[Freelance] Breakeven

artposter_breakeven

Tittle                         : Breakeven

Author                      : Rie Fujiwara

Length                      : Oneshoot

Rating                       : T

Genre                        : Romance, Angst, Sad, Friendship

Cast                          : Seo Joohyun, Oh Sehun

Other Cast                : Jessica Jung, Xi Luhan, Kim Taeyeon

Author’s note           : Aloha ! Author kambek datang bawa fanfic ini ^^ FYI, ini fanfic angst/sad yang pertama author buat. Jadi sorry kalau gak ada feel nya-_- Inspirasi fanfic dari salah satu pengalaman seseorang.For poster, big thanks to JulistyJunghae@exoshidaefanfic. Sorry for typo and anything. Happy Reading~

-o0o-

I’m still in love while the other one is leaving

-o0o-

Seohyun memandang kosong sebuah benda balok tipis berwarna putih—handphone—yang sedang ia pegang. Tangannya bergetar, begitu pula bibirnya.Pengelihatannya kini mulai buram karena cairan bening yang mulai berkumpul dimatanya, seolah-olah bisa jatuh kapan saja tanpa meminta persetujuan darinya.Dan perlahan bulir-bulir kristal itu turun dari mata Seohyun, membuat sebuah aliran sungai kecil di pipi chubby  gadis manis itu. Ini sangat berbeda dari Seohyun yang biasanya.Seohyun yang biasanya sangat ceria, bahkan ia termasuk gadis yang tak mudah menangis, kini berbalik.

Ia menangis.

Seohyun melemparkan ponselnya begitu saja.Meletakkan kedua telapak tangan kecilnya itu tepat di depan mulutnya, mencoba agar tak mengeluarkan isakan.Namun, nyatanya Seohyun terus mengeluarkan isakan dan airmatanya.Tak lupa ia juga menyebut nama lelaki  itu. Lelaki tampan yang telah menjadi pendamping hidupnya selama hampir satu tahun. Lelaki yang telah membuatnya dan hidupnya penuh dengan keceriaan dan penuh warna. Lelaki yang selalu membuatnya tersenyum. Dan Lelaki itu pula yang akhirnya membuat Seohyun menangis seperti sekarang ini.

Seohyun sama sekali tak menyangka bahwa lelaki  itu tega untuk mengakhiri hubungan mereka.Seohyun tahu, selama sebulan terakhir ini sikap lelaki itu sedikit berbeda. Lelaki itu sering tak mengabari Seohyun melalui telepon ataupun pesan singkat. Kalaupun mengabari, hanya sekali dua kali saja.Sangat bertentangan dengan sikapnya yang dulu—Sering menelponnya atau mengirim pesan singkat walau hanya sekedar menanyakan apa yang Seohyun lakukan.Awalnya Seohyun mengira mungkin dia sibuk atau mempunyai urusan lain. Ia sama sekali tak menduga jika lelaki itu memutuskan untuk mengakhiri hubungan yang telah mereka rajut.

Air mata Seohyun tak juga berhenti.Malah air mata gadis itu seperti berebut ingin menyeruak keluar.Memori-memori Seohyun dengan namja tampan itu kembali berputar. Masih segar di dalam ingatannya saat ia pertama kali akrab dengan lelaki  itu, menjadi sahabat dari lelaki  itu, hingga lelaki itu memutuskan untuk mengungkapkan perasaannya sendiri kepada Seohyun.Dan ia juga mengingat betapa bahagianya Seohyun ketika ia dan lelaki itu menjadi sepasang kekasih dan melakukan kencan pertama mereka walaupun penuh dengan rasa canggung yang teramat sangat.

Seobb, maafkan aku.Aku harus mengatakan hal sekeji ini kepadamu. Pertama, aku sangat berterima kasih padamu karena kau mau menjadi pengisi hatiku selama ini.Namun demi kebaikan kita berdua,kurasa hubungan kita berakhir disini. Aku tak ingin kau semakin terluka.Maaf, sekali lagi maaf. Kuharap kau masih menerimaku sebagai teman, Seobb”

Masih teringat jelas pula isi pesan singkat dari lelaki itu yang ternyata menjadi akhir dari hubungan mereka. Pesan yang tak terlalu panjang itu menggoreskan luka yang lebar bagi Seohyun. Jika Seohyun boleh berharap, ia berharap jika ini semua adalah mimpi.Mimpi buruk yang takkan pernah menjadi nyata.Atau paling tidak ini semua adalah hanya sebuah keisengan lelaki itu untuk menyambut perayaan ke satu-tahun mereka yang bertepatan tanggal 10, atau dua hari lagi dari sekarang.

Drrt… Drrt…

Ponsel Seohyun bergetar.Menunjukkan bahwa sebuah pesan telah masuk.Seohyun mengambil ponsel itu dengan enggan. Mood nya sangat dibawah rata-rata malam ini dan betapa terkejutnya ia ketika ia melihat nama sender dari pesan itu.Lelaki itu mengiriminya pesan lagi ! Seohyun memejamkan matanya, berharap bahwa isi dari pesan itu tentang permintaan maafnya karena telah mengerjainya seperti ini.

Dan perlahan jari telunjuk Seohyun menekan tombol read.

“Kau…tak marah padaku kan ? Maafkan aku. Tidurlah sekarang.Aku tahu kau belum tidur karena pesan ku tadi.Jangan terlalu dipikirkan… Arrasseo ?”

Baru setengah isi pesan ini ia baca dan Seohyun telah tersenyum.Apakah ini lelaki itu artinya…

“Ku harap kau bisa ceria seperti biasanya besok. Maaf, semoga kau mendapatkan lelaki yang lebih baik dariku.Aku tahu, banyak lelaki di luar sana yang menyukaimu. Kuharap kau juga seperti itu.Mari kita berteman, Seohyun-ssi. Fighting~”

DEG

Hatinya….benar-benar hancur hingga menjadi serpihan-serpihan sekarang.Harapannya untuk kembali bersama Sehun hancur sudah. Impiannya untuk mengajak Sehun ke wahana bermain empat hari lagi telah kandas. Seohyun menangis lagi. Sepertinya ini memang akhir dari kisah cinta indah mereka.

-o0o-

Pagi itu, benar menjadi pagi yang menguji ketegaran Seohyun. Minggu pagi yang cerah ini, Seohyun yang menjabat sebagai wakil ketua kelas harus menghadiri acara classmate yang diadakan oleh sang ketua kelas. Mengingat lelaki  itu yang juga satu kelas dengannya, membuat Seohyun terus ingin mengeluarkan airmata. Itu artinya mau tidak mau ia harus bertemu dengan lelaki itu.

Seohyun sedikit terperanjat ketika seseorang telah menepuk pelan bahu kanannya. Seohyun menoleh ke arah kiri.Mata coklatnya menangkap seorang yeoja berambut coklat tengah menatapnya dengan senyuman seperti biasanya.Namun senyuman gadis dihadapannya ini memudar ketika melihat keadaan Seohyun—sahabat karibnya—itu sepertinya tidak baik-baik saja. Gadis itu Jessica Jung.

Seohyun memang sedang tidak baik-baik saja pagi ini.Penampilannya yang biasanya terkesan fashionable sangat berlawanan dengan penampilannya pagi ini yang terkesan seadanya. Matanya membengkak besar sekali, bekas tangisannya semalam.Di pipi chubby-nya juga terlihat sebuah aliran sungai kecil, seperti terlihat sedang menangis.Terlihat pula lingkaran hitam di bawah matanya,seperti tak tidur semalaman. Cahaya penuh warna yang biasanya Seohyun keluarkan kini seolah-olah menghilang. Sebuah pertanyaan terbesit oleh Jessica, Apa yang terjadi padamu, Seororo ?

“Seororo….”

Seohyun tersenyum kepada karibnya itu, seolah tak ada apa-apa yang terjadi kepada dirinya.Meskipun ia telah mengalami hal terberat, tadi malam. Namun, seperti yang Jessica ketahui.Seohyun tak bisa berbohong.Bahkan Jessica mengetahui bahwa senyuman Seohyun itu adalah senyuman miris.Jujur saja, sebagai sahabat Seohyun, Jessica merasa sedih karena duka Seohyun adalah duka baginya pula. Jessica terkejut setelah melihat bulir-bulir kristal turun dari kedua mata Seohyun.Tanpa berpikir panjang Jessica memeluk Seohyun, untuk sedikit menenangkan gadis berwajah bulat itu.

Rapuh.

Mungkin inilah yang dirasakan oleh Seohyun sekarang, pikir Jessica.Meskipun gadis berambut coklat itu tak tahu alasan dari Seohyun, namun yang pasti ini adalah pertama kalinya Jessica melihat Seohyun serapuh ini.Dan tentu saja sebagai sahabat karib Seohyun, Jessica juga merasa sedih.

Setidaknya apa yang Jessica lakukan benar. Ia merasakan bahwa isakan dan tangisan sahabatnya ini mulai mereda.Seohyun mulai tenang , pikirnya.Dan satu-satunya jalan untuk membuat Seohyun lega adalah menyuruhnya untuk menceritakan semuanya secara detail kepadanya.

“Seororo…” panggil Jessica lagi.Kali ini ia sangat berharap bahwa Seohyun akan membalas perkataannya.

“Ne ?”

“Sebenarnya apa yang terjadi kepadamu ?” tanya Jessica to the point dan mendapat tatapan keraguan dari Seohyun. “ceritakan padaku”

Terlihat Seohyun sedang menimang-nimang tawaran Jessica.Sebagian dirinya ingin sekali menceritakannya kepada Jessica, sedangkan sebagian lain dari dirinya juga merasa enggan untuk menceritakannya.Ia takut dengan sebuah alasan. Ia terlalu takut jika luka yang ia dapat kemarin kembali terbuka dan emosinya akan meledak seperti tadi.

Namun, setelah menatap mata Jessica yang tengah menatapnya dengan tatapan berharap, Seohyun mengurungkan niatnya untuk menyimpannya seorang diri. Ia menghela nafas panjang sebelum akhirnya Seohyun memilih untuk bercerita.Ia juga berusaha mati-matian untuk menahan agar airmata maupun isakannya tak keluar dari mulutnya.Begitu pula ia juga menahan agar ia tak menjadi gadis yang emosional seperti tadi.

Seohyun mengakhiri ceritanya dengan helaan nafas berat. Seohyun, yang berada dalam posisi  masih-mencintai-lelaki-itu-mungkin- mengalami hal berat.Ya, jika lelaki itu yang memutuskan tentu saja lelaki itu sudah tak mencintainya lagi.Bagaimana dengan Seohyun ? Tentu dia masih mempunyai rasa pada lelaki itu.Dan sekarang ? Sakit hati. Yang teramat sangat malah.

Jessica menutup mulutnya, berusaha untuk tak berteriak.Di dalam hati gadis itu, ingin sekali ia membunuh lelaki itu jika Seohyun mengizinkannya.Dan mungkin sepertinya sekarang Seohyun akan mengizinkannya untuk membunuh lelaki tampan itu.

“Sehun-ah !”

Pandangan Seohyun dan Jessica sontak mengarah kepada sumber suara yang berada di belakang Seohyun.Terlihat seorang lelaki berambut kecoklatan sedang berjalan ringan sedangkan lelaki yang dibelakangnya itu berlari ke arah lelaki berambut coklat itu. Melihat lelaki itu, sontak Seohyun mengalihkan wajahnya dan menunduk.Ia kembali berusaha agar airmata—yang sudah berada di pelupuk matanya—tidak jatuh begitu saja.Kali ini ia tak ingin dipandang lemah oleh siapapun, tak terkecuali lelaki itu.

Berlainan dengan Jessica, gadis cantik itu malah memberi lelaki itu dengan tatapan dingin yang mungkin dapat membunuh lelaki itu.Tangan gadis itu mengepal. Amarahnya sudah berada di atas ubun-ubun. Mungkin ia sudah siap untuk membunuh lelaki itu.Membunuhnya dengan tatapan dinginnya atau dengan perkataan dinginnya pula.Atau bisa saja menggunakan senjata yang lebih ampuh seperti pisau, senapan, dll.

Bingo!

Lelaki itu berhenti tepat di sebelah kanan Seohyun, sekitar 5 meter dari tempat Seohyun berpijak. Mata lelaki itu sama sekali tak menampakkan sebuah kesedihan, bahkan lelaki itu seperti biasa saja seperti tak memiliki masalah.Lelaki itu juga menatap Seohyun dengan tatapan yang biasa saja, menurut Jessica atau mungkin tatapan yang tak dapat diartikan. Sangat kurang ajar, pikir Jessica.

Seohyun mendongakkan kepalanya.Ia sempat berpikir bahwa lelaki itu sudah pergi menjauh dari tempatnya.Namun dugaannya salah.Kedua mata Seohyun yang bengkak—karena menangis semalaman—itu menangkap Lelaki itu justru berada di sebelahnya, meskipun tidak terlalu dekat dengannya.Setelah ia menatap lelaki itu, lelaki itu malah melangkahkan kakinya lagi. Meninggalkan Seohyun dan Jessica yang sedang menatapnya. Dan itu semakin membuat luka di hati Seohyun semakin lebar.

Sakit.

Itulah yang hati Seohyun rasakan.Airmatanya tumpah begitu saja.Terlebih lagi saat ia menatap wajah lelaki itu tadi yang sama sekali seperti sedang menyesal.Wajah lelaki itu yang sama sekali tak menunjukkan bahwa dirinya tak menyesal dan lebih terkesan biasa saja membuat air mata Seohyun semakin mengalir deras. Ini semua terlalu menyakitkan bagi Seohyun. Dan hatinya sedang tidak baik-baik saja.

 

Cause when a heart breaks, no it don’t breakeven

-o0o-

Pagi ini begitu cerah. Matahari yang biasanya bersembunyi kini tengah menyinari kota Seoul. Meskipun hari ini musim gugur, sepertinya itu sama sekali tak bermasalah.Terlihat banyak orang yang menyambut pagi ini dengan gembira.Terlihat canda gurau di setiap sudut kota. Namun tidak bagi gadis berjaket putih itu. Gadis berjaket putih dengan rok berwarna senada di atas lutut itu tak menampakkan sebuah kegembiraan.Gadis itu…tak lain dan tak bukan adalah Seohyun.

Gadis itu terus melangkahkan kakinya.Tak terlihat sebuah senyuman di wajah manis gadis itu di sepanjang perjalanan.Wajahnya menampakkan raut sedih dan lelah yang teramat sangat. Ia sangat lelah karena terus-terusan menangis karena lelaki itu.Lelaki yang meninggalkan dirinya tanpa ada perasaan menyesal.Dan sepertinya senyuman gadis itu juga ikut pergi bersama lelaki itu pergi.

Seohyun menghentikan langkahnya dan mendongakkan kepalanya.Ia menatap bangunan ini dengan mata berairnya.Bangunan ini… penuh dengan kenangan indahnya bersama lelaki itu. Tentu saja sebelum lelaki itu memutuskan untuk mengakhiri hubungan yang selama ini telah mereka rajut. Bangunan ini terlalu memiliki banyak kenangan, dan itu yang membuat Seohyun sedikit enggan untuk memasukinya. Bangunan ini…Sekolahnya.

Seohyun kembali melanjutkan langkahnya.Di sepanjang koridor ia tak juga menunjukkan senyumannya.Begitu pula saat dirinya menaiki satu-persatu anak tangga.Ia juga tak membalas sapaan dari segerombol siswa yang biasanya ia sapa. Ia membungkam mulutnya. Lidahnya terlalu kelu untuk berbicara.Dan sepertinya diam adalah satu-satunya cara yang paling baik menurutnya.

Seohyun menghentikan langkahnya.Sempat terlintas di benaknya jika ia ragu untuk memasuki kelas itu. Ia juga meragukan dirinya jika ia takkan menangis saat memasuki kelasnya sendiri. Ia menghembuskan nafas berat, kemudian melangkahkan kakinya masuk ke dalam kelasnya. Langkah nya sempat berhenti dan terpaku pada bangku di samping kirinya. Bangku itu… milik lelaki itu. Ia semakin ragu apakah ia akan baik-baik saja ketika lelaki itu telah datang dan duduk disitu.

Ia meletakkan tasnya dan duduk di bangkunya.Namun matanya masih terfokus dengan bangku lelaki itu.Masih segar dalam ingatannya saat ia dan lelaki itu barusaja saling mengenal, padahal mereka sudah satu tahun berada di kelas ini.Seohyun juga ingat saat ia dan dirinya saling mencuri-curi pandang satu sama lain dan akhirnya lelaki itu meminta nomor teleponya. Ia teringat betapa bahagianya dirinya saat itu.

Seohyun kembali menghela nafas panjang.Ia yakin bahwa dirinya dapat menjadi seorang gadis yang tegar. Matanya kembali berair, namun dengan seluruh usahanya ia menahan agar buli-bulir kristal itu tak jatuh begitu saja. Nyatanya, Seohyun tak bisa menjadi setegar itu dan akhirnya bulir-bulir itu kembali terjatuh dan isakan-isakannya mulai terdengar begitu saja.

Seohyun menangis.

Dan beruntungnya di kelas itu hanya ada dirinya yang telah hadir.

-o0o-

Tring….

Bel telah berdering, pertanda pelajaran pertama telah di mulai.Para siswa yang tadinya sangat gaduh pun menjadi hening.Dan tak lama kemudian Han sonsaengnim memasuki di kelasnya. Biasanya, kedatangan Han sonsaengnim di kelasnya akan disambut dengan senyuman ceria oleh Seohyun karena mengingat bahwa pelajaran yang Han sonsaem ajarkan adalah biologi atau pelajaran faforitnya.Namun sekarang Senyuman itu menghilang dan Seohyun hanya menundukkan kepalanya sedari tadi.

“Baiklah, hari ini saya akan membentuk kelompok-kelompok kecil. Kelompok pertama adalah Taeyeon,Tiffany,Baekhyun dan Chanyeol.Kelompok kedua….”

Han sonsaengnim membagi murid-murid menjadi kelompok kecil. Seluruh siswa mendengarkannya dengan seksama. Begitu juga dengan Jessica yang duduk tepat di samping kirinya.Berlainan dengan Jessica, Seohyun sama sekali tak mendengarkan itu dan memilih untuk menenggelamkan kepalanya di atas meja dengan tangan yang lebih dulu melipat di atasnya.

“Kelompok terakhir akan diisi oleh Jessica, Luhan, Seohyun dan Joonmyun. Baiklah, sekarang silahkan duduk berkelompok sesuai dengan kelompok….”

“Annyeong haseyo”

Seluruh murid dan Han sonsaengnim memfokuskan pandangannya ke arah pintu.Begitu pula dengan Seohyun. Terlihat seorang lelaki berwajah datar memasuki kelas itu dan membungkuk ke arah para murid. Lelaki itu…. tak lain adalah namjachingu, bukan. Lebih tepatnya lelaki itu adalah ex-namjachingu Seohyun.

“Joesonghaeyo, sonsaengnim.Aku terlambat” ujar lelaki itu sembari membungkuk ke arah Han sonsaengnim. Han sonsaengnim mengangguk dan menepuk bahu lelaki itu pelan, “Tak apa. Lain kali jangan kau ulangi lagi.Sekarang duduklah di tempatmu !”

Lelaki itu mengangguk dan melanjutkan langkahnya ke arah bangkunya. Seketika jantung Seohyun bertedak begitu kencang. Inilah saat-saat yang ia takutkan. Ia takut tangisnya akan pecah sesaat setelah lelaki ini duduk di bangku miliknya yang tepat berada di samping Jessica. Ia takut emosinya takkan terkendali. Namun Jessica menatapnya, berusaha meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja.

“Ah iya, Oh Sehun. Karena kau satu-satunya siswa yang belum mendapat kelompok, kau masuk ke kelompok 7. Kelompok Jessica. Kau mengerti ?”

DEG

Jantung Seohyun seakan berhenti.

Itu artinya lelaki itu—Sehun—akan satu kelompok dengan dirinya ?

-o0o-

Bel sekolah berdering tiga kali, itu berarti waktu pulang telah tiba. Seluruh murid segera berhamburan keluar sekolah.Tak terkecuali oleh dua gadis itu—Seohyun dan Jessica. Seohyun melangkahkan kakinya keluar kelas dengan gontai.Bahkan ia nampak tak seperti melangkah, melainkan menyeret kakinya.Entah mengapa, setelah ia mendapat satu kelompok dengan Sehun rasanya ia menguras banyak energi untuk menahan dirinya agar tak menangis. Ya, mungkin saja.

“Seororo…”

Seohyun menatap Jessica yang tengah menatap Seohyun khawatir. Bagaimana tidak ? Sejak kemarin Seohyun seperti gadis yang tak ia kenal.Jessica merasa sahabatnya ini kini menjadi seorang pendiam dan pemurung, tak seperti dahulu yang bawel dan ceria. Ia juga tak pernah menyangka jika efek dari berakhirnya hubungan Sehun-Seohyun akan mengubah sahabatnya menjadi 180 derajat.

“Aku baik-baik saja, Sica. Kau tak perlu khawatir” Seohyun tersenyum kecil dan menepuk pelan bahu sahabatnya, berusaha meyakinkan Jessica bahwa ia benar-benar baik-baik saja. Namun Jessica tahu, senyuman Seohyun adalah senyuman yang terlalu dipaksakan. Seohyun menjadi sedikit merasa bersalah, karena ia telah membuat sahabatnya ini terlalu khawatir kepadanya.

Jessica mengangguk pelan dan kembali membungkam mulutnya. Ia tahu bahwa Seohyun tidak baik-baik saja. Namun ia sengaja membungkam mulutnya meskipun banyak pertanyaan yang berterbangan di pikirannya.Ia tahu Seohyun sedang membutuhkan waktu sendiri. Ia tahu Seohyun butuh ketenangan untuk sekarang ini.

Tiba-tiba Seohyun dan Jessica melihat banyak siswa yang berlarian menuju koridor tengah. Mereka berdua mengerutkan dahinya. Bukankah bel pulang telah berdentang lima belas menit yang lalu ? Mengapa banyak anak yang berlarian menuju koridor tengah padahal jalan keluar sekolah adalah arah yang berlawanan ?

“Jeogiyo Yifan-ah, memangnya disana ada apa ?” tanya Jessica kepada salah satu siswa berbadan tinggi yang tak lain bernama Wu Yi Fan atau yang akrab dipanggil dengan sebutan ‘Kris’

“Entah, kata para murid disana ada salah satu siswa yang akan menembak salah satu yeoja. Lebih baik kalian kesana cepat !” jawab Kris sembari melanjutkan perjalanannya. Seohyun dan Jessica menatap satu sama lain sebelum akhirnya Jessica menggandeng tangan Seohyun,

“Mari kita lihat, Seororo !”

-o0o-

Suasana begitu ramai disana, tetapi tidak terlalu ramai juga.Hanya dipenuhi oleh siswa dari kelas Seohyun dan kelas sebelah saja.Para siswa membentuk sebuah lingkaran yang ditengahnya terdapat seorang gadis yang cantik. Seohyun dan Jessica yakin, bahwa gadis itulah yang akan menjadi sasaran oleh siswa laki-laki yang dikatakan Kris.

 

Para siswa yang tadinya gaduh menjadi hening.Dan layaknya terhipnotis, para siswa yang melihat mengalihkan pandangan mereka ke arah sebelah kiri.Pandangan mereka mengikuti ke sumber suara, tak terkecuali Seohyun dan Jessica.Kemudian siswa yang berada di sebelah kiri segera memberi jalan kepada lelaki yang menyanyi atau bisa dikatakan peran utama lelaki.Perlahan tapi pasti lelaki itu berjalan dengan terus bernanyi sembari memetikkan gitarnya.Awalnya Seohyun tak bisa melihat lelaki itu, mengingat dirinya berada di belakang.Namun matanya sontak membulat setelah melihat siapa peran utama lelaki sekarang ini.Lelaki itu….

Oh Sehun.

Jantung Seohyun seakan-akan berhenti berdetak.Mulutnya bergetar, dan tangannya menggenggam.Emosinya sudah mencapai kepala tetapi ditahannya, mengingat ia dan Sehun sekarang bukanlah sepasang kekasih.Benar saja, mereka sudah bukan sepasang kekasih lagi, lalu untuk apa ia marah ? Dan bukankah Sehun juga berhak untuk mencari pacar lagi ? Mengapa ia marah ?

 

Sehun berlutut sembari menyerahkan setangkai bunga mawar putih kepada gadis itu. Gadis itu menerima bunga itu sembari tersenyum.Terlihat semburat merah di kedua pipinya. Sepertinya gadis itu senang sekali dengan pemberian Sehun.Berlainan dengan itu, Seohyun menggigit bibir bawahnya hingga ia tak sadar jika bibir bagian bawahnya sedikit berdarah. Tangannya mengepal.Bisa-bisanya Sehun memberi gadis itu mawar putih yang merupakan BUNGA FAVORIT SEOHYUN ?!

“Yes i do, Sehun-ah”

Dan lagi, Seohyun menatap tajam gadis itu walau ia mengerti bahwa gadis itu tak tahu bahwa Seohyun tengah menatapnya tajam.Perasaannya ? tentu saja kecewa ! Bukan kecewa dengan Sehun, melainkan dengan gadis itu.Gadis berwajah babyface  itu….tak lain adalah Taeyeon.Sedangkan Taeyeon adalah temannya….teman dekatnya selain Tiffany dan Luhan. Ia benar-benar tak percaya bahwa Taeyeon tega berbuat seperti itu kepadanya.

Sehun tersenyum senang, dan segera merengkuh gadis itu.Terlihat jelas bahwa gadis itu benar-benar bahagia.Dan itu jelas membuat hati Seohyun terluka.Sejak kapan Taeyeon menyukai Sehun ?! Sejak Sehun berpacaran dengan Seohyun kah ?! Entah Seohyun tak tahu.Namun ia melihat Taeyeon menatapnya sejenak, seakan meminta maaf padanya.Dan semua itu semakin membuat luka hati Seohyun semakin lebar dengan sempurna.

Seluruh siswa bertepuk tangan, ikut berbahagia dengan pasangan baru itu.Semua nampak bahagia…kecuali Seohyun dan Jessica pula tentunya.Air mata Seohyun sudah berada di pelupuk matanya, siap untuk keluar dengan sekali kedipan.Lutut gadis berwajah bulat itu bergetar hebat.Seakan-akan Seohyun bisa ambruk kapan saja jika ia mau. Tangan gadis itu mengepal hebat. Emosinya benar-benar berada di ubun-ubun.Dan tanpa perintah dari otak Seohyun, tiba-tiba air matanya menyeruak keluar. Dengan tangan yang memegangi mulutnya, Seohyun akhirnya berlari dari tempat itu. Disusul dengan Jessica yang ikut berlari mengejar karibnya.

 

He finally met a girl that’s gonna put him first

-o0o-

Seohyun melangkahkan kaki jenjangnya pada koridor sekolah.Keadaannya sudah jauh lebih baik daripada keadaannya pada minggu lalu.Kini ia sudah bisa kembali tersenyum, tertawa dan bergurau seperti sedia kala.Dan Luhan-lah yang berhasil membuat Seohyun seperti sedia kala dalam waktu kurang dari satu minggu.Dan berkat Luhanlah Seohyun dapat ‘sedikit’ melupakan Sehun.Tentunya hal ini membuat Luhan semakin dekat dengan Seohyun.

Pagi ini Seohyun menerima tawaran Luhan untuk pergi ke sekolah bersama. Pergi ke sekolah bersama Luhan bukanlah ide yang buruk bagi Seohyun.Sepanjang perjalanan menuju kelas mereka saling bersenda gurau, saling menggoda bahkan saling mengejek pun tak tertinggal. Begitu seterusnya hingga mereka tak menyadari bahwa terdapat sepasang mata yang mengintai mereka sedari tadi.Sepasang mata yang sedari tadi mengamati gerak-gerik Seohyun dan Luhan.

Ketika sampai di depan pintu kelas, Seohyun mengintip sejenak. Sehun belum datang ternyata.Baguslah. Seohyun menghela nafas lega, sedangkan Luhan yang menatap gadis itu sedari tadi mengerutkan dahinya heran. “Sampai kapan kau mau disitu, kajja masuk !” ajak Luhan sembari menggandeng tangan Seohyun untuk masuk ke dalam kelas.

Di lain tempat, seseorang yang mengamati Seohyun-Luhan mengepalkan tangannya. Matanya mulai memanas.Emosinya hampir keluar begitu saja sebelum akhirnya ia kembali memendam emosinya karena ia merasakan sebuah pelukan dari arah belakang. Dan orang itu tersenyum layaknya tak ada sesuatu yang barusaja terjadi.

-o0o-

“berhenti membaca buku” pinta Luhan menatap gadis itu sedikit kesal. Gadis itu tidak bergeming dan masih berkutat dengan buku yang ia baca. Luhan mendengus, dan menyandarkan tubuhnya ke kursi. Seohyun baru saja masuk sekolah dan sembuh dari sakitnya, apa ia harus membaca ? Bagaimana jika Seohyun akan kembali sakit setelah membaca buku fisika ini ? Luhan menatap gadis itu dan kembali berkata, “Seohyun-ah, tak bisakah kau berhenti membaca buku, setidaknya untuk hari ini?”

Seohyun menutup bukunya dan menatap Luhan intens, membuat pemuda menjadi salah tingkah dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Wahai Tuan muda Xi luhan, tak bisakah kau berhenti untuk melarangku membaca buku ?”

“Bagaimana jika kau kembali sakit ?”

Seohyun mengerutkan keningnya, ada apa dengan pria ini ? Seperti barusaja mengenal Seohyun. “alasan tidak logis.” Pungkasnya dan kembali membuka buku fisika yang biasa dianggap oleh para siswa—neraka dunia. Luhan mencibir, lalu dengan iseng mencubit pipi chubby milik Seohyun.

“Ya… hentikan..” Seohyun menepis tangan Luhan, namun malah membuat Luhan semakin iseng untuk mengerjainya.Dicubitnya kembali pipi Seohyun, dan Seohyun pun membalas cubitan Luhan.Aksi saling mencubit pun tak dapat dihindari.Setelah merasa sedikit lelah, mereka akhirnya tertawa bersama.

Namun, Seohyun kembali membungkam mulutnya setelah kedua bola matanya tak sengaja menangkap sepasang siswa sedang bergandengan tangan mesra.Sang yeoja tengah menggaet lengan namja itu manja dan sang namja tengah mengelus-elus rambut sang yeoja. Pemandangan itu membuat mata Seohyun kembali memanas, tangannya kembali mengepal. Jika saja dia sudah tak memiliki rasa kasihan, sudah pasti ia akan mencekik sepasang kekasih itu—Sehun dan Taeyeon.

Namun akhirnya ia memilih untuk berlari keluar kelas.

 

His best day will be some of my worst

And what am i supposed to say when i’m all chocked up and you’re okay ?

-o0o-

“lupakan dirinya”

Seohyun membulatkan matanya setelah mendengar kalimat yang barusaja terlontar dari sahabatnya itu, Jessica Jung.Pasalnya, ia barusaja datang di sekolah, meletakkan tasnya dan duduk di samping sahabatnya itu.Dan beruntung, hanya mereka yang sudah datang di kelas ini.

“mwo ?!”

Jessica menatap mata sahabatnya itu.Lagi-lagi ia tidak menemukan aura bahagia yang terpancar dari sahabatnya itu.Jessica menghela nafas pelan, “aku berkata, lupakan dia. Lupakan Oh Sehun yang brengsek itu”

Mendengar perkataan Jessica yang menghina Sehun, membuat Seohyun merasa sedikit tersinggung.Oh tidak, mungkin ia tersinggung sehingga ia tak dapat mengontrol emosinya. Seohyun berdiri dan menggebrak mejanya. “YA JESSICA ! SUNGGUH, DEMI APA KAU BERANI MENGATAI SEHUN ?!”

“Dia telah menyakiti hatimu, kau lupa ?! Bahkan bukan hanya hatimu, tetapi dirimu juga ! Dulu dia tidak mengabarimu selama sebulan dan saat ia mengabarimu, ternyata itu adalah kabar terakhir darinya dan ia meminta putus denganmu ! Belum itu saja, bahkan keesokan setelah kau bukan sebagai kekasihnya lagi, ia malah menyatakan perasaannya kepada teman dekat kita sendiri, Kim Taeyeon !! Dan setelah itu kau tidak masuk sekolah selama seminggu karena sakit, Belum cukupkah itu hah ?”

Penjelasan panjang lebar dari Jessica membungkam mulut Seohyun. Penjelasan itu 100% tepat. Namun entah kenapa di dalam hati kecil Seohyun tidak 100% membenarkan penjelasan akurat Jessica.Sepertinya.. Seohyun masih sedikit membela Sehun.Seohyun yakin, Sehun tidak sejahat itu. “Sehun….”

“lupakan dirinya, Seohyun-ah. Semua ini demi kebaikanmu. Aku tak mau sahabat karibku akan terperosok lebih dalam lagi.” Seohyun menunduk, menahan air matanya agar tak keluar. Jika ditanya apakah ia ingin melupakan Sehun, tentu jawabannya sangat ingin ! Tetapi sedikit perasaannya kepada lelaki itu membuat Seohyun sedikit merasa enggan juga untuk melupakannya.

“Seohyun-ah….aku tahu perasaanmu. Sangat mengerti.Aku dulu pernah mengalaminya dengan Donghae, ingat ? Hampir satu tahun aku mengharapkannya kembali, namun apa ? Keluarga Donghae dan pacar barunya itu malah berteman baik, dan bahkan mereka berjanji akan menjodohkan anak mereka. Kau tahu ? Aku sangat hancur, sangat hancur saat itu. Namun berkat dirimu dan teman-teman lainnya, akhirnya aku dapat melupakan dirinya.”

Jessica menyentuh dagu Seohyun, mengangkat wajahnya agar sejajar dengan dirinya. Jessica tersenyum miris, “mengharapkan dirinya kembali. Aku tahu harapanmu sekarang adalah itu. Namun percayalah, Seohyun-ah. Mengharapkan sesuatu terlalu tinggi adalah sesuatu yang tidak baik. Dan lupakan Sehun. Aku yakin jika ia memang jodohmu, pasti akan kembali”

Seohyun perlahan mengangguk mengerti. “Tapi bagaimana caranya, Sica-ya ?”

-o0o-

Sore ini, angin musim gugur telah berhembus di Seoul.Walaupun hembusan angin ini lebih kencang dari tahun sebelumnya, tak membuat seorang gadis berambut panjang itu terus berjalan menapakkan kaki jenjangnya itu.Kedua tangan gadis itu sedang membawa sebuah kardus tertutup berukuran sedang.Wajah gadis itu tak terlihat senang, justru terlihat sendu.Matanya yang biasanya berbinar kini seakan-akan redup tak bersisa. Bibir gadis itu juga tak terukir sebuah senyuman.

Gadis itu—Seohyun—terus melangkahkan kakinya hingga ia berhenti tepat di sebuah taman. Taman bermain anak-anak yang sederhana, namun penuh kenangan bagi seorang Seo Joo Hyun.Tempat itu….adalah tempat dimana ia dan Sehun resmi menjadi sepasang kekasih. Tempat yang sering mereka datangi sepulang sekolah.Dan….pastinya taman sederhana ini adalah tempat bersejarah bagi mereka berdua, atau mungkin sekarang tempat bersejarah bagi Seohyun.

Seohyun tersenyum miris.Sungguh ia prihatin dengan dirinya sendiri. Ia terlalu berharap, harapannya terlalu tinggi dan tidak mungkin terjadi.Sudah hampir enam bulan Seohyun terus menunggu dan berharap jika Sehun akan kembali kepada dirinya.Ya, meskipun pikiran Seohyun sendiri telah menduga itu tidak akan terjadi, tetapi sepertinya hati Seohyun tak dapat berkompromi dengan pikirannya.Hingga akhirnya ia menyadari, Sehun telah bahagia dengan kehidupannya sekarang tanpa dirinya.

Seohyun melangkahkan kakinya lagi, melewati beberapa mainan anak-anak. Hingga akhirnya ia kembali menghentikan langkahnya ketika ia berdiri tepat di depan sebuah bangku. Sebuah bangku kayu yang nampak rapuh, namun mempunyai banyak kenangan pula. Bangku itu adalah bangku favorit Seohyun dan Sehun.Bangku itu juga tempat dimana Sehun dengan resmi menyatakan perasaannya pertama kali kepada Seohyun.

Seohyun meletakkan kotak yang ia bawa dan berjongkok di depan bangku itu.Salah satu tangannya merogoh saku cardiganya,mengeluarkan sebuah sekop kecil.Dengan perlahan digalinya tanah di depan bangku itu dengan sekop miliknya.Setelah galian tanahnya cukup lebar dan dalam, Seohyun meletakkan kotak yang ia bawa tadi ke dalamnya.Ia membuka kembali kotak itu, dan melihat isi di dalamnya untuk terakhir kali. Terdapat banyak foto, surat dan beberapa benda kecil pemberian dari Sehun untuknya.

Tangannya meraih sebuah foto. Foto itu adalah foto pertama yang mereka ambil setelah menjadi sepasang kekasih.Terlihat disana Seohyun tengah mencolekkan es krim coklat pada Sehun.Dan Sehun tengah mencubit pipi kanan sang gadis.Foto yang mereka ambil tepat di taman ini, dan bangku ini.Tawa bahagia yang tercetak jelas pada foto itu membuat bulir-bulir kristal turun dari pelupuk mata Seohyun.Dan membuat harapan Seohyun kepada lelaki itu hampir muncul kembali.

Seohyun meletakkan kembali foto itu dan menutup kotak itu.Tangannya menghapus airmatanya sembarangan.Ia tidak boleh terlihat lemah lagi.Ia telah bertekad melupakan lelaki yang tega mengakhiri hubungan dengannya dan memilih teman dekatnya.Tanpa berfikir lebih panjang lagi Seohyun meraih sekopnya dan mengubur kotak itu dengan tanah.Mengubur semua benda kenangan pemberian namja itu beserta kenangan-kenangan yang menyertainya.

 

“ I’m sorry, Sehun-ah. Now i’m trying make sense of what little remains.I Love you, good bye”

-Epilog-

Sepasang mata seorang lelaki menangkap Seorang yeoja berbalut cardigan coklat dengan sebuah kotak berukuran sedang di tangannya sedang berjalan menuju taman.Dahinya mengerut, alisnya menyatu. Mengapa gadis ini mengunjungi taman itu disaat seperti ini? Pikirnya yang kali ini juga diam-diam mengikuti gerak-gerik gadis itu.

Ia bersembunyi dibalik salah satu pohon cherry blossom yang tak jauh dari gadis itu berdiri. Matanya menangkap gadis itu berhenti melangkah di salah satu bangku. Dahinya kembali berkerut, beberapa pertanyaan mulai muncul di benaknya.Namun, ia kembali dikejutkan dengan gadis itu yang kini berjongkok di depan bangku itu. Ia terkejut, hal pertama yang terbesit di benaknya adalah membantu gadis itu kembali berdiri dan mengantarkannya pulang.Namun dalam situasi ini, ia hanya bisa menahannya.

Gadis itu mengeluarkan sekop kecil dan mulai menggali tanah, membuat dirinya semakin bingung atas sikap gadis itu.Belum sempat terjawab pertanyaannya, kini ia melihat gadis itu memasukkan kotak yang ia bawa ke dalam galiannya.Gadis itu membuka kotak itu, dan mengambil sebuah foto.Terkejut  ? Tentu saja ! Ia sangat terkejut dengan isi di dalam kotak itu.Apalagi gadis itu memasukkan kotaknya di dalam galian tanahnya. Sungguh, apa yang sedang gadis itu lakukan ?

Gadis itu meneteskan beberapa air mata, kemudian menghapusnya dan meletakkan foto yang tadi ia ambil.Wajah gadis itu yang tadinya terlihat sendu kini terlihat lebih tegar. Gadis itu meraih sekopnya dan mengubur kotak itu, membuat lelaki itu membulatkan matanya dan seakan tak percaya dengan apa yang ia lihat.Gadis itu…. mengubur kotak itu ?! Gadis itu benar benar mengubur kotak itu ??

Setelah gadis itu pergi, lelaki itu berdiri tepat di atas galian milik gadis itu tadi. Wajah lelaki itu menggambarkan sebuah penyesalan.Ia terlambat.Sepertinya ia benar-benar sudah tak memiliki kesempatan untuk kedua kalinya. “Mianhae Seohyun-ah” ucap lelaki itu penuh penyesalan. Lelaki itu….Oh Sehun.

-The End-

TA-DA~ Bagaimana fanfic nya ? Gak ada feelnya ? okesip author juga tau wkwk. Sebenernya ini kisah real author yang author jadiin fanfic._. dengan sedikit perubahan, pengurangan dan penambahan tentunya.Kritik dan saran ? silahkan^^

Advertisements

47 thoughts on “[Freelance] Breakeven

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s