[Freelance] Elegi (Chapter 3/END)

initpintu_副本

Title                 : Elegi

Author             : channims

Length             : Multichapter

Rating             : PG 15

Genre              : Romance, Angst

Main Cast        : EXO Kai, EXO Chanyeol, SNSD Jessica

 

 

Kim Kai. Namja itu sedang mondar-mandir di dalam kamarnya. Ponselnya tergenggam erat di tangan. Seakan mencari kepastian, haruskah ia menghubungi orang itu.

Akhirnya dengan satu gerakan cepat ia mengetik pesan singkat dan mengirimnya. Setelah itu ia melempar ponselnya ke atas ranjang dan ia pun turut menjatuhkan diri di sana.

***

Secangkir kopi panas mengepul di hadapan Kai. Namun Kai nampak tidak tertarik. Wajahnya terlihat tegang dan frustasi. Sesekali ia melirik jam tangannya. Ia memang sengaja datang lebih awal untuk mempersiapkan dirinya. Lebih tepatnya mempersiapkan batinnya.

“Hai, maaf membuatmu menunggu lama. Apa aku terlambat?”

Sebuah suara berat menyadarkan Kai.

“Ah, tidak. Aku memang datang lebih awal. Duduklah.” Kai mempersilakan.

“Jadi ada apa? Aku yakin ini pasti soal….”

“Jessica. Ya,” tegas Kai pada namja di depannya. Chanyeol.

Chanyeol agak terkejut karena Kai tidak mencoba berbasa-basi terlebih dahulu. Namun ia lega karena sebenarnya ia juga tidak suka berbelit-belit dalam urusan ini.

“Kenapa? Kau ingin aku menjauhinya?” tanya Chanyeol.

“Bukankah itu memang yang seharusnya kau lakukan?” sindir Kai tajam.

“Baiklah. Aku memang sudah berencana untuk itu. Anggap saja yang kemarin itu yang terakhir,” ucap Chanyeol santai. Namun di dalam hatinya ada sesuatu yang menahannya untuk mengatakan itu. Ada suatu perasaan tidak rela.

Ia tahu Kai adalah teman Jessica sejak lama. Tapi itu tak menjamin bahwa dialah yang paling mengetahui segalanya tentang Jessica. Karena itu hanyalah masalah waktu. Jika ia yang berada di posisi Kai, tentu ia yang paling mengerti semua isi hati Jessica.

“Apa kau yakin?” tanya Kai pelan.

“Yakin soal apa?”

“Menjauhi Jessica. Meninggalkannya dan hilang dari kehidupannya.”

Chanyeol terdiam lama. Pertanyaan macam apa itu. Dia kira semudah itu menghilangkan perasaan terhadap seseorang. Kecuali memang dari awal tidak ada perasaan sayang itu.

“Tentu saja tidak.”

Kai tercekat. Tak menyangka namja di depannya ini berani mengatakan itu. Namun ia juga tersenyum dalam hati. Berarti semakin kuat alasannya untuk melaksanakan rencananya.

Sebenarnya Chanyeol juga tak percaya ia melontarkan kalimat itu. Ia hampir saja menyatakan bahwa ia akan merelakan Jessica. Menyerahkan gadis itu sepenuhnya pada Kai. Namun ternyata kalimat itu yang tercetus dari pikirannya. Ia masih ingin mempertahankan Jessica.

“Begitukah? Jadi kau berniat merebut Jessica?” Kai menyesap kopinya pelan.

Merebut? Chanyeol menyipitkan matanya. Ia tak pernah memikirkan soal itu sebelumnya. Namun sekarang Kai malah mencetuskan pemikiran itu secara gamblang.

“Bagaimana kalau…..ya? Ya, aku akan merebut Jessica darimu.”

Chanyeol tersenyum sinis. Namja di depannya ini bodoh atau apa. Kenapa malah memberikan kesempatan pada rivalnya sendiri.

“Baiklah. Kita bertarung sekali lagi. Jika Jessica memihak padamu, aku mundur.” Kai mengatakan itu sembari berdiri dan meninggalkan Chanyeol yang kini sibuk bergelut dengan pikirannya.

Bodoh sekali. Memangnya Jessica masih mau menerimaku? Kali ini Chanyeol terlihat lesu. Ia mengetuk keningnya kesal.

Tapi apa salahnya mencoba?

***

Baru beberapa langkah Jessica pergi meninggalkan rumah, kini di depannya ada seseorang yang sebenarnya ingin ditemuinya. Namun melihatnya tepat di hadapannya membuat Jessica mengurungkan niat awalnya.

“Hai, Jess. Mau ke mana?” tanya Chanyeol kikuk.

“A…aku…” Jessica terbata. Tidak mungkin dia mengatakan ia ingin menemui namja ini.

“Aku mau menemui Kai.” Akhirnya kalimat itu yang keluar dari mulut Jessica. Ia merutuki kebodohannya.

“Kalian ada janji?” tanya Chanyeol lagi. Namja itu berpikir bahwa Kai sudah bergerak lebih cepat darinya. Tapi bukankah yang berada bersama Jessica sekarang ini adalah dirinya? Jadi sekarang waktu Jessica adalah haknya.

“Hmm tidak, tapi…” Jessica mencari-cari alasan.

“Bagaimana kalau pergi denganku?”

“Hah?!” pekik Jessica. Ia tidak terkejut dengan ajakan Chanyeol. Namun dengan kenyataan bahwa ia tak perlu berterus terang bahwa sejujurnya ia juga ingin menemui namja ini.

“Mau tidak?”

“A…” Jessica membuka mulutnya, kemudian mengatupkannya lagi. Sebagai gantinya ia menganggukkan kepalanya.

Chanyeol tersenyum. Kemudian ia mengulurkan tangannya pada Jessica agar gadis itu bisa menggenggamnya.

Dengan ragu Jessica menerima uluran tangan Chanyeol.

Greb.

Jessica serasa tak bisa bernafas. Ia lupa rasanya mereka saat bergandengan dan berjalan bersama seperti ini. Dan ia menyadari bahwa ia merindukan saat seperti ini.

***

“Kau mau es krim?” tawar Chanyeol sambil menunjuk kedai es krim di depan mereka.

Jessica tersenyum sambil mengangguk. Mereka berdua melangkah menuju kedai es krim dan memesan dua scoop es krim untuk mereka.

Jessica dan Chanyeol duduk di ayunan taman sambil menikmati es krim mereka dalam diam. Keduanya masih canggung untuk membuka percakapan.

“Aku…” tiba-tiba keduanya membuka suara bersamaan.

Chanyeol buru-buru mempersilakan Jessica untuk berbicara dengan isyarat tangan.

“Ah, tidak. Kau duluan,” tolak Jessica.

“Bukan sesuatu yang penting. Kau saja,” ucap Chanyeol.

“Aku lupa ingin mengatakan apa…” Jessica berujar dengan tampang polosnya.

Chanyeol sontak terkekeh geli. Refleks ia mengacak puncak kepala Jessica. Gadis itu mematung. Ia menatap Chanyeol setengah kaget. Menyadari itu Chanyeol buru-buru menarik tangannya kembali.

“Maaf,” lirih Chanyeol.

“Tak apa-apa.” Jessica menunduk memandangi ujung sepatunya.

Hening kembali.

“Jess,” panggil Chanyeol.

“Hm?” Jessica menoleh sambil mengangkat alisnya.

“Bagaimana hubunganmu dengan Kai?” hati-hati namja itu bertanya.

Jessica tak langsung menjawab. “Memangnya kenapa?”

“Hanya bertanya,” jawab Chanyeol berusaha terdengar santai.

Jessica menjilat es krim-nya yang mulai mencair. Sembari memikirkan jawaban apa yang harus dikatakannya.

“Hubunganku dengan Kai….. ya begitulah. Seperti kebanyakan pasangan lainnya.”

Chanyeol mendengus. Sepertinya jawaban itu tak dapat memuaskan rasa penasarannya.

“Apa kau menyayanginya?” tanyanya lagi.

Jessica menghentikan aktivitasnya memakan es krim. Pertanyaan itu. Bahkan ia sendiripun tak tau jawabannya.

“Hm, ya….tentu saja. Maksudku, kami kan berpacaran. Jadi, ya begitulah.” Ucapan Jessica terdengar mengambang.

Mendengar Jessica menyebut “kami” membuat Chanyeol sedikit mencelos. Sekarang istilah “kami” bukanlah tentang ia dan Jessica, namun Jessica dan namja lain.

Hening tercipta lagi beberapa saat sebelum akhirnya Chanyeol membuka suara.

“Bagaimana jika kita kembali seperti dulu?”

Pertanyaan Chanyeol yang tiba-tiba itu membuat Jessica melebarkan matanya. Perasaannya membuncah karena sebenarnya ia ingin mendengarkan kalimat itu. Namun di sisi lain ada sesuatu yang menahannya.

“Tapi aku sudah bersama Kai.”

Akhirnya kalimat itulah yang keluar dari mulut Jessica.

Dada Chanyeol terasa sesak. Ya. Lagi-lagi usahanya terhalang oleh namja yang bernama Kai itu.

“Jika kau tidak bersama Kai, kau masih mau menerimaku?” tanya Chanyeol penuh harap.

“A-aku tidak tau…” Jessica menunduk. Wajahnya berubah muram. Semuanya jadi terasa lebih rumit.

Chanyeol menghela napas karena sesak di dadanya yang makin meluap. Ia mengatur napasnya kemudian menoleh lagi. Namun dilihatnya Jessica tertunduk dalam. Es krim-nya sudah terjatuh di tanah. Namja itu segera beranjak berdiri dari ayunannya dan melangkah ke hadapan Jessica.

Perlahan ia berjongkok di depan gadis itu. Dilihatnya setetes kristal bening meluncur turun dari matanya.

“Jess?” panggil Chanyeol pelan. Jessica mengeluarkan isakan kecil.

Chanyeol mencengkeram kedua lengan Jessica.

“Jess. Kau kenapa?” tanyanya lagi.

Dan isakan Jessica berubah menjadi tangisan pelan.

“Aku…..aku merindukanmu…..” Jessica berucap lirih di sela isakannya. Sangat lirih. “Aku….benar-benar merindukanmu….”

Astaga… Chanyeol mendesis dalam hati. Dengan segera ia merengkuh kepala Jessica dan menenggelamkannya di dalam pelukannya. Membiarkan air mata Jessica mengering di sana.

“Aku juga, Jess. Bahkan lebih parah dari dirimu,” ucap Chanyeol sambil mengetatkan pelukannya. Seakan menjaga agar Jessica tetap di sana. Perlahan Jessica pun mengangkat tangannya dan membalas pelukan Chanyeol. Ia hanya menginginkan namja itu. Tak ada yang lain.

Sementara itu di kejauhan terlihat seseorang yang tersenyum melihat kejadian itu. Lebih tepatnya senyum pahit. Kemudian ia berbalik dan pergi.

***

Sekarang Jessica bingung dengan apa yang akan dilakukannya selanjutnya. Ia sudah meyakinkan hatinya. Ia tidak ingin hidup dalam penyesalan selama hidupnya. Akhirnya ia memutuskan untuk menghubungi seseorang.

“Mm halo, Kai?” sapa Jessica setelah terdengar suara di seberang sana.

“Ada apa Jess?”

“A-aku…aku ingin mengatakan sesuatu…” Jessica menggigit bibirnya cemas.

“Tentang apa?”

“Tentang aku dan…..Chanyeol. Hm….” gadis itu mencari-cari kalimat yang tepat untuk menyampaikan maksudnya. Ia tak mau menyakiti hati Kai. Namja itu terlalu baik terhadapnya.

Di seberang sana Kai menarik napas lalu mengulas senyum. “Putuskan aku.”

“Eh?!” Jessica terbelalak. Apa ia salah dengar? “Apa tadi kau bilang?”

“Putuskan aku. Apa kurang jelas?” ulang Kai tegas.

“Tapi…kenapa?”

Kai menghela napas berat. “Aku tau kau masih menyayangi Chanyeol. Dan aku tak mau menjadi bebanmu.”

“Bu-bukan begitu, Kai. Kau sama sekali tidak menjadi beban buatku,” jelas Jessica.

“Yang jelas sekarang kau lebih baik bersama Chanyeol. Putuskan aku, Jessica.”

Jessica terdiam. “Baiklah. Kita….putus.”

Kai menekan dadanya yang terasa sakit. Namun dipaksakannya sebuah senyum yang bahkan tidak dapat Jessica lihat.

“Terima kasih, Jessica,” ucapnya.

“Tidak, terima kasih. Kau teman yang baik, Kai,” ucap Jessica tulus. Ia tak bisa menahan senyum lebarnya.

Selamanya hanya sebagai teman, batin Kai.

“Nah, ini sudah malam. Sebaiknya kau tidur,” perintah Kai.

“Iya, kau juga. Selamat malam.” Jessica mengakhiri panggilannya. Kemudian ia melompat ke atas ranjangnya. Ia tak dapat menyembunyikan rasa bahagianya yang meluap-luap.

Sebelum tidur ia mengetik pesan untuk seseorang. Lalu ia memejamkan matanya dan memimpikan seseorang yang tiap hari memang singgah di sana.

To : Chanyeol

You know love couldn’t change so easily. So do I. Me and this feeling never change toward you. Just please stay beside me and never leave me.

I love you always and eternally. Remember that.

16 thoughts on “[Freelance] Elegi (Chapter 3/END)

  1. Takutnya di pikiran gue Kai bakal bunuh Chanyeol -_________-
    Ternyata di akhir si Kai enggak egois ^___^
    Pengen deh punya temen kaya dia, hohooohoo.
    Nice Fan Fiction!

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s