[Freelance] Tales of the 9 Death Angel (YulKai Part)

artposter_talesofthe9deathangel3

Author             :  _agrn

Main Cast        : Yuri and Kai

Other Cast       : Sooyoung, Baekhyun, Taeyeon, Krystal f(x)

Genre              : Romance, Fantasy, Family, Sad

Rate                 : PG 15

Length             : Multichapter

A/N                 : Sorry for the late update guys -.- akhir akhir ini semangatku buat nulis ff memudar entah kemana. Inspirasiku ngilang. Ideku juga nguap. Dan otakku macet — #apaini bahkan pernah ada pemikiran buat kabur dan ga nulis ff lagi #aaaaa anyway, aku harap kalian suka dengan chapter ini—DON’T LIKE DON’T READ dan RCL yo

oOoOoOo

Tepuk tangan yang sungguh meriah dari para penonton terdengar. Hal yang wajar, mengingat mereka baru saja menyaksikan pertunjukan yang sungguh indah.

Salah satu dari duo penari yang dielu-elukan namanya itu terlihat turun dari pentas menuju belakang panggung. Tanpa memperdulikan orang lain (termasuk manager dan partnernya) ia masuk kedalam ruang make up. Ia mengunci pintu tersebut dan duduk di sofa yang tersedia disana (Ya,Ia tidak peduli dengan mereka berdua)

Tatapannya yang terlihat hangat di panggung tadi hilang sudah, digantikan oleh tatapan mata yang tajam, menusuk dan dingin. Yeoja cantik itu mengambil sebotol air dan meminumnya sedikit demi sedikit.

Pikirannya melayang ke masa lalu. Ruangan ini… studio ini… dan tanggal ini. Persis sama dengan kejadian di masa lalu itu. Kejadian yang membuatnya menyesal, sekaligus bersyukur.

Yeoja itu bangkit dari duduknya dan menggeser sebuah sofa di sudut ruangan. Tangannya menyentuh lantai yang dingin itu. Tangannya bergerak pula menyentuh sudut dari ruangan tersebut. Ia menghela nafas ketika melihat sebuah noda. Sebuah noda yang tidak hilang meski telah 2 tahun berlalu. Noda kecil yang membuat perasaan bersalah itu kembali hadir. Noda kecil yang membuatnya serasa menjadi orang paling kejam didunia.

“Yoona…”gumamnya kecil. Kini ditengah-tengah ketajaman pandangan matanya, terlihat kesedihan pula.

Ketukan pintu terdengar. Raut wajah itu kembali menjadi dingin dan pancaran kesedihan itu pudar. Yeoja itu menggeser kembali sofa itu, lalu membuka pintu tersebut. Sesuai dengan perkiraannya, partnernya-lah yang datang.

“E..Eonni.. A..Aku..”

“Apa?”Ucapan seorang Jung Krystal terpotong begitu saja saat yeoja itu membuka mulutnya. Ia menatap tajam pada Krystal, membuat yang ditatap menelan saliva-nya dengan susah payah. Bisa dibilang mereka bukanlah partner yang cocok. Mereka terlalu bertolak belakang. Di panggung, Krystal terlihat dingin, sedangkan di belakang panggung, ia tak lebih dari seorang yang amatir dan penakut.

“Yuri Eonni, j..jangan menatapku begitu. A..aku…”

“Ini mataku. Terserah padaku ingin menatapmu dengan cara apa.”jawab sang Kwon Yuri. “Apa yang ingin kau katakan?”

Krystal kembali menelan saliva-nya. “A..Aku hanya ingin mengajak Eonni makan siang bersama..”

Yuri menghela nafas kasar lalu mengambil tasnya dan berjalan keluar. “Jangan pernah menemuiku hanya untuk hal bodoh seperti itu.”

Yuri tidak melihat wajah Krystal yang memerah karena menahan marah dan malu. Tangan yeoja itu mengepal dan ia menggigiti bibir bawahnya karena kesal.

“Kwon Yuri…”desisnya pelan.

oOoOoOo

“Noona”

Seorang namja berkulit gelap memasuki sebuah ruangan serba putih. Ruangan itu bukanlah sebuah ruangan di rumah sakit, melainkan sebuah ruang praktek. Bukan pula ruang praktek di rumah sakit, namun ruang praktek sihir, milik seorang malaikat kematian bernama Choi Sooyoung.

“Apa?”jawab orang yang dipanggil Noona tadi.

“Kau masih sibuk dengan penelitianmu?”

“Tanpa kujawab juga kau sudah tahu, Kim Jong In”jawab Sooyoung tanpa melihat namja bernama Kim Jongin a.k.a Kai itu. Ia masih sibuk dengan berbagai cairan aneh dihadapannya.

“Jangan panggil aku dengan nama itu”sahut Kai.

Kali ini Sooyoung sama sekali tidak menyahut. Kai yang melihatnya pun hanya bisa menghela nafas. Sahabatnya yang satu ini benar-benar seperti kehilangan jiwanya (walau sebenarnya ia memang sudah tidak memiliki jiwa) Sejak Kim Hyoyeon, salah satu sahabat Kai dan Sooyoung dihukum berat karena kesalahannya, dan sejak Lee Sunny, kakak angkat Kai diturunkan pangkatnya karena kesalahan yang sama, Sooyoung berubah drastis.

Choi Sooyoung memang terkadang terlihat tegas dan serius. Namun dihadapan sahabat-sahabatnya, ia akan menjadi orang yang periang dan menyenangkan. Dan sekarang ia bersikap dingin, bahkan didepan Kim Jong In yang merupakan sahabatnya.

“Dengar, aku tahu kau sedih dan malaikat jarang sekali merasa lelah. Tapi kau sudah bekerja disana sejak lama. Mungkin sudah 1 bulan berlalu. Apa kau tidak merasa risih atau bagaimana? Pakaianmu saja sudah lusuh, rambutmu berantakan Ck. Kau ini tinggi lalu kurus, ditambah dengan penampilanmu yang sekarang kau tambah terlihat seperti gelandangan”komentar Kai panjang lebar. Ya, Kai memang terlihat dingin, namun ia akan berbeda jika itu menyangkut temannya.

Sooyoung menghela nafas lalu melepaskan kacamatanya. Ia melepas jas sterilnya dan berjalan kearah Kai. Tanpa aba-aba, ia segera menjewer Kai. “Gelandangan?! Siapa yang gelandangan Kim Jong In!??”

“A..Aniya! tidak ada! Tidak ada yang mirip gelandangan! Tidak ada!”jawab Kai. Dari rautnya saja, ia sudah terlihat kesakitan.

Sooyoung tersenyum lalu melepas jewerannya. Kakinya membawanya lebih dekat dengan cermin. Ia menatap pantulan dirinya dan menghela nafas lagi. “Ya, kau benar sih. Aku memang berantakan.”

Kai mengangguk-angguk. “Ah, aku harus pergi, Noona. Aku lupa kalau aku ada tugas.”

“Jinjjayo? Kali ini berapa hari? Siapa?”tanya Sooyoung penasaran.

“Kenapa kau penasaran sekali Noona?”

Sooyoung diam sejenak lalu menjawab “Tidak apa-apa. Aku hanya ingin tahu. habis, aku jarang diberi tugas seperti itu. Yang kulakukan hanya meneliti untuk para tetua dan menyembuhkan malaikat-malaikat yang bernasib sama seperti Hyoyeon”

Kai menatap Sooyoung. Sooyoung terlihat diam setelah menyebutkan kalimat terakhirnya. Dimata yeoja itu, terlihat sebuah pancaran kesepian“7 Hari. Yeoja bernama Kwon Yuri.”ucap Kai akhirnya.

“Kenapa tidak kau tolak saja?”celetuk Sooyoung.

Kai terdiam sejenak. Ia mengerti akan perasaan Sooyoung. “Jangan berpikir yang tidak-tidak Noona”

Sooyoung menatap Kai sejenak lalu mengangguk pertanda mengerti. “Kai”panggilnya saat Kai bersiap terbang menjauh. “Jangan… melanggar peraturan malaikat maut.”

Kai mengangguk pasti lalu pergi. Ia jelas tidak mengetahui isi hati Sooyoung yang sebenarnya. Sooyoung tidak mau Kai melanggar pelanggaran itu tidak hanya karena tidak menginginkan Kai dihukum, melainkan ia tidak mau Kai mencintai yeoja itu.

Ya.

Choi Sooyoung… mencintai seorang Kim Jong In.

oOoOoOo

Yuri sedang berdiri diatap gedung siaran tersebut. Sebenarnya suasana disana cukup mengerikan. Gedung pencakar langit dengan atap tanpa kawat dan Yuri berada diujung atap tersebut. Sedikit bergerak saja ia pasti sudah terjatuh.

Namun, di wajah cantiknya tidak terlihat rasa takut sedikitpun. Ia bahkan sudah sering ingin menjatuhkan dirinya. namun tidak bisa. Setiap kali ia ingin melakukannya, selalu saja ada yang menghalanginya.

“Kwon Yuri”

Yuri tersentak. Ia mundur ke belakang. Matanya membelalak menatap makhluk yang ada didepannya. Ayolah, Yuri adalah orang yang realistis. Ia tidak percaya dengan yang namanya malaikat, setan, hantu atau semacamnya. Tapi… apa yang ada didepannya saat ini?!

Kulit kecoklatan… mata yang tajam… raut wajah yang dingin… tubuh proporsional… belum lagi sayap hitam kelam yang ada dipunggunya. Ah, dan dia melayang. Yuri menghela nafas dan mencoba tenang, dan meredakan gemuruh jantungnya.

“Oke… kau… ini apa?”

“Malaikat maut. Kai. Kau Kwon Yuri bukan? Waktumu tinggal 7 hari lagi. 7 hari lagi kau akan mati karena dibunuh. Selama 7 hari itu, aku akan mengabulkan 3 permintaan terakhirmu”jawab Kai.

Yuri mengerti dengan semua yang Kai katakan dan dia tidak mempermasalahkannya, kecuali… dibunuh. Ya. Dia tahu dia adalah orang yang menyebalkan dan banyak orang yang telah ia buat kesal. Namun ia tidak tahu jika ada yang mungkin dendam padanya dan mau saja membunuhnya. Tapi siapa…? Manager? Produser? Ah… atau mungkin Jung Krystal? Tapi sepertinya pilihan terakhir lumayan tepat. Feeling Yuri tidak pernah meleset.

“Kau mengerti?”

Yuri kembali menatap wajah Kai. Dan untuk pertama kalinya di dunia ini… dia merasa wajahnya memanas, jantungnya berdegup dengan sangat cepat dan matanya tidak bisa lepas dari seorang malaikat didepannya.

Sadar bahwa ia sudah terlalu lama diam, akhirnya Yuri mengalihkan pandangannya dan berdehem pelan. “Y…Ya. Aku mengerti”

“Baguslah. Jika kau membutuhkanku panggil saja namaku”

Baru saja Kai akan pergi, Yuri menyela “Tunggu, namamu.. siapa namamu?”

Kai menoleh pelan kearah Yuri dan menjawab “Kai”

oOoOoOo

“Yuri-ssi!”

Yuri menoleh pada sang Sutradara. “Kau ini kenapa?! Tak biasanya kau melakukan kesalahan sehingga harus retake lebih dari 5 kali!”

“Jheosonghamnida…”ucap Yuri.

“Sudahlah! Istirahat!!”

Yuri menghela nafas. Ia tidak pernah melakukan banyak kesalahan saat berakting… paling tidak selama 2 tahun ini. Tapi kali ini ia melakukan banyak kesalahan. Tentu saja! Siapa yang tidak akan gugup atau risih saat tepat dibelakangmu, ada seorang makhluk aneh yang menatapmu tajam?! Jelas saja Yuri tidak bisa berkonsentrasi.

Yuri berjalan dengan kesal ke mobilnya. Ia membanting pintu mobilnya dan duduk dikursi penumpang depan. Ia menghela nafas. “Bisakah kau berhenti menatapku dan mengikutiku?”tanyanya pada makhluk aneh yang tiba-tiba saja sudah ada disampingnya

“Tidak bisa”jawab Kai tanpa menatap Yuri.

“Paling tidak kau menatapku tanpa berada didekatku, itu saja. Bisa tidak?”Yuri kembali bertanya. “Kalau kau begini terus, aku tidak akan bisa konsentrasi dan pekerjaanku akan berantakan!”

Kini Kai menatap Yuri dengan pandangan yang sedikit tajam, hingga Yuri terlihat menahan nafasnya. Yuri harus mengakuinya, setiap Kai menatapnya,jantungnya berdegup dua kali lebih cepat. Belum lagi wajahnya yang merah merona. Yuri tahu… sepertinya dia telah jatuh cinta pada pandangan pertama dengan malaikat mautnya.

“Itu tugasku. Aku harus berada disisimu. Toh, tidak ada yang bisa melihatku”ujar Kai.

Tiba-tiba sebuah ide terlintas di pikiran Yuri. Memang ide yang bisa dibilang aneh, tapi… bukankah ini salah satu permintaan terakhirnya?

“Kau bilang aku boleh meminta apapun bukan?”tanya Yuri.

Kai mengangguk sebagai jawaban. “Apa permintaanmu?”

“Jadilah partner kerjaku.”

Kai menatap Yuri dengan pandangan bingung. “Apa maksudmu?”

“Ya, permintaanku, kau, jadilah partnerku. Jadi aktor, gantika lawan mainku disini. Dengan sihir atau semacamnya, kau pasti bisa bukan?”

Kai menghela nafas. Yeoja didepannya benar-benar merepotkan. Walau harus ia akui, yeoja ini benar-benar seorang gadis yang hebat dan menarik, tapi tetap saja, Kai benci dengan wanita yang merepotkan.

“Kau tunggu saja sampai besok, dan semuanya akan menjadi seperti yang kau inginkan”ujar Kai pada akhirnya.

Yuri tersenyum tipis dan mengangguk. “Baiklah.”

Kai mengeluarkan sayapnya dan bersiap pergi (tentu tanpa membuka pintu mobil) ketika Yuri kembali angkat bicara. “Tunggu, kau mau kemana?”

Kai menoleh. “Bukan urusanmu”

Yuri menghela nafas. Namja itu benar-benar berbeda dari namja-namja yang ia temui selama ini. Selama ini para namja selalu mendekatinya. Berusaha mencuri hatinya. Semuanya bertingkah manis dan baik didepannya. Namun berbeda dengan Kai. Namja itu tidak memperdulikan dirinya. Kalau bukan karena keharusannya, Kai tidak akan mendekatinya. Namja itu sungguhlah dingin. Apa mungkin karena dia malaikat?

Yuri menghela nafasnya perlahan. Sebelah tangannya menyentuh dada bagian kirinya, merasakan degup jantungnya yang semakin cepat saja. “Aku… mungkin telah benar-benar jatuh cinta padamu… Kai”

oOoOoOo

“Kai”

Sooyoung berbalik dan mendapati Kai yang sedang tertidur di tempat tidur lab-nya. Yeoja itu mengguncang bahu Kai pelan, berharap namja itu akan terbangun. Tapi itu sia-sia. Kai memanglah sulit dibangunkan jika sudah tidur.

“Kim Jong In! Kai!!”kali ini Sooyoung berteriak ditelinga Kai. Namun namja itu tetap tidak bergeming. Sooyoung menghela nafasnya. Cara yang normal sudah tidak mempan. Mungkin ia harus mengancam namja itu.

“Kai, bangunlah atau kau akan kujadikan kelinci percobaanku”

Seketika Kai terbangun dari tidurnya dan merubah posisinya menjadi duduk. “Ya! Choi Sooyoung!”serunya ketika melihat Sooyoung yang tertawa-tawa.

“Hahaha, ternyata memang harus diancam dulu ya…”ucap Sooyoung lalu kembali menyibukkan diri dengan salah satu percobaannya. “Tumben kau pulang disela-sela misimu Kai. Biasanya kau tidak akan pulang meskipun Sunny menyuruhmu”

“Maksudmu aku tidak boleh pulang?”tanya Kai.

“Bukan itu maksudku… aku hanya bertanya dan mengatakan kebenarannya”jawab Sooyoung tanpa menatap Kai.

Suasana hening untuk sementara, sampai Kai membuka suara “Aku… diminta untuk menjadi manusia”

Gelas ukur yang sedang Sooyoung pegang mungkin akan pecah karena terjatuh jika ia tidak segera menguasai dirinya kembali. Ia sempat kaget, bukan, shock malah, ketika Kai menyebutkan kata-kata itu. “Manusia?”tanya Sooyoung. Kini ia menatap Kai. Ada ketakutan besar dalam dirinya. Takut kalau Kai akan pergi darinya, sama seperti Sunny dan Hyoyeon. Bukankah ini seperti de javu? Diminta menjadi manusia,menjalani hari bersama-sama lalu akhirnya mereka saling jatuh cinta, lalu pergi meninggalkan Sooyoung.

“Ya”jawab Kai singkat. Namja itu menatap Sooyoung yang sedang menggigit bibir bawahnya. Kai bisa melihat bahwa tubuh Sooyoung bergetar. Kai tahu Sooyoung takut. Namja itu berdiri, mendekati Sooyoung lalu memeluk tubuh yeoja yang sudah ia anggap seperti kakaknya sendiri.

“Aku… tidak akan menjadi seperti Sunny Noona dan Hyoyeon Noona… Aku tidak akan melanggar peraturan itu, Noona”

Sooyoung menghela nafasnya lagi. tangannya bergerak untuk membalas pelukan Kai. “Berjanjilah… kau tidak akan meninggalkanku”

Kai mengangguk kecil. “Aku berjanji, Noona”

oOoOoOo

Yuri membelalak kaget begitu melihat sosok yang ada didepannya saat ini. Sosok namja yang tinggi tegap dan berkulit kecoklatan. Pandangan matanya yang lurus dan tajam menambah kesan dingin padanya. “Kai…”gumamnya.

Kai menatapnya singkat. “Tersisa 2 permintaan”

Yuri berjalan mendekati Kai lalu berbisik pelan “Bagaimana dengan lawan mainku yang sebenarnya? Bagaimana dengan orang lain? Apa mereka mengenalmu?”

“Aku yang sekarang hanyalah pemeran cadangan yang diangkat menjadi pemeran utama. Partnermu yang sebenarnya kubuat sakit secara mendadak”jawab Kai acuh tak acuh.

“Sihir memang hebat bukan? Kurasa jadi malaikat itu enak”gumam Yuri kecil. kagum.

“Kau mau membunuh orang selama waktu abadimu?”

Yuri menghela nafas. Lalu senyum kecut terpasang diwajahnya “Kalau sudah membunuh satu… membunuh 100 orang pun mungkin tak akan jadi masalah lagi”

Kai menatap punggung Yuri yang menjauh. Terbesit satu pertanyaan didalam hatinya, “Apa yeoja itu sudah pernah membunuh?”

Namun sedetik kemudian, Kai menggelengkan kepalanya pelan. Itu bukan urusannya. Mau dia sudah membunuh atau tidak pernah melakukannya, itu bukan urusannya. Yang harus ia lakukan sekarang hanyalah memenuhi keinginan yeoja itu, mengawasinya lalu mencabut nyawanya.

Tak terasa, waktu pun berlalu dengan cepat. Waktu istirahat pun tiba. Yuri yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya segera berlari menuju mobilnya, tempat istirahat kesukaannya. Dan Sesuai dengan dugaannya, Kai juga ada didalam mobil itu. masih dalam wujud manusianya.

“Kau tidak merubah wujudmu?”tanya Yuri begitu telah duduk dikursi penumpang depan.

“Tidak. Permintaanmu adalah agar aku berubah menjadi partnermu a.k.a manusia bukan? Maka sampai kau mati, aku akan tetap jadi manusia”jawab Kai tanpa menatap Yuri.

Yuri mengangguk-angguk. Lalu meraih ponselnya, memasangkan earphone dan mendengarkan musik kesukaannya. Yuri terlihat mengacuhkan Kai, namun sebenarnya, ia hanya berusaha tidak terlihat peduli pada Kai. Jantungnya bahkan sudah berdetak dua kali lebih cepat.

Suasana hening diantara keduanya menghilang ketika salah satu dari kedua perut mereka bersuara, menandakan bahwa salah seorang dari mereka lapar.

Tawa kecil keluar dari mulut Yuri. Ia melepas earphone-nya dan menatap Kai yang sedang mengalihkan wajahnya, berusaha agar Yuri tidak melihat rona merah diwajahnya.

“Kau lapar?”tanya Yuri. Kai tidak menjawab. Namun Yuri tahu kalau Kai memang lapar. “Ternyata malaikat bisa lapar juga ya”

“Itu karena aku sekarang berwujud manusia. Manusia merasa lapar bukan?”sergah Kai masih menahan rasa malunya.

“Ah, jadi karena itu… aku jadi lumayan tertarik dengan malaikat… kau mau menjelaskan beberapa padaku?”

“Kalau itu permintaanmu, aku akan menjelaskannya”

“Baiklah, kabulkan permintaanku yang satu itu”

Kai menatap Yuri dengan pandangan heran serta kaget. Bagaimana mungkin yeoja itu bisa semudah itu menggunakan 3 permintaan terakhirnya? Kenapa yeoja itu tidak berpikir dulu? “Kalau aku mengambulkannya permintaanmu hanya tersisa satu”

“Ya, tidak masalah. Toh, aku akan mati 5 hari lagi.”Yuri tersenyum kecil. “Baiklah, ayo kita makan di café dekat sini. Kau bisa menyetir?”

“Aku bahkan tidak tahu apa nama benda ini”

Yuri kembali tertawa. “Baiklah, ayo bertukar posisi, biar aku yang menyetir”

oOoOoOo

Suasana kembali hening saat mereka berdua menyantap makan siangnya. Kai yang memang tidak ingin banyak bicara, sedangkan Yuri yang masih bingung bagaimana ia harus memulai percakapan.

“Apa… nama makanan ini?”tanya Kai tiba-tiba.

“Itu? Itu spaghetti. Kenapa? Apa itu tidak enak?”

Kai terdiam sejenak lalu berkata “Ini… sangat enak”

Yuri tersenyum. Ia menangkap senyum tipis yang Kai tunjukkan tadi. “Apa disana tidak ada spaghetti?”

“Tidak ada, toh kami jarang sekali merasakan lapar. Sangat-sangat jarang”

“Makanya jika kalian sudah menjadi manusia, kalian akan mudah lapar karena jarang makan, begitu?” Kai mengangguk singkat.

“Pantas saja, kau makan seperti anak kecil. Rakus sekali… memangnya kau selapar itu?”

“Aku tidak lapar”respon Kai, terlihat menyembunyikan rasa malunya.

“Kalau kau tidak lapar, kau tidak akan makan dengan rakus sampai belepotan begitu”balas Yuri. Tangannya bergerak mengambil tisu lalu mengelap area bibir Kai yang terkena saus. “Nah, kalau bersih begini kau terlihat tampan, bukan?”

Yuri mengulas senyum tulusnya. Senyum cantik nan tulus yang sudah sangat jarang ia tunjukkan. Senyum yang selalu tersembunyi dibalik seringaian dan topengnya.

Kai merasa ada sesuatu yang aneh dalam dirinya. dia merasa… kaget dan senang disaat yang bersamaan. Didalam perutnya… juga terasa aneh. Seperti… ada kupu-kupu yang berterbangan didalam sana. Begitu sadar dari lamunannya, Kai segera mengalihkan pandangannya. Pipinya memerah dan terasa panas. Kai tidak pernah merasakan ini sebelumnya. Sama sekali tidak pernah…

“Baiklah… ada yang sebenarnya sangat membuatku penasaran. Ini sering muncul dibuku-buku dan aku ingin menanyakan kebenarannya…”ujar Yuri. Kai menoleh dan memasang tampang ‘cepat katakan’

“Apa para malaikat memiliki kasta?”

Mata Kai membelalak. Kalau dia boleh jujur, ini adalah pertanyaan yang cukup mengena di hatinya. Kasta… ia jadi mengingat Sunny. Lee Sunny, Kakak angkatnya. Salah satu malaikat yang cukup dihormati…Malaikat yang mengangkatnya dari kasta paling bawah hingga menjadi malaikat kasta menengah yang cukup disegani…

“Kai?”

Kai tersadar dari lamunannya dan mendapati wajah Yuri yang begitu dekat dengan wajahnya. Sontak ia memundurkan wajahnya dan rona merah kembali menghiasi wajahnya.

“Kai, kau tidak apa-apa?”tanya Yuri lagi. Ia duduk kembali ke kursinya namun tetap menatap Kai dengan pandangan cemas. “Kau tidak perlu menjawab pertanyaanku kalau…”

“Aku akan menjawabnya”potong Kai tegas. Ini tugasnya. Ia tidak boleh mengabaikan tugasnya hanya karena masalah pribadi. Namun… batinnya menolak. Batinnya menolak membicarakan hal itu sekarang.

Seakan mengerti apa yang sedang Kai rasakan, Yuri menyahut “Kau bisa menjawabnya lain waktu…”

Kai tersenyum tipis dan menatap Yuri dengan tatapan lembutnya. “Terimakasih…”

Pada awalnya… Kai merasa tertarik dengan pribadi Yuri.. dan sekarang, ia mungkin mulai menganguminya. Pribadi Yuri unik, dan sulit ditebak. Terkadang yeoja itu adalah yeoja dingin dan angkuh, namun dilain waktu menjadi pribadi yang menyenangkan. Yeoja itu juga… orang keempat yang dapat mengerti dirinya. Yeoja itu memahaminya. Dan tidak memaksanya, walau sebenarnya ia punya hak untuk memaksanya.

“Cheonma. Sebaiknya kita kembali. Kajja, Kai-ssi”

oOoOoOo

“Cut!”

Yuri dan Kai menghentikan akting mereka dan menatap sutradara mereka. Sang sutrdara mengacungkan jempolnya, pertanda bahwa yang dilakukan Kai dan Yuri cukup bagus. “Hari ini sampai disini dulu”seru namja paruh baya itu.

“Kai…”Baru saja Yuri akan memanggil namja itu, Kai sudah pergi menjauh, membuat raut Yuri menjadi sedikit sedih.

Sejak saat itu… Kai terlihat menjauhi Yuri. Ia hanya akan berada didekat Yuri apabila sedang melakukan syuting, namun selain itu, ia akan berubah menjadi malaikat lagi dan mengawasi Yuri dari jauh.

Yuri menghela nafas. Mungkin pertanyaannya kemarinlah yang membuat Kai tidak nyaman. Tapi, bukankah ia sudah berusaha membuat Kai melupakannya? Ia sudah meminta Kai untuk tidak menceritakannya namun Kai masih bersikeras akan menceritakannya.

“Yuri Eonni”

Raut Yuri kembali berubah. Raut sedihnya berubah menjadi raut dinginnya. Ia kenal betul suara siapa itu. Ia berabalik dan menatap tajam pada Krystal. “Apa?”

“A..Aku hanya ingin menyampaikan bahwa setelah ini kita akan…”

“Pergi ke Music Bank? Aku sudah tahu, kau tidak perlu menyampaikan hal sepele seperti itu”Setelah berkata begitu, Yuri berjalan menjauh dari yeoja itu. Yuri tahu bahwa selama ini ia sudah keterlaluan. Ingin dia jadi lebih lembut pada Krystal. Bagaimana pun Krystal tidak bersalah. Namun… tubuhnya menolak. Batinnya pun terkadang ikut menolak.

Semua hanya karena yeoja itu begitu mirip dengan partnernya yang lama. Wajah yang terkadang terlihat begitu dingin… namun terkadang terlihat begitu ceria. Semua orang yang ada didekat mereka merasa nyaman dan mereka semua menyayangi mereka. Berbeda dengan Yuri. Mereka segan pada Yuri. Mereka terlalu menghormati Yuri… perlakuan mereka berbeda. Dan itu membuat Yuri membenci Krystal… sama seperti dia membenci yeoja itu.

Krystal mengepalkan kedua tangannya. Perasaan benci yang tadinya sempat ia pendam, kembali menguasai batinnya. “Kwon Yuri… kau akan membayar semuanya…”

oOoOoOo

“Yuri-ssi, Krystal-ssi, kalian hebat sekali!”puji seorang kru. Yuri memberikan senyum tipisnya dan berjalan menjauh, sementara Krystal langsung tersenyum senang dan balik memuji kru tersebut.

“Semakin lama, aku semakin merasa Krystal-ssi semakin berkembang”

Deg! Yuri mematung. Pembicaraan kedua orang kru dibelakangnya ia dengar dengan seksama.

“Ya, bahkan kurasa dia akan lebih baik dibanding Yuri-ssi”

“Aku setuju. Krystal-ssi… dia seperti reinkarnasi Yoona-ssi bukan?”

Sekali lagi, jantung Yuri berhenti sejenak. Nama itu kembali disebutkan. Yoona… Im Yoona… nama yang membuatnya langsung merasakan perasaan itu lagi. perasaan bersalah dan marah yang menyesakkan.

“Ya, sayang sekali… Yoona-ssi sudah tiada. Apalagi dia meninggal dengan keadaan yang aneh”

“Agensinya hanya mengatakan bahwa dia meninggal karena stress dan bunuh diri. Huh, padahal kenyataannya tidak”

“Ya, bunuh diri dengan memukulkan bir ke kepala? Terlalu unik menurutku. Lagi pula, setahuku, Yoona-ssi sangat menentang minuman keras.”

“Kurasa dia dibunuh…”

“Siapa yang mendendam padanya sampai tega membunuh yeoja baik-baik seperti Yoona?”

“Kurasa…”

Belum sempat kru itu melanjutkan kata-katanya, suara pecahan gelas yang dijatuhkan Yuri sudah menghentikan ucapannya.

“Yuri-ssi, gwenchanayo?”

Sang manager mendekat kearah Yuri. Yuri tersenyum tipis. “Aku tidak sengaja menjatuhkannya. Maafkan aku… kurasa aku kelelahan. Aku akan istirahat”

Yuri berjalan menjauh dari sana. Ia menggigit bibir bawahnya dengan perasaan yang benar-benar tertekan.  Tangannya mengepal dan air mata menggenang di pelupuk matanya. Dadanya sakit, ia juga sulit bernapas. Perasaan bersalah yang dulu menghantuinya kembali datang.

Kakinya membawa Yuri keatas atap. Dimana tidak akan ada orang yang mau kesana pada malam hari. Ia bisa sendiri, dan meluapkan emosinya. Yuri duduk di lantai atap yang dingin. Kakinya ditekuk dan dia menenggelamkan kepalanya diatas lututnya. Ia menangis dalam diam.

“Tenang Yuri… 5 hari lagi kau akan mati… kau akan meninggalkan semuanya…”batinnya, berusaha menenangkan dirinya sendiri.

Tiba-tiba saja, Kai sudah ada di hadapannya. Tetap dengan raut dinginnya, namja itu menatap Yuri. Perlahan-lahan, tubuhnya bergerak memeluk raga Yuri. Memeluk seorang yeoja yang sedang hancur.

“Menangislah. Jangan kau pendam sendiri.”Kata-kata itu lolos dari mulut Kai begitu saja. Ia tidak pernah berpikir untuk mengatakannya. Tubuhnya reflek melakukannya.

Yuri sendiri tidak bisa menahan diri untuk menangis. Tangannya bergerak membalas pelukan Kai, bahkan lebih erat. Ia menangis kencang, sesekali tangannya meremas kemeja Kai. Air matanya membasahi kemeja namja itu.

Sekitar 15 menit berlalu, Yuri melepas pelukannya. Kai pun bergerak duduk disebelah Yuri. Ia menatap raut wajah yeoja itu yang terlihat begitu lelah. Matanya masih terlihat sembab setelah menangis.

“Aku… adalah makhluk terjahat didunia…”ujar Yuri tiba-tiba.

“Aku membunuh temanku sendiri. Aku membunuhnya demi mendapat perhatian dari semua orang. Padahal dia tidak bersalah. Dia selalu tersenyum padaku. Dia menyemangatiku saat kami masih trainee. Dia selalu membantuku. Dia tidak pernah berperilaku atau berpikiran buruk tentangku tapi aku membunuhnya!!!”jelas Yuri. Air matanya kembali menetes.

Kai terdiam. Dia tidak bisa menenangkan orang yang bersedih, dan tidak bisa mengatakan kata-kata manis. “Malaikat… punya kasta masing-masing”

Entah kenapa, Kai memilih untuk menjawab pertanyaan Yuri. Yuri sendiri tidak keberatan. Menurutnya topik itu lebih baik dibanding dia terlalu mengingat masa lalunya.

“Kasta paling atas, adalah jiwa yang benar-benar ditakdirkan untuk menjadi malaikat maut. Malaikat maut murni. Mereka tidak akan mengambil nyawa-nyawa sepertiku. Mereka akan menjadwalkan kematian kalian, dan kebanyakan dari mereka akan menjadi tetua di alam sana”

“Yang kedua, adalah anak dari malaikat maut murni dan malaikat maut biasa. Mereka biasanya akan menjadi asisten dari para tetua. Jarang sekali mereka turun ke bumi untuk mengambil nyawa”

“Lalu… golongan menengah. Anak dari pasangan malaikat maut biasa. Merekalah yang sering turun untuk mengambil nyawa. Dan yang terakhir adalah malaikat buangan. Mereka adalah kumpulan malaikat yang telah melanggar aturan mereka biasanya hanya akan mengabarkan sesuatu pada manusia atau menjadi budak para malaikat lainnya”

Yuri diam mendengar penuturan panjang dari Kai. “Lalu… kau termasuk kasta mana, Kai?”

Kai diam sejenak. “Dulu… aku adalah malaikat buangan”

“Malaikat buangan? Kalau begitu, kenapa sekarang kau diberi tugas untuk mencabut nyawa?”

“Aku belum selesai bicara. Denganrkan dulu bodoh”ucap Kai seraya menoyor kepala Yuri. Yang ditoyor pun hanya bisa mencibir.

“Lalu, aku ditugaskan untuk jadi budak seorang malaikat kelas tinggi (dibawah malaikat murni) bernama Lee Sunny. Dia orang yang dingin namun baik hati. Ia sungguh baik padaku. Dia tidak menganggapku sebagai budak, namun menganggapku sebagai adiknya. Tak lama kemudian, dia mengangkatku sebagai adik angkatnya, hingga derajatku pun diangkat. Sekarang, aku setara dengan malaikat kelas menengah.”ujar Kai. Kemudian namja itu menatap Yuri dengan pandangan yang sulit diartikan. Pandangan yang lembut namun tercampur keraguan didalamnya.

“Aku harus berterimakasih pada Noona… karenanya, aku bisa menjadi malaikat kelas menengah dan bertemu denganmu, Kwon Yuri”

Yuri sedikit tersentak dengan kelakuan Kai yang tiba-tiba. Matanya sedikit membelalak dan pipinya langsung bersemu merah. “A..Apa maksudmu?”

Kai menghela nafas. Senyum tipis terlihat di wajah tampannya. Kini namja itu menatap lurus ke depan. “Aku… tertarik padamu. Ya. Aku tertarik”Kai kembali menatap Yuri. Senyum tipis yang lebih terlihat seperti smirk itu kembali ia tunjukkan.

Yuri tersenyum kecil. semburat merah itu terlihat semakin jelas. Dia merasa bahagia. Bahagia karena orang yang ia cintai sepertinya juga membalas perasaannya. “Kuharap…”

“Kim Jong In”

Perkataan Yuri terpotong dengan hadirnya seorang yeoja dihadapan mereka. Yeoja tinggi yang tiba-tiba datang itu memanggil seseorang yang sepertinya adalah Kai. Terbukti dari Kai yang segera berdiri dengan raut kaget.

“Sooyoung Noona… kenapa Noona disini? Apalagi dengan wujud manusia.”tanya Kai.

“Untuk memperingatimu Kim Jong In.”ujar Sooyoung tegas. “Apa kau lupa dengan peraturan kita?! Apa aku perlu menekankannya sekali lagi?!”

“Bukan begitu Noona, aku tidak lupa.. hanya saja…”

“Hanya saja apa, Kim Jong In?!!”Kali ini Sooyoung berteriak. “Aku tidak tahu apa yang ada di kepalamu, tapi… kumohon ingatlah akan peraturan dan akibatnya Kai…”

Sooyoung menatap Yuri dengan pandangan tajam dan menusuk,lalu merubah wujudnya menjadi malaikat. “Ini salah satu peringatan untukmu juga, Kwon Yuri…”Itu yang diucapkan Sooyoung sebelum ia menghilang.

Suasana kembali hening. Yuri menatap Kai dengan pandagan bingung, sedih,khawatir dan takut. “Siapa… dia?”

Kai menghela nafas. Ia tidak menyangka Sooyoung akan datang dan mengatakan hal itu padanya. Didepan Yuri, dengan wujud manusia pula. Kai jelas tahu yeoja itu serius. Terlihat dari sorot matanya yang tajam dan ketegasan dalam setiap ucapannya. Kai juga tahu perasaannya ini salah. Sungguh salah. Namun… Kai tidak bisa menampik perasaan ini lagi. Ia memiliki perasaan khusus pada Yuri. “Aku akan menyusulnya.”ucapnya kecil lalu membentangkan sayapnya, bersiap pergi. Tepat ketika Kai akan mengepakkan sayapnya, Yuri menahan lengan Kai.

Kai menoleh, dan mendapati Yuri dengan raut takutnya. Sungguh, Kai tidak ingin melihat Yuri memasang tampang seperti itu.

“Permintaan terakhirku… kumohon, jangan tinggalkan aku”

Kai terdiam. Matanya sedikit membelalak ketika dua kata itu terucap dari bibir Yuri. Yuri.. menggunakan permitaan terakhirnya hanya untuk itu? hei, masih banyak keinginan lain yang seharusnya Yuri minta untuk dikabulkan. Kenapa… ia menggunakan kesempatan terakhirnya untuk hal seperti itu?

Keduanya terdiam lama. “Kau… akan mengabulkannya bukan?”

Kai menghela nafas. Jemarinya menyentuh pipi Yuri, kemudian menuju ujung mata Yuri, menghapus air mata yang sedikit lagi akan tumpah. “Aku akan kembali”ucapnya singkat. Tubuhnya bergerak untuk mencium kening Yuri. Menciumnya dengan penuh perasaan. Meskipun malaikat tidak peka akan perasaannya, namun Kai tahu, saat itu ia benar-benar tulus.

“Kau menjanjikan itu Kai. Kau harus kembali”

oOoOoOo

“Noona?”

Setelah satu hari berlalu, Kai memberanikan diri untuk bertemu dengan Sooyoung. Setidaknya ia harus menjelaskan situasinya pada Sooyoung dan meminta maaf karena telah ingkar janji padanya. Kai tahu, Sooyoung adalah malaikat yang sulit untuk memaafkan kesalahan orang lain, namun setidaknya, Kai akan berusaha.

Dan disinilah dia, di lab Sooyoung yang gelap, tanpa penerangan. Dari bau-bauan cairan kimia yang menyengat, ia menduga cairan-cairan itu telah tumpah semua.

Kai menajamkan indera pengelihatannya untuk mengetahui dimana keberadaan Sooyoung. Setelah mencari-cari akhirnya dia menemukan Sooyoung. Berdiri di sudut ruangan. Walau tidak melihatnya, ia tahu Sooyoung sedang menatapnya dengan tajam.

Dengan hati-hati, Kai mencari saklar lampu dan menghidupkan lampu. Mata Kai membelalak ketika melihat keadaan Sooyoung. Rambut yang cukup berantakan, sayap yang terbentang, pakaian lusuh dan tentunya tatapan tajamnya. Entah kenapa, dibandingkan dengan malaikat maut, mungkin Sooyoung sekarang terlihat mirip dengan iblis.

“Pergi”ucap yeoja itu datar.

“Noona… aku harus menjelas..”

“Apa yang harus kau jelaskan?! Tidak ada! Pergi!!”

Tiba-tiba, Sooyoung mengeluarkan kekuatannya. Ia menyulut api disekitar Kai. Api hitam yang hanya dimiliki oleh garis keturunan keluarga Choi. Api yang bisa membakar apa saja. “Noona!”seru Kai, sedikit terkejut. Ia tahu Sooyoung sangat temperamental dan sensitive, namun Sooyoung tidak pernah menggunakan kekuatannya pada teman-temannya. Sepertinya Sooyoung sangat marah.

Kai bisa saja berteleportasi pergi dari sana. Tapi seperti yang tadi disebutkan, dia harus menjelaskan situasinya dan meminta maaf pada Sooyoung terlebih dahulu. “Noona dengarkan aku!”

“Berhenti bicara dan per..”

“DENGARKAN AKU!”

Sooyoung diam. Kali pertama Kai berteriak padanya. Ia sedikit membelalak dan akhirnya memadamkan apinya. Ia memalingkan wajahnya, menolak menatap namja berkulit gelap dihadapannya.

Kai menghela nafas. “Aku tidak bermaksud mengingkari janjiku padamu waktu itu. aku juga tidak tahu kalau perasaanku akan seperti ini hanya dalam waktu 2-3 hari. Ini bukan kehendakku Noona… perasaan itu tiba-tiba muncul”

Sooyoung menggigit bibir bawahnya. “Makanya aku menyuruhmu menolak tugas itu! Aku juga sudah meminta Joonmyun untuk tidak memberimu tugas dengan yeoja. Tapi kalian bersikeras… dan sekarang…”

Kai mendekati Sooyoung. “Kuharap kau bisa memaafkanku… Noona”Setelahnya, Kai memasang senyum manisnya.

Sooyoung berbalik, menyembunyikan air mata dan wajahnya yang memerah. “Bisa-bisanya kau mengatakan hal seperti itu pada yeoja yang menyukaimu…”

Mata Kai membelalak begitu mendengar perkataan Sooyoung. Ia tidak salah dengar bukan? Sooyoung menyimpan perasaan seperti itu padanya. “Ap…”

Kai terdiam begitu ia dapat merasakan bibir Sooyoung menempel di bibirnya. Ia menahan nafasnya. Matanya sedikit membelalak. Ia tidak pernah menyangka jika Sooyoung akan menciumnya seperti ini. Menyangka Sooyoung akan memiliki perasaan itu padanya saja ia sudah tidak percaya, apalagi dengan ini?

Tapi apalagi yang bisa ia lakukan? Ia hanya bisa diam. dan memikirkan apa yang akan ia lakukan nanti.

oOoOoOo

Yuri terdiam di ruang make up nya. Matanya menatap ke pantulan dirinya di cermin. Perasaan takut dan khawatirnya masih membekas. Berbakai pemikiran akan Kai kembali mengantuinya. Apa namja itu akan pergi dan nantinya hanya kembali untuk mengambil nyawanya?

Yuri menggeleng-gelengkan kepalanya. “Tidak… Dia tidak akan melakukan itu…”gumam Yuri, menenangkan dirinya sendiri.

“Eonni… kau tidak apa-apa?”tanya Krystal yang kebetulan baru saja memasuki ruangan tersebut.

Yuri segera berdiri dan pergi menjauhi Krystal. Yeoja itu tidak sedang dalam mood untuk menemui Krystal. Yuri tidak menyadari, bahwa Krystal sedang menggenggam sesuatu dibalik saku roknya. Sebuah benda yang akan merenggut nyawanya.

“Ini belum saatnya Eonni… lihat saja… tak lama lagi, pisau ini akan menancap di jantungmu.”gumam yeoja itu sinis.

Yuri memutuskan untuk berkeliling ruangan siaran radio mereka nanti. paling tidak ia merasa nyaman tanpa ada seorang manusia pun disana. Namun tiba-tiba saja, sang manajer memasuki ruangan dan terkejut begitu melihat Yuri disana.

“Ah, Yuri-ah… kau mengejutkanku saja”ucap sang manajer.

Yuri berbalik dan memasang ekspresi penasarannya. “Ah.. maaf. Apa yang kau bawa?”tanya Yuri begitu ia melihat 2 buket bunga dan sebuah kado di tangan sang manajer.

“Ini untukmu Yuri-ah… ambillah kadonya dan pilih salah satu bunganya”

“Kenapa harus memilih? Bukankah keduanya untukku?”tanya Yuri bingung.

“Yang satu akan dibuka saat kalian siaran nanti…”

Yuri ber-oh ria dan segera memilih buket mawar putih. Setelahnya, sang manajer pun meninggalkannya sendiri lagi di ruangan tersebut. Yuri membuka kado tersebut dan mendapati sebuah boneka mickey mouse disana. Senyum mengembang di wajah cantiknya. Apa fakta bahwa ia begitu menyenangi tikus satu itu sudah tersebar?

Ia menarik kertas yang tertempel di kotak kado. “ ‘ Yuri Eonni, sebentar lagi ulang tahunmu bukan? Kurasa aku tidak akan bisa mengirimkannya padamu saat ulang tahunmu nanti… jadi aku mengirimkannya sekarang. tetaplah menjadi bintang diantara semua bintang, saranghamnida’” Yuri membaca surat itu. ia dapat merasakan kesedihan dan kegalauan yang ada disetiap kata itu. Entah kenapa.

“Itu dikirimkan oleh seorang penggemarmu yang akan mati sebentar lagi”

Yuri membelalak dan segera berbalik. Ia mendapati seorang namja bersayap hitam dan tampang imut dibelakangnya. “Kau…”

“Kau juga akan mati. Pasti kau tahu apa aku”celetuk namja itu. Yuri menatapnya dengan pandangan bingung serta kesal. Namja didepannya ini terlalu terus terang sepertinya.

“Ya, aku tahu. Dan kenapa kau ada disini?”tanya Yuri

“Hei, apa aku tidak boleh menemuimu?”ujar namja itu, terdengar kesal.

Yuri mengedikkan bahunya. “Terserah kau sajalah” Kemudian yeoja itu mulai berbalik dan berniat pergi.

“Oi, aku hanya ingin menyampaikan pesan Nona Sooyoung”

Yuri menoleh. “Sooyoung?”tanyanya, merasa familiar dengan nama tersebut.

“Ya, dia berpesan agar kau melupakan perasaanmu pada Kai”

Yuri membeku. Tangannya mengepal dan ia menggigit bibir bawahnya. Kenapa… kenapa ia harus melakukannya? Apa salah… Apa salah jika ia mencintai malaikat mautnya sendiri?

oOoOoOo

Ini adalah hari ulang tahun seorang Kwon Yuri. Tepatnya hari terakhir sebelum Yuri mati. Yeoja cantik itu menghela nafas. Namja itu sama sekali tidak menemuinya. Dan kini Yuri semakin yakin akan hipotesanya kemarin. Namja itu benar-benar akan kembali saat Yuri harus mati nanti.

Di tengah-tengah cuaca malam yang begitu dingin, Yuri berjalan di tengah keramaian. Tentu saja dengan syal yang menutupi wajahnya. Ia berusaha mencari hiburan, meskipun itu berarti semua pekerjaannya harus ia tinggalkan. Namun ia tidak peduli. Toh, besok ia akan mati.

“Chogi…”

Yuri menoleh dan mendapati seorang yeoja bertubuh mungil dan memakai baju yang begitu tebal. Dan dari wajahnya saja, Yuri tahu bahwa yeoja ini memiliki penyakit.

“Kau… apa kau Kwon Yuri?”tanyanya.

Biasanya, Yuri akan segera berpaling dengan wajah sedingin yang ia bisa. Namun sepertinya ia kali ini berubah pikiran ketika melihat bayangan hitam yang ada dibelakang yeoja itu. Yuri kenal dengan sosok bersayap hitam itu.

Sosok itu adalah malaikat yang menyampaikan pesan Sooyoung padanya. Jadi… anak ini adalah yeoja yang akan mati nanti? Yuri tertegun. Sedang apa yeoja berpenyakit sepertinya ditengah malam dingin seperti ini?

“Ah, apa kau bukan dia? Tapi Baekhyun bilang…”

“Ya, itu aku”Yuri merendahkan sedikit syalnya, sehingga gadis itu bisa melihat wajahnya.

Yeoja itu memerah wajahnya dan terlihat begitu bahagia. Tetesan air mata keluar dari pelupuk matanya dan senyum cerah terlukis diwajahnya. “Bagaimana kalau kita minum kopi dulu disana?”tawar Yuri.

Yeoja itu semakin tersenyum cerah. Ia mengangguk. “Ne!”

Sekilas, Yuri menatap Baekhyun yang sedang tersenyum puas. Yuri balik memberikan senyum kecilnya. “Ini… adalah hal terakhir yang akan kulakukan sebagai public figure”batinnya.

Mereka berbincang di café tak jauh dari sana. Dari sana, Yuri tahu bahwa yeoja mungil itu bernama Kim Taeyeon. Yeoja itu mengidap penyakit leukemia dan tetap menyaksikan semua aksi panggung-nya walau sedang dikekang di rumah sakit. Yuri terharu. Ya, dia terharu. Ternyata… ada orang seperti Taeyeon. Ada orang yang mempercayainya dan begitu menyayanginya. Jika memikirkan Taeyeon… ia jadi ingin hidup lebih lama.

Tiba-tiba, terbesit sebuah pemikiran di otak Yuri…

“Aku sangat mencintaimu Yuri… kau sungguh hebat, aku bahkan…”

“Aku pembunuh Im Yoona”

Diam. Taeyeon bahkan Baekhyun (malaikat pencabut nyawa Taeyeon) terdiam dan menatap Yuri dengan pandangan sedikit kaget. “Aku adalah pembunuh partnerku sendiri, Im Yoona. Kau sudah tahu itu. Apa kau masih akan mengatakan bahwa kau menyayangiku?”tanya Yuri dengan suara kecil dan sedikit tertahan akibat air matanya.

Taeyeon tersenyum. “Semua orang memiliki pandangan berbeda-beda. Namun aku… dan mungkin beberapa orang lain… akan tetap menyayangimu. Semua orang akan melakukan apapun jika ada yang diinginkan. Dalam kasusmu, mungkin membunuh juga termasuk salah satu solusinya. Aku mengerti itu. itu salah. Namun kau sepertinya sudah menyadari bahwa itu salah, kau juga sudah merasa bersalah dan kau sudah mengakuinya walau tidak pada orang banyak. Itu sisi positifnya. Yang perlu kau lakukan sekarang, hanyalah berprestasi dalam bidangmu, jadilah bintang… dan mainkan juga peran Im Yoona. Aku yakin Yoona akan merelakan kematiannya dan mendukungmu”

Yuri terdiam ketika mendengar penuturan panjang dari Taeyeon. Air matanya turun dari pelupuk matanya, hisakan kecil terdengar. Dan tanpa Taeyeon sangka sebelumnya, Yuri memeluk Taeyeon dengan erat. “Terimakasih… aku bersyukur telah dapat menemuimu di akhir hidupku… terimakasih”

“Akhir.. apa?”

Yuri tersenyum kecil, lalu berdiri dan berlari menuju salah satu stasiun tv dimana dia akan menyanyi solo malam ini. Ia lelah, ia kacau, namun ia tidak peduli. Ia harus melakukan ini. Ia harus berterimakasih pada semua penggemar yang telah mendukungnya, yang telah menyayanginya… ia harus menyampaikan rasa terimakasihnya sebelum ia mati.

“Yuri, dari mana saja kau?! Cepat ke ruang rias dan segera masuk!”seru sang manajer.

Yuri tidak menggubrisnya namun segera melakukan apa yang diperintahkan oleh sang manajer. Tak butuh waktu lama, ia sudah keluar dari ruang rias dan masuk ke dalam studio. Tepat waktu. Tepat saat acara dimulai.

Acara berlansung dengan lancar. Dan Yuri selalu menebar senyum hangatnya. Bukan senyum hangat yang palsu, namun benar-benar senyuman hangat yang dapat meluluhkan hati semua orang. Semua orang pun tahu akan itu. Mereka bisa merasakannya.

“Baiklah, ini saatnya Yuri menyanyikan sebuah lagu solonya… kau siap?”

Yuri mengangguk. “Ne, aku siap…”

Yeoja itu maju ke depan dan memegang mikrofonnya. Begitu dentingan piano terdengar, Yuri segera memulai menyanyikan lagunya. Lagu lembut yang benar-benar berasal dari hatinya. Lagu terakhir yang ia nyanyikan untuk semua penggemar dan… Kai.

Mengingat nama namja itu, Yuri langsung saja merasa sesak di dadanya. Ia sudah lama tidak melihat wajahnya. Ia merindukan Kai. Dan tanpa ia sadari, air matanya jatuh begitu saja dari pelupuk matanya, membuat orang yang melihatnya bertanya-tanya.

Begitu lagu selesai, Yuri langsung menundukkan kepalanya dan menghapus air mata yang jatuh dari pelupuk matanya.

“Yuri-ssi… sepertinya kau begitu mendalami lagumu… untuk siapa lagu itu?”

Yuri menjawab, masih dengan posisi menunduk. “Aku mempersembahkannya untuk semua orang yang mendukungku… terimakasih…”

“Apa kau punya keinginan? Apa yang paling kau inginkan sekarang?”

Yuri menatap lurus kedepan. Ia membiarkan air matanya terjatuh kembali. “Aku ingin… orang yang kucintai hadir disini…”

oOoOoOo

Setelah acara itu selesai, Yuri tidak pergi ke ruang make up atau semacamnya, ia pergi ke atap stasiun tv tersebut. Ia merasa, ia bisa menemukan ketenangan disana. Dan mungkin ia bisa mengenang saat-saat ia bersama Kai disana… walau waktu mereka bersama sungguhlah singkat.

Yuri duduk di lantai yang dingin itu. Ia bahkan mengelus-elus lantai di sebelah kirinya. Posisi Kai duduk waktu itu. lagi-lagi, air mata kerinduan itu menetes. Tanpa Yuri pungkiri lagi, ia benar-benar merindukan namja berkulit hitam tersebut. Dan dia baru menyadarinya, sepertinya ia juga benar-benar telah mencintainya.

Yuri berdiri. Ia menatap langit dengan tatapannya yang sangat sendu. Air matanya terus mengalir, seiring ia mengucapkan sesuatu “Kai… andaikan kau bisa mengabulkan permintaanku sekali lagi… aku ingin kau disini sekarang… aku merindukanmu… amat merindukanmu…”

Semuanya terjadi begitu cepat. Tiba-tiba saja sekelebat bayangan muncul di dekatnya. Tepat didepannya, tidak sampai 50 cm didepannya malah. Dan setelah melihat bayangan itu, yang pertama kali Yuri rasakan adalah sesuatu yang basah dan manis menyentuh bibirnya.

Matanya membelalak. Ia tahu siapa pemilik bibir ini. Ia tahu hanya dengan sentuhan yang diberikan oleh namja itu. Kai… Kai datang.

Yuri menutup matanya, meskipun air mata terus mengalir dari pelupuk matanya. Tangannya ia lingkarkan di leher Kai. Yeoja itu membalas ciuman Kai. Ciuman itu sungguh lembut dan manis. Tanpa nafsu. Yang terasa hanyalah rasa sayang dan kerinduan. Rasa ingin menjaga satu sama lain. Yuri sendiri merasakan kupu-kupu berterbangan didalam perutnya. Ia sudah sering melakukan ini, namun ia tidak pernah merasa sebahagia ini. Mungkin… ini terjadi karena Yuri melakukannya dengan namja yang ia cintai…

Akhirnya karena kebutuhan akan oksigen, mereka pun melepas ciuman mereka. Keduanya saling bertatapan, melampiaskan kerinduan satu sama lain. Dan tak lama kemudian, Yuri memeluk Kai. Menghirup aroma tubuh Kai dan merasakan kehangatan dalam pelukan mereka. Berusaha mengingatnya. “Aku merindukamu…”gumam Yuri.

Kai mengangguk. Ia pun merasakan hal yang sama. Ia juga rindu pada Yuri. Setelah hari dimana ia dan Sooyoung bertemu, Kai berada dalam dilema. Ia harus memilih. Terus mencintai Yuri yang artinya ia akan kehilangan Noona-nya. Dan berhenti mencintai Yuri namun hatinya akan tercabik? Pada akhirnya ia tidak bisa melakukan apa-apa. Takdir sudah ditentukan. Takdir memutuskan Kai untuk tidak bersama Yuri. Dan akhirnya, disinilah dia, bersama Yuri. Berusaha membuatnya terus mengingat Yuri. Mengingat orang yang begitu ia cintai.

Tiba-tiba, suara lonceng berbunyi. Lonceng jam, yang menandakan bahwa ini sudah pukul 00:00. Dan berarti, ini sudah memasuki hari terakhir Yuri hidup. Tinggal menunggu waktu yang tepat dimana Yuri akan kehilangan nyawanya.

Kai menatap Yuri dengan pandangan yang bercampur aduk. Diantara khawatir, takut dan sedih. Takut, karena ialah yang akan mencabut nyawa Yuri. Khawatir, karena Yuri akan segera berhadapan dengan sang pembunuh. Dan takut… karena ia akan kehilangan Yuri. Sementara Yuri yang dilihat hanya dapat tersenyum pasrah.

“Kau pernah dengar beberapa mitos-mitos kematian?” Pertanyaan Yuri membuat Kai memasang wajah bingungnya.

“Ada yang bilang, manusia sudah memutuskan kapan ia mati dan bagaimana cara dia mati. Hanya saja kita tidak mengingatnya. Haha… kalau begitu aku bodoh sekali ya? Meminta kematian dengan cara sadis dan disaat aku sedang jaya-jayanya. Hahaha”

Tawa Yuri yang terdengar santai itu tidak mengubah air muka Kai yang masih bingung. Yuri kembali menatap Kai, lengkap dengan senyum manisnya. “Orang tuaku bilang, saat kita mati nanti… kita akan berwujud sama, seperti saat paling bahagia kita di dunia. Dan kau tahu? Kurasa aku akan tetap berwujud seperti ini disana”

“Kenapa?”tanya Kai meskipun ia sudah sedikit mengerti kemana jalur pembicaraan Yuri.

“Karena aku sangat sangat bahagia sekarang”Yuri tersenyum dengan sangat manis, hingga matanya membentuk lengkungan bulan sabit. “Aku bahagia karena dapat bertemu denganmu. Aku bahagia karena dapat mengerti apa arti aku hidup sebagai public figure. Dan aku bahagia… karena dapat mencintaimu”

Kai sedikit terperangah dengan kalimat terakhir Yuri. Bahkan ia tidak sadar jika Yuri tengah menggenggam tangannya. “Aku… tidak menyesal aku mati sekarang. Aku tidak menyesal akan takdirku. Maka dari itu… jangan memasang wajah seperti tadi”

Kai tersenyum. Kini bukan senyum tipis atau seringaian seperti biasanya. Melainkan sebuah senyum yang benar-benar tulus dari hatinya. “Aku mengerti”

BRAK!

Keduanya menoleh cepat kearah pintu. Membelalaklah mata Yuri. Disana berdiri seseorang berambut merah dengan rambut yang kusut dan yang paling mengejutkan, sebuah pisau ditangannya. Jung Krystal.

“Diakah yang akan membunuhku?”ucap Yuri. Kai mengangguk sebagai jawaban. “Sudah kuduga…”

Yuri kembali menoleh pada Kai dan tersenyum manis. “Kuharap kita bisa bersama… nanti”

Kai kini tidak bisa menunjukkan ekspresi apa-apa kali ini. Ia akan menyaksikan orang yang ia cintai dibunuh. Dia terlalu gelisah hingga tidak dapat merespon perkataan Yuri.

Yuri pun mengerti dengan gerak-gerik Kai. Ia segera menatap Krystal dengan pandangan datar yang biasa ia tunjukkan. “Kau tidak perlu membuka pintu dengan sekasar itu, Jung Krystal”ujar Yuri.

“Tak usah banyak bicara! Aku akan membunuhmu disini! Sekarang juga!”seru Krystal. Ditengah minimnya cahaya, Yuri dapat melihat mata merah yang basah itu. Jung Krystal baru saja menangis, itulah yang dipikirkan Yuri.

“Kau tidak takut dengan CCTV?”tanya Yuri berbasa basi.

“Aku bahkan sudah melepasnya jauh jauh hari, Kwon Yuri! Tidak perlu banyak bicara! Kubunuh kau!!!!”

Dan dengan sekali hentakan pisau di dada kiri Yuri, Yuri pun sukses ambruk dengan darah yang mulai merembes ke kemeja yang ia kenakan. Disela-sela rasa sakit yang Yuri rasakan, ia menyempatkan dirinya tersenyum kecil kearah Krystal.

Krystal sendiri jatuh terduduk dan memandang tangannya yang barusan ia gunakan untuk membunuh Yuri. Tubuhnya gemetar dan raut wajahnya pucat. “A..Aku… aku…. K..Kenapa kau tidak melawan bodoh?! Kenapa kau menerima begitu saja?!!!”teriaknya seraya mengeluarkan air matanya sekali lagi.

Yuri hanya dapat tersenyum kecil. “L..Larilah… pura-puralah… menjadi yang pertama… yang menemukaanh..ku… m…mah…maka kau akan selamat…”suruh Yuri.

Krystal tidak habis pikir, kenapa Yuri malah menyuruhnya lari? Tapi… Krystal memang seharusnya lari sekarang, berpura-pura tidak tahu atau menjadi orang yang pertama menemukan Yuri. Krystal pun berdiri dan berlari keluar dari atap tersebut.

Yuri menghela nafas, dan menatap langit. Nafasnya tersengal-sengal. Air matanya mengalir dengan sendirinya. Rasa sakitnya pun luar biasa. Jadi… inilah yang dirasakan oleh Yoona waktu itu. Tangan Yuri beralih meraih gagang pisau yang tertancap di dadanya. Kemudian dia pun mencabutnya dengan sekali tarik. Menghiraukan rasa sakit yang semakin menjadi di tubuhnya.

“Bodoh! Kenapa kau cabut?! Kau akan lebih merasa sakit, bodoh!!”teriak Kai dengan sedikit air mata di pelupuk matanya.

Yuri tersenyum. “Cah… Cabut nyawaku… sekarang…”

Kai tidak bisa menahan air matanya lagi. Melihat Yuri yang merasa kesakitan seperti itu membuatnya sakit pula. “A..Aku…”

“Cabut… Sekarang!”

Dan detik berikutnya, Kai kembali menempelkan bibirnya pada bibir Yuri. Sama seperti tadi, Kai mencium Yuri dengan penuh perasaan dan dengan lembut, namun yang beda, kini Yuri merasa lebih sakit lagi. Ada sesuatu dalam dirinya yang serasa diambil oleh Kai. Dan Yuri tahu apa itu. Kai sedang mengambil nyawanya, dengan cara menciumnya.

Perlahan-lahan, tangan Yuri yang tadinya menyentuh leher Kai terjatuh. Ketika tangannya menyentuh lantai, Kai pun melepas ciumannya. Namja itu memejamkan matanya dan dari tangannya, keluarlah asap yang akhirnya membentuk seseorang bernama Yuri. Nyawa dari seorang Kwon Yuri, yeoja yang Kai cintai.

Sekelebat bayangan berwarna hitam muncul, dan akhirnya sosok malaikat maut bernama Yoona terlihat. Malaikat perempuan yang begitu cantik. Namun kecantikannya tersembunyi dibalik tampang tanpa ekspresi dan wajah pucatnya.

“Kau menjalankan tugasmu dengan baik… Malaikat Kai. Namun kau telah melanggar aturan. Berterimakasihlah pada Nona Sooyoung yang akhirnya menyelamatkanmu dari hukuman.”ucap Yoona datar. yeoja itu menoleh pada sebuah nyawa dihadapannya.

Sebuah senyum tipis terukir di wajah pucatnya. “Aku akan membimbingmu… Yuri Eonni…”

Setelah kepergian Yuri dan Yoona, Kai pun menghela nafas. Namja itu menengadah, melihat bintang-bintang yang bertaburan di langit. Senyuman kecil tertampang di wajahnya. “Kita akan bertemu lagi”

END of This Chapter

MAAFKAN AKU READERS!! ;A; Chapter ini hancur dan gak memuaskan banget menurutku… aku minta maaf banget… kumohon maafkan aku… *sujud bareng Yuri dan Kai* Huhuhuhu…. Sebenarnya, kalau diliat-liat, FF ini endingnya antara sedih dan bahagia. Apa Cuma aku yang mikir kayak gitu ya?-_- gatau jugalah.

Buat yang nungguin ff My Little Peterpan, astaga… maafkan aku-_- aku bahkan melupakan ff yang satu itu *Taeyeon Tao dateng bawa kapak* tapi aku janji, ff yang satu itu bakal aku bikin langsung dua biar jadinya chapter 5 dan 6 gak jauh jauh amat jaraknya. Jadi… kumohon, tunggu *sujud bareng luhan,yoona,sehun,seohyun,baekhyun cilik*

Siplah ya, semoga chapter ini ada yang baca, dan semoga kalian suka. RCL~

45 thoughts on “[Freelance] Tales of the 9 Death Angel (YulKai Part)

  1. Thor maaf baru baca-_-)/
    wawawawawawawaw ini keren banget suwer ‘www’ ga tau lah mau ngomong apa/? Pokoknya daebaaaakk><

    oiya, yuri kan mati nya di bunuh, terus yuri malaikat juga dong?'^'

  2. ah akhirnya aku baca part kai-yuri.
    yup endingnya ada sedih dan bahagianya thor’-‘
    jadi ff ini berhubungan satu sm yg lain yah thor?’-‘)?

  3. Pingback: FanFictions | Infinitely A

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s