[Freelance] Lovhobia! (Chapter 2)

lovhobia

Tittle                         : Lovhobia!

Author                      : Rie Fujiwara

Length                      : Multichapter

Rating                       : T

Genre                        : Romance, Friendship, a little bit sad

Cast                          : Seo Joohyun, Xi Luhan

Other Cast                : Oh Sehun, Wu Yi Fan

Author’s note           : Annyeong! Author comeback membawa lanjutan dari ff Lovhobia! Adakah yang masih ingat ff ini ? *gak ada* T_T. Big Thanks to Mizuky@cafeposterart .Maaf juga ff ini lama di post karena kuota yang selalu tidak memadai /apa.Okay daripada banyak cingcong lebih baik langsung saja. Okay Sorry for typo and Happy reading          ~

-o0o-

“Noona….kau mungkin menyukainya ?”

“mwo !?”

-o0o-

Seohyun membanting pintu kamarnya keras-keras dan merebahkan dirinya di ranjangnya. Masih terngiang-ngiang di benaknya kalimat-kalimat yang terlontar dari mulut adiknya sendiri. Apakah ia menyukai Luhan ? Apakah ia benar-benar mencintai Luhan ? Seohyun menggeleng kuat-kuat. Ia tak menyukai Luhan. Mungkin peristiwa di kantin tadi hanyalah sebagai rasa simpati Seohyun pada Luhan sebagai teman. Tunggu, sebagai teman ? Seohyun menggelengkan kepalanya lagi. Sejak kapan ia menganggap Luhan sebagai temannya padahal mereka belum genap satu minggu bertemu ?

Krek

Pintu kamarnya terbuka.Kemudian terlihat seorang namja berbadan tinggi tengah memasuki kamarnya dengan membawa sebuah nampan berisi berbagai makanan.Seohyun mendengus kesal, kemudian memalingkan wajahnya ke arah lain.Ternyata ia masih tersinggung dengan ucapan Sehun yang tiba-tiba bertanya apakah ia menyukai Luhan.Tak lama Seohyun menangkap sebuah suara cekikikan kecil dari Sehun.Rupanya bocah satu ini sedang tertawa.

“YA ! Apa yang kau tertawakan, eoh?!”

Sehun menghentikan tawanya.Akhirnya idenya untuk mencairkan suasana dengan tertawa tanpa sebab berhasil membuat Noona-nya ini membuka pembicaraan. “Anio, hanya saja mengapa kau bersikap dingin seperti itu padaku Noona ? Kau lupa, aku Sehun.Namja tampan melebihi batas yang ternyata adik dari seorang yeoja biasa-biasa saja bernama Seohyun.Dan aku bukanlah teman-temanmu yang hanya memanfaatkanmu”

Seohyun mencibir. “Aku tak mau jadi Noona-mu babo ! Lagipula aku tahu itu”

Sehun meringis,tak menghiraukan omongan Seohyun.Kemudian menyuapkan sesendok nasi kepada Noona-nya itu. “Yep, buka terowongannya. Kereta mau datang~ swiuu~” Sehun terlihat begitu semangat menyuapi Noona-nya itu.Membuat Seohyun yang melihat hanya menatapnya penuh dengan rasa keheranan. Bukan heran karena Sehun menyuapinya, tapi karena kalimat yang Sehun katakan barusan.

“Baboya Sehun-ah ! Sejak kapan ada kereta berbunyi ‘Swiuu’ seperti itu ? Hah ?” Seohyun tertawa terbahak-bahak.Bahkan ia tak menyadari bahwa Sehun yang sedang kesal mencibirnya.Tapi jika dipikir-pikir apa yang dikatakan Seohyun benar juga.Sejak kapan ada kereta berbunyi ‘Swiuu’ ? Sangat tak masuk akal.

Tak lama kemudian, Seohyun berhenti tertawa secara perlahan. “Lagipula, kau hanya akan bersikap baik seperti ini ketika ada permintaan. Kali ini, apa permintaanmu eoh ?” kalimat yang terlontar dari mulut Seohyun membuat Sehun terdiam sejenak. Bukan untuk memikirkan permintaannya, karena memang ia tak mempunyai niat untuk meminta sesuatu kali ini.

“Aku tidak punya” jawab Sehun singkat, kemudian kembali menyendokkan nasi pada Noona-nya itu. “Sekarang, makanlah Noona”.

Seohyun mengerutkan dahinya.Ini bukan seperti perilaku Sehun seperti biasanya.Sepertinya kali ini Sehun melakukan ini dengan perasaan….err ikhlas ? Tapi entahlah. Seharusnya ia senang, tapi ini membuat Seohyun lebih curiga kepada Sehun yang kini tengah menatapnya dengan innocent dengan senyuman mautnya. “Ya Sehun-ah ! Katakan sekarang kepadaku apa permintaanmu”

Sehun memutar kedua bola matanya.Tampaknya yeoja di hadapannya ini tidak percaya dengannya yang memang tak berniat meminta sesuatu.Namun, kemudian ia tersenyum,tidak juga. Ia lebih terlihat seperti menyeringai. “aku benar-benar tak memiliki permintaan kali ini, Noona”

“lalu ?”

“Aku hanya ingin….mengingatkanmu pada acara suap-menyuap di kantin sekolah,Noona”

“YA !!!!”

-o0o-

Namja itu merebahkan tubuhnya di ranjang empuknya.Pikirannya benar-benar melayang kemana-mana. Bahkan ia tak tahu apa yang ia rasakan sekarang. Senang ? Aneh ? Terkejut ? Tentu saja. Ketiga perasaan itu sepertinya bercampur menjadi satu sekarang.Terlebih lagi ketika ia kembali teringat dengan apa yang terjadi dengannya dan Seohyun tadi pagi di kantin sekolah.Dimana yang saat itu Seohyun yang menyuapi dirinya.

Tanpa namja itu—Luhan—sadari, sebuah sunggingan kecil muncul di wajahnya setelah teringat kejadian itu.Entah apa yang ia pikirkan sekarang, namun sunggingan kecil itu tak kunjung hilang.Sunggingannya itu berubah menjadi senyuman lebar ketika ia mengingat wajah gadis yang baru saja menjadi teman pertamanya, Seohyun.Wajah gadis itu yang terkadang terlihat galak, innocent, bahkan….err cantik layaknya seorang dewi.

Namun, senyumannya itu memudar seketika setelah ia melihat seorang namja berbadan lebih tinggi darinya yang sedang menatapnya heran. “Ya Hyung ! Apa yang kau pikirkan ? Mengapa kau senyum-senyum sendiri ?” Luhan terperanjat, kemudian menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan menggelengkan kepalanya kuat-kuat.

“Hyung…” namja itu mendekatkan dirinya pada Luhan, membuat Luhan harus memperjauh jarak diantara mereka berdua.“Kau…jatuh cinta ? Kau jatuh cinta hyung ??” kalimat spontan yang keluar dari namja ini membuat kedua mata Luhan hampir mencelos keluar.Bisa-bisanya anak ini menyimpulkan bahwa Luhan sedang jatuh cinta.

“Ya ! Mana ada, Yifan-ah !” Elak Luhan, namun malah membuat namja tinggi itu—Wu Yi Fan—menyeringai.Ya, sebenarnya Luhan mengetahui bahwa karibnya Yifan—atau yang akrab dipanggil Kris—lebih berpengalaman dan sepertinya lebih mengerti tentang permasalahan cinta. “Ya ! Berhentilah menyeringai layaknya kau tahu segalanya !”

Kris tertawa kecil memperhatikan tingkah sahabat kecilnya yang telah ia anggap sebagai Hyung-nya sendiri. “Ya hyung, katakan saja. Siapa yeoja beruntung itu ? Seberapa cantikkah ia ? Sehingga seorang Pangeran Xi Luhan yang merasa dirinya tampan itu bisa jatuh cinta kepadanya ?” Luhan mencibir. Kalimat -kalimat dari Kris terlalu mendramatisir, menurutnya.Pantas saja namja bertubuh tiang ini selalu bisa mendapatkan hati yeoja yang ia inginkan.

Lupakan saja masalah tentang Kris, kali ini Luhan sedikit tertegun dengan kalimat Kris pada bagian ‘yeoja beruntung’. Memang terkesan berlebihan, namun sepertilah ini kenyataannya.Luhan belum pernah jatuh cinta terhadap yeoja selama ini.Bukan berarti ia sering jatuh cinta dengan namja, tetapi sejauh ini ia hanya memiliki perasaan lebih terhadap game.Bahkan ia menganggap para yeoja yang berusaha mendekatinya itu hanya hembusan angin yang dapat datang dan hilang sendirinya.Tetapi tidak dengan Seohyun. Gadis itu merupakan gadis yang berhasil menarik perhatiannya.Ia memang telah berpikir bahwa ia sedang jatuh cinta, namun ia seperti meragukan ? entahlah.

“kurasa kau benar-benar jatuh cinta, Hyung”

Luhan menatap Kris tajam.Ia sedang jatuh cinta dengan Seohyun ? Benarkah ? Bahkan Luhan sendiri tak tahu. Ia terlalu ragu untuk itu. “Jika kau merasakan degupan jantungmu lebih kencang, aliran darahmu berdesir cepat dan kau merasakan perasaan yang tak dapat kau jelaskan di hatimu, itu menandakan kau sedang jatuh cinta hyung.” Kris melanjutkan kalimatnya, “okay, aku ada janji dengan seseorang sore ini. Annyeong Hyung !”

Kris melangkah keluar dari kamar Luhan.Meninggalkan Luhan yang terdiam menatap punggungnya yang semakin menjauh dan akhirnya menghilang di balik pintu kamarnya.

-o0o-

Seohyun sedikit merapikan kembali cardigan merah muda yang ia kenakan.Setelah merasa telah rapi, Seohyun tersenyum kecil.Kemudian kedua tangannya menyambar sebuket bunga mawar putih yang sengaja ia beli tadi pagi dan melangkah keluar dari ruangan kesayangannya—kamar.Namun langkahnya terhenti setelah kedua indra pengelihatannya menangkap sosok dongsaengnya yang tengah memakan beberapa camilan sembari menonton acara kesayangannya.

Seohyun berdehem, berusaha menarik perhatian Sehun.Dan benar saja, Sehun akhirnya menoleh ke arahnya dan menatapnya dari bawah hingga atas dengan tatapan heran.Seolah mengetahui arti tatapan Sehun, Seohyun menunjukkan sebuket mawar putih yang sengaja tadi ia beli nya itu, “Uhm, yeah, seperti biasa Hun-ah.Kau tahu kan ?”

Sehun mengangguk-anggukkan kepalanya, pertanda ia mengetahui maksud Noona-nya itu.Kemudian pandangannya kembali fokus menghadap layar televisi,seperti biasanya.Seohyun menghela nafas. Jika telah bertemu dengan acara kesayangannya—sepak bola—Sehun akan seperti makhluk individualis. Sungguh.Dan sepertinya kali ini ia telah menjadi makhluk individualis.Namun sepertinya kali ini Seohyun tak terlalu menghiraukannya.

“Ah ne, jangan lupa untuk membeli bahan masakan untuk nanti, Hun-ah ! daftar belanja ada di meja makan !”

-o0o-

Seohyun tersenyum kecil setelah dirinya menemukan apa yang ia cari.Sebelum ia melakukan hal yang biasa ia lakukan, Seohyun mengedarkan pandanganya di sekitarnya.Matanya menangkap bunga-bunga Cherry Blossom bewarna merah muda—favoritnya—yang menari-nari indah karena tiupan angin.Benar juga, musim gugur akan segera tiba. Pantas saja banyak bunga yang berjatuhan tertiup angin.Dan pantas saja udara hari ini lebih dingin daripada kemarin.

Seohyun kembali tersadar ketika sebuah kelopak bunga Cherry Blossom terjatuh tepat di atas hidungnya. Dengan senyuman kecil, Seohyun meraih kelopak itu dan melemparnya ke atas.Senyumannya mengembang setelah ia melihat kelopak bunga yang ia terbangkan tadi kini menari-nari tertiup angin. Sungguh benar-benar pemandangan yang rugi untuk ditinggalkan.Bahkan menurutnya sendiri, berkedip saja sudah rugi.Ish lupakan.

Teringat pada tujuannya kemari, yaitu mengunjungi sebuah tempat yang selama ini ia kunjungi secara teratur sebulan sekali.Akhirnya Seohyun mensejajarkan dirinya dengan cara duduk.Tatapannya yang tadinya berbinar, kini perlahan meredup.Senyumannya yang tadinya mengembang, kini perlahan memudar.Aura bahagianya tadi kini telah berganti dengan aura kesedihan.Ya, ia tahu bahwa ia tak boleh terus bersedih.Bahkan Seohyun pernah berjanji untuk tak meneteskan air matanya ketika berada di tempat ini.Namun ini diluar kemampuannya.Dan nyatanya ia menangis sekarang.

Perlahan, tangan halusnya menyentuh benda keras dan dingin di hadapannya itu.Sebuah batu marmer dengan sentuhan hitam itulah sebuah nama terukir.Dan itu bukan hanya sekedar nama biasa bagi Seohyun, melainkan nama itulah adalah nama yang paling bersejarah di hatinya.Nama seorang namja yang pernah singgah…tidak.Nama seorang namja yang hingga kini masih ia sayangi.

Ia sedang mengunjungi makam kakak sulungnya, Seo Minseok.

“Oppa…”

Seohyun tersenyum getir.Perasaan itu nyatanya menghampirinya lagi.Dan terlebih lagi ia kembali teringat dengan peristiwa dua tahun yang lalu.Peristiwa dimana yang membuat Seohyun melihat Kakak yang ia sayangi itu terkapar di lantai apartemennya sendiri.Peristiwa dimana ia mulai menganggap cinta layaknya sebuah benda yang harus hindari.Peristiwa dimana ia mulai takut jika ia mulai mencintai seseorang, lalu disakiti dan berakhir seperti kakaknya.

Flashback

Seohyun menatap layar handphone nya dengan risau.Bagaimana tidak ? Sudah seminggu Oppa-nya itu tak memberi kabar padanya.Bahkan ia tak pernah mengangkat telepon dari Seohyun lagi.Seohyun pun tak pernah menerima balasan pesan singkat yang telah ia kirimkan kepada Oppa-nya itu.Padahal Oppa-nya itu selalu megabarinya setiap hari.Ia takut jika sesuatu yang terjadi menimpa satu-satunya Oppa yang ia miliki itu.

“Noona, bagaimana ini ? Seokie hyung belum juga memberi kabar kepada ku”

“Noona, aku takut Seokie hyung kenapa-napa”

“Noona…”

Kalimat yang terlontar dari dongsaengnya itu membuat Seohyun semakin risau. Ada apa dengan Oppa nya itu ? Tanpa berpikir panjang lebar akhirnya Seohyun meraih sebuah kunci mobil dan menggandeng adiknya itu keluar rumah.Ia tak menggubris pertanyaan dari Sehun yang kebingungan dengan sikapnya. Yang terpenting sekarang adalah Seohyun dan Sehun harus memastikan sendiri apakah Oppa-nya itu baik-baik saja atau tidak.

-o0o-

Dengan kecepatan melalui batas dan tanpa menghiraukan Sehun yang terus berkomat-kamit demi keselamatan mereka, Seohyun tetap mengendarai mobil berwarna putihnya hingga ia sampai di depan apartemen milik Minseok—Oppanya.Kamar 103, itulah kamar milik kakak kedua insan itu.Memang sedikit sulit mencarinya, mengingat apartemen ini berkonsep sehingga sedikit menghalangi untuk mencari kamar Minseok.Dan akhirnya usaha mereka membuahkan hasil.Mereka akhirnyaberdiri di depan kamar Minseok.Tanpa menunggu lebih lama lagi, Seohyun langsung menggandeng Sehun masuk ke dalam apartement milik Minseok.

Alkohol.

Itulah kesan pertama dari kedua pasang manusia itu ketika memasuki kamar apartemen Minseok. Seohyun membulatkan kedua matanya.Ia tentu saja terkejut dengan pemandangan di depannya—botol-botol alkohol berserakan dimana-mana.Pantas saja ruangan ini penuh dengan bau alkohol.Namun bukan itulah satu-satunya yang membuat yeoja itu kaget.Selama ini Minseok—Oppanya itu tidak pernah meminum alkohol, bahkan membenci alkohol.Sekarang apa ?Sungguh ini bukanlah seperti perbuatan oppa-nya sendiri.

Bukan hanya Seohyun, ternyata Sehun juga terkejut.Ia benar-benar tak menyangka jika hyung nya seorang peminum. “Apa yang membuatmu seperti ini,Seokie hyung ?” gumam Sehun. Ia mengedarkan pandangannya pada ruangan ini.Namun hyung nya itu tak terlihat batang hidungnya. Kemudian mata namja itu menangkap sebuah pintu di sebelah kanan.Jika Minseok hyung tak berada disini, kemungkinan besar hyung berada disitu, pikir Sehun.

“Noona, mungkin Minseok hyung berada disitu”

Seohyun mengikuti arah dari jari telunjuk Sehun.Benar saja, ia melihat sebuah pintu kayu dengan sentuhan warna hijau disana.Seohyun mengangguk dan membiarkan dongsaengnya itu berjalan di depannya, sedangkan ia sendiri berada di belakang Sehun.Dengan perlahan Sehun dan Seohyun melangkah membuka pintu bernuansa hijau itu.

Krek.

“OPPAAA…!!!!”

Mata Seohyun—begitu pula dengan Sehun—membulat seketika.Kini bukan hanya perasaan kaget yang menjalari hatinya, melainkan sedih dan tak percaya bercampur sudah.Tanpa aba-aba lagi Seohyun segera berlari menuju namja yang kini berbaring di atas ranjang berukuran big size itu dan memeluk namja itu. Sehun yang melihat kedua kakaknya itu juga akhirnya memeluk mereka berdua.Sehun semakin mempererat pelukannya kepada kedua kakaknya setelah ia mendengar isakan dari Seohyun.

-o0o-

Terlambat.Ya, memang semua terlambat.Minseok telah pergi ke alam yang lebih baik.Sehun telah menduga jika Hyung nya itu meninggal karena overdosis obat tidur karena ia menemukan sebuah…tidak. Tiga buah botol obat tidur yang terletak di meja samping ranjangnya.Bisa dibilang, Minseok membunuh dirinya sendiri dengan cara meminum semua obat tidur hingga dirinya overdosis.Namun sebuah pertanyaan muncul dari benak kedua kakak-beradik itu, mengapa Minseok tega mengakhiri hidupnya sendiri padahal selama ini ia tampak bahagia ?

Pertanyaan mereka terjawab setelah Seohyun menemukan sebuah buku harian milik kakaknya itu di bawah bantal.AlasanMinseok untuk mengakhiri hidupnya tertulis semua dalam buku harian itu.Ternyata, selama ini Yeonji yang bernotaben yeojachingu Minseok selama 4 tahun tega mengkhianatinya.Sudah hampir 6 bulan terakhir ini Yeonji jarang mengabarinya.Karena namja berpipi baozi itu penasaran, akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke apartement Yeonji.Sungguh menyedihkan, karena ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa yeoja yang amat ia cintai sedang memeluk namja lain…bahkan lebih dari itu !!

Di dalam buku harian Minseok ini, tertulis isi dari hati Minseok selama 6 bulan terakhir.Dan salah satu quote dari buku harian Oppa-nya ini membuat Seohyun tercengang.

‘Aku tahu, perasaan seseorang akan berubah.Entah itu cepat atau lambat,pasti akan terjadi.Tetapi mengapa aku menyesali takdir karena aku pernah mencintai orang yang salah ?Jika aku tahu akhirnya akan seperti ini,lebih baik aku tak mengenal cinta”

Flashback off

 

Seohyun menangis.Seohyun merindukan kakaknya.Minseok yang selalu melindunginya dan menghiburnya di kala ia sedih.Ia merindukan dimana Minseok selalu memanggilnya ‘Seobb’ yang berarti Seobaby dan memeluknya ketika mereka bertemu.Ia merindukan dimana Minseok dan Sehun saling berebut remote dan akhirnya Seohyun-lah yang menjadi penengah mereka.Ia merindukan teriakan Minseok memanggilnya dan Sehun untuk makan malam.Ia merindukan….semuanya.

Tiba-tiba Seohyun merasakan sebuah benda menyelimuti kedua bahunya dan sebuah tangan menyentuh bahu kanannya.Seohyun menatap lengan itu hingga wajahnya.Dan ia sedikit terkejut dengan kehadiran namja ini. “Lu…Luhan-ssi ??” Seohyun memanggil namja itu, memastikan apakah namja itu memang benar Luhan atau tidak.Dan akhirnya namja itu tersenyum penuh arti dan memilih untuk duduk di sebelah Seohyun. “Ne, waeyo ?”

Seohyun tak habis pikir dengan namja di sebelahnya ini.Mengapa Luhan bisa tahu jika dirinya berada disini ? Seohyun memberitahunya ? Tentu tidak.Ia tidak memberitahu kepada siapapun kecuali Sehun, adiknya.Lagipula, bagaimana cara Seohyun memberitahu namja ini ? Nomor teleponnya saja Seohyun tak punya.Alis Seohyun terangkat setelah melihat namja ini tersenyum simpul. “Kris mengajakku kemari. Ia ingin menjenguk orang tuanya.Namun, aku melihatmu menangis disini.Jadi, aku menyuruh Kris untuk pulang lebih dulu”

“Siapa Kris ?”

“Dia ? Dia dongsaengku.Lebih tepatnya dia adalah sahabat karibku yang telah ku anggap sebagai adik. Ayah dan ibunya mengalami kecelakaan pesawat saat mereka akan pergi ke Paris untuk bisnis, makanya aku berniat untuk menjadikannya dongsaengku.” Jelas Luhan panjang lebar. Seohyun mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti.Namun kemudian air matanya kembali mengalir deras setelah ia mengingat Minseok.Melihat yeoja yang ia sukai menangis membuat hati Luhat seperti tersayat pisau.Sebelumnya ia sering melihat yeoja menangis, namun ia hanya menganggap itu bahan lelucon.Tetapi ini berbeda.Hatinya merasa sakit.Lebih sakit lagi ketika Seohyun terus terisak sambil menyebutkan nama ‘Minseok oppa’. Siapa Minseok ? apakah namjachingu Seohyun yang telah tiada ? pikirnya.

“Seohyun-ssi, jangan menangis lagi.Berhentilah menangis,kumohon. Sepenting apapun orang itu, kau harus mengikhlaskan kepergiannya”  Luhan berusaha menghibur Seohyun.Tapi usahanya sia-sia dan malah membuat Seohyun menangis lebih keras.Mendengar tangisan Seohyun yang tak kunjung henti membuat hati Luhan semakin pedih.Hingga akhirnya Luhan memberanikan dirinya untuk merengkuh tubuh kurus Seohyun itu ke dalam pelukannya.

Seohyun tercengang.Perbuatan Luhan kali ini sama sekali di luar dugaannya.Luhan….memeluknya ? Benar-benar memeluknya ? Seohyun terdiam sejenak. Ini adalah pertama kali baginya untuk dipeluk seorang namja selain Appa,Sehun dan Minseok oppanya.Hal yang pertama kali terlintas di benaknya adalah mendorong namja itu jauh-jauh atau melepaskan pelukan namja itu lalu menghujatnya dengan gertakan-gertakan kasar atau melepaskan pelukan namja itu paksa kemudian menampar pipi namja itu keras-keras.Namun itu semua di luar pikirannya.Rasa sedih yang melingkupi hatinya itu nyatanya lebih besar dari apa yang ada di pikirannya.

Seohyun membalas pelukan Luhan dan menangis di bahu milik Luhan.

-o0o-

Senyuman tulus dari Seohyun perlahan menghilang di balik pintu rumahnya.Ya, sehabis Seohyun sedikit tenang dari tangisnya di bahu Luhan, Luhan menawarkan dirinya untuk mengantar Seohyun pulang. Dan keberuntungan ada di pihaknya.Seohyun mengangguk kecil walau harus diiringi dengan isakan-isakan kecil pula.Dan mungkin kalian bisa membayangkan sendiri betapa senangnya Luhan waktu itu.Meskipun sebagian dari hatinya juga menciut setelah melihat Seohyun menangis.Menjatuhkan air mata bukan untuknya, melainkan untuk namja yang tak ia kenal bernama Minseok.

Luhan tersenyum simpul setelah melihat Seohyun tersenyum kepadanya.Perlahan pipinya memanas. Setelah sebulan mereka menjadi teman sebangku, baru hari ini Seohyun memberikan senyuman yang tulus kepadanya, mungkin.Pipinya memanas sekarang.Degupan jantungnya semakin kencang dan aliran darahnya semakin cepat.Anehnya Luhan baru merasakan hal seperti ini pertama kali. Apakah ia menyukai Seohyun ? Sepertinya iya. Sepertinya ia menyukai…ah mungkin mencintai yeoja bagaikan dewi bernama Seohyun itu. Meskipun baru sebulan ia kenal dengan Seohyun, namun bukankah itu wajar ? Kemudian ia teringat dengan sebuah kalimat dari Kris yang mengatakan bahwa cinta dapat hadir siapa, kapan, dimana saja.

Luhan kembali menatap rumah bercat putih dan memiliki kebun cukup luas itu.Kemudian ia tersenyum dan melangkahkan kakinya pergi dari rumah Seohyun dan berbelok ke arah kiri, menuju sebuah supermarket. Pertandingan antara Manchaster United dan Barcelona akan tayang malam ini.Dan ia tak ingin menontonnya tanpa makanan ringan apapun.Jadi ia memutuskan untuk membeli persediaan makanan nanti yaitu beberapa makanan kecil dan minuman untuknya serta Kris.

Luhan membuka pintu supermarket itu dan mengedarkan pandangannya.Tampaknya supermarket itu sedang sedikit ramai.Terdapat segerombol ibu-ibu yang sedang memilih sayuran.Beberapa namja dan yeoja membeli makanan ringan sepertinya.Mungkin untuk pertandingan nanti, pikir Luhan. Tetapi mana mungkin yeoja melihat hal seperti itu ? Mustahil.Lalu untuk apa para yeoja itu membeli makanan-makanan ringan ? Ah sudahlah, bukan urusannya.

Luhan segera mengambil trolli dan meluncur ke rak berisi makanan-minuman ringan.Luhan mengambil banyak makanan ringan.Kripik kentang, sereal, softdrink hingga kacang sudah memenuhi trolli miliknya. Ia mengedarkan pandangannya lagi.Kemudian matanya tertuju pada sebuah jersey dari klub bola faforitnya, Manchaster United. Dengan semangat membara Luhan segera mendorong trolli miliknya ke arah jersey itu. Namun, saat ia meraih jersey itu, tanpa sengaja tangannya bersentuhan dengan tangan seseorang.“Oh ? Mianhaeyo” Luhan membungkukkan badannya berulang kali, belum sempat melihat wajah orang itu. Namun setelah Luhan berdiri seperti semula, barulah ia melihat seseorang di depannya itu.

Namja.

Namja itu tersenyum kikuk dan memberikan jersey itu kepada Luhan. “Mianhaeyo, namun sepertinya kau meraihnya duluan.”

Luhan menatap namja itu dan jersey yang ia pegang bergantian. “Kau beli sajalah. Aku sudah punya banyak  jersey seperti itu di rumah.” Balas Luhan, sembari meletakkan jersey itu ke trolli namja itu. Meskipun ada sedikit rasa tak rela di hatinya, namun ia tak mempermasalahkannya. Toh, di rumahnya juga masih banyak jersey seperti itu.Lagipula ia mengunjungi supermarket ini kan untuk membeli makanan dan minuman untuk nanti, bukan untuk membeli jersey.

Namja itu mengangguk mengerti, kemudian mengulurkan tangannya pada Luhan. “Gomawo, Sehun imnida. Bangapseumnida”

“Bangapseumnida, Sehun-ssi. Xi Luhan, Luhan imnida” Luhan menjulurkan tangannya dan menjabat tangan namja bernama Sehun itu.Sepertinya ia akan mendapat seorang kenalan baru, pikirnya.

Luhan tersenyum dan kembali mendorong trolli nya menuju kasir, meninggalkan Sehun yang masih terdiam di stan  jersey itu.Namun baru saja ia melangkah, langkahnya terhenti ketika Sehun kembali memanggilnya dan menghampirinya. “Luhan ?? Kau Luhan ??” tanya Sehun antusias. Sedangkan Luhan menatapnya dengan tatapan heran.Apa ia pernah bertemu dengan Sehun sebelumnya ? Tentu saja jawabannya belum.Ia bahkan baru pertama kali mendengar nama ‘Sehun’.

“Ne, waeyo ?”

“Kau….” Sehun menggantungkan kalimatnya. “Kau mengenali Seohyun ?” Luhan terperanjat. Bagaimana Sehun tahu Seohyun ? Apa ia namjachingunya ? Dan mengapa Sehun menanyainya tiba-tiba seperti itu ? Ah sudahlah.Luhan menganggukkan kepalanya cepat. “Seohyun… Seo Joo Hyun bukan ? Kalau Seo Joo Hyun aku kenal dia.” Jawab Luhan sekenanya.

“Akhirnya aku bertemu denganmu, Hyung” Sehun tersenyum, berlawanan dengan Luhan yang mengerutkan keningnya. Seakan tahu dengan pikiran Luhan, Sehun meringis dan mengatakan, “ayo kita bayar dulu belanjaan ini dan aku akan menjelaskan sesuatu”

Luhan mengangguk setuju.

-o0o-

Seohyun merebahkan tubuhnya di ranjangnya.Lagi-lagi sesuatu menghampiri perasaannya.Pikirannya kembali tertuju pada kejadian di makam tadi.Peristiwa dimana ia menangis di rengkuhan seorang Xi Luhan. Mungkin sekarang ia sedang…err senang ? Ya mungkin saja. Namun ia merasa sedikit heran dengan perasaannya.Mengapa ia malah memilih untuk membalas pelukan Luhan dan menangis di rengkuhannya padahal hal yang pertama kali terlintas di benaknya justru sebaliknya ? Apakah Seohyun mulai mencintai Luhan ? Tidak. Seohyun menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Ia tak akan jatuh cinta. Tak akan pernah ! Seohyun menutup kepalanya dengan bantal.Ah, ia benar-benar tak tahu apa yang ia rasakan sekarang. Senang, Sedih, Kesal, Takut, Seohyun tak dapat membedakannya.Untuk saat ini sepertinya.

Seohyun beranjak dari singgasananya—ranjang besarnya—menuju CD player.Ia segera menyalakan sebuah lagu sedikit ballad berjudul Can I Love You ? yang dipopolerkan oleh sebuah grup bernama Yurisangja. Alunan lagu itu yang ballad dan tak menuntut membuat Seohyun memutuskan untuk menjadikan lagu itu sebagai salah satu lagu faforitnya sekarang.Seohyun kembali merebahkan dirinya ke ranjangnya setelah ia mulai mendengar alunan lagu dari CD playernya. Entah mengapa Luhan tiba-tiba muncuk di benaknya saat ia mendengarkan salah satu kalimat dari lagu itu.

“”

Seohyun melemparkan bantalnya sembarangan.Mengapa ia memikirkan Luhan ? Mengapa harus Luhan ? Mengapa ! Seohyun melemparkan bantalnya lagi ke sembarang arah dan akhirnya ia tersentak setelah ia mendengar suara pecahan dari sebuah benda jatuh di kamarnya.Setelah ia cari, ternyata sebuah pigura berbentuk lucu terjatuh.Dengan segera ia menyapu pecahannya dan membuangnya ke sampah. Setelah itu, Seohyun menemukan sebuah foto di karpet. Foto yang tadinya terpajang di figura. Fotonya bersama Minseok dan Sehun.Mereka bertiga tampak bahagia disana dengan tangan Seohyun mencubit pipi Minseok dan Sehun.

Seohyun memungut foto itu dan meletakkannya di meja samping ranjangnya.Membiarkannya disana. Kemudian direbahkannya tubuhnya di atas ranjang.Menatap langit-langit kamarnya adalah kegiatannya saat ini.Membiarkan pikirannya menyebar kemana-mana.Setelah itu matanya tertuju pada pintu kamarnya yang terbuka perlahan.Seseorang memasuki kamarnya.

“Oh, Sehun-ah” ujarnya setelah melihat Sehun memasuki kamarnya.Sehun membungkuk sebentar lalu mendekati Seohyun. “Ada apa kau kemari, Hun-ah ?” tanya Seohyun.Sehun tak menjawabnya.

“Noona, aku tahu namja bernama Xi Luhan. Ternyata seleramu bagus juga,Noona.”

“Mwo ?”

Sehun menyeringai. “lihat saja nanti”

-o0o-

Seorang namja tengah berjalan menuju kelasnya dengan perasaan yang bahagia, mungkin. Namja itu—Luhan—terus saja menampakkan senyumannya yang mungkin bisa membuat yeoja terpesona disepanjang perjalanannya menuju kelasnya.Di sepanjang perjalanan pula Luhan tak segan-segan mengeluarkan suara merdunya, bersenandung di sepanjang perjalanan.Entah itu lagu anak-anak, lagu girlband atau lagu boyband. Semua disenandungkannya.

Tiba-tiba langkahnya terhenti, begitu pula kegiatan bersenandungnya.Tubuhnya kini telah berdiri di depan pintu kelasnya.Ia memutuskan untuk mengintip terlebih dahulu, siapakah yang telah datang di kelas itu. Benar-benar sesuai rencana. Di kelas itu hanya terdapat seorang yeoja yang tak lain dan tak bukan adalah Seohyun. Gadis itu sedang membaca buku fisika, seperti biasanya. Namun, kali ini Seohyun tampak lebih terlihat innocent dengan sebuah pita di rambut sebelah kirinya. Dan perlu dicatat lagi, benar-benar sesuai rencana.

Luhan menghela nafas sejenak, sebelum akhirnya kakinya melangkah ke dalam kelas itu. Sepanjang perjalanan menuju ke bangkunya,ia menatap Seohyun yang masih asyik dengan kegiatannya.Sepertinya gadis manis itu tak menyadari kedatangan Luhan. Tapi yasudahlah, Luhan juga tak mempermasalahkannya. “Annyeong Seohyun-ah” sapanya seperti biasa, sembari meletakkan tas nya di atas bangku dan mendudukkan dirinya.

Seohyun menutup bukunya, kemudian menatap Luhan dengan tatapan yang…heran. Ya, Seohyun sedang menatap lawan bicaranya itu heran.Bukan karena tingkah atau sikap Luhan pagi ini, namun karena Luhan yang memanggilnya dengan embel-embel ‘ah’ , bukan dengan embel-embel ‘ssi’. Memang mereka telah berkenalan selama satu bulan, namun tetap saja terdengar aneh bagi Seohyun. Ah yasudahlah. Yang terpenting Luhan tak memanggilnya dengan nama hewan saja Seohyun sudah bersyukur. “Ah annyeong, Luhan-ssi”

Seohyun kembali melanjutkan kegiatannya—membaca buku—yang tadi sempat di jeda oleh kedatangan Luhan. Sedangkan Luhan ? Ia masih asyik merencanakan apa yang ia rencanakan untuk tahap berikutnya. Yeah, sebenarnya Luhan telah membuat sebuah rencana dengan Sehun, adik Seohyun untuk mengajak Seohyun ke festival Chuseok. Sebenarnya ide ini bukan 100% murni dari otak Luhan. Namun ini adalah rencana asli dan murni diciptakan oleh Sehun. Ide yang cukup baik bagi Luhan. Selain untuk ajang mengerjai Seohyun, Luhan juga bisa menjadikan itu sebagai ajang pendekatan.Luhan terkekeh pelan ketika kembali mengingat percakapannya dengan Sehun kemarin.

“Hyung. Pastikan kau bertemu dengannya di acara festival Chuseok besok malam. Aku akan datang dan mendukung kalian.Kau tahu kan, festival Chuseok biasanya di dominasi dengan horror. Dan Seohyun Noona sangat takut hal berbau mistik seperti itu”

“Ya Luhan ! Kau baik-baik saja ?”

Kekehan Luhan berhenti, digantikan oleh tatapan keheranan yang ditujukan pada gadis cantik di depannya ini. Yang benar saja Seohyun menganggapnya kurang waras. Luhan tidak gila, dan sepertinya namja itu bisa membuktikannya. Tapi lupakan, siapa juga yang ingin melihatnya ? “Kau pikir aku telah gila ? Aku juga masih waras, Hyun-ah”

Sekarang, Seohyun yang terkekeh geli. “Ne ~ terserah kau sajalah”

“Seohyun-ah ?”

Seohyun menatap Luhan dengan tatapan—ada—apa.Luhan sedikit menimang-nimang perkataannya. Ia terlihat bimbang, antara mau mengatakannya atau tidak. Setelah menimang nimang selama hampir dua menit, akhirnya Luhan memutuskannya untuk mengatakannya saja. Bukankah jika Seohyun menolak masih ada Sehun yang membantunya ? pikir Luhan. Sebenarnya juga tak ada salahnya juga jika ia mengatakannya. Right ?

“Seohyun-ah, maukah kau pergi ke festival Chuseok nanti malam bersamaku ?”

-to be continue-

A/N : Bagaimana dengan chapter 2 ini ? gaje ya? Hihihi Maaf ;-; Abis author pas buat ini lupa jalan cerita yang awal-awal author udah siapin ._. Well, thanks for read~ Kritik dan saran sangat dibutuhkan *bow* Annyeong~

30 thoughts on “[Freelance] Lovhobia! (Chapter 2)

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s