Unforgettable History (Chapter 2)

unforgettablehistory

Jessie Kim

Proudly Presents

The second chapter of ‘Unforgettable History’ with Jessica Jung and the secret boy as a main cast

and Kim Hyoyeon, Lee Sunkyu as another cast

.

.

.

Chapter 1

“Kita harus pergi sekarang.”

Jessica kecil tampak mengernyit saat melewati kamar orang tuanya dan mendengar suara yang ia kenali sebagai suara ayahnya. Pergi? Kemana?

“Kenapa harus sekarang?”

Suara yang lebih lembut—suara ibunya—yang selanjutnya terdengar.

“Mereka sudah tahu keberadaan kita. Satu-satunya cara adalah melarikan diri sekarang juga.”

Mereka? Siapa? Jessica lebih merapatkan telinganya kearah pintu tempat orang tuanya berbicara.

“Lalu bagaimana dengan anak-anak?”

“Bawa Soojung bersama kita.”

“Bagaimana dengan Jessica?”

Tak ada jawaban dari ayahnya. Gadis kecil itu semakin penasaran ketika ayahnya tak menjawab apapun tentang dirinya. Apa ia akan ditinggal? Tapi kenapa?

“Biarkan ia disini dengan beberapa penjaga.”

Apa?! Ia ditinggal?

“Yang benar saja! Kita tak mungkin meninggalkannnya sendiri!”

“Lalu apa?Membawanya? Ia tak boleh pergi meninggalkan tempat ini!”

Tak boleh pergi dari rumah? Kenapa?

“Aku tidak mau meninggalkan anakku! Kau mengorbankannya!”

Korban? Siapa? Dirinyakah?Tapi yang lebih penting, korban untuk apa?

Gadis kecil itu semakin bergetar dengan keringat dingin, berharap perkataan ibunya tadi hanyalah tuduhan tanpa bukti belaka.

Ia terlalu penasaran dengan semua ini. Apa yang sebenarnya terjadi?

“Dia juga anakku! Dan aku juga tak mungkin mengorbankannya, hanya saja…”

Hanya saja apa? Kenapa ayahnya tak meneruskan kalimatnya?

“Hanya saja apa, huh?!”

Cukup. Gadis kecil itu sudah sangat penasaran.

“Kumohon, mengertilah. Ia tak mungkin meninggalkan tempat ini karena—

“Ayah, ibu,”

Dan detik berikutnya membuat kedua orang dewasa itu tersentak ketika sesosok anaknya yang terus mereka bicarakan muncul dari balik pintu, “Ada apa denganku? Kenapa aku tak boleh ikut dengan kalian?”

Kedua orang dewasa itu saling bertatapan dengan pandangan menyalahkan sebelum sang ibu berjalan menghampiri anaknya dan berjongkok di depan putri kecilnya.

“Sica, kau menguping pembicaraan kami? Itu tidak baik, Sayang,”

Jessica kecil hanya mengangguk lemah. Tapi rasa penasarannya belum terpuaskan, “Ibu—

“Jessica,” ayahnya berujar, “kami tidak akan lama meninggalkanmu, Sayang,”

“Kalian akan pergi kemana? Kenapa hanya membawa Soojung?”

Ibunya menarik napas sebelum kembali menjawab, “itu karena Soojung masih kecil. Kami hanya pergi ke rumah pamanmu.”

“Paman?”

Ayahnya mengangguk, “tempatnya sangat jauh. Kau pasti akan bosan di perjalanan, maka dari itu kami tidak membawamu. Kau mengerti, kan?”

Dengan polosnya, gadis kecil itu percaya dan menganggukkan perkataan ayahnya. Tak menghiraukan lagi rasa penasarannya yang tadi sangat membuncah.

“Jadi, sekarang lebih baik kau—

“Oh, jadi kalian akan melarikan diri dariku, huh?”

Sontak sebuah suara membuat tubuh kedua orang dewasa itu menegang dengan mata melotot. Jessica yang melihat reaksi kedua orang tuanya sontak mengalihkan pandangannya kepada pemilik suara yang entah sejak kapan sudah berdiri di depan pintu yang ia gunakan untuk masuk tadi.

Mata tajam orang itu menatap kearahnya.

“Jadi dia anak kalian, huh?”

Orang itu beranjak kearahnya dan menatap Jessica yang sedikit ketakutan dengan pandangan yang tajam. Penerangan yang tidak terlalu terang membuat gadis kecil itu tidak cukup jelas untuk melihat wajah orang tersebut. Yang ia tahu adalah kedua orang tuanya sekarang sedang memeluknya dengan sangat erat dan ketakutan.

“Jangan ganggu anakku! Kau hanya berurusan dengan kami!”

Orang itu mendecih, “sudah mau mati saja tetap bertingkah.”

Mati? Siapa yang akan mati?

“Seharusnya makhluk sepertimulah yang pantas mati!”

“Berani sekali kau!”

Dan detik berikutnya yang gadis kecil itu rasakan adalah rasa sakit di kepalanya ketika—dengan sengaja atau tidak—ia terlempar dari orang tuanya.

Selanjutnya suara teriakan ibunyalah yang terdengar memenuhi ruangan itu.

Ia ingin berteriak. Menangis. Tapi entah kenapa rasa sakit di kepalanya membuatnya lebih ingin tertidur sejenak. Sangat sakit.

Ibunya kembali berteriak.

Lalu suara ayahnya yang terdengar kesakitan.

Dan entah kenapa lantai tempat Jessica berbaring jadi terasa lebih licin dari biasanya.

Ia melawan sakit di kepalanya untuk membuka matanya, melihat apa yang terjadi. Betapa kagetnya dia ketika melihat kedua orang tuanya—yang berada tidak jauh darinya—tampak sekarat dengan darah yang menggenang di sekitar mereka.

Tangisnya pecah. Berusaha digapainya tangan orang tuanya tapi sakit di kepalanya benar-benar menganggu. Ia kembali menangis dan berteriak. Ia tak tahu apa yang terjadi sehingga kedua orang tuanya tergeletak tak berdaya seperti ini.

“Ayah, ibu,” lirihnya berusaha menggapai tangan salah satu orang tuanya.

“Kau anak dari dua keparat ini ya?”

Suara itu mengalihkan perhatian Jessica. Dengan airmata yang menggenang ia menatap orang yang tadi bertengkar dengan kedua orang tuanya. Gadis kecil itu tak mengerti arti dari ‘keparat’ yang orang ini maksud tapi apapun itu pasti artinya sangatlah buruk.

“Cih. Tatapanmu sama saja seperti mereka.”

Tak berapa lama kemudian terdengar suara anak kecil yang menangis dari tempat lain yang tidak jauh dari sana. Jessica tersentak. Adiknya.

Ia berusaha menghiraukan orang di hadapannya dan bangun tapi gagal ketika dengan mudahnya orang itu mendorongnya.

“Siapa yang suruh kau pergi dari sini, hah?!” bentak orang itu, “lihat orang tuamu itu! Sekarat! Sebentar lagi kau akan seperti mereka!”

Gadis kecil itu memejamkan matanya ketika orang itu mengangkat sebuah benda dan diarahkan kearahnya.

Tajam dan dingin.

Ia tak ingat apapun kecuali gelap dan rasa amis asing yang menghampirinya.

.

.

.

Jessica tersentak.

Sial, mimpi itu lagi!

Napas yang memburu dan kucuran keringat benar-benar menandakan bahwa ia mengalami mimpi yang kurang baik.

Wanita itu menghela nafas sambil berusaha duduk dengan menyandarkan punggungnya pada sandaran tempat tidur di belakangnya. Diraihnya segelas air putih di nakas—sudah kebiasaannya untuk menaruh air di tempat itu—dan meminumnya sampai teguk terakhir.

Sudah 16 tahun dari terjadinya kejadian itu tapi kenapa sekarang ia harus kembali teringat dengan kejadian itu lagi? Satu hari dimana hidupnya hancur seketika.

Kalau saja saat itu ia bisa menolong orang tuanya lebih cepat.

Kalau saja saat itu ia punya tenaga untuk menghampiri adiknya.

Kalau saja…Tidak.

Tak ada yang perlu disesali.

Semuanya sudah terlambat.

Wanita itu melirik jam weker di meja tempat air minumnya lalu menghela nafas sebentar. Jam 3 pagi. Masih terlalu pagi, memang, tapi manusia mana yang bisa tidur kembali setelah mengalami sebuah mimpi buruk?

Dengan gerakan setengah-tak-niat, Jessica bangkit dari tempat tidurnya menuju kamar mandi. Ia harus bersiap-siap karena setidaknya hari ini adalah hari pertama dalam pekerjaannya yang baru bersama rekan baru.

Tidak, sudah kubilang tak ada yang boleh disesali.

Jessica sudah terlanjur tenggelam dalam dunia gelap penelitian seperti orang tuanya.

Karena hanya pekerjaan inilah aksesnya untuk bisa mencari tahu siapa pembunuh kedua orang tuanya.

.

.

.

.

“Jessica Jung?”

Jessica menoleh saat seseorang memanggil namanya, “Ya?”

“Ah, benar. Ternyata kau Jessica Jung. Syukurlah ketemu juga.”

Jessica tersenyum menanggapinya. Syukurlah orang ini yang menemukannya duluan. Kalau tidak, entah sampai kapan Jessica akan terus berputar-putar di dalam bandara ini untuk menemukan orang yang ia cari.

Di depannya seorang gadis dengan rambut pendek berwarna pirang sedang tersenyum ramah kearahnya, “Perkenalkan, namaku Lee Sunkyu.” Ucapnya sambil mengulurkan tangannya dengan senyuman yang masih setia bertengger di wajahnya.

Jessica membalas jabatan tangannya, “Namaku Jessica Jung. Senang berkenalan dengan anda, Sunkyu-ssi,”

“Ah! Jangan panggil aku dengan sebutan seformal itu,” ucapnya sambil mengibaskan tangannya, “panggil saja aku Sunny. Nama ‘Sunkyu’ terdengar seperti anak laki-laki,” lanjutnya.

Jessica tersenyum. Gadis ini cukup menyenangkan.

“Ah! Apa kau sudah menunggu lama, Sunny? Maafkan aku,” ucap Jessica sambil membungkukkan badannya.

Well, Jessica benar-benar mengutuk petugas bandara yang tadi salah memberikan informasi untuknya dan membuatnya harus memutar-mutar bandara ini. Untunglah ia datang satu jam lebih awal sebelum jam keberangkatan pesawatnya.

Pertemuannya memang cukup aneh. Kenapa harus di bandara? Tuan Choi, atasannya, mengatakan kalau tugasnya kali ini cukup menyita waktu. Jadi untuk menghemat waktu mereka bisa berkenalan sembari melakukan perjalanan ke tempat tujuan.

Sunny tampak tidak enak dengan Jessica yang membungkukkan badannya, “tidak apa-apa kok. Lagipula kami juga yang membuat kau bingung.” Ucapnya setelah Jessica kembali menegakkan badannya, “ayo! Seorang lagi sedang menunggu di kafetaria,” lanjutnya.

.

.

.

“Jadi kau anggota terakhir keluarga Jung yang di rekomendasikan oleh Tuan Choi ya?”

Jessica sedikit merasa kurang nyaman ketika menyangkut pautkan identitasnya dengan Keluarga Jung. Tapi mau bagaimana lagi, itu memang kenyataannya.

Dan lagi, wanita yang ada di depannya ini juga tidak terlihat ramah seperti Sunny tadi. Sementara wanita ceria itu tampak sibuk berbicara dengan salah satu petugas kafetaria, membayar pesanan, mungkin.

“Namaku Kim Hyoyeon. Dalam tugas ini, aku berperan sebagai ketuanya. Kuharap kau bisa bekerja sama,” Ucap wanita itu sambil mengulurkan tangannya yang di balas oleh Jessica.

“Jessica Jung. Senang berkenalan denganmu.” Ucap Jessica, “maaf sudah membuatmu menunggu lama,” ucap Jessica sambil membungkukkan badannya ketika jabatan tanganya telah terlepas tadi.

“Tak masalah. Ayo cepat. Pesawat kita sebentar lagi berangkat.” Ucap Hyoyeon singkat sambil menarik koper yang ada di sebelahnya setelah beberapa saat yang lalu terdengar suara merdu dari petugas bandara.

Sesaat setelahnya Sunny menghampiri Jessica dengan koper ditangannya dan berjalan di sebelah wanita itu. Mereka berdua berjalan di belakang Hyoyeon yang sedang sibuk dengan gadget di tangannya.

“Bagaimana perkenalannya?” tanya Sunny.

Jessica sedikit bingung harus menjawab apa, “ya, begitulah,” akhirnya hanya dua kata ambigu yang keluar dari mulutnya.

Sunny menghela nafas, “dia pasti bersikap cuek  padamu ya? Dasar dia itu!” ujar Sunny sambil melihat kearah depan dengan pandangan galak, meskipun sadar kalau Hyoyeon yang membelakangi mereka tak mungkin melihatnya.

“Jangan dipikirkan. Hanya awalnya saja dia cuek. Sebenarnya dia orang yang baik kok.” Ucap Sunny kemudian dengan senyum diwajahnya.

Jessica hanya tersenyum menanggapinya.

Entah kenapa dia merasa beruntung memilik dua partner yang begitu berlawanan sifat.

.

.

.

.

“Ya ampun, melelahkan sekali!”

Sunny meregangkan seluruh ototnya sambil sedikit menguap ketika mereka bertiga baru saja keluar dari gerbang kedatangan.

Baiklah, coba katakan manusia mana yang tidak akan lelah dengan perjalanan selama dua belas jam dan harus transit sampai beberapa kali?

Jessica menggerakkan lehernya.

Hyoyeon menguap.

Perjalanan menuju Rumania, salah satu Negara dibagian Eropa Tengah, memang bukan perjalanan yang sebentar. Harus transit sampat tiga kali membuat tiga wanita ini hampir kehabisan tenaga. Belum lagi perbedaan waktu yang sangat ekstrim dengan Korea membuat ketiganya benar-benar angkat tangan. Kalau bukan karena tugas, tak ada seorang pun yang mau repot-repot untuk pergi kesini.

Hari sudah gelap ketika mereka datang. Ya Tuhan, perjalanan yang panjang!

“Cepat ambil barang-barang kalian, kita langsung ke tempat tujuan.”

Satu kata dari Hyoyeon membuat dua orang lagi menghela nafas dengan sangat terpaksa.

.

.

.

“Thank you, Sir,” ucap Hyoyeon ketika mereka bertiga turun dari sebuah taksi yang mengangkut mereka menuju sebuah kota yang berada di bagian barat Rumania itu, “here,” Hyoyeon menyerahkan beberapa lembar uang kepada si supir dan tak berapa lama hanya tinggal mereka bertiga di jalanan yang lumayan sepi tersebut.

 

 

Welcome to Transylvania

 

 

Jessica membaca sebuah papan selamat datang yang berada di depan mereka. Transylvania adalah tujuan tugas mereka. Kota yang berada di sebelah barat Rumania ini memang tidak terlalu kecil tapi juga tidak terlalu besar. Akses untuk keluar kota memang tidak sulit tapi juga tidak bisa dikatakan mudah.

Dan yang terpenting, Kota ini terkenal dengan sebutan ‘The Birth City of Vampires’. Yeah, bukankah ini tugas mereka?

Jessica menghela nafas memandang sekitar. Wilayahnya bisa dikatakan cukup sepi. Sejauh mata memandang hanya ada rumah-rumah sederhana warga yang masih memiliki cerobong asap dan pohon-pohon. Tak jauh dari tempat mereka berdiri ada sebuah pangkalan kereta kuda yang masih beroperasi. Selebihnya, hanya jalanan sepi dan kosong. Miris.

“Sial! Ponselku tak bisa menangkap sinyal sedikitpun!” Sunny menggerak-gerakkan ponselnya keatas. Berharap dengan begitu, ada sedikit sinyal yang mau berbaik hati masuk ke dalam ponselnya.

Jessica tersadar. Ponselnya.

Segera ia membuka tas selempang dan mengeluarkan benda kecil tersebut. Helaan nafas sekali lagi terdengar. Sama saja. Tak ada sinyal.

Benar-benar miris.

“Berhenti melakukan itu, Sunny,” Hyoyeon bersuara sambil memutar bola matanya setelah sebelumnya ia mengecek peta perjalanan, “kau pasti cukup pintar untuk tau tak ada menara pemancar yang bisa masuk ke daerah ini,” ujarnya kemudian.

Sunny terlihat cemberut.

Apa? Tak ada menara pemancar katanya? Yang benar saja!

“Bagaimana kalau kita harus menelfon atau melakukan hubungan interlokal?” Jessica bertanya dengan nada kurang percaya. Yang benar saja! Tak ada menara pemancar artinya tak ada hubungan dengan kontak luar!

“Itu mudah. Ada beberapa tempat disini yang menyediakan jasa telfon rumah. Bedanya telfon disini tidak menggunakan menara pemancar sebagai perantara tapi sebuah chip yang dipasangi di dalamnya. Chip itu tidak langsung bisa digunakan untuk menelfon sebuah nomor tapi terhubung dengan nomor operator dari kota yang terdekat dengan kota ini. Kau harus menelfon ke nomor operator itu lalu menyebutkan nomor berapa yang perlu kau hubungi.”

Mudah katanya?

“Sesulit itukah?”

“Kurasa itu cukup wajar. Mengingat dataran kota ini tidak cukup memungkinkan untuk dipasangi menara pemancar. Ditambah dengan cuaca yang cukup ekstrim.”

God! Yang benar saja!

Sunny cemberut sebelum berujar, “aku masih menerimanya jika seperti itu. Sayangnya, bukan di daerah ini kita ditugaskan,”

Ya Tuhan…

.

.

.

.

“Jadi…disini?”

Sunny memandang sekitarannya ketika mereka bertiga telah turun dari sebuah kereta kuda yang mengantar mereka. Dan Jessica bersumpah, ia masih lebih memilih berada di tempat yang sebelumnya mereka berada daripada disini!

Coba bayangkan hanya ada beberapa rumah tua yang cukup besar dengan jarak antar rumah yang tidak bisa dibilang dekat dan selebihnya hanyalah pohon-pohon besar. God!

Kalau di tempat tadi saja sudah sulit melakukan hubungan interlokal apalagi di tempat ini!

“Dari keterangan yang aku baca, rumah-rumah itu adalah penginapan,” Hyoyeon berujar ketika Sunny dan Jessica memandangi rumah-rumah yang cukup besar dengan model yang sangat tua.

“Penginapan?”

“Ya. Jangan kira tak ada orang yang berani datang kesini. Rumah-rumah itu adalah saksinya. Kurasa setiap tahunnya rumah-rumah itu pasti penuh dengan manusia dari berbagai Negara.”

“Untuk apa mereka datang kesini?” kali ini Sunny berujar dengan nada yang cukup serius.

“Karena itu,” tunjuk Hyoyeon pada sebuah direksi.

Sebuah istana yang di kelilingi dengan pohon-pohon besar dan perbukitan dengan menara-menara besar nan kokoh yang berada di setiap sisi istana tersebut. Dengan atap yang berwarna merah kusam dan tembok beton yang terlihat tua mencerminkan sudah berapa lama istana tersebut berdiri. Sebuah jembatan beton yang menghubungkan istana tersebut dengan dataran luas yang saat ini mereka pijak seakan mempersilahkan ketiganya berjalan kesana. Megah dan besar. Tapi juga tampak meyeramkan.

“Itulah tujuan utama kita kesini.” Hyoyeon pun sama, masih terpaku dengan keindahan yang disajikan oleh istana tersebut, “Jessica, coba jelaskan tempat apa itu?”

“Istana Vlad Dracul. Istana ini dikenal sebagai markas tempat Kaisar Vlad Dracula tinggal saat ia berperang melawan Turki. Istana yang terkenal sebagai tempat lahirnya…Vampir.”

Dan tempat inilah pula awal Jessica akan mengungkap siapa pembunuh kedua orang tuanya.

Ia bisa merasakannya.

Tempat inilah tempat yang ia cari

TBC

NB: di chapter 1 nya, dibagian akhirnya aku tulis “Peradaban Vampir di Rusia,” dan itu salah, maaf ya yang bener adalah Rumania ._.V . Ini chapter yang panjang loh buat aku dan mudah-mudahan ceritanya juga gak terlalu berat yaaa and sorry for the typo. Soal chip telfon itu aku ngarang aja jadi jangan di anggap beneran ya._. Habis ini mungkin aku bakalan focus sama satu cerita diantara ff ku ._.v Otakku yang error ini lagi pengen berinspirasi soal horror and action tragedy gitu lah._. But, tetep review wa to the jib yaa. Leave ur comments please^^

Cr: semua informasi soal tempat berasal dari mbah google.

23 thoughts on “Unforgettable History (Chapter 2)

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s