[Freelance] One Wing

ksparkling-one-wing

Poster : Thank’s for Fearimaway (ssoopuding.wordpress.com)

Title : One Wing

Author : ksparkling

Genre : Romance, angst, sad

Cast :

Xi Lu Han (EXO M)

Im Yoon Ah (Girl’s Generation)

Oh Sehun (EXO K)

Length : Oneshoot

Hai! Ketemu lagi dengan ksparkling! Hehehe si Luyoon shiper, aku ingin sekali kalian ngomentari ffku. Tapi jangan bashing ya? kalo gak suka, jangan baca. Ketimbang menyakiti hati orang, ote-ote (?) Gak usah banyak bacot. Happy reading yah!

WARNING : TYPO DAN HAL-HAL YANG GAK MUDAH DIMENGERTI

________

Kisah ini berawal dari seorang pemuda bernama Xi Lu Han yang bertemu dengan seorang gadis tinggi dan cantik sedang bernaung di halaman belakang sekolahnya yang mengaku bernama Im Yoon Ah. Awalnya, Xi Lu Han menganggap gadis cantik itu aneh. Kenapa? karena sang gadis itu mengaku bukan siswa di sekolah tempat Lu Han tinggal. Lu Han mengira gadis itu adalah penyusup atau semacamnya. Yoon Ah mengelak itu dan entah kenapa Lu Han percaya padanya. Dan lama kelamaan, setiap sang gadis itu tersenyum ke arahnya, mampu membuat darahnya berdesir dan jantungnya yang berdegup tak karuan.

Siapakah gadis aneh itu?

Kenapa dia sering duduk di bawah pohon dan selalu memakai pakaian yang sama?

_______

Xi Lu Han.

Itulah nama pemuda yang sedang bernaung ria di sebelah pohon rindang di halaman sekolahnya. Pemuda itu bersenandung kecil sehingga mendengar suara melengking seorang gadis yang juga duduk di pohon rindang yang agak jauh dari tempatnya duduk. Awalnya, Xi Lu Han menggubrisnya karena gadis itu berteriak-teriak seperti orang kesetanan. Namun, lama kelamaan suara itu makin nyaring saja.

Merasa terganggu, Xi Lu Han langsung berjalan mendekat. Dia mendapati seorang gadis dengan rambut berwarna cokelat yang sangat indah itu tengah duduk bersandar di pohon. Xi Lu Han menatap gadis itu. gadis itu terengah-engah dan keringat mencucur dari keningnya.

“Hei! Bangun! Kenapa kau tiduran di sini?!” teriak Xi Lu Han. gadis itu lantas langsung membuka matanya. Matanya melebar saat melihat Lu Han menatapnya dengan jengkel.

“Kau….Kau dapat melihatku?” tanya gadis itu takut-takut. Xi Lu Han mendengus lalu mengangguk lalu menatap gadis tersebut dengan tatapan sebal, “Ya iyalah. Apakah kau hantu? Sehingga tak bisa terjangkau oleh mata manusia, eoh? Aku memiliki mata untuk melihat.” maki Xi Lu Han dengan berkacak pinggang. Gadis tersebut menggeleng takut

“Ti…Tidak kok…” ucapnya. Xi Lu Han duduk di sebelah gadis tersebut dan bernafas pelan. “Ngomong-ngomong namamu siapa?” tanya Lu Han, matanya menyipit karena cahaya matahari yang menerangi bumi mengenai sebagian matanya.

“Im…Im Yoon Ah. Kau bisa memanggilku Yoon Ah.” jawab gadis tersebut. Lu Han menganggukkan kepalanya mengerti. “Kau penyusup?”

Yoon Ah yang merasa ditanyai begitu langsung menggeleng cepat dan menatap Lu Han tajam. “Jangan seenaknya kau menganggapku penyusup!” kesal Yoon Ah

“Habis, kenapa kau bisa ada di sini jika kau bukan penyusup? Lagipula di sini banyak penjaganya, dan kau seharusnya berkata pada penjaga itu agar kau dapat masuk.” Saran Lu Han.

“Namun….Kenapa penjaga di sini tak becus?” tanya Yoon Ah dengan wajah polosnya. Lu Han memelototkan matanya. “Apa katamu?” tanyanya sembari menyipitkan mata.

Yoon Ah menunjuk penjaga yang ada di dekat mereka dengan takut-takut. “Penjaga itu tidur.” Jawabnya. Lu Han mengarahkan pandangannya ke arah yang ditunjuk Yoon Ah. dan benar saja, sang penjaga sekolah sedang tidur. Lu Han berdecak kesal karenanya.

“Aisshhhh….Kenapa dia menjadi penjaga sini sih?” gerutu Lu Han.

“Bagaimana jika aku menjadi penjaga itu?” tawar Yoon Ah dengan raut muka senang dan mata yang juga ikut berbinar senang. Lu Han menatap Yoon Ah dengan tatapan remehnya. “Kau…Menjadi penjaga sekolah ini?” tanyanya sembari menaikkan dagu. Pemuda itu lalu melanjutkan dengan nada yang dibuat sejengkel-jengkelnya, “Huh, kau sangat tidak pantas. Kau seorang gadis, dan….”

Lu Han menggantungkan kalimatnya lalu mengambil tangan Yoon Ah. “Kau sangat kurus. Sebegitukah miskin dirimu itu?” lanjut Lu Han. Yoon Ah menarik tangannya kasar lalu memanyunkan bibirnya kesal. “Memangnya kenapa jika diriku seorang gadis dan aku kurus?” tanya Yoon Ah dengan nada kesalnya.

“Karena kau tidak bisa menghadang preman yang biasanya lewat ataupun perampok malam-malam yang akan mencuri sesuatu di dalam sini.” Jawab Lu Han.

Yoon Ah mendesis lirih, “Salahnya sendiri membuat sekolah ini begitu indah dan banyak pula barang-barang antik di sini. Bagaimana tidak bisa seorang perampok meneteskan air liurnya gegara itu.” cibir Yoon Ah. Lu Han menjitak pelan dahi Yoon Ah keras membuat Yoon Ah meringis pelan.

“Aisshh… Appo….” Rintihnya. Dia lalu memelototi Lu Han yang menatapnya dengan tatapan datar. “Ya! Kau manusia tak memiliki hati dan kasihan kepada orang lain! Jangan seenaknya karena kau mempunyai kekayaan yang melimpah ruah seenaknya menjitak kepala orang! Apalagi orang yang tidak bersalah!” omel Yoon Ah.

Lu Han berdiri lalu berjalan menjauhi Yoon Ah yang masih mengomeli Lu Han dari tempatnya. Merasa ditinggal, Yoon Ah mendengus pelan.

“Dasar bocah tengil!” cibirnya pelan.

_______

Lu Han berjalan dengan santai menuju kelasnya dengan memasukkan tangannya ke saku celananya. Dia bersiul kecil. Para gadis yang ada di sampingnya—tepatnya siswi di sekolah itu—menatap Lu Han takjub. Mereka saling membisikkan tentang ketampanan Lu Han dan sebagainya.

“Hai Hyung!” sapa Sehun dari belakang. Lu Han menghentikan langkahnya lalu berbalik dan menemui Sehun tengah melambai ke arahnya dengan senyuman yang mekar di bibirnya. Sehun menepuk bahu Lu Han. “Kau kenapa sangat dingin, Hyung?” tanya Sehun.

“Bukankah aku selalu dingin, Sehun ah?” kata Lu Han dengan tampang datar. Sehun nyengir tak jelas karenanya. “Aku lupa Hyung. Hehehe, maklum Hyung. Aku sangat pelupa. Apakah ada sebuah kabar menarik yang dialamimu Hyung?” tanya Sehun. Lu Han mengangguk.

“Ya.” jawabnya ketika pemuda itu merapikan bajunya.
Mata Sehun berbinar. “Apa itu Hyung?” desaknya tak sabaran. Lu Han memutar bola matanya jengah. “Aku lelah, Sehun ah. Aku tidak ingin berbicara dengan siappun sekarang.” ucap Lu Han, mampu membuat Sehun memelengkukungkan bibirnya ke atas, tanda ia tidak setuju. Lu Han mendesah, lalu melanjutkan,

“Nanti saja kau akan kuberitahu.”

Perkataan itu sukses membuat Sehun bersorak-sorai senang sekaligus seperti orang gila yang sedang meloncat-loncat.

_______

“Ayolah, Hyung~ kau ‘kan sudah berjanji padaku untuk menceritakan kabarmu~” rengek Sehun saat mereka ada di kantin sekolah. Lu Han menggubris rengekan Sehun dan tetap memakan lahap jatah makanannya itu. Sehun memanyunkan bibirnya kesal.

“Hyung, kau tak memiliki hati kah?” tanya Sehun, sedikit mencibir. Lu Han memakan makananya lalu menjawab,“Terserah.” Pemuda itu tetap berkutat dengan makanan yang sangat lezat itu dan meminum Buble Tea nya dengan sekali teguk. Tiba-tiba saja Sehun mengagetkan Lu Han yang sedang minum itu.

“DOR!” teriaknya sukses membuat Lu Han tersedak.

Sehun melihatnya tak tahan menahan tawanya. Akhirnya dia tertawa terbahak-bahak membuat seisi kantin menatapnya heran. “Hahahahaha! Hyung! Hahaha! Kau sangat lucu Hyung!! Hahaha!!”

Sedangkan Lu Han hanya menatap Sehun dengan tatapan tajamnya. Dia masih saja terbatuk-batuk ringan sehabis tersedak barusan itu. “Kau jahat Sehun ah…” desis Lu Han. Sehun meringis kecil, memamerkan deretan giginya yang putih itu.

“Hihihi, salahnya sendiri Hyung tidak mau berbagi kabar.” Ungkap Sehun.
Lu Han mendesah hebat. “Baiklah. Ketimbang berdebat denganmu yang takkan habis-habis itu.” gerutunya pelan.

Mata Sehun berbinar senang. “Apa itu Hyung?” tanya Sehun. Lu Han mendesah untuk kesekian kalinya. “Aku…Bertemu dengan gadis aneh, Sehun ah.” ucapnya dengan nada semisterius mungkin. Sehun mengernyitkan dahinya samar,

“Aneh?”

“Ya, aneh. Sangat aneh. Dia bisa-bisanya masuk ke sekolah ini tanpa pemberitahuan kepada penjaga sekolah. Dan juga para penjaga sekola itu ketiduran. Makanya gadis itu bisa masuk tanpa seizin penjaga tak becus itu.” sewot Lu Han. Sehun hanya menganggukkan kepalanya mengerti. Lu Han menambahkan sembari mengingat-ingat,“Dan juga dia malahan bertanya padaku. ‘Kau bisa melihatku?’ katanya. Bagaimana aku tidak heran dengan gadis aneh itu? Huh, melihat? Tentu saja aku bisa.”

Sehun melebarkan matanya. “Jangan-jangan gadis itu—“ Sehun menggantungkan kalimatnya

”—hantukah?” tutur Sehun membuat Lu Han menaikkan alisnya. “Hantu?” tanya Lu Han yang hanya disambut anggukan berulang-ulang dari Sehun. “Ya Hyung, hantu…” ulang Sehun, Lu Han berfikir sejenak lalu menatap Sehun tajam.

“Hantu tidak bisa terpegang olehku, Sehun ah.” ujarnya lalu menambahkan, “Dia juga dapat berbicara denganku dan aku dapat melihatnya. Mana mungkin?” Sehun hanya ber’oh’ ria menanggapinya. “Apakah dia penyusup?” tanya Sehun lagi. Lu Han menggidikkan bahunya, “Siapa yang peduli?” jawab Lu Han acuh. Dia lalu melahap makanannya yang tinggal setengah.

Sehun mendesah hebat. “Aku hanya bertanya, Hyung.” Kesal Sehun. Lu Han menaruh garpu dan sendoknya, membuat dentingan halus terdengar. Pemuda itu menatap Sehun tajam. “Apakah kau peduli dengan gadis itu?” tanya Lu Han.
Sehun mengangkat bahunya acuh, “Aku hanya heran, Hyung. Aku tidak percaya kau salah penglihatan atau tidak. Mungkin dia memang hantu.” Jawab Sehun.

“Sudah kubilang dia bisa kusentuh.” Ujar Lu Han lagi.

“Yah, terserah dikau saja, Hyung.” Putus Sehun.

Lu Han melirik Sehun yang memakan makanannya dengan dahi mengernyit.

“Apakah kau marah, Sehun ah?” tanya Lu Han. Sehun mendongakkan kepalanya dan menggeleng pelan. Lu Han membuka mulutnya, membiarkan rentetan kata keluar dari mulutnya sekarang. “Aku hanya berkata yang sebenarnya. Sesungguhnya aku juga penasaran dengan gadis itu.” tambah Lu Han.

Sehun menggeleng. “Tak apa, Hyung. Apakah Hyung mau memberi tahukanku muka gadis itu?” tanya Sehun. Lu Han menggeleng. “Tidak mau. Nanti kau suka dengannya.”

Sehun cemberut karenanya mengundang tawa bagi Lu Han. “Kau jelek sekali Sehun ah! hahahaha!” tawa Lu Han mebludak keluar.

“Ya! Hyung jelek! Aku bukan bahan tertawaan!!!” teriak Sehun membuat para siswa yang berada di sana menoleh menghadap ke arah Sehun. Sehun menggaruk tengkuknya malu. “Isssshhh…Gara-gara Hyung sih.” runtuknya.

_______

Lu Han berjalan ke arah pohon, tempat ia berteduh setiap harinya. Duduk santai menikmati semilir angin sore yang dapat menyejukkan hati. Untuk kedua kalinya dia mendengar teriakan melengking dari Im Yoon Ah. Lu Han berdecak jengkel karenanya.

“Ya! Kau gadis berpakaian putih!” teriak Lu Han pada Yoon Ah. Yoon Ah yang merasa dipanggil, menoleh ke arah Lu Han yang berdiri tegap. Yoon Ah mengernyit tak suka, “Ada apa? Panggil aku Yoon Ah! Seperti tak mengetahui namaku saja.” Gerutu Yoon Ah.

“Terserah.” Jawab Lu Han acuh. “Lagipula setiap aku di sini, kau selalu berteriak. Ada apa? mengganggu pendengaran saja.” Runtuk Lu Han menambahkan. Yoon Ah menatap Lu Han tajam. “Aku bisa berteriak sesukaku. Apa masalahmu jika aku berteriak, eoh?” tanya Yoon Ah. gadis itu berdecak kesal.

“Ini sekolahku! Jangan seenaknya kau masuk dan berteriak di sini!” kesal Lu Han, kedua tanggannya ia taruh di pinggang. Tanda ia sangat tidak setuju atau marah pada Im Yoon Ah.

“Aku sudah minta izin, kok.” Ujar Yoon Ah sembari memilin rambut cokelat indahnya itu. “Tadi aku sudah izin bahwa aku mencari seorang Xi Lu Han yang sok pintar, sok tampan dan sok kaya. Dan aku berkata bahwa aku kekasih Xi Lu Han.” tambah Yoon Ah membuat Lu Han mendelik tajam.

“Kekasih?! Aku tak sudi jika menjadi kekasihmu, Im Yoon Ah!” gertak Lu Han. Yoon Ah tersenyum meremehkan karenanya. “Dan juga aku mengutuk diriku sendiri karena telah berbicara bahwa diriku adalah ‘kekasih’ seorang pemuda yang sok tampan, sok kaya, dan sok pintar ini.” Ucap Yoon Ah dengan menekan kata kekasih, bermaksud menyindir Lu Han. Muka Lu Han merah padam karena kesal.

Yoon Ah bangkit dari tempat duduknya. “Aku takut jika berada di samping pemuda sok pintar, sok kaya dan—“ belum sempat Yoon Ah menyelesaikan kata-katanya, dirinya langsung berlari terbirit-birit karena Lu Han yang mengejarnya.

“YA!!! Im Yoon Ah!! Kesini kau!!!” teriak Lu Han. sedangkan Yoon Ah yang mulai menjauh, hanya menyengir seperti kuda karenanya.

_______

“Ishh, larimu lumayan juga.” Kata Lu Han saat dirinya dan Yoon Ah selesai lari-larian seperti anak kecil tadi. Yoon Ah mengibaskan tangannya di muka Lu Han.

“Tidak, itu tidak benar. karena aku memakai sa—“

Yoon Ah membungkam mulutnya rapat sebelum menyelesaikan ucapannya. Lu Han memandang Yoon Ah dengan pandangan heran. “Ada apa? Kau memakai apa? ‘Sa’? Apa maksudmu?” Lu Han bertanya seperti kereta panjang yang melewati rel kereta api di hadapan Yoon Ah. Yoon Ah memutar bola matanya ke atas, dagunya diketuk oleh telunjuknya—tampak berfikir keras.

“Aku memakai sandal.” Jawab Yoon Ah. dia memperlihatkan sandal yang dipakainya kepada Lu Han. namun, pemuda itu masih saja bertanya-tanya dalam hati. Ada yang aneh menurutnya pada Im Yoon Ah. Pasti ada sesuatu yang disembunyikan oleh gadis itu. Karena Lu Han tahu, baru sekarang dia terikat oleh wajah Yoon Ah yang cantik nan mempesona itu.

Wajah Yoon Ah sangatlah cantik, seperti Barbie. Menurut Lu Han, Yoon Ah terlalu sempurna.

“Hello, kau masih di sana, Tuan Lu?” tanya Yoon Ah. Lu Han tersentak kaget lalu menggeleng, “Tentu saja aku masih di sini.” Jawab Lu Han dengan nada jengkelnya. Yoon Ah hanya menggidikkan bahunya. “Kau ingin benar-benar tahu tentangku? Sepertinya dari matamu, aku dapat mebaca bahwa kau ingin sekali tahu tentang diriku.”

Lu Han terlonjak dan terkesiap dengan waktu yang sama karena tiba-tiba saja Yoon Ah bertanya seperti itu dengan muka yang menatap Lu Han dalam. Astaga, Yoon Ah sekarang sudah mampu membuat Lu Han salah tingkah begini? Hebat. Baru kali ini ada yang berhasil melunakkan hati Xi Lu Han.

Lu Han mengangguk singkat dan Yoon Ah spontan menjauhkan wajahnya lalu tersenyum. “Aku seorang gadis miskin yang tinggal di rumah dekat dari sini. Aku memutuskan untuk melihat bagaimana aktivitas para siswa dan tepat sekali karena para penjaganya tidur pulas.” Jawab Yoon Ah. Lu Han hanya menganggukkan kepalanya tanda ia mengerti. Wah, nasib gadis itu ternyata beda jauh dengan Lu Han yang sangat kaya itu.

“Kenapa kau tidak mendapat bantuan dari pemerintah?” Lu Han bertanya dengan muka serius. Yoon Ah hanya menengadahkan kepalanya menuju ke langit jingga yang berpadu dengan warna ungu-ungu ke merah mudaan. Warna yang sangat tidak cocok namun Yoon Ah suka itu. Tidak bisa bersatu memang.

“Aku tidak ingin.” Perkataan Yoon Ah membuat Lu Han mengerutkan dahi, ingin bertanya dan Yoon Ah lantas dengan cepat menambahkan, “Lagipula aku telah sampai di sini. Aku ingin kehidupan yang bebas tanpa pelajaran. Meskipun aku tidak pintar, asalkan aku bisa hidup, itu sudah cukup. Aku tidak ingin menyia-nyiakan kebebasanku. Karena aku dilahirkan untuk merasa bebas. Apalagi di bumi yang luas ini. Aku dapat kemanapun yang aku mau.”

“Hidup bebas bagaikan angin, dan aku suka angin. Angin yang membuatku terbang, Dan….Bisa membuatku tersenyum dalam waktu yang singkat. Aku ingin, angin adalah sebuah benda atau manusia, yang dapat mengajariku tentang kebebasan untuk yang lebih jauh. Lagipula, angin sangatlah berguna. Begitulah.”

Lu Han hanya menganggukkan kepalanya lalu berkata, “Angin? Bukankah kau sudah sebebas dirinya?”

Yoon Ah memandang Lu Han dengan mata melotot, “Kau…Kau banyak tanya! Dasar manusia!”

“Kau juga manusia!”

“Memang, namun aku lebih baik ketimbang dirimu yang suka bertanya-tanya!”
Lu Han memanyunkan bibirnya. Memang benar juga gadis itu, sebagian hidupnya dipenuhi dengan pertanyaan dari pada jawaban. Yoon Ah tersenyum penuh kemenangan karenanya membuat Lu Han kembali manyun dan menggerutu pelan.

_______

Im Yoon Ah. adalah gadis yang sangat cantik dan hebat. Yoon Ah adalah gadis yang miskin, namun dapat membuat hati Xi Lu Han berdesir hebat.

Senyumannya yang manis, mampu membuat Xi Lu Han ingin sekali memilikinya, seutuhnya. Dan….Gadis itu sangatlah sempurna bagi Xi Lu Han. hanya saja pemuda itu masih tidak percaya denga kata hatinya.

Lu Han merajut langkahnya menuju ke arah pohon tempat di mana dia berteduh dan di mana Yoon Ah selalu berada di situ. Dengan membawa sebuket bunga mawar yang ada di genggamannya saat ini. Entah kenapa, ada dorongan untuknya untuk memberikan mawar itu pada Im Yoon Ah. sudah beberapa bulan ini dia bersama Im Yoon Ah. membuat sebuah kenangan indah, membuat hari-hari mereka menjadi pelangi, dan juga….

Selama itu, Lu Han memendam perasaannya. Dan pemuda itu tidak ingin lagi memendam perasaannya lebih dalam lagi. Dia ingin menyatakannya sekarang. meski harus mendapat kekecewaan, yang terpenting dia masih bisa memantapkan hati agar bisa menjauhi Yoon Ah dan melirik gadis lain. mudah ‘kan? Tapi, entahlah untuk Xi Lu Han.

Memang, hari ini adalah hari di mana Xi Lu Han belajar untuk mengetahui apa itu cinta, hari ini adalah hari dimana burung berkicau merdu seperti biasanya, hari dimana angin pagi menerpa kulitnya. Padahal, biasanya suara teriakan nyaring Yoon Ah menyambut kedatangannya.

Namun, kali ini lain. Lu Han harus menelan kekecewaannya. Im Yoon Ah tidak ada di situ, teriakan nyaringnya tidak ada lagi. Lu Han menunduk dalam sembari menatap mawar di genggamannya. Ada perasaan tidak enak pada lubuk hati Lu Han, entah kenapa. Apakah menyangkut Im Yoon Ah? Apakah menyangkut gadis itu? Entahlah, Lu Han tak tahu apa-apa tentang Yoon Ah. Dia hanya tahu, bahwa Yoon Ah adalah gadis cantik yang sempurna (Dasar!).

“AAAA!!!” teriak seseorang dan spontan membuat Lu Han mengangkat kepalanya cepat. Bibirnya melengkung ke bawah, sudut-sudut bibirnya tertarik ke atas, menandakan dia senang sekali.

Yoon Ah. Im Yoon Ah. Itu suara gadis itu. Mata Lu Han berkilat senang. Matanya menacari-cari siluet tubuh Yoon Ah. Suara itu semakin menjadi-jadi. Lebih keras dari pada sebelum-sebelumnya. itu membuat Lu Han semakin berprasangka buruk.

“Yoon Ah….Yoon Ah…Dimana kau, eoh?” desis Lu Han. dia berlari menuju ke arah siluet tubuh ramping seorang gadis, pemuda itu menemuka Yoon Ah yang sedang menangis di sana. Baru kali ini, Lu Han menemukan Yoon Ah yang menangis tersedu-sedu seperti ini.

Manik mata gelap milik Yoon Ah menangkap sosok Lu Han yang telah berada di hadapannya. Dengan cepat, Yoon Ah menjauhi sosok itu. Lu Han semakin bingung karena tingkah Yoon Ah yang tak seperti biasanya.

Yoon Ah, gadis itu berdiri dan melangkah mundur diikuti Lu Han yang ada di hadapannnya. Tangan kanan Yoon Ah digunakan gadis itu untuk membekap mulutnya sendiri, tangannya yang lain untuk mengibaskan tangannya ke depan—bermaksud agar Lu Han tidak mendekatinya yang sedang menangis.

“Jangan..Jangan mendekatiku!” teriak Yoon Ah. Dia menjatuhkan bulir air mata lagi, itu membuat hati Lu Han sakit.

“Yoon Ah, ada apa denganmu? Kenapa kau takut denganku….?” Tanya Lu Han dengan dahi mengernyit heran. Yoon Ah hanya menggeleng lalu dia jatuh terduduk. Lu Han segera menghampiri gadis yang sebatang kara itu.
Lu Han memegang tangan gadis itu dan seketika itu juga, matanya membulat.

Tangannya menembus tubuh Yoon Ah.

Yoon Ah menatap Lu Han nanar, begitu pula dengan sebaliknya. “Mianhae…Aku membohongimu..” lirih Yoon Ah sembari menunduk dalam. Lu Han menjatuhkan air matanya dan bunga mawar itu ia pegang erat-erat.

Yoon Ah tersenyum. “Akhir-akhir ini—Bukan, bahkan dari awal, aku memang berteriak. Yang selalu membuatmu mengomeliku karena kau terganggu. Sebenarnya…Aku kesakitan, Lu Han ah. Kau tak tahu, kau memang berhak untuk tidak tahu. Sebenarnya..Aku bukan manusia, Bukan juga takdir untukmu. Untuk berada di sebelahmu.”

Hati Lu Han mencelos karenanya, dan pemuda itu menjatuhkan lagi air matanya.

“Jangan menangis…..Aku tak suka manusia menangis hanya karenaku. Apalagi oleh orang yang kucintai.” Ucap Yoon Ah. tangannya terangkat untuk menghapus air mata Lu Han. Namun, usahanya tetap sia-sia saja. Karena dia tidak dapat menyentuh Lu Han. Tangan Lu Han terkepal erat.

Yoon Ah kembali tersenyum, walaupun hatinya masih sakit. Dia sadar bahwa realita pahit—yang bahkan ia hindari dan sangat tidak ingin ia ketahui keberadaannya—akan muncul sebentar lagi. “Sebenarnya aku bukan siapa-siapa bagimu. Memang sih. Tapi aku selalu berharap, bahwa aku adalah orang berharga yang ada di sini, di hatimu yang paling dalam. Meski aku tak tahu aku berhasil menempuh jalan ke situ, atau aku sama sekali tak melangkah maju dan malah menyerah di tengah perjalanan.” Yoon Ah menunjuk dada Lu Han.

“Aku…Aku adalah malaikat. Malaikat yang hanya mempunyai satu sayap. Dan aku tak bisa memakainya, karena sayap itu tak lengkap. Makanya, aku selalu berteriak kesakitan karena sayap ini. Sayap yang menyiksaku, untuk terbang. Padahal, dirinya tak memiliki pasangan.” Kata Yoon Ah sembari mengeluarkan sayap indahnya yang hanya satu itu dengan rintihan pelan. Gadis itu lalu melanjutkan dengan nada pelan, “Makanya, untuk kali ini aku memanjakannya. Untuk keluar dan terbang bersamaku. Dan aku selalu mendapatkan rasa sakit yang amat sangat.”

“Dan aku mencari pasangannya. Ketika aku mulai mendapatkannya, aku malah ingin menghilang seperti ini. Memang, aku tak pantas untuk mendapatkan pendamping. Karena aku hanya seorang malaikat tak becus, yang malah mencintai seorang manusia biasa. Aku adalah gadis miskin, itu juga kebohongan.”

Yoon Ah mengambil sebuket bunga mawar yang ada di tangan Lu Han dengan perlahan, dan dia berhasil. “Ini…Ini untukku, ‘kan?” tanya Yoon Ah kepada Lu Han yang hanya di jawab dengan anggukan singkat bersamaan dengan air mata yang meluncur deras. Yoon Ah mencium aroma bunga mawar itu lalu tersenyum tipis.

“Maaf, ya….Aku memang tak becus. Aku tak bisa menerima ini. terima kasih untuk segalanya, untuk segala yang kau berikan untukku. Untuk segala kenangan indah yang kau berikan untukku, yang kita terbitkan bersama dalam sejarah kehidupan kita. Yang dapat membuatku senang dalam sekejap. Dan maaf, karena sebentar lagi…Aku akan meninggalkanmu…Aku akan berjuang, untuk melupakannya…Maafkan aku… Karena jika diriku teringat kenangan yang kita buat bersama, itu membuatku tambah sakit dan sesak mengingat realita yang berakhir buruk ini.”

Yoon Ah mendesah berat dan air mata meluncur tanpa terkontrol olehnya.

“Jika kau juga merasa sesak. Kau boleh melupakanku, sama sepertiku. Kau bahkan boleh sama sekali melupakanku. Tanpa mengingat apapun tentang diriku. Karena kau berhak seperti itu….Kau berhak untuk melupakan kenangan kita berdua. Kita hidup, di dunia yang berbeda. Di dimensi yang jauh berbeda. Aku tidak menapakkan kakiku di tempatku, sedangkan kau menapakkan kakimu di tempatmu.”

“Sekali lagi, aku minta maaf. Aku memang bodoh. Sangat bodoh.”

Lu Han menggeleng dan mulai buka suara, “Tidak, itu tidak benar. kau hebat. Sangat hebat. Hebat karena telah melunakkan sifatku yang keras kepala. Kau tidak tahu, hebat itu apa. walaupun di duniamu kau paling bodoh. Di duniaku, kau paling hebat. Pasti orang-orang di sini semua terpukau olehmu, memujimu, dan mencintaimu sepertiku. Percayalah itu, kau terhebat.”

Yoon Ah melebarkan matanya lalu tersenyum tipis. “Oh…Terima kasih…Aku sangat senang. Aku ingin, jika sebentar lagi aku akan hilang, di dunia ini, aku yakin dan akan selalu berdoa. Agar dapat menjadi takdirmu. Agar menjadi pendamping hidupmu. Ingatlah Lu Han ah—”

Gadis itu menggantungkan kalimatnya sejenak lalu menatap Lu Han dengan senyuman termanisnya.

“Aku….Yang hanya mencintaimu…..Sepenuh hatiku…”

Lu Han mengangguk dan air mata terus keluar dari pelupuk matanya. Sungguh, dia tidak ingin berakhir seperti ini. Lu han mendekap Yoon Ah kepelukannya, walaupun dia tidak bisa menyentuh gadis itu.

“Kau tahu? Kita, bagaikan warna sore hari yang akan berganti menjadi malam hari. Warna yang tak dapat berpadu, dan warna itu sangatlah jelek, tidak enak dipandang. Namun, aku suka warna itu. warna yang indah dan cerah.” Ungkap Yoon Ah. gadis itu mulai terisak lagi.

“Seperti kataku, aku seperti angin. Aku tak butuh pelajaran dan kepintaran apapun. itu tak berguna untukku. Aku dapat kemanapun yang aku mau. Dan sekarang? aku tidak bisa ke manapun. Karena aku akan menghilang sebentar lagi.” Kata Yoon Ah di dekapan Lu Han.

Lu Han menggeleng, “Tidak, kau tidak akan hilang, Yoon Ah. karena kau—“
“—ada di hatiku, untuk selamanya…”

Bersamaan dengan kecilnya isak tangis yang keluar dari bibir mungil Yoon Ah, tubuh gadis itupun juga dengan perlahan menghilang, bagaikan angin sore yang tidak ingin ketinggalan matahari dan ingin mengikutinya.

“Tidak…Tidak! Tidak!!! Im Yoon Ah!!!” teriak Lu Han frustasi. Dia menatap Yoon Ah yang terus menangis di hadapannya dengan tatapan nanar.

“Selamat tinggal Lu Han ah… Aku mencintaimu..”

Dan itulah, kata-kata terakhir Yoon Ah. Hatinya bagaikan terbelah menjadi dua, satu sisi berada di kesedihan mendalam, satu sisi yang lainnya berada di kesenangan. Perasaan sedih karena Yoon Ah menghilang, perasaan senang karena Yoon Ah juga mencintainya. Lu Han tidak akan menghilangkan Yoon Ah dari ingatannya.

Yoon Ah telah menghilang. Kini, Lu Han hanya sendiri. Menangis dalam diam. Dirinya hanya bisa menangis, tidak tahu apa rencana Tuhan tentang kehidupannya selanjutnya. Berakhir bahagiakah? Berakhir menyakitkankah?

Lu Han tidak tahu apa-apa.

Dia tidak mau, dia tidak bisa.

Melupakan semua yang ada di gadis itu, itu sangatlah sulit baginya.

Biarlah dirinya terasa sesak untuk selamanya, untuk akhir hayatnya. Toh, Yoon

Ah akan selalu di sampingnya. Menemaninya sampai pemuda itu meninggal.

Karena ia tahu, Yoon Ah kini tinggal di hatinya untuk selamanya. Dan pemuda itu merasa akan baik-baik saja, jika Yoon Ah mencintainya.

Sepenuh hati gadis itu.

__FIN__

22 thoughts on “[Freelance] One Wing

  1. Nyesek bacanya
    Tapi ff nya keren bgt thor , imajinatif..
    Ada sequel gak thor?? Ceritanya Yoona lahir kembali gitu. Pengen liat LuYoon bersatu.
    Keep writing ya (y)

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s