[Freelance] Elegi (Chapter 2)

initpintu_副本

Title                 : Elegi

Author             : channims

Length             : Multichapter

Rating             : PG 15

Genre              : Romance, Angst

Main Cast        : EXO Kai, EXO Chanyeol, SNSD Jessica

 

 

Jessica memasuki rumahnya dengan muka muram saat Krystal tiba-tiba muncul di hadapannya.

“Eonnie! Kau datang juga!”

“Astaga! Apa kau mau membuatku mati, hah?” kesal Jessica sambil menarik napas karena terkejut.

“Ada Kai di dalam,” ucap Krystal santai.

“Apa?!” Jessica memekik. Krystal menutup telinganya.

“Ish, eonnie! Bisakah kau ganti suara melengkingmu itu? Sakit sekali, tau,” gusar Krystal sambil mengusap kupingnya.

“Sudah lama dia di sini?” tanya Jessica tak memedulikan protes adiknya.

“Sekitar setengah jam yang lalu.”

Sial. Jessica mengumpat dalam hati kemudian beranjak masuk ke rumahnya.

“Jess!” Kai yang sedang duduk dan memainkan ponselnya langsung berdiri begitu melihat Jessica.

Jessica terpaksa memasang senyum di hadapan Kai.

“Hai,” sapanya kikuk.

“Kau darimana saja? Katanya kau sedang tidak enak badan?”

“Ah, tidak. Aku tadi hanya ada urusan sebentar,” jawabnya asal.

“Kau masih sakit?” Kai maju selangkah untuk mengecek suhu badan Jessica.

“Aku tidak apa-apa. Hanya lelah.” Jessica menepis lembut tangan Kai yang memegang dahinya.

Kai terdiam. Sedetik kemudian ia memeluk tubuh Jessica. Gadis itu menegang. Namun ia tidak dapat menolaknya.

“Kau tau aku sangat merindukanmu? Kemarin-kemarin kau menolak untuk kudatangi bahkan sehari setelah kita berpacaran. Kalau saja hari ini aku tidak nekat datang, mungkin kau tidak akan pernah mau menemuiku. Telepon dan pesanku saja jarang kau balas.”

Ucapan Kai membuat Jessica merasa sangat bersalah. Bodoh sekali dirinya. Kenapa ia selalu membuat orang-orang di sekitarnya menderita karena dirinya? Seegois itukah ia?

“Maaf….” hanya itu yang terucap dari mulut Jessica.

Kai menarik napas. Ia masih bisa memahami yeoja yang ada dalam pelukannya itu. Kai tau yeoja ini masih belum bisa melupakan Chanyeol. Kata maaf yang diucapkannya barusan sudah lebih dari cukup baginya karena pelukannya saja tak berbalas.

Kai melepaskan pelukannya kemudian menghela napas. Kali ini dadanya terasa sakit.

“Kau sudah makan?” tanya Kai.

“Makan?” Jessica seakan melupakan rutinitas yang harus dijalaninya tiap pagi itu karena sejak dia ditelpon oleh kakak perempuan Chanyeol tadi dia melupakan segalanya termasuk soal sarapan. Padahal sekarang sudah masuk waktu makan siang. Tapi aneh, dia sama sekali tidak merasa lapar.

“Jangan bilang kau belum makan dari pagi,” selidik Kai.

Jessica hanya bisa meringis sambil menggaruk pelipisnya.

“Ayo, kita cari makan di luar,” ajak Kai sambil menggandeng tangan Jessica.

“Tapiㅡaku kan baru saja…” Jessica sudah siap untuk menolak. Namun Kai tetap memaksanya.

“Jessica, sekali-sekali perhatikanlah dirimu. Jangan membuat sakit dirimu sendiri,” ucap Kai.

Kata-kata Kai barusan terus terngiang-ngiang di benak Jessica.

***

Jessica duduk di tepi ranjangnya sambil menggigiti bibirnya. Tangannya memainkan ponselnya. Hari sudah hampir larut namun ia masih terjaga karena kebimbangannya.

“Cobalah menghubungiku kalau kau sempat.”

Ucapan Chanyeol tadi pagi melintas kembali di pikiran Jessica. Sekarang bukan masalah sempat atau tidak, namun hati Jessica sendiri yang entah bisa menerimanya ataukah mengabaikan.

Sudahlah, lagian apa salahnya kalau ia menghubunginya. Hanya sekedar bertukar kabar itu sudah cukup.

Dengan sekali tarikan napas kemudian Jessica mendial nomor yang terdaftar di panggilan cepat ponselnya.

Dalam nada tunggu pertama, suara namja itu sudah terdengar di ujung sana. Suara berat itu, benar-benar membuat Jessica sesak.

“Hm, hai.” Jessica membuka percakapan.

“Hai, Jess.”

“Sedang apa?” tanyanya basa-basi. Sungguh ia membenci situasi yang seperti ini.

“Menunggu panggilan darimu,” jawab Chanyeol jujur.

“Oh. Begitukah?”

“Kenapa? Kau pikir aku bercanda saat aku menyuruhmu untuk menghubungiku?”

“B-bukan begitu….”

“Atau bahkan saat ini kau terpaksa? Hanya karena kau merasa bersalah padaku kemudian kauㅡ”

“Diam!” Jessica berteriak di ponselnya. Chanyeol terdiam di ujung sana. “Kau sama sekali tak mengerti apa-apa.”

Tiba-tiba suara Jessica bergetar. Mati-matian ia menahan isakannya agar tak terdengar di seberang sana. Sejenak ia menjauhkan ponselnya.

Jessica sesenggukan. Ia menekan mulutnya dengan tangan kuat-kuat. Mencoba menghentikan isakannya. Namun sia-sia, karena batinnya terlalu sesak dan ia tak dapat membendung tangisannya.

“Jess? Ada apa?” Chanyeol terdengar panik.

Jessica menarik napas untuk melegakan dadanya. “Aku menyayangimu.”

Chanyeol bagai tersengat ribuan volt listrik. Ucapan Jessica barusan membuat hatinya bergetar.

“Bisakah kau ulangi sekali lagi? Jessica?” Chanyeol meminta dengan sangat. Namun Jessica sudah memutuskan sambungan.

Chanyeol mencoba menghubunginya lagi dan lagi. Namun Jessica tetap mengabaikannya.

Jessica membenamkan wajahnya di atas bantal untuk menahan tangisannya yang makin menjadi-jadi. Sementara di sebelahnya ponselnya terus bergetar.

Aku bodoh! Benar-benar bodoh!

***

Sekarang Kai lebih sering datang ke rumah Jessica tanpa persetujuan gadis itu terlebih dulu. Karena Jessica akan selalu menolak dan menggunakan sejuta alasan untuk tidak bertemu Kai.

Seperti pagi ini, Kai sudah ada di meja makan saat Jessica turun untuk sarapan. Jessica yang masih kusut karena bangun tidur langsung melebarkan matanya.

“Kai?!”

“Pagi sleepyhead~” Kai menyapa Jessica sambil tersenyum lebar.

Krystal sudah ada di sana sambil menyiapkan sarapan.

Jessica menggembungkan pipinya kemudian ikut bergabung di meja makan.

“Kenapa pagi sekali?” tanya Jessica.

“Tak apa-apa kan? Hari ini aku ingin mengajakmu jalan-jalan,” kata Kai.

“Ke mana?”

“Ke mana saja,” ucap Kai cepat. Sedetik kemudian namja itu memperhatikan mata Jessica yang bengkak. “Ada apa dengan matamu?”

Jessica terkesiap. Ia mengerjap beberapa kali. “Ah, ini hanya efek begadang semalam.”

“Kau menangis?”

“Tidak,” jawab Jessica pendek. “Sudah ayo makan. Krystal, apa ada yang bisa kubantu?”

Kai hanya menghela napas.

“Tidak salah kau mau membantuku?” cibir Krystal.

“Kau ini,” desis Jessica kesal.

Kai hanya tersenyum kecil melihat tingkah kakak-beradik itu. Ia menengahi keduanya kemudian melanjutkan sarapan bersama mereka.

Jessica sudah selesai berdandan saat dilihatnya ponselnya kembali bergetar. Chanyeol.

Gadis itu terdiam. Apakah ia harus mengangkat panggilan itu atau tidak. Masalahnya ia belum siap untuk mendengar suara Chanyeol lagi.

“Jess.” Suara Kai terdengar di luar kamar.

Jessica tergeragap. Dengan cepat ia memutuskan panggilan itu dan mematikan ponselnya.

“Ya, aku segera ke sana,” ucap Jessica sambil merapikan rambutnya.

***

Chanyeol berkali-kali berdecak dan mengacak rambutnya frustasi. Kemudian ia membanting ponselnya geram.

“Jung Jessica….,” desisnya kesal.

Yura, kakak Chanyeol tiba-tiba sudah berada di ambang pintu kamar Chanyeol. “Chanyeol?”

“Ada apa noona?” tanya Chanyeol setelah ia berhasil mengatur emosinya.

“Sarapan sudah siap di meja makan. Hari ini aku akan pergi untuk mengurusi pekerjaanku sebentar. Jangan lupa minum obatmu,” pesan Yura.

“Iya, aku tau,” sahut Chanyeol malas.

“Ingat ya. Jangan sampai aku memanggil Jessica lagi untuk membujukmu.” Yura memperingatkan.

“Iya, noona bawel.” Chanyeol menjawab kesal.

Andai saja bisa seperti itu, aku berharap sakit selamanya, batin Chanyeol.

Chanyeol sudah menghabiskan sarapannya dan dengan telaten meminum obatnya seperti yang diperintahkan kakaknya. Ia memang sudah berniat periksa ke dokter setelah Jessica menengoknya tempo hari. Lagipula benar kata Jessica, ia tak mau menyusahkan kakak perempuannya hanya karena masalah pribadinya ini.

Chanyeol memainkan ponselnya dengan malas. Rasanya suntuk sekali ia hanya berdiam diri di rumah beberapa hari ini. Sedetik kemudian wajahnya terlihat bersemangat. Buru-buru ia berganti pakaian dan bersiap-siap. Ia akan nekat mengunjungi rumah Jessica kali ini.

***

Sepanjang perjalanan Jessica hanya menerawang ke luar jendela mobil. Tak ada tanda-tanda ia mendengarkan ucapan Kai yang panjang lebar.

“Jess?” panggil Kai. “Jessica Jung?”

Jessica terkesiap. “Ah, ya? Kau mengatakan sesuatu?”

Kai berdecak pelan. “Jadi dari tadi aku berbicara dengan diriku sendiri. Poor you, Kai.”

“A-aku benar-benar minta maaf. Aku tadi hanya sedang…,”

“Memikirkan Chanyeol?” tembak Kai.

Gadis itu terdiam telak.

“Benar, kan?” ucap Kai lagi.

“Tidak. Kau ini bicara apa. Sudahlah, jangan mengungkit masalah ini lagi. Bagaimanapun dia hanyalah masa laluku,” kilah Jessica.

Kai tidak membalas ucapan Jessica. Namun dalam hati ia bergumam. Bagaimana bisa kau menyebutnya masa lalu kalau kau masih memikirkannya sampai sekarang?

Setelah itu perjalanan berlanjut dengan hening yang tercipta dan semakin menjauhkan jarak mereka berdua.

***

“Sampai,” ucap Kai pendek. Membuyarkan lamunan Jessica. Gadis itu mengedarkan pandangan ke luar mobil.

“Pantai?” Jessica memekik tidak percaya. Matanya terlihat berbinar. Ia memang tidak terlalu memperhatikan sepanjang perjalanan tadi akan mengarah ke daerah pantai.

“Ayo turun!” sekarang Jessica menjadi bersemangat. Ia menoleh sekilas ke arah Kai sambil tersenyum, kemudian membuka pintu mobil dan melompat keluar.

Melihat tingkah Jessica yang seperti anak kecil mau tak mau membuat Kai tersenyum juga. Ia lega, paling tidak ia bisa menjadi alasan untuk satu senyum Jessica. Kai membuka pintu mobil di sebelahnya dan ikut turun menyusul Jessica yang lebih dulu menghambur ke arah pantai.

“Hati-hati Jess!” teriak Kai kepada Jessica yang sudah melepas sepatunya dan berlari menuju tepian pantai.

Namun Jessica tidak peduli. Ia ingin merasakan dinginnya ombak menyentuh jari-jari kakinya.

Byur!

Jessica tertawa lepas. Ia memainkan tangannya ke arah ombak yang datang. Rasanya begitu menyenangkan. Gadis itu juga bisa merasakan angin pantai yang menerpa wajahnya dan membuat rambutnya berkibar. Begitu sejuk dan damai.

Jessica menoleh ke arah Kai yang hanya bersedekap dan tersenyum kecil melihat tingkah Jessica.

“Kai, sini!” ajak Jessica sambil melambaikan tangannya.

Namun Kai masih tetap di tempatnya sambil tersenyum. Ia hanya melambaikan tangannya sejenak, mengisyaratkan bahwa ia akan tetap di tempatnya.

Jessica mengerucutkan bibirnya. Kemudian beranjak mendekati Kai. “Kenapa? Ayo.”

“Aku tidak mau basah-basahan.” Kai beralasan.

“Kau ini. Kalau tidak mau kenapa mengajakku ke pantai? Dasar aneh,” gerutu Jessica.

“Karena kau suka pantai. Ya, kan?” namja itu mengacak rambut Jessica.

“Tapi mana seru kalau aku dibiarkan main sendiri. Seperti anak yang tersesat.”

“Lho, bukannya memang begitu?” goda Kai.

Jessica memukul bahu Kai pelan. “Kau ini benar-benar, ya. Ayo pokoknya kau harus ikut main.”

Jessica menarik Kai sekuat tenaga. Kai terkekeh pelan melihat usaha Jessica. Akhirnya ia terpaksa menuruti gadis itu.

Dua jam mereka habiskan untuk berlari-lari, menerjang ombak, dan bermain pasir. Sekarang keduanya duduk kelelahan di tepian pantai. Mengamati debur ombak yang seakan mengajak mereka untuk bermain lagi.

Jessica meniup poninya kemudian menoleh ke arah Kai yang memandang jauh ke tengah pantai.

“Kai,” panggilnya.

“Ya?” Kai menoleh.

“Terima kasih, ya,” ucap Jessica tulus.

Hati Kai terasa berdesir saat Jessica mengucapkannya.

“Kenapa kau mengatakan itu? Aku kan pacarmu. Sudah sepantasnya aku membuatmu senang,” tutur Kai.

Aku kan pacarmu.

Jessica seakan tersadar dengan kenyataan bahwa ia dan Kai sekarang adalah sepasang kekasih. Kenapa ia bisa melupakan kenyataan itu.

“Ah, tidak. Maksudku, terima kasih sudah membuatku melupakan masalahku,” tambah Jessica.

“Kemarilah.” Kai menarik kepala Jessica dalam pelukannya. “Apapun asal kau bahagia, aku juga bahagia.”

Jessica membeku dalam pelukan Kai. Kali ini ia juga tidak membalas pelukan itu. Entah ada sesuatu yang mengekangnya agar tidak melakukan itu.

Apapun asal kau melupakan namja itu, batin Kai.

***

Langit sudah hampir gelap saat Kai menghentikan mobilnya di depan rumah Jessica. Tubuhnya terasa lelah, namun sepertinya gadis di sebelahnya jauh lebih lelah. Jessica tertidur pulas di sampingnya. Kai jadi tak tega membangunkannya. Akhirnya ia keluar dari mobil dan membuka pintu di sebelah Jessica. Kai dengan hati-hati menggendong Jessica. Gadis itu tak bergerak sama sekali.

Benar-benar sleepyhead, batin Kai menahan senyum.

Deg.

Kai langsung menghentikan langkahnya tepat di depan pintu rumah Jessica. Matanya langsung meyipit tajam.

Sementara namja di depannya menatap Kai dan gadis yang berada di gendongannya dengan terbelalak.

“Kau…,” keduanya berbicara di saat yang bersamaan.

“Untuk apa kau datang ke sini?” tanya Kai tajam.

Namja itu, Chanyeol mendengus sinis. “Apa ada aturan aku tidak boleh berkunjung ke sini, hah? Dan apalagi yang kau lakukan pada Jessica?”

“Tak usah ikut campur. Dia hanya tertidur. Dan kuminta kau pulang sekarang karena Jessica sangat lelah.”

“Oh, berani sekali kau.”

Jessica terganggu dengan suara-suara yang saling bersahutan. Ia membuka matanya. Ia mendengar suara Kai dan…….Chanyeol.

“Turunkan aku,” pinta Jessica pelan. Kai menoleh ke arah Jessica yang tidak disadarinya sudah terbangun. Dengan perlahan ia menurunkan Jessica.

“Pulanglah,” ucap Jessica pada Kai.

“Tapi, Jess…,” Kai berusaha memprotes.

“Pulanglah, Kai. Aku tau kau lelah. Terima kasih untuk hari ini,” ucap Jessica lagi kemudian memeluk Kai singkat.

Chanyeol hanya bisa menahan perasaannya melihat adegan di depannya itu.

Kai cukup kaget karena Jessica memeluknya lebih dulu. Tapi kemudian ia melunak, akhirnya Kai bersedia untuk pulang lebih dulu. Namun tatapan tajamnya tetap diberikannya kepada Chanyeol.

“Baiklah, sekarang apa?” tanya Jessica pada Chanyeol. “Kuharap sesuatu yang penting karena aku sangat lelah.”

Chanyeol terbatuk sejenak. “Aku hanya ingin meminta kejelasan ucapanmu di telepon tempo hari.”

Jessica merutuk dalam hati. Ini adalah salah satu akibat perbuatan bodohnya mengucapkan kalimat itu. Tak seharusnya ia mengatakannya. Karena mungkin namja itu akan menganggapnya sebagai gadis yang tak tau malu. Siapa yang lebih dulu memutuskan hubungan, dan sekarang siapa yang mengungkapkan bahwa sebenarnya ia masih memendam perasaan. Pabo Jessica!

“Lupakan saja. Anggap aku hanya salah bicara,” ucap Jessica. Namun jauh di dalam hatinya terasa ngilu.

“Hm. Begitu.” Chanyeol menanggapi dingin.

Lagi-lagi Jessica mencelos. Selalu saja namja ini bersikap dingin padanya. Ia jadi menyesal pernah mengatakan bahwa ia masih menyayanginya. Ia merasa begitu bodoh dan tak dianggap.

“Ya. Sekarang sudah, kan? Aku ingin istirahat.”

Chanyeol terbatuk lagi. “Baiklah. Aku pulang,” pamitnya.

Jessica menatap punggung Chanyeol yang menjauh. Sesekali namja itu terbatuk.

Apakah dia masih sakit? Pikir Jessica. Masa bodoh dengannya. Lagipula ia juga tak memikirkanku.

Namun sebenarnya Jessica begitu mengkhawatirkan namja itu. Ingin rasanya ia memeluk Chanyeol, dan bukannya Kai. Sebenarnya juga tadi ia terpaksa memeluk Kai. Hanya agar namja itu bisa cepat pulang.

Chanyeol berjalan menjauh dari rumah Jessica dengan senyum getir. Rupanya ia berharap terlalu banyak pada gadis itu. Ia berharap gadis itu akan mengatakan bahwa ia memang masih menyayanginya. Sehingga ada alasan baginya untuk memenangkan kembali Jessica dari pelukan Kai.

“Hah, sial,” umpatnya.

Jessica memasuki rumahnya dengan lesu. Krystal sudah menyambutnya dengan pandangan heran.

“Kau tadi sudah bertemu dengan Chanyeol oppa?” tanyanya.

“Ya,” jawab Jessica pendek sambil melepas sepatunya.

“Oh. Tadi dia sudah menunggu eonnie sejak pagi,” tambah Krystal enteng kemudian pergi ke kamarnya.

“Eh?” pekik Jessica tidak percaya.

***

17 thoughts on “[Freelance] Elegi (Chapter 2)

  1. wah, elegi chapter 2 udah dipublish 🙂 #senengnya.
    sepertinya jessica masih labil deh dengan perasaan, padahal kan dia udah pacaran ama kai tapi dia masih memikirkan chanyeol sih happy virus. wkwkwk
    kasian kai yg udah cinta banget ama jessica tapi jessicanya malah begitu ~~~ *hug kai*
    ditunggu banget kelanjutannya kalo bisa dipublish cepet kaya gini.kekeke~~~
    oke, fighting chingu next chapternya ^^

  2. wah lgsung dipublish ni part2’a… sneg dehc…
    aduh sikap sica ni mlah bkin cwo itu bs ksushan. mn 1 sihc yg bner2 loe prhatiin sica. emg kyak’a yeol sihc but kyak’a lbih mkir keadaan kai dehc. dia udh byak bget bgi prhatian kesica tp sica sdkititpun gk prnh ngeberi hati’a bwd kai. trus knp mesti diterima. mnding bwd q j…
    ea sebel deh. by the way feel & greget’a dpet bget thor.
    ok ditggu pnjutn’a…

  3. Nyesek asli ngeliat chanyeol di dinginin sama jessica, tapi kasian juga sama kai yg sayang banget sama jessica’-‘)v aku suka pair 2 couple ini jadi bingung dan berakhir keringetan greget’-‘)/ /abaikan, untungnya disini gaada luhan kalo ada luhan, author harus tahan dengan ocehan aku yg meminta lusica’-‘)r jadi author bisa terbebas dengan itu’-‘)v okesip gapenting banget’-‘)r dan dari tadi aku memakai emot’-‘) dan gapenting lagi dan abaikan readers abstrak ini’-‘)/

  4. Alur cerita nya keren, tapi semuanya tersakiti (?). Tapi ntar buat yang happy end ya ^^. Chansica ato Kaisica semua cocok sih. Hwaiting thor buat lanjutannya

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s