The Desire Dream (Scene 3)

 

TDD (HYO)

The Desire Dream

 

written by Summer

 

Main Cast: EXO-M’s Zhang Yixing and SNSD’s Kim Hyoyeon || Support Cast: Zhang Li Wei (OC) and EXO-M’s Huang Zhi Tao || Genre: Romance, Life, Friendship || Length: Chaptered || Rating: PG-13 || Disclaimer: Inspired by my own dream, Madre by Dewi Lestari, and short movie : The Day We Connect by Joko Anwar ||

 

 

[]

 

[]

 

Yixing mendesah lega dan  menyesap kuah wontonnya yang sudah mendingin diiringi tatapan Tao yang penasaran. Namun ia hanya bergumam dengan nada lemah. “Aku baik-baik saja.”

 

Yixing sebenarnya ingin sekali menengokkan kepalanya kebelakang untuk melihat barangkala yang berbicara tadi benar-benar gadis itu. Kalaupun ia tak tahu wajahnya, Tao kan bisa memberitahunya karena laki-laki itu sudah sering melihat gadis  yang selama ini selalu ia tunggu. Tapi saat melihat Tao yang kembali sibuk bercerita dengan Fan Bing, Yixing mengurungkan niatnya.

 

“Hai Hyoyeon, apa kabar ?”

 

Yixing mendengar itu dan tak menolehkan kepalanya.

 

SCENE 3

 

 

 

Butuh waktu beberapa hari sampai akhirnya Paman Zhang menganggap Yixing sudah cukup mahir membuat roti gandum. Mereka berlanjut untuk membuat roti rye sebagai pelajaran selanjutnya. Roti rye adalah sejenis brown bread yang terbuat dari tepung rye yang berserat tinggi. Tanaman rye bentuknya seperti tanaman gandum dan masih bersaudara dengan tanaman itu, hanya  saja aroma rye lebih kuat.

Selama dalam pelatihan membuat roti bersama pamannya, Yixing tak melupakan untuk membalas surat dari gadis itu dan menitipkannya kepada Tao yang sekarang sudah hapal dan tak lagi berjengit aneh tiap kali ia menerima surat dari Yixing. Ia sudah lelah untuk terus-terusan bertanya jika Yixing menghampirinya saat makan siang.

 

Selama Yixing belajar membuat roti rye, dia belum mendapatkan balasan surat dari gadis itu. Itu artinya gadis itu belum punya waktu untuk mampir lagi dan mencicipi roti Yixing yang baru. Sebenarnya Yixing agak kecewa, namun ia tak mau berharap banyak. Seperti kata Tao, jangan pernah menunggu sesuatu.

 

Karena sudah pernah membuat roti gandum, belajar membuat roti rye jadi tak begitu sulit bagi Yixing. Ia hanya butuh waktu tiga hari untuk belajar bersahabat dengan jenis roti itu.

 

“Hari ini kita akan membuat focaccia.

 

Yixing merapikan kembali baju kokinya yang berwarna putih (sampai saat ini ia masih suka mengagumi baju kokinya yang diberikan Paman Zhang dua hari lalu) dan mendongakkan kepala, bingung. “Fo-foca -apa ?”

 

Focaccia”, sahut Paman Zhang kalem. Ia berbalik untuk mengambil salah satu toples biang roti dari lemari pendingin dan berkata, “Bentuknya seperti pizza hanya toppingnya saja yang berbeda.” Suara ‘dak’ dari toples yang mengenai meja terdengar menggema di dalam dapur. “Focaccia menggunakan taburan tanaman herbal seperti basil dan rosemarry.”

 

“Tunggu !” Kening Yixing berkerut-kerut, “Berarti roti bulat-pipih yang kulihat di etalase itu bukan pizza ?” seru Yixing tak percaya.

 

Paman Zhang menggeleng kecil. “Seperti yang kubilang, itu focaccia.”

 

Yixing mengangguk-anggukan kepalanya paham. Ia pernah melihat roti itu di dalam etalase kedai sebelumnya. Awalnya ia fikir itu pizza, tapi ternyata bukan. Ia baru tahu kalau nama roti itu focaccia.

 

Ia berdiri dan menatap bahan-bahan pembuat roti di depannya dengan hati-hati. Seperti biasa, ada bahan utama pembuat roti yaitu tepung, air, dan garam. Sebagai tambahan, ada sebotol minyal zaitun, semangkuk kecil berisi potongan buah zaitun kering, lembaran daun basil -yang bentuknya nyaris mirip dengan daun kemangi yang biasa digunakan pada masakan Thailand, daun rosemarry kering, dan  bawang ?

 

Yixing menggulung bagian bawah lengan bajunya dengan santai ketika tiba-tiba sebuah pemikiran mengahantam otaknya dengan keras. Ia menggerakkan kepalanya secepat kilat. “Kita membuat roti dengan campuran . . . bawang ?” seru Yixing dengan suara tertahan. Matanya membulat tak percaya.

 

Paman Zhang menatap Yixing tajam sebagai isyarat agar keponakannya itu segera mencuci tangan dan mengambil basin besi besar. “Itu salah satu rahasiaku untuk membuat focaccia yang enak.”

 

Cepat-cepat Yixing mengambil dua besin besi dan menimbang tepung sesuai perintah pamannya. “Tapi . . .  apakah rasanya tidak aneh ?” gumamnya masih setengah tak percaya. Ia cukup tau kalau focaccia adalah salah satu roti terlaris di kedai ini karena selalu habis saat tengah hari. Namun ia tak pernah tahu kalau roti itu menggunakan campuran bawang putih. Ia sendiri juga meragukan apakah orang-orang yang memebeli roti itu juga tahu.

 

“Nyatanya tidak pernah ada pembeli yang protes kan ?” sahut pamannya mulai tak sabar. Ia mengamati Yixing yang sibuk mencampur berbagai bahan di basin yang sama sembari mengucapkan perintah lewat bibirnya.

 

Salah satu kegiatan dari membuat roti yang paling Yixing suka adalah menguleni adonan. Entahlah, rasanya saat membuat adonan itu menjadi kalis, ada perasaan aneh tersendiri yang menggapai-gapai rongga dadanya. Selama dua hari terakhir ini, Paman Zhang tak lagi menguji adonan Yixing. Ia membiarkan keponakannya itu sendiri yang melakukannya. Biarkan Yixing belajar, begitu katanya.

 

“Jadi setelah ini apa yang harus dilakukan ?” tanya Yixing setelah menguji adonannya dengan tes tembus cahaya.

 

“Kita biarkan dulu ia mengembang selama satu jam. Setelah itu kau pipihkan adonan itu dan tinggalkan lagi selama dua jam, kalau sudah siap nanti kau panggang di oven”, perintahnya sembari mencuci tangan di wastafel.

 

“Paman akan disini ?”

 

Paman Zhang mengangguk. “Ya, kau masih harus melubanginya dengan cara tertentu agar minyak zaitunnya menyebar. Dan aku belum mengajari itu.”

 

**********************************

 

Selama sebulan ini Yixing banyak belajar tentang membuat roti. Dari brown bread seperti roti gandum dan roti rye; white bread seperti toast bread, baguette (roti khas Prancis yang bentuknya seperti tongkat panjang), focaccia ; dan terakhir pita, roti pipih khas Timur Tengah.

 

Semenjak ia membuat Choco Lava Cake, ia belum pernah lagi membuat kue modern. Hari-harinya disibukkan untuk belajar membuat roti klasik dan berteman dengan adonan. Semakin  lama ia jadi semakin sayang dengan campuran tepung, air dan garam itu.

 

Ia sedang memasukkan dua loyang roti baguette ketika Tao datang dan membuka pintu dapur tanpa suara. Lim Bang yang sedang mengolesi hiasan buah diatas kue tart putih dengan selai aprikot di ujung meja mendongakkan kepala lalu melanjutkan kembali pekerjaannya.

 

“Hey Tao !” sapa Yixing tanpa mengalihkan mukanya dari depan oven karena masih sibuk mengatur suhu dan waktu untuk pemanggangan. “250 derajat celcius –dua puluh menit”, gumamnya sembari memutar beberapa tombol.

 

“Boleh aku bicara sesuatu ?” tanya Tao dengan nada pelan. Ia menyenderkan tubuhnya di bibir meja panjang dapur.

 

“Bicara saja”, balas Yixing dengan santai.

 

Tao tak menjawab, dia melirik Lim Bang yang sekarang sibuk merapikan pinggiran kue tart dengan tatapan mengingatkan. Lim Bang yang menyadari tatapan Tao, berdehem keras sembari mengangkat piringan metal yang menopang kue tart putih besar. “Aku ke depan dulu untuk mengantarkan ini”, katanya berlagak sibuk.

 

Mendengar Lim Bang tiba-tiba berkata seperti itu membuat Yixing sadar bahwa Tao sudah melakukan sesuatu entah apa yang membuat teman satu ruangannya itu pergi. Ia hanya bisa tersenyum meminta maaf saat suara kaki Lim Bang yang mendendang pintu terdengar keras. Hanya tinggal ia dan Tao di dapur itu. “Jadi, ada apa ?”

 

Tao berjalan mendekati meja yang berisi macam-macam adonan setengah jadi dan mecoleknya dengan ujung jari. “Apa kau tak merasa aneh ?”

 

“Aneh ? Aneh bagaimana ?” sahut Yixing tak mengerti.

 

“Ehm . . .” Tao menjilat ujung-ujung jarinya dengan lidah dan meneruskan, “hubunganmu dengan gadis misterius itu. Kalian tak pernah bertemu, tapi saling terhubung dengan tulisan diatas kertas. Apa itu tidak aneh namanya ?”

 

Yixing mengulum senyumnya dan tak ingin menjawab.

 

Tao yang melihatnya masih tak terima. Ia berkata lagi untuk menuntut jawaban dari semua rasa penasarannya. “Apa kau tak ingin bertemu dengannya ?”

 

Yixing tertawa dan meneruskan kegiatannya untuk mencampur adonan lain dan berkata, “Tentu saja ingin.”

 

“Lalu ?” balas Tao sembari memiringkan kepalanya.

 

Yixing menarik nafas dan menghentikan pekerjaannya. “Dia yang tak mau. Dia bilang belum waktunya untuk aku bertemu dengannya.”

 

“Dan kau menerimanya begitu saja ?” seru Tao tak percaya.

 

Well, itu privasi nya kan ? Lagipula aku bukan siapa-siapa.”

 

Tao memutar bola matanya dan bergumam, “Kau benar-benar orang yang aneh.” Ia mendesah keras, “Gadis itu juga.”

 

Yixing mengabaikan ucapan sahabatnya dan memilih untuk menimbang terigu. “Jadi kau kesini hanya untuk berkata itu saja ? Atau kau punya rencana lain untuk mengambil roti selagi menanyakan hal itu padaku ?” imbuhnya saat melihat tangan Tao yang tergerak untuk mengambil sepotong roti rye.

 

Tao memeberengut kesal. “Tentu saja tidak”, gerutunya sembari mengembalikan lagi roti rye yang sempat ia pegang. “Aku kesini untuk mengantarkan suratmu”, ucapnya dengan tangan kedepan dengan selembar kertas di ujungnya. “Kemarin dia datang lagi.”

 

Bola mata Yixing yang sedikit kecoklatan seketika berbinar-binar. Ia mengangkat kepalanya bersemangat. “Benarkah ?” Cepat-cepat ia merebut surat dari Tao dan melihat huruf HY besar tertulis disana.

 

“Apa sih isinya ?” gumam Tao penasaran. “Aku yang menjadi tukang pos namun sekalipun kau belum pernah bercerita apa isi surat itu”, imbuhnya mengeluh.

 

Yixing tertawa geli. “Kau tidak pernah melihat kerja tukang pos ya ? Mereka tidak pernah membuka privasi pelanggannya, mengerti ?” Ia menggerak-gerakkan jari telunjunya dengan riang.

 

Tao memutar bola matanya.

 

**************

 

 Dear pembuat kue . . .

 

                Hai, aku kembali dengan suratku untukmu. Apakah kau bosan atau malah menunggunya ? Kuharap kau memilih opsi yang kedua, hahaha. Omong-omong kemarin aku datang kesini dan seperti biasa menanyakan roti apa yang sedang kau buat kepada salah satu temanmu yang selalu membawakan suratmu untukku (Suasana hati temanmu sepertinya sedang buruk, dia marah-marah terus sejak tadi. Coba nanti kau tanyakan apa barangkali dia sedang sakit gigi, kekeke).  Ia memberiku dua potong roti berwarna coklat dan berkata kalau kau membuat banana bread. Well, aku mendebatkan nama itu karena kufikir rotimu lebih cocok dengan nama yang sederhana daripada nama banana bread, seperti bolu pisang misalnya. Kau yang memberi roti itu nama ya ? Dasar sok keren -,- hahahaha (aku hanya bercanda).

 

 

 

Di tengah-tengah acara membaca surat dari gadis misterius itu Yixing tertawa saat berusaha membayangkan wajah Tao yang memberengut marah dan sibuk berdebat dengan gadis itu tentang banana bread khas Jamaica yang ia buat kemarin untuk coba-coba (Paman Zhang bilang, bodoh benar keponakannya itu kalau sampai tak bisa membuatnya). Benar-benar khas Tao.

 

 

                Selama beberapa hari ini ada satu pertanyaan yang selalu berputar di kepalaku. Sudah hampir satu minggu aku memikirkannya dan kurasa seharusnya aku bertanya padamu sejak surat terkahir yang kuberikan padamu seminggu lalu. Jangan takut Lay, aku tak akan bertanya aneh-aneh. Aku tak akan bertanya apakah kau sudah punya pacar atau malah sudah menikah (meski sebenarnya aku cukup penasaran dengan hal itu XD).

 

                Aku sudah sering melihat orang-orang yang sangat bersemangat (dan terkadang terlihat ambisius) untuk mencapai impiannya. Aku tak pernah mengerti apa alasan mereka. Aku sendiri yang sudah sedewasa ini, masih bimbang dan tak mengerti ingin menjadi apa aku nanti. Karena itu aku ingin bertanya padamu Lay. Aku ingin tahu, mengapa kau ingin sekali menjadi patissier ? Adakah alasan tersembunyi dibalik impianmu ? Ataukan kau hanya ingin saja ? Kuharap kau tak keberatan untuk membaginya denganku. Dan aku tak akan memberitahukannya kepada siapapun. Sungguh.

 

                Mungkin ini pertama kalinya aku mengirim surat seaneh ini. Jangan marah, okey ? Kuharap saat aku mampir lagi kesini, kau sudah punya selembar kertas lagi berisi jawabanmu (tapi aku tak akan memaksa).

 

                                                                                                                                Temanmu yang baik

 

                                                                                                                                                HY

 

 

 

Butuh waktu hampir semenit untuk membuat Yixing melipat suratnya, nyaris tanpa sadar. Bahkan suara panci berisi ramen instan yang menggelegak diatas kompor tak berhasil menarik perhatiannya sama sekali. Fikirannya masih berkutat diantara kata-kata yang dirangkai teman misteriusnya itu. Bukan, bukan karena gadis itu menulis surat yang tidak terlalu panjang (meski sebenarnya tidak juga), tapi karena pertanyaannya. Alasan mengapa Yixing ingin menajadi patissier.

 

1998, Changsa, China.

 

Pada saat Yixing masih berumur delapan tahun, ia sempat hidup dalam kemiskinan. Ayahnya baru saja dipecat dari kantor dan ibunya hanya ibu rumah tangga biasa. Ia dan keluarganya dihadapkan pada kepedihan dan kesederhanaan hidup di desa kecil.

 

Masih jelas terpatri di ingatan Yixing kehidupannya kala itu. Selama lima tahun yang menyedihkan itu, ia hanya bisa makan nasi setahun sekali saat Tahun Baru Lunar tiba. Saat itu, tetangganya yang lebih kaya dan berada, memberikan makanan untuk keluarganya. Selain itu, Yixing lebih banyak makan dengan jagung.

 

Tapi hidup hanya dengan makan jagung sebagai pengganti nasi benar-benar membuatnya muak. Ia tahu ibunya sudah berusaha keras dengan memasak jagung-jagung itu menjadi makanan yang berbeda setiap harinya. Jagung rebus, jagung bakar, sup jagung (yang menurut Yixing rasanya benar-benar hambar), dan tumis jagung. Namun bagi Yixing semua rasanya masih tetap sama dan bentuknya pun tidak berubah. Yixing masih menemukan butiran berwarna kuning emas itu setiap harinya.

 

Sampai suatu ketika, ia memilih untuk mogok makan dan pergi keluar rumah dengan perut keroncongan. Ibunya berteriak memanggilnya untuk membujuk, namun Yixing sudah terlalu lelah untuk bertemu jagung lagi.

 

Ia sedang berjalan menuju ujung desa ketika hidungnya tiba-tiba mencium aroma asing yang harum. Ia berjalan terus mengikuti aroma tersebut dan berhenti di sebuah bangunan kecil berwarna putih dengan plang kayu bertuliskan,

 

Margareth Bakery Cake

 

                Selama hidupnya Yixing belum pernah mencium ataupun melihat roti-roti seperti itu. Di etalase toko ada roti-roti panjang dengan keraknya yang merekah dan berwarna coklat. Di sisi kiri etalase ada mesin kotak aneh yang Yixing kira sebagai penyimpan uang, juga berlembar-lembar kertas putih dan kantong kertas berwarna coklat.

 

“Apa yang kau lakukan disini, nak ?”

 

Suara itu rendah namun juga lembut secara bersamaan dan sanggup membuat Yixing terjungkal saking kagetnya. Yixing menoleh dan mendapati seorang wanita setengah tua dengan celemek putih berdiri di sampingnya. Untuk sepersekian detik, Yixing bisa melihat bahwa wanita itu bukan orang China asli. Warna matanya yang hijau tua membuatnya menyadari itu.

 

Yixing menjilat bibirnya dengan gugup. “Aku tidak mencuri, sungguh !” ucapnya khawatir dan ketakutan. Ia tak ingin wanita di sampingnya ini salah mengartikan kegiatannya yang sedang melihat roti. Karena selapar apapun Yixing, pantang baginya untuk mencuri.

 

Wanita itu mengembuskan nafas panjang, kentara sekali amat sangat lega. Tak lama ia mendengar suara perut Yixing yang keroncongan dan tertawa saat melihat raut wajah anak laki-laki itu yang malu bukan kepalang. “Kalau begitu, kau mau masuk ?” tawarnya murah hati.

 

Yixing menundukkan mukanya antara malu dan sedih. “Aku tak punya uang untuk membeli roti”, gumamnya salah mengartikan tawaran wanita itu. Ia kira wanita itu menawarinya untuk masuk karena berfikir bahwa ia ingin membeli roti.

 

“Masuk tak harus membeli roti”, balas wanita itu ramah. Ia membuka pintu toko roti yang menimbulkan bunyi-bunyian merdu dari lonceng yang terpasang tepat di depan pintu.

 

Yixing mengekori wanita itu dengan malu-malu. Ternyata berada di dalam lebih hangat dan  menyenangkan. Aroma-aroma roti yang baru matang ataupun yang sedang dipanggang bergerak-gerak di sekitar indra penciuman Yixing. Terkadang terdengar suara desis oven dari ruangan belakang.

 

Yixing sedang sibuk mengagumi toko roti itu ketika tiba-tiba ia disodori sepiring roti tepat di depan hidungnya. Ia menoleh kaget dan menatap wanita tua bermata hijau itu dengan pandangan tak mengerti.

 

“Ini untukmu”, ucap wanita itu sembari mengajak Yixing ke sebuah meja mahoni kecil di sudut ruangan. “Makanlah. Aku mendengar perutmu yang kelaparan tadi”, imbuhnya memaksa sepiring roti itu lebih dekat ke arah Yixing.

 

Yixing masih menatapnya, ragu apakah ia harus mengambil atau tidak. Namun sekali lagi wanita tua itu mengatakan bahwa roti ini untuknya. Dengan tangan terjulur malu-malu Yixing mengambil sepotong roti terdekat yang bisa ia raih. Rotinya masih hangat, keraknya juga merekah dengan sempurna. Saat Yixing membelahnya menjadi dua, ia mendapati uap nya mengepul tipis bergerak ke udara. Yixing menggigit roti itu kecil-kecil dengan gerakan pelan. Selain tekstur roti, ada potong-potongan kecil kacang merah yang ia rasakan di dalam mulut.

 

“Bagaimana ? Enak ?” tanya wanita itu dengan penasaran. Ia masih menunggui Yixing dengan sabar.

 

Yixing mengangguk bersemangat karena terlalu bahagia. “He-eh. Enak sekali !” Ia mengacungkan dua jempolnya ke udara.

 

Wanita itu hanya tertawa melihat gigi Yixing yang masih belum lengkap dan penuh dengan potongan roti. Ia hanya membiarkan Yixing sebanyak yang anak laki-laki itu bisa. Namun Yixing tak makan banyak-banyak, ia hanya makan satu biji roti saja dan itu membuatnya mengerutkan kening tak mengerti. “Kenapa ?”

 

Yixing terdiam sejenak dan menelan ludah dengan ragu. “Aku benar-benar jahat.” Ia menyorongkan piringnya menjauh dengan ekspresi sedih. “Orangtuaku belum makan dan aku malah makan enak disini.”

 

Mendengar jawaban Yixing, wanita itu mengelum senyumnya dengan haru. Ah, benar-benar anak yang baik.Ia beranjak dari kursinya dan membawa selembar kantong kertas coklat dari dalam almari kaca. Ia memasukkan semua roti dari dalam piring dan menambahkan dua lagi. “Berikan ini pada ayah dan ibumu”, ujarnya sembari meletakkan kantong kertas berisi roti itu ke dalam lengan Yixing.

 

Mata Yixing membelalak. “Ja-jangan ! Anda sudah terlalu baik pada saya !” balasnya sembari mengembalikan lagi roti-roti itu ke atas meja. “Kalau anda memberi saya roti lagi, saya tak mungkin sanggup untuk membalasnya.”

 

Desah nafas panjang itu terdengar dari wanita di depan Yixing. Ia kembali memaksakan sekantong roti itu dan berkata, “Kalau benar-benar ingin membalas kebaikanku, besok pagi datanglah kesini dan bantu aku membuat roti.”

 

Yixing masih menatapnya tak paham. “Besok ? Membuat roti ? Bersama anda ?”

 

“Ya. Besok jam delapan pagi, kutunggu kau disini.” Ia menepuk kepala Yixing pelan, “Nah, sekarang bawalah roti-roti ini kepada orangtuamu.”

 

Diberi sekantong roti yang masih hangat dan enak, ini pertama kalinya Yixing seperti itu. Ia membungkukkan badannya berkali-kali dan memegang kantong roti itu erat-erat. “Terimakasih, terimakasih  . . .” ia tak melanjutkan kata-katanya, bingung harus memanggil apa wanita di depannya ini.

 

“Margareth Lee. Panggil aku Bibi Margareth saja”, balas wanita itu dengan ramah. “Kalau kau ?”, tanyanya dengan alis terangkat naik.

 

“Yixing. Aku Zhang Yixing !”

 

**********************

 

Sejak saat itu Yixing sudah menganggap wanita pemilik toko roti yang ia panggil dengan Bibi Margareth itu, seperti ibu kandungnya sendiri. Bibi Margereth banyak mengajarinya tentang roti dan bagaimana ia bisa mencintai roti. Yang Yixing tahu kemudian adalah, Bibi Margareth berdarah Belanda dari ibunya dan China dari ayahnya. Wanita itu tidak punya suami ataupun anak. Ia lebih banyak bekerja dalam kesendiriannya di toko roti ini bersama dua pegawainya yang lain.

 

Biasanya Bibi Margareth meminta Yixing untuk membantunya menguleni adonan dengan meninjunya. Yixing tentu saja senang diberi kegiatan seperti ini. Karena ia merasa sedang tidak bekerja, tapi sedang bermain bersama Bibi Margareth. Ia juga sering menceritakan tentang keluarganya, tentang ia sebagai anak kedua, dan tentang kebosannya dengan jagung.

 

“Aku benci dengan jagung ! Rasanya hambar dan baunya aneh. Lagipula wajahku bisa seperti jagung kalau setiap hari harus memakan itu !”

 

Itu alasan yang selalu Yixing ucapkan tiap kali Bibi Margareth bertanya. Dan Yixing tak pernah mencoba untuk menyukai jagung. Sampai suatu ketika di awal musim semi yang hangat dengan lapisan es tipis yang masih tersisa, Yixing mendapati dirinya dipaksa duduk oleh Bibi Margareth di salah satu meja yang ada di toko rotinya.

 

“Apa ini ?” tanya Yixing saat mengamati sepiring roti yang masih hangat dengan hiasan warna putih diatas roti hingga terlihat seperti debu, yang dibawa oleh Bibi Margareth. Bentuk rotinya biasa saja, mirip dengan roti gandum yang biasa dijual Bibi Margareth. Hanya saja yang ini ada butiran gula tepung diatasnya.

 

“Ini roti baru buatanku.” Bibi Margareth mengambil satu dan memberikannya pada Yixing. “Cobalah !”

 

Yixing tak pernah meargukan roti buatan Bibi Margareth. Sudah dua bulan dia bekerja disini dan sudah banyak roti pula yang ia coba. Dan dari semuanya ia tak pernah mendapati ada roti buatan Bibi Margareth yang tak enak.

 

Ia menggigitnya pelan dengan ujung giginya. Mulutnya bergerak-gerak untuk merasakan. Serat dalam rotinya yang lembut dan isi roti yang tidak diletakkan di tengah namun dicampur bersama adonan roti, masih terasa teksturnya dan Yixing menyukai itu. “Wow, rasanya keren !” serunya dengan mulut setengah mengunyah. Matanya berbinar karena baru pertama kali ia merasakan roti yang seperti itu.

 

“Ah, sudah kuduga pasti akan berhasil.” Bibi Margareth ikut mengambil sepotong roti dan menyobeknya menjadi dua untuk melihat keraknya. “Ini roti jagung”, balasnya saat melihat wajah Yixing yang masih penasaran.

 

Yixing yang tadinya sedang berusaha untuk mengambil roti kedua, seketika langsung menghentikan kegiatannya. Kepalanya bergerak untuk menatap Bibi Margareth. “Ini ? Roti jagung ?” Bibirnya mengerucut tak percaya, “Bagaimana bisa ?!”

 

“Tentu saja bisa”, balas Bibi Maragreth dengan tenang. Ia memasukkan sepotong rotinya dan berkata, “Itu hadiah untukmu.”

 

Yixing menatap wanita setengah tua di depannya dengan tak mengerti. “Maksudnya ?”

 

Bibi Margareth mengambil segelas air putih dari guci keran bersih yang diberi segalon air diatasnya. “Kuharap setelah ini kau tak lagi membenci jagung, Yixing”, jawabnya sembari menyerahkan gelas berisi air itu kepada laki-laki yang sudah ia anggap seperti anaknya sendiri.

 

“Itu tak akan berhasil”, ujar Yixing lirih. Ia menjauhkan sepiring roti jagung itu begitu tahu bahwa roti yang enak ini dibuat dari bahan baku yang paling ia benci.

 

Cepat-cepat Bibi Margareth menahannya. “Jangan begitu !” Ia mengambil sebuah dan meletakkannya di telapak tangan Yixing. “Roti ini berbeda dengan roti yang lain. Di dalam roti ini tersimpan doa dariku agar hal yang kau cita-citakan tercapai suatu saat nanti.”

 

Yixing terdiam. Kata-kata Bibi Margareth menohok hatinya. Di tangannya kini ada sebuah makanan yang berisi doa dan harapan dari Bibi Margareth padanya, apakah ia akan membuang dan menolaknya. Padahal Bibi Margareth sudah berbaik hati dan berususah payah untuknya agar ia tak lagi membenci jagung.

 

“Aku tahu kau pasti punya mimpi yang besar. Suatu saat nanti jika kau merasa ragu dan lelah dengan semuanya, ingat-ingatlah roti ini”, imbuh Bibi Margareth dengan suara lembut. “Okey ?”

 

Yixing memang anak laki-laki. Anak laki-laki yang jahat, ber-ego tinggi, dan sering merepotkan orang lain. Namun meski anak laki-laki, ia tak mungkin bisa menahan perasaan haru yang mengalir melalui rongga dadanya. Ia memeluk Bibi Margareth erat. “Terimakasih bibi . . .”

 

Bibi Margareth tersenyum dan menepuk-nepuk punggung Yixing dengan sayang. “Bibi akan selalu bersamamu.”

 

Sejak saat itu, Yixing telah memantapkan hatiny, untuk memilih menjadi apa ia nanti. Ia ingin seperti Bibi Margareth yang selalu memberikan kebahagiaan lewat roti, yang bisa merubah kebencian menjadi kasih sayang lewat roti, dan sanggup merubah sifat buruk orang lain melalui roti.

 

Itulah alasan mengapa Yixing ingin  menjadi patissier.

 

**********************

 

Beijing, China, 2013

 

Selama beberapa hari terakhir, Yixing belum membalas surat itu secepat biasanya dan masih berkutat dengan fikirannya yang akhir-akhir ini mulai banyak bicara untuk ikut memberi pendapat. Ia tahu sikap anehnya membuat Tao merasa bingung. Biasanya sehari atau dua hari setelah surat itu sampai ke tangannya, ia akan menemui Tao saat makan siang lengkap dengan balasannya. Namun kali ini tidak. Bahkan sampai lima hari, tangannya masih belum tergerak untuk menulis surat.

 

“Kau tampak aneh.”

 

Yixing yang sedang makan nasi hainan di kedai milik Paman Choi menolehkan kepala dan menaikkan alisnya bingung. “Mwakswudmu ?” serunya dengan mulut penuh potongan daging dan kentang.

 

“Ishhh, menjijikan !” Tao bergidik menjauh untuk menyelamatkan dirinya dari serangan nasi yang mungkin akan mengenai bajunya, atau yang lebih parah, mengenai wajahnya. “Telan dulu, baru bicara.”

 

“Kauw cwerewet”, ujar Yixing dengan dengusan keras yang dibalas Tao dengan delikan matanya yang sipit khas orang Tiongkok. Ia meminum air putih bersamaan dengan menelan sisa-sisa makanan di mulutnya dengan susah payah. “Ada apa ?”

 

Tao menyumpit sepotong daging babi panggang dan menaruhnya keatas piring. “Sudah beberapa hari ini kau tak menitipkan surat ‘sialan’ itu padaku.”

 

Yixing menyeringai mengejek. “Kenapa ? Bukankah seharusnya kau senang karena tak harus merasa direpotkan olehku ?” cetusnya tak kalah cerdik.

 

Tao memutar bola matanya.”Harusnya sih seperti itu, tapi . . . .”

 

“-tapi apa ?” desak Yixing tak sabar.

 

Desah nafas itu terdengar dari bibir Tao yang baru saja basah oleh bir kaleng yang ia beli. “Tapi aku kasihan denganmu.” Ucapannya lugas, tanpa ada keraguan sama sekali disana. Ia bisa melihat Yixing yang tiba-tiba menundukkan kepala tak berani melihat.

 

“Aku sering melihatmu berdiri di balkon kedai dan menatap kosong sembari memegang selembar kertas dan bolpoin.” Tao mendekat berusaha untuk menyelediki. “Aku sahabatmu, Zhang Yixing, kau tahu itu kan ?” Ujarnya berusaha menyakinkan Yixing untuk bercerita masalah itu padanya. “Jadi apa yang sebenarnya terjadi ?”

 

Yixing terdiam selama lima menit dan kemudian menghela nafas panjang. Ia memalingkan muka dan tersenyum lebar. “Tao, apakah kau sadar kalau kau terlalu banyak ingin tahu ?” tanyanya dengan nada jenaka. “Seperti yang kubilang, kau masih kecil, nak”, godanya lagi.

 

Begitu mendengar kata-kata ‘kau masih kecil’ membuat Tao memberengut dan berjengit menjauh. Ia hanya lima bulan lebih muda daripada Yixing, dan sahabatnya itu terus saja memperlakukannya seolah ia anak berumur lima tahun. Menyebalkan ! Lagipula ia benci diolok-olok seperti itu. Hanya dengan satu kali gerakan ia berhasil membuat kening Yixing memar kecil dengan lemparan sumpitnya yang jitu. “Rasakan ! Dasar Zhang Yixing yang sok tua !”

 

*****************

 

Yixing mendorong troli belanjannya yang sekarang penuh dengan berbagai kebutuhan rumah tangga ke arah rak makanan. Terkadang ia menggerakkan trolinya dengan asal sesuai dengan suasana hatinya yang sedang sebal. Ia baru saja ditraktir makan di McDonalds oleh Tao yang beberapa hari lalu mendapat kiriman uang dari neneknya. Entah Yixing sendiri tak tahu nenek yang mana yang bocah itu maksud (Tao terlalu banyak banyak mempunyai nenek. Ada yang dari Tianjin, Guangzhou, Shenyang, Macau, dan beberapa Yixing tak ingat karena terlalu banyak).

 

Di tengah perjalanan pulang menuju rumah untuk mengakhiri harinya yang sempurna, dering telepon dari pamannya menghancurkan itu semua.

 

“Hari ini aku sedang sibuk, kau bisa pergi ke supermarket sekarang untuk memberi kebutuhan bulanan ?”

 

Seketika Yixing langsung memberengut kesal. Ia sudah setengah jalan menuju pulang, dan tinggal beberapa meter lagi menuju rumah yang selama lima tahun ini ia tinggali bersama pamannya. “Kenapa tidak bilang dari tadi ? Aku sudah di Jianhia.”

 

“Aku sedang sibuk refleksi untuk kesehatan, mana kutahu kalau kau sudah hampir sampai.” Pamannya mendengus seperti banteng lewat sambungan telepon. “Kau pergi belanja sekarang, atau tak akan ada makan malam untuk hari ini !”

 

Yixing memutar bola matanya tanpa sadar, lupa kalau pamannya tak mungkin bisa melihat. “Bah, refleksi apanya ? Bilang saja paman sedang tidur siang !” Lima detik kemudian, ia menjauhkan layar handphone nya sejauh mungkin dengan mata berkedut tak senang. Di sebrang sana pamannya sedang marah-marah karena Yixing menganggap enteng ritual tidur siang yang disebut pamannya sebagai bagian dari refleksi kesehatan.

 

“Ya, ya, aku segera kesana”, balasnya setengah hati. Ia memiringkan kepala untuk menahan handphone itu agar tetap terjepit diantara telinga dan bahu kirinya sementara ia sedang berusaha untuk mengambil dompet. Tangannya membuka dompet yang terselip di celana jeansnya yang sudah kesempitan dengan susah payah. Cepat-cepat ia menghitung uang yang sedang ia bawa. Hanya dua ratus lima puluh yuan, desahnya dalam hati. Semoga cukup untuk membayar belanjaan pak tua itu nanti.

 

Mengingat-ingat kembali telepon menyebalkan dari Paman Zhang membuat Yixing jadi tambah kesal. Di hari sepanas ini, kenapa pula pamannya harus menyuruh-nyuruh untuk belanja kebutuhan bulanan ? Kenapa tidak dari kemarin saja ? Umpat Yixing dalam hati.

 

Kakinya bergerak menuju lemari pendingin besar yang terbuka dan mengambil beberapa tofu mentah yang sudah terbungkus plastik ketat. Beberapa kali ia menguap karena suasana supermarket yang tenang dan udara di dalamnya yang gerah (secara kebetulan AC di supermarket itu rusak).

 

Ia sudah membeli semuanya kecuali kubis ungu dan sekilo kerang hijau yang dipesan pamannya. Katanya pak tua itu akan masak istimewa hari ini. Entah ingin masak apa. Awas saja kalau Paman Zhang masak yang aneh-aneh. Terakhir kali pak tua itu bereksperimen, Yixing langsung muntah-muntah selama seharian penuh. Paman Zhang memang pintar membuat roti, tapi tak cukup keren untuk membuat makanan (selain roti) yang bisa dimakan dengan selamat.

 

Yixing sedang memilih sebuah kubis ungu yang bagus ketika tiba-tiba sebuah gumaman pelan terdengar dari belakang punggungnya. Gumaman itu benar-benar pelan, hampir tak terdengar kalau saja ia tak menajamkan telinganya.

 

“Yang mana keju parmesannya ? Kenapa disini tak ada tulisannya sama sekali ?!”

 

Yixing menolehkan kepalanya sedikit dan mendapati seorang gadis dengan tinggi sedang dan kaos longgar berdiri memunggunginya. Dilihat dari rambut di puncak kepalanya yang berwarna sedikit kehitaman sementara yang lainnya berwarna pirang madu, Yixing bisa menebak kalau gadis itu mengecat rambutnya.

 

Yixing awalnya tak berniat untuk ikut campur, namun setelah dua menit ia menunggu bahwa gadis di belakangnya masih sibuk bergumul untuk menentukan mana yang disebut keju parmesan (kalau Yixing tak salah dengar), ia memutuskan untuk membantu. Toh, ia bisa membedakan semua jenis keju asal yang tidak aneh-aneh saja.

 

“Ada yang bisa kubantu nona ?”

 

“Ya. Aku ingin tahu dari semua keju ini,” gadis itu menjawab dengan kepala tertunduk karena masih sibuk melihat keju-keju yang ia pegang, “yang mana yang keju parme . . .” Ia mendongakkan kepala dan tiba-tiba hampir terjatuh karena melihat Yixing yang ia kira sebagai pegawai toko.

 

Namun Yixing hanya tersenyum menghadapi kekagetan kentara dari gadis itu. Tangannya yang putih khas orang China mengambil salah satu keju yang sudah dipotong segitiga dan meletakkannya di telapak tangan gadis itu. “Ini keju parmesan yang kau cari.”

 

Gadis itu tergagap dan menerimanya tanpa sadar. “A-ah maafkan aku”, ia membungkukkan badannya dalam-dalam. “Kufikir kau salah satu pegawai toko.”

 

Yixing tertawa dengan nada suaranya yang khas. Gadis di depannya ini lucu sekali. Jika dilihat dari perawakan luarnya, sepertinya gadis ini adalah gadis kota metropolitan. Rambut di cat pirang madu, kaos longgar dengan tulisan-tulisan besar di bagian depan, dan sandal musim panas yang sedang trend akhir-akhir ini (ia pernah mendengar Fan Bing dan Lin Lin membicarakan itu di tengah isitirahat). Namun jika dilihat dari cara bicara dan sikap gadis itu, sepertinya ia bukan gadis kota yang menyebalkan. Mungkin ia salah satu gadis yang baik dan sopan.

 

“Tak masalah”, balas Yixing enteng. “Kebetulan aku cukup tau tentang keju, jadi kufikir tak ada salahnya untuk membantumu.”

 

Gadis itu tersenyum masih setengah malu-malu dan menyelipkan sebagian anak rambutnya kebelakang telinga dengan salah tingkah. “Tapi bagaimanapun juga aku minta maaf”, ujarnya dengan nada menyesal. “Dan terimakasih atas bantuanmu.”

 

Desah nafas Yixing yang riang terdengar diantara mereka berdua. Entah kenapa gadis itu tiba-tiba membuatnya banyak kehilangan kata-kata. Benar-benar tipikal gadis yang aneh menurut Yixing. Ataukah dirinya sendiri yang aneh ? Ah, masa bodohlah.

 

“Oh ya, kita belum berkenalan”, ujar Yixing tiba-tiba. Sekali lagi ia menjulurkan tangannya ke arah gadis itu. “Aku Zhang Yixing. Kalau kau ?”

 

Gadis itu mengulum senyumnya dan berniat untuk membalas uluran tangan Yixing. “Aku Kim-“

 

HYOYEON !”

 

Teriakan keras itu seketika membuat Yixing dan gadis di depannya menoleh ke belakang karena kaget. Seorang gadis lain berteriak dari jarak lima meter. Yixing bisa melihat kalau gadis di sebelahnya itu mengenal teman perempuan yang barusan berteriak memanggilnya.

 

“Wang Fei !” Gadis berambut pirang madu di sebelah Yixing itu balas berteriak sembari melambaikan salah satu tangannya dengan seulas senyum. “Sini !”

 

Gadis yang dipanggil Wang Fei itu mendekat. Ia berlari dengan nafas terengah-engah. “Aku . . . . mencarimu . . . kemana-mana”, serunya dengan oksigen yang terputus-putus. Kemeja musim panasnya yang tipis dan dipadu celana pendek, memperlihatkan kulitnya yang sama putih seperti Yixing. Rambutnya panjang dan berwarna hitam kelam, namun tetap terlihat terawat.  Jelas dia salah satu tipe gadis yang suka masuk ke salon-salon.  Gadis itu mengangkat kepalanya dan mendapati ada orang lain berbeda jenis kelamin di dekatnya. “Dia siapa ?”, bisiknya penasaran.

 

Gadis berambut pirang madu yang tadi dibantu oleh Yixing tersenyum lebar. “Ini Zhang . . .” Ia tak meneruskan ucapannya, lupa dengan nama laki-laki yang membantunya barusan. “Ehm  . . .”

 

“ . . . Yixing. Zhang Yixing”, imbuh Yixing cepat-cepat. Ia mengulurkan tangan ke arah teman gadis berambut pirang madu itu, mengajaknya berkenalan.

 

Uluran tangannya dibalas dengan ragu-ragu dan pelan. “Wang Fei”, balasnya pendek. Gadis berambut hitam itu menyadari kalau ia tak ingin dekat-dekat dengan orang asing semacam Yixing dan mulai menarik-narik kaos temannya itu. “Ayo pulang”, bisiknya pelan.

 

Gadis berambut pirang madu itu mengerti ketidak nyamanan temannya dan membungkukkan badan untuk pamit. “Aku pergi dulu.” Ia menaruh keju parmesannya kedalam troli. “Dan terimakasih untuk bantuannya.”

 

Yixing hanya menggerakkan bahunya santai sebagai balasan. Dan kedua perempuan itu berlalu pergi meninggalkannya meski sesekali terdengar gumaman curiga dari teman gadis berambut pirang madu itu. “Siapa dia ? Kau mengenalnya ?”

 

Yixing berjalan menuju ke kasir setelah mendapatkan sekilo kerang hijaunya dengan kening berkerut. Hyoyeon ? Ia bergumam dengan dirinya sendiri sembari mengingat-ingat. Bukan nama yang lazim untuk orang China. Ia mengambil sekaleng susu segar dingin dan melemparkannya kedalam troli dengan asal. Sepertinya aku pernah mendengar nama itu di suatu tempat.

 

Tiba-tiba Yixing tersadar kalau hari ini ia terlihat aneh dan banyak berfikir hanya karena satu nama yang secara kebetulan masuk ke gendang telinganya. Ah sudahlah, toh aku tak akan bertemu dengannya lagi, jadi buat apa difikirkan ?

 

                                                                TBC

 

Well, part yang lebih panjang daripada biasanya. Gimana ? Hyoyeon sama Lay udah ketemu kan ? Hehehehe. Maaf kalau part nya absurd banget. Lagi writer’s block dan ga tau harus gimana L Mungkin part 4 atau part 5 adalah part terakhir dari FF ini. Tapi ga tau bakal aku post kapan. Semoga masih ada yang sudi buat baca dan komen FF ini.

 

Seperti biasa, silahkan mampir di Summer’s Note

 

Pai pai ^ ^

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

18 thoughts on “The Desire Dream (Scene 3)

  1. yeahh akhirnya dipertemukan juga setelah sekian lama hanya bisa saling bersurat-suratan #lebay
    next chapternya cepetlah dilanjut 😀

  2. Finally!! Keluar juga ><
    HyoLay Meet!! gaya sih, surat-surat-an segala pake inisial/nama lain, jadi gak tau kan udah ketemu -_-
    O iya, thor, kok author bisa tau banyak tentang roti sih? nyari di internet ato emang tau? /maap kepo thor'-'/

    Lanjutannya jan lama-lama thor!! ditunggu beud loh 😀

    • maaf maaf bikin kamu nunggu lama hehehhe

      maklum mereka berdua kan masih labil kayak yg bikin *eh

      ehm itu aku sih lumayan tau roti, trus baca baca buku madre sama liat di google ._.

      siap siap makasih ya ^ ^

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s