Twoshoot : Falling In Love With My Fangirl (Chapter 2)

FILWMF2

Falling In Love With My Fangirl

By wolveswifeu

Starring

Yuri | Lay

Genre

Romance | Sad

Length

Twoshoot

Disclaimer

Original Cast : Tiffany & Chanyeol

Wolveswifeu’s New Fiction, Falling In Love With My Fangrirl

Motor yang ditumpangi oleh Yuri dan Lay itu berhenti di sebuah pemakaman. Yuri dan Lay turun dari motor yang tadi mereka tumpangi itu. Yuri melihat Lay yang kini berjalan ke salah satu pemakaman disana. Yuri merasa bingung. Kenapa Lay mengajaknya ke tempat seperti ini?

“Ikuti aku.” Kata Lay tanpa menghentikan langkahnya. Yuri menurut, dia mengikuti Chnyeol dari belakang. Langit sudah berwarna oranye sekarang yang menandakan petang hari. Yuri berjalan sambil menengok kanan dan kiri untuk memastikan bahwa keadaan aman-aman saja tanpa hantu. Tiba-tiba Lay menghentikan langkahnya yang membuat Yuri juga menghentikan langkahnya.

“Kau tidak bertanya mengapa aku membawamu kesini?” Tanya Lay sambil memutar tubuhnya untuk menghadap Yuri.

“Memangnya ada apa disini?” Tanya Yuri balik.

“Bertemu seseorang.” Setelah mendengar jawaban Lay itu Yuri langsung bergidik ngeri. Ntah takut karena yang dimaksud itu hantu atau Yuri akan dijual seperti di drama-drama. Benar-benar jawaban itu tidak dapat dimengerti oleh Yuri.

“Ma..maksudmu?” Tanya Yuri dengan gugup. Lay langsung menunjuk sebuah pemakaman yang berada di sebelah kanannya. Yuri langsung menengok ke pemakaman itu tepatnya batu nisannya.

Im YoonA

Birth : 30 May 1990

Death : 06 May 2012

“Hari ini sudah setahun dia tidak ada disini. Kau tahu Im YoonA kan?” Tanya Lay yang berhasil membuat Yuri melihat ke kedua bola mata Lay. Kedua mata itu sudah memerah.

“Aku tahu.” Jawab Yuri. Memang dia mengenal Yuri, walaupun tidak pernah berbicara dengan yeoja itu. Lagi pula siapa sih yang tidak mengenal Yuri? Kekasih dari superstar di universitasnya, Lay. “Lalu untuk apa kau membawaku kesini?” Tanya Yuri dengan dingin. Memang benar, untuk apa Lay mengajak Yuri datang ke pemakaman Yuri?

“YoonA. Wanita itu sangat ingin mengenalmu.” Pernyataan Lay itu mampu membuat mata Yuri melebar. Yuri benar-benar bingung dengan kelakuan Lay kali ini. Sudah mengajak ke sebuah pemakaman dan memberi tahu Yuri hal seperti itu?

“Aku mau kau berkenalan dengannya. Well, dia tidak akan menjawabmu. Tapi, aku yakin dia pasti senang disana.” Minta Lay. Yuri mengangguk mengerti, lagi pula Yuri masih ada satu janji dengan Lay bukan? Yuri langsung menurunkan tubuhnya untuk menyamai tingginya dengan batu nisan Yuri itu. Yuri memegang batu nisan itu lalu tersenyum.

Annyeong Haseo Im YoonA. Aku Kwon Yuri. Aku mengenal..maksudku aku tahu dirimu. Kau cantik, baik, dan multi-talented. Pasti senang jika aku bisa berteman denganmu secara nyata. Yuri-ssi, maukah kau menjadi temanku?” Tanya Yuri lalu tersenyum. Setelah itu hanya terdengar suara angina petang saat itu.

Gomawoyo. Aku senang sudah berteman denganmu.” Kata Yuri sambil mengelus pelan ukiran yang terukir nama ‘Kwon Yuri’ diatas batu nisan itu. Kwon Yuri, bisakah aku menjadi penggantimu? Untuk Lay.

“Yuri, bisakah kau ke motorku lebih dulu? Ada hal penting yang ingin aku bicarakan dengan Yuri.” Kata Lay. Yuri menurut lalu meninggalkan Lay sendirian. Lay-ah, sebegitukah parahnya sehingga kau tidak bisa melupakan Yuri? Sampai kapan kau akan menganggapnya nyata?

Lay kini berlutut di atas tanah yang ada di sebelah pemakaman Yuri. Lay tersenyum senang.

“Yoona, aku sudah berhasil membawa Yuri kesini seperti yang ku janjikan dulu. Kau benar, sepertinya dia wanita yang baik dan cantik. Sepertinya aku mulai menyukainya. Ini bukan karena saranmu untuk menjadikannya penggantimu. Tapi, aku benar-benar tertarik padanya.” Kata Lay kepada batu nisan yang sampai kapanpun tidak akan merespon. Air mata yang sedari tadi ditahan oleh Lay jatuh juga. Ntah itu air mata kebahagiaan taua kesedihan. Bahagia karena sudah menemukan sandaran hati yang baru atau sedih karena harus melepaskan Yuri seutuhnya.

Kini Lay beranjak berdiri, membersihkan serpihan tanah yang agak menempel di celana jeansnya lalu berjalan menuju motor yang tadi dia kendarai untuk ke pemakaman itu. Aneh, ada yang aneh disana. Tidak ada Yuri. Lay yang melihat hanya motornya dari jauh itu langsung berlari nke motornya untuk memastikan benar-benar tidak ada Yuri atau dia salah lihat. Nihil. Tidak ada Yuri disana.

***

Yuri, orang yang sedari tadi di cari oleh Lay itu malah berada di sebuah taksi yang sedang melaju meninggalkan pemakaman itu. Dengan tissue yang kering itu dia mengusap air mata yang membasahi pipinya. Sedih, itu yang dirasakan oleh Yuri sekarang. Walaupun baru berkomunikasi dfengan Lay sekitar dua hari tapi Lay sudah membuatnya sakit.

Taksi itu berhenti disebuah apartement yang bisa dibilang biasa saja, tidak ada yang mewah. Yuri membayar tagihan taksi itu dan segera masuk ke dalam apartement itu, tepatnya kamar Yuri.

***

Sekarang sedang mengetik lagi, melanjutkan tugas dari dosennya di universitas. Tiba-tiba ponselnya bordering tanda panggilan masuk. Yuri menggeser kursor hijau yang ada di layar ponselnya itu dan menempelkan ponselnya di telinga Yuri.

“Yeobosseyo?”

“Kwon Yuri?”

“Ya, saya sendiri. Maaf sebelumnya, ada apa ya?”

                “Tadi..kau kemana?”

“Siapa ini?” Yuri menggigit bibir bawahnya. Ntah mengapa perasaanya mengatakan bahwa orang yang di sebrang sana adalah…

“Park Lay.” Jawaban orang itu masuk ke dalam pendengaran Yuri. Yuri tersentak, berusaha menahan air yang akan jatuh dari kedua matanya.

“Ada apa?” Hanya pertanyaan dengan nada dingin itu keluar dari rongga mulut Yuri.

“Besok, bisa temani aku?”

“Maaf, aku….”

“Kumohon. Sekali lagi saja.” Mohon Lay di sebrang sana. Yuri menghela nafasnya, pasti itu terdengar oleh Lay.

“Baiklah. Besok yang terakhir.”

***

Yuri sudah siap duduk disebuah bangku taman yang tak jauh dari universitasnya. Yuri sedang menunggu kedatangan seseorang, Lay. Yuri mengeluarkan ponselnya dengan niat menghubungi Lay. Karena Yuri sudah menunggu kurang lebih 30 menit. Dibukanya aplikasi panggilan. Tapi, ada kejanggalan disana. Call history yang berada disana sudah dua kali menghubungi Yuri, nomor Lay. Yuri berfikir keras. Seingatnya Lay hanya meneleponnya kemarin malam. Tiba-tiba dia teringat ketika ada nomor asing meneleponnya tanpa mengeluarkan suara. Jadi? Itu Lay?

Tiba-tiba mata Yuri ditutup oleh seseorang dari belakang. Yuri langsung menepis tangan itu kuat-kuatdan berhasil. Yuri langsung berdiri dan menghadap orang itu yang berada di belakang Yuri.

“HEI!” Teriak Yuri. Orang itu ternyata Lay. Karena Yuri berteriak seperti itu Lay langsung menutup mulut Yuri dengan telapak tangan besarnya itu.

“Jangan berteriak! Bisa-bisa aku dikira orang jahat.” Oceh Lay. Yuri langsung menepis tangannya lagi.

“Kita mau kemana? Kau sudah membuatku menunggu 30 menit!” Tanya Yuri.

“Kau sudah sampai di tempat tujuan kita.” Kata Lay.

“Hah?”

“Disini. Kita akan kesini.”

“Membuang waktu saja.” Yuri langsung duduk di bangku taman itu dan Lay duduk disebelahnya. Kesunyian menyeruak di sekitar mereka. Tidak ada kata-kata di antara mereka. Hanya terdengar suara angina sepoi-sepoi disana dan daun-daun yang bergesekkan karena dorongan dari angina itu.

“Kau menyukaiku kan?” Pertanyaan Lay membuka pembicaraan mereka. Yuri langsung tersenyum miris. Siapa yang tidak menyukai seorang Lay? Pria berparas tampan, baik hati kepada semua orang, pintar, terkenal. Pria yang sempurna di mata wanita. Tapi tidak bagi Yuri. Lay tidak akan pernah sempurna sebelum hatinya itu menjadi milik Yuri seutuhnya. Ada-ada saja, baru saja kenal tiga hari tapi sudah berharap yang lebih-lebih Yul?

“Siapa yang tidak menyukaimu? Seorang superstar di universitas.” Jawab Yuri.

“Benar juga. Aku terlalu bodoh yang sudah menanyakan pertanyaan aneh itu.” Balas Lay. Kau memang bodoh, bahkan buta. Tidak bisakah kau lihat ada aku disini? Yuri Hwang yang mencintaimu.

“Sepertinya kau tidak suka kita disini. Bagaimana jika kita pergi ke tempat lain?” Tawar Lay, Yuri hanya diam. Tidak merespon tawaran Lay. Tanpa jawaban, Lay langsung menarik Yuri ke motor yang dia bawa dan pergi ke suatu tempat.

***

Kini Yuri berada di sebuah puncak bukit. Ntah ini dimana. Yang pasti tempat ini sangat indah. Banyak tumbuhan segar, kupu-kupu, dan terlihat dengan jelas kota Seoul dari sini. Hanya berdua, dia dan Lay yang berada disini. Tidak ada manusia lain selain mereka.  Tiba-tiba Lay merebahkan tubuhnya di atas daun yang hijau itu. Lay merentangkan kedua tangannya.

“Yul, kemari.” Yuri menoleh yang sedari tadi melihat pemandangan kota Seoul ke arah Lay. Yuri menurutinya, dia berjalan mendekat ke Lay. Lay menepuk-nepuk bagian sebelah kirinya yang masih kosong. Pasti dia mengajak Yuri untuk merebahkan tubuhnya disebelah Lay. Sayangnya Yuri tidak merebahkan tubuhnya, dia hanya duduk disebelahnya.

“Ada apa kau mengajakku kemari? Kupikir kau akan mengajakku bertemu dengan Yuri.” Kata Yuri. Tidak ada jawaban, malah Yuri merasa ada yang emnghangatkan tubuhnya dari belakang. Dua tangan besar yang panjang itu melingkat di pinggang Yuri. Tiba-tiba ada sesuatu mengenai pundak Yuri. Sesuatu yang datar seperti dahi. Baru saja Yuri mau meronta dan menepis tangan itu tapi terdengar isakan tangis dibelakangnya. Kini dia yakin, Lay menangis.

“Aku butuh bantuanmu.” Kata Lay. Yuri menelan ludahnya dengan susah. Dia takut permohonan Lay itu aneh-aneh.

“Apa?”

“Bantu aku. Aku sedang kesusahan disini.” Kata Lay. Yuri merasa bingung.

“Maaf, aku bukan Yoona.” Kata Yuri pasrah.

“Kau Kwon Yuri. Aku tahu itu.” Balas Lay.

“Bukankah yang kau butuhkan itu Yoona?” Tanya Yuri.

“Apakah Yuri itu masih nyata?” Tanya Lay balik yang membuat Yuri menutup mulutnya rapat-rapat.

“Aku tahu kau penggemarku. Seorang penggemar pasti mempunyai perasaan yang khusus kepada idolanya kan? Aku butuh perasaan itu. Tolong buka hatimu untukku. Agar aku bisa menelusuri isi hatimu lebih lagi.” Pengakuan Lay itu membuat Yuri lemas. Seharusnya kau yang membuka hatimu untukku, bodoh. Aku mencintaimu sedari dulu.

“Kumohon..” Isakan tangis itu semakin menjadi-jadi. Pelukan itu semakin erat dari sebelumnya. Yuri benar-benar tidak bisa menjawab ataupun membalas semua perkataan Lay.

“Sepertinya tidak. Bukankah kemarin aku sudah bilang bahwa ini pertemuan terakhir kita?” Tanya Yuri. Yuri pikir dengan dia bertanya seperti itu Lay akan mengangkat kepalanya dan melepas pelukannya. Sayangnya tidak, tidak ada perubahan posisi sama sekali.

“Kumohon..” Isakan tangisan itu semakin parah. Lama-kelamaan mengencang layaknya bayi yang kekuarangan susu.

“Percuma. Kau hanya melihat Yuri.” Mata Yuri memanas. Sepertinya cairan bening itu akan turun sebentar lagi.

“Kalau aku hanya melihat Yuri. Siapa yang sedang kupeluk ini?” Tanya Lay.

“Aku tidak bisa. Lepaskan aku.” Kata Yuri tanpa menjawab pertanyaan Lay. Yuri berusaha keluar dari dekapan Lay tapi tidak bisa. Lay jauh lebih kuat.

“Kau tahu tujuanku kemarin membawamu ke pemakaman Yuri?” Tanya Lay.  Tak ada jawaban dari Yuri. Wanita itu hanya diam sedari tadi.

“Aku ingin mempertemukan yeoja yang sudah merebut hatiku kepada Yoona. Aku akan berusaha melupakan Yoona untukmu Yul.” Kata Lay. Yuri yang mendengar itu langsung menjatuhkan air matanya, tangisan dia sama jadinya dengan Lay.

“Bohong! Kau bohong! Aku membencimu!” Kata Yuri sambil memukul lengan Lay yang masih memeluk tubuh Yuri.

“Jangan tinggalkan aku, Yul. Aku tidak mau kehilangan lagi.” Mohon Lay. Yuri melemas sektika itu juga. Yuri tidak ada tenaga untuk berusaha lepas dari dekapan Lay.

“Kau mempermainkan aku kan? Lepaskan aku.” Mohon Yuri.

“Aku tidak mau.” Balas Lay. Yuri menghela nafasnya, dia menatap langit biru itu dengan penuh arti, matanya basah, pundaknya juga. Pikirannya kacau. Apakah dia harus menerima Lay? Baru tiga hari mereka saling mengenal. Yuri menunduk lagi sekarang. Ini sudah dia pikirkan dengan matang. Apapun resikonya yang membuahkanhasil buruk untuknya atau Lay, dia yakin akan menjawab ini.

“Hiks.. Aku mencintaimu, Lay.” Kata Yuri. Lay langsung memutar tubuh Yuri agar berhadapan dengannya. Dengan ibu jarinya itu dia menghapus air mata Yuri yang jatuh secara terus-menerus.

Gomawo.”

END

12 thoughts on “Twoshoot : Falling In Love With My Fangirl (Chapter 2)

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s