Hesitate – Chapter 4

Hesitate Cover

Tittle : Hesitate – Chapter 4

Author : Riri ( @bubblehun_ )

Cast(s) :

  • Im Yoona
  • Oh Sehun
  • Kim Jongin/Kai
  • Lei Hao Wen as Kevin Im/Im Jonghun

Other Cast(s) :

  • Oh Hayoung – A Pink
  • Lu Han
  • Kim Minseok/Xiumin
  • Byun Baekhyun
  • And others

Genre : Romance, Family, Sad

Rating : PG – 13

Length : Chapter

Previous Chapter :

Prolog | Chapter 1 | Chapter 2

Side Story :

Piece (The Beginning)

Hesitate


Mobil Jongin membelah jalanan Seoul, dengan keheningan yang menyelimuti mobil sport tersebut. Jongin tak terlalu mengganggu Yoona saat ini, dia hanya fokus menyetir dan Yoona yang masih menahan tangisnya. Jongin tahu Yoona tak mau diganggu dan Jongin sadar dia juga bukan siapa-siapa. Tapi mau tak mau Jongin harus akui, dia penasaran kenapa Yoona menangis tadi.

“Yoona-ya,” panggilan Jongin memecah keheningan diantara mereka.

Yoona menoleh, “Ya?”

“Bukan maksudku untuk mencampuri urusanmu, tapi kau kenapa?” Jongin buru-buru menambahkan, “Kita teman, kau boleh berbagi apa saja padaku kalau mau.”

Hening sejenak.

“Hanya bertemu seseorang,” Yoona memperhatikan jalanan yang mereka lalui.

“Siapa?” Jongin merutuki rasa ingin tahunya yang berlebihan, dia melihat sekilas perubahan raut wajah Yoona dan itu membuatnya menyesal bertanya seperti itu.

Hening lagi.

“Kau tak perlu menceritakannya jika kau tak mau,” ucap Jongin akhirnya, Yoona tak kunjung membuka suara dan Jongin pikir Yoona benar-benar tak mau bercerita.

“Ayah Kevin.”

Jongin membutuhkan waktu beberapa detik untuk mencerna kata-kata Yoona, ayah Kevin? Ayah kandung dari anak laki-laki itu maksudnya?

Yoona tak menceritakan apapun dan Jongin tak bertanya lagi, dia bisa bertanya lagi kapan-kapan. Jongin mengendarai mobilnya menuju apartemen Yoona, Jongin rasa Yoona butuh waktu untuk istirahat, baru setelah itu dia menjemput Kevin di sekolah dan mengajak anak laki-laki itu bermain sebentar.

***

Yoona sibuk memeriksa berkas yang tertumpuk di mejanya, sesekali dahinya berkerut saat menemukan hal yang ganjil. Akhirnya dia meletakkan berkasnya, mengetuk-ngetukkan jemarinya di meja. Memikirkan rapat kemarin, rapat yang membahas kerjasama produk baru mereka. Perusahaan ayahnya dan perusahaan Sehun (yang telah lama menjalin kerjasama) berencana untuk membuat produk baru dengan nama kedua perusahan, selama ini mereka hanya bekerjasama mendistribusikan produk masing-masing. Itu tak terlalu menganggu pikiran Yoona sebenarnya, tapi pertemuan dengan Sehun kemarin terus melintas di benaknya.

Yoona meraih sebuah majalah yang dibelinya tadi pagi, seseorang yang amat dia kenal menjadi cover majalah tersebut. Yoona tersenyum kecil, Minseok bisa menggapai mimpinya. Diantara mereka berlima –dirinya, Luhan, Sehun, Minseok dan Hayoung tak ada yang berhasil mewujudkan mimpi mereka kecuali Minseok. Minseok sekarang menjadi penyanyi solo terkenal, sedangkan mereka berempat terdampar di dunia bisnis.

Mereka masuk ke sekolah seni, mencoba menggapai mimpi. Tapi akhirnya mereka masuk jurusan bisnis setelah kuliah, takdir tak mengijinkan mimpi mereka.

Seseorang membuka pintu ruangannya, Yoona menoleh dan mendapati sepupu laki-lakinya –Luhan tengah memasuki ruangannya.

“Bisakah kau mengetuk pintunya dulu?”

Luhan mengedikkan bahunya tak peduli, “Bagaimana kabarmu? Kau pasti merindukan sepupu tampanmu ini, aku baru bertemu denganmu kemarin tapi kau malah menghilang setelah rapat.”

“Baik, aku bahkan berharap tidak bertemu denganmu,” Yoona mendengus pelan, Luhan tak pernah berubah.

“Aku banyak pekerjaan, dua minggu ini aku di luar kota. Padahal aku sudah merindukan Kevin, aku sudah lama tak bertemu dia. Bagaimana kabar Kevin?” Luhan duduk di sofa, terakhir kali dia bertemu dengan Yoona dan Kevin saat dia mengunjungi mereka di California, 2 tahun lalu.

“Baik, aku yakin Kevin tak merindukanmu Lu.” Luhan merengut, Yoona tertawa melihat kelakuan sepupunya itu.

Luhan kini menjadi seorang CEO muda perusahan ayah Yoona, Yoona bahkan tak percaya sepupunya itu menjadi CEO. Luhan bukanlah orang yang serius, dia sering bolos kuliah atau tidur seharian di rumah ketika libur. Dia juga bukan orang yang setia, bukan tipe orang yang betah dengan suatu kegiatan dan melakukannya secara terus menerus. Dia senang mengganti-ganti kegiatan, kecuali menari dan menyanyi tentu saja. Bahkan Luhan termasuk laki-laki yang sering mengganti kekasih, sampai seorang perempuan membuat Luhan berhenti menggonta-ganti kekasih.

“Tapi kurasa keadaannya tidak baik,” Luhan menyeringai kecil.

Yoona memicingkan matanya, “Maksudmu?”

“Apa Kevin sudah bertemu Sehun?” tak ada jawaban, “Kurasa tidak.”

Yoona melengos, Luhan tiba-tiba saja mengubah topik pembicaraan mereka, topik yang dia hindari.

“Tidak usah membahasnya Luhan, belum waktunya.”

“Kau selalu mengatakan hal yang sama selama 7 tahun,” Luhan selalu mendengar alasan yang sama selama ini dan dia bosan.

“Sudah kubilang belum waktunya, nanti aku pasti akan memberitahukan semuanya, tapi tidak sekarang.”

Luhan menghela napas pelan, “Kevin membutuhkan Sehun, begitu juga sebaliknya. Sehun harus mengetahui darah dagingnya sendiri, kau tak mungkin memisahkan hubungan ayah dan anak.”

Yoona sangat mengerti hal ini, amat sangat mengerti.

“Aku tak memisahkan Lu, aku hanya-”

“Menyembunyikan,” Luhan memotong perkataan Yoona, “Ya, aku tahu kau tak bermaksud memisahkan mereka.”

“Aku tak mungkin menyembunyikan ini selamanya, seperti katamu. Aku akan memberitahukan semuanya, tapi aku masih mencari waktu yang tepat.”

“Oh ya, aku masih mengingat raut wajahmu saat rapat kemarin. Lucu sekali, padahal Sehun tak akan menerkammu.” Yoona mendelik kesal, Luhan tertawa terbahak. “Sehun itu tidak menyeramkan, dia tampan, tapi aku masih lebih tampan darinya.”

“Kau terlalu percaya diri Luhan, Kevin bahkan lebih tampan darimu.”

“Kevin mirip dengan Sehun, berarti secara tidak langsung kau berkata Sehun tampan.” Luhan kembali tertawa, Yoona merutuki dirinya sendiri, dia salah bicara.

“Kurasa aku harus menelepon Sehun, mengajaknya makan siang bersama dan kau harus ikut.”

Yoona melotot, “Jangan coba-coba Luhan.”

“Kenapa? Kita sudah lama tidak makan bersama, sekalian mengajak Minseok dan Hayoung, Minseok bilang dia free selama beberapa minggu ini.”

Yoona merindukan saat-saat itu sebenarnya, saat mereka berlima pergi bersama. Tapi itu dulu, sekarang semuanya berubah. Bukan mereka berlima yang berubah, tapi Yoona dan Sehun. Semuanya tak akan kembali sama seperti dulu jika Yoona dan Sehun tetap seperti sekarang.

“Tinggal pilih saja, makan siang bersamaku, Hayoung dan Minseok atau makan siang bersama Sehun, Hayoung dan Minseok tanpa aku.”

Luhan mencibir pelan, “Kenapa begitu?”

“Sudahlah, lebih baik kau urus noona kesayanganmu atau cari kekasih sana.”

Luhan melempar pandangannya ke luar jendela, “Aku bertemu dengannya dua minggu lalu.”

“Lalu kenapa? Kau bilang dia sudah putus dengan kekasihnya, itu kesempatanmu untuk mendekatinya lagi.”

“Itu sudah lama Yoona, mungkin saja semua berubah atau dia mendapat kekasih baru.”

Luhan tak pernah seperti ini jika Yoona mengejeknya dan mengungkit masa lalu Luhan, tapi sekarang sepertinya berbeda. Biasanya Luhan balas mengejeknya atau paling tidak Luhan tertawa, meskipun Yoona tahu ada sesuatu dibalik tawa Luhan.

“Apa saja yang kalian bicarakan kemarin?”

“Hanya basa-basi, tak ada hal yang terlalu penting.”

“Cari perempuan lain, kau sudah tua Luhan.” Yoona mengalihkan pembicaraan mereka, dia tahu mereka tak boleh membahas hal itu sekarang.

“Enak saja, aku masih muda dan tampan.” Luhan melipat tangannya di dada.

“Kalau begitu cepat cari kekasih, kau itu sudah tua.”

“Aku masih muda, aku seumuran denganmu.”

“Terserah kau, tapi saranku, kau harus cepat mencari kekasih,” Yoona kembali mengambil berkasnya. “Sepertinya kau tak punya pekerjaan sekarang, bantu aku.”

Luhan segera beranjak dari duduknya, “Tidak, terima kasih, aku masih punya banyak berkas yang menumpuk di mejaku.”

“Luhan,” Luhan baru saja akan membuka pintu ketika Yoona memanggilnya.

Luhan berbalik, “Ya?”

“Cepat cari kekasih sana,” Yoona terkekeh pelan saat Luhan melotot ke arahnya sebelum menghilang di balik pintu.

***

Ketukan di pintu ruang kerjanya menginterupsi pekerjaan Sehun, dia melirik pintu sekilas kemudian kembali fokus pada pekerjaannya.

“Masuk,” ucap Sehun tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar laptopnya.

Seorang laki-laki dengan setelan jas kerjanya memasuki ruang kerja Sehun, Baekhyun melangkah masuk dan mendapati bosnya –sekaligus juniornya saat sekolah itu tengah mengerjakan sesuatu. Baekhyun berdiri di hadapan Sehun, dia tahu ada hal yang terjadi dan Sehun tak menceritakannya.

“Kau kenapa?”

Sehun menghentikan pekerjaannya, “Kenapa apanya hyung?”

Baekhyun memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, “Aku baru tahu kalau manager baru itu Yoona.”

Sehun terdiam sejenak, “Ya, sebenarnya aku sudah menduga itu Yoona.”

“Bagaimana bisa? Dugaanmu benar, kau bisa bertelepati?” Sehun hanya tersenyum kecut, sementara Baekhyun terkekeh pelan.

“Luhan pernah berkata bahwa Yoona pasti kembali dan aku yakin itu.”

Sehun memainkan balpoin di tangannya, kejadian kemarin terus saja membayanginya. Laki-laki yang Yoona peluk kemarin tentu saja bukan Luhan atau bahkan Minseok, dia sama sekali tak mengenali postur tubuh laki-laki itu, wajah laki-laki tersebut tak tertangkap retinanya. Yang mengganggu pikirannya adalah siapa laki-laki itu?

“Sehun, kau kenapa?”

Hyung, apa mungkin Yoona menikah lagi atau memiliki kekasih?”

Baekhyun menyerngitkan dahi, “Mungkin saja, tapi siapa? Dia menikah lagi di California begitu?”

Sehun menggeleng pelan, “Aku tidak tahu.”

“Kau bisa bertanya pada Luhan,” saran Baekhyun.

Luhan, dia pernah bertanya pada laki-laki itu sebenarnya. Jawabannya tentu saja berkebalikan dengan apa yang dilihatnya kemarin, Hayoung juga mengatakan hal yang sama saat Sehun bertanya dulu. Jadi siapa yang benar sekarang? Penglihatannya atau pernyataan yang didengarnya?

“Luhan pernah bilang Yoona tak menjalin hubungan dengan siapapun,” Sehun mengetuk-ngetukkan balpoin ke meja.

“Kalau begitu percaya pada Luhan, kurasa Luhan tak berbohong padamu, kecuali jika mereka menyebunyikan sesuatu.”

Tentu saja mereka menyembunyikan sesuatu, tapi bukan status Yoona, tetapi status Sehun dengan anak kandungnya yang sampai sekarang tak diketahui oleh dua orang yang bersangkutan tersebut. Mereka menyembunyikannya dengan sangat rapi.

“Aku ingin kau menyelidikinya hyung.”

“Kau pikir aku detektif?”

Baekhyun terkadang tak mengerti dengan jalan pikiran laki-laki yang ada dihadapannya ini, Sehun bisa saja melakukan hal yang dia mau sendiri, tanpa harus meminta bantuan pada Baekhyun. Bisa saja Baekhyun mendapatkan hal yang tidak diinginkan oleh Sehun dan kemungkinan lainnya yang Baekhyun pikir lebih baik jika Sehun mencari tahunya sendiri.

“Maksudku kau bisa mencari hal yang tidak aku tahu, mungkin akan ada hal yang diberitahukan kepadamu hyung. Hal yang mungkin saja mereka sengaja sembunyikan dariku,” ujar Sehun.

Tapi Baekhyun setuju dengan hal yang satu ini, bisa saja mereka menyembunyikan sesuatu dari Sehun.

“Begitukah?”

“Aku mohon hyung,” Baekhyun mendelik kesal, kenapa Sehun harus memasang wajah memelasnya saat ini?

Baekhyun menghembuskan napasnya, mengalah, “Baiklah, aku akan menuruti kemauanmu.”

“Kau memang yang terbaik hyung,” apa Sehun tidak sadar bahwa dia berumur 27 tahun sekarang? Baekhyun rasa ada manipulasi umur disini.

***

Hayoung berjalan di sepanjang lorong gedung perkantoran tersebut, dia bermaksud mengunjungi Yoona. Tapi langkahnya terhenti saat pandangannya bertemu dengan pandangan seorang laki-laki yang juga menghentikan langkahnya, tepat di hadapan Hayoung.

“Hai,” sapa Luhan –laki-laki tersebut.

“Hai Oppa,” balas Hayoung.

Hayoung menyukai mata itu, menyukai pancaran hangat saat dia menatapnya, menyukai segala hal yang ada dalam laki-laki di hadapannya.

“Mengunjungi Yoona?”

“Iya, sekalian mengajaknya makan siang bersama, sebentar lagi waktu makan siang. Apa Yoona eonni ada di ruangannya?”

“Masuklah, aku baru saja menemuinya.”

“Kalau begitu aku akan menemui Yoona eonni.”

Luhan tersenyum hangat, “Aku akan kembali ke ruanganku.”

Hayoung mengangguk, tulangnya seperti diloloskan satu persatu, senyuman hangat itu membuatnya merasa lemas. Luhan kembali meneruskan langkahnya, pandangan Hayoung mengikuti langkah Luhan, menatap punggung Luhan yang semakin mengecil.

***

Daddy ayo cepat, aku lapar.” Kevin segera membuka pintu mobil dan melompat keluar.

“Iya, memangnya hanya kau yang merasa lapar,” Jongin segera keluar dari mobil kemudian menekan tombol kunci lalu menghampiri seorang anak laki-laki yang terus memanggilnya tak sabar.

Kevin segera menarik Jongin menuju sebuah restoran, sang ibu tak memberinya bekal makan siang hari ini dan dia benar-benar merasa lapar. Sejak tadi cacing di perutnya terus berteriak meminta makanan, dia terus menahan lapar selama pelajaran terakhir di sekolah.

Jongin mengikuti kemauan anak –pura-puranya itu, mengikuti langkah anak laki-laki berumur 7 tahun tersebut. Jongin menghentikan langkahnya tiba-tiba, Kevin menatap Jongin heran. Kevin mengikuti arah pandangan sang ayah, dia melihat seorang perempuan yang juga berhenti di hadapan mereka, di depan sebuah restoran.

“Yuri noona,” rasanya lidah Jongin terasa kaku saat mengucapkan nama itu, sudah lama dia tak menyebutkan nama itu, nama itu telah lama hilang dalam kehidupannya beberapa tahun ini.

“Kai,” panggilan itu, Jongin masih mengingatnya dengan jelas. Hanya Yuri yang memanggilnya seperti itu, itu panggilan khusus dari perempuan yang tengah menatapnya sekarang, pertemuan ini terlalu tiba-tiba.

Daddy,” panggilan itu membuyarkan semuanya, Jongin lupa dia bersama Kevin sekarang.

Arah pandangan Yuri berubah, dia menatap seorang anak laki-laki yang tengah menggenggam tangan Jongin. Jika anak itu tidak menyebut Jongin dengan sebutan ayah, mungkin mereka akan terus seperti ini, saling memandang dan pikiran mereka yang melayang ke masa lalu.

“Kau sudah menikah mmm… Jongin?” rasanya aneh saat Yuri tidak memanggil dengan nama panggilan yang khusus untuk laki-laki itu darinya.

“Y-ya,” Jongin hampir saja menjawab tidak.

“Anakmu tampan,” Yuri menatap anak laki-laki yang balas menatapnya bingung.

Daddy, aku lapar,” Kevin menarik-narik tangan Jongin.

“Baik, ayo makan,” Jongin baru saja akan melangkah ketika ia teringat sesuatu, “Yuri noona, mau makan siang bersama?”

Yuri memandang Jongin tak yakin, “Bolehkah?”

“Tentu,” Jongin tersenyum kaku.

Mereka masuk ke restoran tersebut, Kevin yang tak sabar segera berlari menuju tempat duduk di pojok ruangan dekat jendela besar. Jongin berjalan di samping Yuri, atmosfer diantara mereka berdua tak pernah berubah sejak tadi. Mereka berjalan beriringan menuju meja yang dipilih Kevin, Jongin duduk di samping Kevin sementara Yuri memilih tempat di hadapan mereka.

“Apa kabar noona?” Jongin bersuara setelah lama hening, Kevin lebih memilih bermain dengan psp miliknya dan mengabaikan dua orang dewasa tersebut.

“Baik, bagaimana denganmu?”

“Baik,” Jongin membuka menu yang diserahkan pelayan, “Kapan kau kembali ke Korea noona?”

“Sekitar 5 bulan yang lalu, butik tempatku bekerja dulu mempercayakan cabang di Korea kepadaku.”

Jongin tak pernah menyangka mereka bertemu secepat ini, saat pertahanan Jongin belum benar-benar selesai dibangun. Walaupun sebenarnya Yuri telah lama meninggalkan Korea, Jongin hampir melupakan semuanya, hampir. Dia tak tahu perasaannya sekarang, semuanya terasa aneh. Mungkin sekarang Yuri hanya masa lalunya, mungkin.

“Kau mau pesan apa noona? Aku yang bayar, anggap saja karena noona telah kembali ke Korea.”

“Harusnya aku yang membayar, tapi kalau itu maumu, terima kasih Jongin.”

Jongin menyebutkan pesanannya, Yuri dan Kevin. Setelah pelayan meninggalkan meja mereka, keheningan kembali menyergap. Entahlah, Jongin juga bingung untuk memulai pembicaraan. Banyak hal yang ingin dia bicarakan sebenarnya, tapi Jongin seperti kehilangan kemampuan untuk merangkai kata.

“Siapa nama anakmu Jongin?”

Jongin melirik Kevin sekilas, “Kevin.”

“Nama yang bagus, tapi dia tak terlihat mirip denganmu Jongin,” Yuri tertawa pelan.

Jongin menelan ludahnya, “Dia mirip ibunya.”

Tentu saja bohong, Kevin juga sama sekali tak terlihat mirip Yoona, hanya sifat anak laki-laki itu yang menurun dari sang ibu, itupun hanya sebagian kecil. Yoona pernah bilang bahwa Kevin mirip ayahnya, ayah kandungnya. Gen sang ayah kandung lebih mendominasi dalam diri Kevin.

“Kenapa kau tidak memberitahuku kalau kau menikah? Setidaknya aku bisa mengucapkan selamat dan ikut berbahagia walaupun aku tak bisa menghadirinya.”

Kebohongan lagi, sedikit perasaan itu masih tersisa dan lama-lama semakin membesar. Kembali seperti dulu saat semuanya terulang, saat takdir kembali mempertemukan mereka. Yuri ikut berbahagia dan disaat yang bersamaan persaannya menjerit, semuanya membingungkan.

Jongin menggaruk belakang lehernya, “Maafkan aku noona.”

Meja tersebut bagaikan panggung sandiwara, saling melempar kebohongan, saling menyembunyikan.

Yuri tertawa pelan, “Tidak apa-apa Jongin.”

Jongin berusaha merangkai kata, apa saja, “Kau sudah punya kekasih?” tapi enah kenapa pertanyaan itu yang keluar dari mulutnya.

Yuri terdiam, kemudian kembali tertawa, “Tidak.”

Biarkanlah mereka melayang ke masa lalu sejenak, saat dimana mereka tertawa bersama, saat semuanya masih sama, melebur dalam asa yang tercipta.

***

Bulan telah menggantikan matahari yang letih menyangga langit, menjalankan tugasnya menemani malam. Yoona melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya, pukul 9 lebih. Dia segera membereskan mejanya, kemudian menyambar tas dan keluar dari ruangannya. Menunggu pintu lift terbuka, sesekali dia memperhatikan lorong yang sepi.

Lobi kantor lengang, beberapa karyawan yang berniat pulang membungkuk padanya. Receptionist kantor juga tengah membereskan barangnya, Yoona menganggukan kepalanya ketika sang receptionist membungkuk dan menyapanya.

Yoona terkejut saat sebuah tangan menggenggamnya, menariknya menuju basement. Rasa terkejutnya bertambah berkali lipat saat mengetahui siapa orang yang menariknya, dia sangat menengenali genggaman tangan ini. Butuh waktu beberapa menit untuk mengontrol dirinya sendiri, Yoona memberontak walaupun hatinya menginginkan hal tersebut.

“Lepaskan, kau mau apa?” Yoona berusaha melepaskan tangan laki-laki itu, Sehun –laki-laki tersebut menoleh sekilas kemudian kembali menarik paksa Yoona.

Sehun membuka pintu mobil, tangannya masih mencengkram tangan Yoona. Dia menatap Yoona, menggerakan tangan yang satu lagi, mengisyaratkan Yoona agar masuk. Yoona terdiam, tak melakukan perlawanan tapi tak menuruti perintah Sehun.

“Kau mau apa?” Yoona mengulang pertanyaannya tadi, menatap langsung manik hazel di hadapannya. “Aku membawa mobil dan aku ingin pulang.”

Yoona sangat gugup kalau boleh jujur, mana mungkin laki-laki itu tak bisa membuatnya gugup, tak pernah sekalipun Sehun membiarkan dia tenang. Jantungnya berdentum-dentum keras, dia khawatir Sehun akan mendengarnya, apalagi keadaan basement saat ini sangat sepi. Yoona berharap dia tidak gagal jantung, tidak lucu dia menderita gagal jantung hanya karena berhadapan dengan seorang Oh Sehun.

“Masuk,” Sehun mendorong Yoona, tidak terlalu keras sebenarnya, hanya membuat Yoona mau memasuki mobilnya.

Sehun segera menutup pintu lalu berlari ke sudut lain mobilnya, dia menaiki mobilnya dan duduk di belakang kemudi. Deru halus mobil terdengar, mobil tersebut melaju meninggalkan gedung kantor Yoona. Sehun melirik Yoona dengan sudut matanya, entah darimana datangnya ide gila untuk ‘menculik’ Yoona, tiba-tiba saja ide itu hinggap di benaknya.

“Aku akan mengantarmu setelah makan malam, aku tahu kau belum makan.” Yoona menoleh sekilas kemudian melemparkan pandangan ke luar jendela, Sehun selalu tahu apa saja mengenai dirinya. “Untuk mobilmu, aku akan menyuruh Baekhyun hyung mengantarnya nanti.”

“Tidak perlu, biarkan saja, aku akan mengambilnya besok.”

Sunyi, tak ada yang berniat mengeluarkan suara selama perjalanan. Sehun memarkirkan mobilnya di tempat parkir sebuah café, café yang membuat memori mereka tergali semakin dalam. Sehun segera menahan tangan Yoona saat perempuan itu akan membuka pintu, dia segera keluar dari mobil dan membuka pintu mobil untuk Yoona. Yoona tak mengucapkan sepatah katapun, mereka melangkah memasuki café. Yoona melangkah di belakang Sehun, sengaja membuat jarak.

Mereka duduk berhadapan, menunggu pesanan datang dan membiarkan keheningan merayapi meja mereka. Kedua tangan Yoona saling meremas di bawah meja, sementara Sehun sibuk dengan pikirannya. Yoona menyapukan pandangannya, tidak banyak perubahan, café ini tetap sama meskipun ada renovasi kecil disana sini.

Begitupun Yoona dan Sehun, memori mereka tetap tersimpan baik, tapi cerita mereka masih mengambang. Tak jelas, tak kunjung menemukan muara. Entah apa hubungan mereka sekarang, entah kapan mereka mendapat kejelasan. Titik terang itu terlihat jelas tapi entah kapan mereka berani menggapainya.

“Bagaimana kabarmu?” Sehun tak bisa membiarkan mulutnya terus terkunci dan mereka terus diam, bukan itu tujuannya.

“Baik,” Yoona terdiam sejenak, “Kau?”

“Baik,” Sehun memutar-mutarkan ponselnya di meja, “Banyak yang berubah setelah kau pergi.”

Yoona tak tahu harus berkata apa, pelayan yang datang bersama pesanan mereka membuat Yoona dapat bernapas –sedikit lega. Mereka sibuk menyantap makanan masing-masing, sementara pikiran mereka melayang entah kemana, banyak hal yang hinggap di benak mereka.

Yoona dan Sehun melewati makan malam mereka dalam keheningan, hanya terdengar suara pengunjung lain dan musik yang mengalun di café tersebut. Sehun bingung harus memulai percakapan mereka darimana, terlalu banyak hal yang memenuhi benaknya dan entah kenapa, skenario yang telah disusunnya menghilang entah kemana. Pertanyaan yang menuntut jawaban itu tercekat di kerongkongannya.

Yoona menyelesaikan makannya, membersihkan sekitar mulutnya dengan tisu. Dia menatap Sehun yang masih sibuk dengan makanannya, cara makan laki-laki itu masih sama seperti dulu. Baik Yoona maupun Sehun tak tahu harus berkata apa, makanan mereka telah habis dan mereka masih tak tahu harus memulai pembicaraan dari mana.

“Kalau begitu aku akan pulang,” Yoona segera mengambil tas yang sedari tadi tergeletak di sampinnya.

Sehun lagi-lagi menahan tangannya saat dia akan beranjak pergi, memaksanya untuk kembali duduk. Tatapan mereka bertemu, cara keduanya menatap masing-masing masih sama, pancaran mata mereka tak berubah, tetap seperti dulu.

“Kita belum benar-benar berpisah kan?”

[Continued]

P.S : Aku jelasin lagi umur mereka, biar kalian nggak bingung. Sehun (27), Yoona (27), Jongin (27), Luhan (27), Minseok (27), Yuri (28), Hayoung (25), Kevin (7).

Hai, akhirnya lanjutan ff ini publish, maaf ya lama banget ;_; abisnya laptop rusak dan aku harus ngetik ulang dan beberapa alasan lain. Masih pada ingatkan? Masih pada mau baca? Makasih banget buat yang mau nungguin ff absurd ini :> tapi nggak janji bakal publish teratur ya /ditabok/. Selamat membaca, jangan lupa komentarnya, buat yang nggak mau komentar juga nggak apa-apa, makasih udah mau baca ff punya aku.

86 thoughts on “Hesitate – Chapter 4

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s