[Freelance] The Ring (Chapter 4)

the ring

Title                 : The Ring (Part 4)

Author             : Bina Ferina

Length             : Multichapter

Rating             : PG 15

Genre              : Romance, Sad

Main Cast        : – Kim Taeyeon SNSD  – Xi Luhan Exo-M   – Kim Joon Myun (Suho) Exo-K

Other Cast       : – Seo Joo Hyun SNSD  – Oh Sehun Exo-K

Disclaimer       : Harap enjoy setelah membaca FF gaje ini^^

Note    : FF ini TIDAK dibaca oleh SILENT READERS, yaa^^

(Backsound : Baek Ji Young “Hate”)

Langkah Taeyeon terhenti seketika. Ia menatap gedung rumah sakit tempatnya di rawat yang berada di hadapannya. Ia hendak balik badan untuk melanjutkan perjalanannya menuju entah kemana. Tapi langkahnya lagi-lagi terhenti karena hujan tiba-tiba saja tidak membasahi tubuhnya lagi. Ia menatap ke atas, sebuah payung besar berwarna putih melindunginya dari hujan.

Dan seorang laki-laki tinggi berambut merah dengan jas putihnya berdiri di samping Taeyeon.

“Apa yang sedang kau lakukan, eoh?!” seru laki-laki itu.

“Siapa?” tanya Taeyeon pada laki-laki itu. Aneh, suaranya tidak keluar sama sekali. Apa karena ia telah mengeluarkan air mata yang sangat banyak hari ini?

“Bahkan kau sudah tidak sanggup lagi bersuara,” jawab laki-laki itu.

Taeyeon menatap laki-laki berambut merah itu. Ia mengenalinya. Ia dokter yang merawatnya.

“Kau harus kembali. Berani sekali kau pergi tanpa ada seorang pun yang tahu,” kata Luhan lagi. Kali ini ia menarik pergelangan tangan Taeyeon. Tapi Taeyeon langsung menepisnya.

“Ani. Aku harus mencari seseorang. Aku…,” tolak Taeyeon. Ia tidak bisa melanjutkan kata-katanya karena ia mulai menangis lagi.

Luhan menatapnya. Menatap air mata yang ikut membasahi wajah Taeyeon selain air hujan.

“Sebesar apa masalahmu sampai kau harus melakukan hal bodoh seperti ini? Sebesar apa sampai kau harus merelakan dirimu yang lemah ini kedinginan? Sebesar apa sampai kau tidak memedulikan dirimu sendiri? Kau bisa mati di tengah jalan bahkan sebelum kau sempat menemukan orang yang ingin kau cari itu,”

“Kau tidak perlu tahu,” jawab Taeyeon pendek.

Luhan tercengang sekali. Baru kali ini ia menemukan pasien yang angkuh dan dingin seperti gadis yang ada di hadapannya ini. Ia memang biasa berhadapan dengan pasien-pasiennya yang memiliki beragam karakter. Seperti, pasien yang manja, cari perhatian, dan keras kepala. Tapi ia tidak pernah menemukan pasien yang sudah keras kepala, angkuh, dan dingin seperti gadis itu.

Taeyeon langsung balik badan dan ia melangkah perlahan menjauh dari Luhan.

“YA!” panggil Luhan.

Tapi Taeyeon tidak menoleh. Ia tetap melangkah dengan lemas. Belum sampai sepuluh langkah, mendadak lutut Taeyeon gemetar dan tubuhnya melemas. Ia jatuh terduduk dan pingsan.

Sebelum tubuhnya mendarat sempurna di tanah, Luhan langsung menopang tubuh Taeyeon dengan kedua lengannya. Walaupun ia juga harus basah kuyup karena payungnya terbang entah kemana.

“Dasar keras kepala,” gerutu Luhan pada Taeyeon.

Dengan sekuat tenaga, Luhan langsung mengangkat tubuh Taeyeon dan cepat-cepat membawanya ke dalam rumah sakit.

“OMO! Dr. Xi, apa yang terjadi?” seru beberapa orang suster yang melihat Luhan yang basah kuyup sedang membopong seorang perempuan yang lebih basah kuyup dari Luhan.

“Dua orang suster jaga dia sementara di kamar 209. Aku harus berganti pakaian,” kata Luhan.

Dua orang suster yang kebetulan berada di dekat situ langsung mengangguk dan mengikuti Luhan ke kamar 209.

Sesampainya di kamar 209, Luhan membaringkan tubuh Taeyeon dengan sangat hati-hati di atas tempat tidur. Ia menatap Taeyeon dan memegang lengan kirinya. Dingin, sangat dingin.

“Tolong ganti pakaiannya dengan pakaian rumah sakit. Keringkan dulu tubuhnya dan selimutkan dia. Kalau perlu hidupkan saja pemanas ruangan. Dan… dia mungkin akan demam. Sekalian saja di kompres,” kata Luhan kepada dua orang suster yang berada di belakangnya.

“Ya, dokter,” jawab kedua orang suster itu.

“Aku mau ke ruangan. Nanti aku kembali,” kata Luhan.

Kedua suster itu mengangguk dan membungkuk kepada Luhan. Setelah Luhan pergi dari kamar Taeyeon, dua orang suster itu langsung melaksanakan perintah Luhan.

Setelah Luhan mengganti pakaian basahnya dengan pakaian yang lebih casual, ia kembali lagi ke kamar Taeyeon. Kedua suster itu masih di kamar, menjaga Taeyeon yang kini sudah berganti pakaian dan seluruh tubuhnya di tutupi selimut tebal. Luhan juga melihat dahi Taeyeon di kompres.

“Ternyata benar dia demam, ya?” tanya Luhan kepada dua suster itu. Keduanya mengangguk.

Luhan bergerak mendekati tempat tidur Taeyeon dan ia memerhatikan wajah Taeyeon. Wajahnya pucat pasi dan dari ubun-ubun kepalanya keluar banyak keringat. Luhan juga memerhatikan bahwa Taeyeon memiliki beban dan masalah yang sangat berat.

“Apa kalian suster yang jaga malam? Kalau iya, bisa tolong jaga dia? Kemungkinan tengah malam nanti dia akan terbangun dan muntah-muntah. Dia pingsan karena penyakit maag dan asam lambungnya yang makin parah,” kata Luhan.

“Maafkan kami, dokter. Tapi kami bukan suster yang jaga malam. Tapi, kalau dokter memerlukannya, kami akan cari,” kata salah satu dokter itu.

“Oh, begitu? Baiklah. Tolong, ya,”

Kedua suster itu membungkukkan badan mereka dan keluar dari kamar. Setelah mereka keluar dari kamar, Luhan kembali menghadap Taeyeon dan ia mengambil sebuah sapu tangan kecil dari dalam saku celananya.

Kemudian, secara perlahan Luhan menyapukan sapu tangan itu ke dahi Taeyeon yang basah karena keringat. Luhan melakukannya dengan sangat hati-hati dan lembut, agar Taeyeon tidak terbangun.

Sambil mengelap keringat Taeyeon, Luhan ikut memerhatikan wajahnya. Putih, bersih, dan bening. Raut wajahnya tidak sesuai dengan umurnya yang sebenarnya. Luhan tahu kalau gadis yang berada di hadapannya ini 2 tahun di atasnya, tapi wajahnya tidak menunjukkan hal itu. Wajah Taeyeon masih seperti seorang gadis remaja. Imut dan manis.

Tapi ada keganjilan di wajah Taeyeon. Luhan tahu hal itu. Sebagai seorang dokter, ia dapat membacanya. Wajah Taeyeon memendam banyak beban yang membuatnya sangat depresi hingga ia jatuh sakit seperti ini.

Setelah selesai mengelap keringat Taeyeon, Luhan menyimpan kembali sapu tangannya dan hendak pergi, mencari suster yang dapat menjaga Taeyeon karena ia sendiri mau pulang. Tapi langkahnya langsung terhenti begitu ia mendengar sebuah gumaman kecil keluar dari mulut Taeyeon.

“K… Kim… Joon Myun,”

Taeyeon menarik napasnya dengan panjang dan Luhan tahu, ia menangis dalam diam di alam bawah sadarnya.

“Suho-ah,”

Luhan balik badan dan ia menatap Taeyeon lama sekali. Tatapannya saat Taeyeon mengucapkan nama itu adalah tatapan kaget dan bingung di saat yang bersamaan. Bola mata Luhan membulat sempurna mendengar gumaman Taeyeon. Seakan ada yang membekukannya, Luhan hanya diam di tempat sambil memandangi Taeyeon lekat-lekat. Mulut Luhan bahkan sampai terbuka sedikit saking tercengangnya.

“Maldo andwae,” gumam Luhan sambil sedikit tersenyum gugup. Ia menatap Taeyeon kembali, tapi tubuhnya tak bergerak sedikitpun. Ia seperti terhipnotis dengan apa yang baru saja didengarnya.

Sampai akhirnya, pintu kamar Taeyeon terbuka dan 4 orang suster masuk.

“Dokter, saya bawa 2 orang suster yang akan menemani Nona Taeyeon di sini,” kata suster yang pertama merawat Taeyeon.

Luhan menoleh menatap mereka dan ia menatap Taeyeon. Sambil menarik napas panjang, Luhan menjawab dengan mantap, “biar aku saja yang menjaganya. Kalian di luar saja. Jika ada apa-apa, aku akan memanggil kalian,”

Keempat suster itu mengangguk dan sebelum mereka keluar dari kamar, mereka membungkukkan badan pada Luhan.

Luhan menatap  Taeyeon kembali dan mendekatinya. Ia memandangi wajah Taeyeon lama sekali. Entah apa yang ada dipikirkannya sekarang ini.

Lalu, Luhan mengambil ponsel di saku celananya dan menghubungi seseorang.

“Ni hao, mama,” sapa Luhan pada seseorang yang sedang ia hubungi. “Bù hǎoyìsi, mama. Tapi, besok aku tidak bisa kembali ke China. Shi, ada kerjaan yang harus aku lakukan di rumah sakit. Bù hǎoyìsi, aku janji akan pulang secepatnya. Shi, wǒ yǒngyuǎn ài nǐ, mama,”

Luhan memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya dan duduk di bangku di sebelah kanan Taeyeon. Kini, Taeyeon sudah tidak bergumam apa-apa lagi. Ia tidur dengan napas yang teratur.

Entah berapa lama, atau mungkin sudah lebih dari 4 jam Luhan duduk di situ sambil memandangi Taeyeon. Ia tidak bergerak ataupun merasa jenuh duduk di samping Taeyeon. Ia merasa, entah kenapa, ingin menunggui Taeyeon sampai ia siuman.

Barulah saat Taeyeon sedikit menggerakkan kepalanya ke arah kanan, Luhan bangkit dan ia berjalan menuju lemari yang tidak jauh dari tempat tidur Taeyeon. Ia membuka lemari itu dan mengambil sebuah kain tebal segi empat berwarna putih dan kembali duduk di samping tempat tidur Taeyeon.

“Uhuk uhuk,”

Taeyeon terbatuk-batuk dalam tidurnya dan beberapa detik kemudian, ia membuka kedua matanya dan bangkit duduk.

“Wae?” tanya Luhan, yang merasa heran kenapa Taeyeon tiba-tiba langsung bangun dan terduduk di tempat tidurnya.

Pertanyaan Luhan terjawab ketika Taeyeon menangkupkan kedua telapak tangannya ke mulutnya dan terdengar suara “hoek”.

“Ya, ya. Gwaenchana?” tanya Luhan panik sambil memegang kedua bahu Taeyeon.

Taeyeon buru-buru turun dari tempat tidurnya dan lari ke kamar mandi. Luhan mendengar Taeyeon membuka klosetnya dan memuntahkan isi perutnya diiringi dengan suara air. Tanpa pikir panjang, Luhan keluar kamar untuk  mengambil segelas air panas dan beberapa obat. Ia juga menyuruh susternya memasak bubur nasi.

Sesampainya di kamar, Luhan melihat Taeyeon sedang duduk di atas tempat tidur. Ia menatap jauh ke luar jendela, menatap hujan yang turun dengan derasnya.

“Minumlah, selagi masih panas,” kata Luhan sambil menyodorkan gelas yang berisi air panas itu ke hadapan Taeyeon.

Taeyeon menatap Luhan sebentar dan mengambil gelasnya. Taeyeon meminum air itu perlahan-lahan. Tidak sampai setengah, tapi cukup menghangatkan perut Taeyeon. Selesai minum, Taeyeon tidak meletakkan gelas itu ke meja. Ia tetap memegangnya dengan erat.

“Kau masih kedinginan? Padahal suhu ruangannya sudah panas begini,” kata Luhan.

“Gwaenchana, tidak perlu dinaikkan lagi suhunya,” jawab Taeyeon.

Luhan kembali duduk di bangku samping kanan Taeyeon dan menatapnya dengan tatapan bertanya-tanya.

“Waktu kecil, apa kau tidak pernah bermain hujan? Atau, tidak pernah di perbolehkan main hujan?” tanya Luhan dengan nada tanya seperti seseorang yang sangat ingin tahu.

“Apa maksudmu? Maksudku, apa maksud dokter?” Taeyeon balik tanya dengan suaranya yang lemah.

“Kalau kau ingin merasakan bermain hujan, lihat kondisi. Tubuhmu sedang mengalami kondisi yang sangat tidak baik, tapi kau malah membuatnya semakin buruk lagi dengan bermain hujan-hujanan seperti tadi hingga pingsan. Kalau kau mau dan kalau kau sudah sehat, kau bisa ajak aku juga bermain hujan-hujanan,” ucap Luhan dengan santai.

Taeyeon menatap laki-laki yang berada di hadapannya ini. Ia benar-benar merasa bingung dan heran mendengar perkataan dokternya ini. Bukankah dokter ini bersikap dingin dan tampak kurang bersahabat sejak awal Taeyeon melihatnya? Ucapannya barusan seperti ucapan anak kecil. Apa sifatnya memang seperti ini?

Taeyeon hendak membalas ucapan Luhan tapi ia mendadak ingat sesuatu. Pingsan? Aaah. Taeyeon baru ingat. Ia pingsan di tengah jalan ketika selesai menelepon Suho di telepon umum dan hendak pergi ke rumahnya. Tapi di cegah oleh dokter yang ada di hadapannya ini. Taeyeon masih ingat jelas apa yang dikatakan dokter ini. Kata-katanya benar-benar tegas dan penuh kekhawatiran. Tapi kenapa sekarang tidak?

Mengingat itu, Taeyeon kembali down. Ia kembali mengingat Suho, seseorang yang telah berhasil membuatnya masuk dan menginap di rumah sakit, seseorang yang sukses membuat dirinya lebih dari hancur. Seseorang yang meninggalkannya tanpa jejak.

“Gamsahamnida,” ucap Taeyeon sambil sedikit menundukkan kepalanya ke arah Luhan. “Aku sudah merepotkanmu, dokter. Terima kasih telah menolongku,”

“Aaah, ituu…,” ucap Luhan. “Kau berat sekali. Tanganku sampai sekarang masih terasa pegal,”

Mata Taeyeon membulat. Ia semakin tidak mengerti sifat semacam apa yang dipunyai laki-laki yang ada di hadapannya ini. Ini bukanlah sifat umum dokter.

Pintu kamar Taeyeon terbuka ketika Taeyeon ingin membalas perkataan Luhan. Dua orang suster masuk. Yang satu membawa nampa berisi satu mangkuk dan segelas air putih panas yang masih mengepulkan asapnya. Yang satu lagi membawa sebuah kotak.

Luhan menghampiri kedua suster itu dan mengambil nampan berisi mangkuk dan segelas air panas . Ia juga mengambil kotak itu dari suster satu lagi.

“Aku akan memanggil kalian lagi jika aku butuh bantuan,” ucap Luhan.

Taeyeon semakin heran. Suara Luhan berbeda dengan yang di dengarnya barusan. Suaranya yang baru saja keluar terkesan berat, tegas, dan serius, layaknya seorang dokter. Tapi, ketika berbicara dengan Taeyeon, suaranya terkesan pelan dan lembut. Taeyeon berpikir mungkin dokter itu mencoba beriskap lunak padanya karena ia baru saja pingsan. Jelas-jelas tadi siang dokter itu bicara dingin seperti itu padanya.

“Apa tidak sebaiknya kami saja yang membantu dokter? Dokter akan menginap di sini malam ini, kan?” tanya suster yang tadi memegang nampan.

“Untuk ini, biar aku saja yang menangani. Agak susah pasien yang satu ini. Ne, aku akan menginap di sini malam ini. Aku akan menghubungi kalian jika butuh bantuan,” jawab Luhan.

Kedua suster itu mengangguk dan membungkukkan badan mereka pada Luhan sebelum mereka keluar dari kamar. Setelah itu, Luhan kembali menghampiri Taeyeon dan duduk di bangku samping tempat tidur Taeyeon. Ia meletakkan nampan itu di hadapan Taeyeon.

“Makanlah. Bubur ini bagus untuk memulihkan tenagamu,” kata Luhan.

Taeyeon tidak memandang Luhan maupun nampan itu. Ia memandang ke luar jendela rumah sakit.

“Aigoo, kau masih ingin main hujan? Kalau kau sembuh nanti, aku akan membiarkanmu main sesuka hatimu. Makanlah dulu ini,” kata Luhan.

Taeyeon menatap Luhan dengan memasang wajah datar. “Aku tidak suka bubur. Anda sudah mendengar apa yang kukatakan tadi siang,”

“Dan kau juga sudah mendengar perkataanku tadi siang. Kalau tidak suka, jangan cari penyakit,” ucap Luhan. Suaranya seperti suara yang ia keluarkan untuk dua suster tadi. Dingin, tegas.

Taeyeon langsung menatap mata Luhan. Ia ingin, sekali lagi, membantah ucapan Luhan. tapi, entah kenapa, kata-kata yang ingin dikeluarkannya langsung tertelan kembali setelah tatapan matanya bertemu dengan tatapan mata Luhan. Tatapan mata Luhan sangat lembut, penuh kasih sayang, hangat. Dan Taeyeon, ia seperti terperangkap di dalam tatapan matanya yang indah itu.

Tiba-tiba saja, entah datang dari mana, wajah Suho langsung berkelebat dalam benak Taeyeon, seakan-akan, Taeyeon melihatnya sedang berada di hadapannya. Taeyeon langsung menundukkan wajahnya.

“Ya?” tanya Luhan. ia merasa Taeyeon ingin mengatakan sesuatu.

“Ani. Aku ingin makan sesuatu yang lain saja,” jawab Taeyeon.

“Aisshh. Dengar, ya Nona Kim Taeyeon. Bubur yang ada di hadapanmu ini bukan bubur biasa. Ini adalah bubur kesukaanku. Bubur ini bubur khas Jeju, Jeonbokjuk namanya,”

Perkataan Luhan berhasil mendetakkan jantung Taeyeon. Ia menunduk menatap bubur yang ada di hadapannya ini. Bubur berwarna agak kecokelatan ini sudah tidak asing di mata Taeyeon.

“Bubur… Jeonbokjuk? Bubur kerang?” tanya Taeyeon dengan wajah yang sangat kaget.

“Kau tahu, kan? Bubur ini mempunyai protein tinggi, lemak dan kalori yang rendah. Salah satu unsur zat bernama taurine berkhasiat untuk memperbaiki penglihatan, mencegah diabet, menahan peningkatan kadar kolesterol dan meningkatkan fungsi jantung. Makanan dengan kandungan taurine ini cocok untuk pasien yang sedang proses pemulihan sembuh dari sakit, ibu hamil dan anak-anak yang lemah,” jelas Luhan panjang lebar.

Taeyeon menatap Luhan tak percaya. Lidahnya sangat kelu. Air mata mulai menggenang kembali di pelupuk matanya. Ia terdiam cukup lama memandangi bubur yang ada di hadapannya ini.

Ini, bubur Jeonbokjuk ini adalah bubur kesukaan Suho. Suho sangat menyukainya. Setiap mereka pergi ke Jeju karena urusan pekerjaan, Suho akan mengajak Taeyeon, Seohyun, dan beberapa teman kerja untuk makan bubur ini di restoran Jeju Loveland. Tentu saja Taeyeon tidak makan bubur ini, walaupun bubur ini memang sangat enak.

Ya, Taeyeon pernah makan bubur ini. Ia pertama kali makan bubur adalah bubur Jeonbokjuk. 3 tahun yang lalu, saat Suho dan Taeyeon menjadi teman dekat sejak Suho menyelamatkan Taeyeon dari bunuh diri yang hamoir dilakukannya sepeninggal orang tuanya, Suho memberikan bubur ini pada Taeyeon. Tentu saja Taeyeon menolaknya. Tapi Suho memaksa Taeyeon untuk makan bubur ini karena saat itu kesehatan Taeyeon menurun akibat terlalu depresi.

“Kenapa kau memaksaku makan bubur ini? Aku bisa makan yang lain. Aku tidak suka bubur” tolak Taeyeon, sambil mengernyitkan dahinya menatap bubur itu.

“Ini adalah bubur kesukaanku. Bubur ini bubur khas Jeju, Jeonbokjuk namanya,” jawab Suho. “Bubur ini mempunyai protein tinggi, lemak dan kalori yang rendah. Salah satu unsur zat bernama taurine berkhasiat untuk memperbaiki penglihatan, mencegah diabet, menahan peningkatan kadar kolesterol dan meningkatkan fungsi jantung. Makanan dengan kandungan taurine ini cocok untuk pasien yang sedang proses pemulihan sembuh dari sakit, ibu hamil dan anak-anak yang lemah,” jelas Suho sambil tersenyum manis.

“Tapi aku tidak suka,” kata Taeyeon.

“Cobalah dulu. Enak, lho. Kalau sunbae sudah sembuh, tidak usah makan lagi,”

“Ani, aku hanya makan sekali ini saja,”

“Kalau kau sudah sembuh, kau tidak perlu makan bubur lagi. Tapi jangan cari penyakit lagi,” kata Luhan, membuyarkan lamunan Taeyeon.

Taeyeon menatap Luhan. Orang ini, sudah dua kali ia mengucapkan hal yang sama dengan yang dulu pernah Suho katakan padanya.

Dengan perlahan, Taeyeon mengambil sendok bubur itu dan menyuapnya sekali. Dengan agak gemetar, Taeyeon menelannya. Luhan melihatnya dengan senyuman puas.

“Bagaimana? Enak, kan?” tanya Luhan.

Taeyeon diam saja. Rasanya tidak berubah semenjak 3 tahun lalu. Hanya saja, dulu yang duduk di sampingnya adalah Suho, menatapnya sambil tersenyum manis.

Air mata Taeyeon perlahan mengalir, tak dapat di tahannya lagi. Luhan agak terkejut melihat itu.

“Waeyo? Aku merasa bubur itu tidak terlalu pedas. Atau kau merasa kesakitan? Dimana?” tanya Luhan.

Taeyeon menggelengkan kepalanya. “Aku tidak apa-apa. Hanya saja, bubur ini mengingatkanku akan seorang laki-laki yang membuatku sampai seperti ini. Bubur ini, bubur kesukaannya. Bubur ini adalah bubur pertama kali yang masuk ke dalam perutku. Dia yang memberikannya,”

Luhan diam. Taeyeon tidak tahu kenapa ia dapat mengatakan hal itu pada orang asing. Ia jarang membuka diri pada orang lain. Pada Seohyun pun, jarang.

“Jadi, karena laki-laki kau sampai sekarat seperti ini? Karena laki-laki kau sampai rela membunuh dirimu sendiri? Aisshh, hidupmu memang drama sekali, ya,” sindir Luhan.

Taeyeon tidak mengacuhkan apa yang dikatakan Luhan.

“Lalu, laki-laki itu, apa yang dia lakukan padamu? Apa kalian putus?” tanya Luhan. sepertinya ia sangat tertarik.

“Tidak. Dia menghilang tiba-tiba,” jawab Taeyeon. Ia tersenyum sedih. Pilu sekali melihat senyuman yang di tunjukkan Taeyeon sekarang ini. “Ini hari pernikahan kami, seharusnya begitu. Tapi sepertinya ia memilih untuk tidak hadir. Seberapa lamanya aku menunggu, ia tidak akan hadir. Aku tidak tahu alasannya apa dan apa salahku padanya sehingga dia berbuat begini padaku. Dia tidak menghubungiku sekalipun. Itu sebabnya…”

“Itu sebabnya kau kabur dari rumah sakit karena kau ingin menemuinya, kan? Kutebak, kau ingin kerumahnya? Wah, wah. Dengan gaya seperti ini kau mau kerumahnya? Kau bukan seperti pengantin yang kehilangan mempelai pria tapi seperti anjing yang tersesat di tengah jalan,” ucap Luhan memotong perkataan Taeyeon.

Taeyeon tahu, kata-kata Luhan barusan terasa sangat pedas. Tapi Taeyeon tidak terlalu tersinggung. Mungkin ada benarnya juga.

“Mungkin laki-lakimu itu punya pasangan lain,” ucap Luhan santai.

Taeyeon membanting sendoknya di mangkuk bubur itu dan menjauhkan nampan bubur itu darinya. Ia terlihat sangat kesal.

“Dokter pergi saja sana. Aku sudah kenyang dan aku mau tidur,” kata Taeyeon.

“Ya, ya, ya. Kau marah karena aku bilang begitu, ya? Itu, kan hanya kemungkinan kecil saja,”

“Tapi komentar dokter benar-benar melukai perasaanku. Aku tidak minta pendapat dokter” balas Taeyeon.

“Dan aku juga tidak pernah memintamu untuk menceritakan masalahmu itu. Kalau ada pasien yang cerita, dokter harus mengeluarkan komentar yang menyemangatkan pasiennya,”

“Apakah komentar dokter barusan menyemangatiku? Sama sekali tidak,”

“Jadi, kau mau aku berkomentar seperti apa? Apakah aku harus bilang ‘nona, bersabar, ya? Sebentar lagi ia akan menemuimu dan menjelaskan yang sebenarnya. Sabar saja, ya?’ Begitu? Bagiku itu adalah komentar yang sama sekali bohong. Jika hal itu tidak terjadi, bukannya kau akan tambah down? Aku berkomentar seperti itu untuk kebaikanmu juga. Agar kau bisa cari pacar lain. Yang lebih baik,”

Taeyeon diam. Ia tidak bisa membantah perkataan dokter yang berada di hadapannya ini. Memang benar. Sangat benar apa yang disampaikan dokter ini padanya barusan. Dan itu membuat hati Taeyeon sakit sekali.

“Dia laki-laki pertama yang aku cintai dengan setulus hati. Mana mungkin aku bisa melupakannya dengan mudah seperti yang dokter katakan? Itu sama sekali tidak mudah,” jawab Taeyeon pelan.

“Yaahh, hidup orang-orang dramatis sepertimu memang akan bilang begitu,” ejek Luhan.

Taeyeon mendelik tajam ke arah Luhan. “Kenapa kau selalu memakai bahasa informal padaku? Apa setiap dokter seperti ini?”

“Ani. Aku juga tidak seperti ini pada pasien yang lain. Tapi kau adalah pasien keras kepala, sombong, dan sangar. Itu sebabnya aku merasa keberatan jika harus bicara secara formal padamu. Lagipula, aku lebih muda 2 tahun darimu,”

“Mwo?” tanya Taeyeon dengan ekspresi sangat kaget. Ia sempat curiga awalnya. Dokter ini mempunyai wajah seperti anak kecil, dan dari caranya menjawab semua perkataan Taeyeon, memang kelihatan sekali ia tidak seanggun dokter-dokter pada umumnya.

“Ya, aku lebih muda 2 tahun,” ulang Luhan.

“Pantas saja kau tidak seperti dokter pada umumnya. Caramu bicara, bertingkah, memang agak melenceng,” sahut Taeyeon.

“Ya! Aku ini biasanya tegas dan sekeren dokter pada umumnya. Hanya saja, kalau pasiennya sepertimu aku akan agak berbeda. Seperti yang kukatakan baru saja,” jawab Luhan.

“Kenapa kau memakai bahasa informal? Bukannya kau lebih muda?” tanya Taeyeon. Ia melepaskan kata-kata formalnya pada Luhan.

“Aku adalah dokter. Kenapa pasien bisa pakai bahasa informal? Ckckck,” balas Luhan.

Taeyeon berdecak kesal. Kemudian ia merasa heran pada dirinya, kenapa ia harus berdebat dengan dokter yang kurang waras seperti yang ada di hadapannya? Lalu Taeyeon berdeham kecil dan berkata, “sudahlah, aku mau tidur. Aku tidak mau makan bubur lagi,”

“Yaah, cukuplah untuk membuat perutmu berisi. Tapi aku merasa tidak suka jika ada makanan yang dibuang. Ah, ini untuk bebek si Jongdae saja. Kau, minum obat dulu sebelum tidur,” kata Luhan sambil mengangkat nampan mangkuk bubur itu.

Taeyeon tidak bilang apa-apa. Ia hanya melakukan apa yang dikatakan dokter itu kepadanya. Setelah semuanya ia lakukan, Taeyeon membaringkan tubuhnya dan masuk ke dalam selimut.

Luhan memerhatikan Taeyeon beberapa detik, lalu ia berkata, “jika kau merasa depresi lagi, kau bisa panggil aku. Aku menginap di rumah sakit hari ini dan mungkin siap mendengar kisah dramamu itu lagi. Walaupun begitu, aku tidak janji bisa memberikan komentar apa-apa,”

Ketika Luhan sudah keluar dari kamar, Taeyeon membuka selimut yang menutupi wajahnya dan menatap bangku tempat Luhan duduk barusan. Taeyeon mengingat kembali perbincangan singkatnya dengan Luhan. Ia dokter yang jarang sekali ditemui Taeyeon. Dokter yang jujur dan mampu membuat suasana hati Taeyeon agak tenang. Taeyeon merasa lega ketika ia menceritakan apa yang dialaminya kepada dokter itu, walaupun hanya sebagian. Taeyeon tidak tahu kenapa ia bisa menceritakannya pada orang yang baru saja ia temui beberapa jam yang lalu.

Taeyeon merasa, dokter itu ada kesamaan dengan Suho. Selain kata-katanya, dokter itu mampu membuat seseorang yang berbincang dengannya merasa nyaman, seperti Suho. Umur juga sama. Walaupun, Suho lebih dewasa dan, tentu saja, lebih berarti bagi Taeyeon.

Taeyeon, lagi-lagi, menitikkan air matanya mengingat wajah Suho, senyuman Suho, perkataan manis Suho, dan kejadian pahit yang dialaminya di gereja.

~~~

Luhan tidak langsung beranjak pergi setelah ia meninggalkan kamar Taeyeon. Ia tetap di tempat, di depan pintu kamar Taeyeon. Luhan menunggu di sana. Walaupun para suster menanyakan apa ada masalah, Luhan tetap tidak bergeming. Entah apa yang ditunggunya. Barulah, setelah ia sedikit mendengar suara isakan kecil dari dalam kamar Taeyeon, Luhan membuka sedikit pintu kamar Taeyeon tanpa menimbulkan suara. Ia bisa melihat, bahu Taeyeon berguncang sedikit di dalam selimutnya.

Tidak sampai satu menit Luhan menatap keadaan Taeyeon, ia menutup pintu kamarnya kembali. Susah sekali dijelaskan ekspresi apa yang ditunjukkan Luhan saat ia melihat Taeyeon.

“Dokter, apa ada yang bisa saya bantu? Ini sudah hampir pukul 2 dini hari. Anda pasti lelah. Istirahatlah,” ujar suster yang tadi membawa nampan berisi mangkuk bubur Taeyeon.

“Ah, ye. Aku akan tidur. Tolong, ya,” jawab Luhan. ia menyerahkan nampan itu ke pada si suster dan beranjak pergi menuju ruangannya.

~~~

“Eonni, bagaimana kabarmu hari ini? Sudah agak baikan?” tanya Seohyun pada Taeyeon. Ia merapikan poni Taeyeon yang agak berantakan di depan dahinya.

Taeyeon tersenyum manis, “sakit lambungku kembali kumat. Aku merasa tidak baik-baik saja,” jawab Taeyeon.

Saat itu sudah pukul 6 sore. Begitu pulang dari kantor, Seohyun langsung menjenguk Taeyeon.

“Itu sebabnya eonni makan bubur ini?” tanya Seohyun sambil menunjuk mangkuk bubur yang sudah kosong di sebuah nampan yang dipegang oleh seorang suster.

Taeyeon mengangguk.

“Aku tidak tahu eonni bisa menghabiskan bubur sekarang,” puji Seohyun.

“Kalau tidak kumakan, aku akan dimarahi oleh dokter itu,” kata Taeyeon, agak kesal. Lalu, ia menyadari satu hal. “Suster, kemana dokter itu? Tumben sekali dia tidak mengusikku lagi. Padahal tadi pagi dan siang, ia terus menceramahiku soal kesehatan. Benar-benar mengganggu,”

“Dokter Xi? Aah, dia sedang tidur di kantornya. Ia baru saja selesai memeriksa 3 orang pasien dan langsung izin tidur,” jawab si suster.

“Ah, jinjja. Tidur? Yang benar saja,” tanya Taeyeon dengan nada agak mengejek.

“Dia kelelahan. Mungkin nona tidak tahu, ya? Sejak nona pingsan dari pukul 9 malam sampai pukul 1 dini hari, dokter Xi yang menjaga nona sampai nona siuman. Ia tidak mengizinkan kami yang menjaga nona. Dan ia baru pukul 2 dini hari tidur daann… ah, ya. Pukul 6 pagi ia diminta melakukan operasi pada seorang pasien,” jelas si suster dengan semangat.

Taeyeon tercengang sekaligus sangat tidak percaya pada apa yang dikatakan suster yang ada di hadapannya ini. Tidak mungkin, kan? Dia adalah seorang dokter yang kekanakkan dan, lagipula dia adalah seorang dokter yang tidak perlu melakukan hal itu. Suster lah yang harusnya menjaganya. Kenapa ia melakukan hal itu? Taeyeon dan ia bahkan tidak saling mengenal.

“Apa suster yakin?” tanya Taeyeon lagi, kali ini suaranya pelan.

Suster itu menganggukkan kepalanya dengan sangat yakin. “Saya lah, suster yang seharusnya menjaga nona,”

Taeyeon menundukkan kepalanya, tampak sedikit merasa heran dan merasa bersalah. Setelah suster itu pergi, Seohyun langsung menghadap Taeyeon.

“Eonni pingsan? Wae?” tanya Seohyun, ia sangat khawatir.

Taeyeon pun menceritakan apa yang dia lakukan kemarin malam pada Seohyun. Semua ia ceritakan, tidak ada yang lewat. Bahkan tentang Luhan, pun Taeyeon ceritakan. Ia tak ingin menyembunyikan apa-apa lagi pada Seohyun.

Setelah Taeyeon selesai menceritakan semuanya kepada Seohyun, Seohyun langsung menunjukkan ekspresi kaget, tidak percaya, sekaligus sedih.

“Eonni benar-benar akan kerumahnya dengan basah kuyup begitu kalau saja dokter itu tidak mencegah eonni? Eonni, kurasa dokter itu benar. Kau ingin membunuh dirimu sendiri hanya karena ingin bertemu dengan Suho? Eonni, mendengar ceritamu, aku benar-benar sangat cemas. Apa aku harus berada di sini sampai eonni sembuh total? Sakit eonni ini sangat membuatku cemas,” ujar Seohyun.

“Aigoo, tidak perlu. Kau bilang perkataan dokter itu benar, kan? Kalau begitu, yang dikatakan dokter itu mengenai Suho yang sudah punya pasangan lain mungkin juga benar. Suho, dia tidak mengabariku apa-apa. Orang tuanya juga tidak. Suho, sudah menemukan orang yang pantas untuknya. Tapi dia terlalu takut mengatakannya padaku. Dia mungkin takut aku akan terluka. Tapi dia salah, caranya ini seribu kali lebih kejam daripada ia jujur padaku. Aku… terlalu percaya padanya. Terlalu menyayanginya. Sakit sekali rasanya mengetahui dia bohong,” isak Taeyeon.

Seohyun membelai rambut Taeyeon dengan lembut. Sudah berapa kali Taeyeon mengeluarkan air matanya setiap ia mengingat sosok yang selama ini membuatnya kuat dan bertahan menghadapi ujian hidup? Sosok yang pertama, dan hampir menjadi yang terakhir untuk Taeyeon.

“Eonni, aku juga benci ia meninggalkan eonni seperti ini. Keundae, apa eonni benar-benar yakin ia pergi karena ada pasangan lain?” tanya Seohyun pelan.

“Mimpi itu, Seo. Bukankah kau pernah bilang mimpi itu bisa jadi pertanda? Di dalam mimpiku dia membatalkan pernikahan kami. Lalu dia menikah dengan gadis lain. Mungkin dia menikah di gereja yang berbeda. Aku sudah beberapa kali menghubunginya tapi tidak diangkat. Aku sadar, mungkin ia sedang berbahagia, ya?”

“Kenapa dia tidak menemuimu?”

“Pikiran laki-laki susah di tebak, Seo. Kuharap, suatu saat nanti kau tidak menemukan laki-laki yang pandai berakting. Kuharap, sosok pertama yang kau cintai nanti jauh lebih baik daripada siapapun,” ucap Taeyeon sambil tersenyum manis.

Seohyun memeluk Taeyeon dengan hangat, “eonni, bersabarlah. Mungkin hanya ini yang bisa ku katakan. Tapi, percayalah. Dengan cara ini, kau bisa menemukan seseorang yang lebih baik lagi,”

“Untuk saat ini aku kurang percaya, Hyun-ah. Lelaki mudah berpaling,” kata Taeyeon sambil memaksakan diri untuk tertawa.

Seohyun tersenyum lemah.

“Apakah teman-teman kantornya tidak ada yang tahu dimana dia?” tanya Taeyeon.

“Tidak. Mereka juga bingung kenapa Suho pergi tanpa ada kabar. Mereka semua mencemaskanmu, eonni. Tapi, tetangga Suho, Siwon oppa, dia melihat mobil Suho dan orang tuanya sudah terparkir rapi kemarin malam. Siwon oppa mendatangi rumahnya pada jam makan siang, tapi pembantunya mengatakan Suho oppa dan keluaganya pergi. Pembantunya tidak tahu Suho pergi kemana,” jelas Seohyun

“Tentu saja berbulan madu,” kata Taeyeon, sambil tersenyum paksa. “Ah, bisakah kau menungguku sebentar, Hyun? Aku ingin menjumpai suster tadi, ingin tanya kapan aku bisa keluar. Aku ingin keluar dari rumah sakit,” kata Taeyeon.

Seohyun mengangguk sambil tersenyum manis, dan Taeyeon langsung keluar dari kamarnya.

Sebenarnya ia agak bohong. Ia keluar karena ingin menumpahkan semua air matanya yang tak bisa di bendung lagi saat ia harus bercerita ataupun mendengar nama Suho.

“Ne, berikan saja obat yang ini. Jangan yang itu. paman itu butuh obat herbal. 30 menit lagi aku akan kembali,”

Taeyeon menghentikan langkahnya ketika ia mendengar suara dokternya itu sedang berbicara serius dengan beberapa orang suster di depan meja resepsionis. Taeyeon memerhatikannya dari jarak yang lumayan dekat.

Aneh sekali, caranya berbicara dengan suster dan pasien lain benar-benar tegas, dan dingin. Seperti seorang dokter pada umumnya. Mungkin tak ada yang tahu kalau umurnya sekarang masih 22 tahun. Apa kemarin ia salah makan sampai bertingkah kekanakkan padaku? batin Taeyeon dalam hati.

Setelah Luhan selesai memberi arahan pada susternya, Taeyeon melihat Luhan sedang membaca sebuah note kecil di tangannya sambil menguap beberapa kali. Wajah dan matanya kelihatan sekali lelahnya. Taeyeon merasa tidak enak. Ia ingin menjumpai dokter itu. Ingin bertanya kapan ia bisa pulang sekaligus berterima kasih padanya soal kemarin malam.

Saat kakinya melangkah menuju Luhan, Taeyeon tidak sengaja menabrak seorang gadis yang sedang jalan berlawanan arah dengan dirinya.

“Joesonghamnida,” ucap Taeyeon dan gadis itu bersamaan.

Tepat saat itu, Luhan menatap ke arah Taeyeon, yang sedang membungkukkan badannya pada seorang gadis, yang melakukan hal yang sama.

Setelah Taeyeon meminta maaf dan gadis itu pergi, ia menghadap depan lagi dan menatap Luhan yang juga tengah menatapnya.

Taeyeon hendak melangkah menuju Luhan, namun telinganya mendengar seorang gadis berkata, “Joon Myun-ah~, tunggu aku,”

Taeyeon menghentikan langkahnya dan langsung balik badan, menatap seorang gadis yang baru saja di tabraknya sedang menggandeng seorang laki-laki yang tadi ia panggil namanya.

TBC

Kali ini chap-nya agak panjang, yaaa?? Hehehe biar puas walaupun ceritanya kurang menarik dan nggak nyambung^^

Okaayy, mohon beri saya vitamin dari reader tercinta semuaaa agar authornya semangaat#CHA! Kkkkk^^

21 thoughts on “[Freelance] The Ring (Chapter 4)

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s