[Freelance] Because of You

Because of You

Author : KaiKat

Genre : Romance, Sad, Friendship, School Life

Rating : T

Main Cast :

–      Im Yoon Ah a.k.a Yoona

–      Oh Sehun a.k.a Sehun

–      Xi Luhan a.k.a Luhan

Other Cast : find by your self 🙂

Disclaimer : The plot & story is Mine, but Inspired by some novels, comics, dramas of korea, etc. (Special thanks for ‘IntanKirana34’ who have made the poster for me… 🙂 )

Author’s Note : >>FF ini  juga dipost di wp pribadiku dengan cast yang berbeda ^^<<

Annyeong. *bow 360(?) derajat*

Sekarang aku membawa FF baru lagi nih, entah kenapa aku suka banget buat FF yang ber-genre begini. Hehe… 😄

Sebagai orang yang baru terjun dalam dunia per-FF-an, sangat dibutuhkan sekali kritik+saran. So, don’t forget comment, ne?

Happy Reading All 🙂

*Yoona POV

Hari ini adalah hari yang tak bisa terlupakan selama hidupku. Hari dimana aku bertemu dengan seseorang yang membuat hidupku lebih berwarna dan juga hari dimana kata perpisahanlah yang menghampiri kami.

Dapat kulihat dari balik jendela kamarku, begitu banyak pasangan di luar sana berjalan bersama dengan mesranya, bahkan ada yang tidak segan-segan berpegangan tangan bahkan berpelukan.

Melihat pemandangan seperti itu semakin membuatku muak. Semakin mengingatanku akan masa lalu ku yang begitu pahit.

Letak rumahku yang berdekatan dengan sebuah taman ditambah lagi malam ini adalah malam minggu, tidak heran jika banyak pasangan kekasih menghabiskan waktu bersama di sana.

Angin malam yang menerpa dengan kencangnya, tak membuat mereka terusik sedikitpun.

Sesaat kemudian, tiba-tiba mataku tertuju pada dua orang manusia yang saling menautkan tangan mereka tengah berjalan menuju sebuah kursi yang tersedia di taman tersebut.

Sang namja terus saja menunjukkan raut wajah yang tidak nyaman akan perilaku sang yeoja, yang sedari tadi terus saja bermanja-manja ria pada sang namja.

Sekilas pandanganku dengan sang yeoja bertemu, membuat sang yeoja langsung memalingkan wajahnya. Bahkan setelah itu, ia semakin memanjakan dirinya pada sang namja yang tidak lain adalah namjachingunya.

“Cih, apakah mereka tidak malu bermesra-mesraan di tempat umum seperti itu?” cibirku kesal dan langsung mengalihkan pandanganku menuju sebuah lukisan berbingkai kayu yang dilapisi dengan cat kayu berwarna coklat terang.

Entah mengapa diri ini tak sanggup membuang semua kenangan tentang dirinya, bahkan barang-barang yang bersangkutan dengannya. Sedangkan ia? Dengan mudahnya ia membuangku dan menggantikanku dengan yeoja lain, seperti membuang ban bekas dan menggantikannya dengan ban yang baru.

Bahkan awal pertemuan yang cukup memalukan yang membuat kami menjadi dekat dan akhirnya membuatku seperti inipun, masih juga tak mau musnah dari ingatanku.

#Flashback On

“Dihari pertama MOS ini kau sudah berani terlambat? Tidak berniat sekolah rupanya?” hardik salah seorang panitia MOS padaku, tepat di tengah-tengah lapangan basket.

Hari ini adalah hari pertama MOS di sekolah baruku dan di hari ini juga aku melakukan kesalahan besar. Aku datang terlambat. Dan kau tau? Hukuman yang kuterima jauh lebih mengerikan dari hukuman seorang siswa yang lupa mengerjakan Pekerjaan Rumahnya. Aku harus berdiri dengan satu kaki sedangkan kedua tanganku memegang kedua telingaku secara silang dan yang lebih berat lagi aku harus melakukan ini tepat di tengah-tengah lapangan basket hingga jam makan siang.

Bayangkan saja, aku hanya terlambat 10 menit, tetapi harus menerima hukuman seberat ini.

Namun jika dilihat dari kesalahan dan posisiku sekarang, aku memang pantas diperlakukan seperti ini.

Karena tak dapat menahan malu, sedikit demi sedikit butir-butir cairan seperti kristal turun begitu saja dari pelupuk kedua mataku.

Tiba-tiba saja seorang panitia MOS lain datang, semakin membuat ketakutanku bertambah. Mungkin saja ia akan membantu temannya untuk menghukumku habis-habisan.

Namun tak kusangka perkiraanku meleset jauh.

“Hei, tidak seharusnya kita memperlakukan seorang junior dengan seperti itu bukan?” katanya lembut. Dengan mendengar suaranya saja membuatku yakin bahwa parasnya pasti jauh lebih lembut dari suaranya.

Ternyata benar saja, setelah mendengarnya berkata seperti itu langsung saja kuangkat kepalaku yang semula tertunduk malu. Dapat kulihat wajahnya yang begitu tampan diterpa sinar matahari pagi yang terbilang cukup terik.

Dengan wajahnya yang begitu tampan serta postur tubuh yang sangat didambakan oleh para namja seumurannya yang dapat dikatakan ‘sempurna’, tidak heran jika sedari tadi ia berdiri di hadapanku banyak sekali yeoja yang menatapku iri. Bahkan sesekali ada yang berbisik-bisik tidak jelas.

“Biar anak ini aku yang urus” lanjutnya seraya menarik tanganku lembut menuju tempat lain yang tampaknya jauh lebih sepi.

Entah mengapa panitia MOS yang baru saja menghukumku diam seribu bahasa.

“Maafkan kejadian tadi, ne” ucap seorang namja berperawakan tinggi, dengan wajah yang sangat tampan yang sekarang berdiri tepat di depanku.

“E.. Ne, tidak apa-apa. Lagipula aku memang bersalah. Aku datang terlambat.” Jawabku gugup. Aku sangat gugup berhadapan dengannya. Jantungku berdebar 100 kali lebih cepat, tidak maksudku 1000 kali lebih cepat dari biasanya. Bagaimana tidak, sejak ia menarikku dari lapangan tadi, banyak sekali yeoja yang menatapku kesal. Ditambah lagi dengan tingkat ketampanannya yang sudah melewati batas normal.

Sepertinya ia adalah orang yang sangat populer dan memiliki banyak fangirl di sekolah ini. Terbukti dengan banyaknya yeoja yang memperhatikannya sedari tadi.

“Tetapi tidak seharusnya mereka memperlakukanmu seperti itu. Inilah yang kutakutkan akan MOS, para senior akan memperlakukan para juniornya dengan semena-mena.” Ucapnya prihatin.

Ia tak seperti senior yang lainnya, itulah penilaian pertamaku akan dirinya. Tidak kasar, tidak semena-mena, bahkan sampai saat ini ia belum menghukum atau memerintahkan sesuatu padaku atas kesalahan yang telah kuperbuat. Entah karena ia lupa atau ia sedang memikirkan hukuman apa yang pantas untuk murid yang ceroboh sepertiku.

“Oh ya, karena ia sudah memperlakukanmu seperti itu, kali ini aku tidak akan menghukummu. Lagipula ini adalah hari pertama kau sekolah bukan? Aku tak ingin ada kejadian yang memalukan dihari pertama sekolah kepada para juniorku termasuk kau.” lanjutnya sambil mengacak rambutku pelan.

Dapat kupastikan mungkin sekarang wajahku sudah memerah seperti kepiting rebus.

Apa mungkin tadi ia sempat melihatku menangis? Oleh karena itulah ia tidak memberikanku hukuman apapun.

“Jeongmal Gamsahamnida” ucapku berkali-kali sambil membungkukkan badanku.

“Haha… Jangan terlalu formal seperti itu. Santai saja.” Ucapnya sambil tertawa geli karena melihat tingkahku.

Santai katanya? Bagaimana aku bisa santai jika berhadapan dengan makhluk yang sangat tampan sepertinya.

“Aku Luhan, Xi Luhan. Ketua OSIS di sekolah ini” tanpa aba-aba ia langsung memperkenalkan dirinya.

Terang saja banyak yang segan terhadapnya, bahkan ia juga memiliki banyak penggemar. Ternyata ia memang siswa yang populer.

“Yoona, Im Yoon Ah” jawabku sambil membungkukkan badanku kembali.

3 Months later~

Setelah kejadian memalukan sekaligus hari dimana pertama kali kami bertemu, aku dengannya_Luhan menjadi jauh lebih dekat. Tetapi atas kedekatan kami itu pula semakin banyak orang yang tidak menyukaiku, terutama para yeoja di sekolahku.

Sejauh ini, kedekatan kami tidak hanya sebatas seorang senior kepada juniornya saja melainkan lebih dari itu.

Tidak lama setelah kejadian itu, ia menyatakan perasaannya padaku. Aku tak dapat menolaknya, tak dapat kupungkiri aku memang memiliki perasaan yang sama dengannya.

Sejak saat itulah kami menjadi sangat dekat, bahkan tak segan-segan memamerkan kemesraan di sekolah.

“Hai chagi!” suara lembut seorang namja yang langsung berdiri di hadapanku, tiba-tiba saja membuyarkan semua lamunanku yang tengah berada tepat di atap sekolahku. Tempat yang selama ini kukunjungi saat aku sedang lelah.

“Ya! Xi Luhan, apa yang kau lakukan. Kau benar-benar menghancurkan semua khayalan-khayalan ku.” Protesku sambil menunjukan mimik merajuk.

“Pasti kau sedang membayangkan kehidupan masa depan kita kelak bukan?” ucapnya dengan yakin.

Sebenarnya aku memang memikirkan itu. Aku ingin hubungan kami ini terus berjalan hingga ajal yang memisahkan.

“Percaya diri sekali kau. Ini tidak ada hubungannya denganmu. Jangan terlalu sombong seperti itu” jawabku berbohong sembari menjulurkan lidahku.

“Huh, ya sudah lah terserah kau saja.” Ucapnya pasrah dengan menunjukan baby facenya. Wajah yang membuatku susah tidur karena terus memikirkannya, wajah yang selalu kurindu-rindukan saat kami tidak bertemu.

“Jadi mengapa kau tiba-tiba datang dan mengejutkanku chagi?” kataku lembut, mencoba mengalihkan pembicaraan dari perdebatan kecil kami.

“Ommo. Hampir saja aku lupa, aku ingin menyerahkan ini padamu.” Katanya sambil menyerahkan sebuah benda yang dibungkus rapih dengan kertas berwarna merah muda.

“Apa ini?” tanyaku heran.

“Buka saja” jawabnya tenang sambil terus memandangi langit biru yang begitu cerah di siang hari ini.

Aku membukanya perlahan. Tak kusangka ia memberikan sebuah lukisan bergambar sepasang insan yang masing-masing memegang es krim, yang tak lain adalah kami berdua.

“Waahh. Ini sangat indah” pujiku dan langsung memeluknya erat. Ia memang sering memberikanku hadiah, tetapi kali ini ia membuat hadiahnya dengan jerih keringatnya sendiri.

“Happy Anniversary!” ucapnya bangga.

Aku melepaskan pelukanku perlahan, menatap wajahnya heran.

“Anniversary?” tanyaku heran, lalu membuka ponselku. Melihat tanggal berapa sekarang.

“Astaga Luhan. Maksudmu ‘Anniversary’ itu, adalah hari jadi hubungan kita? Xi Luhan, kita baru satu bulan berpacaran. Lagipula kita sudah SMA, tidak seperti anak SMP dulu yang setiap bulannya merayakan hari jadi hubungan mereka. Dan kurasa ‘Anniversary’ itu akan lebih berarti jika sudah menginjak usia 1 tahun bukan?” Kataku, yang lagi-lagi disambut dengan wajah kecewanya.

“Baiklah, hadiah ini kuterima. Tetapi untuk kedepannya nanti lebih baik tidak perlu menggunakan kata ‘Anniversary’ jika kau ingin memberikan sesuatu untukku. Sekali lagi terimakasih chagi” lanjutku lembut.

“Ne, sama-sama” jawabnya antusias sambil kembali memelukku erat. Benar-benar seperti bocah berumur 5 tahun yang baru saja dibelikan permen oleh eommanya.

#Flashback Off

Aku tau, kami bertemu bukanlah atas kehendak kami sendiri. Kamipun berpisah bukanlah kehendak kami sendiri pula. Tuhanlah yang telah mengatur semuanya. Tuhan jugalah yang telah mengirimkannya untuk membangkitkan semangat bagi hidupku, juga dialah yang mematahkan semangatku.

Tak terasa 2 tahun sudah berlalu sejak perpisahan kami. Namun tetap saja bayang-bayang dirinya masih menghantui pikiranku.

Tak dapat kupungkiri bahwa hanya ia lah yang mampu membuat hidupku lebih berwarna, hanya dialah yang dapat membuat semuanya terasa lebih berarti dalam hidupku.

Setelah kepergian kedua orangtuaku dengan cara yang cukup mengenaskan, aku merasa hidupku memang sangat tidak berarti. Bahkan sempat terlintas dipikiranku untuk mengakhiri hidupku.

Tetapi dengan semangat keluarga besarku serta sahabatku-lah yang membuatku dapat terus bertahan dan bangkit kembali dari keterpurukanku. Walaupun terkadang, aku tetap merasa bersalah atas meninggalnya kedua orangtuaku.

Terbukti selama 2 tahun terakhir ini aku berusaha melupakan namja itu. Namun tetap saja hasilnya nihil. Banyaknya namja yang mendekatiku tidak dapat membuat perasaan ini goyah barang sedetikpun.

Perasaanku telah kuberikan seutuhnya padanya. Hingga akhirnya orangtua Luhan menjodohkannya dengan yeoja lain, yang tak lain adalah Seohyun. Sewaktu SMA kami bersekolah di sekolah yang sama. Bahkan ada gosip yang menyatakan bahwa sebelum Luhan bersamaku, mereka sempat berpacaran. Tidak heran jika ia sangat membenciku setelah mengetahui kabar bahwa aku dan Luhan memiliki hubungan spesial. Kebetulan orangtuanya dengan orangtua Luhan sudah bersahabat sejak kecil.

Sejak awal hubunganku dengan Luhan ditentang oleh banyak orang, tak terkecuali eomma Luhan. Saat kami masih bersama, Luhan pernah bercerita padaku bahwa eommanya tidak menyetujui hubungan kami. Banyak alasan yang dilontarkan eomma Luhan, salah satunya adalah status keluargaku.

Keluargaku memang bukanlah keluarga yang ‘berada’, ditambah lagi setelah kepergian kedua orangtuaku. Aku yang tinggal sendiri terpaksa harus bekerja paruh waktu untuk membiayai pendidikanku, tidak mungkin jika aku harus bergantung sepenuhnya pada keluargaku yang lain.

Walaupun ditentang dengan keras oleh eommanya, Luhan tetap bersikeras untuk melanjutkan hubungan kami. Berbagai cara telah kami lakukan untuk mendapatkan restu dari eomma Luhan.

Tetapi bukan restu yang kami terima, malah berbagai syarat yang tidak masuk akal.

Awalnya kami menyanggupi semua syarat-syarat yang diberikan eomma Luhan, sampai eomma Luhan mengatakan bahwa ia akan memberikan restu untuk hubungan kami asal aku dapat membuat 5 cabang pada perusahaan keluarga Luhan di dua kota besar Korea dalam waktu 1 minggu. Persyaratan yang sangat tidak masuk akal bukan? Bahkan jika ada seseorang yang dapat melakukannya, orang tersebut mungkin memiliki kemampuan yang tidak dimiliki oleh orang biasa sepertiku.

Akhirnya kamipun menyerah, menyerah pada tantangan yang diberikan eomma Luhan. Bukan menyerah terhadap perasaan kami. Kami akan terus memperjuangkan restu dari eomma Luhan.

Hingga eomma Luhan sudah merasa muak dan marah, dan akhirnya perjodohan yang menjadi jalan terakhirnya. Entah mengapa setelah eomma Luhan menyatakan bahwa Luhan akan segera dijodohkan dengan yeoja lain, Luhan sama sekali tidak menolak. Bahkan ia menyelesaikan hubungan kami melalui pesan singkat saja, tanpa memberikan kesempatan padaku untuk bertanya padanya.

Sejak saat itu ia mengganti e-mailnya dan sejak saat itupula kami tidak pernah bertatap muka secara langsung.

Tak terasa butir-butir cairan bening keluar begitu saja dari kedua mataku. Membentuk sebuah sungai kecil yang mengalir dengan derasnya di kedua pipiku.

Aku segera menutup wajahku dengan kedua tanganku. Berusaha sekuat tenaga agar air mata ini tidak terus menerus membanjiri kedua pipiku.

Sesekali aku menggenggam erat selimut yang berada di dekatku. Menariknya untuk menutupi seluruh tubuhku. Menutupi semua masa lalu serta kesalahan-kesalahan yang pernah kulakukan, termasuk mencintainya_Luhan. Ya, dari awal hubungan kami memang suatu kesalahan besar. Hubungan yang tidak pernah didukung oleh siapapun. Tetapi bodohnya aku dan ia masih saja mempertahankan hubungan ini, walau akhirnya tetap saja menyedihkan.

Tiba-tiba rasa sakit yang sangat hebat kembali menyerang kepalaku. Aku terus memegangi kepalaku, bahkan sesekali menarik rambutku kuat. Berharap rasa sakit ini hilang dalam sekejap.

Ku lihat seberkas cahaya menembus melewati sebuah kaca jendela yang cukup besar, membuatku terbangun dari alam bawah sadarku.

Tepat disampingku terdapat seorang yeoja dengan tubuh yang tak kalah kurusnya dari tubuhku. Aku membuka mataku perlahan. Menatap sekeliling. Dimana aku?

Entah mengapa aku tak dapat mengingat apapun yang terjadi sebelum keberadaan ku di sebuah ruangan dengan lampu yang sangat terang, ditambah lagi dengan cahaya yang berasal dari sang surya yang telah siap membangunkan serta menemani aktifitas setiap insan yang berada di bumi ini.

“Yoona, apakah kau sudah sadar?” suara ini. Ya, aku mengenalnya.

“Kepalaku sedikit sakit. Bagaimana aku bisa berada di sini Yuri-ah?” tanyaku heran.

“Semalam aku ke rumahmu dan lagi-lagi kau lupa mengunci pintu rumahmu bukan? Tak kusangka aku menemukan sesosok makhluk dengan tubuh yang sangat kurus, rambut yang panjang, serta di tutupi dengan kain panjang berwarna putih bersih. Dan ternyata itu adalah…” ia sengaja menggantungkan perkataannya. Mengatakan itu semua, seolah-olah sehabis menonton film horor dan menceritakannya kembali padaku.

“Ya, itu aku” jawabku santai sambil memalingkan pandanganku darinya. Sekarang aku ingat, kemarin aku kelelahan dan tak sadarkan diri.

*Author POV

Yuri menatap sahabatnya sendu, ia tau apa yang sedang dipikirkan olehnya.

“Yoona, kau masih memikirkannya?” tanyanya lembut, takut membuat sahabatnya itu merasa tersinggung. Tiba-tiba Yoona kembali meneteskan air mata.

Yuri tau, sejak dulu Yoona tak pernah melupakan namja itu. Ia mengetahui semua seluk beluk tentang hubungan mereka yang berakhir tragis. Bahkan sejak SMA hanya Yuri lah yang mendukung hubungan Yoona dengan namja itu. Hingga akhirnya hubungan mereka harus berakhir, Yuri tetap memberikan semangat bagi sahabatnya itu.

Sampai sekarangpun, Yuri terus berusaha mencarikan seseorang yang bisa membuat Yoona melupakan masa lalunya. Namun tetap saja Yoona tidak bisa membuka hatinya untuk orang lain.

Setelah hubungan Yoona dengan namja itu berakhir, Yoona memiliki trauma dalam berkomitmen untuk menjalin hubungan. Ia takut hal yang sama akan menimpa dirinya lagi kelak.

“Sudahlah, kau tak perlu bersusah payah memikirkannya. Aku yakin pasti ia sudah bahagia dengan pilihannya, dan aku yakin bahwa kau juga pasti bisa bahagia dengan pilihanmu kelak.” Hibur Yuri.

“Bagaimana jika setelah kau keluar dari RS ini, kita berlibur ke pantai? Kebetulan villa keluargaku di sana sedang kosong akhir bulan ini.” Lanjutnya semangat yang disambut dengan anggukan lemah dari seorang Yoona.

“Pantai!!! I’m Coming!!!” teriak Yuri semangat.

Yoona hanya dapat tertawa seadanya melihat tingkah sahabatnya itu.

“Jadi hanya kita berdua saja?” tanya Yoona heran setelah melihat hanya barang-barangnya dan Yurilah yang berada di dalam mobil Yuri.

“Tentu saja tidak, aku akan mengajak namjachinguku dan ‘seorang yang lain’ ” jawab Yuri antusias yang sontak membuat teka-teki dalam pikiran Yoona.

“Seorang yang lain?” pikir Yoona.

Yoona yang tak mau ambil pusing akan perkataan sahabatnya langsung saja menaiki mobil sahabatnya dan memainkan ponselnya.

Sedangkan Yuri, sibuk menekan tombol ponselnya sejak tadi. Seperti sedang berusaha menghubungi seseorang.

“Akhirnya mereka datang!” ucap Yuri nyaring yang membuat Yoona sedikit terkejut.

Yoona tidak bergeming sedikitpun tetapi Yuri, ia sangat bersemangat dan langsung memeluk salah satu dari orang yang ditunggunya. Ia adalah Kai_namjachingu Yuri.

Sedangkan ‘seseorang yang lain’ itu, dengan dinginnya langsung saja meletakan barang-barang bawaannya dan langsung menaiki mobil Yuri.

“Ada apa dengannya?” tanya Yuri bingung kepada namjachingunya.

Kai hanya menggeleng dan mengangkat bahunya. “Mungkin sedang PMS” jawabnya santai.

Yuri yang mendengarnya langsung memukul kepala sang namja pelan.

“Appo, apa yang kau lakukan chagi?” ucap Kai dengan memperlihatkan ekspresi sakit yang berlebihan.

“Sudahlah cepat naik dan jadilah supir yang baik” perintah Yuri pada sang namja yang masih memegangi kepalanya.

Di dalam mobil, Yoona yang sedari tadi sibuk memainkan ponselnya langsung menujukan pandangannya pada seorang namja yang langsung duduk rapi di sampingnya.

“Siapa kau?” tanya Yoona bingung.

“Sehun” jawab namja itu sekenanya, tanpa menolehkan pandangannya pada Yoona.

Yoona yang sejak awal memang tidak terlalu ingin tau, kembali memfokuskan pandangannya pada ponselnya.

‘Ini pasti rencana Yuri’ batinnya.

“Baiklah kita sudah sampai” kata Yuri yang tidak mendapatkan jawaban apapun.

Ia sangat terkejut saat melihat ke kursi bagian belakang mobilnya.

“Wah… mereka sangat cocok” ucap Kai setengah berteriak setelah melihat pemandangan seperti itu. Sejak dalam perjalanan hingga sampai, Yoona dan Sehun sudah tertidur. Yoona tidur dengan meletakan kepalanya di bahu Sehun sedangkan Sehun tertidur dengan menyandarkan kepalanya di atas kepala Yoona sambil menggenggam tangan Yoona.

Yuri yang mendengar perkataan Kai langsung menutup mulut Kai dan memberikan kode bertanda diam.

“Aaaaaaa….”

Yuri dan Kai yang sedari tadi sedang menonton TV langsung saling menatap satu sama lain heran.

Mereka langsung berlari menuju asal suara tersebut.

“Apa yang terjadi?” tanya Yuri setelah sampai ke tempat dimana asal suara tadi berasal.

“Kau masih bisa bertanya? Apa maksudnya dengan ini? Mengapa kau meninggalkanku di sini?” yang ditanya malah balik bertanya.

“Hyung tolong jelaskan padaku” sekarang sang namja sudah angkat bicara dengan wajah seserius mungkin.

“Oh itu, tadi kalian tertidur sangat pulas kami tidak tega membangunkan kalian” jawab Yuri santai.

“Hingga malam seperti ini?” tanya sang yeoja yang tak lain adalah Yoona.

Yoona langsung melepaskan selimut yang sedari tadi menyelimuti dirinya dengan Sehun dan segera melangkahkan kakinya keluar dari mobil itu.

Ia segera masuk menuju Villa dan melewati sahabatnya dengan wajah marah.

Yuri yang melihat tingkah sahabatnya sedikit panik dan menahan tangan sahabatnya. “Yoona, aku tidak bermaksud membuatmu marah. Maafkan aku jika kau tak suka cara ku.” Kata Yuri memelas berharap dapat meluluhkan hati sahabatnya.

Dan benar saja, Yoona yang tidak bisa berlama-lama marah dengan sahabatnya langsung menganggukan kepalanya bertanda jawaban iya. Walaupun wajahnya masih memperlihatkan mimik kecewa.

“Tetapi jangan diulangi lagi, ne?” jawab Yoona yang disertai anggukan cepat dari Yuri.

Di satu sisi Yoona dan Yuri sudah berbaikan, tetapi di sisi lain Sehun sudah siap memberikan pelajaran untuk hyung-nya akan apa yang baru saja terjadi.

Yoona yang melihat tingkah Sehun langsung menahan tangannya. “Sudahlah, kita lupakan saja kejadian tadi.” Ucapnya tenang pada Sehun.

Deg ~

‘Rasa itu kembali ada’ batin Sehun berkata demikian.

“Baiklah, hyung kali ini kau selamat tapi tidak untuk lain kali.” Kata Sehun cepat sembari menunjukkan mata elangnya.

Akhirnya Kai bisa bernafas lega setelah mendengar perkataan Sehun.

1 week later~

*Sehun POV

Tak terasa liburan kami di pantai ini telah usai. Sekarang kami tengah bersiap-siap untuk kembali menuju rumah kami.

“Sehun-ah, apakah kau melihat Yoona?” tanya Kai hyung kepadaku.

“Tidak hyung, aku tak melihatnya. Bukankah sedari tadi ia bersama Yuri noona?” ucapku tanpa menghentikan acara mengemaskan barang-barangku.

“Ya, tetapi setelah itu ia mengatakan ingin pergi sebentar. Kau benar-benar tak melihatnya?” tanyanya kembali padaku.

“Bisakah kau mencarinya?” lanjutnya lagi.

“Aku sedang sibuk, apa kau tak melihat?” ucapku dingin.

“Ayolah” katanya kembali dengan nada memohon yang membuatku sedikit jijik dengan tingkahnya.

“Baiklah” jawabku malas.

Ku telusuri seluruh pesisir pantai, tetapi aku masih belum menemukannya. Sepertinya aku tau kemana ia pergi. Pikirku.

Sekarang aku sedang berada di sebuah cafe dekat vila, yang menyediakan berbagai macam kuliner yang terbuat dari cokelat. Sebelumnya, Yuri noona pernah bercerita bahwa Yoona noona sangat menyukai cokelat. Dan ternyata dugaanku tak salah.

Tepat di sebuah meja yang berada di sudut ruangan ini terdapat seorang yeoja sedang menyeruput sebuah minuman dari sebuah cangkir kecil yang kuyakini berisi cokelat panas.

“Noona, ternyata benar kau ada disini. Aku sudah mencarimu kemana-mana” ucapku sambil berkacak pinggang.

Ia menatapku sinis lalu kembali memalingkan wajahnya dariku. “Siapa yang menyuruhmu untuk mencariku” jawabnya dingin tanpa menatap diriku, dan kemudian kembali meneguk minuman dihadapannya hingga tak tersisa sedikitpun.

“Huh, Kau ini. Kai hyung dan Yuri noona mencarimu sejak tadi” ucapku tak kalah sinis darinya.

“Mana mungkin? Tadi aku sudah mengatakannya pada Yuri bahwa aku ingin kesini” jawabnya tanpa basa-basi.

“Mwo?” kataku yang tidak memperoleh jawaban apapun darinya.

Melihat tingkahnya yang acuh tak acuh seperti itu, membuatku kesal. Dengan segera aku langsung melangkahkan kaki ku keluar dari tempat ini. Tetapi meninggalkan seorang yeoja malam-malam seperti ini sendiri di sebuah cafe, bukanlah sifat namja yang bertanggung jawab. Apa lagi Kai hyung telah menyuruhku untuk mencarinya, itu berarti aku juga lah yang harus membawanya kembali menuju vila.

“Sebaiknya kita pulang sekarang, ini sudah malam. Lagipula besok kita akan kembali ke Seoul bukan? Apa kau sudah membenahi pakaianmu?” kataku cepat. Ia terlihat berpikir sejenak namun sesaat kemudian ia menganggukan kepalanya.

Aku mengulurkan tanganku, berniat mengajaknya berdiri. Namun ia menepis tanganku pelan, seperti biasanya ia selalu terlihat dingin padaku. Apa ia selalu seperti ini kepada setiap namja? Gumamku.

Selama di perjalanan menuju vila, tidak ada satupun dari kami yang membuka mulut. Sampai akhirnya langkah Yoona Noona terhenti.

“Ada apa?” tanyaku padanya.

“Aku masih ingin disini sebentar. Jika kau ingin kembali, duluan saja” ucapnya lirih.

Ada apa dengannya? Tidak biasanya ia menjadi selembut ini. Biasanya sangat dingin terhadapku, tetapi tidak kali ini. Apa dia sakit?

“Aku tidak bisa meninggalkanmu” kataku dan kemudian duduk di dekatnya.

*Author POV

Tidak ada percakapan sedikitpun di antara mereka saat perjalanan menuju vila, sampai akhirnya Yoona memutuskan untuk bersantai sejenak di pantai.

Saat ini tepat di atas hamparan pasir ditemani dengan terpaan angin laut malam yang cukup menderu-deru, sepasang insan terduduk diam tanpa berkutik sedikitpun. Tak ada yang membuka percakapan lebih dulu.

Terlebih lagi, Yoona terlihat sangat tidak bersemangat. Entah apa yang membuat masa lalunya kembali terlintas dalam benaknya, yang sekali lagi sukses menyebabkan setetes demi setetes cairan keluar dari pelupuk kedua matanya.

Sehun yang melihatnya sontak terkejut. ‘Ada apa ini? Mengapa ia menangis? Apa yang harus ku lakukan?’ pikirnya.

Perlahan Yoona meletakkan kepalanya tepat di bahu Sehun.

“E..em.. Noona, apa kau baik-baik saja?” Sehun bertanya dengan sangat hati-hati.

Bukan jawaban yang diharapkannya yang diterima, tetapi isakan tangis yang semakin menjadi-jadilah yang menyambut pertanyaannya.

“Luhan…” ucap Yoona lirih, bahkan hampir tidak terdengar oleh siapapun, terbawa oleh kencangnya angin laut pada malam hari ini.

Tak ada alasan lain yang mampu membuat Yoona kembali seperti ini, kecuali namja itu. Hanya nama namja itulah yang ada dipikirannya, bahkan disaat ia sedang bersama namja lain.

‘Luhan?’ pikir Sehun kembali. Ya, sebelumnya Yuri noona juga pernah bercerita tentang namja itu. Namja yang sempat mengisi hari-hari Yoona dahulu, tetapi akhirnya meninggalkan Yoona begitu saja demi yeoja lain.

‘Jadi itu permasalahannya’ pikir Sehun lagi.

“Sudahlah noona lupakan saja ia, masih banyak namja lain di luar sana yang menunggumu” ucap Sehun santai.

Sesudah mendengar perkataan Sehun, Yoona segera mengangkat kepalanya. Menghapus jejak air mata yang sedari tadi mengalir deras di kedua pipinya dan segera bangkit berdiri.

“Kau tidak tau apa-apa!” kata Yoona ketus seraya berlari kecil meninggalkan Sehun sendiri.

‘Apa aku salah bicara?’ tanya Sehun dalam hati.

1 week later~

Satu minggu telah berlalu sejak acara berlibur ke pantai, pada 1 minggu terakhir ini juga Sehun dan Yoona tidak pernah bertemu.

Sejak saat itupula, rasa rindu terus meluap-luap dalam hati namja ini. Tak dapat dipungkiri, sorot mata bahkan semua yang ia tau tentang yeoja itu melekat sempurna dalam hati dan pikirannya.

Beberapa kali Yuri mencoba mempertemukan mereka berdua tetapi hasilnya tetap saja nihil.

Yoona yang sejak awal mengetahui rencana sahabatnya ini, menolak dengan tegas ajakan Yuri untuk bertemu dengan Sehun.

Ya, sejak awal Yuri dan Kai_namjachingunya berniat untuk mendekatkan Sehun dengan Yoona. Tak disangka Sehun, yang awalnya sangat tidak setuju dengan ide hyungnya itu menaruh perasaan pada Yoona. Yoona memang yeoja yang mampu dengan mudah memikat hati para namja, tak terkecuali Sehun. Namun apa daya, hanya Luhanlah yang benar-benar mampu membuat hati Yoona luluh dan tak dapat disangkal hanya namja itu pula yang dapat membuat Yoona terpuruk bahkan tak dapat berpaling pada namja lain seperti saat ini.

Slurrpp~

Yoona meminum cokelat panas yang baru saja dihidangkan di mejanya hingga tak tersisa sedikitpun. Perasaan lelah yang dirasakannya benar-benar dapat membuat rasa panas dari cokelat yang tadi dihadapannya hilang seketika.

Kegiatan-kegiatannya selama di kampusnya tadi benar-benar menguras seluruh tenaganya. Membuatnya kehilangan sebagian besar energi dalam tubuhnya.

Drrttt…drrrttt…

Setelah mendengar dering serta getaran dari ponselnya, dengan sigap Yoona segera mengangkat ponselnya. Kalau-kalau ada salah satu rekan atau dosennya yang ingin protes akan pekerjaannya tadi di kampusnya.

“Yeoboseyo~” ujarnya cepat tanpa melihat siapa peneleponnya.

“Noona, ini aku. Bisakah kita bertemu” kata seseorang yang tak diketahui Yoona dari seberang sana.

‘Suara ini.’

“Sehun?” ucap Yoona ragu.

“Iya noona, ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu~”

“Maaf aku sedang sibuk” sergah Yoona cepat dan segera memutuskan percakapan mereka kemudian mematikan ponselnya.

Sudah 1 minggu terakhir ini Yoona menghindari namja itu. Entah mengapa setiap kali ia melihat tatapan namja itu, hatinya menjadi tak karuan. Tak seperti saat ia melihat namja lain, tetapi di saat itupula ia kembali mengingat namja yang mengisi kesehariannya dimasa lampau.

“Sampai jumpa lagi minggu depan” ucap seorang yeoja dengan begitu lembutnya pada setiap anak yang berada di sebuah ruangan yang bersuhu cukup rendah yang diakibatkan oleh pendingin diruangan tersebut, yang tak lain adalah Yoona.

Saat ini, ia baru saja selesai melakukan kegiatannya yang cukup menguras tenaga bahkan emosinya. Sejak ia duduk di bangku SMA, ia sudah melaksanakan kegiatan ini. Ia melakukannya demi meneruskan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi, bahkan hingga saat ini ia telah duduk di bangku Universitas ia masih terus melakukan aktivitasnya itu.

Ia mengajar beberapa anak secara privat. Walaupun hasil yang ia terima tidak terlalu besar, tetapi ia tetap bersyukur karena dari awal prinsip ia melakukan kegiatan mengajarnya ini hanya untuk membina anak-anak didiknya menjadi lebih baik terutama dalam hal mensyukuri segala kehidupan yang telah diterima oleh anak-anak itu yang pastinya jauh lebih baik dari kehidupannya.

“Noona, apa kau akan pulang sendiri ? Bagaimana jika bersamaku saja, aku dijemput oleh kakakku yang membawa mobil. Bagaimana?” tanya salah seorang murid Yoona, yang membuatnya sedikit terkejut.

“Tidak, terimakasih. Sepulang dari tempat ini noona ingin pergi sebentar, jadi tak langsung pulang. Sekali lagi terimakasih ne, atas tawaranmu tadi” jawab Yoona sambil megusap kepala muridnya lembut. Beruntung sekali Yoona memiliki anak-anak didik yang sangat mengerti keadaannya. Bahkan tak jarang dari mereka sering mengirimi Yoona paket berupa makanan atau sejenisnya ke rumah Yoona.

“Baiklah. Noona aku pulang dulu.” ucap anak itu kembali, dan kemudian segera berlari menuju kendaraan yang menjemputnya.

“Ne, hati-hati ya” ujar Yoona setengah berteriak sambil melambaikan tangannya pada anak itu.

Setelah mengemasi beberapa buku yang menjadi bekal mengajarnya tadi, ia segera melangkahkan kakinya menuju keluar tempat ini. Namun sebuah tangan yang cukup kekar berhasil menghalangi langkah kakinya.

“Noona, ikut aku sebentar” ucap pemilik tangan tersebut dan langsung menariknya menuju sebuah mobil yang terparkir rapi di depan bangunan yang cukup tua itu.

“Sehun! Apa yang kau lakukan?!” bentak Yoona pada namja itu yang masih saja terus melakukan aksinya yang bisa diklasifikasikan sebagai tindak kriminal tersebut.

Kurang lebih 10 menit Yoona berada dalam mobil namja itu, yang sekarang telah membawanya ke sebuah tempat yang dapat dikatakan cukup romantis ini.

“Mengapa kau membawa ku kesini?” kata Yoona cepat tepat setelah mobil sport milik namja ini terparkir rapi persis di depan sebuah pohon dengan bunga berwarna merah terang yang namanya tak Yoona ketahui.

“Noona, mengapa kau menghindariku?” tanya Sehun tak kalah cepat dari Yoona, sebelum ia menjawab pertanyaan yang telah dilontarkan lebih dahulu oleh Yoona.

“Itu hakku” jawab Yoona sekenanya, kemudian langsung membuka pintu mobil tersebut dan melangkahkan kakinya keluar.

Sehun tak dapat mencegah yeoja itu, namun ia segera bergerak tak kalah cepat dari yeoja itu dan langsung menahan tangannya kuat.

“Lepaskan aku atau aku akan berteriak!” ancam yeoja itu.

“Noona, tolong jangan seperti ini. Ada yang ingin kubicarakan dan aku janji setelah ini aku tak akan mengganggumu lagi” ucap Sehun dengan berat hati. Setelah mengatakan itu, Sehun melepaskan genggaman tangannya lalu menundukkan kepalanya dalam.

Yoona yang melihatnya begitu, berpikir cukup keras. Namun ia memutuskan untuk memberikan kesempatan bagi namja itu.

“Baiklah” ucap Yoona akhirnya dan segera berjalan menuju sebuah kursi yang telah disediakan di taman itu.

Setelah keduanya duduk, Sehun pun memulai pembicaraan.

“Noona, mengapa kau menghindariku?” tanya Sehun kembali.

“Itu hakku, lagi pula dari awal kita memang tak dekat bukan?” jawab Yoona ketus.

“Noona, aku tak mengerti mengapa tetapi selama ini hanya kau yang selalu ada di pikiranku” ucap Sehun mantap.

Deg~

“A..Apa yang sedang kau bicarakan?” ujar Yoona gugup dan kemudian segera memalingkan wajahnya.

“Noona, aku mencintaimu” ucap Sehun lantang seraya memalingkan kembali wajah yeoja dihadapannya sehingga sekarang mereka benar-benar sedang berhadapan. Namun dengan gerakan secepat kilat, Yoona menepis tangan pemuda itu yang sama sekali tak membuat namja itu terkejut dengan perilaku Yoona.

“Apa kau sudah selesai berbicara?” tanya Yoona dingin, setelah beberapa saat hening.

“Maaf tetapi aku sedang sibuk sekarang” lanjut Yoona santai dan segera bangkit berdiri.

Sehun yang pernyataannya barusan tak digubris sama sekali itupun tak langsung ambil sikap.

“Apa karena namja itu?” ucap Sehun keras setelah Yoona melangkahkan kakinya beberapa meter menjauhi kursi tadi.

Yoona yang baru saja mendengar perkataan Sehun segera menghentikan langkahnya.

*Yoona POV

Apa yang dikatakannya? Pernyataan cinta?

Setelah mendengar pernyataannya tadi, aku segera pergi meninggalkannya tanpa memberikan alasan yang jelas. Namun setelah beberapa meter jarak di antara kami, ia segera angkat bicara. Mengatakan sesuatu yang sama sekali tidak ingin kudengar, apa lagi dari seorang namja yang tak kukenal lama.

“Ia yang telah membuatmu seperti ini?” lanjutnya lagi setelah aku menghentikan langkahku.

“Apa kau pikir dengan ia meninggalkanmu begitu saja, kemudian kau tak bisa membukakan hatimu untuk namja-“

“Cukup!!” bentakku sebelum ia kembali melanjutkan perkataannya.

“Kau tak tahu apa-apa” ucapku kembali tanpa membalikkan tubuhku. Akan tetapi, tiba-tiba dua buah tangan memegang lenganku lembut lalu membalikkan tubuhku pelan.

“Kau hidup buka karenanya. Maka dari itu, tidak adanya ia di hidupmu kaupun masih bisa bertahan hidup bukan. Termasuk dalam masalah perasaanmu itu.” katanya lancar.

Plakkk~

Aku benar-benar tak dapat menahan semua emosi yang telah meluap-luap pada diriku, terlebih lagi aku tak mengerti bagaimana cara melampiaskannya.

Tak kusangka tanganku melayang dengan sendirinya tepat dipipi namja dihadapanku dengan cukup keras. Hati dan otakku bekerja tak karuan, bahkan sang pemiliknya pun sampai tak sadar akan apa yang telah dilakukannya.

Setelah mendapatkan sebuah tamparan yang cukup keras itu, tak ada respon sama sekali dari dirinya. Bahkan ia melepaskan tangannya perlahan yang sedari tadi berada tepat dikedua lenganku.

“Pukul saja lagi jika itu dapat membuatmu membuka hatimu kembali” ucapnya yang sontak membuatku terperanjat kaget. Ia tak marah?

“Sudahlah, jangan campuri urusanku lagi” ucapku bergetar. Menahan bendungan air mata yang sudah siap membanjiri kedua pipiku sewaktu-waktu.

“Lupakan saja” ucapku lagi dan segera pergi meninggalkannya yang masih saja terus tertunduk.

*Author POV

2 minggu telah berlalu sejak Sehun menyatakan perasaannya pada Yoona. Sejak saat itu pula mereka kembali tak pernah bertemu, bahkan Sehunpun tak kembali mencoba untuk menemui yeoja itu. Sepertinya namja itu benar-benar menepati janjinya untuk tak menemui Yoona kembali.

Namun di sisi lain, Yoona merasakan sesuatu yang aneh dalam dirinya. Terlebih lagi saat Sehun menyatakan perasaannya pada Yoona. Begitu juga ketika ia melangkahkan kakinya untuk pergi menjauhi namja itu, Yoona merasa sesuatu hilang dalam dirinya. Semakin jauh ia melangkah semakin besar rasa sakit yang didapatnya, semakin membuatnya tak dapat menahan bendungan air mata dikedua pelupuk matanya.

Setiap kali bayang-bayang Sehun terlintas diotaknya, membuat dada yeoja itu sesak, jantungnya berdebar dengan sangat cepat, semua pekerjaan yang dilakukannya menjadi tak karu-karuan.

Hingga suatu hari Yuri_sahabatnya memberikan kabar kepadanya bahwa Sehun akan segera pergi menuju luar Korea dalam beberapa saat untuk melanjutkan pendidikannya. Entah apa yang membuat kedua kaki Yoona seakan bekerja dengan sendirinya, membawa tubuhnya menuju sebuah bangunan bergaya minimalis yang tidak lain adalah rumah dari namja yang sedari tadi berada dipikirannya, Sehun.

Rumahnya terlihat sangat sepi, ditambah lagi dengan lampu tamannya yang tidak menyala satupun padahal waktu sudah menunjukan pukul 06.30 pm.

Ya, setelah Yoona menerima pesan singkat dari sahabatnya itu ia segera bergegas menuju tempat ini.

“Mengapa aku kesini? Padahal aku bisa menghubunginya melalui ponsel” gumam Yoona.

Akhirnya Yoona memutuskan untuk kembali ke rumahnya dan segera menghubungi namja itu melalui ponsel. Entah perasaan apa yang sedang ia rasakan, tetapi sejak tadi jantungnya berdegup sangat cepat.

“Noona” panggil seseorang setelah baru saja Yoona membalikan tubuhnya bermaksud ingin bergegas pulang.

Greb~

Tiba-tiba saja dua buah tangan melingkar begitu saja di pinggang yeoja itu yang membuatnya sontak terkejut dan segera membalikan tubuhnya kembali.

“Apa yang kau lakukan?” ucap Yoona, sesaat setelah ia membalikan tubuhnya dan mendapati seorang Sehun sedang berdiri dengan wajah yang sangat lesu serta garis hitam yang terlihat sangat jelas dibawah matanya.

Setelah mengetahui sang pemilik rumah itulah yang berdiri dihadapannya, Yoona segera menjauhkan dirinya dari pemilik kediaman itu. “Kau kemari? Untuk apa?” tanyanya yang untuk kesekian kalinya tak mendapat jawaban apapun dari yeoja itu.

“Aku akan segera pergi ke London” lanjutnya lagi kemudian tertunduk dalam.

Deg~

Sekali lagi namja itu sukses membuat hati Yoona kembali merasa bimbang, bimbang akan perasaan yang sedang dialaminya sekarang. Seperti halnya harus memilih antara hidup dan mati, itulah yang sedang dialaminya sekarang. Rasanya banyak sekali kata demi kata yang meronta-ronta dalam pikirannya agar segera dikeluarkan oleh sang pemilik, tetapi mulut dari sang pemilikpun tak bekerja sedikitpun.

Sampai akhirnya tangan dan tubuhnya yang harus bekerja, menggantikan tugas dari mulut yang seakan-akan mogok bekerja. Tanpa aba-aba tubuh yeoja ini bergerak mendekati namja itu dan segera melingkarkan tangannya di pinggang namja itu dan meletakan kepalanya tepat di depan dada namja itu.

“Jangan pergi” ucap Yoona lirih, yang semakin membuat Sehun terbelalak kaget melihat perilakunya.

Sehun yang melihatnya tak dapat berkata-kata sedikitpun, yang dapat dilakukannya sekarang hanyalah membalas pelukan yang tak terduga-duga dari seseorang yang sangat dicintainya saat ini.

“Saranghae~” ucap yeoja itu kembali dengan sangat pelan tetapi berhasil membuat Sehun kembali tak dapat berkutik sedikitpun.

Kemudian perlahan Yoona melepaskan pelukannya. Menundukan kepalanya dalam, tetapi Sehun segera mengangkat wajah yeoja itu dan menatapnya lekat.

“Apa itu benar? Kau mencintaiku?” ucap Sehun yang kini telah menatapnya dengan wajah serius.

Namun yang ditanyapun kembali tak menjawab, bahkan Yoona kembali menundukan kepalanya. Saat ini ia masih merasa ragu, ia ragu untuk mengatakannya. Karena ia yakin bahwa jika ia mengatakannya, ini semua pasti akan berlanjut ke tahap berkomitmen dan inilah yang ditakutinya. Ia takut hal yang sama dimasa lalunya akan terulang kembali kali ini.

“Tolong jangan samakan aku dengan namja itu” ucap Sehun kembali sembari menggenggam tangan Yoona erat.

Mendengar perkataan Sehun membuat keyakinan Yoona sedikit demi sedikit bertumbuh. ‘Apa benar?’ pikir Yoona.

“Bagaimana bisa aku mempercayaimu, sedangkan kau akan pergi meninggalkanku?” ucap Yoona serak, menangis.

“Aku pergi hanya sementara waktu, jika kau masih tak yakin hatikulah yang akan menjadi jaminannya” jawab Sehun yakin seraya meletakan tangan didepan dadanya kemudian mengarahkan tangannya kembali tepat di depan dada Yoona, seakan-akan ia mengambil hatinya dan memberikannya untuk yeoja itu.

Setelah mendengar Sehun mengatakan hal itu, entah makhluk apa yang merasuki yeoja ini, namun tak disangka ia kembali menghambur ke dalam pelukan Sehun. Ia merasa bahwa hanya dengan pelukan namja ini lah yang mampu membuatnya tenang.

“Aku rasa aku bisa menunggumu” bisik Yoona lirih tepat ditelinga namja ini.

Lagi-lagi kata demi kata yang terlontar dari bibir tipis Yoona kembali membuat Sehun tertegun sejenak.

Namun setelah itu, ia pun dapat bernafas lega. Karena yang ia duga tak salah, ternyata yeoja yang selama ini dicintainya memiliki perasaan yang sama pula dengan dirinya.

Perlahan Sehun melepaskan pelukannya kemudian kembali menatap yeoja dihadapannya lekat.

“Terimakasih, aku akan menitipkan hatiku padamu dan membawa hatimu pergi. Dan aku berjanji akan kembali membawa hatimu tanpa kurang sedikitpun” ucapnya yang disambut dengan senyuman sekilas yang terlukis dari wajah yeoja itu namun dapat tersirat rasa bahagia yang sangat kuat dalam diri yeoja itu.

Kemudian setelah itu Sehun mensejajarkan tingginya dengan Yoona dan mendekatkan wajahnya. Sekarang keduanya dapat merasakan hembusan nafas dari masing-masing orang yang sedang dihadapannya. Hingga akhirnya bibir mereka bertautan satu sama lain.

–Fin–

Author’s note : ^^

Yeyy.. akhirnya selesai juga ini FF… 😀

Maaf juga ya, kalo yang gak suka sama couplenya, tapi tolong jangan di bash sedikitpun ^^

Mian juga kalo penyusunan kata-katanya masih gaje, aku masih belajar 🙂

So, don’t forget comment, ne?

Advertisements

60 thoughts on “[Freelance] Because of You

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s