Oneshot : Wolf

Wolf YulKai

Wolf

by wolveswifeu

Starring

Kwon Yuri | Kim Jongin | Huang Zi Tao

Genre

Romance| Fluff

Rating

PG 17+

Length

Oneshot

Disclaimer

Original Cast : Yoona & Kai

Wolveswifeu’s New Fiction, Wolf

                Yuri sedang camping bersama teman-temannya di sebuah hutan yang lumayan lebat. Yuri pergi bersama Sunny, Tiffany, Luhan, dan Xiumin. Mereka memang selalu bersama dari dulu. Mereka adalah teman dekat.  Luhan dan Xiumin sedang membuat api unggun. Sedangkan Sunny, Tiffany, dan Yuri sedang bermain kartu di dalam tenda. Ini sudah hari kedua mereka berada di tempat ini.

“Sunny-ah, temani aku ke toilet yuk!” Ajak Yuri. Sunny langsung meletakkan kartu yang dia pegang lalu menatap Yuri sinis.

“Disini tidak ada toilet, Yul.” Kata Sunny. Yuri terkekeh pelan.

“Aku lupa. Maaf, maaf!” Kata Yuri. Tiffany yang melihat kedua temannya itu hanya bisa menggelengkan kepalanya.

“Ayo! Aku sudah tidak tahan!” Ucap Yuri sambil bangkit berdiri. Sunny mengikuti nya.

“Hati-hati, ne? Sekarang sudah malam.” Kata Tiffany sebelum mereka berdua keluar dari tenda.

***

                “Sunny, bisakah kau lebih cepat?” Tanya Yuri dengan terburu-buru kepada Sunny yang berada di belakang semak-semak yang tak jauh dari Yuri.

“Tunggu aku sebentar lagi!” Balas Sunny.

“Aku akan hitung satu sampai sepuluh. Jika kau masih belkum keluar aku akan meinggalkanmu!”

“Yul..”

“Satu.. Dua.. Tiga..”

“Jangan tinggalkan aku, aku takut ada serigala nanti. Bagaimana?”

“Serigala sudah punah di negara kita, idiot.” Sunny langsung merapikan pakaiannya dan keluar dari semak-semak tersebut dan segera ke tempat Yuri berada.

“Yuri-ah, aku sudah sele.. YURI!!” Respon Sunny ketika melihat Yuri yang sudah menghilang dari tempat yang dijanjikan oleh Yuri tadi.

“Yuri! Kau dimana? Yuri!!” Panggil Sunny. Lama kelamaan teriakkan itu berubah menjadi sebuah isakkan yang mengundang sang penghuni hutan tersebut bangun dan menghampiri Sunny.

Di balik pohon besar itu, sepasang mata berwarna merah memerhatikan Sunny dengan menyeringai. Matanya haus, tidka kalah haus dengan tenggorokkannya yang mulai mongering.

“Makanan pun sampai di tempat dengan sendirinya.” Ucap orang bermata merah itu menyeringai sambil terkekeh pelan yang mampu membuat telinga yang mendengar akan berdarah.

***

                Yeoja itu mengerjapkan matanya berkali-kali. Berusaha menolak kumpulan cahaya yang ingin menusuk kedua bola matanya. Tangan  kanan yeoja itu mengucak mata kanannya dengan kasar. Berusaha membuat mata itu kembali normal sehabis terbangun dari acara tidurnya.

“Kau sudah bangun, huh?” Suara berat khas namja itu mengagetkan yeoja tersebut. Refleks yeoja tersebut menengok ke belakang, ke arah suara itu berasal.

“Kau! Siapa kau?!” Teriak yeoja itu dengan kasar sambil menunjuk-nunjuk namja itu.

“Santai saja nona. Kai, namaku Kai.” Jawab sang namja itu dengan santai.

Weird.” Respon sang yeoja.

“Namamu?”

“Rahasia. Aku tidak ingin memperkenalkan namaku kepada sembarang orang.”

“Terlihat tidak adil ya? Kau mengetahui namaku tapi aku tidak mengetahui namamu.”

“Yuri, Im Yuri.” Jawab yeoja itu yang akhirnya mengakui namanya sebagai Im Yuri.

Jeongmal? Nama yang bagus!” Puji Kai sambil menepukkan tangannya dua kali.

“Dimana aku? Seharusnya aku tidak disini. Kau berusaha menculikku bukan? Kembalikan aku kepada teman-temanku seka.. Aw!” Ringis Yuri karena punggungnya yang agak nyeri. Yuri menyentuh punggungnya dan “Aw!” Keluh Yuri lagi. Dia menggigit bibir bawahnya lalu menatap Kai dengan sinis.

“Kau yang melakukan ini, eoh? Kau memukulku, hah?” Tanya Yuri dengan kasar.

“Bukankah kau tertimpa oleh ranting pohon yang besar? Masih untung aku menolongmu!” Jawab Kai.

“O.. Oh begitu. Kalau begitu, Kai-ssi, bisakah kau mengantarku ke tempat teman-temanku berada?” Tanya Yuri.

“Kau berani bayar aku berapa untuk mengatarmu ke tempat teman-temanmu? Aku sudah capek-capek mengatarmu kesini, menggedongmu! Kau tahu berapa jaraknya?”

“Berapa?”

“Mungkin 2 kilometer. Yap, kurang lebih.”

Jebal..”

“Berikan aku waktu memikirkan hal itu. Mengatarmu tanpa kendaraan di tengah hutan seperti ini. Siapa yang sudi?”

“Menyebalkan.” Oceh Yuri lalu melihat ke arah luar jendela.

***

                Yuri memegang perutnya yang sudah berbunyi berkali-kali sedari tadi. Bibirnya juga sudah agak memutih karena pucat. Yuri kelaparan. Kai sedari tadi belum memberinya secuil nasipun.

“Lapar..” Keluh Yuri. Dia menoleh kanan-kiri. Hanya ada beberapa bangku tua, lemari yang sudah agak lapuk, dan jendela dengan tirai putih yang sudah mulai menguning.

“Sejorokkah orang ini? Bahkan dia tidak membereskan rumahnya sendiri.”

“Siapa yang kau maksud?” Suara yang sedari tadi dia tunggu akhirnya terdengar juga. Yuri menengok ke arah pintu dan melihat Kai dengan kanton plastic putih susu di tangan kanannya. Terlihat seperti makanan dan itu menggiurkan Yuri.

“Kai, aku lapar.” Lapor Yuri sambil memberikan senyuman lebar beserta gigi putih yang berbaris rapi.

“Nah, aku ke kota untuk membelikanmu makanan ini. Kau tahu? Disini susah mencari makanan untuk orang mewah sepertimu.”

“Kota? Kau bisa ke kota tapi tidak bisa mengatarku ke tempat teman-temanku berada? Biadab! Aku kira kau ini namja yang baik, Kai! Seharusnya kau mengatarku dan itu akan lebih memudahkanmu, Kai!” Jelas Yuri. Kai memang terlihat geram tapi Kai meletakkan makanan yang tadi dia beli ke atas meja yang berada di dekat Yuri.

“Makanlah. Jika kau sakit, kau akan lebih merepotkanmu.” Ucap Kai sambl berlalu dari ruangan tersebut. Perut Yuri semakin meraung-raung meminta jatahnya. Dengan pelan dan malu  Yuri meraih makanan yang di beli Kai lalu memakannya dengan cepat.

***

                Malam pertama dan Yuri tidak bisa tidur. Bagaimana bisa Kai menyiapkan ruangan untuk tamu di rumahnya tanpa sebuah kasur? Tidak perlu kasur, alas yang empuk pun akan diterima oleh Yuri. Yuri menguap, dia benar-benar lelah dan ingin mengistirahatkan raganya.

Perhatian Yuri ditarik dengan sebuah percakapan yang berada di depan ruangan yang Yuri tempati. Suara yang stau dia kenlai, itu suara Kai. Tapi, suara yang lain adalah suara yang amat asing baginya. Bahkan aksennya sangat aneh. Yuri mendekatkan telinganya ke jendela yang tertutupi oleh kain putih yang hampir menguning tersebut.

“Dia mangsa kita, Kai!” Kata suara asing itu.

“Tidak. Dia yeoja yang baik.” Balas suara yang dikenali oleh Yuri, suara Kai.

“Tidak! Mau yeoja baik ataupun bukan kita harus memakannya! Kau tidak ingat yeoja berambut blonde pendek yang terisak kemarin? Darahnya dan dagingnya masih amat segar, Kai.”

“Tidak, aku tidak akan membiarkanmu menyentuk Yuri, Tao! Lebih baik kau pergi!”

Lutut Yuri melemas ketika mendengar namanya di sebut. Bukan hanya namanya, bahkan ciri-ciri yang dimaksud oleh mereka itu Yuri mengenalnya. Yuri yakin di hutan lebat ini tidak banyak orang asing, pasti itu Sunny.

“Lebih baik kau menjaganya 24 jam tanpa berhenti. Di saat kau lengah, aku akan menerkamnya, Kai.” Saran suara asing itu yang disebut oleh Kai dengan nama Tao itu.

Nyawaku benar-benar terancam. Orang apa mereka?

Yuri kembali duduk di tempatnya semula. Dia memastikan keadaan sekelilingnya dengan sangat seksama. Dia tidak mau nyawanya dijadikan sebuah ‘permainan’ oleh Kai dan Tao. Tiba-tiba pintu di ruangan itu terbuka dengan kasar. Munculah Kaidengan raut wajah khawatir lalu duduk di sebelah Yuri.

“Tidurlah, aku akan menjagamu.” Suruh Kai. Yuri tidak menjawab, malah dia tidak menyahuti Kai. Yuri menatap kosong dinding yang kumal di depannya.

“Sudah! Tidurlah!” Paksa Kai sambil menarik kepala Yuri ke bahunya.

Hening. Tidak ada suara yang menghiasi ruangan tersebut.

“Aku bukan bahan taruhankan?” Yuri memberanikan diri untuk memastikan keadaan dirinya sendiri.

“Mau kujawab jujur atau bohong?”

“Manusia mana yang mau dibohongi?”

“Jadi kau mau yang jujur? Baiklah, kau memang bahan taruhan kami, ah maaf, aku dan Tao. Kau tidak mengenalnya bukan?” Yoon atersentak. Dia mengangkat kepalanya dari bahu Kai lalu menatapnya dengan ketakutan.

“Tenanglah. Aku sudah berubah pikiran. Sepertinya aku harus melindungi orang yang aku sayangi.” Hati Yuri terketuk ketika mendengar perkataan Kai. Kai menatap manik mata Yuri dan memegang kedua tangannya.

“Yuri, aku menyayangimu. Aku tidak akan membiarkan Tao menyentuhmu. Walaupun dia adalah saudaraku sekalipun.” Ucap Kai. Yuri menatap Kai tidak bergeming. Yuri melepaskan pegangan Kai pada tangannya lalu merapikan kemeja kotak-kotak yang dia kenakan.

Mianhaeyo, aku baru mengenalmu. Aku saja tidak tahu kau ini apa yang mau memangsa manusia.”

Werewolf. Aku adalah werewolf. Aku bisa berubah semauku. Kau tahu werewolf bukan? Manusia setengah serigala. Jadi kau salah sudah menjelaskan kepada temanmu jika serigala di Korea sudah punah.”

“Kau mendengarnya?” Tanya Yuri terkejut.

“Tentu. Aku sudah memerhatikanmu ketika kau tiba di hutan ini. Memerhatikanmu dari atas pohon. Terkadang aku merasa kasihan kepadamu karena temanmu berpasangan semua sedangkan kau sendiri.” Ejek Kai dan Yuri hanya mendengus kesal.

“Lebih baik kau bersamaku, maka kau tidak akan sendirian lagi.” Tawar Kai yang semakin tidak di gubris oleh Yuri.

“Tolong hilangkan hormone percaya dirimu yang terlalu banyak itu.”

“Ya! Aku berusaha membuat suasana tidak canggung!” Balas Kai. Yuri mengeluarkan ponselnya. Bukan dengan niat menghubungi teman-temannya. Jika menghubungipun mustahil, disini tidak ada signal.

Yuri mengaca di layar ponselnya lalu tersenyum. Sedangkan Kai hanya menatap Yuri dengan serius. Kau sangat cantik Yuri, batin Kai.

“Ayo berfoto bersama!” Ajak Yuri sambil mengambil posisi wajahnya dengan kamera. Bahkan dia sudah memasang ekspresi yang cantik sampai lucu sehingga dia tertawa sendiri. Sedangkan Kai hanya memasang wajah datarnya.

“Ayolah tersenyum sebentar saja!” Kata Yuri. Kai menggeleng dan CUP! Yuri mencium pipi Kai yang berhasil membuat pipinya merona merah dan seulas enyum muncul di wajah Kai.

“Kau tahu? Jika kau tersenyum kau terlihat lebih tampan!” Puji Yuri. Lalu mereka mengambil beberapa foto. Bahkan mereka menukar canda tawa mereka. Sepertinya mereka melewati malam tersebut tanpa tidur.

***

                Sudah tiga hari Yuri tidak kembali. Sebenarnya dia khawatir teman-temannya mencari Yuri. Tapi mau bagaimana lagi? Pertama, dia tidak tahu jalan ke tempat teman-temannya berada. Kedua, dia tidak yakin teman-temannya masih berada di tempat itu. Ketiga, hatinya sudah terlanjur mendarat di hati Kai. Ya, Yuri mencintai Kai.

“Makanlah!” Kata Kai sambil memberikan makanan yang dia beli di kota untuk Yuri.

Gomawoyo.Tapi, kau membeli makanan ini dengan uang apa? Aku tidka pernah melihatmu bekerja.”

“Sebenarnya aku ini orang kota yang pindah ke hutan. Restoran ini milik keluargaku jadi mudah saja bagiku untuk mengambil makanan.”

“Lalu kau menggunakan apa untuk pulang-pergi secepat itu?”

“Kau tahu? Lariku sama cepatnya dengan angin.” Jawab Kai sambil memamerkan senyumannya.

“Satu pertanyaan lagi. Bolehkah?”

Sure.

“Kenapa kau ingin pindah ke hutan ini? Bukankah itu semakin menyulitkanmu untuk berkomunikasi?” Kai duduk di sebelah Yuri lalu meletakkan lengannya ke bahu Yuri.

“Kau tahu? Tinggal di hutan sangatlah damai. Disini aku tidak bisa menemukan keramaian. Sunyi, sejuk, dan kuakui aku sangat menyukai itu, Yuri­-ah.” Yuri mengangguk lalu memulai acara makannya. Sedangkan Kai menatap Yuri yang sedang sibuk dengan teman barunya itu.

“Yuri, kenapa kau tidak memintaku untuk mengembalikanmu ke kota?” Tanya Kai. Yuri langsung meletakkan peralatan makannya dan menatap Kai.

“Kau tidak menyukaiku disini?” Tanya Yuri balik. Kai menggeleng.

“Bukan itu maksudku. Kau tidak khawatir dengan keluargamu? Temanmu?”

Umma-ku sudah nmeninggal ketika aku berumur 7 tahun. Appa-ku sudah menikah dengan yeoja lain dan aku dititipkan di rumah halmoni-ku.”

“Lalu? Temanmu?”

“Untuk apa aku kembali jika disini ada orang yang bisa menggantikan posisi appa yang bisa melindungiku, posisi umma yang begitu menyayangiku, posisi sahabatku yang setia menemaniku, posisi teman-temanku yang menghiburku. Semuanya sudah ada di dirimu, Kai.”

Kai tersipu mendengar perkataan Yuri. Yuri meletakkan kepalanya di bahu Kai lalu tersenyum bahagia. Begitupun Kai, Kai meletakkan kepalanya di atas kepala Yuri.

Saranghaeyo.” Ucap Kai.

Nado saranghaeyo.”

THE END

Advertisements

43 thoughts on “Oneshot : Wolf

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s