[Drabble] Why…

remake cover why...

Title

   Why….

Author

Fadila Setsuji Hirazawa

Genre

Romance,Sad,Family(?)

Length

Drabble

Main Cast

D.O | Taeyeon

Support Cast

Lay

Note

Italic = Flashback

~Happy Reading~

“Noona…”

Tak kudengar sahutan lembut yang biasanya sering meluncur dari bibir mungilnya itu. Tak kulihat pula lengkungan indah penghias wajahnya, lengkungan yang selalu kunanti setiap kali aku menyapanya. Mengapa semua itu tak lagi bisa kunikmati?

Apa ini hukuman dari Tuhan untukku?

Hukuman karena aku…Mencintainya?

Salahkah aku jika merasakan cinta?

Apa yang salah dengan mencinta?

Kucoba untuk menatap netranya, namun percuma. Netranya bahkan ‘tak mengizinkanku’ untuk sekedar mencari seberkas kemilau cahaya pada manik yang senada denganku itu. Netra miliknya tertutup rapat, hingga tak seorangpun tahu bagaimana keadaan di dalam ‘sana’

Mengapa Engkau menciptakan cinta

Jika akhirnya justru Engkau melarangku mencinta

Engkau biarkan raga bernyawa lain saling mencinta

Lantas… Mengapa aku tidak?

“Noona… Jawab aku”

Di ujung netraku, terasa kehangatan yang kuyakin bersumber dari liquid bening di dalam kelenjar netra milikku. Liquid ini pula yang kemudian mengaburkan penglihatanku, dan pada akhirnya meloloskan isakan. Memperdengarkan kesedihanku…

“Noona… Aku salah. Harusnya aku tak pernah mencintaimu… harusnya…”

Tak mampu kuucapkan kalimat selanjutnya. Aku dikuasai perasaanku,perasaan sedih mendalam. Kubiarkan suara isakanku memenuhi ruangan ini, seolah membiarkan dunia tahu betapa aku sedang bersedih saat ini.

Inilah harga untuk cintaku terhadapnya

Indah, namun semu

Kenyataan yang menanti terasa menyakitkan

Jauh lebih baik ketika aku mati, daripada menerima kenyataan itu

=Why…=

“Kyungsoo… Bagus tidak?”

Wanita di hadapanku ini, adalah noonaku. Kim Taeyeon, itu nama lengkapnya sebelum akhirnya berganti menjadi Do Taeyeon. Dia wanita yang sejak kecil kukagumi. Kagum… itu memang awalnya, sebelum akhirnya waktu secara perlahan menyadarkanku… Ini bukan sekedar ‘kekaguman’ melainkan ‘cinta’

“Bagus”

Sayang, waktu menyadarkanku secara ‘pelan’ sehingga aku pun menyadari hal ini dengan lambat. Dan pada akhirnya, ketika aku sadar, ‘wanitaku’ itu telah memberikan hatinya secara penuh untuk orang lain. Dan bukan untukku

“Yak! Jawabanmu datar sekali”Ujarnya. Dia-noonaku- membuatku dapat mendengar suara benda bernama high heels*bener nggak tulisannya?* yang bersentuhan dengan permukaan lantai yang tertutupi ubin berbahan keramik itu. Derap langkahnya makin terdengar hingga…

#Greb

Kurasakan tangannya melingkar di tubuhku. Sebuah dekapan yang hangat kurasakan saat tubuh mungil itu bersentuhan dengan punggungku. Samar, bisa kudengar deru nafas dan juga hembusan yang terasa menggelitik.

“Kyungsoo-ah”

Suara lembutnya memanggil namaku, membuat perasaan yang berusaha kutanama jauh di dasar hati kembali mencuat. Kumohon… Tuhan, jangan buat perasaan cinta yang telah Engkau berikan ini membuatku menghancurkan kebahagiannya

“W-waeyo?”

“Aku akan segera menikah”

“Tanpa kau katakan pun, aku sudah tahu itu”

“Tapi aku sedih. Mengingat aku akan meninggalkan umma, appa dan kau… Adik kecilku”

Percakapan singkat, namun sungguh membekas. Menorehkan luka yang terasa menyayati hatiku secara serentak. Mengoyak hatiku hingga rasanya hatiku ini telah berubah menjadi kepingan kepingan kecil.

Jangan panggil aku adik kecil. Aku benci mendengarnya

Hati, logika dan hasratku untuk memilikinya tak lagi sinkron. Semua syaraf motorikku, membuatku bergerak dan akhirnya kini wajahnya-ekspresinya- tergambar dengan begitu jelas di bola netraku. Wajahnya memperlihatkan keterkejutan karena yang kulakukan barusan. Dan semakin tergambar wajah keterkejutannya itu ketika aku mengeliminasi jarak diantara kami.

Hatiku berontak… Ingin memiliki semua apa yang ada pada dirinya. Dan aku tahu, itu adalah kebodohan. Namun aku tak peduli

Kuluapkan segala hasratku terhadapnya yang sejak dulu meluap meluap. Kubiarkan hatiku yang menggerakanku. Kudaratkan ciumanku tepat di bibir itu, bibir yang seharusnya diciumi Yi Xing, mempelai prianya. Tak peduli dia yang terus memberontak, memukul mukuli dadaku. Aku semakin memperdalam tautan itu, hingga…

“APA YANG SEDANG KALIAN LAKUKAN?!!!”

Suara lantang itu sontak mengembalikan kesadaranku yang baru saja ‘hilang’. Dan sejurus, kupandangi sosok yang tengah menatapku dan noona secara bergantian. Tatapannya memperlihatkan amarah yang meluap. Dia seperti setan yang ingin mengamuk, dengan wajahnya yang kini terlihat geram itu.

“Yixing-sshi….”

Noona mendorong tubuhku pelan dan melangkah menghampiri Yixing. Saat itu, aku bahkan tak tahu harus bagaimana. Ingin rasanya aku menahannya, mendekapnya erat dan membiarkan hatiku-perasaanku- menguasai. Namun, realitanya… Aku tidak melakukannya. Aku membiarkan semuanya, seolah aku telah mengikhlaskan segalanya dan membiarkan waktu yang ‘mengurusi’ semuanya

Dan yang tidak kutahu… Tuhan menjadikan tindakanku itu sebagai bentuk kesalahan juga kekuranganku sebagai seorang manusia. Tuhan menjadikan takdir berputar dan pada akhirnya menyajikan cerita selanjutnya yang menurutku… Terlalu menyakitkan.

Tuhan membiarkanku merasakan detik detik dalam hidup yang dimana aku terdiam membeku layaknya sebuah patung bernyawa. Liquid bening kemudian meluncur dengan bebas dari pelupuk netraku dan disusul… Gemetar yang terasa di sekujur tubuh. Pemandangan di hadapanku lah penyebab semuanya.

Itu pemandangan yang mengerikan dari film horor manapun yang peernah kutonton. Itu bahkan terasa lebih menakutkan dibandingkan saat aku menyaksikan film action atau para psycho yang menyayat tubuh orang lain dengan kejamnya.

Taeyeon….

Noonaku kini, terbujur kaku dengan bersimbah darah. Terhempas di trotoar jalan setelah tertabrak sebuah truk pengangkut yang saat itu tengah melintas. Tubuh mungilnya itu terhempas tepat di hadapanku….

“Kyung…soo….ah…..”

Gumaman yang lagi lagi terdengar lembut. Terdengar lirih saat pemilik suara merdu itu memanggil namaku. Sempat kulihat lengkungan tipis di bibir yang baru saja ‘kurasakan’ itu.

“TAEYEON!!!”

Kini area di sekitar tempat itu dikerumuni orang orang. Namun masih saja, aku terpaku. Bahkan hingga tubuh itu telah dibaringkan di dalam sebuah ambulans yang baru saja datang.

=Why=

Kini… Aku disini. Memandangi wajahnya yang diterpa berkas cahaya mentari sore hari. Rasa penyesalan menyeruak dari dalam hatiku. Andai aku bisa menghapus perasaan ini… Andai aku bisa lebih mengendalikan hasratku… Ah tidak. Mungkin lebih baiknya jika aku… Tidak bertemu dan jatuh cinta padanya, semua takkan menjadi seburuk ini

“Noona…”

Lima tahun sudah aku seperti ini. Menghabiskan hampir sepanjang waktu yang kupunya hanya untuk melihat wajahnya. Jika sudah begini, aku takkan lagi memperdulikan apapun. Bahkan aku mengabaikan kuliahku. Padahal universitas tempatku menimba ilmu bukanlah tempat yang mudah untuk orang sepertiku untuk memasukinya. Aku bukan si jenius seperti Yixing hyung. Aku bukan pula si rajin dan teladan seperti noona. Aku hanya anak malas yang tiba tiba saja jatuh cinta dan akhirnya terdorong untuk berusaha. Tekadku memaksakanku untuk mengambil jalan yang bahkan orang banyak-atau paling tidak diriku sendiri-saja meragukannya.

Taeyeon noona pendorongku…

Dia semangat hidupku

Dia alasanku berjuang

Kakak tiriku…Yang kucintai

Untuk sejenak, kudekati bingkai jendela dan membiarkan semilir angin di sore itu berhembus. Kurasakan terpaan angin di permukaan kulit wajahku. Ini salah satu kebiasaan sederhanaku untuk melepas sejenak beban di hidupku.

Kutatap langit penuh guratan jingga itu. Warna yang mendominasi pemandangan di langit sore, pertanda sang fajar akan tidur dan digantikan sang rembulan malam.

“Noona… Semoga kau akan sadar”

Doa itu…. Doa yang sama dan selalu kupanjatkan hanya untuknya… Kim Taeyeon

.

.

.

“Noona…. Selamat malam”

Kuangkat selimut yang menutupi hampir sebagian tubuhnya itu dan memperbaiki letaknya. Aku tak ingin sedikitpun membiarkan noonaku kedinginan. Aku ingin dia dipenuhi kehangatan.

“Kyungsoo…”

Kulihat umma dan appa tengah memandangiku dari depan pintu ruangan. Kim ajjuma-yang kini telah menjadi ibuku- tak kuasa menahan tangis. Dan appa berusaha menenangkannya

“tenanglah”

“Kalian kembali saja, aku yang akan menjaga noona malam ini”

“Eoh, arra”

Perlahan, dua sosok paruh abad itu menjauh dan akhirnya tinggallah aku dan noona di ruang yang didominasi warna putih dan bau khas obat obatan itu

“K…yung…soo”

Suara serak dan begitu pelan bisa terdengar olehku. Aku hapal benar suara itu. Suara orang yang kucintai…

=END=

20 thoughts on “[Drabble] Why…

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s