[Freelance] Don’t Judge Me (Chapter 5)

Poster 4B  - Don't Judge Me

Title
Don’t Judge Me

Author
Voldamin-chan

Length
Chaptered

Rating
PG-15

Genre
Romance, Angst

Cast
Kim Taeyeon

Lay (Zhang Yixing)

Kim Minseok

Other Cast
EXO and Girls’ Generation
Disclaimer
This story is mine, pure from my own imagination and all cast is belong to their own but all my biased ^^. Poster credited to the owner^^

Recomendded Backsound
BoA – Implode

BoA – Distrubance

 

Author Note

Don’t forget to RCL and enjoy the story

 

Try to hear what your heart says because it knows you well

Sometimes it whisper to you, just listen to it carefully.

 

-Don’t Judge Me-

 

Permukaan Bumi memang tidak akan pernah rata, hidup seseorang juga tidak akan pernah rata. Mungkin itu adalah karma bagi mereka yang hidup di planet ini. Hanya berpikir bagaimana kehidupan makhluk di planet lain, betapa indahnya jika disana tidak ada bebatuan setajam di Bumi yang bisa menghancurkan hidup makhluknya. Betapa bahagianya jika hidup tanpa bebatuan satu pun. Karena tidak semua orang memiliki ketahanan yang cukup untuk menerjang semua batu yang mereka hadapi. Termasuk Taeyeon.

Mungkin kebanyakan orang tidak percaya dengan drama, bagaimana rumitnya hidup seorang tokoh di dalam drama yang kadang tidak bisa dinalar. Tetapi itu semua bukan dongeng atau drama khayalan semata, ini adalah fakta. Fakta kehidupan seorang Kim Taeyeon yang bisa disamakan dengan kisah rumit sebuah drama. Orang yang tidak pernah mengalaminya, tidak akan pernah tahu bagaimana sulitnya hidup sebagai pemain nyata sebuah drama menyedihkan. Jika seandainya Taeyeon bisa memilih, dia tidak akan mau menjadi pemeran utama di dalam dramanya sendiri. Terlalu kejam dan menyedihkan baginya. Mungkin saja hal tragis akan menjadi salah satu pilihan ending di dalam dramanya sendiri.

Kehilangan seorang Ibu ketika masih berusia 9 tahun. Hidup dengan seorang Ayah yang tidak pernah menyayanginya, sebaliknya orang tua satu-satunya itu malah menghancurkan hidup anaknya sendiri. Hidup sebatangkara. Memutuskan hidup sendiri untuk terlepas dari masa lalunya ternyata juga tidak berjalan mulus. Kisah cinta pertamanya juga berakhir menyedihkan. Seakan tidak ada satu jalanpun yang mau mendukung kedamaian hidupnya. Taeyeon merasa drama melankolis adalah takdir dan karma yang tidak akan pernah menemukan ujungnya. Masa lalu yang begitu ingin ia hapus sepenuhnya dari ingatannya, tidak pernah berhasil. Meskipun ada Minseok dan keluarganya, meskipun ada Jessica, Joonmyun dan Kris. Keberadaan mereka seolah hanya sebuah obat penenang sesaat.

Namun selama 1 bulan ini, Taeyeon merasa ada yang berbeda dengannya. Dia merasa lebih tenang dan nyaman. Memang, musik adalah pelampiasan yang ampuh baginya, tetapi kali ini berbeda. Sangat aneh dan berbeda. Ya, sejak saat itu udara yang Taeyeon hirup serasa mengalir bersih di sekelilingnya. Sejak Lee-songsaengnim memaksanya, bersama seorang namja asing bernama Zhang Yixing, menyelesaikan sebuah proyek pentas seni.

Taengoo-noona?

Itulah kata-kata yang terlontar tidak sengaja dari mulut namja itu, kata pertama yang membuat Taeyeon terperanjat. Sapaan yang sangat khas di telinganya, sapaan yang sangat ia rindukan, sapaan yang membuat hatinya berdenyut tak beraturan senormal gadis pada umumnya sekaligus membuatnya memutar kembali salah satu episode tragis di dalam dramanya. Membuatnya rindu akan sesorang yang sempat membangkitkan semangatnya, selalu berada disampingnya, menyisipkan sebuah episode penting di dalam hidupnya. Setelah pertemuan pertamanya dengan namja itu, ia sering memimpikan Baekhyun. Ya, Baekhyun seorang namja pertama yang menorehkan kisah penting di dalam dramanya. Rasanya sudah lama sekali sejak Taeyeon berusaha menghapus seorang bernama Baekhyun dari ingatannya dan juga dari hatinya. Terlalu menyedihkan mengingat kisah mereka berdua, Taeyeon tidak ingin memutar ulang episode itu. Tidak akan lagi.

Aneh memang, kehadiran seorang Zhang Yixing seakan mengembalikan kehadiran Baekhyun disampingnya. Taeyeon sadar mereka berdua adalah orang yang berbeda. Tak ada satupun secara fisik adanya kesamaan di antara mereka berdua. Hanya saja kenapa semua seakan sebuah kebetulan yang ajaib. Mereka memiliki usia yang sama jika saja Baekhyun masih ada di dunia sekarang ini. Selera musik mereka berdua sama dengan Taeyeon. Cara mereka berdua menatap Taeyeon pun sama, entahlah itu mungkin hanya perasaannya saja. Tapi yang tak terbantahkan dan membuat Taeyeon penasaran adalah ’Taengoo-noona’, hanya Baekhyun yang memanggilnya seperti itu. Hanya dia. Tetapi kenapa Yixing bisa tahu hal ini, telebih lagi saat kali pertama mereka berdua bertemu. Semua ini membuat Taeyeon tidak bisa mengelak mengingat kembali namja di masa lalunya. Sejak saat itu hampir setiap hari Baekhyun muncul di dalam mimpinya, serasa memutar kembali episode di masa lalunya. Semua terjadi begitu saja tanpa sebuah naskah.

Noona? Kenapa sendirian di tempat sepi seperti ini?” Taeyeon menoleh ke arah suara yang memanggilnya. Namja itu datang. Zhang Yixing, dia berjalan menghampiri Taeyeon yang tak memberikan respon apapun padanya. Siapa sebenarnya namja ini? Kenapa dia bisa membuatnya seperti ini? Membuat Taeyeon harus menemukan sandaran baru bagi perasaannya sekarang. Ini semua terjadi begitu saja, tanpa arahan yang jelas.

Taengoo-noona? Noona kenapa?” Tak ada satu kata pun yang keluar dari mulut Taeyeon, dia hanya memandang Lay – sapaan akrab namja ini – dengan tatapan kosong. Matanya mengikuti namja yang kini sudah duduk bersimpuh mensejajarkan tingginya dengan Taeyeon. Selama beberapa detik mereka berdua diam dan saling menatap satu sama lain.

Taeyeon mungkin sudah gila, baru saja ia merasa Baekhyun yang ada di depannya. Kenapa bayangan itu terus muncul di samping namja ini. Ini tidak adil. Memang bukan salah namja ini, tetapi sakit di dalam hatinya harus muncul lagi. Perlahan Taeyeon menutup matanya, ia biarkan air matanya keluar bersama kenangan yang terus muncul di ingatannya. Entah apa yang ada dipikiran Lay saat melihatnya seperti ini sekarang, yang Taeyeon tahu hanyalah ia merasa bebas menumpahkan semuanya di depan namja ini sekarang.

 

-Don’t Judge Me-

 

Sore hari seperti ini kampus masih terlihat ramai. Tidak seperti biasanya. Festival seni sudah semakin dekat. Satu minggu lagi, perhelatan akbar seni itu akan berlangsung. Semua orang sibuk dengan persiapan pertunjukan masing-masing. Termasuk seorang namja bernama Zhang Yixing. Meskipun ia masih tergolong baru disini, Lay tahu bagaimana megahnya sebuah pentas seni yang bukan hanya dirayakan oleh mahasiswa kampus ini, melainkan juga para tamu undangan yang tidak kalah pentingnya. Itulah yang ia dengar dari pamannya.

Lay berjalan menelusuri koridor utama kampus ini, ditemani dengan sebuah gitar yang disampirkan di balik punggungnya dan sebuah tas ransel yang menggelantung di bahu kanannya. Tidak mudah menjadi seorang mahasiswa baru di kampus ini. Baru beberapa bulan ia resmi menjadi mahasiswa disini, Lay sudah mendapat tugas besar. Dan sekarang, ia baru saja kembali dari kegiatan rutinnya akhir-akhir ini, menjadi salah satu panitia pentas seni pamannya.

DEGH! DEGH! DEGH!

”Fuuhh~ Lagi-lagi seperti ini.” Lay mengambil napas panjang sambil menyentuh dada kirinya. Sesampainya di depan auditorium ini, tiba-tiba saja jantung Lay mulai berulah. Sejenak ia berhenti dan bersandar di pintu besar ruangan ini, merasakan debaran yang muncul tiba-tiba seperti ini. Perlu waktu untuk menstabilkan napasnya kali ini. Jantung yang aneh. Mungkin juga karena ini bukanlah jantung miliknya. Hanya sebuah jantung orang lain yang dititipkan secara resmi padanya.

”Hmm… Tidak ada yang salah dengan jantungmu. Semua data menunjukkan jantungmu baik-baik saja dan sehat. Mungkin saja ini adalah bawaan dari pemilik jantungmu sebelumnya. Bukan berarti jantungmu sekarang ini punya bawaan penyakit dari pemilik sebelumnya. Maksudku, mungkin saja kebiasaan dari pemilik sebelumnya masih melekat. Aku pernah membaca beberapa buku yang mengatakan seperti itu. Organ transplantasi, terutama jantung, bisa meninggalkan kebiasaan pendonor pada pemilik barunya. Well, aku bukan dokter yang menangani masalah psikologis organ jadi aku tidak bisa memastikan apapun. Tapi tenang saja tidak ada hal serius pada jantungmu. Sudah hampir dua tahun kan, bisa dipastikan tidak ada hal buruk pada jantung barumu.”

Begitulah penjelasan dari dokter pribadinya yang ia dengar minggu lalu. Tak ada yang tahu siapa pemilik jantung Lay sebelumnya. Menurut dokter itu, identitas pendonor tidak diketahui jelas. Karena siapapun identitas pendonor organ transplant akan disimpan secara rahasia oleh pihak rumah sakit. Lagi pula Lay tak mau ambil pusing dan membuatnya repot sendiri harus kembali ke China hanya untuk memastikan hal aneh ini. Masih banyak hal penting lainnya yang harus ia kerjakan disini termasuk tugas besar yang harus selesai minggu ini. Meskipun kadang ia juga merasa ada kebiasaan aneh pada dirinya, asalkan tidak ada penyakit berbahaya pada tubuhnya itu saja sudah cukup.

”Taeyeon-noona?” Lay melihat siluet seseorang yang ia kenal di balik pintu auditorium yang tidak sepenuhnya tertutup.

DEGH! DEGH! DEGH!

Lay sangat yakin yeoja itu adalah Taeyeon. Entahlah, jantungnya yang seakan mengatakan kalau seseorang itu adalah dia. Matahari yang mulai menghilang dari tempatnya, membuat ruangan besar ini semakin gelap. Perlahan ia mendekat ke arah yeoja yang sedang duduk sendirian memandang jendela luar auditorium ini. Siluet itu semakin jelas. Yeoja dengan rambut ikal yang Lay kenal.

Noona? Kenapa sendirian di tempat sepi seperti ini?” Lay semakin memperpendek jaraknya dengan yeoja itu. Sepertinya Taeyeon menyadari siapa yang datang, namun tak ada respon apapun darinya hanya pandangan mata kosong seakan sorot mata itu menusuk jantungnya.

DEGH!

Selalu seperti ini, debaran jantungnya selalu bereaksi saat Taeyeon ada di sekitarnya. Memang terdengar tidak masuk akal, tetapi ini yang Lay rasakan sendiri. Saat pertama kali bertemu dengannya pun seperti ini. Tidak pernah mengenal satu sama lain, dua orang asing yang baru saja bertemu. Tetapi saat itu ia merasa langsung mengenali yeoja itu. Apa memang ada hubungannya dengan yeoja ini, ia juga tidak yakin. Sepertinya fungsi logika pada otaknya sudah dikalahkan oleh argumen jantungnya sendiri.

Taengoo-noona? Noona kenapa?” Tak ada satu kata pun yang keluar dari mulut Taeyeon, dia hanya memandang namja ini. Sekali lagi, tanpa sadar ia memanggil yeoja yang ada di depannya sekarang ini dengan sebutan itu. Seperti sudah terbiasa memanggilnya seperti ini. Di dalam mimpinya pun panggilan ini selalu muncul. Apa semua ini ada hubungannya dengan Taeyeon-noona? Apa yeoja  yang ada di dalam mimpinya itu adalah dia? Lalu siapa namja itu? Perasaan apa ini? Aneh. Kenapa semua ini terasa seperti takdir dengan kebetulan yang aneh.

Selama beberapa detik mereka berdua saling menatap satu sama lain. Bola mata yang indah, namun tatapan yeoja ini terlihat begitu sedih. Seperti ada yang ingin yeoja ini sampaikan tetapi masih terkunci di dalam sana. Sesaat Lay merasa tatapan itu bukan ditujukan padanya. Anehnya jantungnya bereaksi pada hal ini, terlebih lagi saat ia melihat air mata Taeyeon. Perasaan memilukan yang amat sangat menyelimuti dirinya. Air mata itu tidak mau berhenti dan terus keluar dari kelopak mata Taeyeon dengan sendirinya. Seolah tersihir oleh sebuah mantra, tanpa sadar kedua tangan namja ini sudah menyentuh wajah Taeyeon yang masih dihiasi oleh buliran air mata. Entah kenapa ia sangat merindukan wajah ini sejak lama. Seperti sudah bertahun-tahun tidak melihat wajah yeoja ini. Kenapa dia seperti ini? Sejak kapan ia punya perasaan seperti ini?

DEGH!

Merasa di hipnotis oleh jantungnya sendiri, spontan Lay mendekatkan dirinya ke arah Taeyeon dan mencium kelopak mata Taeyeon yang masih basah oleh air matanya. Ia merasa harus melakukan ini, ia tidak mau melihat tatapan sedih itu lagi. Dengan lembut namja ini mengecup pipi Taeyeon, seolah menghapus jejak air mata yang masih belum mau berhenti mengalir dari wajah yeoja ini. Tanpa sadar namja ini memeluk erat Taeyeon. Semakin erat ia memeluk yeoja ini, semakin meluap rasa sedih dan rindu seperti kotak pandora yang sudah lama sekali tidak menemukan pemiliknya. Tak ada perlawanan apapun dari Taeyeon. Saat ini Lay hanya ingin memeluk yeoja ini selama mungkin. Hanya itu yang ingin ia lakukan sekarang. Hanya ini yang diinginkan jantungnya sekarang. Sebuah keegoisan yang harus dikalahkan oleh logikanya sendiri.

Suasana auditorium ini semakin hening. Tas ransel dan sebuah gitar yang tergeletak begitu saja di lantai berdebu ini. Tak ada satu suara pun yang berani keluar mengganggu dua orang yang dibingungkan oleh perasaan masing-masing ini. Termasuk seseorang di balik pintu yang sudah sejak lama berada disana, menyaksikan semuanya.

Menyaksikan adegan yang membuat hatinya seakan-akan jatuh ke dalam lubang yang tak ada ujungnya. Ia tak mau menunjukkan sosoknya dan hanya terpaku melihat dua orang yang sedang dibekukan oleh perasaan masing-masing di dalam sana. Sangat lucu sekali. Semua ini seperti kisah sabun opera dimana dia menjadi tokoh pelengkap yang tidak memiliki peruntungan sama sekali. Ia memang tidak cocok disandingkan dengan tokoh utama, menurutnya.

”Haha…Dua kali peranmu direbut oleh orang lain. Kau memang tidak beruntung, Minseok. Kau hanya seorang namja menyedihkan sekarang.” Dia tersenyum miris melihat dua orang di dalam sana. Namja itu, Kim Minseok, menertawakan dirinya sendiri. Ia sedang menertawakan seorang namja pengecut yang sangat tidak beruntung. Sejenak ia mengambil napas panjang berusaha menstabilkan hatinya, berusaha tidak menjadi namja cengeng yang akan menambah daftar panjang keburukan dirinya.

”Ku harap kisahmu bisa berakhir dengan bahagia, Taeyeon. Aku akan selalu menyayangimu dan ini memang sudah menjadi sebuah kutukan bagiku. Mungkin butuh berabad-abad untuk menghilangkannya.” Senyuman miris itu kembali menghiasi wajah namja ini. Minseok berjalan menjauh meninggalkan dua tokoh utama itu, ia harus menjauh dari adegan yang tidak romantis baginya itu. Guratan kesedihan begitu terlihat di balik punggung besar Minseok. Punggung yang terlihat kesepian itu perlahan menghilang di ujung koridor seolah ditelan oleh cahaya matahari yang sudah mulai meredup.

 

-Don’t Judge Me-

 

Sudah 3 bulan berlalu sejak pesta meriah kampus ini berlangsung. Sudah 3 bulan berlalu sejak adegan sedih auditorium itu terjadi. Dan juga sudah 3 bulan pula pasangan seni ini menjadi populer di kalangan mahasiswa kampus. Bukan hanya pertunjukan kolaborasi mereka berdua yang benar-benar memukau, tetapi juga karena mereka sudah resmi memiliki hati masing-masing meskipun tidak ada seorang pun yang tahu tentang hubungan mereka.

Seperti biasa, perpustakaan memang tempat favorit yang tidak tergantikan bagi Taeyeon. Apalagi di tahun terakhirnya ini, perpustakaan dan ruang musik adalah tempat yang selalu ada di jadwal kegiatan sehari-harinya. Ia selalu suka dengan suasana perpustakaan di siang hari menjelang sore seperti ini. Udara yang mulai sejuk kembali dan warna jingga langit saat matahari akan beranjak pulang ke peraduannya. Juga tidak terlalu banyak pengunjung, membuatnya bisa memonopoli perpustakaan ini karena Taeyeon lebih suka menikmati waktunya sendiri dengan buku-buku favoritnya.

Taeyeon menutup buku terakhir yang ia baca hari ini. Ia sandarkan kepalanya di atas buku yang cukup tebal di atas meja. ”Terima kasih sudah menemaniku”, ucap Taeyeon pada namja yang juga menjadikan meja panjang ini menjadi tumpuan kepalanya. Kini Taeyeon menyibukkan matanya untuk menelusuri setiap lekuk wajah namja yang tepat berada di sampingnya ini dan masih belum mau membuka matanya. Ia masih menikmati tidurnya.

”Bulu matanya lebih indah dariku. Ternyata lesung pipi-nya tidak terlihat kalau dia sedang tidur.” Tiga bulan waktu yang terlalu singkat bagi Taeyeon untuk mengenal seorang Zhang Yixing. Ia masih belum tahu betul siapa dia. Bagaimana dulunya namja ini sebelum ia mengenalnya, apa ia punya hobi lain selain soal musik, apa yang ditakuti namja ini, apa warna favoritnya. Ah, kalau soal warna, dilihat dari apa yang biasa di pakai namja ini, mungkin hitam adalah warna favoritnya. Bertolak belakang dengannya, putih adalah warna terbaik bagi Taeyeon. Hanya waktu yang akan menjawab semuanya, mungkin ia harus tunduk dengan pepatah kuno itu.

Sebuah kejutan besar bagi Taeyeon, seorang yeoja seperti dirinya ini bisa dengan singkat menerima namja asing tanpa syarat dan persetujuan apapun. Ia hanya mengikuti apa kata hatinya saja. Ia hanya merasa nyaman dengannya, sangat berbeda saat ia merasa nyaman dengan Minseok. Sebenarnya ia ragu memakai alasan ’takdir’ untuk semua hal ini. Tapi bisa saja itu adalah salah satu jalan cerita yang harus ia perankan. Sebuah ’takdir’ yang sudah sedari awal di rencanakan.

Wajahnya terlihat letih, mungkin karena ia masih sibuk dengan kegiatan kuliahnya yang memang padat akhir-akhir ini. Taeyeon sendiri tahu bagaimana banyaknya tawaran proyek seni dari para dosen setelah festival yang lalu. Sekarang semua orang tahu bagaimana kemampuan Lay, meskipun dia hanya seorang mahasiswa pindahan yang baru beberapa bulan disini. Meskipun ia sedang sibuk, Lay tidak pernah absen menemani Taeyeon meskipun hanya duduk di perpustakaan seperti sekarang ini. Kini posisi Minseok yang pernah menjadi bodyguard-nya, digantikan oleh namja ini.

Bicara soal sahabatnya itu, beberapa bulan ini Taeyeon jarang bertemu dengan Minseok, namja itu sedang sibuk persiapan tahun terakhirnya sama seperti Taeyeon. Terlebih lagi Minseok akan melanjutkannya di luar Korea. Namja itu juga sudah jarang mampir ke apartemennya, hanya Jessica saja yang sering muncul tiba-tiba di sana. Mungkin hanya beberapa kali saja ia berpapasan dengan Minseok di kampus, itupun tidak lama. Atau hanya lewat telepon saja, sekedar menanyakan kabar masing-masing. Tak ada lagi koki pribadi yang sukarela membuatkan makanan untuknya. Tak ada lagi yang cerewet mengomelinya. Sedikit banyak ia merindukan sahabatnya itu. Seakan ada sesuatu yang tidak pada tempatnya, kebiasaan yang tiba-tiba hilang tanpa jejak.

Noona?” Taeyeon terhenyak ketika sebuah tangan menyentuh pipinya dan membuatnya membuka mata lebar-lebar. Ternyata tanpa sadar, Taeyeon juga menikmati suasana sunyi perpustakaan dan hampir saja terlena oleh mimpi singkatnya.

”Hmm~ Kau sudah bangun?” masih betah dengan posisinya, Taeyeon menyapa namja yang sudah membuka kedua matanya sambil melayangkan senyuman lesung pipi khas namja itu.

”Apa aku sudah lama tertidur disini? Maaf bukannya menemanimu malah tertidur pulas begini.” ucap Lay sambil meregangkan otot-otot tangannya. Setelah memastikan otot-otonya kembali bisa digerakkan, Lay bangkit dari tempat duduknya dan berjalan mendekat ke arah Taeyeon. Namja itu merangkul Taeyeon dari belakang, menyandarkan kepalanya di atas bahu kiri Taeyeon. Lay bisa merasakan pipi yeoja ini yang masih terasa dingin akibat ia terlalu lama di ruangan ber-AC seperti ini.

”Apa kau punya kebiasaan memeluk orang sehabis bangun tidur?” Taeyeon memang sudah penasaran soal kebiasaan namja ini, setiap dia bangun tidur dan Taeyeon ada disampingnya, Lay selalu melakukan hal yang sama. Apa ini juga kebiasaan yang Taeyeon belum tahu.

”Hmm… Bisa iya bisa tidak, entahlah aku juga kadang kurang paham dengan diriku sendiri. Aneh ya?” sambil memikirkan pertanyaan Taeyeon ini, Lay juga merasa aneh dengan dirinya. Kadang ia juga merasa tidak mengenal dirinya sendiri. Ini semua terjadi begitu saja, seperti gerak reflek yang muncul tanpa lebih dulu terpikirkan olehnya.

”Aneh? Tidak juga sih. Hanya saja kadang kau mengingatkanku pada seseorang. Ah, sudahlah kenapa kita membicarakan masalah aneh begini. Lay, sampai kapan kau mau memelukku seperti ini?” Taeyeon sudah selesai mengemasi buku-bukunya bersiap untuk meninggalkan ruangan ini, namun Lay masih betah dan malah semakin erat memeluknya. Dasar bocah aneh, lebih aneh dari Baekhyun, ujar Taeyeon dalam hatinya.

”1 menit lagi, noona. Sebentar saja.” Taeyeon juga tidak menolak saat namja ini memeluknya. Taeyeon akui, ia nyaman dengan pelukannya. Seperti saat itu, ia merasa bebas menumpahkan air matanya di depan namja ini. Apa ini salah satu pilihan happy ending dalam kisahnya. Ia harap ini semua bukan hanya sebuah episode penggembira baginya.

 

I decided at that time

You supported me, your simple smile is the best

Whatever the future holds, I will open it with these hands

Even if you leave me far away, if I close my eyes, your heart will be near

-Don’t Judge Me-

To be continued…

7 thoughts on “[Freelance] Don’t Judge Me (Chapter 5)

  1. akhrnya di update jg klnjtannya..

    lanjut thor.daebak…
    firasat ku mengatakan kalau jantung yang di milili lay skrg itu dlunya milik baekki.#hahasotoy(ditabok authornya)

    fighting thor.lanjut🙂

  2. haaaaa akhirnya diupdate lama banget nunggunya ih jadi penasaran >.<
    DAEBAK THORR!!! lanjut cepet neee udah gak sabar nihh wkwkkw

  3. wah.. thor.. lanjut dong..
    aaa.. momen laytaenya so sweet banget,,,,
    uwaaaaaa… nggak bisa berkata apa2 lagi deh pkoknya..
    daebakk thor..
    lanjutin yg cpet ya..

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s