[Freelance] Be Warmed

req32

Be Warmed

by

TWINsomnia™

Tittle : Be Warmed || Main Casts : SNSD’s Tiffany Hwang and EXO-M’s Kim Jongdae|| Sub casts : EXO-M’s Kris Wu, SNSD’s Jung Jessica & Choi Sooyoung, EXO-K’s Kim Jongin and many more.. (the other will appear soon)|| Genre : Sad, Romance, Friendship|| Rating : G || Type : Songfic || Length : Oneshoot  || Disclaimer : The story and the plot ORIGINALLY MINE. Inspired by my true life and Davichi’s Be Warmed (feat. Verbal Jint)|| Credit Poster : http://parkkuma.wordpress.com/

The casts are belongs to God, their-self, their family, their friends, their company, and their fans J

Maaf kalau ada kesamaan cerita J Kalau ada, itu semua tanpa saya ketahui karena FF ini bener-bener hasil pemikiran otak saya._.

Close this page if you don’t have any interest with the tittle, the casts, the stories.

FF ini jga kupost di WP pribadiku J

visit https://parkminjinra.wordpress.com/

 

AGEs MANIPULLATION

WARNING TYPO!!

Be Warmed

[So I turned off my phone

I thought, if I endured through a couple days

I would forget someone like you]

 

“Iya, Jess.. Ku usahakan..”

“Tidak boleh diusahakan! Kau harus datang! Arra?!”

Arraarra.. Lagian kenapa kau begitu memaksaku, eoh? Kita bisa bertemu kapan saja di Seoul.”

“Aish, aku tahu.. Tapi ini mumpung semuanya kumpul. Kau tidak kangen dengan teman-teman yang lain?”

“Aku kangen, tapi..”

Aku menggantung perkataanku yang memelan. Ku rasa, ekspresiku berubah sekarang.

Terdengar helaan napas di seberang.

“Dia, ya? Aku mengerti. Kau tenang saja. Ada aku yang akan menemanimu,” dia menenangkanku.

Aku mencibir. “Cih, yang benar?”

Maklum saja aku mencibirnya. Dia mempunyai lebih banyak teman dibanding aku.

“Ya! Pokoknya kau tenang saja, dan harus datang!”

Tiit, tiit, tiit

Sambungan telepon terputus olehnya. Aku mendengus kesal dan melempar ponselku asal ke ranjang.

Sial, gara-gara Jessica yang mengajakku reuni, nama itu sukses mengusik benakku. Walaupun, tanpa kehadiran kata ‘reuni’pun, dia selalu hadir di benakku.

Kubuka jendela kamarku dan menelungkupkan diri di sana. Merasakan desiran angin musim gugur yang menyapa permukaan kulitku, menggerakkan beberapa helai rambutku. Menyejukkan dan mendamaikan.

Kim Jongdae, nama itu sangat betah mengisi kekosongan di hatiku sejak 2 tahun lalu.

Dan tak lama lagi, kami akan bertemu. Jelas aku gugup. Kami tidak pernah bertemu di 2 tahun itu.

Aku tidak tahu harus bagaimana saat bertemu dengannya. Haruskah aku mencuekinya yang telah meninggalkanku? Aah, aku bukan tipe orang pendendam. Tapi, akupun tidak suka jika aku bersikap ramah padanya.

 [(But the me inside)

Is whispering

That there won’t be a person

That I’ll love like I loved you]

***

Noona akan menginap?” Jongin—adikkku, menengok padaku sebentar.

“Ya,” jawabku singkat.

Kami sedang dalam perjalanan ke tempat diadakannya reuni SMAku. Aku meminta Jongin yang mengantarku karena aku tidak kuat lama-lama menyetir.

Tatapanku mengarah keluar jendela mobil. Kaca jendela agak basah dikarenakan hujan bercurah sedang ini mengiringi perjalananku.

“Dengan siapa Noona menginap?” tanyanya lagi.

“Banyak,” jawabku asal. “Ku rasa ketua penyelenggara menginginkan kami semua menginap di penginapan yang sama.”

Gurae.. Siapa ketuanya?”

“Aku tidak tahu.”

Jongin kembali menatapku setelah mendengar jawabanku yang bernada tidak peduli, tapi aku memang tidak peduli.

“Seharusnya malam ini akan menjadi menyenangkan buatmu,” ujarnya.

“Yah, kuharap begitu,” sahutku. Aku bahkan berharap hujan ini menderas dan akan turun sampai besok pagi.

Noona aneh,” ledek Jongin. “Kalau aku jadi Noona, aku tidak akan berangkat sesore ini dan akan menunggu teman-teman yang lain.”

Aku terkekeh. “Sayangnya kau bukan aku, dan aku bukan kau.”

Jongin balas terkekeh. “Kalau Noona mau tidur, tidur saja. Perjalanannya masih cukup jauh, dan kemungkinan besar kalian akan begadang malam ini,” katanya lembut.

Jujur saja, terkadang Jongin lebih terlihat seperti kekasihku daripada adik kandung.

Aku tersenyum menimpalinya. Kemudian menyamankan posisi dudukku sebelum memejamkan mata. Cuaca yang dingin cukup mendukungku untuk tidur.

***

Noona, kita sudah sampai.”

Jongin menepuk pelan pundakku.

Kubuka mataku agak malas. “Sudah sampai?” tanyaku, suaraku agak serak. Apa aku tidur terlalu nyenyak? Perasaanku baru tertidur selama 15 menit..

Jongin mengangguk. “Ini penginapan yang Noona maksud?” ia menggerakkan dagunya ke sampingku.

Segera kutengokkan kepalaku. Mataku yang sedikit kesialuan membaca nama penginapan yang ada di depan teras apartemen.

Butuh waktu lebih dari 15 detik untuk aku melihat tulisan itu dengan jelas.

“Ah, ya. Ini penginapannya,” ujarku akhirnya. Aku membereskan barang bawaanku yang berupa tas ransel. “Apa kau tidak mau tinggal? Maaf telah merepotkanmu,” tanyaku pelan.

Jongin tersenyum menenangkan. “Tidak, terima kasih. Aku masih ada jadwal latihan band. Dan, aku tidak apa-apa. Lumayan mengisi waktu kosong 4 jam ini.”

4 jam yang dimaksud Jongin adalah waktu perjalan pulang dan pergi jika digabungkan.

“Terima kasih. Kau mau kubelikan makanan?”

Jongin terlihat berpikir. “Boleh juga. Tapi pakai uang Noona ‘kan?”

“Iya. Tunggu di sini sebentar.”

Ku keluarkan dompetku dan menaruh tasku di kursi sebelum menutup pintu mobil. Ku hampiri toko fast food yang kebetulan ada di samping penginapan, membelikan 3 burger keju ukuran jumbo, 2 french fries, 3 soft drink. Walaupun aku membelikannya sebanyak ini, aku yakin dia akan singgah di mini market pinggir jalan untuk membeli cemilan.

“Wua.. Terima kasih banyak, Noona!” Jongin menyambut sebungkus makanan-makanan barusan dengan suka cita. Segera dibukanya sebuah french fries. Ia menyodorkan makanan itu padaku, namun aku menolak dan dia kembali menikmatinya.

Kuambil tasku dan menunduk, menatapnya melalui kaca mobil.

“Jangan ngebut, jalanan licin setelah hujan tadi.”

Jongin mengangguk.

“Jangan berkeliaran ke bar atau klub atau kemanapun sepulang kau latihan.”

Kembali Jongin mengangguk.

“Perhatikan jalan. Jangan mengantuk, kalau mengantuk sebaiknya hentikan mobilmu dan tidur sebentar.”

Jongin mengangguk -lagi-. “Noona tenang saja! Aku sudah besar, Noona,” ujarnya setengah kesal.

Aku terkekeh geli. “Jangan lupa jemput Noona di sini jam 4 sore, besok.”

“Tanpa Noona suruh juga, aku pasti akan menjemputmu,” sahutnya.

Aku tersenyum senang. “I love you, bro.”

I love you too, sis,” balasnya.

2 kalimat itu sudah biasa kami ucapkan pada satu sama lain.

Tak lama kemudian, Jongin pulang.

Seorang lelaki dengan jas hitam rapi berdiri menyambutku di pintu penginapan. Aku balas membungkuk canggung.

“Apa anda termasuk salah satu undangan reuni SMA KF HS tahun kelulusan 2010/2011?” tanyanya.

Aku mengangguk. “Ya.”

Lelaki itu tersenyum ramah padaku. “Kami sudah menyiapkan kamar khusus untuk anda. Silakan ikuti saya.”

Setelah mengatakan itu, lelaki itu berjalan menjauh. Reflex, aku mengikutinya.

“Apa yang lain juga dapat?” tanyaku setelah mensejajarkan langkahku dengan langkahnya.

“Ya. Anda tenang saja. Ini perilaku spesial kami terhadap kalian,” jawabnya sopan.

Lelaki ini membawaku ke kamar bernomor 285.

Terdapat 2 buah ranjang di sana.

“Ini.. Kenapa ada 2 ranjang?” tanyaku bingung sembari menunjuk salah satu ranjang itu.

Lelaki itu tersenyum simpul. “Yang lainnya untuk teman anda,” ia tiba-tiba mengeluarkan sebuah notes kecil dari saku jasnya. “Boleh saya tahu nama anda?”

“T-Tiffany Hwang,” jawabku terbata. Ekspresi bingung masih belum beranjak dari wajahku.

“Tiffany Hwang,” lelaki itu mengulang namaku. “Jika ada yang mencari anda, saya bisa menggunakan nama dan nomor kamar ini sebagai jawaban.”

Itu masih belum cukup membuatku mengerti. Tapi aku mengangguk sebagai respon. “Terima kasih.”

Lelaki itu membungkuk. “Kalau ada keperluan, silakan hubungi kami dengan menekan tombol 1 di telepon yang sudah kami sediakan,” ia menunjukan sebuah telepon yang terletak di meja kecil antara 1 ranjang dengan ranjang lainnya.

“Terima kasih,” aku kembali mengucapkan kalimat yang sama.

Ia mengangguk sebelum keluar dan menutup pintu kamar pelan.

Lama aku membeku dalam posisiku. Lalu merebahkan diri di salah satu ranjang bersprey putih yang empuk itu.

Sudah jam 7.30 PM. 30 menit lagi reuni dimulai. Dan aku belum menyiapkan diri.

Kuhela napas berat.

Kalau mengikuti kata hatiku, aku tidak akan ada di sini. Bukan tidak mungkin, dengan datangnya aku ke reuni ini, membuat perasaanku terhadapnya semakin membludak.

BRAK!

Aku terlonjak kaget ketika pintu kamarku terbuka keras—aku terbangun reflex. Setelah melihat siapa yang datang, segera kurebahkan lagi tubuhku santai.

“Kau baru datang juga?” Jessica bertanya terengah-engah. Ia berdiri di samping ranjangku sebelum menutup pintu kamar terlebih dahulu.

Aku mengangguk sebagai jawaban.

“Sudah siap-siap?”

Aku menggeleng. “Tidak lihat?”

“Hah?!” responnya ini kupikir berlebihan. “Kau ini.. Sebentar lagi acaranya mulai!”

“Aku tahu,” sahutku seadanya.

Jessica menatapku heran, lalu membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah handuk dan pakaian ganti yang berupa dress simple berwarna soft pink. “Kau mandi duluan?”

Aku menggeleng sembari menggulingkan tubuhku membelakanginya. “Kau saja.”

Jessica bergegas mandi.

Aku menghela napas lagi. Rasanya malas sekali.

***

[Like a lie

My heart froze cold

But it melts down in front of you]

 

Acara berlangsung meriah. Tak hanya teman-teman sekelasku yang semuanya berjumlah 50 orang yang datang, guru-guruku juga datang, sayangnya tidak semuanya. Ada yang sudah tiada, ada yang sedang sakit.

Reuni diadakan di taman penginapan yang luas, lengkap dengan kolam renang di dalamnya. Sumber cahaya yang berupa lampion yang di gantung mengelilingi taman, beberapa lampion diapungkan di kolam renang. Makanan dan minuman yang tersaji cukup lengkap. Kalau aku sedang tidak malas seperti ini, mungkin sudah kucoba 1-1 makanan itu.

Aku terus mengekor pada Jessica dan mengikuti apa yang dilakukannya. Jika dia menyapa, aku ikut menyapa. Jika dia mengambil makanan atau minuman, aku ikut mengambil.

Berkali-kali kutolehkan kepalaku untuk mencarinya. Aku tahu ini bodoh, namun kerja otakku berbalik dengan kerja tubuhku.

Berkali-kali juga aku melihatnya. Jantungku berdetak lebih cepat ketika melihatnya, lebih cepat lagi ketika melihatnya tertawa. Ia berkumpul bersama teman-teman dekatnya di sisi lain taman.

Terkadang, aku juga mencari sosok lain. Perempuan itu. Choi Sooyoung. Terakhir kudengar, Jongdae menyatakan perasaannya setelah 1 tahun meninggalkanku dan mereka berpacaran.

Ah, itu dia! Yeoja tinggi itu sedang bersama teman-temannya, di sisi lain taman.

Apa mereka sudah berakhir? Aku tahu ini buruk, tapi, aku berharap mereka sudah berakhir.

“Hei, Tiff,” Jessica tiba-tiba berbisik memanggilku.

“Apa?”

“Kita sapa Jongdae?” ia bertanya dengan tatapan jahil.

“Cih. Kau saja, aku malas,” balasku cuek. Aku tidak sadar jika wajahku sudah memerah sekarang.

Jessica terkekeh. “Sebentar saja! Aku janji,” bujuknya. “Siapa tahu ini adalah saat terakhir kita berkumpul? Atau saat terakhir kau melihatnya?”

Ku keluarkan dengusan jengkelku. “Baik-baik! Sebentar saja!”

Jessica mengangguk bersemangat sembari menarik tanganku.

Aku berusaha keras mengontrol detak jantung yang sulit sekali diatur ini.

Jongdae dan teman-temannya melihat kedatangan kami. Sempat kulihat ekspresi antara terkejut dan gugup menghiasi wajahnya, hanya sebentar. Setelah itu dia tersenyum ramah pada kami.

Oh, aku iri dengan kemampuan mengendalikan ekspresinya.

“Hai, semua..” Jessica menyapa riang.

Anak laki-laki itupun menyambut hangat kedatangan kami.

“Hai, Jess, dan.. Tiffany? Apa itu kau?” sahut Chanyeol dengan pertanyaan.

Aku terkekeh dan mengangguk pelan. “Annyeong,” ucapku.

“Wah, kau tambah cantik,” ujarnya.

Yang lain mengiyakan.

“Tapi kurasa, kau masih pemalu,” tambah Baekhyun sebelum kami semua tertawa.

Tolong, jangan buat aku semakin gugup di depan Jongdae!

“Jondae, kau masih dengan Sooyoung?” tiba-tiba Jessica bertanya, to the point.

Jongdae tertegun sebentar, sebelum akhirnya dia tertawa.

Apapun jawabannya, aku tidak mau dengar!

Segera kuambil ponselku dan berpura-pura seakan ada telepon.

“Maaf, aku permisi sebentar,” pamitku tanpa menunggu respon mereka, kemudian segera pura-pura sibuk menelepon dan menjauh dari taman.

Aku tidak yakin akan tahan berlama-lama di sini.

Kulangkahkan kakiku keluar dari area taman yang semakin ramai. Berjalan tak tentu arah ke belakang taman. Cahaya di sini memang tak seterang cahaya di taman, tapi ini lebih menenangkan.

Aku memelankan jalanku ketika bagian taman ini sudah habis. Tergantikan dengan jalan yang terbuat dari batu koral, di seberangnya terdapat sungai, cahaya lampu dari pagar pembatas memantul di permukaannya.

Kudekati pembatas itu sembari mengedarkan pandangan kagum ke sekeliling. Jarang-jarang ketemu dengan pemandangan seperti ini di Seoul.

Angin malam yang dingin berhembus kencang, sedikit membuat tubuhku yang terbungkus dress cream selutut dan tanpa lengan ini menggigil.

“Tiffany?”

Aku yang saat ini sedang melamun terlonjak kaget. Segera kutolehkan kepalaku ke samping, ke asal suara.

“Kris?” tanyaku.

Seorang lelaki yang jauh lebih tinggi dariku, berambut cokelat karamel, berdiri tak jauh dariku.

“Kau Tiffany ‘kan?” dia balik tanya. Jemari telunjuknya menunjukku, ekspresi terkejut kentara sekali di wajahnya yang semakin tampan.

Kuanggukan kepalaku dan tersenyum senang. Begitupun dengannya. Senyum senangnya langsung merekah di wajahnya yang seperti pahatan itu.

“Kenapa tidak masuk?” tanyanya setelah berdiri tepat di sampingku. Mata elangnya itu menatap tepat pada irisku.

“Kurasa, karena bosan,” jawabku asal. “Kau sendiri?”

“Kurasa sama sepertimu.”

Kami sama-sama diam. Mungkin, dia juga menikmati suasana yang dingin namun menyejukkan dan menenangkan ini.

“Kau sudah bekerja?” pertanyaannya memecahkan keheningan.

“Tidak, masih kuliah. Kau?”

“Asisten manager M Corp,” jawabnya, lalu menghela napas pelan.

Aku terkekeh. “Kemampuan berbisnismu memang sudah hebat sejak dulu ‘kan?”

“Yah, begitulah,” sahutnya pasrah. Dia adalah teman laki-laki yang paling akrab denganku saat SMA. “Apa kita sedang bernasih sama?”

Pertanyaannya barusan membuat keningku berkerut. “Apa?”

Dia tidak menjawab, tapi tatapannya itu penuh makna.

Setelah beberapa saat, barulah aku mengerti maksudnya apa.

“Ooh.. Aku tahu, aku tahu!” ucapku. “Kurasa begitu,” jawabku kemudian.

Oh, astaga! Bagaimana mungkin aku bisa melupakan bahwa dia mengaku sebagai lelaki yang paling mencintai Jessica, bahkan lebih dari cinta ayahnya?!

Dia bilang begitu saat SMA. Kami saling curhat di suatu sore sehabis sekolah, di dekat lapangan sepak bola. Aku ingat jelas, saat itu kami berjemur di bawah matahari senja, tapi kami tak peduli, terus asyik dengan obrolan kami.

Sayang sekali, cintanya selalu bertepuk sebelah tangan. Jessica adalah gadis terpopuler seantero sekolah. Siapapun yang tidak mengenalnya—atau setidaknya, tahu yang mana orangnya, dianggap cupu berat. Gadis itu cantik, manis, pintar, berbakat… Apalagi yang tidak menarik perhatian hampir seluruh siswa di sekolah saat itu?—aku jadi bilang saat itu, karena kurasa, kegilaan para siswa di kelas kami terhadapnya mulai berkurang. Atau mungkin, sudah musnah? Well, pengecualian buat Kris Wu.

Penyebab Kris tidak berani menyatakan perasaannya, karena mereka sahabat dekat. Dia tidak mau meruntuhkan kepercayaan Jessica, yang sudah terlanjur memercayakan dan memberi jabatan Kris sebagai sahabat di hatinya. Dan Kris tidak mau Jessica menjauh darinya karena tindakan bodohnya.

“Masih sampai sekarang?” tanyaku takjub setelah jeda hening yang cukup lama.

Lelaki macam dia ini tidak perlu sulit-sulit mencari pacar. Lihat saja penampilan sehari-harinya yang terkesan glamour, mewah dan keren. Apa-apa yang dipakainya setiap hari. Barang-barang bermerk terkenal yang tersusun di lemari koleksinya.

Mungkin, kalau hatiku tidak dibekukan pada lelaki itu, bisa saja aku menyukai Kris.

Kris mengangguk mantap. “Aku orang yang setia bukan?” ujarnya bangga.

Aku mengangguk, namun cibiran terbentuk di bibirku.

Ya! Aku serius!” ucapnya sebal.

Arraseo! Arraseo!” balasku. “Tapi, kalau kau terus menaruh hatinya padanya dalam waktu lama dan tidak membuahkan hasil, kau harus siap dengan resikonya.”

Kris menatapku penasaran. “Apa?”

“Tidak punya pasangan hidup, seumur hidupmu!”

Kris berdecak. “Kau benar juga.”

Sungguh di luar dugaan! Ternyata dia merespon begitu.

“Kau punya perempuan baik-baik yang bisa kau kenalkan padaku?” tanyanya sembari sedikit mendekatkan wajahnya padaku.

Aku tak menyangka dia akan jadi mudah terhasut. Dulu dia tidak begini. Selalu memikirkan tentang apa yang ingin dikatakan dan dilakukannya dalam-dalam.

“Ku.. Kurasa punya,” jawabku gelagapan.

“Nanti, bisa kau kenalkan mereka padaku?” dia bertanya penuh harap.

Sebelah alisku terangkat. “Kau serius, Kris?” tanyaku sarkastik.

“Apa?”

“Masalah ini.. Kau serius? Jujur, aku hanya bercanda tadi.”

“Aku serius. Kau benar, aku tidak boleh terpaku hanya padanya! Aku harus move on!”

Tanpa sadar, aku kesusahan meneguk salivaku. Ekspresi antara terkejut dan aneh bercampur di wajahku.

Akhirnya kuanggukkan kepalaku pelan, dan wajahnya kembali menjauh dariku dengan helaan napas lega. Ia menaruh ke-2 tangannya di atas pembatas sungai yang terbuat dari besi ini santai dengan senyuman yang terlihat lebih ringan. Tiba-tiba ia menoleh menatapku.

“Kau sendiri? Sudah mencoba move on?” selidiknya.

Aku tergugu. “A-aku.. Em.. Menurutmu?” diluar harapan, aku menyahut gugup.

Kris tersenyum meledek. “Kau sendiri saja belum, tapi menyuruh orang lain move on,” cibirnya.

“Aku sudah mencoba!” sahutku kesal.

Kris menaikkan sebelah alisnya.

“Serius! Aku sudah mencoba move on!”

“Dan kau gagal,” tambahnya enteng.

Aku memajukan bibirku. “Kau juga gagal!”

“Hei, aku belum pernah mencoba sebelumnya! Baru malam ini, aku mengkonfirmasi bahwa aku akan mencoba untuk move on,” dia tidak mau kalah.

Kujulurkan lidahku, juga tidak mau kalah. “Kau terlalu sibuk berlarut-larut dalam bekerja, jadi tidak ada yeoja yang melihatmu!”

Detik berikutnya setelah aku melontarkan sahutan itu, aku baru sadar, mungkin balasanku itu sedikit melenceng dari topik?

“Daripada kau, berlarut dalam kesedihan!”

Perdebatan ini berlanjut sampai aku yang kelelahan, agak haus. Perdebatan ini memang sedikit menyebalkan, tapi tetap mengasyikkan dan menghibur. Sama seperti 3 tahun yang kulalui bersamanya.

***

 

[(They say men are like this)

They say not to always be by their sides

And not to treat them well all the time]

Sial. Padahal kamar yang kutempati bersama Jessica ini nyaman. Full AC, ada TV, kamar mandi dengan bathub, ranjang dan bantal yang empuk lengkap dengan selimut tebal nan hangat. Tapi tetap saja aku insomnia.

Kulihat sepasang jarum panjang dan pendek di jam dinding. Sudah jam 2.45 AM.

Setelah lama terduduk di ranjang, akhirnya kuputuskan untuk mendatangi ‘pelarian’ku dan Kris tadi malam.

Sebenarnya, aku bisa menonton TV. Tapi aku yakin, acara-acara yang ada jam segini pasti acara yang berhubungan dengan sesuatu yang mistis dan horor. Dan aku yakin, tidak bisa menahan pekikanku jika menonton itu.

Setelah memakai jaket dan sepatu, kulangkahkan kakiku keluar kamar. Melewati taman, yang dekorasinya belum dibereskan—katanya besok pagi kami akan sarapan di sini. Penerangan yang sebelumnya berupa beberapa lambu bohlam besar taman dan lampion yang tergantung dan terapung, berganti menjadi hanya lampu taman yang cukup redup.

Udara yang lebih dingin menelusup ke tubuhku ketika aku menaruh ke-2 tanganku di pembatas antara sungai dan jalan.

Tak ada siapapun sekarang. Tentu saja! Hanya orang gila sepertiku yang berani keluar jam segini, di tempat yang asing buatku pula.

Kuhela napasku berkali-kali tanpa sadar. Suasana sepi ini tidak membuatku merasa takut, justru membuatku ingin mengunjungi tempat ini setiap hari.

Jongdae..

Sial, dia lagi, dia lagi.

Kalian bertanya-tanya penyebab kami putus?

Dia terpaksa pindah sekolah setelah memasuki semester 2 kelas 2. Hubungan kami sudah berjalan 6 bulan saat itu.

Masih terekam jelas di memoriku, saat Jongdae yang menangis terisak di rangkulanku pada hari kami berpisah. Confessionnya yang sungguh lucu. Dia yang setiap hari menjemput dan mengantarkan aku pulang. Dia yang menyiapkan sebuah lagu spesial, khusus didedikasikannya untukku dianniversary kami yang ke-3 bulan. Dia yang memberikanku kejutan berupa candle light dinner saat ulangtahunku. Kegugupannya saat bertemu ayahku.

Aku tersenyum miris mengingat itu semua. Kalau amnesia bisa membuatku melupakannya, dan semua kenangan manis yang kami buat bersama, maka akan kubenturkan kepala ini ke tiang listrik atau dinding beton, atau menyuruh orang lain memukulkan stik baseball atau balok kayu ke kepalaku. Seandainya bisa..

Orang-orang bilang, cinta pertama adalah yang paling sulit dilupakan. Aku membenarkan opsi itu.

Jongdae cinta pertamaku.

Orang-orang bilang, tidak ada hal lain -bahkan sebuah permata zamrud yang begitu indah- yang bisa menggantikan perasaan indah cinta itu sendiri. Saat aku bersamanya, aku menyetujui ungkapan itu.

Aku lebih mempercayai kalimat ini – Love is hurts—Cinta itu menyakitkan, sekarang. Aku tidak berharap menyetujui kalimat itu sampai aku mati. Aku berharap seseorang yang lebih baik dan patut aku cintai akan datang, suatu saat.

Cinta itu buta. Cinta itu membuat kita lupa. Cinta membuat kita gila.

Tak memandang siapa dia, apa jabatannya, bagaimana rupanya. Ia membuat kita lupa pada hal lain, seperti sahabat, keluarga. Hanya cinta yang kita ingat saat kita sedang mencintai. Ia membuat kita tertawa atau senyum-senyum sendiri, ia membuat kita jadi sering melamun, ia membuat kita menangis.

Terlebih cinta yang berlebihan, itu sangat tidak baik.

“Tiffany?”

Disaat aku mulai merasa tenang dan rileks, suara itu mengejutkanku.

Segera kutolehkan kepalaku menuju asal suara dan mendapati seorang Jongdae berdiri di sana.

“J-Jongdae?” balasku. Perasaan gugup, aneh, terkejut dan malu bercampur. Seakan sehabis dibawa keliling lapangan marathon, jantungku berada diluar kontrol. Kalau saja tidak malam hari, pasti terlihat wajahku yang memerah seiring darah juga mengelilingi tubuhku dengan lebih cepat.

Jongdae tertawa tak percaya. “Bagaimana bisa? Sedang apa kau di sini?” ia bertanya sambil mendekatiku.

“Insomnia,” jawabku singkat. “Kau sendiri?”

Jongdae terlihat gugup. Digaruknya tengkuknya yang mungkin tidak gatal. “S-sebenarnya, aku ada janji dengan Sooyoung,” jawabnya kemudian.

Wow! Sungguh diluar dugaanku! Ternyata masih ada pasangan yang memiliki janji ketemu di malam yang selarut ini.

Perasaan hatiku berubah drastis menjadi takjub, heran dan cemburu.

“Kenapa berjanji jam segini?” tanyaku.

Jongdae menggigit bibir bawahnya. “Karena tadi kami ingin menghabiskan waktu bersama teman-teman, jadi kami berjanji jam segini. Aneh, ya?” dia tertawa garing.

Aku mengangguk mengiyakan. “Benar-benar aneh.”

Jongdae tertawa kecil.

Detik berikutnya, hening. Aku bertanya-tanya apa yang sedang dipikirkannya sekarang.

“Sudah ketemu yang lain?” tanyanya tiba-tiba.

Aku menatapnya yang memfokuskan pandangan pada sungai di depan kami. Ekspresinya sulit ditebak.

Aku tertawa penuh arti sembari mengalihkan pandanganku. “Kurasa belum,” senyum miris terpatri di wajahku.

Dapat kurasakan tatapannya terarah padaku.

“Aku benar-benar minta maaf, Tiffany.. Yang saat itu,” ucapnya pelan.

Kutolehkan kepalaku.

Ekspresi menyesal dan sedih kentara sekali di wajahnya.

“I-itu bukan salahmu!” sahutku gelagapan. “Salahkan pekerjaan ayahmu itu. Lagipula, kau sudah punya Sooyoung sekarang. Kurasa dia jauh lebih baik dariku.”

Jongdae menatap tepat ke dalam mataku. “Aku.. Aku benar-benar minta maaf.”

Aku tertawa geli. Ekspresinya itu.. Kurang lebih dengan 2 tahun lalu. “Hei, itu bukan salahmu, Kim Jongdae!” kutepuk-tepuk pundaknya. “Kau sudah ketemu Sooyoung, tak lama lagi, pasti akan kutemukan orang lain yang lebih baik darimu.”

[(But I like you, what to do?)

I hate you for making me cry

I curse at you and resent you but]

GREB!

Dengan gerakan cepat, Jongdae menarikku ke dalam pelukannya. Memelukku dengan erat.

Speechless. Ekspresi kaget pasti terlihat jelas di wajahku. Diriku membatu.

“Maaf..” ucapnya lirih.

Perlahan, perasaan sedih mulai memasukiku. Kusenderkan kepalaku di dada bidangnya, menghirup aroma maskulinnya dan mendengarkan degup jantungnya.

Ini mengingatkanku pada kami yang dulu. Dan membuat perasaanku semakin membekas di hatinya.

Gwaenchana,” bisikku pelan. Kurasakan airmata yang menggenang di pelupuk mataku, namun kutahan dengan keras agar tidak mengucur keluar.

Ia mengeratkan pelukannya. Lama sekali dia memelukku. Sampai akhirnya aku melangkah mundur sedikit dan membuat ke-2 tangannya yang melingkar di pundakku lepas.

“Jangan begitu terus, Jongdae. Aku takut Sooyoung salah paham,” kataku.

Ekspresinya sulit diartikan. Ia memegang ke-2 pundakku dengan tangannya. Lama kelamaan, dapat kurasakan tatapannya berubah menjadi tatapan intens dan wajahnya yang semakin mendekat.

“Aku menyayangimu,” bisiknya.

Oh, Jongdae! Kumohon, jangan membuatku semakin mencintaimu! Karena ini sungguh menyakitkan buatku.

“Aku juga,” balasku.

Wajahnya sangat dekat sekarang, bahkan dapat kurasakan hembusan napasnya di wajahku. Ia sedikit memiringkan kepalanya sebelum menempelkan bibirnya di bibirku. Ke-2 matanya terpejam, begitu juga denganku yang tidak membalas ciumannya. Aku baru mau membalasnya jika dia sudah jadi milikku, atau dia tidak dimiliki oleh siapa-siapa.

Perlahan, dia melepaskan ciumannya. Dia tetap menatapku yang kini menundukkan kepala.

Drrt! Drrt!

Bunyi dari getaran hebat ponsel Jongdae mengalihkan perhatiannya. Segera dirogohnya saku celananya dan membaca sebuah pesan masuk.

“Sooyoung mau datang,” ucapnya sembari memasukkan kembali ponselnya.

Gurae? Aku juga sudah mulai mengantuk,” sahutku.

Dia tersenyum simpul. “Tidurlah. Terima kasih.”

Aku balas tersenyum sambil melangkah menjauh. “Terima kasih kembali.”

Bukannya langsung kembali ke penginapan, aku bersembunyi di balik semak-semak untuk melihat bagaimana sikapnya terhadap Sooyoung. Aku tahu ini buruk—sangat buruk dan tidak boleh, tapi aku tak tahu kenapa bisa aku bertingkah seperti ini.

Tak sampai 3 menit, Sooyoung datang. Jongdae langsung mengecup bibirnya saat itu, aku masih bergeming walaupun hatiku panas.

Setelah mengobrol singkat, mereka berjalan berdampingan keluar area ini, dalam posisi Sooyoung yang merengkuh erat lengan Jongdae.

Mulutku sedikit bergetar karena berusaha keras menahan tangis.

Aku tidak patut bersikap seperti ini terhadapnya. Jongdae bukan siapa-siapa lagi buatku, begitupun aku baginya. Tapi, dia selama ini dia bertahan di peringkat pertama di hatiku. Dan aku tidak mampu menurunkan peringkatnya.

[If only I could reach you, you’d know

But it’s not as easy as it sounds

Every time you do that, a corner of my heart crumbles]

 

***

Kupotong omelet di piring sarapanku dengan agak malas, masih mengantuk. Akhirnya aku tertidur jam 3.15 AM tadi malam. Jessica membangunkanku disaat dia sendiri sudah rapi—aku tidak menyalahkannya. Terpaksa aku merelakan telingaku panas karena omelannya—dia mengomel layaknya seorang ibu sedang mengomeli anaknya. Sejak aku mandi, sampai kami menaruh pantat di kursi sarapan ini.

Beberapa kali mataku sempat beradu pandang dengan Jongdae, dan tiap kali itu pula kami saling lempar senyum.

Aku tidak memberitahu Jessica masalah tadi malam, mungkin pada Kris? Jujur saja, aku merasa lebih nyaman jika curhat dengan lelaki.

Kupikir, keputusanku meminta Jongin untuk menjemputku jam 4 sore salah, setelah melihat tidak adanya kegiatan lain setelah sarapan bersama ini, kecuali untuk beberapa kelompok anak atau individual yang ingin jalan-jalan. Termasuk aku dan Jessica. Dia mengajakku keliling-keliling dan membeli beberapa oleh-oleh.

Untuk kesekian kalinya, mataku kembali bertemu dengannya yang memberikan senyum manis padaku.

[Like a lie

My heart froze cold

But it melts down in front of you]

***

“Tiffany, aku sungguh minta maaf..”

Kuusap lembut punggunnya yang menunduk dalam sembari menutupi wajahnya dengan ke-2 tangannya. Sebenarnya, kalau aku tega, aku akan mentertawakannya. Tingkahnya -entah kenapa- membuatku geli.

Bahunya berguncang naik turun, celananya sedikit basah karena tetesan airmatanya, keningnya berkilau karena adanya keringat di sana, wajahnya memerah. Isakannya bertambah.

“Ish, keummanhae,” ucapku.

Lelaki ini menggeleng cepat. “Aku tidak mau meninggalkanmu..” rengeknya.

“Aku juga tidak mau berpisah denganmu,” balasku. “Bukannya seharusnya kau bersyukur? Orangtuamu memindahkanmu ke sekolah lebih hebat, kenapa kau tidak suka?”

“Aku tidak suka dengan ini!” katanya keras. Akhirnya ke-2 tangannya terlepas dari wajahnya.

Segera kuambil tissue dari saku tasku untuk mengeringkan wajahnya yang basah oleh keringat bercampur airmata.

“Aku benci dengan ini! Lebih baik aku tetap sekolah di sini daripada melanjutkan sekolah di sana! Aku tidak mau meninggalkanmu,” katanya panjang lebar.

“Lagipula, sekolah itu adalah jalan besar agar kau bisa meraih cita-citamu—menjadi penyanyi kelas dunia. Ini kesempatan emas. Kau tidak boleh menyia-nyiakan ini,” balasku.

Hening.

Rambutnya yang berwarna cokelat kemerahan itu sedikit berkibar ketika angin melewatinya, cahaya matahari di ufuk barat sana membuatnya terlihat mengkilap. Dialihkannya pandangannya dariku kemudian menatap matahari yang mulai mengeluarkan cahaya orange yang kental. Dapat kudengar helaan napas berat dan frustasinya.

“Suatu saat, kita pasti akan bertemu lagi,” ucapku pelan, menenangkan.

Aku tahu ini tidak baik. Aku terlihat biasa saja melihatnya yang begitu frustasi setelah tahu orangtuanya telah memasukkannya ke sekolah khusus musik. Aku terlihat menerima dengan lapang dada berakhirnya hubungan kami, namun sebenarnya aku tidak. Aku tidak pernah memikirkan akan jadi begini. Aku selalu memikirkan dan membayangkan saat-saat bahagia yang telah kami lalui dan akan kami lalui—rencananya. Dan karena terlalu larut dalam kesenangan, akhirnya jadi begini. Sesuatu yang terlalu memang tidak baik bukan?

Kutatap wajahnya yang masih fokus pada matahari. Wajah yang akan selalu kurindukan dan membuatku gila.

“Aku mencintaimu,” ucapku lagi.

Dia masih bergeming, membuatku agak tegang menunggu responnya.

“Aku juga,” akhirnya dia menoleh. “Aku juga mencintaimu, sangat mencintaimu,” terlihat jelas kesungguhan di balik matanya ketika mengucapkan kalimat yang dapat membekukanku itu.

Dia mendekat kearahku dan menarikku ke dalam pelukannya, erat sekali. Kepalanya tenggelam di pundakku, ia tak peduli pada rambut bergelombangku yang terurai mengenai wajahnya.

Akupun juga begitu. Kuhirup dalam-dalam aroma maskulin ini.

“Suatu saat nanti, kita akan bertemu,” bisikku. “Dan saat itu datang, kau sudah harus sukses!”

Ia tidak menjawab, namun mengeratkan pelukannya. Lama sekali kami berpelukan.

Setelah melepaskan pelukan kami, ia menatap tepat pada ke-2 irisku.

“Aku mencintaimu,” ucapnya.

“Aku juga,” balasku.

Perlahan, wajahnya mendekat pada wajahku. Kupejamkan mataku tepat sebelum bibirnya menempel di bibirku. Menciumnya dengan sangat lembut. Tak ada nafsu atau hal lain diciuman ini, selain keinginan menyalurkan rasa cinta kami.

Ia melepaskan ciumannya sembari menatapku intens. Tak lama kemudian, dia kembali menarikku ke dalam pelukannya. Pelukan yang sempat kukira menjadi pelukan terakhir kami.

[Don’t cry but remember this one thing

You’re the only one, babe, it’s true]

***

Tiit! Tiit!

Aku terlonjak dan terbangun.

“Eh? Membangunkanmu, ya, Noona? Maaf, jalanan macet,” Jongin berucap menyesal di sebelahku.

Ah ya, aku baru ingat kalau kami sedang dalam perjalanan pulang. Kuedarkan pandanganku, di depanku terhampar puluhan mobil yang bernasib sama dengan mobil kami.

“Ada apa?” tanyaku heran. Kutinggikan kepalaku untuk melihat lebih jelas. “Kecelakaan?”

Jongin mengangkat bahunya. “Kalau tidak salah, sewaktu aku lewat  untuk menjemput Noona tadi, ada pemberitahuan kalau ada orang-orang pemerintahan yang datang. Mungkin, karena itu jalan diblokir sementara,” jelasnya.

Aku manggut-manggut. “Apa perjalanannya masih jauh?”

“Tidak juga, kira-kira, setengah jam lagi kita sampai di Seoul.”

Kualihkan pandanganku keluar jendela mobil, melamun.

Aku memimpikan kejadian 2 tahun lalu. Dan sekarang wajahnya terbayang-bayang dalam benakku.

Aku tidak tahu harus berbuat apa lagi. Hatiku sudah membeku dikarenakannya.

Mataku menangkap rintikan air hujan di jendela. Hujan lagi. Kurasa, langit ingin menemaniku untuk bersedih hari ini.

Aku membodohi diriku sendiri yang hanya bisa mengenalnya, dan tidak membuka hati untuk lelaki lain.

Hujan semakin deras, bersamaan dengan airmataku yang menetes keluar.

[Because I’m a fool

Because I only know you

That’s why

I’m melting again]

 

—THE END—

12 thoughts on “[Freelance] Be Warmed

  1. Kasihan fany masih belum bisa move on,ffnya bagus thor suka jalan ceritanya.makasih sudah menjadikan chen sebagai cast utama dan ditunggu karya selanjutnya

  2. Ya ampun authoooor…
    Ini FFnya keren bangeeet. Sumpah keren! Nasibnya Tiffany sama bgt dgn aku, tp sayangnya aku tidak pacaran /curcol//dihajar/ aku sendiri greget sama Chen disini-.- udah blg sayang sama Fanny, masih sempat”nya jg mesra”an sm Soo /esmosi/
    Move on itu mmg susah kok :’) pengalaman pribadi ya thor?
    Ide ceritanya simpel tp menarik. Alurnya mengalir dan bagus banget. Diksinya author juga bagus.
    Keren bgt deh
    Keep write yaaa!!! Fighting!

  3. Reblogged this on Blossom and commented:
    Reccomended!
    Ceritanya memang simple dan pairnya jarang banget, tapi ceritanya menarik!
    Dan in the point, ceritanya mirip banget sama kisahku /apaini//curcol/dihajar/
    Aish sudahlah… intinya~ Silahkan bacaaaa~

  4. Ka, aku udh baca ff ini di mana gitu lupa ^^
    cuman mau nanya wordpress kk alamatnya apa?
    parkminjin.wordpress.com kan?

  5. uh jongdae serasa harkos gitu:/
    aaa fany moveon aaah jangan kaya gituu..
    sukaa ff nyaaa… buat sequel nya hihi bikin mereka.bersama aaaa

  6. Pingback: [Freelance] Be Warmed | Pink!

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s