terisak di dadanya. Hanya dengan mendengarnya, Chanyeol luluh seketika. Dia sungguh tak tahan melihat gadis itu menangis di depannya. dalam hatinya ia merutuki dirinya sendiri karena tidak bisa membuat gadis itu lebih baik dan hanya diam mendengarnya menangis. ini kesalahannya, yah begitulah menurutnya. Dia lah penyebabnya karena menanyakan semua ini padanya.

Hal yang selalu ingin dilihatnya adalah kebahagiaan gadis itu dan hal yang paling tidak ingin di lihatnya adalah air mata gadis itu. jika gadis itu bahagia, dia pun bahagia dan jika gadis itu merasa sedih, begitupun dia. Seluruh dunianya telah berpusat pada gadis itu. dia tidak membutuhkan yang lain selain gadis itu.

Chanyeol mengeratkan pelukannya, menyelimuti tubuh mungil itu dengan kedua lengan kokohnya dengan protektif seakan dia adalah porselin yang mudah pecah kapanpun. Otaknya mulai berpikir keras. Bagaimana bisa mereka melakukan hal ini terhadap Taeyeon? dan Tiffany, bukankah dia sahabatnya? Chanyeol melirik ke bawah dan pandangannya seketika berubah teduh. Dia merasa iri pada Suho, menganggapnya pria yang beruntung karena Taeyeon menyukainya. Meskipun Taeyeon menyangkalnya, dalam hatinya dia tahu kalau gadis itu juga memiliki perasaan padanya. dia bisa melihat bagaimana Taeyeon menangisi keduanya. Bukan hanya karena Tiffany yang mengkhianatinya tapi juga karena Suho.

*aku bukan siapa-siapa olehnya. Mungkin lebih baik tetap seperti ini. larilah padaku jika kau membutuhkan tempat bertumpu Taeyeon, karena aku selalu mencintaimu apapun yang terjadi* Chanyeol memejamkan matanya, berusaha menghibur dirinya sendiri.

Taeyeon perlahan mengangkat kepalanya memandangi Chanyeol yang masih memejamkan matanya. dia jadi ingin tahu apa yang di pikirkan pria itu hingga keningnya sampai berkerut. Sejujurnya dia merasa nyaman dengan pelukan Chanyeol. pria itu memiliki kehangatan yang belum pernah di rasakannya. Dia menyukai bagaimana cara pria itu menenangkannya, disamping sikapnya yang penuh perhatian dan kelembutan. Sangat berbeda dengan Suho. Suho selalu memberinya perhatian tapi tidak dengan kelembutan yang selalu berujung pada pemaksaan. Beruntung, Suho tidak pernah berhasil mengajaknya tidur bersama seperti yang sering ia lakukan pada gadis-gadis lain. hanya dengan mengingat Suho, kemarahan dalam hatinya kembali melonjak dan dia sesegera mungkin menghapus bayangan pria itu dalam kepalanya.

“Chanyeol..” nama itu meluncur begitu saja dari bibirnya. Taeyeon cukup terkejut dengan suaranya sendiri saat memanggil nama pria itu. kedengaran sedikit aneh karena dia tak pernah melembutkan suaranya padanya, tapi kali ini berbeda dan diam-diam dia menyukainya.

Chanyeol tersentak dan membuka matanya. mendengar suara lembut Taeyeon membuat jantungnya berdebar-debar. Mata keduanya bertemu pandang beberapa saat sebelum akhirnya tangan Chanyeol dengan lembut mengusap air mata di pipi Taeyeon. Taeyeon merasakan kedua pipinya memanas dengan sentuhan itu. perlahan tapi pasti, jantungnya berdebar kencang melebihi kapasitas normal. Saat itulah ia menyadari kalau dia juga menyukai Chanyeol. bukan sebagai teman tapi sebagai seorang pria. Akhirnya, dia mengakuinya kalau dia mencintai pria itu. mungkin benih cinta itu sudah timbul sejak lama hanya saja dia tak pernah mau mengakuinya.

“kau tahu..” Chanyeol memulai. Pandangannya masih sama. Selalu lembut dan hangat. “kau terlihat jelek kalau sedang menangis” tawa kecil keluar dari bibirnya membuat Taeyeon bersemu merah.

Tak ingin terlihat malu di depan Chanyeol, Taeyeon menutupinya dengan memukul lengannya membuat pria itu meringis.

“dan setelah menangis, pukulanmu terasa lebih keras” tambahnya sambil memasang wajah pura-pura cemberut. Kali ini Taeyeon tak bisa menahan tawanya. Chanyeol seperti biasa selalu membuatnya tersenyum.

“terima kasih” ucapnya.

“kelak, aku tidak ingin melihatmu menangis lagi” Chanyeol mengusap pipinya dan tersenyum. “aku lebih senang melihatmu selalu tersenyum, Kim Taeyeon” tambahnya.

Taeyeon merasa seperti akan meledak. Menyadari sikapnya, Chanyeol cepat-cepat menurunkan tangannya. dia tersenyum malu sambil mengusap punggung lehernya. “maaf”

Wajah Taeyeon semakin memerah, dia langsung memalingkan mukanya, meski begitu dalam hatinya sangat bahagia. Chanyeol yang salah paham terhadap sikap Taeyeon mengira bahwa gadis itu marah padanya.

“m-maafkan aku..aku tidak bermaksud..” dia tak tahu harus bagaimana mengatakannya. Semuanya terjadi di luar kendalinya.

Chanyeol tak tahu kalau diam-diam Taeyeon ternyata tersenyum mendengarnya. *idiot*

Tak ingin Chanyeol melihat wajahnya yang bersemu merah, Taeyeon memutuskan untuk segera pulang.

“kau sudah mau pulang?” Chanyeol langsung panik ketika melihat Taeyeon mengambil tasnya. Dia mengira Taeyeon marah padanya dan tidak ingin memaafkannya. “apa kau marah padaku?” tanyanya lagi.

Melihat wajahnya yang tampak sedih dan kecewa, Taeyeon hanya tersenyum geli. Chanyeol saat ini terlihat seperti anak umur 5 tahun yang memasang wajah memelas padanya. sangat cute.

“aku tidak marah padamu. Buat apa aku marah pada pangeranku sendiri” canda Taeyeon tak lupa mengedipkan sebelah matanya.

Chanyeol cukup kaget mendengarnya. dia tak mengira Taeyeon akan berkata seperti itu padanya. ucapan Taeyeon membuatnya kembali tersenyum seperti orang bodoh. Dia terlihat sangat senang. Taeyeon tertawa pelan. seperti biasanya, hanya satu kalimat simpel darinya sudah membuat pria itu kegirangan, persis seperti anak kecil. dia sendiri tak tahu kenapa dia bisa mengucapkan kalimat se-norak itu. ini sama sekali bukan dirinya, tapi meski begitu dia tak menyesalinya malah sangat senang.

“bisakah..kau tinggal lebih lama?” pinta Chanyeol yang kembali mengusap punggung lehernya dengan senyum malu-malu. ini memang egois tapi dia sangat ingin Taeyeon tetap bersamanya.

Taeyeon sedikit kaget dengan permintaannya. Sekalipun dia ingin tetap tinggal, dia tidak bisa. “ayah..” kalimatnya terpotong dengan bunyi getaran ponselnya. Taeyeon segera meraih ponsel dalam mantelnya. Nama ayahnya berkedap-kedip di layarnya. Sejak tadi ayahnya berusaha menghubunginya tapi dia tidak pernah mau mengangkatnya karena ia tahu alasan kenapa ayahnya menelponnya.

Taeyeon tersenyum tipis pada Chanyeol lalu mulai menjawab telponnya.

“iya ayah..aku?” dia melirik Chanyeol yang masih berdiri memperhatikannya, “aku di rumah teman…baiklah…aku mengerti.” sambungan telpon pun terputus.

Dari ekspresinya dan mendengar pembicaraannya, Chanyeol jadi mengkhawatirkannya. “kau baik-baik saja?” tanyanya sesaat setelah Taeyeon menutup telponnya.

Taeyeon hanya tersenyum. senyum paksa yang membuatnya semakin mengkhawatirkannya.

“aku harus pulang Chanyeol” Taeyeon seolah tahu apa yang di pikirkannya. Dia hanya tidak ingin membuat pria itu khawatir. “kuharap kau segera sembuh.”

“aku akan mengantarmu.” Chanyeol menawarkan dirinya tapi Taeyeon langsung menggeleng cepat.

“sudah cukup kau menjemputku dan aku tiak ingin kau juga mengantarku.”

“tapi-“

“kau membutuhkan istrahat, aku akan baik-baik saja. kau tidak perlu mencemaskanku.” Taeyeon memberinya senyuman terakhir lalu berbalik meninggalkan Chanyeol yang masih diam terpaku di tempatnya.

Sejujurnya, dia tidak ingin membiarkan Taeyeon pergi begitu saja. setidaknya dia harus mengantar gadis itu dan memastikannya tetap aman. Tanpa pikir panjang dia menyambar mantelnya dan berlari keluar apartemennya.

*oh ayolah..kau tentu belum jauh* frustasi, Chanyeol melayangkan pandangannya ke sekelilingnya mencari sosok Taeyeon. jantungnya serasa ingin meledak dan senyumnya seketika mengembang di wajahnya ketika akhirnya ia menemukan gadis itu. dia sudah tidak peduli dengan kondisinya yang masih lemah, yang ia lakukan hanyalah berlari ke arah gadis itu dan menarik tangannya.

“Chanyeol?! apa yang kau lakukan disini?!” Taeyeon terkejut. “bukankah kau sud-“

“aku tidak bisa membiarkanmu pergi begitu saja seorang diri” potong Chanyeol cepat sambil mengatur nafasnya.

“tapi kau masih sakit”

“aku merasa khawatir sampai hampir mati karena frustasi!” Chanyeol spontan menaikkan nada suaranya membuat Taeyeon tersentak kaget. pria itu menghela nafas dalam-dalam, pandangannya melembut. “bisakah kau membiarkanku melakukan hal yang membuatku tenang? aku bisa tenang setelah memastikan kau baik-baik saja” kali ini suaranya berubah lembut.

Taeyeon bungkam. Dia tak mengira pria itu begitu memikirkan dirinya sampai rela mengorbankan dirinya yang sedang sakit hanya untuk mengantarnya pulang. Perlahan dia mengangguk dan tersenyum. Chanyeol tersenyum sumringah, senyum yang selalu bisa menghangatkan hatinya. seperti kebiasaannya yang tak pernah hilang, Chanyeol kembali mengenggam tangannya. Taeyeon melirik ke bawah, melihat tangan mereka telah bertautan satu sama lain lalu beralih menatap Chanyeol. Chanyeol hanya mengerjapkan matanya dengan polos seperti tidak terjadi apa-apa. Taeyeon memutar bola matanya setelah sebelumnya menyebutnya dengan sebutan ‘idiot.’ Seperti yang ia katakan sebelumnya, Chanyeol sangat menyukai skinship.

– – –

“aku pulang” sahut Taeyeon setelah menutup pintu di belakangnya. Dia terkejut mendapati ayah dan ibunya telah berdiri tak jauh darinya. ayahnya terlihat berusaha menahan amarahnya sementara ibunya hanya diam menggelengkan kepalanya seolah-olah dia baru saja melakukan hal yang salah.

“kau dari mana saja?” tanya ayahnya sedikit meninggikan suaranya.

Taeyeon tidak mempedulikan pertanyaannya, dia berjalan melewati orang tuanya menaiki tangga di depannya. tapi baru beberapa anak tangga yang di pijakinya, suara ayahnya kembali terdengar.

“Suho menelponku” Taeyeon berhenti. dia tahu ayahnya sudah berada di ambang batas kesabarannya. “dia bilang kau tidak mengangkat telponnya”

Taeyeon memutar tubuhnya hingga menghadap orang tuanya. “jadi dia mengadu pada ayah huh?” tanyanya dingin.

“jaga ucapanmu Taeyeon. kau sedang berbicara dengan ayahmu” geram ayahnya.

“lalu apa yang harus aku katakan ayah?!!” Taeyeon akhirnya meluapkan segala kemarahannya. Ayah dan ibunya terlonjak kaget tapi Taeyeon seakan tidak peduli. “aku tidak akan pernah menikah dengannya!!” teriaknya.

Ayahnya mengejap kaget, wajahnya seketika mengeras, rahangnya mengatup rapat, matanya menyiratkan kemarahan. “apa maksudmu tidak ingin menikah dengannya?”

Taeyeon tersenyum dingin menatap tajam ke arah mereka berdua. “aku tidak akan menikah dengan pria yang tidur dengan sahabatku sendiri” tegasnya.

“Taeyeon, jangan menatap kami seperti itu. ingat, kami orang tuamu jadi jaga ucapanmu” ibunya menegurnya tapi Taeyeon tetap acuh.

“aku tidak ingin tahu alasanmu, yang terpenting kau harus menikah dengan Suho apapun yang terjadi!” ayahnya berseru keras. dia benar-benar sangat marah pada putrinya.

Taeyeon tertawa miris. “jadi ini semua masih tentang perusahaan? Ayah tega mengorbankan kebahagiaan putrimu sendiri?”

Tatapannya ayahnya berubah dingin. “ini semua demi kebahagiaanmu, bukan hanya untuk perusahaan”

“aku bisa mencari kebahagiaankku sendiri! aku tidak butuh bantuan ayah atau ibu untuk mencarinya untukku! Bagaimana bisa kalian membiarkanku menikah dengan bajingan itu?!”

“Kim Taeyeon!!”

“ayah, ibu, pria itu tidur dengan sahabatku sendiri. SAHABATKU. Dia juga tidur dengan gadis-gadis yang lain dan kalian masih menginginkanku menikah dengannya?!” nafas Taeyeon memburu setelah mengeluarkan semua kata-kata itu. “kenapa…kenapa ayah dan ibu tidak bisa mengerti keinginanku? Aku tidak bisa hidup bahagia dengan pria seperti dia..aku..aku tidak ingin menikah dengannya…” air matanya kini mengalir deras di pipinya. dalam hatinya Taeyeon masih sedikit berharap agar kedua orang tuanya mau mengalah untuknya. Harapannya pupus setelah mendengar ucapan ayahnya.

“itu karena kau tidak pernah mau tidur dengannya”

Taeyeon mengangat kaget. dia tak percaya apa yang baru saja di dengarnya.

“jika saja kau tidak jual mahal padanya, dia mungkin tidak mengincar sahabatmu sendiri. jangan melimpahkan semua kesalahanmu pada orang lain”

“jadi maksud ayah semua ini salahku?” Taeyeon mengepal kedua tangannya dengan geram.

“kau begitu keras kepala Taeyeon. kau tidak mengerti betapa hebatnya keluarga kita jika Suho menjadi menantu kita. Perusahaan kita-“

“ayah!”

“cukup! Aku tidak ingin membahas masalah ini lagi. keputusanku sudah bulat. Pernikahan kalian akan tetap dilaksanakan. Karena kau terlalu keras kepala, aku akan meminta pada ayah Suho untuk mempercepat pernikahan kalian!” usai mengucapkan semua itu, ayahnya berlalu pergi.

Taeyeon terduduk lemas. Dia tak menyangka ayahnya tega melakukan semua itu padanya. apa dia tidak memikirkan bagaimana perasaannya? Ayahnya akan mempercepat pernikahannya dan semua itu karena kesalahannya. jika saja dia tidak membantah dan berteriak keras pada ayahnya, mungkin dia masih bisa mengulur waktu pernikahannya. Taeyeon menyembunyikan di lututnya lalu menangis keras. ibunya yang masih berada di tempatnya, memandang putrinya dengan sedih.

“Taeyeon…” wanita itu menghampiri putrinya, membelai rambutnya dengan penuh kasih sayang. Meskipun Taeyeon bukan putri kandung mereka, dia tetap menyayanginya seperti putri kandungnya sendiri.

“ibu..please…bantu aku..aku tidak ingin menikah dengan Suho..aku tidak mencintainya” Taeyeon memohon pada ibunya.

Wanita itu menghindari tatapan matanya dan menggeleng. “kau tahu seperti apa ayahmu, ibu tidak bisa berbuat apa-apa” ibunya berdiri dan meninggalkannya namun sebelum dia benar-benar pergi, dia menoleh untuk terakhir kalinya lalu berjalan pergi. Itu memang benar, dia tidak punya cukup kekuatan untuk melawan suaminya. Taeyeon dan ayahnya memiliki sifat yang sama. Sama-sama keras kepala.

 

***

Taeyeon menatap pantulan dirinya di cermin lalu mulai mengoleskan lipgloss di bibirnya. saat sedang melakukan kegiatannya, Tiffany tiba-tiba masuk ke dalam toilet. Gadis itu bukan lagi Tiffany sahabatnya yang di kenalnya. Dia seolah telah menjadi orang lain. Taeyeon bersikap acuh saat Tiffany berjalan ke arahnya dan ikut bercermin di sampingnya. setelah selesai, Taeyeon segera membereskan tasnya. Dia ingin secepatnya keluar dari tempat itu. bersama Tiffany dalam ruangan yang sama membuatnya sesak. Namun sebelum ia sempat melangkahkan kaki keluar pintu, Tiffany tiba-tiba menarik tangannya dengan kasar dan menghempaskan tubuhnya ke dinding toilet di sampingnya.

“kau ingin menghindariku huh?” nada dingin Tiffany terkesan mengejeknya.

Taeyeon melotot tajam padanya. “apa lagi yang kau inginkan?” geramnya. “tidak cukup kau mengkhianatiku dan sekarang kau ingin menyakitiku?”

Sebuah tamparan keras mengenai pipi Taeyeon. Taeyeon terlihat shock sembari memegangi pipi bekas tamparannya.

“aku membencimu Kim Taeyeon! sangat membencimu!!” pekik Tiffany tak terkendali. Taeyeon terlonjak kaget, bagaimana dia bisa tidak tahu kalau ternyata Tiffany memiliki sifat labil?

“apa yang sebenarnya ingin kau katakan Tiffany?” Taeyeon mencoba tetap tenang. dia tahu, kemarahan Tiffany tidak akan berakhir sampai disitu hingga dia merasa puas mengeluarkan seluruh amarahnya.

Tiffany mengepal kedua tangannya kuat-kuat, “kau mendapatkan semua yang kau inginkan tapi kau berakting seakan tidak menginginkan semuanya”

“sebenarnya apa yang ingin kau katakan padaku? tidak perlu berbelit-belit” Taeyeon mulai kesal. disamping karena pipinya yang masih terasa sakit karena tamparannya, kini dia juga harus meladeni sikap aneh mantan sahabatnya itu.

“aku mencintai Suho. Sangat mencintainya. Tapi KAU, kau mengambilnya dariku!”

Taeyeon tersenyum sinis. Dia mengerti maksud seluruh ucapan Tiffany sekarang. “bukankah kau sudah mendapatkannya? Kau bisa mengambilnya jika kau mau. Aku tidak pernah menginginkan pria brengsek sepertinya”

“diam! berani-beraninya kau mengatakan semua itu padaku sementara kau sendiri akan menikah dengannya!”

“dengar Tiffany-sshi,” wajah Taeyeon mengeras, kedua tangannya menguat. Dia benci menjadi orang yang disalahkan. Sama seperti ayahnya, Tiffany juga menganggap semua itu salahnya. “aku.tidak.akan.pernah.menikah.dengannya.karena.aku.tidak.mencintainya” dia sengaja menekan setiap kata dalam kalimatnya membuat Tiffany langsung terdiam. melihat reaksi Tiffany, Taeyeon menatapnya dengan sinis sembari melipat tangannya. “aku tidak menyangka kau jatuh cinta padanya setelah semua yang kukatakan padamu tentangnya. Aku tidak pernah berpikir kau akan mengkhianatiku seperti ini Tiffany. Kau, sahabatku. Aku mempercayaimu tapi kau menusukku dari belakang”

Taeyeon merasakan tubuhnya bergetar karena menahan amarahnya saat membayangkan kembali pengkhianatan yang dilihatnya beberapa hari lalu. “tapi terima kasih. Karena kejadian itu, aku kini punya alasan untuk membencimu” dia pun berlalu meninggalkan Tiffany yang masih terpaku di tempatnya. Menangis.

– – –

“Taeyeon!”

Taeyeon menoleh dan terkejut melihat Chanyeol sedang berlari ke arahnya. dia cepat-cepat menghapus air matanya agar Chanyeol tidak melihatnya.

“aku mencarimu dari tadi tapi tidak meli-“ Chanyeol mengejapkan matanya, terkejut melihat mata Taeyeon yang bengkak. Kedua tangannya langsung menangkup wajah gadis itu, memperhatikannya setiap sudut. “apa yang terjadi? Kau menangis lagi? dan kenapa dengan pipimu?” tanyanya panik.

Taeyeon hanya tersenyum tipis. beruntung, tamparan Tiffany yang masih membekas di pipinya bisa menyamarkan semburat merah di pipinya karena tindakan Chanyeol. dia senang Chanyeol mengkhawatirkannya. “aku baik-baik saja” jawabnya sembari melepaskan kedua tangan Chanyeol di wajahnya.

Chanyeol hanya diam menatapnya, dia tak percaya dengan jawaban itu. bagaimana gadis itu bisa mengatakan bahwa dia baik-baik saja sementara dia baru saja habis menangis? ditambah lagi pipi kanannya yang tampak kemerahan seperti bekas tamparan. *Kim Taeyeon, kau tidak berbakat berbohong padaku*

“bagaimana kalau kau menemaniku makan siang?” pinta Taeyeon tiba-tiba. “sejak tadi aku belum makan” tambahnya dengan memasang wajah cemberutnya. Chanyeol mengejapkan matanya, wajahnya seketika bersemu merah. Taeyeon yang bertingkah seperti itu membuatnya berdebar-debar. Sangat cute.

Taeyeon sengaja mengalihkan perhatian Chanyeol. dia tahu pria itu tidak akan percaya begitu saja setelah melihat keadaannya, tapi dia juga tidak mungkin menceritakan apa yang terjadi di toilet tadi padanya. pada akhirnya, itu berhasil. Chanyeol mengangguk dan tersenyum lebar membuatnya ikut tersenyum.

“kajja!” Taeyeon menggandeng lengan Chanyeol dan menariknya pergi dari tempat itu. dia tak menyadari kalau Chanyeol begitu terkejut sekaligus tersipu malu dengan tindakannya. Diam-diam pria itu berharap Taeyeon tidak akan melepaskan tangannya karena dia sangat menyukainya. Ini pertama kalinya Taeyeon memulai skinship dengannya.

Mereka berjalan melewati gerbang kampus menuju café terdekat. Saat hampir mendekati cafe, sebuah mobil sport merah mendadak berhenti di depan mereka. Taeyeon terkejut dan sontak melepaskan tangannya dari lengan Chanyeol yang membuat pria itu mengerutkan keningnya. seorang pria keluar dari dalam mobil itu. dia kemudian menghampiri Taeyeon yang sudah memasang wajah datarnya merespon kedatangannya.

“apa yang kau lakukan disini Suho?” tanya Taeyeon malas. dia tidak ingin berbicara dengan pria itu sekarang. moodnya sedang tidak baik. Chanyeol melihat pria yang telah menyakiti Taeyeon itu dengan tatapan tajam. Emosinya tiba-tiba memuncak, tinjunya mengepal kuat. Jika saja dia tak menghargai Taeyeon dan tidak mengingat dirinya bukan siapa-siapa bagi Taeyeon, sudah dari tadi dia melayangkan tinjunya pada wajah pria itu.

Menanggapi pertanyaan Taeyeon, Suho langsung memamerkan senyum termanisnya. Senyuman yang selalu bisa membuat semua gadis-gadis luluh karenanya. Tapi sayangnya, itu tidak berhasil pada Taeyeon. gadis itu ingin sekali muntah di hadapan pria itu.

“aku ingin menjemputmu” ucapnya seakan tidak terjadi apa-apa.

“menjemputku?” Taeyeon tiba-tiba tertawa sinis membuat Suho terkejut. “apa kau bercanda Suho? Kukira kau akan menjemput Tiffany”

“baby-“

“jangan panggil aku dengan sebutan itu!” Taeyeon membentaknya. “kau membuatku jijik”

“baby please..aku dan Tiffany tidak punya hubungan apa-apa. aku mencintaimu.” Suho berusaha menjelaskan. dia tidak peduli meskipun Taeyeon membencinya karena dia kembali memanggilnya dengan sebutan ‘baby’

Taeyeon hanya memutar bola matanya. jelas tidak percaya dengan ucapannya. Chanyeol yang masih berdiri di sampingnya tetap bungkam. Ini memang bukan urusannya tapi dia tidak ingin meninggalkan Taeyeon bersama pria itu sekarang. bagaimana kalau pria itu menyakitinya lagi? dia tidak akan membiarkan hal itu terjadi.

Suho yang baru menyadari tatapan tajam Chanyeol, menoleh sekilas. Dia memandangi Chanyeol dengan pandangan tidak suka sebelum  kembali beralih pada Taeyeon.

“kita perlu bicara” wajahnya berubah serius.

Taeyeon segera tahu makna dari intonasi kalimatnya yang akan berujung pada pemaksaan lagi.

“tidak ada yang perlu kubicarakan denganmu” tegasnya.

“ikut denganku” Suho langsung menarik paksa tangan Taeyeon dan menyeretnya ke mobilnya.

“Suho lepaskan aku!” Taeyeon tentu saja tidak tinggal diam. dia berusaha melepaskan tangannya dari genggaman kuat pria itu. “aku bilang lepas Suho!”

“jangan keras kepala! Sebentar lagi kau akan menikah denganku jadi sebaiknya kau menuruti keinginanku atau aku akan berbuat lebih kasar padamu” Suho mengancamnya.

Chanyeol tidak tahan lagi melihat Taeyeon di tarik paksa oleh Suho. Dia merasa harus melindungi gadis itu dari pria itu. tanpa pikir panjang, dia menghampiri mereka berdua, tangannya mencengkeram bahu Suho-memutarnya dengan paksa lalu secepat kilat mendaratkan tinjunya tepat di pipi kanan pria itu hingga membuat tubuhnya terjengkang ke tanah. Taeyeon terkesiap, dia cukup terkejut dengan Chanyeol yang tiba-tiba meninju Suho.

“kau tidak apa-apa?” Chanyeol bertanya padanya yang di jawabnya dengan anggukan pelan. pria itu kemudian menarik tangannya membawanya ke sisinya.

Suho sudah berdiri tegak kembali, di sudut bibirnya ada sedikit darah akibat perbuatan Chanyeol.

“siapa kau berani ikut campur masalah kami?” geram Suho dengan wajah merah padam. Seumur hidupnya, tak pernah sekalipun orang berani meletakkan tangannya di tubuhnya tanpa seizinnya apalagi sampai meninjunya.

“dia adalah kekasihku” Taeyeon menjawab pertanyaannya. Suho dan Chanyeol sangat terkejut mendengarnya. Chanyeol menatap Taeyeon tak berkedip sementara Taeyeon tak mengalihkan tatapannya dari Suho. Dia hampir tak percaya dengan apa yang baru di dengarnya, baru saja Taeyeon memperkenalkannya sebagai kekasihnya pada Suho.

“se-sejak kapan?” Suho tampak shock. “kukira kau akan menikah denganku tapi kenapa kau menjalin hubungan dengan orang lain?!”

“aku tidak akan pernah menikah denganmu!” seru Taeyeon keras, Suho tersentak kaget. “aku sudah pernah bilang padamu, aku tidak pernah mencintaimu!”

“tapi aku tunanganmu!”

Taeyeon tersenyum dingin, “sekarang tidak lagi. kau lihat…” tangannya terangkat, Suho terkejut karena cincin pertunangan mereka sudah tidak ada di jari manis Taeyeon. “aku sudah membuang cincin itu jauh-jauh jadi mulai sekarang jangan menggangguku lagi” tegasnya kemudian menarik Chanyeol yang masih membeku-speechless di tempatnya meninggalkan Suho yang tercengang.

*kau pikir semudah itu lepas dariku Kim Taeyeon? ayahmu dan perusahaannya membutuhkan keluargaku agar mereka tetap bertahan. Kita lihat saja nanti* Suho tersenyum menyeringai menatap kepergian Taeyeon dan Chanyeol.

– – –

Taeyeon menikmati makan siangnya dengan santai. Dia bahkan telah lupa dengan apa yang terjadi dengan Suho tadi. di sisi lain Chanyeol diam-diam memperhatikannya. melihat Taeyeon yang tersenyum ceria seperti tidak terjadi apa-apa membuatnya menghela nafas dalam-dalam.

*aku terlalu berharap* dia pun memakan makanannya dengan pelan namun raut kecewa di wajahnya tampak sangat jelas.

Taeyeon menyadari hal itu, mendadak menghentikan makannya. “kau kenapa?” tanyanya heran.

Chanyeol tiba-tiba tersedak, Taeyeon buru-buru mengambil air minum untuknya.

“sebenarnya ada apa denganmu? Kau tidak seperti biasanya”

Chanyeol menaikkan sebelah alisnya, “memangnya aku seperti apa biasanya?”

Taeyeon sedikit kaget dengan tekanan suara Chanyeol. keningnya berkerut, Chanyeol tidak pernah berbicara sedingin ini padanya. “mm..kau selalu berteriak seperti orang gila dan tersenyum seperti orang bodoh” jawabnya santai.

*jadi seperti itukah aku dimatamu, Taeyeon?* Chanyeol mengepalkan tangannya, merasa kecewa dengan jawaban itu.

“hei Chanyeollie..kau sebenarnya kenapa?” Taeyeon tersenyum lebar padanya sembari menusuk-nusuk perutnya dengan jari telunjuknya. “ayolah..katakan padaku.” ucapnya memamerkan puppy eyesnya.

Biasanya Chanyeol segera tersenyum melihatnya tapi kali ini tanggapannya sangat dingin. meski menyakitkan melihat wajah gadis itu kini tampak bingung dengan sikapnya, dia tidak punya pilihan lain selain meninggalkan café itu. dia ingin menenangkan hatinya yang terluka karena semua yang dikatakan Taeyeon ternyata tidak berarti sama sekali. dia sudah tahu gadis itu tidak memiliki perasaan terhadapnya tapi tetap saja, dia sangat kecewa mengetahui semuanya itu hanyalah pura-pura.

“hei kau mau kemana?!” Taeyeon berlari mengejarnya. Chanyeol menghentikan langkahnya ketika merasakan bajunya tertarik oleh tangan gadis itu. “Chanyeol, apa kau marah padaku?”

Chanyeol hanya diam melirik tangan Taeyeon yang masih memegang bajunya. Taeyeon yang bingung segera menyadari sikapnya. Dia cepat-cepat melepaskan tangannya.

“maaf” ucapnya pelan. Chanyeol yang memberinya tatapan dingin membuatnya sedikit takut hingga menundukkan kepalanya. “aku kira kau menyukaiku..” dia mengira pria itu menyukainya tapi sepertinya dugaannya salah.

Chanyeol mengernyitkan keningnya mendengarnya. dia tak sepenuhnya mengerti apa maksud kalimat itu. tadinya dia ingin berharap, siapa tahu saja kalimat itu mengandung arti yang penting baginya tapi setelah berpikir, dia memutuskan untuk menepis pikiran itu dari kepalanya. Taeyeon mungkin sedang bercanda lagi padanya. namun, yang membuatnya sangat terkejut hingga merasa hatinya hampir meledak adalah kalimat selanjutnya yang keluar dari bibir gadis itu.

“tadinya kupikir kau akan senang jika aku memperkenalkanmu sebagai kekasihku tapi ternyata dugaanku salah”

Mata Chanyeol perlahan-lahan semakin membulat lebar. dia menatap gadis di depannya dengan pandangan tak percaya. mungkinkah apa yang dikatakannya itu suatu tanda? Dia tidak ingin terlalu berharap tapi kalimat itu telah membuat jantungnya berdebar kencang. matanya menelusuri wajah Taeyeon yang masih tertunduk tak berani menatapnya,dia bahkan sempat melihat semburat pink di wajah gadis itu.

Sadar Chanyeol memperhatikannya, Taeyeon segera memalingkan mukanya.

“sudahlah, tidak ada gunanya berbicara denganmu sekarang. kau mungkin akan semakin marah padaku” tanpa menunggu, dia langsung membalikkan tubuhnya hendak meninggalkan tempat itu tapi Chanyeol buru-buru menarik tangannya-memutarnya hingga berhadapan kembali dengannya. Taeyeon cukup terkejut dengan tindakannya tapi dia kembali memalingkan mukanya karena tidak ingin Chanyeol melihat wajahnya yang semakin merah.

Chanyeol terlihat tidak sabar. Dia tampak sangat frustasi karena tidak mengerti. dia memegang pundak Taeyeon dan menurunkan tubuhnya hingga sejajar dengan gadis itu.

“lihat aku” tuntutnya.

Taeyeon tak menolak, perlahan dia mengangkat kepalanya. wajahnya yang memerah semakin merah mendapati wajah Chanyeol berjarak sangat dekat di depan wajahnya.

“apa maksud ucapanmu? A-aku sama sekali tidak mengerti” Chanyeol bertanya padanya. dia sangat berharap apa yang akan di jawab Taeyeon nanti benar-benar sesuai harapannya. Hanya dengan berpikir tentang jawaban Taeyeon saja sudah membuatnya hampir gila.

Taeyeon memperhatikan setiap lekuk wajah Chanyeol. dia baru sadar kalau pria di hadapannya itu sangat tampan dan manly dengan suara seraknya. Meskipun terkadang dia bisa bersikap dewasa dan kadang-kadang bisa bersikap seperti anak kecil, dia tetap menyukainya. dia menyukai Chanyeol apa adanya.

“Taeyeon-ah..jawab aku” suara serak Chanyeol memelas. Taeyeon tertawa kecil apalagi kedua pasang matan pria itu kini berbinar-binar, menanti jawabannya dengan tidak sabar.

“idiot” senyum terukir di bibir Taeyeon, kedua tangannya kemudian menangkup wajah Chanyeol membuat pria itu semakin gugup. “aku menyukaimu Park Chanyeol” ucapnya lembut. dia sangat malu setelah mengucapkan kalimat itu.

Chanyeol membeku di tempat. Pikirannya tiba-tiba menjadi kosong, gadis yang disukainya menyatakan perasaan suka padanya. apa yang harus dia lakukan? Dia terlalu bahagia hingga tak bisa berkata-kata. Tapi, dia tak sadar kediamannya malah membuat Taeyeon salah paham. Taeyeon mengira dia tak benar-benar menyukainya dan menolaknya. Gadis itu kecewa tentu saja. kedua tangannya yang bersandar di pipi Chanyeol kini melesat turun dan tubuhnya mundur perlahan ke belakang sambil berusaha menahan air matanya yang ingin jatuh karena penolakan itu. melihat sikap Taeyeon, awalnya Chanyeol bingung tapi sedetik kemudian dia terkejut menyadari kesalahannya. *tidak..jangan pergi..* Sebelum Taeyeon berbalik pergi darinya, dia segera menangkup wajah gadis itu dan mencium bibirnya.

Mata Taeyeon mengejap kaget bersamaan dengan air matanya yang membasahi pipinya.

“aku juga menyukaimu Kim Taeyeon” Chanyeol menatapnya sembari mengusap air matanya. “aku selalu mencintaimu” ucapnya sebelum kembali menciumnya lalu mendekapnya semakin dalam ke pelukannya. Senyum Taeyeon mengembang dan diapun membalas pelukannya.

 

Oh, with trembling steps, I carefully approach you
Oh, the closer I get to you
Somehow the more I’m afraid that you’ll get farther away
baby step by Taetiseo

 

To be continued…

Sebelumnya terima kasih pada kalian yang dah nungguin kelanjutan fanfic ini. sempat ga’ nyangka kalau couple ChanYeon juga banyak yang suka. sebenarnya sih, bukannya ga begitu peduli dengan penilaian orang ttg couple ini karena aku pun juga sangat-sangat menyukai mereka berdua, hanya saja saat mengirim ff ini aku ga begitu berharap banyak kalau misal nanti banyak yang suka. Tapi, melihat komentar-komentar di chap 1, aku jadi makin bersemangat bikin kelanjutannya.^^ dan aku berharap di chap ini pun banyak yang meng-share komentar mereka.

–> RYN

42 thoughts on “[Freelance] Story of EXOTaeng : Be Mine (Chapter 2)

  1. Wahh!! Daebakk!!
    maaf eon baru comment di chapter 2😀
    tp ff ini bener – bener hebat🙂
    disini image suhonya bner – bner ancur ya ._. jahat amat
    next chapnya jng lama ya eon,jng lama kaya mau ngepost
    chapter 2 nya😀 ditunngu next chap & lanjutan/ff lainnya ^^
    oh iya FF cherry blossom & full moon kpan chap 1nya?penasarn bnget ^^
    aku paling nunggu FF eon yang all my love is for you?kpn dipostnya?klo bisa secepatnya ya eon🙂

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s