[Freelance] She (Part 2 – Painful truth)

she

Tittle : She (part 2 -Painful truth)

Author : Cicil

Cast : Jessica and Luhan

Genre : romance, sad(maybe), family(maybe), angst(maybe)

Rating : semua umur

Length : Threeshoot

Disclaimer : semua cast milik Tuhan dan diri masing masing, cerita ini miliku dan Tuhan.

Author note : Jessica disini aku tulis Sica. Mau maksih dulu buat Priskila karena udah buatin poster yang lebih dari keren, maaf aku lupa makasih waktu yang part 1.

Happy Reading

Painful Truth

September  15, 2012 – Asan Medical Center

Luhan’s pov

Setelah ceramahannya yang kurang dari panjang itu selesai, aku terlalu muak untuk berdiam disana.Yang kuinginkan hanya naik ke lantai atas. Cara cukup umum untuk menenangkan diri.

Cinta pertamaku, juga yang terakhir.  Jessica Jung, kau membuatku berani untuk memulainya.  Menjalin hubungan yang tidak bisa sampai ke pelaminan. Sejauh sebelum aku mengenalmu, menghindari cinta adalah wajib.

Tapi baru dua hari kita bertemu, nyaliku naik sampai ujung untuk menyatakan perasaan abstrak ini. Kamu gadis cantik yang polos juga baik. Keegoisanku memilih memilikimu dari pada menjauhi, karena aku tau pada akhirnya kau yang akan menderita.

Kenyataannya terlalu menyakitkan agar dapat kuungkapkan.Aku tidak mau kau kecewa, maka itu ku sembunyikan semuanya selama ini.

Mataku menerawang kedepan jalanan kota berikut kendaraan roda empat. Gedung- gedung tinggi yang berlapis kaca bening.Cukup keluargaku yang tidak tinggal disini yang kau ketahui.

Tentang orangtua yang tidak peduli padaku, bahkan setelah mereka tau aku sekarat.Mereka tetap bekerja, mungkin posisiku sebagai anak tunggal sudah digeser oleh seseorang.

Tau bukan kalau aku benci menjalani pengobatan, dan saat aku berusaha kabur waktu itu.Aku tidak sengaja membuatmu jatuh.Aku pengecut, takut dalam kemoterapi juga operasi.Lagipula kanker pada kenyataannya tidak bisa disembuhkan.

Menikmati sisa hidup dengan santai bersenang-senang lebih baik dari pada mati terbujur kaku diranjang rumah sakit, seitdaknya itu pilihan yang menurutku paling baik.

Kringg Kringgg ~

“ada apa?” tanyaku dingin padanya

“kau ada dimana? Bukankah kau bilang akan kerumahku malam ini?” bagaimana aku bisa selupa ini?Aku menepuk jidat juga akhirnya supaya otak ini sedikit membenar.

“aku lupa, ada janji dengan Baekhyun di café hari ini. Jadi tidak bisa mengunjungimu” alasan cukup masuk akal bukan?Sebenarnya Baekhyun memang bekerja di café.Jadi tak sepenuhnya kebohongan.

“Ooh baiklah tidak apa-apa, jangan pulang malam-malam nanti kau sakit lagi” suaranya kawathir, seorang Sica yang cuek ternyata bisa peduli juga. Aku terkekeh pelan sendiri.

Author’s pov

Penerangan mata sedikit-dikit mulai mengabur, buram dan berbayang.Peluh-peluh keringat dingin barusan keluar dari pelipisnya menyisakan kesan basah.

Ckleek

Pintu itu tertutup, membuatnya bisa bernafas lega.Sejenak sebelum bunyi pintu, penerangan kamarnya telah diredupkan.Tiffany benar-benar tau bagaimana cara menemukannya. Dan suster cantik itu sudah bertanggung jawab penuh atas kondisi Luhan, seperti suster pribadi mungkin.

Lima belas menit yang lalu keadaannya baik-baik saja, tidak terbaring lemah dikasur berbalut kain putih.Entah datang darimana tapi Luhan tiba-tiba merasa sesak, sangat sulit untuk mengambil oksigen.

Paru-parunya mengulangi kejadian yang sama lagi, kanker itu mengembangkan dirinya. Dadanya sakit sampai kemeja seragam warna biru langit terlihat kusut sehabis diremas.

Selang bening menyalurkan cairannya dengan baik berikut alat bantu pernafasan, menolongnya bertahan hidup. Supaya tidak mati kehabisan nafas.

Miris dan inilah hidupnya, selalu ada pengawasan dokter, pihak rumah sakit terlebih suster cantik juga galak itu.Keluarganya hanya memberikan ekspresi kawathir dalam bentuk biaya pengobatannya.

Satu yang dia mau, Sica tidak perlu tau semua penderitaannya.

September  16, 2012 – Asan Medical Center

Tubuhnya tertegap, seolah-olah tak terjadi apapun kemarin malam, tangan kurus itu sibuk mengganti kemeja seragam dengan kaos putih seperti biasa. Arah wajah juga irisnya berulang kali tertoleh kesana kemari, berwas-was kalau ada suster Tiffany lewat.

Langkahnya terterap kearah luar bagian depan si gedung berputih ini. Berpuluh manusia berlalu-lalang menyebabkannya mudah untuk kabur.

Ada yang duduk menunggu, mengantri obat, berbicara bersama resepsionis, banyak lagi.

Badannya menelinap “Luhan!!” stop! Tiffany mengetahui rencananya.Sial.

Sedetik kemudian larinya dipercepat “ya! Jangan kabur lagi! Ya!!”

Jikalau Tiffany yang berteriak pasti suster dan satpam langsung merespon, ikut dalam aksi penangkapan bak maling yang kabur dari penjaranya.

September  16, 2012 – Daeyoung High School

“bhahaahhahaha kau serius? Hyoyeon jatuh konyol karena terpeleset lantai basah?” acara gossip tengah berlangsung, Sica bersama kumpulan teman alibinya. Teman yang mau hanya karena harta, dia tau itu tapi untuk apa marah-marah? Sikapnya termasuk munafik mungkin, tapi tipenya bukan orang pencari musuh.

“aku tak pernah berbohong bukan?”

“bhahahahahahaaa!” ringan tidak sekilogrampun beban yang terasa dalam tawanya. Di keceriaannya yang polos.Sica tidak mengetahui apapun bukan?

Lelaki itu datang, tidak dengan seragam namun berbalut baju putih juga celana panjang berbahan kain.Dia mendatangi Sica tergesa-gesa. “mana?” telapak kanannya terbuka meminta sesuatu.

“apanya yang mana?” dahinya berkerut memikir “ahh, aku sudah membawa seragamu” kaki mulusnya tergerak beranjak dari kursi, membuka kancing tas ranselnya. Lalu mengeluarkan sepasang baju seragam.

Luhan mengambilnya, apa yang dikeluarkan dari dalam tas Sica. Dengan cepat lagi dia keluar kelas.

Sica’s pov

Aneh, aku memperhatikannya sepele.Dia serius?Luhan tidak bercanda?Ini pertamakalinya dia bersikap formal.Bahkan saat menyatakan cinta dulu padaku, wajahnya ceria ditemani senyuman jahil yang tipis khas miliknya.

Sebentar ia kembali lengkap berpakaian seperti siswa lainnya. Mungkin aku salah lihat tadi, buktinya dia berjalan bukan menuju kearahku.Melainkan teman-temannya, terlebih sisenyum tipis itu kembali menempel.

“Songsaenim!” lantang seseorang mengakibatkan selurus isi kelas gaduh.Menghampiri kursi masing-masing.Merapikan baju, juga ada yang berkaca.Hingga aku juga kembali ke tempat duduku.

“Sica” aku menoleh kebelakang “ada apa denganmu? Marah?” tanda tanya menyampingi raut mukanya. Aku menggeleng sekali “tidak” dia tersenyum lagi, dasar childish.

“nanti pulang, aku mau jalan. Kamu mau nemenin?” jawabannya pasti iya karena kalau aku menolakpun dia tetap memaksa.

^^^^^_____^^^^^

September  16, 2012 – myeongdong

Diputuskanlah sudah, mereka akhirnya pergi ke pasar myeongdong, sehabis perdebatan panjang hanya untuk mencari tempat yang pas bagi keduannya.

“aku ingin itu” Sica mengangkan tangannya, menunjuk sebuah kedai eskrim. Iris hitam yang berada disampingnya menengok “kau mau es krim?” dia mengangguk, menarik lengan kekasihnya paksa.

“aku mau rasa stroberi satu” penjual itu mengerti, membalikan badan untuk menyiapkan pesanan Sica. “kenapa hanya satu? Punyaku?” tanya sebelahnya heran. “pilih saja sendiri. Memangnya aku kakakmu?”Sica menjulurkan lidahnya meledek.

Diambilnya es krim pemberian si penjual. “aku ingin rasa mint” jaraknya makin menjauh, meninggalkan Luhan yang masih memesan es krim.

Tak berapa lama, si iris hitam berhasil menyamai jalannya. Sambil terus menjilat makanan manis bersuhu rendah itu.

Tiba-tiba Sica berbelok, menduduki salah satu kursi umum yang tersedia.Diantara ramainya tempat ini tentu sangat sulit mendapatkan tempat istirahat.

“mau coba punyaku?” tawar Luhan mendekatkan miliknya ke mulut Sica. “mau”

“aww, Luhaannn”

“hahahahhahaa, Jessica seperti anak kecil, makan es krim saja berantakan. Kkkk~” yang dicibir diam, sibuk mencari tisu guna membersihkan hidungnya.Lengket terkena es krim mint.

Sudah dibilang, Luhan itu jahil orangnya.Bukan menyuapi kemulut malah menyodorkannya kehidung Sica.Iris coklat hazel itu memberi sorotan tajam pada kekasihnya.“Luhan jorok, ini tidak lucu!!”

Sedetik kemudian es krim stroberi sudah berlecetan menghiasi wajah Luhan. “bahahahha itu balasannya”

Ganti si pemilik senyum jahil yang cemberut.“Jessica Jung!!!!” geramnya kesal.

^^^^^_____^^^^^

Desiran ombak laut menggema, menjadi backsound dari langkah santai keduannya.Tanpa sepatu dan kaus kaki.Dengan kaki telanjang mereka menginjak pasir-pasir warna coklat keputihan.Luhan berhenti, melepaskan genggamannya lalu jatuh terduduk sembarangan.

Gadis bersurai coklat keemasan itu berlari mengambil sebuah cangkang berukuran sedang yang sudah ditinggalkan.Dengan senyum bangga dia memperlihatkannya pada Luhan.alis itu bertaut bingung.

“coba dekatkan ditelingamu. Nanti pasti terdengar suara.” Luhan melakukan apa yang Sica katakan. Benar kenyataannya ada senada irama sesuai tiupan angin yang berlawanan arah dengannya.

“tidak ada” tapi bukan Luhan namanya kalau dia mau jujur, mengerjai seseorang itu sungguh menyenangkan. Sica merebut benda berbunyi itu, menempelkannya ketelinga. Faktanya sama ada suara yang keluar.

“kau yang bohong! Aku mendengarnya kok” matanya menangkap senyuman itu, berubah menjadi kikikan pelan. “kau terlalu polos” dia berdiri, berlari mengunjungi air laut.

“ya! Kau mengerjaiku lagi!” bak kucing mengejar tikus, pantai sunyi berubah ramai.Ulah keduanya yang berisik.

Dari kejar-kejaran sampai main air, “bajuku basah” Sica memegang kemeja putihnya, sudah berwarna transparan memeperlihatkan samar-samar bagian dalamnya. “itu salahmu, bukan aku” matanya sibuk kesekeliling.

“ini ulahmu!!” gadis itu menyiram Luhan lagi lewat cipratan air yang dibuatnya. Balasan, kapan Sica bisa diam saja kalau dia rugi akibat Luhan?

Luhan menyunggingkan senyum kecil, dia mendekati Sica. Pikirnya bukan membalas apa yang pacarnya lakukan tapi sesuatu lain.

Mata coklat itu membelalak kaget.Luhan menggendongnya, tenggorokannya tersekat ingin mengeluarkan protes tapi suaranya terhenti di pangkal mulut.

“sudah jangan marah-marah, nanti kau tua. Ckckck” lelaki itu menggelengkan kepalanya, lalu mendudukan Sica di atas pasir kering.Dia ikut menjatuhkan diri disebelah.

Warna gelap menghampiri, datang sesuai jadwal seperti biasa.Indah-indahnya sunset sudah berakhir.Yang ada hanya sebuah lampu kecil.Cukup menerangi mereka berdua.Tanpa bulan tanpa bintang.

“aku mau kita putus” sedetik Sica menegang, menengok suara asal ucapan tadi. “mwo? Putus?”

“ya, maafkan aku tapi kalau kita melanjutkannya, kau pasti terluka dan tidak bahagia”

“Luhan aku menerimamu yang jahil dan nakal kok, tidak apa-apa”

“bukan itu maksudku”

“lalu?” kaca-kaca itu membuat penglihatannya buram, ingin jatuh bak air terjun tebing. Sakit ini terulang kembali.Ada pisau yang menorehkan luka kedua dihatinya. Kemarin dicampakan dan sekarang tanpa alasan?.

Apa maksudnya ini? Permainan apa yang memaksanya masuk?

Dirinya beranjak berdiri, hendak cepat-cepat meninggalkan tempat ini.

“tunggu, biar aku jelaskan” lengannya ditahan, dia berbalik mendapatkan sorot kesedihan dari mata itu. Melepas kasar genggaman Luhan, dagunya terangkat sedikit mengisyaratkan ‘apa yang mau dijelaskan?’

“aku tidak sesempurna orang lain-

Sepuluh menit berlalu sudah, masih sama seperti barusan. Tetap utuh mereka berdua, bisa memandang satu sama lain. Tapi yang berbeda adalah kelegaan diundang kedalam hati Luhan sedangkan rasa takut datang tiba-tiba di perasaan Sica.

Hatinya terluka untuk yang ketiga kali.Kenyataan pahit ini membuatnya lusuh.Kehilangan senyum, Luhan menjelaskan semuanya. Tentang masalah hidup, hari ini terungkap apa yang disembunyikan sejauh mereka berhubungan.

Kenyataan itu memaksa Luhan untuk jujur, bahwa dia tidak sempurna.Kalau dia tidak bisa membahagiakan Sica.

Takut ditinggalkan lebih menyeramkan daripada saat dia menghadapi penghianatan dari Kris.Dia tau sekarang. Takdir akan memisahkan mereka cepat atau lambat.

Painful Truth

Tetesan transparan itu memenuhi pipinya, disamai dengan mata merah menyembab.Perasaan takut terluapkan dalam air mata.Kekawathiran menghantuinya seperti rasa kesepian.

“Deoneun mangseoriji ma jebal nae simjangeul geodueo ga~
~Geurae nalkaroulsurok joha dalbit jochado nuneul gameun bam~

Alunan nada yang dibuat sendiri oleh sebelahnya cukup mengagetkan, memperjelas asalnya dia mengalihkan pandangan mengabur.Melihat Luhan yang menyanyikan lagu untuknya.
~Na anin dareun namjayeotdamyeon huigeuk anui han gujeorieotdeoramyeon~
~Neoui geu saranggwa bakkun sangcheo modu taewobeoryeo~

Cukup disadari bahwa lagu itu menyuruhnya berhenti menangis.Tapi tidak bisa, melainkan Kristal basah terus keluar makin deras lewat matanya.

~Baby don’t cry tonight eodumi geochigo namyeon~
~Baby don’t cry tonight eobseotdeon iri doel geoya~
~Mulgeopumi doeneun geoseun nega aniya kkeutnae mollaya haetdeon~
~So baby don’t cry cry nae sarangi neol jikil teni~”

Pandangan mereka bertemu. Satu bait lagu yang dihafalnya, setiap Sica menangis pasti alunannya berputar. Luhan seperti kotak mainan yang memainkan nada.  “jangan menangis lagi, aku belum mati sekarang” iris hitam itu meneduh penuh hasrat.

Sica mengulas kikihan kecil, menertawai kalimat kekasihnya barusan ‘huh, dia masih bisa bercanda disaat-saat tegang begini’ remehnya sambil geleng-geleng kepala. “aku tau itu” ucapnya cemberut sambil menahan tawa.

“bahahaha” Luhan tertawa puas melihat sikap kekasihnya yang menahan tawa. “hahahaha” melihat Luhan tertawa justru seperti jarum runcing, memecahkan balon gelak tawanya.

“ya! Suasananya sedang sedih, kenapa kau membuatku tertawa huh?”

TBC

Mau cuap” hehe gimana part duanya? Minta saran dan komen ya^^ tapi aku engga mau maksa gomawo yang udah mau baca J

27 thoughts on “[Freelance] She (Part 2 – Painful truth)

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s