Telepathy (Chapter 7)

                     Indescribable Feeling

82nd-tele

Author : Nadiachan

Title      : Telepathy

Length  : Series

Rating   : 15+

Genre    : Action, Fantasy, Romance, Supranatural

Main Cast (s) :

Girls’ Generation        Jessica

EXO    (K)                      Kai

EXO    (M)                     Luhan

Other Cast :

EXO Member               Sehun

SNSD Member (s)       Hyoyeon, Taeyeon, Tiffany, Yuri.

TVXQ                             Yunho

(Warning Typo, Peculiar, Unfamiliar ._.)

Introduction | Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3| Chapter 4 | Chapter 5 | Chapter 6

 

Previous (Chapter 6)

Aku pengecut.. Tidak berani bertatap muka dengannya. Karena ia sudah tau semua tujuan yang kurencanakan sejak dulu, mengambil benda berharga peninggalan orang tuanya.

Mungkin kalau aku egois detik ini juga aku akan mengambil benda itu, tetapi.. aku tidak tau kenapa dan tidak tau sejak kapan mengubah prinsip hidupku ‘menjadi abadi’ beralih ‘cintai dia’.

Tidak mungkin ia membalasnya. Yakin, bahwa dia lebih memilih Deft itu ketimbang makhluk pembunuh sepertiku. Sudah menjadi hal yang umum bahwa wanita memilih yang lebih baik dan menguntungkan. Itu tidak masalah… tapi ada satu pemikiran yang mengusik,

 

Sekarang dia membeciku.

~~~

 

Terdapat lingkaran hitam di kedua bawah mata. Setidaknya itulah yang Jessica tangkap tentang keanehan di wajahnya, apalagi matanya membengkak terlalu banyak menangis sejak tadi pagi.

 

Sejak tadi pagi?

 

Ya, wanita itu tidak tidur sejak pembicaraannya dengan Yunho selesai.

Dan kini Jessica malah sibuk memikirkan bagaimana cara menghilangkan hal mengganggu itu dari wajahnya. Ia tidak ingin kalau sahabat-sahabatnya mengetahuinya dan menodongnya dengan beribu pertanyaan, simple karena ia malas menjelaskan semua.
Hanya akan membuatnya pusing lagi.

Dengan malas Jessica menyeret kakinya kembali ke tempat tidur. Sepertinya menangis berjam-jam membuang energi. Sekarang ia baru merasa ngantuk, ingin tidur.

 

 Tok Tok Tok Tok

 

Ketukan pintu berulang kali itu membuat Jessica mengerang keras. Ia mengantuk, tidak tau kah orang diluar kalau orang mengantuk itu bertambah sensitf?

Masa bodoh. Jessica memasangkan headset untuk menyumpali kedua telinganya. Memainkan lagu genre ballad dengan volume keras membuat suara ketukan pintu sedikit teredam. Jessica merasa rileks dan melanjutkan acara tidurnya.

Yeoja itu mengerutkan dahinya mendengar suara ketukan pintu berganti suara dua orang sedang berbicara, ia mempause lagu sebentar. Mencoba mengenali dua suara namja yang berbicara di depan kamarnya.

Jessica menekan screen tombol play dan kembali tidur setelah mengetahui Yunho dan Kai lah dua namja itu.

 

Senyap. Tidak ada suara perdebatan kecil lagi. Jessica yakin pasti Kai berusaha membangunkannya untuk pergi kuliah. Beruntung Yunho sepertinya bisa membaca keadaan, alhasil hari ini ia tidak akan bersekolah.

Berada di tempat tidur lebih nyaman. Jessica merasa seluruh anggota badannya lelah, sama seperti batinnya yang lelah. Mungkin setelah tidur Jessica perlu pergi ke suatu tempat supaya pikiran dan tubuhnya fresh.

 

Mata terpejam Jessica terbuka.

 

Ada satu tempat yang ia pikirkan. Perasaannya menggebu-gebu tidak sabar ingin pergi kesana, tapi tubuhnya memaksa minta untuk diistirahatkan.

Setelah tidur Jessica akan bersiap-siap pergi kesana,

 

Ke makam kedua orang tuanya.

 

~~

 

Tamparan pelan air dingin pada wajah cantik Jessica membuat yeoja itu merasa segar. Ia memutar kran wastafel, menghentikan aliran air. Kepalanya mendongak melihat refleksi diri di cermin.

Tampaknya tidur cara paling ampuh menghilangkan stres dan lelah. Sekarang kepala Jessica terasa lebih ringan dibandingkan saat tadi pagi. Apalagi ia tidur dari pukul enam pagi sampai pukul tiga sore. Lebih lama tidur lebih baik –menurut Jessica.

 

Wajah mengantuk Jessica langsung berubah menjadi wajah panik. Dia segera berlari ke arah lemari pakaian. Tidak butuh waktu lama Jessica sudah menemukan pakaian casual yang sopan untuk digunakan pergi ke makam.

Jessica mendesah pelan melihat lingkaran bawah matanya tak kunjung menghilang. Uh apakah dia harus memakai make up tebal untuk menutupinya? ‘Akh tidak terima kasih.’

Ekspresi Jessica sangat serius saat ini. Ia tidak mau di ejek oleh Kai, itu menjatuhkan harga diri!

 

Tak sengaja mata Jessica menatap kaca mata hitam di meja. Yeoja itu mengeluarkan seringaian kecil. Jari-jarinya tergerak mengambil kaca mata tersebut dan memakainya.

Perfect..”

Ia tersenyum sekilas. Semuanya berhasil tertutupi dan sekarang tinggal ia pergi keluar tanpa kawalan dari Kai.

 

Jessica berjalan mengendap-endap seusai menutup pintu kamarnya. Beruntung, saat ia menengok ke bawah melihat ruang keluarga tidak ada Yunho maupun Kai.

Ruang tamu, Passed.

Tidak ada dua namja itu di rumah. Mungkin Kai sedang keluar, kalau Yunho sepertinya masih berada di kantor dan biasanya baru pulang di malam hari.

 

Yeoja itu berangsur berjalan menuju gerbang rumah. Hari ini Jessica tidak akan menggunakan kendaraan pribadi dan memilih kendaraan umum, ingin merasakan hidup sederhana. Jujur saja selama ini Jessica belum pernah menggunakan transportasi umum sebelumnya. Lucu sekali bukan 24 tahun belum mencobanya?

Akhirnya. Jessica sudah berdiri di depan rumah dan tinggal berjalan kaki sekitar kurang lebih 200 meter untuk mencapai sebuah halte. Satu menit yang lalu Jessica sempat bernegoisasi dengan penjaga gerbang. Dewi Fortuna pun berpihak padanya, sang penjaga gerbang mau menuruti keinginannya bonus pinjaman kartu untuk alat pembayaran transportasi umum.

Passed

 

Jessica sampai tidak tahan membuat senyuman lebar berhasil keluar rumah tanpa meminta izin. Rasa bahagia tidak tergambarkan, itulah yang ia rasakan.

Sekarang ia tau kenapa orang menyukai kebebasan. Rasanya bebas itu seperti tidak terkekang, ingin melakukan hal apapun sepuasnya.

 

Tin Tin

 

 Demi tuhan, Jessica ingin menonjok orang yang berani membuatnya kaget setengah mati. Kedua kaki yang tertutupi oleh sepatu sneakers berwarna abu-abu putih berbalik menghadap kebelakang, sebuah mobil audi hitam.

Satu detik selanjutnya Jessica tidak bisa menahan untuk mengumpat setelah mengenali mobil itu, apalagi saat ia melihat plat nomor dari mobil tersebut.

‘Kai!’

 

Jessica membalikan badannya, berlari semampu dan secepat yang ia bisa. Jantung miliknya yang seharusnya berdetak dengan ritme cepat pun terasa seperti berhenti karena terlalu kaget.
Dalam hatinya ia ingin menangis. Baru saja ia keluar rumah selama dua menit tanpa Kai, kenapa Tuhan harus menghadapkan dirinya dengan namja menyebalkan itu lagi.

Tangisan dalam hati Jessica ingin berganti tangisan nyata ketika yeoja itu merasakan tangan menghentikan langkahnya. Dan ia mengenali siapa pemilik tangan itu.

 

Shit.

Kata-kata tersebut berputar-putar di pikiran Jessica. Sebenarnya kalau perlu Jessica bisa mengatakan kata-kata tadi di depan orang yang ia jauhi dengan suara lantang.

“Mau kemana eoh?”

 

‘Pertanyaan konyol’

Jessica memutar kedua bola matanya jengah. Tanpa bertanya pun pasti Kai juga sudah tau kalau ia ingin melarikan diri. ‘Dasar bodoh..’

Dengan kasar Jessica mengenyahkan tangan Kai dari lengannya. “Bukan urusanmu” seusai mengatakan itu Jessica melanjutkan lagi langkahnya menuju halte.

Namun ia menghembuskan nafas kasar lagi merasakan cengkeraman erat pada tempat yang sama.

Jessica melihat wajah tanpa ekspresi khas Kai –yang mampu membuat Jessica ingin merobek wajah itu.

 

“Kau itu adalah urusanku” ucap Kai penuh penekanan.

Mendengar kata-kata penuh tuntutan membuat Jessica merasa seperti ingin menjadi orang gila. Tentu saja ia gila. Gila dengan perlakuan dunia untuk dirinya.

I don’t give a shit. Aku bukan bayi, aku sudah dewasa. Dan aku bukanlah anak kecil memiliki jiwa orang dewasa yang harus dijaga setiap saat!” Mata Jessica berair. Mengekspresikan emosi yang menekan dirinya.

Kai mau tidak mau merasa bersalah. Ia tidak mungkin membiarkan Jessica menangis, di sisi lain ia juga tidak mungkin membiarkan Jessica berkeliaran tanpa pengawasan darinya.

“Tapi aku mempunyai kewajiban untuk menjagamu. Sudahlah, kau ingin pergi ke mana? Aku akan mengantarkanmu”

“Ke makam orang tuaku. Dan aku ingin pergi sendiri” jawab Jessica. Ia langsung berbalik, takut kalau Kai banyak bertanya, itu hanya mengulur waktu.

Sekali lagi, Kai menahannya untuk pergi. Emosi yang meluap-luap di dalam dirinya ingin meledak.

 

“APA LAGI HUH?!”

Jessica sampai berteriak menanyakan apa sebenarnya keinginan namja itu. Membuatnya semakin frustasi saja.

“Aku antar saja” ucap Kai terdengar seperti memaksa. Lelaki itu menyeret Jessica mendekat mobil.

“Tidak mau!”

“Kalau begitu aku tidak akan membirkanmu pergi”

“Kai!”

“Ya sudah” Kai semakin kuat menyeret Jessica menuju mobil yang ia gunakan.

“Baiklah kau boleh ikut pergi, tapi kita menggunakan bus saja” Jessica benci mengatakan hal ini, tapi mau bagaimana lagi. Setidaknya ia bisa pergi menemui kedua orang tuanya.

“Bus? Oh ayolah kita akan sampai lebih cepat menggunakan mobil pribadi”

“Terserah apa katamu, aku ingin naik bus. Titik!”

 

Kai menatap malas yeoja keras kepala yang sekarang memasang ekspresi marah. Kini kenapa Kai merasa kalau Jessica mengancamnya? Bukankah sebelumnya malah dirinya yang mengancam Jessica?

Hah.. Jessica memang pintar membalik keadaan.

“Okay. Kita pergi menggunakan bus”

Wajah Jessica terlihat sedikit cerah mendengar kata pasrah dari Kai. Walaupun mengajak namja menyebalkan ini Jessica senang kalau keinginannya terpenuhi.

Ia melihat Kai berpindah dengan cepat dari hadapannya ke tempat penjaga rumah untuk menyerahkan kunci mobil dan langsung kembali lagi dalam waktu tidak ada tiga detik.

 

Belum sempat Jessica tersenyum ke arah Kai, Kai malah kembali memasang wajah tanpa ekspresinya dan jalan mendahului Jessica.

Jessica mengerutkan dahi dan membuka mulutnya lebar. Tatapan matanya memandang punggung Kai, seolah memancarkan laser mematikan untuk membunuh namja itu.

 

“Dasar menyebalkan”

 

~~

 

Memakan waktu setengah jam untuk mencapai tempat peristirahatan kedua orang tua Jessica. Setengah jam itu terasa seperti setengah tahun karena tidak ada sepatah kata yang keluar dari mulut Kai. Bahkan Jessica semakin kesal karena kelakuan namja itu. Setidaknya Kai mengajaknya berbincang-bincang atau apalah yang bisa membunuh rasa bosan saat di perjalanan tadi.

Namun rasa kesal Jessica  tergantikan dengan rasa rindu yang meluap setelah yeoja itu berdiri di hadapan kedua orang tuanya. Wajah yang ditekuk karena kesal berganti sendu.

 

Perlahan namun pasti Jessica melangkahkan kakinya dengan mantap mendekati tempat peristirahatan Appa dan Eommanya.

Ia tau kalau di dalam gudukan tanah itu tidak ada jasad orang yang ia sayangi, walaupun begitu setidaknya di tempat ini lah terakhir kali orang tuanya bersentuhan dengan tanah yang ia pijak saat ini. Dan juga, setidaknya Jessica merasa kalau ada sosok kedua orang tuanya disini.

Kaki yang Jessica gunakan tumpuan untuk berdiri ia gantikan dengan lututnya. Tubuh Jessica terasa lemas sekali sampai ia tidak kuat sekedar menahan diri agar tidak terlihat lemah di hadapan kedua orang berharga dalam hidupnya maupun Kai yang berdiri di belakangnya.

Tapi kelihatannya Kai tidak terlalu memikirkan olokan yang siap ia tunjukan untuk Jessica karena yeoja itu lemah, cengeng atau hal lainnya. Kai memaklumi apa yang dirasakan Jessica.

“Eomma, Appa.. Aku merindukan kalian”

 

Dua tangkai bunga tulip putih Jessica letakkan di atas gudukan tanah yang sudah tertutup rumput hijau terawat. Bentuk batu nisan yang berbeda dari batu lainnya menimbulkan tanda tanya bagi manusia. Namun tidak bagi Jessica, baginya batu nisan ini seolah menjadi salah satu hal untuk mengenang orang tuanya.

Belaian lembut Jessica berikan pada kedua batu bertuliskan William Jung dan Stephanie Jung. Kepalanya tertunduk kebawah.

Tanah yang berada tepat di bawah kepala Jessica timbul satu titik. Titik rembesan air di tanah. Semakin lama rembesan air itu semakin lebar seiring titik air mata berasal mata Jessica jatuh.

“Eomma.. Appa.. Aku harus bagaimana?”

 

Nada yang digunakan oleh Jessica terdengar sangat menyayat hati. Terdengar seperti orang tersakiti, putus asa, tidak punya tujuan hidup.

Memang benar.. ia tidak mempunyai tujuan hidup. Hidupnya hanya digunakan untuk melarikan diri dari maut. Hidupnya tidak berkesan, sangat datar. Selalu berlindung dan dilindungi.

Jessica ingin mengubah semuanya. Hidup sebagai wanita normal yang esok kelak mempunyai keluarga bahagia. Hidup tanpa bahaya.

Alih-alih malah semua yang Jessica inginkan tidak sesuai. Yang ia dapatkan hanya kebalikan dari harapannya. Dapat disimpulkan kalau kehidupannya itu mengerikan.

 

Seluruh hal mengusik, mengganggu, membebani dirinya ia tumpahkan kepada kedua orang tuanya melalui cerita lisan dari mulutnya. Bisa saja ia menceritakan ini kepada Yunho –kakaknya, Bibi Lee, atau orang kepercayaannya. Namun rasanya seperti ada yang kurang, walaupun sebanyak apapun ia bercerita, rasa dalam hatinya tetap sama.

Entah kenapa sekarang ini Jessica yang bercerita pada tanah kosong ini semuanya rasa resah gelisah hilang menguap tak tersisa.

 

Jessica melirik jam tangan di pergelangan tangannya, pukul 17.43 KST.

Waktu berlalu begitu cepat, bahkan ia tidak merasakan kalau sudah satu setengah jam ia habiskan di tempat ini. Ia juga lupa akan keberadaan Kai.

Hari menjelang malam. Jessica pun cepat-cepat bangkit seusai mengusap air matanya. Ia berbalik menghadap Kai yang masih sabar menunggu curhatan Jessica selesai. Sekilas Jessica sedikit gengsi mengetahui Kai melihatnya menangis. ‘Ah biarlah’

“Kai ayo pulang”

 

“Hah.. Akhirnya kata-kata yang aku tunggu kau ucapkan juga. Aku capek berdiri terus” eluh Kai, ia pun mendapat tatapan tajam Jessica di balik kacamata hitam yang yeoja itu kenakan.

“Salah siapa memaksa untuk ikut” Jessica berjalan meninggalkan Kai di belakang, namun namja itu langsung muncul tiba-tiba di sebelahnya. Apalagi kalau kekuatan yang namja itu miliki? Ingat, Teleportasi. Ukh..

 

Sangat beruntung sekali kalau halte yang mereka gunakan untuk turun dari bus dekat dengan kompleks pemakaman, begitu pula sebaliknya, mereka tidak perlu bersusah payah kembali lagi ke halte.

Jessica bergegas naik ke dalam bus ketika melihat bus yang mereka tunggu akhirnya datang juga. Lagi-lagi Jessica mengela nafas sebal melihat Kai yang nyengir tidak jelas di salah satu tempat duduk kosong paling belakang, dan kini namja itu malah melambaikan tangan memberi tanda Jessica untuk duduk di sebelahnya.

 

Dengan langkah malas Jessica menghampiri Kai lalu duduk di sebelah namja itu. Jessica memilih tempat duduk disebelah jendela agar ia bisa leluasa melihat jalanan kota yang mulai ramai karena jam kerja sudah selesai, orang-orang meninggalkan tempat bekerja menuju ke rumah mereka masing-masing.

 

‘Pulang ke rumah..’

 

Otak Jessica memikirkan kalimat tersebut. Kadang ia berpikir, apakah sebenarnya ia memang sudah pulang ke rumah atau belum. Bukan karena rumah mewah milik Yunho tidak nyaman, hanya saja ada yang kurang melengkapi. Entah apa itu Jessica tidak mengerti, intinya ia belum menemukan tempat yang nyaman baginya untuk pulang. Dan hal itu bukan berupa rumah, bukan berupa tempat tinggal, bukan berbentuk nyata.

Lalu benda apakah itu?

Jessica butuh sekali benda tersebut. Namun sepertinya waktu belum mau menunjukan jawabannya pada dirinya, mungkin esok hari.

‘Ya esok hari.. aku akan menemukan jawabannya’

 

“Apa yang kau pikirkan?”

 

Suara berat milik Kai menyadarkan Jessica untuk segera melenyapkan senyumnya. Bisa saja namja itu mengira dirinya sudah tidak waras, dan sangat menyebalkan sekali kalau Kai mengejeknya habis-habisan.

Jessica menoleh ke kiri, membalas tatapan Kai. “Tidak, aku hanya merasa senang sekali hari ini”

Bukannya Kai mengangguk mengerti lelaki itu malah menaikkan sebelah alisnya. “Hei ini sudah mulai malam hari, kenapa kau masih saja mengenakan kaca mata hitam itu?”

Jessica terdiam sebentar. Ia lupa kalau sedaritadi ia mengenakan kaca mata ini. Tentu saja kalau bukan karena lingkaran hitam plus mata bengkaknya tidak muncul Jessica tidak akan memakai kacamata.

 

“Oh, bukankah orang yang pergi ke makam biasannya memakai kacamata hitam?” balas Jessica kalem.

“Lalu sampai kapan kau mau memakainya? Mulai dari tadi sore sampai malam hari kau belum melepasnya sama sekali. Aneh”

Perkataan Kai membuat Jessica sedikit kesal di dalam hatinya. Kenapa saja namja itu selalu ingin tau tentangnya, selalu mengurusi saja.

“Terserah”

Kai menyipitkan matanya, “Ada yang kau sembunyikan. Coba lepas kacamata itu”

“Tidak”

“Lepas atau aku yang melepaskannya” ancam Kai.

Jessica menatap sengit Kai, “Hei! Kenapa kau memaksa?”

“Karena aku ingin tau”

“Tch, sebenarnya apa sih mau mu dariku?”

Kai tidak menjawab. Namja itu sibuk mencari celah untuk melepaskan kacamata hitam itu dari Jessica. Sedikit susah karena Jessica selalu menepis tangan Kai yang berusaha meraihnya.

“Kai!” teriak Jessica.

 

Namja berkulit gelap itu berhasil melepaskan benda yang bertengger di hidung mancung Jessica, bukannya senang karena berhasil Kai malah sedih melihatnya.

Apa yang ia pandang saat ini sangat menusuk hatinya. Mata mempunyai iris bewarna coklat terang itu terlihat sangat rapuh. Mata yang ia kagumi itu memberi tau dirinya seakan pemilik dari mata indah tersebut tersakiti.

 

Secara tidak sadar Kai mengusap permukaan kulit bawah mata Jessica yang sedikit hitam dan membengkak. Bahkan mata yeoja itu masih memerah. Membuat Kai yakin kalau mulai kemarin Jessica menangis sampai sekarang.

Jessica menegang mendapat usapan lembut dari Kai. Sentuhan itu serasa seperti menyuruhnya untuk tetap bahagia, bukan terus-terusan bersedih. Sangat lembut, itulah yang Jessica rasakan saat Kai menyentuh kulitnya. Dan ia pun menyukai hal tersebut.

Tatapan mata Kai bermula dari bawah mata menuju tepat manik mata Jessica. Jessica yang ditatap intens seperti itu menjadi gugup, tubuhnya semakin menegang. Namun kalimat dari Kai mampu membuatnya bertambah tegang,

 

“Aku tidak mau melihatmu seperti ini, Jangan menangis lagi… Tolong lakukan untukku…”

 

~~

 

Beruntung lingkaran hitam pada mata Jessica sedikit berkurang, jadinya ia tidak perlu memakai kacamata hitam untuk menutupinya saat di kampus.

Yah walaupun masih banyak puluhan pasang mata melihat Jessica penuh ingin tau apa yang terjadi padanya. Entah di kelas, cafe, koridor, dan dimanapun. Dan semua itu dimulai saat Jessica menginjakkan kakinya di dalam gedung sampai kegiatan di kampusnya selesai.

 

Bahkan sahabatnya sendiri –Hyoyeon, Taeyeon, Tiffany, dan Yuri pun juga menatapnya terus-menerus sampai Jessica tidak tahan. Ditambah dengan pertanyaan bertubi-tubi mereka lontarkan padanya.

“Jessica~ Kenapa tidak menjawab pertanyaanku huh?” Taeyeon menyenggol pelan lengan Jessica, berharap yeoja yang membuatnya penasaran mau memberi perhatian padanya.

“Hii kalau sebelumnya kau seperti kelinci sekarang kau terlihat seperti panda” ejek Hyoyeon main-main.

Jessica tetap memandang lurus kedepan, sedikit tersenyum untuk menghargai usaha teman-temannya karena berusaha menghiburnya. Harusnya ia tertawa bersama sahabat-sahabatnya, tidak tau kenapa selera humor Jessica tepat pada titik minimum hari ini.

 

Moodnya sedikit demi sedikit menjadi lebih baik karena beberapa lontaran lelucon dari Yuri maupun Hyoyeon yang memiliki kepribadian humoris. Namun, dalam sekejap senyum dibibirnya lenyap melihat namja yang selama ini ia berusaha jauhi malah berdiri sepuluh meter di depannya.

Hyoyeon, Taeyeon, Tiffany dan Yuri yang menyadari keberadaan Luhan langsung menoleh bersamaan ke arah Jessica. Ekspresi yang terpampang dari Jessica sulit dibaca, membuat mereka bertanya-tanya dalam hati tentang apa yang dipikirkan yeoja berkepribadian dingin ini.

“Eumm Sica, kami pergi dulu ya”

Tiffany cepat-cepat pergi dari kedua manusia itu sambil menggeret Hyoyeon, Taeyeon dan Yuri pergi menjauh. Karena ia tau sepertinya ada masalah diantara mereka berdua, dapat ia lihat dari kelakuan aneh Jessica hari ini. Dan kemungkinan Luhan ingin membicarakannya dengan Jessica.

 

Kini tinggal Luhan dan Jessica. Mereka hanya saling bertatapan, tidak ada yang memulai pembicaraan. Apalagi alasannya karena Luhan tidak tau mau memulai dari mana sedangkan Jessica tidak tau harus berbuat apa.

Akhirnya yeoja itu pun memilih melangkahkan kakinya melewati Luhan begitu saja. Toh namja itu hanya membuang-buang waktunya. Masih banyak hal bermanfaat yang bisa ia lakukan.

“Aku perlu bicara denganmu..”

 

Cengkeraman tangan Luhan terasa pada pergelangan tangan Jessica. Dengan menggunakan kecepatan berpindah tempat Luhan meraih Jessica, menyuruh yeoja itu berhenti.

“Apa yang kau bicarakan?” Jessica menatap Luhan datar namun menusuk.

Tentu saja menusuk, itu pengungkapan rasa Jessica pada namja dihadapannya.

Coba, yeoja mana yang tidak merasa sakit hati kalau ternyata orang yang dicintainya hanya memanfaatkannya?

“Ukh..” Jessica mengumpat pelan ketika dia mencoba menarik pergelangannya dari tangan Luhan, namun tidak bisa, namja itu memaksanya untuk tetap berada di dekatnya. Dan Jessica benci akan hal itu..

“Tenanglah Jessica, aku tidak akan berbuat macam-macam selama kau mau mendengarkan penjelasanku”

Jessica tersenyum meremehkan, “Penjelasan? Penjelasan apa? Kurasa tidak ada hal apa-apa diantara kita”

 

Mendapatkan balasan seperti itu Luhan menjadi bersalah. Memang benar tujuan utamanya adalah darah Jessica, tapi demi apapun sekarang keinginan itu hilang tak membekas. Tujuannya adalah hati Jessica.

“Aku tidak tau harus memulai dari mana, jadi aku coba jelaskan apa yang ingin aku sampaikan. Jadi Jessica.. pasti kau sudah mengerti siapa aku ini dan apa aku ini. Memang, tujuan utamaku ingin menjadi abadi dengan meminum darahmu itu tapi sekarang tidak. Aku berani bersumpah kalau aku tidak ingin mengambil paksa benda berhargamu itu, aku tidak memaksa, hanya menunggu waktu saja”

“Maksudmu? Jadi mungkin esok kelak aku akan memberikan darahku cuma-cuma kepadamu begitu? Tidak akan.”

 

Dengan cepat Luhan membenturkan punggung Jessica ke dinding di sebelahnya, memerangkap Jessica diantara kedua lengannya. Perlahan Luhan memajukan kepalanya mendekat pada wajah Jessica.

“Hn. Hati-hati kau bisa termakan dengan ucapanmu sendiri nona Jung”

“Le- lepaskan aku!”

Keringat dingin meluncur dari dahi Jessica menuruni pelipisnya secara perlahan. Dan juga detak jantungnya semakin lama malah melambat, tidak berdetak kencang saking was-was dengan kelakuan Vampire kurang ajar dihadapannya.

 

Aroma khas Luhan menyeruak masuk ke dalam indra penciuman Jessica. Bau yang selama ini membuat Jessica seolah kekurangan oksigen jika tidak mencium bau khas Luhan ini.

Iris mata merah memikat terpampang jelas dihadapannya. Luhan berubah total menjadi Vampire. Meyakinkan Jessica kalau Luhan pasti mati-matian menahan taring namja itu untuk tidak menembus kulit lehernya.

Luhan mengarahkan mulutnya mendekati telinga Jessica. Membuat wajah Jessica memerah saking dekatnya jarak antara mereka.

 

“Aku akan jujur kali ini. Aku seorang Vampire.. Vampire yang haus akan darahmu, aku berusaha ingin merasakan bagaimana rasa ataupun pengaruh darahmu jika cairan itu masuk kedalam tubuhku. Namun aku salah.. ternyata aku adalah Vampire yang haus akan sesuatu perasaan tidak tergambarkan di dalam dirimu. Dan aku ingin merasakan bagaimana rasa atau pengaruh perasaan itu kalau aku mendapatkannya.
Dengan aku mengatakan ini pasti kau sudah menangkap apa maksud dari perkataan tadi bukan?”

Jessica meremas kuat kedua kepalan tangannya. Ya, ia tau, ia tau maksud namja itu.

“Kau tau? Aku mencintaimu”

 

“….”

“Dari kata itu ada dua sudut pandang kau melihat bagaimana sosok ku. Pertama, aku seorang lelaki brengsek, mencintaimu hanya karena menginginkan darah berharga itu. Kedua, aku seorang lelaki yang benar-benar tulus, mencintaimu tanpa ada keinginan merampas hal berharga yang kau miliki padahal sebenarnya hal itu sangat dibutuhkan olehku”

 

Sangat lelah. Tiba-tiba tubuh Luhan terasa sangat lelah sampai ia menumpukan kepalanya di dinding sebelah kiri kepala Jessica. Haha, ini lucu sekali. Luhan bukanlah sosok yang gampang lelah atau mudah menyerah. Tapi hanya karena seorang wanita bernama Jessica Jung mampu membuatnya sangat lelah bukan dari segi fisik.

Lelah meyakinkan yeoja itu..

“Kumohon percayalah padaku..”

 

Jessica merasakan telapak tangan di sebelah pundak kanannya. Luhan sampai sejauh ini meyakinkan dirinya.

Ada sesuatu yang menghalangi, sampai akhirnya muncul pikiran yang tidak-tidak. Namun, hampir sepenuhnya Jessica percaya dengan kata-kata Luhan. Sekarang.. Jessica merasa kalau dirinya plin-plan.

 

Sampai akhirnya kesadaran Jessica kembali lagi saat telapak tangan Luhan tidak menyentuh kulitnya. Ia membuka mulutnya secara otomatis ketika melihat tubuh Luhan terhempas ke lantai. Baru saja ia akan berlari menolong Luhan langkah Jessica terhenti seketika saat sebuah tangan menahan dirinya.

“Apa-apaan kau ini?!” teriak Jessica pada Kai.

 

Sayang, belum terjawab pertanyaannya dalam sekejap Jessica sudah berada di rumah menggunakan teleportasi Kai.

Dan kurang ajarnya lagi Kai menghilang lagi meninggalkan Jessica yang masih khawatir dengan Luhan.

 

~~

 

17 : 23

At an University, South Korea.

 

Dengan gerakan kasar Kai meraih kerah kemeja Luhan, memaksa namja itu berdiri dan berhadapan dengannya.

“Jangan coba-coba kau mendekati Jessica..”

 

Mendengar kata itu Luhan tersenyum miring. Dia hanya memberikan tatapan meremehkan tepat ke bulatan hitam di mata Kai.

“Apa hakmu menyuruhku menjauhi Jessica?” Luhan melepas tangan Kai dari kemejanya. “Apalagi dalam keadaan Jessica mencintaiku”

Kepalan tangan Kai terasa gatal sekali untuk melayangkannya ke wajah Luhan. Telinganya panas mendengar kata-kata ‘Jessica mencintaiku’.

“Tapi tidak mengingat kau hanya memanfaatkan Jessica saja”

 

“Apa kau tidak lihat tadi tatapan Jessica yang diberikan kepadaku? Itu cukup jelas membuktikan kalau dia masih mencintaiku”

“Itu hanya perasaanmu saja, dia itu membencimu, sejak kau mengajak Jessica ke Busan dia menjadi tau semua rahasia yang selama ini kelurga Jung jaga”

Luhan mengangkat sebelah alisnya, ia merasa kalau Kai menyalahkan terjadinya semua itu karena dirinya.

Aku tidak peduli dan siapa yang tau kalau Vampire kurang ajar itu datang? Aku bahkan tidak tau kapan kehadirannya. Lalu mau sampai kapan kalian mau menyimpan rahasia itu? Sampai kalian mati dan membiarkan Jessica dikejar-kejar Vampire lain tanpa ia ketahui alasannya?”

 

“Setidaknya sekarang sudah tidak, Jessica sudah mengetahui alasan kenapa ia dikejar-kejar Vampire. Lalu Tuan Xi, jangan lupa kalau rahasiamu juga ikut terbongkar karena kejadian itu. Rahasia kalau kau seorang Vampire”

“Oh, jadi kau menganggap kalau Jessica tau aku adalah seorang Vampire yeoja itu akan menjauhiku?”

“Tentu saja. Karena Jessica sudah memutuskan menjaga kekuatan peninggalan orang tuanya, dan tidak akan menyerahkan darah istimewa itu kepada siapapun”

“Itu tindakan bodoh. Kalau Jessica tidak mau membagikan darahnya kepada suaminya esok kelak, itu sama saja ia berniat menutup sejarah Viero dan tidak akan ada Viero generasi baru”

 

“Semua kehendak Jessica, karena dialah yang memilih jalan hidupnya” Kai memalingkan wajahnya ke arah lain.

“Kalau begitu akulah yang akan mengubah jalan hidupnya” ujar Luhan santai. Membuat Kai kembali menampakkan wajah tidak percayanya di depan Luhan.

“Apa maksudmu?!”

“Kau itu kuat tapi bodoh.. Kukatakan kalau aku yang akan mengubah jalan hidupnya, bukankah itu sudah jelas?”

“Tak akan ku biarkan..”

“Kenapa? Kau takut? Takut kalau Jessica akan memilihku daripada kau?” Luhan meraih tas ranselnya yang sempat terjatuh karena dorongan Kai tadi.

“Tidak. Kenapa aku harus takut?”

“Hahaha.. terserah. Pegang saja ucapanku, Kai”

 

 

                                                               TBC

 

 

Hello~ Readers FF Telepathy yang rajin komen maupun yang rajin tidak menulis komen (?)
Bagaimana menurut kalian FF ini? (reader : Semakin lama semakin hancur.. Nadiachan : Jinjja? thank you~) ==”
Haha bercanda. Aku harap chapter kali ini tidak membuat kalian kecewa..
Thanks for all who keep R, C, L, RC, CL, LR or RCL my Fanfic :D

 

/Mau tanya, kenapa FF Telepathy ga mau chapt.nya banyak?
Soalnya dari part sebelumnya ada beberapa yang komen kalau jangan banyak-banyak chapternya. Itu malah bikin aku heran.. bukannya kalian tambah seneng? apalagi cuma tinggal baca doang.
But, itu ide bagus.. jadi aku ngga capek-capek mikiri alur selanjutnya, ngetik, dsb. Oke lah aku tampung keinginannya :) /dibakar readers.

35 thoughts on “Telepathy (Chapter 7)

  1. Uwah daebak~
    Hmm mngkn readers yg minta partny jgn pnjg2 Itu penasaran bngt x thor ato ga sbr nunggu, takut kelamaan trs keburu lupa cerita sblmny ap gmn Kkk *sotoy
    Anyway lanjut terus n keep writing!

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s