Telepathy (Chapter 8)

                                   Revert

82nd-tele

Author : Nadiachan

Title      : Telepathy

Length  : Series

Rating   : 15

Genre    : Action, Fantasy, Romance, Supranatural

Main Cast (s) :

Girls’ Generation        Jessica

EXO    (K)                      Kai

EXO    (M)                     Luhan

Other Cast :

EXO Member               Sehun

SNSD Member (s)       Hyoyeon, Taeyeon, Tiffany, Yuri.

TVXQ                             Yunho

 

(Warning Typo, Peculiar, Unfamiliar ._.)

 

Introduction | 1| 2 | 3 | 4 | 5 |6 | 7 |

 

Previous (Chapter 7)

“Kalau begitu akulah yang akan mengubah jalan hidupnya” ujar Luhan santai. Membuat Kai kembali menampakkan wajah tidak percayanya di depan Luhan.

“Apa maksudmu?!”

“Kau itu kuat tapi bodoh.. Kukatakan kalau aku yang akan mengubah jalan hidupnya, bukankah itu sudah jelas?”

 “Tak akan ku biarkan..”

“Kenapa? Kau takut? Takut kalau Jessica akan memilihku daripada kau?”

~~~

 

Kepulan uap hangat memenuhi kamar seiring Jessica melangkahkan kaki keluar dari kamar mandi. Sedikit tetesan air terjun dari ujung rambutnya.

Berjalan ke arah lemari pakaian. Melepaskan baju handuknya dan memakaikan pakaian tidur berwarna cream dengan motif beruang lucu.

 

Jam sudah menunjukan pukul 21.05, bed time.

Bukannya menuju tempat tidur, Jessica malah berjalan lurus ke arah balkon kamarnya.

Memilih tetap terjaga dengan duduk di sofa kecil yang sengaja memang ditempatkan di balkon kamarnya. Ditemani secangkir coklat hangat buatan Bibi Lee Jessica memandangi kelap-kelip lampu jalanan yang berada di bawah.

 

Beruntung sekali ia memiliki rumah sedikit jauh dari kesibukan kota besar Seoul. Disini, di gunung kecil yang menyesakkan diri di antara gedung-gedung pencakar langit.
Pernah Jessica bertanya kepada Yunho kenapa rumah mereka jauh dari kota dan hanya ada beberapa rumah yang dibangun, dan jawaban kakaknya itu adalah ‘Karena Appa dan Eomma menyukai ketenangan, akhirnya mereka tempat ini untuk dijadikan rumah’

 Jessica tersenyum manis ‘Tidak hanya Appa dan Eomma saja, aku juga menyukainya’

 

Rasa panas Jessica rasakan saat coklat hangat melewati indra pengecapnya lalu membasahi tenggorokan. Meninggalkan jejak manis khas coklat di lidah.
Jessica mendesah pelan merasakan nikmatnya minuman itu, minuman yang sangat ia sukai.

Angin malam menerpa tubuhnya, sedikit membuat Jessica mengigil pelan. Namun Jessica tidak terlalu mempermasalahkan hal itu, ia sudah terpaku pada sofa yang ia duduki.

Perlahan-lahan kelopak mata Jessica tertutup karena angin dingin membuatnya mengantuk.

 

Baru Jessica memejamkan matanya, ia langsung membuka matanya lebar-lebar setelah aroma yang ia kenal berhembus memasuki hidungnya.

 

Aroma ini…

 

Sontak Jessica melepaskan cangkirnya –atau hampir ia letakan sembarangan tanpa takut akan cangkir itu pecah. Kepalanya menggeleng pelan, karena semakin lama aroma itu semakin kuat dan semakin memunculkan sosok pemilik aroma tersebut dalam benaknya.

Ia buru-buru masuk ke dalam kamarnya. Dengan cepat Jessica mengunci pintu kaca balkon dan membatasi pandangannya dari keadaan luar dengan tirai.

Jessica terduduk lemas diatas lantai. Wajah orang yang seharusnya ia benci. Wajah orang yang berhasil membuatnya merasakan hal yang aneh sekaligus menyenangkan.

Sekali lagi Jessica menggeleng kuat,

 

“Tidak.. Aku harus melupakannya. Aku harus membencinya”

 

~~

 

Meja besar berbentuk lingkaran digunakan 10 orang untuk membahas suatu permasalahan, 10 orang penting di dunia Seiz. 3 makhluk Renous, 5 makhluk Serenity, 2 makhluk Envoye.

Envoye, makhluk Seiz mempunyai keahlian mengendalikan pikiran maupun tubuh seseorang.
Serenity, makhluk Seiz yang memiliki otak cerdas melebihi makhluk lainnya, rata-rata semua Serenity selalu bijak dan bisa diandalkan untuk mengatasi sebuah masalah.

Viero memang memiliki kedudukan paling tinggi di dunia Seiz. Namun, Renous memiliki kedudukan paling tertinggi, satu tingkat diatas Viero. Pemimpin utama dunia makhluk supranatural.

 

“Lalu apa yang harus kita lakukan?”

 

Yunho memberi perhatian penuh kepada pertanyaan itu. Dilihatnya laki-laki berumur 50 tahun yang duduk disebelah kanannya, seorang Envoye.

“Tidak ada cara lain selain mengambil paksa darinya” tutur lelaki yang duduk di salah satu kursi utama. Tentu saja laki-laki itu adalah seorang Renous.

Penuturan bernada seperti air mengalir dengan tenang itu memancing emosi Yunho. Tangannya yang semula rileks menjadi kepalan kuat. Ia tidak terima dengan pendapat atasannya.

“Saya tidak setuju Tuan Andrew”

 

Laki-laki bernama Andrew itu pun menolehkan kepalanya ke arah Yunho. “Kenapa?”

“Jessica memilika hak untuk apa yang ia inginkan. Kita tidak bisa memaksakan kehendak demi kepentingan Seiz saja, Jessica juga memiliki kepentingan untuk menjaga apa yang diwariskan kedua orang tuanya”

“Dan karena kepentingan menjaga warisan orang tuanya lah yang membuat ia tidak mau” sela Renous satunya.

“Tapi Tuan Fugaku.. ini termasuk pemaksaan. Lagipula bukankah kita bisa menunggu Jessica memahami keadaan dunianya, ia pasti sadar kalau darahnya dibutuhkan untuk meneruskan generasi Viero”

Tuan Fugaku menggeleng pelan, “Sampai kapan Jessica bisa paham? Dan sampai kapan kita harus menunggu waktu yang tepat?”

“Saya yakin pasti Jessica akan mau memberikan darahnya”

“Yunho.. kau sudah mengatakan hal itu dari satu tahun yang lalu, sejak Jessica mengetahui rahasia ini”

 

Yunho menahan kata-kata kasar yang siap ia berikan pada Tuan Fugaku, tapi ia tidak bisa, sebagai Serenity ia harus menjaga tata krama dan menghormati atasannya.

Envoye lainnya menatap prihatin Yunho, karena mereka tau kalau Yunho sangat menyayangi adik perempuannya itu.

Renous yang duduk paling tengah, duduk diantara Tuan Andrew dan Tuan Fugaku menatap Yunho, lalu menatap seluruh orang yang mengikuti rapat secara bergantian.

“Kalau begitu sudah diputuskan, besok malam para Envoye akan mengambil darah Jessica”

 

Sontak Yunho menatap penuh amarah kepada Renous tersebut. “Tapi Tuan-!”

 

“Keputusan tidak bisa diganggu gugat. Kita sudah membuang-buang waktu Yunho, dan tidak akan mengubah keputusan karena mendengarkan alasamu”

 

Yunho hanya bisa diam. Semua orang sudah keluar ruangan, hanya menyisakan dirinya yang duduk sendirian sambil menahan rasa kesal. Dan juga khawatir..

 

~~

 

“Okay Jessie~ Hari ini kau mau kemana?”

 

Jessica menatap Tiffany yang energik hari ini. Ah tidak, menurutnya Tiffany selalu energik, entah dimanapun, kapanpun, dalam keadaan apapun.

Sudah satu minggu berlalu sejak liburan semester dimulai. Taeyeon, Hyoyeon dan Yuri memilih menghabiskan waktu dirumah mereka masing-masing dengan keluarga. Tinggal dirinya dan Tiffany lah yang bingung ingin melakukan kegiatan apa untuk mengisi liburan tahun ini.

 

Jessica mengalihkan pandangannya keluar jendela. Dilihatnya pohon-pohon tumbuh subur dengan dedaunan lebat berwarna hijau disekitar rumahnya.

“Bagaimana kalau kita berjalan-jalan disekitar sini?”

 

Tiffany yang asik bermalas-malasan di atas tempat tidur Jessica langsung mendongakkan kepalanya.

“Memangnya kau tidak bosan dengan sekitar rumahmu?”

“Tiff, aku belum pernah berjalan-jalan daerah sini menggunakan kaki”

“Astaga! Nona Jung, kau sangat manja sekali”

“Hey! Aku tidak manja. Salahkan Kai yang tidak memperbolehkan aku” sungut Jessica.

“Aww.. Kai again~ Hanya namja itu yang bisa ‘mengendalikan’mu selain Yunho keke” ucap Tiffany usil.

 

Raut wajah Jessica menjadi masam mendengarnya. Tapi setengah hati Jessica membenarkan perkataan Tiffany, hanya Kai yang bisa melarangnya atau bisa ia katakan semua yang ia lakukan harus mendapat persetujuan daru namja itu.

“Ssst! Jangan sebut nama namja itu. Dia sudah membuatku kesal karena tidak memperbolehkan aku makan es krim, dan hari ini aku ingin bebas mengingat dia sedang sibuk dengan urusannya”

“Okay.. ayo kita bersiap-siap, apa kau mau kita berjalan-jalan dibawah terik matahari?” ujar Tiffany yang tidak mau kulitnya menjadi merah setelah berjalan-jalan diatas pukul 10 pagi.

 

.

 

Kedua perempuan cantik itu sudah berada di luar rumah Jessica. Dengan menggunakan pakaian santai, mereka berjalan di trotoar sambil menghirup udara tanpa polusi di pagi hari yang indah ini.

“Ah segarnya~”  Tiffany menghirup dalam-dalam udara yang masih bercampur embun sambil mengangkat tinggi-tinggi kedua tangannya.

Jessica mengikuti apa yang Tiffany lakukan, ditambah dengan melakukan pemanasan sebentar supaya badannya tidak kaku.

 

Tiffany memandangi jalan yang masih sepi. “Jess, nyaman sekali daerah ini. Lingkungannya masih terjaga, keadaan jalanan pun tidak ramai. Huh, aku ingin sekali tinggal di tempat seperti ini”

“Kalau begitu bangunlah rumah disini, sekalian saja menjadi tetanggaku”

“Hah.. Jung Jessica, harga tanah di daerah ini sangat mahal belum lagi biaya pembangunan rumah. Kalau begitu aku akan mencari suami yang bisa membangun rumah di daerah ini”

“Dasar kau ini”

“Hei walaupun begitu tapi apa yang kukatakan benarkan? Kekeke”

Jessica tertawa kecil, “Ya ya ya terserah kau”

 

Perhatian mereka kembali tersedot karena jejeran pohon yang rindang. Namun setelah melihat kedai es krim langkah mereka terhenti.
Secara bersamaan Jessica dan Tiffany saling bertatapan.

Seperti saling mengerti pikiran satu sama lain, bibir mereka membentuk senyuman lebar.

 

“Ice cream!!”

 

~~

 

Kai melepaskan jas yang ia pakai. Suhu haru ini sedikit tinggi dari biasanya, membuatnya tidak tahan merasakan panas.

Ia bermaksud untuk berjalan ke kamarnya, namun terhenti karena mendengar suara percikan air dan teriakan melengking yeoja yang sehari-hari mengusik harinya.

Kakinya berjalan mendekati asal suara tersebut. Dilihatnya sepasang sahabat bermain bersama di kolam renang seperti anak kecil.

“Jessie~!”

“Hahahahaha”

Seperti biasa, Jessica selalu berbuat usil. Kai hanya tersenyum melihat Jessica menyipratkan air ke arah Tiffany yang sedang tidur diatas pelampung.

Ia pun menyadarkan tubuhnya di salah satu pilar rumah, dan tetap melihat yeoja itu bermain.

Kai menyukai Jessica yang seperti ini. Setidaknya yeoja itu menjadi ceria kembali setelah terpuruk dari keadaan satu tahun lalu. Kalau ia ingat-ingat saat itu, Jessica menjadi pendiam dan murung. Namun dengan berjalannya waktu kini Jessica bisa kembali tersenyum dengan bebas.

 

“Jessica! Hari sudah mulai malam. Segera keluar dari kolam itu sebelum kau sakit”

Orang yang memiliki nama Jessica menoleh kebelakang melihat namja yang memanggilnya.

“Aish, sudahlah pergi saja kau” usir Jessica.

“Kau ingin minum obat-obat pahit itu lagi? Baru saja sembuh dari demam sudah kembali lagi seperti ini. Dan aku tau kalau tadi pagi kau makan es krim”

Mendengar kata-kata ‘es krim’ Jessica mematung. ‘Darimana ia bisa tau aku makan es krim?’

 

“Tidak usah memberi tatapan horor seperti itu, aku tau karena kau selalu melanggar perintahku yang satu itu” Kai menjawab pertanyaan Jessica. Dan namja itu sedikit terkekeh melihat tatapan lucu dari yeoja tersebut.

“Busted. Jess~ kita ketahuan” Tiffany terkikik pelan.

 

“Ah biarkan saja. Toh aku masih bisa memakan es kr- Kai!”

Jessica berteriak sekencang mungkin saat Kai mengangkat dirinya secara paksa dari kolam, karena dirinya kebetulan sedang berada di tepi.

Namja yang membuatnya kesal itu pun hanya berlagak cuek dan sibuk mengulurkan tangan membantu Tiffany keluar dari kolam.

“What?”

 

Jessica semakin kesal mendengarkan nada itu, ditambah dengan ekspresi datar dari Kai.

“Akh.. sudahlah” Jessica melempar handuk ditangannya beralih ke wajah Kai. Namun dengan cepat Kai menghindar dengan kekuatan Deftnya. Membuat Tiffany tertawa melihat scene diantara Viero dan Deft yang tidak pernah akur ini.

 

Kai dan Tiffany memandang punggung Jessica yang hilang saat masuk ke dalam rumah.

“Bagaimana Tiff? Apakah Jessica semakin ceria?”

“Ya begitulah Kai. Setidaknya dengan perlahan Jessica bisa melupakan Luhan. Dan keadaan itu lebih baik sejak Luhan lulus, jadi Jessica tidak perlu lagi menghindar dan tidak perlu melihat wajah Luhan”

Kai merasakan lega di dalam hatinya. Entah kenapa setiap ia melihat Jessica menangis karena Luhan hatinya merasa sesak. Dan sekarang rasa sesak itu menghilang seiring menghilangnya Luhan dari kehidupan mereka.

 

“Terima kasih sudah menjaga Jessica untukku Tiff, kau memang Fillie yang paling hebat di dunia Seiz”

“Ck..” Tiffany melempar handuk yang ia pegang ke wajah Kai –sama seperti yang Jessica lakukan tadi.

 

~~

 

Kai, Jessica dan Tiffany duduk di gazebo taman belakang bersama. Mereka sedang memainkan permainan anak kecil, yaitu monopoli.

Hah, memang diumur mereka yang sudah termasuk kategori orang dewasa itu tidak membatasi mereka untuk gengsi bermain permainan tersebut.

“Yah! Kai kau curang”

 

Kai menaikkan sebelah alisnya menanggapi ucapan Jessica. “Aku curang? Hei Jessica Jung, aku mendapat lima langkah, dan artinya aku berhenti di negara Tokyo”

“Tidak. Kau harusnya berhenti di penjara”

“Tch. Kau ini, senang sekali kalau aku sengsara” wajah Kai menjadi cemberut karena Jessica menyadari kalau ia menambah satu langkah untuk menghindari ‘penjara’ dalam permainan monopoli tersebut.

“Sesuai dengan hukuman yang kita sepakati tadi. Yang masuk penjara di ronde kedua ini harus menuruti keinginan pemain lainnya” Tiffany tersenyum puas, sebab sebentar lagi ia memiliki kesempatan untuk menyentuh keinginannya.

Kai memutar bola matanya malas, “Dasar wanita..”

“Aish, dasar pria” balas Jessica.

 

Tiffany memandang kedua manusia yang memancarkan pandangan berapi-api satu sama lain lalu menghela nafas.

“Sudahlah, kalian berdua ini seperti kucing dan tikus saja. Keinginanku.. emm, ah iya! Tas limited edition dari Louis Vuitton. Kau masih ingat? Tas yang dipajang di etalase toko yang kita kunjungi kemarin”

Sekarang malah Tiffany lah yang memancarkan pandangan berapi-api, membuat Kai maupun Jessica menatap yeoja itu dengan sebelah alis dinaikan.

 

“Pink.. again?” Jessica hafal betul dengan hal yang menarik Tiffany dari tas itu, warnyanya.

“Astaga.. Apa kau tidak bisa membelinya sendiri?” eluh Kai dengan wajah memelasnya karena mengingat harga dari tas tersebut.

Dengan sadisnya Tiffany menggeleng, “A- a- a- Aku tidak mau tau~”

“Lalu apa keinginanmu Jessica Jung?”

 

Jessica tampak berpikir. Tidak tau kenapa otaknya sedang macet, padahal sebelum permainan dimulai dia sudah menyiapkan hal-hal apa saja yang ia inginkan. Tapi disaat ia masih sibuk berpikir, perutnya berbunyi –menandakan kalau ia butuh asupan makanan yang banyak.

“Umm, aku ingin Pizza!”

“What Jessie?! Pizza?!” Tiffany menatap tidak percaya. Kesempatan emas.. membuat Kai sengsara dengan keinginan mereka bukankah kesempatan emas? Namun Jessica malah memberikan keringanan bagi namja itu.

 

“Fiuh.. syukurlah”

“Kau bodoh Jessie~” Tiffany ingin sekali menjitak kepala yeoja yang dengan polos memberi ekspresi tanpa dosa kepadanya. Jessica beralih menatap Kai yang sibuk memberesi mainan mereka.

“Kai aku ingin Pizza itu sekarang”

“Hah.. Baiklah”

 

Tangan Kai yang baru saja meraih ponselnya untuk memesan Pizza itu terhenti oleh tangan Jessica.

“Aku lebih menikmati Pizza itu kalau kau membeli langsung dari restorannya”

 

Kai mendelik mendengarnya. Ini sudah pukul 22.15, ia tidak yakin apakah restoran yang memiliki menu unggulan Pizza itu masih buka atau tidak.

“Bilang saja kau ingin menyiksaku Nona Jung”

“Aku tidak peduli. Hush hush cepat pergi sana”

 

~~

 

“Apakah persiapan sudah selesai?”

“Sebentar lagi..”

Envoye yang menjadi utusan Renous sibuk mempersiapkan alat-alat keperluan yang mereka gunakan sebagai pemindah darah Viero.

Seorang Serenity bernama Jung Yunho menatap kesibukan itu dengan tatapan lirih. Dia tidak menginginkan semua persiapan ini selesai, atau bahkan rencana ini berjalan mulus.

 

“Sudahlah Yunho.. Ini demi kebaikan Seiz” ucap namja yang sama sepertinya, seorang Serenity. Shim Changmin.

“Tapi tidak dengan adikku”

 

Yunho terlihat menimang-nimang. Apakah ia harus memberi kabar ini kepada adiknya atau tidak. Ponsel digenggamannya menampakan nama kontak ‘Dongsaeng’ di layar.

Tinggal mengetuk pelan tombol berwarna hijau bertuliskan ‘call’ ia bisa mengatakan apa yang mengusik pikirannya.

“Ingin memberi tau Jessica?”

“Entahlah..”

“Lebih baik jangan. Kau tau kan Jessica itu tipe orang yang mudah khawatir”

“Maka dari itu aku tidak ingin membuatnya khawatir” Yunho mengalihkan pandangannya pada layar handphone.

Setelah berpikir dengan keras, akhirnya ia putuskan untuk memberi tau Jessica. Ia tidak mau Jessica kehilangan hal yang yeoja itu jaga. Bahkan Jessica rela mengorbankan cintanya demi menjaga keutuhan Viero.

 

Baru satu detik ia mengetuk tulisan ‘call’ handphone miliknya tiba-tiba lepas dari genggamannya dan beralih ke tangan seseorang.

“Menghubungi adik kesayanganmu eoh?”

 

Mendengar suara tersebut membuat Yunho maupun Changmin menoleh ke asal suara bersamaan. Atasan mereka, Renous, berdiri sekitar lima meter dari jarak mereka berdiri.

Tangan Yunho terkepal kuat melihat kehadiran Renous. Ingin sekali ia memaki namun harus ia tahan kuat-kuat.

“Tapi Tuan Sam, nyawa Jessica bisa terancam dengan pengambilan darah ini. Bisa saja darah yang Envoye ambil tidak sengaja mengenai udara, dan itu akan sia-sia”

“Envoye tidak akan gagal”

“Tuan!”

 

Tuan Sam mengembalikan handphone ke genggaman sang pemilik.

“Patuhi peraturan dunia Seiz. Sebagai Serenity kau tidak boleh menyepelekan peraturan itu. Jangan sekali-kali kau melanggarnya dengan mengatakan rencana ini kepada Viero, atau statusmu sebagai orang penting dunia Seiz akan dicabut”

 

~~

 

Bugh

 

 “Aww..”

 

Jessica mengusap-usap kepalanya yang terbentur dengan meja persegi yang ada di hadapannya.

“Hahahaha.. Jessie kebiasaanmu itu muncul lagi”

“Huh, salahkan Kai yang lama sekali. Aku sangat mengantuk~” Jessica menguap lebar sambil mengacak-acak rambutnya asal –salah satu kebiasaannya kalau bosan.

 

Angin berhembus menggoda Jessica untuk memejamkan mata dan terlelap, tapi bagi Tiffany angin itu membuatnya tidak tahan untuk pergi ke kamar mandi.

“Jessie.. aku ingin ke kamar mandi dulu. Tidak tahan..” Tiffany langsung pergi seenaknya tanpa memberi kesempatan Jessica membalas kata-katanya. Jessica mengerucutkan bibirnya kesal melihatnya.

Ia menekuk kedua lengannya lalu ia letakkan di atas meja sebagai ‘bantal’ untuk tidurnya. Walaupun perut lapar mengganggu dirinya, rasa kantuk berhasil mengalahkan rasa lapar tersebut. Ya, bukankah seorang Jessica Jung lebih memilih tidur daripada makan?

 

Jessica akan memasuki mimpi sebelum seseorang menyentuh pundaknya dan memaksanya bangun. Namun reaksi Jessica malah menepis tangan itu dan mengubah letak kepalanya.

“Sudahlah Kai, aku tau kau suka sekali menggangguku tapi beri aku waktu 10 menit untuk tidur sebentar”

“Maaf Jessica. Tapi kau tidak punya waktu untuk itu”

 

Suara yang tidak Jessica kenal itu sontak membuatnya membuka mata lebar-lebar. Didepannya seseorang tidak dikenal memaksa dirinya masuk ke dalam rumah.

“Siapa kau?! Berani-beraninya kau masuk ke sini!”

“…..”

Tidak ada jawaban untuk pertanyaan Jessica. Jessica memberontak untuk lepas dari cengkeraman kuat namja yang memaksanya.

Orang tersebut membawa paksa Jessica sampai di ruang kerja Yunho.

Jessica pun cepat-cepat melepaskan diri dan menatap satu persatu orang yang di dalam ruangan. Ada dua namja dan tiga yeoja. Dan semua orang itu tidak ada yang Jessica kenali.

 

“Apa mau kalian?!”

Satu yeoja maju satu langkah kedepan, “Melakukan tugas kami demi kepentingan Seiz”

“Tugas?”

“Ya, mengambil darah Viero..”

 

Jessica membulatkan matanya. Darah Viero? Itu artinya…

 

Tiba-tiba dua namja mengunci pergerakan Jessica dengan menahan lengan yeoja itu. Tentu saja semakin meningkatkan rasa kewaspadaan dan khawatir Jessica.

Ditambah dengan yeoja yang sempat berbincang dengannya mendekati dirinya sambil membawa alat yang ia membuat tanda tanya.

Tanda tanya itu terhapus setelah alat tersebut diarahkan ke lehernya. Jessica sempat mendengar kata-kata dengan bahasa aneh –atau bisa ia sebut mantra dari bibir yeoja dihadapannya.

 

Meronta-ronta dan terus saja seperti itu yang bisa Jessica lakukan. Keringat dingin meluncur bebas dari keningnya ketika merasakan sentuhan dingin di lehernya.

Alat tersebut siap akan menembus kulit lehernya. Dan Jessica tidak menginginkan hal tersebut terjadi. Dia butuh bantuan saat ini.. hanya ada satu nama yang muncul di pikirannya.

 

“… Kai!!!”

 

~~

 

Kai masuk kedalam rumah sambil menenteng kantong plastik yang di dalamnya terdapat pesanan Jessica, Pizza.

Akhirnya Kai bisa pulang kerumah dengan makanan itu. Kalau ia pulang tanpa membawa Pizza pasti Jessica sudah mengomel tidak jelas dihadapannya, dan ia harus tahan omelan itu sampai dua hari kedepan.

Ada untungnya Jessica memintanya untuk membelikan Pizza, karena Kai sendiri sebenarnya juga merasa lapar. Jadi mungkin malam ini mereka bertiga merayakan pesta Pizza dadakan.

 

Kedua alis Kai bertaut melihat para pelayan di rumah ini berkumpul di depan pintu utama. Padahal biasanya di atas pukul sepuluh malam mereka semua sudah menempati tempat tidur masing-masing.

Ia semakin penasaran melihat raut wajah Bibi Lee yang terlihat gelisah. Kai pun menghampiri perempuan paruh baya tersebut.

“Emm.. Bibi Lee, ada apa ini?”

 

Bibi Lee tersentak melihat kedatangan Kai. “Ah.. i- itu Kai..”

Kai semakin penasaran dengan apa yang akan dikatakan Bibi Lee. “Apa Bibi Lee?”

“Envoye… Mereka da–”

 

Mendengar nama makhluk yang tidak asing ditelinganya itu Kai langsung berlari meninggalkan Bibi Lee yang bahkan belum selesai menjelaskan perkataannya. Tidak butuh penjelasan panjang lebar tentang hal itu Kai sudah tau apa yang terjadi.

“Jessica dimana kau..” gumam Kai.

 

Ia berpindah cepat menggunakan Teleportasi ke Gazebo taman belakang –tempat berkumpul sebelumnya, ke kamar Jessica, lalu tidak sengaja ia menemukan Tiffany yang duduk di meja makan sambil meminum susu.

“Fany-ah, kau tau dimana Jessica?”

“Loh, bukannya dia di gazebo taman belakang?” tanya Tiffany balik.

Kai mendesah keras  mendapatkan ‘jawaban’ yang juga tidak menjawab pertanyaannya.

 

“AAAAAA!!!”

 

Kepala Kai menoleh ke asal suara dengan cepat. Tiffany membulatkan matanya.
Itu teriakan Jessica…

Di ruang kerja Yunho!

 

~~

 

Tiba-tiba dua namja mengunci pergerakan Jessica dengan menahan lengan yeoja itu. Tentu saja semakin meningkatkan rasa kewaspadaan dan khawatir Jessica.

Ditambah dengan yeoja yang sempat berbincang dengannya mendekati dirinya sambil membawa alat yang ia membuat tanda tanya.

Tanda tanya itu terhapus setelah alat tersebut diarahkan ke lehernya. Jessica sempat mendengar kata-kata dengan bahasa aneh –atau bisa ia sebut mantra dari bibir yeoja dihadapannya.

 

Meronta-ronta dan terus saja seperti itu yang bisa Jessica lakukan. Keringat dingin meluncur bebas dari keningnya ketika merasakan sentuhan dingin di lehernya.

Alat tersebut siap akan menembus kulit lehernya. Dan Jessica tidak menginginkan hal tersebut terjadi. Dia butuh bantuan saat ini.. hanya ada satu nama yang muncul di pikirannya.

“… Kai!!!”

 

Sayang, namja yang dipanggil Jessica tidak segera muncul dihadapannya. Namun Jessica sangat sangat butuh kehadiran namja menyebalkan itu.

“Kaaii!! Kai!… Kai!!”

 

Tetap berusaha.. Jessica berusaha menjauhkan yeoja yang akan mengambil darahnya dengan tendangan. Tidak tau  apa yang terjadi tiba-tiba kakinya berhenti dengan sendirinya di udara.

Jessica pun melihat yeoja yang sedari tadi diam sepertinya mengakibatkan semua ini. Dilihatnya iris mata yang berwarna hijau gelap itu menatap tubuhnya tanpa berkedip, jelas bagi Jessica kalau kekuatan dari yeoja itu lah yang membuatnya diam tidak bisa berkutik.

 

“Walaupun tidak bisa bergerak tetap tahan dia, kekuatan Viero mampu mematahkan kekuatanku” ucap yeoja memiliki iris mata hijau gelap tersebut dan mendapat anggukan kedua namja dibelakang Jessica.

Mendengar kata ‘Kekuatan Viero dapat mematahkan kekuataku’ membuat Jessica tersentak. Ucapan Yunho tentang kekuatannya pun terngiang-ngiang di pikirannya.

Kini Jessica ingin membuat yeoja tadi bersimpuh kesakitan dengan kata yang sebentar lagi ia ucapkan.

Pain..”

 

Dan benar saja yeoja itu langsung ambruk sambil memegangi tubuhnya yang tiba-tiba terasa sakit, seperti diremas kuat-kuat.

“Viona!” panggil yeoja yang berdiri dihadapan Jessica. Yeoja itu menoleh cepat ke Viona –yeoja yang memiliki iris mata hijau gelap.

“Ti- tidak ap- apa-apa, ugh. Cepat ambil da- agh darahnya!”

 

Jessica sudah bersiap-siap menelepati yeoja didepannya. Tidak tau kenapa mulutnya yang akan mengucapkan kata ‘Pain’ terhenti.

‘Pasti karena kekuatan yeoja bernama Viona itu!’

Jessica semakin panik melihat alat mengerikan tersebut sudah siap akan menembus kulitnya. Dalam satu gerakan, ujung yang tajam menembus perlahan permukaan kulit Jessica.

 

Tidak dapat Jessica deskripsikan bagaimana rasanya benda tersebut masuk dan mengakibatkan sakit luar biasa tak tertahankan. Kedua matanya terpejam erat.

“AAAAAA!!!”

 

Mau tak mau Jessica berteriak mengekspresikan sakit tersebut dengan teriakan kencang. “Uggh!!!”

Setelah merasa sudah cukup, yeoja tadi mulai menariknya perlahan. Ia pun tersenyum karena sebentar lagi darah istimewa Viero akan memenuhi tabung kecil alat yang ia gunakan mengambil darah Jessica.

 

Tanpa ia ketahui seseorang menarik tubuhnya kebelakang lalu dihempaskan sampai merasakan sakit karena berbenturan dengan dinding.

Begitupula dengan semua orang di dalam ruangan –kecuali Jessica– jatuh kesakitan karena serangan tiba-tiba dari seseorang yang masuk ke ruangan Yunho.

Jessica merasa terbebas dari cengkeraman dua namja tadi dan ia mendengar suara berdebam disusul dengan rintihan. Ia tidak tau apa yang terjadi karena ia sangat takut dan tidak berani membuka matanya. Yang bisa ia lakukan hanyalah diam. Namun tidak sepenuhnya diam, karena setitik air mata muncul membasahi kedua pipinya.

 

Ingin tau apa yang terjadi, Jessica membuka matanya sedikit untuk melihat keadaan. Ia melihat sepasang kaki berdiri dihadapannya, lalu dirinya dibawa entah kemana dengan cepat berpindah tempat. Yang jelas sekarang ia sudah tidak berada satu ruangan dengan orang-orang tidak dikenalinya.

Mengenali kekuatan berpindah cepat itupun Jessica langsung tersenyum lega kalau Kai sudah menyelamatkannya, dan juga menyelamatkan impiannya. Impian menjaga keutuhan Viero..

“Kai.. Gomawo” Jessica mengusap air matanya yang masih saja mengalir. Setidaknya sekarang ia merasa aman dan tenang setelah Kai membawanya pergi.

 

“Aku bukan Kai..”

 

Deg

 

Jantung Jessica terasa ingin berhenti berdetak mendengar kata-kata itu. Ah tidak, melainkan suara itu.

Ia berada di antara yakin dan tidak yakin dengan apa yang ada di benaknya. Dengan takut-takut Jessica menaikkan kepalanya perlahan melihat orang ‘itu’

 

Benar..

 

Luhan dihadapannya. Memandangnya penuh rasa kekhawatiran, dan satu hal lagi yang Jessica tidak mau akui dari tatapan itu.. terselip rasa lain yang jelas terpampang, rasa rindu.

“Lu- Luhan…”

 

Jessica tercekat melihat senyuman yang merespon kata-katanya.

Senyuman yang satu tahun ini ia rindukan..

“Hai Jess, lama tidak berjumpa”

Suara yang ia rindukan memasuki indra pendengarannya..

 

“Ke- kenapa kau muncul? Kenapa kau menyelamatkanku?” pertanyaan amburadul Jessica ucapkan karena otaknya sedang macet untuk mengatur kata yang benar.

“…..”

 

“Kenapa?”

“ …Karena aku tau kalau kau mati-matian menjaga Viero dari dalam dirimu, jadi.. jadi- aku menyelamatkanmu dari mereka dan membawa kau pergi demi keselamatanmu untuk sementara ini” jawab Luhan gugup.

Luhan yang menunduk langsung mendongak melihat wajah Jessica, wajah yang ia rindukan selama ini. Mengakibatkan rasa sesak memenuhi dada Luhan. “Jess-”

 

Bugh

 

Jessica memukul Luhan sekuat yang ia bisa.

 

Grep

 

 

 

Nafas Luhan terhenti.

 

 

Jessica memeluknya..

 

 

 

                            TBC

 

I don’t know ._.
Aku ga tau chapter ini bagaimana hasilnya.. apalagi chapter ini kayanya kepanjangan. Beneran deh readers, kali ini aku butuh komen, saran maupun kritik dari kalian. Pandangan kedepan buat FF ini sedikit blur /?
Untuk next chapt sepertinya agak lama mengingat tugas/ulangan yang banyaak sekali, ga ada waktu senggang buat ngetik, dsb.
Maaf dan maaf kalau FF ini udah mulai/sangat membosankan, soalnya aku lihat dari komen chapter sebelumnya kok sedikit, yah lumayan bikin down sih haha.
Kata-kata di atas bukannya memberi kesan saya ‘mengemis’ komen, tapi memang udah jadi fakta kalau seorang author bisa ‘down’ kalau karyanya tidak mendapat respon.

But, aku masih berterima kasih🙂

37 thoughts on “Telepathy (Chapter 8)

  1. Lanjut! Wah, ngerasa nonton Serial Twilight Saga karya Stephenie Meyer, seolah-olah Jessica jadi si Bella, bimbang milih Edward atau satunya itu, siapa pula lupa *plak*. AKu gak tau kelanjutannya but keep writting!!!

  2. jujur, nae sempat jadi silent readers telepathy. Kenapa? Karena akun wp ku sempat terlupakan email maupun password. Nah, sekarang akun nya udah aku ingat, jadi mau comment deh. Actually, aku udah nunggu lama lho lanjutan ini. Udah ada belum sih thor?
    Ditunggu yah..

  3. Yoi Thor keren bets kkk
    Beneran dh bikin penasaran aaaa
    Oh iy jd tiff Itu bkn manusia fana? Dia fillie? Fillie Itu ap y? Ap ud prnh d jelasin d intro tp ak lupa?
    Jgn berkecil hati Thor! Mngkn ad readers yg blm sempet bc ato ga tau kl ud d update ap gmn hehe
    Fighting n lanjut terus yak himnaeyo~

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s