[Freelance] Flakes

flakes

.Flakes.

Title : Flakes || Author : lollicino || Cast : Seo Joo Hyun/Seohyun [Girls’ Generation] Kim Joon Myun/Suho [EXO-K] || Genre : Romance (dikit banget), sad, AU || Rating : Teenagers || Length : Oneshoot || Author’s note : Too much Seohyun’s side, hope u can understand this story =D

Poster via Cafe Poster

“Oppa adalah malaikatku. Dan aku tahu waktu oppa untuk menemaniku sudah habis. Aku selalu berharap kau tidak pergi dariku, tapi tidak bisa. Siapakah aku ini? Aku hanya Seo Joohyun, gadis lemah yang selalu membutuhkanmu dimana-mana.” –Seohyun

.

.

.

= = =

Bumin Hospital, Seoul.

Gadis itu, namanya Seo Joo Hyun. Terduduk diatas kasur rumah sakitnya dalam balutan baju pasien serta infus yang tertancap di tangannya. Dia hanya diam seraya memeluk kakinya, menatap keluar jendela, melihat daun berguguran dari pohonnya dibawah sana. Anak-anak kecil berlarian, kota Seoul yang selalu aktif, dan yang lainnya yang tak pernah dilihatnya selama tiga bulan penuh berturut-turut itu.

Kini matanya beralih menatap buku di mejanya. Joohyun membukanya perlahan, membuka halaman yang baru saja ditulisnya beberapa hari yang lalu. Bibir pucatnya menunjukkan senyum kecil, tatkala tangannya menyentuh gambar dibuku itu. Gambar seorang pria dengan sayap putih lebar yang merangkul Joohyun dan membawanya terbang. Joohyun membuka halaman selanjutnya, dan menemukan tsuru (bangau kertas) di dalamnya. Joohyun mengambilnya, menatapi tsuru itu.

Oppa membuat apa?”

            Pria itu menoleh, dan tersenyum lembut kepada Joohyun. Setelah menyelesaikan lipatan terakhir pada karyanya, dia mengangkatnya dan menunjukkannya kepada Joohyun.

“Cha! Oppa membuat tsuru.” Ucapnya puas. Joonmyun menerbangkan tsuru itu seakan-akan tsuru itu benar-benar terbang, walaupun berakhir mendarat di tanah dengan tidak mulus.

“Kata orang Jepang, jika kita membuat sebanyak 3000 tsuru semua permintaan kita akan terkabul.” Ucap Joohyun dengan mata berbinar. Joonmyun menoleh dan mengerutkan kening. Kemudian dia menggelengkan kepalanya,

“Satu tsuru untuk satu permintaan, itu menurutku. Jadi, kalau kita membuat 3000 tsuru, kita meminta 3000 permintaan. Itu terdengar tamak, Joohyun. Jadi cukup buat tiga tsuru. Tiga permintaan, itu sudah cukup.” Jelas Joonmyun, “Tahu kenapa tsuru dianggap bisa mengabulkan permintaan?” tanya Joonmyun kemudian, dia mengambil kembali tsurunya yang jatuh tadi.

Joohyun menggeleng tidak mengerti, “Kenapa?”

“Karena mereka punya sayap seperti malaikat. Mereka akan terbang ke surga, lalu menyampaikan keinginan kita kepada Tuhan. Setelah itu permintaan kita terkabul.” Joonmyun menerbangkan tsurunya, tapi tidak melemparnya. “Tapi kita tidak boleh membiarkan tsuru itu mendarat di tanah. Sayapnya akan terluka, dan dia tidak akan bisa mengantarkan permintaan kita.” Joonmyun melempar tsuru itu.

“Tidak. Aku tidak akan membiarkan malaikatku jatuh. Kalau dia terluka, aku akan menyembuhkannya bagaimanapun caranya. Aku tidak mau oppa terluka.”

“Eung?”

Joohyun tesenyum dan memeluk lengan Joonmyun, “Karena oppa adalah malaikatku.”

Joohyun kembali tersenyum mengingat kenangan itu. Otaknya mengingat persis bagaimana wajah Joonmyun saat itu, senyum malaikatnya, dan wajahnya sendiri. Wajah cerahnya dengan bibir merah merona, bukan wajah pucat dengan lingkaran hitam di matanya dan bibir yang mulai berwarna ungu.

Dia merindukannya. Seo Joo Hyun merindukan Joonmyun yang dulu dan dirinya yang dulu. Dirinya yang ceria, tangguh dan aktif. Bukan dirinya yang pemurung, pendiam dan lemah. Bahkan kini, terlalu banyak menggerakkan badanpun akan terasa sakit.

Joohyun mengangkat tangannya, mengarahkannya ke jendela seakan menggapai apa yang ada diluar jendela itu. Kebahagiaan dan hidup bebas. Dia menggerak-gerakkan jarinya yang kurus dan tersenyum pahit.

“Joohyunnie?”

Joohyun menoleh ketika mendengar namanya dipanggil. Ditemukannya wanita paruh baya yang sedang tersenyum kecil sekarang. Wanita paruh baya yang sangat tangguh dan tegas, wanita yang dipanggilnya ibu. Wanita yang selalu ingin dijadikan panutan hidupnya, tapi sayangnya tidak bisa karena Joohyun terlalu lemah.

Eomma…” balas Joohyun dengan suara serak. Ibu Joohyun mendekati anaknya itu, lalu mengelus kepala Joohyun perlahan. Tangannya merambat turun menyentuh tangan Joohyun yang terasa dingin dan menggenggamnya, memberi ketegaran kepada anak semata wayangnya itu.

“Bagaimana keadaanmu? Eomma minta maaf karena beberapa hari ini eomma tidak bisa menemuimu, sayang. Eomma sangat mengkhawatirkanmu.”

Setetes air mata mengalir, dan ibu Joohyun dengan cepat menghapusnya. Joohyun mengangguk paham dan tersenyum, “Tidak usah khawatir.”

Keduanya terdiam sedikit lama, menikmati momen-momen indah yang sedikit jarang mereka rasakan. Joohyun dalam pelukan ibunya, menutup matanya. Menghirup aroma ibunya yang sangat dikenalnya, menikmati hangatnya pelukan seorang ibu. Betapa rindunya dia ketika ibunya mengelus kepalanya, merasakan tiap helai rambut hitam Joohyun yang halus di telapak tangannya. Andai dia bisa merasakannya lebih lama lagi… tidak mungkin.

Eomma.”

“Ya, sayang?”

“Aku punya sebuah permintaan.” Joohyun melepaskan pelukan ibunya. Dia meraih tsuru merahnya dan menunjukkannya kepada ibunya. “Orang bilang, jika kita membuat tsuru maka permintaan kita akan terkabul. Aku punya permintaan, eomma. Dan aku mau eomma mengabulkannya.” Lanjutnya.

Ibu Joohyun mengangguk, mengiyakan. “Apa yang kau inginkan, Joohyun sayang?” tanyanya.

“Aku mau kembali bersekolah, eomma.”

.

.

.

= = =

            Dimata Joohyun, tidak ada yang berubah. Kamarnya, masih seperti dulu. Dengan warna putih mendominasi, dan boneka-boneka di tempat tidurnya. Bau kamarnya masih sama, aroma mawar yang menenangkan. Lagu-lagu klasik piano masih setia bermain di cd player nya, menambah kesan menenangkan di kamar itu.

Joohyun melangkah, mendekati pintu kaca yang mengarah ke balkon kamarnya. Joohyun membuka pintu itu, berjalan ke arah balkon dan meletakkan tangannya di atas balkon tersebut. Matanya melihat sekeliling –semua masih sama. Pohon besar dibawahnya menggugurkan daunnya dan ada tukang sapu yang selalu menyapu daun dengan sedikit gusar dibawahya. Selalu pada saat musim gugur. Joohyun terkikik kecil melihat bagaimana kesalnya tukang sapu itu.

Kemudian Joohyun menatap lurus kedepannya. Dia menemukan balkon, tepat di seberang balkon kamarnya. Namun, pintu kacanya tertutup, tidak terbuka lebar seperti dulu lagi. Joohyun menemukan seorang pria disana, tengah sibuk dengan teleponnya. Ketika pria itu mendongak, tatapan mereka bertemu.

Joohyun melambaikan tangannya kaku dan tersenyum kecil, tapi tidak dengan pria itu. Dia menatap sinis Joohyun, dan dengan kasar menutup gorden pintu kacanya sehingga Joohyun tidak bisa melihatnya lagi. Joohyun hanya menghela nafasnya.

Ada yang berbeda.

Dulu, pintu itu selalu terbuka lebar dan pria itu, Kim Joonmyun selalu tersenyum padanya, keluar dari balik pintu kaca dan mereka mengobrol satu sama lain dari balkon mereka. Mereka terkadang membuat jalan rahasia untuk menyeberangi balkon, atau bahkan melakukan hal-hal lainnya yang begitu Joohyun rindukan.

Joohyun mendongak, menatap ribuan bintang yang bertabur di langit malam. Joohyun memperhatikan dengan seksama, seraya bergumam, “Appa selalu bilang bahwa bintangku adalah yang dekat dengan bulan. Appa bilang, bulan akan melindungiku agar cahayaku tidak mati, begitu pula dengan Tuhan. Mereka tidak akan membiarkanku hilang dari pandanganku…”

Joohyun tertawa miris. Jari telunjuknya yang kurus menunjuk ke arah bulan purnama yang bersinar sangat terang, “… Lihatlah.” Ucapnya lagi.

“Tidak ada lagi bintang di sebelah bulan. Bintang itu kini redup, cahayanya telah mati.”

.

.

.

= = =

            Joohyun melangkah pelan, melewati lorong sekolahnya yang selalu dipenuhi oleh murid-murid yang berlarian kesana-kemari dan bergosip. Suasana berisik begitu terasa, membicarakan Joohyun yang tengah berjalan sambil menundukkan kepalanya.

Dulu, kau selalu mengejarku, oppa. Kau selalu berjalan di sampingku dan berkata bahwa aku harus tenang dan membiarkan mereka, lirih Joohyun dalam hatinya.

“Hyun, tunggu!”

            Joohyun menoleh ke belakang dan menemukan Joonmyun disana, berlari ke arahnya seraya melaimbaikan tangannya. Joohyun tersenyum bahagia, seakan-akan dia baru saja membawa beban berat dan kemudian beban itu hilang begitu saja.

“Myun oppa…” Joohyun-pun balas melambaikan tangannya. Joonmyun merangkul Joohyun, dan sebelumnya seperti biasa, mengacak-acak rambut hitam gadis itu. Joohyun mendengus kesal, “Oppa!” namun setelahnya, dia tersenyum.

“Nah, seperti ini seharusnya.” Joonmyun malah mencubit kedua pipi Joohyun, “Kau seharusnya tersenyum seperti ini, Hyun. Jangan pernah senyum itu hilang dari wajahmu hanya karena mereka semua mengejekmu. Anggap saja mereka hanya angin lalu, oke?”

“Oke!”

Dimana kau sekarang?, lirih Joohyun lagi dalam hatinya. Dia menarik nafasnya dengan berat, berusaha untuk menahan kepedihan itu di hatinya agar air matanya tidak mengalir sekarang.

Joohyun sampai di kelasnya, dia meletakkan tasnya diatas meja, lalu duduk diam. Dia memperhatikan sekitarnya. Kelas ini selalu berisik, kapanpun. Ada guru maupun tak ada guru, jam istirahat maupun jam pelajaran. Tidak pernah berubah.

Joohyun melihat ke arah pintu, dan dia menemukannya lagi. Menemukan seorang Kim Joonmyun di depan pintu kelasnya yang menunjukkan senyum malaikatnya. Senyum termanis yang pernah ada. Joonmyun melambaikan tangannya, dan ketika Joohyun mau membalas lambaiannya…

… dia sadar kalau itu bukan untuknya. Melainkan untuk seorang gadis bernama Im Yoon Ah yang kini berjalan ke arah Joonmyun,  memeluk lengan Joonmyun penuh kemesraan. Senyum itu bukan untuk Joohyun. Semua miliknya dulu bukan miliknya lagi sekarang.

Semua tidak seperti dulu.

“Hyun!”

            Joonmyun melambaikan tangannya dan tersenyum lebar –seperti biasanya- di depan kelas Joohyun. Joohyun tersenyum dan membalas lambaian tangannya, “Oppa.”

Joohyun berdiri, berlari kecil ke arah Joonmyun kemudian memeluk lengannya dengan erat, “Bogoshippo, oppa.” Ucap Joohyun. Joonmyun tersenyum kecil, kemudian mengacak-acak rambutnya.

Aigo~ aku tahu aku ini tampan dan selalu dirindukan, Hyun-ah. Tapi kita bertemu setiap hari, tahu?” Joonmyun terkikik. Joohyun menggembungkan pipinya kesal.

“Aku merindukan oppa. Kemarin oppa tidak bisa menemaniku berjalan-jalan seperti biasanya.” rengek Joohyun.

Mianhae, nanti sore, kita akan berjalan-jalan, call?”

Joohyun menautkan kelingkingnya dengan kelingking Joonmyun, “Call!”

Dan lagi-lagi, Joohyun harus menahan kepedihan di hatinya. Menahan air mata yang selalu hendak menyeruak ketika seluruh serpihan kenangan itu teringat kembali, serpihan utuh yang kini telah terpecah dan tak bisa diperbaiki. Tak pernah ada orang yang selalu bisa menahan rasa seperti ini. Hanya Joohyun.

Dan tanpa bisa dicegahnya, setetes air mata telah mengalir.

.

.

.

= = =

            Bel pulang sekolah sudah berbunyi sejak tiga jam yang lalu. Kebanyakan murid pasti sudah tiba di rumah, makan, tidur dan mengerjakan PR. Tapi tidak dengan Joohyun.

Jam sudah menunjuk pukul 19.45 PM, tapi dia masih senantiasa diam di taman belakang gereja tua itu. Joohyun memeluk dirinya sendiri, menghalau angin malam yang terasa sangat dingin. Joohyun terus memperhatikan taman gereja itu, berusaha untuk menemukan serpihan memorinya tentang taman gereja ini.

            Hari sudah malam, dan angin dingin menerpa. Namun, kedua orang itu masih setia duduk di taman belakang gereja seraya memperhatikan langit malam yang begitu indah. Bulan sabit membentuk lekukan senyuman yang seakan tersenyum kepada mereka, dan bintang-bintang bertaburan di langit tanpa kekurangan sedikitpun.

“Bintangmu.” Joonmyun menunjuk sebuah bintang yang bersinar terang di samping bulan sabit. Joohyun mengangguk, dan tangannya juga menunjuk ke arah langit.

“Dan itu bulan oppa.”

Joonmyun mengerutkan keningnya, “Kenapa bulan?”

“Karena aku adalah bintang yang selalu dekat dengan bulan. Karena oppa adalah bulan yang selalu ada bersama bintang. Kita berdua bersinar terang, saling melengkapi satu sama lain.” Jawabnya.

“Dan oppa akan tetap menjagamu. Menjaga agar bintangmu tidak redup, setuju?”

“Setuju.”

“Sudah berapa lama aku tidak kesini?”

Joohyun begumam dengan bibir yang sedikit bergetar. Terpancar kesedihan yang begitu dalam dari matanya ketika dia mendongak, menatap langit yang begitu indah. Cahaya bulan menyinari malam itu, namun dia tidak bisa melihat bintangnya.

“Kenapa? Kenapa aku tidak bersinar di samping oppa? Kenapa bintangku tidak ada?” tanyanya lagi pada angin-angin yang menerpa wajahnya, menemaninya di malam yang sepi ini. Suara gemerisik pohon-pohon, pun menemaninya. Membisikkan jawaban yang tidak bisa dimengerti oleh Joohyun.

Lagi, Joohyun menangis. Air matanya menyeruak keluar tanpa komando, membasahi pipinya, membuat aliran kecil di pipinya. Dan kali ini Joohyun membiarkannya. Membiarkan air matanya mengalir, kesedihan yang disimpannya ini mengalir. Joohyun tidak bisa lagi menampungnnya, menampung kesedihan di dalam dirinya. Terlalu banyak kesedihan yang disimpannya, terlalu banyak dia berbohong dalam hidupnya. Berbohong bahwa dia baik-baik saja, berbohong bahwa dia adalah gadis yang tegar dan tangguh. Semua adalah terbalik, tidak satupun dari kebohongannya adalah kebenaran.

Gadis itu terlalu lemah, Joohyun bukan tipe orang yang sangat tegar. Beribu air mata sudah mengalir dari hatinya, lalu dari matanya. Joohyun bukan orang yang pemberani, Joohyun bukan yang terbaik. Dia hanyalah seorang putri kecil yang lemah, hancur dengan sekali hembusan angin.

Dan Joohyun benci kenyataan itu.

“Aku mohon, aku ingin bersama Joonmyun oppa walau hanya sehari. Aku ingin bintangku bersinar di samping bulan, walau hanya semalam. Kumohon.”

Joohyun terisak kali ini, dengan tangan terlipat di dada, memohon di hadapan patung Tuhan yang tak jauh darinya. Joohyun tidak pernah selemah ini dalam hidupnya. Tidak ada yang pernah melihatnya selemah ini, Joonmyun sekalipun. Hanya Tuhan yang melihatnya, dan itu sekarang.

Isakan, suara tangisan Joohyun memecah keheningan malam itu. Bulan sabit memang tersenyum, lampu-lampu hias memang tampak menyenangkan, namun tidak seperti hati Joohyun. Hatinya menangis, hatinya tidak pernah tersenyum bahagia. Entah kapan hatinya bisa tersenyum, Joohyun sungguh mengharapkannya.

Untuk sekali saja, hatinya tersenyum.

Joohyun menghapus air matanya, isak tangisnya telah berhenti. Dia kini mendongak, menatap langit malam. Bulan masih bersinar terang, dan disebelahnya, awan-awan hitam bergerak. Awan-awan itu bergerak menjauh dari bulan dan sedikit demi sedikit, sebuah cahaya muncul dari balik awan itu. Cahaya indah yang diharapkan Joohyun muncul, cahaya yang redup namun hidup kembali.

Bintangnya, kini bersanding lagi dengan bulan.

.

.

.

= = =

            Malam itu, Joonmyun menghela nafasnya. Pensilnya dilempar ke sembarang arah. Pikirannya bercampur aduk, dia tidak bisa berpikir dengan  jernih. Dia memejamkan matanya sejenak.

Tiba-tiba hatinya terasa sedikit perih. Joonmyun tidak tahu penyebabnya. Dia menyentuh dadanya yang bergemuruh, dan bergumam sendiri, “Apa ini?”

Dia kemudian berjalan keluar, membuka pintu kacanya, lalu membiarkan angin malam masuk ke dalam kamarnya. Joonmyun melihat langit malam yang indah, dan matanya menangkap bulan sabit yang bersinar terang… dan bintang di sampingnya.

Itu bintang Joohyun, hatinya berbisik. Joonmyun dapat mendengarnya, namun dia mengabaikannya. Joonmyun menurunkan pandangannya, menatap lantai kamarnya.

[Pluk]

Joonmyun terdiam. Dia sedikit tersentak, ketika menemukan sebuah tsuru kuning mendarat di dekat kakinya. Tangannya mengambil tsuru itu, lalu memperhatikannya lekat. Joonmyun menemukan sebuah tulisan di bawah sayap kiri tsuru itu. Tulisan yang begitu dikenalnya.

Tulisan Joohyun.

2. Satu hari bersama Kim Joon Myun.

Joonmyun mendongak, dan menemukan Joohyun disana. Berdiri di balkon kamarnya, dan melambaikan tangannya dengan kaku kepada Joonmyun disertai senyuman kaku juga. Joonmyun membenci itu.

Dengan segera, dia masuk ke dalam kamarnya. Joonmyun menutup pintu kacanya sedikit kasar, lalu menutup gordennya juga. Dia melihat tsuru di tangannya, kemudian melemparnya asal. Wajahnya yang tadi menunjukkan kesan sinis, mulai berubah sedikit demi sedikit menjadi wajah sedikit bersalah. Joonmyun menarik gordennya, membuat sedikit celah untuk mengintip.

Joohyun masih disana. Matanya mengarah ke langit, menatap bintang-bintang bertaburan. Di mata Joonmyun, seakan-akan dia disinari oleh cahaya bulan. Gadisnya, gadis bintangnya. Joohyun masih sama, dia masih suka memperhatikan langit di malam hari.

Joonmyun tidak membencinya, Joonmyun hanya masih teringat akan kejadian itu. Kejadian dimana Joohyun membuatnya seperti ini, membenci Joohyun sendiri. Serpihan kejadian itu tidak pernah bisa dilupakannya. Serpihan kejadian yang menyakitinya, serpihan kejadian yang terjadi tanpa alasan yang jelas dan menghancurkan satu memorinya.

“Aku membencimu, oppa. Dan kau juga harus membenciku.”

Joonmyun masih ingat betul bagaimana Joohyun mengatakannya. Penuh penekanan, dan tatapan benci dicurahkannya kepada Joonmyun. Jujur, Joonmyun sendiri tidak percaya kalau Joohyun melakukannya. Joohyun tidak pernah membenci orang tanpa alasan, Joohyun tidak pernah melemparkan tatapan sesinis itu kepada siapapun.

Joonmyun kembali mengintip, dan Joohyun masih disana. Matanya membelalak, hatinya seakan berhenti berdetak. Joonmyun mengedipkan matanya beberapa kali, masih tidak percaya akan apa yang dilihatnya.

Gadis itu, Seo Joo Hyun…

… menangis.

.

.

.

= = =

“Kondisinya… tidak memungkinkan lagi. Sel-sel kangker sudah menyebar ke seluruh tubuh dan semakin mengganas. Kemungkinan hanya tidak lebih dari 10% kalau menjalankan operasi. Tidak lama lagi, sel tersebut akan merambat ke jantungnya dan menyebabkan…

… kematian.”

-In Joohyun’s dream-

            Joohyun, terbangun diantara rerumputan yang terasa halus di punggungnya. Matanya sepenuhnya telah terbuka, melihat keadaan sekitarnya. Ini bukan kamarnya, ataupun kamar rumah sakit yang biasa ditempatinya.

Tempat itu adalah hutan. Begitu luas membentang di depan mata Joohyun, dilengkapi oleh pohon-pohon lebat yang menghalangi langit. Begitu gelap, dan Joohyun tak mampu melihat apapun. Dinginnya angin malam menerpa kulitnya. Suara-suara aneh, entah berasal darimana, masuk kedalam telinga Joohyun dan membangunkan rasa takutnya. Kelelawar berterbangan, melintasi kepala Joohyun sehingga Joohyun harus menunduk.

Dia berlari secepat mungkin menjauhi hutan itu. Rasa takut benar-benar menghantui dirinya, jiwanya. Keringat membasahi pelipisnya, berkali-kali semak yang tajam melukai kakinya, berkali-kali pula dia tersandung batu dan terhempas ke tanah pijakannya.

[BRUK]

Joohyun tesandung lagi, untuk yang ketiga kalinya. Kepalanya membentur sebuah batu, menimbulkan rasa sakit yang sangat di kepala Joohyun. Joohyun menyentuh kepalanya yang terasa nyeri. Matanya berusaha untuk melihat, namun semua tampak blur di matanya. Seluruh tubuhnya seakan tak bisa digerakkan, dan hal terakhir yang bisa dilakukannya adalah,

Oppa, tolong aku…”

.

            Joohyun terbangun lagi, kali ini bukan hutan gelap seperti tadi. Masih rerumputanlah yang menjadi tempat berbaringnya, namun tempat ini adalah padang rumput luas.

Joohyun berusaha untuk bangkit, dan dia melihat sekelilingnya. Tak ada apapun, hanya sebuah pohon perak yang tak jauh darinya. Bahkan hutan itu, kini telah tiada. Joohyun berjalan ke arah pohon perak itu, mengitarinya.

Pohon perak itu mengeluarkan cahaya-cahaya kecil yang berterbangan di sekitar Joohyun. Mereka seperti peri kecil, berterbangan tanpa berhenti sedikitpun. Semakin lama… semakin lama, Joohyun menyadari bahwa cahaya-cahaya itu bertambah banyak dengan cepat. Mereka berkumpul, menjadi satu ikatan kuat yang sungguh menyilaukan mata Joohyun. Joohyun mengambil langkah mundur sambil menutup matanya dengan lengannya. Cahaya itu semakin terang, namun tak lama, cahaya itu mulai meredup.

“Joohyun.”

Joohyun masih diam.

“Hyun-ah.”

Joohyun menurunkan tangannya yang menutupi matanya, dan Joohyun melihat Joonmyun berdiri di depannya. Tak jauh darinya.

Pria itu tidak biasa. Dia begitu bersinar, dengan setelan putih yang melekat di tubuhnya. Kemudian, Joonmyun mengulurkan tangannya kepada Joohyun. Joohyun membelalakan matanya. Bukan, bukan karena Joonmyun mengulurkan tangannya.

Namun karena sepasang sayap putih besar yang muncul di punggung Joonmyun.

Ooppa.” Joohyun tergagap, tak mampu berkata-kata melihat sepasang sayap itu di punggung Joonmyun. Apakah Joonmyun benar-benar seorang malaikat seperti yang ada dalam cerita? Joohyun bertanya dalam hatinya.

“Ikutlah bersamaku…”

“… bersama malaikatmu, Joohyun-ah.” lanjut Joonmyun.

Joohyun menerima uluran tangan Joonmyun dan menggenggamnya erat. Hal terakhir yang dilihat Joohyun adalah senyuman malaikat Joonmyun, sebelum Joonmyun memeluknya dan Joohyun tak merasakan daratan lagi di kakinya.

“Percayalah padaku, bahwa aku akan selalu ada untukmu, Seo Joohyun.”

Joonmyun melepaskan pelukannya. Joohyun dapat melihat bahwa kini kakinya tidak menyentuh daratan, hanya udara kosong di bawahnya. Jutaan taburan bintang yang selalu dilihatnya dari bumi, kini dilihatnya sendiri di depan matanya. Bintang-bintang itu bergerak kesana kemari, sempat melewati kedua orang itu.

Tapi yang membuat Joohyun terkesan adalah, bulan. Bulan itu begitu bulat dimatanya, begitu besar. Joonmyun menunjuk yang ada di sebelah bulan itu. Sesuatu yang selalu tertutupi oleh awan-awan hitam, dan kini menampakkan sinarnya kembali.

Bintang Joohyun.

“Bintangmu, bintang milik Seo Joohyun yang selalu ada di samping bulan milik Kim  Joonmyun. Selalu menemaninya kapanpun, dalam keadaan apapun.” Bisik Joonmyun begitu lembut di telinga Joohyun. Joohyun menoleh, menatap Joonmyun lekat-lekat. Sebelah tangan Joohyun menggenggam tangan Joonmyun, begitu erat.

“Janji?”

“Janji.”

Kemudian setelahnya, semua berwarna putih di mata Joohyun.

.

.

.

= = =

[BIP. BIP. BIP]

Suara mesin pendeteksi detak jantung memasuki telinga Joohyun perlahan-lahan, sementara Joohyun berusaha untuk membuka matanya yang terasa berat. Dia menggerakkan jarinya perlahan, dan merasakan sesuatu yang berat di tangannya.

“Joohyun sayang?”

Eoeomma.” lirih Joohyun dengan suara begitu parau. Ibu Joohyun bangkit, matanya tampak sembap sehabis menangis, begitu pula ayahnya yang berada tak jauh darinya. “Aappa.”

“Syukurlah tak terjadi apa-apa padamu, sayang.” Ibu Joohyun menghela nafas beratnya, menatap Joohyun puas seakan-akan Joohyun adalah berlian miliknya yang hampir hilang, tersembunyi diantara pasir-pasir pantai.

“Apa yang terjadi padaku?” tanya Joohyun. Ibunya mengelus puncak kepala Joohyun.

“Ibu menemukanmu tak sadarkan diri dikamar. Apa yang terjadi, Joohyun sayang? Seharusnya kau keluar dari kamar dan memanggil eomma agar eomma bisa segera membawamu ke rumah sakit, Joohyun-ah! Bagaimana kalau terjadi apa-apa padamu? Bagaimana jika terjadi apa-apa pada putriku ini?” ibu Joohyun terisak, air mata itu menyeruak keluar dari matanya.

Joohyun benci melihat ibunya menangis. Apalagi jika itu karenanya. Joohyun sangat ingin menghapus air mata itu, tapi tak bisa. Air matanya pun ingin mengalir, namun dia harus tetap kuat. Dia tidak boleh menangis hanya karena ini. Itu komitmennya.

Eomma, tidak lama lagi bukan?”

Eung?”

“Benarkan? Mereka bilang tidak lama lagi, aku akan-“

“Tidak, kau akan tetap sembuh, Joohyun-ah. Kau harus percaya dan tetap kuat, kau tidak boleh perg dari eomma, arra?” ibu Joohyun memotong ucapan Joohyun seraya menggenggam tangan Joohyun yang semakin merapuh dan mendingin tiap harinya.

Joohyun menggeleng lemah, “Aku tahu, eomma. Eomma tidak boleh menangis lagi, aku tidak mau melihat eomma menangis lagi, apapun yang terjadi padaku. Aku membencinya, eomma.”

Tapi, air mata ibu Joohyun mengalir semakin deras. Ayah Joohyun pun terlihat matanya memerah, menahan tangisan yang hendak keluar dari matanya. Tangan ayah Joohyun mengelus-elus pundak ibu Joohyun, menenangkannya.

Eottokhae? Bagaimana kalau eomma menangis jika kau sudah pergi, Joohyun-ah? Bagaimana eomma bisa menahan tangisan eomma sementara hati eomma sangat sakit?”

“Maka eomma harus tetap menahannya. Aku akan semakin membenci diriku sendiri yang lemah dan tidak berguna ini karena sudah membuat eomma menangis. Bisa lakukan untukku, eomma?” Joohyun balas menggenggam tangan ibunya dengan segenap tenaga yang dimilikinya.

Ibu Joohyun mengangguk lemah, kemudian menghapus tangisannya walaupun masih banyak air matanya yang tetap menyeruak keluar. Ibu Joohyun menarik nafasnya dan tersenyum, “Untuk Seo Joohyun, putriku yang tersayang, aku akan melakukan apapun. Cha, eomma sudah tidak menangis lagi ‘kan?”

Joohyun mengangguk seraya tersenyum. Teruslah seperti ini, eomma. Walaupun aku sudah tidak bisa berdiri disampingmu lagi nanti, Joohyun berucap dalam hatinya. Tangan rapuhnya masih menggenggam erat tangan ibunya, merasakan kehangatan kasih sayang seorang ibu kepada dirinya. Joohyun selalu berharap, dia dapat merasakan ini selama-lamanya. Joohyun selalu berharap, dia merasakan kehangatan ini setidaknya sampai dia berumur lima puluh tahun. Tapi dia sadar, dia tidak akan bisa mengabulkan permintaan itu. Tapi dia harap, ini bukan kali terakhirnya.

Eomma, appa. Aku punya satu permintaan.”

“Apa itu? Katakanlah, Joohyun sayang.”

“Aku mau bertemu dengan Joonmyun oppa.”

.

.

.

= = =

            Joohyun melihatnya, dalam keadaan yang selalu sama di dalam perpustakaan. Joonmyun selalu sibuk dengan buku tebalnya itu jika ada waktu luang, terlebih sepulang sekolah. Sampai bahkan, terkadang Joohyun menangis karena Joonmyun terlalu mementingkan bukunya. Joohyun tersenyum kecil mengingat kenangan-kenangan itu.

Joohyun berjalan perlahan mendekati meja Joonmyun, berusaha untuk tidak menimbulkan suara. Kemudian Joohyun menarik salah satu kursi di samping Joonmyun dan mendudukinya. Joohyun memperhatikan gerak-gerik pria itu, yang sama sekali tidak sadar bahwa ada Joohyun di sebelahnya. Ketika Joonmyun menoleh dan menyadari bahwa ada Joohyun, Joohyun hanya tersenyum kecil.

Tidak seperti biasanya. Tidak seperti dulu lagi. Joonmyun tidak pernah lagi menunjukkan senyum dan menerima kehadiran Joohyun seperti biasanya. Kini dia justru melemparkan tatapan benci. Dia membereskan buku-bukunya dan memasukkannya kedalam tas dengan kasar, lalu menenteng tasnya dan beranjak menjauh.

Joohyun menahannya, memegang tangan Joonmyun dengan sekuat tenaganya. Joonmyun sama sekali tidak mau menoleh dan malah menghentakkan tangannya. Namun Joohyun kembali menahannya.

“Apa maumu?” tanya Joonmyun ketus, bahkan tidak mau menengok kearah Joohyun sedikitpun.

“Jangan pergi, temani aku sebentar oppa.” Jawab Joohyun, dengan menyembunyikan suaranya yang kini terdengar serak. Joonmyun kembali hendak menghentakkan tangannya namun dengan cepat Joohyun berkata lagi, “Kali ini, kumohon.”

“Aku bukan Joonmyun-mu yang dulu lagi, Joohyun. Jangan bersikap seenaknya.”

“Aku tidak bersikap seenaknya, oppa.” Joohyun melepaskan tangannya, “Aku meminta ini sebagai permintaan keduaku melalui tsuru itu. Ingat? Tsuru kuning yang mendarat di kakimu. Itu adalah permintaanku kali ini. Aku memohon kepadamu, oppa.” Lanjut Joohyun.

Joonmyun perlahan menoleh, melihat wajah Joohyun. Banyak hal yang Joonmyun sadari ketika melihat Joohyun sedekat ini –gadis itu lebih pucat, bibirnya mulai berwarna ungu dan terdapat lingkaran hitam dibawah matanya. Biasanya Joonmyun akan bertanya apa yang terjadi pada Joohyun, tapi tidak sekarang. Joonmyun-pun tak mengerti kenapa kejadian itu terus berlarut-larut dalam dirinya hingga membuatnya seperti ini sampai sekarang.

“Baiklah, untuk kali ini saja.”

.

.

.

= = =

            Malam itu, terasa indah bagi Joohyun. Malam itu masih sama seperti malam sebelumnya, penuh bintang dan sebuah bulan. Sudah hampir 4 bulan dia tidak mendatangi taman favoritnya bersama Joonmyun sejak kejadian itu, kejadian dimana Joohyun meminta Joonmyun untuk membencinya tanpa alasan. Sampai Joonmyun akhirnya tahu kebenarannya, bahwa Joohyun sakit, pria itu benar-benar membencinya.

Keduanya sudah terdiam cukup lama, sekitar tiga puluh menit tanpa perbincangan apapun. Keduanya hanya menatap langit yang selalu indah setiap malam di mata mereka. Sampai akhirnya, Joohyun menunjuk langit dan berkata,

“Bintangku,” Joohyun tersenyum melihat bintangnya, lalu menunjuk bulan di sebelahnya, “Dan bulan oppa yang selalu ada bersamaku.” Lanjutnya lagi.

Joonmyun hanya diam. Wajahnya masih tetap menunjukkan ekspresi datar. Menyadari itu, Joohyun kembali membuka pembicaraan, “Oppa menyuruhku untuk membuat tsuru permintaan ‘kan? Aku sudah membuat dua dan kedua permintaanku sudah terkabulkan. Bagaimana menurut oppa?”

Joonmyun menoleh, menatap malas kearah Joohyun. “Jika kau mengajakku kesini dan membuatku harus menghabiskan waktuku hanya untuk pembicaraan aneh ini? Jika iya, maka aku akan pergi sekarang.” Joonmyun bangkit berdiri dan hendak berjalan meninggalkan Joohyun. Namun belum selangkah menjauh, dia terdiam di tempatnya.

“Aku penasaran, oppa. Kenapa kau membenciku sampai seperti ini. Sampai sekarang, seperti sekarang ini.” Pertanyaan Joohyun membuat Joonmyun menghentikan langkahnya.

“Karena kau telah membohongiku, Joohyun-ah. Lagipula, ini bukan yang kau inginkan? Agar aku membencimu? Kukira jawabannya sudah cukup, jadi aku pergi dulu.” Jawab Joonmyun acuh tak acuh dan kembali berjalan.

“Kau tahu, oppa? Kupikir tindakanku saat itu adalah benar. Kupikir dengan kau membenciku, kau tidak akan pernah berada di dekatku dan merasa susah karena kau harus menjaga gadis lemah ini. Ternyata salah. Aku salah, aku membutuhkan malaikatku kembali.” Lagi-lagi, perkataan Joohyun membuat langkah Joonmyun terhenti. Joonmyun berbalik, dan menemukan gadis itu berdiri, wajahnya menunjukkan ekspresi yang susah ditebak oleh Joonmyun.

“Kau tahu, oppa? Setiap harinya, aku lalui tanpamu. Aku baru tahu rasanya sangat berat ketika kau meninggalkanku begitu saja, berat mengetahui bahwa malaikatku telah pergi. Semua menyakitiku terus-menerus, terlebih memori-memori kita yang tak pernah mau pergi dari pikiranku!” Joohyun berucap setengah berteriak, membuat Joonmyun tersentak dan menyadari satu hal lagi tentang gadis itu –Joohyun tidak pernah berteriak.

Mianhae, Hyun-ah. Tapi kau harus tetap menerima kenyataan ini. Malaikatmu sudah tidak ada lagi, Kim Joonmyun-mu sudah tidak ada lagi. Maafkan aku, karena waktuku untuk menemanimu sebagai malaikatmu telah habis.” Jawab Joonmyun, “Semua telah berubah.”

Joohyun menggeleng, air matanya sudah mengalir cukup deras membasahi pipinya, membuat Joonmyun tersentak untuk kedua kalinya karena melihat gadis itu menangis.

“Biar aku tanya satu hal, oppa. Masihkah oppa mencintaiku?”

“Tidak.”

Jawaban itu menyakiti Joohyun. Mengetahui bahwa jawaban itu keluar dari bibir Joonmyun tanpa nada, tanpa terselip sedikit rasa didalamnya. Tapi Joohyun selalu dapat menebak Joonmyun. Mata pria itu berkata lain, ada sedikit kebohongan padanya.

“Ada satu hal yang tidak berubah, oppa. Oppa adalah malaikatku. Dan aku tahu waktu oppa untuk menemaniku sudah habis. Aku selalu berharap kau tidak pergi dariku, tapi tidak bisa. Siapakah aku ini? Aku hanya Seo Joohyun, gadis lemah yang selalu membutuhkanmu dimana-mana. Aku selalu butuh malaikatku karena aku lemah, aku butuh cinta yang menemaniku selama beberapa lama sampai waktuku telah tiba. Aku menyesali banyak hal karena kelemahanku, kenapa aku harus terlahir seperti ini? KENAPA AKU HARUS MENJADI LEMAH DAN TIDAK BERGUNA?!”

Joohyun menangis sekeras-kerasnya, membiarkan emosinya meluap melalui tangisan dan raungan sedihnya itu. Dia tidak peduli pada kenyataan bahwa dia tidak pernah menangis di depan siapapun, dia hanya harus mengeluarkan semua kepedihan yang sudah tersimpan cukup lama di hatinya.

“Dan aku… masih mencintaimu oppa. Itu tidak pernah berubah.”

Joonmyun terdiam di tempatnya, jantungnya seakan berhenti berdetak mendengar kalimat yang meluncur dari bibir Joohyun. Ternyata pikirannya salah. Joohyun tidak benar-benar membencinya. Joonmyun paham sekarang alasan Joohyun waktu itu.

[BRUK]

Joonmyun dapat mendengar suara suatu benda jatuh yang cukup keras, membentur tanah. Feelingnya terasa buruk. Dan ketika dia membalikkan badannya,

“JOOHYUN-AH!”

.

.

.

= = =

Tersisa satu tsuru lagi.

.

Joohyun terbangun, dan dia dapat mengenali tempat dia terbaring sekarang. Kamar rumah sakitnya. Aroma obat-obatan menusuk hidungnya, serta suara pendeteksi jantung yang terdengar familiar di telinganya. Joohyun sedikit bersyukur karena dokter Kang tidak memasang alat bantu pernafasan di hidung Joohyun. Dia sangat membenci alat itu.

“Sudah bangun?”

Joohyun menyadari bahwa ada Joonmyun di sebelahnya, tak jauh darinya. Memegang tangan Joohyun, menggenggam tangan joohyun dengan jemari-jemari kurusnya. Hangat, begitu terasa.

“Berapa lama aku koma?” tanya Joohyun.

“Sekitar tiga hari, bukan waktu yang cukup lama.” Jawab Joonmyun seraya tersenyum kepada Joohyun, senyuman malaikat yang begitu Joohyun rindukan.

“Tidak akan lama lagi, oppa. Kuharap kau mau menemaniku sebentar sampai waktuku tiba.” Gumam Joohyun yang ditangkap oleh pendengaran Joonmyun. Joonmyun menggeleng kecil, semakin menggenggam tangan Joohyun. Dingin, batin Joonmyun.

“Jangan berkata seperti itu, oke? Kau harus percaya kalau kau akan sembuh, Hyun-ah.” ucap Joonmyun. Joohyun hanya tersenyum dan mengangguk, “Pasti.”

Oppa, maukah kau melakukan sesuatu untukku?” Joohyun bertanya.

“Apa itu?”

“Peluk aku, aku merindukan pelukanmu, oppa.”

Joonmyun sedikit menaikkan sebelah alisnya, namun dia tetap melakukannya. Kedua tangannya menarik Joohyun kedalam dekapan hangatnya. Joohyun menyandarkan kepalanya pada dada bidang Joonmyun, menikmati pelukan itu. Matanya terpejam, menikmati tiap detik momen berharga ini baginya.

Yang mungkin akan menjadi serpihan terakhir memori dalam hidupnya.

“Bernyanyilah, oppa.” Pinta Joohyun lagi. Joonmyun mengangguk mengiyakan permintaan Joohyun. Dia menyembunyikan wajahnya diantara rambut hitam Joohyun, menghirup udara sebanyak-banyaknya dari sana. Kemudian dia bergumam, menyanyikan lagu kesukaan Joohyun.

There’s a song that inside of my soul

It’s the one that i’ve tried to write over and over again

I’m awake in the infinite cold, but you sing to me over

And over and over again

 

So i lay my head back down

And i lift my hands and pray to be only yours

I pray to be yours

I know now you’re my only hope

 

Sing to me the song of the stars

Of your galaxy dancing and laughing and laughing again

When it feels like my dreams are so far

Sing to me of the plans that you have for me over again

 

So i lay my head back down

And i lift my hands and pray to be only yours

I pray to be yours

I know now you’re my only hope

 

I give you destiny, i’m giving you all of me

I want your symphony

Singing all that i am at the top of my lungs

I’m giving it back

 

So i lay my head back down

And i lift my hands and pray to be only yours

I pray to be yours

I know now you’re my only hope

0nly Hope – Mandy Moore

Gomapta.” Suara Joohyun bergetar, air matanya pun sempat keluar sedikit saat Joonmyun menyanyikannya, menyanyikan lagu terfavorit Joohyun. Joonmyun hanya mengangguk.

Oppa.”

“Apa lagi, Joohyun-ah?” tanya Joonmyun lembut, tangannya mengelus punggung Joohyun, menenangkan gadis itu.

“Beberapa hari lalu aku bermimpi. Aku bermimpi, berlari di tengah hutan yang gelap. Hutan itu sungguh menyeramkan oppa, dan kemudian aku terjatuh ke dalam jurang.” Joohyun memotong ucapannya sebentar, mengingat-ingat jalan mimpinya itu, “Dan aku terbangun lagi, kali ini di padang rumput luas yang sungguh sunyi. Hanya ada satu pohon disana, dan itu adalah pohon perak. Ada banyak cahaya, dan oppa muncul dari cahaya-cahaya itu.

Oppa memiliki sepasang sayap putih yang indah dimimpiku saat itu, dan oppa membawaku terbang tinggi hingga ke alam semesta. Disana, kita melihat bulan dan bintang, milik kita. Indah sekali. Oppa menyuruhku untuk percaya bahwa oppa selalu ada untukku. Oppa berjanji untuk selalu berada disisiku dalam keadaan apapun. Sekarang aku mau bertanya, oppa…”

“… akankah oppa melupakanku begitu saja kalau aku sudah tiada?” lanjut Joohyun.

Joonmyun menggeleng pelan, “Aniya. Itu hanya mimpi, Joohyun-ah. Tapi, oppa berjanji akan selalu ada untukmu.”

Hening lagi.

Tidak ada yang berbicara, hanya suara angin air cooler yang terdengar dalam kamar itu. Sampai rasa sakit itu menyerang Joohyun, begitu menusuk. Nafasnya tercekat, berusaha untuk tidak menimbulkan suara apapun. Joohyun mengangkat tangannya perlahan dan menempelkannya ke hidungnya. Merah pekat, darah. Darah itu mengalir semakin banyak dan banyak, penglihatan Joohyun mulai mengabur perlahan. Tak lama, Joohyun berbicara.

Oppa, bisa ambilkan diaryku di rumah? Ada di atas meja di kamarku, please.” Joohyun berucap, berusaha untuk menutupi suaranya yang sedikit tercekat. Joonmyun mengangguk lagi, “Arra. Gidarilkae.”

Joonmyun berdiri, beranjak untuk meninggalkan kamar rumah sakit itu, tanpa sadar akan apa yang terjadi pada Joohyun. Tangannya beranjak membuka pintu dengan sedikit berat. Hal terakhir yang didengarnya sebelum pintu tertutup sepenuhnya adalah,

“Selamat tinggal oppa.”

Dan Joonmyun tidak tahu kalau itu adalah kali terakhirnya dia melihat Joohyun.

.

Tsuru terakhir, telah terkabulkan.

.

.

.

= = =

            Bukan kesalahan siapapun. Bukan kesalahan Joonmyun, bukan kesalahan dokter. Ini hanya takdir yang memang sudah seharusnya berjalan.

Bukan kesalahan jika tim medis menemukan pasien bernama Seo Joo Hyun terbaring lemah di kasurnya seraya memuntahkan banyak darah. Bukan kesalahan ketika mereka melakukan segala yang mereka bisa untuk menyelamatkan Joohyun, namun tak ada yang bisa mereka lakukan lagi. Kanker sudah 99,8% menyebar ke seluruh organ dalam tubuhnya.

Bukan kesalahan bagi Joonmyun datang kembali ke rumah sakit dengan tergesa-gesa sambil membawa diary yang diinginkan Joohyun, dan malah menemukan gadis itu terbaring tanpa nyawa. Dingin, darah tak mengalir lagi di bawah kulitnya, di seluruh tubuhnya. Senyum terulas di wajahnya, senyum yang ditunjukkannya kepada semua orang untuk terakhir kalinya. Tak lama, para perawat menutup seluruh tubuh Joohyun dengan selimut tipis.

Tapi Joonmyun menganggapnya sebagai suatu kesalahan terbesar dalam hidupnya. Seorang malaikat seharusnya melindungi manusianya agar tetap selamat, tapi tidak dengan Joonmyun. Dia justru meninggalkan Joohyun hanya karena marah. Dia bukan malaikat yang baik untuk Joohyun.

Dan penyesalan, selalu datang terakhir bukan?

Toh, manusia tidak pernah dikaruniai bakat untuk menghidupkan tubuh yang telah mati. Tidak pernah ada.

.

.

.

= = =

            Tidak ada yang Joonmyun lakukan malam itu. Dia hanya berdiri di balkon kamarnya, melihat ke arah balkon seberangnya, yang biasanya sang pemilik akan selalu berada disana setiap malamnya, memperhatikan langit malam yang indah tiap harinya.

Joonmyun masih belum mengganti setelan hitamnya, rambutnya masih acak-acakan dan matanya sembap. Joonmyun sama sekali tidak mau mengurus dirinya sekarang, dia terlalu lelah. Ada banyak air mata yang dikeluarkannya selama dua hari lalu dan dia tidak punya tenaga lagi. Joonmyun memperhatikan kotak di tangannya, kotak yang diberikan oleh ibu Joohyun tadi pagi.

Joonmyun membuka kotak itu, dan menemukan sebuah surat di dalamnya. Dia membuka surat itu, dan memperhatikannya. Joonmyun begitu mengenalnya, tulisan Joohyun.

Oppa, sudahkah aku berhasil? Aku berhasil, oppa.

Aku sudah tidak lemah lagi sekarang. Aku selalu tersenyum kapanpun disini melihat oppa. Oppa juga harus tersenyum, jangan menangis walau aku tidak ada disana. Karena setelah oppa membaca ini, aku telah tiada.

Terima kasih karena oppa telah menjadi malaikatku. Terima kasih karena tsuru permintaan terakhirku telah oppa kabulkan. Aku telah membuat tiga tsuru seperti kata oppa. Mungkin, jika aku membuat 3000 tsuru, oppa akan lelah mengabulkan semua permintaanku =D

 

Oppa tahu? Aku telah melakukan pengorbanan terbesar dalam hidupku. Aku masih ingat saat oppa berkata bahwa tsuru itu adalah malaikat. Dan malaikat itu tidak boleh jatuh, karena dia akan terluka dan tidak bisa terbang lagi. Aku selalu menyusahkanmu, oppa. Aku selalu menyusahkan malaikatku sehingga membuatnya terjatuh dan terluka. Tapi aku tak’kan pernah membiarkannya jatuh begitu saja. Bagaimanapun caranya, aku akan menyembuhkannya. Dan aku rela memberi nyawaku untuk itu. Aku rela memberi nyawaku untukmu.

Dan sebagai penggantinya, aku mau kau mengingat segala memori kita, jangan biarkan serpihan memori itu hilang. Cukup itu yang kuinginkan darimu. Simpel, bukan?

Tetap tersenyum, oke? Sekarang akulah malaikatnya dan aku selalu memperhatikanmu. Aku akan memarahimu jika kau tidak tersenyum! =D Ingat akan satu hal, oppa. Aku memang tak disana, berdiri di sampingmu, tak bisa kau rasakan. Tapi ada, aku ada disana selalu bersamamu dan kau akan sadar dimana aku berada. Kalung milikku, ambillah. Itu untukmu, peninggalan berhargaku untukmu.

Untuk malaikatku,

Dari Joohyun.

Saranghae~

Sesuai apa yang diperintahkan Joohyn di dalam surat itu, Joonmyun tidak menangis walaupun Joonmyun sangat ingin mengeluarkan air matanya lagi. Setetes air matanya mengalir, Joonmyun segera menghapusnya. Dia kembali menatap lurus ke balkon Joohyun.

Tidak ada lagi Seo Joo Hyun

Tidak ada lagi senyuman manisnya

Tidak ada lagi keluhannya tentang langit malam

Tidak ada lagi seseorang yang kucintai

Joonmyun mendongak, menatap langit malam yang cukup gelap. Hanya ada bulan, dan awan-awan hitam. Awan-awan hitam itu bergerak, menjauh dari bulan, menampakkan kembali cahaya bintang yang tertutup. Dan Joonmyun tersenyum melihat sesuatu di samping bulan, bintang Joohyun. Bersinar begitu terang.

Dia memang tak ada di depanku. Seo Joo Hyun memang tak ada di hadapanku, aku tak dapat menyentuhnya atau pun melihatnya. Tapi dia selalu ada disana. Dia selalu ada di sampingku, bintang Joohyun selalu berada di dekat bulanku.

Dia selalu ada di hatiku.

.

.

.

END

Saya tau ini gaje, tapi comment please?

19 thoughts on “[Freelance] Flakes

  1. hadeehh…. author ayo tanggung jawab! aku mewek bgt nih jadinya T.T apa emang udah nasib aku ya kayanya, baca ff seoho rata2 sad ending:” /hug ggamjong/ feelnya berasa bgt untk setiap seoho ff mueheheXD /seoho shipp kumat/ apanya yg gaje author? ini keren malah.. kata-katanya juga.. lain kali bikin ff seoho yg happy ending gitu yaya~~ /noel-noel author/ /? wkwk

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s