[Freelance] Sleep Guardian

sleep-guardian-by-twinsomnia

Sleep Guardian

by

TWINsomnia™

Tittle : Sleep Guardian || Main Casts : EXO-M’s Zhang Yi Xing (Lay) and SNSD’s Tiffany Hwang || Sub casts : EXO-M’s Kris Wu, SNSD’s Jessica Jung, SUJU’s Kim Heechul || Genre : Fantasy, romance, a little angst._.v || Rating : General || Length : Oneshoot || Disclaimer : The story and the plot ORIGINALLY MINE. Some actions are inspired by some stories || Credit Poster : hayiart.wordpress.com

Annyeong~~^^ Author bawa FF Fantasy dengan pairing Lay-Fany J Karena genrenya Fantasy, jadi semua di FF ini jangan dianggap serius~^^

Dan juga, FF ini dikeluarkan dari otak lebay dan gaje saya, jadi harap maklum jika alur, atau apapun itu dalam FF ini yang gaje, atau menurut readers sekalian lebay-____-v Dan kalau hal itu terjadi, salahin FFnya, jangan salahin athornya._.v *lha?*

Semoga suka~~^^

Close this page if this FF doesn’t make any interest with you. Or if you don’t have any interest for the tittle and the pairing.

WARNING TYPO!!

Visit my blog https://parkminjinra.wordpress.com/

Happy reading then~ J

***

Malam sudah larut saat aku memasukkan mobilku ke garasi. Setelah keluar dan menutup pintu mobil, sempat ku lihat sebentar jendela depan.

Aish, sudah lewat tengah malam tapi dia belum tidur juga?

“Aku pulang..” sapaku sambil masuk ke rumah.

Dia yang awalnya sibuk menatap TV -yang saat itu menayangkan film action– mengalihkan pandangannya padaku. Seketika dia tersenyum ramah -membuat mata itu ikut tersenyum- dan menghampiriku. “Bagaimana pekerjaanmu?” tanyanya sambil membantu melepas jasku.

Dia tidak perlu bertanya “Kenapa larut sekali?”, karena setiap hari aku pulang jam segini.

Aku tersenyum simpul. “Melelahkan,” jawabku pelan.

Dia terkekeh pelan, sudah tahu jawabanku. “Sudah makan malam? Aku masih menyimpan sup miso dalam penghangat,” tanyanya lembut sambil mengambil tas kerjaku. Aku menggeleng pelan sebagai jawaban, dan dia tersenyum lembut. “Mau ku temani makan malam?” tanyanya lagi.

Aku mengangguk mengiyakan. Ingin aku menolak, tapi tidak bisa. Entahlah, mungkin suaranya punya kekuatan magis yang bisa membuat orang yang mendengarnya mengikuti kemaunya.

“Kau mandilah, akan ku siapkan makan malamnya,” ucapnya sebelum mengecup pipiku sekilas lalu masuk ke kamar untuk menaruh jas dan tas kerjaku.

***

Kami duduk berhadapan di meja makan. Aku menghabiskan makan malamku, sedangkan dia membaca komik komedi yang baru saja dibelinya 2 hari yang lalu. Sesekali cekikikan jika ada bagian yang lucu.

Tak ada yang bisa kulakukan, jika hanya ini yang bisa membuatnya nyaman. Yang bisa membuatnya tetap di sisiku.

Ku lirik sekilas botol kopi yang bersarang di tempat sampah3 botol. Hari ini dia sudah menghabiskan 3 botol.

Ku tatap matanya -yang masih fokus pada komik- dan sesekali mata itu menyipit seperti bulan sabit yang terbalik jika dia tertawa. Mata itu mengisyaratkan kelelahan yang sudah sangat jelas terpampang. Mata itu butuh istirahat. Mata indah itu harus istirahat.

“Fany-ah,” aku memanggil namanya. Dia mendongak menatapku. “Apa matamu itu tidak sakit? Apa tidak perih?” tanyaku.

Seperti dugaanku, dia tertawa renyah mendengar pertanyaanku barusan. Well, bukan sekali itu saja aku menanyakan hal ini. “Apa mulutmu tak bosan menanyakan hal itu terus?” sahutnya. “Aku baik-baik saja.”

“Kau tidak baik-baik saja,” balasku skeptis. “Kau lelah, mata itu juga, kalian lelah.”

Dia tersenyum simpul. “Aku baik-baik saja, Lay-ah. Tak usah cemas, bukannya aku sudah biasa seperti ini?”

Aku menghela napas. “Tapi, takkah kau kasihan pada matamu? Dia juga butuh istirahat.”

“Kau hanya mementingkan mataku? Sedangkan anggota lainnya kau acuhkan?” dia menyahut dengan senyuman.

Ani, bukan itu maksudku,” balasku cepat.

Dia kembali tertawa pelan. “Jika ini bisa membuatku tetap di sisimu, aku sanggup melakukannya.”

Aku segera mendongakkan kepalaku begitu merasakan mataku memanas. “Itu tidak adil.”

Dia tersenyum tipis sambil menghapus airmata yang ingin jatuh dari mataku. “Uljimma. Kau lelah. Cepat habiskan makananmu, lalu tidur.”

Seketika airmataku berhenti mengalir—sudah ku bilang, suaranya memiliki kekuatan magis yang kuat. Karena itu aku membutuhkannya. Dia senyumanku, dia airmataku, dia lelahku.

Dia adalah segalanya bagiku.

***

“Fany-ah,” panggilku. Dia yang sedang duduk di sisi tempat tidur sambil membaca komik komedinya mengalihkan pandangannya padaku. “Cobalah, sekali ini saja,” ujarku yang sudah terbaring di sampingnya.

Dia menggeleng cepat.

“Ku mohon, kau harus belajar. Tidak mungkin selamanya kau tidak tidur,” paksaku.

Dia kembali menggeleng. “Kita akan coba malam Minggu saja, besok kau kerja.”

“Tidak apa, masalah kerja itu tidak usah dipusingkan. Ku mohon, sekali ini saja,” pintaku.

Dia kembali menggeleng. “Malam Minggu, aku janji.”

Seketika aku terdiam. Ingin aku mengeluarkan bantahan, tapi tidak bisa. “Janji?”

Dia mengangguk pasti sambil tersenyum simpul. “Aku baik-baik saja, tidurlah,” dia menarik selimut untuk menutupi tubuhku.

***

Aku menggeliat pelan saat merasa cahaya matahari pagi mengusik tidurku. Di tambah suara cicitan burung yang sibuk mencari sarapan dan bau tanah yang masih segar setelah tercampur dengan embun.

Aku segera beranjak turun ke dapur, dan mendapatinya sedang membuat sarapan.

Kantung mata itu, semakin tebal dan mengganggu kecantikannya, tapi tetap tidak mengurangi rasa cintaku padanya. Malah ku rasa -setiap hari, semakin lama- aku semakin mencintainya.

Annyeong, chagi~” sapaku sambil memeluknya dari belakang dan mencium pipinya sekilas.

“Hei, bagaimana tidurnya? Nyenyak?” balasnya.

“Ya, selama kau ada di sampingku,” jawabku sambil mencium tengkuknya, seketika aroma sabunnya menyeruak masuk ke hidungku.

Dia tertawa renyah. “Ya! Cepat mandi sana, tidak lihat sudah jam berapa?” ujarnya sebal.

Aku balas tertawa sambil melepaskan pelukanku dan berjalan ke arah kamar mandi.

***

Hari masih sore. Aku sedang sibuk dengan laptopku dan dia sibuk dengan IPadnya. Duduk berhadapan di ruang kerjaku.

Ku lirik matanya sekilas -mata dibalik kacamata anti radiasi itu- . Mata yang semakin menunjukkan kelelahan.

“Fany-ah,” panggilku. Dia segera mendongak. “Kau sedang apa?”

“Membaca fanfiction,” jawabnya sambil tersenyum. Aku balas tersenyum lalu kembali fokus ke laptopku.

Ini malam yang ku tunggu-tunggu. Malam Minggu. Malam ini dia harus menepati janjinya.

***

“Tidurlah,” ujarku lembut.

Kami sudah bersiap untuk tidur, dengan lenganku sebagai bantal untuknya. Sekalipun ini membuat lenganku sakit dan kesemutan, apapun untuknya, asalkan ini membuatnya nyaman. Asalkan ini bisa mengistirahatkan matanya sebentar.

Dia menatap kosong ke langit-langit kamar, lalu menggeleng pelan.

“Ayolah.”

Kembali dia menggeleng. “Aku takut.”

“Tak ada yang perlu ditakutkan, aku ada disini.”

“Tidak.”

Aku menghela napas. Aku tidak boleh tunduk pada suaranya. “Ku mohon, kau sudah janji bukan?”

Dia terdiam. “Tapi, bagaimana aku tidak bangun lagi?”

“Aku yang akan membangunkanmu.”

“Tapi, jika kau tak bisa?”

Giliran aku yang terdiam.

“Ku mohon, untuk menepati janjimu. Hanya untuk menepati janjimu,” aku menggenggam tangannya erat. Dia tersenyum tipis. “Kau mengantuk, aku tahu itu. Matamu tak bisa bohong,” tambahku.

Dia terdiam lama, matanya masih menatap kosong ke langit-langit kamar. “Tetaplah seperti ini,” ucapnya pelan.

“Aku janji,” sahutku. “Aku ada di sini, tak ada yang perlu dicemaskan.”

Dia tersenyum dan menatapku. “Aku tahu. Kau tidak akan meninggalkanku.”

Kemudian, hening. Aku mengelus-elus rambutnya, dan semakin lama matanya meredup. Dengan sangat perlahan dia memejamkan matanya, sampai akhirnya mata itu tertutup sempurna.

Dengan pelan, aku mematikan lampu yang ada diatas meja disamping tempat tidur dengan tanganku yang lain, membuat kamar ini menggelap. Hanya ada sedikit cahaya bulan dari luar. Dan aku kembali menggenggam tangannya.

5 menit..

10 menit..

15 menit.. Sejauh ini baik-baik saja.

30 menit.. Ku harap dia tetap seperti ini.

45 menit.. Aku mulai mengantuk. Tidak! Aku tidak boleh tidur! Aku harus menjaganya! Ini tidak sebanding dengan dirinya yang menghabiskan setiap malam tanpa tidur.

Mataku yang terpejam -tanpa ku sadari- terbuka dengan cepat saat merasakan tangannya basah oleh keringat. Kembali ku elus lembut rambutnya, tapi tidak membuat keadaan membaik. Dia megap-megap.

“Fany-ah! Fany-ah, iroena!” ucapku keras sambil mengguncang ke-2 bahunya.

Dia semakin kesulitan bernafas, sedangkan aku semakin berusaha membangunkannya dengan airmata yang sudah membanjiri pipiku.

Bagaimana jika dia tidak bangun lagi?

Cepat-cepat ku hapus pikiran itu dari otakku. Ayolah, dia pasti bangun, dan dia pasti akan mentertawakanku yang sudah menangis ini.

“Fany-ah! Iroena!! Tiffany Hwang!!” aku semakin keras mengguncang bahunya, dan airmataku menderas. “Ku mohon,” kali ini aku memeluknya erat. “Ku mohon bangun dan lihat aku! Aku masih di sisimu,” aku terisak.

3 detik kemudian dia terbangun. Keringat membasahi wajahnya yang pucat, dia terengah dan menatapku takut.

Melihat itu, kembali aku memeluknya, sangat erat. Ku cium sekilas pipi dan keningnya berkali-kali. “Kau kembali,” ucapku senang. Dia masih terengah dan matanya menunjukkan ketakutan dan kebingungan dengan jelas.

Terlambat 1 menit saja, aku akan kehilangannya.

“Lay-ah,” panggilnya pelan.

“Ya, aku di sini. Aku tidak meninggalkanmu, aku menjagamu.”

“Aku takut,” ucapnya pelan.

Aku mempererat pelukanku. “Aku di sini,” aku tak tahu sudah berapa kali mengucapkan kalimat itu untuk menenangkannya. “Ada aku, tak ada yang perlu ditakutkan.”

***

Setelah kejadian -yang bisa dibilang- menegangkan tadi, aku dan Tiffany duduk di balkon kamar kami sambil menatap bulan purnama malam ini.

“Kau harus menjagaku baik-baik malam ini,” katanya setelah jeda hening yang cukup lama. “Mungkin saja banyak drakula atau vampire yang keluar mencari mangsa saat ini,” tambahnya sambil tersenyum—otomatis mata itu ikut tersenyum.

Aku tertawa kecil sambil mengacak rambutnya pelan, lalu menariknya dalam rangkulanku.

“Lay-ah,” panggilnya. Aku membalasnya dengan gumaman. “Pernahkah kau bermimimpi bertemu dengan binatang fiksi?”

“Maksudmu?”

“Bertemu dengan binatang yang sebenarnya hanya ada di dongeng,” jawabnya sebelum menoleh padaku. “Apa kau punya keinginan seperti itu? Atau setidaknya, pernah?”

Aku berpikir sambil menatap bulan. “Pernah. Waktu aku masih kecil, aku ingin sekali bertemu kuda pegasus,” jawabku lalu menoleh menatapnya. “Supaya aku bisa terbang dengan bebas ke manapun dengan cepat lalu tidak memakan banyak biaya dan tidak mengeluarkan polusi,” tambahku panjang lebar.

Dia mengangguk-anggukan kepala sambil mengalihkan pandangannya pada bulan.

Aish, kenapa ke bulan lagi? Aku hanya ingin dia menatapku seorang.

Astaga, aku berlebihan sekali! Itu hanya bulan, hanya benda mati!

“Aku ingin sekali bertemu Unicorn, lalu jika bisa, aku ingin mengambil sedikit darahnya,” jawabnya menerawang.

“Kenapa?” tanyaku bingung.

“Darah Unicorn punya kemampuan untuk menyembuhkan segala penyakit dan luka, bahkan bisa membangkitkan orang mati,” jawabannya ini -menurutku- kurang cocok untuk pertanyaanku. “Kenapa jadi aku ingin? Karena aku tidak mau merepotkan dan mencemaskanmu lagi,” tambahnya tak lama kemudian.

Mwo?”

Dia tertawa kecil. “Menyembuhkan penyakit tidurku ini. Supaya aku tidak mencemaskan dan merepotkanmu lagi.”

Aku mengangguk-angguk sambil ber-“ohh” ria.

Tidak, aku tidak merasa direpotkan. Justru aku merasa, bahwa akulah yang merepotkanmu.

Aku memaksakan tersenyum dan mengelus pucuk kepalanya. “Kau percaya dengan itu?” tanyaku lembut.

Dia mengangguk bersemangat. Ku akui, terkadang dia bertingkah polos, tapi aku menyukainya. “Mungkin ini mustahil, tapi tak ada salahnya juga jika mempercayainya ‘kan?”

Aku mengangguk lalu menaruh kepalanya dipundakku.

Ya, kau benar. Dan aku ingin mencarikannya untukmu.

***

Aku menghampirinya yang sedang duduk di meja ruang kerjaku. Sedang membaca novel sambil mendengarkan musik lewat earphone-nya.

Aku menaruh cangkir capuchino-ku di atas meja dan dia langsung mendongak, tersenyum ramah lalu kembali membaca novelnya.

Aku tersenyum geli sambil duduk di hadapannya. Sudah 2 hari lewat sejak percobaan tidurnya -untuk kesekian kalinya- . Jujur, aku jadi merasa diriku sangat bodoh dan merasa sangat bersalah. Dia jadi takut -sepenuhnya- pada tidur. Matanya sangat lelah, aku tahu itu. Matanya butuh istirahat jangka panjang, seperti waktu beruang kutub ber-hibernasi. Kantung mata itu memang tidak mengurangi kebaikannya, keanggunannya, eye-smilenya yang sangat berharga, hanya saja kantung mata itu membuatnya terlihat semakin lelah dan lemah.

Aku tak tahu pasti sejak kapan Tiffany begini. Yang jelas, ibu Tiffany mengatakan padaku, “Tiffany tidak bisa tidur, tidur hanya akan menyebabkannya tak bisa bernapas. Kami tak tahu kenapa. Dokter bilang tidak tahu tentang ini. Mungkin penyakit yang sangat langka atau memang tubuh Tiffany yang seperti itu,” tak lama setelah mengetahui hubunganku dan Tiffany. Beliau juga memintaku untuk menjaga Tiffany jika ia tertidur dan segera membangunkannya jika Tiffany mulai tak bisa bernapas.

“Fany-ah,” panggilku pelan. Dia mendongak sambil melepas earphone-nya. “Hari Kamis-Minggu kantorku mengadakan pertemuan di Tokyo,” kataku.

Dia mengangguk pelan sambil tersenyum.

“Jadi.. Aku.. Apa kau tak apa..” aku mulai gugup. Ku garuk tengkukku yang tidak gatal.

Dia tersenyum. “Nan gwaenchana,” ucapnya mengerti sekaligus menenangkan.

Jeongmal?” aku meyakinkan. Dia mengangguk pasti. “Aku akan minta Jessica noona untuk menemanimu selama aku pergi,” tambahku.

“Kenapa mesti ditemani segala? Aku tidak apa-apa. Aku akan mengunci pintu setiap malam dan tidak akan tidur,” sahutnya heran.

“Tak apa, hanya supaya aku bisa memastikan kau baik-baik saja,” balasku. “Lagipula, Heechul hyung sedang tidak ada di rumah juga. Dia sedang ada proyek di Busan.”

Dia berpikir sebentar. “Baiklah, kapan kau akan berangkat?”

“Lusa.”

Dia mengangguk-angguk mengerti. “Aku akan membantu menyiapkan barang-barangmu.”

***

Aku menatap kosong jendela hotel yang sedikit berembun karena hujan yang baru saja reda sekitar 10 menit lalu. Ini sudah hari Sabtu. Aku benar-benar tak sabar ingin pulang ke Korea besok siang. Aku juga senang mendengar Jessica noona mau menghilangkan phobia Tiffany terhadap tidur. Beberapa malam terakhir ini, ku dengar Tiffany sudah dapat tidur dengan tenang tanpa sesak nafas lagi. Aku jadi heran dengan Jessica noona. Dia hanya seorang kakak ipar bagi Tiffany, sedangkan aku yang suaminya kenapa tidak bisa? Entahlah, mungkin taktik Jessica noona lebih baik dari taktikku.

Semenjak mendengar keinganan Tiffany yang ingin bertemu Unicorn, aku jadi sering mencari keterangan tentang makhluk itu di internet. Dan hasilnya, hanya sederet dongeng yang keluar dari sekian banyak hasil pencarian.

Ya!”

Aku terlonjak kaget dan langsung menoleh, mendapati Kris hyung yang sudah berdiri di sampingku sambil menepuk pundakku keras. “Wae, hyung?”

“Ada masalah?” tanyanya cemas.

Aku menggeleng pelan sambil tersenyum tipis. “Aniyo, gwaenchanayo, hyung.”

Dia mengangguk-anggukkan kepala. “Kau mau ku ajak jalan-jalan?”

Mwo?”

“Oh, ayolah! Hari ini hari terakhir kita di Tokyo, dan kita sedang tidak sibuk. Kau tidak mau membawakan oleh-oleh untuk Tiffany?”

Aku berpikir sebentar. Benar juga kata Kris hyung. “Baiklah, kajja!”

***

Kris hyung mengajakku ke pecinan yang tak jauh dari hotel kami.

“Lay-ah, lihat yeoja itu!” Kris hyung menunjuk seorang yeoja dengan pakaian ketat di seberang jalan saat kami diperjalanan tadi.

Ya! Kau mau menghasutku agar berselingkuh?” sahutku sebal, sedangkan Kris hyung tertawa terbahak di sebelahku. Walaupun lebih tua dari aku, Kris hyung belum menikah.

“Apa yang ingin kau beli di sini?” tanyaku saat kami sudah di pecinan.

“Entahlah, kita lihat saja dulu,” jawab Kris hyung santai sambil berlalu.

“Hei, Lay-ah,” panggil Kris hyung tiba-tiba.

Ne? Wae, hyung?”

“Kau bawa ponselmu, kan?”

Aku mengangguk. “Bawa, kenapa?”

“Tidak apa,” balasnya santai. “Untuk jaga-jaga jika kita terpisah,” tambahnya. “Kalau kita terpisah, langsung telpon saja. Atau jika berani pulang ke hotel saja langsung.”

Aku tertawa kecil mendengar ide Kris hyung. “Kau bilang seperti itu seakan kita memang akan terpisah,” ujarku. “Tenang saja, hyung. Aku bukan anak kecil yang akan menangis seperti kehilangan ibunya,” tambahku enteng sementara Kris hyung mendelik kesal.

Dan akhirnya, apa yang dikatakan Kris hyung benar—mungkin ini balasannya karena aku sudah meremehkan yang lebih tua. Kami terpisah karena pecinan ini sangat ramai. Aku sudah menelpon Kris hyung, yang menyuruhku untuk segera pulang jika aku sudah selesai. Ku akui, dia seperti ayahku.

Aku tersesat dibagian yang tersudut. Buktinya, wilayah ini masih bagian dari pecinan tadi, tapi sangat sepi. Ditambah suasana remang-remang dan lembab. Aku tidak tahu kenapa aku bisa sampai ke sini, padahal sebelum ke sini aku berada di bagian pecinan yang ramai, dan beberapa kantung plastik belanjaan -oleh-oleh khas Tokyo- memenuhi tanganku.

Aku berhenti melangkah saat sampai di depan sebuah toko souvenir. Di etalase toko, terpajang banyak serba-serbi souvenir Unicorn. Dari gantungan kunci, pahatan kayu, boneka, kalung..

Dengan ragu, aku melangkah masuk. Bunyi kemerincing bel yang dipasang di atas pintu menyambutku.

“Selamat datang,” suara seorang yeoja paruh baya dengan bahasa Jepangnya yang kental sukses mengejutkanku. “Ada yang bisa saya bantu, Tuan?” tanyanya pelan dan datar.

“Saya ingin lihat-lihat dulu,” jawabku dengan bahasa Jepang yang pas-pas-an.

Yeoja itu mengangguk pelan dengan wajah datarnya yang menatapku—beliau mengingatkanku dengan penyihir dalam film Brave, hanya saja yeoja ini berwajah datar tanpa ekspresi. “Silakan, kalau begitu.”

Aku menatap ke sekeliling toko kecil ini. Bisa dibilang, kotor -sarang laba-laba bergantungan di setiap sudut ruangan, bahkan dibeberapa rak toko- , dengan sedikit kesan mengerikan dan horor, sepi, remang-remang dan lembab. Tapi, ku akui, barang-barang yang ada di toko ini bagus-bagus. Entah aku bilang ini karena semua benda-benda ini bertema Unicorn, atau karena Tiffany menyukai Unicorn.

“Berapa harga pahatan ini?” tanyaku sambil menunjuk sebuah pahatan Unicorn dari kayu, dengan seorang ksatria -mungkin- di atasnya.

“Karena itu benda lama, gratis,” jawab yeoja paruh baya itu, masih dengan nada datar.

“Serius? Lalu, 2 gantungan kunci ini?” tanyaku lagi sambil menunjuk 2 buah gantungan kunci dengan Unicorn sebagai gantungan.

“Juga gratis,” jawabnya singkat. “Semua benda yang dijual di sini adalah benda lama, jadi semuanya gratis.”

Aku menatapnya terkejut. “Gratis? Tapi, dengan begitu anda jadi bangkrut,” sahutku. Yeoja itu tak menyahut, jadi aku kembali sibuk memilih-milih souvenir untuk Tiffany.

Tapi, setelah dipikir-pikir lagi, jika aku mengambil banyak benda, maka yeoja ini, lama kelamaan akan kehabisan barang jualannya. Jadi, aku hanya mengambil pahatan dan 2 gantungan kunci tadi.

“Saya mengambil ini,” kataku. “Tidak apa, kan?”

Yeoja itu mengangguk sekali. “Ambillah. Semoga bisa bermanfaat. Terima kasih sudah berkunjung,” balasnya -masih dengan nada datar- .

Ku masukkan pahatan dan 2 gantungan kunci tadi ke dalam salah satu kantung belanjaanku sambil melangkah keluar, sebelum mengucapkan terima kasih banyak tentunya.

“Lay-ah!” panggil Kris hyung.

“Ah, hyung!”

Kris hyung berlari menghampiriku. “Untung aku belum pulang ke hotel. Firasatku mengatakan kau masih berkeliaran di sini,” ujarnya setengah sebal.

“Hehe, mianhae, hyung,” aku nyengir.

“Kau dari mana saja, sih? Banyak sekali belanjaannya,” tanya Kris hyung heran.

“Sebenarnya, aku dari sana,” jawabku sambil menunjuk lorong di belakangku sebentar. “Tapi, begitu aku melihat ada jalan ke sini, aku jadi penasaran.”

“Ish, kau ini. Kalau ada preman bersarang di sini bagaimana? Apa kau bisa berbahasa Jepang dengan baik? Tck, bisa-bisa besok kau tak jadi pulang kalau itu terjadi,” omel Kris hyung.

Aku tertawa geli. “Gwaenchana, hyung. Aku masih bisa menggunakan jurus bela diri yang diajarkan Tao,” sahutku. “Oh, hyung, kau harus berkunjung ke toko ini! Kondisinya memang tidak memungkinkan, tapi barangnya bagus-bagus!” ajakku berpromosi sambil melihat sebentar ke toko souvenir tadi.

Aku di buat melongo melihat toko itu—sekarang sudah berubah total. Beberapa menit yang lalu, lampu yang menyala temaram masih terlihat dari luar, tapi sekarang, semua itu gelap! Pintu masuk dan kaca etalase sudah ditutupi dengan kayu yang terlihat lapuk dan tua.

“Apa? Ke sini? Bagaimana kita masuknya?” tanya Kris hyung dengan nada meledek.

Aku menggeleng dan mengerjapkan mata berkali-kali—tak percaya. “Ani! Aku yakin, tadi tidak seperti ini!” elakku sambil menatap Kris hyung, yang menatapku dengan tatapan meremehkan. “Aku yakin, hyung! Tadi tidak ada kayu-kayu itu! Dan lampunya masih menyala temaram!” tambahku.

“Oke, oke. Apapun itu, aku tidak percaya,” balas Kris hyung enteng. “Kajja, kita pergi dari sini! Aku lapar,” Kris hyung menyeret paksa lenganku, yang masih terbingung dengan apa yang terjadi.

Ini semua nyata, ‘kan?

***

“Jadi, kau beli mainan kayu dari ‘toko khayalan’-mu itu?” tanya Kris hyung saat kami sudah di hotel malamnya.

Aku yang sedang memandangi pahatan Unicorn menyahut sebal. “Itu bukan toko khayalan, aku yakin. Aku memasuki toko itu dan bertemu dengan pemiliknya,” kataku. “Dan, pahatan dan gantungan kunci ini, aku diberi, tidak beli,” tambahku.

“Terserahlah,” sahut Kris hyung. “Mungkin saja pemilik toko itu hantu. Bagian di sana saja sangat sepi. Lagian kau juga, berani masuk ke tempat asing dan sepi,” Kris hyung merebut pahatan Unicorn dari tanganku dan mengamatinya.

“Bagus, ‘kan?”

Kris hyung mengangguk. “Di buat dengan ketelitian dan ketekunan yang tinggi,” ujarnya asal. “Kenapa pemilik toko itu memberikannya padamu?” tanyanya heran sambil mengembalikan pahatan Unicorn padaku.

“Aku tidak tahu pasti, tapi katanya, karena ini barang lama.”

“Barang lama?” ku lihat mimik Kris hyung yang seperti menahan tawa.

Aku menatapnya sebal. “Ya! Kalau mau tertawa, tertawa saja!”

“Hahahaha!” akhirnya dia keluarkan juga.

“Sudahlah! Jangan salahkan aku, siapa suruh punya toko di pinggiran, padahal barang-barangnya bagus-bagus.”

“Hei, aku tidak menyalahkanmu,” ujar Kris hyung setelah tawanya berhenti sambil mengusap ujung matanya.

Hyung sendiri beli apa?”

“Tuh,” Kris hyung menunjuk 2 kantung belanjaan yang ditaruhnya di sisi tempat tidur dengan dagunya.

Mwo?? Hanya 2?? Padahal dia yang mengajakku, tapi dia hanya belanja sedikit?? Tidak adil!

***

Jam sudah menunjukkan pukul 3PM waktu Tokyo saat ponselku berdering, tanda ada panggilan masuk. Kris hyung yang tidur di ranjang sebelahku bergerak terganggu.

Yeoboseyo?” ucapku pelan.

“Lay-ah! Tiffany! Dia kumat!” suara cempreng Jessica noona menyahut.

Mwo?! Apa yang terjadi, noona??” tanyaku keras. Sukses membuat Kris hyung menatapku sebal, dan dengan gerak mulut menyanyakan “Ada apa?”

“Aku tidak tahu, seperti biasa aku mencoba menidurkannya. Tapi 90 menit kemudian dia jadi sesak napas,” jelas Jessica noona cemas. “Aku sudah mengguncangkan bahunya keras-keras, seperti yang kau bilang padaku. Dia terbangun, tapi hanya sebentar, lalu pingsan lagi. Jadi aku membawanya ke rumah sakit. Dan sekarang dia koma,” ku dengar suara Jessica noona bergetar. Mianhae, Lay-ah.”

Wajahku sedikit basah oleh keringat dan airmata yang mengalir sedikit dari mataku saat Kris hyung duduk di sisi ranjangku. “Ne, noona tolong jagakan dia. Besok pagi aku akan pulang secepatnya, lalu langsung ke rumah sakit,” aku mengakhiri panggilan.

Kris hyung menatapku. “Tiffany kumat?”

Aku mengangguk. “Bahkan lebih parah, dia koma.”

Kris hyung menepuk-nepuk pundakku pelan. “Tidurlah, besok kita harus pulang.”

***

Di mana ini?

Dari tadi pertanyaan itu bersarang di otakku.

Aku berada di sebuah hutan pinus, yang sepi dan lembab. Tak ada yang bisa kulakukan selain berjalan terus sambil berteriak-teriak—menyanyakan apakah ada orang lain selain aku. Suaraku menggema, ditambah dengan bunyi gesekan rumput liar saat ku lewati atau ku injak.

Drap, drap, drap!

Aku menoleh cepat ke belakang saat mendengar derap langkah. Kuda, mungkin?

Derap langkah itu jelas sekali terdengar, membuatku mesti memutar-mutar tubuhku untuk melihat makhluk apa yang sudah menimbulkan bunyi itu.

“Mencari sesuatu?”

Aku terlonjak kaget saat mendapati seorang namja dengan kostum ksatria lengkap sudah berdiri di belakangku.

Hei, sepertinya aku mengenalnya. Ah, tidak. Kalimat “mengenalnya” tak cocok digunakan untuk orang ini. Aku tidak mengenalnya, tapi aku memilikinya. Dia adalah ksatria yang menunggangi Unicorn di pahatan kayu yang diberikan oleh yeoja paruh baya itu.

Aku masih belum bisa mengatur napasku saat kulihat kepala kuda bertanduk muncul dibalik semak-semak.

Hei, itu bukan kuda! Itu Unicorn!

Unicorn itu melangkah pelan ke Ksatria -yang mungkin pemiliknya-. Ksatria itu langsung mengelus-elus leher Unicorn lembut.

“Ak.. Aku.. Ini, dimana?” tanyaku gugup.

“Menurutmu?” Ksatria itu balik tanya.

Aku menatap sekeliling. Entah kenapa, aku merasa tak asing dengan hutan ini. Apa ini Hutan Terlarang dalam dunia Harry Potter? Tapi, kenapa suasananya sangat damai? Tak ada Centaurus,  tak ada Thestral—oh iya, aku lupa kalau aku belum pernah melihat kematian, atau binatang-binatang aneh lainnya. Dan aku tidak melihat gedung sekolah Hogwarts yang tinggi menjulang, atau setidaknya Pondok Hagrid.

Tunggu, kenapa aku jadi yakin sekali bahwa ini Hutan Terlarang?

Atau, apa mungkin ini Narnia?

Kembali ku tatap Ksatria di hadapanku dengan bingung. Ku gelengkan kepalaku tanda tak tahu.

Ksatria itu tertawa pelan. “Maaf, sayang sekali, identitas tempat ini dirahasiakan untuk seorang pendatang sepertimu.”

Aku mengangguk mengiyakan, lalu perhatianku teralihkan pada Unicorn itu. Unicorn yang terlihat sangat anggun itu berwarna putih, bahkan putihnya mengalahkan putih salju. “Itu, Unicorn?”

Ksatria itu tersenyum bangga sambil menepuk-nepuk leher Unicorn. “Ya, salah satu dari yang tersisa,” jawabnya.

“”Yang tersisa”?” tanyaku bingung.

“Ya, darah Unicorn sangat berguna untuk penyembuhan apapun, karena itu banyak orang yang menggunakannya,” jawab Ksatria. Beberapa saat kemudian, mimiknya –yang awalnya bermimik bangga- berubah. “Sayangnya, banyak yang menggunakan kegunaannya dengan cara yang salah. Mereka menggunakan darah Unicorn untuk memperpanjang umur mereka—mereka yang tergila-gila dengan keabadian. Dan mereka semua terkutuk,” ujarnya lalu menatapku. “Kau ingin memilikinya?”

“Tidak, aku tidak tahu cara merawatnya,” jawabku. Tapi, seandainya bisa, aku ingin meminta darahnya—untuk Tiffany.

Ksatria itu menatapku lama. “Kau ingin darahnya..” ucapnya yang sukses membuatku terkejut. Dia bisa membaca pikiranku! “Untuk menyembuhkan phobia tidur milik istrimu,” tambahnya.

Aku terdiam, tak tahu apa yang harus ku katakan dan lakukan. “Tapi, bukannya jika meminum darahnya, kita akan terkutuk?” tanyaku pelan.

Ksatria mengeluarkan pisau lipat dari kantung celananya. “Tidak, jika dipakai untuk hal yang bermanfaat.”

Ksatria itu menempelkan ujung pisau pada leher Unicorn. Dan belum sempat aku mencegahnya melakukan sesuatu yang akan melukai Unicorn itu, ujung pisau itu sudah menembus kulitnya. Darah Unicorn yang berwarna biru keperakan mengalir sekejap.

Aku mengernyit ngeri, sementara Ksatria itu -dengan tenang- mencabut pisaunya dan segera mengeluarkan botol kecil -seperti botol ramuan- dan memasukkan beberapa tetes darah Unicorn itu. Perlahan, Unicorn itu terjatuh ke tanah.

Menyadari tatapan kasihanku pada Unicorn itu, Ksatria menenangkanku. “Tidak apa, kami masih punya banyak bayi Unicorn di peternakan,” ujarnya santai. “Lagipula, ini untuk istrimu. Supaya dia bisa tidur dengan tenang setiap malam denganmu,” tambahnya. “Ambillah,” dia menyodorkan botol ramuan kecil yang sudah terisi penuh oleh darah Unicorn padaku.

Aku mengambil botol itu dengan ragu. “Te.. Terima kasih,” ucapku gugup.

Ksatria itu tersenyum senang. “Kau tahu? Ini terjadi bukan karena suatu kebetulan, tapi karena takdir,” dia menatapku. “Takdirlah yang mempertemukanmu dengan toko itu, dengan yoeja paruh baya itu, dan dengan kami.”

“Tapi, toko itu.. Apa itu sungguhan? Karena, sepertinya, begitu aku keluar—seperti sihir, tempat itu langsung berubah total.”

“Ya, karena itu adalah takdir,” aku mengenyit tak mengerti mendengar jawabannya. “Hanya orang-orang tertentu yang bisa masuk ke toko ajaib itu, kau tahu?” Ksatria itu menepuk pundakku keras. “Aku pergi. Semoga bisa bermanfaat untuk istrimu, dan juga untukmu.”

Aku menatap sosoknya yang berjalan semakin jauh, dan Unicorn yang masih terkapar tadi. Ku masukkan botol yang berisi darah Unicorn ke kantung celanaku, lalu berjalan pelan mendekatinya. Pelan sekali, aku menyentuh -agak takut- punggung Unicorn itu. Bulunya sangat lembut, bersih dan suci. Bahkan melebihi lembutnya kapas.

“Terima kasih banyak,” bisikku pelan.

***

Ya! Cepat bangun! 2 jam lagi pesawat kita berangkat!”

Aku membuka mataku malas waktu mendengar Kris hyung mengomel di sampingku.

“Cepat bangun! Supaya kau bisa cepat-cepat menengok Tiffany,” tambahnya.

Aku bangkit dengan malas, lalu duduk di sisi ranjang, menghadapi meja kecil di sebelah tempat tidurku.

“Lho?? Hyung, kau lihat pahatan Unicorn tadi malam?” tanyaku agak keras—Kris hyung sedang di kamar mandi, setelah mendapati Unicorn itu menghilang, menyisakan Ksatria sendirian.

Apa yang tadi itu hanya mimpi? Atau itu sungguhan?

Dengan cepat ku raba kantung celanaku, dan mendapati botol ramuan yang berisi cairan berwarna biru keperakan—darah Unicorn. Ini semua nyata!

“Mana aku tahu!” sahut Kris hyung tak kalah keras.

Aku segera beranjak dan menyambar jaketku, kembali ku masukkan botol ramuan tadi ke kantung celanaku. “Hyung, aku pergi sebentar! Masih ada yang ingin ku cari,” pamitku sebelum menutup pintu kamar kami. Samar ku dengar seruan Kris hyung yang menanyakan ke mana aku pergi, tapi tak ku gubris.

Aku ingin pergi ke pecinan kemarin. Ini memang masih pagi, dan aku yakin pecinan itu belum buka. Tapi, biarlah. Lagipula hanya 1 toko yang ingin ku kunjungi. Toko souvenir kemarin.

Untung ingatanku merekam dengan jelas jalan masuk ke lorong ini, jadi aku bisa dengan cepat sampai di toko itu.

Ku perlambat lariku saat melihat toko itu. Sebenarnya, tak ada yang berubah—dalam perjalanan kemari, aku memikirkan tentang toko ini. Dan keyakinanku benar, bahwa tidak ada yang berubah. Tapi firasatku tetap mengatakan aku harus ke sini.

Ku tatap toko di depanku ini sambil mengatur napasku yang terengah, dan mataku menangkap sesuatu di depan pintu masuk.

Sebuah pahatan Unicorn tertaruh dengan apik di sana. Persis seperti milikku kemarin, tapi ada sesuatu yang membuatku kurang tertarik dengan benda ini -entah apa itu- . Benda ini sama, tapi berbeda. Tapi, walaupun begitu, aku tetap mengambilnya untuk Tiffany.

***

Ku langkahkan kakiku melewati lorong rumah sakit. Tak perlu buru-buru, karena aku tahu Tiffany sudah sadar. Jessica noona menelponku beberapa menit sebelum aku masuk bandara di Tokyo.

Ku buka pelan pintu ruang rawat Tiffany, dan begitu aku masuk, suara ceria Tiffany menyambutku.

“Lay-ah!” serunya senang.

Aku melangkah lebih dalam dengan senyum senang lalu memeluknya, yang masih terbaring di ranjang.

“Kau datang,” ujarnya senang.

“Merindukanku?”

“Tentu,” jawabnya jujur.

Ku lepaskan pelukanku dan berbalik. “Oh, Heechul hyung! Kau sudah pulang?” tanyaku terkejut mendapati Heechul hyung duduk merangkul pundak Jessica noona.

“Ya, Jessica juga menelponku dan mengatakan Tiffany kumat, jadi aku langsung pulang dari Busan untuk menemaninya,” jelasnya.

Gomawoyo, noona, hyung,” ucapku yang dibalas anggukan mereka.

Aku kembali mengalihkan pandanganku pada Tiffany. Ku tarik sebuah kursi dan duduk di samping ranjangnya sambil menggenggam tangannya dan tanganku yang lain mengelus rambutnya.

“Jessica eonni menjagaku dengan sangat baik,” katanya.

Aku tersenyum dan mengangguk pelan sebagai jawaban.

“Lay-ah, ku rasa Tiffany melemah selama kau tak ada,” Jessica noona nyeletuk.

“Aku tahu, karena aku adalah kekuatannya,” balasku.

Tiffany tersenyum.

“Lay-ah, sebaiknya kau membersihkan dirimu dulu sebentar, lalu balik lagi ke sini,” kata Heechul hyung. “Aku akan mengantarmu.”

***

Selesai mandi di rumah, ku bereskan barang-barang bawaanku selama di Tokyo, dan mengeluarkan beberapa oleh-oleh. Ku pisahkan untuk Jessica noona dan Heechul hyung, untuk Tao, dan pastinya untuk Tiffany.

Ku amati sebentar pahatan Unicorn tadi, lalu menaruhnya di atas meja kecil di samping tempat tidurku dan Tiffany. Tak lupa dengan Ksatria yang menunggang di atasnya, 2 gantungan kunci Unicorn dan botol berisi darah Unicorn -akan ku berikan pada Tiffany setelah dia pulang- .

***

3 hari kemudian, Tiffany diperbolehkan pulang. Dokter berpesan padaku untuk terus menjaga Tiffany—sebenarnya beliau tidak perlu berpesan itu, karena aku selalu menjaga Tiffany.

“Lay-ah, pahatan ini kau beli di Tokyo?” tanyanya saat aku membereskan buku-bukuku di kamar.

“Ya, gantungan kunci itu juga.”

“Bagus sekali!” ucapnya senang. “Lalu, botol kecil ini? Apa ini kutek kuku?” tanyanya polos. Wajar saja dia bertanya begitu. Warna cairan itu berwarna biru laut keperakan.

Aku tertawa kecil lalu mendekatinya. “Itu obat.”

“Obat?”

Ku tarik lengannya pelan, supaya dia duduk di tepi ranjang denganku. “Iya, obat.”

“Untuk?”

“Untuk menghilangkan phobia tidurmu.”

Tiffany menatapku bingung lalu mengamati isi botol itu. “Tapi, kenapa warnanya keperakan begini?” tanyanya heran.

“Karena obatnya memang begitu,” jawabku asal.

Tiffany menoleh menatapku. “Dari mana kau dapat ini?”

Aku berpikir sebentar. Mungkin sebaiknya aku tidak memberitahukannya. “Rahasia,” jawabku. Untungnya dia tidak terlalu penasaran darimana aku menadapatkan itu.

“Kapan aku boleh meminumnya?”

“Kapanpun. Pokoknya setelah minum itu kau bisa tidur nyenyak selamanya!”

***

“Lay-ah,” panggil Tiffany. Seperti biasa, jika ingin menidurkannya, aku harus menidurkannya di atas lenganku.

Ne?”

“Bangunkan aku lagi jika obat itu tidak mempan,” katanya pelan sambil menatapku. Dia cemas, aku tahu dari matanya yang sangat kelelahan itu.

“Pasti mempan, aku yakin itu. Sekarang tidurlah.”

Aku mengelus lembut pucuk kepalanya dan menggenggam tangannya.
3 menit kemudian, dia sudah terlelap. Ku pandangi wajah damai Tiffany saat tidur. Sudah lama sekali sejak terkahir aku melihatnya berwajah sedamai ini.

Sleep well, Fany-ah..

***

Ku renggangkan tubuhku setelah mematikan alarm yang diletakkan di atas meja di samping tempat tidur. Ku lihat Tiffany, masih tertidur nyenyak. Bahkan tanpa lenganku di bawah kepanya, ku pikir dia akan bergerak-gerak gelisah saat merasakan lenganku tak berada di bawah kepalanya—oke, aku terlalu percaya diri. Aku bergerak pelan agar tidak menganggu kenyamanannya, lalu beranjak mandi.

Saat aku ingin bekerja, ingin ku bangunkan Tiffany, tapi tidak bisa -atau lebih tepatnya, mungkin, tidak tega- . Melihatnya yang terlihat sangat nyaman.

Ku harap dia akan terus seperti ini.

Sekali lagi, terima kasih banyak untuk Unicorn itu.

***

Aku keluar mobil dengan letih. Sudah lewat dari tengah malam, dan ku rasa Tiffany belum bangun. Terlihat dari lampu teras dan ruang tengah yang tidak menyala. Dia benar-benar seperti beruang kutub yang ber-hibernasi.

Saat aku menyalakan lampu di ruang tengah, ku dengar bunyi ketukan sendok yang bertemu dengan piring.

“Lay-ah, wasseo?” ku dapati Tiffany sedang makan di dapur—masih memakai piyama kemarin malam. “Kenapa kau tidak membangunkanku? Aku baru saja bangun karena kelaparan,” omelnya.

Mianhae, kau tidur nyenyak sekali. Aku tidak tega,” aku menarik kursi di depannya dan menududukinya. “Bagaimana? Obat itu manjur, ‘kan?” tanyaku bangga.

“Ya, beribu terima kasih untuk pembuat obat itu.”

“Bagus.”

“Setelah ini, aku ingin tidur lagi. Karena itu sebaiknya kau cepat mandi, lalu kita makan bersama. Mumpung aku masih makan separo.”

Aku mengangguk bersemangat sambil berdiri. “Baiklah, tunggu sebentar.”

Syukurlah, Tiffany sembuh. Tak lama lagi, mata itu akan terlihat segar, tak ada lagi mata yang terlihat letih.

Untuk kesekian kalinya, terima kasih kepada Unicorn, yang telah memberikan darahnya -hidupnya, walaupun tanpa persetujuanmu, Unicorn– untuk Tiffany. Untuk Ksatria, untuk yeoja paruh baya di toko souvenir, untuk Kris hyung yang sudah mengajakku ke pecinan, untuk semua orang yang sudah membuatku dan Kris hyung terpisah, untuk Tiffany yang telah menjadi sebab semua ini terjadi, membuatku mengalami hal yang mungkin tak banyak orang bisa rasakan. Untuk takdir, yang telah mempertemukan kami.

~FIN~

Auhtor’s Note :

Hei~~

Mungkin diantara kalian ada yang bingung atau complain.. Bukannya jika seseorang meminum darah Unicorn maka orang itu akan terkutuk? Walaupun mereka manjadi abadi. Contoh, seperti Lord Voldemort.

Yaa, memang dari beberapa buku/situs internet yang aku baca bilang begitu.

Tapi aku lupa bagian ini. Aku baru inget setelah FF ini selesai, dan aku males buat ngedit atau bikin ulang-_- Karena -jujur- ini adalah salah satu dari 3 FF ku yang selesai dalam waktu gak nyampe 1 minggu-____-v

Waktu inspirasi ini datang, yang aku ingat cuman ‘Darah Unicorn berkhasiat untuk menyembuhkan segala penyakit’. Bagian yang ‘terkutuk’ itu aku bener-bener lupa-___-

Tapi makasih buat readers yang udah baca FF ini~~^^ *bow*

Semoga kalian suka sma pairingnya~~^^

Daan, saya mohon maaf banget atas kelupaan saya mengenai darah Unciron dalam FF ini :3

Visit my blog J at https://parkminjinra.wordpress.com/

and follow my twitter J (@titirwj)

15 thoughts on “[Freelance] Sleep Guardian

  1. yey.. titirr.. akhirnya di post juga yah.. chukkae.. wkwk..😀 keep writing yah.. n fighting..🙂 komenku di samain aja yah sama yg di wp pribadimu.. hehe.. ^^

  2. Kren ni ff thor ada fantasinya,hehe..
    Buat q slma castnya tiffany, fine2 aja,hehe
    scra fanytastic😀
    dibnyakin ya thor ff tiffany
    keep writing ^^

  3. Kasian banget deh Tiff nya gak bisa tidur huee semoga gak ada yang namanya penyakit kayak gitu di dunia ini :p
    Sukaaa sama pairingnya, alurnya juga asik dan tadi aku kira pas Lay mau kerja terus gak ngebangunin Tiff, Tiffany nya bakalan tidur selamanya aigoo untung nggak
    Bikin FanyLay lagi yah, hwaiting!

    • wakakak😀 moga aja ya🙂 tpi author ngalamin penyakit kaya Tiffany itu loh :3
      haaa, makasih udh ska sma pairingnya😄 jarang banget ada Lay-Fany kan?-_-v
      Hwaiting ><

  4. kayanya authornya berimajinasi tinggi……..authornya juga suka harry potter ya ? keren kok thor bikin yg bagus lagi ya kalo bisa pairingnya hun-fany😀

    • keke, memang imajinasi saya ini tinggi sekali-_-v
      Iyaa suka HP jga😀 kekek, ska film2 fantasy dehh😄
      gomawo^^ okok (y) visit aja blog ku😉 *promot-,-v* ada FF hun-fany🙂

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s