[Freelance] The Day I Meet Him (Part 2)

the day i meet him

Author : RYN

Length : threeshoot

Rate : PG 17 (akan berubah nanti)

Cast :

@ Taeyeon

@ Luhan

Genre : fantasy,romance

 

Don’t plagiat, don’t copy paste without my permission!!

Aku tidak pernah memberikan izin pada siapapun untuk membuat cerita berdasarkan fanfic ini!!!

 

– – –

Taeyeon menyandarkan tubuhnya di pintu, nafasnya masih tersengal-sengal. tangannya refleks menyentuh dadanya dimana jantungnya berdetak kencang di dalam sana. *apa-apaan itu tadi?* tanyanya pada dirinya sambil me-reka ulang kejadian yang terjadi beberapa saat yang lalu dalam otaknya. Sedetik kemudian, dia menggeleng cepat dan menepuk-nepuk kedua pipinya dengan keras, tak peduli apakah pipinya sakit atau tidak. dia berhenti sejenak *tapi kenapa itu seperti nyata?* batinnya lagi.

“eonni! Omo apa yang terjadi padamu eonni?” Sunny tertatih menghampirinya. gadis kecil itu kelihatan cemas ketika melihat wajahnya yang pucat.

Taeyeon memutar kepalanya menghadap padanya dan mulai berbicara dengan nada terputus-putus. “di-di..didalam..a-ada..p-pria..” meski dia berusaha setenang mungkin, tubuhnya yang bergetar sulit ia kendalikan.

“mwo?” Sunny mengejapkan matanya. “pria di dalam kamarmu eonni?” ulangnya seolah tak percaya apa yang dikatakan oleh Taeyeon.

Taeyeon hanya menjawabnya dengan anggukan. Penasaran, Sunny memutuskan untuk melihatnya sendiri. hati-hati dia membuka pintu di belakang Taeyeon lalu mengintip ke dalam. sementara Taeyeon, dengan menautkan kedua tangannya di dadanya, menanti dengan cemas di belakang Sunny.

“eonni, tidak ada siapa-siapa di kamarmu. Eh, kenapa Luhan ada di kamarmu eonni?”

*a-apa?!* Taeyeon menyerobot membuka pintu kamarnya lebar-lebar. matanya mengejap tak percaya karena tak ada satu orang pun di ranjangnya. Di bawah ranjangnya, Luhan tengah sibuk menjilati bulunya. Binatang itu langsung menghentikan kegiatannya dan duduk dengan tegap begitu menyadari kehadirannya.

*tadi itu…apa benar aku hanya bermimpi?* kening Taeyeon berkerut seperti berpikir keras. Luhan yang memperhatikannya, memiringkan kepalanya ke kiri lalu ke kanan kemudian mengejapkan matanya. dia seakan ikut merasakan keheranan Taeyeon. ekspresi polos yang di tunjukkannya sungguh bisa membuat orang-orang ingin membelai kepalanya.

Sunny memperhatikan Taeyeon dan Luhan bergantian. Anehnya, Luhan sama sekali tak mempedulikan kehadirannya dan hanya fokus pada Taeyeon.

“eonni..Luhan tidur di kamarmu semalam?” tanya Sunny saat Taeyeon tengah sibuk memeriksa seluruh ruangan dalam kamarnya. sepertinya gadis itu benar-benar ingin memastikan apa yang di lihatnya tadi benar-benar mimpi. Dan ternyata, hasilnya tetap sama. Tidak ada seorang pria pun yang bersembunyi disana. semuanya bersih.

Taeyeon menutup pintu kamar mandinya lalu mengangguk pelan atas pertanyaan Sunny. Dia menghela nafas dalam-dalam. *aku hampir gila karena halusinasiku sendiri* gerutunya.

“bagaimana Luhan bisa masuk kemari eonni?”

Taeyeon menoleh sekilas padanya lalu tersenyum. “semalam dia datang ke kamarku” jawabnya kembali memandang sekelilingnya.

Luhan berjalan menghampiri Taeyeon kemudian menjulurkan kepalanya. Taeyeon yang sudah tahu maksudnya, menggeleng. “tidak sekarang Luhan..”

Binatang itu langsung menunduk kecewa. dia merengek kecil sembari merebahkan kepalanya dengan malas di lantai. sebersit perasaan bersalah muncul dalam hati Taeyeon, tapi untuk saat ini dia benar-benar sedang tidak mood bermain-main dengannya. pikirannya tidak fokus karena pria tadi pagi itu. Taeyeon tak tahu, bahkan tak seorang pun tahu kalau sebenarnya pria yang di carinya berada tepat di depannya. Luhan adalah pria itu.

“sepertinya Luhan sangat menyukaimu eonni” komentar Sunny menyentakkan lamunan Taeyeon.

“huh?”

Gadis kecil itu mengangguk mantap. “aku tak pernah melihat Luhan sesedih ini jika eonni tidak menyentuhnya” ucapnya polos di iringi tawa kecilnya.

Taeyeon beralih pada Luhan. hatinya melunak melihat Luhan meringkuk dengan malas di lantai.

*binatang aneh. Dia bahkan baru mengenalku tapi sikapnya seakan aku ini majikannya* sebuah senyum terukir di bibirnya.

– – –

Luhan memandang dua orang tidak jauh di depannya dengan bosan. Matanya tak pernah beralih dari Taeyeon tapi gadis itu sama sekali masih tidak mempedulikannya. Binatang itu memberenggut kesal karena sajak kejadian tadi pagi, Taeyeon mengacuhkannya. sebenarnya bukan karena tidak mempedulikannya tapi karena Taeyeon lebih banyak menghabiskan waktu bersama Sunny ketimbang dirinya. Luhan mengakui, dia cemburu jika Taeyeon lebih memperhatikan gadis kecil itu daripada bermain bersamanya.

*aku selalu menunggunya dan kini, setelah bertemu dengannya, gadis kecil itu malah merampasnya dariku* Luhan mendengking-tidak puas dengan waktunya yang sedikit bersama Taeyeon. Selama beberapa tahun menantikan takdirnya bertemu MATE-nya, setahun yang lalu akhirnya dia mendapatkan kesempatan itu. siluman rubah seperti dirinya selalu mengikuti takdir yang menuntun mereka bertemu dengan gadis yang telah terpilih untuk menjadi pasangan mereka. pasangan yang akan terpatri dalam hati mereka selamanya.

Ketika ia menemui takdirnya, Taeyeon adalah gadis yang terpilih menjadi pasangannya. Saat mengetahui hal ini, tak terbayang betapa dia sangat bahagia karenanya. Namun dia sadar, dunia yang ia tempati sangat berbeda dengan dunia Taeyeon, oleh sebab itu setelah mengetahui Taeyeon adalah pasangannya, dia mulai mengunjunginya di dalam mimpinya. Selalu, hingga terakhir kali gadis itu bangun dan mendapati dirinya tertidur di sampingnya.

Tapi itu tidaklah cukup. Setelah sekian lama menantikan masa dimana bisa bertemu Taeyeon secara nyata dan bersama dengannya, Luhan masih tidak puas. Dia tahu kebersamaan mereka bukan seperti yang ia inginkan. Memang, dia sangat bahagia bersama Taeyeon tapi akan lebih membahagiakan lagi jika Taeyeon tahu kalau dia adalah pria yang ditakdirkan untuknya sehingga mereka bisa hidup bahagia bersama sebagai pasangan. Dia ingin Taeyeon juga mencintainya seperti ia mencintainya. Lebih dari itu, ini bukanlah satu-satunya yang menjadi pokok utama. Masih ada hal yang lebih penting dari sekedar membuat Taeyeon jatuh cinta padanya. tidak seperti manusia melakukannya, segera, setelah siluman rubah menemukan pasangannya, mereka harus menjadikan gadis yang telah terpilih sebagai miliknya sepenuhnya tanpa melalui pernikahan. Ini adalah proses penting bagaimana mereka mengklaim pasangannnya sebagai milik mereka selamanya.

Luhan mengeluarkan suara rengekan kecilnya seraya menatap sosok Taeyeon dengan tatapan teduh. Kejadian tadi pagi merupakan hal yang paling menyenangkan dalam hidupnya. Dia sungguh sangat menikmatinya. Semalaman mendekap gadis itu dalam pelukannya membuat perasaannya nyaman dan tenang. dia merasa berada di atas surga hanya dengan merasakan tubuh gadis itu menyapu kulitnya. butuh perjuangan yang tidak sedikit-melawan keinginannya yang kuat untuk tidak mencium gadis itu atau lebih buruk, langsung menyerangnya untuk memproses pada tahap selanjutnya. jangan menyalahkannya karena ini adalah naluri alami dari siluman rubah terhadap pasangannya.

Tapi Luhan menyadari satu hal, Taeyeon menganggapnya sebagai binatang peliharaan. Siapa yang tidak? dia dengan wujud binatang mana mungkin Taeyeon akan jatuh cinta padanya lebih dari perasaan sayang terhadap binatang. Melihat keadaan mereka sekarang, Luhan merasa pekerjaan untuk meraih hati calon istrinya akan lebih sulit. Dia sempat berpikir, andai saja dia bisa merubah dirinya menjadi manusia, pasti akan sangat mudah mendapatkan perhatian Taeyeon. tapi dia tahu itu tak mungkin terjadi terutama saat Sunny bersamanya. selama hampir dua tahun tinggal bersama nyonya Hwang dan Sunny, dia tak pernah sekalipun memperlihatkan wujud aslinya. Dia tak pernah menginginkan mereka atau siapapun dalam rumah itu mengetahui jati dirinya sebenarnya sampai ia keluar dari hutan itu. sebagai siluman rubah, dia harus menjaga rahasia dan mematuhi peraturan dari bangsanya.

“Sunny! Kemari sebentar!”

Dari jauh suara ny Hwang terdengar berteriak memanggil Sunny. Gadis kecil itu pun segera pamit pada Taeyeon dan berlari menghampiri ibunya. Luhan hampir melonjak karena senang. Akhirnya, setelah menunggu dengan tak sabar, dia bisa bersama Taeyeon lagi tanpa gangguan dari gadis kecil seperti Sunny. Dengan semangat dan penuh harapan, binatang itu berlari menghampiri Taeyeon yang tengah duduk tidak jauh dari tepi danau sembari menikmati angin semilir.

Woof! Woof!

Taeyeon memutar kepalanya menoleh pada Luhan yang tengah berlari ke arahnya. senyumnya mengembang. Dia menyadari kalau sejak tadi dia telah mengacuhkan binatang itu.

“hei..” sapanya.

Luhan melompat-lompat di sekitarnya seraya mengeluarkan suara dengkingan kecil seolah menginginkan perhatiannya. Taeyeon tersenyum geli, kurang lebih tahu maksudnya. Luhan terlalu manis dan lucu jika dia meminta perhatian dengan cara seperti itu. binatang itu kini duduk manis di hadapannya, menatapnya dengan tatapan polosnya. Taeyeon mengangkat tangan ke arahnya dan Luhan dengan senang hati mengusap-usapkan wajahnya di seluruh telapak tangannya kemudian menjilatinya dengan lembut. Taeyeon tak bisa menahan tawa gelinya, dia mengusap kepala Luhan dan binatang itu segera merebahkan kepalanya di pangkuannya-meringkuk manja seperti anak anjing yang butuh kasih sayang.

*kau benar-benar…binatang yang manja* Taeyeon tidak tahu harus bagaimana dia menyebut Luhan. binatang berkaki empat dengan warna bulu yang indah, tidak semua anjing memilikinya. Jika dia bukan anjing, lalu apa? Terlalu banyak kebingungan yang muncul, Taeyeon tidak sanggup menangani semuanya, oleh sebab itu dia membiarkan pikirannya menggantung sementara.

Luhan kembali mengeluarkan suaranya. kali ini terdengar seperti rengekan pelan membuat Taeyeon segera menepis apa yang di pikirkannya. Dia memandangi Luhan dengan tatapan teduh.

*maafkan aku karena sudah mengacuhkanmu* batinnya berbicara.

Pemandangan di tempat itu sangat indah, danau dengan warna biru mutiara tampak sangat indah menyatu dengan pepohonan hijau yang penuh warna di sekitarnya. Taeyeon menatap lurus ke depannya dan tanpa sadar dia mulai melamun. Berada di tempat ini memang sungguh membahagiakan terlebih lagi semua orang di sini memperlakukannya dengan baik, tapi semua itu tak bisa mengobati rasa rindunya terhadap ayahnya. ia sangat merindukannya hingga tanpa sadar air matanya telah membasahi kedua pipinya.

Woof!

Taeyeon cepat-cepat mengusap air matanya lalu memaksakan diri tersenyum pada binatang yang bersuara di dekatnya. Luhan tak bisa menahan perasaannya, melihat gadis yang di cintainya sedih membuatnya ikut merasa sedih. hubungan batin antara dia dan Taeyeon telah terjalin sejak gadis itu terpilih menjadi pasangannya. Dia bisa merasakan kesedihan, rasa senang, kecewa dan amarah darinya. Setelah mendengar apa yang dipikirkan gadis itu, dia menjadi merasa bersalah karena secara tidak langsung dia lah yang telah membuat gadis itu menangis. Hanya karena rasa egoisnya, dia masih ingin mempertahankan gadis itu di sisinya sedikit lebih lama.

 

***

Ada sesuatu yang aneh tentang Luhan, begitulah yang di pikirkan Taeyeon setelah beberapa hari bersama binatang itu. pertama, Luhan tak pernah sekalipun kelihatan melakukan kontak ‘binatang peliharaan-majikan’ dengan Sunny ataupun ny Hwang selain sebagai binatang penjaga puri. Dia memang pernah melihat Luhan bersama Sunny tapi itu tidak lebih dari beberapa menit karena Luhan akan segera berlari ke arahnya ketika ia datang. ini makin menguatkan kecurigaannya kalau Luhan memang tidak dekat dengan penghuni puri itu. kedua, Luhan selalu menempel padanya seolah dialah majikannya dan tidak sekalipun meninggalkannya jika sedang tidak ada tugas dari ny Hwang atau Sunny. Ketiga, tatapan Luhan padanya. entah kenapa dia merasa cara Luhan menatapnya sangat berbeda. Awalnya dia merasa itu hanyalah sebatas perasaan curiganya saja tapi lama kelamaan, perasaannya tidak enak dan membuatnya tidak nyaman. dia merasa Luhan selalu mengawasinya dan binatang itu juga sepertinya tahu apa yang ia rasakan. Mungkin kelihatan aneh dan mengada-ada tapi kenyataannya memang seperti itu. mendadak Taeyeon merasakan ketidak kenyamanan itu. mengapa setiap bersama Luhan, dia merasa seperti sedang bersama dengan manusia?

 

***

Seminggu telah berlalu dan selama itu pula Taeyeon berusaha keras untuk menghindari Luhan. dimanapun dan kapanpun, dia selalu berbicara dengan Sunny mengabaikan Luhan yang selalu mendatanginya. Dia sendiri tak tahu mengapa tiba-tiba dia bersikap seperti ini. mungkin karena rasa tidak nyaman bersama Luhan atau mungkin dia sedang bingung dengan beberapa hal.

Luhan tahu apa yang ia pikirkan karena dia bisa mendengarnya dengan sangat jelas. Taeyeon yang tidak merasa nyaman di dekatnya membuatnya sangat kecewa dan sedih. tapi dia juga tak bisa memaksanya. Padahal situasi ini saja sudah cukup sulit baginya. Sebanyak apapun Taeyeon menghindarinya, sebanyak itu pula dia menginginkannya. Dia hanya tak bisa jauh dari gadis itu. diabaikan berkali-kalipun ia tak peduli.

“Sunny kau di dalam?” Taeyeon mengetuk pintu kamar Sunny. Tak berapa lama setelahnya, pintu kamar itu pun terbuka, memperlihatkan Sunny yang tersenyum sumringah padanya.

“oh eonni. Masuklah” Sunny membuka pintu kamar dan membiarkan Taeyeon masuk kedalam. “ada apa eonni? Apa ada sesuatu yang ingin kau bicarakan denganku?”

Taeyeon hanya mengangguk singkat dan duduk di tepi tempat tidur. Hampir dua minggu berlalu, ini pertama kalinya ia memasuki kamar Sunny. Kamar gadis kecil itu penuh dengan nuansa putri kerajaan dengan warna pink yang mendominasi. Kelihatannya ny Hwang sangat menyayangi putrinya.

“ng..mengenai itu…” Taeyeon tak melanjutkan kalimatnya. dia masih berpikir keras apakah tindakannya ini tepat atau tidak. kemudian setelah lama berkutat dengan pikirannya, dia pun kembali melanjutkan. “bolehkah aku menanyakan sesuatu padamu?” tanyanya ragu-ragu.

Sunny mengerjapkan matanya kemudian terkikik pelan. “eonni kau tidak perlu bersikap canggung padaku.” Taeyeon tersenyum malu.  “apa yang ingin kau tanyakan eonni?”

Taeyeon menggeser tubuhnya hingga menghadap Sunny. “ini mengenai Luhan.”

Sunny mengeryit heran. “ada apa dengan Luhan?”

“a-aku hanya ingin tahu..sejak kapan Luhan tinggal bersama kalian?” tanyanya. Melihat perubahan raut wajah Sunny, Taeyeon segera memperbaiki pertanyaannya. “m-maksudku..kalian tinggal bersama dengan Luhan dan memeliharanya sebagai binatang peliharaan, tapi mengapa aku tidak pernah melihat kau ataupun ny Hwang akrab dengannya? kau tahu, tetanggaku dan anjing peliharaannya sangat akrab satu sama lain. itu seperti ada sebuah ikatan khusus yang terjalin antara mereka. hubungan majikan dan binatang peliharaan. Jadi aku berpikir, kenapa kau dan ibumu tidak seperti itu terhadap Luhan?”

Sunny terdiam sejenak. dibalik harapannya, Taeyeon menyimpan rasa cemas melihat kediaman Sunny. Dia tidak ingin gadis kecil itu marah padanya karena telah mencampuri urusan mereka. tapi dia juga tak bisa berhenti sebelum mengetahui jawaban dari rasa ingin tahunya.

Diluar dugaan, Sunny tersenyum. “eonni benar-benar ingin tahu?”   Taeyeon mengangguk cepat. “kami menemukan Luhan sekitar dua tahun yang lalu di hutan ini. awalnya kami berpikir dia adalah binatang tersesat tapi setelah melihat sikapnya yang tidak biasa, ibuku memutuskan untuk memeliharanya sampai sekarang” jelas Sunny.

“sikap yang tidak biasa?”

Sunny mengangguk lalu melanjutkan, “saat pertama kali melihatnya, ibu dan aku berpikir Luhan adalah anjing tapi setelah di lihat-lihat, dia lebih mirip rubah.”

*jadi Luhan adalah rubah?* Taeyeon kini mengerti. dia memang sempat berpikir kalau Luhan bukanlah anjing, tapi antara rubah dan anjing, memang tidak begitu banyak berbeda. Kecuali warna mereka. jarang-jarang ada anjing yang berwarna indah seperti Luhan. Jika orang tidak memperhatikan dengan jelas, mereka akan salah paham menyangka Luhan adalah anjing dan bukan rubah. Mendadak dia menjadi makin penasaran pada Luhan.

“dia melakukan hal-hal yang tidak biasa seperti menulis namanya sendiri-“

“menulis namanya sendiri?” Taeyeon setengah berteriak. Matanya membulat lebar seolah tak percaya apa yang baru saja di dengarnya. “bagaimana..”

“dia menulis menggunakan cakarnya. Karena tidak tahu akan di beri nama apa, ibu memutuskan untuk menanyakannya sendiri” kening Taeyeon berkerut. Bagaimana mungkin seorang manusia menanyakan nama pada binatang itu sendiri? itu akan terlihat sangat aneh. “aneh bukan?”

Taeyeon agak tersentak. Sunny pasti merasa tersinggung dengan apa yang di pikirkannya.

“tidak apa-apa eonni. Semua orang pasti akan merasa aneh jika aku menceritakan hal ini tapi itu memang benar. Luhan adalah binatang yang aneh. Dia bisa berlari dengan cepat melebihi binatang lain, mengerti dengan jelas apa yang kami katakan padanya dan melakukan perintah meski kami belum memberitahunya. Itulah mengapa ibuku mencoba berbicara padanya tentang namanya.”

Taeyeon langsung manggut-manggut mendengar penjelasannya. Itu bukan aneh lagi, tapi mulai terdengar menakutkan. Jarang-jarang ada binatang yang melakukan tanpa di beri perintah, kecuali dia memang bisa membaca pikiran majikannya.

“saat itu aku dan ibu berpikir Luhan sedang mencari sesuatu di bawah kakinya, namun perlahan-lahan bekas cakarannya membentuk sebuah tulisan. Aku dan ibu saling berpandangan ketika pertama melihatnya, ini aneh bagaimana mungkin seorang binatang menulis namanya sendiri? meskipun sedikit tak percaya, kenyataannya memang seperti itu. Luhan binatang yang aneh dan mungkin sedikit unik”

“jadi sampai sekarang kalian tidak tahu darimana asal Luhan?”

Sunny mengangkat bahunya. “kami tidak ingin tahu, lagipula itu tidak begitu penting. Selama dia menjalani tugasnya dengan baik, itu jauh lebih penting”

Taeyeon bungkam. Dia tak mengerti jalan pikiran ibu dan anak itu. sama sekali tidak menunjukkan kepedulian terhadap Luhan. mendadak dia merasa kasihan pada Luhan yang seolah di abaikan oleh kedua majikannya.

“kami merasa suatu hari nanti Luhan akan pergi dari sini, menghilang dari kehidupan kami”

Taeyeon terkejut mendengarnya, tapi yang membuatnya terkejut adalah ekspresi Sunny. Gadis kecil itu sama sekali tak menampakkan ekspresi sedih. senyum di wajahnya tak pernah hilang.

“apa maksudmu? Bukankah Luhan binatang peliharaan kalian sekarang?”

“memang tapi hanya sebatas itu. kami tidak memiliki ikatan batin yang seperti eonni katakan padaku. hubungan majikan-binatang peliharaan. Kami merasa, disini bukanlah tempat Luhan. meski tak tahu kapan, pada akhirnya binatang itu harus pergi”

Kerutan kening Taeyeon semakin dalam. dia sudah mencoba memproses kata-kata Sunny tapi entah kenapa malah semakin mempersulitnya.

“jika kalian berpikir dia akan pergi, bukankah seharusnya kalian memperlakukannya dengan baik? tidak memberinya pelajaran seperti yang ibumu lakukan padanya”

Sunny menatapnya. “eonni, kau benar-benar kasihan padanya?” tanyanya polos.

Taeyeon tersentak kaget tapi kemudian menjawab dengan spontan. “tentu saja. aku tidak bisa melihat seseorang memberi pelajaran binatang seperti cara ibumu. Itu keterlaluan” dia teringat cara ny Hwang menghukum Luhan dengan cambuknya.

“mau bagaimana lagi. Luhan memang harus di beri pelajaran” Sunny kembali mengangkat bahunya membuat Taeyeon melongo tak percaya. “meskipun Luhan binatang yang cute dan manis seperti yang eonni pernah bilang, Luhan juga binatang yang keras kepala. Dia sering kali tidak mendengar perintah ibu dan mengabaikannya. Kadang-kadang dia hanya sesekali memperlihatkan dirinya lalu setelahnya menghilang lagi. jadi ibu merasa dia tak becus menjalankan tugasnya”

“tapi tetap saja, itu menyakitkan” gumam Taeyeon. tapi Sunny hanya terkekeh.

Taeyeon bingung dengan semua info yang baru saja di dengarnya dari Sunny. Jadi seperti itukah Luhan dimata keduanya? Tidak lebih dari sekedar binatang peliharaan penjaga puri? Sejujurnya, Taeyeon masih belum puas dengan seluruh penjelasan itu. dia juga ingin tahu bagaimana caranya bisa keluar dari hutan ini. jika dia menunggu Luhan, apakah dia akan memiliki kesempatan untuk ikut dengannya? maksudnya, Luhan akan pergi dari hutan ini, itu berarti dia bisa meminta Luhan untuk membawanya ikut serta.

“eonni”

Taeyeon menoleh lalu tersenyum kaku. Melihat Sunny yang mengkhawatirkannya, sudah jelas kalau gadis itu bisa menyadari perubahan raut wajahnya.

“apa yang kau pikirkan eonni?” tanya Sunny.

Taeyeon menghela nafas dalam-dalam. “aku sedang berpikir bagaimana cara keluar dari hutan ini. aku sangat merindukan ayahku, kedua sahabatku dan kehidupanku diluar sana” kepalanya menunduk seraya bergumam. “aku bahkan belum mengikuti ujian masuk perguruan tinggi”

Sunny merasa kasihan padanya. Taeyeon mengangkat kepalanya dan menatap gadis kecil itu. “tidak adakah cara lain untuk keluar dari hutan ini?”

“…”

“Sunny-ah”

“aku benar-benar tidak tahu eonni..tapi jika kau ingin mengetahuinya, ibuku mungkin bisa membantu”

Mendadak wajah Taeyeon berubah cerah. “benarkah?!”

Sunny tersenyum dan mengangguk. “ibuku pasti bisa membantumu”

Taeyeon beranjak dari tempatnya. “tunggu apa lagi? ayo kita temui ibumu” dengan itu, Taeyeon bersemangat keluar dari kamar dengan Sunny mengikutinya dari belakang.

 

***

Makan malam selesai. Taeyeon bergegas ke kamarnya. hari ini sangat melelahkan baginya meskipun tak banyak yang ia lakukan selain menemani Sunny dan tentu saja Luhan juga. Mungkin tidak baik mengabaikan Luhan selamanya, oleh sebab itu dia akhirnya menyerah dan membiarkan Luhan berada di dekatnya.

Begitu selesai mengunci pintu kamarnya, Taeyeon berbalik dan terlonjak kaget dengan seseorang yang tiba-tiba sudah berdiri membelakanginya, di dekat jendela kamarnya. Tadinya dia berpikir itu hanyalah halusinasinya karena rasa letih tapi kemudian ingatan tentang pria yang tiba-tiba muncul di tempat tidurnya, mendadak berkelebat di pikirannya.

“s-siapa kau?” Taeyeon gugup. *jangan katakan..* tubuhnya sontak membatu di tempat ketika orang itu tepatnya pria itu memutar tubuhnya hingga menghadap kearahnya. “kau?!” serunya terkejut.

Pria itu adalah pria yang beberapa hari lalu hampir membuatnya kena serangan jantung di pagi hari. Jangankan hari itu, sekarang pun dia tetap memberinya serangan jantung. Berbanding terbalik dengannya yang shock, pria itu hanya tersenyum lalu perlahan berjalan menghampirinya.

“j-jangan mendekat a-atau aku akan berteriak” Taeyeon berusaha sebaik mungkin mengeluarkan nada ancamannya, tapi gagal karena suara yang keluar dari mulutnya terputus-putus. Keterkejutannya semakin menjadi tatkala punggungnya menyentuh pintu di belakangnya. Taeyeon membulatkan matanya, dia kini terperangkap diantara tubuh pria itu dan pintu di belakangnya.

Dari jarak mereka, Taeyeon bisa melihat dengan jelas wajah pria itu. sangat tampan, bahkan terlalu tampan untuk pria asing sepertinya. pria itu masih belum bersuara. senyum misterius yang tersungging di bibirnya membuat bulu kuduk Taeyeon meremang bersamaan dengan jantungnya yang mulai tak terkendali. Senyuman pria itu semakin lebar ketika mendengar pikiran Taeyeon yang sempat mengeluh tentang dia yang sangat tampan dan cute. apapun pendapat gadis itu tentangnya, dia menyukainya. jika dia terus melihat ekspresi cute gadis di depannya, ini akan membuatnya ingin…

*tidak Luhan..kau harus bisa menahannya* Luhan membatin. Berada sedekat ini dengan wujud manusianya membuatnya sulit menahan dirinya. dorongan itu terlalu kuat dan dia berusaha sebisa mungkin menahannya.

Taeyeon menghindari tatapannya. Sebersit perasaan bersalah muncul dalam hatinya ketika merasakan ketidak nyamanan Taeyeon terhadapnya. Dia dengan sangat jelas mendengar pikiran gadis itu yang mengeluh tentang tatapannya yang mengerikan seperti akan memakannya bulat-bulat. Luhan tersenyum miris, ada yang lebih baik dari sekedar pengertian memakannya bulat-bulat tapi sekarang bukan saat yang tepat.

*sial!*  Luhan merutuki dirinya sendiri. seharusnya dia terlebih dahulu mempelajari bagaimana cara mengendalikan hormonnya sebelum berada di dekat MATE-nya. Ini lebih sulit dari yang ia bayangkan.

Taeyeon mengerutkan keningnya dengan tingkah pria asing di depannya yang aneh. Pria itu hanya berdiri di depannya, menatapnya tak berkedip. Taeyeon lambat laun membalas tatapannya. Untuk sesaat mereka berada dalam situasi yang tenang dan nyaman. baik Taeyeon maupun Luhan, tak ada satupun yang berbicara dan hanya saling menatap. Taeyeon mengakui kedua mata pria di depannya sangat indah, warna matanya yang berwarna merah menyala terlihat sangat berbeda dengan warna coklat terang saat pertama kali melihatnya pagi itu. ini membuatnya bertanya, apakah pria itu memakai softlens atau semacamnya. sedetik kemudian, dia tersentak kaget karena matanya kembali berwarna coklat terang.

Luhan hanya tersenyum mendengar pikirannya. ini sangat menarik baginya, pikiran gadis itu terlalu polos. dia mengambil selangkah kedepan dan Taeyeon tidak punya pilihan lain selain membiarkannya. pintu di belakangnya membuatnya tak bisa bergerak.

“ku-kubilang jangan bergerak atau aku akan b-berteriak”

Luhan mendekatkan wajahnya, mata Taeyeon langsung membulat lebar. dia mencoba untuk tak menatap mata pria itu tapi seberapapun usahanya, dia akan tetap kembali menatapnya. seperti ada sebuah magnet yang menariknya.

Luhan sedikit menundukkan kepalanya, perlahan memiringkannya ke samping dan berbisik lembut di telinganya. “dengan berteriak, kau akan membuat calon suamimu dalam masalah”

Taeyeon terkesiap. Dia baru sadar kalau sejak tadi dia menahan nafasnya. Tidak ada yang keluar dari mulutnya, hanya ekspresi shock yang tergambar di wajahnya. *c-calon suami?!* pekiknya.

Luhan tidak lagi tersenyum melainkan tertawa kecil. suara tawanya yang lembut mengirimkan getaran-getaran kecil di seluruh tubuh Taeyeon bersamaan dengan semburat pink yang tiba-tiba nampak di wajahnya. tapi Taeyeon tidak ingin terlalu lama merasakan perasaan aneh itu. dia tahu tidak seharusnya dia bersikap seperti ini di depan pria yang sama sekali tidak di kenalnya. Lagipula, pria aneh mana yang mengatakan kalimat seaneh itu pada gadis yang tidak di kenalnya.

“itu benar. aku adalah calon suamimu” tegas Luhan usai mendengarkan pikiran Taeyeon.

Kening Taeyeon mengernyit. Heran dan terkejut, itulah yang dirasakannya. Pria itu seolah bisa membaca pikirannya.

“sebenarnya siapa kau? K-kenapa kau bisa berada di kamarku?” tanyanya memberanikan diri.

Alih-alih menjawab pertanyaan Taeyeon, Luhan malah mengangkat tangannya hendak menyingkirkan rambut-rambut kecil yang sedikit menghalangi wajah gadis itu. Taeyeon yang mengira Luhan akan berbuat sesuatu padanya, refleks memiringkan kepalanya ke samping- menghindarinya. tapi tak peduli apapun yang Taeyeon lakukan, Luhan hanya tersenyum dan tetap melanjutkan tindakannya-membiarkan gadis itu tercengang menatapnya.

Taeyeon ingin memprotes tapi debaran jantungnya sangat mengusiknya. Dia ingin berteriak atau paling tidak bersuara tapi meski memaksa, tak ada satupun yang keluar dari mulutnya. Sentuhan lembut pria itu terasa seperti aliran listrik dalam tubuhnya, begitu asing dan aneh. Jika pria itu bisa membaca pikirannya, mungkinkah dia juga bisa mendengar detak jantungnya? Taeyeon merasakan pipinya memanas dan mungkin sekarang semburat pink di kedua pipinya terlihat semakin jelas oleh pria itu. namun lagi-lagi, Taeyeon segera menghapus perasaan aneh itu dan menggantinya dengan kekesalan yang memuncak. Dia kembali mengingatkan dirinya bahwa pria itu telah berani menyentuhnya padahal dia sama sekali tidak mengenalnya.

*pria brengsek yang tidak sopan!* rutuknya menepis tangan pria itu. namun kalimat selanjutnya dari pria itu membuat mulutnya membuka.

“aku berhak menyentuh calon istriku termasuk menciumnya”

Taeyeon menatap pria itu dengan tatapan tak percaya. apakah dia salah dengar atau memang kalimat yang di ucapkannya terdengar sangat posesif? Bagaimana pria itu bisa membaca pikirannya dengan sangat jelas? dan menciumnya? Apa-apaan itu? tapi ketika melihat tatapan serius pria itu padanya, entah kenapa membuatnya bergidik ngeri. Taeyeon ingin mendorongnya tapi pria itu sudah lebih dulu menjauhkan dirinya.

“sebenarnya kau itu siapa?! Kenapa kau masuk ke kamar orang tanpa izin?!” Taeyeon mengepal kedua tangannya kuat-kuat. Dia akhirnya bisa melepaskan kekesalannya. Pria itu benar-benar melatih kesabarannya dengan mengatakan omong kosong padanya. apa dia begitu bodoh hingga mempercayai semua ucapannya?

Pandangan Luhan melembut membuat Taeyeon mengejap. Pria di depannya tersenyum lagi, bagaimana dia bisa bersikap tenang sementara hanya dengan melihat senyumnya saja hatinya serasa bertebaran entah kemana.

*oh god..ottokhae? dia semakin tampan jika tersenyum seperti itu. ini membuatku semakin sulit memarahinya* Taeyeon membatin.

Luhan menyunggingkan smirknya, Taeyeon segera tersadar. Melihatnya yang tersenyum seperti itu, membuat wajahnya semakin bersemu merah. Pria itu mungkin bisa mendengar apa yang ia pikirkan. *aku memang bodoh* rutuknya.

“kau benar-benar tidak mengenalku?” Luhan kini duduk dengan nyaman di sisi ranjangnya. Taeyeon ingin sekali melarangnya namun kemudian membiarkannya. Bukan itu yang terpenting sekarang.

“apa kita pernah bertemu sebelumnya?” anehnya, Taeyeon mengabaikan pertanyaan seputar bagaimana pria itu bisa ada di kamarnya. mungkin karena merasa jawaban pria itu lebih menarik di bandingkan pertanyaannya.

Luhan tidak langsung menjawab. Tangannya menepuk tempat di sampingnya memberi isyarat Taeyeon agar duduk di situ. Tapi tentu saja Taeyeon hanya mengacuhkannya. Luhan langsung berubah cemberut mengetahui gadis itu tidak akan menurutinya. Tingkahnya ini sukses membuat Taeyeon tertegun dan bersorak seperti fan girl bertemu idolanya. *woahh..cute* kedua matanya sontak mengejap kaget. lagi-lagi dia terlambat menyadarinya.

“menurutmu begitu?”

Taeyeon menundukkan kepalanya menahan malu. pria di depannya itu positif bisa mendengar pikirannya. *menyebalkan* kembali dia tersentak dengan kata-katanya sendiri. sesuai dugaannya, pria itu hanya terkekeh pelan. mungkin karena baru saja mendengar pikirannya lagi.

“jangan bermain dengan pikiran orang sembarangan!” desis Taeyeon. tapi wajahnya yang merona mereka malah membuatnya terlihat semakin memalukan. Kelihatan sekali tidak niat memarahi pria itu.

Luhan hanya menaikkan bahunya lalu tersenyum padanya. “aku Luhan”

Taeyeon melongo kaget. dia tidak mungkin salah dengar. Pria itu bernama Luhan? *oh ayolah Taeyeon, darimana kau mendapatkan ide menyamakan si rubah Luhan dengan pria aneh dengan kekuatan menjengkelkan di hadapanmu* Taeyeon meringis. membayangkannya saja dia tidak pernah tapi kenapa tiba-tiba pikirannya mengarah kesana? Tawanya langsung meledak dan pria-bernama-Luhan-itu hanya merotasikan matanya. sudah jelas, gadis itu tak akan percaya begitu saja terlebih lagi dia menyebutnya pria aneh dengan kekuatan menyebalkan?

*waw..aku tak menyangka Mine, kau menyebut calon suamimu dengan sebutan aneh* Luhan langsung cemberut.

“si rubah Luhan yang kau maksud dengan Luhan di depanmu adalah orang yang sama”

Perkataan Luhan sontak membuat Taeyeon menghentikan tawanya. “jangan bercanda. Kau Luhan? dasar orang tidak waras”

Taeyeon tersenyum mengejeknya tapi sedetik kemudian senyum itu terhapus. Raut serius pria itu membuat tubuhnya kaku dan perlahan, wajahnya berubah pucat. Perasaannya terketuk, pria itu dari awal memang tak pernah berniat bercanda padanya.

“k-kau tidak mungkin Luhan yang..”

“yang kau beri roti dan selalu menemanimu…termasuk tidur bersamamu” Luhan menyelesaikan kalimatnya sambil tersenyum lebar.

Taeyeon bungkam. Ekspresi wajahnya hampir tak terbaca, tapi siapapun bisa melihat dari wajahnya yang pucat pasi menandakan ia akan pingsan kapan saja. tidak ingin mengulur waktu, Luhan melanjutkan penjelasannya tapi dalam hati dia juga sangat mencemaskan Taeyeon.

“aku adalah siluman rubah yang bisa berubah wujud menjadi manusia..”

Taeyeon masih diam di tempatnya tapi matanya membulat lebar mendengar Luhan mengatakan dirinya adalah siluman rubah. Bagaimana mungkin makhluk fantasi seperti itu ada di dunia? Bukankah itu hanyalah mitos? Dia hampir tak percaya dengan info yang baru di dengarnya.

“aku akan memperlihatkan wujud manusiaku setelah bertemu dengan calon istriku” Luhan menambahkan.

Kedua mata Taeyeon semakin membulat lebar mendengar kata ‘calon istri.’ Tiba-tiba saja dia teringat dengan mimpinya. Makhluk dalam mimpinya itu pun mengatakan hal yang sama padanya. *tidak mungkin..* tatapannya berubah horor.

“kau adalah calon istriku Kim Taeyeon.”  lagi, Luhan mendengarnya. pria itu tersenyum miris dengan kenyataan pahit bahwa gadis itu masih tak percaya padanya.

“t-tapi…b-bagaimana..” Taeyeon tak sanggup melanjutkan ucapannya. Ini terlalu mengada-ada dan sangat tidak masuk akal. Dia yang tak mempercayai hal-hal seperti kisah fantasi dan lainnya, kini harus di hadapkan pada keadaan yang tak pernah di duganya. Siluman rubah? Calon istri? Bagaimana mungkin dia akan mempercayai semua itu? dia ingin menyangkal dan menyebut situasinya sekarang sebagai efek dari mimpi buruk, tapi kemudian, pandangan pria itu padanya dan keseriusan ucapannya membuatnya tak bisa mengelak. Haruskah dia mempercayainya? jika memang benar dia adalah calon istrinya, berarti dia harus menikah dengan siluman rubah itu? Taeyeon mengerang dalam hati, dia merasa tuhan telah tidak adil padanya karena memberinya jodoh seekor rubah bukan manusia seperti gadis normal lainnya.

Kecewa dan terluka, begitulah perasaan Luhan sekarang. untuk sekali ini, dia menyesal telah mendengar seluruh pikiran Taeyeon. gadis itu menolak keberadaannya, bagaimana mungkin dia bisa hidup tanpanya? apa yang harus ia lakukan? Kembali lagi pada perasaannya, dia sangat mencintai Taeyeon, setelah sekian tahun mencari pasangan sejatinya, tidak mungkin ia akan melepasnya begitu saja. sekali siluman rubah menemukan pasangan mereka, perasaan itu akan bertahan selamanya.

“kau tak bisa lari dariku Mine. Sekalipun kau lari, ikatan di antara kita tak akan pernah putus”

Taeyeon susah payah menelan salivanya ketika tenggorokannya mendadak kering. “t-tapi kenapa..? aku sama sekali tidak mengenalmu dan tidak pernah setuju menjadi calon istrimu” suaranya seperti tercekik ketika mengeluarkan kalimat itu.

Melihat kondisinya, Luhan menjadi tidak tega menjawabnya. tapi dia tidak punya pilihan lain selain tetap harus mengatakan semuanya. “kau mengenalku Mine..setahun yang lalu aku selalu mengunjungimu dalam mimpimu”

Taeyeon terkejut. Informasi ini baginya terlalu banyak dan dia tidak tahu bagaimana harus bereaksi selain terkejut. Sejujurnya, masih banyak yang ingin di tanyakannya tapi, dia butu waktu untuk menyendiri atau dia akan pingsan di tempat itu karena berbagai pemikiran di dalam kepalanya.

“kuharap setelah mengetahui ini, kau tidak akan mengacuhkanku lagi karena itu akan menyakitiku”

Tepat saat itu, Taeyeon merasakan dunia di sekitarnya menjadi gelap tapi dia masih sempat mendengar suara Luhan yang memanggilnya sebelum kesadarannya benar-benar hilang.

 

***

Taeyeon sudah kehabisan akal menghadapi Luhan. sejak tahu Luhan adalah siluman rubah, semakin sulit baginya untuk menghindarinya, terlebih lagi pria itu tak pernah ingin jauh darinya. tidak berbeda jauh seperti sebelum-sebelumnya dimana dia dulu menghindarinya, hanya saja Luhan lebih agresif dan cenderung posesif padanya. bukan hanya dalam wujud manusia, tapi juga dalam wujud rubah. Awalnya dia berpikir akan mudah tapi Luhan ternyata selalu menemukan jalan untuk bermanja-manja padanya. meski dia mengacuhkannya, pria itu lebih keras kepala darinya. yang membuatnya kesal, setiap pagi dia selalu menemukan Luhan tertidur di sampingnya sambil memeluknya. Seperti pagi ini misalnya.

“apa yang kau lakukan disini?” Taeyeon menaikkan sebelah alisnya menatap Luhan dengan pandangan tidak suka. dia tak habis pikir, bagaimana rubah itu selalu bisa menemukan jalan masuk ke kamarnya padahal dia tak pernah lupa menguncinya.

Bukannya langsung menjawab, Luhan malah memberinya senyuman polos. senyum yang sempat membuat Taeyeon berdebar-debar. Tapi itu tidak berlangsung lama karena Taeyeon sudah tahu selain memiliki kemampuan membaca pikirannya, Luhan juga bisa menebak langsung apa yang dirasakannya. Terbukti, seringaian halus kini tersungging di bibirnya. jika sudah seperti ini, dia harus menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan dirinya agat tidak meledak karena kesal dan malu.

“Luhan, aku sudah bilang berapa kali padamu. Kau.tidak.boleh.tidur.disini” ujarnya dengan tekanan di setiap kalimatnya.

“wae~”

Taeyeon menghela nafas kasar. Serius, harus berapa kali ia mengatakan kalimat itu baru pria itu mengerti? melihat  wajah Luhan yang memelas dan merajuk padanya seperti anak kecil membuatnya ingin menampar dirinya sendiri karena terkadang, cara Luhan itu selalu berhasil membuatnya diam seribu bahasa. bagaimana tidak, Luhan memiliki kemampuan yang bisa membuat kelemahannya menjadi senjata melawannya. Inilah yang selalu memicu rasa kesal terhadap dirinya sendiri.

Satu hal yang membuat Taeyeon lega, Luhan tidak lagi bangun dalam keadaan naked seperti sebelumnya. entah darimana dia mendapatkan sepasang pakaian dengan model aneh yang tengah di pakainya sekarang. baju berlengan panjang dengan warna hitam pudar berpasangan dengan celana panjang dengan warna yang sama, kelihatan sudah lusuh dan ketinggalan zaman. Taeyeon tak begitu mempedulikannya, yang jelas keadaannya dengan pakaian lengkap tidak lagi membuatnya panik dan menjerit histeris seperti beberapa hari yang lalu.

“dengar Luhan..” Taeyeon memutar tubuhnya hingga berhadapan dengan Luhan. “kau dan aku berbeda. Berlakulah seperti siluman rubah atau apapun yang kau inginkan TAPI tolong, jangan menggangguku” ok, kalimat itu mungkin sedikit menyakitkan tapi Taeyeon tahu, dia harus tegas menghadapi Luhan.

Luhan memiringkan sedikit kepalanya-mungkin memproses ucapan Taeyeon, keningnya mengeryit, raut wajahnya tampak bingung.

“tapi yang aku inginkan hanya bersamamu Mine, apa itu juga tidak boleh?” tanyanya masih dengan tatapan polosnya.

*bagus sekali. Darimana aku mendapat ide menjelaskan seperti ini padanya?* Taeyeon mendengus kesal. dia mengingatkan dirinya untuk jangan pernah berkata seperti itu lagi pada Luhan.

“aku janji tidak akan mengganggumu Mine”

Taeyeon memutar bola matanya lalu mendelik kesal padanya. tanpa berbicara sepatah katapun, dia beranjak dari tempat tidurnya.

“Mine, kau mau kemana?” tanya Luhan lagi, kali ini dia mencopy Taeyeon, turun dari ranjang.

Taeyeon sontak berbalik dan memperingatkannya. “jangan pernah memanggilku dengan sebutan MINE dan jangan pernah mengikutiku!”

Luhan mengerutkan mukanya. Dia terlihat sangat sedih dan terluka. Terkadang, Taeyeon merasa bersalah padanya setiap melihat ekspresinya begitu. Ekspresi anak kecil yang kehilangan benda berharganya.

“tapi kau calon istriku” gumam Luhan. dia sangat tahu seberapa kesalnya Taeyeon mendengar kalimat itu tapi, dia tetap ingin mengingatkan gadis itu kalau dia adalah calon istrinya.

“aku bukan calon istrimu!” Taeyeon berteriak keras. kekesalannya sudah mencapai ubun-ubun. Kakinya menghentak kesal meninggalkan kamar itu.

Luhan berbaring kembali di ranjang Taeyeon. sebelah tangannya kini berada di atas keningnya sementara pikirannya tertuju pada Taeyeon. dia bisa merasakan suasana hati gadis itu sekarang, perasaan bingung, marah dan kesal. satu-satunya yang membuatnya berani berharap adalah karena dia bisa merasakan jauh dalam hati Taeyeon, gadis itu memiliki sedikit perasaan terhadapnya. Mungkin bukan perasaan cinta tapi setidaknya gadis itu tidak membencinya. Itu lebih dari cukup.

 

***

Perlahan cahaya matahari sore memudar. Rangkaian jalur jingga yang terbentuk dari awan terlihat indah dengan awan-awan putih yang tampak kemerahan karena biasnya, seolah kumpulan dewi-dewi khayangan telah susah payah merajutnya hingga terukir sempurna. Taeyeon mengangkat kepalanya menatap langit senja, senyumnya yang terukir pelan-pelan memudar menyisakan senyuman tipis tatkala menyadari keindahan itu akan segera berakhir berganti dengan taburan bintang-bintang yang berkilauan. Sesuatu yang lembab menyentuh tangannya membuatnya menatap ke bawah. Luhan mengendus-endus tangannya lalu berhenti setelah tahu dia memperhatikan.

Taeyeon menarik tangannya seolah habis menyentuh sesuatu yang panas. Dia menatap Luhan yang bingung dengan sikapnya.

“bukankah aku sudah melarangmu untuk dekat-dekat denganku? apa kau tidak bisa mendengar dengan jelas kalau aku sama sekali tidak ingin bersamamu?!” Taeyeon menaikkan suaranya.

Keras kepala, Luhan menghentak-hentakkan kaki depannya lalu menggelengkan kepalanya. Taeyeon mendengus kesal dan berbalik meninggalkannya.

Woof!

Taeyeon tidak peduli, dia terus masuk ke hutan. Lebih baik menyendiri sementara daripada kembali ke puri dan bertemu Luhan.

Woof!

“aku bilang jangan mengikutiku!” seru Taeyeon.

Woof! Woof!

Luhan masih mengikutinya. Taeyeon semakin kesal. Luhan tiba-tiba menggeram, dia tidak menyukai ide Taeyeon saat ini. dalam hitungan detik, Taeyeon berlari semakin menjauhinya.

*dasar gadis bodoh* Luhan berlari mengejarnya. hari semakin gelap dan dia tidak boleh membiarkan gadis itu sendirian di tengah hutan.

Taeyeon berlari tanpa menoleh namun tiba-tiba, kakinya tersandung sesuatu membuat tubuhnya hilang keseimbangan.

“kyaaa!!”

Secepat kilat Luhan merubah dirinya menjadi manusia dan melompat menangkapnya. Taeyeon menutup matanya kuat-kuat sementara kedua tangannya menggenggam kuat di dadanya. Luhan makin mengeratkan pelukannya-membiarkan tubuh mereka berdua terjatuh ke bawah lubang yang besar.

Taeyeon merasakan tubuhnya menyentak bersamaan dengan suara hantaman keras yang terdengar. Luhan meringis kecil ketika tubuhnya mendarat paksa di tempat yang kasar dan keras. kedua lengannya masih memeluk Taeyeon dengan protektif. Suasana menjadi hening sesaat, keduanya hanya bisa mendengar nafas dan detak jantung mereka masing-masing karena posisi mereka yang sangat rapat. Hati-hati, Taeyeon membuka matanya. dia mengamati sekelilingnya tapi tak bisa melihat apapun karena sekitarnya yang gelap.

“L-Luhan” panggilnya pelan.

Kelopak mata Luhan perlahan-lahan bergerak dan akhirnya membuka. Dia segera duduk dan mengamati setiap inci tubuh Taeyeon.

“a-aku baik-baik saja Luhan”

Luhan tidak peduli. dia terlalu khawatir Taeyeon terluka karena kejadian tadi. setelah memastikan seluruhnya baik-baik saja, dia baru menghela nafas lega. Kembali mengingat betapa keras kepalanya Taeyeon membuat kemarahannya meledak.

“apa kau sudah gila?! Kenapa kau pergi begitu saja?! apa kau ingin aku mati karena mencemaskanmu?! Bagaimana kalau tadi sampai terjadi sesuatu padamu dan aku tidak ada disana?!” Luhan menatap tajam padanya. kedua tangannya terkepal kuat menahan berbagai perasaan yang berkecamuk di dadanya karena mengkhawatirkan Taeyeon. sedikit lagi, jika saja dia tidak datang tepat waktu, dia tak bisa membayangkan apa yang terjadi pada Taeyeon.

Taeyeon menundukkan kepalanya. wajahnya berubah pucat sementara air matanya sudah jatuh membasahi pipinya. dia tak pernah melihat Luhan semarah ini padanya dan itu semua karena kesalahannya. dia memang seharusnya tidak lari darinya. baru saja dia memikirkan beberapa kesalahannya karena keegoisannya, sepasang lengan sontak memeluknya dengan erat membuatnya terkejut.

“maafkan aku Mine..aku tidak bermaksud berteriak padamu. Aku hanya..aku sangat mengkhawatirkanmu. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika sampai terjadi sesuatu padamu” Luhan kini berbicara lembut padanya. Taeyeon tak bisa menyembunyikan rona merah di pipinya karena tatapan teduh Luhan padanya.

Luhan merenggangkan pelukannya lalu tersenyum hangat, kedua tangannya dengan lembut mengusap air mata di pipi Taeyeon.

“maafkan aku..karena melindungiku, kau melukai dirimu sendiri. terima kasih telah menolongku”

Luhan menggeleng pelan dan menangkup wajah Taeyeon agar tetap menatapnya. “aku sangat peduli padamu Mine. Aku tidak keberatan jika harus melakukannya berkali-kali demi melindungimu. Bahkan jika kau menginginkannya, aku akan mempertaruhkan nyawa untukmu. Kau terlalu berharga untukku, terlalu istimewa, hingga membuatku harus bersikap over protektif. Aku tidak ingin kau terluka Mine, karena itu akan membuatku menderita. Sesaat tadi, aku merasa jantungku berhenti berdetak ketika mendengar teriakanmu. Pikiranku menjadi kacau dengan berbagai pikiran negatif jika sampai aku tidak bisa menolongmu. Berjanjilah Mine, kau tidak akan membuatku khawatir lagi”

Taeyeon tertegun. Tidak ada seorangpun yang pernah mengucapkan kata-kata semanis itu. Luhanlah yang pertama melakukannya. Taeyeon merasa jantungnya hampir meledak karena perasaan bahagia yang tiba-tiba muncul entah darimana. Luhan terdengar serius dengan semua ucapannya, jika sudah begitu, tidak ada kata yang keluar dari mulutnya selain mengangguk patuh atas permintaannya.

Luhan tersenyum puas, tapi kemudian, teriakan Taeyeon yang tiba-tiba membuat keningnya berkerut. Dia melihat gadis itu membalik tubuhnya membelakanginya sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya. bingung, Luhan melihat tubuhnya sendiri dan akhirnya mengetahui alasan kenapa Taeyeon bersikap demikian. Mendadak dia tertawa mendengar pikiran Taeyeon yang merutuki dirinya sendiri karena baru menyadari tubuhnya yang naked di depannya.

“berhenti tertawa. Ini memalukan! Cepat pakai bajumu!”

Luhan tersenyum mengusap punggung lehernya. “sebenarnya..aku tidak membawa bajuku. Bajuku ada di kamarmu”

*apa?! jadi dia akan berada di sekitarku dalam keadaan seperti itu?!* mendadak Taeyeon menjadi panik.

Luhan menahan tawanya. Ekspresi malu gadis itu membuatnya terlihat lebih cute. sebuah ide kemudian terlintas di kepalanya, dia jadi ingin menggoda Taeyeon. “kenapa kau harus malu padaku? cepat atau lambat kau akan menjadi istriku, seharusnya kau membiasakan diri dengan keadaanku”

Taeyeon menganga lebar. dia hampir tak percaya dengan apa yang baru di dengarnya. Tubuhnya sontak menegang ketika merasakan gerakan di belakangnya, yang ia tebak, Luhan sudah berdiri dan kini berjalan mendekatinya. Dengan sekali gerakan, tubuhnya terangkat dengan Luhan yang membawanya di kedua lengannya. jantung Taeyeon berdebar kencang sementara kedua matanya masih tertutup rapat.

“hei..” Luhan berbisik lembut. “tidak apa-apa. kau bisa membuka matamu sekarang”

Taeyeon tahu, jika ia membuka matanya dia tidak akan melihat apapun selain dada Luhan. oleh karena itu, ia pun menurutinya. Luhan yang tersenyum padanya membuat ribuan kupu-kupu serasa berterbangan di dalam perutnya. Wajah Taeyeon merona memikirkan saat ini Luhan yang masih naked menggendongnya. Dia tak tahu harus bagaimana bersikap selain menundukkan wajahnya-menghindari tatapan Luhan padanya.

“kau tidak perlu malu padaku. aku tidak keberatan naked di depanmu”

“Luhan!” Taeyeon memukul dadanya, rona merah di wajahnya semakin menjadi mendengar tawa Luhan. Luhan sengaja menggodanya karena tahu apa yang ia pikirkan.

“sekarang, pegangan yang erat. Aku harus membawa kita keluar dari sini”

Taeyeon mengangguk patuh atas perintahnya. Dia segera mengalungkan kedua lengannya di leher Luhan. Luhan mendongak ke atas, mencoba mencari pijakan yang bisa mengantar mereka hingga ke atas. setelah menemukannya, dia mulai melompat dari satu pijakan ke pijakan yang lain. Taeyeon tak pernah melepaskan matanya dari Luhan. dia terpesona bagaimana Luhan dengan ringan membawanya hingga sampai ke atas. pria itu tak pernah sekalipun melonggarkan pegangannya, lelah tak pernah tampak pada wajahnya padahal dia sendiri tahu, pria itu pasti masih kesakitan karena tadi jatuh melindunginya.

Luhan menghela nafas lega. Dia menatap ke dalam lubang di bawahnya kemudian berpindah pada Taeyeon. pandangannya meneduh, gadis itu sudah tertidur dengan tenang di lengannya.

*jangan khawatir Mine, aku akan selalu melindungimu* Luhan menatapnya dengan lembut kemudian menundukkan sedikit kepalanya mengecup kening Taeyeon.

 

***

Pagi menjelang. Burung-burung kecil yang bersenandung di dekat jendela kamar Taeyeon sepertinya sudah menjadi alarm pagi membangunkannya. Sejak ia mulai tinggal di puri itu, Taeyeon sudah membiasakan diri dengan suara-suara mereka.

Perlahan, kelopak matanya bergerak kemudian membuka bersamaan. sedikit mengejap awalnya karena dia harus beradaptasi dengan sekitarnya yang mulai terang benderang karena sinar mentari pagi menembus sisi daun jendelanya. Taeyeon tidak langsung bangkit, bukan karena tidak ingin tapi karena sesuatu yang sedikit berat dan kuat menahannya. matanya sontak membuka lebar, untuk sesaat dia masih terpengaruh dengan kejadian semalam. Tapi menyadari dimana sekarang ia berada, helaan nafas lega yang pelan pun terdengar dari mulutnya.

Kemudian, kenyataan sontak menyadarkannya. Siapa lagi pemilik lengan di pinggangnya selain Luhan. Taeyeon menahan nafasnya sembari menjauhkan lengan itu darinya, namun saat dia hampir menghela nafas lega, lengan itu kembali ke tempatnya. Taeyeon hampir saja memekik kaget ketika Luhan semakin membawanya mendekat ke arahnya, mendekapnya dengan erat tapi tanpa menyakiti tubuh mungilnya.

Taeyeon mengerang kecil, dia sudah menduga kalau apapun yang ia lakukan pasti tak akan berhasil jika yang ia lawan adalah Luhan. siluman rubah yang keras kepala. Dia hampir kena serangan jantung ketika tiba-tiba Luhan menenggelamkan kepalanya di antara tengkuk dan bahunya. nafas hangat pria itu terasa menyapu lehernya membuat aliran darah yang naik di wajahnya bertambah banyak. Taeyeon ingin sekali menghentikan debaran jantungnya walau hanya sesaat agar ia bisa kosentrasi memikirkan apa yang harus di lakukannya dalam situasi seperti ini tanpa terganggu oleh suara yang timbul dari dalam dadanya.

“kau sudah bangun Mine?” Luhan menyapanya dengan lembut kemudian mengecup lehernya.

Taeyeon merasakan bulu kuduknya meremang dan seluruh sistem syaraf tubuhnya kaku seketika. Ini pertama kalinya dia merasakan keintiman yang nyata seperti yang baru saja Luhan lakukan padanya. Sia-sia rasanya menolak sekarang karena otaknya mendadak menjadi kosong. Seluruh sistem dalam tubuhnya saling terhubung antara satu dengan yang lainnya hingga menciptakan harmonisasi diam pada dirinya.

Untuk pertama kalinya, Taeyeon mengalah pada tubuhnya. membiarkan insting membawanya berbalik hingga tubuh mereka saling berhadapan. Jantungnya seperti berlomba di dalam sana, wajahnya memanas. Luhan menatapnya dengan lembut membuatnya gugup. untuk berapa saat mereka saling bertatapan tanpa ada seorang pun yang berbicara. Taeyeon menyempatkan waktunya meneliti figurnya yang seperti malaikat, hanya dengan melihatnya bisa membuat hati menjadi tenang. dia mengakui, pria di depannya ini sangat tampan, terlalu mempesona, terlalu sempurna hingga dia harus memberi nilai 100 untuk itu.

Taeyeon menggeser tubuhnya agar bisa melihat wajah Luhan dengan lebih jelas sementara pria itu semakin meringkuk ke arahnya. matanya beralih pada pakaian Luhan dan otomatis ia menarik nafas lega karena Luhan menggunakan pakaiannya pagi ini.

Luhan memberinya senyuman hangat. “aku sudah lama menunggumu Mine” akhirnya dia bersuara.

Taeyeon merasa, Luhan sepertinya akan memanggilnya dengan nama ‘Mine’ selamanya. Mine yang berarti milikku. Miliknya yang selalu ia ucapkan tanpa bosan. Terdengar sangat special dan istimewa untuk dirinya. dia tak menampik, terkadang panggilan itu membuatnya berdebar-debar.  Hanya kata sesimpel itu sudah membuatnya bergejolak seperti ini.

*kau menyedihkan Taeyeon..kau terlalu percaya diri* Taeyeon segera mengingatkan dirinya untuk tidak terlena dengan hal itu, tapi ucapan Luhan selanjutnya meruntuhkan kembali pertahanannya.

“hanya kau yang kuinginkan. Bertemu denganmu adalah saat-saat yang paling membahagiakan dalam hidupku. Kau milikku dan akan selamanya menjadi milikku. Aku tidak ingin melepaskanmu Mine, tidak akan pernah”

Taeyeon tak bisa berkata-kata. Semua yang di dengarnya cukup jelas dan dia tidak perlu susah payah memproses ucapannya sekali lagi. setiap gadis yang mendengarnya pasti akan luluh tapi mengapa dia masih merasa tidak nyaman dengan pernyataan itu? wajahnya memang selalu bersemu merah tiap Luhan mengucapkan kalimat-kalimat manis padanya tapi, apakah itu menjamin kalau dia akan menerimanya begitu saja dan jatuh ke dalamnya? Tidak. dia merasa, dia masih membutuhkan waktu. Sudah hampir sebulan mereka bersama tapi tetap saja ini terlalu cepat baginya dan terlalu sangat-tidak-masuk-akal. Berhubungan dengan siluman rubah yang tiap saat bisa menjadi manusia lalu beberapa saat kembali berubah menjadi rubah, apakah itu mungkin?

Luhan memang menyelamatkannya dan dia sangat berterima kasih padanya, tapi apa itu juga cukup? Taeyeon saat ini benar-benar bingung dengan perasaannya sendiri.

“aku..” Taeyeon tak berani melanjutkan. Tenggorokannya serasa tercekat hanya dengan memikirkan kalimat yang ingin ia keluarkan. Dia tidak ingin menjalin hubungan dengan siluman rubah. Hubungan yang tidak masuk akal itu tidak akan berhasil. Begitulah kira-kira yang ingin dikatakannya.

Luhan menatap gadis di depannya dalam-dalam. hatinya kembali terluka dengan penolakan itu. jika saja dia adalah orang yang terburu-buru, mungkin akan mudah memaksanya. Dia memang sangat menginginkannya dan sangat kecewa karena gadis itu masih belum menerimanya, tapi dia juga tidak ingin mendesaknya. Dia sudah memutuskan untuk menunggu dengan sabar, sampai Taeyeon membuka hati untuknya.

“aku mengerti..tapi, seperti yang kukatakan, aku tidak bisa meninggalkanmu Mine” ucapnya kemudian.

“kenapa?” kening Taeyeon berkerut.

Luhan tak segera menjawab dan malah mendekap tubuh Taeyeon semakin erat. Hidungnya dengan rakus menyesap wangi rambut gadis itu, dia membiarkan rasa frustasi mengendalikannya, memuaskan hasrat dan keegoisannya sejenak karena perasaan kecewa calon istrinya mengingkarinya.

“Luhan” panggilan Taeyeon terdengar lembut di telinganya namun terkesan menuntut.

Luhan hanya bisa tersenyum pahit. Dia membelai rambut coklat Taeyeon dengan penuh kasih sayang kemudian mulai menjawab.

“gadis yang telah terpilih menjadi pasangan kami-para siluman rubah adalah pasangan sejati yang telah ditakdirkan untuk kami..selamanya”

Taeyeon merasa jantungnya berdebar kencang. jika dia memang ditakdirkan sebagai pasangan Luhan, mungkinkah itu berarti tidak ada kesempatan baginya untuk berkencan dengan pria normal? Luhan mengeratkan dekapannya. Sekilas setelah mendengar pikiran Taeyeon, dia merasakan amarah dan juga cemburu.

“kami tidak bisa memilih gadis lain Mine” Luhan seolah membaca pikirannya. “kami hanya akan mencintai pasangan kami selamanya” jelasnya berusaha tetap tenang.

“kenapa harus aku? Aku hanya gadis biasa yang ingin menjalin hubungan yang normal, tidak dengan…” Taeyeon susah payah menelan salivanya. Sebagian hati kecilnya tidak tega dan mengatakan tidak seharusnya ia melanjutkan ucapannya. Dia sungguh tidak berniat membuat Luhan tersinggung.

Diluar dugaan, Luhan tertawa. Tawa yang terdengar sedikit di paksakan, beruntung Taeyeon tidak menyadarinya. “kau membuat ini semakin sulit untukku Mine”

Taeyeon terkejut dengan nada dingin dari ucapan Luhan. entah mengapa, hatinya seperti tertusuk ribuan pisau. Untuk sebuah alasan, dia merasa bersalah padanya dan disisi lain, dia tidak biasa mendengarnya. Luhan yang biasanya lembut dan hangat, kali ini terdengar sedikit berbeda.

Ketukan di pintu menyentakkan Taeyeon. Luhan yang masing mendekapnya tak bergeming atau mungkin tak peduli. dia memanfaatkan kesempatan ini meringkuk pada gadis yang dicintainya. Taeyeon tak habis pikir, bagaimana Luhan bisa berubah secepat itu, dari pribadi yang serius menjadi kekanak-kanakan dengan sifat manja.

“eonni kau sudah bangun?” suara familiar terdengar dari balik pintu. Taeyeon hendak bangkit dari ranjangnya tapi Luhan menahannnya seolah tak membiarkannya pergi.

“Luhan, aku harus pergi” Taeyeon setengah memelas. Sementara suara Sunny diluar kamarnya membuatnya gelisah. Bagaimana kalau Sunny tiba-tiba masuk dan melihatnya bersama Luhan? apa yang akan dipikirkan gadis itu jika mendapatinya tidur bersama pria?

“aku sudah mengunci pintu kamarmu jadi dia tidak akan menganggu kita” ujar Luhan santai.

“itu bukan berarti aku harus mengabaikannya!” Taeyeon mendelik kesal. Luhan tetap tidak peduli. dia semakin mengeratkan dekapannya dan setengah memaksa Taeyeon tetap berbaring.

“aku masih ingin bersamamu. Kau tahu aku tidak bisa memperlihatkan wujudku pada mereka” dengan wajah cemberut, Luhan menatapnya.

Taeyeon hampir saja luluh karena ekspresinya. Pria itu terlalu cute untuk di abaikan tapi dia juga tidak mungkin membiarkan Sunny terus-terusan memanggilnya dari luar.

“Luhan please~”

Luhan menggeleng tegas yang artinya tidak. Taeyeon menjadi kesal. “fine. Kalau kau tidak melepaskanku sekarang, aku tidak akan membiarkanmu tidur denganku lagi PLUS kau tidak boleh berdekatan denganku, bermanja-manja dan meringkuk padaku. bagaimana?” ancamnya.

Mata Luhan membulat lebar dan ia refleks menggeleng cepat.

“bagus. Sekarang lepaskan aku”

Tidak perlu menunggu dua kali, Luhan segera melepaskannya. Taeyeon bangkit dari ranjangnya tapi Luhan kembali menahan lengannya.

“apa lagi?” Taeyeon menoleh dengan bosan. Tatapan Luhan sulit di artikan, ekspresi wajahnya tak terbaca hingga Taeyeon harus menduga-duga apa yang kira-kira di pikirkan Luhan sekarang. entah mengapa, Luhan yang kelihatan serius itu membuatnya gugup. dan akhirnya, sebuah kalimat keluar dari mulutnya. kalimat yang seketika membuat Taeyeon terpaku.

“aku tidak akan pernah melepaskanmu Mine. Tidak akan pernah. Ingat itu baik-baik.” dengan itu, Luhan melepaskan tangannya.

Taeyeon merasakan tubuhnya sedikit bergetar bersamaan dengan bulu kuduknya yang meremang usai mendengar kalimat Luhan. menurutnya, kalimat itu terdengar sedikit menakutkan dibandingkan dengan mendengar kalimat yang sama di film-film yang di tontonnya. Tatapan Luhan seakan menembus kedalam jiwanya, membuat dirinya sedikit kurang nyaman tapi meski begitu, dia berusaha untuk tetap tenang.

“eonni” suara Sunny membuat perhatiannya teralih. Tanpa menunggu panggilan selanjutnya, Taeyeon bangkit kemudian berjalan menuju pintu kamarnya. tak lama setelahnya, pintu pun terbuka. Sunny dengan balutan dress santai tersenyum cerah menyapanya.

“annyeong eonni!” sapanya bersemangat.

Taeyeon mau tidak mau tersenyum padanya. melihat gadis kecil itu mampu membuatnya sedikit melupakan pembicaraan seriusnya dengan Luhan. berbicara tentang Luhan, dia menoleh ke belakang dan disana, Luhan telah berubah kembali menjadi seekor rubah. Meringkuk di lantai dengan mata terpejam.

“woah Luhan ada juga disini eonni?”

Taeyeon memaksakan senyumnya lalu mengangguk pelan. Dia tidak ingin Sunny mencurigainya dan mengira dirinya adalah gadis yang aneh karena tidur bersama rubah.

“kenapa kau tiba-tiba ada disini?” suaranya dibuat setenang mungkin, tidak ingin terkesan kasar karena telah menanyakan pertanyaan seperti itu. sudah jelas, dia sengaja mengalihkan pembicaraan agar Sunny tidak lagi banyak tanya terhadap dia dan Luhan.

“aku ingin memberitahu eonni, setelah sarapan kita akan jalan-jalan”

Diam-diam Taeyeon menghela nafas lega karena gadis kecil itu langsung menjawab pertanyaannya.

“jalan-jalan? Kemana?” tanya Taeyeon heran.

“itu rahasia~” Sunny melambaikan tangannya lalu menjauh darinya. Taeyeon menarik nafas dalam-dalam kemudian menutup pintunya. Dia terkejut karena Luhan masih tetap dalam wujud rubahnya. Tadinya dia berpikir pria itu mungkin akan kembali ke wujud manusianya setelah Sunny pergi.

Taeyeon tersenyum lalu berjongkok di depannya. “kenapa kau tidak pergi bersama Sunny saja, hm?” tanyanya membelai kepalanya.

Tidak ada kata yang keluar dari rubah itu. tentu saja, dia seekor rubah dan bukan manusia jadi tidak mungkin dia bisa berbicara seperti manusia. Binatang itu hanya menundukkan kepalanya, kelihatan tidak bersemangat. Taeyeon berdiri lalu membuka pintu kamarnya.

“keluarlah..aku harus bersiap-siap”

Luhan mengangkat kepalanya, menatapnya dengan tatapan polosnya. Taeyeon menggeleng. Dengan kepala menunduk, Luhan berjalan ke arah pintu. segera setelah ia pergi, Taeyeon menutup kembali pintunya lalu menyandarkan tubuhnya disana. dia memejamkan kedua matanya. *apa aku terlalu kasar padanya?* ekspresi Luhan yang terluka membuatnya tak berhenti memikirkannya.

 

***

“jangan di situ!”

Ini sudah kesekian kalinya Taeyeon harus berteriak setiap malam. dia tak punya cara lain lagi selain menggunakan suaranya, tapi bukannya menurut, Luhan malah pura-pura tidak mendengarnya. sepertinya ia sudah kebal dengan suara Taeyeon. Taeyeon rupanya telah melupakan perkataannya sendiri saat meminta Luhan melepaskannya beberapa hari yang lalu bahwa dia tidak akan membiarkannya tidur dengannya jika tidak melepaskannya. Akhirnya Luhan melepaskannya yang berarti ancamannya itu gagal. Itulah sebabnya Luhan bersikukuh tidak ingin pindah dari tempatnya.

Taeyeon mendengus kasar. Tubuhnya sangat lelah dan butuh istrahat tapi kini dia harus di sibukkan dengan tingkah laku Luhan. sudah berapa kali dia menyuruh rubah itu agar tidak tidur di ranjangnya tapi nyatanya, dia tidak mendengarkan dan masih melakukannya. Rubah itu akan naik kembali ke ranjangnya setelah dia memejamkan matanya dan keesokan harinya, dia harus berteriak lagi karena mendapatinya tertidur di sampingnya tanpa sepengetahuannya.

“aku bilang turun sekarang juga!” Taeyeon makin meninggikan suaranya.

Woof! Rubah itu menggeleng lalu menghentak-hentakkan sebelah kaki depannya ke bawah dengan kasar. *kau sudah berjanji padaku kalau aku boleh tidur denganmu jika aku melepaskanmu!* Luhan menggeram sambil memperlihatkan giginya, kelihatan marah. dia tetap bersikukuh tidak akan meninggalkan tempatnya.

Taeyeon tersentak kaget. tak pernah terbayangkan binatang itu akan marah padanya hanya karena tidak ingin pindah dari tempatnya. Mulutnya langsung membentuk huruf O ketika mengingat perkataannya sendiri.

“ugh.” Frustasi, Taeyeon mendelik tajam ke arahnya. Luhan kembali meringkuk dengan nyaman di ranjangnya.

*seharusnya aku tidak menjanjikan itu padanya* sesalnya. Luhan yang tentu saja mendengar pikirannya, mengangkat kepalanya-menatapnya dengan tajam seolah berkata ‘aku bisa mendengarnya’.

Taeyeon memutar bola matanya. *terima kasih telah mengingatkanku pada kemampuan menyebalkanmu* dia membiarkan pikiran sarkastiknya terdengar oleh Luhan. *Siluman rubah brengsek!* dengusnya kesal.

Luhan hanya memandanginya tapi Taeyeon tak peduli. *menyebalkan!* dengan merenggut kesal, dia membaringkan tubuhnya di sebelah Luhan. sepertinya memang tidak ada pilihan lain selain membiarkan Luhan tidur disana. Taeyeon pernah mencoba untuk tidur di lantai atau di sofa dalam kamar, tapi setiap pagi, dia selalu berakhir di tempat tidur. Tentu saja Luhan yang telah menggendongnya.

Taeyeon berbalik membelakangi Luhan, menggeser tubuhnya sejauh mungkin dan dia hampir jatuh karena terlalu ke pinggir. Beruntung, sebelum tubuhnya sempat bertemu dengan lantai di bawah ranjangnya, sepasang lengan telah memeluknya dari belakang dan menariknya hingga ke tengah. Jantung Taeyeon kembali tak terkendali, siapa lagi pemilik lengan itu selain Luhan yang telah berubah menjadi manusia. Masalahnya, Luhan sekarang tidak memakai baju hingga membuatnya takut membuka matanya. mengerti sikap Taeyeon, Luhan tertawa kecil sebelum akhirnya beranjak dari ranjang untuk memakai bajunya. Setelah itu, dia kembali berbaring di samping Taeyeon, tak lupa memeluknya seperti yang biasa ia lakukan.

Mungkin ini terlihat aneh karena Taeyeon hanya diam membiarkannya. Taeyeon bimbang, dia sendiri tak tahu mengapa setiap Luhan memeluknya selalu membuatnya merasa nyaman. dia merasakan rasa aman berada dalam pelukannya. disamping dia lelah selalu berdebat dengan Luhan-yang-selalu-berhasil-mendapatkan-apa-yang-ia-mau, tanpa ia sadari, pelan-pelan dia mulai menyukai tindakannya.

Taeyeon menyadari, semakin ia membuka perasaannya, semakin besar kemungkinan dia jatuh cinta pada Luhan. meski dalam diam, Luhan pasti akan mudah membaca pikirannya dan merasakan apa yang ia rasakan. Taeyeon tetap ingin memberikan batasan terhadap perasaannya, kebimbangan dalam hatinya dan kebingungannya akan kehadiran Luhan disisinya membuatnya takut pada perasaannya sendiri.

Luhan menariknya hingga jarak diantara mereka merapat. Taeyeon merinding, hembusan nafas Luhan menggelitik kulit lehernya hingga mengirimkan getaran-getaran aneh di hampir seluruh tubuhnya.

“jadi, aku siluman rubah yang brengsek huh?”

Sekalipun pertanyaan itu hanya sekedar menggodanya, tetap saja jantungnya seperti ingin meledak. Suara Luhan yang serak dan berat, terdengar sexy di telinganya. Taeyeon menutup rapat-rapat matanya sambil menahan malu. Wajahnya yang tadinya bersemu merah kini berubah merah padam mendengar tawa Luhan. jelas, pria itu sudah membaca pikirannya.

Luhan memandanginya dengan teduh. *kau tidak tahu Mine..bagaimana kau selalu membuatku bahagia hanya dengan melihat wajahmu yang merona karenaku.*

“kau tahu, membelakangi calon suamimu adalah tindakan yang tidak sopan.” Luhan membalik tubuh Taeyeon hingga berhadapan dengannya. gadis itu sontak menutup wajahnya dengan kedua tangannya, tidak ingin Luhan melihat semburat merah di pipinya ditambah lagi dengan jarak mereka yang sedekat ini.

Luhan tersenyum menurunkan kedua tangannya agar dia bisa melihatnya. Taeyeon tetap diam menghindari tatapannya. Dia yang begitu habis-habisan melarang Luhan bahkan menolaknya, kini berubah total hanya dalam waktu beberapa menit. Seharusnya dia mendorong Luhan, seharusnya dia tidur di sofa saja, sehar-

Taeyeon terkejut, matanya membulat lebar, sesuatu yang lembut tiba-tiba mendarat di keningnya membuat pikirannya menjadi kosong. Butuh beberapa detik untuk mengembalikan kesadarannya atas apa yang baru saja terjadi. Luhan mengecup lembut keningnya. belum sempat jantungnya pulih dari tindakannya, bibir Luhan kini menyentuh bibirnya. masih shock, Taeyeon tidak dapat berpikir dengan jernih. Dia tak mengerti apa yang terjadi pada dirinya. dia ingin menolak tapi tubuhnya menahannya. Sampai akhirnya, Luhan mulai menggerakkan bibirnya, menciumnya dengan hati-hati dan penuh kelembutan. Lambat laun, Taeyeon luluh dan otomatis menutup matanya membalas ciumannya. Luhan tersenyum di sela-sela ciuman mereka, jantungnya berdebar kencang merasakan Taeyeon akhirnya membalas ciumannya bukan menolaknya.

Keduanya larut dalam ciuman mereka. bibir mereka bergerak pelan dan seirama. Luhan menangkup wajah Taeyeon untuk memperdalam ciumannya. hanya beberapa detik, ciuman itu berubah menjadi penuh tekanan dan menuntut. Tak ada yang menyadari, matanya yang berwarna coklat terang kini telah berubah menjadi warna merah. Dia mengisap bibir bawah Taeyeon dan sedikit menggigitnya-meminta gadis itu membuka mulutnya. Seperti permintaannya, Taeyeon membuka mulutnya dan Luhan secepat kilat melesatkan lidahnya ke dalam.

Taeyeon terkesiap. Ini ciuman pertama baginya dan ia tak menyangka Luhan akan menciumnya dengan cara seperti ini. dia hampir kewalahan karena pria itu hanya memberinya sedikit waktu untuk mengatur nafasnya sebelum kembali menciumnya. Ini hanya perasaannya saja atau memang hawa diruangan itu berubah panas? Taeyeon mendadak merasa tubuhnya panas bersamaan dengan perasaan menggelitik di dalam perutnya membuatnya tidak bisa mengendalikan dirinya.

Begitupun dengan Luhan, dia hampir tak bisa mengendalikan dirinya. dorongan kuat dalam dirinya untuk menyentuh pasangannya terlalu besar. Daya tarik gadis itu seperti candu baginya, desahan yang keluar dari mulutnya membuatnya semakin bergairah. Luhan sadar, dia tak akan puas hanya dengan ciuman. Ini bukan hanya karena keinginannya tapi juga karena hasrat alami terhadap pasangan mereka. frustasi dan posesif, itulah yang ingin ditunjukkannya. Dia frustasi karena terlalu lama menahan hasratnya sementara keberadaan Taeyeon disisinya membuatnya semakin sulit dan hampir mematahkan pertahanannya. Posesif adalah kata yang tepat untuk menggambarkan tindakannya. Dia ingin memberitahu orang-orang kalau gadis itu adalah miliknya, hanya miliknya.

Taeyeon berusaha menyadarkan dirinya kembali, jika dia tak menghentikan Luhan sekarang, pria itu bisa saja mengambil sesuatu yang sangat berharga darinya dan dia tidak ingin itu terjadi. Sebelum dia sempat mendorong Luhan, pria itu sudah lebih dulu melepaskan ciuman mereka.

Luhan menyandarkan keningnya dan tersenyum sementara Taeyeon sibuk mengatur nafasnya. Tangannya mengelus pipi gadis itu dengan penuh kelembutan, senyumnya makin melebar ketika matanya jatuh pada bibir Taeyeon. bibir mungil gadis itu tampak membengkak dan kemerahan akibat ulahnya. Untuk beberapa saat, dia tak bisa mengalihkan matanya, benda lembut itu seolah-olah menggodanya agar mencicipinya lagi. Luhan menghela nafas pelan lalu memalingkan wajahnya, dia harus bisa mengendalikan hormonnya jika tidak ingin Taeyeon takut padanya. apa jadinya jika gadis itu tahu apa yang harus dilakukan siluman rubah dan mate mereka setelah bertemu, mungkin Taeyeon akan lari darinya atau lebih parah, membencinya. Tentu dia tidak menginginkan hal itu terjadi.

Taeyeon menyadari kediaman Luhan. pria itu sempat membuatnya merah padam karena tatapannya pada bibirnya dan sekarang, pria itu tampak serius seperti sedang memikirkan sesuatu. dia heran apa yang kira-kira di pikirkan Luhan hingga dia berubah menjadi sedikit pendiam dan menghindari tatapannya. Seolah mendengar pikiran Taeyeon, Luhan kembali menatapnya. Taeyeon agak terkejut, dia baru menyadari kedua mata Luhan yang berwarna coklat kini berganti menjadi warna merah. Dia berani bersumpah, sekilas dia melihat bayangan api di dalam matanya. penasaran, Taeyeon bertanya pada dirinya sendiri mengapa mata Luhan bisa berubah warna seperti itu. dia bukannya takut malah terpesona melihatnya. Seumur hidupnya dia belum pernah melihat mata seindah itu. mata itu seolah menariknya kedalam dunia yang belum pernah ia lihat sebelumnya hingga membuatnya tak bisa berpaling. Disamping itu, sekilas dia juga sempat melihat tatapan berbeda dari seorang Luhan. tatapan penuh hasrat dan gairah yang entah bagaimana membuatnya mendadak gugup.

Luhan mendadak tertawa kecil menyentakkannya dari lamunannya, pria itu tak pernah bosan memberikan senyuman lembut yang selalu berhasil membuatnya berdebar-debar.

“maafkan aku” Luhan menariknya kedalam pelukannya.

Taeyeon hanya diam mendengarkannya. Dia tak mengerti kenapa Luhan tiba-tiba meminta maaf padanya. apakah dia meminta maaf karena telah menciumnya atau karena alasan yang lain.  “aku berjanji akan berusaha menahannya”

Taeyeon akhirnya mengerti. semburat pink di kedua pipinya muncul bersamaan dengan ia mengingat kejadian ciuman tadi. dia cukup kaget mendengarnya.

“m-matamu…”

Luhan memejamkan matanya lalu menggeleng pelan. “ini hanya reaksi alami”

Taeyeon mengangkat kepalanya-menatapnya. matanya mengejap kaget, keningnya sedikit berkerut, warna mata Luhan telah kembali normal.

Tak ingin Taeyeon menanyakan warna matanya lagi, Luhan mendaratkan kecupan singkat di bibirnya membuat gadis itu terlonjak kaget. bukannya tidak ingin gadis itu mengetahuinya kalau warna matanya akan berubah jika emosinya menjadi tidak stabil, dia hanya belum siap memberitahu segalanya tentang bagaimana sebenarnya siluman rubah itu.

“tidurlah Mine, aku akan menjagamu” ucap Luhan memeluknya.

Seberapapun besarnya rasa ingin tahu Taeyeon dengan apa yang dimaksud dengan reaksi alami, dia tidak menolak saat Luhan menyuruhnya. Hanya beberapa menit setelahnya, diapun tertidur. Luhan membuka matanya dan pandangannya berubah teduh.

*aku mencintaimu Mine.* Dia memberikan kecupan lembut yang lama di kening Taeyeon sebelum akhirnya kembali memejamkan matanya dan tertidur menyusul gadis itu.

 

To be continued…

Akhirnya post juga part 2-nya. Sorry kalau kelamaan nunggu. Maklum, aku butuh waktu untuk merubah chap ini. dan yup, Luhan adalah siluman rubah. terlalu banyak yang mengira dia adalah wolf ~kekeke (sorry kalau ga sesuai harapan kalian). cukuplah Full Moon yang bertema wolf, disini aku pengen bikin sesuatu yang beda aja.

Jangan lupa komennya ya^^

—> RYN

61 thoughts on “[Freelance] The Day I Meet Him (Part 2)

  1. aduh luhan ;u; liar plus cute diwaktu yang bersamaan. aduh aduh suka banget deh sama ff ini. penghilang stress setelah ulangan kimia ;_; (?)

  2. autor ff nya bagus baget aq suka ceritannya
    hehehehehehheehh autor yang buat ff zg kriss taeyeon kan klo gag salah judulnya aq lupa tp hampir mirim dengan ini jujur aq suka fanfc autor
    kapan autor lanhjutin ff itu aq udah penasaran hehehehehe
    klo g2 semangat ya tor hahahahahahahaaha

  3. ff nya author Ryn emang yg paling kece dulu padahal aku ngga terlalu suka ff genre fantasy tapi setelah baca ff nya author Ryn aku jadi suka apalagi lebih suka kalo ff karya author Ryn🙂 keren ditunggu kelanjutan ff mu yg lain author

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s