[Freelance] Spring

Spring Cover

Title:  Spring

Author : HMRin(FYSHwang)

Lenght : Oneshoot (1.965 Word)

Genre : Little bit romantic & Sad

Rating :  PG

Main Cast : 

  •     EXO’s Sehun

  •     SNSD’s Tiffany

Disclaimer :  The cast are the property of their respective owners. This story is mine!

Warning! : Typo  DETECTED !

Happy Reading!

 

“Doa pertamaku adalah bisa hidup bersamanya. Selamanya. Dan Seandainya masih ada harapan-sekecil apapun-untuk mengubah kenyataan, ia bersedia menggantungkan seluruh hidupnya pada harapan itu…”

Bulan berganti menjadi matahari yang cerah, malam berganti pagi.Burung-burung berkicauan dengan indahnya. Sebuah ruangan serba putih dan ditambah wewangian dari bunga lily yang ditaruh di meja kecil. Dalam ruangan tersebut, seorang yeoja berparas cantik itu masih menikmati alam mimpinya.

Kreettt

Suara pintu terbuka, menandakan ada seseorang yang memasuki ruangan itu. Ia mengedap-endap memasuki ruangan itu, tidak mau ada suara yang ditimbulkan dari sepatunya ketika ia berjalan. Dengan cepat ia membuka gorden jendela, seketika pantulan cahaya matahari menembus ventilasi ruangan itu.

”Eunghh…” Yeoja yang masih tertidur pulas itu mengerang karena pantulan cahaya matahari yang langsung mengenainya.

Namja yang diketahui bernama Sehun, orang membuka gorden jendela itu berjalan menuju yeoja itu. “Selamat pagi Noona.”Ucap Sehun sesudah mengecup dahi dan mengelus-elus poni pacarnya itu. Yeoja itu membuka matanya perlahan, mengetahui siapa yang membangunkannya lantas tersenyum hangat.”Selamat pagi”

Sehun tersenyum miris. “Bagaimana kabarmu hari ini?”

“Sangat..Sangat baik.” Lagi-lagi Sehun tersenyum miris, yeoja didepan matanya itu tidak sepenuhnya benar atas ucapannya tadi.Sehun menelusuri wajah yeojanya yang putih berseri menjadi semakin pucat pasih, Rambut hitamnya yang lebat semakin lama semakin sedikit karena rontok.Kau lagi-lagi berbohong Tiffany Noona.

“Sehuna?” Tiffany, yeoja memanggil namanya berkali-kali, tapi tidak diubris oleh Sehun. Tangan Tiffany melambai-lambai tepat di wajah Sehun. “Eoh? Wae noona?”
“Ani, ah apakah kau mau menemaniku ke taman?”

“Eh? Kau kan baru bangun dan juga kau belum Sara- “Ucapan Sehun terpotong.”Ayolahhh..Kita bisa membeli makanan didekat taman ituuu” Rengek Tiffany, Rengekan itu membuat Sehun pasrah dan luluh. Sehun mengganguk meng-iya-kan permintaan noonanya atau lebih tepatnya pacarnya itu, tapi terlebih dahulu ia harus meminta ‘izin’ keluar kepada Dokter yang selama ini memeriksa Tiffany.

“Hey Sehun, kenapa kau harus meminta izin kepadaku? Tentu saja aku mengizinkannya. Dan kebetulan orang tua Tiffany noona menyuruhmu untuk mengajak Tiffany noona jalan-jalan.” ucap seorang dokter muda.

“Eoh? Jijja Hyung?” Tanya Sehun. Ya, Dokter muda itu adalah Xiao Luhan. Dokter berdarah china itu adalah seorang Hyung bagi Sehun, dan juga Luhan dekat dengan Tiffany sejak kuliah bersama.

Luhan, dokter muda itu tersenyum lalu mengganguk. “Tapi ingat Sehuna, Tiffany noona sekarang lebih cepat lelah dan sekarang juga nafsu makannya berkurang membuatnya berat badannya berkurang derastis. Jadi jaga baik-baik Tiffany noona dan jangan memaksanya ketika dia sudah lelah, beri ia istirahat setengah jam. Jika terjadi apa-apa dengan Tiffany noona. Kau akan kubunuh Arra?”

“Ne, aku tau Hyung.”

“Dan satu lagi. Penyakit Tiffany noona sudah berakhir ke stadium akhir. Apa kau tidak ingin memberitahu kepada Tiffany noona? Orang tuanya sebenarnya dari dulu ingin memberitahukan kepada Tiffany noona, tapi bagaimana lagi? Tiffany noona selalu begitu tampak bahagia, membuat orang tuanya tidak kuat memberitahunya. Jadi orang tuanya menyuruhmu memberitahu kepada Tiffany noona. Tolong Sehuna, apa kau tidak kasihan kepada Tiffany noona? Aku tau kau pasti tidak kuat memberitahunya, tapi kau harus Sehuna, buat kebaikan dirinya.” Kata Luhan panjang lebar. Sehun terdiam, tidak menjawabnya.

Sesak, itu yang Sehun rasakan sekarang pada dadanya. Ia tertunduk, tidak mungkin ia memberitahu kepada Tiffany sekarang juga, yang ia yakin Tiffany akan sakit mendengarnya. Tapi, lebih menyakitkan bagi Sehun yang hanya sekedar mengetahuinya. Bukan merasakannya. Dia tidak mungkin melepaskan Tiffany dengan cepat, penyakit yang dihidap Tiffany noona.’Penyakit Tiffany noona disebabkan zat asbes, radiasi dan pancaran oven arang yang menjadikan Tiffany noona menghidap penyakit ini’ penjelasan Luhan Hyung saat pertama kali mengetahui penyakit Tiffany selalu teriang-iang dikepalanya saat kerumah sakit . Ia hanya ingin hidup bersama dengan Tiffany noona dan meskipun hanya sebentar ia akan bersama Tiffany noona, tapi dari hati Sehun yang paling dalam ia tidak mau menambah rasa sakit yang sudah dia rasakan saat pertama kali ia mengetahui penyakit Tiffany noona.

Luhan yang menyadari Sehun yang tertunduk dan meremas celana jeansnya, menepuk-nepuk pundak Sehun pelan. Luhan tau sekarang Sehun menangis. “Sehuna, aku tau kau sangat terpukul ketika tau Tiffany noona menghidap penyakit ini. Dan seharusnya pada hari ini kau bisa memberikannya kehangatan dan kesenangan dari orang yang ia cintai dan sebaliknya. Kau harus bisa menerima kenyataan yang ada. Sehun! Kau pasti bisa!” kata Luhan memberi semangat kepada orang yang sudah ia anggap adiknya sendiri. Sehun menggangkat kepalanya, matanya memerah akibat tangisannya ditahan.Benar apa kata Luhan Hyung, aku harus menerima kenyataan batinnya. Ia tersenyum tipis menjawab ucapan Luhan Hyung.
“Arra Hyung, aku akan memberitahunya. Diwaktu yang tepat. Kalau begitu aku pergi dulu” Pamit Sehun serak.”Tunggu! Ingat pesanku itu Sehun!” Sehun menggaguk pelan lalu beranjak keluar dan pergi kekamar Tiffany noona.Tapi sebelum itu Sehun kekamar mandi untuk mencuci mukanya.

Pagi hari ini, pada pertengahan bulan maret ini Musim semi di korea. Dimana tumbuhan-tumbuhan mekar kembali.  Dedaunan dari pohon sakura berjatuhan di taman atau Taman bermain ini. Menambah kesan keindahan. Karena keindahan taman tersebut, banyak peminat yang tertarik akan keindahan taman tersebut.

Sambil memakan Sandwich, seorang pasangan berjalan-jalan menikmati taman itu. Ya, Pasangan itu adalah Sehun dan Tiffany. Mereka tersenyum ketika melihat anak-anak kecil yang menggemaskan berlari-lari kesana-kemari.”Noona ayo kita duduk” ajak Sehun dijawab anggukan oleh Tiffany, mereka berjalan menuju bangku panjang. Sehun membersihkan sedikit bangku itu karena dedaunan yang berjatuhan membuat bangku itu dipenuhi dedaunan.

“Sehuna”
“Ya noona? Ada apa?”
“Kau tadi berbicara apa saja dengan Luhan-ssi?” Tanya Tiffany sembari memakan sandwichnya yang tersisa sedikit, yang sebenarnya tidak mau ia makan karena tidak napsu makan, tapi karena sudah janji kepada Sehun. Bagaimana lagi?

Dilain sisi Sehun terlihat kaget, dia bingung menjawab pertanyaan Tiffany. Apa dia harus mengatakannya sekarang? Tidak tidak, jangan merusak kesenangan Tiffany noona. Masih ada waktu memberitahunya Oh Sehun.

“Ahh..Ehmm…Ani, hanya…hanya…” Sehun menggaruk-garuk rambut belakangnya yang sebenarnya tidak gatal itu.

Tiffany menoleh kearahnya sambil mengkerutkan dahinya. “Hanya? Hanya apa?” Oke, Sehun sekarang bingung mau berbicara apa lagi.

“Hanya…Ah Hanya meminta izin keluar dan sedikit berbincang tentang anak Luhan” kata Sehun setengah berbohong.”Ohh, begitu” Tiffany melanjutkan memakan sandwichnya.

Setelah percakapan tersebut, tak ada satupun yang berbicara. Terhanyut dalam pikiran mereka masing-masing. Sehingga mereka tersadar ketika seseorang menepuk paha mereka.
“Eonni, Oppa. Maukah kalian membeli bunga ini?” Tawar seorang gadis kecil dengan rambut yang dikuncir dua, berbalut dress pink yang terlihat kusut, menawarkan sebuket bunga mawar yang dilapisi plastik seadanya. Tiffany dan Sehun melihat gadis itu dengan tatapan kasian. Mungkin?

Tiffany tersenyum. “Waahh indah sekali bunga ini. Berapa harganya, gadis manis?”

“5.000 Won Eonni!” Tau kalau Tiffany menginsyaratkan membeli bunga itu, Sehun mengambil selembar won dan diberikan kepada gadis kecil tersebut. “20.000 Won? Apakah oppa mempunyai uang pas? Aku tidak mempunyai kembaliannya.”

“Kau ambil saja kembaliannya..Ah ya, boleh Eonnie bertanya?”
“Apa itu Eonnie?”
“Kenapa kau menjual bunga mawar ini?”Tanya Tiffany.
“Nae dongsaeng belum makan dari kemarin malam, dan persediaan susunya sudah abis. Jadi aku berniat menjual bunga ini untuk membeli makan dan susu untuk adikku”Jelas gadis kecil itu.
“Dan bagaimana dengan orang tuamu?”Sekarang Sehun yang bertanya.

“Appa dan Eommaku sudah meninggal 2 tahun yang lalu. Ketika usiaku 5 tahun dan adikku 3 tahun.” Tiffany dan Sehun kaget mendengar penjelasan dari sang gadis kecil yang sekarang duduk ditengah-tengah mereka. Bagaimana tidak kaget? Seorang Gadis menghidupi adiknya sendirian, bahkan dia rela tidak makan hanya untuk adiknya. Gadis kecil yang hebat.

“Jadi begitu, Ah ya siapa namamu? “ Tanya lagi Tiffany.”Namaku Park Min Rin. Panggil saja Min Rin!” jawab Min Rin, Gadis kecil itu. “Kalau begitu aku pergi dulu Oppa, Eonnie! Aku tak mau meninggalkan adikku sendirian. Gamshamida telah membeli bungaku. Aku doakaan kalian bisa selalu bersama!! Annyeong!” Min Rin beranjak pergi setelah membungkukkan badannya. Sementara Tiffany tersipu malu mendengar ‘doa’ dari gadis itu. Sehun? Tentu saja dia kaget dan dadanya kembali sesak mendengar itu.

Menjelang sore hari. Berbagai macam wahana permainan yang mereka sudah lewati di Taman bermain itu. Bermain sampai sore hari membuat Tiffany kelelahan. Sebenarnya Sehun juga sudah tidak ingin melanjutkan permainan yang ada ditaman tersebut, tapi karena Tiffany dilanda rasa senang dan memaksanya melanjutkan permainan-permainan sampai akhir. Apa boleh buat? Sehun hanya mengikuti kemauan Tiffany. Dan mungkin Sehun akan dibunuh oleh Luhan karena melanggar pesan pagi tadi.

Mereka sekarang berjalan-jalan ditaman itu, sama seperti apa yang mereka lakukan saat pagi hari tadi. Sehun merangkul pinggang Tiffany dan Tiffany juga melakukan sebaliknya. Sambil memandangi pemandangan langit yang cerah dan sejuk.

Sehun melihat kesebelahnya, melihat Tiffany. Jika dibedakan, Tiffany terlihat lebih pucat dibanding Sehun melihat Tiffany dipagi hari. Wajah pucat itu ditutupi oleh Senyumannya. Senyuman yang paling Sehun sukai. “Sehuna, kau taukan ini hari apa?”

Sehun tertawa kecil. “Aku tau. 26 maret. Tanggal kita pertama kali bertemu.”

“Aku rindu masa-masa kita dulu” Ucap Tiffany sambil mengingat-ingat masa dimana mereka bertemu. Mereka tertawa ketika mereka bertemu. Konyol.”Yah, aku juga.”

Sehun menghadap kearah Tiffany, sambil tersenyum dan merangkul bahu Tiffany ia menatap mata Tiffany dalam. Tiffany saat itu bingung. “Noona Kau… Terlihat cantik.”

Blush! Pipi Tiffany memerah seketika.

Tiba-tiba Sehun menarik tubuh Tiffany dengan pelan namun yakin, menarik Tiffany mendekatinya, menarik Tiffany ke dalam pelukannya.

Tiffany sama sekali tidak menghindar atau menolak. Ia membiarkan Sehun melingkarkan kedua lengannya di sekeliling tubuhnya. Ia membiarkan Sehun memeluknya dengan erat, sekarang ia tahu mengapa Sehun bertingkah seperti ini. Ia tau.

Saat itu, ia berharap waktu bisa berhenti. Dan saat itu, entah mengapa ia ingin sekali menangis didalam pelukan Sehun.

“Sehuna” Ucap Tiffany yang masih ada dipelukan Sehun. Memecahkan keheningan yang sempat terbentuk diantara mereka berdua walau hanya sesaat. Sehun mengelus-elus rambut Tiffany dengan lembut.”Ne noona?”
“Aku sudah tidak bisa menahan rasa sakit yang selalu menghampiriku setiap hari..” “Dan aku tahu penyakit apa yang kuhidap selama ini.” Lanjut Tiffany.

Apa!?

“Noona.. Sudah m-mengetahuinya?” Sehun terlihat gugup saat itu. Dia juga sedikit lega mendengar jika Tiffany sudah mengetahuinya. ‘Tapi… Dari mana Tiffany noona mengetahuinya?
“Ne. Aku tidak sengaja mendengar percakapanmu dengan appa.” Jelas Tiffany. Seakan ia tahu kalau Sehun juga menanyakan bagaimana bisa ia mengetahuinya.”Maafkan aku”

Tiffany menghela nafas dalam pelukan. “Kenapa kau tidak pernah memberitahuku?”

“A-aku takut.”

“Kenapa kau harus takut?”
“Aku takut kau sedih.” Sehun mempererat pelukannya, sama halnya juga dengan Tiffany.

Setelah itu mereka hanya saling diam. Sibuk dalam pikirannya masing-masing.

Mereka sekarang duduk direrumputan. Sehun bersender dipohon sakura dan Tiffany didepannya bersender didada Sehun. Dipeluk tubuh mungil Tiffany sambil memandangi pemandangan langit yang cerah dan sejuk.
Masih dalam keheningan. Sebenarnya, ada banyak hal yang ingin Sehun tanyakan kepada Tiffany. Tapi ia takut untuk bertanya, apalagi Pertanyaan yang dalam pikiran Sehun tidak masuk akal. “Gwenchanayo..” Kata Tiffany memecahkan keheningan diantara mereka. “Jika aku pergi, berjanjilah kau harus bahagia.” Lanjut Tiffany, memandang langit yang perlahan mulai gelap karena mendung.

“Jangan berkata seperti itu. Jeballayo” Lirih Sehun. Sungguh, Sehun benar-benar tidak ingin mendengar itu. Ia membenci semua kata-kata itu. Sangat benci.

“Wae? Memang bukankah aku akan pergi?” Ucap Tiffany.

“Tapi tolong jangan seperti itu. Aku.. Aku… Takut kehilanganmu noona” Sehun tidak bisa menahan pertahanannya. Sebutir air mata jatuh di pipi Sehun. “Tidak selamanya aku bisa didunia ini Sehunna. Selamanya bersamamu… Sebenarnya aku juga tidak menginginkan ini. Tapi.. Ini memang takdir kita Sehunna.”

Sehun tidak menjawab. Ia benar-benar tidak bisa menjawab itu semua meskipun hanya satu kata. Dada Sehun terasa sesak, tenggorokannya tercekat dan pipinya telah dibanjiri oleh air matanya sendiri. Tiba-tiba Sehun merasakan ada suatu tetesan air dikaos. Ya, Tiffany menangis seperti Sehun, menangis dalam diam.

“Saranghae”

‘Karena penyakit mematikan itu… Membuat aku dan dia tidak bisa bersatu selamanya.’

Tiffany Hwang

01-08-1989 – 26-03-2013

Rest in Peace

Sehun menatap nanar batu nisan yang ada didepannya ini. Diusap-usap batu nisan itu Setelah ia meletakkan bunga lily, bunga kesukaan Tiffany di batu nisa tersebut. “Noona, aku sudah bahagia disini. Apakah noona bahagia disana?”Tanya Sehun, yang ia yakini tidak pernah bahkan tidak akan pernah dijawab. Dan tak terasa air mata Sehun jatuh dari kelopak matanya.

Sudah dua tahun kepergian Tiffany. Tapi tidak pernah bisa ia lupakan masa-masa kebersamaan Tiffany.

Sehun sudah bahagia besama Taeyeon, istri Sehun yang juga sahabat dari Tiffany. Dan Taeyeon adalah orang kedua yang membuat Sehun jatuh cinta.

Sebelum pergi, dicium Batu nisan tersebut dan beranjak pergi meninggalkan taman.

 

‘Doa terakhirnya adalah semoga Kim Taeyeon. Adalah orang terakhir yang menemani kehidupannya… Sampai akhir,’

END

8 thoughts on “[Freelance] Spring

  1. tiffany nya kenapa meninggal :(((
    atulag sediiih iiih kenapa harus movon sehunya.padahal biarin weh menyulai fany sampai kapanpun /apa ini
    tapi kereen siiih aku suka

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s