[OS] Only Hope

Untitled-1

Only Hope

Written by Priskila (@priskilaaaa)
Lee Sunkyu [GG] – Kim Jongdae [EXO M]

Romance – Friendship | Teen | Ficlet

Disclaimer:
Saya hanya meminjam penggambaran fisik dari tokoh. Tidak ada maksud melecehkan atau merusak citra tokoh. Mereka adalah milik diri mereka sendiri dan Tuhan. Dan saya hanya berhak atas plot cerita yang saya buat.

Note:
Ini fanfic lama yang pernah kupublish di snsdfanficindo.wp. dengan cast SunSun. Nah, disini perbedaan umur sangat kentara, ok? Chen dituliskan lebih tua dari Sunny xD.

Gadis berambut ombak cokelat itu menatap kertas yang digenggamnya dengan tatapan nanar. Rasanya tenggorokannya telah kering sekarang. Sudah berulang kali dia mencoba untuk menyanyikan lagu yang tertera dengan sebaik mungkin, tetapi berulang kali juga kepalanya dilempari botol mineral plastik karena salah nada.

“Tak bisakah kau menyanyikan lagu itu dengan nada yang pas? Suaramu terlalu flat, Sunkyu!” bentak seorang pria berambut hitam legam pada Sunkyu atau yang lebih sering disebut Sunny itu.

Sunny hanya dapat mendengus tak terima dengan pernyataan lelaki itu. Menurutnya, sebagai seorang sunbae, seorang Kim Jongdae harus mencotohkan yang baik pada junornya. Bukan malah melempar botol mineral kosong ke kepala jika melakukan kesalahan. Dia pikir aku ini tempat sampah apa?!

“Lakukan lagi!” perintah Jongdae dengan wajah menyeramkan. “Dan ingat, harus lebih baik! Atau tidak…” lanjutnya sambil mengayunkan gagang sapu yang entah dia dapatkan dari mana.

Sunny membulatkan kedua matanya terkejut. Ternyata tingkat kesadisan Kim Jongdae sudah meningkat berpuluh – puluh kali lipat. “Kau mau memukulku dengan gagang sapu?! Apa kau reinkarnasi dari Hitler, hah?!!” pekik Sunny kesal.

Alis Jongdae terangkat satu. Menatap Sunny seakan menantang, “Maka dari itu. Mending menyanyi dengan baik atau mendapat pukulan dari reinkarnasi Hitler?”

“Gila” gumam Sunny kemudian menarik nafas dan menghembuskannya kembali.

“Han yeojaga geudaereul saranghamnida. Geu yeojaneun yeolshimhi saranghamnida. Maeil geurimjacheoreom geudaereul ttaradanimyeo….”

Musik mulai mengalun seiring dengan suara merdu milik Sunny yang nyaman didengar oleh telinga. Dengan memejamkan mata, gadis itu mencoba untuk menyatukan perasaannya dengan lirik lagu yang begitu mendalam. Lirik lagu That Woman yang merupakan backsound dari drama Korea terkenal Secret Garden itu memang sangat berarti bagi Sunny.

Secara perlahan, Jongdae pun mulai larut dalam musik yang begitu menyentuh. Kepalanya bergoyang ke kanan dan ke kiri mengikuti irama lagu. Namun secara tiba – tiba, Jongdae mendongak dan melemparkan gagang sapu itu ke kaki Sunny. “Ya!”

“Lagi – lagi salah disitu…” Jongdae menghembuskan nafasnya kasar. “Apa tidak bisa menyanyikan bagian itu dengan baik?! Apa itu terlalu susah bagimu?!” Lelaki itu segera berdiri dari tempatnya dan menghampiri Sunny dengan tatapan sebal.

“Itu….” Sunny mencoba mencari alasan. “Kau sendiri yang memilih lagu ini untuk aku nyanyikan, seharusnya kau mengijinkan aku memilih lagu yang lain kalau kau ingin aku bernyanyi dengan baik!” seru Sunny panjang lebar. Yeah, sebenarnya lagu That Woman itu adalah lagu pilihan Jongdae untuk Sunny nyanyikan saat konser musik tahunan kampus mereka. Dan Sunny sendiri pun sebenarnya telah memiliki pilihan yang menurut Sunny lebih cocok ketimbang lagu pilihan Jongdae itu.

Lagi – lagi Jongdae menghembuskan nafasnya kasar. “Terserah dirimu. Yang pasti, aku tidak mau tau, besok kau sudah harus bisa menyanyikan lagu untuk tampil dengan baik. Ingat, konser tinggal dua hari lagi” ujarnya sambil mengacungkan kedua jarinya.

Sunny mengangguk mengerti. Kemudian, Jongdae segera mengambil tas selempang hitam miliknya dan berlalu dari ruang latihan vocal. Setelah meyakinkan diri bahwa Jongdae telah jauh dari ruangan mereka, Sunny segera mendudukkan dirinya di lantai, memandang pantulan dirinya pada cermin besar yang menempel pada seluruh satu sisi dinding. Setelah itu, gadis berambut cokelat itu segera mengeluarkan secarik kertas yang terlipat dari kantong hoodie yang dikenakannya.

“Bagaimana kalau aku mencoba untuk menyanyikan lagu ini saja sekarang?” tanyanya pada dirinya sendiri. Dia membuka lipatan kertas itu dan membaca lirik dari lagu Mandy Moore yang berjudul Only Hope itu. Lagu yang sama yang juga dinyanyikan Suzy Miss A pada drama Dream High.

“There’s a song that inside of my soul…” Suara nyaring yang khas milik Sunny mulai mengalun lembut. Walau tanpa musik yang mengiring, tetapi suaranya terdengar begitu manis di telinga. Sunny mulai menyanyikan lagu itu dengan penuh penghayatan hingga akhir.

Senyumnya mulai merekah indah kala dengan sangat baik dia dapat menyanyikan lagu itu. Lagu yang paling disukainya selain lagu That Woman itu. Sekali lagi, Sunny mulai menyenandungkan reff dari lagu itu, “So i lay back my head back down. And i lift my hands and pray…”

Lelaki itu terlihat berjalan di antara kegelapan jalan yang mulai menghiasi seluruh sudut kota. Kim Jongdae memasukkan kedua tangannya pada saku celananya dan kemudian menghentikan langkahnya. Kepalanya menengadah ke langit seakan di langit sana ada sesuatu yang menarik. Bintang – bintang yang berkelap – kelip mungkin terlihat sangat indah disana, tapi itu tidak menarik perhatian Jongdae. Pikiran lelaki itu tengah terbang jauh.

“Hufft…” Dia menghembuskan nafasnya pelan – membentuk sebuah kepulan asap kecil karena musim yang dingin. Dia masih merasakan nyanyian indah milik Sunny yang sempat mampir pada telinganya itu.

“Aku tidak tau kalau dia bisa menyanyikan lagu seindah itu” gumam Jongdae pada dirinya sendiri. Tadi sebenarnya dia memang berencana untuk segera pulang karena mengingat esok pagi dia harus menemui Joo songsaenim tepat waktu. Hanya saja karena dia baru menyadari dia lupa mengambil dompetnya di kursi, Jongdae kembali ke ruangan itu. Namun sebelum tangannya mendorong pintu, telinganya terlebih dahulu mendengar Sunny yang tengah menyanyi lembut.

Sangat lembut dan… indah.

Dia merasakan jantungnya yang berdetak kencang kala tatapannya jatuh pada sosok Sunny yang tengah bernyanyi. Mungkinkah… Tidak. Tidak. Mana mungkin dia jatuh cinta pada juniornya yang menurutnya sangat bawel itu?

Tapi suaranya…

Suara Sunny sangat menyentuh perasaan Jongdae. Seakan lagu itu tengah menyihir Jongdae. Padahal lagu itu bercerita tentang harapan.

“Ada apa denganku-” Jongdae mengerang frustasi. Kepalanya terpikir akan Sunny terus menerus. Seakan Sunny kini adalah candu bagi otaknya. Gila, ini gila, menurutnya. Bodoh sekali jika dia menyukai Sunny hanya karena suaranya?

Padahal jelas – jelas tadi saat latihan, Sunny tak dapat bernyanyi dengan baik. Suaranya terlalu flat saat memasuki reffrain. Oleh sebab itu, Sungmin masih tak habis pikir mengapa Joo songsaenim bersikeras agar Sunny melakukan solo saat konser tahunan. Tapi, mungkinkah Joo songsaenim tau kalau suara Sunny begitu indah?

Sunny menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur empuk miliknya. Rasanya badannya remuk semua. Matanya melirik pada jam dinding yang tergantung pada dinding kamarnya. Jam 8 malam. Oh, ini memang sudah terlalu malam untuk masih tetap berada di luar.

Dalam hati gadis itu masih merutuk Jongdae yang terus – merus menerornya agar latihan dan latihan. Apa dia pikir aku terus bersantai! Padahal jelas – jelas waktu liburan kuliahku hanya kugunakan untuk berlatih nyanyi, dasar Hitler!

Beberapa saat kemudian, Sunny segera bangkit dari kasur dan melangkah menuju kamar mandi. Membersihkan diri kemudian kembali melepas lelah di atas tempat tidur besar yang merupakan favoritnya itu. Rasanya nyaman sekali saat kepalanya berpadu pada bantal yang sangat lembut itu. Gadis itu menguap lebar – lebar karena kantuk yang amat sangat. Dalam waktu tipis, dengkuran pelan mulai terdengar.

I got a boy ma jean, i got a boy…
Drrt drrtt
I got a…

“Yak! Siapa sih yang menelpon malam – malam begini?!” ujar Sunny sebal sambil meraba – raba nakas kecil di samping tempat tidurnya. Setelah mendapatkan ponselnya, tanpa melihat siapa nama pemanggil, Sunny segera menempelkan ponsel itu pada

“Yeobseyo?”

I got a boy ma jean, i got a boy cheumkka

Sunny mengernyit kemudian sesaat menyadari kebodohannya sendiri. Gadis itu segera menekan tombol hijau pada layar touchscreen ponselnya.

“Ne?” Suaranya terdengar begitu rendah karena mengantuk.

“Lee Sunkyu!” Mata Sunny segera terbuka lebar ketika menyadari siapa yang menelponnya. Kim Jongdae! Reinkarnasi hitler!

Buat apa dia menelpon malam – malam begini?!

“Kau… Wae?!”

“Yak! Sopanlah sedikit padaku!” ujar Jongdae dari seberang sana. Sedangkan Sunny membalasnya dengan dengusan sebal. “Ingat ya, besok kau harus datang pagi untuk gladi bersih!” lanjutnya kemudian.

Sunny mengangguk malas. Rasanya malas sekali untuk hanya mengatakan iya.

“Kau mendengarku tidak?!” seru Jongdae dengan suara lebih besar, membuat Sunny mendesis kesal. Sok pemerintah!

“Ne ne ne! Aku mendengarmu, tuan Kim Jongdae. Puas?!” Terdengar kekehan kecil milik Jongdae dari seberang sana, membuat lagi – lagi Sunny mengernyit. Apa dia gila? Buat apa dia tertawa? Dia pikir itu lucu?

“Alright. So, i will close it”

“Yeah”

“Bye.”

“Ne”

“Hm, have a nice dream”

“Ne”

“Dreaming about me, ok?”

Kedua mata Sunny yang nyaris tertutup itu kembali terbuka dengan lebar. Apa? Rasanya dirinya tak percaya dengan apa yang dikatakan Jongdae barusan. “W-what… Hey, apa mak- ” Jongdae telah menutup panggilan itu.

Tunggu, apa yang dikatakan Jongdae tadi? Bermimpi tentang dirinya? Hey, apa dia sudah gila?

“Sunny-ah!”

Sontak Sunny segera memalingkan kepalanya menuju sumber suara. Tampak sahabatnya – Kim Taeyeon yang tengah berlari ke arahnya. Tanpa melakukan apapun, Sunny tetap melanjutkan aktivitasnya yaitu merias dirinya sendiri.

“Yak! Sunny-ah!” Gadis berperawakan mungil itu menyenggol sedikit bahu sahabatnya itu. Seakan berharap sahabatnya itu akan menjawab atau bereaksi sesuatu.

“Waeyo?” sahut Sunny akhirnya, walau tatapannya tetap menuju pada pantulan dirinya di cermin.

“Kau sudah mendengar gosip itu?”

“Gosip? Gosip apa?”

“Katanya, Jongdae sunbae akan menembak gadis yang dia sukai di pentas nanti!” Sunny terpaku di tempatnya. Perlahan, kepalanya menoleh pada Taeyeon yang duduk pada kursi di sampingnya. “Jongdae sunbae?” tanyanya seakan tak peduli.

Taeyeon mengangguk dengan antusias, “Aku dengar dari Hyorin sunbae. Kau tau lah, Hyorin sunbae kan dekat dengan Leeteuk sunbae yang notabanenya sahabat Jongdae sunbae. Jadi mungkin saja gosip ini benar” jelas Taeyeon.

Sunny mengangguk mengerti. Namun tetap bersikap cuek – seakan itu bukan masalah yang patut dibesar – besarkan. “Lalu, kenapa?” tanya Sunny lagi.

“Ya! Kau ini. Kau dekat dengan Jongdae sunbae kan?”

Sunny mengangguk pelan, “Tapi hanya sebatas rekan latihan vocal saja, Tae”

“Tapi mungkin saja kan kalau gadis itu dirimu-”

“Apa maksudmu? Itu tidak mungkin”

“Kenapa tidak mungkin? Bukankah Jongdae sunbae termasuk orang yang pendiam dan misterius?” Sunny terkekeh. Seakan pernyataan Taeyeon barusan adalah sebuah candaan. Tunggu, tadi Taeyeon bilang Jongdae orang yang pendiam? Yang benar saja. Kalau saja Taeyeon tau kalau Jongdae sering menurunkan tangan kejam pada Sunny saat latihan. Dia yakin Taeyeon akan segera menarik perkataan itu.

“Diam darimananya?” gumam Sunny yang sepertinya tidak didengar oleh Taeyeon, karena gadis itu segera berdiri dan merapikan poni Sunny yang tampak kurang rapi itu. “Aish, kau ini. Menyisir rambut saja tidak rapi!” seru Taeyeon sambil mengambil sisir di meja rias dan menyisir poni Sunny dengan perlahan.

“APA?!” Sunny membelakakan matanya ketika Jongdae selesai menyelesaikan perkataannya. Gila, ini benar – benar gila. Secara mendadak, Jongdae mengatakan pada Sunny agar melakukan dua kali pentas, karena salah satu teman mereka yang turut berpartisipasi dalam konser itu mendadak tak bisa hadir karena sakit.

“Micheseo?!” pekik Sunny pada lelaki di hadapaannya itu. Kini, dirinya telah siap dengan dress berwarna peach dengan rambut yang digerai begitu saja. Gilirannya untuk tampil hanya tinggal menghitung menit lagi. Namun bukannya membawa perasaan tenang, Sunny malah dibuat naik darah karena perintah mendadak Sungmin.

“Tidak. Aku tidak gila. Lagipula ini adalah perintah dari Joo songsaenim” sahut Jongdae sambil terus berfokus pada kameranya yang besar itu.

Sunny mendengus kesal, “Tapi aku hanya latihan untuk satu lagu, sunbae!”

“Sungguh?” Jongdae secara tiba – tiba menoleh pada Sunny. “Kau bisa menyanyikan lagu kesukaanmu itu, kan?”

“Lagu kesukaan? Maksudmu-”

“Jangan pikir aku tak mendengarmu menyanyikan lagu Mandy Moore itu.”

“Kau… mendengarnya?” Wajah Sunny tampak begitu terkejut. Oh, apa berarti Jongdae saat itu belum pulang? Dia mendengar Sunny menyanyikan lagu itu? Perlahan, semburat merah menyebar di pipi gembul milik Sunny.

Jongdae mengangguk perlahan. “Yeah, aku mendengarnya. Dan kuakui suaramu cukup merdu saat menyanyikan lagu itu.”

“Sungguh?”

Jongdae mengangguk lagi. Anggapan Jongdae membuat Sunny berpikir sejenak. Lalu kemudian gadis itu segera mendongak dan menatap Jongdae penuh kepastian. “Baiklah!”

Senyuman lebar tetap terpatri pada wajah Sunny hingga akhirnya kedua sisi tirai besar itu bersatu seiring menutup sosok Sunny di panggung. Gadis itu segera berlari menuju Taeyeon yang berdiri di samping sisi kanan tirai merah itu, karena tempatnya berdiri akan digunakan untuk menaruh properti penampilan selanjutnya. Tepuk tangan riuh penonton masih terdengar hingga ke belakang panggung, membuat Sunny merasa begitu bangga sekaligus terharu. Rasanya lega sekali sudah menyelesaikan satu tugasnya.

Taeyeon segera menyambut Sunny dan memeluk sahabatnya itu. “Selamat. Suaramu indah sekali tadi. Aku sampai terpana mendengarnya” puji Taeyeon setelah melepaskan pelukan mereka

Sunny tersenyum, “Terima kasih. Aku senang sekali kau berkata begitu”

“Oh ya, kudengar kau akan tampil lagi setelah ini?” Ah perkataan Taeyeon membuat Sunny teringat lagi akan hal itu. Dengan pasrah, Sunny mengangguk mengiyakan pertanyaan temannya itu.

Taeyeon terlihat terkejut, “Bukannya kau hanya latihan untuk satu lagu?!”

Sunny tak menjawab. Melainkan gadis itu hanya mendelik pada Jongdae yang kebetulan juga berdiri di dekat mereka. Melihat itu, membuat Taeyeon mengerti. Gadis yang tingginya tidak jauh beda dari Sunny itu meringis pelan pada Sunny kala dia mendapati Jongdae tengah menatap tajam pada mereka berdua.

“Wae?” bisik Sunny, tak menyadari kalau Jongdae tengah memperhatikan mereka.

“Jongdae sunbae sedang menatap kita!” bisik Taeyeon berusaha agar suaranya tidak terdengar terlalu besar. Sama halnya dengan Taeyeon, Sunny membulatkan kedua matanya. Secara spontan, dia menoleh pada ke arah Jongdae dan terpekik kaget karena tiba – tiba Jongdae telah berada di sampingnya. Tepat di sampingnya.

“Kau!”

JOngdae menatap seakan menantang pada gadis disampingnya. Kemudian menoleh pada Taeyeon, mengisyaratkan agar gadis itu meninggalkan mereka berdua.

Taeyeon mengangguk mengerti, walau dalam hatinya masih sedikit terkejut dan takut pada Jongdae. “Aku permisi dulu ya”

“Ya! Ya! Kau mau kemana?” seru Sunny – tak ingin sahabatnya itu pergi. Dia takut Jongdae membentaknya atau mungkin menurunkan tangan Hitler lagi karena mungkin saja dia berbuat kesalahan saat tampil tadi.

“Aku, ah itu… Seohyun-ah!!!” Taeyeon beralasan kemudian segera pergi berlari menjauhi mereka berdua. Membuat Sunny dalam hati merutuk sahabat terdekatnya itu.

“Kau tidak lupa kan kalau kau masih ada satu tugas lagi?”

Sunny mengangguk seraya lehernya meneguk ludahnya berkali – kali. Entah mengapa berada pada jarak sedekat ini dengan seorang Kim Jongdae, membuatnya merasakan sebuah perasaan aneh. Gugup? Yeah, mungkin.

Blush. Sunny mengutuk dirinya sendiri kini. Entah mengapa dia merasakan pipinya memanas dan artinyaa… Oh tidak!

“Pipimu memerah, Sunkyu” Tiba – tiba Jongdae mendekatkan dirinya pada Sunny.

“A-andwae!” Menyadari hal itu, Sunny segera membalikkan tubuhnya membelakangi Jongdae dan meninggalkan lelaki yang tengah tertawa mengejek dirinya itu.

Sialan kau, Kim Jongdae! Argh, kenapa aku jadi malu begini?! Sunny bodoh!

“Are you ready, Sunny?” Joo songsaenim bertanya pada sosok Sunny yang kini telah berganti baju. Dress peach yang semula dikenakannya diganti dengan outfit seperti seragam sekolah modern. Rambutnya terhias dengan sebuah pita besar bermotif kotak – kotak hijau tua.

Sunny menghembuskan nafasnya perlahan, sambil tangannya memegang erat mic. Dia segera mengangguk, “I’m ready, songsaenim”

Kakinya segera melangkah menuju tengah sebuah bintang besar, dan menaikkan mic sebatas dagunya. Walau tirai dihadapannya masih tertutup dan tampak gelap, musik mulai mengalun lembut. Sunny semakin mempersiapkan dirinya. Bagaimanapun juga dia tidak melakukan latihan untuk lagu ini, walau lagu ini adalah lagu favoritnya.

“There’s a song that insife in my soul. It’s the one that i’ve tried to write over and over again….” Gemuruh tepuk tangan mulai terdengar kala dia mulai menyanyikan bait pertama dari lagu tersebut. Dengan perlahan, tirai dihadapannya membuka menampakkan dirinya yang tampak begitu mengagumkan.

“So i lay my head back down, and i lift my hands and pray. To be only yours i pray, to be only yours, i know now you’re my only hope” Sunny tampak begitu menghayati lagunya. Matanya terpejam mengikuti alunan melodi piano yang mengiringi lagu itu.

“Sing to me the song of stars. Of your galaxy dancing and laughing and laughing again…” Tunggu! Sunny menghentikan nyanyiannya. Namun terdengar suara lain yang juga ikut menyanyikan lagunya. Dari arah penonton terdengar suara itu. Terdengar jelas dan merdu. Dan Sunny yakin, itu adalah suara seorang lelaki.

“Kim Jongdae…” gumamnya tak percaya saat sosok Jongdae perlahan bangkit dari kursi penonton dan naik ke atas panggung. Dirinya lebih tak percaya lagi melihat apa yang dibawa oleh Jongdae.

Sebuket bunga mawar putih.

Gemuruh tepuk tangan terdengar kembali. Bahkan lebih heboh dari sebelumnya. Namun Sunny tak menghiraukan hal itu. Yang dia pedulikan hanya sosok di sampingnya. Jongdae tampak mengembangkan senyumnya kala dirinya telah berada dalam jarak yang cukup dekat dengan Sunny. Sambil tetap menyanyikan bait kedua dari lagu itu, tangannya menyerahkan buket bunga yang dipegangnya pada Sunny.

“I know now you’re my only hope.” Tetap dengan perasaan tak percaya, Sunny secara tak sadar mengambil buket bunga itu dan menghirup aroma harum dari bunga mawar itu. Entah sejak kapan, matanya bahkan telah berkaca – kaca.

Dirinya teringat akan kata – kata Taeyeon tadi, Sungmin sunbae akan menembak gadis yang dia suka di atas pentas nanti. Mungkinkah gadis itu… dirinya?

“I give you my destiny. I’m givin’ you all of me. I want your symphony, singing in all that I am. At the top of lungs. I’m givin’ it back” Sunny kembali bernyanyi. Dengan tatapan yang masih jatuh pada iris hitam milik Jongdae, mereka berdua menyanyikan lagu itu hingga akhir. Tampak begitu romantis dan manis. Bahkan mereka berdua menyanyikan lagu itu sambil bertatapan dan juga tersenyum bahagia.

“…you’re my only hope”

END

12 thoughts on “[OS] Only Hope

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s