[Freelance] Every (Chapter 2)

Untitled-2

Author: Choi Miya aka Choi_Mimi (fb: Mya Ran Mouri)

Length: series

Rating: PG-13

Genre:  AU, romance, little bit comedy

Cast:    EXO-M Xi Luhan

EXO-K Oh Sehun

SNSD Im Yoona

SNSD Seo Joo Hyun

This fanfiction also published in exoffindo, YoongEXO and http://choimimi.wordpress.com/ (my wp account)

There manipulation here. Sehun’s date of birth is 30-05-1990 . So, he is 23 years old. Okay? Remember!

©Choi Miya

Enjoy!

Part 1

 

Leicester Casino Building, Soho, City of Westminster, London, UK

Sehun melangkahkan kakinya ringan keluar dari sebuah gedung casino berlantai lima yang megah di antara jalanan Soho. Sinar senja yang menghiasi langit kala itu makin mengilatkan ujung rambut emasnya. Ia menyembunyikan tangan kirinya ke saku celana sambil bersiul-siul santai ketika menapaki pelataran gedung tersebut. Sementara itu, tangan kanannya sibuk menenteng sebuah koper kecil yang entah apa isinya.

Ia mengernyit kemudian menyeringai ketika mendapati pria bertubuh tambun yang berjalan berlawanan arah dengannya. Sosok itu juga makin mendekati Sehun dengan senyum yang terkembang.

“Hi Brother, did I miss something today?”

“Yeah, you miss a lot…” Sehun tertawa kecil menanggapi pertanyaan pria tambun yang terlihat sangar di hadapannya. Ia mengangkat koper yang sedari di tentengnya-menunjukkan ke pria tambun itu- sambil menunjuk-nunjuknya dengan telunjuk kirinya. Senyumnya makin lebar ketika ia merasa pria tambun itu tahu maksudnya.

“Ah… you’re jerk!”

“Then, you’re king of jerk!”

Mereka tertawa dengan puas kembali. Percakapan yang sekedar untuk menyapa itu berakhir ketika pria tambun tersebut memberi isyarat pada Sehun kalau ia harus segera masuk ke gedung dan Sehun mengiyakannya.

Langkah Sehun kembali berlanjut setelah ia melambaikan tangan-memberi salam pada pria bertubuh tambun tadi-. Tapi tak lama, langkahnya harus dihentikan karena deringan ponsel di saku celananya. Ia merogoh sakunya dan mendadak rautnya tak bersahabat lagi setelah membaca kontak yang menghubunginya.

Ia baru menang judi beberapa momen lalu dan berhasil membawa koper berisi banyak poundsterling di dalamnya. Moodnya jadi bagus karena itu sampai ia mengeja kata yang terpampang di layar ponselnya saat ini.

“Nde…” Ia mengangkat sambungan telepon itu dengan malas.

“Kau dimana?”

“Apa maumu ? Cepat katakan saja, aku sibuk!”

“Kau! Kurang ajar! Kau tahu-…” Sehun tak mempedulikan lagi suara yang keluar dari speaker ponselnya. Ia malah asyik menyapa tiga gadis yang kebetulan berpapasan dengannya.

“See you, ladies…” bisik Sehun menggoda sambil mencium pipi gadis-gadis itu- kebudayaan yang sering dilakukan orang Inggris untuk menyapa-. Gadis-gadis itu merespon dan tersenyum semenggoda mungkin ke arah Sehun sebelum hilang ditelan pintu kaca yang membatasi pintu masuk gedung tersebut.

“Sehun!”

Sehun terkonsentrasi kembali pada sambungan teleponnya. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan mendekatkan kembali telinganya ke speaker ponsel, “Nde?”

“Cari gadis itu Sehun! Kalau tidak-“

“Sudah kubilang, aku tidak mau membantumu!” Sehun tidak suka bertele-tele, apalagi dengan pria yang sekarang bicara dengannya lewat sambungan telepon ini. Seharusnya pria itu sudah cukup bersyukur karena dirinya secara sukarela mengangkat telepon darinya.

“Kalau tidak akan aku blokir semua kartu kreditmu!”

“Terserah!” Ia memutus sambungan telepon itu tanpa mempedulikan kalau-kalau pria yang diseberang sana masih ingin melanjutkan kalimatnya. Ia lalu memereteli ponselnya dan berhasil menemukan kartu SIM yang tersimpan di sana. Pria itu mematahkan kartu SIM tersebut begitu saja dan membuangnya entah kemana. Mood-nya berubah buruk sore ini dan ia tak berniat memberi kesempatan pada pria di seberang sana untuk menghubunginya kembali, bahkan untuk hari-hari selanjutnya.

Sehun menggerutu kesal dan kembali mengantongi ponselnya. Mata hazelnya teralihkan pada jam tangan di tangan kirinya yang jarum-jarumnya telah menunjukkan pukul enam sore. Ia memekik dalam hati dan mengambil langkah seribu menuju motornya yang terparkir di pelataran gedung tersebut.

Tak lama kemudian ia telah melesat bersama motornya. Laki-laki itu melupakan sesuatu dan harus memacu ekstra motornya untuk saat ini, kalau ia tak mau mendengar omelan yang lebih memusingkan lagi hari ini.

***

Orange Coffee Shop, Margaret Street, City of Westminster, London, UK

“Iya Lu… tak usah khawatir-”

“Bagaimana aku tak khawatir kalau kau hilang di kota ini!?”

Gadis itu, Yoona, menggenggam ponselnya yang baru saja di charge tadi dengan tersenyum-senyum sendiri mendengar omelan Luhan di seberang sana melalui sambungan telepon. Mendengar omelan itu serasa mendengar lantunan melodi yang nyaman di telinganya. Ia sama sekali tidak risih dengan apa yang dikatakan laki-laki itu, malah semakin kecanduan. Bukankah berarti Luhan benar-benar menganggap dirinya berarti?

Ia bersyukur karena dapat mendengar omelan ini kembali. Beberapa jam lalu, ketakutan akan tak bisa mendengar omelan ini sempat menghinggapinya, hingga Seohyun mengajaknya masuk ke Orange Coffee Shop yang ternyata milik wanita itu.

Seohyun dengan senang hati menerimanya dan mendengarkan curhatannya bahwa ia sedang ‘hilang’ di kota ini. wanita itu benar-benar baik menurut Yoona, karena tak merasa terganggu dengan kehadirannya di tengah cafenya yang ramai pengunjung.

Sebenarnya ia telah menjelaskan kronologi itu juga pada Luhan lengkap beserta alamat coffe shop ini agar laki-laki itu tak khawatir lagi, tapi kelihatannya Luhan tetap tak bisa tenang. Sedari tadi laki-laki itu tetap berbicara terus tanpa Yoona sempat menjawabnya dengan jelas.

“Yoong, dengar-”

“Iya, Lu… aku bilang aku tak apa-apa. Sekarang kau tenang. Aku benar tak apa-apa.” Yoona masih tersipu-sipu sambil mengaduk-ngaduk secangkir kopi pemberian Seohyun. Uapnya mengepul di depan wajah Yoona, memaksa ia untuk akhirnya menyeruput sedikit minuman tersebut.

“Yoong…”

“Lu…”

Kata itu meluncur secara bersamaan. Yoona tak bermaksud menunggu sebentar karena bisa-bisa laki-laki itu mengomel kembali untuk kesekian kalinya. Benar, omelan Luhan sangat merdu, tapi membiarkan laki-laki itu terus khawatir juga tidak baik untuknya.

“Lu, aku tak apa-apa. Tak usah cepat-cepat menjemputku di sini, aku tahu kau masih lelah kan mencariku? Aku aman di sini bersama Seohyun. Dia benar-benar baik, Lu. Aku tak akan apa-apa bersamanya. dan aku minta maaf telah membuatmu khawatir. Aku…”

Gadis itu mengeratkan genggamannya pada pegangan cangkir kopi. Mata yang kelihatannya sibuk mengamati secangkir kopi tersebut sebenarnya tak terkonsentrasi di sana. Itu hanya sebuah pengalihan dari rasa gugupnya untuk melanjutkan kalimat berikutnya.

“Hmm, kalau kau katakan kau takut kehilanganku, sebenarnya aku lebih takut kehilanganmu, aku lebih merasakan kekhawatiran itu. Kau tahu, aku tadi hampir menangis karena ketakutanku itu. Bukan karena nasibku yang ‘hilang’ ini, tapi lebih dari itu. Aku lebih takut kalau pada akhirnya aku tak bisa mendengar omelanmu seperti ini. Tapi… sekarang aku aman, Lu. Benar-benar tak ada yang perlu kau khawatirkan.”

Yoona merasakan kalau wajahnya seperti memanas sekarang. Entah, mungkin sudah merah seperti kepiting rebus. Pada akhirnya ia juga mengatakan unek-uneknya tadi untuk menenangkan laki-laki di seberang sana. Tapi ia berani jamin, itu memang perasaannya yang sebenarnya, tanpa ada maksud untuk melebih-lebihkan.

Tak ada suara yang Yoona dengar dari seberang sana setelahnya. Ia tahu kalau Luhan pasti masih tercengang di sana, mungkin laki-laki itu jadi bertanya-tanya apakah ini Yoona yang ia kenal? Well, ia akui, ia bukan gadis romantis, sangat jarang ia mengeluarkan kata-kata ajaib seperti itu. Atau bahkan kata sihir tingkat dewa seperti ‘aku mencintaimu’, gadis itu lebih memilih menunjukkannya dengan tindakan, tidak dengan kata-kata yang mungkin hanya akan meninggalkan udara kosong setelahnya.

Terdengar kekehan dari Luhan lewat speaker ponselnya. “Yoong, kau benar-benar manis kalau seperti itu…”

“Terus saja mentertawakanku! Lihat saja nanti!” Yoona telah kembali ke wujud aslinya. Gadis itu tak tahan dengan godaan dan tawa puas dari Luhan.

“Kau jarang seperti itu, kau tahu?”

Ia mengedarkan pandangannya ke jendela kaca coffee shop tersebut, ia duduk agak jauh dari jendela itu atau lebih tepatnya ia duduk dekat counter coffee shop. Jendela kaca itu amat besar dengan pinggirannya dilengkapi kayu bercat putih. Mungkin sengaja dibuat seperti itu agar pengunjung bisa melihat jalanan luar dengan leluasa .Yoona menajamkan matanya mengamati Seohyun yang  kelihatannya sedang bercakap-cakap dengan teman laki-lakinya di luar sana, tentu terkonsentrasi juga dengan suara Luhan yang terus mengejeknya.

Ia tersenyum melihat gesture Seohyun dan temannya itu, mereka sangat lucu. Seohyun kelihatan sebal dan terkadang menendang kaki laki-laki itu. Dan anehnya, laki-laki itu sama sekali tak marah dan malah terlihat ketakutan. Yah, walau matanya juga tak mampu memandang jelas raut laki-laki itu.

“Kalau begitu, aku yakin kalau kau benar-benar tak apa-apa. Tunggu aku sebentar lagi disitu, arra?”

“Apa? Kubilang kau harus istirahat dulu! Bukankah katamu kau sudah menemukan apartementnya? Lu-”

Plip! Tut tut tut…

“Lu… Luhan!? Ah, jinjja!” Luhan mematikan sambungan suara itu seenaknya dan berhasil membuat Yoona menggerutu sebal. Laki-laki itu memang senang seenaknya sendiri di waktu  seperti ini dan sayangnya kata-kata ajaib yang telah susah payah dikeluarkannya tadi juga tak mempan.

Ia mendengus malas dan menoleh ke luar kembali. Pandangannya bertemu pada teman laki-laki Seohyun tadi. Laki-laki yang telah menggunakan helm itu membungkukan sedikit badannya, mungkin bermaksud menyapa Yoona. Yoona tersenyum kikuk membalasnya. Pikirannya seperti ingat sesuatu melihat laki-laki itu. Apa…dia pernah bertemu dengannya?

***

Seohyun meremas rambut Sehun di depan coffe shopnya, tak peduli akan orang-orang yang lewat saat ini. Wajah wanita itu terlihat mengerikan di mata Sehun lengkap dengan dirinya yang sekarang merintih-rintih kesakitan.

“Akh.. adaww! Ampun-ampun!”

“Kau tahu kan ini jam berapa?! Gara-gara kau aku harus menyewa jasa pengantar untuk pesanan kue-kue itu, bodoh!”

Sehun makin kesakitan karena wanita itu malah menarik sana-sini rambutnya, padahal ia telah merengek seperti bayi agar dilepaskan. “Iya, maaf-maaf… A-ampun! Sakit, Hyunnie!”

Seohyun yang masih sebal akhirnya melepaskan remasannya dari rambut Sehun. Tapi tanpa disangka laki-laki itu, kakinya sengaja menendang lempengan betis Sehun, membuat ia tertawa puas ketika Sehun sekali lagi memekik kesakitan.

“Kau ke Soho lagi!?”

“Ti-…eh, i-iya…” Sehun terpaksa jujur menyadari tatapan-ingin-memangsa dari wanita di depannya itu. Ia lebih baik jujur daripada harus rela botak akibat rambutnya habis dijambak wanita ini.

“Kau!” Untuk kedua kalinya, Seohyun menendang betis Sehun dan membuat laki-laki itu memekik kembali. Sehun mengumpat dalam hati, sebenarnya wanita ini apa sih? Ia jujur salah? Bohong pun juga salah? Bisa mati muda kalau terus berhadapan dengan wanita ini.

“Tapi aku menang- Huwaa!! Ampuunnn!” Sehun meringis karena Seohyun berganti menjewer telinganya, “Ampunn! Aku janji tak ke sana lagi! Auuu, lepaaskan telingaku! Bisa putus!”

“Kalau tak ingin telingamu putus cepat ambil stok biji kopi di rumah Paman William, sekarang!”

“I-iya.. iya… eh, itu-itu,” Sehun yang masih dijewer oleh Seohyun menoleh ke arah coffee shop, pandangannya menemukan sesosok gadis yang sedang bertelpon di dalamnya. Coffe shop sedang sepi, hanya segelintir orang yang ada di sana tapi gadis berjaket kuning itu menarik perhatiannya. Tunggu, jaket kuning? Kelihatannya ia pernah melihat jaket itu? Tapi dimana?

Seohyun mengendorkan jewerannya, mengikuti arah mata Sehun yang masih melongo mengamati sosok di dalam coffe shop. Dan dia berhasil menemukan apa yang Sehun lihat. Ah, Seohyun tahu apa yang diinginkan playboy seperti Sehun ini, incaran selanjutnya, gadis cantik bernama Yoona. “Namanya Im Yoona, dia tadi tersesat saat hujan deras, jadi aku membawanya masuk ke coffee shop. Tak ada kesempatan untukmu, dia sudah punya pacar,”

“Si-siapa yang ingin jadi pacarnya? Auu, sakit!”

Seohyun mendekatkan wajahnya ke telinga Sehun, berbisik penuh ancaman di telinganya, “Memangnya aku tak tahu orang seperti apa kau itu?”

Sehun tak mendengarkan ucapan Seohyun, pikirannya lebih asyik memfigurkan wanita itu. Jaket kuning, rambut dikuncir satu… dan… lebam di pipi Sehun? Sehun ingat! Bukankah itu gadis yang dia copet tadi siang? Dan sekarang, kenapa gadis itu bisa ada di sini?

Sehun mengumpat-ngumpat dalam hati. Jika ia di sini, berarti kemungkinannya jika nasib Sehun sedang buruk, gadis itu akan melihatnya. Kemudian gadis itu akan mengenalinya sebagai pencopet, meneriaki dan memukulinya seperti orang gila, hingga akhirnya Sehun harus dilarikan ke rumah sakit karena tulangnya yang patah atau mukanya yang lebam-lebam terkena amukan macan wanita yang sedang PMS itu. Kalau tidak, ia akan diborgol, menuju ke kantor polisi dan menjalani hukuman pelayanan masyarakat karena ia sudah yakin tak akan di penjara untuk kali ini. Seohyun tak akan sekejam itu membiarkannya masuk ke dalam jeruji besi macam itu. Atau kemungkinan terburuknya lagi adalah ia dilemparkan ke kedalaman dua meter dari permukaan tanah dan diatasnya disematkan tulisan “R.I.P Oh Sehun”.

Sehun memutar badannya, berbalik dan menunduk. Ia menelan ludahnya lamat-lamat dan melantukan lafal “ Semoga Tuhan memberkatiku” berkali-kali.

Seohyun tertegun melihat hal itu, tak tahu apa yang sedang laki-laki tersebut perbuat. Atau, bahkan ia juga tak mau tahu karena lebih penting stock biji kopi-nya yang harus diantarkan laki-laki ini sebelum coffee shop tutup. “Oh Sehun! Kenapa kau?! Cepat ambil stock-nya di Paman William!”

“Ah, iya, baik-baik… aku tidak apa-apa,” Ia melirik sedikit dan sialnya gadis itu bertemu pandang dengannya. Sehun cepat-cepat menoleh dan sekali lagi merutuk karena hari ini mungkin benar-benar sial baginya.

Belum. Belum terjadi karena mata liarnya tiba-tiba menemukan benda bagus yang mungkin dapat menyelamatkannya. Ia bergegas mengambil helm yang bertengger di motornya, memakai dengan asal di kepalanya dan berbalik menghadap gadis itu. Ah, siapa namanya tadi? Dia lupa dan apa perlunya ia menghafalkan nama korban copetnya itu. Ia sedikit membungkuk, memberi salam pada gadis tersebut dan hampir terjerembap karena Seohyun tiba-tiba menendang pantatnya.

“Tidak sopan! Memberi salam dengan memakai helm!”

“Apasih! Bukannya aku disuruh buru-buru?”

“Eits! Tidak kena!” Sehun menjulurkan lidahnya pada Seohyun karena berhasil menangkap tangan gadis itu sebelum melakukan serangan kembali padanya.

“Sampai jumpa, Hyunnie!” Sehun mengacak pelan rambut Seohyun dan meninggalkan ia dengan terburu-buru -karena setengahnya juga ingin segera kabur-. Membiarkan Seohyun membeku karena perlakuannya.

“Dasar, Sehun bodoh!” rutuk Seohyun dalam hati sambil meraba bekas usapan Sehun. Panas tangan laki-laki itu masih tertinggal di sana.

***

Klinting!

Lonceng yang berada tepat di atas pintu Orang Coffee Shop berbunyi, menandakan kalau seseorang telah masuk dalam coffe shop tersebut. Luhan melongok ke kanan kiri dan mendapati Yoona berjalan ke arahnya. Luhan memeluk tubuh itu dengan erat, menelusupkan wajahnya ke dalam ceruk leher Yoona.

“Aku merindukanmu…” bisikan Luhan menerpa gendang telinga Yoona. “Jangan menghilang seperti ini lagi. Bisa-bisa aku kena serangan jantung…”

“Jangan mulai lagi!” Yoona memukul pelan dada Luhan, meminta laki-laki itu untuk melepaskannya. Memang tidak ada pengunjung di coffe shop ini, mungkin karena akan segera tutup. Tapi ini ditempat umum, bagaimana kalau Seohyun melihatnya? Ia masih punya urat malu.

“Kau tak apa-apa…?” Luhan menatap wajah Yoona tanpa melepaskan pelukannya, tangan kanannya sedikit bermain-main dengan mengelus kening gadis itu.

“Ehmmm…” Yoona mengangguk tapi tak melihat wajah Luhan. Ia memilih bermain dengan kancing kemeja Luhan, menyembunyikan wajahnya yang memerah.

“Ekhmm-ekhmm… uhukk! Maaf, aku tiba-tiba tersedak, hehe…” Suara deheman Seohyun kontan melepaskan kontak Yoona dari Luhan. Yoona tersenyum kikuk dan kelihatan salah tingkah. Sebaliknya, Luhan bertingkah seolah memang tak terjadi apa-apa.

“Ah, kau? Seohyun-ssi? Yang menolong Yoong?” simpul Luhan ketika melihat Seohyun.

“Ah, ya aku Seohyun…” Seohyun mendekati kedua insan itu setelah meletakkan cangkir kopinya di meja.

“Annyeong. Namaku Xi Luhan… Ah, terimakasih telah menolong Yoong,” Luhan kontan membungkukan badannya menghadap Seohyun.

Seohyun balas membungkuk dan mengiyakan terimakasih Luhan dengan pandangan yang mengatakan ‘tidak masalah, sama-sama’. Ia mengamati sebentar laki-laki yang diceritakan Yoona beberapa momen lalu. “Xi Luhan? Namamu…?”

“Ya, aku bukan orang Korea. Tapi sejak sekolah menengah aku tinggal di sana.” jawab Luhan jujur menanggapi gelagat penasaran Seohyun.

“O, Yoona-ssi, bisa ajak Luhan-ssi duduk saja. Ku buatkan kopi ya? Ah, aku juga masih punya banyak kue. Tunggu sebentar…” Tanpa menunggu jawaban dari Yoona, Seohyun telah hilang dibalik patisserie cabinet-nya. Ia terlihat sibuk mengeluarkan beberapa kue lalu berkarya dengan biji kopi dan berbagai alat pembuat kopi lainnya. Yoona dan Luhan akhirnya duduk, asyik berbincang-bincang sendiri sambil menunggu kedatangan Seohyun.

“Ah, kau tahu Yoong, ternyata apartement kita tak jauh dari sini. Mungkin hanya sekitar satu kilometer,” Luhan mulai menceritakan apartement mereka yang berhasil Luhan temukan siang tadi.

“Jeongmal?”

“Jeongmalyo Luhan-ssi? Apartement-ku juga tak jauh dari sini?” kepala Seohyun menyembul dari balik counter. Gadis itu terlihat telah selesai dengan kopinya dan bergegas meletakkan cangkir-cangkir kopi di atas nampan.

“Ya, benar. Apartement kami di Eastcastle Street. Emm, kalau tak salah nama gedungnya Harrington Building.

“A-aku juga di sana? nomer berapa?” Seohyun cepat-cepat menghampiri mereka dengan nampan berisi dua cangkir kopi serta beberapa kue coklat, lengkap dengan wajahnya yang penasaran.

“dua puluh tujuh?”

“Jeongmalyo? Ke-kebetulan sekali… berarti kita tetangga? Aku nomer dua puluh delapan… ah, aku juga tinggal dengan temanku, namanya Oh Sehun.” Seohyun tersenyum setengah tercengang dengan kebetulan tersebut. Setelah menyajikan hidangannya untuk Luhan dan Yoona ia bergegas duduk setelah sebelumnya mengambil secangkir kopinya yang telah ditinggalkannya tadi.

Yoona tak kalah histeris dan tersenyum gembira, “Jeongmal! Hah, kita tetangga!”

Seohyun mengiyakannya dengan riang sambil menyeruput kopinya,“Kau tadi melihatnya kan Yoona-ssi? Yang tadi memberi salam padamu dengan memakai helm itu? Ehmm, maaf, dia memang agak tidak sopan…”

Pikiran Yoona kembali akan laki-laki tadi, laki-laki berjaket hitam teman Seohyun. Laki-laki yang tak bisa Yoona lihat dengan jelas wajahnya karena terhalang oleh kaca penutup helm. Namanya Oh Sehun, ya? Ia semakin yakin pernah melihatnya, tapi dimana?

***

Oh Sehun sampai di depan Orange Coffe Shop, ia masih sibuk menurunkan karung-karung berisi biji kopi dan pekerjaan itu terhenti semenjak bola matanya menangkap sosok gadis berjaket kuning tadi. Kenapa dia masih disitu saja? dan kenapa Seohyun malah enak-enakan berbicara dengannya. Sial!

Sehun memutar otaknya. Ia harus memasukkan biji kopi ini apapun yang terjadi, kalau tak ingin Seohyun menjambak rambutnya lagi. Ah! Dia tiba-tiba tersenyum sendiri ketika sebuah ide terbesit di otaknya.Oh Sehun, kau memang pintar!

Ia bergegas menurunkan karun-karung itu buru-buru, mengangkatnya dan berbelok ke arah kiri -bermaksud mengangkutnya lewat pintu belakang coffe shop- dan menyembunyikan dirinya dibalik karung-karung yang diangkutnya itu.

Tapi sebelum Sehun sukses berjalan ke arah kiri, tiba-tiba Seohyun mengetuk-ngetuk jendela depan coffe shop, memintanya untuk mendekat. Sehun dengan takut-takut menurutinya, sambil tetap mengawasi jangan sampai gadis berjaket kuning itu melihatnya.

Oh Sehun melihat Seohyun malah sibuk mengetik sesuatu di ponselnya

Jangan lewat belakang, pintunya sudah kututup tadi. Lewat depan saja…

Seohyun menunjukkan tulisan di ponselnya dengan wajah tidak bersalah. Aduh! Kenapa sesial ini!. Ia mondar-mandir, ragu dan bingung harus melakukan apa sampai tangan Seohyun mengepal ke arahnya. Ya, walaupun dibatasi oleh jendela kaca, wajah wanita itu sudah seperti macan kelaparan yang siap menerkamnya jika tak menuruti perintahnya.

Sehun menatap Seohyun dari balik karung-karung kopi dengan pandangan ya-baiklah-Nona. Ia berjalan hati-hati, mengusahakan agar karung itu bisa menyelamatkan hidupnya kali ini. ia tak ingin dilempar ke kedalaman dua meter dari permukaan tanah malam ini, ia belum menikah dan masih ingin menikmati dunia yang indah ini.

Ia masuk dengan hati-hati dan menyumpahi bunyi lonceng sialan yang membuat gadis berjaket kuning itu sedikit menoleh ke arahnya. Kelihatannya sejauh ini, rencananya berhasil. Gadis itu tak bisa melihat wajahnya dibalik karung kopi yang sedang ia bawa.

Tapi, sedetik kemudian, Sehun merasa dilemparkan dari gedung pencakar langit dan mati mengenaskan setelahnya. Kakinya yang panjang nan bagus itu tak sengaja bertabrakan dengan kaki meja, membuat badannya limbung dan menjatuhkan dirinya serta karung kopi yang ia bawa. Karung itu memuntahkan ribuan biji kopi dan membuat tiga pasang mata terarah kepadanya.

Mata Seohyun. Mata laki-laki yang ia tak peduli siapa namanya. Dan… mata gadis berjaket kuning itu.

“Hai…”

Ia meneguk ludahnya dan nyengir tak bersalah saat ia bisa melihat dengan jelas gadis berjaket kuning itu, lengkap dengan kilat-kilat matanya seperti macan wanita PMS yang siap menerkam dirinya.

“Neo!!!”

-TBC-

Note:

-Soho: Distrik di City of Westminster yang merupakan pusat hiburan malam. (Cr: Google and other sources)

-Nama gedung di sini, semuanya hanyalah fiktif belaka.

Hai readers! Maaf kalau chap ini molor rilisnya, ini akibat saya yang lagi ga mood, ditambah minggu kemarin juga sakit plus banyak acara /ditendang/sok sibuk banget-.-

Okay, kayaknya masih panjang ya ceritanya? Moga readers engga bosen deh , ehehe. Ingat, sedusah membaca, mohon komentarnya!, ah ya, kalau engga ada halangan, seminggu abis puasa udah jadi kok chap 3 nya. Semakin banyak komen dari readers, semakin semangat juga loh saya ngerjainnya /modus/eh, beneran ini-.-, keke~/

Okay, pai-pai!

11 thoughts on “[Freelance] Every (Chapter 2)

  1. ini kan yg di post di yoong exo
    aihh… suka luyoon moment nya deh
    mesk sbnrnyai aq lebih suka yoonhun sih –”
    /slap/
    seohun kocak
    next part!!

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s