[Freelance] That Boy (Heart Attack/END)

thatboy

Title                 : That Boy (Heart Attack) – END

Author             : Bina Ferina

Length             : Two Shot

Rating                         : T

Genre              : School-life, Romance

Main Cast        : Kim Taeyeon (GG)   Xi Luhan (EXO)

Other Cast       : SNSD, EXO, Kyuhyun SJ.

Artworker       : heerinssi.wordpress.com

Note                : FF ini terinspirasi dari beberapa drama jepang, disatuin, trus jadi deh FF abal-abal ini. Heheheheh. Enjoy reading!^^

 

Di bawah hujan sakura, aku mengenal sosoknya. Di bawah hujan sakura, aku melihat sisinya yang lembut. Pohon sakura dan bunga-bunganya menjadi kunci terbukanya pintu hatiku, yang berhasil runtuh oleh sosoknya yang berwarna merah muda pekat, sosoknya yang membuat jantungku berdebar kencang ketika ia mendekat, dan membuat hatiku sakit ketika ia menjauh.

 

~Heart Attack~

 

“Karena aku menyukai hujan bunga sakura, sama sepertimu. Itu sangat cantik. Dan aku lebih menyukainya lagi ketika melihatmu berada di sana. Ketika melihatmu dengan nyamannya bermandikan bunga sakura. Itu sangat membuatku terpesona,” jelas Luhan.

“Kau sangat cantik,”

Taeyeon terdiam dan agak sedikit shock mendengar perkataan yang keluar dari mulut Luhan. Ia tidak menyangka kata-kata itu keluar dari mulut Luhan. Kata-kata yang sama yang keluar dari mulut seseorang untuk Taeyeon 5 tahun yang lalu. Taeyeon merasa Luhan mirip dengan laki-laki itu.

“Apa kau bercanda?” tanya Taeyeon setelah sekian detik mereka terdiam.

“Ani, buat apa aku bercanda? Apa wajahku seperti seorang pembohong?”

Taeyeon diam.

“Kau tidak perlu terlalu malu seperti itu, sunbae. Bukannya sudah banyak yang memujimu cantik? Tapi aku bukan salah satu penggemarmu, tentu saja. Yang kukatakan baru saja murni dari hatiku yang paling dalam. Kuharap sekarang kau sudah tidak terlalu marah lagi padaku,” kata Luhan. Ia ingin tertawa melihat ekspresi Taeyeon yang sangat terkejut mendengar penuturannya.

Taeyeon tersenyum sedih, “ani. Ini yang kedua kalinya aku mendengar seseorang memujiku cantik seperti yang kau katakan,”

Luhan menatap Taeyeon dengan pandangan bingung.

“Aku tidak malu atau merasa bahagia mendengar perkataanmu. Aku merasa kau sudah membuka kenangan lama yang kusimpan rapi dalam memoriku. Kau membukanya dan membuatnya terngiang-ngiang di kepalaku, dan rasanya sakit sekali,”

Setelah mengatakan hal seperti itu, Taeyeon balik badan dan pergi meninggalkan Luhan yang sedang berusaha mencerna perkataan Taeyeon barusan.

 

~Heart Attack~

 

Taeyeon buru-buru mengambil tas sekolahnya dan menggandeng lengan kiri Sooyoung yang sudah menunggunya membereskan seluruh buku-buku pelajarannya.

“Dimana Tiffany?” tanya Taeyeon, yang baru menyadari kalau Tiffany tidak ada di bangkunya.

“Eoh, kau tidak tahu, ya eonni? Dia ada janji dengan Luhan,” jawab Sooyoung.

Taeyeon langsung melepas genggamannya dari lengan Sooyoung dan menatapnya. “Oh, ya? Janji apa? Kukira, Luhan menyukai YoonA,”

“Aigoo, eonni. YoonA hanyalah sunbae favorit Luhan. Sedangkan Luhan dan Tiffany eonni sudah seperti teman akrab. Tidak salah, ‘kan jika Luhan ternyata menyukai Tiffany eonni. Mungkin Tiffany eonni akan menerima Luhan, dia merupakan hoobae kesayangan Tiffany eonni, si Luhan itu,” jelas Sooyoung.

“Aah, jinjjayo?” ucap Taeyeon dan ia segera menggenggam kembali lengan kiri Sooyoung.

Mereka melangkah keluar gerbang sekolah bersama-sama sambil mengobrol. Tentu saja Sooyoung yang banyak bercerita. Sedangkan Taeyeon, ia hanya tersenyum mendengar cerita Sooyoung. Sesekali pikirannya melayang ke Tiffany dan Luhan. Entah apa yang membuatnya memikirkan mereka berdua.

“Eoh, itu Tiffany eonni,” ucap Sooyoung sambil menunjuk Tiffany dan Luhan yang sedang berdiri di sudut depan pintu gerbang.

Taeyeon tersadar dari lamunannya dan menatap ke arah yang ditunjuk Sooyoung. Tiffany dan Luhan, tampak sangat serius dalam percakapan mereka. Bahkan sesekali Taeyeon melihat raut wajah Tiffany yang murung.

“Wae? Kenapa ekspresi mereka berdua serius sekali?” tanya Sooyoung.

Taeyeon tidak menjawab. Ia masih sibuk menatap Luhan dari kejauhan. Dan seperti ada kontak batin di antara mereka, Luhan langsung menolehkan kepalanya ke kiri, menatap tepat ke arah Taeyeon berdiri. Ekspresi Luhan ketika melihat Taeyeon tidak bisa ditebak. Ia terus menatap Taeyeon, sampai Taeyeon mengalihkan tatapannya dari Luhan dan Tiffany yang juga ikut menatap ke arah Taeyeon dan Sooyoung.

“Eoh, sepertinya mereka sudah selesai,” kata Sooyoung.

Taeyeon kembali menatap Tiffany dan Luhan. Sebelum Tiffany menghampiri Taeyeon dan Sooyoung, Luhan menggenggam erat telapak tangan kanan Tiffany, membuat jantung Taeyeon entah kenapa seperti ditekan.

Tiffany dengan langkah buru-buru kembali memasuki gerbang dan menghampiri Taeyeon dan Sooyoung. Namun, karena langkahnya yang terburu-buru, ia tak sengaja menabrak seorang laki-laki tinggi dengan rambut pirang keemasan, yang sedang jalan keluar gerbang sekolah. Mereka berdua sama-sama membungkuk minta maaf dan Tiffany kembali berlari menuju Taeyeon dan Sooyoung.

“Mianhae. Kalian sudah menunggu lama?” tanya Tiffany, senyumannya yang lebar tertera di wajahnya.

“Tidak terlalu,” jawab Sooyoung, ikut tersenyum.

“Apa urusan kalian sudah selesai?” tanya Taeyeon dengan nada dingin yang kentara sekali.

Taeyeon menyadarinya dan buru-buru menambahkan, “aahh, kalau kau masih belum selesai dengannya, tak apa, kami bisa pulang bersama”

“Aniyo, kami sudah selesai. Kajja, kita pulang,” ajak Tiffany.

“Ya, kenapa eonni senang sekali? Wah, wah, wah. Apakah ada yang istimewa dari perbincangan kalian tadi?” ejek Sooyoung.

“Aniyo~. Aissh, jinjja ayo pulaang,” rengek Tiffany.

“Kenapa ekspresi kalian serius sekali? Apa sebegitu rumitnya bagi Luhan untuk menyatakan perasaannya padamu?” tanya Sooyoung, membuat Taeyeon langsung menatap Tiffany, yang juga sedang menatap ke arah Taeyeon.

Tiffany, yang awalnya terkejut, kini tersenyum lebar ke arah Sooyoung. “Aniya, aku akan memberitahu kalian nanti,”

“Ya, kenapa eonni pelit sekali?” seru Sooyoung kesal. Tiffany hanya tersenyum kecil menatap Sooyoung. Sedangkan Taeyeon, ia hanya diam. Ia tak tahu kenapa ia sama sekali tidak tertarik mendengarnya.

 

~Heart Attack~

 

“Taeyeon-ah~,” panggil ibu Taeyeon dari dapur.

“Ne~” jawab Taeyeon, yang saat itu sedang menonton TV di ruang keluarga.

Taeyeon melangkah ke dapur dan menghampiri ibunya, yang sedang memasak makan malam sekaligus sedang memegang ponselnya.

Begitu melihat Taeyeon, ibunya langsung menyerahkan ponselnya ke hadapan Taeyeon.

“Mwo?” tanya Taeyeon tidak mengerti.

“Kyuhyun-ah ingin bicara denganmu. Ppali, dia hanya bisa sebentar saja menelepon. Dia sedang kerja,” bisik ibu Taeyeon sembari mengambil spatula dan kembali fokus memasak.

(OST. Taeyeon – Bye)

Ingin rasanya Taeyeon membanting ponsel ibunya dan lari ke kamar. Namun, di dalam hati nuraninya, ia ingin sekali mendengar suara orang itu, ia ingin sekali berteriak kalau ia merindukan orang itu, teman masa kecilnya, tetangganya, sekaligus cinta pertamanya sejak 5 tahun yang lalu, bahkan belum bisa ia lupakan.

Taeyeon bergegas pergi kekamarnya di lantai dua dan ia mendengar, “yeoboseo,” dari ponsel ibunya.

Badai kerinduan dan kesedihan berhasil memporak-porandakkan isi hatinya begitu ia mendengar suara yang selama ini selalu dirindukannya, yang selama ini selalu menghiasi mimpi-mimpinya di malam hari, suara yang selama ini tak pernah berhenti membuat jantungnya berdebar kencang.

“Ya! Taeyeon-ah? Kau disitu, ‘kan?” panggil Kyuhyun sekali lagi.

“Eo… eoh, tentu saja,” jawab Taeyeon gugup.

Kyuhyun tertawa, “ya, aku senang sekali bisa meneleponmu. 2 tahun berada di Cina memang sepi jika tidak ada dirimu,”

Taeyeon diam. Ya, lebih baik diam. Ia ingin lebih banyak mendengarkan suara Kyuhyun, ingin meresapi suara orang itu, ingin membayangkan wajahnya sekarang seperti apa setelah 2 tahun mereka berpisah. Walaupun, tentu saja. Ini membuat luka di hati Taeyeon tidak kunjung sembuh, karena ia tahu pasti, Kyuhyun meneleponnya untuk sesuatu yang tidak ingin didengarnya.

“Haahh,” Taeyeon dapat mendengar helaan napas Kyuhyun. “Neomu bogoshipeundae,”

Taeyeon tersenyum sedih. Kalau bisa menangis, ia akan menangis sekarang. Ia akan mengatakan semuanya pada Kyuhyun. Tapi itu akan membuat Kyuhyun terbebani. Ia tidak ingin melihat orang yang disayanginya merasa sedih.

“Oh, jinjjayo?” tanya Taeyeon singkat. Air mata mulai menggenang di sekitar pelupuk matanya.

“Tentu saja. Aku ingin duduk di bawah pohon sakura lagi denganmu. Saat ini di Korea sedang musim gugur, ‘kan? Aigoo, aku ingin sekali melihatnya, lalu melihatmu bermandikan bunga sakura. Kau tahu aku sangat suka melihatmu di hujani bunga sakura,” kata Kyuhyun panjang-lebar.

Taeyeon tersenyum dan ia tahu, apa kata-kata yang akan diucapkan Kyuhyun selanjutnya.

“Kau sangat cantik,”

“Ya, oppa sudah berapa kali mengulangi kata-kata macam itu? Aku takut Qian eonni akan salah paham padaku,” kata Taeyeon.

“Aniyo, dia tak akan salah paham. Dia tahu kau adalah sahabatku. Dia tahu aku adalah sahabatmu. Apa yang harus disalah pahamkan?” tanya Kyuhyun sambil tertawa.

“Tapi, oppa jebal. Jangan mengatakan hal seperti itu lagi. Aku tidak ingin kau mengatakan ‘cantik’ lagi,”

“Waeyo? Aigoo, kau sudah punya pacar, ya? Kau takut pacarmu cemburu? Waah, aku senang sekali kau punya pacar. Selama ini kau selalu menolak laki-laki yang datang padamu dan mengatakan hanya aku laki-laki yang boleh didekatmu. Kau sudah dewasa sekarang,”

Taeyeon tersenyum lemah. “Ne, dulu memang seperti itu. Sewaktu oppa masih di Korea, aku selalu mengatakan seperti itu. Aku dulu tidak ingin lepas darimu. Aku selalu menganggapmu laki-laki yang pertama dan terakhir, benar? Tapi, tentu saja. Saat itu aku masih kecil, terlalu menganggapmu hebat dan terlalu ingin berada di dekatmu selalu. Tapi sekarang, yang boleh didekatmu selamanya adalah Qian eonni, ‘kan?”

Taeyeon menundukkan wajahnya. Ia ingin menangis. Ia tak tahan lagi. Sebentar lagi, Kyuhyun akan mengatakan sesuatu yang membuat tsunami besar melanda hati Taeyeon. Sebentar lagi. Taeyeon tahu itu.

Meskipun ia tahu kenyataan pahit itu sejak lama, ia tidak bisa menghilangkan rasa cintanya untuk Kyuhyun. Rasa ini masih sama saat pertama kali ia menyadarinya. Masih sama, masih hangat, dan masih belum bisa ia relakan pergi.

“Ani, semua orang boleh berada di dekatku, termasuk dirimu. Kenapa aku harus melarang orang lain dekat denganku?” Kyuhyun tertawa. “Yang benar, hanya Qian-lah perempuanku satu-satunya,”

“Tentu saja. Itulah maksudku,” kata Taeyeon.

Kyuhyun tertawa renyah. Saatnya, inilah saatnya berita itu akan keluar dari mulut Kyuhyun. Taeyeon berjanji, untuk pertama kalinya, ia berjanji pada dirinya sendiri. Untuk pertama kalinya, ia berani berjanji pada dirinya sendiri. Ia berjanji akan sepenuhnya melupakan rasa cintanya untuk Kyuhyun selama ini. Ia akan kembali menganggap Kyuhyun sebagai sahabat sekaligus ‘oppa’-nya. Ya, ia akan merelakan Kyuhyun dan mendoakannya bahagia dengan seseorang yang ia cintai.

“Taeyeon-ah, apa kau bisa ke China bulan depan? Ayah dan ibumu sudah aku ajak juga. Mereka dengan senang hati akan ke China bulan depan. Maukah kau ikut dengan mereka? Maukah kau menghadiri pernikahanku dengan Qian?”

BINGO!

Taeyeon menjauhkan ponsel ibunya dari telinganya dan menangis dalam diam. Ia menangis sesenggukan. Namun, ia harus mengontrol dirinya. Janji yang diucapkannya baru saja, sudah resmi. Ia harus berjuang melaksanakan janjinya. Ia harus menjadi gadis yang dewasa. Kyuhyun, memang bukan jalan hidupnya.

Taeyeon menguatkan hatinya dan sambil menarik napas panjang-panjang, kembali mendekatkan ponsel ibunya ke telinganya.

“Oppa, jinjja? Kau benar-benar akan menikah? Jeongmalyo? Waaahh, chukkae! Aku benar-benar tidak bisa membayangkannya”

“Ne, aigoo. Kau sangat senang, kah? Suaramu jadi parau begitu. Aku juga sangat senang, tak percaya, akhirnya aku bisa menikah dengan Qian. Butuh perjuangan besar mendapatkannya,”

“Ne, sangat besar. Kau bahkan rela mengejarnya ke China,” jawab Taeyeon sambil tersenyum sedih. “Oppa, kau benar-benar sudah dewasa, ‘kan? Jadi, janganlah kekanak-kanakan dan hapus sifat evil-mu. Lindungilah Qian eonni dan selalu cintai dia. Jangan pernah sekalipun berpaling darinya, eoh? Atau aku akan membunuhmu!”

Kyuhyun tertawa keras. “Ne, arraseo eomma, arraseo. Taeyeon-ah, kau juga sepertinya sudah dewasa. Terakhir kutinggalkan, kau masih kelas 3 SMP, ‘kan? Aku benar-benar ingin melihatmu. Aku sangat rindu padamu,”

“Nado, oppa. Aku akan datang bulan depan. Tunggu aku, ya?”

“Eoh, jangan lupa bawa pacarmu, okay? Aku ingin tahu seperti apa dia. Hanya dia, ‘kan yang boleh mengatakan ‘cantik’ padamu? Aaahh, aku akan memberitahu semua tentangmu padanya jika kau mengajaknya juga,”

Taeyeon tersenyum. Padahal Taeyeon sama sekali tidak ada mengatakan kalau dia sudah punya pacar. Kyuhyun memang suka sekali menyimpulkan hal secara asal. Tapi Taeyeon malas mengatakan yang sebenarnya. Ia akan mengatakan yang sejujurnya bulan depan.

“Oppa,” panggil Taeyeon lirih.

“Ne?” sahut Kyuhyun.

“Bisa kirimkan fotomu? Aku ingin melihat wajahmu. Tapi setelah aku memutuskan teleponnya saja,”

“Eoh, tentu saja boleh. Kalau begitu, lihatlah wajahku yang sangat tampan ini, ya? Jangan lupa bulan depan! Bye~”

Taeyeon tersenyum dan memutuskan sambungan telepon dari Kyuhyun. Beberapa detik kemudian, sebuah email masuk dan Taeyeon langsung membukanya. Dari Kyuhyun. Taeyeon membuka kiriman Kyuhyun dan terpampanglah wajah yang amat sangat dirindukan Taeyeon selama 2 tahun ini. Kyuhyun tersenyum di dalam foto itu.

Taeyeon mendekap mulutnya, ia menangis terisak-isak. Ini jauh lebih sakit ketika ia mendengar Kyuhyun akan pindah kerja di China demi Qian. Wajah, senyuman, dan semuanya tentang Kyuhyun jauh lebih menyakitkan.

Dan janji adalah janji. Sesakit apapun, Taeyeon akan terus, akan tetap memperjuangkan janjinya pada dirinya sendiri.

“Annyeong, oppa. Saranghae. Terima kasih sudah berada disisiku selama ini dan menjadi cinta pertamaku,”

 

~Heart Attack~

 

(OST. SM. The Ballad – Miss You)

“Tidak banyak yang berguguran hari ini, ya?” tanya seseorang yang tiba-tiba saja berada di samping Taeyeon.

Taeyeon terlonjak kaget dan ia menatap sosok Luhan yang muncul mendadak di sampingnya.

Saat ini, Taeyeon sedang menatap bunga sakura dari jarak lumayan jauh. Ia sengaja tidak pulang bersama Tiffany dan Sooyoung hanya untuk melihat bunga sakura yang berada di hadapannya ini. Sepanjang hari di sekolah, Taeyeon tidak berniat untuk keluar kelas. Hatinya terlalu lelah, membuatnya malas melakukan apapun. Dan ia belum memberitahu tentang telepon Kyuhyun pada Tiffany dan Sooyoung.

Ya, Tiffany dan Sooyoung juga mengenal siapa itu Kyuhyun. Mereka berdua dikenalkan oleh Taeyeon pada Kyuhyun sejak kelas 1 SMP. Mereka juga tahu apa yang sebenarnya dirasakan oleh Taeyeon pada Kyuhyun.

“Kau mengagetkanku,” kata Taeyeon kesal.

“Kenapa sunbae berada di sini? Biasanya berada di bawah pohon sakura,” kata Luhan.

“Tidak kenapa-napa,” jawab Taeyeon pelan.

“Takut ku potret diam-diam lagi, ya? Aku membawa kamera sekarang. Apakah aku boleh memotretmu di bawah pohon sakura?” tanya Luhan.

“Ya! Awas saja kalau berani,” ancam Taeyeon.

“Aku akan mengambil kameraku di tas,” kata Luhan, ia melepas tasnya dan hendak membukanya.

“Ya, neo!” Taeyeon. Ia memukul lengan kanan Luhan.

“Aaww,” ringis Luhan.

Taeyeon memukul lengan Luhan sekali lagi, lebih kuat. Dan ia hendak memukul Luhan lagi, namun kali ini pukulannya terhenti. Pergelangan tangan kanannya dengan cepat ditangkap oleh Luhan. Taeyeon kaget dan ia berusaha melepaskannya. Namun, Luhan tetap bergeming, ia malah mempererat pegangannya sambil menatap lurus ke mata Taeyeon.

“Aissh, neo. Ya! Lepaskan tanganmu,” bentak Taeyeon.

“Ani,” jawab Luhan singkat.

Ia memperpendek jarak antara dirinya dan Taeyeon, dan mendekatkan wajahnya ke wajah Taeyeon. Taeyeon gelagapan. Apalagi tatapan tajam Luhan yang seolah-olah mengebor dalam-dalam ke mata Taeyeon. Taeyeon menundukkan wajahnya saat ia menyadari wajahnya sudah merah sekali akibat perlakuan Luhan.

“Ya! Aku peringatkan kau! Lepaskan!” seru Taeyeon.

Taeyeon memberontak ingin lepas dari pegangan Luhan. Ia berusaha memukul Luhan dengan tangannya satu lagi, dan lagi-lagi ditangkap juga dengan cepat oleh Luhan. Taeyeon membelalakkan matanya. Jantungnya sudah berdebar sangat kencang ketika wajahnya dan Luhan hanya berjarak 5 cm. Napas Luhan yang beraroma mint segar menyapu wajah Taeyeon. Sedangkan Taeyeon, ia bahkan tidak berani bernapas. Ia hanya menatap ke bawah. Namun, hatinya entah kenapa ingin memandang mata cokelat Luhan yang hangat.

Ia menatap mata Luhan dan tampaklah dirinya terpantul dalam bola mata Luhan. Tatapan mata Luhan yang tajam terasa hangat, penuh kasih sayang ketika mata mereka bertemu. Taeyeon hanyut dalam tatapan Luhan. Tidak seperti yang terjadi ketika mereka sama-sama ingin menyeberang jalan, Taeyeon merasa takut dan terhipnotis oleh tatapan Luhan. Kali ini berbeda. Ia merasa nyaman dan ingin terus menatap manik-manik matanya.

Taeyeon hanya diam, menunggu reaksi yang keluar dari diri Luhan. Ia pasrah, jika Luhan melakukan apa yang sudah ada di benaknya. Taeyeon bertanya-tanya dalam hatinya, dia menunggu ataukah berharap?

Luhan semakin memajukan wajahnya. Dada Taeyeon sudah sangat sakit saking berdebar-debarnya. Bukan debaran biasa. Jantungnya seakan-akan minta keluar.

“Sunbae tidak akan bisa menjadi Miss Korea jika suka memukul orang lain,” bisik Luhan tepat di telinga Taeyeon.

Taeyeon, yang sudah memejamkan matanya rapat-rapat, langsung membuka matanya begitu mendengar ucapan Luhan. Luhan melepaskan pegangannya pada Taeyeon dan tertawa.

Taeyeon hanya mengerjap-ngerjapkan matanya, bingung.

“Jika ingin menjadi Miss Korea jangan seperti itu lagi, sunbae,” kata Luhan lagi.

Taeyeon diam. Ia sadar sudah dikerjai oleh adik kelasnya sendiri. Ia menatap Luhan dengan sangat kesal.

“Neo… hah! Kau benar-benar tidak tahu sopan santun,” kata Taeyeon marah.

“Baguslah,” kata Luhan sambil tersenyum hangat. “Tatapan ini yang ingin aku lihat darimu, sunbae. Tatapan tajam darimu yang selama ini kau tujukan untukku. Tapi tadi tatapan itu tidak ada. Tatapan sendu yang aku lihat. Apa aku salah?”

Air muka Taeyeon langsung berubah terkejut. Buru-buru ia memandang ke arah lain. “Kau jangan sok tahu,”

Lalu Taeyeon balik badan dan berniat pulang.

“Sunbae! Kau mau kemana? Tunggu aku, sunbae! Kita pulang bersama!” seru Luhan. Ia mengambil tasnya dan segera berlari menyusul Taeyeon.

Luhan berhasil menyejajari langkahnya dengan Taeyeon. Taeyeon hanya menatap Luhan dengan pandangan kesal, lalu menatap ke depan dengan wajah sewot. Luhan tersenyum melihat ekspresi Taeyeon.

Ketika mereka berdua menuju halte bus dekat sekolah, mereka melihat Kai, Suho, dan teman-teman Luhan berdiri di depan halte, sedang bercanda tawa. Luhan berhenti begitu juga Taeyeon. Melihat Luhan dan Taeyeon datang, mereka ber-11 langsung melihat ke arah Luhan dan terdiam. Mereka semua terbelalak dan tercengang sekali melihat Luhan dan Taeyeon jalan bersama. Selama mereka mengenal Taeyeon, Taeyeon tidak pernah terlihat jalan bersama laki-laki lain.

“Kami pikir kau sudah pulang, hyung. Kau terburu-buru sekali ketika keluar dari kelas,” kata Baekhyun, memecah keheningan yang sangat tak mengenakkan. Luhan tahu, sangat tahu. Baekhyun menyukai Taeyeon dan ia cemburu. “Apa kau buru-buru karena ingin bertemu dengan Taeyeon sunbae?”

Taeyeon diam. Dia memang senior, tapi melihat kondisinya sekarang ini, ia merasa lebih baik diam. Ia juga sangat tahu Baekhyun menyukainya. Bahkan rasa suka yang melebihi dari hoobae yang lain.

“Aku buru-buru karena ingin ke kamar mandi,” jawab Luhan tenang. “Dan aku bertemu di tengah jalan dengan Taeyeon sunbae,”

Jelas itu bohong. Taeyeon tahu itu. Toilet laki-laki sangat jauh dari halaman belakang sekolah. Tapi Taeyeon hanya diam dan menatap Baekhyun, yang juga tengah menatap Taeyeon.

“Apa kalian akan pulang bersama, Taeyeon sunbae?” tanya Suho ramah.

Taeyeon melirik sebentar ke arah Luhan, yang tetap menatap Baekhyun dan yang lainnya.

“Aahh, berhubung jalan rumah kami searah, aku mengajaknya pulang bersama,” jawab Taeyeon ragu.

Mata Suho dan yang lainnya membelalak kembali mendengar jawaban Taeyeon.

“Sikap sunbae agak sedikit berbeda, ya? Jauh lebih hangat, kurasa,” kata Baekhyun, yang disetujui oleh anggukan Chanyeol, Kyungsoo, dan Tao.

“Sunbae menyukai uri Luhan?” tanya Lay dengan polosnya.

Luhan sudah ingin bicara, namun Taeyeon dengan cepat menjawab, “aniya. Aku tidak menyukainya. Aku… dia hanya terlihat seperti Kyuhyun oppa,”

(OST. Taeyeon – The One)

Sedetik kemudian, Taeyeon langsung menyadari kalau dia salah bicara. Benar-benar salah bicara. Taeyeon menyesal. Menyesal karena semuanya yang ada disitu menatapnya dengan heran. Tentu saja, siapa Kyuhyun? Taeyeon benar-benar keceplosan.

Taeyeon menatap Luhan. Luhan juga menatap Taeyeon. Taeyeon agak kaget melihat tatapan Luhan. Tatapan yang jauh berbeda dari sebelumnya. Tatapan yang menyiratkan kekecewaan dan kesedihan. Taeyeon tidak bisa menatapnya lama-lama.

Taeyeon menundukkan kepalanya, “aku harus pulang cepat,”. Dan Taeyeon buru-buru pergi melewati Baekhyun dan yang lainnya.

Luhan menatap kepergian Taeyeon dan ia menghela napas panjang. “Kurasa kau tahu siapa itu ‘Kyuhyun oppa’ yang dimaksud Taeyeon sunbae, Baekhyun-ah. Dia tidak menyukaiku, dia mencintai seseorang yang bernama Kyuhyun,”

Luhan menundukkan wajahnya sambil tersenyum sedih.

 

~Heart Attack~

 

“Kyuhyun oppa, adalah sahabat Taeyeon sejak kecil. Sahabat yang selalu ada saat Taeyeon bahagia maupun sedih. Meskipun mereka bersahabat, Taeyeon ingin Kyuhyun oppa menjadi bagian dari masa depannya nanti. Taeyeon mencintai  orang itu, mencintai sahabatnya. Cinta pertamanya adalah Kyuhyun oppa. Sayangnya, Kyuhyun oppa hanya menganggap Taeyeon sahabat sekaligus adik kecilnya,”

Tiffany menundukkan kepalanya, sedih mengingat sahabatnya yang harus bertepuk sebelah tangan untuk cinta pertamanya.

Luhan menunggu Tiffany melanjutkan kata-katanya dengan wajah serius.

“Kyuhyun oppa mencintai perempuan lain. Bahkan  ia rela terbang ke China demi perempuan itu 2 tahun yang lalu. Sejak saat itu, Taeyeon menutup pintu hatinya untuk waktu yang lumayan lama karena ingin menyembuhkan luka dihatinya. Aku dan Sooyoung yang melihat bagaimana sakitnya Taeyeon ketika ia ditinggal oleh orang yang selama ini menjadi pundaknya, menjadi sandarannya. Neomu appo,”

“Lalu, kenapa dia mengatakan kalau aku sudah membuka kenangan lama di memorinya? Aku hanya mengatakan aku menyukai dia di bawah pohon sakura, dihujani bunga sakura,” tanya Luhan.

“Hhh, Luhan-ah. Bunga sakura adalah tempat bersejarah bagi Taeyeon untuk mengingat Kyuhyun oppa. Kyuhyun oppa jug pernah mengatakan hal yang sama persis dengan yang kau katakan itu. Kyuhyun oppa juga suka ketika Taeyeon berada di bawah hujan bunga sakura,” jelas Tiffany.

Luhan menundukkan wajahnya dan ia menoleh ke arah kanan. Ia agak kaget melihat Taeyeon dan Sooyoung berdiri lumayan jauh di depan gedung sekolah, menatap ke arahnya dan Tiffany. Luhan terus menatap Taeyeon, menatapnya dalam-dalam, seakan-akan ingin menerobos isi hati Taeyeon.

“Luhan-ah, jika prasangkaku benar, aku mendukung perasaanmu,” kata Tiffany sambil mengedipkan sebelah matanya pada Luhan.

Luhan kembali menatap Tiffany sambil tersenyum lirih, “aku sangat berterima kasih padamu, Tiffany sunbae,”

Luhan menggenggam pergelangan tangan kanan Tiffany sambil memasang wajah mengejek.

“Asal kau juga membantuku. Sudahlah, Taeyeon dan Sooyoung sudah menunggu. Sampai nanti,”

“Kau disini, hyung,”

Luhan terlonjak kaget dan lamunannya segera buyar. Ia balik badan dan mendapati Baekhyun sedang berdiri sambil memasukkan kedua tangannya kedalam saku celananya.

“Ada apa kau kemari malam-malam begini?” tanya Luhan. Ia menghampiri Baekhyun.

“Aku, Kai, dan Sehun mau main game. Mereka sudah ada di kamarmu. Daritadi kucari ternyata kau disini, hyung. Apa memandangi pohon sakura menjadi hobimu sekarang?” canda Baekhyun.

Luhan hanya tersenyum. Ia tak yakin Baekhyun hanya sekadar bercanda. Dia juga tahu kalau Baekhyun pernah cerita Taeyeon suka bunga sakura.

“Aku hanya merasa bosan. Kajja, kita kekamarku,” ajak Luhan sambil mengalungkan lengan kanannya ke leher Baekhyun.

 

~Heart Attack~

 

(OST. 2BIC – Did You Forget Everything?)

Taeyeon melangkahkan kakinya memasuki gedung sekolah dan dengan agak terburu-buru, ia menuju lokernya. Langkahnya langsung terhenti ketika ia melihat seorang laki-laki yang sudah tak asing di matanya sedang membuka pintu loker miliknya dan mengambil sepatu bola. Laki-laki itu langsung melepas sepatu sekolahnya dan meletakkan sepatu sekolahnya ke dalam loker.

Ia hendak memakai sepatu bolanya. Namun, tatapannya terhenti ketika ia melihat Taeyeon melangkah menuju lokernya dan membukanya.

Taeyeon mengambil buku-buku sekolahnya dan kembali menutup pintu lokernya. Ia ingin menyapa laki-laki itu, Luhan. Sayangnya, Luhan sudah pergi menjauh. Taeyeon melihat Luhan melangkah menuju kelasnya sambil menenteng sepatu bolanya itu, jelas sekali kalau dia tidak ingin memakai sepatunya di depan lokernya, atau lebih tepatnya, di dekat Taeyeon.

 

~Heart Attack~

 

“Yeon-ah, kau sudah selesai?” tanya Tiffany, yang sedang merapikan rambutnya di depan cermin kamar mandi.

Taeyeon keluar dari bilik kamar mandi dan buru-buru mencuci tangannya.

“Kajja,” ajaknya.

Mereka berdua keluar dari toilet dan segera menuju kembali ke kelas. Di tengah perjalanan, mereka berpapasan dengan Luhan, Lay, Tao, dan Baekhyun. Lay, Tao, dan Baekhyun tersenyum dan mengangguk ke arah Taeyeon dan Tiffany. Sedangkan Luhan, setelah mengantongi ponselnya, ia menatap ke arah Taeyeon dan Tiffany. Lalu kembali menatap ke depan.

Taeyeon menundukkan wajahnya dan tersenyum lirih.

 

Kenapa rasanya sakit?

 

~Heart Attack~

 

“Taeyeon-ssi, bisa kau panggilkan hoobae-mu? Xi Luhan?” tanya Park seonsaengnim, ketika Taeyeon baru saja mau memasuki kelas, dan Park seonsaengnim menghampirinya.

“Ne? A… itu,”

“Tolong, ya? Suruh dia keruangan saya,”

Taeyeon menghela napas panjang ketika Park seonsaengnim sudah pergi menuju ruangannya.

Dengan agak terpaksa, Taeyeon menuju kelas Luhan. Sesampainya di sana, Taeyeon melihat Baekhyun sedang mengobrol dengan salah seorang temannya di depan pintu kelas. Temannya masuk ke dalam kelas, dan Baekhyun hendak menyusulnya.

“Baekhyun-ah!” panggil Taeyeon. Ia menghampiri Baekhyun.

“Ada apa Taeyeon sunbae?” tanya Baekhyun.

“Mmm, bisakah kau memanggil Luhan? Maksudku, Park Soo Jung seonsaengnim memanggilnya dan menyuruhnya datang keruangannya. Tolong, ya,” pinta Taeyeon.

“Keundae, sunbae bisa memanggilnya sendiri. Dia ada didalam kelas, kok,” kata Baekhyun.

“Aah, kau saja. Dia tidak akan senang jika aku memanggilnya,” ujar Taeyeon dan setelah ia mengucapkan terima kasih ke Baekhyun, Taeyeon langsung pergi. Baekhyun menghela napas panjang sambil menatap kepergian Taeyeon.

 

~Heart Attack~

 

“Kurasa kau sudah tahu kalau Kyuhyun oppa akan menikah,” kata Tiffany pada Taeyeon, yang sedang menatap foto Kyuhyun di ponselnya.

Di hari minggu yang cerah ini, Tiffany dan Sooyoung pergi mengunjungi rumah Taeyeon. Dan mereka berdua menghabiskan waktu bersama di kamar Taeyeon sambil membicarakan Kyuhyun.

“Hmmm. Dia mengabariku seminggu yang lalu,” jawab Taeyeon.

“Kami juga dikabari seminggu yang lalu,” timpal Sooyoung. Ia menatap lukisan bunga sakura yang terpampang indah di dinding kamar Taeyeon. “Kami pikir lebih baik tidak mengangkat cerita ini di hadapan eonni. Karena… eonni kelihatan murung selama seminggu ini,”

Taeyeon menatap Sooyoung sambil tersenyum, “aniya, aku tidak apa-apa. Aku sudah berjanji pada diriku untuk merelakannya dengan orang lain, orang yang mampu membuat Kyuhyun oppa tersenyum dan bahagia selalu. Aku sedang berusaha keras untuk mewujudkannya. Jadi, jangan pernah bosan untuk menyemangatiku, ya? Walaupun… yeogiga, neomu appo,” Taeyeon menunjuk dadanya, tepatnya di jantungnya.

“Lalu, kenapa kau murung sekali seminggu ini? Kalau kau sedang berusaha merelakannya dan kembali menganggapnya sebagai sahabat sekaligus oppa, kenapa kau masih terlihat sendu?” tanya Tiffany, ia melipat majalah ceci milik Taeyeon dan meletakkannya di atas tempat tidur Taeyeon. “Dan kau masih menatap fotonya,”

“Aku… sepertinya membuat kesalahan fatal, Tiff, Soo,” jawab Taeyeon, masih menundukkan wajahnya menatap foto Kyuhyun. “Aku membuat seseorang benci padaku,”

“Nugunde?” tanya Sooyoung.

“Si rusa, Luhan,”

Sooyoung terdiam. Ia menatap Taeyeon tak mengerti lalu ia menatap Tiffany. Tiffany langsung mendekati Taeyeon dan duduk di hadapannya.

“Luhan-ah membencimu? Kurasa kau salah. Diaa…”

“Aku mengatakan kepada teman-teman segerombolannya kalau aku dekat dengan Luhan karena dia mirip Kyuhyun oppa,” jawab Taeyeon. Hatinya sesak, perasaan bersalah dan sedih muncul di permukann hatinya. Ia kembali terngiang wajah kecewa Luhan ketika ia mengatakan hal itu.

“Omo, Taeyeon-ah. Kau benar-benar melakukan kesalahan. Bagaimana mungkin kau mengatakan hal seperti itu? Luhan-ah akan mengira kau tidak pernah menganggapnya ada, kau hanya membayangkan Kyuhyun oppa. Taeyeon-ah, itu adalah pengakuan kejam kalau menurutku,” kata Tiffany.

“Arraseo. Aku sangat tahu itu kejam. Aku merasa telah melukainya. Awalnya aku memang menganggap dia mirip dengan Kyuhyun oppa, karena kata-kata yang dia ucapkan di bawah pohon sakura mirip dengan kata-kata Kyuhyun oppa. Tapi, aku baru sadar, kalau aku salah. Aku sangat merasa bersalah padanya,” ungkap Taeyeon.

Ini adalah unek-uneknya selama seminggu. Selama seminggu penuh, insiden itu membuat Luhan tidak pernah menyapanya. Jangankan menyapa, Luhan bahkan merasa enggan jika di dekat Taeyeon. Ini seperti pohon sakura yang hanya diam walaupun sedang ada angin kencang. Tidak ada keindahannya sama sekali.

Tiffany diam memerhatikan Taeyeon, yang tetap tertunduk setelah menjelaskan kesalahannya. Sedangkan Sooyoung, ia tidak mengerti sebenarnya, tapi tetap diam dan mendengarkan dengan penuh perhatian.

(OST. EXO – Don’ Go)

“Kau lihat baik-baik, Taeyeon-ah,” kata Tiffany. Ia mengambil ponselnya dan menyerahkannya pada Taeyeon, menunjukkan sebuah foto Luhan sedang bermain bola di lapangan sekolah. “Lihat baik-baik dan samakan dengan foto Kyuhyun oppa yang sedang kau pegang saat ini. Apakah mereka mirip? Apakah Luhan sahabatmu? Apakah Luhan hanya menganggapmu sebagai sunbae-mu, seperti Kyuhyun oppa yang selama ini hanya menganggapmu sebagai adiknya?”

Taeyeon memandangi kedua foto itu dengan mata berkaca-kaca. Entahlah, entah kenapa dia ingin sekali menangis. Hatinya sakit. Sakit melihat Luhan.

“Ada satu persamaan mereka, Taeyeon-ah. Mereka berdua sama-sama memiliki perasaan tulus untukmu. Sangat tulus. Bedanya, perasaan tulus Kyuhyun oppa padamu adalah perasaan sayang seorang sahabat, seorang kakak ke adiknya. Sedangkan Luhan? Kau tahu, dia punya perasaan tulus untukmu. Perasaan sayang seorang laki-laki kepada seorang perempuan. Laki-laki itu, Luhan, punya perasaan sayang yang tulus dari hatinya untukmu, Taeyeon-ah, hanya untukmu. Aku tidak bisa bayangkan bagaimana sakitnya hatinya saat kau katakan kau dekat dengannya hanya karena dia mirip Kyuhyun oppa,”

Taeyeon dan Sooyoung sama-sama tercengang mendengar penjelasan dari Tiffany. Taeyeon mendongakkan kepalanya menatap Tiffany tak percaya, dia bahkan tak sanggup bicara, walaupun banyak pertanyaan berkumpul di dalam otak Taeyeon dan minta dikeluarkan.

“Ne, Kim Taeyeon. Xi Luhan menyayangimu, mencintaimu setulus hatinya,” kata Tiffany sambil terseyum lembut.

“Keundae… kau mencintainya, Fany-ah. Aku… aku mana mungkin…”

“Neo jinjja babo,” kata Tiffany sambil memukul kepala Taeyeon dengan sayang. “Kau mengira selama ini aku menyukainya, ya? Ani. aku menyukai sahabatnya. Aku hanya menganggapnya sebagai teman, hoobae, dan musuh kadang-kadang. Dia tanya padaku kenapa kau menuduh Luhan membuka kenangan lama di memorimu hanya karena ia mengatakan dia suka melihatmu di bawah hujan bunga sakura. Aku menceritakan semuanya, tentang kau dan Kyuhyun. Saat itu aku tahu kalau dia menaruh perhatian berlebih pada sunbae-nya,” jelas Tiffany panjang lebar.

“Dia tanya padamu di depan gerbang sekolah pada waktu pulang sekolah itu, ya?” tanya Sooyoung, takjub.

Tiffany mengangguk senang.

“Wah, wah. Eonni, eotteohke? Kau juga suka pada Luhan?” tanya Sooyoung.

Taeyeon diam tak menjawab. Ia sibuk berpikir. Hati kecilnya tentu saja bersorak mengatakan, ‘ya, aku menyukai laki-laki itu’. Namun, logikanya mengingatkan dirinya bahwa pintu hatinya harus ditutup lebih lama lagi.

“Kau menyukainya, Taeyeon-ah. Ani, kau mencintainya. Jantungmu berdebar kencang ketika dia berada di dekatmu, dan hatimu merasa sakit sekali ketika wajahnya, senyumannya, bahkan sosoknya menghilang dari duniamu, seperti yang kau rasakan sekarang ini,” ucap Tiffany lembut. “Tae-ah, kali ini tolong jangan sembunyikan perasaanmu lagi. Tolong kali ini jangan tutupi kenyataan, jangan tutupi hatimu lagi. Terimalah kenyataan kalau kau ingin selalu berada di dekat Luhan-ah. Jangan sampai kau menyesal di kemudian hari,”

Sooyoung menganggukkan kepalanya, setuju sekali dengan pernyataan Tiffany. “Eonni, bukalah matamu kali ini saja. Laki-laki itu, laki-laki yang tulus mencintaimu sekarang berada di hadapanmu. Laki-laki yang juga kau cintai, eonni,”

Taeyeon diam sejenak. Ia memandangi Tiffany dan Sooyoung secara bergantian. Lalu ia memandangi foto Luhan yang ada di ponsel Tiffany. Ya, laki-laki yang awalnya ia sangka penguntit adalah laki-laki yang ia cintai. Laki-laki yang pertama kali ia lihat di bawah hujan bunga sakura, dengan latar belakang langit biru yang indah, yang tatapannya benar-benar menghujam jantung Taeyeon. Laki-laki itu adalah Xi Luhan.

 

~Heart Attack~

 

Luhan mengambil sepucuk bunga sakura yang jatuh tepat di samping tubuhnya, yang sedang terbaring dengan nyaman di bawah pohon sakura yang berada di halaman belakang rumahnya. Ia memerhatikan bunga itu dan di kepalanya langsung berkelebat wajah seprang perempuan yang amat sangat dikenalnya, yang sudah tak asing lagi di dalam hatinya.

“Hyung,”

Luhan menoleh ke samping kanannya, dan muncullah sosok Baekhyun, yang ikut membaringkan tubuhnya di samping Luhan.

Luhan bangkit untuk duduk, Baekhyun mengikuti Luhan.

“Mau main game lagi? Sayangnya hari ini aku tidak punya makanan di kulkas. Ibuku belum belanja,” kata Luhan

“Aniya, hari ini aku ingin bertemu denganmu saja, hyung. Lagipula aku datang sendiri,” jawab Baekhyun, sambil memandang pohon sakura yang tepat berada di hadapannya. “Hari ini pohon sakuranya tenang, ya? Kau suka yang berguguran, ‘kan hyung?”

“Ada apa kau ingin bertemu denganku? Kau sudah bertemu denganku setiap hari disekolah,” kata Luhan, heran.

“Hyung, kau ingin langsung saja, atau apa aku perlu basa-basi dulu?” tanya Baekhyun.

“Kau mau ku tendang? Kenapa kau ingin bertemu denganku? Sepertinya ada yang tak beres,”

“Kalau begitu, langsung saja,” kata Baekhyun. Ia menatap Luhan dengan ekspresi yang sangat serius. “Hyung, kau… kau menyukai Taeyeon sunbae, keutji?”

Hati Luhan mencelos mendengar pertanyaan Baekhyun. Ia terdiam sejenak dan berusaha mencari jawaban yang tepat untuk Baekhyun.

“Kenapa kau bertanya seperti itu? Kenapa kau mencurigaiku?”

“Aniya, aku tidak curiga padamu. Itu adalah fakta. Aku tahu karena matamu berbicara setiap kali melihat Taeyeon sunbae, hyung,” jawab Baekhyun.

Luhan masih tetap terdiam. Ia benar-benar merasa terjepit saat ini. Ia tidak mau berbohong pada teman baiknya. Tapi ia juga tidak mau menyakiti perasaan Baekhyun.

“Hyung juga… saat ini menghindar dari Taeyeon sunbae, ‘kan? Hyung sedih karena Taeyeon sunbae menganggapmu mirip dengan cinta pertamanya. Hati hyung merasa terluka ketika mendengar Taeyeon sunbae mengatakan hal seperti itu. Hyung juga… akhir-akhir ini suka melihat pohon sakura, seperti Taeyeon sunbae. Aku tahu, hyung menganggap dengan melihat pohon sakura, hyung akan menemukan Taeyeon sunbae. Dan seminggu ini kulihat, kau sering melamun ketika memandang pohon sakura. Kurasa karena hyung sedih,” jelas Baekhyun.

“Hyung tidak pernah membicarakan Taeyeon sunbae di depan kami sejak hyung mulai mengenal sosok Taeyeon sunbae. Hyung takut, aku mengetahui ini, ‘kan? Hyung takut aku akan menganggapmu pengkhianat. Dan pada akhirnya aku tahu itu. Ekspresimu ketika aku menyebut nama Taeyeon sunbae, tatapanmu setiap kali kau melihat Taeyeon sunbae. Hyung, kau tak pernah seperti ini pada perempuan lain kecuali Taeyeon sunbae. Aku mengenalmu sudah lama. Sudah 3 tahun lebih aku dekat denganmu, mempelajari sifat dan sikapmu. Hyung tidak bisa bohong padaku,”

“Dan pada akhirnya, aku memang pengkhianat, bukan? Ne, perkataanmu semua benar. Aku sahabatmu, kau sahabatku. Kau tidak mungkin tidak tahu tentangku. Aku memang takut jika kalian tahu aku suka perempuan yang sahabatku juga suka, aku takut kalian akan mencapku sebagai pengkhianat,” kata Luhan dengan suara parau.

Hatinya kini tengah sakit mengingat Taeyeon. Belum lagi Baekhyun, membuatnya ingin menenggelamkan dirinya di laut untuk selama-lamanya karena perkataannya barusan.

“Kau terlalu pengecut, hyung. Tidak berani mengungkapkan perasaanmu. Kau tahu, aku pernah bilang padamu, pada kalian ber-11, tidak ada rahasia diantara kita. Jika ada yang ingin di katakan, katakan saja. Kau tidak menepati janjimu, hyung. Aku sedikit kecewa akan hal itu,”

Luhan mengangguk sambil menundukkan wajahnya. “Ne, aku mengecewakan kalian semua. Aku tahu kalian tahu tentang perasaanku ini. Aku juga tahu kalian perlahan-lahan akan membenciku. Jadi, Baekki-ah. Pukullah aku. Pukul aku sepuasmu. Lampiaskan semua kemarahanmu pada tubuhku. Lagipula, Taeyeon sunbae tidak pernah menganggapku. Aku bertepuk sebelah tangan. Aku masih ingin kau menjadi pendampingnya. Aku sudah menyerah. Sekarang, pukullah aku,”

“Hyung, aku akan benar-benar memukulmu kalau kau berkata kau menyerah begitu saja, arra? Cinta sejati tidak seperti itu. Apa kau tahu? Taeyeon sunbae juga menyukaimu. Dia sangat-sangat merasa bersalah, bahkan merasa sedih saat kau menjauhinya. Aku lihat tingkah lakunya selama seminggu ini. Dia terus menatapmu sedih setiap kali kau menjauh. Hyung, kau masih punya kesempatan, kau tahu?”

“Baekki-ah, aniyo. Dulu aku sempat berpikir untuk merebutnya sebelum kau. Tapi sekarang, ani. Aku tidak mau benar-benar menjadi pengkhianat. Kau pikir aku tega bahagia diatas kesedihanmu? Aku, tidak akan mengejarnya lagi,”

“Hyung, kau benar-benar mau kupukul? Aissh, jinjja. Kenapa kau seperti anak-anak begini? Hyung, aku kalah darimu. Taeyeon sunbae hanya melihatmu, percaya padaku. Mereka ber-10 juga sepakat aku kalah darimu dan aku… aku akan mendukungmu mendapatkan Taeyeon sunbae. Seperti itulah cinta yang sebenarnya. Aku akan bahagia jika orang yang aku sayangi bahagia, hyung. Pergilah, bahagiakan Taeyeon sunbae,”

Luhan menatap Baekhyun dalam-dalam. Tidak ada keraguan dalam pancaran sinar matan Baekhyun. Kata-katanya tulus dalam hati. Murni karena persahabatan.

“Dan bagaimana denganmu?” tanya Luhan parau. “Apa aku sanggup melakukannya?”

“Tidak usah memikirkanku. Jika hyung lakukan itu, kau dan Taeyeon sunbae tidak akan bahagia. Kau justru akan melukai perasaan Taeyeon sunbae untuk yang kedua kalinya. Hyung, aku tidak mau munafik. Mungkin akan sedikit cemburu ketika aku melihatmu dengan Taeyeon sunbae, tapi aku percaya inilah jalanku. Suatu saat nanti aku akan mendapatkan perempuan yang benar-benar untukku. Kau tidak perlu memikirkan aku, hyung.

“Luhan hyung, kau adalah sahabatku yang paling kusayang. Sangat aku sayangi. Taeyeon sunbae adalah sunbae favoritku. Kalian berdua adalah orang yang paling kusayangi. Aku hanya ingin melihat orang yang aku sayangi, tersenyum bahagia. Dan aku, pun akan bahagia juga. Aku mencintaimu, hyung,”

Luhan tidak kuat lagi. Ia menangis sesenggukan. Selama ini ia terus menyembunyikan tangisannya jika ia ingin menangis. Namun, saat ini tidak bisa.

“Baekki-ah, aku benar-benar merasa seperti seorang pengkhianat,”

Baekhyun menundukkan wajahnya. Ia juga ikut menangis. Lalu, ia menarik leher Luhan dengan pelan dan memeluknya. Luhan menangis di pelukan Baekhyun sambil terisak-isak. Baekhyun menepuk-nepuk punggung belakang Luhan. Baekhyun juga ikut menangis dalam diam di pundak Luhan.

“Hyung, aku akan memukulmu jika kau mengatakan hal itu sekali lagi. Kau hyungku. Kau bukan seorang pengkhianat. Kau hyung kami semua. Kau tidak salah punya rasa itu. Kau bukan pengkhianat,” ucap Baekhyun. Ia berusaha keras tidak sesenggukan seperti Luhan dan dalam hati ia bersyukur, ia mampu merelakan orang yang disukainya.

Sementara itu, di belakang jendela rumah Luhan, kesepuluh teman Luhan dan Baekhyun, sedang mengawasi mereka berdua.

“Aku… aku merasa ingin menangis juga,” ungkap Tao, yang matanya memang sudah berair.

“Jangan cengeng!” seru Sehun. Setelah itu ia mengusap air matanya yang sudah keluar.

 

~Heart Attack~

 

Keesokan harinya~

“Jam berapa kau harus sampai di bandara?” tanya Kris pada Luhan saat Luhan tengah memasukkan semua bukunya kedalam tasnya.

“Jam 12. Aku harus cepat. Ini sudah terlambat 5 menit,” jawab Luhan. Ia memakai tasnya dan memakai jaketnya.

“Hyung, hati-hati, yaa,” kata Kai sambil mengelus pundak Luhan.

“Okay,” kata Luhan.

“Kalau kau pergi, urusanmu dengan Taeyeon sunbae tidak akan selesai-selesai,” kata Xiumin, yang langsung duduk di bangku Luhan.

“Tidak harus hari ini selesai, kan? Aku tidak mau terlalu buru-buru,”

“Tentu saja, semua akan indah pada waktunya,” kata Baekhyun. Ia memeluk Luhan dari belakang. “Tapi hyung harus mengungkapkannya. Taeyeon sunbae pasti menunggumu,”

“Sampai kapan kalian akan menghalangi dia pergi?” tanya Suho.

Baekhyun melepas pelukannya. Dan Luhan, sebelum pergi kelas, melambaikan tangannya pada teman-temannya.

“Sepertinya aku akan sedikit mengerjai Taeyeon sunbae,” kata Baekhyun. Ia melihat ke arah teman-temannya. “Ada yang mau bantu?”

“Kami semua akan bantu,” jawab Chanyeol senang.

 

~Heart Attack~

 

“Sekaranglah saatnya kau minta maaf pada Luhan-ah. Dan katakan padanya tentang perasaanmu. Jelaskan dulu semuanya, seperti yang aku katakan kemarin,” kata Tiffany pada Taeyeon, yang sedang menatap kelas Luhan dari jarak lumayan jauh.

“Ne, aku tahu. Aku sedang mencari keberanian,” jawab Taeyeon.

“Sudahlah, eonni. Cepat sana,” Sooyoung mendorong tubuh Taeyeon untuk maju menuju kelas Luhan.

Karena terdorong oleh Sooyoung, maka Taeyeon pun melangkah dengan penuh tekad menuju kelas Luhan. Ia takut kalau Luhan tidak mau menemuinya.

“Eoh, Taeyeon sunbae? Ada apa?” tanya Xiumin saat ia keluar dari kelas dan mendapati Taeyeon sedang berdiri di depan kelas mereka.

“A… aku… ingin bertemu dengan Luhan,” jawab Taeyeon gugup.

Xiumin diam. Ia kemudian memanggil kesepuluh temannya. “Taeyeon sunbae ingin bertemu dengan Luhan,” kata Xiumin.

“Ne, aku hanya ingin bertemu dengan dia. Tidak perlu keluar semua,” kata Taeyeon.

Semuanya terdiam dan saling memandang satu sama lain. Taeyeon bingung dengan tingkah mereka.

“Waeyo?” tanya Taeyeon.

“Sunbae, apakah penting sekali yang ingin kau sampaikan?” tanya Suho dengan wajah suram.

Taeyeon hanya bisa mengangguk. Ia punya firasat tidak enak.

“Sunbae…” Suho menghela napas sesaat, “Luhan baru saja meninggalkan sekolah ini. Kemarin, bukannya dia dipanggil Park seonsaengnim? Park seonsaengnim menyampaikan pesan ayah Luhan. Ia diminta ayahnya untuk kembali ke China hari ini. Baru saja dia pergi. Kami benar-benar sedih karena harus merelakan dia pindah sekolah, kembali ke asalnya. Dia mengatakan mungkin akan lama lagi kembali ke Korea. Dia benar-benar membuat kami…”

Suho menghentikan omongannya. Ia menutup mulutnya, dan memeluk pundak Xiumin. Yang lain menundukkan wajahnya dan Xiumin mengelus-elus puncak kepala Suho.

Taeyeon merasa jantungnya berhenti berdetak. Tubuhnya melemas. Tidak, tidak mungkin.

“Dia baru saja pergi, ‘kan? Aku akan berusaha menyusulnya,” kata Taeyeon dan ia segera lari dari hadapan Suho dan teman-temannya keluar gedung sekolah.

Suho dan yang lainnya langsung menegakkan kepala mereka, menatap Taeyeon. Chanyeol dan Baekhyun tersenyum lebar, puas sekali akting mereka bisa dipercaya. Tao dan Sehun ber-high five.

“Setidaknya, Luhan masih bisa dikejar,” kata Xiumin, berharap sekali.

“YA! Kenapa kalian menipu Taeyeon-ah? Luhan tidak benar-benar pergi ke China, ‘kan?” tanya Tiffany, marah. Ia dan Sooyoung mendekati kerumunan Suho.

“Tenang saja,” seorang laki-laki tinggi dengan kulit putih dan memiliki wajah Eropa, Kris, mendekati Tiffany dan Sooyoung. “Ini untuk kebaikan mereka berdua. Kami hendak menyatukan mereka juga,”

Tiffany terdiam cukup lama dan ia mengerjap-ngerjapkan matanya, sebelum akhirnya ia mengangguk malu ke arah Kris. Sooyoung hanya tersenyum kecil melihat tingkah sahabatnya ini.

“Jadi, kalian juga punya ide untuk menyatukan mereka berdua? Karena Luhan-ah juga menyukai Taeyeon eonni, ‘kan?” tanya Sooyoung.

“Hmm, Ne~. Mereka akan bersatu dan kembali ke sekolah dengan senyum yang sangat mengembang,” jawab Baekhyun semangat.

 

~Heart Attack~

 

(OST. EXO – Don’t Go)

Untuk kesekian kalinya aku terjatuh untukmu
Cinta ini menyapa tanpa aku ketahui
Dan muncul tiba – tiba tanpa peringatan

 Bawalah aku
Ketempat kau berada, bawa aku bersamamu
Meski itu diujung dunia, aku akan terus mengikutimu
Jangan kau pergi dari pandanganku, meski pagi datang menyapa~

 

Sesampainya di luar gedung sekolah, Taeyeon langsung mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru area sekolah, berharap Luhan masih di sekitar sekolah. Ia sangat berharap bisa bertemu dengan Luhan saat ini, bisa mengungkapkan apa yang harusnya ia ungkapkan pada Luhan. Ia ingin minta maaf padanya, ingin memeluknya dan mengatakan ‘jangan pergi,’. Taeyeon berharap ia masih diberi kesempatan.

Taeyeon kembali lari ke luar gerbang sekolah, beruntung karena satpamnya tidak sedang berjaga, dan lari lagi menuju halte bus sekolah.

“LUHAN!” teriak Taeyeon, saat ia, dengan hati mencelos, melihat Luhan baru saja naik bus hijau nomor 02, bus menuju bandara.

Bus itu bergerak maju. Taeyeon, dengan kecepatan penuh yang ia punya, berlari mengejar bus itu. Ia dapat melihat Luhan duduk di dekat jendela bagian kanan sambil menatap ke luar jendela. Ia akan terus mengejar Luhan, tidak ingin menyerah kali ini.

“Luhan!” teriak Taeyeon. Namun, Luhan tidak mendengarnya, tentu saja. Ia juga memakai headphone, tak akan bisa didengar.

Perlahan, kaki Taeyeon melambat. Ia berhenti di tengan jalan. Bus yang membawa Luhan sudah pergi jauh. Ia tak mungkin bisa mengejarnya lagi. Ia sudah tidak sanggup. Seragam sekolahnya sudah dipenuhi oleh keringatnya yang menyebar ke seluruh tubuhnya.

Taeyeon ngos-ngosan. Ia mengambil napas dalam-dalam dan berusaha mengendalikan jantungnya yang terus berdebar sangat kencang. Sakit sekali. Belum lagi kekuatannya pulih, Taeyeon menangis. Ya, ia menangis. Ia menyesali tidak menyadari perasaanya pada Luhan lebih awal, menyesali sudah membohongi dirinya sendiri. Ia menyesal. Jika waktu bisa diputar, ia hanya minta mundur sehari saja. Dan saat ini, semuanya terlambat sudah. Dia dan Luhan tidak akan bertemu dalam waktu dekat ini. Ia juga takut Luhan sudah memiliki hati yang lain.

Hatinya terluka, lagi. Kali ini lebih sakit daripada yang dirasakannya pada Kyuhyun. Jauh lebih sakit.

Taeyeon menolehkan kepalanya ke kanan. Tak jauh dari situ, sebuah pohon sakura besar, berdiri tegak dengan daun-daunnya yang berguguran tertiup angin. Bahkan bunganya menghampiri Taeyeon, seakan-akan mengajak Taeyeon untuk menuangkan semua kesedihannya di pohon itu.

Taeyeon, dengan langkah terseok-seok, menuju pohon itu. Ia tersenyum dan duduk di bawahnya, dihujani bunga sakura. Taeyeon ingat kembali, pertemuan pertamanya dengan Luhan. Di bawah siraman bunga sakura, Luhan menatapnya dan ia balas menatap Luhan. Si penguntit yang kini ia cintai.

Mata Taeyeon berkedut, sinar matahari tepat berada di hadapannya. membuat silau matanya, menusuk matanya. Taeyeon hendak menghalangi sinar itu dengan telapak tangannya. Namun, sesosok bayangan laki-laki menghampiri Taeyeon, membuatnya terlindungi dari sinar matahari.

“Sunbae,”

(OST. Kyuhyun – Love Dust)

Rasanya ditusuk sepuluh pedang samurai, hati Taeyeon sakit sekali mendengar suara itu. Air matanya menyeruak keluar tanpa ia pinta. Membasahi wajah cantiknya, menghalangi pandangan matanya untuk menatap laki-laki itu.

“Sunbae, waeyo? Apa yang terjadi denganmu? Kenapa kau berada disini? Kenapa kau menangis?” tanyanya panik.

Taeyeon bangkit dan ia tahu, ini bukanlah mimpi. Laki-laki itu, sekarang sedang berada di hadapannya. Wajahnya yang lucu terlihat sangat khawatir. Membelakangi sinar matahari dan dihujani bunga sakura, Taeyeon dapat melihat keindahan yang terpancar dari laki-laki itu, Luhan.

“Neo… neomu nappeun,” isak Taeyeon. Ia menangis sesenggukan dan menundukkan wajahnya. Bahunya berguncang. Taeyeon menangis karena bahagia sekaligus sedih.

Luhan menarik pelan bahu Taeyeon dan membawa tubuh Taeyeon ke dalam pelukannya. Ia memeluk Taeyeon dengan sangat erat, mengelus-elus punggung Taeyeon, menenangkannya. Bukannya tenang, Taeyeon malah semakin terisak. Walaupun begitu, ia merasa sangat nyaman, nyaman sekali.

“Uljimayo, uljima,” ucap Luhan lembut di telinga Taeyeon.

“Gajima! Neol gaji mothae,” isak Taeyeon.

“Aku disini. Aku tidak akan keman-mana,” jawab Luhan.

Taeyeon melepas pelukan Luhan. Namun Luhan masih memegangi kedua bahu Taeyeon. Taeyeon dan Luhan saling bertatapan.

“Mianhaeyo. Aku sangat menyesal sekali. Aku tidak bermaksud menyamakanmu dengan Kyuhyun oppa, aku hanya berusaha menutupi kebenaran, berusaha membohongi perasaanku bahwa aku…”

Luhan membungkam bibir Taeyeon dengan bibirnya, menghentikan ucapan Taeyeon. Luhan memejamkan matanya dan sedikit menekankan bibirnya ke bibir Taeyeon. Napas Luhan sedikit menggebu-gebu dan Taeyeon dapat mendengar jantung Luhan yang berdebar kencang. Perlahan-lahan, Taeyeon juga ikut memejamkan matanya dan sebutir air mata jatuh dari lubuk mata Taeyeon ke pipinya, yang juga ikut membasahi pipi Luhan.

Lama mereka dalam posisi seperti itu, sekitar lima menit. Sampai akhirnya, Luhan melepas ciumannya dan menatap Taeyeon dalam-dalam di manik mata Taeyeon.

“Saranghae. Jinjja jinjja saranghaeyo,” bisik Luhan lembut.

Taeyeon menangis lagi, kali ini dalam diam. Ia begitu terenyuh, begitu bahagia. Sangat bahagia.

“Aku tahu semuanya. Tiffany meneleponku di bus dan memberitahu semua yang terjadi padamu kemarin. Ia memberitahuku kalau kau sekarang sedang mengejarku. Aku langsung turun dari bus, dan bagiku tidak sulit mencarimu. Aku tinggal mencari pohon sakura dan aku yakin akan menemukanmu. Aku juga tidak ingin kau mengungkapkan perasaanmu terlebih dahulu. Aku sudah tahu semuanya, dan aku sudah memaafkanmu dari seminggu yang lalu. Aku hanya merasa sakit hati saja,” ungkap Luhan sambil tersenyum manis.

Taeyeon tersenyum, walaupun masih sedikit terisak. “Saranghae. Aku menyesal sudah membohongi perasaanku dan membuatmu terluka. Tapi aku benar-benar mencintaimu. Bukan karena kau mirip dengan Kyuhyun oppa, karena kau adalah Xi Luhan, si laki-laki penguntit yang tampan,”

Luhan tertawa pelan mendengar Taeyeon bicara seperti itu. “Arrayo. Aku juga sangat mencintaimu. Pertama kali melihatmu bermandikan bunga sakura, aku merasa melihat bidadari pohon sakura, kau tahu? Ini mustahil memang, tapi itulah yang kurasakan. Sekelilingku mendadak berubah menjadi merah muda pekat, langit berwarna biru terang, dan di dalam dadaku tumbuh bunga berwarna merah. Aku bertanya-tanya apakah ini cinta? Tatapanmu menusuk jantungku, sakit namun aku bahagia. Sejak saat itu, aku ingin terus melihatmu dan memang kusadari, ini cinta,”

Taeyeon tersenyum. Semburat merah muda muncul di kedua pipinya, manis sekali. Lalu, senyuman itu segera menghilang.

“Kau… tetap akan ke China?”

“Mwo? Ke China? Siapa yang bilang seperti itu? Aku hanya pergi ke bandara untuk menemani ayahku di bandara yang akan terbang ke China hari ini. Tapi sekarang, sepertinya tidak perlu. Aku sudah terlambat. Mungkin ayah akan marah-marah, tapi biar sajalah. Lumayan banyak juga yang menemaninya di bandara, dia tak akan kehilanganku,”

“Suho dan yang lain mengatakan hal seperti itu,” kata Taeyeon.

“Aisshh, mereka itu. Mereka mengerjaimu, sunbae. Aku tidak kembali ke China. Aku akan disini bersamamu. Sampai kau tidak menginginkanku, pun aku akan tetap disini,”

“Aku akan terus membutuhkanmu,” kata Taeyeon malu. “Tapi, jangan panggil aku sunbae lagi. Cukup Taeyeon saja,”

“Arraseo. Kalau begitu, apakah aku harus memanggilmu dengan panggilan ‘yeobo?’” goda Luhan, sambil mengedipkan sebelah matanya.

“Ya, jika kau memanggilku seperti itu, kau takkan selamat,” ancam Taeyeon. Pipinya kembali merona.

Luhan tertawa renyah. Lalu ia jongkok di depan Taeyeon, menawarkan punggungnya. “Naiklah, kita akan ke sekolah jalan kaki. Aku pasti sudah membuatmu lelah,”

“Tidak usah, tidak apa,” tolak Taeyeon.

“Cepat naik, atau aku akan menggendongmu secara paksa,” kali ini Luhan yang mengancam dengan mimik serius.

“Neo, jinjja. Kau ingin kuhajar?”

Namun, Luhan dengan cepat menangkap kaki Taeyeon dari belakang, membuat Taeyeon jatuh ke punggung Luhan dan reflek, ia mengalungkan lengannya ke leher Luhan.

“Nah, pegang yang erat, ya,”

Luhan bangkit dan ia menggenggam kuat-kuat kedua kaki Taeyeon yang berada di pinggangya.

“Apa kau tidak merasa berat?” tanya Taeyeon, ketika mereka berdua sudah mulai jalan.

“Tidak terlalu, kalau aku merasa berat, kau mau gantian?” tanya Luhan sambil tertawa.

“Tentu saja,” jawab Taeyeon. “Tidak,” lanjutnya sambil menjulurkan lidahnya pada Luhan.

“Ya!” seru Luhan. Taeyeon hanya tertawa. Ia mempererat pelukannya di leher Luhan sambil meletakkan dagunya di pundak Luhan.

“Saranghae,” bisik Taeyeon pelan.

Matanya tak sengaja menangkap sepucuk bunga sakura yang terbang di dekat mereka, mengikuti langkah kaki Luhan. Taeyeon tersenyum dan ia memejamkan matanya, merasakan sejuknya angin musim gugur dan nyamannya berada di pundak seseorang yang ia cintai.

 

Pohon sakura sudah menjadi saksi bisu atas terikatnya cinta kami. Bunga sakura berterbangan ke segala penjuru arah, merayakan terjalinnya kisah kami. Matahari menjadi lebih hangat dan bersahabat melihat kebersamaan kami. Sepucuk bunga sakura mengiringi langkah kami. Aku tahu ini agak berlebihan, tapi aku merasa, kisah kami akan jauh lebih indah dari pohon sakura, dan dari hujan badai bunga sakura.

 

~ THE END~

 

Hahahahahaha#ketawa gajeee.

Akhirnya selesaaiii.. huufft.

Panjang sekali, yaaa heheheheh. Ini karena ngejar target twoshot, jadinya seperti ini-____-

Sangat berantakan, feelnya kurang, trus apalagi, yaaa typo!hehehehehe.. endingnya juga rada aneehh huhuhuhu..

Tapi, yaaa cuma ini yang nongol di otak(?) hahahah

Mianhaeyo#bow90derajat kalau kurang menariikk atau kurang enak. Dan gomawoyoo#bow lagii untuk apresiasi kalian untuk FF ini hehehehe^^ saya masih merasa kurang puas sama ceritanya. Masih nggak sehebat author lain#curhat#apaini?-_-

Untuk NICE readers, PASTI bakal comment, istilahnya take and give gituu..

Untuk SILENT readers, jangan buka FF ini, yaaa^^ haram, looh^^

Kkkkk~

Kritik dan saran, saya terima :p

15 thoughts on “[Freelance] That Boy (Heart Attack/END)

  1. Hihihi bener2 ngerasain semua perasaan pas baca ni ff.
    Nangis sempet, ketawa sempet, senyum2 sempet. Hebat bgt dah eonni pokoknya.
    Keep writing eon, and fighting!!

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s