Homeless (Don’t you Remember?-Part.6-)

Homeless

Tittle            : Homeless

Author          : NtaKyung (@NtaKyung)

Art Poster      : NtaKyung

Main Casts     : Tiffany Hwang, Kim Suho, Kris Wu, Oh Sehun, Park Chanyeol, Xi Luhan

Genre            : AU (Alternate Universe), Comedy, Family, Friendship, Romance

Length          : Main Chapter

Rated            : PG-15

Disclaimer     : Segala hal yang berada dalam Fanfiction ini, Murni adalah imajinasi saya! So, Jangan Copy-Paste or BASHING!! Don’t Like? Don’t Read!!

©Homeless©

Sepasang mata itu, kini tengah menatap Tiffany dengan sorot matanya yang penuh dengan rasa kasih sayang dan kerinduan yang mendalam. Namun, Tiffany tak menyadari keberadaan pria itu sama sekali, ia terlalu sibuk memperhatikan beberapa macam bunga yang mulai tumbuh dan bermekaran di taman belakang rumah ini.

Pria itu, yang tak lain adalah Xi Luhan, tersenyum tipis. “Dia tak pernah berubah sama sekali. Masih tetap sama seperti dulu… begitu manis, hangat dan… cantik.” Gumamnya.

“Luhan Hyeong. Apa yang kau lakukan?!”

Suara Chanyeol seolah menyentakkan kesadaran Luhan. Pria ini lantas berbalik dan mendapati Chanyeol yang masih menggendong tasnya dan menatapnya dengan tatapan penuh selidik.

“O-oh… Chanyeol-ah… s-sejak kapan kau kembali? Tidak biasanya kau pulang cepat…” Luhan berusaha untuk mengontrol dirinya sendiri agar tidak terlihat gugup di hadapan adiknya itu, tetapi sepertinya ia gagal.

Chanyeol tak langsung menjawab, tatapan matanya menyipit dan perlahan pria ini melangkah mendekati Luhan. “Jika aku tidak salah dengar… kau tadi mengatakan sesuatu kan, Hyeong? Apakah… itu berkaitan dengannya?” Chanyeol menggedikkan dagunya ke arah Tiffany yang masih tetap tak menyadari kehadiran kedua pria itu-karena memang jarak mereka yang cukup jauh dari gadis itu-.

“Apa yang kau bicarakan? Kau mungkin salah dengar, Chanyeol-ah… aku bahkan tak berbicara apapun.” Balas Luhan kemudian, berusaha untuk terlihat lebih tenang.

“Benarkah?”

“Sudahlah… aku benar-benar tak mengatakan apapun.” Luhan lantas mengibaskan tangannya dan tersenyum tipis, menyembunyikan kegugupannya di balik senyuman khasnya itu.

Chanyeol berniat untuk mengatakan sesuatu kembali, tetapi suara Tiffany terdengar dan pria ini pun terpaksa menahan pertanyaannya itu dan lebih memilih untuk menoleh pada Tiffany.

“Chanyeol-ah! Luhan-ya!”

“Hey, Fany-ah… apa yang kau lakukan di sini? Tidak biasanya kau pergi ke kebun belakang.” Ujar Chanyeol sambil tersenyum sumringah pada Tiffany yang telah berjalan menghampiri kedua pria ini.

Tiffany menggedikkan bahunya, “Bunganya bermekaran dan aku tak dapat mengabaikannya begitu saja, aku terlalu terpesona dengan keindahan mereka…” Sahutnya kemudian sembari memperlihatkan senyuman khasnya serta kedua matanya yang membentuk eyes smile.

“Ah, benarkah? Lalu… bagaimana dengan pesonaku ini? Apakah kau juga tidak dapat menolak pesonaku, hm?” Goda Chanyeol sambil mengerling jail.

Tetapi, bukannya merasa kesal dengan godaan Chanyeol seperti biasanya. Tiffany justru malah tertawa dan membuat kedua pria di hadapannya itu bingung.

“Hey… hey… Tiffany. Kau baik-baik saja kan?” Tanya Chanyeol, terlihat cemas.

Namun, tawa Tiffany semakin meledak dan ini semakin membuat Chanyeol dan Luhan heran di buatnya. Beberapa detik setelahnya, Tiffany lantas berusaha menghentikan tawanya lalu menggelengkan kepalanya singkat.

“Aku tidak apa-apa, Chanyeol-ah.” Sahutnya setelah berhasil menghentikan tawanya. “Hanya saja… kupikir, aku benar-benar merasa sepi jika tidak ada kalian di rumah ini.” Lanjutnya dan setelah itu pun ia mengacak-acak rambut Chanyeol dengan gemas.

“Haish… Ya… kenapa kau mengacak-acaknya?! Kau bisa merusak ketampananku!” Gerutu Chanyeol, tetapi Tiffany lagi-lagi malah tertawa.

Namun, bukannya semakin kesal dengan hal itu. Chanyeol justru senang melihat Tiffany dapat tertawa karenanya. Dengan berinisiatif, akhirnya Chanyeol menggelitik pinggang Tiffany dan gadis itu langsung menjerit terkejut bersamaan dengan tawanya yang semakin menjadi.

“Kya! Hentikan! Hey! Itu benar-benar geli, Park Chanyeol!” Pekik Tiffany sembari berusaha untuk menghindari kedua tangan Chanyeol dan langsung berlari ke dalam rumah.

“Jangan lari, kau!” Seru Chanyeol dan beranjak dari tempatnya, mengejar Tiffany tanpa peduli dengan kehadiran Luhan di sisinya, ia bahkan tak menyadari jika sejak tadi Luhan hanya tetap diam memandangi mereka berdua.

Tatapan Luhan berubah menjadi sayup ketika melihat candaan di antara Chanyeol dan Tiffany. Rasanya, ia tidak rela membiarkan Tiffany tertawa karena pria lain. Tetapi, ia bahkan terlalu pengecut untuk mengakui pada gadis itu, jika dia adalah Xiao Lu, bocah kecil yang dulu selalu menjaga dan menyayangi Tiffany, membiarkan Tiffany menganggapnya sebagai kakaknya.

“Kau bahkan tak mengingatku sama sekali… lalu, haruskah aku memberitahumu, Tiffany?”

©Homeless©

Kris baru saja tiba di rumah dan ia bergegas turun dari dalam mobilnya. Kakinya melangkah menuju ke dalam rumah megah itu, tetapi langkah kaki Kris tertahan ketika di lihatnya sosok Tiffany yang tengah asyik bercanda ria bersama Chanyeol di area dapur.

Chanyeol nampak asyik menggoda Tiffany yang tengah memasak di dapur, tetapi gadis itu hanya membalasnya dengan tawa atau sekedar tersenyum. Tak ada satupun pelayan yang berniat untuk merusak suasana di sana dan lebih memilih untuk menjauhi area dapur untuk beberapa saat. Mereka mungkin akan datang jika Tiffany membutuhkan bantuan mereka nanti.

Kedua mata Kris berkilat tajam dan kedua tangannya mengepal kuat. Sungguh, ia membenci pemandangan ini, rasanya ia ingin segera menyeret Chanyeol untuk segera menjauh dari sisi Tiffany, tetapi pria ini berusaha mengenyahkan pikiran itu dan lebih memilih untuk berjalan menghampiri kedua orang itu.

“Sepertinya kalian senang sekali sekarang.” Suara Kris seakan menginterupsi candaan kedua orang ini, mereka lantas berbalik ke arahnya dan seketika itu juga raut wajah Chanyeol berubah menjadi masam.

“Oh, Kris. Kau sudah datang…” Senyum Tiffany, berbeda sekali reaksinya dengan Chanyeol.

Mengabaikan tatapan kesal Chanyeol, Kris lebih memilih untuk membalas senyuman Tiffany. “Ya, begitulah… tak ada pekerjaan lagi di kantor, jadi aku memilih untuk segera pulang.” Ujar Kris kemudian, membohongi Tiffany karena sebenarnya dia pulang di tengah-tengah pekerjaan yang menumpuk dan bahkan belum terselesaikan satupun.

Tiffany mengangguk singkat, lalu berbalik kembali pada sup yang tengah di buatnya itu. Gadis ini tak menyadari adanya peperangan batin yang tengah terjadi melalui tatapan tajam yang di berikan Chanyeol pada Kris.

“Eoh? Kris? Tidak biasanya aku melihatmu pulang secepat ini…” Ujar Luhan yang ntah sejak kapan telah bergabung bersama mereka di ruangan dapur itu.

Kris menoleh padanya sejenak sebelum akhirnya memilih berbalik pergi menuju kamarnya.

“Ada apa dengannya?” Tanya Luhan bingung, di liriknya Chanyeol yang justru menggedikan bahunya, tanda tidak peduli akan apa yang terjadi pada Kris.

“Kami pulang…” Seru Sehun yang masuk ke dalam rumah dengan Suho yang berjalan tepat di sampingnya. “Eoh! Noona, kau sedang memasak?!”

Tiffany menoleh padanya dan langsung tersenyum sumringah. “Ya, aku sedang memasak untuk makan malam nanti. Kemarilah dan bantu aku!”

“Tentu! Tunggu 2 menit saja, aku harus mengganti seragamku terlebih dahulu!” Ujar Sehun yang lalu bergegas secepat mungkin menuju kamarnya untuk mengganti pakaiannya.

Tatapan Tiffany beralih pada Suho, dan ntah ini hanya perasaannya saja atau tidak, tetapi ia merasa jika Suho tengah memperhatikannya sekarang.

“Ahk!” Tiffany memekik, cukup mengalihkan perhatian kelima pria yang telah berkumpul di ruangan itu.

“Noona, ada apa?!” Tanya Sehun cemas, ia bergegas menghampiri gadis itu.

Tiffany meringis kesakitan. “Tanganku sedikit tergores pisau.” Ujarnya sembari menekan jari telunjuknya yang mulai mengeluarkan darah.

“Biar aku yang menolongnya!” Seru Chanyeol, dengan segera ia beranjak dari tempatnya dan meraih tangan Tiffany.

“Tidak, biar aku saja yang melakukannya!” Tahan Kris seraya menarik tangan Tiffany dari pegangan Chanyeol.

“Hyeong, aku bisa melakukannya!” Chanyeol mendelik tajam pada Kris.

“Dan aku bisa melakukannya lebih baik darimu!” Balas Kris sambil menatapnya dengan tajam pula, tak ingin kalah sedikitpun dari adiknya itu.

Dan terjadilah saling tarik-menarik tangan Tiffany. Mereka mengabaikan Tiffany yang meringis kesakitan, tak menyadari jika hal yang di perbuat mereka semakin membuat luka gadis itu semakin bertambah parah.

Melihat hal itu, Luhan berniat beranjak dari duduknya dan melerai keduanya. Tetapi baru saja ia membuka mulutnya, tiba-tiba saja suara Suho segera menahan ucapannya.

“Sudah cukup! Kalian ini bertingkah laku seperti anak kecil saja!” Ujar Suho dengan tegas. Ia melangkahkan kakinya mendekati ketiga orang itu, lalu menarik perlahan tangan Tiffany yang masih mengeluarkan darah meski hanya sedikit karena luka goresnya tak terlalu dalam.

“Duduklah di sini!” Ujar Suho seraya menarik salah satu kursi ke hadapan Tiffany dan gadis itu pun hanya diam sambil menuruti perkataannya saja.

Sesaat, Suho mendelik tajam pada Kris dan Chanyeol ketika melewatinya. Dan melihat sikap Suho yang seperti itu, cukup membuat nyali Kris dan Chanyeol menciut. Mereka berdua segera saja terdiam, tak jadi mengeluarkan protes yang siap mereka lontarkan pada awalnya.

Kemudian, Suho mengambil semangkuk air hangat dan mengeluarkan sapu tangan yang ada di saku celananya. Setelah itu ia kembali ke hadapan Tiffany dan duduk tepat di hadapan gadis itu, “Coba aku lihat jarimu.” Ujarnya kemudian.

Tiffany menunjukkan jari telunjuknya. Dan Suho pun mulai membersihkan darahnya dengan sapu tangan yang di milikinya setelah sebelumnya mencelupkannya ke dalam mangkuk berisi air hangat itu.

“Sehun-ah, bisakah kau ambilkan kotak P3K?” Seru Suho kemudian.

“Tentu, Hyeong.” Balas Sehun yang sedetik kemudian bergegas mengambil kotak P3K lalu memberikannya pada Suho.

Suho lantas membuka kotak P3K itu dan mengeluarkan perban serta obat betadine dari sana. Di oleskannya obat itu ke jari telunjuk Tiffany, dan gadis itu sedikit memekik kesakitan karena rasanya sedikit perih. Tetapi ketika Suho mulai meniupinya, ia merasa sakit itu sedikit mereda.

Kemudian, dengan cekatan Suho pun menempelkan perban kecil dan menerapkannya dengan hansaplast. Ia melemparkan senyumnya ketika telah menyelesaikannya dan jujur saja, Tiffany merasa jika senyuman Suho ntah kenapa terasa menenangkannya.

“Terima kasih…” Ujar Tiffany sembari membalas senyuman Suho.

“Itu tidak seberapa.” Jawabnya seraya beranjak dari duduknya dan merapihkan kembali isi dari kotak P3K itu.

Semua orang yang ada di ruangan itu, tiba-tiba saja merasa kehilangan kata-kata. Terlalu kaget dengan ketegasan dari sikap Suho tadi. Apalagi Chanyeol dan Kris, setelah menyadari luka Tiffany yang semakin parah karena sikap mereka berdua tadi, mereka jadi merasa bersalah.

“Kalau begitu aku akan menyelesaikan tugasku.” Ujar Tiffany seraya ikut beranjak dari tempat duduknya.

“Dengan luka di tanganmu itu? Kurasa kau tidak bisa melakukannya, Tiff…” Luhan bersuara setelah cukup lama terdiam.

Tiffany menoleh padanya, “Tapi ini hanyalah luka kecil.”

“Luka tetaplah luka. Kau tidak bisa menyepelekannya.” Balas Luhan cepat, membuat Tiffany mengerucutkan bibirnya.

“Sudahlah, lebih baik Noona duduk saja!” Sehun mendorong bahu Tiffany agar dia kembali duduk di tempatnya.

“Tapi makan malamnya?”

“Tentu saja kami yang akan menyiapkannya. Benarkan itu, Hyeong?” Ujar Sehun antusias.

Tiffany mengerutkan keningnya, di liriknya kelima pria yang tengah berada di dekatnya itu. Dan mereka langsung mengangguk sambil memperlihatkan senyuman khas mereka yang tentu saja semakin membuat ketampanan mereka bertambah.

“Tentu saja. Lagipula… tak ada salahnya jika kita sekali-kali memasak.” Sahut Chanyeol, dan setelah itu pun, kelima pria itu telah berkumpul di dapur dan menyelesaikan tugas Tiffany.

Dan tanpa dapat menolak lagi, akhirnya Tiffany memilih untuk mengalah dan memperhatikan kelima pria yang tengah asyik memasak itu. Perasaan senang dan terlindungi pun langsung bersemayam dalam hati Tiffany.

Rasanya, ia mulai menyayangi kelima pria ini. Mereka seperti telah menjadi keluarga baru di dalam hidup Tiffany. Dan Tiffany bersyukur, karena ternyata kelima pria ini tak seburuk yang di bayangkannya saat pertama kali ia datang ke rumah ini.

Seulas senyuman hangat pun terkembang di wajah gadis ini. Memperlihatkan sisi keanggunan yang menawan darinya. Tiffany tak menyadari, jika di antara kelima pria itu pun, dua di antaranya tengah memperhatikannya dengan seulas senyuman bahagia.

©Homeless©

Setelah makan malam selesai, Chanyeol memilih bermain games bersama Sehun. Kris kembali ke kamarnya, berniat menyelesaikan pekerjaannya yang sempat tertunda. Tiffany pun telah kembali ke kamarnya untuk membersihkan diri.

Sementara itu, Suho dan Luhan baru saja meletakkan piring kotor yang mereka gunakan tadi. Para pelayan sudah nampak di ruangan itu dan mulai membantu mereka merapihkan meja makan yang masih sedikit berantakan itu.

“Sepertinya aku akan masuk kembali ke kamarku. Selamat malam, Suho-ya…” Ujar Luhan saat ia berbalik, berniat meninggalkan ruangan itu.

“Ehm. Selamat malam.” Sahut Suho sambil mengangguk singkat.

Sejenak, ia terdiam, tetapi detik selanjutnya ia memanggil pria itu. “Luhan-ya.” Panggilnya.

“Ya?” Luhan berbalik menoleh padanya.

Dan seakan kata-katanya lenyap begitu saja, Suho tak mampu berkata-kata. Dia kemudian tersenyum dan menggeleng singkat, “Tidak. Lupakan saja.” Ujarnya dan hal itu jelas saja membuat Luhan bingung.

“Ehm, baiklah.” Luhan mengangguk paham, tak ingin terlalu mempertanyakan lebih lanjut lagi.

Namun, di saat Luhan berbalik, ia tak menyadari jika Suho tengah memperhatikannya. Pria itu menatapnya dengan tatapan penuh selidik.

“Benarkah.. dia pernah mengenal Tiffany sebelumnya? Apakah.. dia Xiao Lu? Pria yang pernah di bicarakan Tiffany saat dulu?” Pikirnya.

©Homeless©

Pagi ini, seperti biasanya mereka akan kumpul untuk sarapan pagi bersama. Suasana di sana terdengar ramai dengan berbagai celotehan Sehun yang menceritakan salah satu temannya di sekolah sementara yang lain terlihat asyik mendengarkan kisah sang anak bungsu dalam keluarga ini.

“Luhan belum turun sejak tadi… aku sebaiknya kekamarnya saja.” Usul Tiffany seraya beranjak dari duduknya, namun mendengar perkataan itu, Suho lantas ikut beranjak dari duduknya.

“Biar aku saja..”

Tiffany tersenyum tipis padanya dan menggeleng, “Tidak apa-apa, kau lanjutkan saja sarapan pagimu, Suho-ya..” Ujarnya yang kemudian berlalu menaiki anak tangga menuju kamar Luhan.

Gadis itu tak menyadari, jika ada terpancar sorot kekecewaan sekaligus kekesalan yang terlihat dalam jelas dalam tatapan Suho tadi. Pria itu jelas tidak menyukai hal ini. Sejak kedatangan Tiffany ke rumah ini, ia tahu jika gadis itu adalah gadis kecil yang merupakan cinta pertamanya dulu, tapi lihatlah yang terjadi pada gadis itu sekarang!

Gadis itu di paksa tinggal di rumah ini agar ia dapat memilih calon suaminya kelak di antara kelima pria di rumah ini. Dan yang mencemaskan Suho adalah, karena ia takut jika Tiffany akan jatuh cinta pada pria lain, bukan pada dirinya! Terlebih, Tiffany bahkan tak dapat mengingat dirinya sebagai Kim Joonmyeon.

Lebih mengejutkannya lagi, Suho baru saja tahu jika tidak hanya dirinya saja yang memiliki masa lalu yang indah bersama Tiffany kecil. Ternyata di balik itu semua, Luhan bahkan telah lebih mengenal Tiffany lebih dulu, ia baru tahu itu. Lalu, apa yang harus dia lakukan sekarang?

Bagaimana jika ternyata Tiffany justru akan memilih Luhan nanti? Lalu bagaimana dengan dirinya yang selama ini terus memikirkan Tiffany? Akankah dia dapat merelakan hal itu nanti?

©Homeless©

Tiffany mengerutkan keningnya bingung, sejak beberapa menit yang lalu ia sudah mengetuk pintu kamar Luhan dan pria itu tak juga menyahutnya dari dalam. Dengan penasaran, akhirnya Tiffany pun memberanikan dirinya untuk membuka pintu kamar pria itu sembari memanggil namanya. “Luhan-ya… kau di dalam?”

Arah pandang Tiffany tertuju pada sosok Luhan yang tengah bergelung di bawah selimutnya dengan hanya menyisakan wajahnya saja yang terlihat. Tiffany berdecak pelan dan perlahan berjalan maju mendekati Luhan sambil menggelengkan kepalanya.

“Ya! Xi Luhan, mau sampai kau tidur, huh? Cepat bangun!” Teriak Tiffany sembari menarik selimut pria itu dari atas tubuhnya.

Namun, Tiffany terlihat begitu terkejut saat melihat kondisi pria itu. Ia mengerang kesakitan dengan tubuhnya yang menggigil hebat, keringat dingin mengucur dari tubuhnya dan ketika Tiffany meraba keningnya, suhu tubuhnya terasa panas sekali.

“Oh tuhan! Dia demam tinggi!” Pekik Tiffany.

Tiffany lantas bergegas menuruni anak tangga dan berjalan kembali menuju dapur, memanggil beberapa pelayan untuk meminta bantuan pada mereka. Kecemasan Tiffany itu terlihat jelas oleh keempat pria yang baru saja menyelesaikan sarapannya itu.

Chanyeol berinisiatif menghampiri gadis itu dan bertanya hal apa yang terjadi padanya. “Ada apa, Tiff? Kau terlihat begitu cemas sekali…” Tanyanya kemudian, mengalihkan perhatian gadis itu untuk beberapa saat.

“Luhan mengalami demam tinggi, tubuhnya menggigil dan ia bahkan terus mengigau.” Jelas Tiffany kemudian.

“Luhan Hyeong sakit?” Sehun beranjak dari tempat duduknya, terlihat sekali jika dia begitu mencemaskan kakaknya yang satu itu. Wajar saja, Sehun terbilang yang paling dekat dengan Luhan semenjak mereka tinggal bersama di rumah ini.

“Ya, tapi kau tak perlu khawatir… aku akan menjaganya, lebih baik sekarang kau segera pergi ke sekolahmu, Sehun-ah. Kau tidak ingin terlambat kan? Dan kau juga Chanyeol.” Ujar Tiffany sembari melirik Sehun dan Chanyeol secara bergantian.

Sehun dan Chanyeol mengangguk paham, terkadang, Tiffany berfikir jika kedua pria ini adalah adiknya sendiri. Ya, walaupun secara fisik mereka tumbuh menjadi dewasa tapi kelakuan mereka terkadang memang seperti anak kecil.

“Kalau begitu kami pergi dulu, Tiff…” Pamit Chanyeol yang di ikuti dengan ucapan Sehun dan akhirnya kedua pria itu pun bergegas menuju garasi rumah dan mengeluarkan motor yang biasa mereka pakai.

Tiffany kemudian menoleh ke arah Kris dan Suho yang telah beranjak dari duduknya juga. Ia mengerutkan keningnya, “Apa yang masih kalian lakukan di sini?”

“Well… mungkin aku bisa sedikit membantumu jika kau memerlukannya. Aku bisa saja izin tidak masuk kerja, lagipula itu perusahaanku sendiri.” Ujar Kris kemudian, berharap jika Tiffany tak menolak tawarannya ini.

Ya, sebenarnya Kris pun sedikit tak rela jika harus meninggalkan pekerjaannya di kantor begitu saja. Tetapi, jujur saja, jika ia di haruskan untuk memilih antara membiarkan dirinya bolos sehari atau membiarkan Tiffany berduaan dengan Luhan di rumah,-meski Luhan sedang sakit.

Jelas jawabannya adalah Kris akan-sangat-rela membiarkan kerjaannya sehari terbengkalai daripada pikirannya harus di penuhi dengan bayangan ketakutan tentang keadaan Tiffany dan Luhan di rumah selama berduaan, itu jelas sekali mengganggu!

Tetapi, ternyata yang di harapkan Kris tak dapat berjalan mulus. Tiffany menggelengkan kepalanya dengan cepat, tanda menolak usulan Kris.

“Kurasa, akan lebih baik jika kau tetap pergi ke kantor, Kris. Lagipula, Luhan hanya demam dan aku akan menjaganya. Jika, memang ada sesuatu yang lebih buruk yang terjadi padanya, aku berjanji akan menghubungi kalian semua dengan segera, percayalah.”

‘Sejujurnya, aku lebih mengkhawatirkan keadaanmu daripadanya, Tiffany! Tidakkah kau sadar akan hal itu? Argh…’ Kris mengumpat dalam hatinya, kesal dengan keputusan Tiffany.

“Tapi Tiff…” Ia berusaha untuk membujuk gadis itu.

“Tidak ada tapi-tapi-an! Sekarang pergilah, aku akan mengecek kondisi Luhan sekarang!” Ujar Tiffany seraya berbalik menaiki tangga dan berjalan kembali menuju kamar Luhan dengan beberapa pelayan yang mengikutinya sambil membawa beberapa hal yang di suruh Tiffany tadi.

Kris menggerutu kesal, tetapi pada akhirnya tetap pergi juga. Sementara itu, Suho hanya tetap terdiam di tempatnya. Sejak tadi, kehadirannya memang seperti tak terasa oleh kedua orang yang baru saja berdebat itu.

Kepala Suho mendongak ke atas, tatapannya begitu penuh arti yang sulit di artikan dan tanpa melakukan apapun, Suho hanya tetap diam dengan tatapan matanya yang mengarah pada anak tangga yang tadi di lewati Tiffany.

“Tak bisakah kau melihatku, Tiff? Tak ingatkah kau pada kenangan kita dulu? Apakah begitu banyak perubahan yang terjadi sehingga kau tak mengenaliku lagi?” Suho bergumam miris.

©Homeless©

“Terima kasih.” Senyum Tiffany saat para pelayan itu meletakkan barang yang di mintanya.

“Apakah ada yang kau butuhkan lagi, nona?” Tanya salah satu pelayan dengan ramah.

Tiffany menggeleng singkat, “Tidak, kalian bisa bekerja kembali. Maaf sudah merepotkan.” Ia kembali tersenyum, memperlihatkan kedua matanya yang ikut melengkung membentuk sebuah senyuman lembut. Ya, inilah yang membuat Tiffany dapat di terima dengan mudah oleh para pelayan di sana tanpa ada yang mencibirnya sedikitpun.

Gadis ini memang pintar memikat hati seseorang dengan kebaikan dan kelembutan hatinya. Belum lagi, nada suaranya yang selalu terdengar ramah dan tak pernah membentak para pelayan di sana.

Para pelayan mengangguk dan berlalu pergi dari ruangan itu.

Tiffany berbalik pada Luhan yang kini terbaring lemah di atas ranjangnya. Dengan cekatan, ia memeras sapu tangan yang telah di celupkan pada air hangat yang ada di sisinya. Di usapnya leher serta wajahnya yang basah karena keringat dingin. Lalu, di kompresnya kening Luhan yang masih terasa sangat panas itu.

“Kasihan sekali.” Gumamnya lirih, tatapannya begitu sendu ketika menatap wajah pucat pria di hadapannya itu.

Untuk beberapa waktu selanjutnya, Tiffany tetap berada di sampingnya. Mengawasi Luhan yang masih tak sadarkan diri, Tiffany tak pernah bosan mengganti kompresan itu dan selalu mengecek suhu tubuh Luhan setiap satu jam sekali.

“Panasnya sudah sedikit turun.” Ujarnya sembari melihat termometer yang baru di pakai itu.

Tubuh Luhan tak lagi menggigil seperti tadi dan setiap tarikan nafas darinya sudah lebih baik daripada sebelumnya, bahkan, suhu tubuhnya pun tak sepanas tadi.

“Hm, kurasa.. aku harus segera mengganti pakaiannya. Tidak baik jika dia terus memakai baju basah seperti ini.” Ujar Tiffany, mengingat jika keringat dingin yang mengucur di sekujur tubuh Luhan membuat pakaian pria itu basah.

Tiffany hendak beranjak dari tempatnya dan memanggil seorang pelayan pria yang bekerja di rumah ini juga, ia jelas tidak mungkin dapat mengganti pakaian pria ini sendirian kan?

Greb!

Sebuah cengkraman yang tak terlalu kuat itu terasa di pergelangan tangannya, dan ketika Tiffany menoleh ke arah pergelangan tangannya yang di cengkram itu, ia sadar jika ternyata yang memegang tangannya itu adalah Luhan.

“Jangan pergi… aku m-mohon…” Suaranya terdengar begitu parau dan berat. Kedua matanya masih terpejam rapat, sepertinya pria ini tengah mengigau.

Tiffany tersenyum dan perlahan melepaskan cengkraman tangan Luhan lalu berganti memegang tangan pria itu. “Tidurlah… kau sedang demam, Luhan-ya.” Ujarnya lembut.

Ia ingin kembali beranjak dari tempatnya, tetapi kembali tertahan saat di rasakannya tangan Luhan justru menggenggam erat tangan Tiffany.

“Sudah… kukatakan… jangan pergi… kumohon… Tiffany.” Bisiknya, penuh dengan perjuangan.

Tiffany tersentak dan segera menoleh ke belakang, menatap sosok Luhan yang ternyata telah menatapnya dengan kedua mata yang menyipit dan bibirnya yang berwarna putih pucat.

“Jangan pergi.. tetap disini… tetap disini.” Luhan kembali berucap pelan. “Temani aku, Tiffany. Jangan pergi lagi dari sisiku… kumohon, Tiffany.”

Kedua mata Luhan semakin terbuka dan tatapan matanya pun langsung bertemu pandang dengan tatapan sendu milik Tiffany. Gadis itu masih tetap terdiam di tempatnya.

Lalu, Luhan kembali berkata, “Tidakkah kau mengingatku, Tiffany?” Ujarnya menggantung. “Xiao Lu… Apakah, kau tak merasa asing dengan nama ini?”

Deg!

Seketika itu juga, Tiffany seolah merasakan sebuah hantaran listrik yang mampu membekukan sekujur tubuhnya dan menghentikan detak jantungnya. Tiffany terdiam tak berdaya, seakan-akan ucapan Luhan adalah sebuah luka lama yang kembali terbuka. Sebuh nama yang sebenarnya takkan pernah Tiffany lupakan seumur hidupnya.

‘Bagaimana dia bisa mengetahui hal ini? Siapa dia sebenarnya? Siapakah kau sebenarnya, Xi Luhan?!’

Tiffany sebenarnya ingin melontarkan kata-kata itu pada Luhan tetapi ntah kenapa pertanyaan itu justru hanya terngiang-ngiang dalam benaknya dan bibirnya tetap terasa kelu, tak mampu mengatakan sepatah katapun.

Keduanya terdiam dalam keheningan yang ntah kenapa jadi terasa canggung. Tiffany terlihat begitu terkejut, sementara Luhan masih tetap terbaring lemah sambil tetap memegang tangan Tiffany erat.

Mereka berdua tak menyadari akan kehadiran Suho yang tengah berdiri di hadapan pintu yang tak tertutup rapat itu. Menatap sedih pada kedua orang yang tengah saling bertukar pandang dengan tatapan penuh arti yang begitu sulit di artikan itu.

“Haruskah… aku mengalah?” Suho bergumam dengan nada lirih.

Tangannya mencengkram kenop pintu di hadapannya dengan sangat kuat. Kesedihan jelas sekali terlihat di wajahnya yang tampan itu. Hatinya sekarang terasa hancur berkeping-keping, harapan yang sudah di bangunnya sejak lama kita lenyap hanya dalam satu detik saja dan semua itu hanya karena ia mendengar dan bahkan menyaksikan sendiri bagaimana Luhan dan Tiffany tengah berbicara tadi.

“Kenapa kau harus melupakanku, Tiffany? Apakah.. kenangan kita dulu bukanlah bagian terindah dari kenangan masa kecilmu dulu? Aku… aku bahkan telah merasa jatuh cinta padamu sejak awal… aku… sudah mencintaimu begitu lama, Tiffany…”

Dan tanpa terasa, kedua matanya telah memerah, bersiap menumpahkan beribu-ribu butiran air mata yang akan membasahi wajah tampannya ini.

“Kumohon… ingatlah aku lagi, Tiffany. Meski hanya satu menit saja… hanya satu menit saja kau mengingat Kim Joonmyeon yang menyedihkan ini.” Desisnya penuh kepedihan.

To Be Continued…

Advertisements

59 thoughts on “Homeless (Don’t you Remember?-Part.6-)

  1. yaahh kasian suho 😦 pukpuk/ iya suho ngalah aja biarin tiffany eonni buat luhan oppa. kaya nya disini sehun ga begitu ter opsesi sama tiffany ga seperti 4 hyung2 nya itu wks xD

  2. akhirnya luhan memberitahu tiffany, bgus luhan kau tak boleh menjadi namja pengecut…aku lbih mendukung tiffany dengan kris sehun atau luhan daripada harus berasama suho, entahlah aku tdk suka jika fany dngn suho.

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s