[Freelance] Camera and Canvas

Camera and Canvas

Title     : Camera and Canvas

Author: cupcakes95

Length: Oneshot

Rating : General

Genre : Romance, School Life (agak keju)

Note: Aku gak tau apa ada typo lagi atau enggak, jadi mohon maklum ya kalo tiba-tiba nyempil typo hahaha. Btw ini adalah pertama kalinya aku ngirim ff ku kesini hahaha, selamat membaca!

Seohyun selalu menyukai bau cat minyak yang memenuhi ruangan seni. Gadis itu memang aneh, disaat teman-temannya menggandrungi wewangian yang mereka beli di mall, Seohyun lebih menyukai bau cat minyak. Mungkin karena gadis itu sangat suka melukis. Bahkan teman-temannya selalu bertanya, mengapa Seohyun bisa begitu menyukai seni lukis. Saat ditanya seperti itu, Seohyun selalu menjawab

“Lukisan sama seperti ku,”

Jawaban yang tidak menjawab pertanyaan teman-temannya dengan jelas.

“Kami tidak mengerti?” saat temannya berkata seperti itu, Seohyun selalu memberikan senyum kecil sebagai balasannya.

Gadis itu pendiam, tetapi tidak lantas membuatnya menjadi gadis cupu atau antisocial yang hanya diam di pojokoan kelas.

Gadis itu cukup dikenal di sekolahnya, selain karena wajahnya yang cantik juga sifat pendiamnya, Seohyun sudah banyak menyumbangkan prestasi untuk sekolahnya. Dari lomba melukis tentunya.

Dari segelintir hal tentang Seohyun yang diketahui teman-teman terdekatnya, ternyata masih ada satu rahasia yang dipendam gadis itu.

Seohyun menyukai Oh Sehun. Teman sekelasnya yang begitu menonjol diantara laki-laki lain di kelasnya. Lelaki itu sangat menyukai fotografi. Seohyun selalu mengagumi foto yang Sehun hasilkan dari kamera SLR nya. Pria itu adalah ketua dari klub fotografi di sekolahnya. Mereka tidak jarang mengadakan pameran yang isinya merupakan foto hasil dari anak-anak klub, dan pameran itu adalah hal yang membuat Seohyun mengenal, ah lebih tepatnya, mengetahui Oh Sehun. Yang Seohyun tahu, Sehun adalah tipe yang tidak jauh dari murid laki-laki di kelasnya, kadang suka membolos, tidur di kelas, atau diam-diam membaca majalah dewasa.

Seohyun begitu kaget saat tahu bahwa Sehun ternyata menyukai fotografi, dan hasil fotonya bisa begitu menggerakkan hati Seohyun. Entahlah, Seohyun selalu merasa diselimuti kehangatan saat melihat foto milik Sehun.

Foto seorang anak yang sedang bergandengan tangan di pantai bersama ibunya. Seohyun selalu tersenyum saat melihat foto itu di pameran. Ibu dan anak itu berjalan di atas pasir tanpa alas kaki dengan latar belakang ombak dan langit senja berwarna jingga keemasan. Ada perasaan ingin menangis saat melihat foto itu, entahlah. Sejak saat itu Seohyun selalu memperhatikan Sehun, secara diam-diam tentunya.

Seperti saat ini, Seohyun mendapat tugas untuk menjadi penjaga perpustakaan, selain menjadi bagian dari klub seni gaids itu juga merupakan anggota klub perpustakaan, dan disana lah Oh Sehun, berdiri membelakangi jendela sambil membaca buku tentang fotografi. Seohyun duduk di tempatnya sambil mengagumi sosok Sehun dengan rambut coklatnya yang disiram oleh balutan warna jingga, dan itu membuat Sehun tampak seperti ilusi.

Gadis itu tahu, Sehun sering sekali datang ke perpustakaan untuk membaca buku tentang fotografi………. Atau cara merawat ikan. Seohyun tertawa kecil  mengingat kejadian sebulan yang lalu.

Saat itu Sehun hanya diam di depan gadis itu sambil memegang buku. Seohyun menatap Sehun dengan ragu.

“Kau… mau apa?” tanya Seohyun pelan.

Seohyun terlihat gusar, pria itu terlihat bingung. Setelah membuang nafas pelan, pria itu memberikan buku yang dia pegang kepada Seohyun.

Gadis itu bingung, lalu menatap buku yang baru saja Sehun beri. “Cara Merawat Ikan”

Gadis itu tertawa saat membaca judulnya, jadi ini alasan mengapa Sehun terlihat gusar. Pria itu malu.

“Kenapa?” terdengar dengusan Sehun.

“Tidak, menurut ku tidak ada salahnya kau meminjam buku ini. Kau memelihara ikan ya ternyata.”

Sehun hanya mengusap tengkuknya pelan sambil menunduk.

Gadis itu juga tahu mengapa Sehun menyukai fotografi.

“Sehun, mengapa kau begitu tergila-gila dengan fotografi?” tanya salah seorang temannya ketika sedang berkumpul di kelas. Seohyun mendengar percakapan mereka dengan jelas, karena jarak bangkunya dengan bangku Sehun hanya dipisahkan oleh dua bangku.

“Karena fotografi adalah aku.” Seohyun kaget mendengar jawabanpria itu, disaat teman-teman Sehun yang lain bingung. Tak lama Seohyun tersenyum. Gadis itu tahu apa maksud lelaki itu.

Karena fotografi dan Sehun sama-sama menyimpan kenangan. Manusia hanya bisa mengingat tetapi tidak bisa menggambarkan. Dan ingatan tentu saja bisa menghilang berjalan seiringnya waktu. Tetapi kamera menangkap dan menyimpan semua kenangan itu. Dan Oh Sehun, adalah kamera dalam kehidupannya sendiri. Lelaki itu ingin menyimpan semua moment penting dalam hidupnya agar dia tidak pernah lupa akan moment penting itu.

“Ini,” Seohyun terlonjak kaget saat menyadari Sehun sudah berada di hadapannya. Gadis itu canggung dan salah tingkah.

“Ap…” sebelum gadis itu melanjutkan kalimatnya, Sehun sudah berlari keluar dari perpustakaan. Seohyun hanya bisa menatap punggung Sehun yang semakin menjauh. Gadis itu mendesah kecil. Mengapa dia menjadi sangat ceroboh saat berhadapan dengan Sehun?

Seohyun menatap buku di hadapannya. Buku yang tadi dibaca oleh Sehun. Dengan pelan gadis itu mengambil dan membuka lembaran demi lembaran buku itu.

Dirininya tercekat saat melihat sesuatu yang terselip dalam salah sau halaman buku. Foto dirinya saat sedang melukis. Di foto itu tampak Seohyun yang sedang serius melukis dengan latar ruangan klub yang kosong dan kanvas menumpuk di setiap sudut ruangan. Seohyun terdiam. Gadis itu membalikkan foto itu, dirinya lebih tercekat saat melihat apa yang tertulis di balik foto.

“Kau gadis lukisan, dengan aroma cat minyak. Kau gadis lukisan dengan warna yang indah di sekitar mu.

Tidak bisakah gadis lukisan ini untuk menjadi milik ku saja?”

  …………………………….

Sehun selalu menyukai bunyi kamera. Entahlah, bunyi kamera selalu membuat hatinya senang. Sehun ingat saat pertama kali dibelikan kamera oleh ayahnya. Kamera yang terbilang murah dan hanya Sehun gunakan untuk menangkap gambar-gambar yang tidak penting. Tapi sejak saat itu, Sehun selalu menyukai fotografi.

Teman-temannya kadang bertanya-tanya mengapa Sehun sangat menyukai fotografi, setiap ditanya seperti Sehun hanya menjawab,

“Karena fotografi adalah aku,”teman-temannya hanya bisa menatap wajah Sehun bingun saat pria itu menjawab.

Sehun sama seperti teman-teman lelakinya yang lain. Lelaki itu suka membaca majalah dewasa, ribut saat melihat wanita cantik, malas mengerjakan pekerjaan rumah, atau membolos saat pelajaran. Tapi ada satu hal yang teman-temannya tidak tahu.

Sehun menyukai Seo Joo Hyun atau yang akrab dipanggil Seohyun. Teman sekelasnya yang pendiam. Gadis itu sangat menyukai Lukisan, tidak salah bahwa dia adalah anggota klub seni. Sehun pertama kali melihat Seohyun saat pria itu tidak sengaja lewat ruangan klub seni. Ruangan itu selalu beraroma cat minyak dan ruangannya agak gelap karena jendelanya lebih sering ditutup tirai. Tapi sore itu Sehun melihat pemandangan yang lain dari biasanya. Jendela terbuka lebar membiarkan sinar keemasan membanjiri ruangan klub. Tirainya yang berwarna putih berkibar tertiup angin. Sehun melihat Seohyun duduk dengan tenang sambil melanjutkan kegiatannya menumpahkan cat minyak di atas kanvas. Rambut gadis itu terurai ke samping, warna jingga dari cahaya yang menembus jendela menyinari wajah bagian kanannya. Sehun terpaku menatap pemandangan di hadapannya, pria itu menahan nafasnya, pemandangan di hadapannya indah. Terlampau indah. Tanpa sadar pria itu mengangkat kamera yang menggantung di lehernya lalu mengambil gambar di hadapannya dengan perasaan bergetar.

Sejak saat itu Sehun selalu memperhatikan Seohyun.

Saat berpapasan dengan gadis itu Sehun selalu mencium aroma cat minyak. Entahlah, dibandingkan dengan wewangian yang digunakan oleh teman-teman wanita di kelasnya, Sehun lebih menyukai aroma cat minyak milik Seohyun.

Seperti saat ini, Sehun tahu bahwa gadis itu merupakan anggota klub perpustakaan dan sering menjaga perpustakaan. Kesempatan seperti itu tidak pernah Sehun sia-siakan. Pria itu selalu datang ke perpustakaan bukan karena dirinya suka membaca buku. Tapi untuk mengagumi sosok Seo Joo Hyun yang sedang membaca dengan tenang di bangkunya.

Selain itu Sehun juga tahu sifat rendah hati yang dimiliki oleh Seohyun, yang tentu saja membuat pria ini semakin tidak bisa melepaskan pandangannya pada Seohyun. Pria itu juga tahu alasan mengapa Seohyun begitu menyukai lukisan. Bahkan teman-temannya selalu bertanya, mengapa Seohyun bisa begitu menyukai seni lukis.

“Lukisan sama seperti ku,” Sehun terdiam mendengar jawaban Seohyun yang sedang berdiri tidak jauh dari hadapannya bersama teman-temannya. Sehun tersenyum mendengar jawaban gadis itu.

Dirinya mengerti, begitu mengerti maksud gadis itu.

Lukisan adalah hasil dari luapan perasaan manusia. Sehun tahu bahwa Seohyun melukis sebagai ungkapan perasaannya. Lukisan adalah gambaran perasaan manusia. Sehun tahu betul itu. Oleh karena itu, Seohyun sama seperti lukisan.

Sehun terdiam menatap Seohyun yang sedang melamun. Pria itu mengambil dompet yang ada dalam saku belakangnya. Pria itu menatap foto yang terselip dalam dompetnya. Foto pertama Seohyun yang pria itu ambil. Sudah lama Sehun menyimpan foto itu dalam dompetnya.

Dengan menahan nafas, pria itu mengambil foto yang ada dalam dompetnya lalu menyelipkannya ke salah satu halam buku yang ia pegang. Dengan mantap lelaki itu menaruh buku di hadapan Seohyun yang sedang melamun. Untuk sesaat mata mereka bertatapan

“Ap….” Belum selesai Seohyun berbicara, pria itu sudah berlari duluan keluar dari perpustakaan dengan perasaan yang tidak menentu.

Setelah jauh dari perpustakaan, pria itu meraba dadanya perlahan, merasakan detak jantungnya yang semakin cepat.

Pria itu ingin, gadis itu tahu, bahwa Sehun selalu memperhatikannya. Berharap suatu saat Sehun bisa menjaga gadis lukisan itu untuk dirinya sendiri.

………………………

Seohyun tersenyum menatap foto yang sedang ia pegang. Dengan berani gadis itu berdiri lalu berlari meninggalkan perpustakaan menuju ruang kelas lalu mengambil buku sketsa yang selalu gadis itu bawa kemana-mana.

Matanya mencari-cari sosok lelaki yang baru saja membuat tubuhnya lemas.

“Sehun!” gadis itu berteriak memanggil nama lelaki yang sedang berjongkok tak jauh dari hadapannya.

Sehun mendongakan kepalanya dan terlihat kaget. Tentu saja. Dia tidak mempunyai muka untuk bertemu gadis di hadapannya setelah apa yang dia lakukan beberapa menit yang lalu.

Sehun mencoba berdiri dengan kakinya yang lemas saat Seohyun berjalan semakin mendekat ke arahnya.

Seohyun menyodorkan buku sketsa yang dia pegang. Dengan ragu Sehun mengambilnya.

“halaman pertama” bisik gadis itu pelan.

Sehun menuruti perkataan Seohyun, halaman pertama.

Sehun terkejut melihat apa yang ada di hadapannya. Sketsa dirinya dengan kamera yang meggantung di lehernya dengan cat minyak kasar sebagai pewarnanya. Sehun terdiam, begitu pula dengan Seohyun.

Sehun tersenyum kecil saat membaca catatan kecil di pojok halaman buku sketsa itu,

“Lelaki dengan kamera yang meggantung di lehernya, yang selalu gembira saat mendengan suara kamera, tidak bisakah senyum itu hanya untuk ku saja?”

—END—

EAAAAA another cerita keju. Aku gak tau kesambet apa nulis ff kayak gini hahahaha. Aduh maafin ya kalo tulisan ku kali ini keju sekali :’D dan tidak lupa terimakasih buat yang sudah mau membuang energinya untuk membaca ff macem gini hehehe😀

31 thoughts on “[Freelance] Camera and Canvas

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s