[Freelance] Me, and My Husband (Chapter 9)

Author             :  _agrn

Me and My Husband 9

Main Cast        : Yoona, and Sehun

Other Cast       : Seohyun , EXO-K, Jung Hyemi (OC), Yonghwa (CNBlue)

Genre              : Romance, Marriage Life, Friendship, Family, Littlebit Comedy

Rate                 : PG 16._.

Length             : Multichapter

A/N                 : Jjeng Jjeng~ Author kembali lagi. pertama-tama, author mau bilang terimakasih buat kalian yang udah mau nungguin ff ini, aku seneng masih ada yang mau baca ff. kedua, aku mau bilang maaf karena keterlambatan ngeupdate. Kan ff aku ada yg lain dan perlu dilanjut, jadi aku ngelanjut yang itu juga. Ketiga, aku mau sampein hasil votting kemarin. Pairing Seohyun di FF ini adalah…

Kim Joonmyun a.k.a Suho^^

Banyak yang bilang Seohyun sama Suho disini cocok, dan entah kenapa aku juga suka rare couple ini, jadi aku usahakan bagian Seohyun dan Suho akan kubuat sebagus yang kubisa^^ walaupun mungkin gak akan terlalu jelas karena well… kan pairing utamanya YoonHun ya-_-

DON’T LIKE DON’T READ dan Happy Reading~

oOoOoOo

“Jawab aku, Im Yoona. Apa dia dalang dibalik pembully-anmu waktu itu?”

Sehun bisa melihat raut panik Yoona, dan dia yakin bahwa jawaban dari pertanyaannya adalah ya. Sehun  bersumpah, bila Hyemi memanglah dalang dibalik pembully-an Yoona, Sehun akan menghancurkan hidup yeoja itu bersama dengan keluarganya.

“Bukan. Dalangnya hanyalah 3 orang fans kalian. Yang satu gemuk, yang satu roknya lebih pendek dari yang biasa, dan yang satu lagi bermake-up tebal.”ujar Yoona santai seraya menyumpit beberapa sayur dihadapannya.

“Jangan berbohong”ucap Sehun. Ia sedikit meragukan ucapan Yoona.

Yoona meletakkan sumpitnya dengan sedikit kasar, membuat suara sumpit yang diletakkan di meja kaca itu memenuhi ruangan. Yoona menatap Sehun dengan pandangan seriusnya. “Jangan menuduhku sembarangan. Aku tidak berbohong.”

Sehun menghela nafas. Mungkin ia memang harus lebih mempercayai Yoona. Tatapannnya begitu serius. Dan Sehun tidak bermaksud menuduh Yoona. “Aku tidak bermaksud menuduhmu”

“Baguslah, karena kurasa kaulah yang pembohong”Yoona berdiri setelah mengatakannya. Membuat emosi Sehun tersulut.

“Kau barusan menuduhku, Im Yoona!”ujar Sehun seraya berdiri dari kursinya pula.

“Oh ya? Kau pikir aku tidak tahu? Dari gelagatmu saja aku tahu kalau kau sedang menyembunyikan sesuatu. Dan yang kau sembunyikan itu… aku yakin adalah masa lalumu.”

Yoona beranjak pergi dari dapur. Ia bergegas menaiki tangga. Ia berusaha keras agar Sehun tidak melihat air mata di pelupuk matanya. Yoona yakin akan apa yang ia rasakan. Dari air wajah Sehun, walaupun namja itu tidak mengatakannya, walaupun Yoona tidak bisa membaca pikirannya, Yoona tahu kalau Hyemi bukan hanya teman Oh Sehun.

Sehun tidak akan rela ada yeoja yang bergelayut manja di lengannya. Tidak akan rela ada yeoja yang menciumnya tiba-tiba. Sehun bukan orang seperti itu. Oleh karena itu, Yoona yakin Jung Hyemi adalah bagian dari masa lalu Sehun. Entah dia adalah mantan kekasihnya, mantan orang yang disukai, orang yang menyelamatkannya, atau apapun itu.

Yang jelas, Yoona merasa dia… dia bodoh. Dia bodoh karena baru menyadarinya sekarang. Ia bodoh karena baru merasakan kepastian itu bersamaan dengan merasakan rasa sakit. Ia baru sadar jika ia… benar-benar telah menyukai seorang Oh Sehun.

Sehun sendiri tidak bisa berkutik. Yang Yoona katakan memang benar. Hyemi memang ia anggap sebagai temannya sekarang, tapi dulu… perasaan yang singgah di hatinya dulu tidak bisa ia pungkiri. Jung Hyemi adalah bagian dari masa lalunya yang penting.

Sehun menghela nafas kasar, lalu mengacak rambutnya. Ia merasa bingung dan kesal secara bersamaan. Bingung dengan apa yang ia lakukan selanjutnya, dan kesal akan apa yang terjadi sekarang. Ia bertengkar dengan Yoona. Ya, dia bertengkar.

Sehun mengeluarkan ponselnya. Disaat seperti ini, mungkin nasihat Suho atau D.O adalah yang paling berguna.

“Yoboseo, Hyung?”

oOoOoOo

Seohyun berjalan di koridor. Semalam ia tidak bisa tidur. Jung Hyemi sepertinya berniat menjadikannya alasan agar Yoona menjauhi Sehun. Yeoja itu benar-benar tergila-gila dengan Sehun. Semalam ia dan Yonghwa serta geng motornya berhenti didepan apartmen Seohyun yang memang sedikit sepi. Saat itu sang security entah berada dimana. Seohyun yang sedang berada di balkon waktu itu melihat dengan jelas hal itu. terlebih, ia juga melihat kembali Yonghwa dan Hyemi berciuman. Jelas ia terbayang-bayang hingga tak bisa tidur. Belum lagi suara yang bising itu. Alhasil ia benar-benar mengantuk. Ia yakin hasil ujian kimia tadi tidak akan lebih dari 80.

Brak!

Seohyun menengadahkan kepalanya dan membelalak ketika melihat adegan itu… untuk yang ketiga kalinya!

Kenapa mereka harus melakukannya tepat di depan loker milik Seohyun? Apalagi dengan Hyemi yang bersandar pada pintu lokernya. Sekarang, rasanya ia ingin meledak saja. Namun percuma, air mata pasti akan lebih dulu keluar dibandingkan caci maki yang sudah siap ia keluarkan.

“Hentikan itu, kalian tidak perlu melakukannya di depan umum”

Seohyun menengadah begitu mendengar kalimat yang sungguh ingin ia keluarkan disela-sela caci maki yang ia siapkan. “Suho sunbae…”gumamnya kecil

Suho memberikan senyum tipis pada Seohyun, lalu kembali menatap Hyemi dan Yonghwa. “Kembalilah ke kelas kalian. Jangan melakukan itu lagi.”ucapnya dengan  nada yang tegas. Hyemi mendelik kearah Suho kemudian menarik lengan Yonghwa pergi menjauh dari sana.

Seohyun menghela nafas lega. Untunglah Suho datang dan mengusir mereka. Kalau tidak, mungkin air matanya akan keluar lagi dan dia akan semakin terlihat bodoh. Seohyun berjalan kearah lokernya lalu mengambil barang-barang yang ia perlukan dan tak lupa, mengambil sebuah kantung kecil dengan 2 buah kue kering didalamnya.

Seohyun berjalan kearah Suho yang masih tetap di posisinya. Ia menyodorkan kantung itu lalu tersenyum. “Terimakasih sunbae… ini sedikit imbalan karena telah membantuku…”ucap Seohyun tulus.

Suho terkekeh kecil. Ia tersenyum membentuk lengkungan bulan sabit di kedua matanya. Ia mendorong pelan bungkusan kecil itu lalu berkata “Kita tidak harus butuh imbalan agar menolong seseorang… aku menolongmu bukan untuk imbalan, Seohyun-ssi”

“A..Aku tidak bermaksud begitu, aku hanya…”

“Sudahlah, tidak apa-apa. Lebih baik sekarang kita masuk ke kelas. Mau bersama-sama? Kelas kita satu arah bukan?”

Seohyun tersenyum ia mengangguk pelan. Suho pun berjalan disampingnya. Menceritakan beberapa candaan yang cukup menghibur. Keberadaan Suho pun secara tidak langsung membuat Seohyun melupakan kejadian Hyemi dan Yonghwa tadi.

“Ah, aku sedikit haus. Kau mau pergi sendiri, atau menungguku membeli minum Seohyun-ssi?”

“Jangan panggil aku seformal itu Suho sunbae. Dan aku akan ikut. Kebetulan tenggorokanku juga sedikit kering…”jawab Seohyun.

“Haha, kau sendiri memanggilku dengan formal Seohyun-a…”ujar Suho diiringi tawa.

“Benarkah? Kurasa itu sopan, bukan formal…”gumam Seohyun kecil, namun dapat didengar jelas oleh Suho.

“Bagaimana kalau memanggilku Oppa?”

Entah kenapa wajah Seohyun memerah dan jantungnya berdegup kencang. Oppa? Ia harus memanggil Suho dengan Oppa? Hal sekecil itu membuatnya jadi salah tingkah seperti ini. Padahal dulu saat Yonghwa, orang yang disukainya memintanya memanggil Oppa, ia biasa saja. Ia tidak sampai salah tingkah begini.

“Seohyun-a?”

“I..Iya, sunbae?”respon Seohyun sedikit terkejut, karena lamunannya dirusak begitu saja.

Suho menunjukkan raut datarnya. Seohyun bisa menangkap adanya ketidak puasan di wajah Suho. Mungkin ada kata-katanya yang salah? Seohyun mengingat kata-kata yang ia sebutkan sebelumnya. “Emm… maksudku, oppa…”gumamnya.

Suho lansung merubah raut wajahnya menjadi ceria lagi. Namja itu memberikan senyuman malaikatnya. “Nah begitu, kajja”

Seohyun menghela nafas. Sekarang ia tahu kenapa Yoona tidak mau memanggil orang yang tidak dekat dengannya ‘Oppa’. Ternyata begini malu rasanya. Seohyun baru tahu.

Begitu memasuki kantin yang masih lumayan ramai meskipun bel masuk akan berbunyi sebentar lagi, Seohyun dan Yonghwa dapat merasakan aura tegang dan kaku disana. Baru saja mereka hendak mencari alasan dibalik suasana itu, mereka sudah mendengar sesuatu yang sepertinya menghantam meja.

Dan akhirnya mereka tahu apa yang sedang terjadi disini. Mereka menatap Yoona yang sedang menaruh sebuah gelas berisi jus di meja tempat Sehun, Kyungsoo, Chanyeol, Baekhyun, Kai dan tentunya Jung Hyemi berkumpul. Dari pandangan matanya saja, mereka tahu Yoona sedang dalam emosi yang benar-benar membuncah.

“Kita harus menghentikannya, aku tidak mau Yoona Eonni melakukan hal yang tidak-tidak..”ujar Seohyun seraya menarik lengan Suho. Kepanikan sedang melanda dirinya. Ia tahu Yoona tidak akan melakukan hal itu tanpa alasan yang kuat, tapi ayolah… Tuan Im bukan orang yang mudah percaya pada seseorang. Mungkin ia bisa memercayai Yoona karena Yoona anaknya, tapi… Tuan Im memiliki reputasi yang baik di kalangan para orang penting Negara, jika Yoona dan Hyemi bertengkar, lalu Hyemi menceritakan hal yang tidak sama dengan kenyataan pada Ayahnya… Tuan Im pasti malu dan Yoona…

Astaga, apa yang ia pikirkan. Ia tidak boleh berpikiran yang aneh-aneh. Ia harus meredakan amarah Yoona sekarang. Sepertinya hanya dia yang bisa menghentikan Yoona.

“Apa yang kau lakukan?”tanya Hyemi dengan raut kesal,takut dan marah secara bersamaan. Kesal karena Yoona mengganggunya, takut karena tatapan Yoona padanya dan marah karena keduanya.

“Memberimu peringatan.. Jung Hyemi…”ujar Yoona dengan penuh penekanan.

“P..Peringatan? Peringatan apa?”

“Aku sudah pernah mengatakannya bukan? Jika kau mengganggu orang yang kusayangi aku tidak akan tinggal diam.”jawab Yoona lalu tangannya sigap mengambil jus tersebut. Begitu ia sudah akan menyiram Hyemi dengan jus itu, tiba-tiba seseorang menggenggam tangannya dengan cukup kuat. Hal itu membuat Yoona menghentikan gerak tangannya, sekaligus sedikit meringis sakit.

“Lepaskan gelas itu. Jangan berbuat hal bodoh”ucap Sehun seraya menatap dalam ke manik mata Yoona.

Yoona menatap Sehun dengan tatapan yang tidak kalah tajam dan menusuk. Namun di dalam hatinya, Yoona merasakan sakit yang begitu dalam. Yoona mengerti Sehun tidak tahu akan hal yang sebenarnya, dan apa yang Yoona lakukan sekarang memang tidak baik. Tapi… genggaman kuat… tatapan mata yang tajam seakan begitu marah… Yoona merasa sakit. Apa Hyemi memang orang yang disukai oleh Sehun? Apa Yoona tidak berarti apa-apa didalam diri Sehun?

Yoona menepis tangan Sehun dan meletakkan gelas itu dengan kasar. “Hal bodoh?  Kau tidak tahu yang sebenarnya Oh Sehun. Jangan asal bicara. Kau puas sekarang?”

“Aku memang tidak tahu. Kau sendiri tidak mengatakan yang sebenarnya padaku”ujar Sehun penuh penekanan, ia tidak mau berteriak-teriak untuk menekankan bahwa ia kesal atau marah.

“Kenapa aku harus menceritakannya padamu?! Urusi saja istrimu yang satu itu Oh Sehun!”seru Yoona kesal. Emosinya kembali membuncah, kesal dengan tatapan dan ucapan Sehun.

“Apa yang kau bicarakan Im Yoona?!”balas Sehun sedikit meninggikan suaranya. Ia sangat tidak suka Yoona bicara seperti itu. Yoona-lah Istri sah-nya. Untuk apa ia memberi gelar itu pada orang lain? Apa ia tidak suka dengan status itu? Tapi sesungguhnya, Sehun tidak suka Yoona berkata begitu, hanya karena ia ingin Yoona mengakui dirinya sebagai Istri Sehun. Ia ingin Yoona bangga akan status itu, ia ingin Yoona terus berada di sisinya karena Sehun… sudah sangat mencintai Yoona.

“Eonni”

Yoona menoleh begitu mendengar suara Seohyun. Ia dapat melihat Seohyun telah datang dengan raut khawatirnya. Tangannya menggenggam lengan kanan Yoona. “Eonni… ayo pergi…”ajaknya.

Yoona menghela nafas, lalu menatap Sehun sebentar. Tatapannya terlihat kecewa. Jelas menusuk ulu hati Sehun. Kemudian Seohyun mulai menarik Yoona pergi. Bukan ke kelas, namun ke tempat lain, dimana Yoona bisa menenangkan dirinya. atap sekolah mungkin tempat yang tepat.

Sehun duduk di kursinya kembali dan mengacak rambutnya kesal. Ia bisa mengerti arti tatapan Yoona tadi. dan entah kenapa ia merasa kesal dan marah pada dirinya sendiri. Ia tak sengaja menangkap tatapan seluruh penghuni kantin padanya. Rautnya yang memang terlihat dingin sekarang semakin membuatnya menakutkan, ditambah dengan perkataan “Apa yang kau lihat?” ia sukses membuat seluruh orang disana merasa canggung.

“Sehun Oppa… gomawo”ujar Hyemi seraya menggenggam tangan Sehun, berniat membuat Sehun merasa lebih baik.

“Cheonma”jawab Sehun singkat.

Tiba-tiba saja Kai berdiri. Namja itu melempar sesuatu yang tepat mengenai bahu Sehun, membuat namja itu sedikit kesakitan. “Ya! Kim Jong In! Apa yang kau…”

Sehun terdiam begitu melihat raut serius milik Kai. “Kau dengarkan itu. Kurasa kau akan berubah pikiran untuk membela yeoja it uterus”ucapnya seraya mendelik pada Hyemi.

Hyemi merasa ada hal buruk yang akan terjadi. Dia menatap benda yang dilempar oleh Kai dan terkejut begitu tahu bahwa itu adalah recorder yang dibawa Yoona waktu itu. “D..Dari mana kau mendapat barang ini?!”tanya Hyemi dengan suara yang lumayan besar.

“Benda ini jatuh ke matras yang sedang kubawa. Karena penasaran, aku mendengarkannya dan… aku lumayan terkejut dengan apa yang terjadi”ujar Kai lalu beranjak pergi dari kantin.

“Ya! Kim Jong In! kau mau kemana?”seru Kyungsoo.

“Ke tempat Yoona dan Seohyun. Kurasa Sehun tidak akan mau pergi kesana kan? Ada yang mau ikut denganku?”ujar Kai sarkastik.

“Aku ikut”ucap Suho. Ia khawatir dengan Kai yang omongannya sering ceplas-ceplos. Ia harus disana agar Kai tidak mengucapkan sesuatu yang tidak-tidak. “Kalian semua kembalilah ke kelas masing-masing bel akan segera berbunyi.”

Kyungsoo, Baekhyun dan Chanyeol mengangguk lalu beranjak pergi dari kantin, diikuti beberapa siswa lainnya. Hyemi dan Sehun sendiri masih dalam posisinya. Sehun terlihat frustasi dengan apa yang terjadi. Tangannya menggenggam erat recorder itu. sedangkan Hyemi sedang harap-harap cemas dengan apa yang terjadi selanjutnya.

“O..Oppa…”panggil Hyemi kecil. Namun Sehun tidak menanggapinya. Namja itu segera berdiri dan meninggalkan Hyemi.

Hyemi tertunduk, air mata mengalir dari kedua matanya. Hatinya sakit ketika melihat Sehun yang terlihat sangat frustasi akibat perkataan Yoona tadi. Sehun tidak pernah terlihat sefrustasi itu, sepertinya Yoona sangatlah berharga untuknya. “S..Sebenarnya apa hubungan kalian…”

oOoOoOo

Yoona menghela nafas ketika ia sudah duduk di sudut atap sekolah. Ia mendongakkan kepalanya dan menutupi bagian matanya dengan lengan kanannya. Berkali-kali ia menghela nafas, dan Seohyun tahu, itu salah satu cara Yoona untuk mencegah dirinya menangis.

“Eonni… kalau kau mau menangis, menangis saja”ujar Seohyun, berharap Yoona akan merasa lebih baik setelah mendengar sarannya.

“Aku tidak mau menangis untuk orang bodoh semacam dia”

Seohyun tersenyum kecil. “Tapi kau menyukainya, benarkan?”

Yoona terdiam sejenak. Seohyun benar, Ia menyukai namja bodoh itu. Namja bodoh yang dingin, tidak peka, tidak bisa menunjukkan ekspresi, namja yang sering menyakitinya… dia menyukai namja itu. “Dia jahat”gumam Yoona kecil.

“Dia hanya kurang peka Eonni…”ucap Seohyun.

“Sekarang kau membelanya”sungut Yoona, membuat Seohyun tertawa kecil.

“Aku tidak membelanya kok… aku ada di pihakmu.”

Suasana hening akhirnya tercipta. Yoona masih ingin menenangkan dirinya sementara Seohyun mencari waktu yang tempat untuk mengajak Yoona bicara. Namun keheningan itu tiba-tiba terpecahkan oleh Yoona “Apa aku lebih baik bercerai?”

Seohyun membelalakkan matanya dan menatap Yoona dengan pandagan kaget dan marah secara bersamaan. “Kau ini bicara apa?! Jangan mengatakan hal-hal aneh seperti itu!”

“Habis dia terlihat lebih menyayangi yeoja itu. Bahkan aku tidak diperdulikannya. Lebih baik pisah saja!”gerutu Yoona.

“Hei, kau ini cemburu ya?”

Keduanya tersentak begitu mendengar suara Kai dibelakang mereka. Benar saja, Kai dan Suho sudah ada di belakang mereka, entah kapan mereka membuka pintu atap.

“Cemburu apa? Tidak kok!”ujar Yoona seraya melepas lengannya dari area wajahnya. Untunglah matanya tidak terlalu terlihat sembab. Mau ditaruh dimana wajahnya? Kai dan Suho tidak boleh melihatnya meneteskan air mata.

Habis dia terlihat lebih menyayangi yeoja itu. Bahkan aku tidak diperdulikannya. Lebih baik pisah saja”ucap Kai meniru suara Yoona.

“Tidak mirip sama sekali! Suara siapa itu!?”ketus Yoona.

“Hei-hei… jangan jutek seperti itu, kau jadi terlihat jelek”ejek Kai sambil mengambil tempat disebelah Yoona.

“Siapa yang bilang aku cantik?”Kini Yoona menatap Kai dengan tatapan sarkastik.

“Aku.”

Keduanya menoleh pada Suho yang sedang tersenyum tulus tanpa dosa “Kau cantik Yoong. Nah, aku sudah mengatakannya kan?”

Yoona menutup mulutnya, menahan tawanya. Mendengar Suho berkata seperti itu dengan raut polos membuatnya terlihat sungguh lucu. “Ya,ya,ya… terimakasih…”

“Tapi… kau tidak serius saat mengucapkan kata cerai bukan?”

Mendengar pertanyaan bernada serius dari Kai, Yoona beralih menatap namja itu lagi. tatapan namja itu sungguh serius. Yoona menghela nafas dan menatap lurus ke depan. “Tidak tahu”

“Dulu… Sehun sempat menyukai Hyemi”celetuk Suho yang telah mengambil tempat disebelah Kai, Seohyun yang sedang berdiri pun akhirnya duduk di samping Suho.

“Saat itu, dia masih SMP. Umurnya 13 tahun, kalau aku tidak salah. Banyak yeoja yang berniat menjadi pasangannya. Sayangnya, sifatnya yang cuek dan ucapannya yang dingin membuat yeoja-yeoja membenci dirinya, namun tidak sedikit pula yang masih mengharapkannya. Saat itu… Jung Hyemi datang.”

Kai menyambung perkataan Suho. “Waktu itu Hyemi yang anak baru diperingati yeoja-yeoja lain agar tidak terpesona pada Sehun, namun Hyemi justru mengabaikannya dan terus mendekati Sehun. Ia sempat ditolak oleh Sehun, namun ia ternyata sangat pantang menyerah. Ia terus mendekati Sehun dan sepertinya ia telah tergila-gila oleh Sehun. Sampai suatu hari….”

“Suatu hari?”respon Seohyun melihat kedua namja itu saling pandang. Keduanya mengangguk lalu menghela nafas.

“Sehun terjatuh ke sungai dekat sekolah yang airnya sangat deras waktu itu. Ia bisa saja hanyut. Namun Hyemi yang ada bersamanya bukannya berteriak minta tolong, yeoja itu langsung masuk ke dalam air, dan entah bagaimana, ia bisa menyelamatkan Sehun dengan mendorong namja itu ke tepi sungai. Namun dialah yang akhirnya hampir hanyut, untung guru-guru segera datang dan menolongnya”ujar Suho.

“Lalu?”Kini Yoona yang merespon.

“Sejak saat itu, Sehun sepertinya merasa bersalah dan menerima apa yang dilakukan Hyemi untuknya. Entah itu mencium pipinya, bergelayut di lengannya…”

“Sampai mencium bibirnya?”tanya Yoona sarkastik.

Suho tertawa kaku. “T..Tidak, Sehun tidak akan melakukannya. Hanya sebatas mencium pipi kok”

Yoona mendengus. “Lanjutkan”

“Lama kelamaan, Sehun sepertinya merasa terbiasa dengan Hyemi dan mungkin merasa nyaman dengan yeoja itu. Meskipun menurutku yeoja itu menyebalkan. Jadi mungkin ia beranggapan dia menyukai Hyemi. Namun seiring waktu berjalan, mereka tidak pernah resmi berhubungan. Mereka seperti itu saja. Toh dia belum pernah cerita padaku kalau dia menyukai Hyemi”ujar Kai panjang.

“Sebenarnya… dia sempat berkonsultasi denganku dan Kyungsoo”ucap Suho tiba-tiba, membuat mata Kai membulat dan menatapnya dengan pandangan Kau serius?!

“Ya… dia bertanya apa yang dirasakannya memang benar perasaan suka atau hanya perasaan nyaman biasa. Dan Kyungsoo menyuruhnya untuk bertahan sejenak dan lihat kedepannya seperti apa. Ternyata… sampai sekarang dia tidak pernah menjadi pasangan Hyemi”jelas Suho.

“Sialan, dia belum pernah cerita padaku!!”gerutu Kai sambil mempersiapkan kepalan tangannya. Mungkin ia akan menjitak Sehun setelah ini.

“Jika ia bercerita padamu, selain tidak mendapat hasil, dia pasti rugi. Kau pasti menceritakannya pada yang lain. Kalau Suho Oppa atau Kyungsoo-ssi sih tidak masalah, kalau Baekhyun dan Chanyeol? Semua orang mungkin akan tahu. jadi keputusannya untuk bercerita hanya pada Suho Oppa dan Kyungsoo-ssi adalah benar”celetuk Seohyun panjang.

“Tunggu”ujar Yoona dengan wajah bingung. “Kau memanggil Suho ‘Oppa’?”

Crap. Itulah yang ada di benak Seohyun. Sepertinya kalimat itu sudah mulai lancar keluar dari mulutnya. Bisa-bisa Yoona berpikiran yang tidak tidak! “A..Ani. Bukankah itu memang yang seharusnya terjadi? Toh dia sudah memanggilku dengan nama.”kilah Seohyun.

Namun yang ditunjukkan Yoona hanyalah smirk andalannya. Seohyun tahu ia tidak bisa membohongi Yoona. Yoona memang calon psikolog yang baik. Ia tahu kalau Seohyun tidak berkata dengan jujur.

“Sudahlah, lebih baik kita masuk kelas sekarang. Sebentar lagi pelajaran ke empat akan dimulai.”saran Suho. Ketiga lainnya mengangguk dan mereka pun pergi bersama ke kelas masing-masing.

oOoOoOo

Sekali lagi, Yoona ingin mengutuk guru yang sudah menjadikannya teman sebangku Sehun. Kini suasana diantara mereka semakin canggung. Yoona sendiri merasakan banyak emosi didalam dirinya. Marah, kecewa, sedih, kesal… semuanya menjadi satu.

Dan keadaan itu terus terjadi. Bahkan saat Sehun menunggui Yoona pulang dari pekerjaannya di kantor Ayahnya, mereka berada di dalam mobil, hingga sampai di rumah. Mereka berdua kembali seperti tidak pernah mengenal satu sama lain.

Kini mereka sudah ada di ruang keluarga. Yoona duduk di sofa tempat ia biasa membaca majalahnya. Suasana tenang yang lumayan menyenangkannya tiba-tiba terhenti ketika Sehun meletakkan sebuah benda yang jelas membuat Yoona terbelalak. “Recorder itu…”gumamnya terkejut.

“Kai yang memberikannya padaku”ujar Sehun datar, kemudian namja itu menatap Yoona dengan pandangan datarnya pula “Kau berbohong.”

Yoona menghela nafas. Ia muak berbicara tentang Sehun-Hyemi lagi. “Lalu?”tanyanya santai seraya membolak-balik halaman majalah yang ia pegang.

“Kenapa kau berbohong?”tanya Sehun seraya menahan emosinya.

“Haruskah aku melaporkannya padamu?”tanya Yoona sarkastik. Yeoja itu menatap Sehun dengan pandangan tajam.

“Tentu saja kau harus! Aku su..”

Ucapan Sehun tetahan begitu saja. Ia ingin mengucapkan Aku suamimu! Namun entah kenapa mulutnya berhenti berucap. Ia tidak bisa mengucapkannya.

“Apa? Kau kenapa hah?! Kenapa aku harus mengatakannya padamu?!”ujar Yoona menaikkan suaranya. Ia sempat berharap Sehun akan mengatakan Aku suamimu. Namun sepertinya itu tidak akan tercapai. Ia yakin Sehun tidak bisa mengucapkannya karena dipikirannya masih ada Hyemi.

Sehun terdiam sejenak. “Jawab aku, kenapa kau tidak mengaku bahwa Jung Hyemi adalah dalang dibalik pembullyan-mu?”

Yoona meniup poni panjangnya dan mendengus. Ekspresinya terlihat sangat kesal sekaligus terlihat ingin menangis. “Jika kubilang, apa yang akan kau lakukan? Ah, kurasa kau akan membantahnya. Kau pasti tidak akan percaya bahwa istri manismu itu melakukannya bukan?”

“Jaga ucapanmu Im Yoona! Dia bukan istriku!”seru Sehun tak kalah meninggikan suaranya.

“Lalu apa?! Dia apamu jika bukan Istrimu?! Siapa pun yang melihat pasti sadar bahwa kalian memiliki hubungan lebih!!”Yoona mengerti dengan apa yang diceritakan Kai dan Suho tadi, namun rasa sedih dan kesal itu membutakannya. Dan rasa cemburu pun mulai mengisi hatinya.

“Hubungan lebih macam apa yang kau maksudkan itu!? Jangan asal bicara Im Yoona!!”tanya Sehun dengan emosi yang semakin memuncak. Sebenarnya apa yang dipikirkan yeoja yang ada dihadapannya ini? Sedari tadi ia selalu menjudge Sehun dan Hyemi. Ia benar-benar tidak bisa mengerti alur pikiran yeoja itu.

“Bergandengan tangan, mencium pipi, bergelayut manja di lenganmu, selalu menempel padamu, menyingkirkan setiap orang yang dekat denganmu bahkan rela menyakitinya… apa itu tidak cukup untuk membuktikannya?”tanya Yoona mulai dengan nada yang menurun. Sepertinya air mata di pelupuk matanya membuat ia menurunkan nada bicaranya. “Aku tahu kau pernah menyukainya, aku tahu dia pernah menyelamatkanmu dari ambang kematian.. dan aku tahu sampai sekarang kau masih memikirkannya dan berterimakasih padanya…”lanjut Yoona, mulai terisak.

“Tapi… itu semua menyakitiku… kau tak pernah sadar akan hal itu. Kau yang membelanya saat aku akan menyiramnya dengan minuman… tatapan matamu padanya yang berbeda dengan caramu menatapku… kau yang membiarkannya melakukan apapun yang ia mau padamu… dia yang tahu banyak tentangmu… aku merasa sakit ketika melihatnya… tak pernahkah kau mengetahuinya? Aku merasa tidak pantas berada disini… aku…”

Ucapan Yoona terhenti saat Sehun menangkup wajahnya dan mencium bibirnya. Mata Sehun tertutup, membuat Yoona refleks menutupkan matanya juga, diiringi dengan air mata yang turun dari pelupuk matanya. Kehangatan pun menjalar dari wajah Yoona keseluruh tubuhnya. Menghangatkan dirinya yang sempat kedinginan karena udara malam dan pendingin ruangan.

Perlahan Sehun melepaskan tautan bibir mereka. Ia menatap Yoona dalam-dalam. “Hyemi mungkin pernah mencium pipiku… namun yang mendapatkan ciuman pertama dan kedua di bibirku… adalah kau, Im Yoona…”

Yoona merasa air matanya akan semakin mengalir deras dan wajahnya akan semakin memerah. Kenapa Sehun bisa mengucapkan hal seperti itu dengan mudahnya? alhasil Yoona hanya dapat mengalihkan pandangannya.

“Dan yang akan mendapatkan yang ketiga juga adalah kau Yoona…”

Yoona membelalak ketika Sehun kembali mengecup bibirnya. Namja itu kembali melepaskannya, lalu mengecupnya lagi.

“Itu yang keempat dan yang kelima… dan seterusnya… hanya kau yang akan memilikinya Yoona. Karena kau adalah orang yang ditakdirkan untuk menemaniku hingga akhir. Kau adalah istriku. Bukan Jung Hyemi, tapi Im Yoona…”

Benar saja, air mata Yoona kembali mengalir. Ia tidak menyangka Sehun akan mengucapkan kalimat semanis itu. Ia tidak menyangka jika Sehun akan mengakui Yoona sebagai Istrinya. Ia mengucapkannya dengan jelas, dan Yoona mendengarnya dengan jelas…

“Jangan menangis…”ujar Sehun seraya menghapus air mata Yoona.

“Kau mengatakan hal bodoh yang membuatku menangis… dasar bodoh!”umpat Yoona. Ia memukul bahu Sehun dengan sedikit kuat, menyebabkan Sehun sedikit meringis.

“Kalau begitu kau lebih bodoh lagi karena menikahi orang bodoh…”ejek Sehun.

“Kau orang bodoh yang sangat bodoh karena mau menikahi orang bodoh yang tentunya menikahi orang bodoh pula”balas Yoona.

“Kau mengatakan hal yang membuatku bingung, babo!”ejek Sehun seraya tersenyum manis dan menoyor kepala Yoona.

Yoona terkekeh. “Kau tampan saat tersenyum, seharusnya kau lebih banyak tersenyum…”ucap Yoona.

“Dengan wajah seperti ini saja aku tidak tampan?”

Yoona menggeleng, membuat Sehun menoyor kepalanya lagi. Yoona tidak marah, justru ia tertawa, dan Sehun pun tertawa. Kini hati mereka dipenuhi oleh perasaan bahagia. Tidak ada lagi rasa canggung, marah, maupun sedih. Yang ada hanya kebahagiaan.

“Sudah malam. Kita harus tidur”ujar Yoona. Sehun mengangguk dan mengikuti Yoona dari belakang. Begitu Yoona akan melangkah menuju kamarnya, Sehun angkat bicara.

“Kau mau kemana?”

“Tentu saja ke kamarku, kenapa?”tanya Yoona bingung.

Sehun tertawa kecil, ia menarik Yoona kedalam pelukannya dan merangkul yeoja itu. “Mulai sekarang jangan tidur di kamarmu lagi. Kita akan tidur di kamar kita”ujarnya. Sehun menunjuk kamar utama yang pernah mereka pakai ketika mereka pertama bertemu.

Yoona tersipu lalu mencubit kecil lengan Sehun. “Awas kalau kau berani macam-macam…”

“Suami melakukan hal macam-macam pada istrinya tidak akan melanggar hukum bukan?”goda Sehun lagi.

“Ya! Oh Sehun!!”

TBC

Lalllallallalla~ aku seneng banget nulis bagian-bagian akhir itu… kyaaa!! Akhirnya mereka mengakui perasaan masing masing!!! Kuharap readers suka dengan FF ini J setelah ini tinggal beberapa chapter lagi dan mungkin FF ini juga akan selesai L Aaaa… sedikit kurang terima, tapi well… gak boleh gitu lah ya.

Oh ya, aku berencana buat bikin FF bergenre married life lagi nih… tapi kapan-kapan yah, tunggu ff aku kelar dan tinggal sedikit, biar aku mudah ngebikinnya dan readers gak nunggu lama ^^ yang jelas main castnya Yoona. (Aku YoonAdict ya… wajar aku bikin ff dengan cast yoona terus._.) anyway, maaf karena komentar kalian belum bisa kubalas di ff ku yang sebelumnya-_- aku belum bisa on web nih.. jadi susah mau ngebalesin komentar kalian.. tapi janji deh, kalau udah on web, aku bakal balesin komentar kalian satu-satu.

Sip, itu aja. RCL ya~

189 thoughts on “[Freelance] Me, and My Husband (Chapter 9)

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s