Oneshot : Am I Really Found You? (Sequel of Find Me)

Am I Really Found You- YoonChen

Am I Really Found You? Sequel of Find Me

By wolveswifeu

Starring

Yoona | Chen | Sehun | Yuri

Genre

Romance | Sad | little fluff

Disclaimer

Published too with Luhan and Yoona as the cast.

Wolveswifeu’s New Fiction, Am I Really Found You?

            Ketukan pintu itu terdengar hingga ke pendengaran yeoja itu, Im Yoona. Dia menoleh ke jam dinding yang terletak di ruang tamu rumahnya, jarum jam menunjukkan pukul 5 sore. Senyuman pun muncul di wajah cantik seorang Im Yoona itu.

“Akhirnya..” Yoona bangkiit dari duduknya sehingga semakin jelas busana yang ia kenakan. Yoona tampak rapid an menawan. Dia pasti sudah siap untuk pergi ke suatu tempat. Dia meraih handbag yang terletak disebelahnya tadi lalu berjalan ke pintu keluar. Suara heels dan lantai menjadi perpaduan yang menimbulkan suara di ruangan itu.

Yoona membuka pintu rumahnya dan muncullah sosok yang dia tunggu sedari tadi, kekasihnya, Xi Jongdae. Jongdae langsung tersenyum lebar untuk menyambut kekasihnya itu.

“Lama sekali, aku sudah menunggumu sedari tadi.” Kata Yoona. Jongdae tidak langsung menjawab, Jongdae menggenggam tangan Yoona dan menarik Yoona dengan lembut ke mobil yang dia kendarai ke rumah Yoona.

Jongdae membuka pintu untuk Yoona lalu Jongdae masuk ke posisi kemudi di mobil itu.

“Maaf, tadi aku menjemput sepupuku di Busan. Dia datang dari Jepang dan aku tidak mengerti bagaimana bisa dia nyasar ke Busan, padahal tujuannya Seoul, apartementku.” Jelas Jongdae sambil memundurkan mobilnya dan membawa mobil itu pergi ke tempat tujuan mereka.

“Sepupumu? Siapa? Yeoja?” Tanya Yoona tanpa henti. Jongdae terkekeh pelan karena pertanyaan Yoona yang terdengar cemburu bagi Jongdae.

“Iya, sepupuku. Kwon Yuri akrab dipanggil Yuri. Yeoja.” Jawab Jongdae, dia tidak mau mengoceh lebih banyak karena dia berusaha focus pada jalannya sekarang.

“Yeoja? Dia tinggal dimana?” Tanya Yoona lagi.

“Rumah tetapnya di Jepang, dia akan menginap di apartementku kira-kira 1 minggu. Sifat dia sangat selektif, jadi dia mau menyewa apartement dengan fasilitas terbaik, pelayanan yang tidak mengecewakan, dan begitulah.” Jawab Jongdae lagi. Yoona terdiam, sepertinya Jongdae benar-benar tidak bisa diganggu saat ini, dia benar-benar focus ke acara menyetirnya itu.

***

            Yoona mengeratkan blazer yang dia kenakan di tengah bioskop 4D yang dingin ini. Tak lama kemudian muncullah sosok Jongdae sambil membawa 1 kotak penuh popcorn dan 2 gelas coklat panas. Jongdae duduk di sebelah Yoona dan memberikan salah satu gelas coklat panas itu.

“Popcorn kali ini hanya 1 kotak?” Tanya Yoona sambil menerima gelas coklat panas itu.

“Aku harus menghemat. Mulai sekarang penghuni apartementku bertambah satu.” Jelas Jongdae, Yoona menghela nafasnya kali ini.

“Aku bercanda Yoong. Aku hanya ingin kita lebih romantis.” Kata Jongdae sambil memberikan 1 kotyak popcorn itu ke Yoona. Yoona mengambil salah satu popcorn itu dari ratusan popcorn lalu mengunyahnya.

“Kita simpan untuk di dalam nanti.” Saran Yoona. Yoona menghela nafas lagi sambil memeluk lengannya erat. Jongdae yang sadar bahwa Yoona kedinginan langsung merangkul Yoona dengan lengan kirinya.

“Lebih hangat bukan?” Tanya Jongdae. Yoona mengangguk pelan.

“Jongdae, lebih baik Yuri tidur di rumahku saja.” Kata Yoona.

“Aigoo, jangan cemburu seperti itu chagiya. Kami sedarah, tenang saja, kami tidak akan melakukan apa-apa.”

“Tidak. Biarkan dia menginap di rumahku. Satu malam saja juga boleh. Lagi pula appa dan umma sedang berbulan madu untuk ke-5 kalinya dan aku sendirian.” Oceh Yoona. Jongdae berfikir sejenak.

“Akan aku bicarakan dengannya.” Kata Jongdae.

***

            “Annyeong haseo, joneun Im Yoona imnida. Aku kekasihnya Jongdae.” Kata Yoona sambil memperkenalkan diri dan membungkukkan badannya kepada yeoja yang berada di hadapannya sekarang, di ruang tamu rumahnya.

“Annyeong haseo. Kau sudah mengenalku dari Jongdae oppa bukan?” Tanya yeoja itu dengan senyum yang terkesan tidak menyenangkan.

“Ne, aku sudah tahu.” Berbeda dengan Yoona, dia berusaha bertingkah baik di hadapan salah satu anggota keluarga Jongdae yang satu ini.

Yuri, nama yeoja itu, yeoja yang bersikap kurang baik pada Yoona tadi. Dia celingak-celinguk memerhatikan setiap sudut rumah ini dan matanya menatap Yoona sekali lagi.

“Kamarku, dimana?” Tanya Yuri dengan nada yang datar.

“Mari kuantar.” Ajak Yoona, Yoona berniat mengambil tas yang agak besar disebelah Yuri yang ia yakini itu berisi keperluan Yuri selama di rumah Yoona untuk 3 hari ke depan. Tangan Yoona tiba-tiba ditahan oleh Jongdae yang berada di belakang Yuri sedari tadi.

“Biar aku saja.” Kata Jongdae lalu mengambil tas Yuri itu. Yuri menyilangkan kedua lengannya di depan dadanya.

“Dimana, Im Yoona? Aku mau beristirahat.” Kata Yuri. Yoona hanya mengangguk dan berjalan ke lantai 2 rumahnya. Membuka salah satu pintu yang berwarna coklat itu dan muncullah kamar yang terkesan sederhana, nyaman, dan penuh kehangatan dalamnya.

“Aku tidur disini?” Tanya Yuri. Yoona mengangkat kedua alisnya seakan-akan mengatakan ‘kenapa?’.

“Apa kamar ini kurang bagus? Aku rasa kamar ini lebih bagus disbanding kamarku di apartement.” Ucap Jongdae yang menurutnya ini memang sebuah kenyataan. Kamar ini jauh lebih terlihat rapi disbanding apartementnya yang berantakan itu.

“Kamarku? Bagaimana?” Yoona langsung membuka suara dan berjalan keluar dan menghampiri kamarnya, Yoona membuka kamarnya dan memang terlihat lebih bagus dan lebih lebar. Yuri berjalan dan duduk tepat diatas kasur Yoona.

“Disini jauh lebih nyaman. Aku mau disini.” Kata Yuri sambil membuka heels dari kaki dia tersebut.

“Yul, tapi ini..”

“Sudahlah Jongdae. Aku bisa tidur di kamar tadi.” Kata Yoona lalu tersenyum, tersenyum seperti biasanya.

“Yoong, kamu tunggu diluar..eh..dibawah maksudku.” Kata Jongdae, Jongdae berusaha menyuruh Yoona menunggu Jongdae dibawah.

“Baiklah. Aku tunggu.” Ucap Yoona sambil menepuk pundak kanan Jongdae dan menuruti kemauannya, menunggunya dibawah. Tak lama kemudian Jongdae membuka pintu kamar tersebut untuk memastikan Yoona benar-benar menunggu dibawab. Yoona gadis yang baik, jadi Yoona benar-benar menunggu dibawah.

“Yul, seharusnya kamu tidak boleh bersikap seperti itu.” Nasihat Jongdae. Yuri bangkit dari duduknya lalu menghampiri Jongdae.

“Kenapa? Karena dia kekasihmu kah oppa?”

“Bukan, tapi kelakuanmu benar-benar tidak sopan tadi. Kamu tidak lihat dia bersikap baik padamu?” Yuri memutar bola matanya setelah mendengar perkataan Jongdae tersebut.

“Jadi apa? Aku harus bersikap baik pada kekasihmu huh? Bukankah kau tahu bahwa aku menyukaimu dari dulu, oppa?!” Teriak Yuri. Jongdae langsung mendekap mulut Yuri.

“Aku tahu. Tapi..”

“Tidak ada tapi-tapian. Aku membencinya.” Kata Yuri setelah dia berhasil melepas dekapan tangan Jongdae pada mulutnya.

***

            “Yoong, tolong ya.” Kata Jongdae. Kini mereka sudah berada di depan mobil Jongdae. Yoona mengantar Jongdae ke mobilnya

“Ya, aku akan berusaha mendekatkan diriku kepada calon saudaraku nanti.” Yoona terkekeh pelan. Jongdae mengelus puncak kepala Yoona.

“Aku menyayangimu, sangat menyayangimu.”

“Aku juga, chagiya.”

“Kalau waktu itu kita tidak diajak secara paksa oleh MC pasangan yang serasi dan berkulit eksotis itu pasti kita tidak akan seperti sekarang.”

“Kau benar, hehe.” Jongdae langsung menarik Yoona ke dekapannya.

“Tolong Yoong, jangan memaksa Yuri untuk melakukan ini-itu. Jangan menasihatinya. Jaga jarak sedikit dengannya. Kumohon.” Kata Jongdae.

“Kenapa?” Tanya Yoona yang masih berada di dekapan Jongdae.

“Akan kujelaskan, nanti.” Mereka masih berpelukan, menghangatkan diri mereka satu sama lain. Sedangkan Yuri, dia tengah menatap sepasang kekasih itu dengan tatapn bencinya itu.

“Aku akan menggangti posisimu itu, Im Yoona.”

***

            Sekarang Jongdae sudah berada di apartementnya. Dia menatap setiap inchi ruangan tersebut. Lebih baik dia merasakan ketidaknyamanan dengan beradanya Yuri disini dibanding Yuri bersikap kasar pada Yoona. Sebenarnya Jongdae sudah mengetahui jika Yuri menyukai Jongdae sedari dulu. Seharusmya itu dilarang, mereka sedarah. Jongdae sangat menyayangi Yuri sebagai adiknya, berbeda dengan Yoona, Jongdae menyayanginya sebagai seorang wanita di matanya.

Jongdae berjalan ke dapur, mengambil gelas bening dan tertera nama Yoona disana. Gelas sepasang kekasih yang dia dapati ketika hari perayaan berlangsungnya hubungan mereka selama 6 bulan pada 3 minggu yang lalu. Umur hubungan mereka memang masih seumur jagung, tapi besar cinta yang mereka miliki itu melebihi dari kebun jagung yang ada di muka bumi ini.

Jongdae mengisi gelas itu dengan air dingin yang ia dapati di dispenser itu. Jongdae kembali berfikir untuk kedepannya. Bagaimana jika Yuri dan Yoona bertengkar suatu hari? Dia harus membela siapa? Yuri atau Yoona? Jika dia membela Yuri, hubungan dia dan Yoona pasti sudah pasti berada di ujung tanduk. Jika dia memblas Yoona, pasti Yuri akan menjelk-jelekkan Yoona ke orang tua Jongdae yang berada di China dan Yuri memiliki penyakit asma yang parah. Sepertinya Jongdae harus mati suri untuk masalah kali ini.

***

            Spaghetti masakan Yoona sudah menghiasi meja makan di dapur rumahnya itu. Yoona melepas celemek yang dia pakai tadi dan beranjak ke kamarnya yang sekarang sedang digunakan oleh Yuri. Yoona menelan ludahnya sebelum dia mengetuk daun pintu itu.

“Masuklah, aku tahu kau diluar Yoona.” Teriak Yuri dari dalam. Yoona bergidik ngeri, bagaimana bisa dia tahu kalau Yoona berada di depan kamarnya sekarang. Yoona membuka pintu itu perlahan dan sudah mendapati Yuri yang sedang asik dengan iPadnya.

“Bagaimana kamu tahu jika aku sedang berada diluar?” Tanya Yoona dengan hati-hati.

“Bayanganmu terlihat dibawah sela pintu itu.”

“Oh. Aku sudah membuat makanan malam untuk kita nanti. Aku tunggu dibawah yah.”

“Iya.” Hanya satu kata yang keluar dari mulut Yuri. Yoona yang merasa sudah tidak ada keperluan lagi dengan Yuri langsung keluar dan bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.

***

            Handuk yang Yoona pegang itu dia gunakan untuk mengeringkan rambutnya yang masih basah. Setelah menurutnya rambut itu kering, Yoona mengeringkannya dan menyisirnya hingga rapi. Setelah itu dia turun untuk ke ruang makan. Dia memasuki dapur dan kosong. Tidak ada Yuri disana. Yoona menarik salah satu bangku dan duduk diatasnya.

“Haruskah aku memanggilnya lagi?” Tanya Yoona pada dirinya sendiri. Tiba-tiba dia mengingat perkataan Jongdae, yaitu berjaga jarak dengan Yuri. Dengan cepat dia menggelengkan kepalanya.

“Tidak, aku harus mendengar apa kata kekasihku.” Yoona duduk sambil menahan dagunya dengan tangan kanannya. Dia mengamati spaghetti yang berada tepat di depan matanya. Rasanya mau sekali dia menyantap spaghetti itu. Tapi dia teringat dengan Yuri, dia harus menunggu Yuri, makan bersamanya agar mendapatkan nilai plus di mata Yuri.

Sayangnya acara menunggu Yoona yang tadi dia berfikir akan berhasil malah tidak membuahkan hasil. Sudah pukul jam sepuluh malan dan Yuri tidak kunjung turun. Yoona yang merasa makanannya itu sudah dingin dan pasti tidak akan enak untuk dimakan dengan keadaan dingin ataupun dihangati dengan mesin penghangat tetap saja sudah tidak segar langsung membungkus dan membuangnya ke tempat sampah.

“Baiklah, aku kehilangan berat badanku,” Yoona berjalan ke kamarnya sambil memerika ponselnya. Dia membaca pesan dari Jongdae yang menurutnya bisa menghiburnya, Yoona tertawa kecil karena hal itu lalu segera tidur.

***

            Yoona sudah tampil rapi dengan pakaian kerjanya itu. Sekarang dia kerja sebagai manager di sebuah hotel. Jongdae juga bekerja, ah tidak, lebih tepatnya dia mengelola sebuah café yang dia buat dengan tabungannya sendiri. Yoona bangkit berdiri ketika melihat Yuri yang turun dari lantai 2.

“Yuri-ssi, aku berangkat kerja dulu ya, annyeong.” Pamit Yoona sambil membungkukkan badannya. Yuri diam tidak menjawab lalu menatap punggung Yoona yang sudah berjalan keluar dari rumah.

“Maksudnya dia menyuruhku menginap disini untuk mejaga rumahnya selagi dia bekerja?” Oceh Yuri.

***

            “Yoona-ah, makan siang dimana hari ini?” Tanya Sehun, anak kuliahan yang magang di hotel ini. Magang? Sebenarnya juga tidak bisa disebut seperti itu, appa Sehun adalah pemilik hotel ini. Mungkin lebih tepat dia dilatih untuk mengurus tempat ini nantinya.

“Aku merindukan Jongdae.” Hanya satu kalimat itu yang keluar dari mulut Yoona. Yoona, Jongdae, dan Sehun memang sangat dekat. Mereka sudah seperti keluarga jika pergi berjalan bersama. Jongdae dan Sehun juga sangat dekat.

“Kalau begitu kita makan siang di cafenya, bagaimana?” Tawar Sehun yang berhasil membuat senyuman mengembag di wajah Yoona.

“Baiklah, aku mau.”

***

            “Hyung!!” Teriak Sehun ketika mendapati Jongdae yang sedang duduk sendiri sambil menatapi laptopnya itu.

“Uh, Sehun! Kau mengagetkanku.” Protes Jongdae. Sehun duduk di hadapan Jongdae lalu Yoona duduk di sebelah Jongdae.

“Annyeong.” Sapa Yoona. Jongdae tersenyum dan mengacak rambut Yoona yang menurut Yoona itu berupa sapaan untuknya.

“Bagaimana kabarnya? Tidak ada masalah kan?” Tanya Jongdae.

“Tidak. Semua baik-baik saja.” Jawab Yoona.

“Siapa yang kalian maksud?” Tanya Sehun penasaran.

“Sepupuku.” Jawab Jongdae. Tiba-tiba ponsel Jongdae bordering tanda panggilan masuk. Jongdae menghela nafas ketika melihat nama Yuri disana. Jongdae mengangkat telepon tersebut.

“Yeobosseyo?”

“Oppa! Aku tidak tahan tinggal disini!!”

“Jangan berteriak, Yul. Ada apa?”

“Aku ini bukan orang bodoh! Aku tahu kekasihmu, Im Yoona itu sengaja menyuruhku menginap di rumahnya untuk menjaga rumahnya ketika dia bekerja!”

“Tidak, kamu salah paham, Yul.”

“Bayangkan saja! Seorang pembantu saja dibayar untuk menjaga majikannya pulang! Sedangkan aku?! Disiapkan makan malam saja tidak!” Jongdae kaget, darahnya serasa berhenti mengalir saat itu juga, Jongdae merasakan kupingnya memanas. Jongdae langsung menutup sambungan tersebut.

“Yoong, kamu tidak menyiapkan makan malam kemarin?” Tanya Jongdae.

“Aku menyiapkannya.”

“Yuri bilang tadi kau tidak menyiapkannya.” Mata Yoona melebar ketika mendengar kata-kata Jongdae tadi. Jelas-jelas Yoona menawarkannya makan malam, bahkan Yoona menunggu nyari 3 jam!

“Aku membuatkannya bahkan aku mengajaknya makan bersama.” Kata Yoona yang berusaha menjelaskan dan bangkit berdiri dengan niat meninggalkan café itu. Sehun yang tidak mengerti tidak harus berbuat apa.

“Annyeong.” Kata Yoona langsung menyambar handbagnya dan pergi keluar dari café milik Jongdae itu.

“Hyung, tidak mungkin seorang Im Yoona melakukan hal sejahat itu. Apa tadi? Tidak menyiapkan makan malam?” Tanya Sehun.

“Iya, Sehun.”

“Jelas-jelas tadi dia mengoceh sewaktu perjalanan kesini. Dia mengoceh kalau dia belum makan dari semalam karena spaghetti yang dia buat sudah dingin karena orang yang ditunggu tidak kian dating. Aku pikir orang itu kamu, hyung. Ternyata sepupumu.”

“Jinjjayo?”

“Dan siapa tadi namanya? Yuri?” Jongdae mengangguk.

“Dari namanya saja sudah jelas, dia gadis yang manja.” Kata Sehun terang-terangan. Jongdae tidak bisa menjawab, pernyataan Sehun tadi memang benar. Yuri anak yang manja.

***

            “Aku yakin beribu persen pasti oppa marah dengan wanita keji itu!” Kata Yuri yang berada di ruang dapur rumah Yoona itu sambil membuat ramen.

“Untung saja aku ketiduran semalam. Pasti dia menungguku hingga membuang semua spaghetti utuh itu.” Lanjutnya ketika melihat satu kantong penuh dengan spaghetti.

“Selamat makan!” Ucap Yuri sambil menuang ramen pada mangkok yang sudah dia sediakan.

***

            Yoona berjalan di trotoar sambil memegang perutnya yang sudah berbunyi dari tadi. Dia berjalan dengan niat kebali ke hotel karena jaraknya cukup dekat. Langkahnya berhenti di depan kedai, kedai bubble tea yang sering dia kunjungi dengan Jongdae dan Sehun. Dia masuk ke dalam. Lebih baik mengganjal dengan bubble tea daripada kosong.

“Chocolate bubble tea satu. Toppingnya coffe jelly dan bubble nya ya.” Pesan Yoona pada salah satu pelayan disana. Tiba-tiba ponselnya bergetar, Yoona mengeluarkannya dan membaca pesan yang dia tebak dari Jongdae, dan benar, dari Jongdae.

From : Mydeer Jongdae

            Mianhaeyo Yoong, benar kata Sehun, aku salah paham.

Yoona menghela nafas. Kata sehun, pikir Yoona.

“Dia menyadarinya dari perkataan Sehun.” Gumam Yoona.

***

            Yoona baru sampai di rumahnya stelah pulang kerja barusan. Dia menatap sebuah baskom besar di sebelah kamar mandi yang penuh dengan cucian yang harus dicuci.

“Malas sekali rasanya untuk menyalakan mesin.” Gumam Yoona. Yoona mandi dan membereskan cucian-cucian tersebut dengan niat meng-laundry cucian itu. Untung saja toko laundry hanya berbeda 3 rumah dari rumah Yoona.

Yoona keluar bersama 2 kantung besar yang berisi cucian itu dan ke toko Laundry itu. Yoona membuka pintu toko itu dan terdengar suara lonceng khas pelanggan masuk.

“Sore, bisa kami bantu?” Tanya seorang yeoja yang Yoona tebak adalah anak dari pemilik dari toko laundry ini.

“Ne, aku mau mencuci pakaian ini semua.” Kata Yoona sambil mengangkat 2 kantung besar itu ke atas meja. Yeoja itu menimbang cucian yang akan dicuci nantinya.

“Total 6 kilo. Berarti 25000 won.” Kata Yeoja itu. Yoona merogoh kantung celananya dan mengeluarkan beberapa lembar uang.

“Nah, tolong cuci hingga bersih ya. Gamshahamnida.” Kata Yoona.

“Chonmaneyo. Kamu bisa mengambil cucian ini besok sore.”

***

            “Jangan marah denganku lagi, ne?” Rayu Jongdae yang kini berada di depan pintu rumah Yoona sambil melakukan aegyonya itu. Yoona langsung tersenyum dan mengangguk dengan cepat.

“Aku sayang sekali denganmu.” Jongdae langsung memeluk Yoona dengan manja. Yoona hanya menunduk wajahnya dengan malu.

“Aku menyesalinya Yoong.” Lanjut Jongdae sambil mengeratkan pelukannya ke tubuh Yoona.

“Ya! Aku sesak!” Protes Yoona. Tiba-tiba Yuri berada di depan mereka. Menjauhkan tangan Jongdae yang ada di tubuh Yoona.

“Dengar tidak oppa?! Dia sesak! Dia tidak suka dipeluk olehmu!” Teriak Yuri. Yoona hanya menatapnya sendur, Yoona benar-benar tidak berkata seperti itu.

“Yul..” Panggil Jongdae.

“Kalau kau tidak mau dipeluk olehnya biar aku saja!” Yuri langsung menghampiri Jongdae dan memeluknya. Yoona yang melihat itu langsung menjatuhkan air matanya, dia berlari secepat mungkin dengan pakaian kerjanya itu. Dia berlari dan bersembunyi di toko laundry kemarin sebelum Yuri melepaskan pelukannya kepada Jongdae.

“Yul, aku mohon lepaskan aku.” Yuri menurut dan melepaskan Jongdae. Jongdae berbalik badan dan menengok kanan-kiri untuk mencari Yoona.

“Aku sudah tahu bahwa kau akan mencarinya.” Oceh Yuri yang tidak ditanggapi Jongdae. Jongdae malah berlari mencari Yoona dan melewatkan toko laundry itu, tempat yang seharusnya Yoona berada.

***

            “Biar kutebak unnie, pasti itu orang yang mengejarmu. Apa dia orang jahat?” Tanya yeoja yang kemarin itu ketika melihat Jongdae yang sedang berlari sambil celingak-celinguk sana-sini untuk mencari yeojanya.

“Tidak, dia namja yang baik. Hanya saja sekarang dia sedang tidak baik.” Yeoja itu mengerutkan alisnya karena bingung.

“Ah ya, namamu siapa?” Tanya Yoona.

“Yerin, Baek Yerin.”

“Nama yang indah. Aku Yoona, Im Yoona.”

***

            “Yoona menghilang.” Kata Jongdae kepada Sehun yang sekarang berada di hadapannya, mereka sekarang sedang berada di kedai bubble tea langganan mereka.

“Jinjjayo? Tadi dia ijin ke kantor.” Balas Sehun, keheningan pun menghampiri mereka.

“Hyung, kalian bertengkar lagi?” Tanya Sehun.

“Ya, karena sepupuku lagi.”

“Kenapa karena dia lagi?”

“Dia memelukku di depan Yoona. Kalau dia bukan sepupuku sudah ku dorong dia ke tanah.”

“Kejam sekali. Kenapa tidak kau dorong?”

“Kan sudah ku bilang tadi. ‘kalau dia bukan sepupuku’ sayangnya dia sepupuku, cih.”

“Aku yakin itu bukan alasanmu, hyung. Tidak masuk akal, bahkan aku akan mendorong noona atau yeodonsaengku sendiri jika dia melakukan itu padaku.”

“Sejak kapan kau pintar begini, huh?”

“Jawab saja.”

“Tsk! Iya-iya! Dia punya penyakit asma yang sangat-sangat parah. Aku tidak berani membentaknya, aku takut dia kenapa-napa.”

“Aku bisa kejang-kejang jika jadi dirimu, hyung!” Canda Sehun yang berhasil membuat ledakkan tawa Jongdae.

***

            “Gomawo Yerin-ah, tumpanganmu sampai sore ini benar-benar membantu.” Kata Yoona sambil memegang cuciannya yang sudah bersih.

“Gwaenchana, sering-sering saja seperti ini.”

“Ne, annyeong.” Pamit Yoona lalu kembali ke rumahnya. Yoona masuk ke ruang tamu dan melihat Yuri disana.

“Sudah selesai acara ngambekmu, huh?” Tanya Yuri. Yoona bersih keras mengacuhkan Yuri. Yoona memberikan Yuri pakaian yang sudah dicuci.

“Ini pakaianmu kan? Sudah bersih.” Kata Yoona. Yuri mengambil salah satunya dan bingo! Yuri punya alasan dan mendapatkan ide untuk membuat Yoona bertengkar dengan Jongdae.

“Im Yoona! Lihat! Bajuku luntur!” Protes Yuri. Yoona bingung melihat Yuri dan baju yang ia pegang sekarang. Bukankah itu model ombre? Perpaduan warna dua atau lebih menjadi satu.

“Maaf, bukankah itu modelnya?” Tanya Yoona hati-hati.

“Bukan! Ini luntur!” Yuri melempar pakaiannya itu lalu menatap Yoona tajam.

“Ini salahmu! Lihat! Luntur! Lagi pula siapa yang menyuruhmu mencuci, eoh?! Kau yang ikut campur urusan pribadi orang!” Yoona memeras blazer yang dia kenakan kuat-kuat, selama ini dia benar-benar berusaha sabar, untuk kali ini tidak.

“Kwon Yuri, aku bukan orang bodoh, aku mengerti fashion. Pakaian itu bermodel ombre.” Jelas Yoona sambil menahan amarahnya.

“Tidak! Kau sok tahu!!” Teriakan Yuri semakin mengencang.

“Aigoo, aku sudah tidak tahan! Keluar kau!! KELUAR!!!” Bentak Yoona dan BRAK! Pintu rumah Yoona terbuka, muncullah Jongdae dan Sehun, tadinya mereka berdua diluar berjalan bersama untuk mengunjungi Yoona. Tapi ketika mendengar teriak-teriakkan dari dalam mereka langsung berlari dan membuka pintu secara paksa.

Yuri yang shock karena bentakkan Yoona dan suara tabrakan pintu dengan tembok tadi membuat asma Yuri kambuh.

“Hhhh, hhhh, hhh…” Nafas Yuri tidak beraturan, hanya terdengar suara itu yang keluar dari mulut Yuri. Yoona panik, dia menghampiri Yuri.

“Yuri…” panggil Yoona. Jongdae langsung berlari ke Yuri dan sedikit mendorong Yoona hingga jatuh ke lantai lalu menggendong Yuri ke mobil lalu segera di bawa ke Rumah sakit. Sehun yang melihat kejadian itu benar-benar tidak menyangka bahwa seorang Jongdae bisa melakukan hal itu.

Sehun menghampiri Yoona, membantu Yoona berdiri sedangkan Jongdae membawa Yuri ke rumah sakit terdekat.

“Yoona, gwaenchanayo?” Tanya Sehun, Yoona hanya mengangguk.

***

            “Yoona! Sudah kuperingatkan bukan waktu itu?!” Tanya Jongdae dengan nada yang meninggi sambil mengacak rambutnya frustasi. Yoona hanya terduduk di ruang tamu rumahnya sambil mengunci mulutnya rapat-rapat.

“Lihat! Asma Yuri kambuh karena kau membentaknya, sekarang dia kritis dan itu semua karena ulahmu!” Lanjut Jongdae. Kini Yoona berdiri, dia menatap Jongdae dengan mata yang memerah.

“Kau tega-teganya…” Hanya kata-kata itu yang keluar dari mulut Yoona dengan nada yang bergetar.

“Kau yang memaksaku untuk menyuruhnya menginap disini! Semua salah siapa, HAH?!”

“Kau bukan Jongdae. Kamu bukan Jongdae yang aku temukan dulu. Kamu bukan Jongdae yang berada di Jeju waktu itu. Kau bukan….” Kali ini Yoona menagis. Jongdae menggigit bibir bawahnya.

“Kau yang membuatku seperti ini!”

“Itu salahmu! Mengapa kau tidak bilang kalau Yuri punya penyakit asma dan men..mencintaimu?” Jongdae terpaku setelah mendengar perkataan Yoona tadi.

“Padahal kesempatanmu untuk mengatakan hal itu padaku itu ada 2 hari sebelum hari ini.” Hati Jongdae terasa diiris dengan silet. Benar kata Yoona, jika dilihat dari awal memang salah Jongdae.

***

            “Jadi ini yang namanya Yuri itu?” Tanya Sehun ketika melihat sosok Yuri berbaring di rumah sakit. Sehun diperintahkan oleh Jongdae untuk membantunya dengan cara menjaga Yuri di rumah sakit.

“Cantik juga.” Gumam Sehun lalu mendekatkan kepalanya ke kepala Yuri yang masih terttutup masker ala rumah sakit itu.

“Bagaimana jika aku mengubahmu menjadi nona baik, bagaimana nona?” Tawar Sehun. Sepertinya Sehun sudah jatuh cinta pada pandangan pertama pada Yuri.

***

            Sekarang Jongdae berada di gereja yang tak jauh dari rumah Yoona. Dia menyesali perbuatannya kepada yang diatas. Jongdae menangis, menjatuhkan air matanya tanpa menyekanya dengan jari Jongdae itu.

“Maafkan aku.”

“Tuhan, mengapa kau membuat dunia dengan tidak adil?”

“Maafkan aku, aku tahu kau memperlakukan semua orang adil. Tapi Tuhan, ujian ini terlalu berat untukku. Aku butuh Kau untuk menyelesaikan ini semua. Bantu aku…”

***

            Yoona masih terisak dippojokkan sana. Menangisi semua hal-hal yang terjadi belakangan ini. Menangisi Jongdae yang sudah berbeda dari dulu, menangisi Yuri yang selalu bertingkah jahat padanya, menangisi Sehun yang sekarang tidak ada untuknya, dan menangisi dirinya sendiri. Tiba-tiba tangisannya terhenti ketika dia sadar sudah ada orang lain disebelahnya, kekasihnya, Jongdae.

“Yoong, mianhae. Mungkin kau sudah bosan mendengar kata itu dari mulutku. Mianhae.” Yoona menengok ke Jongdae dan memeluknya dengan erat.

“Aku menyayangi Jongdae yang sekarang. Jongdae yang mengkhawatirkanku, peduli akan aku, selelu membagi kehangatannya padaku. Aku tidak suka Jongdae yang selalu menyalahkan aku.” Kata Yoona, dia berani untuk mendongakkan kepalanya dan menatap Jongdae.

“Jangan seperti itu lagi. Aku tidak bisa menemukan sosok Jongdae yang berhati hangat itu.” Lanjut Yoona. Jongdae hanya tersenyum lalu merogoh tas ransel yang di pikul sedari tadi dan merogoh ta situ.

“Yoong, aku punya kejutan!” Ucap Jongdae dengan excited.

“Apa itu?” Tanya Yoona sambil menyeka air matanya.

“Tada!! Ini tiket pesawat yang sudah aku siapkan 3 hari yang lalu. Aku hamper saja lupa jika aku sudah membeli ini.” Jongdae mengeluarkan 2 lebar tiket pesawat.

“Tiket? Kemana?” Tanya Yoona.

“China, aku ingin memperkenalkan menantunya ke orang tuaku. Bagaimana?”

“Kamu..kamu benar-benar Jongdae!”

THE END

6 thoughts on “Oneshot : Am I Really Found You? (Sequel of Find Me)

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s