[Freelance] The Revenge (Chapter 2)

The Revenge

The Revenge Chapter 2

Author : Kenia Nurasha | Length : Chapter | Rating : PG-17 | Genre : Fantasy, Romance

Cast : Sooyoung Girls’ Generation, Jessica Girls’ Generation, Kris EXO, Luhan EXO

Poster by : Fearimaway (ssoopuding.wordpress.com)

 

 

 

Previous Chapter

 “Luhan. Kris dan aku tidak seperti yang kau pikirkan.” Aku berusaha meyakinkan Luhan.

“Belum Sooyoung. Apa kau tidak sadar?.” Dan pada saat itu juga Luhan berbalik dan meninggalkan ku sendirian

 

Chapter 2

“Bagaimana kencan kalian?.” Tanya Jessica setelah aku menutup pintu kamar.

“Yah, lumayan. Tapi…” Aku ragu untuk menceritakan kejadian yang menurutku memalukan itu kepada Jessica.

“Biar kutebak! Luhan ingin memegang tanganmu tapi dia salah, lalu dia malah memegang daerah yang yah.. kau tahulah.” Mataku melebar dan mungkin hampir keluar karena mendengar dugaan Jessica yang benar-benar gila.

“Tidak! Bukan seperti itu. Bagaimana kau bisa menaruh dugaan seperti itu?.”

“Lalu kenapa? Ceritakan padaku. Kau tidak mau lagi kan aku menyatakan dugaan-dugaan gilaku?.” Jessica terkekeh. Menyebalkan. Mau tak mau aku juga harus menceritakan.

“Tadi Luhan menciumku. Lalu aku kaget. Dia berfikir bahwa aku tidak suka dengannya.” Sejujurnya aku tidak mau mengingat lagi kejadian tadi. Itu sungguh membuatku geram. Luhan bahkan tak mau mendengar penjelasanku. Dia malah meninggalkanku sendiri diluar. Dasar penyihir gila!

“Ciuman pertamamu kan? Wajar saja kau kaget. Aku juga dulu sama sepertimu. Ciuman pertamaku dua tahun yang lalu. Aku bahkan lebih parah darimu. Saat itu pacarku menciumku, kau tahu apa reaksiku? Aku melompat! Tentu saja karena kaget. Dan itu membuat aku dan pacarku saat itu tidak bicara selama empat hari. Lalu aku minta maaf dan menjelaskan alasannya. Jadi kupikir yang akan kau lakukan saat ini adalah membiarkan Luhan sendiri lalu kau minta maaf padanya. Besok mungkin bisa.” Benar kata Jessica. Aku harus minta maaf pada Luhan. Tapi tidak sekarang.

“Terima kasih Jess. Sebaiknya kita tidur.”

-.-.-.-.-.

Tidak ada yang lebih menyebalkan dari pagi ini. Luhan tidak bicara padaku. Itu wajar karena kami sedang mengalami salah paham. Tapi yang aku tidak mengerti, kenapa Kris juga mendiamkanku? Apa salahku?. Aku berusaha mengingat-ingat apa yang aku perbuat sampai aku bisa membuat Kris diam padaku. Dan hasilnya nihil. Apa mungkin karena kencanku dengan Luhan? Tapi Luhan bilang itu menjadi urusan Luhan. Sudahlah, aku ambil positifnya saja. Kris tidak akan mengomeliku atau marah-marah padaku.

“Sooyoung, setengah jam lagi kita berangkat untuk latihan, oke?” Tante Margaret menepuk pundakku dan aku menoleh padanya lalu mengangguk.

“Latihan dimana? Halaman belakang? Atau mungkin di hutan?.” Tanyaku pada Tante Margaret.

“Kita latihan diluar. Naik mobilku saja.” Apa? Latihan diluar?!

“Oh, jangan kaget. Aku sudah ijin pada Andreas untuk mengijinkan kita berlatih diluar. Dan Andreas menyetujui. Tapi kita harus berhati-hati. Selain Morphis, ayahmu juga memasang wajahmu di koran. Dan keuntungan yang di dapat setelah mendapatkanmu, ayahmu akan memberi $1.000.000.” Wajahku berubah sedih ketika mengingat ayah dan ibuku. Ibuku meninggal satu tahun yang lalu. Makanya ayahku menitipkanku di pondok, yang secara tidak langsung telah memasukkan aku kedalam kandang harimau. Dan ayahku tidah tahu tentang kelompok Morphis yang mencoba membunuhku.

“Kita harus menyamar? Memakai wig atau bagaimana?”

“Tidak usah menyamar. Kita cari tempat yang sepi. Aku juga baru saja mendapatkan tempat yang pas.”

“Apa aku boleh ikut? Rachelle bilang dia bisa melatihku nanti sore. Dan kupastikan aku akan bosan jika tidak ada Sooyoung.” Jessica membuat wajah yang disedih-sedihkan supaya Tante Margaret membolehkannya ikut kami. Tante Margaret berpikir, menimbang-nimbang apa Jessica boleh ikut kami.

“Baiklah. Kau boleh ikut,” Senyum Jessica langsung mengembang.

“Aku akan bersiap-siap dulu.” Tante Margaret meninggalkan kami berdua.

“Bagaimana Luhan?” Sial. Aku diingatkan lagi tentang Luhan.

“Dia tidak menyapaku hari ini.”

“Kurasa dia memang sakit hati atas sikapmu yang kegetan kekeke. Sudahlah tidak usah pikirkan Luhan.”

“Apa perlu kuberi tahu bahwa pertama kali yang membahas Luhan adalah kau?.” Ucapku dengan nada sinis. Jessica tertawa menyadari kebodohannya. Apa semua penyihir memang punya sifat yang aneh ya?

“Ayo kita berangkat sekarang. Aku tunggu di mobil.” Aku dan Jessica segera membawa barang-barang yang kami perlukan, lalu menyusul Tante Margaret. Sebelumnya aku memakai liontin pemberian ibuku. Kata ibuku liontin ini bisa menangkal arwah-arwah yang berusaha menyakitiku.

-.-.-.-.-.

Aku hampir pingsan saat tahu Tante Margaret membawa kami latihan dimana. Pemakaman. Sekilas aku membayangkan bahwa Tante Margaret akan menyuruhku untuk membuat pasukan zombie, tapi cepat-cepat kutepis pikiran itu.

“Kau ingin didalam terus? Keluarlah! Tidak semenakutkan itu kok.” Teriak Tante Margaret dari luar.

“Kau pakai kalung ibumu, kan? Tenang saja. Tidak akan kenapa-kenapa. Tapi aku tidak janji, sih” Jessica menarikku keluar dari mobil. Aku berusaha tidak membangunkan mayat-mayat didalam tanah.

“Ayo kita keliling mencari sesuatu yang berharga.” Tante Margaret memimpin kami melewati gundukan tanah yang berisi mayat. Setelah melewati beberapa gundukan, Tante Margaret berhenti di depan nisan yang bertuliskan ‘Hwang Jieun’. Dari tanggal yang kulihat, dia meninggal sekitar 90 tahun yang lalu.

“Cepat duduk.” Aku duduk diantara Jessica dan Tante Margaret.

“Sekarang, hal pertama yang harus kau lakukan adalah, membaca nama wanita itu dan simpan di dalam kepalamu. Lalu, ucapkan nama itu dan dengan sopan memintanya berbicara padamu.”

“Hwang Jieun, aku ingin berbicara padamu.”

“Benar. Berikutnya kita nyalakan…” Ketika Tante Margaret menjelaskan, seorang wanita gempal muncul di balik batu nisan, wajahnya yang berkerut mengernyit ketika mata birunya mengayun kearahku. Setelah itu, wajahnya berubah menjadi senyuman lebar.

“Halo.” Kataku.

Pandangan Tante Margaret mengikutiku dan dia terlompat. Jessica terkekeh, “Sepertinya Sooyoung tidak perlu barang-barang ritual itu sama sekali.” Hwang Jieun terus menatapku sambil tersenyum.

“Kau manis sekali,” katanya. “Berapa umurmu?”

“Dua puluh.”

“Aku tahu dari pendarmu, bahwa kau bisa melihat hantu.” Hantu itu mengayunkan tangannya dan menepuk udara di sekelilingku, sepertinya di sekeliling pendarku.

“Indah sekali,” hantu itu bergumam. “Sangat mencolok. Pendarmu sangat terang. Jauh lebih terang dari pendarnya.” Pendarnya yang dimaksud adalah pendar milik Tante Margaret.

“Aku akan melepas kalungku, dan aku ingin tahu apa pendarku bisa berubah.”

“Ide yang bagus.” Ucap Jessica. Aku melepas liontin yang mengalung dileherku dan memberikannya pada Jessica.

Wanita tua itu tercekat. “Oh ya ampun.”

Aku melihat ada kilau di sebelah kiriku dan satu lagi di sebelah kananku. Jessica melepaskan kata-kata makian dan langsung mengalungkan liontin ibuku di leherku.

Hwang Jieun lenyap. Dan di tempatnya semula, muncul wanita dengan gaun kusam seperti pada masa kemerdekaan Amerika. Wanita itu berlutut padaku. “Nak, tolonglah aku. Aku sudah lama menunggumu.” Pinta wanita itu sambil terisak. Dibelakangnya pria dengan kaus kotor dan robek berjalan menghampiriku. Dan ada beberapa hantu lainnya berebut menuju kearahku. Mereka memintaku untuk menolong mereka. Karena mereka dalam keadaan orang mati yang tidak masuk surga ataupun neraka.

Tante Mergaret menyerahkan daun-daun kering yang terbakar di dalam cawan. Baunya tidak seperti daun kering yang terbakar. Lebih wangi daripada daun kering yang dibakar. Aku tau fungsi daun kering yang dibakar walaupun aku tidak tahu apa namanya. Untuk melenyapkan hantu. Walaupun untuk sementara.

“Sekarang dorong mereka kembali. Konsentrasi saja. Tidak usah gugup.”

Aku memejamkan mataku. Membayangkan arwah-arwah itu kudorong masuk kembali ke alam mereka. Keringatku bercucuran. Aku terus berkonsentrasi untuk mengirim arwah-arwah itu kembali. Kalau hanya satu arwah saja aku mungkin tidak perlu serepot ini. Tapi ada puluhan arwah yang harus kukirim kembali. Tiba-tiba aku mendengar Jessica memekik. Setelah selesai mengirim arwah, kubuka mataku dan menengok kearah Jessica.

“Lihat di bawah pohon ek itu.” Jessica menggenggam tanganku dengan erat. Aku terkejut melihat makhluk itu merayap sambil menyeret jasadnya yang sudah terkoyak. Di kepalanya hanya tinggal tengkorak dan kulit yang dilapisi beberapa helai bulu. Makhluk itu mendekati kami. Itu seekor tupai. Bisa dilihat dari bulu abu-abu yang hanya tinggal beberapa saja dan bulu di ekornya yang kecil. Angin membawa bau dagingnya yang membusuk.

“Lakukan sesuatu, Soo.” Bisik Jessica.

Aku menutup mataku. Membayangkan tupai itu kudorong kembali ke alam yang sebenarnya. Saat sedang fokus, tiba-tiba tanah yang kupijaki bergetar. Aku langsung membuka mataku. Jessica menjerit. Tante Margaret manahan napas. Aku terbelalak melihat tanah di depanku terbuka dan mengahasilkan bunyi yang menggelegar. Tanah tumpah ke dalam retakan itu dan mengeluarkan kepulan debu. Jessica menarikku mundur. Beberapa saat kami terdiam. Suara menggelegar terdengar kembali. Makam-makam masuk ke dalam tanah. Seperti baru saja terkena gempa bumi. Tempat ini benar-benar hancur. Pandanganku kosong. Tidak tahu kenapa sampai seperti ini dampaknya.

“Aku tidak menduga akan terjadi hal seperti ini. Sooyoung masih muda, tapi aku tidak tahu kalau dia sekuat ini.” Tante Margaret terlihat cemas “Kita pulang sekarang.” Jessica memapahku berjalan menuju ke mobil. Dari awal aku sudah tahu bahwa datang ke pamakamaan adalah ide yang buruk.

-.-.-.-.-.

Sesampainya dirumah, aku langsung membersihkan tubuhku dibawah guyuran air hangat. Aku masih heran bagaimana aku bisa melakukan hal tadi. Aku tidak percaya kalau kekuatanku sampai sebesar itu. Niatku untuk berlama-lama didalam kamar mandi batal saat kudengar teriakan manusia tiang itu. “Kenapa kau lama sekali? Kalau dalam lima menit belum keluar, akan kudobrak pintu ini.” Dasar seenaknya. Mengaturku sesukanya. Kalau dia manusia biasa, aku mungkin sudah meninju wajahnya.

Beberapa menit kemudian aku keluar sambil menyisir rambutku. “Kris menuggumu diluar. Cepat temui dia, atau dia akan mengamuk lagi.” Aku menatap Jessica, bermaksud memintanya ikut aku menemui Kris. Tapi yang dia lakukan hanya mengangkat tangannya lalu merebahkan tubuhnya pada tempat tidur. Aku mendengus kesal lalu melempar sisirku ke meja rias dan membuka pintu kamar dengan kasar.

Saat aku berkeliling mencari Kris, aku menemukannya di dekat tangga menuju loteng. Aku berjalan mengahampirinya. Baiklah Sooyoung, sebentar lagi kau akan mendengarkan manusia tiang itu memarahimu. Kris menatap tajam kearahku. Dia menarik lenganku dengan kasar. Wajahnya hanya berjarak beberapa senti dengan wajahku. Aku bisa dengan jelas melihat tatapan marahnya.

“Kau melakukan pemanggilan di pemakaman?.” Kris bertanya dengan suara yang amat pelan dan menahan marah. Aku hanya mengangguk. Tak sanggup berkata lagi.

“Kau tahu itu tidak benar bukan?.” Tanyanya sinis.

“A-Aku tidak punya pilihan.” Suaraku mencicit.

“Kau bisa menolaknya!”

“Aku sudah coba!.” Aku menarik lenganku dengan kasar. Aku muak dengan Kris. Kenapa dia selalu menyalahkanku?

“Kau tidak bisa mencoba menolak. Pilihannya hanya kau mau melakukannya atau tidak. Dan satu lagi. Kau bahkan kemarin tidak meminta izin padaku kalau kau akan pergi dengan Luhan. Kau pergi seenaknya sendiri. Kau tidak tahu apa bahwa diluar itu bahaya?!” Kris berteriak di depanku. Wajahnya sudah memerah dan otot-otot di lehernya mulai tampak. Mataku berair. Kenapa dia selalu menyalahkanku?

“Sooyoung benar. Dia sudah mencoba. Kau tidak bisa seenaknya menyalahkan Sooyoung, Kris. Dan apa salahnya Sooyoung pergi dengan Luhan. Kau bukan siapa-siapanya. Tidak berhak mengatur Sooyoung semaumu. Luhan ada untuk menjaganya kalau kau mau tau.” Aku kaget dengan kehadiran Jessica disini. Jessica menghampiriku dan langsung menyeretku bersamanya.

-.-.-.-.-.

“Kris memang otak udang. Apa dia tidak berpikir panjang? Selalu saja menyalahkan orang lain. Manusia gila!” Jessica mengeluarkan semua sumpah-serapahnya untuk Kris. Aku hanya diam.

“Jess, lebih baik aku tidur di kamar sebelah. Aku ingin sendiri.” Jessica menatapku iba.

“Panggil aku jika ada apa-apa.” Aku hanya mengangguk lalu keluar kamar dan menuju kamar tepat di sebelah kamarku dan Jessica.

Sendirian berarti tidak ada yang kukerjakan selain meringkuk di balik selimut dan menangisi betapa kacaunya diriku. Aku mengacaukan semuanya. Aku tidak bisa mengontrol kekuatanku. Beruntung kami tidak dikurung karena melakukan pemanggilan sampai berdampak seperti itu. Orang yang bisa kuandalkan hanya Kris, Luhan, dan Jessica. Tapi sekarang aku melukai Luhan, membuat kesal Kris, dan menampik Jessica.

Aku ingin pulang. Kalau aku punya nyali, aku akan segera berkemas lalu pergi meninggalkan tempat ini. Tapi yang bisa kulakukan hanya menangis. Aku benci diriku yang begitu lemah. Tak ada yang ingin kulakukan lagi selain menangis, sampai akhirnya aku tertidur dengan letih.

Ketukan pintu membuatku terbangun. Aku mengucek mataku. Kulihat dari jendela bahwa ini masih gelap. Kutengok arlojiku. Masih pukul 1 dini hari.

“Sooyoung, ini aku.” Setelah jeda beberapa saat dia menambahkan, “Kris.” Sudah kutebak. Mau apa dia? Aku menarik selimut sampai ke hidungku dan menutup mata.

“Sooyoung?.” Terdengar bunyi derak pintu. “Aku perlu bicara denganmu.”

To Be Continue

Author’s Note : Terinspirasi dari novel karya Kelley Armstrong berjudul The Reckoning. Fanfic ini bisa dibilang sama tapi beda sama novelnya. Terima kasih telah membaca ^^

36 thoughts on “[Freelance] The Revenge (Chapter 2)

  1. gayaaaa, sangar bngat Sica…. Jdi g ykin dpat Laki ntar tu mpok….. Hahaha
    btw siapa cwo sica yg bkin dia ampe Loncat d.cium ?? Kkk
    d.tnggu Lnjutannya

    • hahaha dapet lahh.. masa kece2 gt nggak dapet cowok kwkwk
      cowoknya dibayangkan sendiri aja hehe
      makasih ya udah mau baca^^

  2. Wuaah seru banget ceritanya, selalu bikin penasaran endingnya– ini kecepetan bgt thor uu hihi tapi gapapa deh, ditunggu kelanjutannya :))

  3. ini ff kapan d lanjut thor,aku penasaran sama lanjutannya,brharap sookris bersatu,jgan lama2 thor,kburu jamuran ak nunggunya. . .gomawo. . .

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s