[Freelance] In Your Eyes (Chapter 3 – I Know I Love You)

Title : In Your Eyes

in your eyes 2

Author : Park Minhwa (@putrii_tasha) & Mickeymo125 (@yrkim19)

Main Cast :

Im Yoona || Park Chanyeol

Sub Cast :

Kim Jongin || Kim Youngran (OC) || Park Minhwa (OC)

Genre : Romance

Rating : PG-13

Length : Chaptered

Disclaimer : Cerita ini hanya sebuah fiksi belaka. Apabila terdapat kesamaan alur/plot itu sebuah ketidak sengajaan. Cast milik Tuhan dan mereka sendiri.

Don’t be Plagiator & Silent Reader!!!

 

Annyeong, kami kembali dengan In Your Eyes, dan juga poster baru🙂 maaf jika post nya terlalu lama ._.

Thanks buat semua yang udah respon ff ini. Dan ternyata banyak yang suka ini couple.

Tetap tunggu kelanjutannya yaa, akan kami selesaikan secepat mungkin. Happy reading. RCL yaa RCL!🙂

 

Posted in :

mickeymo125.wordpress.com

pinkypark88.wordpress.com

exoshidaefanfic.wordpress.com

readfanfiction.wordpress.com

= Chapter 3 “I Know I Love You”  =

Yang aku tahu aku menyukainya. Dan aku benar- benar sudah tidak peduli pada apapun selain itu. Mungkin memang terdengar Melodramatis. Tapi aku benar-benar tidak peduli. Seperti sebuah untaian kata, aku hanya akan melepaskannya jika dia melepaskanku terlebih dahulu.

– Park Chanyeol –

***

Chanyeol POV

Aku kesal! Kesal sekali. Baru saja adikku yang paling menyebalkan sedunia mengucapkan hal-hal yang membuatku malu. Bagaimana bisa dia seperti itu? Apa dia ingin aku menendangnya keluar dari bis sekarang juga? Ah sudahlah! Yang jelas aku benar-benar kesal setengah mati. Dan demi tuhan, setelah ini aku tidak tahu apakah aku bisa kembali berbicara pada Yoona atau tidak. Bagaimana bila dia tahu aku menyukainya? Ah ini semua karena Park Minhwa!

Aku melirik kearah Park Minhwa. Dia sedang terdiam sembari menunduk. Baguslah, mungkin dengan aku memarahinya habis-habisan seperti tadi dia bisa sadar dan tidak berbicara sesukanya lagi. Aku berdehem. Berusaha mengalihkan perhatian Minhwa yang untuk pertama kalinya berhenti mengoceh. Tapi dia tidak menoleh, ayolah .. Apa mungkin kata-kata yang aku ucapkan tadi terlalu kasar?

– “Bodoh! Kau pikir apa yang kau lakukan Minhwa? kau ingin membuatku malu? Jaga mulutmu! Tidakkah kau sadar apa yang telah kau katakan tadi? Kau ini benar-benar menyebalkan. Jika aku punya satu permintaan aku akan meminta kau tidak pernah dilahirkan Park Minhwa! Kau tahu kau itu misteri! Menyebalkan sekali!” –

Astaga! Yang aku katakan tadi sepertinya memang benar-benar kelewatan. Bagaimanapun menyebalkannya dia, Minhwa tetap  juga adikku. Dan bagaimana bisa aku mengatakan hal sejahat itu padanya? Ah kau bodoh Park Chanyeol!. Minhwa sepertinya menangis sekarang. Ini membuatku panik bukan main. Apa yang akan dipikirkan orang-orang tentang diriku? Mereka mungkin akan memarahiku karena aku tidak bisa menjaga adikku sendiri.

“Minhwa-ya…” Ucapku sembari menepuk pundaknya yang sedikit bergetar. Ah, dia benar- benar menangis. “Minhwa-ya ..” Kali ini aku mulai menggoyangkan pundaknya dengan sedikit keras. Dia mengangkat wajahnya lalu menatapku tajam. Demi apapun, dia benar menangis.

“Tutup mulutmu! Bukankah kau yang memintaku diam! Dan jangan sentuh aku!.” Minhwa berteriak dengan suara yang sedikit keras. Tanganku yang menempel di pundaknya baru saja dia tepis dengan keras. Astaga, dia benar- benar marah. Dan sekarang apa? Semua orang lagi-lagi menatap kearah kami.

 

***

 

Yoona POV

“Tutup mulutmu! Bukankah kau yang memintaku diam! Dan jangan sentuh aku!.”

Aku menoleh lagi kearah kursi yang diduduki mereka untuk kesekian kalinya. Ya tuhan, ada apa lagi sekarang? Apa ini semua karena aku? Dan baru saja Minhwa berteriak kesal. Apa mereka bertengkar? Ini tidak benar! Di sampingku, Kim Jongin terus menggerutu kesal karena suasana di dalam bis mulai tidak nyaman. Bagaimana tidak? Sesekali beberapa orang menatap kearah kami dengan aneh. Ah, hari ini benar-benar sangat melelahkan.

Kami sudah tiba di halte berikutnya. Butuh waktu sekitar lima belas menit lagi untuk tiba di halte dekat Hanyoung High School. Beberapa penumpang turun di halteu ini, membuat udara yang ada tidak sesesak sebelumnya. Tapi lagi-lagi mataku menangkap pergerakan Minhwa yang juga sepertinya akan turun disini. Kulihat juga Chanyeol ikut berdiri menyusul Minhwa. Dan sekarang apa? Kakiku gatal ingin turun juga. Sungguh, aku benar- benar ingin tahu keadaan mereka berdua. Apa mereka bertengkar karena aku? Jika iya, bukankah itu juga akan menjadi urusanku? Jadi dengan sedikit ragu, aku berdiri lalu melangkah kearah pintu bis. Nyaris! Nyaris sekali aku melupakan Kim Jong In. “Aku ada urusan sebentar, kau pergi duluan saja.” Ucapku seraya berlalu kearah pintu bis. Dapat kudengar samar-samar suara Jongin yang memanggilku, tapi dengan sengaja aku tidak menghiraukan semua itu.

 

Apa yang aku lakukan? Sekarang aku hanya berdiri membeku di pinggir jalan seperti ini. Tidak jauh dariku, Park Chanyeol dan Park Minhwa menatapku heran. Aku sempat melihat mata Minhwa yang sembab, sepertinya dia baru saja menangis.

“Yang ku tahu Hanyoung ada di dekat halteu berikutnya eonni.” Minhwa berujar pelan. Dengan sedikit malu aku melangkah mendekati mereka berdua. Park Chanyeol, dia kenapa? Dia bahkan tidak menatapku sama sekali. Hanya memandang tanah seakan ada konser semut disana.

“A-aku.. aku hanya ingin me-meluruskan saja..” Ah, apa ini? Mengapa aku tidak bisa terlihat santai? Bahkan sepertinya sekarang mereka tahu aku sedang gugup.

Chanyeol mengangkat dagunya. Matanya menatapku sekilas, tidak lama setelah itu sebuah senyuman kecil terlukis di bibirnya. Dan apa ini? Mengapa aku merasa sangat lega?

“Memangnya apa yang ingin kau luruskan?.” Tanyanya pelan. Ah benar, memangnya apa yang sudah kubuat kusut sehingga aku harus meluruskannya lagi?

“Aku mengerti eonni, jika yang ingin kau bicarakan adalah tentang kejadian tadi sebaiknya kau tanyakan langsung pada kakaku. Dan aku minta maaf karena tadi sudah membuat keributan. Dan sepertinya banyak sekali yang ingin kakakku jelaskan padamu karena perbuatanku tadi. Aku benar-benar minta maaf.” Minhwa menjelaskan dengan jelas. Detik selanjutnya, tubuhnya membungkuk membuat lengkungan nyaris sembilan puluh derajat dan berlari menjauhi kami. Aku dan Chanyeol mengekori punggungnya yang kian menjauh. Ah, aku mengerti.. sepertinya ada yang salah disini. Dengan sedikit malu lagi, aku menatap Chanyeol yang juga menatapku. Tangannya memijat tengkuknya yang mungkin terasa nyeri. Karena gugup, aku berjalan sedikit untuk duduk di kursi halteu. Dan hebatnya, dia mengikutiku.

“Tentang itu..”

“Apa yang kau katakan pada Minhwa?.” Aku memotong ucapannya segera.

“A-aku hanya…”

“Kau tidak bisa berbuat seenaknya pada adikmu. Tidakkah kau lihat tadi matanya sembab? Dan jam berapa ini? Ini bahkan masih pagi, apa yang akan dikatakan teman-temannya jika melihat matanya sembab seperti itu?.”

Chanyeol tertunduk lemah disampingku. Sepertinya dia baru saja melakukan hal yang salah pada Minwha. “Mengenai kejadian tadi, tenang saja.. Aku sama sekali tidak akan mengingatnya. Akan aku anggap lelucon atau semacamnya. Tapi adikmu..”

“Yoona-sshi?.” Chanyeol menghentikkan ucapanku. Aku mengangkat kepalaku hingga menatapnya.

“Ya?.”

Chanyeol balas menatapku. “Mm, bisakah kau membantuku?.”

 

***

 

Aku duduk dikursi koridor sekolah. Kedua sahabatku duduk mengapitku. Kami hanya memandang kosong siswa-siswi yang berlalu lalang melewati kami.

Tidak seperti biasanya, hari ini sekolah kami sangat ramai. Kenapa tidak? Setiap perwakilan dari berbagai sekolah di Seoul datang kemari untuk menghadiri ajang dance battle yang diadakan setiap setahun sekali. Dan tahun ini, acaranya terselenggara disekolahku.

 

Berbeda dengan murid lain, aku dan kedua sahabatku ini lebih memilih duduk santai daripada berdandan lalu selanjutnya menggoda para murid tampan dari sekolah lain seperti yang dilakukan gadis-gadis dengan make-up tebal dan tubuh S-Line disana.

“Kenapa ramai sekali?.” Salah satu dari sahabatku –Yuri –  mengeluh disampingku. Gadis cantik itu  menutup buku tebal yang tadi dibacanya. Sepertinya  dia tidak dapat fokus membaca.

 

“Ah, aku tidak suka keramaian.” Tambah Sooyoung  ikut mengeluh. Ia menyandarkan tubuhnya ke dinding, yang secara otomatis diikuti aku dan Yuri.

 

“Hari ini ada kelas musik, dan aku harus melewatkannya hanya karena kompetisi ini?.” Yuri berdecak sebal. Matanya yang tajam terlihat sedikit berkilat marah. Aku hanya mengangguk setuju. Yuri benar, kami akan melewatkan kelas musik, kelas favorit kami.

 

“Lihat, itu murid dari Daeyoung kan?.” Sooyoung menyikut pinggangku dengan sikunya yang tajam. Kepalanya mengarah pada sekumpulan gadis cantik dengan beberapa pria di belakangnya, mereka baru saja menginjakkan kakinya di area Hanyoung.

 

Yuri mengangguk sembari memperhatikan kerumunan siswa yang dimaksudkan oleh Sooyoung. “Ya, dan katanya gadis yang berjalan ditengah itu adalah Jung Sooyeon, flower girl di Daeyoung.” Aku menautkan alis ku tertarik. Aku bahkan baru pertama kali mendengar nama –Jung Sooyeon-. Apa dia begitu terkenal?

 

“Yaa, dia sangat populer.” Sooyoung kembali menyahut. Ia seolah tahu apa yang aku pikirkan. Rambutnya yang tergerai kini mulai sedikit berantakan karena pergerakan kepalanya yang selalu tiba- tiba.

 

“Itu! Bukankah dia sepupumu Yoona-ya?.” Yuri kembali bersuara dengan suara khasnya. Aku mengikuti arah pandangnya menuju sekelompok pria dengan blazer dark blue di salah satu koridor sekolah ini.

 

Sooyoung menghela nafas panjang . “Yuri-ya, mereka sudah ada disini sejak tadi.” Gadis itu menyela ucapan Yuri dengan malas. Kendati seperti itu, Sooyoung tidak bisa menyembunyikan secercah rasa antusias dalam gerak-geriknya saat memperhatikan sekawanan pria itu.

 

Lagi,  Aku mengangguk mengiyakan. Jongin dan teman-temannya dari Seungri HighSchool memang sudah berdiri disana sedari tadi, apakah Yuri baru melihatnya? Bahkan Jongin lebih dulu sampai disini dari pada aku.

 

“Aaah benarkah? Aku baru melihatnya sekarang.” Ucap Yuri sembari mengusap tengkuknya yang tak gatal. Yuri memang sangat suka membaca, dan mungkin itulah salah satu faktor utama dia tidak pernah memperhatikan dunia sekitarnya. Dia, terlalu larut dalam buaian kehidupan di dalam buku.

 

“Yoong, kurasa dia tengah memperhatikanmu.” Sooyoung menyikut lenganku lagi. Dan lagi- lagi aku menoleh menatapnya. Berbeda dengan Yuri, Sooyoung jauh lebih banyak bicara, meskipun itu hal yang tidak penting. Sooyoung akan membicarakannya. Aku bahkan ingat dia pernah membicarakan tentang kisah cinta dua ekor semut di dinding kamarnya. Sooyoung memang agak sedikit konyol menurutku.

 

“Siapa yang kau maksud Soo?.” Yuri mendahuluiku bertanya.

 

“Siapa lagi? Lihatlah!.” Sooyoung menunjuk sesuatu dengan kepalanya. Aku dan Yuri mengekori nya bersamaan. Sooyoung benar, seseorang yang sedari tadi menjadi bahan obrolan kami tengah menatap kearahku. Ya, siapa lagi kalau bukan Jongin. Hh.

Bibir Jongin melengkung memperlihatkan sebuah senyuman khas. Orang-orang biasa menyebutnya dengan ‘Senyuman Maut Kim Jongin’. Tangannya terangkat sebentar untuk menyapa kami.

 

“Aaaah aku bisa pingsan karena senyumannya.” Sooyoung menangkupkan kedua tangannya menjadi satu dibawah dagunya. Ckck, apakah dia terpesona oleh senyuman itu? Kurasa dia gila.

 

“Bagaimana menurutmu Yoong?.” Yuri membuat kornea mataku kembali beralih padanya. Aku kembali menautkan alisku tak mengerti atas pertanyaannya. “Jongin.” Yuri menjawab setengah berbisik, matanya sedikit berbinar karena antusias. “Apa kau tertarik padanya seperti gadis shikshin disebelahmu?.” Yuri melanjutkan, ia menatap Sooyoung yang masih bertahan memperhatikan Jongin walaupun lelaki itu sudah tak melihat kemari. Aku tertohok

‘A-apa?’

 

“Ya~! Kau bercanda? Mana mungkin, dia sepupuku Yul.” Aku tertawa garing setelah mengucapkannya. Bukankah aku benar? Tidak mungkin aku menyukai Jongin. Kami kan saudara. Begitupun dia, dia juga tidak mungkin menyukaiku. Hubungan kami selama ini tidak pernah lebih dari hubungan seorang kakak dan adik. Ya, hanya kakak dan adik.

 

Sooyoung dan Yuri menghela nafas bergantian lalu menyandarkan tubuh mereka pada tembok. Aku hanya mengikuti mereka di detik kemudian. Setelahnya kami diselimuti keheningan. Sooyoung sibuk dengan ponselnya, Yuri dengan novel tebalnya, dan aku? Jangan tanya lagi, aku hanya diam sembari menengadahkan kepalaku menerawang langit biru dengan awan putih bak kapas yang menghiasinya.

Awan-awan memperlihatkan pergerakannya yang tersapu angin, bentuknya berubah-rubah setiap detik. Dan itu sangat mengundang imajinasiku untuk berpetualang. Pertama aku melihat sebuah siluet berbentuk kelinci, yaa itu binatang kesukaanku. Disebelahnya aku mendapati sebuah siluet berbentuk fish cake. Aaah kurasa perutku yang mengimajinasikannya. Beberapa detik kemudian kedua siluet itu menghilang bergantian, kembali berubah layaknya hamparan awan biasa. Selanjutnya aku mendapati sebuah siluet yang tak asing lagi bagiku. Bentuknya tak menyerupai sebuah binatang, bukan pun seperti makanan. Tapi, sebuah siluet wajah seseorang. Seperti wajah Park Chanyeol. Eh tunggu, apakah aku baru saja menyebutkan nama seseorang? APA? Park Chanyeol kubilang?

 

“Eh a-apa?.” Aku memekik kaget. Mataku mengerjap beberapa kali dan kembali menatap langit. Tak ada siluet wajah sedikitpun. Aigoo Im Yoona, apa yang ada dipikiranmu tadi? Mana ada awan bergumpal menjadi wajah manusia? Aissh pabo.

 

“Hey kau kenapa?.” Sooyoung tiba-tiba memegang bahuku dan meremasnya lembut.

Aku terdiam sesaat.

 

“A-aku? Tidak ada apa-apa.” Jawabku pelan lalu tersenyum kikuk. Sesaat mereka berdua saling berpandangan lalu mengendikkan bahu mereka.

 

“Itu, bukankah itu murid Seoul  High School?.” Sooyoung kembali membuka suaranya, jari telunjuk kanannya mengarah ke gerbang sekolah. Aku mengikuti arah telunjuknya, segerombolan siswa lelaki dengan blazer warna hitam berjalan beriringan memasuki gerbang. Pandangan beberapa gadis disepanjang jalan langsung mengarah pada mereka, seolah mereka  adalah segerombolan pangeran yang berjalan di red carpet dengan iringan suara blitz kamera di setiap detik nya. Dan mataku belum berhenti untuk terpaku pada segerombolan siswa dengan blazer hitam dan celana panjang berwarna abu disana. Dia terlihat tampan dengan setiap potongan rambutnya, tas ransel hitam dan sepatu sneakers itu tampak begitu cocok untuknya. Sesuatu yang berwarna hitam terlihat melingkar di pergelangan tangannya, aku tahu itu adalah jam tangannya. Ah, masih banyak lagi yang membuat dia begitu terlihat sempurna.

Baiklah baiklah aku mengaku. Sejujurnya aku tidak memperhatikan segerombolan lelaki disana. Jangkau iris mataku terlalu penuh jika mataku memandang mereka semua. Mulai dari pria yang tidak terlalu tinggi tapi berwajah imut di paling depan, pria tinggi dan kurus disamping kirinya, pria dengan topi hitam yang mengunyah permen karet, disampingnya lagi pria yang paling pendek diantara mereka semua, selanjutnya pria yang terlihat begitu sempurna dimataku, serta beberapa pria lagi dibelakangnya. Benarkan? Mereka terlalu banyak untuk kuperhatikan bersamaan.

Jadi, kini mataku terfokus pada seorang pria yang telah mencuri perhatianku akhir-akhir ini, membuatku selalu memikirkannya setiap saat, membuatku bisa melihatnya dikala mataku terpejam, membuat setiap sudut memori otakku hanya terpenuhi bayang-bayang nya, bahkan telingaku selalu tergelitik angin ketika aku mengingat suara bass nya, dia .. Park Chanyeol.

 

“Yoong, Yoona-ya .. Kau melamun?.” Kedua pupil mataku tiba-tiba menangkap dua buah telapak tangan yang sekarang menghalangi ku untuk melihat pria-pria disana. Aku mengerjap.

 

“Eyyy, kau melamun lagi Yoong?.” Suara Yuri kini telah sempurna membuyarkan lamunanku. Aku tergugup, lagi-lagi tertangkap basah tengah melamun dihadapan mereka.

 

“Aigoo aigoo, kau sering melamun akhir-akhir ini Yoong. Apa yang sedang kau pikirkan?.” Kini Sooyoung angkat bicara. Kedua tangannya tersimpan di depan dada. Aku menarik nafas panjang.

 

“Sepertinya sesuatu yang menyenangkan bersarang di pikirannya Youngie.” Yuri menimpali dengan suara jahilnya. Aku kembali terdiam, sesuatu yang panas terasa menggejolak dikedua pipiku sekarang. Kedua gadis disampingku ini perlahan menatapku dengan tatapan menggoda mereka, aisshh jinjja!!

 

“Hey, ada apa dengan wajahmu Yoong?.” Sooyoung dengan tiba-tiba tersenyum penuh arti. Aku tertangkap basah lagi sekarang. Yuri dan Sooyoung tertawa sedetik setelah aku menutup wajahku dengan buku ditanganku.

 

“Oh ayolah, siapa lelaki yang beruntung itu? Beritahu kami.” Tubuhku terguncang ketika kedua tangan dua gadis dengan rasa ‘ingin tahu’ disampingku ini mendesakku untuk memberitahu mereka. Aissh, haruskah aku bercerita? Aku malu.

 

***

Chanyeol POV

Kepalaku tak henti berputar, mataku menelusuk kesetiap sudut gedung dengan tinggi lumayan menjulang ini. Dan disinilah aku -Hanyoung High School-, berjalan menapaki setiap ubin dilorong-lorong yang tidak terlalu ramai. Lima puluh menit sudah aku habiskan untuk berkeliling mencari seorang gadis dengan seribu pesona yang membuatku tak henti-henti untuk memikirkannya.

“Chanyeol-sshi?.”

Sebuah suara selembut beludu yang kuyakini belakangan ini selalu terngiang di kepalaku kini kembali terdengar. Aku menolehkan kepalaku kebelakang. Demi apapun, aku ingin sekali menjerit senang. Dia, Im Yoona. Gadis yang ku cari selama lima puluh menit kebelakang. Tanpa aba-aba, kedua sudut bibirku tertarik. Aku menunjukkan senyum terbaikku kepadanya. Gilanya, dia juga tersenyum kepadaku. Oh tuhan, aku bisa pingsan atau mungkin mimisan sekarang.

Dengan sekali gerakan, aku membalikkan tubuhku. Tanganku secara otomatis melambai kepadanya. Dan senyuman manis itu tidak pernah menghilang dari paras cantiknya. Aku berjalan mendekatinya. “Hai.”

“Kau juga kemari?.” Tanya nya malu-malu. Sungguh, aku ingin sekali mencubit pipinya yang memerah.

Aku mengangguk mantap. Lagi-lagi, aku tersenyum. Sepertinya bibirku tak akan bisa berhenti tersenyum ketika melihatnya.  “Oh Sehun, dia mewakili sekolah kami hari ini. Jadi, aku datang untuk memberinya semangat.”

Mataku tak hentinya menatap gadis jelita itu. Menanti dan menanti akan respon dan ekspresi selanjutnya dari wajah sempurna itu. Dia mengangguk tanda mengerti, tangannya yang menggenggam sebuah tas kecil kini terangkat keudara.

“Bisa bantu aku?.”

 

Oh tuhan, aku benar- benar bisa gila.

 

***

 

Author POV

Acara dance battle diselenggarakan di aula utama Hanyoung High School. dan itulah salah satu yang membuat taman ini menjadi sangat sepi. Setiap siswa tentu saja terseret kedalam Aula. Entah memang untuk melihat acara atau mungkin hanya untuk mencari perhatian anak sekolah lain.

Tapi mereka tidak seperti yang lainnya. Kedua insan itu kini hanya duduk diam di salah satu bangku taman sekolah yang sedikit berkarat. Samar-samar terdengar debuman stereo dari dalam ruangan dan beberapa teriakan histeris dari  siswa-siswa wanita. Samar-samar juga terdengar suara mikrofon yang meminta para siswa untuk tenang. Chanyeol mendesah, hal itu membuat dirinya lupa tentang apa yang akan dikatakannya.

Yoona menoleh, alisnya saling bertaut karena bingung. “Ada apa? Apakah disini terlalu berisik?.”

“Ah tidak. Setidaknya tempat ini tidak sebising di dalam. Aku suka tempat ini.”

Gadis cantik itu tersenyum lagi. Surainya yang kecoklatan sedikit teracak oleh hembusan angin yang menggoda.

“Oh iya, ini bekal ku. Kau mau membantuku kan?.” Chanyeol mengangkat sebelah alisnya. Kepalanya sedikit miring ke kiri, berusaha memahami maksud dari pertanyaanku. “Mm. maksudku, bantu aku menghabiskannya. Aku tidak mungkin menghabiskan ini sendirian.”

Pria itu terdiam sejenak. Matanya menatap Yoona dengan lekat. Degup jantungnya terus berpacu dan itu membuatnya khawatir karena mungkin saja Yoona akan mendengarnya.

“Kau tidak mau? Y–yasudah.”

“Ah tidak! Kebetulan aku belum sarapan tadi.” Sergah Chanyeol dengan seulas senyuman garing yang kikuk. Yoona tersenyum juga, lebih tulus dari sebelumnya.

“Ini buatan Youngran, dia juga menitipkan salam untukmu.”

“Ah benarkah? Tolong sampaikan juga salamku padanya.” Yoona mengangguk sembari mulai membuka kotak makanan berwarna pink di tangannya.

“Tentu.akan kusampaikan.”

Detik- detik selanjutnya. Kedua insan itu menghabiskan waktu mereka dengan berbincang hangat. Tentu saja, ditemani dengan sebuah kotak makan yang sudah tak bersisa.

Di sudut lain, sepasang mata pria  menatap pemandangan itu dengan risih. Kedua alis yang menggantung di atas mata elang itu kini bertaut bingung. Detik selanjutnya, bibir pria itu tertarik sedikit. Bukan sebuah senyuman, tetapi lebih berkesan sebagai sebuah seringaian. Ya, sebuah seringaian.

 

***

Author POV

Kim Jongin membuka pintu rumah dengan malas. Suara debaman pintu yang kembali ditutup langsung membuat sepasang mata mungil melotot padanya. Jongin mendelik dingin pada si empunya mata mungil tersebut sedetik setelah pandangan mata mereka bertemu. Sedangkan si empunya mata yang tidak lain adalah Kim Youngran hanya mendesis sebagai balasan dan kembali memfokuskan diri pada layar persegi yang menampilkan beribu macam warna. Sesekali gadis itu ikut bernyanyi ditemani remote yang berubah menjadi mic mendadak ketika sebuah klip diputar dan music pop mengalun disana.

Jongin meneruskan langkahnya ke kamar. Rumah mereka memang sepi, sang eomma masih berada ditoko dan Yoona sepertinya belum pulang. Bicara soal Yoona, seberkas ingatan tiba-tiba mendarat diotak Jongin. Sesuatu yang membuat mood nya hari ini buruk total. Ya, to-tal.

Ia masih ingat bagaimana seorang gadis tiba-tiba berteriak di dalam bis bahwa kakaknya cemburu padanya. Lalu, setelahnya Yoona meninggalkannya di bis. Dan, kejadian dimana ia memergoki Yoona tengah berbicara di taman belakang bersama seorang pria yang sebelumnya ada di bis tadi pagi –pria yang secara langsung membuat Yoona meninggalkannya di bis-.

Jongin melempar asal tas ranselnya ke ranjang. Rentetan pertanyaan tentang siapa pria itu dan apa hubungannya dengan Yoona terlalu mengusik kepalanya. Jongin berjalan cepat kembali ke ruang tengah dimana seorang gadis –adiknya- tengah menari-nari dan bernyanyi yang menurut Jongin suaranya bahkan tidak lebih baik dari radio-tape nya yang rusak, remote televisi bahkan masih tergenggam erat dalam tangan kirinya.

“Youngran?.” Jongin sedikit berteriak ditengah musik pop dengan volume keras dari layar persegi itu. Jongin melongo ketika adiknya itu menggerakkan tubuhnya seperti worm kekurangan nutrisi di musim panas, begitu membuat perutnya tergelitik. Ia bahkan bersumpah, tarian nya ketika ia masih pemula tak akan sejelek itu. Cih.

“Hm?.” Youngran merespon tanpa berhenti dari aktifitas mengasyikkannya. Ia kembali bergerak lincah mengikuti alunan dan gerakan asli yang ditampilkan layar persegi itu.

“Tadi pagi kau mengatakan sesuatu tentang teman pria tampan pada Yoona kan?.”

Youngran menoleh –masih dengan gerakan lincahnya-, ia menautkan kedua alisnya tanda tak mengerti tapi di detik berikutnya ia kembali menatap layar. “Ya.” Jawabnya singkat dan kembali bernyanyi.

Jongin mendengus. “Siapa pria itu?.” Untuk beberapa saat Youngran tak menunjukkan responnya, Ia tengah bersiap kembali bernyanyi ketika remote televise itu hanya berjarak beberapa senti dari mulutnya. “Dandarara-.” Youngran tiba-tiba berhenti. Ia beralih menatap Jongin aneh. “A-apa?.”

Jongin mengendikkan bahunya. “Apanya yang apa, bodoh?.”

Youngran mendengus, dengan setengah hati ia mematikkan televisi lalu berjalan menghampiri Jongin, ia berkacak pinggang seraya memasang raut wajah yang menurut Jongin sangat aneh. Oh ayolah, dari berjuta-juta ekspresi wajah kenapa adiknya selalu memasang wajah bodoh seperti itu? Sangat merusak citra dirinya yang dikenal sebagai pemilik gen terbaik disekolahnya.

“Ya~! Pria bodoh yang lebih bodoh dariku! Apa yang tadi kau tanyakan? Pria itu? Pria siapa yang kau maksud?.”

“Eyyy~.” Jongin menoyor kepala Youngran lalu kembali mendengus. “Aissh jinja! Kau ini lamban sekali! Pria yang tadi pagi kau bilang tampan, bodoh!.” Youngran terlihat berfikir, ia menggaruk dagunya dengan ibu jari dan jari telunjuknya.

“Itu, apakah pria dengan rambut hitam, tubuh tinggi, mata seperti kucing dan juga kulit y-.”

“Kulit yang lebih putih darimu begitu?.” Youngran terkekeh setelah berhasil memotong ucapan Jongin.

Jongin melotot. “Ya~! Kau -.”

Selanjutnya, sebuah jitakan mendarat dikepala gadis dengan rambut sebahu itu. “Ya~!.”

“Baiklah, ayo hentikan! Berdebat denganmu hanya membuang sia-sia tenagaku!.”

“Siapa yang sedang berdebat denganmu, bodoh?.”

“Berhenti memanggilku bodoh, Kim Youngran! Aku ini kakakmu!.”

“Lalu apa hubungannya? Apakah orang bodoh tidak boleh dipanggil bodoh hanya karena dia lebih tua huh?.”

Jongin menarik nafasnya kesal, bukan hal yang mudah jika berbicara dengan Youngran.. Ck, konyol sekali.

“Baiklah, ayo berhenti saling memanggil bodoh dan jawab pertanyaanku dengan benar, arasseo?.”

“Apakah ini ujian? Kenapa aku harus menjawab pertanyaanmu dengan benar?.”

Jongin kembali melotot, tangan kanannya sudah bersiap menjitak kepala Youngran.

“Baiklah baiklah, apa pertanyaanmu? Cepatlah!.”

Bibir Jongin tertarik melengkung membuat sebuah senyuman lebar disana. “Siapa teman pria Yoona itu hm?.”

Kening Youngran mengerut, ia tampak berfikir sejenak lalu sebuah seringaian tiba-tiba terpampang di wajahnya. “Bagaimana kalau kau traktir aku eskrim? Lalu aku akan menjawab pertanyaanmu.” Alis Youngran naik turun mencoba merayu Jongin.

“Aissh, kau berusaha menipuku? Bagaimana jika setelah aku membelikanmu eskrim, tapi kau tidak tahu jawabannya? Aku sudah tahu semua akal busukmu itu!.” Lagi, Jongin menoyor kepala Youngran hingga gadis itu berdecak kesal.

“Hei Kim Jongin! Singkirkan pikiran kotormu itu.” Youngran hendak menoyor balik kepala Jongin jika saja pria itu tidak melotot padanya. “Kenapa kau selalu berfikiran buruk tentangku, aku bahkan tahu banyak tentang teman Yoona eonni. Bahkan aku ber-.” Gadis itu tiba-tiba berhenti mengoceh.

“Apa?.”

“Emm, aku ber-bersahabat ba-ik dengan adiknya.” Jawab Youngran ragu. Ia berfikir benarkah kalimat itu keluar dari mulutnya? Bersahabat dengan gadis angkuh itu? Yang benar saja!.

Jongin mengangkat alisnya ragu. “Kau tidak berbohong kan?.”

“Yasudah kalau kau tidak percaya.” Youngran segera berbalik dan hendak berjalan kembali ke arah layar persegi itu, tapi sebelumnya tanpa fikir panjang Jongin menarik kerah kaos Youngran hingga ia tertarik ke belakang seperti anak kucing.

“Baiklah kita sepakat.”

 

***

“Rasa coklat.” Ini kesekian kalinya Jongin berdecak ketika Youngran mengingatkan pria itu tentang pesanan eskrim nya di sepanjang jalan tadi. Oh ayolah, ingatannya tidak buruk! Jongin akan mengingatnya walau gadis itu hanya mengatakannya sekali.

Setengah hati, Jongin hanya mengangguk malas dan segera angkat kaki dari meja yang diduduki adiknya itu.

Jika bukan karena berhubungan tentang Yoona, ia bersumpah tak akan mau membelikan Youngran eskrim. Ya, Jongin menyukai Yoona. Entah sejak kapan dan darimana rasa suka itu muncul. Yang ia tahu, ia menyukai gadis cantik itu. Gadis yang notabennya adalah sepupu nya. Bahkan dari berpuluh-puluh gadis cantik disekolah yang mengajaknya berkencan, ia hanya ingin berkencan dengan Yoona.

Tak banyak yang mengetahui Jongin menyukai Yoona, hanya kedua sahabatnya Luhan dan Kyungsoo, juga si menyebalkan Kim Youngran. Bodohnya, saat diperjalanan tadi tanpa sadar Jongin telah mengakui dirinya menyukai Yoona pada Youngran. Jika saja adiknya yang menyebalkan itu tidak terus menggoda nya ia mungkin tak akan keceplosan seperti tadi.

Jongin kembali berjalan kearah meja yang diduduki Youngran setelah ia mendapatkan satu mangkuk kecil eskrim.

“Hanya pesan satu?.” Youngran menatap heran mangkuk eskrim yang tengah Jongin pegang.

“Aku tidak suka eskrim.”

Youngran mendesis, ia segera melahap eskrim coklatnya itu. “Aku tidak menanyakan eskrim untukmu, maksudku kurasa jika hanya satu mangkuk kecil ini perutku tidak akan kenyang.”

Jongin mencelos. Adiknya ini benar-benar bisa membuatnya darah tinggi.

“Baiklah, sekarang jawab pertanyaanku!.”

“Tunggu aku menghabiskan eskrim ini dulu.”

“Mwo? Ya~! Jawab sekarang Kim Youngran!.”

“Baiklah baiklah, apa pertanyaanmu tadi?.”

“Aissh haruskah aku mengulangnya? Teman pria Yoona itu, siapa dia?.”

“Oh itu, namanya Park Chanyeol.”

“Apa mereka sangat dekat?.”

“…”

“Sejak kapan Yoona punya teman pria?.”

“…”

“Apakah mereka sering bertemu?.”

“…”

“Ya~! Gadis bodoh! Jawab pertanyaanku!.” Youngran menaruh sendok kecil itu ke mangkuk. Eskrim dihadapannya sudah lenyap tak bersisa. Jongin melongo, jika tidak salah belum sampai dua menit ia menaruh mangkuk itu dimeja. Ckck.

“Eskrimmu sudah habis, sekarang jawablah!.” Jongin melipat tangannya didada.

Kening Youngran berkerut. “Apa? Jawab apa?.”

“Tentu saja jawab pertanyaanku bodoh!.” Wajah Jongin kembali memanas.

“Ani.”

“Mwo? Wae?.”

“Aku sudah menjawab pertanyaanmu tadi. Lagipula kau hanya membelikanku satu mangkuk kecil eskrim. Jadi sudah ku putuskan, satu pertanyaan untuk satu mangkuk eskrim.” Youngran tersenyum lebar. Baginya, ini adalah waktu yang tepat untuk balas dendam pada Jongin setelah malam kemarin pipinya ini menjadi sasaran keganasan Jongin semalamam. Bahkan perlu waktu beberapa jam untuk membuat kedua pipinya itu tak terlihat memerah karena cubitan pria dihadapannya.

“Mwo? Ya~! Mana bisa begitu? Shireo! Kau harus menjawab semua pertanyaanku seperti kesepakatan kita tadi!.”

“Yasudah kalau kau tidak mau, aku tidak memaksa.” Youngran bangkit dari duduknya, ia berjalan santai melewati Jongin dengan sebuah senyuman kemenangan dan tanduk merah ilusi di kepalanya.

“Aissh, kau benar-benar.”

 

***

 

Author POV

Minhwa mengangguk dan tersenyum sebelum akhirnya mengakhiri panggilan. Setidaknya, perasaannya kini menjadi lebih baik dari sebelumnya. Matanya yang bulat menatap riang layar smartphone berwarna pink baby yang kini di genggamnya. Detik selanjutnya, gadis itu beralih menatap sang kakak yang diam bersandar di dinding. Garis wajah Park Chanyeol terlihat tenang. Rambutnya sedikit acak- acakan entah disengaja ataupun tidak. Minhwa berjalan mendekati kakaknya.

“Kau licik Park Chanyeol!.” Sindir Minhwa sembari mengangkat dagunya. Chanyeol membetulkan posisinya, mengubahnya menjadi berdiri tegak dengan kedua tangan melesak di dalam saku jeans. Pria itu tersenyum.

“Jadi, kau memaafkanku?.” Tanya Chanyeol riang. Ya, sudah beberapa hari ini Minhwa mogok bicara padanya. Dan untungnya, baru saja Yoona meneleponnya dan membujuk Minhwa untuk berbaikkan.

Minhwa berdecak. “Cih, siapa bilang? Kau belum meminta maaf padaku.”

“Baiklah, aku minta maaf.” Ucap Chanyeol sembari menyodorkan jari kelingkingnya. Minhwa menatap sejenak jari kelingking sang kakak yang memang terbilang panjang itu. Jari kelingkingnya yang memang lebih kecil, dengan riang menyambut jari kelingking itu dengan menautkannya.

“Baiklah. Aku memaafkanmu.”

“Nah, begini lebih baik.” Chanyeol mengacak rambut sang adik dengan lembut sebelum berlalu. Kakinya melangkah hendak meninggalkan kamar Minhwa yang di dominasi oleh beberapa warna cerah itu.

“Oppa..” Chanyeol menoleh, menatap Minhwa yang kini berdiri tidak jauh darinya.

“Ada apa?.”

“Yoona Eonni.. apa kau.. apa kau menyukainya?.”

Chanyeol terhenyak, tubuhnya secara otomatis berbalik menghadap Minhwa. Matanya menatap Minhwa gelisah, apa dirinya terlalu mudah ditebak? Bagaimana bisa Minhwa mengetahui itu? Seharunsnya hanya dirinya yang tahu.

Chanyeol tersenyum “Bagaimana jika Ya.”

Minhwa tertegun. Matanya yang bulat menatap lantai dengan gusar. Tangannya terangkat untuk memijat pelipis kirinya yang mungkin berdenyut. “Aku mengerti, tapi sepertinya.. akan lebih baik jika -.” Minhwa mengangkat kepalanya untuk menatap Chanyeol. “Akan lebih baik jika kau tidak menyukainya.”

Chanyeol berjengit bingung. Matanya menatap Minhwa gelisah. “K-kenapa?.”

“Ini akan sulit. Kau tahu ini akan sangat sulit.”

“Minhwa, katakan padaku apa maksudmu sebenarnya? Kau terlalu berbelit-belit, aku tidak mengerti.” Terdengar secercah nada gelisah dalam suara bass pria itu. Minhwa menggeleng lemah.

“Kau tentu sudah tahu, eomma juga appa sudah mengatur segala sesusatu tentang kau dan aku. ”

Chanyeol mengerutkan dahinya tidak mengerti. Minhwa menghembuskan nafasnya kesal. Kakaknya tidak juga mengerti. Benar-benar pria bodoh. “Mereka sudah menempatkan kau dalam lingkaran perjodohan. Begitupun aku, mereka juga akan menempatkan aku dalam perjodohan. Kau tahu, kemarin mereka mengatakan tentang calon istrimu nanti.”

Saat itu juga ruangan terasa menyempit. Chanyeol sedikit terhuyung kebelakang karena terkejut. Kepalanya mendadak pening dan nafasnya tercekat.

Minhwa mengamati ekspresi tak terbaca dari sang kakak. “Mereka sudah merencanakan perjodohan untukmu.” Ujar Minhwa hari-hati.

Chanyeol menarik nafas sekuat tenaga. Apa? Perjodohan?

 

To Be Continued ..

18 thoughts on “[Freelance] In Your Eyes (Chapter 3 – I Know I Love You)

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s