[Freelance] My Little Peterpan (Chapter 6)

My Little Peterpan

Author             :  _agrn

Main Cast        : Taeyeon and Tao

Other Cast       : Kyungsoo, Tiffany, Yuri, Sunny

Genre              : Romance, Friendship, Family, Comedy

Rate                 : PG 14

Length             : Multichapter

A/N                 : Aku balik lagi! Gimana? Gak terlalu jauh kan jaraknya? Wkwkwk, well, kali ini aku gak akan banyak bacot, jadi Cuma mau bilang DON’T LIKE DON’T READ dan Happy Reading~

oOoOoOo

“Kau sendiri… tidak mengerti perasaanku!”

Taeyeon tersentak ketika tangan Tao meninju tembok di samping kiri telinganya. Matanya membelalak dan menatap Tao dengan pandangan kaget dan takut. Tao tidak pernah seperti ini. Ia memang pernah berlaku dingin padanya. Tapi… sampai hampir memukulnya? Tao tidak pernah!

“A…Apa maksudmu?”ucap Taeyeon sedikit bergetar.

Tao menghela nafas. Ia tidak boleh seperti ini. Jika ia mengikuti emosinya, ia bisa melukai Taeyeon. Ia berbalik dan langsung melangkah pergi. Meninggalkan Taeyeon dengan kebingungan dan ketakutannya sendiri.

Taeyeon baru sadar jika ia menahan nafasnya saat punggung Tao telah tak terlihat lagi. Ia meraup oksigen sebanyak-banyaknya untuk mengisi paru-parunya. “Ada apa dengannya…?”gumam Taeyeon.

Taeyeon sama sekali tidak tahu tentang apa yang membuat mood Tao berubah. Menurutnya, ia tidak melakukan apapun. Ia hanya meminta Tao mengantarnya. Dan sampai sebelum Tiffany dan Kyungsoo datang, mood-nya baik-baik saja.

… itu dia. Apa mungkin, Tao cemburu pada Kyungsoo?

Taeyeon menggeleng-gelengkan kepalanya. itu tidak mungkin. Memang kenapa Tao harus merasakan hal seperti yang ia pikirkan?

Ataukah… Tao menyukainya?

Taeyeon kembali menggeleng. Astaga… apa yang sudah ia pikirkan? Apa karena perkataan Tao tadi? Taeyeon menghela nafas. Sebelum ia berpikiran lebih jauh, lebih baik dia mencari Tiffany dan Kyungsoo. Semoga mereka masih ada dan bisa menyingkirkan pikiran Taeyeon tentang Tao.

Beruntung, ternyata Kyungsoo dan Tiffany ada di café bandara. Taeyeon yang melihatnya langsung saja masuk kedalam café tersebut dan duduk disamping Tiffany. Kedua orang  itupun hanya dapat menatap Taeyeon dengan penuh tanda tanya.

Taeyeon yang risih dilihat seperti itu pun mendengus dan berkata “Apa?”

“Apa yang terjadi antara kau dan Tao?”tanya Tiffany penasaran.

“Entahlah. Dia tiba-tiba marah. Bahkan dia menghentakkanku ke dinding. Aish, bahuku sakit…”gerutu Taeyeon.

“Jinjjayo? Apa kau perlu diobati? Apa sakit sekali?”tanya Kyungsoo seraya menyentuh pelan bahu Taeyeon. Taeyeon tersenyum seraya menggeleng. Ia senang melihat Kyungsoo yang begitu khawatir padanya. Entah kenapa, ia juga tidak tahu.

Tiffany sepertinya mengerti akan apa yang terjadi. Ia pun lanjut bertanya “Apa ada yang ia katakan padamu?”

“Ada. Dia bilang aku tidak mengerti perasaannya”ucap Taeyeon jujur.

Tiffany tersenyum. Ia sudah menduga hal ini. Jelas Tao –si panda- menyukai Taeyeon. Namun Taeyeon yang kurang peka dan terlalu pencuriga mungkin tidak menyadarinya. “Lalu, apa kau akan membiarkannya begitu saja?”

Taeyeon mengedikkan bahu. “Kurasa. Tenang saja. Toh, dia pasti akan segera seperti biasa lagi”

oOoOoOo

Toh dia pasti akan segera seperti biasa lagi.

Taeyeon mengutuk kata-kata yang ia ucapkan beberapa minggu yang lalu. Ia dulu mengira Tao akan segera seperti biasa lagi karena well… Tao menyukainya. Dan tidak mungkin dia bisa menjauhi orang yang ia suka… astaga. Semakin kesini, Taeyeon seperti semakin yakin bahwa Tao menyukainya. Padahal mungkin saja Tao hanya mempermainkannya beberapa waktu lalu.

Taeyeon menghela nafas. Ia sekarang ada di ruang guru. Ia masih ingat perkataan Tao yang ia dengar beberapa waktu yang lalu.

“Yuri Sonsaengnim, bukankah anda adalah guru matematika? Kudengar kau memberi les privat. Bisakah aku menjadi salah satu muridmu?”

Awalnya Taeyeon merasa Tao hanya main-main, namun esoknya saat ia bertanya pada Yuri, dia memang menjadi guru privat Tao. Apalagi Tao selalu absen di pelajarannya. Seolah namja itu menghindarinya.

Bukan seolah. Namja itu memang menghindarinya. Saat Taeyeon tanpa sengaja berada di koridor yang sama dengannya, Tao akan berbalik pergi agar tak melihat Taeyeon. Saat Taeyeon akan masuk ke kelas, Taeyeon sering menangkap Taeyeon keluar. Dia juga tidak lagi menjemput Seohyun.

Apa salahnya? Apa salah Taeyeon sehingga Tao menjauhinya? Dan juga, apa yang salah pada Taeyeon sampai dia begitu uring-uringan saat Tao pergi darinya? Kenapa ia merasa kesal saat Yuri dan Tao terlihat dekat?

Apa ia cemburu? Apa ia… telah mempunyai perasaan lebih pada Tao?

Sebelum Taeyeon berpikir lebih jauh, Yuri mengetuk-ngetukkan jarinya di meja Taeyeon,membuat Taeyeon terasadar. Taeyeon menatap Yuri yang ada didepannya. “Wae?”

“Aku yang harusnya bertanya. Kau kenapa Kim Taeyeon? Belakangan ini kau seperti kehilangan semangat hidup”ucap Yuri.

“T..Tidak. aku tidak apa-apa.”kilah Taeyeon seraya memalingkan wajahnya dari Yuri.

“Jangan-jangan dia sedang memikirkan Tao”celetuk Sunny

Wajah Taeyeon sontak memerah dan dia menatap Sunny dengan pandangan terkejut. “A.Apa?! tidak kok. Untuk apa aku membayangkan wajah anak bodoh itu?”

“Sudahlah Taeyeon, aku tahu kau sudah mempunyai perasaan padanya. Jujur saja.”Yuri beranjak duduk di kursi yang ada didekat Taeyeon.

Taeyeon menghela nafas. Ia benar-benar tidak bisa mengelak dari apa yang dikatakan Yuri dan Sunny. Karena itu memang benar. Ia memang sudah menyukai muridnya yang satu itu. itu benar. “Kurasa… iya. Aku mungkin menyukainya. Aku tidak pasti tahu.”

“Tidak pasti?”ulang Sunny sedikit bingung

“Iya. Aku sepertinya melakukan kesalahan, meski aku tidak tahu itu apa. Itu membuatnya marah, dan menjauhiku. Saat dia menjauhiku.. aku merasa risih dan tidak tenang. Itu saja…”ujar Taeyeon jujur.

“Bisa jadi kau menyukainya. Kira-kira apa salahmu?”respon Yuri.

“Entahlah, waktu itu ia hanya bilang aku tidak mengerti perasaannya.”

Sunny tertawa kecil. “Sepertinya, Tao benar-benar menyukaimu. Itu feeling-ku sih”

Taeyeon hanya mengangguk-angguk kecil. “Aku tidak pernah menyangka dia akan menyukaiku. Dan tidak pernah menyangka lagi bahwa aku bisa menyukainya. Padahal kukira… aku dan dia seperti Peterpan dan Tinkerbell…”gumam Taeyeon kecil, namun kedua orang didekatnya itu dapat mendengarnya.

“Peterpan? Tinkerbell?”tanya Yuri, meminta penjelasan.

Taeyeon tersenyum kecil. “Ya, Tinkerbell yang membantu, dan menyelamatkan Peterpan dari masa kelamnya. Bukankah seharusnya Peterpan akan bersama Wendy dan meninggalkan Tinkerbell?”

Yuri dan Sunny bertatapan sebentar lalu tersenyum. “Hei Kim Taeyeon. Hidup bukan seperti cerita. Ada kalanya seorang Tinkerbell, bisa berubah menjadi Wendy. Tergantung pada perasaan kalian masing-masing”ujar Sunny.

Taeyeon kembali tersenyum, membuat wajahnya yang cantik semakin cantik. Ia hanya dapat mengangguk. Kemudian yeoja itu melirik jam tangannya. “Aku harus masuk kelas”

“Eh? Bukannya masih ada sisa 10 menit lagi?”tanya Sunny.

“Biarkan saja, sepertinya ia ingin menyelesaikan masalahnya dengan sang Peterpan”celetuk Yuri, membuat Taeyeon terkekeh, namun kemudian mengangguk.

oOoOoOo

Brak!

Semua mata memandang kearah pintu yang dibanting oleh seorang yeoja mungil. Ada yang berniat membentak dan memukul sang yeoja, namun nyalinya kembali ciut saat tahu siapa yeoja mungil itu sebenarnya.

“Taeyeon Sonsaengnim!!!”

Setelah berteriak secara bersamaan, mereka langsung merapikan diri dan lingkukan sekitar lalu duduk rapi di kursi masing-masing. Tidak ada yang berniat bertanya kenapa guru itu masuk sebelum bel berbunyi atau memprotes bantingannya pada pintu tadi.

Tao yang berada di kursinya pun terkejut. Tahu begini, ia akan langsung pergi sejak tadi atau tidak sekolah hari ini. Kenapa yeoja itu harus masuk kelas sekarang?! Tak tahukah dia bahwa Tao sudah bersusah payah menjauhinya? Tak tahukah dia seberapa besar rasa rindu Tao padanya?

Selama ini Tao menjauhi Taeyeon juga hanya karena ia cemburu. Ia cemburu pada kedekatan Taeyeon dan Kyungsoo, dan dia bahkan sempat untuk menyerah dengan perasaannya. Tapi sekarang.. rasa cintanya kembali membuncah. Hanya karena ia kembali melihat yeoja itu.

Tao menghela nafasnya. Percuma. Ia yakin saat ini ia tidak bisa kemana-mana. Taeyeon pasti mengintrogasinya. Ia yakin akan hal itu.

“Huang Zi Tao”

Tao menengadahkan kepalanya. Suara Taeyeon bahkan mampu membuat jantungnya berdetak cepat, mampu membuatnya menahan nafas. Astaga, ia sudah tergila-gila padanya. “Apa?”jawabnya, tetap dengan pandangan datar.

“Jangan menundukkan kepalamu. Aku sedang menjelaskan materi didepan. Aku tahu aku terlalu cepat masuk, tapi  aku tidak bisa memaafkan orang yang tidak memperhatikan penjelasanku. Temui aku setelah pelajaranku selesai”celoteh Taeyeon, lalu kembali fokus ke papan tulis.

Ketika Taeyeon berbalik, Tao baru menghirup nafas kembali. Namja itu mendengus. Apa yang akan Taeyeon lakukan padanya setelah ini? Menghukumnya dengan berlari keliling lapangan? Menjewernya tanpa ampun? Mengasuh anak kecil nakal yang cadel itu? astaga. Jangan sampai.

Tak terasa, beberapa menit berlalu dan kini Taeyeon sudah menyelesaikan jam pelajarannya. Sesuai dengan yang diperintahkan Taeyeon, Tao mengekori yeoja itu dari belakang. Ingin sekali Tao berlari pergi saat Taeyeon tak melihat, namun percuma, jika ia pergi, ia yakin Taeyeon pasti akan lebih marah lagi. Dan mungkin hukuman untuknya akan lebih besar.

Akhirnya mereka sampai di ruang guru. Ruang tersebut kosong. Mungkin karena semua guru masih ada di kelas. Taeyeon duduk di bangkunya lalu menghela nafas. Ia menatap Tao yang ada dihadapannya. “Kenapa, kau menjauhiku?”tanyanya langsung.

Tao diam. “Aku tidak menjauhimu”

“Kenapa kau menghilang setiap jam pelajaranku?”

“Aku punya urusan di perusahaan Paman dan kebetulan jamnya sama dengan semua jam pelajaranmu”kilah Tao. Terlihat meyakinkan dengan wajah datarnya.

“Lalu kenapa kau tidak menjemput Seohyun?”

“Apa aku adalah baby sitternya?”

Taeyeon mengangguk-angguk. Memang sulit membuat namja ini menjawab pertanyaannya dengan jujur. Tiba-tiba smirk muncul di wajah cantiknya. Ia yakin pertanyaan berikutnya akan menyudutkan Tao. “Apa maksudmu dengan aku yang tidak mengerti perasaanmu?”

Tepat sekali. Tao terdiam. Rautnya pun terlihat terkejut dan tegang. Taeyeon tertawa dalam hati. Ia menatap tajam pada Tao. “Kenapa kau tidak menjawab?”

Tao menghela nafas. Ia tidak bisa mengelak. Perkataannya waktu itu benar-benar membuatnya tersudut. “Kau pikir bagaimana perasaanku ketika melihat yeoja yang kusukai terlihat begitu akrab dengan namja lain? Bahkan terlihat seperti pasangan. Belum lagi sebelumnya yeoja itu bilang ia tidak punya kekasih, namun setelah itu menyalahkanku karena tidak mengerti perasaan namja lain itu?”balas Tao sengit.

Taeyeon menelan salivanya. Sepertinya sekarang ia yang tersudut. Begitu mendengar kalau yeoja yang disukai Tao adalah dirinya, ia merasa seperti telah disetrum listrik. Ada sesuatu yang menggelitik di hatinya. Dan anehnya, dia merasa begitu bahagia. Namun ia sadar bahwa sekarang bukan saatnya sibuk dengan perasaan itu, ia harus meluruskan masalahnya dan Tao dulu.

“Dengar. Pertama, aku memang tidak punya kekasih. Dua, Do Kyungsoo adalah sahabat baikku. Wajar jika aku akrab dengannya. Tiga, aku sepertinya mengerti tentang perasaanmu. Kau cemburu bukan?”

Tao menghela nafasnya lagi. “Bukan hanya cemburu. Aku merasa dicampakkan, aku merasa tidak berarti.”

Entah kenapa Taeyeon merasa sesak saat Tao mengatakannya. Apalagi dengan raut yang begitu terlihat kesakitan. ingin Taeyeon memeluk sosok namja itu dan mengatakan bahwa ia tidak berniat melakukannya, tapi… siapa dia? Kakaknya? Taeyeon bukan kakaknya. Orang yang menyukainya? Taeyeon belum pasti menyukai Tao.

Hening menyelemuti mereka berdua. Tao masih enggan menatap mata Taeyeon, sedangkan Taeyeon berpikir keras tentang apa yang akan ia lakukan.

“Aku dan Kyungsoo… bukan kekasih…”gumam Taeyeon kecil.

“Kau sudah mengatakannya tadi..”gerutu Tao.

“Kenapa kau menggerutu terus sih. Apa kau masih marah tentang aku dan Kyungsoo? Aku sama sekali tidak menganggap Kyungsoo lebih! Aku menyukaimu bodoh!”

Tao menatap Taeyeon yang mengatakan semua itu dengan jelas. Matanya membelalak kaget. “Apa? Katakan sekali lagi!”

“Eh? Aku dan Kyungsoo bukan kekasih”ulang Taeyeon dengan wajah polosnya.

“Bukan! Yang setelah itu! Yang kau bilang aku menggerutu terus!”seru Tao sedikit kesal. Kenapa sifat lelet Taeyeon harus kambuh disaat yang seperti ini!?

Taeyeon sendiri sedang bingung. Ia tahu ia mengatakan hal itu, tapi, bukankah Taeyeon mengatakannya didalam hati? Kenapa Tao bisa membaca pikirannya? “Kau bisa membaca pikiranku?”

“Kau menyebutkannya dengan jelas tadi!”

Wajah Taeyeon langsung memerah. Ia tidak menyangka kalau ia akan menyebutkan kalimat itu dengan jelas. Dan sekarang, apa yang harus ia katakan pada Tao? Ia sudah mengatakannya. Percuma mengelak. Taeyeon menundukkan wajahnya dan menutupinya dengan kedua tangannya. Ia merasa bodoh sekali sekarang. jika saja ada lubang, ia ingin sekali masuk kedalamnya.

Tao sendiri tersenyum dengan sumringah. Ia tidak salah dengar tadi. Taeyeon berkata ia menyukasinya. Taeyeon menyukai dirinya. perasaannya terbalas!

Ingin Tao langsung memeluk Taeyeon. Namun niatan itu ia urungkan ketika ia teringat akan apa yang sudah ia sadari selama menghindari Taeyeon. Ia sadar, saat ini bukanlah saat yang tepat. Saat ini, ia belum cukup dewasa, belum cukup tepat untuk Taeyeon.

Tao berjalan mendekati meja Taeyeon. “Noona”panggilnya. Namun Taeyeon tetap menutupi wajahnya dengan tangannya. Karena kesal, Tao pun menyingkirkan tangan Taeyeon, membuatnya bisa melihat wajah memerah dan sedikit air mata di pelupuk mata Taeyeon.

“Kenapa menangis?”tanyanya seraya menghapus air mata tersebut.

“Aku terlihat bodoh sekali…”gumam Taeyeon kecil.

Tao terkekeh. “Aku tidak tahu kalau bisa membuat kau menyukaiku hanya dengan menjauhimu…”gurau Tao.

“Bodoh”gerutu Taeyeon. Ia memukul bahu Tao, membuat Tao sedikit meringis.

“Sakit… aku tidak bodoh Noona. Kalau pun aku bodoh, kau lebih bodoh lagi karena menyukai orang bodoh sepertiku, haha”

Wajah Taeyeon semakin memerah ketika mendengar Tao menyebutnya. “Tidak usah disebutkan lagi! Aku malu, bodoh!”

Kekehan Tao berhenti. Kini ia menatap Taeyeon dengan pandangan serius, namun terlihat kelembutan didalamnya. “Aku menyukaimu, ah. ani. Aku mencintaimu, Noona”ujarnya. Tangannya menggenggam tangan Taeyeon. “Aku tulus mencintaimu. Sejak pertama aku melihatmu, aku sudah tertarik padamu, dan akhirnya aku sadar bahwa aku menyukaimu Noona.”

Taeyeon hanya dapat terdiam. Ia tidak pernah diperlakukan seperti ini sebelumnya. Diperlakukan begini secara tiba-tiba… membuatnya sedikit salah tingkah. Alhasil, ia tidak dapat menatap mata Tao. “Aku belum tentu menyukaimu. Aku masih bingung, bodoh”

“Aku akan membuatmu semakin sadar bahwa kau juga menyukaiku Noona. Kau tidak mungkin tidak terpesona oleh pesonaku, hahaha”ujar Tao percaya diri.

Taeyeon tersenyum, lalu terkekeh pelan. “Sudahlah, sebentar lagi guru-guru lain pasti datang, kembalilah ke kelasmu…”

Tao mengangguk sambil menunjukkan senyum terbaiknya. Ia mengacak-ngacak rambut Taeyeon gemas. “Bukankah secara tidak langsung kita  sudah menjadi pasangan?”godanya.

“Aku tetap guru disini. Aku akan menghukummu bila kau tidak menuruti kata-kataku”jawab Taeyeon sambil menjulurkan lidahnya.

“Kita akan lihat apa kau rela menghukum namja tampan yang kau sukai ini”

“Ya! Huang Zi Tao!!”

Tao tertawa lagi. Kemudian ia berjalan keluar ruang guru. Benar memang kata Taeyeon, 2 menit lagi bel akan berbunyi. Tiba-tiba, suara ponsel Tao memecahkan keheningan di koridor tersebut. Tao mengangkatnya dan meletakkan ponselnya didekat telinga. Suara seseorang mengisi gendang telinganya. Membuatnya sadar akan keputusan yang ia ambil kemarin. Raut wajahnya berubah, dari raut ceria menjadi raut datar.

Ia mengangguk dan mengucapkan terimakasih, lalu menghela nafas. Ini memang keputusan yang terbaik, jika ia memang ingin menjadi orang yang pas untuk Taeyeon.

oOoOoOo

“Pssst, hei kalian. Kemari!!”bisik Baekhyun pada keempat teman-temannya. Seohyun, Yoona, Luhan dan Sehun segera mendekat kearah Baekhyun. Mereka membentuk lingkaran kecil, dimana mereka mengadakan rapat mini mereka.

“Ada apa?”tanya Seohyun bingung.

“Apa kalian tidak merasa ada yang aneh pada Taeyeon Sonsaengnim?”

Mereka berlima berbalik menatap Taeyeon yang sedang mengelap sebuah vas bunga seraya menatap lurus dengan pandangan kosong. 30 detik kemudian, mereka kembali membentuk lingkaran kecil dan kembali berdiskusi.

“Iya, Sonsaengnim sedikit aneh”komentar Yoona seraya mengangguk-angguk.

“Jangan-jangan Sonsaengnim akan berhenti menjadi guru…”tebak Luhan dengan wajah takut.

“Tidak! Tidak mungkin!”ucap Seohyun sedikit menahan seruannya. Ia tidak akan terima jika Taeyeon Sonsaengnim-nya berhenti.

“Jangan-jangan Taeyeon Thongthaengnim punya mathalah bethar. Kita haluth membantunya! Jangan bialkan Taeyeon Thonthaengnim mengangkat bebannya thendilian!”ujar Sehun terdengar bijak. Bahkan Yoona dan Seohyun bertepuk tangan setelah mendengarnya.

“Ckckck, kurasa Taeyeon Sonsaengnim tidak akan pindah, dan masalahnya tidak bisa kita bantu”celetuk Baekhyun.

“Apa masalahnya seberat itu sampai kita tidak bisa membantu?”ujar Luhan.

“Menurutku masalahnya tidak besar. Mungkin ia sedang ada dalam dilema cinta”jawab Baekhyun dengan wajah yakinnya. Namun sedetik kemudian, kepalanya telah dihantam oleh kepalan tangan Luhan.

“Byun Baekhyun! Kau ini! Kenapa kau bisa mengerti hal seperti itu sih?! Itu bukan urusan kita! Seharusnya kita menambah ilmu pengetahuan, bukannya yang seperti itu!!”celotehnya.

Well, Taeyeon memang sedikit blank semenjak kejadian Tao dan dirinya tadi. sejak tadi yang ia pikirkan hanyalah Tao-Tao-dan ucapannya. Ia baru tahu perasaan Tiffany ketika ia tak henti-hentinya membicarakan kekasihnya. Ternyata memang hal seperti itu tidak bisa dicegah. Kita dengan sendirinya akan memikirkan orang yang disukai.

Tiba-tiba pintu ruangan tersebut terbuka, menampakkan seorang yeoja paruh baya yang Taeyeon kenal sebagai salah satu pelayan keluarga Seohyun. Yeoja itulah yang menjemput Seohyun ketika Tao menjauhinya.

“Ah, Kim Ahjumma. Datang menjemput Seohyun?”tanya Taeyeon. Kini rautnya terlihat sedikit lebih berwarna dibanding sebelumnya.

“Ne, Kajja, Seohyun-a, ayo bereskan barang-barangnya”ujar yeoja tersebut.

“Chogi…”

Tiba-tiba saja Taeyeon mengeluarkan suaranya. Entah kenapa ia sedikit penasaran dengan hal yang menurutnya mengganjal. “Kenapa Tao tidak menjemput Seohyun lagi? Bukankah itu sudah menjadi tugasnya semenjak ia ada di Korea? Kalau tidak salah ia pernah bilang begitu padaku…”

“Ah, itu. Kurasa Tuan sibuk setiap sorenya. Setelah pulang sekolah, ia akan sibuk dalam ruangannya. Kalau dari yang kudengar, ia sedang belajar melanjutkan bisnis keluarga dan sedang mengurus kepulangannya ke Beijing”

DEG!

Mata Taeyeon sukses membelalak begitu mendengar perkataan yeoja tersebut. “….Beijing?”

TBC

Hakhakhak. Bagaimana readers? Sepertinya chapter ini kurang memuaskan-_- aku ngerasa gitu juga kok. Pas bagian Tao sama Taeyeon itu loh-_- menurutku garing banget. Tapi aku gak tau harus gimana buatnya jadi lebih menarik, jadi maaf ya😥

Well, mungkin ff ini udah mau selesai. Kuharap kalian suka ya, makasih~ RCL~

29 thoughts on “[Freelance] My Little Peterpan (Chapter 6)

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s