[Freelance] Paper Crane

Paper Crane

Title : Paper Crane

Author : dcpssi

Length : Oneshoot (1.440 w)

Rating : PG

Genre : Romance

Main Cast :

GG Kwon Yuri

EXO Zhang Yixing

Author’s Note: Mianhae kalo banyak kekurangan – menurutku juga fic ini feelnya ga dapet ‘-‘ agak lagi males pas bikin, tapi karena udah terlanjur mulai kalo ga diselesaiin ya ga enak haha~ comment please, don’t be sider😀

Paper Crane

D-3

Kwon Yuri – yeoja 24 tahun itu merogoh laci meja belajarnya, menarik selembar kertas origami berwarna putih dan sebatang penggaris bening. Mulai melipat dan melipat kertas tersebut serapi mungkin – membentuk sebuah bangau kertas yang apik. Cantik.

Bangau itu bangau ke-997 yang dibuatnya. Diletakkannya bangau itu di sebuah tempat yang sama seperti dimana ia menyimpan 996 bangau lainnya, sebuah kotak berwarna putih berukuran cukup besar.

Ia menghela nafas perlahan. Dilangkahkan kakinya dari tempatnya duduk semula ke arah balkon kamarnya. Menikmati pemandangan malam kota Seoul dari balkon kamarnya yang terletak di lantai 23 sebuah apartemen mewah di kota padat itu.

Ia mendongakkan kepalanya, berharap dapat mengamati langit penuh bintang yang sangat ia suka – atau setidaknya dapat bertemu sang bulan. Tapi apa daya, polusi cahaya di kota tempat tinggalnya itu mengalahkan sinar rembulan pujaannya itu. Entah sadar atau tidak, ia menghembuskan nafas lagi. Kecewa.

Angin malam berhembus membuatnya menggigil sedikit. Perlahan, kaki rampingnya berjalan masuk ke dalam kamarnya, menutup pintu balkon, mematikan lampu dan menyalakan lampu tidur. Melemparkan tubuhnya ke kasur yang lembut dan hangat, dan berbisik pada dirinya sendiri.

”Selamat malam, Kwon Yuri.”

Paper Crane

D-2

Yuri menghempaskan dirinya ke sofa empuk di ruang tengah apartemennya. Ia baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Dan bahkan ia terlalu lelah untuk sekedar berjalan ke balkon, untuk memandangi langit – kegiatan yang rutin ia lakukan setiap malam.

Namun, di kamus Kwon Yuri, tidak ada kata lelah untuk tetap membuat sebuah bangau kertas. Ia pun berjalan ke kamarnya dan membuat satu bangau kertas seperti biasa, lalu menyimpannya di kotak putih favoritnya itu. Ia lalu berjalan ke dapur dan menuangkan wine ke gelas minum yang biasa ia gunakan. Sedikit mencari udara segar – malam itu lebih panas dari malam sebelumnya – ia membuka pintu balkon dan membiarkan angin sepoi-sepoi menghampiri apartemennya.

Ia duduk di sofa putih di ruang tengah, dan menyalakan televisi. Diteguknya wine itu sampai habis. One shot. Entah ia merasa stress atau mungkin hanya sedang ingin minum-minum, ia beranjak lagi ke dapur. Menuangkan wine, lagi dan lagi, sampai wajah cantiknya memerah karena mabuk. Ia pun mulai meracau tak jelas menggumamkan satu nama.

”Yixing-ah… bogoshippo…”

Paper Crane

D-1

Pagi itu Yuri izin tidak masuk kantor karena kepalanya pusing bekas mabuk semalam. Suhu tubuhnya meninggi membuatnya tidak bisa meninggalkan kasur seharian. Wajar, ia tertidur di lantai di ruang tengah dengan pintu balkon terbuka. Ketika bangun pagi tadi, kepalanya berat dan dengan susah payah ia beranjak ke kamar yang terletak tidak terlalu jauh dari ruang tengahnya.

Yuri baru terbangun pukul 2 siang setelah tidur sekitar 7 jam. Kepalanya terasa lebih baik, namun cacing-cacing di perutnya mulai menangis minta makanan. Dengan malas ia berjalan ke arah dapur dan merebus seporsi ramyeon instant yang selalu tersedia di rumahnya. Tak sampai 10 menit, ia sudah duduk di balkon dan menyantap makan siang sederhananya itu.

Siang itu lumayan cerah. Cuaca yang indah. Tapi tidak indah menurut Yuri. Ia tidak suka kecerahan. Ia lebih suka mendung atau lebih tepatnya ia suka hujan. Yuri suka air.

Yuri menyuap ramyeon ke mulutnya. Melamun. Hingga ringtone tanda sms masuk ke handphonenya menyadarkan Yuri dan mengembalikan jiwanya ke dalam raganya. Diambilnya handphone di meja – handphone itu terletak di sebelah panci ramyeonnya – dan membaca pesan yang masuk.

^^

From : Joohyun

Yuri-eonni! Kudengar kau sakit? Cepat sembuh ya!

Hey eonni, sayang sekali kau tidak masuk hari ini. Kau tahu, di divisi Planning tempatmu bertugas ada karyawan baru. Dia tampan lho! OuO. Sayang sekali aku tidak berada di divisi yang sama dengan kalian. Too bad ;(

Kalau tidak salah dia bekerja di kantor yang sama dengan kita sejak 2 tahun yang lalu, tapi dia bekerja di China. Dia orang China lho. Tadi aku dan Luhan gege makan siang dengannya. Dia ramah meskipun tidak lancar berbahasa korea. Dia juga selalu tersenyum. Dan dia memiliki sepasang lesung pipi yang simetris.

Ah, seandainya aku tidak punya Lulu ge, pasti aku akan jatuh cinta padanya…
Tapi, aku lupa namanya ._. aku janji akan memberitahumu jika aku ingat!
Sekali lagi cepat sembuh eonni! Aku merindukanmu. Big hug {}

^^

Yuri tersenyum simpul membaca pesan singkat dari Seo Joohyun, adik kelasnya sekaligus teman kerjanya. Semangat yang selalu berkumpul di diri Joohyun seolah mengalir menghampiri Yuri yang sedari tadi merasa lemas.
Tak terasa sepanci ramyeon sudah pindah ke dalam lambungnya. Dan ia memulai rutinitasnya – membuat sebuah bangau kertas. Ini menjadi bangau kertas ke-999 yang dibuatnya.

Senyum simpul yang tadi menghiasi bibirnya berganti menjadi senyum terpaksa. Mengingat sudah hampir seribu bangau yang dibuatnya membuat akalnya kembali ke kenyataan – bahwa sudah hampir seribu hari pula lelaki bernama Zhang Yixing itu pergi dari dunia, dari hidupnya, dari sisinya.

Airmata mengalir di pipi mulus wanita itu.

Paper Crane

D-0

Hari ini Yuri mengambil cuti sehari lagi. Ia memang sudah sembuh. Hari ini ia cuti bukan untuk bermalas-malasan di apartemen seperti yang ia lakukan kemarin, melainkan ia punya kegiatan yang harus dilakukannya hari ini juga.

Sebelum berangkat, ia membuat sebuah bangau kertas putih dan memasukkannya ke dalam kotak putih juga – putih adalah warna kesukaan Yixing. Kemudian ia keluar dari apartemen dan mulai menyalakan mobil hitamnya. Kebetulan seleranya dan Yixing tidak sama – Yuri lebih suka warna hitam.

Ia melajukan mobil mewah itu hampir satu jam melewati padatnya lalu lintas kota Seoul. Ia lalu menepi di sebuah sungai yang mengalir deras. Dibawanya kotak putih berisi seribu bangau kertas yang dikumpulkannya hampir tiga tahun itu.

Setetes airmata jatuh di pelupuk mata Yuri.

Namun, tanpa berkata apa-apa, dihanyutkannya seribu bangau kertas itu satu demi satu dengan sabar. Setelah bangau keseribu berlayar dengan lancar, ia lalu mengatupkan tangannya dan berdoa –meminta sesuatu kepada Tuhan.

Tak berlama-lama di tepi sungai tersebut, Yuri berjalan menuju ke mobilnya. Diusapnya airmata yang tadi sempat membasahi wajahnya. Kemudian, dilajukanlah mobilnya. Sekitar setengah jam kemudian, sampailah ia di rumah Yixing. Rumah Yixing yang terakhir dan untuk selamanya.

Makam Yixing terletak di puncak bukit pemakaman itu – tempat paling spesial. Makam Yixing terpisah dari makam yang lain. Yuri mendaki undakan tangga dan bersimpuh di nisan Yixing. Berdoa, dan mulai mencurahkan perasaannya.

”Yixing-ah, annyeong..” suara Yuri bergetar. ”Mianhae karena baru sempat mengunjungimu, aku terlalu takut untuk menghadapi kenyataan. Kau tahu itu. Dan bagaimanakah keadaanmu di surga? Apa kau baik-baik saja? Apa kau sudah bertemu malaikat-malaikat yang berwajah cantik dan bernyanyi dengan merdu itu? Apa kau sudah menemukan kebahagiaan disana? Jawab aku, Yixing-ah… aku tahu kau dengar, jadi jawablah aku…”

Isak tangis mendampingi setiap kata yang keluar dari bibir mungilnya. Membasahi buket bunga lili putih yang dibawanya untuk Yixing.

”Kau tahu kenapa aku membawakanmu sebuket lili putih? Apa di surga ada internet? Kalau ada, coba kau cari makna bunga lili. Oke, aku takut di surga tidak ada internet, maka aku akan menjelaskannya padamu. Kata orang, makna bunga lili putih adalah kesucian cinta yang diliputi duka… kini kau tahu mengapa aku marah ketika kau memberiku lili putih saat kencan pertama kita? Karena bunga itu terbuat untuk perpisahan, Yixing-ah… bunga itu bunga duka…”

Suara Yuri terputus-putus. Tangisnya semakin menjadi-jadi.

”Kau tahu kenapa aku membuat seribu bangau kertas, Yixing-ah? Karena kau yang memberitahuku. Kau bilang seribu bangau kertas bisa mengabulkan satu permintaan. Tapi mana buktinya?”

Yuri menghela nafas, membiarkan oksigen mengisi paru-parunya.

”Aku membuat seribu bangau kertas. Aku mengirimkannya pada Tuhan. Aku minta Tuhan mengembalikan kau padaku. Tapi mana? Jawab aku, Yixing-ah. JAWAB AKU!”

Teriak Yuri putus asa. Ia tahu, sampai kapanpun Yixing tak kan pernah menjawabnya. Tapi apa salahnya melampiaskan isi hatinya?

”Aku butuh kau, Yixing-ah… aku butuh kau… kembalilah…”

Paper Crane

Yuri melangkah lemas. Sudah hampir 3 jam ia berteriak, menangis, dan mencurahkan segalanya di makam Yixing. Mungkin sudah cukup.

Kini ia berada di tempat parkir apartemen. Entah bagaimana ceritanya ia bisa sampai apartemen dengan selamat – Yuri sendiri juga tidak tahu. Ia melangkah lemas menekan tombol lift, menunggu kapsul itu membawanya kembali ke tempat tinggalnya.

Dan ia pun sampai di lantai 23. Hey, sesosok pria berdiri di depan pintu kamar no. 2307, kamarnya. Yuri mendelik heran. Siapa? Ia berjalan mendekati pria yang membelakanginya itu.

”Hmm, apa yang kau lakukan? Jika kau mencari Kwon Yuri, itu aku. Ada yang bisa kubantu?” sapa Yuri pelan – atau mungkin lebih tepat disebut menggumam dengan keras daripada menyapa.

Pria itu membalikkan badan menghadap Yuri dan tersenyum. Seketika itu juga, mata Yuri membulat.

Pria itu membungkuk 90o. Yuri hanya membeku di tempat.

”Annyeonghaseyo! Kau Kwon Yuri kan? Aku karyawan baru di divisi Planning. Kau sudah 2 hari tidak masuk, ne? Aku membawa titipan dokumen dari Kim sajangnim. Ini, kau bisa membacanya sendiri,” ujar pria itu dengan senyum manis sambil menyodorkan amplop coklat pada Yuri. Yuri hanya menerimanya dengan mulut menganga.

”Neo.. nuguya?” tanya Yuri terbata-bata. Yang ditanya hanya tersenyum tipis lalu membungkuk lagi sambil memperkenalkan diri.

”Annyeonghaseyo. Joneun Zhang Lay imnida~ senang bertemu denganmu, Yuri-ssi. Semoga kita bisa menjadi partner yang cocok!”

Paper Crane – End

Jreng. Selesai. Datar? Garing? Gadapet feelnya? Mian emang lagi kurang mood waktu bikinnya ._. tapi ini bikinnya sepenuh hati kok. Apalagi posternya’-’ duh aku lebih suka posternya daripada ceritanya malah’-’

Makasih udah baca ne^^~ comment please, gomawo~

12 thoughts on “[Freelance] Paper Crane

  1. Loh bukannya lay uda mati ya itu yg datang ke apartement yuri siapa wajah yg mirip dgn lay thor buat sequelnya dong thor

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s