CONCUBINE

concubine

-Tittle-

|| CONCUBINE||

 

-Made By-

||Kim SeIn||

||@puteri_shafaa||

|| http://shiningblackpearl.wordpress.com ||

 

-Length-

||Oneshoot with 5332 words count||

 

-Main Cast are-

||Oh Sehun||

||Kwon Yuri||

 

 

-Other Cast are-

||Oh Hunri (OC)||

||Kris as Yuri’ brother||

||Seo Joohyun as….||

||Jessica Jung as Kris’s partner||

 

-This FF Rate & Genre’s are-

||PG13||Romance, Drama, Sad, Failed Angst||

 

-Disclaimer-

||The Cast belongs to their agency, their family, their fans, their god and themself||

||The Poster of this FF belongs to Wolveswifeu artworker oennie :) ||

but

||The Plot of story still belongs to me as the author who made this story for fun, and never think to get a benefit from made this||

-Summary-

‘Tidak semua cinta berjalan dengan mulus, kerikil tajam sering menjadi penghalangnya. Namun asalkan tidak menyerah dan terus maju ke depan, kau pasti akan menemukan tujuanmu, kebahagiaanmu’

With love…..

Sehun’s Concubine…..

 

-Warning-

||Pointless, Typo/MissTypo, Weird, Plot doesnt interesting, Boring), etc||

 

-Author Head Notes-

Another FF again :) Hopefully this FF doesn’t as bad as i though before u.u Like if you like, and comment if you respect :) Sorry about the main cast i used in this FF T.T I cant find another cast that more compatible than YulHun._. I’m really sorry .. And also sorry because I too rare to post a FF in this blog, I’m busy for seriously ._.

Already post on my personal WordPress

Bye~

 

.

.

.

.

.

 

-SeIn’s Present-

-CONCUBINE-

 

.

.

.

.

.

 

Krieeeettt…Pintu berdaun dua itu berdecit nyaring saat terbuka lebar. Menampilkan seorang pria berkulit pucat dengan raut wajah yang tampak dingin. Rambut coklatnya yang sedikit ikal dipenuhi oleh salju, walau ia sendiri tak tampak kedinginan. “Kau datang?” pekik seorang wanita manis berambut coklat madu dari dalam rumah bak istana tersebut. Wanita itu tersenyum sumringah. Ditaruhnya benang rajutnya yang hampir membentuk sepotong baju bayi. Wanita manis bernama Kwon Yuri itu mengusap perut buncitnya dengan wajah berseri-seri. “Chagiya, appa pulang….” Ia beranjak bangun dari sofa yang ditempatinya dan berjalan secepat yang ia bisa ke arah pintu masuk. Si pria yang baru datang tak menjawab apapun. Ia bergegas menutup pintu sebelum salju yang terbawa angin mengotori rumahnya. Pria bernama Oh Sehun itu mematung saat seseorang memeluk punggungnya. “Aku senang kau datang, jadi aku tidak akan kesepian lagi,” kata Yuri dengan suara tenornya yang manis.

“Lepas!”

Yuri segera menurunkan kedua tangannya yang melingkar di tubuh Sehun. “Mianhae,” lirihnya takut. Sehun memutar tubuhnya hingga berhadapan dengan Yuri. Irisnya menilik tubuh Yuri dari atas ke bawah. Wanita dengan rambut terurai panjang di depannya ini hanya memakai daster hamil selutut yang tipis dengan pita panjang yang terikat rapi di belakang pinggangnya. Musim bersalju sedingin ini, tidak seharusnya Yuri memakai daster setipis itu, apalagi tanpa jaket. Sehun melepaskan mantel bulu yang melekat di tubuhnya lalu menyampirkannya di bahu Yuri. Yuri menunduk. Wajahnya terasa panas. Ia menggigit bibirnya menahan senyum, “Gomawo, oppa…” Sehun menepuk pelan kepala Yuri dan berjalan melewatinya. Yuri segera berbalik dan menggenggam tangan Sehun. Pria itu meliriknya dengan alis menyatu. “Telapak tanganku dingin, boleh kan aku menggenggam tanganmu?” pinta Yuri. Sehun tidak menanggapinya. Namun Yuri tahu bahwa pria itu mengijinkan lewat tangan Sehun yang berbalik menggenggamnya. Hangat sekali… Sesekali Yuri mengangkat tangannya yang bebas untuk membersihkan rambut Sehun dari butiran salju.

Sepasang suami-istri itu berjalan ke perapian yang terletak tidak jauh dari pintu masuk. Sehun menyalakan api tungku perapian sedangkan Yuri kembali ke ruang TV untuk mengambil peralatan rajutnya, kemudian menghampiri Sehun lagi. Setelah api menyala dan membuat ruangan menghangat, Sehun mendudukkan dirinya di sebuah kursi tunggal yang menghadap ke perapian, lalu memangku kaki kiri di atas kaki kanannya. Yuri berdiri di samping kursi Sehun dan mencolek lutut kiri pria itu. Sehun meliriknya dengan sudut mata dan menatap Yuri yang langsung tersenyum semanis mungkin. Sehun menghela nafas panjang lalu segera menurunkan kaki kirinya hingga sejajar dengan kaki kanannya. Yuri bersorak dan segera duduk di pangkuan Sehun. “Oppa…peluk~” rengek Yuri. Dengan wajah malas, Sehun melingkarkan kedua tangannya di sekeliling perut Yuri. “Dielus-elus, oppa~” sambung Yuri lagi. Sehun memutar bola matanya. Pria tampan itu mengelus perut besar Yuri dengan kaku. Yuri terkikik geli, “Gomapta, Hunnie oppa~” serunya riang. Sehun tetap diam dan menyamankan punggungnya yang bersandar di sandaran kursi. Yuri kembali menekuni rajutannya. Jarinya dengan lincah menggerakkan kedua jarum berbentuk sumpit di tangannya. Mengaitkan benang-benang agar menjadi baju hangat.

Sehun maju dan meletakkan dagunya di bahu kanan Yuri. Mengintip kegiatan yang sedang dilakukan Yuri dengan sangat serius. Yuri menoleh dan mengecup pipi kiri Sehun. “Mau coba?” tawarnya. Sehun memejamkan mata untuk menetralisir darahnya yang berdesir tak menentu. Ia membukanya lagi setelah cukup tenang dan menggeleng singkat. Yuri tersenyum samar. “Aku tahu, kau pasti tidak ingin merusak rajutanku yang hampir jadi ini.” wanita itu pun menekuni rajutannya lagi.

Tanpa terasa dua jam berlalu dengan begitu cepatnya. Api di perapian mulai menyala redup karena kayunya telah berubah menjadi abu. Malam semakin larut dan udara semakin dingin. Yuri tiba-tiba berteriak nyaring sambil mengangkat hasil rajutannya tinggi-tinggi.”Selesaaaaiii!” Sehun yang sudah hampir sampai ke alam mimpi terlonjak kaget bagai tersengat lebah. Ia mendengus kesal. Tubuhnya yang sejak tadi condong untuk memeluk Yuri kini menghempas kasar ke sandaran kursi. Yuri memutar tubuhnya. Tersenyum cerah pada Sehun dengan wajah polos tak berdosanya. “Oppa!! Sudah jadi!” ucapnya girang sambil merentangkan baju hangat berwarna ungu muda pada Sehun. Sehun hanya membalasnya dengan anggukkan tanpa minat sontak membuat Yuri menunduk lesu. “Setidaknya beri pendapatmu tentang baju bayi ini..” lirihnya sedih.

“…. Bagus,” ucap Sehun akhirnya, terpaksa, ya… ia terpaksa menjawabnya. Letak bagus dari baju sederhana itu saja ia tak tahu. Hanya menjawab asal sekedar menyenangkan hati Yuri.

Yuri mengangkat kepalanya dengan cepat. “Benarkah?” tanyanya. Matanya membulat dan terlihat sangat menggemaskan dengan rona bahagia menghias wajahnya. Sehun membenarkan mantel di tubuh Yuri yang merosot. “Ya,” jawabnya singkat. “Yeaaayyy! Gomawoooo~” Yuri memeluk leher Sehun lalu membenamkan wajahnya. Sehun tersenyum singkat lalu membelai perut Yuri. “Tidurlah!”

Yuri tersenyum lebar. “Kau mau menggendongku?” pinta Yuri. Tenornya terdengar memelas.Sehun lagi-lagi menghela nafas panjang lalu merangkul bahu Yuri dan menyelipkan tangan kanannya di lipatan lutut istrinya. Dalam satu tarikan nafas, ia berdiri seraya menggendong Yuri ala bridal. Setelah yakin aman, Sehun pun melangkahkan kakinya menuju kamar utama di rumah megahnya. Yuri mengalungkan tangannya lebih erat. “Oppa, apa aku berat?” tanyanya.”…” Tidak ada jawaban dari Sehun yang hanya menatap lurus ke depan. Yuri menangkup pipi Sehun dengan tangan kirinya dan menariknya sampai menunduk. “Oppa~”

“Ya, kau berat,” jawab Sehun pada akhirnya. Yuri mengerucutkan bibirnya. “Jadi sejak tadi kau merasa berat saat memangkuku?” tanyanya. Matanya melotot seperti orang marah, namun malah terlihat manis. Sehun membuka pintu kamarnya. Masuk ke dalam dan menutup pintunya lagi dengan sebelah kakinya. Ia berjalan ke tempat tidur king sizenya. “Ya,” sahutnya sambil menurunkan Yuri di atas tempat tidur. Bibir Yuri makin maju ke depan. Ia menolak untuk tidur dan malah duduk bersila. Kedua tangannya terlipat di depan dada. “Memangnya aku seberat apa? Satu larung beras??”

Sehun mengambil baju rajutan Yuri, melipatnya dan menaruhnya di dalam meja kecil di dekat tempat tidur. Kemudian ia melepaskan mantel di tubuh Yuri dan menggantungnya di gantungan baju. “Lima karung beras,” kata Sehun datar. Ia naik ke tempat tidur dan memukul-mukul kakinya yang selonjor. Yuri baru hendak memprotes, namun batal saat melihat kondisi Sehun yang memprihatinkan. “Capek, oppa?” tanyanya pelan.

“Hn.”

Yuri memutar tubuhnya. Duduk bersila di samping kaki Sehun dan memijatnya dengan tangannya yang kecil. Ia memijat dengan telaten. Dari telapak kaki, naik ke betis hingga naik ke atas paha dan terus naik sampai… Sehun melotot.

“Ups… salah pijat~” Yuri tertawa cekikikkan. Ia memijat turun kembali. Sehun menarik tangan Yuri sampai terlepas dari kakinya. “Udah enggak capek, oppa?” tanyanya. Sehun menghirup nafas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan. Begitu terus sampai beberapa kali hingga jantungnya berdetak normal kembali. “Hn.” Yuri tersenyum. Ia mendorong bahu Sehun dengan lembut sampai terlentang. “Oppa, turun dikit!” suruhnya.Sehun untuk yang kesekian kalinya kembali menghela nafas. Ia menarik bantalnya sambil menurunkan tubuhnya. Yuri bersorak riang. Wanita itu segera merebahkan tubuhnya dengan miring ke arah Sehun. Kepala Sehun pun tepat berada di samping perut Yuri. Sehun menempelkan pipinya di perut Yuri dan memeluk pinggulnya sedangkan Yuri dengan polosnya memainkan rambut ikal Sehun. Sehun memejamkan matanya saat mendengarkan Yuri mulai bernyanyi.

Dimanapun aku berada, aku memikirkanmu….. Apapun yang kulakukan, pikiranku tertuju padamu….. Tidak ada yang tahu kata tak terungkapkan ini….. Setiap hari aku tidak pernah bisa mengungkapkan….. Aku mencintaimu, lebih dari yang kau tahu….. Seseorang yang selalu kurindu, itu kamu….. Tapi kau tidak pernah tahu….. Karena hatimu tertutup untuk cintaku….. Ketika kau tidak melihatku, Ketika kau mengacuhkanku, Hatiku sesak….. Namun aku tetap tersenyum….. Aku mencintaimu, lebih dari yang kau tahu….. Seseorang yang selalu kurindu, itu kamu….. Tapi kau tidak pernah tahu….. Karena hatimu tertutup untuk cintaku….. Aku akan menunggu, just a little more….. Menunggumu untuk tahu perasaanku….. Then I wonder if you will say….. You love me too….. Seseorang yang selalu kesepian….. Dialah aku, meski kini aku di belakangmu….. Lain waktu aku akan di sisimu….. Saranghae..”

Yuri menutup lagunya dengan sebuah kata indah penuh makna. “Saranghaeyo, oppa…” bisiknya lagi. Tangannya yang memainkan rambut ikal Sehun berubah menjadi belaian penuh kasih. “Mimpikan aku ya, oppa!” pintanya. Suaranya berubah serak. Yuri membekap mulutnya. Jangan… jangan sampai Sehun tahu bahwa ia menangis

.

.

CONCUBINE

.

.

Mata coklat karamelnya menatap lekat sosok pemuda yang dicintainya sedang terduduk lesu di sebuah bangku tunggu. Wajah pemuda tampan itu terlihat kalut. Bahkan pemuda itu tak dapat menahan laju airmatanya. “Maafkan aku, oppa…” Pemuda itu mengangkat kepalanya. Menatap Yuri dingin walau matanya tak dapat menyembunyikan kebingungan tentang pernyataan maaf gadis mungil itu. “Oppaku tahu bahwa kau menolakku. Itulah mengapa ia membalasmu lewat Seohyun oennie. Aku sungguh minta maaf, aku sudah menutupinya semampuku,” ucap Yuri dengan suara serak. Ia bersimpuh didepan Sehun dengan linangan airmata. Ia peluk kaki Sehun yang hampir beranjak meninggalkannya.

“Lepas!” ucap Sehun sinis.

“Kau mau apa? Membunuhnya?” tanya Yuri sarkastik. Ia tertawa hambar. “Kris Oppa adalah ketua gangster kota ini. Membalasnya sama saja dengan mengantarkan nyawa.”

“Eoh? Bukankah aku memilikimu?” sindir Sehun. Dan Yuri akhirnya mengerti. Pemuda itu ingin menjadikannya sebagai kelemahan Kris. “Lalu? Apa setelah kau bisa membalasnya, rahim dan bayi Seohyun oennie bisa kembali? Tidak, Sehun-sshi!!” Sehun menggeram marah. Ia menendang tubuh Yuri hingga terantuk lantai. Yuri meringis kesakitan. Gadis manis itu bangun dan menggenggam tangan Sehun yang akan pergi meninggalkannya. “Biarkan aku menebus dosa Kris Oppa padamu,” kata Yuri. Sehun menyatukan alisnya pertanda tak mengerti. “Jadikan aku istrimu,” ucap Yuri pelan namun sanggup membuat Sehun membulatkan matanya. “Istri keduamu—selir. Sembunyikan aku dari Kris Oppa dan aku akan memberimu seorang anak.” Sehun menepis tangan Yuri. Ia berbalik, hendak berjalan kembali sebelum suara Yuri kembali masuk ke telinganya. “Kau bisa membuangku setelah anak itu lahir.”

Sehun memutar tubuhnya. Menatap tajam Yuri. “Kau gila!”. Yuri tersenyum getir. “Ya, aku memang sudah tidak waras lagi.”

.

.

Concubine

.

.

“Tinggallah lebih lama lagi, aku mohon..” Yuri mencengkeram tangan kiri Sehun saat pemuda itu akan meninggalkan rumah mereka pagi-pagi sekali. “Aku tidak bisa,” ucap Sehun tanpa menatap wajah memelas Yuri. Ia melepaskan tangan Yuri dan berjalan ke pintu, lalu membukanya. “Demi Tuhan, oppa! Bahkan dari tujuh hari yang ada di dunia ini, kau hanya menemaniku satu hari! Tidak… HANYA SATU MALAM!” Yuri membiarkan setetes air mata jatuh di pipinya. “Kau tidak tahu jika kau tidur di sampingku, aku tidak pernah tidur… Hiks.. Aku ingin menikmati kehangatanmu lebih lama…” Sehun terdiam tanpa berani menoleh ke belakang.”Kau tidak tahu aku selalu kesepian di sini. Di rumah sebesar ini, aku selalu sendirian. Bertemu pembantu yang bekerja di sini pagi sampai sore pun tidak boleh. Kau tidak tahu bahwa aku ketakutan saat mati lampu dalam keadaan sendiri. Kau tidak tahu ‘kan.. aku selalu membekap mulutku saat petir menyambar? Aku ingin menjerit, namun kau melarangku membuat orang tahu tentang keberadaanku..” Yuri mengusap kasar air matanya.

“Kau yang meminta untuk disembunyikan,” ucap Sehun datar masih dalam posisi membelakangi Yuri. “TAPI BUKAN BEGINI CARANYA! Kau boleh menyembunyikanku dari semua orang, namun bukan darimu. Disini sendiri tanpamu, itu seolah akupun sembunyi darimu juga..” Yuri menggigit bibirnya merasakan matanya yang perih. “Aku hanya ingin ditemani olehmu, oppa… aku juga istrimu.. kau memperlakukan Seohyun oennie dengan hangat, namun padaku… berbicara lebih dari beberapa patah kata adalah keajaiban! Meskipun segala ucapanmu itu sinis dan dingin..” Yuri menarik nafas panjang lalu menghembuskannya. “Waktuku tinggal sedikit, opp… Setelah anak ini lahir, aku tidak akan dapat bersamamu walau hanya semalam. Namun kenapa kau membuat waktuku semakin sempit?” tanya Yuri. “Ya, aku hanya simpananmu… aku hanya sampah tak berguna yang akan segera kau buang ke tong samp—”

“Bisakah kau mengasihaniku?” potong Sehun. Yuri terdiam. Sehun terdengar sangat putus asa. Wanita itu seketika tercekat saat melihat Sehun berbalik menghadapnya. Mata Sehun memerah menahan airmata. “Op–pa….”. “Seohyun hanya memilikiku.. dia sudah kehilangan rahim dan bayinya.. aku tidak bisa membayangkan jika dia kehilangan cintaku juga…” ucap Sehun. Ia meremas rambutnya frustasi. “Kau tidak tahu ‘kan, setiap melihatmu, mendapat perhatianmu, disentuh olehmu, semuanya membuatku ragu untuk mengatakan ‘aku mencintai Seohyun’!” Sehun berlutut di depan Yuri sambil menunduk dalam. “Aku harus tetap mencintai Seohyun… Jangan membuatku mencintaimu, Yuri-ah. Aku harus menjaga perasaanku untuknya. Dia hanya memiliki aku… hanya aku…” Tangis Yuri pecah. Ia terduduk di lantai yang dingin. Menangkup wajahnya dengan kedua tangan dan menangis sekeras-kerasnya.Itulah mengapa Sehun jarang bicara padanya. Alasan Sehun selalu dingin padanya. Alasan Sehun tidak mau menemaninya dalam waktu lama. Alasan Sehun enggan menatap matanya lebih dari tiga detik. Bukan karena Sehun membencinya atas matinya bayi Seohyun dan diangkatnya rahim wanita dengan senyum bak malaikat itu. Namun semata-mata karena Sehun mati-matian menahan perasaannya. Perasaannya yang jatuh terlalu dalam pada seorang Kwon Yuri, selirnya

.

.

Concubine

.

.

Musim semi tengah datang berkunjung. Udara terasa begitu hangat. Dedaunan tumbuh dengan subur dan bungapun bermekaran. Menyambut sesosok bayi mungil ke dunia barunya.Bayi lelaki menggemaskan itu memiliki rambut kecoklatan. Matanya bulat besar dan berwarna coklat tua. Kulitnya seputih kertas tanpa noda. Ia tampak begitu lucu dalam bungkusan selembar kain hangat berwarna kuning dengan gambar tokoh kartun.

Yuri menekan hidung putranya dengan jari telunjuk dan bayi itu sontak membuka mulutnya lebar-lebar sambil menggeliatkan badannya yang terbungkus kain. Yuri terkikik. “Waeyo, baby? Sempit, eum?” godanya sambil menusuk-nusuk pipi bulat bayinya. “Aulr…eurl…” Bayi lelaki itu menggumam tidak jelas. Yuri membelai rambut tipis putranya yang lurus dan berwarna kecoklatan, sama seperti milik sang appa. Ia menyibak rambut di dahi bayinya dan mengecupnya cukup lama. Tanpa sadar airmatanya menetes. “Umma senang sekaligus sedih karena kau sudah lahir,” bisiknya. “Senang karena bisa menjadi umma dari bayi setampan dirimu. Kau sangat mirip dengan appamu. Namun umma juga sedih karena sebentar lagi kita harus berpisah.” Yuri menghirup nafas dalam-dalam, lalu mengembuskannya. Kemudian ia tersenyum lembut pada bayinya. “Kau harus jadi anak yang pintar dan selalu patuh pada appamu.” Ia menyelipkan jarinya di telapak tangan sang bayi dan langsung digenggam dengan kuat. “Ummamu adalah Seo Joo– ah, Oh Seohyun.. Ingat ya… bukan Kwon Yuri, tapi Oh Seohyun! Kau harus menyayanginya lebih dari siapapun.” Yuri menggesek-gesekkan hidungnya yang memerah ke hidung mancung bayinya. “Kau mengerti ‘kan, bayi Oh kecil?”

“Tidak!!!” Yuri membulatkan matamya.

“Ummanya adalah Kwon Yuri dan yang akan disayanginya lebih dari siapapun juga adalah Kwon Yuri!” Yuri tersentak kaget. Ia mengangkat kepalanya dan mengalihkan pandangan pada pintu kamar rumah sakitnya. “Kk—Kris oppa…” Pemuda bersurai pirang dengan iris coklat bening itu menundukkan kepalanya namun tetap memandang lurus ke arah Yuri.

Yuri menundukkan kepalanya mendapat tatapan mengintimidasi seperti itu. “Beraninya kau pergi dariku, Kwon Yuri!” Yuri menunduk semakin dalam. Tubuhnya bergetar takut. “Mi—mianhae, Oppa..” “Bisa-bisanya kau memberikan tubuhmu secara cuma-cuma untuk setan keparat itu?!! Kau tidak hanya membuang harga dirimu, tapi juga menginjak-injak martabatku!” dengus Kris. “Hiks… a—aku sangat mencintainya, Oppa…” lirih Yuri terbata. Ia meremas sprei sampai tak berbentuk lagi.

“Jika aku membunuhnya, apa cintamu akan mati juga?” tanya Kris. Yuri mengangkat kepalanya. Nafasnya tercekat.

Bruuukk…!

Seorang pria tersungkur di lantai setelah didorong dengan kasar dari arah luar kamar. Yuri memekik saat mengetahui pria itu adalah Oh Sehun. Wajah suaminya itu dipenuhi oleh lebam biru dan sudut bibirnya mengeluarkan darah. Pakaian yang dikenakan Sehun pun kotor oleh debu dan noda darah. “Sehun!” Yuri beranjak turun dari ranjang. Ia menggigit bibirnya sambil memegangi perutnya. Bekas jahitan diperutnya sama sekali belum kering. Pria mungil tersebut berjalan terseok-seok ke arah Sehun. “Sehun oppa…” panggilnya sedih. Ia beringsut mendekat dengan kedua lututnya yang menyentuh lantai. Sehun menopang tubuhnya dengan kedua tangannya agar dapat duduk. Ia menggelengkan kepalanya dengan wajah meringis kesakitan. Menatap Yuri dengan tatapan jangan-turun-dari-tempat-tidur-kau-masih-sakit. Namun Yuri tak mempedulikannya. Yuri sampai di hadapan Sehun dan menangkup pipi Sehun yang penuh lebam. “Oppa-ya… gwaenchana?” tanyanya. Matanya yang basah oleh airmata menatap Sehun dengan nanar.Sehun memaksakan sebuah senyum. Meyakinkan Yuri bahwa ia baik-baik saja. Disentuhnya pipi Yuri oleh tangannya yang penuh luka. Ia menggosok pipi Yuri, berniat menghapus airmatanya, namun wajah mulus Yuri malah ternoda oleh darahnya. “Hiks… oppa-ya… maafkan aku…” Yuri mengalungkan tangannya di leher Sehun dan menangis sejadi-jadinya di bahu pria itu. “Mianhae… ini semua gara-gara aku… hiks… seharusnya kau tidak mengenalku… hiks…”

Sehun tersenyum tipis, sangat tipis sampai Yuri tidak menyadarinya, lalu mengangkat sebelah tangannya. Menggerakkannya sampai hampir menyentuh belakang kepala Yuri, namun ia urung membelai kepala Yuri untuk menenangkannya. Ia malah mengepalkan tangannya kuat-kuat, menahannya agar tak menyentuh Yuri sedikitpun. Kris menarik paksa kedua tangan Yuri. Melepas pelukan wanita itu lalu menyeretnya. “Ayo pulang!” Kris berujar dingin dengan genggaman yang semakin mengerat. “Tidak” Yuri memberontak. Ia menarik kedua tangan Kris agar cengkraman kakaknya itu lepas. “Sirheo! Aku mau dengan Sehun oppa! Oppa!! Lepaskan! Oppa—aaahh! Hiks… Sehun oppa, tolong aku! Sehun oppa!!” Yuri memohon sambil berusaha mempertahankan posisinya. Ia menarik paksa lengannya yang dicengkram oleh Kris, sayang, bukannya melonggar, cengkraman di lengannya malah semakin mengerat.

“YURI!!” Kris mendelik tajam. Ia mengangkat tubuh Yuri dan membopongnya di bahu kanannya, lalu berjalan keluar kamar. Sehun tercekat sambil mengulurkan tangannya. Ingin menggapai Yuri, namun ia tak menggerakkan kakinya sama sekali. Ia menyerah sebelum mencoba. Kris berhenti sejenak di depan pintu. Tak dipedulikannya Yuri yang menangis keras sambil memukuli punggungnya dan berteriak minta turun. Pemuda tampan itu melirik wanita cantik bersurai pirang panjang yang sejak tadi bersembunyi dibalik pintu. “Singkirkan dia untukku, Jessica…” wanita bernama Jessica itu meneguk ludahnya, lalu mengangguk mengerti. “N—ne..”. “Dan bawa bayi itu!” suruh Kris lagi. Jessica kembali mengangguk dan berjalan tergesa-gesa masuk ke dalam kamar yang sebelumnya ditempati Yuri. Sementara Kris membawa Yuri —yang seperti kehilangan jiwanya saat mendengar perintah Kris— kembali ke manor mereka.

Pria tampan yang terduduk di lantai itu mendongak dan menatap Jessica yang berdiri tepat di depannya. Dia adalah wanita cantik yang memergokinya membawa Yuri ke rumah sakit untuk melahirkan bayi mereka. Dan wanita cantik itulah yang membeberkannya pada Kris. Sehun berdecih. Cinta memang membutakan segalanya. Jessica mendesah lelah, wanita cantik itu mengeluarkan sebuah pistol kecil kedap suara dari dalam jasnya dan mengarahkannya ke kepala Sehun. “Oh Sehun—ssi… mianhae..”

.

.

Concubine

.

.

Yuri mengintip salju yang berjatuhan dari langit lewat jendela kamarnya. Ia tersenyum tipis, lalu memakaikan baju hangat berwarna ungu muda ke tubuh mungil bayinya yang baru selesai dimandikan. Bayi lelakinya yang ia beri nama Hunri itu sedang asyik menggigit botol minyaknya dan membasahinya dengan air liur. Yuri menyisir rambut kecoklatan Hunri yang sudah lebih tebal dibanding saat lahir dulu. Rambutnya yang lurus semakin hari semakin berwarna coklat. Setelah rambut bayinya rapi, Yuri menyapukan bedak bayi ke wajah Hunri.”Eunghh~” Hunri menggerakkan tangannya untuk menolak sang ibu yang ‘mendandaninya’.Yuri tersenyum geli. “Sedikit, sayang. Biar tampan~” rayunya. Hunri pun membiarkan ibunya dan kembali menggigit botol minyaknya yangvsemakin basah oleh air liurnya sendiri. Yuri menyentil hidung bangir Hunri. “Dasar! Dibilang tampan langsung nurut” Yuri bersungut geli. “Ahh… kulitmu putih sekali, Hunnie.. sebenarnya tidak perlu pakai bedak juga gak papa dech…”. Yuri menggangkat tubuh Hunri tinggi-tinggi seusai membedaki bayi mungil itu. Hunri tertawa girang dan bergerak aktif. “Anak umma tampan sekali!” puji Yuri. Ia menidurkan tubuhnya dan membiarkan Hunri tengkurap di dadanya. Bayi itu mengemut kepalan tangannya sendiri. Yuri mengeluarkan tangan Hunri dan menggerakkannya sampai menepuk satu sama lain. “Appamu pasti iri melihatmu yang menandingi ketampanannya,” ucap Yuri lagi.

“Mma..” Hunri memanggil sang ibu dengan suara cemprengnya. “Ya, sayang?” jawab Yuri.Hunri memiringkan kepalanya. Menatap polos sang ibu dengan mata coklat besarnya. “Ppaa..?”. Yuri tersenyum, “Kamu tanya appa ada di mana, eoh?” tebak Yuri lalu menghela nafas panjang. “Appa ada di langit, chagi… Dia selalu melihat kita dari sana.” terang Yuri, kembali tertawa saat melihat Hunri yang menyatukan alisnya. Ia tidak mengerti. “Kau akan tahu kalau sudah besar nanti.” Yuri tersenyum dan menyandarkan kepala Hunri di dadanya. Menepuk-nepuk punggung bayinya sambil menyenandungkan lagu tidur untuk si kecil

.

.

Concubine

.

.

Beberapa jam kemudian Hunri terbangun dari tidurnya. Ia diam dan hanya berkedip polos. Belum sepenuhnya sadar dari tidurnya. Setelah memakan waktu yang cukup lama, ia pun mengerti dan menepuk-nepuk pipi ibunya. “Mmaa… maaaa~” Yuri mengeluh pelan dan membuka matanya. Ia mengerjapkannya beberapa kali dan langsung tersenyum semangat pada Hunri. “Hei, anak umma yang tampan~” Dikecupnya kedua pipi Hunri. “Mmaaa…” Hunri menggeliatkan tubuhnya ingin turun dan Yuri segera bangun lalu menurunkan bayinya dari tempat tidur. Hunri dengan semangat merangkak ke arah pintu kamar. Pintu yang terbuat dari besi itu pun berbuka otomatis saat Hunri mendekatinya.

“Hunnie mau kemana, sayang? Jangan berkeliaran begitu!” seru Yuri khawatir. Ia menghampiri bayinya yang sudah keluar dari kamar dan pintu itu pun sontak kembali tertutup saat Yuri ikut keluar. Hunri merangkak sesuka hatinya. Ia akan menangis bila Yuri mengangkat dan menggendong tubuhnya, jadi mau tidak mau Yuri hanya berjalan di belakang dan mengawasinya yang merangkak ke sana kemari. Hunri sampai pada ruangan yang dijaga oleh dua bodyguard bertubuh besar di depan pintu. Dua penjaga itu tak mengetahui keberadaan bocah kecil itu karena menatap lurus ke depan, ke arah Yuri. Salah satu pengawal itu menahan Yuri. “Anda tidak boleh masuk, nona Yuri…” Yuri melirik putranya yang menyelinap masuk dengan mudahnya ke dalam ruangan itu. “Aku mau mengambil putraku, Yunho..” Dua pengawal itu saling berpandangan. “Tuan Hunri tidak masuk kemari, nona Yuri..” kata pengawal yang satunya, Taecyeon. “Humh? O ya? Lalu kenapa pintu di belakang kalian itu terbuka?” sindir Yuri. Dua pengawal itupun menoleh ke belakang. Dan benar saja, pintu mekanik itu bergerak kembali menutup, itu artinya tadi baru saja di buka. Yuri melewati dua pengawal yang masih cengo itu dengan acuh. Ia masuk dan segera mencari anaknya yang usil itu.

Hunri merangkak ke dalam sebuah ruangan yang dihuni oleh beberapa orang. Bayi yang sebentar lagi berumur satu tahun itu duduk dengan polos di lantai saat melihat punggung seseorang di depannya. Orang itu bersimpuh di depan pamannya yang duduk di sebuah kursi tunggal. Mata bulat besarnya juga melihat seorang wanita bersetelan hitam dengan rambut pirang panjang yang berdiri di sebelah kiri pamannya dengan tubuh menggigil ketakutan. Juga beberapa pria bertubuh besar yang meringkus pria yang berlutut tadi.

“Cii… aducii~” panggilnya imut. Semua orang menoleh pada bayi menggemaskan itu, tak terkecuali pria berkulit putih pucat yang bersimpuh di hadapan Kris. Kris berdecak malas. “Kau berkeliaran lagi, bocah nakal? Merepotkan ummamu saja,” desisnya. Hunri tertawa girang, memamerkan giginya yang hanya tumbuh tiga buah. Ia menganggap kekesalan pamannya sebagai gurauan untuk membuatnya senang. “Ciii… ducii~” panggilnya lagi sambil merangkak mendekati pamannya.

Seorang pemuda berkulit pucat yang masih dalam posisi bersimpuh di hadapan Kris menatap dalam tubuh kecil Hunri. Rambut lurusnya yang kecoklatan, mata coklat pekatnya yang besar, kulitnya yang putih bersih dan baju rajutnya yang berwarna ungu muda. Ia tersentak kaget. “Aegya…” bisiknya. Hunri menolehkan kepalanya ke arah pria dengan pakaian compang-camping itu. Ia mengerjap-ngerjapkan mata, lalu mendekatinya dan menepuk-nepuk tubuh pria itu. “Ung?” Hunri menopang tubuhnya agar tetap bisa berdiri dengan berpegangan pada lengan pemuda tersebut. “Kenapa kalian diam saja?!! Cepat ambil Hunri, bodoh!” seru Kris gusar. Pria berkulit putih pucat itu terpaku. Nama bayi itu Hunri? Sehun-Yuri? Segera saja dipeluknya tubuh mungil Hunri. Tidak membiarkan pria-pria bertubuh besar itu merebut anaknya. Ia membungkukkan tubuhnya dan melindungi Hunri tanpa mengindahkan tubuhnya yang ditendangi oleh para pria besar itu.

“Cukup!” seru Yuri yang nasih berdiri di depan pintu. Para bodyguard itu segera menghentikan aksi mereka. “Kalian mau melukai anakku?” sentak Yuri. Mereka menggeleng kuat dan bergerak menjauh. Pemuda berkulit pucat yang tak lain adalah Sehun itupun menegakkan tubuhnya dan berdiri. Ia menoleh ke belakang. Yuri membulatkan matanya dan membekap mulutnya yang menganga lebar. Sehun? Dia masih hidup?

Doorr!

Suara tembakan yang disusul oleh erangan Sehun membahana di seluruh ruangan. Sehun terjatuh dengan satu lutut mencium lantai. Kris menembak kaki kirinya. Beruntung Hunri tidak jatuh dari dekapannya. “OPPA!!” Yuri memekik kaget sedangkan Hunri menangis keras. Bayi itu ketakutan. Ia melambai-lambaikan tangannya ke arah sang ibu. “Maaa… Ummaaaaa!” Sehun mendekap Hunri erat tanpa mempedulikan rasa sakit di kakinya. “Huh, keras kepala!!” Kris menembakkan satu peluru lagi di kaki Sehun. Membuat kedua kaki Sehun kini sama-sama mencium lantai. “Lepaskan keponakanku!” Sehun menggeleng kuat. Matanya menatap ke dalam iris Kris tanpa rasa takut sedikitpun. Kris yang tidak merasa terintimidasi sedikitpun hanya berdecih pelan. Ia bangkit dan berjalan mendekati Sehun. Dengan angkuh ia menempelkan pistol ke dahi Sehun.

“Lepaskan Hunri!” Sehun menyeringai sinis. Ia memeluk bayinya lebih protektif. “Kau ingin mati, eh?” ancam Kris lagi. Kali ini

“Hentikan sampai di sini!”

Kris dan Sehun sontak menolehkan kepala mereka ke samping. Mereka dapat melihat dengan manik masing-masing bahwa Yuri sudah berdiri di pembatas balkon. Pupil mereka mengecil seketika. “Berani Oppa menembaknya, aku akan lompat,” tegas Yuri. “Sica oennie, STOP!!” Yuri memberi isyarat dengan telapak tangannya yang terbuka lebar. Dan Jessica yang berniat menghentikan Yuri terhenti seketika.

“Yuri..” Sehun yang syok tanpa sadar merenggangkan pelukannya. Hunri yang sudah berhenti menangis langsung turun dan merangkak ke arah bunya. “Kau tidak akan berani, Yuri. Hunri melihatmu!” Cklek! Kris menyiapkan senapannya dalam keadaan siap tembak. “Really? Why you feel so sure, oppa?” Yuri tersenyum getir. “I’m so sorry..” bisiknya lemah.  Ia memejamkan mata dan memundurkan kakinya sampai menginjak udara. Tubuhnya meluncur turun ke bawah dengan sangat cepat. “YUURRIIII!” Sehun berdiri dan berlari ke arah balkon. Ia tidak tahu darimana kekuatan yang didapatkannya. Sedetik yang lalu ia bahkan sama sekali tak dapat berdiri karena dua peluru Kris yang bersemayam di kakinya. Dengan kaki yang tanpa henti mengucurkan darah, ia berlari dan melompati pembatas balkon. Tangannya berusaha meraih tangan Yuri, hingga akhirnya kedua tangan itu bertautan. “Jika ingin mati, matilah bersamaku…”

Hunri tak bergerak sedikit pun dari tepi balkon. Ia diam tanpa ekspresi. Yang ia tahu, ibunya meloncat dari tempat yang sangat tinggi. Meninggalkannya— sendirian. “Mmaaa…” Kris kehilangan tenaganya untuk berdiri. Ia terduduk lemas dengan pistol yang berputar-putar menjauh dari tangannya. “Kriss..” Jessica berlutut dan menarik Kris ke dalam dekapannya. “Sshh… mianhae, Kris.. seharusnya aku membunuhnya seperti yang kau inginkan.. Sorry… I’m really sorry… Aku tidak tahu mengapa semuanya malah jadi seperti ini..” cahaya kehidupan di mata Kris meredup. Nafasnya tercekik.

“Aku… membunuh adikku…”

.

.

Concubine

.

.

Seorang pria tampan duduk bersandar di bawah pohon oak tua yang rindang. Cahaya yang terik tak mampu membuatnya kepanasan karena dedaunan pohon yang lebat menghalau cahaya matahari, memberi efek teduh menyejukkan bagi pria bersurai coklat yang sedang berbaring itu. Di telinganya terpasang sebuah headphone yang mengalunkan lagu-lagu klasik sementara ia sendiri fokus membaca sebuah novel misteri karya ‘Sir. Conan Doyle’ yang tebalnya sendiri sekitar tiga sentimeter. Tidak jauh dari tempat berbaring pria itu, seorang wanita bersurai hitam legam terlihat tengah berlari-lari kecil. Ia menghampiri pria itu sambil menenteng sebuah kotak berwarna coklat kayu. Wanita itu terus berlari, membuat rambutnya yang panjang melambai-lambai diterpa angin yang berhembus lembut.

Setelah tepat berada di depan seorang pria tampan yang masih tenggelam dalam dunia fantasinya sendiri, wanita itu langsung menundukkan badan dan menumpu kedua tangan di atas lututnya. Dia lelah, dan sekarang sedang berusaha menormalkan kembali deru nafasnya yang memburu, membuat pria di hadapannya melirik dengan sebelah alis terangkat.

Wanita dengan dress kuning cerah itu menyodorkan sebuah kotak berukuran sedang di tangannya dengan malu-malu. “Humh?” pria tampan yang memakai setelan berwarna putih itu menaruh novelnya di atas hamparan rumput lalu menerima kotak itu dengan wajah bingung. Pria itu membukanya, mengintip isinya dan menutupnya kembali kemudian menyerahkannya pada wanita di depannya yang alisnya mulai tertaut heran. “Wae? Kau tidak suka?” tanya si wanita dengan nada kecewa yang kentara.

“Beri aku daging dan bawakan bubble tea kalau bisa” pria yang ditanya kembali meraih novelnya dan kembali tenggelam dalam dunia fiktif penuh misteri.

“Mwoya??!” wanita berkulit kecoklatan itu serta merta memajukan bibirnya beberapa senti. Ia membanting kotak dalam pelukannya dengan sebal sampai penutupnya terbuka—dan beruntung isinya tidak terbuang percuma ke tanah. “Tapi aku kan sudah capek-capek membuatkan kue itu untukmu! Tidak bisakah kau menghargainya sedikit, Oh Sehun-sshi yang suka makan daging dan minum bubble tea??!” omelnya sarkatis.

Pria tampan bernama Oh Sehun itu nasih menekuni bukunya. “Aku tidak memintanya, Kwon Yuri-sshi yang suka bikin kue..”

“Aaarrrgghh! Tapi yang sering dilakukan oleh orang yang berpacaran kan memakan kue hasil buatan sang kekasih, bukan daging, wahai Oh sehun-sshi yang konyol!!” teriak wanita bernama Kwon Yuri itu lagi. Sehun menyunggingkan senyum lalu menarik lengan Yuri sampai ia terduduk di samping kanannya. “Tapi kau istriku, bukan pacarku…” jawaban singkat Sehun serta merta membuat kedua pipi Yuri memerah seketika. “Ta—tapi kan kita tidak pernah pacaran. Ja—jadi aku ingin merasakan indahnya berpacaran dengan suamiku!” sanggah Yuri dengan wajah tertunduk. “Sepertinya harus ditunda,” sahut Sehun, kembali menaruh novelnya di samping lalu mengalihkan perhatian ke arah wanita di sampingnya. “Kenapa begitu?” tanya Yuri kesal. Sehun menunjuk kotak kue tadi dengan dagunya. Yuri pun segera menoleh ke samping. Didapati oleh mereka sang putra yang baru berusia satu setengah tahun telah memasukkan seluruh wajahnya ke kue tart rasa coklat itu. Hunri memakan kue buatan ibunya langsung tanpa bantuan tangannya karena jika menggunakan tangan, yang dicakupnya hanya bisa sedikit. Sedangkan jika menggunakan mulut langsung, dia bisa mengambil sesuai kehendak hatinya, ya–hanya pemikiran polos seorang anak kecil. Saat sedang asyik meraup kue empuk penuh krim itu, Hunri kehabisan nafas karena wajahnya yang tenggelam dalam kue. Ia menarik kepalanya, namun tidak bisa. Kepalanya seperti tersangkut di dalam kue. “Ahhh~ aaalllgghh… Ummaaaa~” rengek bocah itu sambil tetap berusaha menarik wajahnya. Yuri yang awalnya ingin marah jadi tertawa terbahak-bahak melihat tingkah konyol putranya. Ia segera memangku tubuh putranya dan menarik kotak kuenya. Hunri membuka tutup mulutnya seperti ikan untuk menghirup udara. “Hahh… hahh…” Wajahnya manisnya belepotan oleh kue dan krim.

Yuri mengecup pucuk kepala putranya. “Makanya, jangan usil, Hunnie~” “Unghh…” Hunrin mengerucutkan bibirnya mirip seperti ibunya saat sedang ngambek. Meski sedang ngambek, Hunri tetap mencolek kue di pipinya dengan jari lalu mengemutnya. “Hunnie~” Yuri mengambil sebuah tisu basah dan mengusapkannya di wajah Hunri. “Sudah, hentikan! Nanti umma buatkan yang baru buat Hunri…” ucapnya lembut. “Umm!” Hunri mengangguk senang. “Dua!” ucapnya sambil membentuk angka dua dengan jarinya. Bocah kecil itu sepertinya akan pintar matematika seperti ayahnya. Sehun mencapit hidung Hunri dengan gemas. “Dasar serakah—-!” “Kayak appanya,” timpal Yuri sambil tertawa. Sehun menggeretakkan giginya. Yuri segera mencium pipinya dan membisikkan kata cinta di telinga Sehun agar pria itu tidak marah. Sehun tersenyum dan balik mengecup pipi Yuri. “Nado saranghae~” bisiknya di telinga Yuri. Yuri terkikik pelan dan menyandarkan kepalanya di bahu Sehun sedangkan Hunri ikut-ikutkan menyandarkan tubuhnya di dada sang ibu.

Sehun memang tidak pernah mati. Jessica tidak pernah menembaknya. Ia pun bercerai dengan Seohyun karena Seohyun tahu ia sudah tidak bisa mencintainya lagi. Wanita penggemar kartun itu dengan ikhlas melepaskan Sehun untuk Yuri. Selama satu tahun pria itu mencari tempat tinggal Kris untuk mencari istri dan anaknya. Sampai kemudian ia bisa menemukan keluarga kecilnya, namun Kris menolak untuk menyerahkan mereka. Hingga akhirnya Yuri melompat dari balkon disusul olehnya. Mereka terjatuh ke kolam renang dan beruntung dapat selamat dari maut. Kris pun luluh dan membiarkan Sehun untuk bersama istri dan bayinya. Dan Sehun pun bisa mencintai Yuri tanpa harus menahan perasaannya lagi. Yuri yang awalnya hanya seorang selir, kini bisa menjadi satu-satunya istri Sehun. Mereka meneruskan hidup mereka bersama buah hati yang kian hari kian tumbuh besar.

 

‘Tidak semua cinta berjalan dengan mulus, kerikil tajam sering menjadi penghalangnya. Namun asalkan tidak menyerah dan terus maju ke depan, kau pasti akan menemukan tujuanmu, kebahagiaanmu’

 

With love…..

 

Sehun’s Concubine…..

 

 

 

-Author Foot Note-

KYA!! Jangan timpuk saya karena ending yang penuh fantasi dan ke-tidakmungkin-an ini T.T

Adakah disini yang dengan polosnya berfikir kalau Yuri sengaja menjatuhkan diri karena di bawahnya adalah kolam? Kalau ada, saya musti kasih 10 jempol buat anda -_-

Kkk~ pamnjang banget gak sich? 14 halaman lo kalau diketik di ms.word -_- Maklum ya.. ini kan oneshoot..

Dan sekali lagi maaf karena udah hampir sebulan gak nge-pos FF -_- Gak ada waktu, dan kesempatan T.T

Eumh… scene yang Yuri mijat Sehunitu fulgar gak sich? Itu sich saran dari temenku, katanya biar lucu -_- Menurutku malah maaf, menjijikkan lo~ Tapi ya udahlah, dia kan reader, dan reader yang lebih tau ._. Soal deskripsi yang gaje dan lebih banyak dari dialog tolong dimaklumi ya… gak ada waktu lagi buat ngedit, ini aja buru2 di warnet -__-

 

And for last… Mind to review?? *SodorinBabyHunri*

 

Bytheway… Hunri itu nama yeoja kan ya?-_-

73 thoughts on “CONCUBINE

    • Eumh, Seo? Mati? Gak kok, Seo cuma keguguran dan diangkat rahimnya berkat anak buah Kris. Dan kenapa isinya cuma tentang Yuri-Sehun? Tentu karena aku sudah menulis kalau mereka main cast.nya🙂 Itu aja penjelasan aku ya?

      Thanks for reading🙂

  1. WoW…BAGUS BANGET MASYA ALLAH <333
    feel-nya dapeeeeeeeet bangett…
    bikin deg-degan *alay*
    bikinin lagi dong yg yul-hun^^
    THANKS~

  2. daebak! lebih enakan Romance ending.. apalagi si Hunri…. Iss… Lucu…
    Apalagi jika Hanri… Sehun diganti Luhan😀 Cucok

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s