[Freelance] That Boy (Heart Attack) (Part 1)

thatboy

Title                 : That Boy (Heart Attack) Part 1

Author             : Bina Ferina

Length             : Two Shot

Rating                         : T

Genre              : School-life, Romance

Main Cast        : Kim Taeyeon (GG)   Xi Luhan (EXO)

Other Cast       : SNSD, EXO, Kyuhyun SJ.

Note                : FF ini terinspirasi dari beberapa drama jepang, disatuin, trus jadi deh FF abal-abal ini. Heheheheheh. Enjoy reading^^

Artworker       : Heerin

 

Saat itu, badai musim gugur. Bunga sakura jatuh berterbangan ke segala penjuru arah karena  tertiup angin. Ketika itu, aku seperti melihat bidadari pohon sakura muncul di hadapanku. Dengan latar belakang langit biru yang cerah dan hujan bunga sakura, bidadari itu membuat hatiku berdesir kencang, mengalahkan kencangnya angin badai musim gugur.

 

~That Boy~

 

“Aissh, jinjja,” rutuk Luhan pelan sambil menatap jam tangannya. Ia berlari cepat menuju gerbang sekolahnya yang sebentar lagi menuju detik-detik penutupan.

“YA! Luhan-ah, ppali!” seru Kai di samping satpam sekolah yang siap-siap menutup pintu gerbang sekolah tepat ketika bel sekolah berbunyi.

Kai dan beberapa murid lainnya yang ikut lari juga, sudah berhasil masuk ke dalam gerbang sekolah, dan sekarang mereka sedang berjalan dengan santai menuju gedung sekolah. Kecuali Kai yang terus menyemangati Luhan untuk terus berlari mengejar waktu. Luhan memang lari belakangan dari murid-murid lain. Ia terlambat bangun hari ini.

Dan waktu yang dipunya Luhan hanya 30 detik sebelum gerbang sekolah menutup. Luhan dengan sisa-sisa tenaga yang ia punya berusaha menambah kecepatan larinya. Ia tak peduli kalau seragam sekolahnya kini sudah basah karena keringat. Ia tak mau terlambat untuk yang ke-5 kalinya.

“Aah!” seru Luhan. Ia jatuh terduduk tepat di depan gerbang sekolah yang sudah tertutup rapat-rapat, tanpa memberi kesempatan padanya selangkah lagi. Ia mengelap keringatnya yang bercucuran sepanjang wajahnya dengan pergelangan tangannya.

“Terlambat sedetiik saja, tuan Xi,” ejek Lee ahjussi, satpam sekolah mereka. “Aku sudah bosan lihat wajahmu terus,”

“Berikan aku satu kesempatan lagi hari ini, ahjussi,” mohon Luhan sambil memasang wajah seekor puppy.

“Ani. Peraturan tetaplah peraturan, anak muda. Tunggu disini, aku akan memanggil Kepala Sekolah. Sepertinya, kau akan mendapat ‘hadiah’ hari ini,” kata Lee ahjussi dan ia melangkahkan kakinya menuju gedung sekolah.

“Hhhh,” keluh Luhan frustrasi. Ia berharap sekali Kepala Sekolah tidak memulangkannya. Ia bisa habis dibunuh oleh ayahnya, yang notabene adalah Ketua Yayasan sekolah ini.

“Kenapa kau tidak jera juga di marahi habis-habisan oleh ayahmu?” tanya Kai, yang masih berdiri di belakang gerbang.

“Aku keasyikan menonton Manchaster United dini hari tadi,” jawab Luhan tenang. Ia bangkit berdiri dan membersihkan celana sekolahnya yang berdebu. Setelah itu, ia menatap ke atas langit, dan melihat beberapa helai bunga sakura berterbangan dengan indahnya, dilatarbelakangi langit biru yang cerah. “Musim gugur yang indah,” gumamnya.

Kai hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat sahabatnya ini, yang memang tergila-gila dengan MU.

Tidak berapa lama kemudian, Kepala Sekolah dan Lee ahjussi datang menghadap Luhan. Kai membungkukkan badannya, begitu juga Luhan.

“Tuan Kim, apa yang kau lakukan disini? Pembelajaran sudah akan dimulai,” kata Kepala Sekolah pada Kai.

“Ne, saya mengerti,” kata Kai. Ia melirik sebentar ke arah Luhan dan berlari-lari kecil menuju gedung sekolah.

“Tuan Xi, ikut aku,” kata Kepala Sekolah. Lee ahjussi menyeringai ke arah Luhan sambil membuka gerbang sekolahnya. Luhan masuk dan dengan berat hati, ia mengikuti Kepala Sekolah ke ruangannya.

 

~That Boy~

 

Luhan menghentakkan sapu lidinya ke tanah dan menghela napas panjang. Ia melihat sekeliling halaman belakang sekolah yang dipenuhi oleh daun-daun pohon yang berguguran dan berserakan di tanah. Ya, kali ini hukumannya karena terlambat untuk yang ke-5 kalinya adalah menyapu halaman belakang sekolah. Sebenarnya ini hukuman yang sangat ringan untuknya. Seharusnya ia dipulangkan. Namun, Kepala Sekolah memberikannya sedikit keringan karena ia seorang anak Kepala Yayasan sekolah.

Angin berhembus sangat kencang saat itu, menerpa wajah Luhan yang cute, menerbangkan daun-daun pohon itu, dan membuat daun-daun pepohonan yang ada disitu itu kembali berjatuhan. Halaman belakang sekolah memang banyak sekali ditumbuhi pohon-pohon lebat, tinggi dan besar, cocok untuk berteduh.

Luhan kembali menghembuskan napas panjang dan kesal ketika angin kencang bertiup kembali, membuat dedaunan itu semakin berantakan. Dengan hati yang lapang, Luhan mulai menger       jakan hukumannya. Ia mulai menyapu dedaunan itu.

Namun, aktifitasnya terhenti sepuluh menit kemudian, ketika ia melihat sepucuk daun berwarna merah muda. Luhan memerhatikan daun yang warnanya beda sendiri itu dan ia baru menyadari bahwa itu bukanlah daun. Itu bunga.

Luhan mengambilnya dan menatap bunga itu dengan senyuman mengembang di wajahnya. Ia menatap ke arah depan. Lumayan jauh di hadapannya, ada sebuah pohon sakura besar yang umurnya sudah cukup tua. Pohon itu berdiri sendiri. Dibawahnya ada sebuah bangku taman panjang warna cokelat muda. Pohon sakura itu tidak berdiri diam. Bunganya berjatuhan dan berterbangan tertiup angin kencang.

Luhan tersenyum makin lebar dan ia melangkahkan kakinya mendekat ke arah pohon itu. Ia suka melihat pohon sakura yang berguguran seperti sekarang ini. Apalagi langit sekarang berwarna biru cerah.

Beberapa langkah lagi Luhan akan berada di dekat pohon sakura. Namun, langkahnya terhenti saat ia melihat seorang siswi muncul di balik pohon itu dan tersenyum lebar. Ia memejamkan matanya dan sedikit mengangkat kepalanya, sambil tetap tersenyum.

(Ost. EXO – Heart Attack) (Note : Feelnya dapet kalo sambil dengerin ini lagu, menurut saya)

Angin berhembus sangat kencang, menerpa wajah si gadis yang cantik dan putih bening. Rambutnya yang kecokelatan berkibar dengan indahnya. Walaupun berantakan, ia tetap memejamkan matanya sambil tersenyum, menikmati angin musim gugur dibawah hujan pohon sakura.

Berlatar belakang langit biru cerah dan dihujani bunga sakura yang berterbangan dengan anggunnya, Luhan sempat merasa bodoh. Ia merasa seperti melihat bidadari pohon sakura saat ini. Jantungnya berdebar sangat kencang, sakit. Hatinya berdesir-desir aneh melihat senyumannnya, wajahnya. Luhan bahkan tak tahu kenapa. Ia sangat menikmati memandangi potret indah yang ada di hadapannya ini.

Entah berapa lama Luhan berdiri mematung di situ, memandangi siswi itu. sampai pada akhirnya, gadis itu membuka matanya dan tatapannya langsung jatuh ke Luhan. senyumannya langsung lenyap begitu ia melihat Luhan yang berdiri tak jauh darinya.

Luhan segera sadar bahwa orang yang dipandanginya juga sedang menatapnya balik. Namun. Luhan tidak segera membuang muka. Ia tetap menatap si gadis. Menatapnya dengan ekspresi datar, sedangkan si gadis menatapnya dengan tatapan penuh tanya, curiga, dan penasaran. Mereka saling bertatapan untuk waktu yang lumayan lama.

 

~That Boy~

 

Taeyeon buru-buru melangkahkan kakinya menuju pohon sakura itu. Bunga-bunganya berterbangan kesana kemari, semakin mempercantik pohon itu. Taeyeon berdiri di bawah pohon yang sedang ‘menari’ indah itu dan mulai memejamkan matanya sambil tersenyum, seakan-akan sedang meresapi angin yang bertiup menerpa wajah dan rambutnya. Ia memang paling suka melakukan hal itu sejak kecil. Ia sangat suka berdiri di bawah pohon sakura yang sedang berguguran.

Entah sudah berapa lama Taeyeon berdiri di situ, ia tak tahu. Akhirnya, ia membuka matanya dan entah kenapa, tatapannya langsung jatuh ke sosok siswa laki-laki yang berdiri tak jauh darinya. Laki-laki itu memandanginya. Senyum Taeyeon yang daritadi terukir indah menghilang seketika. Ia balik menatap laki-laki itu dengan pandangan heran dan penuh kecurigaan. Ia paling tidak suka ditatap seperti menyelidik oleh orang asing.

Taeyeon menatapnya dengan waktu yang bisa dibilang tidak sebentar. Laki-laki itu balas memandang matanya dan hendak mengajukan pertanyaan. Namun, terdengar suara melengking seorang perempuan tak jauh dari mereka berdiri.

“Taeyeon-ah!”

Taeyeon mengalihkan pandangannya ke asal suara yang memanggilnya. Tiffany dan Sooyoung sedang berlari kecil menghampirinya.

“Kau darimana saja? Kami sudah lama mencarimu. Kita harus mengerjakan tugasnya sekarang. Sudah pukul berapa ini?” omel Tiffany pada Taeyeon.

“Mianhae,” ucap Taeyeon singkat sambil memasang wajah menyesal.

“Aaahh, eonni kesini karena bunga sakuranya sedang berguguran, yaa?” tebak Sooyoung. Ia menatap pohon sakura itu dan menggelendot di lengan kiri Taeyeon.

“Ne~, good girl,” kata Taeyeon sambil tertawa. “Kalau begitu, kajja kita kembali ke lapangan sepak bola,”

“Luhan?” panggil Tiffany. Ia baru saja menyadari ada sosok Luhan di sana.

Luhan hanya tersenyum canggung ke arah Tiffany. Sedangkan Taeyeon menatap Tiffany dengan tatapan heran.

“Sedang apa kau disini?” tanya Tiffany.

“Aahh..” ucap Luhan sambil menggaruk dagunya yang tidak gatal. “Tidakkah kau lihat aku sedang memegang sapu? Menurutmu aku sedang apa? Terbang?”

“Ya! Kenapa kau jadi emosi begitu? Aissh, neo jinjja!” seru Tiffany sambil mengepalkan telapak tangannya ke hadapan wajahnya. “Aaahh, kau terlambat lagi, yaa? Wah, wah tuan Xi, sudah berapa kali kau terlambat? Sudah mencetak rekor, kah?” ejek Tiffany, kepalan tangannya sudah ia turunkan.

“Aissh, diam sajalah,” jawab Luhan sambil menujulurkan lidahnya sebentar ke arah Tiffany. Dan dengan gayanya yang cool, ia balik badan dan berjalan menjauhi pohon sakura.

“Ya! Kenapa kau selalu sok keren begitu?!” seru Tiffany kesal.

“Kau mengenalnya?” tanya Taeyeon langsung, begitu laki-laki tadi sudah jauh.

“Eoh, kau tidak mengenalnya?” Tiffany balik tanya.

“Kau seharusnya tahu, eonni. Sejak kapan Taeyeon eonni mau mengenal sosok laki-laki terlalu mendalam? Mengagumi laki-laki saja aku sudah sangat bersyukur,” kata Sooyoung.

“Ya, apa maksudmu kau sudah sangat bersyukur?” tanya Taeyeon.

“Aku sangat bersyukur karena ternyata Taeyeon eonni masih normal, masih menyukai laki-laki. Tapi jika Taeyeon eonni mengagumi seorang laki-laki saat ini. Dan aku masih belum yakin akan kenormalanmu, karena belum ada satu laki-laki pun saat ini yang keluar dari mulutmu selain ayahmu,” ejek Sooyoung.

Sebelum Taeyeon sempat melayangkan tinjunya ke arah Sooyoung, Sooyoung sudah keburu menarik pergelangan tangan Tiffany dan mengajaknya lari dari Taeyeon.

“YA! Shikshin!” teriak Taeyeon. Ia ikut berlari mengejar Sooyoung.

 

~That Boy~

 

“Lay memilihmu sebagai siswi yang paling cantik di sekolah, Tae,” kata Tiffany pada Taeyeon, yang langsung tersedak oleh makanan yang tengah dimakannya saat ini.

Mereka bertiga, Taeyeon, Tiffany, dan Sooyoung sedang menikmati jam makan siang di restaurant sekolah mereka. Mereka duduk di meja yang tak jauh dari pintu masuk restaurant. Meja itulah yang biasanya mereka pakai untuk makan siang.

“Jinjjayo? Eonni tahu darimana?” tanya Sooyoung langsung. Jika ada seseorang yang sedang mengagumi Taeyeon, maka Tiffany dan Sooyoung akan berusaha membuat Taeyeon membuka pintu hatinya untuk seseorang itu. Sudah lama sekali, Taeyeon mengunci rapat-rapat pintu hatinya dan tidak berniat sedikitpun membukanya, sampai saat-saat tertentu.

Itulah sebabnya Taeyeon tidak pernah membicarakan secara khusus satu orang laki-laki pun. Tidak pernah keluar dari mulutnya bahwa ia sedang mengagumi sosok laki-laki. Bukannya ia tidak menyukai laki-laki, tapi untuk saat ini, ia tidak mau jatuh cinta dulu. Hatinya masih penuh dengan coretan luka yang tertanam sejak 2 tahun yang lalu, saat dirinya masih duduk di kelas satu SMA.

“Dia mengatakannya padaku saat aku sedang iseng-iseng bertanya pada Baekhyun. Kau tahu, ‘kan Young-ah, kalau Baekhyun juga menyukai Taeyeon? Aku tanya padanya siapa yang paling cantik di sekolah ini dan dia jawab Taeyeon. Kebetulan Lay juga ada disana. Dia juga mengatakan hal yang sama,” jawab Tiffany sambil mengerling pada Sooyoung.

“Wah, wah, wah. Taeyeon sunbae-nim benar-benar terkenal di kalangan para hoobae, yaa?” ejek Sooyoung sambil tertawa. “Bagaimana dengan Kyungsoo? Chanyeol? Kwangmin? Dan bagaimana dengan Seungyeol? Youngjae? Baro? Dan… ada siapa lagi, yaa?”

“Ya, kalian terlalu membesar-besarkan. YoonA-lah yang paling populer,” sanggah Taeyeon. “Lagipula, mereka hanya hoobae,”

“Lalu?” tanya Tiffany dan Sooyoung secara bersamaan.

“Memangnya tidak boleh kalau kita berhubungan dengan yang lebih muda?” tanya Tiffany lagi.

Taeyeon hanya mengangkat bahunya sambil melanjutkan makannya.

“Oooh, itu fanboys-mu, eonni,” bisik Sooyoung pada Taeyeon sambil menunjuk ke arah pintu masuk restaurant sekolah yang terbuka.

Taeyeon menatap ke arah yang ditunjuk Sooyoung. Sekumpulan siswa laki-laki kelas satu baru saja memasuki restaurant. Rombongan itu ada sekitar 12 orang. Taeyeon mengenali beberapa orang saja. Yaitu Baekhyun, Chanyeol, Kyungsoo, Lay, Suho, Kai dan Sehun. Taeyeon lumayan dekat dengan mereka karena mereka adalah hoobae yang menyenangkan. Termasuk Baekhyun dan Sehun. Walaupun berhembus kabar Baekhyun mengidolakannya, Taeyeon hanya menganggap dia tidak lebih dari sekadar hoobae. Hatinya belum minta untuk dibuka.

Beberapa siswi yang berada di restauran memandang mereka ber-12 dengan pandangan kagum dan berbinar-binar. Mereka tersenyum malu-malu ketika rombongan itu memasuki restaurant. Taeyeon memang tidak bisa menampik, kalau mereka hoobae yang memesona.

“Baekhyun sedang mencuri pandang kearahmu, Tae,” bisik Tiffany sambil tersenyum.

Taeyeon menatap kembali ke arah mereka. Namun tatapannya tidak mengarah ke Baekhyun. Melainkan ke sosok laki-laki yang baru saja dilihatnya tadi pagi, di bawah pohon sakura. Laki-laki yang tidak dikenalnya, yang memandanginya dengan pandangan menyelidik. Taeyeon baru tahu kalau laki-laki itu satu rombongan dengan Baekhyun dan Sehun.

Ketika rombongan kelas satu yang mampu menarik hati para ‘noona’ itu melewati meja Taeyeon dan kedua sahabatnya, Taeyeon tetap menatap si laki-laki. Tatapan penuh tanda tanya. Taeyeon mengalihkan pandangannya saat laki-laki itu balas memandangnya.

“Kau melihat siapa?” tanya Tiffany ketika rombongan itu sudah duduk di meja mereka, di depan kasir.

“Mereka,” jawab Taeyeon santai. Ia kembali menyuapi makanannya ke dalam mulutnya.

Tiffany hanya diam sambil memandangi Taeyeon.

“Oh, ya. Kenapa Luhan ada di dekat pohon sakura juga bersamamu, Tae? Kalian saling mengenal?” tanya Tiffany.

“Ani. Aku bahkan tidak pernah melihatnya sebelumnya,” jawab Taeyeon. “Aku juga tidak tahu kenapa dia disana. Padahal aku yakin, saat itu tidak ada siapa-siapa. Apa dia seorang penguntit?” tanya Taeyeon dengan mimik serius.

“Kalau eonni bertanya seperti itu, fans Luhan akan marah. Mana mungkin Luhan seorang penguntit. Ia laki-laki yang baik dan manly,” puji Sooyoung. “Dia adalah hoobae kesayangan Tiffany eonni. Setiap bertemu selalu memanggilnya seperti ini,” Sooyoung menirukan suara Tiffany yang melengking, “‘Luhaaan~’,”

Taeyeon tertawa mendengar suara tiruan Sooyoung. Sedangkan Tiffany menatap Sooyoung dengan pandangan geli dan kesal.

“Sepertinya kalian dekat. Dia bahkan tidak memanggilmu ‘sunbae’, dan tidak memakai bahasa formal,” ucap Taeyeon. “Tapi kenapa aku jarang melihatnya?”

“Dia sering main bola saat istirahat dan makan siang. Jarang kelihatan memang kalau disekitar perpustakaan, kelas-kelas, atau restaurant. Dia lebih sering di lapangan sepak bola bersama Xiumin. Dulu kau juga tidak akrab dengan wajah Xiumin, ‘kan?” jelas Tiffany.

“Sayangnya Luhan sudah punya sunbae favoritnya sendiri, yaitu YoonA,” kata Sooyoung, ia melirik Tiffany. “Kyaaa, aku ingin tambah kimchi pancake lagi,”

“YA!” seru Taeyeon dan Tiffany bersamaan.

 

~That Boy~

 

Siang ini memang sangat menyenangkan jika bermain bola di lapangan. Namun, karena kelelahan yang teramat sangat, Luhan memutuskan untuk ikut ke restaurant saja bersama sahabat-sahabatnya. Ia jarang menginjakkan kaki ke restaurant karena malas mendapat perhatian yang berlebihan dari para siswi-siswi yang sedang makan.

Tatapan siswi-siswi itu langsung meghujam ke arah mereka ber-12 ketika mereka baru saja selangkah memasuki restaurant. Mereka buru-buru melangkah ke meja mereka yang biasa, meja di depan kasir.

“Ya, kenapa kau lama sekali jalan?” tanya Luhan pada Baekhyun, yang berdiri di hadapannya.

“Oh, mianhae,” kata Baekhyun dan ia menghadap depan dan mulai melangkah lebih cepat.

Luhan penasaran apa yang dilihat Baekhyun sehingga ia bahkan tidak berkonsentrasi pada jalannya. Luhan menoleh ke arah kanannya, dan tatapannya langsung jatuh kepada seorang gadis yang mejanya tidak jauh dari pintu masuk restaurant. Gadis itu juga tengah memandangnya. Namun, ia langsung mengalihkan pandangannya ke makanan yang ada di hadapannya.

Gadis itu yang ia lihat di bawah siraman bunga sakura. Gadis, yang menurut Luhan, mempunyai 2 warna yang dipadukan sehingga tampak memesona. Yaitu warna merah muda dan biru cerah. Perpaduan antara bunga sakura dan langit biru.

Dan Luhan tahu siapa nama gadis itu. Setelah duduk dan mengobrol dengan teman-temannya sembari menunggu makanan mereka, Baekhyun dan Chanyeol bercerita tentang betapa cantiknya seseorang, yang Luhan dengar, bernama Taeyeon. Luhan tahu, kalau Baekhyun memiliki rasa kagum pada sunbae mereka bernama Taeyeon. Tapi Luhan tidak pernah tahu bagaimana wajah Taeyeon itu.

“Apakah dia ada disini?” tanya Luhan pada Baekhyun.

“Ne, tentu saja. Aku berharap sekali tadi dia memandangku. Sewaktu hyung menyuruhku untuk cepat, aku sedang memandangnya,” jelas Baekhyun semangat.

“Jinjjayo? Yang mana?” tanya Luhan lagi.

“Yang duduk bersama dengan Tiffany, tapi bukan yang tinggi, yang agak pendek,” sahut Kris.

Luhan melihat Tiffany dan melihat ada dua gadis yang berada satu meja dengan Tiffany. Yang seorang tinggi, dan satu lagi..

“Pendek,” kata Luhan pelan.

“Ne, Taeyeon sunbae itu agak pendek. Tapi tidak terlalu pendek,” kata Baekhyun. Mulutnya sekarang sudah dipenuhi oleh makanan mereka yang baru sampai.

“Gamsahamnida,” ucap Suho pada si pelayan wanita. “Sudah, ayo cepat makan. Nanti saja membicarakan sunbae kalian itu,”

“Apa mereka bukan sunbae-mu?” tanya Kris. Suho hanya tersenyum.

Luhan menundukkan wajahnya, menatap makanan yang ada di hadapannya. Ia mulai mengambil sendoknya dan memainkannya di piringnya. Ternyata selama ini yang dibicarakan oleh Baekhyun, Chanyeol, Kyungsoo, dan teman-teman seangkatan lainnya adalah gadis pohon sakura itu.

Luhan tahu nama Kim Taeyeon itu sering di dengarnya, tapi ia tak pernah melihat wajahnya. Ia tidak pernah mengalihkan perhatiannya dari sepak bola. Dan dulu ia sempat berpikir kalau tidak ada yang lebih cantik dari YoonA sunbae. Namun sekarang, ada. Lebih cantik dari YoonA sunbae.

Kim Taeyeon.

 

~That Boy~

 

3 hari kemudian~

From : Youngie~

Eonni, kau sudah pulang? Cepat pulang, sebentar lagi hujan. Kenapa kau suka sekali mengurung diri di kelas musik?

 

Taeyeon mengerjap-ngerjapkan matanya dan ia menatap jam dinding di kelas musik itu. sudah pukul tujuh malam. Sial, dia ketiduran ketika bermain piano di kelas itu. Untungnya saja, satpam sekolah tidak pernah mengunci gerbang sekolah.

Taeyeon mengambil tasnya dan memakainya. Ia melangkah keluar kelas. Sebelum pintu kelas musik itu tertutup di belakangnya, Taeyeon menatap piano itu agak lama dan menutup pintu kelasnya rapat-rapat. Ia melangkah keluar dari sekolah dengan langkah ringan. Sesekali rambut dan wajahnya diterpa angin malam yang sejuk. Ia terus berjalan tanpa berhenti di halte bus.

Taeyeon memang sangat senang jalan pada malam hari, apalagi kalau sudah musim gugur. Ia rela jalan dari sekolah menuju rumahnya yang bisa dibilang sama sekali tidak dekat.

DUK!

Seseorang menabraknya dari belakang ketika Taeyeon sedang menunggu lampu merah untuk menyeberang jalan.

“Cheseonghamnida,” ucap orang itu, yang ternyata adalah laki-laki.

Taeyeon kaget sekali ketika ia tahu siapa yang menabraknya. Laki-laki yang menabraknya pun tak kalah kaget.

“Neo…,” kata Taeyeon sambil menunjuk wajah laki-laki itu.

“Sunbae,” ucap Luhan juga. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya menatap Taeyeon yang kini tepat berada di hadapannya.

“Wae? Kau baru saja melihat hantu? Kenapa ekspresi seperti itu?” tanya Taeyeon kesal.

Ya, ia kesal melihat Luhan karena kejadian 3 hari yang lalu, ketika Luhan tiba-tiba saja muncul di dekat pohon sakura dan menatapnya terus seperti seorang penguntit.

“Kau mau pergi ke mana?”

Luhan mengalihkan tatapannya dan menghadap depan. Ia menghirup napasnya kuat-kuat dan menghembuskannya dengan kasar. Taeyeon menatap Luhan yang tidak menjawab pertanyaannya, bahkan seperti menganggap Taeyeon orang asing.

“Kurasa bukan seperti ini sikap seorang hoobae kepada sunbae-nya ketika mereka secara tidak sengaja bertemu. Kurasa teman-temanmu lebih bersikap baik dari dirimu,” sindir Taeyeon ketus.

“Eoh? Sunbae… bicara padaku baru saja?” tanya Luhan dengan ekspresi polos.

“Ani, aku baru saja bicara dengan orang yang ada di sampingmu,” ucap Taeyeon ketus.

Luhan tersenyum simpul mendengar jawaban dari Taeyeon. Tapi ia menyembunyikan senyumannya dan tetap menatap ke depan.

“Sunbae mau pergi kemana? Kenapa masih pakai seragam sekolah?” tanya Luhan.

“Aku mau menyeberang,” jawab Taeyeon singkat.

“Kalau begitu kita sama. Aku juga ingin menyeberang,” sahut Luhan.

“Aku tidak tanya,”

“Aku tahu. Aku hanya ingin memberitahu sunbae,”

“Aku tidak ingin tahu,”

“Aku tidak peduli, aku hanya ingin memberitahumu,”

“Kubilang aku tidak ingin tahu,”

“Aku hanya ingin memberitahumu. Kenapa kau sangat marah? Aah, apa kau sedang ada tamu?”

“Ya, neo!” tunjuk Taeyeon, kali ini seluruh tubuhnya menghadap Luhan. “Neo, nuguya?”

Taeyeon tidak sadar kalau lampu merah sudah menyala dan orang-orang disekitar situ sudah pada menyeberang jalan.

“Annyeonghaseyo, Luhan imnida,” kata Luhan sambil tersenyum. Ia juga menghadap Taeyeon.

“Apa kau seorang penguntit?” tanya Taeyeon lagi.

“Whoa, kenapa sunbae tanya seperti itu?”

“Karena… kau diam-diam mengikutiku dan memandangiku yang berada di bawah pohon sakura 3 hari yang lalu. Saat kau dihukum menyapu,”

Luhan tersenyum. “Apakah menjadi sunbae yang memiliki banyak fanboys di sekolah sepertimu menjadikanmu terlalu percaya diri?”

“Apa maksudmu?” tanya Taeyeon.

“Aku juga ingin melihat bunga sakura yang berguguran. Sunbae tiba-tiba saja muncul seperti…” Luhan ingin mengatakan ‘seperti seorang bidadari pohon sakura’. Tapi ia buru-buru menahannya. Mereka baru mengenal satu sama lain.

“Seperti apa?” tanya Taeyeon. Ia sudah keburu curiga hoobae di hadapannya ini akan mengatakan seperti ‘hantu’.

“Tidak apa-apa. Yang jelas, aku kaget melihatmu dan aku hanya bisa tercengang dan…” lagi-lagi Luhan menggantungkan kalimatnya. Ia ingin melanjutkan ‘dan terpesona’. “Dan mana mungkin aku juga ikut-ikutan berada di pohon sakura bersamamu,”

“Kau bisa pergi jika kau tahu aku ada disana,” kata Taeyeon, ia agak sedikit merasa Luhan seperti teman-temannya, memiliki hati yang hangat. “Setidaknya sekarang aku tahu kau bukan laki-laki yang berbahaya,”

“Aku bisa saja jadi laki-laki penguntit yang berbahaya seperti yang selama 3 hari ini sunbae pikirkan,” kata Luhan dengan nada yang amat sangat serius.

Taeyeon langsung menatap Luhan, begitu juga Luhan. Tatapan mereka bertemu. Luhan menatap dalam-dalam ke mata cokelat muda milik Taeyeon. Taeyeon seperti terhipnotis. Ia tidak bisa mengalihkan tatapannya dari manik-manik mata milik Luhan. Tatapan yang lembut, hangat sekaligus mengerikan yang menyelimuti diri Taeyeon. Entah kenapa hatinya berdebar takut dan cemas. Perkataan Luhan baru saja membuatnya ketakutan.

Entah berapa lama mereka saling bertatapan, Taeyeon tidak tahu. Sampai akhirnya Luhan menggenggam pergelangan tangan kanan Taeyeon, membuat Taeyeon terkejut setengah mati.

“YA! Apa yang kau lakukan?” tanya Taeyeon.

“Kenapa kau teriak, sunbae? Tentu saja aku mengajakmu menyeberang. Ini sudah lampu merah yang ketiga, dan kita belum menyeberang jalan daritadi,” jawab Luhan, wajahnya kembali berubah polos.

Taeyeon melepas genggaman tangan Luhan, “tidak perlu menggenggam tanganku, aku bisa,”

Dan Taeyeon langsung melangkah cepat menyeberangi jalan, Luhan mengikuti di belakang.

Tepat saat itu, bus bernomor 06 lewat di hadapan Taeyeon. Taeyeon langsung menaikinya. Ia ingin cepat selamat di bus, sebelum Luhan melakukan hal yang ‘gila’ lagi.

“Hhh,” Taeyeon menghembuskan napasnya lega ketika ia sudah duduk di kursi bus. Ia memegangi dadanya ketika mengingat kejadian tadi. Ia benar-benar merasa bodoh karena diam saja ketika Luhan memandanginya dalam-dalam seperti itu.

“Annyeon, sunbae. Aku duduk di sini, ya” sapa seorang laki-laki yang suaranya dikenal Taeyeon.

“Hah?!” kaget Taeyeon.

Laki-laki itu, Luhan, tersenyum manis dan langsung duduk di samping Taeyeon tanpa ada persetujuan dari mulut Taeyeon.

“Ya, apa kau benar-benar seorang penguntit?” tanya Taeyeon.

“Sunbae, kau terlalu serius menanggapi omonganku tadi. Aku hoobae yang baik, tentu saja,” jawab Luhan. “Aaah, aku tahu. Kau tadi benar-benar berpikir aku akan mengganggumu, ‘kan? Hahahaha. Aku merasa tanganmu dingin. Bagaimana? Apa aktingku bagus? Aah, kau bahkan tidak mengedip ketika aku memandangmu. Wae? Terpesona, kah?”

Taeyeon langsung menginjak kuat-kuat kaki kiri Luhan.

“Aaaw,” ringis Luhan.

“Itu tidak lucu,” kata Taeyeon dan ia menolehkan kepalanya ke luar jendela, kesal.

Luhan hanya tertawa. Setelah itu, tidak ada perbincangan di antara mereka berdua sepanjang perjalanan. Taeyeon tetap menatap ke jalanan. Ia agak heran kenapa laki-laki ini tidak bicara lagi. Akhirnya Taeyeon menatap Luhan, yang ternyata tidur dengan damai sambil melipat kedua lengannya di dada.

Taeyeon memerhatikan wajah Luhan. “Kau seperti bayi jika tidur,” dan Taeyeon ingat nama Luhan jika diartikan adalah rusa. “Sepeti Milu (bayi rusa)”

Dan akhirnya Taeyeon pun ikut tertidur dengan kepala menyender di jendela bus.

Semenit kemudian, bus berhenti. Luhan terbangun. Ia agak kaget karena sudah kelewatan 2 halte menuju rumahnya.

“Aigoo, ahjussi sebentar!” seru Luhan. Ia menatap Taeyeon di sampingnya yang masih tertidur nyenyak. Luhan tahu rumah Taeyeon masih melewati satu halte lagi. Dan Luhan melepas jaket yang dikenakannya dan menyelimuti tubuh Taeyeon dengan hati-hati. Setelah itu ia keluar dari bus.

 

~That Boy~

 

Taeyeon celingak-celinguk menatap kelas yang sedang ribut sekali karena tidak ada guru di kelas itu. Kelas itu sangat berantakan dan murid-muridnya berkeliaran dan berkejaran ke sana kemari sepanjang kelas.

“Hhhh… waktu kelas satu kelasku tidak seperti ini,” ucap Taeyeon. Ia melihat seseorang yang ia cari-cari. Orang itu sedang tertawa di bangkunya bersama Sehun, Xiumin, Kai, Lay, dan Suho.

“Sunbae mencari siapa?” tanya Chen yang sudah berdiri di hadapan Taeyeon. Padahal tadi ia main lari-larian bersama Baekhyun, Chanyeol, dan Tao

“Oh, aah itu… aku mencari Luhan,” jawab Taeyeon pelan. Entah kenapa ia merasa malu.

“Eoh? Luhan? Kenapa? Tidak mencari Baekhyun?” tanya Chen.

“Untuk apa aku mencarinya?” Taeyeon balik tanya.

Chen hanya mengangkat bahu dan ia membalikkan badannya, mencari Luhan.

“Luhan! Taeyeon sunbae mencarimu!” teriak Chen.

Suasana kelas berubah hening. Tao dan Baekhyun yang sedang saling memiting mendadak diam, begitu juga Chanyeol. Satu kelas menatap ke arah Taeyeon dan Luhan secara bergantian. Tentu saja auranya berubah seperti ini. Di kelas itu kebanyakan laki-laki dan rata-rata menyukai Taeyeon. Yang perempuan, pun sebagian menyukai Luhan.

“Aah, aku ada perlu sebentar,” kata Taeyeon ketika Luhan mendekati Taeyeon.

Taeyeon langsung menarik lengan Luhan keluar kelas, membuat sebagian muridnya ber-‘ooh’ ria.

“Ada apa, ya? Taeyeon sunbae tidak biasanya ada perlu seperti itu pada hoobae-nya sampai-sampai datang ke sini,” tanya Xiumin heran.

“Ada apa? Sunbae membuat kelas kami jadi membeku,” ucap Luhan sambil tersenyum.

“Aku tidak pernah punya keperluan sampai-sampai datang ke kelas kalian seperti ini,” jawab Taeyeon cepat.

“Aaahh, kau juga punya banyak fanboys di kelasku,” sambung Luhan.

Taeyeon diam saja. Ia hanya menyerahkan jaket Luhan yang terlipat rapi. Jaket yang kemarin malam dipakaikannya ke Taeyeon.

“Gomawo,” kata Taeyeon singkat. “Tapi kau membuatku terkejut sekali. Tiba-tiba menghilang dan tiba-tiba jaket ini sudah ada di tubuhku,”

“Aku tidak melakukan apa-apa selama kau tidur,” ucap Luhan.

“Aissh, aku tidak berpikiran seperti itu. ByunHan,” kata Taeyeon kesal.

Luhan tertawa, “apa itu nama panggilanku sekarang?”

“Sudahlah, masih banyak yang harus kulakukan,” kata Taeyeon ketika ia melihat pohon rindang yang tak jauh dari situ bergerak tertiup angin. Daun-daunnya berhamburan kesana-kemari.

Luhan mengangguk dan Taeyeon langsung melesat pergi. Luhan tahu kemana Taeyeon pergi. Kebetulan sekali ia membawa kamera sekarang. Sebelum masuk kelas, Luhan mencium jaketnya dan ia dapat mengenali wangi ini. Wangi yang tercium dari tubuh Taeyeon. Wangi parfum apel yang segar. Wangi yang sekarang ini menjadi wangi favorit Luhan.

Setelah pergi dari kelas Luhan, Taeyeon menatap arlojinya dan ia tahu, jam pelajaran sekarang sedang kosong. Melihat pohon rindang tadi yang berguguran, Taeyeon cepat-cepat melangkahkan kakinya menuju halaman belakang sekolah, menuju pohon sakura. Ia yakin sekali, pohon sakura sekarang ini kelihatan cantik.

Sesampainya disana, Taeyeon tersenyum sangat senang. Benar, bunga sakura berterbangan kesana-kemari tertiup angin. Taeyeon duduk di bangku di bawah pohon itu dan menikmati hujan bunga sakura di atasnya. Perlahan ia memejamkan matanya dan ia dapat merasakan kehadiran seseorang yang selama ini sangat dirindukannya, seseorang yang juga menyukai indahnya pohon sakura.

(OST. Taeyeon feat Sunny – It’s Love)

KLIK! KLIK!

Taeyeon kaget mendengar ada suara kamera di sekitarnya dan ia melihat Luhan berada di dekat pohon sakura dan sedang memotret dirinya.

KLIK!

Luhan memeriksa hasil jepretannya dan tersenyum senang.

“Ya! Apa yang sedang kau lakukan sekarang?” seru Taeyeon. Ia menghampiri Luhan dan berusaha merebut kameranya. Tapi Luhan lebih cepat.

“Aku sedang memotretmu,” jawab Luhan dengan wajah imut.

“Aku benar-benar akan menganggapmu berbahaya jika kau lakukan itu sekali lagi, kau mengerti?”

“Sunbae, aku bukanlah orang yang jahat. Aku hanya ingin memotretmu,”

“Untuk apa?” cecar Taeyeon.

“Apakah aku harus menjawabnya?” Luhan balik tanya.

“Jangan mempermainkanku,” kata Taeyeon dingin. “Aku tidak akan memercayaimu selamanya jika kau tidak mengatakan yang sebenarnya untuk apa kau memotretku,”

Luhan menghembuskan napasnya dan menatap Taeyeon dalam-dalam, kali ini raut wajahnya sangat serius. Tapi Taeyeon berusaha untuk tidak terhipnotis lagi. Ia menatap Luhan dengan pandangan tajam. Karena jujur, ia merasa terganggu dengan adanya seseorang yang memotretnya tanpa meminta persetujuannya.

“Karena aku menyukai hujan bunga sakura, sama sepertimu. Itu sangat cantik. Dan aku lebih menyukainya lagi ketika melihatmu berada di sana. Ketika melihatmu dengan nyamannya bermandikan bunga sakura. Itu sangat membuatku terpesona,” jelas Luhan.

Taeyeon terdiam mendengar penjelasan Luhan. Suara Luhan yang lembut dan kata-katanya membuat Taeyeon tertusuk.

Tolong jangan melanjutkan kata-katamu, batin Taeyeon dalam hati.

“Kau sangat cantik,”

Dibawah siraman hujan pohon sakura, dibawah teduhan langit biru cerah, Taeyeon dapat mendengar dengan jelas perkataan Luhan.

(TBC’s song    : EXO – Don’t Go)

 

 

TBC~

Yayayayay, feel-nya dapet, nggaaakk? Aneh, yaa ceritanyaa.hahahhahaha

Susah payah dapet mood untuk buat FF ini hehehehee..

Untuk NICE readers, PASTI bakal comment, istilahnya take and give gituu..

Untuk SILENT readers, jangan buka FF ini, yaaa^^ haram, looh^^

Kkkkk~

Kritik dan saran, saya terima :p

Advertisements

12 thoughts on “[Freelance] That Boy (Heart Attack) (Part 1)

  1. AIGOO FEEL NYA DAPET BANGET. APALAGI SAMBIL DENGERIN HEART ATTACK. ADUH BANGET DEH INI FF. AKU MUPENG IH ;A; KEREN THOR SERIUS DEH. LANJUT YA LANJUT. DONT GO LAGU FAV AKU LOH ;A;

  2. Huaaa bagus banget T.T
    Feelnya dpet banget eon. Serasa adem gitu jadinya pas baca 😀
    Entah knp lgi demen ama cast LuTae. Gara2 cerita my princess, kim taeyeon buatan eonni.. :’D
    Btw lanjutin cerita my princess kim taeyeonnya dong eon… bagus banget lho 😢
    Fighting eon!!

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s