[CHAP. 2] He’s My Guardian

hes-my-guardian

He’s My Guardian [Part 2 :: Let Me Know You]

Writing by Priskila (@priskilaaaa)

Tiffany Hwang [GG] – Kim Joonmyun [EXO K] | Other casts will appear soon

Chapter 2 Of ??? | Teen | Romance – Comedy – Angst – Life Story

Disclaimer:

I don’t own the cast. But the storyline and the plot is mine. Everything here belongs to God and their family, their agency too. I just used their physical representation.

“Ah?! Seriusan nih, Tiff?! KYAAAA!!!”

 

Tiffany memendam perasaan jengkelnya dengan menampakkan senyum manisnya. Mengangguk penuh semangat dan berbicara dengan nada biasa saja, padahal sebenarnya dia sudah mau mencak – mencak karena esmosi (?). “Iya! Suho sendiri yang bilang padaku!” ujarnya pada Yuri yang tepat berada di hadapannya. Sedangkan Yuri sudah menari tidak jelas karena terlalu bahagia.

 

“Aih, dia kan cuma bilang Yuri baik aja, bukan berarti si Suho suka Yuri. Pede banget” bisik Taeyeon menggerutu sembari mengunyah kentang gorengnya cepat. Sepertinya gadis itu cemburu karena Tiffany baru saja mengatakan bahwa Suho menitip terima kasih untuk Yuri karena sudah membayar makanannya kemarin, dengan plusnya Suho mengatakan bahwa Yuri adalah yeoja yang baik. Dan hal itu sangat membuat Yuri bahagia ulala.

 

Tiffany meringis kecil melihat Taeyeon yang rada emosi karena cemburu. Terbukti dari gadis itu sudah mengaduk – aduk minumannya tak tentu. Sesekali dia memotong kentang goreng dengan sadisnya. Ternyata cinta dapat membuat orang buta seperti itu.

 

“Whuu~ Yang iri” Yuri menjulurkan lidahnya pada Taeyeon mengejek. Dan segera dibalas dengan lemparan bola tisu yang sebelumnya digunakan untuk membersihkan sambal.

 

Taeyeon menggerutu sebal. Sementara Tiffany hanya tertawa melihat aksi kedua sahabatnya yang agak menggila kalau sudah menyangkut urusan bodyguard gantengnya itu. Menurutnya, bagaimanapun cara sahabat – sahabatnya itu untuk menarik perhatian Suho, dia yakin bodyguardnya itu hanya akan ‘memandangnya’. Ya, maksudnya memandang dengan cara menghormati Tiffany sebagai majikannya. Begitu lho.

 

“Eh, tapi berarti kemarin kau jalan berdua dengannnya, ‘kan?” Yuri tiba – tiba bertanya dengan nada mengintrogasi.

 

Tiffany balas dengan anggukan senang, mengingat apa yang sudah terjadi kemarin. Maksudnya Suho yang membawanya pergi berbelanja di mall dalam waktu yang sangat lama. Tak peduli bagaimana repotnya Suho membawakan seluruh barangnya, Tiffany merasa dunianya bebas saat itu. Sudah lama dia tidak berbelanja semenyenangkan itu.

 

“Hm, jangan bilang kau juga menyukai bodyguardmu itu, Tiff?!” Taeyeon ikut menginterogasi. Matanya menyipit ketika menatap gadis berambut cokelat legam itu.

 

“Eh?” Tiffany mengernyit. “Enggak mungkin, ah. Aku gak suka si Suho. Tenang saja.”

 

“Seriusan, nih? Jadi kamu rela gitu kalau dia menjadi pacarku?” Tiffany mendengus lalu cepat – cepat menggeleng. Taeyeon dan Yuri nampak sensi sekali padanya.

 

“Rela! Pake banget, malah!”

 

Taeyeon mencibir. “Aku tak percaya padamu, Fan”

 

“Kenapa tidak?”

 

“Aku yakin kau juga menaruh perasaan pada Suho”

 

“Iya!” Yuri ikutan menyahut. “Suho ganteng begitu, masa enggak suka?”

 

Tiffany mendesis kesal. Teman – temannya ini aneh banget. Bagus dia bilang kalau dia tidak menyukai Suho, daripada dia bilang iya? Pasti teman – temannya itu bakal kejang – kejang di tempat. Lagipula Tiffany merasa rada aneh kalau dia memang memiliki perasaan lebih pada Suho. Come on, lelaki itu bodyguardnya. Ingat, hanya bodyguard. Pelindungnya. Nggak elit banget kalau dia pacaran dengan Suho… walau dia memang ganteng banget.

 

“Nona Tiffany…”

 

Pikirannya berhenti mendadak. Suara Suho memenuhi indera pendengarannya. Tiffany menggigit bibir, tak berani menoleh. Posisi mereka duduk saat ini sama persis seperti saat kemarin. Dirinya hanya mendongak, melihat ekspresi kedua temannya itu yang… oke, mereka sudah cengar – cengir enggak jelas. Memasang tampang secantik mungkin.

 

“Suho-yaa~ Apa kabar?” sapa Taeyeon dengan suara imutnya. Tiffany rasa perutnya mual seketika.

 

Suho hanya membalas dengan senyuman dan anggukan kecil. Seperti sudah terbiasa, dia segera duduk di sebelah Tiffany dan tersenyum pada gadis itu yang masih galau bersikap apa. Sebenarnya Tiffany bisa saja baik dan bersikap biasa pada Suho, hanya saja itu lho… teman – temannya itu masih rada sensi sama dia karena mereka kira dia suka sama Suho.

 

Melihat Suho yang tersenyum pada Tiffany dengan sorot mata memuja, kedua gadis manis nan cantik namun aneh itu kelabakan. Dengan perbincangan singkat (?) melalui tatapan tajam, Yuri dan Taeyeon segera beraksi.

 

“Suho-ya~” panggil Taeyeon dengan mata berkedip kedip genit.

 

Suho tersenyum sopan membalasnya, “Ne?”

 

“Duduk di sebelahku ya, please~” ujarnya manja. Tubuh mungilnya berdiri menarik – narik tangan Suho agar duduk di sebelahnya. Berdasarkan rencana mendadak mereka, mereka berdua sepakat agar Tiffany dan Suho tidak duduk berduaan. Enak banget si Tiffany soalnya, udah seharian bareng Suho, terus duduk berduaan juga. Nggak boleh! Suho hanya milik author! /dihajar/

 

Suho terkekeh pelan, geli melihat kelakuan tingkah Taeyeon yang kekanakkan. Sedangkan Tiffany sudah mendongak dan mendelik tidak suka pada Taeyeon yang menurutnya seperti anak autis.

 

“Suho-ya~ Ayo~” rajuk Taeyeon lagi.

 

“Tapi kan ada Yuri-ssi—“

 

“Enggak papa. Duduk aja sama Taeyeon. Aku duduk sama Tiffany, enggak papa kan?” sergah Yuri dengan kecepatan bicara persis kereta api. Cepat banget soalnya.

 

Mendengar Yuri yang setuju, Suho mengangguk setuju dan segera berdiri lalu duduk di samping Taeyeon yang kini memasang wajah cerah nan sumringah bahagia. Taeyeon bahagia karena Suho duduk di sampingnya, Yuri senang rencana mereka berhasil, Suho yang tersenyum– btw, hobi banget nih anak senyum – , semuanya bahagia. Kecuali Tiffany yang dongkol banget karena sikap teman – temannya yang memperlakukan Suho seperti pangeran berkuda putih yang datang menikahi mereka. Iyuh banget iyuh, batin Tiffany.

 

“Nona! Nona!”

 

Tiffany mendengus kesal. Entah sudah keberapa kali Suho memanggilnya seperti itu walaupun Tiffany sudah berusaha untuk menjauhinya akhir – akhir ini. Mengingat saat Yuri dan Taeyeon mengatakan kalau Tiffany terus – terusan dekat dengan Suho, bisa – bisa gadis itu suka pada bodyguard ganteng to the max-nya itu. Dan untuk membuktikan pada mereka bahwa dia sama sekali tak memiliki perasaan, akhirnya Tiffany memutuskan untuk mencueki Suho saja.

 

“Nona Tiffany! Nona, tunggu!” Suho berlari dengan ngos – ngosan menghampiri Tiffany yang masih saja berjalan cepat tanpa menanggapinya sama sekali. Kejam banget si Tiffany, sudah ngajak dia belanja – lagi – ke mall, gadis itu malah lebih sering meninggalkannya yang sibuk mengatur barang – barang belanjaan Tiffany yang seperti biasa bejibun. Entah mengapa sejak Suho menjadi bodyguardnya, Tiffany sering sekali memanfaatkannya sebagai budak pembawa barang belanjaan. Sungguh ironis.

 

“Aish, Nona!” Suho semakin merasa repot karena banyaknya tas belanja Tiffany yang dibawanya. Sebenarnya bisa saja dia menaruh barang – barang itu dulu, lalu mengejar Tiffany. Tapi mengingat harga barang – barang itu yang selangit, membuat Suho enggan untuk menaruhnya. Kasihan kan barang mahal ditaruh di lantai gitu.

 

“Nona! Nona Hwang Miyoung!” Mungkin dia bisa sedikit lega karena Tiffany menghentikan langkahnya saat itu juga. Yeah, for your info, nama asli Tiffay sebenarnya Hwang Miyoung. Tiffany adalah nama inggrisnya, tapi entah mengapa Tiffany mengaku pada semua orang bahwa namanya asli Tiffany Hwang tanpa Miyoung di dalamnya. Dan beruntung, karena kedua orang tua Tiffany mengatakan hal ini pada Suho. Dia tau betul kalau Tiffany kurang suka jika ada orang yang memanggilnya dengan sebutan Miyoung.

 

Namun sepertinya Tiffany benar – benar tidak suka dengan nama itu, karena gadis itu kini menghampirinya dengan wajah marah. “Darimana kau tau nama asliku?!” sentaknya kesal. Wajah putihnya memerah karena perasaan campur aduk. Kesal, marah, emosi, semuanya bersatu padu menjadi satu itulah perasaan Tiffany (?).

 

Suho menyengir kecil, “Dari Nyonya Hwang—“

 

Tiffany mendengus sambil memalingkan muka. Kedua tangannya terlipat di depan dada dan gadis itu kembali melemparnya dengan tatapan tajam, “Denger ya, aku peringatkan, jangan pernah memanggilku dengan sebutan Miyoung!” serunya.

 

Suho melongo bingung. “Kenapa tidak boleh, Nona… Miyoung?” godanya disertai tawa kecil. Ada perasaan dalam dirinya yang senang saat melihat wajah Tiffany yang marah seperti ini. Terlihat lucu dan menggemaskan.

 

“IIH! Aku bilang jangan sebut – sebut nama itu!” – “Aw, Nona!”

 

Suho merintih ketika tangan mungil gadis itu yang ternyata memiliki tenaga kuda mencubitnya keras. Sakit banget. Sedang sekarang Tiffany nampak memandanginya kesal dan gemas.

 

“Me—memangnya kenapa tidak boleh, Nona?” tanya Suho ulang dengan takut – takut. Tidak lagi deh dia mau merasakan cubitan dahsyat milik seorang Hwang Mi—eh maksudnya, Hwang Tiffany.

 

“Enggak boleh pokoknya!”

 

“Tapi kan pasti ada alasannya—“

 

“IH! Kepo banget sih! Pokoknya aku bilang tidak boleh, ya tidak boleh! Kepo!” bentak Tiffany dengan nada kasar, namun tetap Suho menganggapnya unyu. Tiffany imut banget sih. Segala dalam dirinya imut kecuali satu,… cubitannya.

 

Suho mengangguk patuh, tapi tetap saja berniat mengerjai “Baik, Nona Mi—Tiffany.”

 

“DASAR!!!”

BUGH!

 

“AW! NONA!”

 

Suho mengelus – elus lengannya sembari menyetir. Fokusnya benar – benar terbagi dan itu semua karena Tiffany. Yeoja itu menyeramkan banget. Selain cubitannya yang dahsyat, Tiffany juga memiliki bakat untuk jadi preman. Masa tasnya yang besar gitu dilemparkan dengan kasar pada lengan Suho? Ya ampun, sakit banget itu.

 

Sedangkan di sampingnya Tiffany tetap saja membuang muka. Seakan tak peduli dengan lengan Suho yang sepertinya sedikit bengkak karena tas betonnya (?). Dirinya masih jengkel karena ternyata selain dia, keluarganya, Yuri, dan Taeyeon, Suho juga tau nama aslinya. Tidak ada alasan spesifik yang dapat menjelaskan kenapa gadis ini begitu benci pada nama aslinya. Padahal namanya bagus banget.

 

“Nona—“

 

“Apa!?” Suho bergidik ngeri mendengar balas Tiffany. Cuma manggil Nona aja masa dibalas ngeri gitu. Pelototan tajam dengan tangan mengepal siap berperang.

 

“Saya mau bertanya—“

 

“Tanya apa!?”

 

Suho menelan salivanya takut, ya ampun, Tiffany manis – manis gitu bisa mengerikan juga ya. “Itu… hm, Nona… Aku…”

 

“Apaan sih!!? Tanya yang bener!”

 

“Nona jangan marah – marah gitu dong,” cicit Suho. Yeah, walaupun sebelumnya dia mengaku kalau Tiffany unyu banget kalau marah, tapi sepertinya pendapatnya itu berubah seiring apa yang sudah diperlakukan (?) Tiffany padanya.

 

“Kamu kan yang mulai!” sentak Tiffany gemas. Lelaki di sampingnya ini bodoh atau apa? Jelas – jelas dialah yang tadi mulai dengan memanggilnya Miyoung. Menggodanya terus dengan nama itu lagi. Jelas dong kenapa dia marah.

 

“Iya, tapi jangan begitu terus, Nona. Nanti cantiknya hilang.” gumam Suho membalas dengan sedikit cengiran. Tiffany melongo, Suho masih menggodanya juga ya?

 

“Bodo amat! Nggak peduli!” Tiffany kembali membuang muka.

 

Bibir bawah Suho mencuat. Ternyata sulit juga meredakan amarah Tiffany.

 

“Nona,”

 

“Apa lagi?!” balas Tiffany tidak sekasar tadi, tapi tetap saja dengan nama malas. Moodnya sepertinya rusak berat. Namun semoga dapat diperbaiki (?) oleh Suho. “Aku merasa akhir – akhir ini Nona sering menjauhiku, kenapa Nona? Ada yang salah denganku?”

 

Tiffany terpekur dan memejamkan matanya. Batinnya berteriak, ‘Iya, salah! Ketampananmu membuat kedua temanku gila! Kenapa kamu ganteng sih!?’ Tapi enggak mungkin kan dia bilang gitu. Bisa – bisa nanti Suho ngira dia suka lagi.

 

Otaknya berputar mencari alasan. Tidak mungkin dia bilang yang ekstrim seperti, “Habisnya kamu bau sih” atau “Aku risih jalan denganmu”. Sangat tidak masuk akal, kenapa? Pertama, Suho itu nggak pernah bau. Dia wangi banget tapi wanginya gak norak, lembut menenangkan. Kedua, mana ada cewek yang enggak suka jalan dengan cowok ganteng?

 

“Nona?” Suho bertanya lagi. Matanya memandang Tiffany sedangkan tangannya memutar setir dan memberhentikan laju mobil setelah memarkirnya di pinggir jalan.

 

“Eh?” Tiffany membuka matanya ketika menyadari bahwa Suho menghentikan mobil. Dirinya menoleh dan menatap bertanya lelaki itu, namun bukannya mendapat alasan, Suho malah balas menatap Tiffany dengan tatapan tenang tapi menusuk. Tiffany menggigit bibirnya, “Kenapa?” tanyanya pelan. Aneh juga, amarahnya seakan menguar begitu saja ketika Suho menatapnya seperti itu. Bahkan kini jantungnya bekerja lebih cepat. Ugh, ada apa ini?

 

“Kenapa Nona menjauhiku akhir – akhir ini?” tanya Suho mengulang.

 

“E—enggak kok, aku nggak jauhin kamu” elak Tiffany. Nggak mungkin kan dia bilang, ‘Yuri dan Taeyeon menyuruhku seperti itu. Mereka cemburu karena kau bodyguardku.’?

 

“Nona bohong,” Perlahan tapi pasti (?) Suho mencodongkan tubuhnya pada Tiffany. Mendekatkan wajah mereka berdua walaupun tidak ada sedikitpun niatnya untuk mencium atau memperlakukan gadis itu dengan buruk. Dia hanya ingin menguji (?) Nona cantiknya itu.

 

Dan betul saja, Tiffany nampak gelagapan ketika jarak mereka berdua semakin terhapus, “E—eh? Su—suho, Ng—ngapain si—sih..”

 

“Kenapa Nona menjauhiku? Apa styleku terlalu buruk untuk jalan denganmu? Nona malu?” bisik Suho sembari tetap menatap tajam Tiffany dengan jarak yang dekat banget. Saking dekatnya, Tiffany dapat merasakan hembusan nafas Suho yang teratur dan hangat. Dan hal itu cukup buat jantungnya konser tidak karuan karena gugup.

 

“Su—suho…”

 

“Nona, taukah Nona kalau aku hatiku sangat sakit karena Nona menjauhiku?” bisik Suho dengan suara sexy.

 

Dag dig dug serrr, Tiffany semakin gila.

 

5 cm, 4 cm, 3 cm… “Nona?”

 

“Ehm, oke oke!” Bagaikan lampu bohlam yang tiba – tiba menyala di atas kepalanya, Tiffany mendapat ide terbaik. Yeah, menurutnya. Gadis itu segera mendorong Suho pelan, walaupun Suho hanya menjauh beberapa cm saja sih.

 

“A—aku…”

 

“Aku?” Suho mengulang dengan wajah penuh tanya.

 

Tiffany berpikir mencari kata terbaik, “Err… Aku… Ya, aku….”

 

“Aku apa Nona?” Suho tampak jengah.

 

“Aku menjauhimu karena kau terus menggunakan jas hitam kemana – mana. Kau pikir kita mau ke pesta resmi setiap hari? Stylemu buruk sekali! Aku malu!” ucap Tiffany dengan kecepatan kereta api. Cepat banget ngomongnya. Hingga dia tampak ngos – ngosan ketika selesai mengucapkan perkataan kereta apinya itu.

 

Saking cepatnya, Suho sampai terdiam sesaat karena sibuk mencerna ucapan Tiffany itu. Pelan – pelan dia mulai mengerti. Sebuah senyuman penuh arti terpatri pada wajah gantengnya hingga dengan sendirinya dia menjauh dari Tifffany yang sudah tersudut (?) di pintu mobil dan kembali pada posisi semula.

 

“Arraseo Nona”

 

 

Tiffany menuruni tangga rumahnya dengan sedikit lemas. Hari ini dia mendapat mata kuliah pagi dan err… dia benci bangun pagi. Rasanya satu hal ini adalah kegiatan yang paling sulit dilakukannya. Hari ini saja dia dibangunkan dengan dibanting ke lantai oleh ibunya sendiri. Menyedihkan.

 

“Sayang, sudahlah. Jangan tampak lesu begitu” Suara Nyonya Hwang terdengar lembut ketika kakinya memijak anak tangga terakhir. Tiffany hanya tersenyum kecil sembari mendudukan dirinya pada meja makan. Terpaksa, hari ini dia harus sarapan kalau dia tak ingin mendapat lemparan penghapus oleh dosennya nanti.

 

“Akhirnya kau sarapan pagi juga, hm..” Tiffany mencibir. Appanya ini nyindir banget. “Ini karena aku kuliah pagi, Appa” balas Tiffany dengan penuh penekanan.

 

Orang tuanya tertawa.

 

Sesaat kemudian, keluarga kecil nan harmonis itu hanya menyantap sarapan pagi mereka dalam diam. Tiffany nampak ogah – ogahan memakan sandwich daging yang biasanya sangat dia sukai itu. Err, dia sungguh benci sarapan pagi.

 

“Tiffany..”

 

Gadis itu mendongak mendengar ibunya memanggil. “Wae?”

 

“Apa yang sudah kau katakan pada Joonmyeon, hm?” Nyonya Hwang tampak bertanya padan anaknya itu dengan nada mengintrogasi. Tiffany mengernyit. “Joon…myeon? Nugu?”

 

Nyonya Hwang memutar kedua bola matanya malas, “Kau lupa? Suho. Bodyguardmu yang ganteng minta ampun itu” jawab Nyonya Hwang sambil nyengir genit.

 

Tak taukah Nyonya Hwang kalau Tuan Hwang mendelik tak suka pada dirinya? Ya ampun, istrinya itu berani sekali memuji lelaki lain di depannya. “Yeobo!”

 

“Hehe, maaf. Joonmyeonnie ganteng sekali sih”

 

Tiffany terkikik melihat sikap Eomma dan Appanya itu. Kadang mereka bersikap seperti remaja yang sedang berpacaran. Cemburu. Tapi enak juga ya kalau punya pacar, ada yang bisa dicemburuin dan mencemburui (?).

 

Aish, tapi apa yang dipikirkan Tiffany sekarang? Argh! Tidak tidak tidak! Cukup dia menjadikan para pacarnya sebagai babu pembawa barang belanjaan. Tidak lebih. Karena… Tiffany tidak yakin dia dapat menemukan orang yang dia cintai dan balas mencintainya. Itu hanya dongeng belaka mengenai cinta sejati.

 

“Joonmyeonie,… dia tampan sekali sayang. Kau bilang apa padanya sampai dia merubah gayanya seperti anak muda?” tanya Nyonya Hwang lagi sambil melirik – lirik ke ruang tamu. Tiffany melongo, bergaya seperti anak muda? Maksudnya…?

 

“Dia tidak memakai… jas?” tanya Tiffany tak yakin.

 

Nyonya Hwang mengangguk, “Pas Eomma tanya kenapa dia ubah penampilannya, dia bilang karena kau yang minta. Aduh, dia semakin tampan dan manis sayang!”

 

Tiffany meneguk ludahnya dalam diam. Ya ampun, Suho benar – benar melakukan perkataannya kemarin?!

 

Sweater rajut abu – abu, celana jeans, snekaers abu – abu, dan beanie hat warna hitam, serta…. ransel. Lima barang itu mampu membuat Tiffany membuka mulutnya tanpa sadar. Penampilan Suho begitu diluar dugaannya. Dia pikir Suho hanya akan menggunakan baju kaos dan celana jeans seperti lelaki keren kebanyakan. Tapi…. kenapa dia berpenampilan seperti kutu buku? Tiffany tidak habis pikir dengan alasan mengapa Eommanya mengatakan Suho terlihat semakin tampan. Memang sih wajah tampannya tidak luntur, hanya saja Tiffany merasa geli saat melihatnya. Suho yang biasanya terlihat cool dan tampan, malah terlihat seperti anak kutu buku yang hobi berada di perpustakaan kota sampai larut malam.

 

Iyuh banget.

 

“Annyeong, Nona, bagaimana penampilanku?” sapa Suho begitu sosok majikan cantiknya (?) itu sudah berada di hadapannya. Lelaki itu tersenyum ceria mengira Tiffany menyukai gayanya sampai melongo seperti itu. Saran Chanyeol – sepupunya memang tepat sekali. Mungkinkah jika karena penampilannya ini Tiffany akan jatuh cinta padanya? Eeaaaa~ /apaini-_-/

 

“Su—suho…” Tiffany tergagap.

 

“Ya, Nona?” balas Suho dengan cengiran polos. Dia kira Tiffany akan memujinya, saudara – saudara. (?)

 

“Kenapa… gayamu seperti ini? Err, maksudku… kau mau kuliah?”

 

Mata Suho yang semula bersinar ceria itu membelalak. Kuliah? Maksudnya… “Ani. Nona kan bilang padaku untuk merubah—“

 

“Kau bisa gunakan baju kaos dan celana jeans saja. Tak perlu membawa ransel dan sweater… ya ampun” Tiffany menepuk jidatnya pelan lalu kemudian melangkah keluar dari rumahnya. “Sudahlah, ayo antar aku ke kampus”

 

“Eh? I—iya Nona…”

 

‘Sialan kau Chanyeol!’

 

“Bawa aku ke mall”

 

Suho menoleh cepat dan menatap tak percaya Tiffany. Sedang Tiffany hanya balas menatapnya dengan satu alis terangkat. “Kenapa? Ayo jalan” perintah Tiffany sambil mengendikkan kepalanya ke depan.

 

Suho mengangguk penuh turut. Namun hatinya masih rada terlalu kagum saja. Baru saja dia ingat Tiffany ke mall dengan belanjaan bejibun banyaknya, sekarang lagi? Dirinya hanya dapat menghela nafas pasrah. Dia akan jadi budak pembawa tas belanjaan lagi.

 

Jaljayo, Joonmyun!

 

Beruntung sekali karena hari ini jalanan di Seoul tampak lenggang tanpa banyak kendaraan melaju. Membuat waktu sejoli (?) itu untuk segera sampai ke mall terlampau cepat. Dalam waktu 15 menit saja, Tiffany sudah kembali memasuki mall yang menjadi sasaran favoritnya berbelanja itu – diikuti Suho dibelakangnya. Penampilan bodyguardnya tampak sedikit berbeda, beanie hitam dan sweater juga ransel yang semula dikenakannya telah dilepas paksa oleh Tiffany. Gadis itu mengancam Suho tak boleh ikut dengannya jika masih kukuh mempertahankan ransel dan lain – lainnya itu. Katanya, “Aku tak suka dengan gaya anak kutu buku! Lepaskan atau berhenti jadi bodyguardku!”

 

Tetapi ada benarnya juga kata gadis itu, karena berkat pemaksaan (?) itu, Suho terlihat keren dan mempesona dengan kaos hitam polos juga celana jeans. Simple namun menarik. Wohoo~ /abaikan/

 

Suho melongo heran ketika langkah Tiffany membawanya ke butik. Bukan butik baju wanita seperti yang sering dikunjungi Tiffany, gadis itu malah mengajaknya masuk ke sebuah butik dengan nama ‘Men Fashion’. Dari namanya saja sudah jelas kalau itu butik pria.

 

“Nona—“

 

“Jangan bawel. Aku hanya mau membelikanmu baju yang keren. Supaya enggak malu kalau jalan denganku” potong Tiffany cepat, seakan sudah tau apa yang akan ditanyakan oleh bodyguardnya itu.

 

“Baju? Untukku?” Suho masih belum mengerti juga ternyata.

 

Tiffany berbalik – meninggalkan baju – baju yang sedang dipilihnya itu dan menatap Suho dengan tajam, “Gayamu cupu banget. Aku gak suka”

 

“Tapi Yuri-ssi dan Taeyeon-ssi suka kok…” sahut Suho dengan polosnya.

 

“Itukan mereka! Bukan aku!” balas Tiffany sewot. “Lagipula aku bukan tipe cewek yang suka dengan lelaki ber-jas. Keren sih memang, hanya ya… lebih keren kalau gayanya seperti Choi Siwon” Tiffany mulai mengandai – andaikan artis idolanya itu yang – menurutnya – tampan luar biasa dunia akhirat dunia nyata (?). Dari dulu dia memang sangat mengidolakan lelaki bertubuh sixpack itu, dan dia ingiiiin sekali memiliki kekasih seperti Siwon. Kalau Siwon mau jadi kekasihnya juga gak papa, boleh banget malah /abaikan/

 

“Nona? Halo… Nona?” Tiffany mengerjap kaget ketika melihat sebuah telapak tangan yang melayang – layang (?) di depan wajahnya. Sesaat dia sadar itu adalah tangan Suho, bodyguard gantengnya. Ohlala, ternyata saking memikirkan seorang Choi Siwon, Tiffany melamun sendiri. Ckck.

 

Gadis itu menggelengkan kepalanya sendiri, berusaha menyadarkan dirinya secara penuh. Lalu memandangi Suho dengan tatapan ‘kenapa? Sibuk banget.’. Dan kembali menyibukkan diri memilih pakaian yang akan dibelikannya untuk Suho itu.

 

“Nona memikirkan apa sih? Kok kayaknya sampai tidak sadar kalau saya ada di depan Nona?” Suho bertanya dengan keponya. Bahkan dirinya larut dalam acara pilih memilih baju bersama Tiffany, lagipula baju yang sedang dipilih Tiffany juga akan menjadi miliknya kan? Jadi enggak papa dong kalau dia ikut pilih juga.

 

Tiffany tidak menjawab. Sok menyibukkan diri sendiri.

 

“Nona,…” Suho memanggil lagi.

 

“Nona!”

 

“Coba ini!” Bukannya menjawab, Tiffany malah memberikan Suho dengan paksa 4 pasang setelan baju dan menyuruh lelaki itu mencobanya. “Pakai dan keluar, biar aku yang menilai penampilanmu” sambungnya lagi.

 

Suho terdiam memandangi baju – baju yang diberikan Tiffany. Gila, serius nih dia?

 

“Ya! Tunggu apa lagi?! Cepat sana!”

 

“A—arraseo…”

 

Tiffany memandangi punggung Suho yang menjauh dengan baju – baju pilihannya. Yah, gadis itu berharap baju itu cocok dipakai Suho. Sehingga setidaknya lelaki itu tidak akan menggunakan jas kemana – mana. Malu juga soalnya.

 

3 menit kemudian, pintu kamar ganti itu terbuka. Menampakkan sosok bodyguard ganteng Tiffany yang berpenampilan berbeda dari sebelumnya.

 

“Bagaimana? Nona?”

 

Tiffany tertegun sejenak kemudian mengangguk cepat. “Next,”

 

4 menit kemudian…

 

“Nona?”

 

“Oke! Next,”

 

“Nona?”

 

“Bagus, next!”

 

3 menit…

 

“Nona?”

 

“Nex—“ Tiffany melongo melihat penampilan Suho. Tidak, bukan melongo karena penampilannya yang cupu tapi…  jaket hitam, t-shirt hitam, dan jeans hitam. Rada serem sih bayanginnya. All in black gitu. Tapi kalau Suho yang menggunakannya… ya ampun. Keren banget!

 

Tiffany tetap saja tertegun melihat penampilan bodyguardnya itu yang tampak kebingungan karena ekspresinya. Tiba – tiba jantungnya terasa melakukan perang. Berdegup kencang dengan wajah memanas. Suho ganteng… beneran.

 

Dan Tiffany rasa dia… tidak! Tidak mungkin dia jatuh cinta! Tidak! Walaupun memang cukup sulit melalui 2 bulan dengan perasaan tertahan, tapi Tiffany memang tidak boleh menyukai bodyguardnya. Udah tau alasannya kan?

 

Gak elit, banget.

 

TBC 

p.s:

Annyeong😀 /muncul dengan wajah tanpa dosa//ditabok/

Setelah sekian lama gak munculin fanfic lagi. Aku kembali dengan part 2 dari HMG. Gaje ya? Gaje? Banget dong. Wuakakakak /apaini-_-/

Oke, mungkin para pembaca akan bertanya – tanya dalam hatinya, cerita macam apa ini? Tidak ada konfliknya?

Eits, tunggu dulu. Memang aku terkenal dengan author tanpa konflik /nahloh?/, karena fanfic yang aku buat konfliknya dater banget. Tapi untuk FF ini, aku udah siapin semuanya. Termasuk bagaimana endingnya nanti.

Siapin tisu ya kalau udah klimaksnya xD

 Oh ya, aku minta maaf banget karena keterlambatan dipostingnya lanjutan series ini. Soalnya aku memang rada sibuk dengan tugas sekolah. Sekarang aku udah dilarang buka internet kalau bukan untuk cari tugas atau cuma boleh pas weekend aja. Menyedihkan banget L Makanya beberapa customer (?) yang pesan poster di aku rada telat dibuatin.

Mohon maklumnya ya /deepbow/

Last, berikan komentar atau likenya yaaaa~

Aku mau keluarin FF SuFany nih kalau responnya bagus :3 /nyogok/

33 thoughts on “[CHAP. 2] He’s My Guardian

  1. Asli keren sumvah.. hehe😀
    tapi.. klo ga salah asalnya judulnya “He’s My Bodyguard” ya ?? hhe^^ gamasalah sih,, ywdh oke deh lnjt ..😉

  2. akhirny part 2 ny ada…………
    lama bgt sich chingu next part jgn lama” yach
    oh ya fany kan udah ada tanda” suka ama suho tuch…..suhony kpn nich tanda”ny???

    • Bahasanya ya…
      Chingu, ini fanficnya kan fanfic komedi. Jadi menurutku it’s ok kalau bahasanya rada alay (?) seperti ini.
      Err, kurang menyenangkan ya? Ok deh, bahasa di chapter selanjutnya aku perbaiki ya🙂 Maaf untuk ketidaknyamannya ^^

    • Bahasanya ya…
      Chingu, ini fanficnya kan fanfic komedi. Jadi menurutku it’s ok kalau bahasanya rada alay (?) seperti ini.
      Err, kurang menyenangkan ya? Ok deh, bahasa di chapter selanjutnya aku perbaiki ya🙂 Maaf untuk ketidaknyamannya

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s