[Freelance] The Day I Meet Him (Part 1)

the day i meet him

The day I meet Him part 1

Author : RYN

Length : threeshoot

Rate : PG 17 (akan berubah nanti)

Cast :

@ Taeyeon

@ Luhan

Other cast :

@ Jessica

@ Yoona

Genre : fantasy,romance

Disclaimer : seluruh plot murni hasil pemikiranku. Insprisi datang dari berbagai hal namun semuanya tetap dengan imajinasiku sendiri. of course, seluruh cast milik tuhan dan orang tua mereka.

Annyeong!^^

Aku bawa ff baru lagi nih (fanfic lain belum selesai udah nambah lagi. -_-) ckckck

Ahehehe..kali ini aku kembali fanfic dari Ryn special collection’s bergenre fantasy romance staring Luhan dan Taeyeon. karena frustasi fanfic mereka sedikit(menurutku), aku jadi terinspirasi bikin story dengan couple mereka.

Setelah baby don’t cry (Lay-Taeyeon) usai, aku telah membuat setengah dari fanfic ini. karena ini adalah fanfic dengan threeshot (menurutku sih bisa jadi multichapter tapi aku terlalu malas kirim-kirim per-part), aku akan mengirim dua part sekaligus setelah lebaran nanti. Sekarang lagi proses editing part 3nya. Aku harap kalian bisa menyukainya^^

Don’t plagiat, don’t copy paste without my permission!!

Aku tidak pernah memberikan izin pada siapapun untuk membuat cerita berdasarkan fanfic ini!!!

***

Pagi yang cerah di hari minggu. Seorang gadis yang berumur sekitar 18 tahun berjalan dengan santai menyusuri jalan-jalan kecil di depannya. gadis itu memakai sebuah hoddie putih panjang berpadu dengan dengan celana mini yang terlihat sangat pas di tubuhnya. dipunggungnya,sebuah rangsel cukup besar tersandang disana. rambut coklatnya disatukan ke atas dengan ikat rambut senada dengan warna bajunya. Senyum terukir di wajahnya segera setelah ia mencapai gerbang sekolahnya.

Hari ini sekolah Nation Academy menyelenggarakan perjalanan wisata sebagai bentuk upacara perpisahan siswa kelas 3 yang telah lulus. Gadis itu-Taeyeon segera menghampiri kedua sahabatnya yang tengah melambai ke arahnya-tidak jauh darinya.

“kenapa kau lama sekali?kami sudah menunggumu dari tadi” ujar salah satu sahabatnya  diketahui bernama Jessica. Wajahnya yang dibuat secemberut mungkin hanya ditanggapi Taeyeon dengan tawa kecilnya.

“terlambat seperti biasanya Taeyeon” sahabatnya yang lain-Yoona ikut mengomentarinya.

Bola mata gadis bermata hazel itu langsung memutar segera setelah mendengarnya. diapun akhirnya menanggapi omelan mereka. “kalian tahu sendiri ayahku bagaimana. Aku harus berurusan dulu dengannya sebelum kemari”

Ini memang sudah sering terjadi dan kedua sahabatnya itupun tahu. menjadi anak satu-satunya,Taeyeon bisa mengerti,ayahnya terlalu menyayanginya hingga terlalu mencemaskannya,itulah terkadang ia bersikap over protektif padanya. tapi dia juga terkadang merasa terganggu dengan hal itu hingga terkadang kesal pada ayahnya. saat pertama kali ayahnya tahu tentang perjalanan wisata sekolah mereka yang diadakan di luar kota,ayahnya langsung panik. tidak terhitung berapa kali dia harus memohon dan merengek pada ayahnya agar di izinkan ikut,itupun juga ada sedikit tambahan dari kedua sahabatnya.

Tadi pagi saja,ayahnya bersikukuh ingin mengantarnya ke sekolah dengan alasan dia ingin melihat putrinya tapi Taeyeon tahu itu hanya alasan. Betapa ayahnya tidak rela berpisah dengannya meskipun itu hanya untuk dua minggu. Oleh sebab itu,dia sedikit berlaku keras pada ayahnya dengan mengatakan dia akan berangkat sendiri. selain itu,dia tidak ingin merepotkan ayahnya. pekerjaannya yang sekarang lebih penting daripada membiarkannya tidak masuk kerja hanya untuk mengantarnya.

“ya.ya.ya~tipe anak ayah yang patuh”

Taeyeon melotot mendengar ejekan Yoona. Sepersekian detik kemudian,sebuah pukulan ringan mendarat di lengan putih gadis itu yang membuatnya otomatis meringis seraya mengusap lengan bekas pukulan tadi.

“kau jahat sekali padaku” Yoona mengerutkan mukanya,berakting pura-pura ingin menangis. Taeyeon membalasnya dengan rotasi matanya sementara Jessica hanya terkekeh melihat tingkah mereka berdua yang kekanakan.

“itu balasan untukmu” ucapnya berhigh5 bersama Taeyeon,sedangkan Yoona langsung mengerucutkan bibirnya sembari melipat kedua tangannya dengan kesal.

“aku merasa terkhianati” dengusnya kesal.

“stop mendramatisir Yoong~” Taeyeon menggodanya. Jessica lagi-lagi terkekeh mendengarnya.

Dari arah gerbang sekolah beberapa siswa lain mulai berdatangan. Taeyeon dan kedua sahabatnya tidak begitu menaruh perhatian pada mereka karena sibuk berbincang-bincang seputar perjalanan wisata mereka kali ini.

Tidak berapa lama setelah perbincangan mereka,suara yang berasal dari pengeras suara memanggil mereka untuk berkumpul. Taeyeon bersama kedua sahabatnya mengikuti teman-teman mereka yang telah lebih dulu berkumpul di lapangan.

– – –

“menurutmu,dimana kali ini?” tanya Taeyeon tiba-tiba saat mereka sudah berada dalam bus.

Jessica yang melepas earphone di telinganya saat merasakan bajunya sedikit tertarik. dia menoleh dan keningnya berkerut. “apa?”

Taeyeon menekan bibirnya rapat-rapat. Baru sadar,orang yang di tanya tidak mendengarnya. Yoona di sampingnya sudah tidur sejak tadi. gadis itu kelihatan sangat menikmati perjalanannya sampai-sampai dia tertidur layaknya di kamar sendiri.

“letak penginapan kita nanti. Apa kau tahu dimana tempatnya?”

Jessica mengangkat bahunya dengan malas. Taeyeon langsung memasang tampang kecewanya.

“guru-guru tidak memberitahukannya secara mendetail. Tapi kudengar,tempat ini baru di resmikan bulan lalu” Jessica menjelaskan. melihat raut heran di wajah Taeyeon,dia kembali menjelaskan. “aku mendengar rumor dari beberapa siswa yang pernah mendengar pembicaraan guru-guru di sekolah” tambahnya. Kali ini Taeyeon manggut-manggut mengerti.

“kedengarannya menarik” Taeyeon tersenyum menanggapinya.

“semoga saja begitu” Jessica kembali memasang earphonenya tapi Taeyeon lagi-lagi menariknya. “apa lagi?” tanyanya setengah kesal. dia ingin menikmati waktunya tapi Taeyeon seakan tidak membiarkan hal itu terjadi.

“kau ingin membiarkanku sendirian? Yoona sudah tidur setidaknya kau menemaniku mengobrol” Taeyeon mengerucutkan bibirnya.

Jessica menghela nafas. “aku sedang tidak mood berbincang-bincang sekarang. kau lihat sekelilingmu,semuanya sudah tidur. Sebaiknya kau juga ikut tidur”

Taeyeon menggeleng. “aku tidak mungkin memaksa mataku Jessie~”

“tidak” Jessica berbicara dengan tenang. “aku ingin mendengarkan musik yang baru saja ku download tadi jadi berhentilah merengek padaku” gadis itu kembali memasang earphonenya-mengabaikan Taeyeon yang sudah memasang tampang cemberutnya.

Taeyeon bersandar di kursinya dengan raut kesal di wajahnya. dia melipat tangannya dengan bibir mengerucut. *menyebalkan!* matanya beralih ke Yoona yang masih tertidur dengan tenang. *bagaimana bisa dia tidur setenang ini. ckckck*

Tidak butuh waktu lama,Taeyeon akhirnya tertidur menyusul kedua sahabatnya.

Setelah perjalanan panjang yang memakan waktu sekitar 3 jam,bus mereka pun akhirnya sampai di tempat tujuan. Guru mulai membangunkan mereka satu persatu,mengatakan pada mereka kalau mereka telah sampai.

“ini lebih jauh dari yang ku bayangkan” Jessica menguap yang disambut anggukan setuju oleh Yoona.

“well,setidaknya kita bisa bersenang-senang”

Pandangan mereka langsung beralih pada Taeyeon yang masih nampak tertidur pulas di kursinya. Keduanya terkekeh pelan.

“aigooo…aku rasa dia sangat menikmati perjalanannya” Yoona berkomentar.

Jessica hanya tersenyum. “kau tidak pernah tahu bagaimana dia merengek padaku karena tidak bisa tidur tadi”

Mereka menggeleng kemudian mulai membangunkan Taeyeon.

“kita sudah sampai?” Taeyeon bertanya-setengah menguap.

Yoona terkikik melihatnya. “finally sleeping beauty bangun juga. Kau membuat kami cemas”

Taeyeon mengerutkan keningnya. “kenapa?”

“jika kau tidak bangun,kami cemas tidak bisa menemukan pangeran yang bisa membangunkanmu” Yoona menjawabnya dengan santai.

Taeyeon mencibir mendengar kedua sahabatnya itu tertawa dengan candaan yang mereka buat untuknya. *kekanak-kanakan* dengusnya kesal.

Mereka bertiga pun turun dari bus itu dan segera bergabung bersama teman-teman mereka yang lain. saat pertama kali menapakkan kaki di tempat itu,ketiganya tak berhenti berdecak kagum. Tempat itu sangat indah. Penginapan yang akan mereka tempati terdiri dari beberapa petak rumah berdinding kayu. Jelas kalau rumah-rumah mungil itu adalah kamar mereka.

Tidak hanya sampai disitu,di belakang penginapan terhubung dengan pantai berpasir putih yang terhampar luas dengan suasana yang sangat tenang. sangat cocok untuk refreshing.

Pembagian kamar pun dimulai. Taeyeon sekamar dengan kedua sahabatnya. beruntung,kamar yang mereka tempati cukup besar dengan dua ranjang di dalamnya. Tak ketinggalan pemandangan pantai yang indah bisa dilihat dengan jelas dari jendela kamar mereka. Jessica dan Yoona yang paling terlihat antusias dengan kamar mereka. mereka membiarkan Taeyeon menempati satu ranjang untuk dirinya sendiri sementara keduanya berbagi.

“aku tidak pernah tahu kalau ada tempat seperti ini” Jessica memulai pembicaraan saat mereka mulai mengeluarkan pakaian mereka dari dalam tas. “dua minggu di tempat ini..WAW,aku pasti betah disini” nada suaranya terdengar sangat bersemangat bahkan senyum di wajahnya tak pernah hilang sejak mereka berada di tempat ini.

“kau memang selalu seperti ini kan,semua tempat yang indah pasti membuatmu berkata seperti itu” Yoona setengah mengejeknya.

Jessica hanya mengacuhkannya. dia melirik Taeyeon yang juga sibuk mengatur pakaiannya. “hei,bagaimana kalau habis ini kita ke pantai?” tanyanya pada mereka berdua.

“ide yang bagus” Yoona menjawabnya-masih fokus pada barang-barangnya.

“bagaimana denganmu?”

Taeyeon menoleh sekilas dan menggeleng pelan. “aku ingin melihat-lihat sebentar di sekitar sini”

“kau akan menyesal jika tidak melihatnya sekarang. sunsetnya terlihat lebih indah jika kita melihatnya dari pantai” Yoona menambahkan. Jessica hanya mengangguk-berharap Taeyeon mengubah keputusannya. Tapi,gadis mungil di depan mereka kembali menggeleng yang artinya dia sedang tidak ingin.

“aku akan melihatnya..” Jessica dan Yoona seketika memasang tampang penuh harap. “tapi nanti” Taeyeon menyelesaikan kalimatnya seraya tersenyum dimana kedua sahabatnya langsung cemberut.

“kau menyebalkan. Kau tahu” Jessica mendengus kesal.

“aku tahu” Taeyeon mengedipkan sebelah matanya. kedua sahabatnya merotasikan bola mata mereka.

“aku pergi” diapun kemudian pamit. Sosoknya segera menghilang di balik pintu. Jessica dan Yoona hanya menghela nafas lalu kembali melanjutkan kegiatan mereka tadi.

– – –

Taeyeon berhenti di salah satu tempat dimana dia bisa melihat hampir seluruh penginapan juga pantai di depannya. dia mengangkat kameranya dan mengambil beberapa gambar dari segala sisi. Senyum terulas dari bibirnya menatap hasil gambar yang di potretnya tadi. semuanya sempurna. Dia memang sengaja membawa kamera kesayangannya setiap pergi berlibur. Dari kejauhan,tampak kedua sahabatnya sedang asyik bermain pasir di pantai. dengan satu bunyi klik,dia telah berhasil mengambil potret keduanya dan tersenyum puas setelah melihat hasilnya.

Gadis itu memutar tubuhnya,dari posisinya seperti ini dia bisa memandang penginapan dari atas dengan lebih baik. sejauh matanya memandang,dia tak pernah berhenti mengaguminya. Penginapan itu sangat bersih dan rapi seakan belum pernah terjamah sama sekali. padahal penginapan itu sengaja di bangun untuk tempat peristrahatan orang-orang yang datang berlibur kemari,tapi kondisinya sama sekali masih baru hingga membuatnya berpikir penjaga penginapan itu pastilah orang yang sangat rajin hingga merawat semuanya dengan baik.

Taeyeon memutar kembali badannya hingga berhadapan dengan pantai lepas. Ini sangat menyenangkan baginya,jika ia membalikkan tubuhnya ke kanan,dia bisa dengan leluasa melihat pemandangan penginapan dan jika dia membalikkan tubuhnya ke kiri,disana pantai pasir putih terbentang luas di depannya.

Kedua tangannya perlahan terangkat,dia meregangkannya kesamping seraya mulai memejamkan matanya. angin yang berhembus pelan dengan liar memainkan setiap helai rambut coklatnya. Bunyi ombak yang membelah pantai terdengar menggema di hampir setiap sudut tempat itu. ini aneh,suasana tenang di sekitarnya mampu membuat tubuh dan pikirannya merasa nyaman. menghirup udara segar seperti ini membuat rasa lelahnya karena perjalanan tadi berangsur-angsur menghilang.

Suara burung yang bersahut-sahutan membentuk suatu irama yang sinkron,mendadak menyentakkannya dan memaksanya membuka matanya. pandangannya beralih ke arah dimana menurutnya asal suara tadi. mulutnya membuka,matanya mengejap,begitulah reaksinya saat menolehkan kepalanya. tidak jauh dari tempatnya berdiri,sebuah hutan lebat nampak disana. hutan lebat itu berjarak cukup jauh dari penginapan mereka tapi cukup dekat dengan tempatnya berdiri.

Gadis mungil itu mengerutkan keningnya,dia memiringkan kepalanya sambi mengingat-ingat sesuatu. seingatnya,ia tak melihat ada rimbunan hutan disana tapi kenapa sekarang hutan itu sangat jelas di depannya? mungkinkah ia tak menyadarinya saat ke tempat ini?

Masih heran dengan penglihatannya,tanpa sadar kakinya melangkah hendak mendekati hutan itu.

“jangan kesana”

Sebuah suara di belakangnya, mendadak menghentikan langkahnya. Taeyeon berbalik dan mendapati seorang pria setengah baya-tidak lain adalah gurunya sendiri, telah berdiri disana. tatapan pria itu tajam mengintimidasinya.

“apa yang kau lakukan nona Kim? Bukankah kau seharusnya tidak berada disini?” tanyanya heran.

Taeyeon tersenyum kaku. “maafkan aku Park songsaengnim. Aku hanya ingin melihat-lihat sekitar penginapan ini” dia menjawabnya gugup.

Raut wajah pria itu mendadak berubah tegang. Pandangan matanya lurus ke depan seakan menatap tajam hutan di belakangnya.

“jangan pernah ke hutan itu atau kau tidak akan pernah kembali” ucapnya memperingatkan. Nada bicaranya yang serius,entah kenapa membuat bulu kuduk Taeyeon meremang.

Gadis itu tak habis pikir,mengapa gurunya tiba-tiba berkata seperti itu padanya.

“ada apa dengan hutan itu songsaengnim?” Taeyeon bertanya ingin tahu. dia bukanlah tipe gadis yang muda menerima begitu saja apa yang dikatakan orang lain padanya. dia selalu ingin tahu apapun dan sayangnya, kepercayaannya pada orang lain tidak banyak meskipun itu adalah perkataan dari gurunya sendiri. oleh sebab itu, disinilah dia sekarang. bertanya kembali pada gurunya walupun gurunya sudah memberinya tatapan tajam karena pertanyaannya. dia mulai sedikit penasaran dengan keberadaan hutan dan hubungan kalimat larangan dari gurunya itu.

Diluar dugaan,Park songsaengnim berbalik. namun sebelum pergi dia menyuruh Taeyeon untuk segera kembali karena hari sudah sore. Taeyeon terpaksa membiarkan dirinya penasaran kali ini, Park songsaengnim jelas sengaja mengacuhkan pertanyaannya tadi.

Gadis itu kemudian mengangguk pelan meskipun dalam hatinya masih diliputi rasa ingin tahu. dia kembali menolehkan kepalanya memandangi hutan di belakangnya. Ekspresi bingung bercampur heran tampak jelas di wajahnya. kali ini tubuhnya sepenuhnya sudah menghadap lurus berhadapan dengan hutan itu. sebuah perasaan aneh tiba-tiba menyeruak dalam dirinya. rasanya ada sesuatu dalam hutan itu yang membuatnya tak berhenti memandangnya. Sesuatu yang membuatnya tertarik hingga ingin masuk ke dalamnya. Tapi, sebelum dia sempat berpikir untuk mengikuti kata hatinya-yang-tiba-tiba-muncul,bunyi ponselnya membuatnya tersentak dan membuatnya lupa sejenak dengan apa yang dipikirkannya.

Helaan nafas keluar dari mulutnya mengetahui siapa yang menelponnya. segera setelah ia menempelkan ponsel itu ke telinganya, suara ayahnya yang cemas terdengar disana.

“aku baik-baik saja appa,tidak perlu khawatir..” Taeyeon menjawab ayahnya sesaat setelah mendengar ayahnya mencecarnya dengan sekumpulan pertanyaan-pertanyaan tentang perjalanannya. Tak perlu melihat,dari nada suaranya dia sudah tahu kalau ayahnya saat ini pasti sangat mencemaskannya.

“aku akan menelpon appa setelah makan malam. aku harus pergi sekarang..sampai nanti appa” ucapnya lagi sembari bergerak meninggalkan tempat itu. mengabaikan keberadaan hutan yang perlahan-lahan menghilang tanpa disadarinya.

– – –

“kau seharusnya ikut kami..tadi sangattt menyenangkan” wajah Jessica berseri-seri saat menceritakan apa yang mereka lakukan tadi di pantai. mereka tak tahu kalau sebenarnya Taeyeon sudah melihatnya.

Gadis itu hanya tersenyum menanggapinya sembari sibuk menyisir rambutnya yang setengah basah. Dia senang karena mereka akhirnya bisa menikmati masa liburan setelah ujian sekolah yang  berat dan melelahkan.

Sementara kedua sahabatnya sibuk menceritakan beberapa hal, mendadak Taeyeon teringat akan ucapan gurunya tadi tentang hutan di sisi kanan penginapan.

“eh,kalian tahu tentang hutan yang ada disisi kanan penginapan ini?” tanyanya tiba-tiba pada kedua sahabatnya. Jessica dan Yoona otomatis menghentikan pembicaraan mereka dan beralih padanya.

“hutan disisi penginapan?” ulang Yoona sedikit bingung.

Taeyeon mengangguk cepat dan tersenyum, namun sedetik kemudian senyumnya memudar melihat ekspresi bingung keduanya. “apa kalian tidak melihatnya?”

Jessica dan Yoona saling berpandangan lalu kembali menatapnya. kali ini raut heran tampak di wajah keduanya.

“ada apa? apa ada sesuatu yang aneh di wajahku?” Taeyeon ikut bingung. dia segera mencari cermin kecil dalam tas kecilnya.

“bukan di wajahmu tapi di kepalamu”

“mwo?!” Taeyeon berseru keras atas jawaban Jessica padanya.

Yoona tertawa geli melihat ekspresi shock Taeyeon. “tidak ada hutan di sekitar sini Taeyeon..tentu kami melihat pepohonan tapi itu bukan hutan yang kau maksud” ujarnya menegaskan. dia lalu memicingkan matanya-menatap Taeyeon. “apa pengertian hutan sekarang telah berubah?”

Taeyeon memutar bola matanya lalu melempar bantal ke arahnya. Yoona lagi-lagi hanya tertawa meskipun bantal itu mendarat tepat di wajahnya.

“itu sama sekali tidak lucu Yoong!”

“hei aku juga serius. sejak awal kami tak pernah melihat ada hutan di sekitar sini”

Mulut Taeyeon membuka. *t-tidak ada hutan? Bagaimana mungkin? apa mereka tidak melihatnya? jelas-jelas hutan itu berada tepat di samping penginapan tapi kenapa mereka tidak menyadarinya?*

“ck,kau melamun lagi” suara Jessica menyentakkan lamunan Taeyeon. dia menatap sahabatnya yang kini menggeleng-gelengkan kepalanya. “sejak kita berada di tempat ini,kau menjadi sedikit aneh Taeyeon. apa kau sakit?” tanyanya khawatir.

“tapi serius,kalian benar-benar tidak melihatnya?” Taeyeon bertanya lagi-mengabaikan pertanyaan khawatirnya. Gadis itu benar-benar tak mengerti kenapa kedua sahabatnya seakan tidak bisa melihat hutan itu padahal jelas-jelas dia dan guru Park tadi melihatnya disana.

*atau aku hanya berhalusinasi?* Taeyeon menggigit bibir bawahnya sementara ia berpikir keras. tidak ada yang salah dengannya tapi kenapa Jessica dan Yoona..ah tidak. Mungkin mereka hanya bercanda padanya,mereka kan biasanya seperti itu.

“lama-lama kau menjadi sangat aneh Taeyeon. kami jadi takut”

Taeyeon menoleh ke arah Yoona yang berbicara dengannya yang berlagak merinding di depannya. “jangan-jangan ini efek dari jalan-jalanmu tadi. seharusnya kau bergabung bersama kami saja tadi jadi kau tidak perlu berpikir yang aneh-aneh seperti ini” tambahnya.

Taeyeon memaksakan dirinya tersenyum. reaksinya ini membuat ke dua sahabatnya makin mengkhawatirkannya. Tadinya mereka berpikir Taeyeon hanya bercanda atau sekedar ingin bertanya,tapi melihatnya seperti ini..

*hutan?* keduanya membatin dan kembali berpandangan lalu mengangkat bahu. Tidak ada tanda-tanda ada hutan sejak mereka tiba di tempat ini.

*jangan pernah ke hutan itu atau kau tidak akan pernah kembali* ucapan gurunya tadi kembali terngiang di telinga Taeyeon. kalimat itu membuatnya semakin penasaran dengan keberadaan hutan itu.

Jessica dan Yoona yang sejak tadi memperhatikannya hanya diam memperhatikannya. mereka heran mengapa hutan itu begitu membuat sahabat mereka sampai berpikir keras, tapi meski demikian, mereka tidak ingin membahas masalah ini lagi karena mereka tahu, seberapa kerasnya Taeyeon jika apa yang di anggapnya itu benar.

– – –

Taeyeon memandang sekelilingnya. Tidak ada yang bisa dilihatnya,semuanya gelap.

*dimana aku?* Kakinya melangkah pelan menyusuri jalan di depannya yang sama sekali tak bisa dilihatnya. Kedua tangannya terangkat seakan meraba-raba dengan kecemasan yang mulai meliputinya karena tak menemukan satu titik cahayapun dari kegelapan itu. tapi satu hal yang pasti di ketahuinya,dia berada dalam hutan. Bunyi gemerisik daun-daun kering yang di injaknya serta beberapa kali tangan mungilnya hampir menabrak batang pohon sepanjang jalannya membuatnya yakin kalau saat ini dia berada di hutan.

Tiba-tiba, dari jauh sebuah cahaya perlahan bergerak ke arahnya. matanya mengejap berulang-ulang, memastikan apa yang di lihatnya. Taeyeon membulatkan matanya, tak percaya dengan penglihatannya. Di depannya kini telah berdiri seekor binatang dengan bulu berwarna putih ke emasan. Segera saja ia tahu kalau sesuatu yang bersinar tadi berasal dari tubuh makhluk itu.

Taeyeon tak bisa memalingkan pandangannya dari makhluk itu. makhluk dengan bulu yang indah itu seakan menghipnotisnya. mereka saling bertatapan dan Taeyeon tak memungkiri, meskipun tampak menakutkan dengan mata merah, makhluk itu membuatnya terpesona. Untuk beberapa saat mereka hanya saling menatap-tak bergerak sedikitpun. Mendadak Taeyeon merasa matanya perlahan-lahan mengabur sebelum akhirnya gelap memenuhinya.

Taeyeon membuka matanya dan terbangun. Nafasnya masih tersengal-sengal sementara peluh di sekujur tubuhnya membuktikan kalau beberapa detik yang lalu dia berada di alam mimpi. Tangannya menyentuh dadanya dan di dalam sana jantungnya terasa berdebar sangat keras.

*mimpi ini lagi…* pikirannya diliputi rasa penasaran dan heran. ini kesekian kalinya dia bermimpi seperti itu. sejak usianya menginjak 17 tahun,mimpi aneh itu selalu datang dalam tidurnya. Hutan dan makhluk berwarna putih ke emasan itu selalu ada disana. terus berulang-ulang hingga kini usianya sudah menginjak 18 tahun.

Dia berpaling ke arah dua sahabatnya yang tengah tertidur pulas di ranjang mereka. senyum tipis terukir di wajahnya sesaat kemudian dia kembali membaringkan tubuhnya. matanya tak segera terpejam karena mimpi tadi masih menyita perhatiannya. Segumpal pertanyaan besar singgah di otaknya. Apa hubungan hutan dan makhluk itu dengan dirinya?

*hutan* hati kecilnya tiba-tiba memekik. Gadis itu terkejut. Dia tak mengira akan memikirkan hutan itu lagi. *mungkinkah ini ada hubungannya?* tanyanya dalam hati. kepalanya menggeleng mencoba menepis apa yang baru terlintas di pikirannya. tapi meskipun ia berusaha, perasaan aneh itu tetap ada hingga akhirnya dia memutuskan. *sepertinya aku harus masuk ke dalam hutan itu. harus!* tekadnya sudah bulat. Dia akan mencoba memasuki hutan itu besok dan tidak ada siapapun yang bisa menghentikannya. Selain itu,dia juga ingin memastikan sendiri,apakah hutan itu hanya halusinasinya saja atau memang kenyataan yang sengaja di buat candaan oleh kedua sahabatnya.

***

*ternyata hutan ini benar-benar ada* Taeyeon tersenyum senang. Dia sudah berdiri tepat dihadapan hutan lebat yang kemarin di lihatnya. Ini bukan halusinasinya karena hutan itu benar-benar ada disana.

Setelah sarapan pagi, disaat semua sedang sibuk dengan kegiatan mereka, Taeyeon diam-diam menyusup ke arah hutan itu. beruntung, tak ada siapapun yang melihatnya termasuk kedua sahabatnya yang tidak menyadari kalau dia telah meninggalkan tempatnya.

Kali ini, Taeyeon sudah mantap akan masuk ke dalam hutan itu. dengan berbekal kamera yang bergantung di lehernya dengan iringan helaan nafas dalamnya, pelan-pelan kakinya pun melangkah memasuki hutan itu. sosok mungilnya semakin jauh dan akhirnya menghilang tanpa siapapun mengetahuinya atau bahkan melihatnya. yah, Taeyeon telah melawan rasa takutnya. Dia telah mengambil pilihan, sebuah pilihan yang tak disadarinya akan merubah hidupnya. Segera setelah itu, hutan itu pun ikut menghilang bersamanya.

– – –

Mata Taeyeon semakin berbinar-binar tatkala menyaksikan sendiri apa yang ada di dalam hutan itu. mulutnya tak berhenti berdecak kagum, dia benar-benar terkesima dengan apa yang dilihatnya. Di luar dugaan, isi dalam hutan itu jauh lebih indah dari yang terlihat di luar. Celah-celah pepohonan hijau yang menjulang tinggi terkena sinar matahari, terlihat seperti membentuk benang-benang halus yang terjalin dengan indah di antara ranting-ranting pohon yang berjuntai ke bawah.  Sama sekali tidak ada kesan menakutkan atau menyeramkan seperti yang biasa di lihatnya di film-film. Berbagai macam bunga dan jenis tanaman unik terhampar luas di setiap sisi pohon, tertata dengan indah seakan seseorang telah merawatnya dengan baik.

Matanya memandang sekelilingnya dan sebersit keheranan pun timbul dalam hatinya. di tempat yang begitu jauh dari kota,sedikit aneh jika dia tak pernah tahu kalau tempat seperti ini ada. Atau mungkin dia hanya tidak tahu saja? sebagai gadis yang cukup pintar di sekolah,dia sedikit bisa melihat peta dan anehnya,tempat itu tak terlihat di peta bahkan gps di ponselnya. Dia mengangkat ponselnya tinggi-tinggi tapi tetap saja tak menemukan jaringan satupun di layarnya. *aish* dengan kesal dia pun kembali memasukkan ponsel itu ke dalam sakunya lalu kembali berjalan ke depan.

Tanpa disadari olehnya,gadis itu semakin masuk ke dalam hutan itu. masih terpesona dengan keindahannya,dia bahkan tak menyadari kalau ia telah melewati gerbang dimensi yang menghubungkan dunia nyata dengan dunia lain yang tidak pernah di ketahuinya. Kaki kecilnya terus melangkah,membiarkan tubuhnya mengikuti kemana kedua anggota tubuhnya itu memijak.

Sungguh, Taeyeon benar-benar menikmati waktunya. Dia tak pernah gagal memotret pemandangan yang di rasanya bagus. Bunyi klik terus terdengar dari kameranya sepanjang ia berjalan. Kakinya seakan tak pernah letih dengan perjalanannya. Sesekali senyum puas nampak di wajahnya ketika melihat hasil jepretannya. Tanpa terasa,waktu berlalu dan hari sudah mulai sore.

*kurasa ini sudah cukup* kepalanya menengadah ke atas,langit sore dengan guratan jingga tampak indah disana.

Taeyeon memutar tubuhnya, berbalik hendak pulang namun suara tangisan yang tiba-tiba terdengar, menghentikannya. Gadis itu tersentak kaget sembari menajamkan pendengarannya. Mungkin saja apa yang di dengarnya tadi hanya angin lalu, namun apa yang di dengarnya membuatnya terkejut, suara tangisan itu semakin jelas. Tubuhnya berdiri kaku selama beberapa detik saat suara itu semakin terdengar tajam.

Gadis itu merasakan tubuhnya merinding dengan berbagai pikiran negatif yang terlintas di dalam kepalanya. siapa yang tidak akan berpikiran negatif jika tiba-tiba saja terdengar suara tangisan di sertai suara memelas minta tolong di dalam hutan? Begitulah yang dirasakannya sekarang. takut.

Dia mencoba mengabaikannya dan terus melangkah pergi tapi suara itu terdengar semakin memelas membuatnya kembali berhenti. gadis itu pun menarik nafas dalam-dalam berusaha menenangkan dirinya dari rasa takut yang tiba-tiba menyelimutinya lalu kemudian kembali menajamkan pendengarannya. Akhirnya,dia memutuskan untuk mencari asal suara itu.

“tolong..”

Suara itu semakin dekat dan Taeyeon semakin mempercepat langkahnya. tak lama setelahnya, diapun berhenti. tidak jauh di depannya, seorang gadis kecil terduduk di atas rumput dengan kedua tangannya memegangi kakinya. hanya dengan sekali lihat,Taeyeon langsung tahu kalau gadis itu lah yang berteriak meminta tolong tadi.

Dengan ragu,Taeyeon berjalan mendekatinya. Tapi dia kembali berhenti saat gadis kecil itu mengangkat kepalanya-melihatnya. gadis kecil itu menghapus air matanya dan tersenyum cerah padanya. Taeyeon tersentak. *imut sekali* batinnya. gadis itu seperti boneka, dia memiliki mata berwarna biru langit, kulitnya yang putih seperti susu terlihat begitu halus, rambutnya yang ikal pirang di biarkan terurai hingga ke batas pinggangnya.

“eonni..”

Taeyeon lagi-lagi terkejut. Mulutnya sedikit membuka. *b-barusan dia memanggilku dengan eonni kan?* dia hampir tak percaya dengan pendengarannya. Tubuhnya masih terpaku di tempatnya sampai akhirnya gadis kecil itu kembali memanggilnya dengan panggilan yang sama. Namun bedanya, kali ini suaranya terkesan merengek padanya dan raut wajahnya seperti ingin menangis lagi.

“eonni..kakiku sakit”

Mendengarnya merengek seperti itu, membuat Taeyeon tidak tega. Dia segera menghampiri gadis kecil itu tanpa mempedulikan dimana sekarang ia berada dan tanpa bertanya pada hatinya mengapa tiba-tiba seorang gadis kecil ada disana juga untuk sesaat ia melupakan tujuannya yang hendak pulang ke penginapan. salah satu kelemahannya, dia terlalu polos untuk hal-hal seperti ini. jiwa keibuan dan jiwa sosialnya terlalu tinggi. Dia tidak akan tega melihat orang kesakitan lebih lama.

“coba kulihat” Taeyeon berjongkok di depannya dan mulai memeriksa kaki gadis kecil itu. dia konsentrasi pada bagian kakinya yang sakit tanpa menyadari kalau gadis kecil itu sejak tadi memperhatikannya. “kakimu sepertinya terkilir” ucap Taeyeon lagi lalu tersenyum pada gadis kecil itu.

Kaki anak itu memang terkilir dan ada sedikit luka disana. mungkin itulah yang menjadi penyebab kenapa ia sampai menangis tadi. gadis kecil itupun tersenyum ceria dan Taeyeon hampir tak bisa menahan dirinya untuk tidak mencubit pipinya karena gemas.

Dia lalu mengeluarkan sapu tangan di dalam saku celananya lalu mengikatnya pada kaki gadis kecil itu agar darah tidak keluar disana.

“sekarang sudah tidak apa-apa”

Gadis kecil itu mengejapkan matanya-menatap kakinya dengan kagum. “waaah..eonni terima kasih!” serunya senang.

Taeyeon hanya tertawa kecil seraya mengacak-acak rambutnya. *wah,rambutnya halus sekali* batinnya terpukau.

“nama eonni siapa?” gadis kecil itu tiba-tiba bertanya padanya.

Taeyeon agak tersentak tapi kemudian menjawabnya dengan senyuman di wajahnya. “Kim Taeyeon” dia sedikit banyak mulai menyukai anak itu.

“waahh nama yang sangat pas untuk eonni yang cantik dan baik hati” puji gadis kecil itu.

Wajah Taeyeon otomatis bersemu merah mendengarnya.

“namaku Sunny eonni” gadis kecil itu memperkenalkan dirinya tanpa di pinta.

Taeyeon tersenyum geli. sungguh,gadis kecil itu terlalu cute dan manis.

“baiklah Sunny,apa yang kau la-“

Woof!woof!

Kalimat Taeyeon terpotong oleh suara aneh yang berasal dari kejauhan. Dia refleks berdiri di ikuti Sunny yang bertumpu padanya. setelah memastikan gadis kecil itu berada di belakangnya, diapun memutar tubuhnya lurus ke depan-menanti dengan cemas makhluk apa yang akan menghampiri mereka.

“eonni”

Suara gadis kecil itu membuatnya menoleh. tatapannya melembut saat melihat Sunny menyentuh ujung bajunya. *dia pasti ketakutan* diluar dugaan, Sunny sama sekali tidak menunjukkan raut takut dan itu membuatnya sedikit heran tapi terkesan.

“diam disini. Jangan khawatir,eonni akan menjagamu” ucapnya dengan suara yang menenangkan. Dia kembali mendorong pelan Sunny agar bersembunyi di belakangnya sementara dia berhadapan dengan makhluk yang semakin dekat dengan tempat mereka. tanpa diketahui Taeyeon,Sunny diam-diam tersenyum. dia merasa sangat senang karena Taeyeon melindunginya.

Woof!woof!woof!

Bunyi gemerisik dedaunan yang terinjak membuat nyali Taeyeon sedikit menciut. Dia semakin cemas membayangkan jika nanti makhluk itu menampakkan wujudnya. kedua tangannya mengepal kuat sementara keringat mulai membasahi tengkuknya. Gadis itu terkesiap,seekor makhluk dengan bulu berwarna putih ke emasan berdiri tidak jauh dari tempat mereka. Makluk yang menyerupai anjing tapi jika di perhatikan baik-baik,dia bukanlah anjing.

Taeyeon terkejut namun keningnya mendadak berkerut seakan baru saja menyadari sesuatu. makhluk yang dilihatnya itu mirip atau bahkan sama dengan yang di lihatnya dalam setiap mimpi-mimpinya.  Tidak mungkin jika itu suatu kebetulan bukan? Begitulah yang dipikirnya. Tapi kenapa? kembali dia bertanya pada dirinya sendiri. sementara ia larut dalam pikirannya,makhluk di depannya itu terus menatapnya hingga membuatnya tersentak karena tatapannya. wajahnya berubah pucat bersamaan dengan nafasnya yang tertahan karena takut dan cemas.

Woof!

Makhluk itu kembali bersuara. Suaranya serasa mengirimkan getaran-getaran di seluruh tubuh Taeyeon yang membuat gadis itu merinding hanya dengan mendengarnya.

“Luhan!”

Taeyeon sekali lagi terkejut. Dia memutar pelan kepalanya ke arah Sunny yang sudah memberinya senyum polosnya.

*L-Luhan?* tatapnya tak percaya. Belum sempat ia bertanya pada Sunny, makhluk itu sudah berlari dan langsung menerjangnya tanpa aba-aba hingga membuat mereka terjatuh di atas rumput. Taeyeon sempat mendengar suara Sunny berseru padanya dan sekali lagi mendengar gadis kecil itu menyebut sebuah nama yang sebelumnya telah di dengarnya. Luhan.

“Luhan!”

Mata Taeyeon memejam erat. *apa aku sudah mati? apa makhluk itu telah memakanku?*

Woof!woof!

*suara itu!* keningnya berkerut bersamaan dengan itu,ia merasakan sesuatu yang berat di atas tubuhnya. dengan ragu-ragu,ia pun membuka matanya. matanya membulat sempurna,makhluk tadi telah berada di atasnya-menatapnya dengan mata yang tajam.

Taeyeon seketika gugup tapi matanya tak pernah lepas dari mata makhluk itu. untuk sesaat dia serasa tenggelam di dalam tatapannya. Tapi itu tak bertahan lama karena makhluk itu tiba-tiba menjilat pipinya membuatnya terkejut. Tubuhnya seketika membatu di atas hamparan rumput kering itu, tidak tahu apa yang harus di lakukannya sementara makhluk itu atau bisa di sebut binatang itu masih berada di atasnya. Menjilati wajahnya.

“Luhan!”

Kesadaran Taeyeon kembali setelah mendengar suara Sunny.

“h-hentikan!” Taeyeon berteriak keras. diantara kegugupan dan ketakutannya,dia berusaha untuk menghentikan makhluk itu. tapi sepertinya Makhluk itu tidak ingin melepaskannya. “aku bilang hentikan!” serunya lagi. kali ini lebih keras.

Berhasil. Makhluk itu akhirnya menghentikan apa yang dilakukannya, tapi itu tidak membuatnya turun dari tubuhnya. Taeyeon terdiam, makhluk itu kini menatap lurus padanya. sedetik kemudian,makhluk itu memiringkan kepalanya seraya mengejap dengan polos. Taeyeon tertegun melihatnya. meskipun dia kesal pada makhluk itu,dia tak memungkiri kalau makhluk di depannya itu kelihatan sangat cute dengan melakukan gerakan itu.

Untuk beberapa saat mereka terus dalam posisi itu. saling menatap satu sama lain. ketakutan Taeyeon tadi kini berangsur-angsur memudar. Dia larut dalam tatapan makhluk itu. seperti ada sesuatu dari tatapan matanya yang membuatnya tak bisa berpaling. Tapi lagi-lagi Sunny menyentakkan keduanya.

“yah Luhan, apa yang kau lakukan pada Taeyeon eonni?!” Sunny langsung menarik paksa makhluk yang bernama Luhan dari atas tubuh Taeyeon dan menempatkannya sejauh mungkin.

Taeyeon tersenyum canggung lalu berdiri sambil merapikan pakaiannya. Dia tersentak kaget saat Sunny tiba-tiba membungkukkan badannya.

“maaf Taeyeon eonni…Luhan sudah menyakitimu”

Pandangan Taeyeon meneduh mendengar permintaan maafnya. Dia tersenyum lalu sekilas melirik makhluk yang telah berada di samping Sunnya. Dia sedikit salah tingkah karena makhluk itu masih menatapnya. *apa yang kupikirkan?! Gosh..Taeyeon, kau tidak mungkin salah tingkah hanya karena di tatap oleh makhluk itu* dia ingin sekali memukul kepalanya karena telah berpikir yang macam-macam tentang makhluk itu. tapi mengapa, sepintas dia merasa di tatap oleh manusia bukan binatang sepertinya?

“gwenchana Sunny..hewan peliharaanmu tidak menyakitiku”

Sunny menggeleng cepat sedangkan makhluk di sampingnya telah sibuk menjilat bulunya-tak menaruh perhatian pada pembicaraan mereka.

“tidak eonni..biasanya Luhan tidak seperti ini. dia bahkan membenci orang asing yang masuk ke daerah kami tapi aku ti-“

“tunggu!” Taeyeon menghentikan kalimatnya. kini wajahnya di penuhi ekspresi bingung. “kau bilang daerah kami? A-apa maksudmu?” tanyanya masih bingung. entah mengapa mendengar perkataan Sunny membuat perasaannya menjadi tidak enak. Makhluk itu-Luhan menghentikan kegiatannya dan kini fokus mendengarkannya.

Kini giliran Sunny yang memasang tampang bingungnya. “eonni tidak tahu?” dia balik bertanya. Taeyeon dengan polos menggeleng.

Gadis kecil itu terlihat berpikir sejenak, tangannya mengetuk-etuk dagunya seakan berpikir keras. mendadak raut wajahnya berubah sedih. Taeyeon semakin bingung dan mulai cemas.

“maaf eonni..”

Taeyeon semakin cemas dan pikirannya mulai memikirkan hal yang tidak-tidak. “k-kenapa kau berkata seperti itu Sunny?” tanyanya berusaha bersikap tenang.

“eonni telah masuk ke dalam hutan larangan dan jika sudah melewati gerbang dimensi, tidak ada jalan untuk keluar dari sini” Sunny menjelaskan, raut serius yang di tunjukkannya membuat Taeyeon terdiam.

Gadis itu masih memproses apa yang di ucapkan Sunny hingga kemudian wajahnya perlahan berubah pucat. *t-tidak mungkin* mulutnya membuka ingin mengatakan sesuatu tapi kembali menutup *ini tidak mungkin* berulang kali ia meyakinkan dirinya kalau Sunny mungkin hanya bercanda.

“eonni..kau baik-baik saja?” Sunny bertanya cemas. melihat wajah gadis di depannya sudah pucat, dia segera tahu kalau dia tidak baik-baik saja.

Tapi diluar dugaan gadis kecil itu, Taeyeon tertawa kecil yang langsung mendapat tatapan heran darinya.

“gerbang dimensi? Kau pikir aku percaya? Kau pasti bercanda kan Sunny?” pertanyaan-pertanyaan itu terlontar dari bibir Taeyeon. kemudian tanpa menanti tanggapan Sunny, dia segera memalingkan pandangannya ke seluruh tempat itu dan anehnya tempat itu sedikit berubah. atau mungkin dia yang tidak memperhatikannya?

Taeyeon belum putus asa, dia berjalan ke setiap salah satu sisi tempat itu tapi tak juga menemukan sesuatu yang membuatnya ingat darimana arahnya saat ia datang menghampiri gadis kecil itu tadi. lambat laun dia mulai cemas karena putus asa. Tubuhnya berbalik memandangi Sunny dan Luhan yang tidak jauh darinya.

“k-kau pasti bercanda kan?” Taeyeon bertanya lagi. hati kecilnya masih berharap, “mana mungkin aku tidak bisa keluar dari hutan ini. aku tahu jalan keluar dari sini. disa..na..” kalimatnya menggantung begitu saja begitu menyadari arah yang ditunjuknya tadi sudah berbeda sejak ia mencari jalan keluar tadi. seluruh pohon yang menjulang tinggi terlihat nampak sama, semuanya seakan membentuk sebuah dinding pohon yang besar.

Wajah Taeyeon semakin memucat, mendadak tubuhnya lunglai tak bertenaga dan akhirnya merosot ke bawah. Terduduk di atas rumput kering itu.

“kenapa bisa begini..?..a-aku jelas-jelas melihat jalanan di sana tapi kenapa sekarang tidak ada?” Taeyeon mulai terisak.

Sunny mendekatinya dan berjongkok di depannya. “saat memasuki hutan ini, eonni pasti tidak sadar kalau eonni sudah melewati gerbang dimensi. Itulah sebabnya sekarang eonni melihat semuanya menjadi berbeda. Ini bukanlah tempat terlarang dan tidak semua orang bisa masuk kemari” dia berusaha menjelaskan tapi Taeyeon tidak ingin mempercayainya.

“tidak ada gerbang dimensi di hutan ini!” suaranya meninggi. Rasa takut,kesal,cemas dan kecewa bercampur aduk dalam hatinya.

Sunny sedikit tersentak tapi dia tak bisa menyalahkan Taeyeon. dia justru kasihan padanya. “kumohon..bawa aku pulang…aku tidak bisa berada di tempat ini..aku ingin pulang…” Taeyeon memelas. Dalam keadaan seperti ini dia jadi merindukan ayahnya. dia ingin segera pulang dan bertemu ayahnya.

*seharusnya aku tidak kemari* air matanya semakin deras membasahi pipinya, dia mulai menyesal mengikuti perjalanan wisata sekolahnya.

“eonni..” Sunny ingin menenangkannya tapi pada akhirnya ia tak bisa melakukan apapun padanya.

Luhan perlahan berjalan ke depan dan berhenti tepat di hadapan Taeyeon. gadis itu tersentak kaget, seketika tubuhnya kaku di tempat. Tanpa di duganya,binatang itu langsung menjilat air mata di pipinya. tindakannya itu juga membuat Sunny terkejut. Usai menjilatinya, Luhan menatap lurus ke arahnya. Taeyeon masih diam-membalas tatapan binatang itu. menatap ke dalam matanya, perasaannya seakan berkata kalau binatang itu telah memberitahunya bahwa semua akan baik-baik saja. entah bagaimana hal itu membuatnya sedikit tenang dan membuatnya tak lagi menangis. Binatang itu kemudian membaringkan kepalanya di atas pangkuannya-meringkuk manja padanya. surprise dengan tindakannya, Taeyeon perlahan tersenyum. baginya, Luhan adalah binatang yang sangat cute dan lucu. Tangannya terangkat otomatis membelai kepala Luhan dan binatang itu nampak sangat menikmatinya.

Sunny yang melihat pemandangan di depannya tersenyum. dia baru melihat Luhan bersikap seperti itu pada orang asing.

“eonni..kau baik-baik saja?” tanyanya, masih mengkhawatirkannya.

Taeyeon beralih padanya dan mengangguk lemah.

Senyum sumringah semakin tampak di wajah Sunny. Meskipun dia bisa merasa Taeyeon masih belum menerima kenyataan kalau dia mungkin tak bisa pulang, setidaknya gadis itu tak lagi menangis.

“eonni tidak perlu khawatir..selama disini,eonni bisa tinggal di rumahku” ucapnya dengan wajah berseri-seri.

“kau punya rumah? Di dalam hutan ini?” Taeyeon mengeryit. Luhan beranjak dari pangkuannya dan berdiri di sampingnya.

Sunny hanya mengangguk. “ayo”

Gadis kecil itu langsung menarik tangan Taeyeon agar mengikutinya. tidak punya pilihan lain, Taeyeon membiarkannya. Kini mereka bertiga menyusuri hutan itu. Luhan berjalan di samping Taeyeon, binatang itu seakan tidak ingin pergi jauh darinya. dan Taeyeon, dia sama sekali tidak keberatan. Sepertinya dia juga mulai menyukai binatang itu.

– – –

Mata Taeyeon membulat sempurna, mulutnya membuka dengan kagum. Hanya beberapa menit perjalanan, mereka kini telah tiba di depan sebuah puri yang sangat besar. *d-dia tinggal disini?* Taeyeon tercengang dengan apa yang dilihatnya. Pandangannya lalu beralih pada Sunny yang hanya menyunggingkan senyum melihat reaksinya.

“i-ini rumahmu?” tanyanya masih tak percaya. Bagaimana mungkin di hutan ini ada puri sebesar ini? tapi kenyataannya,puri itu benar-benar nyata.

Sunny langsung mengangguk cepat. “selain Luhan, aku tinggal bersama ibu-“

“Luhan!”

Taeyeon tersentak kaget mendengar suara teriakan itu. dia lalu menoleh pada Sunny yang masih tetap tersenyum seakan itu adalah hal yang biasa di dengarnya. Tapi yang membuatnya heran adalah Luhan. Binatang itu nampak ketakutan dan bersembunyi di belakangnya.

“uh-oh” Sunny bergumam. Taeyeon menjadi semakin penasaran sekaligus cemas dengan apa yang akan terjadi nanti.

Di depan pintu besar-yang sepertinya pintu utama, telah berdiri seorang wanita paruh baya. mendadak Taeyeon menjadi gugup karena cara wanita itu menatapnya seakan ingin memangsanya hidup-hidup. Suara geraman kecil Luhan yang berada di belakangnya membuatnya melirik padanya. saat itu Taeyeon tahu, wanita itu tidak sedang menatapnya melainkan Luhan yang bersembunyi di belakangnya. Bahkan wanita itu sama sekali tidak menaruh perhatian padanya.

“kemari” ucap wanita itu sambil menatap ke arah Luhan. Suaranya yang serak mampu membuat Taeyeon bergidik. “aku bilang kemari” kali ini terdengar seperti peringatan.

Luhan berjalan pelan ke arahnya. situasi ini semakin membuat Taeyeon heran dengan apa yang akan dilakukan wanita itu hingga binatang itu tampak ketakutan. Seketika matanya membulat lebar ketika wanita itu memperlihatkan cambuk panjang di tangannya. rupanya sejak tadi dia sengaja menyembunyikan sebelah tangannya yang memegang sebuah cambuk di balik punggungnya.

Detik kemudian,Taeyeon menutup matanya kuat-kuat. Dia tak bisa melihat adegan di depannya. suara cambukan yang bercampur dengan dengkingan lemah dari Luhan membuatnya ingin menutup telinganya tapi itu tak di lakukannya. Anehnya,Sunny hanya diam menyaksikan kejadian itu.

“sudah berapa kali kukatakan padamu, kau harus selalu menjaga Sunny baik-baik tapi lihat yang terjadi padanya!” lagi,suara cambukan itu menggema. “kau membuat putriku terluka! Dasar binatang tak tahu terima kasih!” cambukan itu semakin sering. “aku memeliharamu dan memberimu makan tapi kau tidak becus melakukan tugasmu!!”

Taeyeon tidak tahan lagi. dia tidak tega mendengar suara Luhan yang seakan memelas dan kesakitan.

“sudah cukup..” suaranya yang pelan tidak terdengar oleh wanita itu. dia menggelengkan kepalanya, memandangi Luhan yang kini roboh di tanah. “aku bilang sudah cukup!” serunya keras membuat wanita itu menghentikan tindakannya. Sunny di sampingnya ikut terkejut.

“eonni…”

“aku mohon jangan menyiksanya nyonya..dia sudah tidak berdaya” Taeyeon memelas. Dia hampir menangis melihat kondisi Luhan saat ini.

Wanita itu menaikkan sebelah alisnya, memandangnya dengan selidik. “siapa kau?”

Saat itulah Sunny menghampiri wanita itu. meskipun jalannya masih tertatih-tatih, senyum masih nampak di wajahnya.

“dia eonni yang menolongku ibu..” Sunny menjawabnya.

Seketika raut wajah wanita itu berubah. dia tersenyum pada Taeyeon. gadis itu bingung tapi akhirnya ikut memaksakan diri untuk tersenyum.

“benarkah? Waahhh..terima kasih nona..” ucapannya menggantung,keningnya mengeryit. Dia dia belum tahu nama gadis asing di depannya.

“Taeyeon. namaku Kim Taeyeon nyonya” Taeyeon segera memperkenalkan dirinya.

“ah nona Taeyeon. aku sangat berterima kasih padamu karena telah menolong putriku. Aku Hwang Nari, ibu Sunny”

Taeyeon cukup terkejut dengan cara bicara wanita itu, nyonya Hwang begitu dia memanggilnya. Dia sama sekali tak terlihat seperti wanita jahat yang sanggup membuat binatang tak berdaya dengan cambuknya.

“ibu, Taeyeon eonni tidak bisa keluar dari hutan ini. bolehkah dia tinggal bersama kita?” Sunny tiba-tiba bertanya pada ibunya. Nyonya Hwang kelihatan terkejut mendengarnya.

“kau masuk ke hutan larangan?” tanyanya pada Taeyeon yang hanya mengangguk sambil tersenyum kaku.

Gadis itu kurang nyaman dengan sikap manisnya yang tiba-tiba,apalagi Luhan masih ada disana,tak di pedulikan. Sedikit banyak pikirannya telah terisi oleh binatang itu. dia ingin menolongnya tapi mengingat dia hanyalah seorang tamu,akhirnya dia memutuskan untuk diam.

“maafkan aku nyonya, aku sama sekali tidak tahu kalau hutan itu adalah hutan larangan” Taeyeon berucap pelan. dia tersenyum pahit memikirkan dirinya yang tak bisa keluar dari hutan itu lagi.

Nyonya Hwang terkekeh pelan. “kau tidak perlu meminta maaf Taeyeon..sebenarnya itu bukanlah benar-benar hutan larangan seperti yang dikatakan Sunny padamu” jelasnya sambil tersenyum.

Taeyeon menjadi bingung. jika itu bukan hutan larangan, lalu kenapa dia tak bisa kembali? Apa Sunny mengatakan kebohongan padanya?

Melihat reaksi Taeyeon, nyonya Hwang kembali terkekeh. “masuklah..kau pasti sangat kelelahan” ujarnya.

Taeyeon tampak ragu-ragu mengangguk. Disatu sisi, dia masih ingin mendengarkan penjelasan wanita itu tentang hutan larangan itu dan disisi lain dia ingin memastikan Luhan baik-baik saja setelah di cambuk berulang-ulang olehnya.

“b-bagaimana dengan Luhan, nyonya?” tanyanya hati-hati. dia bisa merasakan nyonya Hwang berusaha menahan amarahnya dan Sunny yang menyentuh tangannya lalu menggeleng seakan memintanya untuk tidak berkata lagi.

Taeyeon benar-benar tak mengerti, kenapa gadis kecil itu sama sekali tidak memperdulikan hewan peliharaannya sendiri? bukankah dia menyayanginya? Tapi kenapa dia membiarkan ibunya melakukan hal itu pada Luhan? Aneh. Yah, sejak masuk ke dalam hutan itu,semuanya terlihat aneh baginya. Diam-diam dia sedikit takut jika nantinya dia akan bersikap aneh seperti mereka.

“dia akan baik-baik saja” jawab nyonya Hwang dengan tenang. beberapa detik setelah ucapannya,Luhan perlahan berdiri dengan ke empat kakinya. meskipun sedikit sempoyongan, dia tampak baik-baik saja. binatang itu tak sedikitpun mengalihkan pandangannya dari Taeyeon. dia tidak peduli apapun meski nyonya Hwang kini memandang ke arahnya.

“jangan berharap ada makan malam untukmu” dia menatap dingin pada Luhan, tapi binatang itu tetap tidak mempedulikannya. Dia seperti lebih tertarik menatap Taeyeon daripada memikirkan sakit di tubuhnya juga ucapan wanita itu padanya. erangan kecil sesekali keluar dari mulutnya, tapi itu tidak berarti banyak untuknya. Dia telah terbiasa dengan perlakuan itu.

Nyonya Hwang berbalik dan tersenyum pada Taeyeon. “masuklah,hari sudah mulai malam” wanita itu lalu memapah putrinya masuk ke dalam puri itu dengan Taeyeon yang menyusul di belakangnya. Taeyeon mau tidak mau mengikutinya. sesekali dia menoleh ke belakang dan ternyata Luhan masih memandanginya. Cepat-cepat dia memalingkan wajahnya kembali, entah kenapa di tatap seperti itu membuatnya salah tingkah. binatang itu seakan-akan sedang mengawasinya. Langkahnya di percepat-tahu Luhan mengikutinya di belakang.

– – –

Taeyeon merebahkan tubuhnya di atas ranjang lalu memejamkan matanya. Kamar yang di tempatinya begitu luas. Dia hampir tak percaya kalau kini dia benar-benar berada dalam puri yang terlihat seperti istana dalam buku dongeng yang dulu pernah di bacanya. Jika dia menceritakannya pada Yoona dan Jessica, akankah keduanya mempercayainya? dia menggelengkan kepalanya, kemungkinan jawaban kedua sahabatnya itu adalah tidak. Mengingat kedua sahabatnya, matanya langsung membuka. Dia perlahan bangkit dari ranjang dan berjalan menuju tas kecilnya, dimana ia menyimpan kameranya lalu setelah itu kembali duduk di sisi ranjangnya. Senyum terukir di wajahnya, sesekali tawa kecilnya menggema ketika melihat gambar-gambar yang berhasil di abadikan dalam kameranya. Perlahan, senyum itu memudar hingga menghilang, dia mulai merindukan kedua sahabatnya juga ayahnya.

Bunyi ketukan bersamaan dengan suara wanita dari luar kamarnya, menyentakkannya. Taeyeon buru-buru menghapus air matanya yang tanpa sadar membasahi pipinya. dia menyimpan kembali kamera itu ke dalam tasnya lalu berjalan menuju pintu kamarnya. segera setelah membuka pintu itu, seorang wanita yang berumur kira-kira 30an tersenyum padanya. Taeyeon hanya tersenyum kaku membalasnya.

“selamat malam nona Kim..” wanita itu membungkuk hormat padanya. “makan malan telah siap, nyonya menyuruhku untuk memanggil anda”

Taeyeon mengangguk pelan kemudian mengucapkan terima kasih padanya. dia kemudian mengikuti wanita itu menuju ruang makan. Seperti bayangannya, ruang makan itu pun sangat luas. Ruangan bernuansa klasik yang tampak elegan dengan lampu-lampu hias di setiap sudut. Di tengah ruangan terdapat sebuah meja panjang dengan beberapa lilin yang berbaris rapi di tengah-tengah meja.

“eonni!” Sunny bersorak kegirangan saat melihatnya. Nyonya Hwang pun telah duduk disana. wanita itu tampak tenang dan anggun, sungguh berbeda jauh dengan saat pertama kali melihatnya.

“silahkan duduk nona Kim” ny Hwang dengan ramah mempersilahkannya duduk.

Taeyeon hanya mengangguk pelan. Meski sedikit canggung, dia pun akhirnya mengambil tempat duduk di depan Sunny. Makanan yang terhidang di depan meja membuatnya semakin tak bisa menahan rasa lapar yang sejak tadi menggerogotinya. Semua hidangan terlihat sangat lezat dan bergaya ala makanan restoran. Sangat mahal dan mewah.

“makanlah Taeyeon, jangan malu-malu” ny Hwang seakan bisa membaca pikirannya yang ragu-ragu menyentuh makanan itu.

“eonni makanlah yang banyak. bibi sengaja memasak makanan ini untuk kita” Sunny ikut-ikutan menyuruhnya.

Taeyeon hanya tersipu malu dan mulai menyendok makanan di depannya. saat ia hendak memasukkan makanan itu ke mulutnya, matanya tak sengaja memandang ke belakang Sunny. *kenapa aku tidak menyadarinya kalau sejak tadi dia berada disana* dia meletakkan kembali sendoknya, tak berniat menyentuhnya lagi. binatang yang bernama Luhan itu berdiri diam tak jauh di belakang Sunny dan kini menatap ke arahnya. bila mengingat ucapan ny Hwang pada binatang itu, Taeyeon menjadi tidak enak. Dia merasa kasihan pada Luhan yang tidak akan mendapatkan makan malam. pastilah sekarang binatang itu sangat kelaparan.

“jangan pikirkan dia”

Taeyeon tersentak dan menoleh pada ny Hwang yang tadi berbicara. wanita itu tetap menikmati makanannya seakan tidak terjadi apa-apa. dia seakan mengerti arti pandangan kasihan Taeyeon pada Luhan.

Gadis itu melirik Sunny dan diluar dugaan, gadis kecil itu kelihatannya juga tidak peduli. ini membuatnya bertanya-tanya, apakah Luhan memang selalu di perlakukan seperti in? Taeyeon mulai kembali memakan makanannya. Dia tidak berani melihat ke depan dimana Luhan berada. namun, perasaan kasihannya lama-kelamaan menyiksa hati kecilnya. Dia tidak tega melihat binatang itu kelaparan di depannya apalagi setelah beberapa kali ny Hwang memukulnya. Rasa kasihannya terhadap Luhan membuat sebuah ide muncul di  kepalanya. dia melirik Sunny lalu ny Hwang dan setelah merasa cukup aman, secepat kilat dia mengambil roti di depannya dan menyembunyikannya ke dalam saku mantelnya. Beruntung, ny Hwang dan Sunny sibuk dengan makanannya hingga tak menyadari apa yang telah di lakukannya. Taeyeon tersenyum puas dan kembali menikmati makanannya.

– – –

Selepas makan malam bersama ny Hwang dan Sunny, Taeyeon segera mencari Luhan. saat  selesai makan, dia baru menyadari kalau  binatang itu tidak lagi berada di tempatnya. Oleh sebab itu dia memutuskan untuk mencarinya. Derap langkah kecilnya kini terdengar menggema di sepanjang koridor yang di lewatinya, matanya sibuk melihat ke kiri dan kanannya kalau-kalau binatang itu terlihat di salah satu tempat yang dilihatnya.

“dia juga tidak ada disini” gumamnya lalu menutup kembali pintu ruangan yang tadi di bukanya setelah memastikan Luhan berada di dalam atau tidak.

“eonni”

Sebuah suara tiba-tiba memanggil hingga membuatnya tersentak kaget dan segera menyembunyikan roti yang di pegangnya kembali ke sakunya. Dia berbalik dan mendapati Sunny yang berjalan tertatih menghampirinya.

“apa yang kau lakukan disini eonni?” Sunny bertanya padanya. mata birunya melirik ruangan yang tadi di tutupnya. “bukankah kamar eonni ada di atas?”

“a-aku..itu..” Taeyeon berubah gugup. sejujurnya dia tidak tahu harus menjawab apa.

“eonni mencari Luhan?” tebak Sunny. Taeyeon terdiam, ekspresi kagetnya membuat gadis kecil itu tertawa. “kenapa eonni mencarinya?” tanyanya lagi.

“kau tahu dimana Luhan berada?” Taeyeon balik bertanya. Dia berusaha menutupi wajahnya yang memerah karena telah ketahuan oleh Sunny.

Beruntung, gadis kecil itu tak menyadarinya dan malah mengangkat bahunya. “Luhan memang selalu begitu”

Taeyeon mengeryitkan keningnya. “apa maksudmu?”

“kadang-kadang dia menghilang tiba-tiba, kadang-kadang dia muncul tiba-tiba” jelas Sunny. Gadis kecil itu lalu memberi isyarat agar Taeyeon menunduk ke arahnya. “dia binatang yang misterius eonni” bisiknya.

Taeyeon menatap Sunny dengan bingung tapi gadis kecil itu lagi-lagi hanya tertawa. “aku mau tidur eonni..semoga kau menemukan Luhan” ucapnya riang lalu berbalik pergi meninggalkan Taeyeon yang masih tercengang di tempatnya.

*apa-apaan ini? jadi anak itu tidak ingin mencari Luhan?*  Taeyeon tersenyum kecut mengetahui hanya dirinya saja yang begitu memperhatikan binatang itu dibandingkan dengan majikannya sendiri. dengan kesal dia pun meninggalkan tempat itu menuju kamarnya.

– – –

Taeyeon tiba-tiba terbangun di tengah malam. Nafasnya tersengal-sengal seperti habis berlari dan jantungnya berdebar keras melebihi kapasitas normal. Dia seperti habis berlari maraton. Semua itu di sebabkan oleh mimpi yang baru saja di alaminya. Yah, dia bermimpi lagi. mimpi yang sama.  Berbeda dengan mimpi sebelumnya, kali ini makhluk dalam mimpinya itu berbicara padanya. bukan berbicara secara fisik melainkan berbicara lewat pikirannya.

*akhirnya…aku menemukanmu..calon istriku..* itulah yang dikatakan makhluk itu padanya sebelum penglihatannya mengabur dan keadaan sekitarnya berubah gelap.

Taeyeon mencoba memproses apa maksud ucapan itu tapi, semakin dia mencoba otaknya malah semakin buntu. *istri?* sesaat keningnya berkerut tapi kemudian kepalanya menggeleng keras menepis pikiran itu. dia tidak akan membiarkan hal yang tidak masuk akal seperti itu mengganggu otaknya. *mimpi itu tak berarti apa-apa. yah, aku tidak boleh memikirkannya* tekadnya membatin.

Baru saja Taeyeon hendak berbaring lagi untuk melanjutkan tidurnya, mendadak dia di kagetkan dengan suara gaduh yang berasal dari depan pintunya. Matanya sontak mengejap kaget, tubuhnya menegang kaku dan secepat kilat dia telah menarik selimut hingga menutupi batas dadanya. Suara itu kembali terdengar, suara seperti sesuatu telah menggaruk-garuk pintu kamarnya dan anehnya, suaranya terdengar dari bawah pintu. wajah Taeyeon memucat bersamaan dengan keringat dingin yang mulai membasahi tengkuknya.

“a-apa ada orang disana?” tanyanya setengah berteriak. Suaranya dibuat setenang mungkin tapi tetap saja nada gugup di dalamnya masih terdengar jelas. Sejujurnya dia sangat takut tapi juga ingin tahu siapa orang yang telah mengganggunya.

Hening.

Setelah memantapkan hatinya, Taeyeon turun dari ranjangnya. Dia menarik nafas dalam-dalam mencoba menenangkan tubuhnya yang bergetar karena rasa takutnya. Semua pikiran negatif yang terlintas dalam kepalanya, segera di tepisnya. Dia tidak ingin semakin ketakutan karena imajinasi yang dibuatnya sendiri. kini sebelah tangannya telah berada di atas knob pintu, bersiap untuk memutarnya. Hati-hati, dia memutar knob pintu itu lalu menariknya kedalam. Matanya membulat, senyum segera menghiasi wajahnya.

“Luhan!” suaranya setengah memekik. Secara otomatis ketakutannya tadi menghilang. Luhan telah berada tepat di depan pintunya, menatapnya dengan mata polosnya. Tanpa menunggu reaksinya selanjutnya, binatang itu berjalan masuk ke dalam kamarnya dan duduk di atas ranjangnya. Meskipun Luhan adalah binatang yang lucu dan menggemaskan, Taeyeon tetap saja terkejut dengan tindakannya.

“Luhan jangan disitu. Kemari” panggilnya yang tentu saja Luhan langsung menurutinya.

Binatang itu menghampiri Taeyeon dan gadis itu tersenyum lalu berjongkok di hadapannya. Secara otomatis, binatang itu menjulurkan kepalanya seakan meminta Taeyeon untuk membelai kepalanya. Taeyeon yang sepertinya tahu maksudnya, hanya tertawa kecil sebelum akhirnya mengangkat tangannya membelai kepalanya.

Taeyeon mendadak berhenti, dia teringat roti yang tadi di ambilnya untuk Luhan.

“kau pasti lapar” dengan senyum yang masih di wajahnya, dia berdiri meninggalkan binatang itu.

Luhan mendengking, dia tidak ingin Taeyeon meninggalkannya. Tentu saja Taeyeon tidak mengerti maksudnya, dia sibuk mencari roti yang tadi disimpan di dalam mantelnya. Tak berapa lama kemudian, diapun kembali dengan roti itu ditangannya. Luhan terlihat sangat senang menerimanya lalu segera memakannya.

Pandangan Taeyeon berubah teduh. Seperti dugaannya, binatang itu benar-benar sangat lapar.

“aku senang kau menyukainya Luhan” ucapnya sambil membelai kepala Luhan. dia senang karena setidaknya dia bisa membantu binatang itu disaat majikannya sendiri tidak mempedulikannya.

***

Ciip..ciip…ciip…

Suara burung-burung kecil yang bertengger ramai di dekat jendela, membangunkan Taeyeon. Gadis itu menggeliat, sedikit terganggu dengan suara gaduh burung-burung kecil itu. Dia hendak menarik selimutnya untuk menutupi tubuhnya ketika mendadak merasakan sesuatu yang berat dan hangat di pinggangnya. matanya sontak membuka dan pandangannya menelusur ke bawah. Apa yang dilihatnya membuat tubuhnya seketika membatu dalam hitungan detik. Matanya yang kecil perlahan-lahan membesar bersamaan dengan debaran jantungnya yang serasa dipompa dengan kencang. sesuatu di pinggangnya itu kini bergerak, bukan meninggalkan tubuhnya tapi malah semakin mengerat.

*tenang Taeyeon..tenang..ini pasti hanya mimpi…* dia mengucapkan kalimat itu berulang-ulang untuk menenangkan dirinya. setelah merasa cukup, pelan-pelan dia membalikkan tubuhnya. bola matanya hampir meloncat dari tempatnya, nafasnya tertahan, mulutnya membuka. Tepat di depannya, seorang pria tampan dengan rambut blonde tampak tertidur dengan tenang di sampingnya sementara lengannya yang kokoh masih membalut di pinggangnya. tapi bukan itu yang memaksa Taeyeon harus mengejapkan matanya berulang-ulang memastikan bahwa apa yang dilihatnya hanyalah halusinasinya saja, melainkan karena pria tampan itu sama sekali TIDAK memakai pakaian. Meski tubuhnya terhalang selimut, namun tidak menghalangi bagian tubuh atasnya.

Taeyeon mulai panik, wajahnya yang merah padam berubah pucat. Dia menarik nafas dalam sebelum mengintip ke dalam selimut yang mereka pakai berdua. helaan nafas lega keluar dari mulutnya. *thanks god* dia bersyukur karena masih memakai pakaian lengkap.

Kembali pada pria tampan itu, Taeyeon masih mengira dirinya bermimpi dan untuk memastikan hal itu, dia mengangkat jari telunjuknya. Konsentrasi penuh, dia membawa telunjuknya mendekati pipi pria itu, namun sebelum menyentuh daerah itu, mata pria itu tiba-tiba terbuka. Taeyeo terlonjak kaget, tubuhnya terpaku seakan seluruh syaraf-syarafnya menjadi kaku dalam sekejap. Mata bulatnyapun bertemu dengan mata coklat pria itu. sedetik kemudian, pria itu tersenyum lembut padanya.

“pagi calon istriku” suara lembut miliknya menyapanya sambil melambai dengan cute di depannya.

Taeyeon tersentak kaget. *m-mwo?!*  detik berikutnya, suara pekikan keras dari mulutnya terdengar menggema di ruangan itu. dia berlari keluar kamarnya meninggalkan pria itu yang kini mengerucutkan bibirnya karena kecewa.

*padahal aku berharap dia akan memelukku* pria itu memandang ke arah pintu dan cemberut.

To be continued…

 

Bagaimana menurut kalian? sengaja part 1nya di panjangin untuk menggoda kalian. ~kekeke *ketawaevil. Tapi tenang aja, part 2 dan part 3nya juga panjang kok. Mm..kalau di pikir-pikir bisa buat multichapter sih tapi, ya udahlah. Daripada nambah fanfic multichapterku, aku memutuskan memasukkan story ini ke Ryn special collection’s

Oh ya, sampai lupa. Kalian tahu makhluk or binatang apa si Luhan? yang tahu, silahkan tebak ya..^^

–> RYN

54 thoughts on “[Freelance] The Day I Meet Him (Part 1)

  1. ff ini keren banget aku sampe baca berulang kali tapi ngga pernah bosen, pengenya ff ini dibikinin sequel pasti makin kece kalo bisa bikin sequelnya ya thor🙂 suka banget sama pairing LuTae😉

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s