Slipped (Part 5)

SLIPPED (PART 5)

Author: Summer

Main cast:

  • EXO-K’s Oh Sehun
  • SNSD’s Kim Taeyeon
  • Actress Kim Sohyun
  • EXO-K’s Byun Baekhyun

Sub Cast

·        Choi Ji Hyun

Rating: PG-13

Genre: Romance, Friendship, and School Life

Length: Chapter

Disclaimer: Inspired from my own experience and ‘FLIPPED’ movie

Warning Typo !

DON’T BE A PLAGIATOR !

DON’T BASHING PLEASE !

 

Sehun sedikit terkesiap begitu mendengar kata-kata Soohyun. ‘Berkencan ? Taeyeon dan Baekhyun ?’ “Tidak, tidak mungkin”, sangkalnya tanpa sadar. Tiba-tiba ia merasa aneh dengan dirinya sendiri. ‘Kenapa aku berkata seperti itu ?              ‘

                “Mereka berdua serasi sekali !” Puji Soohyun sembari menepuk kedua tangannya pelan. Ia belum menyadari perubahan raut wajah Oh Sehun.

                ‘Serasi ? Taeyeon dan Baekhyun ?’

Tiba-tiba Sehun merasa gelisah.

 

*************************

    Taeyeon sedang memikirkan bagaimana caranya ia bisa meminjam buku Pride & Prejudice milik Guru Choi tanpa harus bertengkar dengan Oh Sehun –kalau bisa tak usah bertemu dengannya- siang itu. Ia baru saja membeli makanan untuk Picco –kucing jingga besar pemalas miliknya- di sebuah petshop tak jauh dari perempatan ujung komplek, ketika ia melihat Guru Choi sedang kerepotan membawa begitu banyak tas plastik. Ia berhenti dan memicingkan matanya untuk melihat lebih jelas. Sepertinya Guru Choi baru saja pulang berbelanja kebutuhan bulanan di sebuah supermarket di dekat jalan besar.

Taeyeon tak tahu apa yang terjadi pada dirinya. Tapi tiba-tiba ia berlari menghampiri dan melambaikan tangannya, “Guru Choi !”

Ibu Oh Sehun atau yang kerap dipanggil Guru Choi bila di sekolah, tersenyum dengan mata berbinar. Ia tak bisa melambaikan tangannya karena masing-masing memegang dua kantok plastik besar, jadi ia hanya membalasnya dengan gerakan kepala.

“Guru Choi baru saja pulang berbelanja ?” Tanya Taeyeon setelah membungkukkan badannya sekilas. Matanya melirik beberapa bahan makanan yang menyembul dari dalam plastik.

Wanita itu mengerutkan kening tak suka. “Panggil aku Bibi Oh –kau lupa ? Ini bukan di sekolahan”, ujarnya mengingatkan.

Taeyeon meringis lebar -menampakkan giginya yang besar-besar- sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal. “Setiap kali melihat Bibi, aku selalu teringat dengan Guru Choi yang membawa buku tebalnya kemana-mana.”

Bibi Oh pura-pura merengut, “Dasar anak nakal !”

“Oh !” Taeyeon berseru, teringat sesuatu. “Biar aku yang bawakan”, ujarnya sembari menyambar semua kantong plastik yang dibawa Bibi Oh dengan cepat.

 Bibi Oh mengerjabkan matanya kaget dan berusaha menolak bantuan Taeyeon. “Eh, tidak usah ! Bibi bisa membawanya sendiri.” Ia berusaha menarik kembali kantong plastik yang dibawa Taeyeon karena merasa tak enak hati.

Tapi gadis itu masih tetap kukuh dan malah berjalan lebih cepat. “Apa membantu bibi saja aku juga tidak boleh ?” Nadanya berubah sedih karena bantuannya ditolak. Itu membuat Bibi Oh menjadi merasa amat bersalah jika tak mengijinkan gadis itu membantunya. Akhirnya ia hanya bisa mengangguk mengiyakan.

Mereka berdua berjalan menyusuri jalan-jalan kecil yang semuanya diberi tanda nama berbentuk tiang dengan plakat besi berwana hijau. “Jadi . . . .” Taeyeon memindahkan sedikit kantong plastik yang ia bawa agar sedikit lebih nyaman, “kenapa bibi tidak meminta Oh Sehun untuk ikut ke supermarket ? Setidaknya ia bisa membantu bibi membawa barang.”

Bibi Oh terkekeh mendengar pertanyaan Taeyeon. Rambutnya yang pendek, bergerak-gerak seirama tawanya. “Oh Sehun ?” Ia tertawa lagi, “Anak nakal itu mana mau membantu bibi ? Apalagi untuk hal-hal macam ini”, tukasnya menjelaskan.

Taeyeon mengernyit heran. Bertambah satu lagi sifat Oh Sehun yang menyebalkan. Dasar ! Apa laki-laki itu tak tahu kalau ibunya sudah bisa dibilang tua ? Apalagi untuk membawa barang-barang berat seperti ini ? Benar-benar kejam.

Bibi Oh melirik Taeyeon yang hany terdiam dengan ekspresi ingin marah. Ia tahu pasti gadis ini sedang membicarakan anaknya dalam hati. “Maafkan bibi” ia menengokkan kepala merasa tak enak hati, “pasti belanjaan bibi berat sekali.”

Taeyeon membuka mulutnya setengah tertawa. “Ah, tentu saja tidak”, balasnya dengan senyum lebar berusaha untuk membuat kebohongannya tak terdeteksi. “Ini tidak berat sama sekali, jadi tak usah khawatir.” Ia menggerak-gerakkan tangannya yang kebas dengan ringan seolah tak apa. Dalam hati ia membenarkan perkataan Bibi Oh. Belanjaan ini benar-benar membuat tangannya seolah tertarik ke bawah. Mungkin beratnya ada dua puluh kilogram.

“Sudah lama kau tak berkunjung ke rumah bibi,” ucap Bibi Oh sembari menggerakkan kakinya melewati genangan air kecil. “Padahal dulu saat kecil, kau tak pernah absen datang”, imbuhnya dengan mengulum senyum.

Dalam fikiran Taeyeon ia bergumul kesal. Buat apa datang ke rumah musuh menyebalkannya itu ? Bisa-bisa belum ada lima menit ada disana, ia sudah terkena darah tinggi. Namun saat mengingat rencana-nya tentang meminjam buku Pride & Prejudice, tiba-tiba ia berubah fikiran. “Ah, kebetulan sekali ! Padahal tadi aku baru saja berencana untuk berkunjung.” Ia bisa melihat wajah ibu dari Sehun itu yang berubah senang. “Sebenarnya aku berencana untuk meminjam sesuatu.”

Bibi Oh menaikkan alisnya, “Meminjam sesuatu ? Apa itu ?”

“Ehm, beberapa hari yang lalu Guru Jung menugaskan kami untuk membuat ringkasan lengkap tentang sastra klasik inggris –dan aku mendapatkan Pride & Prejudice. Tapi saat aku ke perpustakaan untuk meminjam, Nona Ahn bilang buku itu tak boleh dipinjam untuk dibawa pulang karena mahal dan langka.”

Bibi Oh masih tak mengerti arah pembicaraan Taeyeon, “Lalu ?”

“Nona Ahn memberiku usul agar meminjam milik Guru Choi”, Taeyeon mengerling sebentar dan menggigit bibirnya. “Jadi . . . “ ia menarik nafas dalam, “apa aku boleh meminjam buku itu ?” Matanya berubah memohon dan penuh harapan. Ini adalah cara terakhir untuk mendapatkan buku itu, kalau tidak –ia tak mau membayangkannya.

Di luar dugaan Bibi Oh hanya menanggapinya dengan santai. “Tentu saja boleh.” Ia menatap Taeyeon dengan penuh minat, “Di rumah, hanya Bibi yang menyukai buku-buku seperti itu.”

Taeyeon memekik senang dan lega. “Terimakasih bibi !” Saking senangnya, ia bahkan hampir saja melempar semua plastik-plastik ini kalau saja ia tak teringat bahwa semua barang ini bukan miliknya. “Bibi benar-benar baik !”

                                                ***********************

                “Eomma pulang !”

                Sehun yang sedang bermain playstation menghentikkan gerakkan jarinya diatas joystick saat mendengar seruan ibunya dari teras rumah. Tapi ia hanya berhenti sesaat dan setelah itu kembali menekuni kesibukannya bersama seperangkat alat permainan elektronik yang membuatnya tiba-tiba mirip dengan anak sekolah dasar.

                Namun sepertinya, Sehun terpaksa harus benar-benar berhenti bermain karena sedari tadi ia mendengar ibunya berteriak memanggil namanya. Ia bangkit berdiri dan melangkah dengan malas ke luar rumah.

                “Ada apa eomma ?” sahut Sehun dengan nada datar yang menjengkelkan. Ia menolehkan kepala dan hampir saja terjungkal kaget saat melihat ada sesosok orang lain bersama ibunya. Matanya mengernyit bersamaan dengan ekspresi ingin muntah yang dipasang oleh musuhnya itu.

                “Bawa kantung belanjaan eomma ke dalam !” Perintah ibunya dengan kedikan kepala ke arah Taeyeon yang sibuk menaruh kantung-kantung plastik besar penuh berisi barang keatas lantai.

                “Kenapa tidak dia saja ?” Tunjuk Sehun kearah Taeyeon “Dia sedang berperan menjadi pembantu eomma, kan ?” Sontak saja ucapannya membuat Taeyeon mendelik kesal dengan wajah merah ungu seperti habis meminum sebotol obat.

                “SEHUN !” tegur ibunya keras karena kata-kata anak lelakinya barusan sangatlah amat tidak sopan. Bibi Oh menatap Taeyeon dengan pandangan meminta maaf dan dibalas gadis itu dengan senyum maklum yang kaku. “Ambil kantung plastik yang dibawa Taeyeon dan bawa masuk kedalam rumah.” Buru-buru Bibi Oh menambahkan lagi ketika melihat raut wajah Sehun yang akan membantah, “Sekarang !”

                Sehun menyambar dua kantung besar yang ada di depan Taeyeon dengan umpatan-umpatan sebal tanpa suara. Dengan sudut mata pun ia bisa melihat gadis bodoh itu sedang meyeringai dan menertawainya dalam hati. Sial !

                “Oh ya, jangan lupa bawakan dua gelas minum untuk eomma dan Taeyeon”, pesan ibunya dari atas kursi kayu. Ia melambaikan tangannya dan meminta Taeyeon untuk duduk di kursi juga.

                Sehun menghentikan langkahnya dan berucap berang, “Kenapa tiba-tiba aku jadi diperlakukan seperti pembantu disini ?”

                “Kau itu anak eomma, jadi wajar kan kalau eomma meminta bantuanmu ?” ujar ibunya gusar karena mendengar protes dari Sehun. “Kau mau playstationmu eomma sita ?” imbuhnya mengancam.

                Taeyeon yang mendengar itu hampir saja menyemburkan tawanya keras-keras. Ia menutup mulutnya rapat-rapat dengan tangan meski sesekali giginya terlihat karena tak tahan lagi dengan eskpresi Sehun yang ngeri dan tak percaya.

                Sehun memutar bola matanya, tak berdaya dengan ancaman ibunya. “Aku kalah,” ia mendengus keras, “eomma memegang kartu as ku.” Ia berbalik masuk kedalam dan melakukan sesuai yang diperintahkan ibunya.

                “Tolong maafkan sikap Sehun tadi.” Pinta Bibi Oh kepada Taeyeon yang duduk di sebelahnya sesaat setelah putranya masuk ke dalam rumah. “Biasanya ia tak pernah sekasar itu.”

                Taeyeon hanya memberikan senyum kikuk yang ia anggap cukup sopan untuk berkata, ‘Tidak apa-apa, bibi. Aku sudah tahan dengan perilaku Sehun.’ Namun alhasil ia hanya terlihat menyeringai ganjil seolah giginya sedang sakit.

                Bibi Oh tiba-tiba tersadar dan menepuk keningnya pelan. “Astaga, bibi hampir lupa !” Ia menggengam jemari Taeyeon sekilas dan langsung berdiri, “Tunggu disini sebentar.”

                Taeyeon yang masih terkaget-kaget karena dengan kepergian Bibi Oh yang tiba-tiba hanya terdiam tak mampu bersuara. Ternyata Bibi Oh meninggalkannya cukup lama. Taeyeon menggerak-gerakkan kakinya yang mengenai lantai sembari menunggu kedatangan Bibi Oh lagi.

                TAK

                Suara benda keras yang mengenai meja kaca menarik perhatian Taeyeon dengan tiba-tiba. Ia menolehkan kepala dan mendapati Sehun sedang menaruh sebuah baki yang berisi dua gelas es sirup dingin dengan raut wajah antara kesal namun juga mencoba sabar.

                “Kau tidak mempersilahkan aku minum ?” Tanya Taeyeon ketika Sehun mulai beranjak pergi tanpa sedikitpun bicara.

              Sehun mengedikkan kepalanya samar. “Buat apa ? Toh tanpa ditawaripun kau pasti sudah langsung minum”, balasnya kurang ajar.

                Taeyeon hampir saja, ingat hanya hampir, melempar segelas es sirup itu ke muka Oh Sehun yang semakin lama ingin sekali ia pukul dengan sarung tinju milik ayahnya, jika tidak ingat, bahwa ia kesini untuk meminjam buku Bibi Oh. Mungkin sesekali ia harus membawa itu untuk berjaga-jaga bila ia bertemu Sehun lagi.

                “Nah, ini buku yang ingin kau pinjam.” Bibi Oh datang dari dalam rumah dan membawa sebuah buku agak tebal yang terlihat sudah tua sekali. Sampulnya berwarna kecoklatan dengan beberapa bagian ujungnya sedikit robek.

                Bola mata Taeyeon berbinar-binar dan kentara sekali amat sangat senang. Dengan buku itu, ia dan Baekhyun bisa menyelesaikan tugas Guru Jung. “Ah, terimakasih bibi !”

                “Eomma meminjami dia buku ?”

                Taeyeon mendongakkan kepalanya dan mendapati bahwa bocah setan itu ternyata belum pergi dan masih ada di sini. “Memangnya kenapa ?” sahut Taeyeon tak kalah sengit.

                Sehun menggerakkan bahunya bersikap sok tenang. “Yeah, tak kusangka kau bisa membaca buku.”Mulutnya menyeringai meremehkan, “Kau sudah banyak belajar ternyata.”

                “Yakk ! Kau fikir aku sebodoh itu ?!” Bentak Taeyeon merasa terhina. Astaga, laki-laki ini cari mati rupanya. Mengolok-olok Taeyeon tak bisa membaca ? Ia sudah gila ternyata !

                “Sehun jaga mulutmu !” Untuk kedua kalinya Bibi Oh kembali menegur anaknya yang hari ini sudah kelewat batas. “Eomma tidak pernah mengajarimu untuk berkata tidak sopan seperti itu !”

                Sehun yang hari ini sudah sering mendengar teguran dari ibunya, memilih untuk masuk kedalam tanpa berkomentar apapun. Seorang ibu galak dan gadis mengganggu yang menyebalkan sudah lebih dari cukup untuk membuat hidupnya sengsara.

                “Taeyeon  . . . .  “ Bibi Oh terdiam tak tahu harus berkata seperti apa untuk meminta maaf atas perlakuan Sehun barusan.

                “-bibi, terimakasih atas pinjaman bukunya. Aku pulang dulu !” ucap Taeyeon cepat-cepat. Ia memeluk Bibi Oh sekilas dan berlari ke rumahnya yang terletak tepat di sebelah rumah Oh Sehun. Dalam hati ia memperingatkan dirinya untuk tak lagi dekat-dekat dengan rumah nomor sebelas di komplek ini. Karena itu adalah pertanda musibah.

                                                                *********************************

                “Aku sudah mendapatkannya !”

                “Benarkah ?”

                Gadis berkacamat jangkrik itu mengamati percakapan dua orang -yang berjarak sekitar sepuluh meter dari tempat ia duduk- dengan kening berkerut. Tanpa terdeteksi ia terus saja mencuri dengar pembicaraan orang lain, meski sebenarnya itu bukan pembicaraan rahasia atau berbahaya lainnya.

                “Kau sedang lihat apa ?”

                Kacamata yang gadis itu gunakan bergetar karena gerak tubuhnya yang kaget. Ia mendongakkan kepalanya dan mendapati salah satu kawannya sudah duduk di sampingnya tanpa ia sadari. Tangannya dengan gugup membenarkan kacamatanya yang sudah melorot.

                “Tidak melihat apa-apa”, balasnya cepat-cepat.

                Kawannya yang bernama Hwe Ji itu menatapnya tak percaya. Rambut pendeknya yang hari ini dibentuk ikal kecil di bagian bawah, bergerak-gerak lembut. “Pembohong. Kau pasti sedang melihat Baekhyun-sunbae”, ujarnya menggoda.

                Gadis itu mengulum senyumnya, tak berniat menjawab. Ia hanya memainkan sendok yang ada diatas kotak makannya sembari sesekali ia menaikkan kaca matanya yang mulai turun lagi.

                “Omong-omong yang sedang mengobrol dengan Baekhyun-sunbae adalah Taeyeon-sunbae, bukan ?” Hwe Jin kembali mengajak teman disebelahnya bicara.

                Gadis itu menelengkan mukanya ke arah jam sebelas karena tiba-tiba kawannya berkata seperti itu. Dari jarak sejauh itu ia masih bisa mendengar percakapan dua orang seniornya meski terkadang samar. Ah ternyata nama perempuan yang dekat dengan Baekhyun-sunbe adalah Taeyeon ?, batin gadis itu dalam hati.

                “Kita akan mengerjakannya akhir minggu ini, kan ?” Suara Baekhyun yang lebih berat membuat gadis berkacamata itu tersenyum lebar.

                Namun saat Taeyeon menimpali kata-kata Baekhyun, pandangan mata gadis itu tiba-tiba berubah dengki. “Tentu saja. Aku akan menunggumu di rumahku jam delapan pagi.” Taeyeon membuat angka delapan dengan tangannya, “Bagaimana ?”

                “Baiklah !”

                “Jangan perhatikan mereka terus.” Hwe Jin mengingatkan gadis disebelahnya dengan menyentuh atas bahunya. “Kau bisa dikira akan merencakan rencana jahat oleh orang lain”, imbuhnya lagi.

                Gadis itu hanya mengangguk pelan dan tersenyum setuju kepada Hwe Jin. Sekali lagi ia mencuri pandang kearah Baekhyun dan Taeyeon yang berjalan pergi ke arah kelas bersama-sama. Merasa sarannya di dengarkan, Hwe Jin menggerakkan bahunya sekilas dan kembali menekuni jus jeruknya yang setengah dingin. Namun andai saja ia melihat bola mata kawan di sebelahnya yang sekarang sedang menunduk ke arah bawah –entah melihat apa- ia pasti terkejut bukan main.

                Berkilat-kilat berbahaya.

                                                                ******************

                “Selamat datang di kediaman Keluarga Kim !”

                Baekhyun tertawa geli melihat Taeyeon yang menyambutnya datang dengan sok bersikap resmi. Ia menyembunyikan senyumnya dan memutuskan untuk mengikuti alur drama yang sedang Taeyeon buat. “Terimakasih sudah menyambut saya, Nona Kim”, balasnya dengan nada serius dan sikap kaku yang dibuat-dibuat.

                Mau tak mau Taeyeon juga ikut terkekeh geli melihat Baekhyun yang kini menatapnya dengan pandangan yang diibaratkan amat sangat sopan sebagai orang terhormat. Namun ia menyumbat mulutnya dengan tangan dan menggeser tubuhnya agar Baekhyun bisa lewat. “Silahkan masuk kedalam, Tuan Byun.”

                Pada akhirnya saat Baekhyun melangkahkan kaki untuk memasuki ruang tamu di dalam rumah Taeyeon, tawanya tak sanggup lagi tertahan dan tersembur begitu saja. “Bisa-bisanya kau bersikap seperti itu”, tukasnya dengan mata berair karena terlalu banyak tertawa.

                Taeyeon yang mengekorinya dari belakang, tak pelak ikut tertawa dan menyalahkan Baekhyun juga. “Kau sendiri juga sama saja.” Ia meminta Baekhyun duduk dengan tangannya dan bertanya setelah laki-laki di depannya itu berhasil mengontrol diri, “Kau ingin minum apa ?

                “Apa saja tak masalah,” balas Baekhyun dengan nada biasa. Namun sebelum Taeyeon sempat pergi untuk mengambil minum ia menambahkan, “Tapi, aku akan sangat senang kalau kau mau membawakanku segelas sari jeruk dingin”, ujarnya sembari mengedip jenaka.

                Taeyeon terkekeh pelan mendengar ucapan Baekhyun. “Dasar, bilang saja kau ingin jus jeruk”, tukasnya setengah sebal setengah geli. Ia pergi menuju ke dapur dan lima menit kemudian kembali dengan dua gelas jus jeruk dingin, persis seperti permintaan Baekhyun.

                “Nah, ini dia, sari jeruk dinginmu.” Taeyeon meletakkan dua gelas yang ia bawa keatas meja. Nada suaranya menekan kata-kata sari jeruk dingin dengan dengusan keras yang berhasil ia samarkan sebagai bersin hebat. Taeyeon bisa melihat Baekhyun menyeringai lebar. Ia membiarkan dulu Baekhyun meminum jus jeruknya dan berkata, “Jadi, kita mulai mengerjakan tugasnya sekarang ?”

                Baekhyun mengangguk dan mulai mengeluarkan buku dan alat tulisnya. “Oh ya, aku sudah menyelesaikan buku ini.” Ia menyerahkan buku Pride & Prejudice yang beberapa hari lalu dipinjamkan Taeyeon setelah gadis itu selesai membaca dalam dua hari. “Hah, aku benar-benar tak menyangka bisa membaca hingga halaman terakhir.” Bahunya bergedik ngeri, malas untuk mengingat-ingat lagi.

                “Aku sependapat”, ujar Taeyeon sembari memilih duduk di sebelah Baekhyun. Ia menghela nafas panjang, “Aku sangat beruntung tidak mual-mual setelah membacanya,” wajahnya membuat ekspresi mual aneh yang lucu, “mengerikan.”

                Baekhyun baru akan mengomentari Taeyeon ketika tiba-tiba sebuah suara menginstrupsi pembicaraan mereka berdua.

                “Meoww . . . “

                Taeyeon mendadak terperanjat kaget dan seketika langsung memekik gembira, “Picco !” Ia berlari menghampiri kucing besar berwarna jingga itu dan mengangkatnya dengan satu kali gerakan. “Anak nakal ! Kemana saja kau tadi ?”

                Picco hanya membalas perkataan Taeyeon dengan meongan manja yang khas. Kucing itu mendengkur pelan di gendongan majikannya. Ekornya yang tebal dan seperti botol bergerak-gerak ringan, menjulur kebawah.

                “Oh ya, kenalkan ini kucingku, Picco”, ucap Taeyeon dengan muka berseri-seri. Ia menghampiri Baekhyun, masih membawa kucingnya yang tampak besar sekali di lengannya yang kecil.

                Namun ekspresi Baekhyun langsung berubah aneh ketika Picco berada di dekatnya. Ia menggeserkan tubuhnya menjauh dan tiba-tiba, “Hatsyuuu !” Baekhyun menutup hidungnya dengan saputangan yang ia bawa dan terus saja bersin hebat.

                “Kau baik-baik saja ?” tanya Taeyeon dengan khawatir. Ia mengamati Baekhyun yang tampaknya masih enggan untuk dekat-dekat dengan Picco.

                Baekhyun menyelesaikan bersin terakhirnya dan berkata dengan suara bergetar, “Yeah, aku baik-baik saja.” Ia mengelap hidungnya dengan saputangan dan menambahkan, “Aku hanya sedikit . . .  alergi dengan bulu kucing.” Ia kembali bersin, “Hatsyuuu !”

                Ekspresi Taeyeon langsung berubah meminta maaf dan meringis pelan. “Maaf, aku tak tahu kalau kau punya alergi dengan bulu kucing.” Buru-buru ia pergi sebentar untuk melepaskan Picco di dalam kamarnya. Kucing itu melenggang masuk dan menguap lebar.

                Taeyeon sudah mengganti baju ketika ia keluar untuk menghampiri Baekhyun yang kini tampak kepayahan karena sedari tadi terus bersin-bersin tanpa henti. “Kau benar tak apa-apa ?” tanyanya sekali lagi memastikan. Karena sepertinya keadaan temannya itu lebih dari baik. “Apa ada obat tertentu yang biasa kau minum ? Aku hanya punya obat flu biasa.”

                Baekhyun menelengkan kepalanya pelan. “Jangan khawatir, aku sudah terbiasa seperti ini”, balasnya dengan senyum menenangkan.

                “Kita pindah di meja teras depan saja”, sahut Taeyeon buru-buru. Ia mengambil semua buku dan alat tulis dengan satu kali tangkupan tangan. “Aku jamin, disana tak akan ada bulu-bulu Picco.”

                                                                **************************

                Bola mata hitam cemerlang itu mengamati kegiatan dua orang di depannya dengan hati-hati. Berkali-kali ia harus menahan rasa sakit di kakinya karena terlalu lama melakukan posisi jongkok dibalik pagar. “Apa yang sedang mereka lakukan ?” gumamnya dengan suara pelan.

                Ia terus bertahan dengan kegiatannya sampai-sampai tak sadar bahwa ada orang lain yang kini berjalan mendekatinya.

                “Apa yang kau lakukan disini, adik kecil ?”

                Seketika Sehun yang dipanggil adik kecil itu langsung berbalik dan berdiri. Bola matanya melebar ketakutan karena kegiatannya terpergok oleh perempuan cerewet dan licik yang harus ia panggil noona setiap saat.

                Sehun menggaruk-garuk kaki kirinya yang gatal dengan ujung jari kaki lainnya. “Ehm . . .  bukan apa-apa “, tukasnya cepat-cepat. Ia menggeser sedikit tubuhnya agar noonanya tak tahu apa yang sedang ia lihat tadi.

                Namun sepertinya Oh Hyejin tidak mempercayai perkataan adiknya itu. Ia mendekat dan bermaksud untuk melongokkan kepalanya dari balik pagar untuk mencari tahu.  “Kau sedang melihat apa sih ?” serunya penasaran.

                Buru-buru Sehun menyeret kakaknya pergi dan berkata, “Tidak ada apapun disana, jadi ayo kita kembali ke dalam.” Ia terus saja menarik tangan kakaknya menjauh meskipun kakaknya itu mengumpat marah karena tidak diperbolehkan tahu.

                Sekali lagi Sehun menengokkan kepalanya ke belakang untuk melihat dua orang yang sedang tertawa di teras rumah tetangga sebelahnya dengan pandangan bingung. Bagaimana bisa laki-laki itu mengenal Taeyeon ?, batin Sehun dalam hati.

                                                                                ************************

Baekhyun dan Taeyeon sedang memperdebatkan tentang karakter tokoh Fitzwilliam Darcy atau biasa disebut Mr. Darcy yang ada di novel Pride & Prejudice, ketika tiba-tiba Ibu Taeyeon datang membawa panekuk.

                “Mr. Darcy adalah tipe laki-laki yang menyebalkan dan tidak peka terhadap perempuan”, ujar Taeyeon menjelaskan. Tangannya bersedekap di depan dada.

                Baekhyun mengerutkan kening dan membantah, “Dia hanya terlalu polos dan naif. Lagipula semua laki-laki kan tidak ada yang peka pada jaman itu.”

                Ibu Taeyeon datang dan mengulum senyumnya melihat kedua anak setengah dewasa yang sedang berdiskusi itu. “Hey, hey, ada apa ini ? Sepertinya seru sekali.” Kata-katanya menengahi perdebatan kecil diantara Taeyeon dan Baekhyun.

                Ibu Taeyeon mengamati Baekhyun yang kini menggeser tubuhnya agar ia bisa ikut duduk. “Jadi ini temanmu yang satu kelompok untuk tugas gurumu itu ?” Tanya Ibu Taeyeon kepada anaknya yang ada disebrang meja. Ia meletakkan nampan berisi panekuk yang masih hangat diatas meja.

                Taeyeon hanya mengangguk mengiyakan dan itu membuat Baekhyun berbalik menghadap Ibu Taeyeon untuk memperkenalkan diri. “Maaf belum berkenalan dengan anda tadi, saya Byun Baekhyun, teman satu kelas Taeyeon”, ucap Baekhyun dengan sopan.

                Ibu Taeyeon hanya tertawa pelan. “Tidak apa-apa, bibi tahu kalau kalian pasti sedang sibuk mengerjakan tugas.” Ia berdiri dan membawa nampannya yang sekarang sudah kosong, “Tak banyak makanan yang ada disini, namun bibi harap kau akan menyukai panekuk itu. Nah, selamat belajar anak-anak !” Dan ia melenggang pergi meningglkan Taeyeon dan Baekhyun.

                “Ibumu baik sekali, eh ?”

                Taeyeon hanya mengangkat bahunya sekilas. “Bukankah semua ibu-ibu seperti itu ?” Ia menarik sepiring panekuk maple dan memotongnya dengan garpu. “Segera makan panekuk-nya atau kalau tidak ibuku yang akan menyuapkan itu untuknya”, sahutnya dengan nada menggoda.

                Baekhyun terkekeh mendengar ucapan Taeyeon dan ikut memakan panekuk-nya dengan gerakan pelan. Ia memasukkan sepotong panekuk-nya kedalam mulut dan bertanya, “Kau anak tunggal ?”

                Taeyeon menggelengkan kepalanya, masih sembari mengunyah, “Dua”, jawabnya dengan mulut penuh. Ia melihat wajah kebingungan Baekhyun dan menjelaskan, “Picco –maksudku kucing jingga tadi- sudah terdaftar dalam akta keluarga.”

                Baekhyun hampir saja memuntahkan panekuknya saat mendengar ucapan Taeyeon. “Kucing itu terdaftar dalam akta keluarga ?” serunya tak percaya.

                Taeyeon hanya tertawa karena ia sudah hapala semua orang pasti akan bersikap sama ketika ia bercerita tentang hal itu. “Ya, aku meminta kepada ayah dan ibuku untuk mendaftarkannya sejak ia kecil.”

                Baekhyun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat satu kelakuan tak wajar dari  Taeyeon. “Orangtuamu pasti tak memberi ijin dengan mudah”, tebaknya dengan alis terangkat,

                Taeyeon tertawa mendengar kata-kata Baekhyun yang terdengar sarkastik. “Tentu saja ! Mereka bahkan sempat memindahkan Picco ke rumah salah seorang sepupuku. Tapi aku membangkang dan terus merengek. Pada akhirnya mereka menyerah dan menuruti permintaanku”, balasnya dengan nada bangga.

                Baekhyun memutar bola matanya, gadis di depannya ini benar-benar keras kepala dan tangguh. Agak sedikit aneh namun penyanyang jika diperhatikan lagi. Dan itu benar-benar menarik, tentu saja.

                “Oh ya, omong-omong aku minta maaf karena bulu-bulu Picco membuat alergimu kambuh.” Sudut mata Taeyeon menatap Baekhyun yang sedang sibuk dengan potongan panekuk-nya. “Besok-besok kita mengerjakan di teras saja atau kalau tidak kita pindah ke rumahmu ?”

                Baekhyun menggerak-gerakkan jari telunjuknya, menolak. “Kau jangan merasa tak enak hati hanya karena itu. Aku tak apa, sungguh.” Ujarnya meyakinkan. Taeyeon mengangguk setuju, namun Baekhyun masih belum menyelesaikan kata-katanya. “Lagipula kucingmu lucu-“

                Taeyeon hanya tersenyum samar mendengar pujian Baekhyun tentang Picco, kucingnya.

                “-sama seperti pemiliknya”, imbuh Baekhyun sembari menatap Taeyeon dengan bola matanya yang hampir kecoklatan.

                Sepotong panekuk yang ditusuk dengan garpu oleh Taeyeon, hampir saja terjatuh ke lantai kalau ia tak sigap menaruhnya lagi di piring. Taeyeon menundukkan wajahnya yang memerah dan sesekali melirik Baekhyun yang nampak tenang saja memakan panekuknya.

                Ia salah tingkah.

                                                                                                TBC

Hai semuaaaa . . .

Maaf ya baru bisa update sekarang, soalnya banyak yang belum diedit gitu. Meski pada akhirnya FF ini jatuhnya aneh banget, maaf ya T.T Oh ya buat yang kepo sama si kucing jingga-gendut punya Taeyeon, aku kasih tau, sebenernya itu nama kucing aku. Kalau mau tau ini kucingnya, lucu ya :3

 

Well, semoga masih ada yang sudi buat baca dan komen FF ini, soalnya aku sendiri merasa FF ini makin lama makin absurd. Oh ya kapan kapan mampir ke wp ku Summer’s Note ya  ^^

Papoy !

38 thoughts on “Slipped (Part 5)

  1. asdfghjkl BaekYeon moment nya ><
    Loh sehun mulai cemburu ya sama Taeyeon. ciecieeee… btw, yeoja yang ngintip Baekhyun Taeyeon lg ngobrol siapasih? aku kepo. next chap harus lanjut okeeee (y)

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s