Our Marriage is Ridiculous (Chapter 2)

our-marriage

(Poster by: Shinessy artwork (highschoolgraphics.wordpress.com)

Jessie Kim

Proudly Presents

A new chapter of ‘Our Marriage is Ridiculous’ with Hyoyeon and Jongin as a main cast

.

.

.

Preview Chapter

“Perjanjian?”

“Perjanjian selama pernikahan kita,” ucapnya, “tidak mengurusi urusan satu sama lain. Kau urus urusanmu dan aku urus urusanku. Anggap kita tidak saling mengenal kecuali di depan keluarga,” lanjutnya.

“Bagaimana mungkin? Setelah ini kita akan tinggal di rumah yang sama,” ucapku tak kalah dinginnya.

“Kalau begitu anggap saja aku ini kursi, meja, atau kulkas. Terserah. Begitu juga dengan aku.” Jawabnya, “Kau setuju, istriku?” lanjutnya dengan penekanan di akhir katanya

Aku kembali memandang kearah Jongin lalu tersenyum semanis mungkin. Tentu saja aku tahu apa yang harus aku jawab, sangat tahu.

“Tentu saja, suamiku,”

Dan setelahnya aku bisa melihat seringai Jongin yang—bolehkah aku sebut keterlaluan—tampannya. Sial! Aku menikahi pria tampan yang kejam, Poor me!

Aku, Kim Hyoyeon, 22 tahun. Menikahi pria bernama Kim Jongin atas alasan yang sangat konyol!

.

.

.

.

Aku ingat, sangat ingat malah. Dulu sekali, mendiang ibuku pernah bertanya padaku tentang cita-citaku. Aku yang saat itu hanya anak perempuan berumur 6 tahun dengan polosnya menjawab, “Aku ingin menikahi seorang pangeran,”

Saat itu, ibuku hanya tertawa dan mengusap rambutku pelan. Tawanya sangat merdu dan menenangkan. Aku tidak tahu kalau dua tahun setelah itu beliau divonis menderita sebuah kanker. Aku masih gadis kecil ketika melihatnya tiba-tiba jatuh dan tidak sadarkan diri di depanku.

Saat itu, aku mengira bahwa beliau sedang mengerjaiku seperti sebelum-sebelumnya yang dia lakukan, tapi setelah menunggu lama ternyata ia tak kunjung mengatakan ‘Got You, Kid!’ Aku mendekatinya dan mengguncang tubuhnya. Aku masih ingat betul bagaimana pucatnya wajah wanita yang telah melahirkanku itu.

Lalu tiba-tiba ayah datang dengan ekpresinya yang khawatir dan membawa ibuku ke mobil dan melajukannya. Aku yang bingung hanya berdiri di tempat sambil memegang boneka beruang kesayanganku sampai akhirnya nenek datang dan membawaku untuk menyusul kedua orang tuaku.

Aku tahu saat itu kami berada di rumah sakit. Tapi aku tidak mengerti mengapa ayah dan nenekku menampakan ekspresi yang tidak biasa, terlebih saat seseorang berjas putih keluar dari ruangan dimana ibuku berada. Dan menit berikutnya, ayah dan nenek kembali menampilkan ekspersi sedih yang tidak pernah aku lihat sebelumnya setelah seseorang itu mengatakan sesuatu pada mereka.

Aku yang saat itu tak mengerti apapun bertanya pada ayah apa yang terjadi sebenarnya. Lelaki yang paling aku kagumi itu hanya tersenyum dan mengatakan bahwa semua baik-baik saja. Semua tidak baik-baik saja, dan aku tahu itu, tapi aku hanya bungkam. Aku mengikuti ayah masuk ke ruangan dimana ibuku berada.

Aku tidak tahu kenapa ibu dikelilingi oleh mesin-mesin yang berbunyi ‘pip’ dan slang-slang yang menyambung ke tubuh wanita itu. Wajahnya pun tidak sedamai seperti yang sering aku lihat. Dan aku tidak tahu kenapa sorot mata itu menampakan kesedihan yang sangat mendalam saat memandangku. Aku juga tidak tahu kenapa ayah dan nenek terlihat akan menangis ketika ibu memanggilku untuk mendekat kearahnya.

Tangan yang seharusnya lembut seperti biasa itu menyentuh pucuk kepalaku dan mengusapnya perlahan. Usapan nya begitu lembut dan menenangkanku, seharusnya seperti itu. Tapi saat itu aku merasakan ketakutan yang luar biasa ketika tangan wanita yang aku sayangi itu menyentuh ujung kepalaku. Perlahan tangan itu turun ke pipiku dan kembali mengusapnya lembut. Berbeda, tangan itu tidak selembut seperti yang sering aku rasakan dan juga tidak…hangat.

Pun dalam keadaan seperti itu, beliau tetap tersenyum kearahku dan menanyakan apa cita-citaku nanti. Aku tidak mengerti kenapa ia menanyakan hal itu dalam keadaan seperti ini tapi aku tetap menjawabnya, “aku ingin menikahi seorang pangeran,” dan setelahnya beliau kembali tertawa seperti saat itu dan kembali mengusap pipiku.

Aku tidak mengerti kenapa tiba-tiba senyuman itu terlihat sangat lemah. Tangan lembutnya kian mendingin seiring matanya yang mulai terlihat sayu dan suara mesin-mesin yang kian mengeras di dekat kami. Saat itu aku bisa mendengar beliau membisikkan sesuatu dengan suaranya yang lemah. Sesuatu yang saat itu tidak dimengerti oleh anak kecil berumur 8 tahun. Dan setelahnya matanya menutup sempurna dengan diiringi oleh tangisan nenek dan ayah.

Saat itu aku tidak mengerti apa yang terjadi pada beliau sampai ketika aku beranjak dewasa dan mulai mengerti apa yang terjadi dengan keadaan. Hanya saja, kata-kata terakhirnyalah yang tak pernah aku mengerti sampai sekarang.

Kata-katanya yang membuatku bertanya-tanya, kapan? Karena saat ini aku sendiri terjebak dengan seseorang yang tak pernah aku cintai, bukan pangeran yang aku nanti.

“Suatu saat, kau pasti akan bertemu dengan pangeranmu, Nak,”

Yang benar saja!

.

.

.

“Apa-apaan ini?!”

Aku sedikit terlonjak kaget saat lelaki disebelahku tiba-tiba berteriak. Demi Tuhan! Suaranya bahkan lebih kencang dari sound system rusak dan itu sangat mengganggu!

“Bisakah kau kecilkan suaramu, Tuan Kim?” ucapku sinis sambil menatap kearahnya. Aku tidak tahu apa yang membuatnya berteriak seperti itu dan—sungguh—tak ingin tahu!

Jongin melirik sekilas kearahku dan berkata, “hey! Ingat margamu juga Kim, Nyonya Kim?” ia kembali melihat kearah depan dan menunjuk direksi yang membuatnya berteriak, “lihat itu dan jangan anggap aku berlebihan,” lanjutnya sebelum melangkah memasuki lebih dalam ruangan di depan kami.

Aku melihat direksi yang ditunjuk oleh Jongin dan—What The Hell!. Oh, terimakasih, Tuhan, aku masih bisa menahan diri untuk tidak berteriak seperti lelaki tadi. Tapi ini benar-benar—ugh! Apa-apaan ini?! Sepasang lingerie untukku dan Jongin diatas sofa?! Dan dengan warna abu-abu?! Menggelikan!

“Masih menganggap aku berlebihan, huh?” bisa kulihat Jongin melepaskan dasi dan jaznya lalu menaruhnya diatas tempat tidur—uhuk—kami. Inilah yang aku benci—dan sangat menggelikan. Malam pertama disebuah hotel—yang bolehkah aku katakan terlalu mewah—yang telah di sewa oleh keluarga kami. Tak bisakah mereka berfikir normal bahwa anak-anak mereka tak mungkin melakukan ‘itu’, huh?

Aku tak menghiraukan ucapannya. Mataku tertuju pada dua buah koper yang berada di dekat sebuah pintu—kutebak itu pintu kamar mandi. Dan, sekali lagi, terimakasih, Tuhan! Mereka masih menyayangiku sepertinya sampai membawakan aku dan Jongin baju-baju kami. Oh, ayolah! Mana mungkin aku memakai pakaian terkutuk tadi selama semalam penuh!

Kaus-kausku dan pajamasku—oh aku sudah tak bisa menahan lagi keinginan untuk mengganti gaun yang terlalu mewah ini dengan pakaian surga duniaku. Aku meraih salah satu koper itu—yang aku kenali sebagai koperku—dan membukannya. Kausku dan—What! Apalagi ini?! Dimana kaus dan pajamasku, huh? Kenapa malah tumpukan pakaian terkutuk itu yang ada di dalam koperku?!

Aku mengambil salah satu dari tumpukan pakaian itu yang ada di dalam koperku dan—Oh God! Ini warna pink dengan renda-renda menggelikan di sekitar—ehm—dadanya? Apa ayah dan orang tua Jongin sedikit tidak waras? Dan tak ada satu pun pakaian normal di dalam koperku ini? God!

“Ckckck,” Jongin berdecak, ketika aku mengangkat pakaian itu dari koperku, “ayahmu atau orang tuaku sebenarnya yang tidak waras?” ucap Jongin dengan gelengan kepala sambil melihat ke arah pakaian terkutuk itu.

Apa katanya? Berani sekali dia bilang ayahku tidak waras?!

Jongin hanya mendelik sesaat kearahku lalu membuka sepatu, jaz dan dua kancing teratas kemejanya dan setelahnya lelaki itu langsung membaringkan badannya di tempat tidur. Ugh! Jorok sekali! Ia bahkan tak mencuci wajahnya sebelum tidur!

“Hei! Jangan menatapku seperti itu,” ups! Kurasa dia sadar tatapan—sinis—ku, “kau pikir aku mau pakai pakaian itu, huh?” lanjutnya sambil mengedikkan pakaian yang terletak di atas sofa.

Benar juga. Orang waras manapun takkan mau memakai pakaian seperti itu.

Baiklah. Masa bodoh dengan Jongin sekarang. Kalau ia mau tidur tanpa mengganti baju dan membersihkan diri dulu itu urusannya. Ah! Aku lupa! Tak ada baju yang waras untuk kami pakai sekarang, Hell!

Tak masalah kalau ia mau tidur di tempat tidur, masih ada sofa untuk aku tidur nanti—ayolah jangan berpikir aku mau satu tempat tidur dengannya, tak akan mungkin!

Tak masalah juga bila selimutnya hanya satu, masih ada penghangat ruangan—dan jangan pernah berpikir aku mau berbagi selimut dengannya, please!

Masalahnya adalah…bagaimana dengan gaun ini?

Ah, sofa kelihatan lebih nyaman untuk berpikir daripada dengan jongkok seperti ini.

Krek

Ya Tuhan! Kakiku!

Sialan, aku lupa melepas high heels saat masuk ke kamar ini—ini hotel kan, tak perlu dilepas juga sebenarnya. Dan sialnya aku lupa saat berjongkok tadi juga masih memakai sepatu-sialan-yang-sangat-sialan ini!

Hell!

Dan lebih sialan lagi satu-satunya lelaki yang ada di kamar ini tidak berniat sedikitpun untuk membantuku sama sekali, God!

Apa matanya buta, huh? Apa dia tidak liat istrinya ini sedang ‘berpincang-pincang ria’ untuk bisa menuju sofa?

For God Shake! Aku yakin kamar ‘king suite’, ‘super suite’, ‘big suite’, ‘sliming suite’, atau ‘apapun sebutan untuk kamar mewah ini’ pasti dilengkapi dengan AC otomatis tapi kenapa laki-laki itu sekarang malah berkeringat, huh?! Dan dengan rambut yang acak-acakkan?! Tak sadarkah dia itu membuatnya jadi terlihat—

Stop it, Kim Hyoyeon.

Stop thinking about him.

Baiklah, kenapa aku jadi memikirkannya…

Tuhan, sebenarnya apa salahku, huh? Kenapa aku—

BRUK!

Ouch…

.

.

.

“Ceroboh,”

Apa?

“Tukang buat susah,”

Siapa yang dia maksud? Aku, huh?

“Menyebalkan,”

Beraninya lelaki ini…

“Kalau ayahmu tahu anaknya tiba-tiba seperti ini, orang yang paling mungkin akan dia bunuh adalah aku.” Oh, lelaki ini sedang jengkel sepertinya.

Ya, jengkel denganku.

Hei! Jangan salahkan aku!

Salahkan saja sepatu-sialan-yang-sangat-sialan yang tadi kupakai itu. Kalau sepatu itu tidak membuatku kehilangan keseimbangan dan jatuh tepat dengan kakiku yang sebelumnya sudah sakit—demi tuhan, sepertinya aku harus membuang sepatu itu jauh-jauh—kan tidak mungkin jadi seperti ini.

Oke, baiklah, salahkan aku yang memakainya.

Tapi jangan membela lelaki di hadapanku yang sekarang sibuk menggerutu juga! Mana ada laki-laki yang menggerutu seperti nenek tua penjaga toko sayur.

Sesaat setelah aku jatuh karena sepatu sialan itu—jangan bertanya bagaimana posisiku jatuh, okay—ia langsung menghampiriku dan memapahku untuk duduk di sofa. Setelah itu ia langsung pergi ke pantry di kamar ini dan kembali dengan semangkuk sedang berisi air dan es di dalamnya—oh, dan juga dengan gerutuannya. Ah, beruntungnya kamar ini lengkap dengan isinya dan macam-macam. Beruntung sekali.

Setidaknya mungkin nanti aku harus berterima kasih padanya.

“Dasar wanita tua merepotkan,”

Dan mungkin juga tidak.

“Siapa yang kau maksud tua, hah?” tanyaku dengan nada yang cukup tinggi. Well, aku sedikit tersindir, hanya sedikit loh.

“Kau! Siapa lagi, huh?”

“Ya! Jangan sembarangan bilang tua! Kau hanya lebih muda empat bulan denganku dasar bocah!”

“Sama saja. Itu artinya kau tetap lebih tua dariku. Wanita tua tetap saja wanita tua.”

Lelaki ini!

Siapa sih wanita yang mau di bilang tua oleh lelaki?! Empat bulan apa perlu masuk hitungan juga, huh?

Benar-benar membuat jengkel!

Saking jengkelnya, aku menepis tangannya yang sedang mengompres kakiku dengan es yang tadi ia bawa. Sesaat aku lihat ia mendengus dan menatapku dengan pandangan malas. Tuhkan, benar-benar!

“Heh, Bocah!” Shit, aku jadi merasa tua kalau memanggilnya seperti ini, “jangan sembarangan memanggil orang lain dengan sebutan tua!”

“Apa salahnya? Kau memang lebih tua dariku?”

“Kau ini!” benar-benar membuat jengkel!

Oke, calm down, Hyoyeon.

“Hei, kalau tidak mau mengompresnya, serahkan saja padaku, aku bisa melakukannya sendiri.” Ucapku sembari mengadahkan tanganku, memintanya memberikan kompresan es ditangannya.

Ia masih diam.

Ck. Bikin kesabaran orang habis saja.

“Apa yang kau pikirkan?” aku sedikit membentaknya, “bukannya kau sendiri yang bilang, urus urusan masing-masing? Lalu kenapa kau peduli padaku, huh?”

Ia masih terdiam dengan mengangkat sebelah alisnya.

“Ingatlah, ini cuma pernikahan palsu. Kau dan aku hanya ‘menikah’ di depan keluarga. Jadi jangan berusaha bersikap baik padaku!”

Apa aku keterlaluan? Tidak, kurasa.

Tapi, entahlah, karena detik berikutnya Jongin melemparkan kompresan es itu kearahku dan mendengus dengan wajah yang meremehkan. Jujur, aku sangat membencinya.

“Ya!” nada suaranya sedikit dingin, “aku hanya ingin membantumu sebagai laki-laki. Kau tidak mau juga tidak masalah.”

Untuk beberapa saat kami hanya berpandangan.

Aku tak tahu apa arti pandangannya dan, kurasa, ia juga tak tahu arti pandanganku.

Sesaat setelahnya ia berjalan melewati sofa, yang membelakangi pintu masuk, dan menuju kearah pintu untuk keluar. Walaupun masih memunggunginya, aku yakin dia baru sampai depan pintu ketika dia kembali berujar.

“Aku hanya kasihan padamu. Kau tahu, kau wanita tapi seperti dibuang oleh ayahmu sendiri.” dan bunyi pintu yang tertutup mengakhiri semuanya.

Aku dibuang oleh ayahku sendiri?

TBC

NB:Holaaaa!!! Hehehe ketemu lagi sama author gak bertanggung jawab ini yaaa. Sudah lamaaaaa sekali dari terakhir aku kirim chap 1 ff ini ya._.v Maaf udah lama ngilang dan belum update lagi hhehehe and sorry kalo ada typo yaa. Dan maaf juga kalo chapter ini kurang memuaskan._. oh ya aku sebenernya gatau kai ama hyo lahir tgl brp tp anggep aja hyo lebih tua 4 bln dari kai ._.v Niatnya chap ini mau diupdate pas bulan puasa tapi biasalah ya org puasa suka males-males gimanaa gitu jadi keburu updatenya sekarang. Niatnya habis update ini mau bikin chap 1 dari teaser fic tapi kayaknya entar dulu deh, atau reader mau ngasih saran selesai-in dulu satu cerita terus bikin yang lainnya? Yah, pokonya ditunggu sarannya yaaa. Kalo review wa to the jib yaaa. Leave ur comments^^

33 thoughts on “Our Marriage is Ridiculous (Chapter 2)

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s