[Freelance] Story of EXOTaeng : Crush (Chapter 9)

crush 2

Author : RYN

Length : multichapter

Rating : PG 17 (sewaktu-waktu akan berubah)

Main cast :

@ Taeyeon SNSD

@ Tao EXO M

Other cast : silahkan temukan sendiri

Genre : drama,romance,fluff

 

Don’t plagiat, don’t copy paste without my permission!!

SILAHKAN CARI IDE KALIAN SENDIRI TANPA MENCURI IDE ORANG LAIN!

Aku tidak pernah memberikan izin pada siapapun untuk membuat cerita berdasarkan fanfic ini!!!

Typo mohon di maklumi ya ^^

 

***

“aish…!”

Sooyoung yang sedang duduk sambil membaca bukunya, terlonjak kaget. matanya langsung bergerak melirik Taeyeon yang kelihatan frustasi di sampingnya. untungnya professor yang akan memberikan mata kuliah belum datang jadi siapapun bebas mengekspresikan tingkah laku aneh mereka termasuk Taeyeon. Sooyoung mengeryitkan keningnya, heran melihat sikap Taeyeon yang tidak seperti biasanya. Sejak mereka tiba di kampus, Taeyeon sama sekali berbeda. Meski mereka berbeda jurusan dan ruangan, Sooyoung bisa memastikan kalau perasaannya tentang Taeyeon tidak salah. Taeyeon lebih sering kelihatan melamun saat ia berbicara dengannya. gadis itu bahkan terkadang tidak menaruh perhatian pada buku di depannya padahal setahunya, Taeyeon tidak akan mungkin melewatkan satupun penjelasan professor atau mengabaikan buku yang berada di hadapannya. tidak terhitung berapa kali ia melihat Taeyeon membuka tiap halaman buku dengan ekspresi tanpa minat yang sama sekali TIDAK melambangkan sifat Taeyeon, dan terakhir, suara frustasi yang keluar dari mulutnya. awalnya, Sooyoung berniat membiarkannya tapi karena frekuensinya menjadi sering, membuatnya tidak tahan.

“ada apa lagi kali ini? kau bertengkar dengan Tao?”

Sooyoung akhirnya memulai interogasinya, tapi karena pertanyaannya di selingi dengan candaan, dia langsung mendapat tatapan tajam dari Taeyeon. Sooyoung tidak tahu kalau sebenarnya Taeyeon hanya menutupi jantungnya yang berdebar-debar setelah mendengar nama itu. yah, hanya dengan mendengar nama Tao, Taeyeon harus bertarung dengan semburat pink yang memaksa keluar dari kedua pipinya. bagaimana nanti jika Sooyoung melihatnya, sungguh dia tidak ingin mengetahuinya plus membayangkannya.

“hei aku hanya bertanya okay” komentar Sooyoung membela diri.  “sebaiknya kau bercermin sekarang. wajahmu yang seperti zombie menghapus baby facemu”

“berhentilah mengomentari hal-hal yang tidak penting Soo..aku sedang tidak mood hari ini” dengan itu Taeyeon menempelkan pipinya dengan malas di atas meja. Benar-benar tak bersemangat.

“aigoo..lihatlah dirimu. Sifat sensimu tidak berubah”

“Soo..”

“aku mengerti. aku mengerti” Sooyoung meletakkan buku di tangannya lalu memutar badannya hingga menghadap lurus pada Taeyeon. “ceritakan padaku apa yang terjadi”

Taeyeon memicingkan matanya. “maksudmu?”

Sooyoung merotasikan bola matanya. “oh ayolah. Aku tidak bodoh. Aku tahu sesuatu sedang mengganggumu nona Kim dan biar kutebak..” sebelah tangannya mulai mengetuk-etuk dagunya seraya berpikir sejenak, “hm..pasti Tao kan?”

Kedua pipi Taeyeon otomatis memerah. Tebakan Sooyoung tepat sasaran. Seharian..ah tidak, sejak kemarin pikirannya selalu di penuhi dengan Tao. berapa kuatpun ia mencoba untuk melupakannya, tetap saja sulit. Sepertinya bayang-bayang Tao melekat kuat dalam otaknya. Sooyoung memperhatikannya dengan curiga. Gadis berpostur tinggi itu menyadari perubahan Taeyeon begitu ia menyebut nama Tao.

“well, sepertinya tebakanku benar”

Taeyeon masih bungkam. Diam-diam dia mengakui kecerdasan sahabatnya yang berhasil membaca pikirannya sekaligus menemukan sebuah bahan gosip yang baru. Waw, sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Terbukti, dengan wajah bersemangat Sooyoung ditambah dengan senyum puasnya membuatnya ingin melarikan diri saja dari tempat itu.

“oh ayolah..ceritakan padaku~” Sooyoung tidak tahan di acuhkan. Melihat kediaman Taeyeon membuatnya semakin penasaran dengan apa yang terjadi antara sahabatnya itu dengan Tao.

Taeyeon menggigit bibirnya, hatinya mulai bimbang. Apakah dia harus menceritakan kejadian kemarin pada Sooyoung atau tidak. Dia menatap lurus sahabatnya yang sudah memasang tampang penuh harap padanya. helaan nafas pelan keluar dari mulutnya, lagi-lagi kebiasaannya keluar.

“Soo..apa yang harus kulakukan?” Taeyeon memulai dengan kalimat pertanyaan yang terkesan ragu. Sooyoung yang mendengarkan dengan serius hanya mengerutkan keningnya-tak mengerti. “apa yang harus kulakukan pada anak itu?” kali ini ekspresi serius Sooyoung lambat-laun berubah menjadi ekspresi kaget. tapi Taeyeon tak peduli. sudah terlanjur jika dia menghentikan pembicaraan ini sekarang.

“aku sepertinya..menjadi bukan diriku setiap bersama anak itu. aku tidak bisa mengendalikan diriku, aku…” suara Taeyeon perlahan mengecil seiring dengan menggangtungnya kalimatnya. mukanya berpaling, tak ingin Sooyoung melihatnya dalam kondisi menyedihkan seperti ini.

Ruangan yang mereka tempati hanya terisi oleh beberapa mahasiswa, tak ada yang begitu menaruh perhatian pada pembicaraan mereka berdua. ada beberapa mahasiswa lain seperti Sooyoung yang hanya duduk menumpang di ruangan itu sekedar berbincang-bincang dengan temannya.

Pandangan Sooyoung berubah teduh. Dia tak menyangka Tao mampu membuat Taeyeon segelisah ini. tak perlu Taeyeon menjelaskan segalanya mendetail, melihat ekspresi Taeyeon sekarang sudah cukup jelas memberitahunya. Taeyeon pelan-pelan telah jatuh cinta pada Tao. pria yang menurutnya sendiri tidak bisa di kencaninya hanya karena dia lebih muda darinya. pertanyaannya sekarang, apakah Taeyeon mampu mengakui perasaannya?

“jadi apa yang ingin kau lakukan sekarang?” pertanyaan Sooyoung membuat Taeyeon menoleh. ekspresi heran nampak di wajahnya kala mendapati sahabatnya itu tersenyum lebar padanya. “tidak peduli apa yang kau katakan padaku, yang terpenting adalah perasaanmu saat ini dan apa yang ingin kau lakukan”

Taeyeon menatap Sooyoung dengan bingung. “aku tidak mengerti Soo”

“kau mulai menyukainya Taeyeon” Sooyoung mengakhirinya dengan kalimat simpel yang membuat Taeyeon terkejut.

Menyukai Tao? bagaimana itu bisa terjadi? Taeyeon tak habis pikir kenapa Sooyoung langsung berpikiran seperti itu. “i-itu tidak mungkin!” bantahnya cepat. “mana mungkin aku menyukai anak sekolahan sepertinya. aku sudah memberitahumu kalau aku tidak menyukai pria yang lebih muda!” Taeyeon tersentak kaget dengan kalimatnya sendiri. apa yang di ucapkannya berbeda dengan apa yang dirasakannya.

Sooyoung menggeleng-gelengkan kepalanya. Taeyeon jelas-jelas menyukai Tao tapi masih berusaha tidak mengakuinya. “akuilah Taeyeon..kau menyukainya” ujarnya dengan tenang. “sejak Tao masuk ke dalam kehidupanmu, kau mulai berubah”

Taeyeon membuka mulutnya ingin bicara tapi tidak ada suara yang keluar. Dia menatap Sooyoung tanpa berkedip. Bagaimana sahabatnya itu lebih tahu dirinya dibandingkan dirinya sendiri?

“oh ayolah..memangnya kenapa kalau dia lebih muda darimu? Memangnya kenapa dia anak sekolahan? Kau menyukainya, dia menyukaimu. Kenapa kau semakin mempersulit dirimu sendiri?”

“itu tidak mungkin” Taeyeon berbisik pelan. dia masih menyangkalnya tapi ada nada ketidak yakinan di dalamnya. “aku…tidak tahu..” gumamnya lirih. Kedua matanya melirik buku di atas meja dan sedetik kemudian, buku itu telah hilang ke dalam tasnya.

“kau mau kemana?” Sooyoung bertanya saat Taeyeon beranjak dari kursinya. “kau ingin membolos lagi?” tanyanya lagi.

Taeyeon tersenyum lemah. “aku sudah tidak mood mengikuti kuliah”

“tapi..”

“aku harus pergi Soo. Bye” Taeyeon berlalu meninggalkan Sooyoung yang masih diam di tempatnya. Sosoknya perlahan-lahan menghilang di balik pintu di iringi pandangan lembut dari sahabatnya.

Sooyoung mengerti, Taeyeon pasti membutuhkan waktu untuk dirinya. tapi sampai kapan Taeyeon akan menghindar? Sampai kapan dia bersikap seperti ini? menyangkal perasaannya sendiri hanya karena takut. satu-satunya alasan Taeyeon adalah karena Go. Sooyoung tersenyum tipis, dia merasa kasihan pada Taeyeon. Taeyeon masih belum ingin membuka hatinya untuk pria manapun mungkin karena pria itu. rasa sakit yang dirasakannya beberapa tahun lalu masih terasa, Sooyoung bisa melihat bagaimana Taeyeon takut memulai suatu hubungan yang baru apalagi dengan pria yang lebih muda darinya. Taeyeon kehilangan kepercayaan terhadap diri dan orang lain hingga membuatnya sulit membuka hatinya.

– – –

Toko roti BREAD LOVE sedang ramai hari ini. banyaknya pelanggan yang datang membuat seluruh pegawai toko roti itu sibuk.

“ini noona” Do meletakkan secangkir cappucino hangat di atas meja. Taeyeon tersenyum berterima kasih sebelum meminumnya.

“sepertinya hari ini lebih ramai” Taeyeon berkomentar seraya meletakkan cangkirnya kembali. Do hanya mengangguk menanggapinya. Mereka beralih memandangi tiap pelanggan yang datang dan pergi.

“katakan noona. Apa yang membuatmu berada disini di jam begini? Bukankah ini masih jam kuliah?” Do kini fokus pada Taeyeon.

“kenapa? kau tidak suka aku datang kemari?” Taeyeon balik bertanya. Alisnya terangkat sambil menatap Do dengan curiga.

Do sontak membulatkan matanya dan membuat Taeyeon hampir tertawa karena perubahan ekspresinya.

“t-tidak s-seperti itu noona..a-aku hanya bertanya. Aku senang noona sering datang kemari..sungguh! aku hanya ingin bertanya” bantah Do cepat.

*Do, kau tidak tahu kan seberapa cutenya kau sekarang?* Taeyeon menahan tawa gelinya. Ekspresi panik Do terlihat sangat lucu terutama matanya yang membulat lebar itu.

“aigoo..kyeopta..Dowl lucu sekali~” Taeyeon menggodanya.

Wajah Do otomatis langsung berubah cemberut mendengar nama panggilan itu. “noona..namaku Do bukan Dowl” protesnya.

Taeyeon menggeleng. “sekali Dowl tetap Dowl. Hidup Dowl!” serunya keras membuat Do harus menutup wajahnya karena malu. hampir seluruh pelanggan kini melihat ke arah mereka.

“noona please..jangan mempermalukanku..” Do memelas. Taeyeon manggut-manggut mengerti tapi hanya beberapa detik, ia kembali tertawa.

Do yang tadinya sedikit kesal karena di panggil Dowl, lambat laun tersenyum. dia senang melihat Taeyeon tertawa karena itu adalah momen favoritnya. Meski Taeyeon sering sekali menggodanya, dia tetap menyukainya dan tidak ada alasan untuk marah padanya.

Tiba-tiba ponsel Taeyeon bergetar. masih dengan sisa-sisa tawanya, Taeyeon mengambil ponsel dari dalam sakunya.

“iya Jungjin ada apa?” Taeyeon menjawab telpon dari Jungjin.

Do mengerutkan keningnya, selain dia tidak tahu siapa Jungjin, dia juga tidak suka padanya karena sudah mengganggu waktunya bersama Taeyeon.

“kau masih ingat dengan halmoni yang tinggal di rumah kebun bunga?”

Taeyeon terdiam sejenak mengingat halmoni yang dimaksud Jungjin. Senyum segera terukir di bibirnya. “ah ya..aku mengingatnya. Kita sudah lama tidak menemuinya”

“untuk itulah aku menelponmu baby~paman memberitahuku kalau halmoni masuk rumah sakit”

“benarkah?! Bagaimana? Kapan?” Taeyeon segera menghujaninya dengan rentetan pertanyaannya. Do yang berada di sampingnya menjadi penasaran apa yang di bicarakan oleh Taeyeon dan pria di telponnya.

Diseberang telpon, Jungjin tersenyum. Taeyeon memang sangat dekat dengan halmoni angkatnya, tidak heran dia bereaksi seperti itu.

“aku akan kesana selesai latihan, kau mau ikut denganku? kita bisa mengajak Sooyoung”

“aku akan ikut denganmu” tanpa pikir panjang, Taeyeon langsung menjawabnya.

Jungjin sangat gembira mendengarnya. membayangkan perjalanannya nanti bersama Taeyeon tidak akan membuatnya bosan. Walaupun Sooyoung ikut bersama mereka, itu tidak jadi masalah selama Taeyeon berada bersamanya.

“biar aku yang akan menghubungi Sooyoung”

Percakapan pun terputus. Taeyeon menyimpan kembali ponselnya.

“apa yang terjadi noona?” tanya Do begitu melihat wajah Taeyeon yang masih sedih.

“seorang halmoni yang kukenal masuk rumah sakit. Aku harus pergi menjenguknya”

Do mengangguk tanda mengerti. dia ikut prihatin terhadap halmoni yang di bicarakan Taeyeon.

“dia pasti akan baik-baik saja noona”

Taeyeon hanya mengangguk lemah.

Selama beberapa beberapa jam Taeyeon berada di toko Do. Mereka membicarakan banyak hal yang terkadang di selingin dengan candaan. Taeyeon sudah menyuruh Do untuk mengurusi pelanggannya ketimbang berbincang-bincang dengannya disini tapi Do yang cukup keras kepala hanya menjawabnya dengan santai ‘pegawaiku banyak noona, tidak perlu khawatir’

Taeyeon masih mendengarkan cerita Do ketika ponselnya kembali bergetar. hanya sepersekian detik setelah melihat layarnya, raut wajahnya langsung berubah. Do menghentikan ceritanya begitu melihat perubahannya.

Kau terlambat.

 

*Tao* Taeyeon melirik jam tangannya, ini sudah 15 menit lewat dari waktu yang di tetapkan. Waktunya bersama Do membuatnya lupa dengan pekerjaannya sebagai tutor Tao. tapi kemudian dia teringat janjinya dengan Jungjin hari ini. itu berarti, dia tidak perlu bertemu Tao hari ini.

Aku tidak bisa datang. ada urusan penting yang harus ku kerjakan.

 

Taeyeon menghela nafas lega. Pesannya telah terkirim. Tadinya dia memikirkan bagaimana cara menghindari Tao hari ini tapi rupanya, keadaan berpihak padanya.

“noona”

Taeyeon tersentak dari lamunannya. “huh? Apa?”

“noona tidak lupa kan kalau aku masih berada disini?” Do menaikkan sebelah alisnya.

“tentu saja tidak” Taeyeon tersenyum kaku. “aku hanya sedang…memikirkan sesuatu” ucapnya.

“tentang halmoni itu?”

“huh? Oh..iya.. ini tentang halmoni” dalam hati Taeyeon meminta maaf karena telah berbohong pada Do.

Do tersenyum. “jangan khawatir noona. Aku yakin keluarganya pasti sudah mengurusnya”

Taeyeon mengangguk dengan senyum sedikit di paksakan. Jika boleh jujur, dia memikirkan Tao. sampai saat ini pesannya tidak di balas. *bukankah ini bagus? Seharusnya kau senang Taeyeon karena kau tidak akan bertemu dengannya hari ini* bahu Taeyeon menurun, tetap saja perasaannya tidak enak. *aish..kenapa aku seperti ini lagi?!* pekiknya dalam hati.

– – –

Empat pasang baju kini telah berada dalam tas Taeyeon. Tasnya tidak begitu kecil, tidak pula begitu besar, cukup untuk memuat beberapa lembar pakaian. Perjalanan mereka menuju tempat halmoni cukup panjang dan mereka mungkin akan tinggal selama beberapa hari disana. karena letaknya yang jauh dari kota, tidak mungkin mereka harus pulang pergi dalam waktu yang singkat.

Taeyeon menarik nafas dalam-dalam lalu duduk di tepi ranjangnya. Ponselnya yang berada di atas meja bergetar menandakan sebuah pesan baru saja masuk.

Kau sudah siap? ^^

 

Senyumnya segera mengembang. Sooyoung pasti sudah siap sekarang. tanpa pikir panjang Taeyeon langsung membalas pesannya.

Baru saja selesai.

Kau sudah memberitahu Siwon kalau kita akan pergi?

 

Hanya selang beberapa detik, balasan pesannya pun muncul.

Yuppy..

Oh ya, aku punya kejutan untukmu.

 

Taeyeon mengeryitkan kening. *kejutan?* di hari yang tidak special seperti ini, Sooyoung mempunyai kejutan untuknya? Penasaran, Taeyeon membalasnya.

Kejutan apa?

Jangan membuat orang penasaran.

Kau tahu aku tidak menyukai setiap kejutanmu. -_-

 

Taeyeon sangat yakin kalau saat ini Sooyoung pasti cemberut setelah membaca pesannya. Dia tertawa geli membayangkan wajah kesal Sooyoung sekarang.

Ish kau ini..

Aku janji kejutan kali ini pasti membuatmu bahagia.

 

Taeyeon semakin penasaran. Dia menggerutu karena Sooyoung selalu bisa membuatnya penasaran setengah mati.

Berhenti bercanda.

kau membuatku semakin penasaran.

 

Taeyeon tidak sabar menanti balasannya. Saat ponselnya bergetar lagi, dia langsung buru-buru membacanya.

Rahasia~~~

Aku tidak bercanda.

Aku yakin kau tidak akan menyesalinya dan malah berterima kasih padaku.

Sampai ketemu di stasiun.

Sst..Siwon oppa sudah menungguku. Bye~

 

Taeyeon merutuk. Dia benci di buat penasaran. Sooyoung sudah seringkali seperti ini dan hasilnya? Jangan ditanya karena itu tidak akan sesuai dengan bayangannya. Tapi untuk yang satu ini, dia benar-benar ingin tahu.

Tidak berapa lama setelahnya, ponselnya berdering. *Jungjin*

“kau sudah siap baby~?” Jungjin bersenandung di seberang telponnya. Dia kedengaran lebih bersemangat.

“yah begitulah”

“hei ada apa dengan suara malas itu?”

“ini karena Sooyoung!” Taeyeon berseru membuat Jungjin sedikit menjauhkan handphone dari telinganya. “dia sudah membuatku penasaran”

Jungjin mengejap lalu terkekeh pelan. “kau kesal hanya karena dia membuatmu penasaran?”

“yaa!”

“alright.alright..kau ingin ku jemput atau..”

Taeyeon menggeleng cepat. “kita bertemu di stasiun saja. Sooyoung mungkin sudah berada disana”

“baiklah kalau begitu..mm, Taeyeon..” suara Jungjin mendadak berubah jadi lebih pelan. “aku senang kau mau ikut bersamaku”

Taeyeon sedikit heran mendengarnya, ini hanya perasaannya saja atau memang Jungjin sedikit berbeda? Bahkan cara memanggilnya pun, tidak lagi menyebutnya dengan sebutan baby.

“aku mengenal halmoni begitupun Sooyoung jadi wajar kalau ak..maksudku kami ikut bersamamu” ujarnya.

Tawa Jungjin terdengar. Jika orang lain melihat ekspresinya sekarang, orang itu pasti akan berpikir kalau Jungjin memaksakan diri tertawa. Jungjin hanya beruntung Taeyeon tidak melihat raut wajahnya sekarang usai mendengar kalimat itu. dia sedikit kecewa karena Taeyeon ternyata tidak berpikiran yang sama dengannya.

“Jungjin sebaiknya aku pergi sekarang”

Jungjin tersentak dan menjawab. “aku akan menutup telponnya sekarang. hati-hati di jalan baby~”

Taeyeon hanya tertawa kecil. kebiasaan Jungjin akhirnya kembali. Setelah menutup telponnya, Taeyeon beranjak dari tempat tidurnya kemudian berjalan meraih tasnya. Setelah memastikan tak ada barang yang terlupa, Taeyeon keluar dari kamarnya. dia tak lupa menguncinya.

– – –

Taeyeon mempercepat langkah kakinya. matanya sibuk melirik kiri kanan siapa tahu saja Jungjin atau Sooyoung sudah berdiri disana. *aku pikir mereka sudah berada disini* gerutunya. Baik Jungjin maupun Sooyoung, kedua sahabatnya itu sama sekali tak kelihatan di antara banyaknya orang yang lalu lalang padahal tubuh keduanya sangat tinggi, tapi kelihatannya dia sendiri yang kesusahan mencari mereka.

Taeyeon berhenti tepat di pinggir dekat tiang. Kereta api yang akan mereka tumpangi masih belum datang. di samping kiri kanannya juga banyak orang yang berdiri sama seperti dirinya, sepertinya mereka juga menunggu kereta api tersebut. Taeyeon mulai kesal, sejak tadi dia menghubungi handphone Jungjin dan Sooyoung tapi anehnya keduanya tidak mengangkatnya. Dengan merutuk tidak jelas, dia menundukkan kepalanya sembari kakinya bergerak menggambar berbagai bentuk dilantai stasiun dengan malas. Dia tidak suka menunggu dan dia tidak suka jika orang tidak mengangkat telponnya. *awas saja nanti*

Sedang sibuk dengan aktivitasnya, Taeyeon merasakan seseorang telah berdiri di sampingnya. dia menelusuri sosoknya mulai dari sepatu kemudian perlahan naik hingga bertatapan dengan mata si pemiliknya. Tubuhnya seketika menjadi kaku, seluruh sistem syarafnya terhenti sejenak ketika mengetahui siapa orang yang berdiri di hadapannya.

*apa yang ia lakukan disini?!* susah payah Taeyeon menelan salivanya, entah kenapa tenggorokannya tiba-tiba mengering. Sebelum sempat ia mengeluarkan suaranya, sebuah suara terdengar dari belakang orang itu.

“Taeyeon!” Sooyoung menyerbu ke arahnya dengan senyum lebar. Jungjin yang juga datang bersamanya terkejut ketika pertama kali melihat orang di depannya.

Taeyeon berpaling pada mereka berdua. melihat wajah Sooyoung yang cerah ceria, dia langsung tahu ada yang tidak beres. Mendadak dia teringat kejutan yang dimaksud Sooyoung.

“Soo.. jangan bilang..kalau..” Taeyeon tidak melanjutkan kalimatnya, pandangannya berubah horor sementara mulutnya melongo, Sooyoung makin tersenyum lebar.

“kejutan!”

“kenapa kau membawanya kemari?” desis Taeyeon. suaranya yang sengaja di pelankan tetap terdengar oleh Tao.

“sudah kubilang kau pasti tidak akan menyesalinya”

*sekarang aku menyesal!* Taeyeon ingin sekali berteriak di depan sahabatnya itu. tapi apa boleh buat, Sooyoung benar-benar berlebihan kali ini. padahal ini adalah satu-satunya kesempatan menghindar dari Tao tapi Sooyoung merusak segalanya.

*seharusnya aku tahu apa yang direncanakannya!* Taeyeon merutuk.

Jungjin yang masih terkejut, tidak mengerti maksud Sooyoung. seingatnya dia hanya mengajak Taeyeon dan Sooyoung tapi kenapa sekarang Tao juga ada disini? Diapun berasusmi kalau Sooyoung pasti telah merencanakan semua ini. pertanyaannya sekarang, mungkinkah Sooyoung tahu perasaan Taeyeon terhadap Tao? jika sudah seperti itu, tentu dia tidak akan membiarkan hal itu terjadi.

Tao merasa seseorang sedang memandanginya. Dia menoleh dan mendapati Jungjin masih menatapnya. masih dengan wajah tanpa ekspresinya, samar-samar senyum seringainya nampak di bibirnya dan itu berhasil membuat Jungjin kesal.

*kau hanya murid Taeyeon baby. Aku tidak akan mengalah padamu* Jungjin membatin. Tao yang seolah mengerti arti pandangan tajam Jungjin padanya, tetap memasang emotionless seperti tidak terpengaruh. Dia tidak peduli dengan pendapat pelatihnya itu, yang terpenting baginya adalah bersama Taeyeon.

Tao tidak pernah membayangkan kalau Sooyoung akan menelponnya hanya untuk mengajaknya berlibur bersama Taeyeon. tentu saja dia tidak akan menolak apalagi setelah tahu kalau Jungjin yang notabene adalah pelatihnya juga ikut bersamanya. sekarang tidak ada jalan lain bagi Taeyeon untuk menghindarinya. dengan berpikir seperti itu, Tao menyunggingkan smirknya. Taeyeon yang tidak sengaja melihatnya, memalingkan mukanya bersamaan dengan jantungnya yang mulai berdebar-debar tidak karuan.

*aku membencinya karena membuatku seperti ini* gerutu Taeyeon.

“kau tidak pernah bilang akan mengajaknya” Jungjin tiba-tiba berbicara, melirik Sooyoung sekilas lalu kembali pada Tao.

Sooyoung hanya nyengir. “aku lupa memberitahumu. Kurasa satu orang lagi tidak apa ‘kan?”

Jungjin terdiam sejenak. ingin rasanya dia menolak dan berkata tidak tapi sepertinya dia tidak punya pilihan lain. tidak mungkin dia memberitahu mereka berdua bagaimana dia sangat terganggu dengan kehadiran Tao.

Di lain pihak, Taeyeon justru berharap Jungjin menolaknya. Tapi apa yang di dengarnya membuat harapannya kembali musnah. Jungjin setuju mengikutkan Tao dalam perjalanan mereka.

Bersamaan dengan itu, kereta api yang mereka tunggu akhirnya tiba. Jungjin dan Sooyoung berjalan lebih dulu sementara Tao dan Taeyeon menyusul di belakang mereka. Taeyeon sengaja berjalan di depan Tao karena tidak ingin berbicara dengannya, tapi apa yang terjadi selanjutnya membuatnya terkesiap. Tao menarik lengannya hingga membuatnya sedikit tertarik kebelakang dan berhenti. dia menatap Tao dengan cemas.

“jika kau ingin menghindariku, sebaiknya kau memberitahu wanita itu sebelumnya” suara Tao terdengar mengejeknya. senyuman sinis di wajahnya membuat wajah Taeyeon memanas.

Taeyeon tidak tahu mengapa dia tiba-tiba menjadi kehilangan kata-kata setelahnya. Biasanya dia selalu bisa membalasnya tapi sekarang, dia tak berdaya.

“aku tahu kau sengaja menghindariku” Taeyeon terkejut, tentu saja. bagaimana Tao bisa mengetahuinya? “tapi sepertinya keberuntungan sedang berpihak padaku. jangan coba melarikan diri dariku atau kau akan tahu akibatnya”

Lagi-lagi tatapan intimidasi Tao membuatnya menundukkan kepala. Taeyeon berusaha sebaik mungkin menyembunyikan wajahnya yang perlahan memerah karena ucapan Tao dan di saat bersamaan dia merasakan kedua kakinya melemas juga debaran di dadanya semakin kencang. apa yang dia tangkap dari kalimat itu? apa akibatnya jika dia melarikan diri dari Tao? pertanyaan-pertanyaan itu membuatnya tidak fokus. Tentu dia merasa takut karena ancaman Tao tapi kenapa sebagian dari dirinya menyukai kalimat itu? terdengar special di telinganya.

“kau ingin aku menggendongmu kitty?” bisik Tao. Taeyeon sontak mengangkat kepalanya tapi secepat kilat kembali menunduk karena jarak wajahnya dengan Tao sangat dekat. Saking dekatnya, jika dia menggerakkan wajahnya kesamping, bibir mereka pasti akan bersentuhan.

*bodoh! Dia pasti sudah melihatnya sekarang. wajahku yang merah seperti tomat* Taeyeon membatin. Dia semakin terkejut ketika Tao tiba-tiba menggenggam tangannya. khawatir Jungjin dan Sooyoung melihatnya, Taeyeon segera menepisnya hingga genggaman itu terlepas.

“jangan sembarangan menyentuhku!” tukas Taeyeon lalu berjalan cepat meninggalkan Tao.

Dalam hatinya Taeyeon sedikit merasa bersalah karena telah bersikap kasar pada Tao, tapi dia juga tidak punya pilihan lain. Tao sudah melihat kelemahannya, Taeyeon sungguh tak ingin terlihat malu di depan anak yang lebih muda darinya.

– – –

Perjalanan terbilang sangat sepi. tidak ada satupun diantara mereka berempat yang berbicara setelah kereta api itu berjalan. Sooyoung yang biasanya banyak bicara, kini lebih banyak diam. gadis itu sepertinya lebih menikmati pemandangan dari luar kereta api dibanding berbicara. Taeyeon di satu sisi juga diam. sama halnya seperti Sooyoung, dia ikut memandang keluar jendela. musim semi yang indah terlihat sangat manis dengan banyaknya pohon-pohon yang mulai berbunga. Merasa bosan, Taeyeon menoleh ke samping. Jungjin yang duduk berdampingan dengannya terlihat asyik dengan buku yang dibacanya. Pria itu hanya sekali mengangkat kepalanya untuk tersenyum padanya sebelum kembali membaca buku di tangannya. Taeyeon melirik Tao yang duduk di depan Jungjin. mereka memang duduk saling berhadapan dimana dia dan Jungjin berhadapan dengan Sooyoung dan Tao. lambat laun mata Sooyoung semakin mengecil dan akhirnya tertidur. Taeyeon tersenyum melihatnya.

Pemandangan di luar sana tidak menarik lagi bagi Taeyeon. matanya kini fokus memperhatikan Tao yang sibuk mendengarkan musik di telinganya. Taeyeon tidak tahu kenapa dia menjadi tiba-tiba begitu ingin tahu apa yang di dengar oleh Tao. dari sini, pria itu terlihat keren dengan penampilan cueknya. Taeyeon mengakui, Tao sangat cocok dengan rambut hitamnya. Entahlah, semua itu menurutnya pas dengan penampilannya yang misterius. Tao seperti sebuah patung yang sangat antik dengan apapun yang ia kenakan. Meskipun pria itu selalu memasang wajah datarnya, dia entah mengapa menyukai pribadinya yang seperti itu. unik dan tidak biasa.

Taeyeon menggelengkan kepalanya dengan cepat dan memalingkan mukanya ke arah jendela, dia merasa malu terhadap pikirannya sendiri. seharusnya dia tidak perlu sampai memperhatikan Tao hingga sedetail itu. dia merasa beruntung karena Tao masih memejamkan matanya karena kalau tidak, dia mungkin akan malu jika Tao tahu kalau dia sejak tadi memandanginya. Sekali lagi, Taeyeon melirik Tao. dia menarik nafas lega karena Tao masih tetap dengan posisinya yang sama.

– – –

Setelah menempuh beberapa jam, kereta api pun berhenti di stasiun.

“baby..kita sudah sampai”

Taeyeon membuka kelopak matanya perlahan. Untuk membiasakan kedua matanya dengan sinar, dia mengucek-ucek keduanya.

“kita sudah sampai?” Taeyeon baru sadar kalau sepanjang perjalanan dia tidur di bahu Jungjin.

Jungjin terkekeh pelan. “baru saja. ayo”

Taeyeon mengangguk dan bangkit dari tempat duduknya. Dia melirik sekilas pada Tao dan di luar dugaan, Tao menatapnya dengan tajam. Ini seperti dia sedang marah atau sejenisnya.

*ada apa dengannya?* Taeyeon mengeryitkan keningnya. sebelum dia sempat menerka-nerka apa yang membuat Tao seperti itu padanya, suara Sooyoung mengalihkan perhatiannya.

“ahhh..akhirnya kita sampai juga!” seru Sooyoung bersemangat.

Taeyeon mengangguk setuju. “sudah lama kita tidak kemari” komentarnya.

Jungjin hanya tersenyum. dia membantu mengangkat tas Taeyeon sementara Tao, tanpa mengatakan apapun mengambil tas Sooyoung.

“bukankah dia sangat gentleman?” bisik Sooyoung-menyikut Taeyeon di sampingnya.

“siapa? Jungjin? bukannya dia memang selalu begitu?”

Sooyoung mendecak, “yang kumaksud Tao..Taoooo..”

Taeyeon memutar bola matanya. “so?”

“aish..dasar gadis keras kepala”

“hei apa maksudnya itu?!” Taeyeon berseru kesal. dia sedang tidak mood membahas tentang Tao sekarang.

Sooyoung melipat kedua tangannya sambil menatapnya dengan curiga. “kau tidak ingin memberi penjelasan padaku kenapa kau terlihat sangat membenci Tao? kau bersikap seolah-olah tidak menyukainya”

“aku memang tidak menyukainya!” tegas Taeyeon.

“liar”

Taeyeon berubah kaku. sejak kapan Sooyoung berada di pihak Tao? ah, dia lupa. Sejak pertemuan pertama mereka. Taeyeon bingung dan tidak mengerti akan perasaannya sendiri. terkadang dia suka, terkadang dia benci. Kadang dia menginginkannya, terkadang pula ia menolaknya.

“berhentilah membohongi dirimu sendiri. apa kau tidak bisa melihat kalau anak itu suka padamu? Jika aku jadi kau, Tao sudah lama menjadi kekasihku” Sooyoung sengaja memancingnya.

Taeyeon mencibir. “kau pikir aku peduli. berhentilah berbicara yang tidak-tidak. Kita disini untuk menjenguk halmoni bukan mengikuti skenario dalam otakmu” usai mengucapkannya, dia berjalan meninggalkan Sooyoung yang tercengang di tempatnya.

*gadis itu masih saja keras kepala* gerutunya.

– – –

Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mereka berempat tiba di tujuan. Rumah tempat mereka menginap adalah rumah halmoni. Tidak banyak yang berubah dari rumah itu, masih bergaya kuno tapi tetap terawat dengan baik. setelah memberikan kunci rumah pada Jungjin, penjaga yang menjaga rumah itupun pamit.

Taeyeon tersenyum memandangi foto-foto yang terpampang di dinding. Diantara foto-foto itu ada sebuah foto dimana Jungjin dan dirinya berada, tersenyum manis menatap kamera sambil mengangkat tangan membentuk tanda V. itu beberapa tahun yang lalu tapi rasanya baru kemarin mereka meninggalkan rumah ini.

Halmoni pemilik rumah hanya tinggal sendiri. pekerjaan sehari-harinya adalah mengurus kebun bunga dan mengelola toko bunganya. Beberapa tahun yang lalu, dia, Sooyoung dan Jungjin sering datang kemari menjenguknya atau sekedar mencari udara segar jika bosan dengan suasana kota. Namun sejak dia dan Sooyoung sibuk kuliah, Jungjin berangkat ke cina, mereka bertiga tak pernah lagi kemari.

Taeyeon masih memperhatikan foto-foto yang terpajang di depannya. dia menyadari ada sebuah foto yang terlihat asing baginya. Sebuah foto dimana halmoni bersama seorang pria yang tersenyum manis di sampingnya. Taeyeon menduga, pria itu pastilah cucunya dan jika dilihat dari umurnya, sepertinya dia lebih muda darinya.

“o’!” Sooyoung sudah berada di sampingnya, berseru seperti sedang melihat sesuatu yang aneh pada foto yang di pandanginya. “aku tidak pernah melihat foto ini sebelumnya”

Taeyeon hanya tersenyum. “tentu saja kau tidak pernah melihatnya. kita kan memang sudah lama tidak kemari”

Sooyoung manggut-manggut. Dia memperhatikan foto itu lekat-lekat, matanya perlahan menyipit, keningnya berkerut. “mm..wajahnya terlihat familiar..tapi..aku lupa dimana pernah bertemu dengannya”

“kau pernah bertemu dengannya?”

“bukan bertemu tapi pernah melihatnya di suatu tempat” Sooyoung mengoreksinya.

“mungkin kau hanya salah lihat”

“entahlah..aku hanya merasa pernah melihatnya”

Taeyeon tidak lagi mempedulikan ucapan Sooyoung. matanya kini sibuk mencari keberadaan Tao dan Jungjin. karena tidak juga menemukan mereka, akhirnya dia bertanya pada Sooyoung.

“kemana Tao dan Jungjin?”

Sooyoung menoleh dan tersenyum lebar. “kenapa? kau mulai merindukan anak itu? kupikir kau tidak akan mencarinya.”

“stop it. Aku hanya bertanya okay?” Taeyeon mengerutkan mukanya dan berjalan masuk ke kamarnya. sepertinya dia harus menulis catatan untuk mengingatkan dirinya tidak bertanya tentang Tao lagi pada Sooyoung.

“mereka tadi keluar sebentar!”

Dari luar Taeyeon bisa mendengar suara Sooyoung. dengan malas, dia melangkah ke depan jendela. Taeyeon ingin memuaskan dirinya menghirup udara segar dari tempat itu tapi matanya mendadak terpaku pada dua figur yang tadi di carinya. Jungjin dan Tao.

*apa yang mereka bicarakan? Kelihatan serius sekali* pikir Taeyeon. kedua orang itu terlihat sedang membicarakan sesuatu. tepatnya, Jungjin yang berbicara sementara Tao hanya diam memandanginya. Tao menangkap tatapannya membuat Taeyeon secepat kilat bersembunyi di balik korden. Dia tidak tahu kenapa dia harus bersembunyi dan tidak ingin Tao mengetahui keberadaannya.

Tao menaikkan sebelah alisnya. Matanya masih menatap ke arah kamar Taeyeon. *bodoh* sudah jelas Taeyeon ketahuan olehnya tapi gadis itu masih saja bersembunyi. Apa gadis itu berpikir dia sebodoh itu hingga tidak mengetahui dimana kamar yang ia tempati?

Jungjin mengikuti arah pandangan Tao dan dia menjadi kesal karena tahu kamar yang dilihat Tao adalah kamar Taeyeon.

“apa kau selalu seperti ini? mengabaikan pertanyaan orang yang lebih tua darimu?”

Tao akhirnya menoleh. wajahnya yang emotionless semakin membuat Jungjin berusaha menahan emosinya. Jungjin sebenarnya tidak ingin membuat masalah dengan anak itu, tapi jika dia terus-terusan mengabaikannya dengan bersikap angkuh tidak menanggapi pertanyaannya, dia tidak menjamin bisa menahan kemarahannya lebih lama.

“sebenarnya apa tujuanmu kemari? Aku tidak pernah mengajakmu ke tempat ini dan Taeyeon baby juga tidak suka kau berada disini. Tapi kenapa kau masih juga mengikutinya?” Jungjin kembali bertanya.

“kurasa aku tidak perlu menjawab pertanyaanmu” Tao masih dengan raut datarnya. Dalam hatinya, dia berusaha tidak meninju Jungjin karena kembali memanggil Taeyeon dengan sebutan baby. “aku tidak pernah mengikutinya, Sooyoung noona yang mengajakku” tambahnya.

“kukira kau tidak tahu cara memanggil orang dengan formal” Jungjin menyindirnya.

Tao yang mengerti maksudnya, menaikkan sebelah alisnya. Jungjin melipat tangannya, tatapan matanya terkesan mengejeknya.

“kusarankan, sebaiknya kau menjauh dari Taeyeon baby. Aku tidak ingin anak sekolahan sepertimu membuatnya tidak nyaman”

Tao mengepalkan kedua tangannya dan memandang tajam ke arahnya. dia tidak suka cara Jungjin menyebutnya dengan anak sekolahan.

“apa kau lupa? Taeyeon baby hanyalah tutormu. Setelah pekerjaannya selesai, hubungan guru dan murid di antara kalian pun selesai”

Tao tak habis pikir, pria di depannya yang dikenalnya sebagai pelatih tim basket mereka mampu mengatakan hal seperti itu. dia sudah menduganya, dari tatapannya dan perlakuannya, Taeyeon sangat istimewa bagi pelatihnya. Dan dia cukup bisa melihat kalau Jungjin cemburu padanya karena berdekatan dengan Taeyeon.

“apapun alasanmu datang kemari, akan kupastikan kau tidak akan mendapat apa yang kau mau karena Taeyeon hanyalah milikku. Aku tidak akan membiarkan seseorang sepertimu mengambilnya dariku”

Mendengar kalimat ‘seseorang sepertimu’ membuat Tao mendadak melepaskan kepalan tangannya dan menatap Jungjin dengan tatapan yang sulit di artikan. Jungjin bisa melihat bagaimana rahang Tao mengeras seolah menahan sesuatu. terkadang, melihat Tao yang seperti ini membuatnya merasa terintimidasi. Ada sesuatu dalam diri Tao yang membuat orang-orang menjadi takut padanya. Jungjin masih mengingat bagaimana Tao memukul Toma saat menyelamatkan Taeyeon di klub malam itu. tatapan mata anak itu sangat menakutkan dan tanpa belas kasihan.  satu hal yang membuatnya heran, cara Tao menatap Taeyeon begitu berbeda. Pandangan matanya berubah teduh setiap kali melihat gadis itu. Jungjin sering memergokinya diam-diam jika mereka sedang bersama dan Tao juga ada disana.

“Tao!! Jungjin!!”

Tao dan Jungjin sontak menoleh ke asal suara. Sooyoung tengah melambaikan tangannya memanggil mereka. “makan malam sudah siap!” teriaknya lagi.

Jungjin tertawa kecil dan balas melambaikan tangannya. dia yang pertama kali bergerak meninggalkan Tao. tapi belum beberapa langkah, dia kembali berhenti tapi tak berbalik.

“aku tahu siapa dirimu Tao”

Tao tertegun. Dia menatap kepergian Jungjin dengan perasaan berkecamuk. Jungjin tahu siapa dirinya? darimana ia mengetahuinya? Jika Jungjin adalah salah satu suruhan orang yang mencarinya, itu berarti dia harus lebih waspada dari sekarang termasuk mengawasi gerak-geriknya.

Tao ingin mengubur kenangan beberapa tahun lalu rapat-rapat. Jika sekarang seseorang datang mengingatkannya, dia tidak bisa menghalangi hal tersebut. Dia tidak ingin keingintahuannya membuat pengendalian diri serta kewaspadaannya berkurang. Beruntung, sikap tenang dan dingin yang selalu di tampakkannya, membuat orang lain sulit menerka apa yang di pikirkannya. Satu-satunya di pikirannya sekarang hanyalah melindungi Taeyeon.

 

To be continued…

Yang nungguin CRUSH gimana tanggapannya? Silahkan di share ya^^

Catatan untuk fanfic ini tidak begitu banyak. jujur, aku masih sedikit kesulitan membangun karakter Taeyeon disini meskipun sudah sampai chapter 9. *sigh

Karena banyak ffku yang antri, updatenya pun agak sedikit lama. setelah nulis ff ini, aku langsung nulis kelanjutan all my love is for you dan the legend’s and the goddess. Belum lagi mikirin chap 1 full moon ma cherry blossom. Dan jika memungkinkan, ff Ryn special collection’s pun harus di selesaikan berhubung sekali tamat. Ckckck, pekerjaan menumpuk. -_-

—> RYN

29 thoughts on “[Freelance] Story of EXOTaeng : Crush (Chapter 9)

  1. .. aigo unnie sebenarnya tao itu siapa sih ??
    .. trus foto yg sama halmoni itu juga sapa ??
    .. unnie moments tao ma taeng kurang banyak
    .. cpt d lanjut iia unn

  2. Aku nunggu smua fanfic yg author buat.
    Go itu mksdnya go mblaq bkan ?
    Ngerjain ffnya plan2 aj biar hasilnya bgus tpi jngn kpelanan jga, aku udh smpe lumtan nunggunya !
    Next chap and next fanfic ditunggu ya, fighting !:-)

  3. Aaaku masih penasaran sma sosok asli Tao dsni da2 benr2 misterius…. Taeyeon unni selalu mengelakk ati2 lohh nanti nyesel,,, aaa next dtunggu
    all my love for u dilanjutin unn ,,, hwaigthing!

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s