[Freelance] That XX

that xxx

Title: That XX

Author: MickeyDeer

Length: Oneshoot

Rating: PG-15

Genre: Sad, Hurt, Angst

Main Cast: Yoona, Chanyeol

Other Cast: Baekhyun

Desclaimer: This song belong to G-dragon. Cast belong to God. But this story and poster are mine.

A/N: Ini SongFic, dari lagu Gdragon – That XX. Disarankan untuk mendengar lagu itu selagi membaca. Sebelumya ff ini pernah di publish di yoongexo.wordpress.com dan mickeydeer99.wordpress.com .

Semuanya Chanyeol Poin Of View (POV)
Mohon maaf jika ada kesamaan sama ff lain. Tapi ini pure dari imajinasi aku kok ^^

Enjoy this!

Don’t forget Read, Like, and Comment!

Don’t like? And then, don’t read.

Plagiator? Doesn’t allowed

+

+

I was walking down the street when i saw your man. (Yeah, i saw him)
I saw that my prediction were right. (I told you)
He took off the ring you gave and linked his arm around someone.
I’ll just leave it at that.
I don’t wanna hurt you.
Gdragon – That XX


Matahari terlihat lelah menyinari kota Seoul. Walaupun begitu, gradiasi warna yang diciptakannya sangat indah. Membuatku melupakan sejenak berkas berkas yang tadi memenuhi otakku. Setelah merasa cukup menikmati indahnya pemandangan yang disuguhkan oleh sang Surya. Aku membalikkan badanku, dan berjalan menuju mobilku yang aku parkirkan di tepi jalan tak jauh dari tempatku berpijak.

Aku melihat lihat sekeliling taman. Melihat anak-anak kecil dengan wajah polos mereka. Melihat sepasang kekasih yang sedang bersepeda. Ataupun sedang bergandengan tangan. Mataku berhenti mengamati sekeliling saat aku melihat seseorang yang familiar. Byun Baekhyun.

Ia sedang berjalan dengan seorang gadis, tapi gadis itu bukan Yoona. Yang jelas jelas adalah pacarnya. Oh, aku tidak terkejut. Aku sering melihatnya melakukan hal ini. Kuperhatikan dirinya lebih teliti. Ia sedang merangkul pinggang gadis itu. Aku melihat jarinya, tidak ada. Cincin pemberian Yoona tidak ada di jarinya.

Aku ingin sekali memberitahukan hal ini sejak dulu kepada Yoona. Namun, aku tidak ingin ia menderita. Ia terlalu mencintai Baekhyun. Dan aku yakin, saat aku menceritakan semua ini, ia tidak akan percaya.

But you actually get mad at me. (Why?)
Saying there’s no way he’d do that. (Sure, you’re right)
I became aware of you being upset
And I said I must have seen someone else.
Yes, I’ll lie for you. (I’m sorry)
Gdragon – That XX

Aku sudah muak saat melihat Baekhyun berjalan dengan gadis lain. Tidak terhitung berapa kali aku melihatnya. Aku ingin kau tahu. Aku tahu ini sulit. Tapi, percayalah. Aku melakukannya demi kebaikanmu.

“Yoona-ya, dengarkan aku. Lepaskan Baekhyun, dia bukan pria seperti dugaanmu. Dia tidak benar-benar mencintaimu. Dia hanya memasang topeng. Dia bahkan berkencan dengan gadis lain.” Aku memberanikan diriku memberitahu Yoona. Yoona hanya terdiam sebentar. Lalu menghela nafasnya kasar.

“Oh, shit! Kau berkata seperti kau tahu semuanya tentang Baekhyun. Dia adalah pria yang tepat untukku. Aku mencintainya. Dan dia mencintaiku.” Ia lalu meneguk ccoffee yang ada di genggamannya.

“Karena aku tahu, Baekhyun tidak akan melakukan hal itu. Dia mencintaiku.” Ia melanjutkan perkatannya dengan suara kecil. Nyaris tak terdengar olehku, jika saja keadaan cafe ini sedang ramai.

“Maaf. Tapi ku rasa, aku salah lihat. Kurasa dia bukan Baekhyun.” Aku menghela nafas. Meminta maaf kepadanya adalah satu satunya cara agar dia tidak marah kepadaku. Karena aku ingin selalu berada di sampingnya. Walaupun dia hanya melihat lelaki brengsek itu.

“Lain kali, perhatikan seseorang dengan teliti. Jangan menjudge seseorang, jika kau merasa belum pasti.” Yoona berkata masih dengan suara kecil. Lalu ia beranjak pergi, keluar cafe.

Saat Yoona sudah meninggalkan cafe ini, aku berteriak frustasi. Semua pengunjung memperhatikanku. Tapi aku tidak peduli. Aku berdiri dan melempar uang untuk membayar pesanan. Lalu kaki ku berjalan menjauhi cafe itu.

Oh, i hate you for not knowing me.
I hate this waiting.
Please let go of his hand now.
When you are sad, I feel like I could die, baby.
Gdragon – That XX

Oh, aku benci saat kau tidak bisa memahami apa yang aku rasakan. Aku benci saat kau hanya menganggapku sahabat. Aku benci, kau tidak tahu betapa aku mencintaimu. Melebihi cintamu kepada lelaki brengsek itu.

Aku benci penantian ini. Aku benci saat kau menangisi dirinya seperti sekarang.

“Yoong, uljima.” Aku mengelus rambutnya lembut. Ia mendongkak, mata rusanya penuh dengan cairan bening. Melihat matanya yang penuh dengan air mata itu, dengan refleks tanganku mengambil selembar sapu tangan dan menghapus air matanya.

“Aku sudah tidak menangis, lihat?” Yoona memaksakan bibirnya untuk melengkung ke atas. Ah, aku benci saat Yoona berpura pura baik-baik saja disaat dia sedih.

“Menangislah, jika kau ingin. Jangan menyembunyikannya. Ceritalah padaku, aku akan memberimu solusi.” Aku berkata dengan suara lemah. Aku tak bisa melihatnya lebih lama menderita. Karena ketika dia menderita, aku merasa seperti akan mati.

Why does that bastard have that i don’t?
Exactly why can’t i have you?
That bastard doesn’t love you.
Until when are you going to cry like a fool?
Gdragon – That XX

Yoona sedang tertidur pulas di pelukanku. Sejak tadi, sejak ia menangis. Ia tidak melepaskan pelukanku. Aku senang dia memelukku. Tapi aku sedih, dia menangisi seorang lelaki yang tak pantas ditangisi.

Ku elus rambutnya dengan lembut, agar Yoona tidak terganggu dengan kegiatanku. Ku lihat wajahnya, wajahnya terlihat buruk. Kantung mata terlihat jelas, wajah pucat. Oh, aku benci saat dia menangis, apalagi menangis untuk lelaki brengsek itu.

Aku tidak mengerti, apa yang lelaki brengsek itu punya dan aku tidak punya? Katakanlah kepadaku, Yoona. Aku bahkan mencintaimu, tidak seperti lelaki brengsek itu yang sama sekali tidak mencintaimu.

Tanganku bergerak menuju pipi Yoona, lalu membelainya. Basah. Satu hal yang ku sadari saat mengelus pipinya. Oh, Yoona. Berhentilah menangis seperti orang bodoh hanya untuk lelaki brengsek itu. Dia bahkan tidak mencintaimu. Berhentilah menangisinya. Dan cobalah untuk menerima kenyataan, Yoona.

You look happy when you talk about him. (You look happy)
You look good since you laughing like this. (I’m happy)
You say that you really love him.
That is going to last forever.
You believe in this end.
I don’t know what you say no more.
Gdragon – That XX

Seminggu setelah kejadian itu. Yuri membuat pesta dan mengundang teman temannya. Termasuk aku, dan juga Yoona. Seminggu itu pula, aku tidak pernah bertemu dengannya. Tidak pernah melihat mata rusanya. Oh, aku merindukan itu semua.

Pesta yang cukup meriah didatangi hanya oleh teman teman Yuri. Tidak terlalu banyak, tapi mereka membuat pesta ini ceria, ramai. Yoona menghampiriku, tangannya menarikku. Ia seperti berkata, “Ikuti aku.” Tapi aku tidak terlalu yakin. Karena musik terlalu keras sehingga aku tidak dapat mendengan perkataannya dengan jelas. Rupanya, ia menarikku menuju balkon.

Ia melepaskan tangannya Lalu tangannya itu membuka wine-aku tidak menyadari ia membawa minuman itu- dan menuangkannya ke gelas yang tersedia. Lalu menyesapnya sedikit sedikit, mungkin untuk merasakan sensasi saat minumannya berada di tenggorokannya dan akhirnya berakhir di perutnya.

Hening. Lima menit berlalu, aku dan Yoona masih berdiam diri. Menikmati hembusan angin malam. Lalu, kulihat lengkungan lebar di bibirnya. Ia tersenyum. Aku merindukan senyumnya, senyum tulusnya.

Lalu, bibir mungilnya mengeluarkan suara.

“Kemarin aku dan Baekhyun berkencan.” Gumamnya pelan. Lengkungan lebar dan tulusnya masih terlukis di wajah cantiknya. Aku tidak menjawab perkataannya. Hanya memasang telinga untuk mendengar lebih jelas apa yang akan dikatakannya selanjutnya.

“Dan, kau tahu? Baekhyun sangat lucu. Aku dan dia saling bertukar lelucon.” Yoona tertawa kecil. Oh, andai saja aku yang membuatnya tertawa. Bukan lelaki itu.

“Aku menonton film bersamanya. Dan ohh.. Dia begitu romantis.” Senyumannya semakin lebar. Aku hanya tersenyum tipis. Kau tahu Yoona? Itu hanya akting. Batinku.

Aku tidak merespon perkataannya. Tidak ingin merusak suasana hati Yoona. Tidak ingin lengkungan lebar yang terlukis di wajahnya memudar.

“Kau percaya dengan akhir yang bahagia, Yoona?” Aku bertanya dengan suara yang kecil. Ia menaikkan alisnya. Menatapku dengan sorot mata bingung. Lalu sedetik kemudian ia tersenyum kecil.

“Semua orang pasti bahagia, Chanyeol-ah. Karena tidak akan ada manusia yang merasakan sedih seumur hidupnya.” Ucapannya memang benar, tapi aku tahu. Tidak semua orang merasakan akhir yang bahagia.

All of your friends know him well. (Yup, they know)
What are you the only one who can’t see what everyone sees? (It’s you)
They say love is blind, oh baby you so blind.
I really hope you will break up.
Gdragon – That XX

Hari ini aku menginap di rumah Luhan, sahabatku. Well hanya untuk merefresh fikiranku. Dan juga meminta nasihat, tentu saja. Dia sahabatku.

Aku sampai di depan rumahnya yang sederhana dengan design Eropa klasik. Aku selalu menyukai interior rumahnya. Selera Luhan memang tinggi.

Jariku bergerak menuju tombol bell. Lalu menekan tombol itu. Terdengar suara khas bel yang aku rindukan. Ah, sudah berapa lama aku tidak bermain di sini? Mungkin sudah lama sekali, aku terlalu sibuk dengan berkas-berkas ku.

Tidak lama kemudian seseorang membuka pintu rumah berinterior Eropa klasik itu. Ia langsung memelukku. Ah, aku yakin ini pasti Luhan.

“Hei, hei. Sudah. Aku bukan gay.” Aku terkekeh pelan.

“Memang kau pikir aku gay hah? Dasar menyebalkan.” Ckck, Luhan luhan. Dia masih seperti dulu. Bersikap seperti perempuan.

“Sudahlah, apa setiap tamu kau biarkan berdiri di sini?” Candaku. Ah, sudah berapa lama aku tidak mengeluarkan lelucon? Ku lihat Luhan menggaruk tengkuknya.

“Eh, sorry. Ayo Chanyeol-ah silahkan masuk.” Aku pun memasuki rumah bergaya Eropa klasik itu. Mataku menelusuri isi rumah itu. Tidak ada yang berbeda. Sama seperti dulu.

“Kau mau minum? Jus? Atau wine? Atau air putih?” Aku menolehkan kepalaku ke belakang.

“Ah, ambilkan wine. Oke, thanks Luhan.” Tanpa menunggu jawaban darinya kaki ku sudah membawaku ke dekat sofa yang ada di ruang tamu. Lalu aku duduk di atasnya.

Aku memandang ke depan. Pandangan kosong. Lalu, tanpa ku sadari sebuah kenangan bermain di depan mataku, bagaikan film. Aku melihat lelaki brengsek itu berjalan dengan gadis yang tidak aku ketahui namanya. Lalu kenangan itu berganti. Saat aku menjelaskan bahwa lelaki brengsek itu tak pantas untuk Yoona. Kenangan itu terus berputar, layaknya sebuah film.

“Hei.” Suara seseorang-yang kuyakini Luhan- mengintrupsi kegiatanku.

“Kau terlihat lesu, apakah berkas-berkas itu membuatmu stress?” Luhan berkata sambil duduk di sampingku, lalu menuangkan wine ke gelasku. Aku menggeleng, lalu meminum wine itu sekali teguk.

“Apa masalah Yoona?” Aku menganggukan kepalaku, lidahku terlalu kelu untuk berbicara. Ia menghela nafas.

“Kau benar-benar mencintainya, rupanya.” Luhan tersenyum kecil. Aku mengangguk lagi. Masih belum sanggup berbicara.

“Kurasa, benar kata orang. Cinta itu buta.” Luhan berkata pelan.

“Ya, dan Yoona benar-benar sangat buta hanya melihat laki-laki brengsek itu.” Gumamku pelan.

Expensive cars, pretty clothes, classy restaurant.
They suit you well.
But that bastard next to you really isn’t it.
He does not go well with you.
He smiles fake smile next to you.
He touches your cheeks and hair.
But inside, he is definitely thinking of some other girl.
How could he do that? It’s like a sin.
As much as you shed tears, I’ll treat you better baby.
The pain you handle by yourself, will you share one of them to me baby?
Please look at me, why don’t you know that your love is me?
Why are you the onlyy one who doesn’t know?
Gdragon – That XX

Mobil mahal, baju mewah, restoran berkelas. Itu semua cocok untukmu, Yoona. Tapi lelaki brengsek itu tak pantas untukmu. Lihatlah senyumannya kepadamu sekarang, Yoona. Senyumannya itu hanya senyum palsu. Saat dia membelai pipi dan rambutmu. Pikirannya bahkan melayang-layang memikirkan gadis lain.

Aku tidak tahu. Bagaimana mungkin ia bisa melakukan semua ini kepada Yoona? Mengelus pipi dan rambutnya, tetapi di dalam pikirannya ia malah memikirkan gadis lain. Apakah kau tidak tahu betapa kejamnya dia?

Aku bahkan ingat saat kau menangis di apartement ku. Kau mengeluarkan begitu banyak air mata hanya demi laki laki brengsek seperti dia. Dan kau bahkan dengan mudah melupakan hal itu. Yoona, kau terlalu baik untuk lelaki brengsek itu.

Tidak bisakah kau melihatku? Tidak bisakah kau merasakan cinta yang selalu ku berikan kepadamu? Kenapa hanya dirimu yang tidak mengetahui ini? Kenapa kau terlalu buta, Yoona? Bukalah matama untukku. Aku akan membuatmu bahagia. Tidak seperti lelaki brengsek itu, yang hanya bisa membuatmu mengeluarkan air mata.

Why does that bastard have that i don’t?
Exactly why can’t i have you?
That bastard doesn’t love you.
Until when are you going to cry like a fool?
Gdragon – That XX

Yoona, apa yang dia punya dan aku tidak punya? Oh, iya aku tahu. Aku tidak mempunyai cintamu tetapi dia punya. Tapi, kenapa kau terus mencintai lelaki brengsek itu? Dia hanya bisa menyakitimu. Dia hanya bisa membuatmu menangis seperti orang bodoh. Ia bahkat tidak menjagamu.

Sampai kapan kau akan menangis seperti orang bodoh? Sampai ia mencampakkanmu? Oh, Yoona. Bukalah matamu. Lihatlah aku, aku disini. Selalu ada di sisimu. Untuk menjagamu. Maka, lihatlan aku.

-END-

10 thoughts on “[Freelance] That XX

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s